Friday, 24 July 2026

MENYEBARKAN SALAM

Disuguhkan: M. Syarif Arbi No: 1.431.06.07-2026 Sudah memasyarakat; mengucapkan salam ketika bertemu, ketika bertamu, ketika akan membuka suatu pembicaraan. Ucapan salam secara umum adalah “selamat pagi, selamat siang, selamat sore dan selamat malam”. Pengucapan salam dalam agama Islam dengan tiga model ucapan: *Pertama*: *“ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ” (Assalamu'alaikum), sebagai ucapan singkat. Artinya “Semoga keselamatan menyertaimu”. *Kedua*: *Ucapan sedangan “ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ”* (Assalamualaikum warahmatullah). Artinya: “Semoga keselamatan dan rahmat Allah menyertaimu” *Ketiga*: Ucapan yang lengkap “ ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ” (Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh). Artinya: “Semoga keselamatan, dan rahmat Allah serta keberkahan Allah tercurah kepadamu”. Begitu juga mereka yang menjawab salam juga ada tiga macam: *Pertama*: Wa'alaikumsalam ( وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ ) artinya "Dan semoga keselamatan juga untukmu". *Kedua*: Wa'alaikumsalam warahmatullah (وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ) “Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah juga untukmu” *Ketiga*: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh ( وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه ) “Dan semoga keselamatan, rahmat Allah dan Keberkahan Allah tercurah untukmu” Ganjaran kebaikan (pahala) menyebarkan salam bersumber dari riwayat Imam Bukhari (dalam Al-Adabul Mufrad) dan Imam At-Tirmidzi dari sahabat Imran bin Hushain. Setiap tingkat ganjaran diberikan berdasarkan kelengkapan lafaz salam yang diucapkan: • 10 Kebaikan: Diperoleh saat mengucapkan "Assalamu'alaikum". • 20 Kebaikan: Diperoleh saat mengucapkan "Assalamu'alaikum wa rahmatullah". • 30 Kebaikan: Diperoleh saat mengucapkan "Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh" Islam sangat memerintahkan untuk menyebarkan salam. Salam bukan sekadar sapaan biasa, tetapi juga doa keselamatan dan bentuk kasih sayang. Menyebarkan salam dapat mempererat persaudaraan dan menjadi kunci masuk surga. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail Bab Keutamaan Qiyamul Lail; mengutip hadis Hadits #1166: وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلاَمٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( أيُّهَا النَّاسُ : أَفْشُوا السَّلامَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلاَمٍ )) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _*“Wahai manusia, *tebarkanlah salam*, bagikanlah makanan, dan shalatlah pada waktu malam ketika orang-orang sedang tidur, niscaya kalian pasti masuk surga dengan selamat.”*_ (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Tirmidzi, no. 2485; Ibnu Majah, no. 1334, 3251; Ahmad, 5:451; Ad-Darimi, 1:340-341, 2:275; Al-Hakim, 3:13, dari jalur ‘Auf bin Abi Jamilah, dari Zararah bin Abi Awfa, dari ‘Abdullah bin Salam. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih]. Menyebarkan salam jadi tanda bahwa kedamaian itu terwujud sehingga satu sama lain mudah menyebarkan salam keselamatan. Memberi makanan ditambah dengan menyebarkan salam menunjukkan hilangnya rasa takut dan kefakiran, akhirnya hati sesama muslim akan semakin dekat, hubungan silaturahim akan makin kuat terjalin. Kedamaian hidup yang lapang, dan rasa tenang itulah yang membuat seseorang mudah menjalankan perintah Allah. Buah dari amal saleh dan kalimat yang baik memudahkan seseorang masuk surga. لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ Artinya: _*“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”*_ (HR. Muslim). Allah memerintahkan umat Islam untuk memberi salam dan menjawabnya dengan cara yang baik. Perintah ini tercantum dalam Surah An-Nisa ayat 86: وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا Artinya: _*Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu*_. Ini juga mengandung makna, kalau seseorang mengucapkan salam yang pendek kepada anda, jawablah dengan yang lebih panjang. Contoh salam pendek dan salam panjang tersaji di atas. Namun ada salam yang tak perlu dijawab, yaitu salam orang usai shalat. Jama’ah dikiri kanan anda mengucapkan salam, anda tidak usah menjawabnya, karena anda juga kalau ikut berjamaah, juga mengucapkan salam. Menyebarkan salam bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga cara sederhana untuk menunjukkan penghargaan, membangun hubungan yang baik, dan menciptakan suasana yang lebih positif. Semoga keselamatan, kesejahteraan, keberkahan dan rahmat Allah senantiasa meliputi seluruh pembaca yang berbahagia. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 8 Safar 1448 H./21 Juli 2026.

NENEK PENGEMBARA

Dikarang: M. Syarif Arbi No: 1.432.07.07-2026 Beruntung ibu beranak tujuh ini, ketika ditinggal suaminya semua anak2nya sudah beranjak dewasa, empat anak sudah berumah tangga dan menghadirkan pula cucu2 yang mulai sekolah. Dua anak lagi sudah selesai kuliah, namun sedang merintis cari kerja, atau usaha. Sedangkan seorang lagi sebentar lagi wisuda jenjang S1. Almarhum ayahnya sebagai seorang pebisnis kecil2an pedagang sembako dan pernak-pernik kebutuhan sehari-hari, dimaklumi tidak meninggalkan harta yang banyak. Peninggalan almarhum berupa sebuah rumah munggil hunian mereka terdapat tiga kamar tidur, sebuah mobil pick up (untuk angkutan barang dari grosiran). Semasa semua anak masih ngumpul dirumah; empat anak perempuan kebagian 1 kamar tidur adapun 3 anak lelaki kebagian 1 kamar tidur, 1 kamar tidur lagi untuk kamar ibu bersama ayahnya semasa masih hidup. Kehidupan si ibu ini sepeninggal sang suami, untuk berjuang menyelesaikan kuliah anaknya yang seorang lagi (si bontot), meneruskan usaha ayahnya anak2 berdagang sembako, di komples pasar tak jauh dari kediaman mereka. Persoalan muncul, setelah semua anak selesai kuliah dan masing2 sudah dan akan berkeluarga, anak2 *berlepas dari kartu keluarga lama*, membuat KK sendiri2, berkenaan dengan merekapun pindah kediaman di kota2 sekitar kota asal. Ada pula anak yang *memotori* agar harta warisan mendiang ayah, berupa sebuah rumah itu dibagi waris segera, dengan jalan dijual saja . Hasilnya akan dibagikan 1/8 untuk Ibunda, 7/8 nya akan dibagikan kepada 7 orang anak. Umpama katakanlah itu rumah terjual bersih 400 juta, si Ibu kebagian 50 Juta. Anak2 kebagian 350 juta. Setelah dibagi untuk 3 orang anak laki2 masing kebagian 70 juta total = 210 juta. Sedangan 4 anak perempuan masing 35 juta total = 140 juta. Berpindahlah hak rumah warisan mendiang ayah ke orang lain. Warisan memang harus segera dibagi apabila ayah meninggal, walau ibu masih hidup, tetapi tidak ditemukan *dalil nash yang tegas* menetapkan batas waktu tertentu, misalnya; harus dibagikan dalam 3 hari, 7 hari, atau 40 hari setelah kematian sang ayah. Namun, para ulama umumnya menganjurkan agar pembagian *tidak ditunda tanpa alasan yang dibenarkan*, karena dengan menunda pembagian waris maka: • Hak para ahli waris menjadi tertahan; • Penundaan dapat memicu perselisihan; • Setiap ahli waris berhak segera mengetahui dan menerima bagiannya setelah seluruh kewajiban almarhum diselesaikan. Salah satu alasan mengapa begitu si ayah meninggal waris harus di bagi, terutama *jika* si ibu yang yang ditinggalkan masih muda, *cantik pula*, misalnya si ibu menikah lagi, si ibu akan ikutan dengan suami barunya membawa hasil warisan. Dalam kasus si ibu di kisah ini,… 50 juta yang merupakan bagiannya. Selanjutnya masing2 anak sudah mendapat bagian masing2. Sering jadi pertanyaan; *”Bolehkah kalau semua anak secara bersama memberikan atau merelakan hak warisnya dikuasai ibu mereka sepanjang ibunya masih hidup”?*. *”Tentu saja boleh”*, selama para pewaris, dalam kasus diatas, seluruh ke 7 anak si ibu menyetujui atas dasar kerelaan murni tanpa paksaan. Namun, pastikan keputusan ini didasarkan pada kesadaran penuh agar tidak memicu sengketa di kemudian hari. Sebaiknya, hak waris tetap dihitung dan dicatatkan secara resmi terlebih dahulu sebelum diserahkan, untuk menghindari kezaliman atau kesalahpahaman antar anggota keluarga. Dalam kasus yang diangkat dalam kisah ini, si ibu tidak muda lagi dapat dibayangkan sudah beranak tujuh, si bontot saja sudah hampir wisuda S1, ketika suaminya meninggal. Kecil kemungkinan akan kawin lagi. Karena sebagian besar anak2nya menghendaki rumah peninggalan almarhum dijual dan sebagian anak terutama yang sudah berumah tangga menuntut pembagian waris. Maka si Nenek tidak punya pilihan lain. sisa hidup dilanjutkan dengan mengontrak rumah, bermodalkan warisan 50 juta. Makin bertambah usia, sudah tak mampu lagi menjaga toko, tambahan kondisi tubuh sudah banyak dihuni penyakit. Belakangan karena sering sakit, kios lebih banyak tutup dari pada bukanya, akibatnya tak mampu lagi bayar sewa kios, ujung2nya stoplah kegiatan berdagang. Uang warisan mulai habis dan sudah tak mampu lagi mengontrak rumah. Nasib si nenek akhirnya mengembara dari rumah anak yang satu ke rumah anak yang lain, kadang ikutan dirumah cucu. Ternyata dalam kehidupan didunia ini tak semua anak berbhati, sering terjadi kalaulah anak cukup baik, kadang mantu pula yang tak suka akan ke hadiran si nenek. Sebagai ikhtiar bagi kita2 yang sudah masuk ke usia senja ini, adalah senantiasalah berdo’a untuk memohon perlindungan Allah dari *keburukan usia tua* sampai di kondisi sudah *tak berdaya*, tegasnya kalau boleh *mohon dipanggil Allah ndak usah tua2 amat*. Kalau boleh sudah berpulang kerahmatullah sebelum habis harta benda, lantaran tak jarang anak2 kurang memikirkan kita. Guna menghindarkan diri dari *usia yang buruk* tadi, boleh jadi sebagai ikhtiar, mari diamalkan do’a agar terhindar dari keburukan usia tua (pikun atau renta) bersumber dari Shahih Al-Bukhari dan diriwayatkan dari sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash dari Nabi Muhammad ﷺ berikut adalah bacaan doanya: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ _*"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang paling buruk (pikun/lemah), dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia serta azab kubur."*_ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 10 Safar 1448 H./24 Juli 2026.

Friday, 17 July 2026

PULANGLAH BILA DISURUH PULANG

Disajikan: M. Syarif Arbi No: 1.429.04.07-2026 Salah satu keistewaan / kecanggihan berkat kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah; artikel2 yang di publish di medsos, dibaca banyak orang tak terbatas wilayah dan negara. Salah seorang pembaca tulisanku di kota lain ketika membaca artikelku perihal *adab bertamu*, dianya menanyakan *“bolehkan menolak tamu”*. Untuk menjawab pembaca tersebut kukutipkan surat An-Nur ayat 28 وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرْجِعُوا۟ فَٱرْجِعُوا۟ ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ. …………………….” …………. _*“Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja) lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”*_ Masa kini, bila seseorang ingin berkunjung termasuk ke kediaman saudara kandungnya, tidaklah ujuk2 datang, biasa didahului dengan memberitahukan melalui WA atau telepon……. Tak selamanya saudara yang akan dikunjungi itu bersedia dikunjungi. Bagi muslim sejati tidak patut tersinggung, tidak pantas berkecil hati bilamana permintaannya berkunjung kekediaman seseorang ditolak. Jangankan penolakan itu melalui dialog WA atau telepon, dimana kita belum beranjak dari rumah. Kalaupun penolakan itu dilakukan pemilik rumah ketika sang tamu sudah memberi salam di depan pintu, menurut perintah Allah di surat An-Nur dikutip diatas, *wajib pulang*. Orang muslim tidak memandang penolakan tersebut sebagai tidak menghargai, atau tidak sopan, karena apa yang menurut kita manusia *baik*, belum tentu baik menurut Allah. Apa yang menurut kita *sopan*, belum tentu sopan dalam pandangan Allah. Apa yang menurut manusia *benar*, belum tentu benar dalam ilmu Allah. Orang muslim yang taat berpedoman bahwa kebenaran mutlak milik Allah. seperti tersurat di Al-Baqarah ayat 147: ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ Artinya: _*Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.*_ Jadi jangan ragu bila bertamu ditolak, tidak perlu kecewa, walaupun sudah sampai depan pintu rumah yang dikunjungi, bila disuruh pulang, maka pulanglah. Niscaya anda berpahala mengamalkan salah satu perintah Allah. Hikmah ketika seorang tamu memilih pulang karena ditolak oleh tuan rumah, dapat dipahami sekurangnya dari 5 (lima) sudut pandang positip, baik dari sudut pandang agama maupun kehidupan sehari-hari: *PERTAMA*: Menjaga kehormatan diri dan tuan rumah. Jika tuan rumah belum bisa menerima tamu, pulang dengan lapang dada menunjukkan sikap menghormati privasi dan kondisi mereka. Boleh jadi yang bersangkutan sedang mempunyai problem keluarga, yang tak baik diketahui pihak lain. *KEDUA*: Menghindari prasangka buruk. Penolakan belum tentu karena tidak suka. Bisa jadi tuan rumah sedang memiliki urusan, sakit, atau keadaan lain yang membuatnya tidak dapat menerima tamu. Atau akan pergi meninggalkan rumah untuk sesuatu urasan penting. *KETIGA*: Melatih kesabaran dan keikhlasan. Tidak semua harapan berjalan sesuai keinginan. Menerima keadaan dengan sabar merupakan latihan pengendalian diri. Jangan cepat2 berkesimpulan yang tidak baik, lalu dalam pikiran mereka-reka yang tak pantas, atau mungkin bergumam, mengerutu, ujung2nya menyesal setelah mengatahui masalah yang sebenarnya. *KEEMPAT*: Menghormati hak orang lain. Setiap orang berhak menentukan kapan mereka siap menerima tamu. Menghormati keputusan tersebut adalah bagian dari etika bermasyarakat. Demikian juga bila kita mengundang orang, bila yang diundang tidak hadir, jangan cepat2 berkesimpulan, orang tak hadir tersebut tidak menghargai. Perlu dicari sebabnya; apakah undangan tidak sampai, apakah si terundang memaknai dari redaksi undangan bahwa dirinya bukan termasuk yang diundang. *KELIMA*: Memelihara hubungan hubungan persahabatan/kekerabatan dalam jangka panjang. Tidak memaksa masuk atau merasa tersinggung dapat menjaga hubungan tetap baik sehingga kesempatan berkunjung di lain waktu tetap terbuka. Bilamana sampai tercetus kata2 yang tidak enak disampaikan kepada tuan rumah (misalnya melalui tulisan di WA) atas penolakan itu, hubungan persahabatan/kekerabatan jangka panjang akan terganggu. Ingat….! banyak ayat2 dalam Al-Qur’an yang memerintahkan memelihara hubungan silaturahim. Pembaca, mari kita amalkan petunjuk agama, kendati mungkin terasa tidak nyaman dihati. Ketahuilah kebenaran mutlak milik Allah. Yaa Allah….. jadikan kami semua, seluruh pembaca…. menjadi hamba2-Allah yang mentaati seluruh aturan2 dan ketentuan2-MU. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 4 Safar 1448 H./17 Juli 2026.

Sunday, 12 July 2026

DAMPAK YOUTUBE Buat CERAMAH DI MASJID

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.428.03.07-2026 Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah membuat perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di bidang *dakwah*. TIK memungkinkan dakwah menjangkau lebih banyak orang, serta memudahkan interaksi sosial melalui berbagai platform digital. Kini, umat Islam dapat mengikuti kajian agama secara daring, berbagi ilmu – menulis artikel2 dakwah melalui media sosial, dan menjalin komunikasi lebih efektif dengan komunitas keagamaan. Kehadiran. *Youtube* memberikan dampak ganda bagi jamaah masjid. Banyak orang (mungkin sebagian besar anak muda) yang telah sangat familier dengan TIK, memilih mendengarkan ceramah2 agama melalui youtube ketimbang duduk mendengarkan ustadz berceramah di masjid. Jika memerlukan tambahan pengetahuan agama mereka membuka youtube dengan mudah mencari topik apa yang ingin didengar. Melalui youtube ummat dapat mengulang materi kapan saja dan memperluas wawasan, diceramahkan oleh ustadz2 yang kenamaan berilmu tinggi. Plus - minus Youtube bagi ummat yang mengikuti ceramah melalui you tube *1. Sisi Positifnya* a) *Mengulang Materi*: Dapat memutar ulang ceramah jika ada penjelasan yang belum dipahami kalau mendengarnya hanya sekali. b) *Fleksibilitas Waktu*: Dapat didengar kapan saja, bila ada waktu luang, walau tidak harus hadir ke masjid tetap bisa mendapatkan ilmu. c) *Menjangkau Lebih Luas*: Ilmu yang disampaikan ustazd di masjid yang *live streaming* bisa ditonton oleh ummat dimana saja. Bahkan orang Indonesia dapat mendengarkan ceramah2 para ulama dari luar negeri. *2. Sisi Negatifnya* a) *Kehilangan Keutamaan Majelis*: Hadir secara fisik ke masjid bernilai ibadah besar. Duduk di masjid mendengarkan ceramah berbeda pahalanya dengan menonton lewat ponsel atau lap top di rumah. b) *Kemalasan mengikuti ceramah di masjid*: Kemudahan mengakses Youtube membuat jamaah merasa cukup di rumah saja. Hal ini bisa membuat masjid menjadi sepi. Inilah sekarang sudah sangat terasa di beberapa masjid. Kebanyakan jamaah; misalnya ada ceramah agama sesudah maghrib, usai shalat dan berdzikir sejenak, kadang shalat sunah, lalu pulang, atau tak jarang tak lagi shalat sunah, memilih shalat sunah dirumah. Selanjutnya mendekati waktu isya menjelang adzan datang lagi ke masjid, untuk berjamaah shalat isya. Fenomena tersebut butir “2.b)” banyak pihak pengurus masjid melakukan evaluasi; • Apakah pelayanan di masjid kurang baik. • Apakah kondisi di masjid kurang nyaman. • Apakah ustadz2 atau ustadzah2 yang ditampilkan, kurang berbobot – sudah terlalu tua. Teknik penyampaiannya tidak mengena dengan masa kekinian. • Apakah topik yang disajikan penceramah mengulang-ulang, sehingga membosankan. • dan banyak lagi pertanyaan2 yang mengusik perhatian Takmir/pengurus beberapa masjid. Mungkin factor dominannya adalah TIK khususnya Youtube yang kini sudah memasyarakat. Sebagai bahan masukan bahwa menurut Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penggunaan TIK di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2019, sekitar 63,53% penduduk telah memiliki telepon seluler, dan angka ini terus bertambah hingga mencapai 67,88% pada tahun 2022. Begitu pula dengan penggunaan internet yang meningkat dari 47,69% pada tahun 2019 menjadi 66,48% pada tahun 2022. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin terhubung dengan dunia digital, termasuk dalam mendengarkan ceramah keagamaan. *Dalam kesempatan di artikel singkat ini izinkan menyarankan kepada para pembaca*: *Pertama*; Gunakan youtube sebagai pelengkap, sebagai tambahan ilmu, akan tetapi perlu juga di saring. Apa yang didengar hendaklah dicarikan dalil2 berkenaan dengan referensi yang akurat, selaras dengan Al-Qur’an dan hadist shahih yang dikemukkan ulama terkemuka. *Kedua*; Terutama bagi yang tak ada udzur, masih bugar, utamakan hadir fisik di masjid agar mendapatkan *pahala langkah kaki, pahala silaturahim, pahala duduk di majelis ilmu*. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ “_Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu)menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, *banyaknya langkah menuju masjid*, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah ar-ribath (kebaikan yang banyak)._” (HR. Muslim no. 251) “……… وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ …………..” “…………._Bertaqwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahim)_. …………..” Rasulullah SAW bersabda: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ Artinya: _"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka *hendaklah ia menyambung tali silaturahmi*."_ (HR. Bukhari dan Muslim) Orang yang mempelajari Al Qur’an di masjid disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat ketenangan, rahmat dan pemuliaan dari Malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه “_Tidaklah suatu kaum *berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya*, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya_.” (HR. Muslim no. 2699) Yaa Allah jadikan lah para pembaca senantiasa dapat menambah ilmu sesuai perintah Allah dan petunjuk Rasulullah. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 28 Muharram 1448 H./13 Juli 2026.

Tuesday, 7 July 2026

TAMU-MENAMU

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.427.02.07-2026 Soal tamu-menamu adalah sudah melembaga di negeri ini, juga merupakan media silaturahim yang demikian sangat dianjurkan dalam Islam. Soal silaturahim, saking pentingnya Allah sebutkan dibeberapa ayat dalam Al-Qur’an, diantaranya: وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّا Artinya: _"Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan *memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk dihubungkan*, serta berbuat kerusakan di bumi, mereka itu mendapat kutukan dan tempat kediaman yang buruk (Jahannam)_." (Surat Ar-Ra'ad ayat 25) Sejak dahoeloe, jaman kita masih kanak2, kalau seseorang akan bertamu ke rumah seseorang apalagi hubungan kekerabatannya tidak begitu dekat, sebelum bertamu memberitahukan sebelumnya bahwa akan bertamu. Buya Hamka dalam menafsirkan surat An-Nur 27,28 dan 29 di tafsir Al-Azhar Juzu 18 panjang lebar mengupas seputar soal *tamu-menamu*, sebanyak 6 halaman, dari halaman 171 s/d 176. Di zaman now lebih mudah untuk memberitahukan akan bertamu, cukup dengan “jari-jari”. Si tuan rumahpun menjawab kesediannya didatangi tamu cukup dengan “jari-jari” pula (melalui HP) langsung disepakati hari dan waktu menerima tamu. Dengan demikian, tentulah si tuan rumah sudah siap kedatangan tamu, mulai dari memberi tahu penjaga rumah (kalau rumah ber-Satpam), lalu sudah siap dengan *pakaian yang wajar dan sopan* untuk menerima tamu. Sementara si tamupun sudah merencanakan kapan bertolak dari rumah agar sampai tepat waktu. Si tamu juga sudah berpakaian se sopan mungkin, walaupun sederhana tetapi setidaknya rapi dan menutup aurat, baik lelaki apalagi perempuan. Adab si tamu, seperti diulas oleh Buya Hamka dalam tafsir surat An Nur 27 s/d 29 di tafsir Al-Azhar diantaranya; memberitahu sebelumnya, mengucapkan salam ketika sampai di pintu rumah tuan rumah, jangan masuk sebelum dijawab salam dan dipersilahkan masuk. Jangan duduk sebelum dipersilahkan duduk, jangan menduduki tempat duduk tuan rumah, duduklah ditempat yang dipersilahkan duduk oleh tuan rumah. Berpakaian yang rapi, menutup aurat dan sopan. Di artikel yang singkat ini dititik beratkan soal adab si tuan rumah menerima tamu. Setidaknya yang harus diperhatikan ketika menerima tamu: 1. Memakai pakaian yang bersih dan rapi. Berpakaian dengan baik saat menerima tamu merupakan bentuk penghormatan kepada tamu sekaligus mencerminkan sikap sopan santun dan akhlak yang baik. Apa lagi kalau tamu yang datang itu sudah melalui perjanjian lebih dahulu sehari sebelumnya atau lebih, *berarti bukan dadakan*, tentu seyogyanya sudah siap dengan pakaian rapi. 2. Berpakaian yang rapi dan baik menurut Islam adalah *menutup aurat*, sangat tak pantas menerima tamu dengan hanya bercelana pendek (jauh diatas lulut bagi laki-2), terkesan celana dalam pula. Orang2 tua di kampung kami dulu, jika ada tamu datang, setelah mempersilahkan tamu masuk dan duduk, si tuan rumah minta ijin sebentar ke tamunya untuk masuk ke ruang dalam rumah, kemudian mengganti pakaian, kadang pakai sarung atau celana panjang dengan baju rapi lalu memakai kopiah. Jikapun tidak sampai se komplit itu setidaknya berpakaianlah yang sopan tak usah berlebihan. 3. Tergantung, masalah apa yang di bahas dalam pertamuan tersebut, tidaklah menjadi hal yang tabu diperjanjikan ketika mengadakan kesepakatan ketika janji akan ketemuan, bahwa waktu yang tersedia hanya sampai pukul berapa. Dewasa ini orang sudah maklum, bahwa masing2 orang banyak kegiatan, mungkin juga sudah ada janji di tempat lain. Dalam hal ini si tamu harus mengingat betul kesepakatan waktu janjian bertamu, karena kadang si tuan rumah sungkan untuk mengingatkan. Menyoal menghormati tamu, dalam ajaran Islam dikaitkan dengan Iman. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ menuturkan: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ Artinya: _"Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mempererat hubungan kekeluargaannya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengucapkan yang baik ataupun berdiam diri saja."_ (Muttafaq 'Alaih, HR Bukhari [10/373, 442] & Muslim [47]) Yaa Allah jadikanlah kami sanggup menjalankan ajaran agama dalam beribadah, juga dalam bermasyarakat; antara lain ketika bertamu, maupun menerima tamu. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 24 Muharram 1448 H. 8 Juli 2026.

Monday, 6 July 2026

MENUNTUT ILMU

Dirangkai: M. Syarif Arbi No: 1.426.01.07-2026 Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap insan beriman, perintah ini tertulis jelas dalam Al-Qur'an dan hadist. Ilmu membantu manusia membedakan yang benar dan salah. Ilmu merupakan sarana membantu manusia mempermudah menjalani hidup, serta mengangkat derajat manusia. “………. يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ. ………………………” “………._niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat_…………..” (Surat Al-Mujadalah Ayat 11) Sementara itu petunjuk hadist: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْل Artinya: _"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim."_ (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani) Ilmu menurut ayat dan hadist di kutip diatas membawa manfaat dunia dan kahirat. Didunia mendapatkan *Peningkatan Derajat, memudahkan menjalani hidup, memudahkan beribadah*. Seorang berilmu dalam masyarakat mendapat kedudukan yang lebih tinggi, dalam bidang pekerjaan orang berilmu mendapatkan penghasilan lebih besar. Contoh seorang arsitek, tentu penghasilannya lebih banyak dari kepala tukang. Kepala tukang, penghasilannya lebih besar dari kernet. Demikian seterusnya di setiap sector pekerjaan orang berilmu mempunyai nilai lebih atau derajat yang lebih tinggi. Ilmu mempermudah manusia menjalani hidup ini, contoh era sekarang ini kita sudah dapat berkomunikasi dengan mudah, berdakwah, bersilatrurahim, melalui medsos, berkat ilmu pengetahuan. Perjalanan yang jauh sudah dapat ditempuh dalam waktu singkat, dahoeloe ke tanah suci berbulan-bulan, dewasa ini dapat ditempuh hitungan jam. Pertandingan piala dunia dilaksanakan di Amerika dapat ditonton di kamar kita. Selanjutnya ilmu memudahkan manusia beribadah, ditemukan sarana2 untuk memudahkan dakwak, memudahkan beribadah dengan ditemukan saound system, air condition ruangan2 masjid, dll. Sedangkan kebahagian di akhirat; ilmu *“memudahkan jalan menuju surga”*, dengan mudahnya kita beribadah dan mudahnya manusia sekarang untuk menuntut Ilmu, menambah ilmu, memperbaiki ilmu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ _“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”_ (HR. Muslim, no. 2699) Insan beragama menghendaki, kebahagiaan itu tidak hanya diperoleh di dunia tetapi yang paling utama adalah di akhirat. Sekurang-kurangnya 2 Syarat perlu dimiliki oleh seorang penuntut ilmu, di antaranya adalah: *PERTAMA: Ikhlas karena Allah* Niat menuntut ilmu harus untuk mencari ridha Allah, bukan untuk mencari pujian, kedudukan, atau keuntungan dunia semata. Sebagai Tanda-tanda Ikhlas dalam mencari Ilmu: • *Hilangnya Sombong*: Semakin berilmu, seseorang akan semakin tawadhu' (rendah hati) dan takut kepada Allah Ta'ala. • *Berorientasi pada Manfaat*: Belajar untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri dan orang lain, bukan untuk mencari pujian, gelar semata, atau popularitas. • *Diamalkan*: Ilmu yang didapat langsung diamalkan sebagai bekal ibadah. *KEDUA: Memilih ilmu yang bermanfaat* Antara lain ilmu yang bermanfaat adalah: • *Ilmu agama*; Mempelajari Al-Qur'an dan tafsirnya. Memahami hadist, fikih, akidah, dan akhlak. Ilmu yang membantu seseorang beribadah dengan benar dan berperilaku baik. • *Ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat*; Medicine untuk menyembuhkan orang sakit. Engineering untuk membangun sarana yang bermanfaat. Education untuk mendidik generasi berikutnya. Agriculture untuk memenuhi kebutuhan pangan. • *Ilmu tentang muamalah dan kehidupan*; Economics, bisnis, dan keuangan. Manajemen dan kepemimpinan yang adil. Keterampilan bekerja dan berwirausaha yang halal. • *Ilmu yang membentuk akhlak*; Cara mengendalikan emosi. Komunikasi yang baik. Menjaga amanah, kejujuran, dan tanggung jawab. Agar kita semua saban hari mendapatkan ilmu bermanfaat, rezeki yang baik dan amal diterima mari kita berdo’a: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلً "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima." آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 22 Muharram 1448 H. 6 Juli 2026

Saturday, 27 June 2026

Agar TIDAK Merasa PALING

Dirangkai: M. Syarif Arbi No: 1.425.05.06-2026 Usai shalat Zuhur sembari melangkah keluar gerbang masjid, seorang jamaah berucap kepada sesama jamaah: *“Menyusut berapa waktu belakangan ini,…….. hanya orang terpilih saja masih tetap datang berjamaah”*. Ucapan seperti ini, jikalah di dalam hati terlintas pikiran bahwa “awak” termasuk orang yang rajin berjamaah, apalagi kalau di dalam hati lalu merasa “paling” taat ibadah, “paling” rajin berjamaah, hal seperti ini sudah bukan adab seorang muslim. Seorang muslim tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain, tidak boleh merasa paling, pokoknya segala merasa macam paling dilarang buat orang beriman. Seorang muslim tidak boleh merasa paling taat, tidak boleh merasa paling berilmu, tidak boleh merasa paling menguasai segala persoalan. Nabi Musa karena merasa paling berilmu diberitau Allah ada lagi yang paling berilmu. Lihat surat Al-Kahfi; Kisah Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir diabadikan dalam Al-Qur'an Surat *Al-Kahfi ayat 60-82*. Perjalanan ini adalah ujian kerendahan hati dan kesabaran bagi Nabi Musa, yang mengajarkan bahwa ilmu Allah sangatlah luas dan tidak terbatas oleh akal manusia. Adab seorang muslim harus rendah hati dan tidak merasa *“Paling”*, Allah Ta’ala berfirman tentang larangan merasa paling itu: “………. فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ ………………..” _“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”_ (QS. An Najm : 32) Kebiasaan merasa diri suci merupakan perbuatan yahudi dan nasrani yang jelas- jelas dicela oleh Allah Ta’ala “………….. وَقَالُوا۟ لَن تَمَسَّنَا ٱلنَّارُ إِلَّآ أَيَّامًا مَّعْدُودَةً ۚ _“Dan mereka berkata, kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja.”_ (QS. Al Baqarah: 80) Bahkan, saking merasa sucinya, mereka merasa bahwa hanya merekalah yang paling layak masuk surga. “………………. وَقَالُوا۟ لَن يَدْخُلَ ٱلْجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوْ نَصَٰرَىٰ ۗ _“Dan mereka berkata, Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yahudi dan Nasrani.”_ (QS. Al Baqarah: 111) Sehingga Allah Ta’ala cela kebiasaan mereka ini: أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم ۚ بَلِ ٱللَّهُ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلً _“Apakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.”__ (QS. An-Nisa: 49) Nabi Muhammad ﷺ melarang setiap diri merasa suci, seperti termuat dalam hadits diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ _"Janganlah kalian merasa diri kalian suci (jangan memuji diri sendiri), Allah lebih mengetahui siapa yang berbuat baik di antara kalian”_ Sebagai contoh; Bila ketika anda melangkah menuju masjid untuk shalat berjamaah, lantas melihat tetangga yang anda liwati menuju masjid sedang duduk2 di beranda rumah, baik yang sudah berumur maupun masih remaja, mereka tidak menghiraukan panggilan adzan. Tak ada salahnya anda menyapa mereka, *“ayok ke masjid”*. Kalaulah ajakan anda belum direspon, tolong jangan terbersit di hati bahwa anda orang yang paling taat, lalu beranggapan mereka termasuk orang yang nanti dimurkai Allah. Persoalannya belum tentu akhir hidup mereka, sebagaimana belum tentunya akhir hidup kita. Dapat saja terjadi orang yang anda liwati ketika kemesjid itu sekarang tidak shalat, menjelang akhir hidupnya menjadi ahli ibadah dan taubatnya diterima Allah, justru merekalah menjadi ahli surga. Sebaliknya belum karuan nasib anda sendiri, apalagi jika di dalam hati sering terbesit merasa “paling”. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini kepada sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menangkal sifat ujub atau kagum pada amalan sendiri, atau merasa paling. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَف] _"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku sendiri”_ Adab seorang beriman *“agar tidak merasa paling”* rujukan antara lain seperti ayat2 dan hadist dipetik di atas. Adapun dalam pergaulan di masyarakat dimana masyarakat tidak menyenangi orang yang selalu merasa *paling*. Agar menghindari *rasa paling dari diri kita* yaitu: *Merasa paling benar, paling hebat, atau paling penting*, bersikaplah: 1. Anggap setiap orang tahu sesuatu yang belum awak tahu. Ini membuat diri ini lebih mudah mendengar daripada langsung menyimpulkan. 2. Biasakan bertanya sebelum berpendapat. Misalnya, "Apa yang membuatmu berpikir begitu?" Ini membantu memahami sudut pandang orang lain. 3. Sadari bahwa awak bisa saja salah. Mengubah pendapat ketika mendapat bukti baru adalah kekuatan, bukan kelemahan. 4. Pisahkan harga diri dari pendapat. Jika sebuah ide dikritik, itu tidak berarti dirimu ikut direndahkan. 5. Berlatih mengakui kesalahan. Kalimat sederhana seperti, "Ternyata aku keliru," dapat melatih kerendahan hati. 6. Hargai kontribusi orang lain. Saat berhasil dalam sesuatu, ingat siapa saja yang ikut membantu. 7. Lakukan refleksi secara rutin. Coba tanyakan pada diri sendiri: "Apakah aku ingin memahami, atau hanya ingin menang?" Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri atau menganggap diri tidak mampu. Justru, itu adalah kemampuan untuk melihat diri sendiri secara realistis—mengakui kelebihan tanpa merasa lebih tinggi dari orang lain, dan mengakui kekurangan tanpa merasa rendah. Yaa Allah jadikanlah kami semua menjadi hamba Allah yang taqwa, namun tidak merasa paling taqwa, menjadi hamba Allah yang taat ibadah, tetapi tak merasa paling taat beribadah. Ya Allah hindarkan kami dari merasa diri paling pandai, paling benar, paling suci dan segala macam paling. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 13 Muharram 1448 H. 28 Juni 2026

Saturday, 20 June 2026

Ucapkan Salam Masuk Rumah Sendiri

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.424.04.06-2026 Ucapan : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ (Assalamu'alaikum), versi pendek yang artinya _”Semoga keselamatan tercurah untukmu”_. Versi panjang Ucapan اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh), artinya –“ Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu_”. Beda jauh dengan ucapan “selamat siang”, “selamat pagi”, “selamat sore” dan “selamat malam”. Atau ucapan2 pembuka kata lainnya. Ucapan السَّلَامُ عَلَيْكُمْ atau lengkap dengan اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, diucapkan ketika masuk rumah (terutama bukan rumah sendiri), diperintahkan Allah langsung kepada semua orang beriman hal tersebut termuat dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 27: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ Artinya: _"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat._" *Mengenai pengucapan salam ketika bertemu sesama, ketika datang/pulang di suatu majelis, ketika membuka pembiacaraan; karena terbatas ruang tulis, tidak dibahas dalam artikel ini*. Masuk rumah mengucapkan salam bukan saja hanya untuk ketika bertamu kerumah orang, bahkan di anjurkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ ketika kita masuk kerumah kediaman kita sendiri. Baik dalam hal sedang ada anggota keluarga di dalam rumah, maupun rumah dalam keadaan kosong, ketika kita datang dari luar rumah. Suatu ketika seorang sahabat datang menghadap Rasulullah Muhammad ﷺ, mengeluhkan perihal kefakiran dan kesulitan hidup yang dihadapinya. Diberi amalan oleh Rasulullah *untuk mengucapkan salam* seperti yang dikisahkan dibawah ini, sehingga kehidupan sahabat tersebut akhirnya rezekinya berlimpah. Kisah tentang hal *mengucapkan salam ini* banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitabnya, diantaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marâh Labîd atau lebih dikenal dengan nama Tafsîr Al-Munîr. Dalam penafsiran surat Al-Ikhlas Syekh Nawawi menuturkan kisah tersebut sebagai berikut: عن سهل بن سعد جاء رجل إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وشكا إليه الفقر فقال: «إذا دخلت بيتك فسلم إن كان فيه أحد وإن لم يكن فيه أحد فسلم على نفسك واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة. ففعل الرجل فأدر الله عليه رزقا حتى أفاض على جيرانه Artinya: _Dari Sahl bin Sa’d, seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan mengadu kepadanya perihal kefakiran. Rasul bersabda: Bila engkau memasuki rumahmu, ucapkanlah salam bila di dalamnya ada seseorang. Bila tidak ada seorang di dalamnya, maka bersalamlah untuk dirimu dan bacalah qul huwallâhu ahad sekali.’ Lelaki itu mengamalkannya. Allah melimpahkan kepadanya rezeki hingga meluber kepada para tetangganya_. Dalam kitab tersebut ia menuturkan ajaran dari *Ibnu Abbas dan Qatadah* sebagai berikut: وقال ابن عباس: إن لم يكن في البيت أحد فليقل: السلام علينا من قبل ربنا Artinya: Ibnu Abbas berkata: Bila tak ada siapapun di dalam rumah, maka ucapkanlah ‘assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ’ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami). وقال قتادة: إذا دخلت بيتك فسلم على أهلك فهم أحق بالسلام ممن سلمت عليهم، وإذا دخلت بيتا لا أحد فيه فقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين Artinya: _Qatadah berkata: Bila engkau memasuki rumahmu, maka ucapkanlah salam kepada keluargamu. Mereka lebih berhak mendapatkan salam daripada orang lain yang engkau salami_. Bila tidak ada orang didalam rumah; kita dapat mengucapkan salam bagi diri sendiri salah satunya dengan kalimat: *Assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ* (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami) atau *Assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn* (keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba yang saleh). Anjuran mengucapkan السَّلَامُ عَلَيْكُمْ atau lengkap dengan اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, telah banyak diamalkan oleh banyak orang, akan tetapi mungkin, sekali lagi mungkin banyak yang belum terbiasa masuk ke rumah sendiri, dimana didalamnya tidak ada orang kita mengucapkan *salam* dimaksud. Ya Allah jadikanlah kami sanggup mengamalkan perintah Allah dan anjuran Rasulullah termasuk dalam mengamalkan *salam*. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 6 Muharram 1448 H. 20 Juni 2026

Saturday, 13 June 2026

PERBUATAN BAIK belum tentu BERHASIL BAIK

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.423.03.06-2026 Amal adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan seseorang, baik berupa ucapan, maupun perbuatan. Dalam bahasa Arab, “amal” (عَمَل) berarti pekerjaan atau tindakan. Dalam konteks umum: Amal terterjemahkan sebagai “perbuatan yang dilakukan manusia”, dapat berupa amal baik maupun amal buruk. Terminology agama amal cenderung diartikan amal saleh merujuk pada perbuatan baik yang dilakukan dengan niat karena Allah, seperti shalat, sedekah, zakat, ibadah sosial, membantu orang lain, dan berkata jujur. Amal salah adalah amalan yang dilakukan melanggar ketentuan-ketentuan agama dan ketentuan masyarakat serta negara. Amal, apapun bentuknya mesti didahului dengan *NIAT*, selanjutnya yang dibicarakan pada artikel ini dibatasi tentang *niat baik*. terkenal hadist dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ _“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”_ (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907] Niat baik diwujudkan dengan perbuatan baik, merupakan tujuan atau motivasi seseorang. Sedangkan hasil perbuatan baik itu, berhasil baik atau tidak, dipengaruhi banyak hal, antara lain: *pengetahuan, cara bertindak, situasi, kemampuan memperkirakan konsekuensi, cara mengatakannya, teknik menyampaikannya*, bahkan faktor yang di luar kendali seseorang yang berniat baik dan berbuat baik tersebut. Seseorang ingin membantu temannya dengan memberi nasihat, tetapi nasihat itu ternyata memperburuk keadaan. Teman yang diberi nasihat tidak terima dinasihati, mungkin lantaran timing – nya yang tidak tepat, atau boleh jadi cara mengatakannya yang salah. Seorang teman menasihati temannya yang terlihat tengah menjalin hubungan (PDKT) dengan seorang wanita, temannya di nasihatinya agar jangan melanjutkan hubungan, diikuti dengan menyampaikan data hal tidak baik dari wanita tsb yang diketahuinya. Diantaranya disebutkan *“kau kok mau2nya dengan janda, kamu masih perjaka, padahal bukan sedikit gadis perawan”*. Setelah selesai teman yang menasihati dengan niat baik tersebut menyampaikan segala hal2 negatif teman wanitanya, maka si teman yang dinasihati mengatakan *“ wis tak rabi ee mas (sudah saya nikahi kok mas)”*. Makanya walaupun berniat baik untuk suatu perbuatan baik, adalah harus dilakukan dengan terlebih dahalu mencari informasi yang lengkap. Orang tua berniat melindungi anaknya, tetapi perlindungan yang berlebihan justru menghambat kemandiriannya. Karena terlalu khawatir anak kecelakaan, berlebihan melarang jangan naik sepeda, jangan naik sepada motor, akhirnya si anak tidak berketrampilan mengendarai sepeda sampai dewasa. Seorang yang baru saja masuk dalam suatu organisasi, memberikan koreksi dengan pemilihan bahasa yang kurang tepat terkesan menggurui anggota organisasi yang sudah lama, seolah-olah anggota2 lama sangat kurang mengerti dari dirinya sebagai orang baru. Anggota organisasi yang lama karena merasa digurui, memilih tidak menanggapi, sambil dalam pikiran masing2 *“aaakh…. dia belum paham secara detail apa yang dia koreksi tersebut……. kanapa terjadi seperti itu”*. Disinilah pentingnya ketika menjadi orang baru dalam suatu organisasi, sebelum melaksanakan koreksi, sebaiknya teleti lebih dalam, teliti lebih rinci, permasalahannya sebelum mengajukan koreksi apalagi koreksi secara tertulis. Sudah jadi sifat umum manusia tak begitu suka mendapat kritik, apa lagi bila tak baik memilik kata, kurang tepat pula cara menyampaikannya. Sebagai perumpamaannya *“orang pincang”*, misalnya di ingatkan tentang jalan akan dilalui kurang mulus si pengingat mengatakan *“hati2 jalannya, jalannya licin kamu kan pincang”*. Tentu si pincang ndak enak atinya mendengar nasihat itu. Akan bijak bila teman yang mengingatkan *”ayo kita lalui jalan ini bersama-sama dengan hati2, karena licin”*. Kata2 terakhir mendarat di telinga si pincang, akan diterima dengan senang hati. Kebijakan dibuat dengan tujuan mulia, tetapi pelaksanaannya menimbulkan dampak yang tidak diinginkan, ujung2nya merugikan penerima kebijakan dan menuai banyak kritik. Lantaran sebelum dilaksanakan kurang dilakukan penelitian, uji coba, survey yang mendalam. Akhirnya Niat mulia tidak menghasilkan kebaikan. *Niat baik memang penting, direalisasikan dengan perbuatan baik, namun belum tentu berhasil baik, untuk itu perlu disertai:* *PERTAMA;* Pemahaman yang memadai tentang sesuatu aktifitas kebaikan yang akan dilakukan. Hendaknya memahami bahwa suatu tindakan membawa manfaat, membantu orang lain, atau sesuai dengan nilai moral dan etika. Menyadari alasan mengapa tindakan itu dilakukan, misalnya untuk menolong, menciptakan keadilan, atau meningkatkan kesejahteraan. *KEDUA;* Pertimbangan terhadap dampak yang akan muncul. Memikirkan konsekuensi bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sehingga kebaikan yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat. *KETIGA;* Kesediaan mengevaluasi dan memperbaiki, bilamana “perbuatan baik” itu terdapat kekeliruan, apabila hasilnya tidak sesuai harapan, termasuk bila dengan dilaksanakan niat baik itu, berdampak yang tidak baik atau kurang menyenangkan. *Niat baik layak dihargai, karena apapun perbuatan baik yang kita lalukan dengan tulus karena mengharapkan keradhaan Allah akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah sekalipun umpamanya manusia melinainya tidak baik*. seperti dinyatakan Allah (Surat Az-Zalzalah Ayat 7) فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ Artinya: _Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya._ *Namun yang perlu di camkan bahwa baik menurut diri kita, belum tentu baik menurut orang lain, juga belum tentu baik menurut Allah* “……… وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ. ……………..” _dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu._ (Al-Baqarah 216). Bagi orang beriman berpedoman; kebenaran mutlak (haq) hanya berasal dari Allah, sedangkan akal dan penilaian manusia bersifat relatif, terbatas, dan sering kali dipengaruhi oleh hawa nafsu atau kepentingan duniawi. kebenaran mutlak milik Allah: ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ Artinya: _Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu._ (Al-Baqarah-ayat-147). Yaa Allah berikan kesempatan kepada kami untuk dapat berniat baik dan berbuat baik dibawah petunjuk-MU sehingga menghasilkan kebaikan yang bermanfaat untuk sesama manusia dan kelak dapat menjadi catatan amal baik kami di kahirat nanti. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 27 DzulHijjah 1447 H. 13 Juni 2026

Monday, 8 June 2026

KE-SOMBONG-AN

Disuguhkan: M. Syarif Arbi No: 1.422.02.06-2026 Sombong merupakan perilaku seseorang dimana merasa diri lebih baik, lebih hebat, atau lebih tinggi daripada orang lain sehingga merendahkan atau memandang rendah orang lain. Perilaku sombong ini tidak disuka siapapun, termasuk orang yang sombong, dia tidak suka dengan orang lain yang sombong. Sering juga dalam tatanan kekeluargaan; sombong diterjemahkan sebagai sikap yang tidak mau mengenal sanak keluarga/kerabat atau yang pernah menjadi teman semasa kecil, tidak ramah tamah dengan keluarga, acuh tak acuh kepada sanak family dan karib kerabat. Bila dalam serumpun keluarga, anggota komunitas terdiri saudara kandung, saudara2 se nenek se datuk (saudara sepupu) termasuk se uyut. Jika salah satu atau beberapa orang bersikap sombong, maka betapapun kayanya si sombong itu, setinggi apapun jabatan dan pangkatnya, saudara2 serumpunnya akan tidak mau mendekati si sombong itu, tidak respek terhadap si sombong. Bak kata peribahasa: “Jauh akan ditunjuk dengan telunjuk, dekat akan dicibir dengan isyarat mulut”. Dalam kehidupan sehari-hari, sombong bisa terlihat dari: Suka membanggakan diri secara berlebihan, tidak mau menerima nasihat, meremehkan orang lain, merasa paling benar atau paling pintar, tidak mau mengenal sanak family dan kerabat, selalu dingin dalam pergaulan. Dalam ajaran agama dan etika, sifat sombong adalah buruk karena menciptakan hubungan tidak harmonis dengan orang lain. Lazimnya orang yang bersikap sombong ini karena yang bersangkutan dikaruniai Allah kelebihan harta benda ataupun ilmu. Tapi bukan mustahil ada orang yang tak punya kelebihan harta ataupun ilmu, namun berperilaku sombong (sudah miskin sombong pula). Sifat sombong tak disuka Allah: اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ _”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri_”. (An-Nisa 36) Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang sombong: “لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ" _“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji zarrah dari kesombongan._" Hadits dari Abdullah bin Mas’ud (HR. Muslim). Dosa karena sombong, dengan dosa melanggar larangan Allah, dapat di perhatikan kisah tentang *Nabi Adam* dan *Iblis* dalam alqur’an. Iblis berdosa kerena *tak patuh perintah Allah* dalam wujud berlaku *sombong*. Sedangkan *Nabi Adam* berbuat dosa berupa *melanggar larangan Allah*, mendekati pohon terlarang. Iblis ketika disuruh Allah sujud kepada Nabi Adam dia menolak kerena sombong. وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكَٰفِرِيْنَ _"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam!' Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong), dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir._" (Al-Baqarah ayat 34) Surat Shad Ayat 75 dan 76: قَالَ يَٰٓإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَىَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْعَالِينَ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ _Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?"_ _Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah"_. Sementara itu Nabi Adam *melanggar larangan* Allah dimana Allah melarang mendekati pohon terlarang. Surat Al-Baqarah Ayat 35: وَقُلْنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ ٱلْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ _”Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”_. Surat Al-Baqarah Ayat 36: فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيْطَٰنُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ _”Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan"_. Surat Al-Baqarah Ayat 37: فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ _”Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”_. Kalimat taubat Nabi Adam diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-A'raf ayat 23, رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ _"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi."_ Taubat Nabi Adam karena “*melanggar larangan Allah*” berdasarkan berbagai riwayat dan tafsir, Allah ﷻ menerima tobat Nabi Adam AS setelah *300 tahun beliau berdo’a*. Berarti hampir sepertiga (30%) dari hidup Nabi Adam dalam keadaan berdosa yang belum terampuni, karena menurut beberapa riwayat dan literatur Islam, total umur Nabi Adam AS adalah *1.000 tahun* dengan rincian usia beliau berdasarkan tafsir para ulama: • *Di Surga:* Diperkirakan sekitar 43 tahun sebelum diturunkan ke bumi. • *Di Bumi:* Sekitar 930 hingga 957 tahun. Sedangkan Iblis dengan dosa sombong tidak diberi Allah kalimat untuk bertaubat bahkan dikutuk Allah sampai hari kiamat. Surat Al-Hijr Ayat 35 وَإِنَّ عَلَيْكَ ٱللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ _” Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat"_. Dari kisah *Nabi Adam dan Iblis* ini, terlihat ada 2 (dua) kelompok dosa yaitu: 1. Dosa *tak patuh terhadap perintah Allah*, dilakukan Iblis berwujud “sombong”. 2. Dosa *melanggar larangan Allah*, dilakukan Nabi Adam dengan mendekati pohon terlarang. Begitu berat dosa *membantah perintah* ketimbang dosa *melanggar larangan* Allah. *Dosa membantah perintah tercermin berwujud ke-sombong-an* dilakukan Iblis tidak dapat diampuni Allah. Oleh karena itu semua perintah Allah laksanakanlah tak usah di tawar-tawar. Sedangkan dosa2 *melanggar larangan* Allah, masih ada harapan diampuni Allah, asal masih mau dan sempat bertaubat. Semua kita para pembaca, baik yang muda maupun lansia, *usia kita adalah usia sisa*, oleh karena itu mari kita berusaha untuk memanfaatkan *usia sisa* ini melaksanakan semua perintah Allah, dalam pada itu sekuat atau semampu diri menjauhi larangan2 Allah. Ya Allah jadikanlah kami semua mampu untuk menjauhi larangan2-MU dan melaksanakan seluruh perintah-MU. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 22 DzulHijjah 1447 H. 8 Juni 2026

Tuesday, 2 June 2026

*MENG “ESA” KAN*

Disuguhkan: M. Syarif Arbi No: 1.421.01.06-2026 Dalam perspektif agama Islam, kata "esa" dan "tunggal" tidak identik, walau sering sama2- diterjemahkan sebagai "satu". Perbedaan utamanya adalah: *Esa*: Menunjukkan keesaan yang absolut, digunakan untuk menyatakan; *Allah dalam konsep Tauhid*. Bermakna bahwa tidak ada yang setara dengan Allah, tidak ada yang sebanding dengan Allah, atau tidak ada satupun sesuatu merupakan bagian dari Allah. Dasar utamanya ketentuan tauhid ini terdapat dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Al-Ikhlas: قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ. _(Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa)_. ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ _(Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu)._ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ _(Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan)._ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ _(dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”).- Kata bahasa Arab yang digunakan adalah * ٱللَّهُ أَحَدٌ (Allahu aḥad)*, yang menunjukkan keesaan Allah yang unik dan absolut. *Tunggal* lebih menunjuk pada *jumlah satu atau tidak terdiri dari banyak bagian yang sejenis*. Dalam bahasa sehari-hari, sesuatu yang tunggal belum tentu unik atau belum tentu tidak ada bandingannya. Misalnya: • Seorang manusia dapat disebut individu tunggal. • Sebuah benda dapat berjumlah tunggal (satu buah). *Kata “Tunggal”*: Menunjukkan jumlah satu atau tidak jamak. Cocok dipergunakan untuk makhluk atau benda. Karena itu, kata *"tunggal"* tidak selalu mengandung makna ke-Tuhanan atau keunikan mutlak. “Dalam ajaran Islam meng-esa-kan Allah” disebut *tauhid*. *Tauhid* adalah keyakinan bahwa Allah itu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak memiliki sekutu, dan Tuhan memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak. Tauhid biasanya dibahas dalam *tiga* aspek: *Aspek Pertama; Tauhid Rububiyah*: Meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur alam semesta. Bahwa seluruh realitas bersumber dari Allah dan kembali kepada Allah. Pendekatan melalui *“Tauhid Rububiyah”* ini bukan sekedar mengucapkan, tetapi merasakan kehadiran Allah dalam setiap peristiwa kehidupan. Sampai2 dalam suatu keadaan yang sangat mencekam sekalipun, yakin se yakin2nya bahwa segala sesuatu terjadi hanya dengan idzin Allah. Yakin se yakin2nya bahwa Allah selalu mendampingi, seperti terukir dalam peristiwa katika Nabi Muhammad ﷺ bersama sahabat beliau Abu Bakar ketika memulai perjalanan hijrah (surat At-Taubah 40), اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ *لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ * فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ _”Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, *“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”* Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”._ *Kasus Nabi Ibrahim dalam konteks Tauhid Rububiyah* Dalam riwayat Ibn Jarir at-Thabari disebut bahwa saat Nabi Ibrahim hendak dibakar, Malaikat penjaga hujan (khazinul mathar) mengadu kepada Allah SWT untuk menurunkan hujan. Namun Allah telah terlebih dahulu mewahyukan kepada Nabi Ibrahim agar membaca do’a: قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ Kami berfirman: _“Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”_(terekam dalam Al-Quran surat al-Anbiya ayat 69). Saat do’a tersebut dibaca, Nabi Ibrahim serasa tidak masuk ke dalam api. Dalam hadis lain; riwayat Bukhari dari Abdullah bin Abbas dijelaskan bahwa ada do’a lain yang dibaca Nabi Ibrahim bahkan sebelum ia dimasukkan ke dalam api. Do’a tersebut adalah penggalan ayat dari surat Ali Imran ayat 173: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ _“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”_ *Kedua; Tauhid Uluhiyah (atau Ubudiyah)*: Meng-Esa-kan Allah dalam segala bentuk ibadah. Keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan diibadahi. Ini merupakan salah satu pembagian tauhid yang umum dijelaskan dalam kajian akidah Islam. Inti Tauhid Ubudiyah adalah mengarahkan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah. Penerapan Tauhid Ubudiyah seperti: Shalat, Do’a, Puasa, Zakat, Haji, Tawaqkal hanya kepada Allah dan segala bentuk ibadah tertuju kepada Allah. Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ubudiyah mengacu kepada penegasan Allah dalam surat Az-Zariyat Ayat 56, وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ _” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”_ *Ketiga; Tauhid Asma wa Sifat (توحيد الصفات)*. Perwujudan Tauhid Asma wa sifat, yakni menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah: • Tidak boleh menyerupakannya Allah dengan makhluk, benda apapun misalnya berbentuk patung, hewan, pohon, benda hidup atau benda mati, ditegaskan Allah dalam surat Asy-Syura ayat 11 لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ ( _“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”_). • Menyakini sepenuh hati dan jiwa akan ke *MAHA* an Allah, Allah maha kuasa, Allah maha mengetahui, Allah maha sempurna, Allah ……… (maha segalanya). • Dalam ber tauhid *asma wa sifat;* dipantangkan untuk; berpikir, membayangkan, menanyakan bagaimana wujudnya Allah. Adapun dasar larangan dimaksud termuat dalam surat Asy-Syura ayat 11 dikutip di atas dan juga larangan itu pernah diberitahukan Allah kepada Nabi Musa diabadikan dalam surat Al-A’raf 143: وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ Artinya: _”Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman"_ Rasulullah ﷺ bersabda terkait *Tauhid Asma wa Sifat (توحيد الصفات):* تَفَكَّرُوا فِي آلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوا فِي ذَاتِ اللهِ Artinya: _"Pikirkanlah tentang ciptaan-ciptaan Allah dan janganlah kalian memikirkan tentang Dzat Allah, karena sesungguhnya kalian tidak akan mampu mengukur-Nya (membayangkan-Nya)._". (HR. Abu Nu'aim dari Ibnu Abbas) Yaa Allah murnikanlah ke *TAUHID* an kami dalam meng *ESA* kan Allah, agar selamat kami di dunia ini terlebih di akhirat nanti. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 17 DzulHijjah 1447 H. 2 Juni 2026

Monday, 25 May 2026

MEMAKNAI SELAWAT

Disajikan: M. Syarif Arbi No: 1.420.08.05-2026 Allah memerintahkan bagi orang beriman untuk berselawat untuk Nabi Muhammad ﷺ. Redaksi selawat itu adalah اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. , maknanya "Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad” atau ada yang memakai redaksi اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ tanpa kata سَيِّدِنَا. maknanya "Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad”. Tulisan ini tidak membahas perbedaan pendapat tersebut. Perintah berselawat untuk orang beriman itu termaktub dalam Al-Qur’an: اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ۝٥٦ _“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”_ (Al Ahzab 56) *Allah berselawat; bermakna Allah mencurahkan rahmat, menganugerahkan kemuliaan, serta memberikan pujian kepada Nabi Muhammad ﷺ.* *Sedangkan para malaikat berselawat; berarti para malaikat berdo’a kepada Allah untuk memohonkan ampunan serta keberkahan buat Nabi Muhammad ﷺ. * *Adapun menusia berselawat; berarti berdo’a kepada Allah ("Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad”) dan juga penghormatan kepada Nabi Muhammad ﷺ .* Ada sebagian orang bertanya atau berkomenter *Nabi Muhammad itu kan sudah diberi rahmat oleh Allah, sudah dimuliakan oleh Allah, terpelihara dari segala dosa, kenapa Allah perintahkan lagi kepada orang beriman untuk berdo’a buat Nabi Muhammad ﷺ*. Ketahuilah para pembaca yang arif; bahwa berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ akan terkondisi hal-hal sebagai berikut: *Pertama; Menghadirkan cinta kepada Rasulullah Muhammad ﷺ*: • Semakin banyak seseorang berselawat, semakin kuat hubungan hati orang itu terhadap Nabi Muhammad. Karena dengan berselawat kepada Rasulullah, mengingat beliau, menggerakkan hati, terekam dalam pikiran orang yang mengucapkannya. Semakin sering seseorang, mengingat sesuatu, semakin lekat hal tersebut di hati dan pikirannya, apalagi jika ucapan selawat itu diucapkan sampai terdengar telinga sendiri walaupun perlahan. • Dengan berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ mewujudkan rasa Syukur dan penghargaan kepada Nabi Muhammad ﷺ atas perjuangannya menyampaikan risalah Islam. Menyadari besarnya pengorbanan ini otomatis memupuk rasa cinta. • Berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ Menghubungkan jiwa secara spiritual sekaligus merupakan cara bertawasul dan membuka koneksi spiritual dengan Rasulullah. Doa dan pujian yang dilafazkan menjadi sarana untuk menghadirkan kehadiran spiritual beliau di dalam hati. Setiap do’a yang di tujukan kepada Allah, bahkan harus didahului berselawat atas Nabi Muhammad ﷺ, seperti terdapat dalam hadist diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari sahabat Umar bin Khattab r.a. berbunyi: إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، لاَ يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم Artinya: _"Sesungguhnya doa itu tertahan di antara langit dan bumi, tidak naik sedikit pun darinya hingga engkau berselawat atas Nabimu shallallahu 'alaihi wa sallam."_ (HR At-Tirmidzi • Berselawat memuktikan ketaatan, kepatuhan, ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya, yang menjadi landasan utama tumbuhnya cinta yang tulus, menjalankan perintah Allah tersurat pada Al-Ahzab 56 dikutif di awal tulisan ini. Keterbatasan ruang tulis, kondisi2 lainnya sebagai nilai tambah yang diperoleh dari berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ yang kedua dstnya, mohon idzin hanya dikemukakan secara singkat. *Kedua; Menghidupkan sunnah dan akhlak Rasulullah Muhammad ﷺ.* Selawat yang sejati tidak berhenti pada ucapan, tetapi mendorong meneladani sifat beliau: jujur, lembut, amanah, dan penuh kasih. Berusaha untuk meneladani cara hidup Rasulullah keseharian dari mulai bangun tidur sampai ke tidur lagi. *Ketiga; Membersihkan hati* Selawat sering juga merupakan sebagai dzikir, karena disebut diawalnya “Allah”. Sedangkan dzikir adalah sarana melembutkan hati, menentramkan jiwa, dan mengurangi kelalaian. الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ _”(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram”_. (Ar-Raad 28) *Keempat; Mendapat balasan selawat dari Allah* Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا Artinya:* _"Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali."_* (HR. Muslim). Yaa Allah jadikanlah kami semua orang istiqamah dalam beriman dan senantiasa dapat melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 9 DzulHijjah 1447 H. 26 Mei 2026

Thursday, 21 May 2026

QURBAN PERTAMA

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.419.07.05-2026 Beberapa hari lagi, kita semua ber hari raya Idul Adha, di tandai dengan memotong hewan qurban setelah melaksanakan shalat sunah *Idul Adha*. Ibadah qurban, salah satu ibadah tertua di dunia ini. Ritual Qurban yang pertama kali dilakukan oleh manusia dilaksanakan oleh dua orang anak Nabi Adam yaitu *Habil dan Qabil*. Dua bersaudara ini disuruh berqurban oleh bapak mereka, Nabi Adam, sebagai media untuk Nabi Adam memutuskan sengketa calon istri. Siti Hawa, melahirkan selalu kembar *“fraternal”* atau *“dizigotik”* yaitu seorang bayi lelaki dan seorang bayi perempuan disatu kali kelahiran, kedua bayi itu disebut saudara sekandung, hanya sekali yang tunggal, yaitu saat melahirkan *Nabi Syits*, yang lahir menggantikan Habil karena dibunuh saudaranya sendiri, Qabil. Ketentuan di zaman Nabi Adam, karena belum ada manusia lain, maka anak2 mereka dinikahkan silang sesaudara, dengan aturan anak2 kembar sekandung tidak boleh menikah. *Qabil* lahir bersama dengan saudari satu kandung yang bernama *Iqlima*. Konon, *Iqlima* terlahir sebagai wanita berparas *cantik rupawan*. Sementara Habil lahir dengan saudari kandung bernama *Labuda*, tidak secantik *Iqlima*. Sesuai aturan yang berlaku, maka *Qabil harus menikah dengan Labuda*. *Sementara Habil menikahi Iqlima*. Qabil tidak terima. Ia hanya mau menikahi saudari satu kandungnya, Iqlima, yang memiliki paras cantik rupawan. Menyikapi sengketa itu, Nabi Adam as mengadakan semacam kompetisi kepada kedua putranya itu dengan memerintahkan untuk berqurban. Barang siapa yang qurbannya diterima oleh Allah swt, dia lah yang lebih berhak menikah dengan Iqlima. Ketika itu sebagai tanda qurban diterima, apabila material yang diqurbankan disambar oleh api yang turun dari langit. Al-hasil ritual qurbanpun dilaksanakan; Qabil yang seorang petani berqurban dengan hasil kebun miliknya. Sementara *Habil yang hidup sebagai peternak berqurban dengan seekor kambing terbaik yang ia miliki*. Qurban Habil diterima Allah swt, sedangkan *qurban Qabil tertolak lantaran Qabil berqurban dengan hasil tanaman yang buruk*. Di kisah ini diketahui bahwa material qurban ketika itu belum ditetapkan berupa hewan, agaknya sesuai dengan kepemilikan hasil usaha masing2. Dari persembahan qurban yang dikeluarkan masing-masing Qabil dan Habil, dapat dinilai, mana yang benar-benar ikhlas, dan mana yang tidak ikhlas. Ditolaknya qurban Qabil mengindikasikan bahwa Qabil bukanlah seorang yang ikhlas dan bertaqwa serta taat kepada Allah swt. Usai qurbannya tertolak sempat terjadi dialog Habil dan Qabil, diabadikan di surat Al Ma’idah ayat 27: Qabil berkata: لَأَقۡتُلَنَّكَۖ إِ = sungguh aku akan membunuhmu. Habil menjawab: إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ = sesungguhnya Allah hanya menerima qurban dari orang yang taqwa. Peristiwa perebutan *Iqlima*, dilanjutkan dengan melaksanakan *qurban*, sesuai perintah Nabi Adam, untuk menguji siapakah yang paling ikhlas. Berkesudahan dengan Pembunuhan manusia pertama di muka bumi ini dilakukan oleh QABIL membunuh saudaranya sendiri, HABIL. Dari peristiwa ini dapat kiranya dipetik penyebab terjadinya kemungkaran a.l.: 1. Kecenderungan memperturutkan hawa nafsu, kendatipun harus memaksakan kehendak, walaupun dengan tidak menta’ati ketentuan yang berlaku. Berlaku ketentuan di era nabi Adam, *Pernikahan Silang*, Qabil tidak setuju, karena Iqlima lebih cantik dari pada Labuda. 2. Faktor Iri hati, disebabkan Qurban Habil diterima oleh Allah, sedangkan Qabil, qurbannya tertolak. Qabil iri hati karena Habil bakal dapat istri lebih cantik. 3. Ternyata memang manusia sejak semula, terkelompok sekurangnya dua golongan; kelompok *fujuraha* dan kelompok *taqwaha* (lihat surat Asy-Syams ayat 8) perwujudan dalam kasus ini yaitu: a. Orang yang sangat sayang kepada hartanya, kalaulah untuk keperluan ibadah dipilihnya yang paling tidak dapat dimanfaatkan lagi. Qabil memilih sesuatu buat qurban, dari hasil pertanian yang sudah tak layak dimakan, bahkan dirinya sendiripun tak akan mau memakan hasil peratanian yang dibuatnya material qurban itu. b. Orang yang bila untuk kepentingan ibadah, rela menggunakan miliknya yang terbaik, contoh si Habil berqurban dengan hewan ternaknya yang terbaik. 4. Ikhlas adalah kunci dari diterimanya semua ibadah oleh Allah, termasuk ibadah qurban. Salah satu tanda ikhlas adalah mampu memberikan harta kita yang paling terbaik, bukan sebaliknya memilihkan yang tidak dapat dipakai lagi oleh kita barulah digunakan buat sedekah misalnya. 5. Guna memperturutkan hawa nafsu dibalut iri dan dengki, seseorang tega walau sampai harus, menjegal sahabat seiring, menggunting dalam lipatan, contoh si Qabil tega membunuh saudaranya sendiri Habil. Ritual Qurban yang pertama kali di atas bumi ini dilaksanakan putra nabi Adam, Habil dan Qabil, dialanjutkan dengan ritual Qurban yang kedua; ialah qurban Nabi Ibrahim mengorbankan putranya Nabi Ismail, kemudian diganti Allah dengan seekor domba. Kini kita semua akan melaksanakan ritual qurban (tak salah,…. mungkin jika disebut ritual qurban yang ke tiga), sebab nabi Ibrahim diperintah Allah menyembelih anaknya nabi Isma’il, yang kemudian diganti Allah dengan domba. Sedangkan kita sekarang meneruskan contoh nabi Ibrahim dengan menyembelih hewan ternak, dicontohkan pula oleh Rasulullah Muhammad ﷺ dilaksanakan sesudah Shalat Idul Adha. Ritual qurban pertama di atas dunia ini, dilaksanakan oleh putra nabi Adam: 1. Atas perintah nabi Adam, untuk menentukan pilihan istri, 2. Sekaligus juga untuk membuktikan ketaqwaan kepada Allah. 3. Material yang diqurbankan sesuai apa hasil usaha yang dimiliki masing2. Ritual qurban kedua di dunia ini oleh nabi Ibrahim: 1. Atas pertintah Allah kepada Nabi Ibrahim melalui mimpi. 2. Juga merupakan ujian Allah untuk membuktikan ketaqwaan nabi Ibrahim dan nabi Ismail menjalankan perintah Allah. 3. Material yang diqurbankan adalah anak semata wayang yang sudah ditunggu kelahirannya sampai nabi Ibrahim berusia 86 tahun. Bagaimana perintah Allah dan keikhlasan kedua nabi Allah ini, Ibrahim dan Ismail terlukis indah dalam surat Ash-Shaffat 102 berikut: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٠٢ _”Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Isma’il) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”_ Sedangkan berqurban diperintahkan untuk kita sekarang ini: *Pertama*: Atas perintah Allah dalam surat Al-Kautsar إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ _”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”._ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ _”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”._ *Kedua:* Juga merupakan ujian Allah buat kita, akan ketaqwaan kita, sudah sanggupkah diri masing2 melaksanakan perintah Allah, walau hanya diujung baris sebuah ayat. *Ketiga:* Wujud material yang diqurbankan adalah hewan ternak, tidak banyak diantara kita memiliki peternakan, namun syarat ber-qurban di Idul Adha adalah tetap berupa hewan ternak berupa Kambing, Sapi, Onta, bukan berupa ayam, bebek dan angsa. Untuk pengadaan hewan yang disyaratkan itu, di menjelang musim ber-qurban, harganya meningkat, sudah sanggupkan awak merogoh kocek lebih dalam, membuktikan ketaqwaan kepada Allah. Yaa Allah jadikanlah kami hamba2-Mu yang mentaati apapun perintahMu termasuk ritual menyembelih hewan Qurban. Yaa Allah kuatkanlah kami dalam ber-qurban dalam segala bentuk dalam rangka pengabdian kepada Allah yang telah memberikan kepada kami karunia dan nikmat yang tiada terhingga. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 4 DzulHijjah 1447 H. 21 Mei 2026

Sunday, 17 May 2026

JABARAN ALHAMDULILLAH

Diolah: M. Syarif Arbi No: 1.418.06.05-2026 Kata ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ - “Alhamdulillah” , adalah ucapan yang lazimnya digunakan orang beragama Islam, namun kini saudara2 kita sebangsa, walau tidak beragama Islampun sudah banyak menggunakan kata Alhamdulillah di berbagai kesempatan. Dengan demikian ungkapan Alhamdulillah sudah “menasional” untuk bangsa Indonesia. Kata Alhamdulillah disebut “Tahmid” adalah salah satu dari 5 dzikir lisan yang lainnya yaitu: “Tasbih” = Subhanallah, “Takbir” = Allahu Akbar, “Tahlil” = La ilaha illallah dan “Istighfar” = Astaghfirullah. Orang beragama Islam senantiasa berdzikir Alhamdulillah sebagai perwujudan berterimakasih kepada Allah karena menyadari bahwa seluruh kenikmatan datang dari Allah: وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ -“Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian, apabila kamu ditimpa kemudaratan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan”-. (An-Nahl 53) Sebagai tanda seseorang bersyukur atas nikmat Allah, tidak merasa keberhasilan dicapai karena kemampuan diri sendiri. Menyadari bahwa rezeki, kesehatan, ilmu, keluarga, dan kesempatan adalah pemberian Allah. Selanjutnya selalu dalam hati diikuti lisannya mengucapkan Alhamdulillah. Akan tetapi wujud berterimakasih kepada Allah itu bukan hanya lewat ucapan “Alhamdulillah”, berdo’a dan berdzikir, tetapi juga terlihat dari sikap dan cara hidupnya yaitu: *Pertama; Menggunakan nikmat untuk kebaikan.* Ilmu dipakai membantu orang, harta dipakai bersedekah, tenaga dipakai untuk hal bermanfaat, bukan untuk maksiat. Tuntunan Allah dan Rasul-Nya dalam memanfaatkan kenikmatan: *1. Perintah Bersyukur dengan Amal:* Allah SWT berfirman, dalam surat Saba’: 13. Syukur tidak cukup di lisan, melainkan dibuktikan dengan tindakan. ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ. ……………………………” -“……………Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.- (Surat-Saba’-ayat-13) *2. Menjalankan Ketaatan:* Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kenikmatan (seperti kesehatan dan waktu luang) adalah amanah yang harus digunakan untuk amal shaleh. Semakin banyak nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk beribadah. *3. Berbagi Manfaat kepada Sesama:* Sabda Rasulullah ﷺ, خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ -"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." - (HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan ad-Daruqutni) Kenikmatan seperti harta atau ilmu harus disalurkan untuk membantu yang membutuhkan. *4. Larangan Bermaksiat:* Allah SWT memperingatkan agar nikmat tidak disalahgunakan untuk hal yang merugikan, وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ -“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”-. (Al-Baqarah-ayat-195) *Kedua; Menjaga ibadah* Sebagai bukti seseorang bersyukur akan menjadi lebih taat, senantiasa menjaga shalat, sangat berhati-hati ketika berucap dan berbuat karena takut menjadi dosa, terus menerus berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah. *Ketiga; Tidak banyak mengeluh* Bukan berarti hidupnya selalu mudah, tetapi ia berusaha melihat kebaikan yang masih dimiliki dan tetap sabar saat diuji. *Keempat; Dermawan*. Orang yang bersyukur biasanya tidak pelit. Ia sadar nikmat berupa harta yang dimiliki juga ada hak orang lain di dalamnya. وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ ۝١٩ -“Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta”-. (Adz-Dzaariyat Ayat 19) *Kelima* Hatinya merasa cukup (qana’ah) Tetap punya usaha dan cita-cita, tetapi tidak terus-menerus iri pada milik orang lain. Nikmat membuatnya makin rendah hati, makin bersyukur. Semakin diberi kelebihan, semakin tidak sombong. وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ -“ (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras . ”- (surat Ibrahim ayat 7) Yaa Allah jadikanlah kami termasuk orang yang pandai bersyukur, baik saat nikmat terasa besar maupun kecil. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 1 DzulHijjah 1447 H. 17 Mei 2026

Monday, 11 May 2026

MEMILIH JODOH

Disajikan: M. Syarif Arbi No: 1.416.04.05-2026 Populer kata2 bijak tetua kami dulu: “Maut, tanah terbaris dan jodoh” adalah rahasia Allah, adalah taqdir dari Allah, dengan pengertian bahwa tak seorangpun dapat memperkirakannya. Maut, ialah manakala roh beripasah dengan jasad, tegasnya saat kematian. Hanya saja penyebab kematianlah yang berbeda. Umumnya orang mati dikarenakan sakit, walau tak jarang orang meninggal tanpa sakit, tidur tak bangun lagi. Ada pula yang orang mati kerena kecelakaan lalu lintas, transportasi baik darat maupun udara. Ada orang mati ketika sedang beramal baik, ada pula yang mati sedang bermaksiat. Ada pula yang mati karena bunuh diri, mati terbunuh, atau terpidana hukuman mati. Jika kematian-kematian itu sudah terjadi, tiada lain kata yang dapat diucapkan, bahwa itu semua terjadi adalah sudah taqdir Allah, insan beriman mengimani bahwa tidak suatupun yang terjadi tanpa idzin Allah. مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; (surat-at-taghabun-ayat-11). Surat Al-Hadid Ayat 22 مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Adapun “tanah terbaris” disebutkan pada ungkapan diatas, ialah tempat dimana diri di kuburkan, bisa jadi di tengah samudera, boleh jadi jauh dari tanah kelahiran, tidak sedikit pula orang yang tak tau dimana jasadnya, kerena kematian kecelakaan pesawat terbang yang tidak ditemukan. Taqdir kematian, sepertinya setiap diri tidak dapat memilih, ingin mati secara apa, termasuk pilihan mati “bunuh diri”, banyak kasus rencana bunuh dirinya gagal, lantaran kepergok orang lain. Minum racun, sempat ditolong dilarikan kerumah sakit. Taqdir kematian, kelahiran, jenis kelamin ketika lahir merupakan Taqdir Mubram; yaitu takdir yang sudah pasti dan tidak dapat diubah oleh manusia. Adapun taqdir perkara jodoh, bila sebelum terlaksana, masih ada kemungkinan untuk “memilih taqdir”, karena masalah jodoh terkelompok Taqdir Muallaq, yaitu taqdir yang masih bisa berubah dengan usaha, dapat berubah dengan doa, dan masih berpeluang berubah melalui ikhtiar manusia atas izin Allah. Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ "...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri... (Surat Ar-Ra’ad 11) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (Surat An-Najm Ayat 39) Sementara itu terdapat hadist: لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ "Tidak ada sesuatu yang dapat menolak Qadla (takdir) kecuali do’a." (HR. At-Tirmidzi). Do’a adalah salah satu sebab yang memiliki pengaruh terhadap akibatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: لَا يَرُدُّ القَضَاءَ إلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي العُمُرِ إلَّا البِرُّ “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan.” ……. Hadist diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Qadar, bab “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa” (no. 2139), dari hadis Salman radhiyallahu ‘anhu. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Sahihah (no. 154) dan dalam Sahih Al-Jami’ (no. 7687). Atas dasar referensi Al-Qur’an dan hadist diatas bahwa tentang jodoh, setiap orang dapat memilih. Idealnya pertimbangannya bukan hanya “cocok” atau “tidak cocok” akan tetapi mempertimbangkan dari berbagai aspek dari calon yang akan dijadikan pasangan hidup. Pertimbangan yang detail ini tentulah dimungkinkan kalau mereka sebelum memutuskan menjalin kehidupan berumah tangga, mereka sudah saling kenal yang relative lama. Dalam hal sepasang calon suami istri ini sebelumnya sudah saling menjajagi, maka pertimbangannya dapat dilakukan dari aspek: Agama dan ketaatan terhadap agama, Pendidikan, Silsilah keluarga orang baik2. Nilai hidup dan prinsip dasar, Karakter se-hari2, Cara berkomunikasi, kematangan emosional , Apakah berpotensi untuk KDRT, Kecocokan tujuan masa depan, Sikap terhadap uang/harta/materi, lingkungan dan relasi sosial, rasa aman dan nyaman, daya tahan terhadap masalah. Yang juga penting: jangan memilih hanya karena takut tak akan dapat pasangan hidup, miris karena usia makin banyak, kesal karena keluarga nanya terus, atau sudah terlalu lama jomblo/perawan. Tidak mustahil di era sudah berabad menjauh dari dzaman “Siti Nurbaya” ini, ada saja terjadi orang yang ketemu jodoh dadakan (seperti dahu bulat), namun dapat saja rumah tangganya “SAMAWA”, sebaliknya pemilihan jodoh setelah dengan pertimbangan yang matang, melalui pendekatan pranikah yang panjang, namun ada juga kasus suatu rumah tangga yang keadaannya tetap kurang mengenakkan. Kembali ku teringat beberapa istilah orang tua2 dikampungku dulu melukiskan model2 keluarga yang tidak bahagia, 3 diantaranya yaitu: Satu; “Abu di atas tunggul”, melambangkan suatu keluarga yang kurang bahagia lantaran disebabkan tidak akurnya suami istri, sering berselisih paham hanya karena soal2 yang remeh temeh, soal kecil, sehingga rezeki mereka seret. Dapat rezeki banyak pun tidak berkah apa lagi sedikit. Perolehan rezeki langsung hilang, habis ndak tentu juntrungannya “laksana Abu di taroh di atas tunggul” langsung terbang ditiup angin atau hilang disapu hujan. Dua; “Lalang Kebakaran”. Istilah ini melambangkan keluarga yang isinya; suami sering marahi istri, atau sebaliknya istri sering marahi suami. Isi rumah tangga mereka marah – marahan melulu. Keadaan ini kalau mereka dikerunia Allah keturunan, dalam banyak kasus (walau tidak semua), anak2 keturunannya jika membentuk rumah tangga nanti akan menurun, Sukanya ngomel, ngedumel, marah2 kepada pasangannya. Istilah “Lalang kebakaran” buat melambangkan keadaan ini, karena “Lalang” bahasa kampungku; “Ilalang” bahasa Indonesia, bila kebakaran selain apinya berkobar, juga terdengar letupan2 bunyi yang berenteng, begitu “Lalang” itu di lalap api. Tiga; “Asuk di ketitian”. Pembaca, di hutan Kalimantan, sebelum jadi kebun Kelapa sawit seperti belakangan ini, dalam hutan2 kadang ditemukan kali kecil memisahkan dua tanah daratan. Untuk menghubungkan dua daratan itu penduduk yang sering melewati hutan itu, merebahkan pohon atau dahan pohon untuk dapat menyeberang, alat nyebrang ini disebut dengan “Ketitian”. Adapun “Asuk”, bahasa setempat untuk menyebut “Anjing”. Naaah jikalau ada dua ekor Anjing, yang ingin nyebrang berada di ujung ketitian yang berlawanan, mereka tidak mau saling mengalah, masing2 maju akhirnya ketemu di tengah2 ketitian. Yang terjadi masing2 sebesaran mengluarkan salakan/gonggongan. Rumah tangga yang dilambangkan bagaikan “Asuk di ketitian” ini si suami dan istri saling tak mau mengalah dalam segala hal, isinya rebut terus. Pembaca, kalaulah tulisanku ini di baca sobat2 yang sudah sepuh yang kini melihat anak2 merajut keluarga mereka masing2, kita berdo’a semoga Allah menjadikan keluarga anak2 dan keluarga cucu2 kita bahagia; Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah. Jikalah yang membaca tulisanku ini keluarga pemula, baru menyusun hidup baru, hati2lah membina rumah tangga setidaknya jangan sampai tertular “Abu diatas tunggul”, “Lalang Kebakaran” maupun “Asuk di ketitian”. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 23 DzulKaidah 1447 H. 11 Mei 2026

Thursday, 7 May 2026

RAKET ATOK

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.415.03.05-2026 Setiap orang pasti pernah, bahkan sering mengalami berada di kumpulan orang2 yang tidak saling mengenal. Misalnya ketika bepergian; mulai di ruang tunggu Bandara, di dalam pesawat terbang, naik kereta api dalam kota atau jarak jauh, naik bis umum, perjalanan dengan kapal laut antar pulau, sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit. Ada saja suatu keadaan, seseorang yang sangat suka bercerita, suka ngomong, tak jauh dari tempat duduk kita. Kadang si pengomong tak pilih partner ngomong, dapat saja tetangganya duduk yang baru saja ketemuan di moment itu di ceritainya, diomonginya, tak jarang tanpa orang bertanya. Kebanyakan orang sangat bising bila di suasana seperti ini ada yang berbicara atau ngomong terlalu nyaring, karena pada umumnya orang duduk dalam perjalanan atau duduk di ruang tunggu, ingin suasana tenang, tidak berisik, bahkan ada sebagian orang di keadaan seperti ini memilih untuk tidur2an, sambil menyimak apa ada pengumuman penting, atau menyibukkan diri membaca (kini dapat dari HP). Adab standar ketika berada di ruang public seperti diungkap diatas, adalah: 1. Duduk dengan sopan; tidak selonjoran berlebihan atau tidak mengambil lebih dari satu kursi, memberikan prioritas kursi kepada lansia, ibu hamil atau orang sakit. 2. Menjaga suara; Jangan menyetel bunyi2an dari HP sampai didengar orang lain. Belum tentu bunyi2an yang menurut kita enak didengar, enak juga buat orang lain. Jika bepergian dengan pendamping, atau rombongan, tolong jangan berbicara dengan pendamping atau teman serombongan anda dengan suara yang keras, hal itu mengganggu kenyamanan orang lain. Gunakan headset jika anda menonton video atau mendengarkan audio. 3. Memelihara kebersihan; Tidak membuang sampah sembarangan, merapikan kembali area tempat duduk, ketika anda meninggalkannya. 4. Hormati privasi orang lain; Tidak mengintip layar HP tetangga duduk atau nguping percakapan orang lain. Tidak memotret sembarangan. 5. Bijak menggunakan HP; Pilih mode senyap atau getar, sehingga jika ada panggilan masuk didengar orang lain, tidak sampai mengundang perhatian orang lain, beritahukan ke penelpon “saya sedang berada di…….., nanti kita bicarakan lagi”. Bila sangat perlu untuk melakukan panggilan, usahakan mencari lokasi yang agak jauh dari kumpulan orang, itupun tak usah bersuara keras dan persingkat pembicaraan. 6. Patuhi aturan tempat; Tidak menyerobot antrian atau barisan. Bagi yang masih merokok, cari tempat yang disediakan, kalau tidak ada jangan sampai merokok. 7. Sikap dan penampilan; Berpakaian yang sopan, rapi. Sabar dan ramah (tidak berlebihan), tidak emosian manakala terganggu orang lain, apalagi tak sengaja, pilih menghindar. Adab di tempat umum; Menghormati sesama, tidak membuat orang lain merasa terganggu, sejalan dengan akhlak seorang yang diajarkan Al-Qur’an dan hadits. Surat An-Nisa Ayat 86: وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”. Hadits tidak mengganggu orang lain: عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Seorang muslim adalah orang lain (muslim lainnya) selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41) Dalam praktek, dapat saja saudara kita, atau dapat saja kita sendiri justru terlupa ketika berada di tempat umum seperti dicontohkan di atas, tak sadar ngobrol, bercerita dengan teman disamping tempat duduk kita, sehingga orang lain terganggu, sementara orang lain meskipun kebisingan, tapi tidak enak untuk mengingatkan. Di keluargaku di kampung halamanku ada resep ampuh untuk menghentikan kalau ada diantara rombongan keluarga kami seperjalanan, ada yang bercerita dengan orang lain panjang lebar tak putus2. Resepnya adalah tanyakan saja: “RAKET apakah tak lupa dibawa”. Langsung anggota kami yang sedang ngobrol terus menerus tersebut pelan2 menyudahi obrolannya, sambil senyum tipis. Rahasia RESEP tersebut adalah: Seseorang tetangga rumah kami dikampung dulu, sangat sering membanggakan dirinya selalu paling hebat, pokoknya ketika masih mudanya dianya selalu menjuarai segala pertandingan. Sampai2 beliau berbicara soal RAKET, dia punya RAKET paling hebat, dia katakana: “Raket Atok dulu Cap Kepala, kalau dipukulkan senarnya berbunyi ding-ding-ding”. Disimpulkan bahwa itu Datuk adalah sangat “pembual”, jadi jika anggota keluarga kami dalam rombongan, bercerita berkepanjangan, untuk mengingatkannya tanyakanlah kepadanya tentang “RAKET”, langsung dia ingat cerita “Raket Atok”, cerita berbual-bual. Agar salah satu keluarga kami ini tidak hanyut dalam bualan yang dapat mengganggu orang lain. Belum lama ini, kami duduk di ruang tunggu suatu RUMKIT seluas k/l : 6 x 8 mater. Seorang pasien bercerita dengan suara nyaring terdengar jelas dari sudut ke sudut ruangan. Topik ceritanya sih sesuai dengan keadaan, yaitu tentang penyakit dirinya, berobat dengan biaya yang aduhai mahalnya sampai ke mana2 disebutkan negeri luar sana. Tak henti2nya dia bercerita, teman duduk disampingnya yang agaknya baru saja kenal itu, hanya menyela pertanyaan sekedarnya, sekedar basa basi menghormatinya. Kami pasien lain banyak yang gelisah sambil sesekali menoleh ke arah sumber suara. Ku teringat, kalaulah dia keluarga ku akan kubisikkan pertanyaan “dimana RAKET ATOK di Simpan?” Semoga kita semua dapat menerapkan adab2 ketika di ruang public, supaya tidak membuat orang lain berdosa, lantaran ulah diri kita, dalam hatinya merasa risau terganggu, lalu mencela kita. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 19 DzulKaidah 1447 H. 7 Mei 2026

Monday, 4 May 2026

KETIAK ULAR

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.414.02.05-2026 Begitu banyak jenis Ular yang diciptakan Allah, di Indonesia saja tidak kurang dari 350 jenis, diantaranya 77 jenis berbisa. Dikabarkan di dunia jenis ular lebih dari 3.900 spesies, sekitar 600 an spesies tergolong berbisa. Bisa ular yang sangat mematikan itu justru menjadi sangat bernilai di dunia medis. Para ilmuwan sudah lama meneliti protein dan enzim dalam racun tersebut untuk diubah menjadi obat-obatan penyembuh beberapa jenis penyakit, tentu setelah melalui proses tertentu. Itulah mungkin sebabnya para medis di bidang pharmasi menjadi “Gelas dan Ular” sebagai pilihan lambang. Akan kemanfaatan ciptaan Allah berupa ular, sekalipun beracun mematikan, justru dapat dijadikan obat, maka benarlah firman Allah bahwa apapun yng diciptakan Allah tidak ada yang tidak berguna, tidak ada yang sia-sia. الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka”. (Ali-Imran 191) Diruang tulis terbatas ini, tidak melanjutkan tentang masalah “bisa” ular, tetapi sedikit menyinggung tentang anatomi ular dalam arti kiasan. Ada suatu kiasan untuk orang2 yang sangat menjelimet, sangat2 berlebihan teliti, condong rebet, cerewet. Orang itu diberi julukan “dapat melihat ketiak Ular”. Orang lain tidak ada satupun yang dapat melihat ketiak Ular, karena memang Ular tidak ada ketiak, lantaran tak punya lengan. Penyandang julukan “dapat melihat ketiak Ular” ini, jika mempertimbangkan untuk memutuskan sesuatu demikian telitinya diatas rata-rata. Pengambilan keputusan cenderung lama, lantaran banyak kajian dan pertimbangan, ekstrimnya kajiannya seringkali melihat dari sudut negative, tidak berpikir positif. Di kampungku ada pepatah “Pilih2 Tebu terpilih ke Tebero”. “Tebero”; mirip tebu tumbuh di tepian sungai berawa, tetapi sama sekali tidak manis kerena memang bukan Tebu. Terdapat 7 (tujuh langkah) dapat dilakukan ketika akan mengambil keputusan menurut ajaran Islam (berdasarkan Al-Qur’an dan hadits). Prinsip dasarnya pengambilan keputusan bukan sekedar memilih yang paling cepat atau paling menguntungkan, tapi yang paling benar menurut ketentuan Allah dan diyakini akan diridhai Allah. PERTAMA: Luruskan niat dengan Ikhlas. Segala keputusan dimulai dari niat. Pastikan tujuan diambilnya keputusan bukan sekedar untuk duniawi, tapi untuk kebaikan dan ridha Allah. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an Al-Bayyinah ayat 5: وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. Berpegang ayat diatas maka sebelum memutuskan sesuatu, hendaklah tanya diri sendiri---- ini karena Allah atau karena ego? KEDUA: Lengkapi data dan himpun informasi. Jangan mengambil keputusan dalam keadaan tidak tahu, harus lengkapi data dan himpun informasi tentang masalah yang akan diputuskan. Allah memberikan petunjuk dalam Al-Qur’an (QS. Al-Isra’: 36): وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ۝٣٦ Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. Oleh karena itu maka sebelum memutuskan sesuatu hendaklah: Cari fakta, Tanyakan pada yang ahli dan Hindari keputusan emosional. KETIGA: Mintakan pertimbangan orang kepercayaan. Diskusikan dengan orang yang dipercaya dan berilmu. Orang kepercayaan misalnya suami atau istri, atau orang yang dekat dengan diri tempat kepercayaan curhat atau meminta pertimbangan. Dalam hal ini Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 159) فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. Dalam hal diskusi meminta pertimbangan, pilihlah orang yang: Bijak, Jujur dan paling penting dianya “tidak hanya membenarkan diri kita”, atau asal kita senang. KEEMPAT: Shalat Istikharah Meminta petunjuk langsung kepada Allah, diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits (HR. Imam Bukhari) Caranya: 1. Shalat 2 rakaat 2. Membaca doa istikharah 3. Perhatikan kecenderungan hati & kemudahan setelahnya. Petunjuk Allah tidak selamanya berupa mimpi tetapi lebih sering berupa kemantapan atau justru rasa berat. KELIMA: Menimbang maslahat & mudarat. Keputusan yang akan dimabil dinilai dari dampaknya, dengan prinsip: • Pilih yang manfaatnya lebih besar • Hindari yang mudaratnya dominan Ini sejalan dengan kaidah fiqh: “Menolak kerusakan didahulukan daripada mengambil manfaat” دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ Sehubungan dengan itu dapat saja dibuatkan matriks, dengan memberikan nilai dengan skor angka bagi alternatif2 yang akan dipilih buat keputusan. Misal dalam memilih pasangan hidup; dapat di buat diskripsi: 1. Kecantikan., 2. Asal keturunan., 3. Agama., 4. Pendidikan., 5. Usia., . dll. Lalu pasangan hidup yang akan dipilih misalnya si A si B dan si C. Nilailah mereka masing2, berapa skor tiap diskripsi yang ditentukan dengan angka. Selanjutnya pilih kumulatif skor angka yang tertinggi. KEENAM: Mengambil keputusan tidak tergesa-gesa, tapi tidak lamban. Keputusan yang terburu-buru sering salah. Hadits: “Ketergesaan itu dari setan…” (HR. Abu Dawud) التَّأَنِّي مِنَ اللهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ "Sikap tenang (teliti) itu dari Allah, sedangkan ketergesaan (terburu-buru) itu dari setan” Kecuali dalam kebaikan—itu dianjurkan untuk disegerakan. KETUJUH: Tawakal setelah keputusan diambil. Setelah semua ikhtiar dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah. Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 159) seperti dikutif di langkah KETIGA: “…kemudian apabila kamu telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah…” Dengan focus pehatian: • Jangan overthinking setelah memilih • Terima hasil dengan lapang dada. Pengambilan keputusan selalu dihadapi setiap orang, antara memilih salah satu dari beberapa alternatif, misalnya antara lain dapat terjadi: memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal, memilih membeli sesuatu, memilih jodoh pasangan hidup, memutuskan bepergian, ORTU memilihkan Pendidikan anak2 mereka, Seorang remaja memilih sekolah untuk menundukung cita2nya., dll. Semoga Allah memberikan petunjuk buat pembaca sekalian memutuskan sesuatu, dengan tidak terlalu menjelimet sampai dapat julukan “mengetahui ketiak Ular”, jika telah diputuskan semoga Allah memeliharakan keptusan itu untuk kebaikan dunia dan akhirat. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 17 DzulKaidah 1447 H. 5 Mei 2026