Sunday, 20 September 2026

BOCORNYA PUNDI-PUNDI PAHALA

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.442.02.09-2026 Istilah *"bocornya pundi-pundi pahala"* menggambarkan perbuatan yang secara tidak sadar merusak, menghapus, atau mengurangi bobot pahala dari kebaikan yang telah dikerjakan. Seseorang mungkin tekun beribadah, namun pahalanya *"bocor"* atau terbuang sia-sia karena perilaku tertentu menyertainya. Berikut adalah *7 (tujuh) hal utama* yang sering menjadi penyebab *bocornya pundi pahala*: *PERTAMA; Riya' (Pamer) Langsung.* Melakukan amal kebaikan agar dipuji, dilihat, atau dibicarakan orang lain, bukan murni karena Allah, secara lansung. Surat Al Baqarah ayat 264: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ Artinya: _*Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.*_ - Surat An-Nisa ayat 142 اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًا Artinya: _*”Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk shalat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya’ di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali”.*_ *KEDUA: Riya' Digital (Pamer Kebaikan di Media Sosial)* Membagikan momen ibadah, sedekah, atau do’a di media sosial *dengan niat terselubung* untuk membangun citra diri (personal branding) atau mendapatkan sanjungan. Kata kuncinya adalah *niat*, tidaklah setiap orang baik sebagai ustadz/ustadzah maupun orang biasa; membuat konten atau men share artikel2 dakwah di medsos langsung terkelompok *Riya’ Digital*, jika *diniatkan* untuk menyebarkan ilmu. Secara agak luas soal Riya’ telah ditulis dalam artikelku sebelum artikel ini No: 1.441.01.09-2026 tanggal 4 September 2026/23 Rabiul Awal 1448 H. *KETIGA; Sum’ah (ingin didengar)* Sum’ah dalam Islam adalah melakukan amal kebaikan agar didengar atau diketahui orang lain sehingga mendapat pujian. Sebagai contoh: *Bersedekah* lalu menceritakan kepada orang agar dipuji sebagai orang dermawan. *Membaca Al-Qur’an* dengan suara yang sengaja dibuat bagus supaya orang lain memujinya. Awas tak jarang hal *sum’ah* ini terkena kepada imam2 di masjid ketika mengimami shalat berjamaah, lalu terlintas di pikiran: *“Begini lho membaca Al-Qur’an yang baik dan benar”* dengan tujuan didengar untuk mendapat apresiasi dari jamaah atau orang yang biasa jadi imam di masjid itu, ikut berjamaah. *Menceritakan* banyaknya amal yang telah dilakukan untuk mendapatkan penghargaan atau sanjungan. *Menceritakan bahwa ia sering shalat tahajud* agar dianggap sebagai orang yang rajin beribadah. Hati2 men share *ajakan* shalat tahajud pada waktu dinihari sepertiga malam di ponsel anda ke group, jangan sampai terbetik di hati memberi tahu orang se group bahwa diri anda sudah bangun dan melaksanakan shalat tahajud, ini juga dapat tergolong “sum’ah” lebih condong ke *Riya’*. *Perbedaan singkat antara Riya’ dan Sum’ah*: *Riya’ lebih berkaitan dengan ingin dilihat orang*, *sedangkan sum’ah berkaitan dengan ingin didengar/diceritakan kepada orang lain*. مَنْ يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَاءِ يُرَاءِ اللَّهُ بِهِ Artinya: "Siapa yang *ingin didengar (sum'ah)*, Allah akan menjadikannya didengar (dibongkar niat buruknya di akhirat), dan siapa yang *ingin dilihat (riya’)*, Allah akan menunjukkan (aibnya)." (HR. Ibnu Majah No. 4206) *KEEMPAT; Menyebut-nyebut Kebaikan (Al-Mann) & Menyakiti Perasaan.* Mengingat-ingat kembali atau menyebutkan bantuan yang pernah diberikan kepada orang lain hingga membuat penerimanya merasa terhina atau sakit hati. Model menyebut ini dapat dengan cara langsung; dikemukakan dihadapan orang dibantu misalnya dengan kata2: *“Sombong kamu sekarang ya, kalau bukan saya membiayai sekolahmu dulu kamu tidak sesukses sekarang”*. Dapat pula dengan secara tidak langsung misalnya menyebutnya kepada orang lain: *“Dia itu jika saya mintai tolong sesuatu pasti tidak akan menolak, karena dia tentu tak akan lupa sayalah yang merekomendasikan dia masuk kerja…., lalu sekarang berjabatan tinggi”*. Larangan Al-Mann itu tercantum di Al- Baqarah ayat 264 dikutip di atas (لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ) *KELIMA; Dengki dan Hasad.* Harapan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang. Dengki dapat menggerogoti dan menghabiskan kebaikan-kebaikan yang telah terkumpul. *KEENAM; Ghibah (Membicarakan Aib Orang Lain).* Menggunjing, memfitnah, atau mencela orang lain. Di akhirat, pahala orang yang berbuat ghibah akan ditransfer kepada orang yang dizaliminya. *KETUJUH; IBADAH DICAMPUR MAKSIAT.* Membatalkan Pahala dengan Keburukan Berulang, Mencampuradukkan ibadah dengan perbuatan maksiat secara sengaja tanpa rasa menyesal atau niat untuk bertobat. Artikel nomor ini dicukupkan sampai disini dulu, karena sudah lebih dari 750 words, supaya artikel ini tak terlalu panjang إِنْ شَاءَ اللَّه *hal ke lima, keenam dan ketujuh* akan diungkap di kesempatan lain. Yaa Allah jauhkanlah kami semua dari *bocornya pundi2 pahala* kami baik karena sengaja, maupun karena tidak sengaja lantaran kurangnya pengetahuan kami. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 20 September 2026/8 Rabiul Akhir 1448 H.

Friday, 4 September 2026

RIYA’ DIGITAL

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.441.01.09-2026 RIYA’; Melakukan amal kebaikan agar dipuji, dilihat, atau dibicarakan orang lain, bukan murni karena Allah. Terdapat dua model utama Riya’: (1). *Riya' Fulgar* yaitu beribadah semata-mata hanya untuk mencari pujian dan perhatian manusia, tanpa ada niat karena Allah. (2). *Riya' Campuran* ialah beramal karena Allah, pada saat yang bersamaan dicampuri dengan niat ingin dipuji oleh manusia. Bila mengacu pada Al-Baqarah 264; kedua-dua jenis Riya’ ini tidak akan mendapatkan pahala disisi Allah; يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِكُمۡ بِالۡمَنِّ وَالۡاَذٰىۙ كَالَّذِىۡ يُنۡفِقُ مَالَهٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلۡدًا ؕ لَا يَقۡدِرُوۡنَ عَلٰى شَىۡءٍ مِّمَّا كَسَبُوۡا ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡـكٰفِرِيۡنَ‏ ٢٦٤ _*Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’` (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir*_. Sejalan dengan berkembangannya teknologi komunikasi, apa yang dikenal dengan *MEDSOS* dengan berbagai turunannya, dari teknis penyampaiannya maka kini berkembang pula model RIYA’ yang dikenal dengan *Riya’ Digital*. *Riya’ digital* adalah sikap memamerkan atau menunjukkan amal, ibadah, kebaikan, atau kesalehan melalui media digital seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, atau media sosial lainnya dengan tujuan agar mendapat pujian, perhatian, atau pengakuan dari orang lain, bukan semata-mata karena Allah*. Misalnya; Seseorang mengunggah foto saat bersedekah dengan tujuan agar orang lain menganggap dirinya dermawan. Lalu menuliskan _*“Alhamdulillah hari ini bisa berbagi 150 paket makanan”*_ dengan tujuan agar orang melihat dirinya dermawan. Memposting ibadah; dimana didalam hati terselip niat agar orang lain mengetahui diri adalah ahli ibadah; seperti foto diri sedang shalat, foto diri tengah membaca Al-Qur’an, atau berada di tanah suci, ketika berhaji atau berumrah. Di dinihari memposting di WhatsApp pukul 02.30 dinihari (tampak di catatan waktu di WA) ajakan untuk shalat tahajud, terselip dalam hati memberi tahu orang lain bahwa awak di dini hari ini sudah bangun untuk shalat tahajud. Ajakan sekaligus terselip niat memberitahukan bahwa diri shalat tahajud. Banyak lagi contoh posting kegiatan lain tentang ibadah dan dakwah, bukan untuk berbagi manfaat, tetapi agar mendapat komentar seperti *_“MasyaAllah, alim sekali.”*_ Intinya mengejar likes dan komentar ketika mengunggah amal, mengunggah ceramah2, mengunggah artikel2, kemudian merasa kecewa atau berhenti melakukan amal tsb. ketika tidak mendapat respons. Namun, tidak setiap posting tentang kebaikan, dakwah, kegiatan ibadah dan kegiatan keagamaan, otomatis *riya digital*. Misalnya: Seseorang membagikan kegiatan donasi untuk mengajak orang lain ikut berdonasi, sementara niat utamanya tetap untuk Allah. Yang paling menentukan adalah *niat* di balik tindakan tersebut. Seorang ustdzd/ustadzah memposting ceramah2nya, memposting tulisan2 dakwahnya, dengan niat agar isi ceramahnya, dapat didengar orang banyak, isi tulisannya dapat di dibaca orang banyak, dengan niat berdakwah karena Allah. Harapannya adalah orang yang mendengarkan ceramahnya, orang yang membaca tulisannya mendapatkan ilmu untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Ini tidak tergolong *Riya Digital*. Sebagai dasar acuan pemikiran mempublish ceramah2 dan tulisan2 dakwah dari ustadz/ustadzah disebut diatas *tidak termasuk Riya Digital* adalah hadits dari Abu Mas'ud Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ Artinya: _*“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan (kepada orang lain), maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”*_ -- [Muslim]. Dalam pengalaman sebagian ustadz/ustadzah yang men share tulisan dakwah2 dan ceramah2 di group WA tertentu, ada sebagian anggota di group itu tidak senang, sehingga mengomentar yang kurang bersahabat. Dalam hal seperti ini wajar jika ustadz/ustadzah tersebut keluar saja dari group tersebut, sehingga terhindar terlanjur memposting lagi ke group itu, dengan maksud agar tidak berlarut terlibat dalam perdebatan yang tak bermanfaat yang ujung2nya membuat dosa. Allah melarang kita berdebat yang tidak perlu. Seperti dimuat dalam Al-Qur’an: هَٰٓأَنتُمْ هَٰٓؤُلَآءِ حَٰجَجْتُمْ فِيمَا لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ Artinya: _*Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.*_ (Surat Ali ‘Imran Ayat 66) ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ Artinya: _*Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.*_ (Surat An-Nahl Ayat 125) Agar tidak sia2 amal *“bagaikan debu diatas batu licin terkena hujan…….”* seperti disebutkan pada surat Al-Baqarah 264 dikutip diatas. Untuk memelihara amal melalui *Medsos* agar tidak terjebak kedalam *Riya digital* agaknya perlu diperhatikan: *Pertama; Luruskan niat* Hanya karena Allah semata, sebelum konten di publish. Perhatikan, apakah dalam redaksinya mengandung membanggakan diri. Saat akan memposting ceramah2 atau artikel dakwah2, hendaklah didengar ulang, dibaca berulang-ulang untuk dipertimbangkan dengan teliti apakah ada pihak yang akan tersinggung. *Kedua; bijak menerima komentar*, dalam hal dapat komentar positip, ucapkan *Alhamdullah* , jangan sampai terbetik dihati perasaan bangga, dalam hati bersyukur dan berdo’a semoga bermanfaat. Dalam hal mendapatkan koreksi atau ekstrimnya cercaan, juga sepanjang dapat diberikan penjelasan, berikanlah penjelasan diikuti dalil yang cukup. Jika komentar bukan seketar koreksi dan kritik tetapi sudah bersifat *tidak suka*, untuk group atau orang tsb. tak perlu dikirimi lagi, menghindari *perdebatan yang tidak perlu*, seperti ayat dikutip diatas. *Ketiga; hindari membicarakan keburukan pihak lain*, baik secera terselubung apalagi secara terang-terangan. *Keempat; segera bertaubat*, jika terlanjur, tidak sengaja melakukan kesalahan, atau terselip rasa sombong, rasa bangga diri, merendahkan pihak lain segera beristighfar dan memohon ampun. Ya Allah tolonglah kami semua dalam beramal memanfaatkan anugerah-Mu melalui tersedianya MEDSOS ini, agar tidak terjebak *Riya Digital* آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 4 September 2026/23 Rabiul Awal 1448 H.

Friday, 28 August 2026

PENYELAMAT & PENCELAKA MANUSIA

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.439.07.08-2026 Rabiul Awal (sebagai bulan Kelahiran Rasulullah), ketika tulisan ini diturunkan, mari kita usahakan untuk selalu mengingat apa saja yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ, merupakan sesuatu yang diperintahkan beliau, demikian juga hal2 yang dihindari oleh beliau karena Allah telah berfirman: وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا Artinya: _*” Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah.”*_ (Al-Hasyr: 7). Terdapat 3 hal merupakan perintah dari Allah dan Rasul-Nya yang dapat *menyelamatkan manusia*. Dan …. terdapat 3 larangan Allah dan Rasul-Nya yang dapat *mencelakakan manusia*. *3 Hal yang Menyelamatkan Manusia* *PERTAMA: Takut dan taqwa kepada Allah* dalam keadaan tersembunyi (sendirian) maupun terang-terangan di hadapan orang banyak. Allah berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ _*“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya dalam keadaan tidak terlihat oleh manusia, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”*_ (QS. Al-Mulk: 12) Ayat ini sangat jelas bahwa salah satu ciri orang beriman adalah tetap takut kepada Allah ketika sendirian, saat tidak ada manusia yang melihat. *KEDUA; Bersikap sederhana* atau moderat dalam keadaan bagaimanapun. Dikesempatan artikel singkat ini dikutip satu ayat tentang bersikap sederhana, mestinya ada 3 ayat yaitu QS. Al-A’raf ayat 31, QS. Al-Isra ayat 26–27 dan yang kita kutip sekarang QS. Al-Furqan ayat 67: وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا ۝٦٧ _*“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.”*_ Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dalam menggunakan harta, tidak kikir namun tidak boros. *KETIGA; Berlaku adil* dan berkata benar dalam kondisi ridha (suka) maupun saat marah. Ada beberapa dalil Al-Qur’an yang berkaitan dengan berlaku adil sehingga menyelamatkan kehidupan manusia: Al-Qur’an mendalilkan berlaku adil menyelamatkan manusia dengan mengemukakan di surat Al-Ma’idah, dan di surat An-Nisa: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ Artinya: _*”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”*_ (QS. Al-Ma’idah ayat 8) ۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَٱللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ ۚ وَإِن تَلْوُۥٓا۟ أَوْ تُعْرِضُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا Artinya: _*”Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”*_ (Surat An-Nisa Ayat 135) *3 Hal yang Mencelakakan (Membinasakan) Manusia.* *PERTAMA; Kekikiran yang ditaati* atau sifat bakhil dan rakus yang berlebihan terhadap harta, dapat dicermati surat Al-Lail ayat 8 – 10: وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ _*"Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah),"*_ _*"Dan mendustakan (pahala) yang terbaik,"*_ _*"Maka kelak Kami akan memudahkan baginya jalan kesukaran (kesusahan)."*_ *KEDUA; Hawa nafsu yang diikuti* tanpa mengindahkan petunjuk agama. فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ فَتَرْدٰى ۝١٦ _*”Janganlah engkau dipalingkan darinya (iman pada hari Kiamat) oleh orang yang tidak beriman padanya dan mengikuti hawa nafsunya sehingga engkau binasa”*_ (Surat Thaha 16) *KETIGA; Ujub terhadap diri sendiri* atau merasa bangga diri yang berlebihan atas kemampuan dan prestasi diri. Menganggap diri paling pandai paling tau, segala macam paling. Ucapannya kadang *“kalau bukan karena saya ……..”*, *kalau saya tidak turun tangan mungkin sampai sekarang belum selesai*. Hati2 berucap seperti ini, kadang ringan mengucapkannya, sementara orang yang mendengarkan taulah awak sedang berbangga diri, sedang dalam pengaruh *Ujub*, apalagi Allah sangat lebih mengetahui tentang diri awak sudah masuk diperangkap *Ujub*. Sikap seperti ini tidak disukai Allah, termuat dalam Al-Qur’an: فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰىࣖ ۝٣٢ _*”Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.”*_ (An-Najm 32) Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah agar selalu diberikan kekuatan untuk selalu konsisten dalam mengikuti jalan yang dapat *menyelamatkan kehidupan* dan menjauhi sikap dan sifat yang dapat *membawa kebinasaan* dunia dan akhirat. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 28 Agustus 2026/15 Rabiul Awal 1448 H.

Sunday, 23 August 2026

MENYIKAPI PIHAK TIDAK BERIMAN

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.438.06.08-2026 Di nomor yang lalu judul *Beriman Konsisten* dikemukakan bahwa: Jika di renungkan akan perilaku manusia di sekitar kita *perihal iman*, maka terdapat 5 (lima) kelompok manusia dalam menyikapi *iman* yaitu: 1. *Manusia Beriman, konsisten* atau istiqamah atas keimanannya., 2. *Manusia tidak Beriman*, menolak segala rukun iman, 3. *Manusia beriman sebagian*, dimana hanya mengimani sebagian rukun iman., 4. Manusia *beriman, tetapi tidak beramal* menurut keimanannya., 5. Manusia *berpura-pura beriman*. Di kesempatan ini, sejenak ditinjau perilaku manusia *Tidak Beriman*. Beriman dan *Tidak Beriman* adalah dua kutub yang berlawanan, hal itu memang sudah umum adanya di dunia ini, sebagaimana adanya gelap dan terang, siang dan malam. Orang tidak beriman konotasinya tidak percaya ada Tuhan sebagai pencipta alam semesta ini, sering diistilahkan *ateisme*. Seorang *ateis* berpendapat alam semesta terjelma dengan sendirinya sebagai hasil dari proses alami, fisika, dan evolusi sains—seperti *Teori Dentuman Besar (Big Bang)*—tanpa campur tangan Pencipta atau Tuhan. Bagi mereka, alam berjalan berdasarkan hukum alam yang objektif dan rasional, bukan karena rancangan ilahi. وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ ۝٢٤ _*Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Padahal, mereka tidak mempunyai ilmu (sama sekali) tentang itu. Mereka hanyalah menduga-duga.*_ (Al-Jatsiyah ayat 24) Berangkat dari pengertian surat Al-Jatsiyah 24 di atas, dapat dipahami bahwa keberadaan *ateisme* di dunia ini suatu keniscayaan, merupakan sunatullah, mesti akan adanya. Apalagi jika dikaitkan dengan Surat Yunus ayat 99: وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ _*"Dan seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?"*_ Dalam konteks kedua ayat diatas menyikapi kelompok *ateisme* ini Agama Islam mengajarkan bahwa: *Pertama: Tidak Memaksa* Islam tidak pernah memaksakan keimanan kepada setiap individu yang menolak beriman, prinsip dasar ini termaktub dalam Al-Qur’an: لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ _*”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”*_ (Al-Baqarah-ayat-256) *Kedua: Pendekatan Logika* Saat berhadapan dengan pandangan yang menolak beriman, bawalah logika bahwa adanya diri ini, adanya alam ini mestinya ada Pencipta, bagaimanapun tidak mungkin terjadi dengan sendirinya termasuk teori “*Teori Dentuman Besar (Big Bang)*. Tak Mungkin dentuman besar itu berdentum dengan sendirinya. Ketika berdebat dengan pihak orang tidak beriman, tak akan effective jika membawakan dalil ayat2 Al-qur’an. Pedoman dasar berdebat dengan orang tidak beriman: ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ _*”Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”*_. (An-Nahl-ayat-125). *KETIGA: Menjaga Akhlak* Interaksi sehari-hari tetap berjalan dalam koridor kemanusiaan yang adil selama mereka tidak melakukan agresi fisik atau memerangi umat Islam: • Kedepankan Kasih Sayang Kemanusian, menghargai manusia sebagai mahluk Allah, pulangkan bahwa siapapun diri kita sebagai orang beriman, hanya berkewajiban menyampaikan, adapun *hidayah* adalah kewenangan Allah. • Tidak mengabaikan ketegasan dalam prinsip akidah, prisip tauhid, meskipun tetap menjaga kesantunan dalam berbicara, namun tetap tidak berkompromi tentang ke Esaan Allah. Dengan menyimak apa yang dibacarakan ini, semoga semakin tenang kita semua dalam menghadapi kehidupan ini, sambil berdo’a semoga Allah memeliharakan iman kita semua serta semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada siapun yang masih menolak beriman. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 23 Agustus 2026/10 Rabiul Awal 1448 H.

Monday, 17 August 2026

IMAN KONSISTEN

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.437.05.08-2026 Jika di renungkan akan perilaku manusia di sekitar kita *perihal iman*, maka terdapat 5 (lima) kelompok manusia dalam menyikapi *iman* yaitu: 1. *Manusia Beriman, konsisten* atau istiqamah atas keimanannya., 2. *Manusia tidak Beriman*, menolak segala rukun imam., 3. *Manusia beriman sebagain*, dimana hanya mengimani sebagian rukun iman., 4. Manusia *beriman, tetapi tidak beramal* menurut keimanannya., 5. Manusia *berpura-pura beriman*. Terbatasmya ruang tulis, dalam artikikel ini tidak dibicarakan semua dari 5 (lima) *sikap manusia terhadap “imam”* tersebut diatas, إِنْ شَاءَ اللَّهُ akan ditulis diartikel yang akan datang. Sedang diartikel ini hanya dibicarakan *Sikap manusia beriman konsisten*. Tanda2 Utama seorang yang terkelompok Beriman dengan Konsisten adalah: *PETAMA:* Konsisten melaksanakan shalat disertai memelihara shalat dengan khusuk dalam pengertian tidak meninggalkan shalat dalam keadaan apapun. Seperti jelas terdalilkan dari surat Al-Mu’minun ayat 2 dan ayat 9 serta surat Al-Anfal ayat 3: الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ _*(yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya,*- (Al-Mu’minun ayat 2), وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ _ *serta orang-orang yang memelihara salat mereka.*_ ((Al-Mu’minun ayat 9) الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ ۝٣ _*(yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.*_ (surat Al-Anfal ayat 3) *KEDUA:* Menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia, takut berbuat dosa sekalipun hanya dengan lisan,. Hal2 tersebut dapat disarikan antara lain dari surat Al-Mu’minum ayat 3 dan Surat At-Taubah ayat 119. وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ _*dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,*_ (Al-Mu’minun ayat 3) يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ _*"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!"*_ (At-Taubah ayat 119) *KETIGA*: Menunaikan zakat, selalu berinfak وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ _*”dan orang yang menunaikan zakat,”*_ (Al-Mu’minun ayat 4). Juga surat Ali Imran 134, ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ _*”(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, ……………….”*_ *KEEMPAT*: Sanggup kendalikan emosi dan pemaaf, lanjutan surat Ali-Imran 134, “…………. وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ……………………….” -*”dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. …………..”*_ *KELIMA*: Memenuhi janji, وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ _*”dan orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya,”*_ (Al-Mu’minun ayat 8) *KEENAM: Menjauhi dosa Zina* وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ۝٣٢ _*”Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk”*_. (Al-Isra ayat 32) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ _*”dan orang yang memelihara alat kelaminnya,*”- (Al-Mu’minun ayat 5) *KETUJUH*: Selalu merasa diawasi Allah, tetap taat ketika sendirian, sehingga berhati-hati dalam bertindak/berbuat, bahkan berpikir sekalipun, karena keimanannya yakin bahwa, Allah mengetahui apa yang dilahirkan dan apa yang tersembunyi didalam hati sekalipun. Selalu terpatri pada diri akan surat Al-Mulk Ayat 13, surat At-Taghabun ayat 4 dan surat An-Nahl ayat 19. وَأَسِرُّوا۟ قَوْلَكُمْ أَوِ ٱجْهَرُوا۟ بِهِۦٓ ۖ إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ _*”Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”*_ (Surat Al-Mulk Ayat 13) يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْر _*"Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati”.*_ (At-Taghabun ayat 4) وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَ _*”Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan.”*_ (An-Nahl ayat 19). *KEDELAPAN*: Tidak berubah karena keadaan; ketika mendapat nikmat bersyukur, ketika mendapat ujian bersabar. Surat Al-Hadid ayat 32 dijadikan pedoman; لِّـكَيۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰى مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ اٰتٰٮكُمۡ‌ؕ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرِۙ‏ _*”Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”*_ *KESEMBILAN*: Hati selalu dekat kepada Allah, salah satu wujudnya apabila mendengar dibacakan ayat2 Al-Qur’an bertambah imannya. إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ _*”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”*_ (Surat Al-Anfal Ayat 2) *KESEPULUH*: Tidak merasa *“paling”*, terus menerus memperbaiki diri. Orang beriman selalu mengingat Surat An-Najm ayat 32 berisi tentang sifat orang bertaqwa yang menjauhi dosa besar, luasnya ampunan Allah SWT bagi dosa-dosa kecil (al-lamam), serta larangan agar manusia tidak menganggap diri *paling* suci atau membanggakan diri sendiri karena Allah-lah yang paling tahu siapa yang paling bertaqwa. ٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ _*” (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.”*_ (Surat-An-Najm ayat 32) Semoga Allah membimbing kita semua sehingga menjadi hamba2 Allah yang konsisten dalam beriman. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 17 Agustus 2026/4 Rabiul Awal 1448 H.

Wednesday, 12 August 2026

PIKUN

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.436.04.08-2026 HP nenek memberi isyarat bunyi bahwa ada WA masuk, si nenekpun sibuk mencari kacamatanya, mulai dari ruang tengah, meja makan, ruang dapur, meja di kamar tidur, kacamata juga tidak ditemukan. Barulah ketika lewat sebuah lemari yang ada cerminnya, tak sengaja melirik, rupanya kacamata nempel diatas dahinya. Ini konon merupakan salah satu tanda pikun. Pikun atau demensia sering terjadi (tidak selalu) kepada lansia. WHO mencatat saat ini ada lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia menderita demensia, dan di setiap tahunnya ada hampir 10 juta kasus baru. Demensia disebabkan oleh berbagai penyakit dan cedera yang mempengaruhi otak. Demensia biasa disebabkan oleh faktor umur meskipun tidak semua lansia mengalaminya. Penyebab meningkatnya risiko perkembangan demensia di antaranya adalah usia mencapai 65tahun atau lebih, hipertensi, diabetes, obesitas, kaum perokok, peminum alkohol, fisik yang kurang aktif, isolasi sosial hingga depresi. Tanda2 Demensia sudah menghampiri diri antara lain: *Penurunan kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari*. Misalnya: *Lupa cara mandi* atau perlu diingatkan dan dibantu. *Berpakaian*: salah memilih pakaian atau kesulitan memakai kancing/resleting. *Makan*: lupa sudah makan, kesulitan menggunakan alat makan, atau tidak mampu menyiapkan makanan. *Mengelola obat*: lupa waktu minum obat atau salah dosis. *Mengelola uang*: kesulitan menghitung uang, membayar tagihan, atau mudah tertipu. *Memasak*: lupa langkah-langkah memasak atau meninggalkan kompor menyala. *Berbelanja*: lupa barang yang perlu dibeli atau tidak mampu melakukan transaksi dengan benar. *Menggunakan alat sehari-hari*: kesulitan menggunakan HP, mesin cuci, atau peralatan rumah tangga yang sebelumnya sudah dikuasai. *Menjaga kebersihan diri*: lupa menyikat gigi, mengganti pakaian, atau merawat diri. Intinya, pada demensia terjadi penurunan kemampuan melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan secara mandiri, sehingga seseorang mulai membutuhkan pengingat, pengawasan, atau bantuan orang lain. *Kesulitan dalam menyelesaikan masalah*, Contoh: *Kesulitan menghitung uang* atau menerima kembalian saat berbelanja. *Tidak tahu langkah-langkah yang harus dilakukan* ketika memasak makanan sederhana, memberikan garam lebih dari sekali, atau sama sekali tidak membubuhkan garam. *Bingung ketika harus menentukan solusi* untuk masalah sederhana, misalnya saat listrik mati, sulit mematikan kompor. *Tidak mampu mengambil keputusan sederhana,* seperti memilih pakaian yang sesuai untuk bepergian. *Penurunan keterampilan komunikasi*: Sulit menemukan kata yang tepat saat berbicara. Sering mengulang pertanyaan atau cerita yang sama. Kesulitan memahami pembicaraan orang lain. Jawaban menjadi tidak sesuai dengan pertanyaan. Kosakata semakin sederhana atau terbatas. Sulit mengikuti percakapan yang panjang, (jadi teringat sebuah film serial ada dialog “*…..kepanjangan Kuum*”). Sering lupa nama orang, benda, atau tempat. Kesulitan menyampaikan kebutuhan, seperti mengatakan ingin makan atau minum. *Penggunaan bahasa*: Sulit menemukan kata (word-finding difficulty): ingin mengatakan “sendok”, tetapi mengatakan “itu… benda untuk makan.”. Sering menggunakan kata yang umum: “barang itu”, “benda itu”, karena lupa nama benda. Salah menyebut nama benda: menyebut “televisi” sebagai “radio”. Kesulitan memahami percakapan: terutama kalimat yang panjang atau kompleks. Pembicaraan menjadi tidak terarah: sulit mengikuti topik dan sering berpindah-pindah pembicaraan. Kesulitan membaca atau menulis: misalnya sulit memahami tulisan sederhana atau menulis kalimat yang bermakna. *Kesulitan dalam mengendalikan emosi*. Mudah marah atau tersinggung meskipun karena hal kecil. Seorang nenek nginap dirumah anaknya, dalam perbincangan si mantu melapor ke suaminya “sekarang beras naik lagi”, malam itu juga nenek ngemasi pakainya, besok pagi lantas minta antar pulang kerumahnya sendiri, padahal tadinya program tiga malam, dia merasa mantunya menyinggungnya, kerena keberadaannya banyak ngabiskan beras. Mudah cemas, takut, atau gelisah. Bereaksi berlebihan terhadap situasi sederhana. Sulit menenangkan diri setelah merasa marah atau kecewa. Perubahan suasana hati terjadi dengan cepat, misalnya dari tenang menjadi marah atau sedih. *Gampang lupa*. Sering lupa kejadian yang baru saja terjadi. Lupa menaruh barang lalu tidak ingat sama sekali. Lupa nama orang yang sebenarnya sudah dikenal. Lupa janji atau kegiatan penting. Kesulitan mengingat cara melakukan kegiatan yang biasanya dikuasai. Lupa jalan pulang atau tersesat di tempat yang familiar. Dalam pandangan Islam, demensia merupakan salah satu gejala lansia yang disebut dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 70: وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّىٰكُمْ ۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ ٱلْعُمُرِ لِكَىْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ Artinya: _*Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa*_. Lantas, sebagai upaya untuk menghindari pikun bagi kaum muslimin; rutinkan membaca Al-Qur’an, karena kebiasaan membaca Al-Qur'an إِنْ شَاءَ اللَّه membantu menjaga ketajaman daya ingat dan menurunkan risiko pikun di usia tua. Pandangan ini didukung oleh pendapat para ulama salaf seperti Imam Al-Qurtubi dan Ibnu Abbas. Bahwa di surat At-Tin Ayat 5: ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ Artinya: _*Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya*_ Mungkin inilah salah satu keadaan *serendah-rendahnya*, yang dipersamakan dengan keadaan seorang yang menjadi pikun itu, lantas sebagai upayanya adalah pada surat At-Tin Ayat 6: إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ Artinya: _*Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.*_ Salah satu wujud beramal saleh itu adalah membaca Al-Qur’an, dengan selalu membaca Al-Qur’an, maka dapat dikecualikan apa yang disebutkan oleh ayat 5 surat At-Tin , والله أعلمُ بالـصـواب Upaya lainnya untuk menghindari pikun senantiasalah berdo’a: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ Artinya: _*“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang paling buruk (pikun).” (HR Ibnu Majah) Atau dalam redaksi riwayat Al-Bukhari dalam bab “Berlindung dari Usia Tua yang Buruk” sebagai berikut: أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَالْكَسَلِ وَأَرْذَلِ الْعُمُرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ Artinya: _*“Aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, kemalasan, usia yang paling buruk, siksa kubur, fitnah Dajjal, dan fitnah kehidupan serta kematian.”*_ (HR Al-Bukhari) Doa ini dibaca oleh Nabi Muhammad ﷺ selepas shalat lima waktu sebagaimana keterangan yang terdapat dalam salah satu riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Menurut Ibnu Ruslan, doa ini dianjurkan dibaca supaya kita tidak ditakdirkan mengalami demensia di masa tua. Semoga Allah menghindarkan kita semua dari usia yang paling buruk sampai pikun. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 12 Agustus 2026/29 Safar 1448 H.

Monday, 10 August 2026

FITNAH HARTA

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.435.03.08-2026 Tak sedikit, kakak adik saudara kandung yang jadinya berselisih hingga *“patah arang”* gara2 sengketa warisan. Dalam pada itu banyak juga kejadian nenek-nenek yang suaminya meninggal, harta almarhum dibagikan anak2 mereka, rumah yang dibangunnya dengan susah payah bersama suaminya harus dijual untuk dibagi. Akhirnya si nenek disisa hidupnya tidak punya lagi rumah tempat bernaung. Seperti pernah kutulis kisah dibawah judul *“NENEK PENGEMBARA”* artikel No: 1.432.07.07-2026. Sejatinya demikianlah adanya sifat bawaan manusia, terhadap harta dunia tak jarang orang menjadi *”gelap mata”*, bukan saja soal warisan tetapi juga perihal berlomba-lomba mengumpulkan harta semisal dengan korupsi, penipuan, penggelapan. Karena manusia punya *naluri untuk mencari rasa aman, nyaman, dan pengakuan*. Harta sering dianggap sebagai jalan untuk mendapatkan semua itu. Manusia juga *Berkeinginan untuk memiliki lebih* setelah kebutuhan terpenuhi, keinginan manusia sering berkembang. Yang tadinya “cukup” bisa berubah menjadi “ingin lebih”. *Kepuasan tak pernah puas*. Kata puas bisa terus bergeser, tadinya berjalan kaki, kepengen punya sepeda ontel, setelah memiliki sepeda ontel kepingin sepeda motor, lanjutnya mobil, lanjut ingin mobil yang mewah dan seterusnya. Pemicu manusia maruk harta berikutnya: *Perbandingan dengan orang lain* melihat orang lain memiliki rumah, kendaraan, atau gaya hidup lebih tinggi dapat membuat seseorang merasa harus mengejar hal yang sama. *Kesenangan dan kebebasan*; harta memang bisa memberikan pengalaman menyenangkan dan pilihan hidup yang lebih luas, bisa rekreasi, travelling kemana saja bila harta banyak. *Pengaruh lingkungan*; sejak kecil kita sering diajarkan bahwa keberhasilan identik dengan pekerjaan bagus, penghasilan tinggi, dan banyak aset. Manusia sering mengejar harta bukan karena harta itu sendiri, tetapi karena perasaan yang dibayangkan akan diperoleh setelah memiliki harta yang berlimpah yaitu: *rasa aman, dihormati, bahagia, bebas, atau tidak diremehkan*. Allah mengingatkan tentang soal harta, bagi orang yang beriman: وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ Artinya: _*Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.*_ (Al-Anfal ayat 28) وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا Artinya: _*Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.*_ (Al-Fajr ayat 20) إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ _*"Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah (ujian) bagi umatku adalah harta."+_ (HR. Tirmidzi, no. 2336; dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani) Orang beriman menyikapi harta dengan *bersyukur, menggunakannya untuk kebaikan, tidak berlebihan*. Harta dipandang sebagai *amanah dari Allah, bukan tujuan hidup*. Mencari harta dengan cara yang halal. Bersyukur atas rezeki yang diperoleh. Tidak kikir dan tidak boros. Menunaikan zakat dan gemar bersedekah. Menggunakan harta untuk memenuhi kebutuhan dan membantu sesama. *Tidak menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan atau kebahagiaan*. Bagi Orang beriman; *Perihal mencari harta dunia*, patut menjadi renungan ayat berikut ini: وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ _*”Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”*_ (Al-Qashash 77) Semoga Allah memurahkan rezeki kita, sehingga memiliki harta yang berkah dan bermanfaat untuk kepentingan akhirat dan dunia kita. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 10 Agustus 2026/27 Safar 1448 H.

Friday, 24 July 2026

MENYEBARKAN SALAM

Disuguhkan: M. Syarif Arbi No: 1.431.06.07-2026 Sudah memasyarakat; mengucapkan salam ketika bertemu, ketika bertamu, ketika akan membuka suatu pembicaraan. Ucapan salam secara umum adalah “selamat pagi, selamat siang, selamat sore dan selamat malam”. Pengucapan salam dalam agama Islam dengan tiga model ucapan: *Pertama*: *“ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ” (Assalamu'alaikum), sebagai ucapan singkat. Artinya “Semoga keselamatan menyertaimu”. *Kedua*: *Ucapan sedangan “ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ”* (Assalamualaikum warahmatullah). Artinya: “Semoga keselamatan dan rahmat Allah menyertaimu” *Ketiga*: Ucapan yang lengkap “ ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ” (Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh). Artinya: “Semoga keselamatan, dan rahmat Allah serta keberkahan Allah tercurah kepadamu”. Begitu juga mereka yang menjawab salam juga ada tiga macam: *Pertama*: Wa'alaikumsalam ( وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ ) artinya "Dan semoga keselamatan juga untukmu". *Kedua*: Wa'alaikumsalam warahmatullah (وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ) “Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah juga untukmu” *Ketiga*: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh ( وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه ) “Dan semoga keselamatan, rahmat Allah dan Keberkahan Allah tercurah untukmu” Ganjaran kebaikan (pahala) menyebarkan salam bersumber dari riwayat Imam Bukhari (dalam Al-Adabul Mufrad) dan Imam At-Tirmidzi dari sahabat Imran bin Hushain. Setiap tingkat ganjaran diberikan berdasarkan kelengkapan lafaz salam yang diucapkan: • 10 Kebaikan: Diperoleh saat mengucapkan "Assalamu'alaikum". • 20 Kebaikan: Diperoleh saat mengucapkan "Assalamu'alaikum wa rahmatullah". • 30 Kebaikan: Diperoleh saat mengucapkan "Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh" Islam sangat memerintahkan untuk menyebarkan salam. Salam bukan sekadar sapaan biasa, tetapi juga doa keselamatan dan bentuk kasih sayang. Menyebarkan salam dapat mempererat persaudaraan dan menjadi kunci masuk surga. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail Bab Keutamaan Qiyamul Lail; mengutip hadis Hadits #1166: وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلاَمٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( أيُّهَا النَّاسُ : أَفْشُوا السَّلامَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلاَمٍ )) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) . Dari ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _*“Wahai manusia, *tebarkanlah salam*, bagikanlah makanan, dan shalatlah pada waktu malam ketika orang-orang sedang tidur, niscaya kalian pasti masuk surga dengan selamat.”*_ (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Tirmidzi, no. 2485; Ibnu Majah, no. 1334, 3251; Ahmad, 5:451; Ad-Darimi, 1:340-341, 2:275; Al-Hakim, 3:13, dari jalur ‘Auf bin Abi Jamilah, dari Zararah bin Abi Awfa, dari ‘Abdullah bin Salam. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih]. Menyebarkan salam jadi tanda bahwa kedamaian itu terwujud sehingga satu sama lain mudah menyebarkan salam keselamatan. Memberi makanan ditambah dengan menyebarkan salam menunjukkan hilangnya rasa takut dan kefakiran, akhirnya hati sesama muslim akan semakin dekat, hubungan silaturahim akan makin kuat terjalin. Kedamaian hidup yang lapang, dan rasa tenang itulah yang membuat seseorang mudah menjalankan perintah Allah. Buah dari amal saleh dan kalimat yang baik memudahkan seseorang masuk surga. لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ Artinya: _*“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”*_ (HR. Muslim). Allah memerintahkan umat Islam untuk memberi salam dan menjawabnya dengan cara yang baik. Perintah ini tercantum dalam Surah An-Nisa ayat 86: وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا Artinya: _*Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu*_. Ini juga mengandung makna, kalau seseorang mengucapkan salam yang pendek kepada anda, jawablah dengan yang lebih panjang. Contoh salam pendek dan salam panjang tersaji di atas. Namun ada salam yang tak perlu dijawab, yaitu salam orang usai shalat. Jama’ah dikiri kanan anda mengucapkan salam, anda tidak usah menjawabnya, karena anda juga kalau ikut berjamaah, juga mengucapkan salam. Menyebarkan salam bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga cara sederhana untuk menunjukkan penghargaan, membangun hubungan yang baik, dan menciptakan suasana yang lebih positif. Semoga keselamatan, kesejahteraan, keberkahan dan rahmat Allah senantiasa meliputi seluruh pembaca yang berbahagia. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 8 Safar 1448 H./21 Juli 2026.

NENEK PENGEMBARA

Dikarang: M. Syarif Arbi No: 1.432.07.07-2026 Beruntung ibu beranak tujuh ini, ketika ditinggal suaminya semua anak2nya sudah beranjak dewasa, empat anak sudah berumah tangga dan menghadirkan pula cucu2 yang mulai sekolah. Dua anak lagi sudah selesai kuliah, namun sedang merintis cari kerja, atau usaha. Sedangkan seorang lagi sebentar lagi wisuda jenjang S1. Almarhum ayahnya sebagai seorang pebisnis kecil2an pedagang sembako dan pernak-pernik kebutuhan sehari-hari, dimaklumi tidak meninggalkan harta yang banyak. Peninggalan almarhum berupa sebuah rumah munggil hunian mereka terdapat tiga kamar tidur, sebuah mobil pick up (untuk angkutan barang dari grosiran). Semasa semua anak masih ngumpul dirumah; empat anak perempuan kebagian 1 kamar tidur adapun 3 anak lelaki kebagian 1 kamar tidur, 1 kamar tidur lagi untuk kamar ibu bersama ayahnya semasa masih hidup. Kehidupan si ibu ini sepeninggal sang suami, untuk berjuang menyelesaikan kuliah anaknya yang seorang lagi (si bontot), meneruskan usaha ayahnya anak2 berdagang sembako, di komples pasar tak jauh dari kediaman mereka. Persoalan muncul, setelah semua anak selesai kuliah dan masing2 sudah dan akan berkeluarga, anak2 *berlepas dari kartu keluarga lama*, membuat KK sendiri2, berkenaan dengan merekapun pindah kediaman di kota2 sekitar kota asal. Ada pula anak yang *memotori* agar harta warisan mendiang ayah, berupa sebuah rumah itu dibagi waris segera, dengan jalan dijual saja . Hasilnya akan dibagikan 1/8 untuk Ibunda, 7/8 nya akan dibagikan kepada 7 orang anak. Umpama katakanlah itu rumah terjual bersih 400 juta, si Ibu kebagian 50 Juta. Anak2 kebagian 350 juta. Setelah dibagi untuk 3 orang anak laki2 masing kebagian 70 juta total = 210 juta. Sedangan 4 anak perempuan masing 35 juta total = 140 juta. Berpindahlah hak rumah warisan mendiang ayah ke orang lain. Warisan memang harus segera dibagi apabila ayah meninggal, walau ibu masih hidup, tetapi tidak ditemukan *dalil nash yang tegas* menetapkan batas waktu tertentu, misalnya; harus dibagikan dalam 3 hari, 7 hari, atau 40 hari setelah kematian sang ayah. Namun, para ulama umumnya menganjurkan agar pembagian *tidak ditunda tanpa alasan yang dibenarkan*, karena dengan menunda pembagian waris maka: • Hak para ahli waris menjadi tertahan; • Penundaan dapat memicu perselisihan; • Setiap ahli waris berhak segera mengetahui dan menerima bagiannya setelah seluruh kewajiban almarhum diselesaikan. Salah satu alasan mengapa begitu si ayah meninggal waris harus di bagi, terutama *jika* si ibu yang yang ditinggalkan masih muda, *cantik pula*, misalnya si ibu menikah lagi, si ibu akan ikutan dengan suami barunya membawa hasil warisan. Dalam kasus si ibu di kisah ini,… 50 juta yang merupakan bagiannya. Selanjutnya masing2 anak sudah mendapat bagian masing2. Sering jadi pertanyaan; *”Bolehkah kalau semua anak secara bersama memberikan atau merelakan hak warisnya dikuasai ibu mereka sepanjang ibunya masih hidup”?*. *”Tentu saja boleh”*, selama para pewaris, dalam kasus diatas, seluruh ke 7 anak si ibu menyetujui atas dasar kerelaan murni tanpa paksaan. Namun, pastikan keputusan ini didasarkan pada kesadaran penuh agar tidak memicu sengketa di kemudian hari. Sebaiknya, hak waris tetap dihitung dan dicatatkan secara resmi terlebih dahulu sebelum diserahkan, untuk menghindari kezaliman atau kesalahpahaman antar anggota keluarga. Dalam kasus yang diangkat dalam kisah ini, si ibu tidak muda lagi dapat dibayangkan sudah beranak tujuh, si bontot saja sudah hampir wisuda S1, ketika suaminya meninggal. Kecil kemungkinan akan kawin lagi. Karena sebagian besar anak2nya menghendaki rumah peninggalan almarhum dijual dan sebagian anak terutama yang sudah berumah tangga menuntut pembagian waris. Maka si Nenek tidak punya pilihan lain. sisa hidup dilanjutkan dengan mengontrak rumah, bermodalkan warisan 50 juta. Makin bertambah usia, sudah tak mampu lagi menjaga toko, tambahan kondisi tubuh sudah banyak dihuni penyakit. Belakangan karena sering sakit, kios lebih banyak tutup dari pada bukanya, akibatnya tak mampu lagi bayar sewa kios, ujung2nya stoplah kegiatan berdagang. Uang warisan mulai habis dan sudah tak mampu lagi mengontrak rumah. Nasib si nenek akhirnya mengembara dari rumah anak yang satu ke rumah anak yang lain, kadang ikutan dirumah cucu. Ternyata dalam kehidupan didunia ini tak semua anak berbhati, sering terjadi kalaulah anak cukup baik, kadang mantu pula yang tak suka akan ke hadiran si nenek. Sebagai ikhtiar bagi kita2 yang sudah masuk ke usia senja ini, adalah senantiasalah berdo’a untuk memohon perlindungan Allah dari *keburukan usia tua* sampai di kondisi sudah *tak berdaya*, tegasnya kalau boleh *mohon dipanggil Allah ndak usah tua2 amat*. Kalau boleh sudah berpulang kerahmatullah sebelum habis harta benda, lantaran tak jarang anak2 kurang memikirkan kita. Guna menghindarkan diri dari *usia yang buruk* tadi, boleh jadi sebagai ikhtiar, mari diamalkan do’a agar terhindar dari keburukan usia tua (pikun atau renta) bersumber dari Shahih Al-Bukhari dan diriwayatkan dari sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash dari Nabi Muhammad ﷺ berikut adalah bacaan doanya: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ _*"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang paling buruk (pikun/lemah), dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia serta azab kubur."*_ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 10 Safar 1448 H./24 Juli 2026.

Friday, 17 July 2026

PULANGLAH BILA DISURUH PULANG

Disajikan: M. Syarif Arbi No: 1.429.04.07-2026 Salah satu keistewaan / kecanggihan berkat kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah; artikel2 yang di publish di medsos, dibaca banyak orang tak terbatas wilayah dan negara. Salah seorang pembaca tulisanku di kota lain ketika membaca artikelku perihal *adab bertamu*, dianya menanyakan *“bolehkan menolak tamu”*. Untuk menjawab pembaca tersebut kukutipkan surat An-Nur ayat 28 وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرْجِعُوا۟ فَٱرْجِعُوا۟ ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ. …………………….” …………. _*“Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja) lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”*_ Masa kini, bila seseorang ingin berkunjung termasuk ke kediaman saudara kandungnya, tidaklah ujuk2 datang, biasa didahului dengan memberitahukan melalui WA atau telepon……. Tak selamanya saudara yang akan dikunjungi itu bersedia dikunjungi. Bagi muslim sejati tidak patut tersinggung, tidak pantas berkecil hati bilamana permintaannya berkunjung kekediaman seseorang ditolak. Jangankan penolakan itu melalui dialog WA atau telepon, dimana kita belum beranjak dari rumah. Kalaupun penolakan itu dilakukan pemilik rumah ketika sang tamu sudah memberi salam di depan pintu, menurut perintah Allah di surat An-Nur dikutip diatas, *wajib pulang*. Orang muslim tidak memandang penolakan tersebut sebagai tidak menghargai, atau tidak sopan, karena apa yang menurut kita manusia *baik*, belum tentu baik menurut Allah. Apa yang menurut kita *sopan*, belum tentu sopan dalam pandangan Allah. Apa yang menurut manusia *benar*, belum tentu benar dalam ilmu Allah. Orang muslim yang taat berpedoman bahwa kebenaran mutlak milik Allah. seperti tersurat di Al-Baqarah ayat 147: ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ Artinya: _*Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.*_ Jadi jangan ragu bila bertamu ditolak, tidak perlu kecewa, walaupun sudah sampai depan pintu rumah yang dikunjungi, bila disuruh pulang, maka pulanglah. Niscaya anda berpahala mengamalkan salah satu perintah Allah. Hikmah ketika seorang tamu memilih pulang karena ditolak oleh tuan rumah, dapat dipahami sekurangnya dari 5 (lima) sudut pandang positip, baik dari sudut pandang agama maupun kehidupan sehari-hari: *PERTAMA*: Menjaga kehormatan diri dan tuan rumah. Jika tuan rumah belum bisa menerima tamu, pulang dengan lapang dada menunjukkan sikap menghormati privasi dan kondisi mereka. Boleh jadi yang bersangkutan sedang mempunyai problem keluarga, yang tak baik diketahui pihak lain. *KEDUA*: Menghindari prasangka buruk. Penolakan belum tentu karena tidak suka. Bisa jadi tuan rumah sedang memiliki urusan, sakit, atau keadaan lain yang membuatnya tidak dapat menerima tamu. Atau akan pergi meninggalkan rumah untuk sesuatu urasan penting. *KETIGA*: Melatih kesabaran dan keikhlasan. Tidak semua harapan berjalan sesuai keinginan. Menerima keadaan dengan sabar merupakan latihan pengendalian diri. Jangan cepat2 berkesimpulan yang tidak baik, lalu dalam pikiran mereka-reka yang tak pantas, atau mungkin bergumam, mengerutu, ujung2nya menyesal setelah mengatahui masalah yang sebenarnya. *KEEMPAT*: Menghormati hak orang lain. Setiap orang berhak menentukan kapan mereka siap menerima tamu. Menghormati keputusan tersebut adalah bagian dari etika bermasyarakat. Demikian juga bila kita mengundang orang, bila yang diundang tidak hadir, jangan cepat2 berkesimpulan, orang tak hadir tersebut tidak menghargai. Perlu dicari sebabnya; apakah undangan tidak sampai, apakah si terundang memaknai dari redaksi undangan bahwa dirinya bukan termasuk yang diundang. *KELIMA*: Memelihara hubungan hubungan persahabatan/kekerabatan dalam jangka panjang. Tidak memaksa masuk atau merasa tersinggung dapat menjaga hubungan tetap baik sehingga kesempatan berkunjung di lain waktu tetap terbuka. Bilamana sampai tercetus kata2 yang tidak enak disampaikan kepada tuan rumah (misalnya melalui tulisan di WA) atas penolakan itu, hubungan persahabatan/kekerabatan jangka panjang akan terganggu. Ingat….! banyak ayat2 dalam Al-Qur’an yang memerintahkan memelihara hubungan silaturahim. Pembaca, mari kita amalkan petunjuk agama, kendati mungkin terasa tidak nyaman dihati. Ketahuilah kebenaran mutlak milik Allah. Yaa Allah….. jadikan kami semua, seluruh pembaca…. menjadi hamba2-Allah yang mentaati seluruh aturan2 dan ketentuan2-MU. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 4 Safar 1448 H./17 Juli 2026.

Sunday, 12 July 2026

DAMPAK YOUTUBE Buat CERAMAH DI MASJID

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.428.03.07-2026 Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah membuat perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di bidang *dakwah*. TIK memungkinkan dakwah menjangkau lebih banyak orang, serta memudahkan interaksi sosial melalui berbagai platform digital. Kini, umat Islam dapat mengikuti kajian agama secara daring, berbagi ilmu – menulis artikel2 dakwah melalui media sosial, dan menjalin komunikasi lebih efektif dengan komunitas keagamaan. Kehadiran. *Youtube* memberikan dampak ganda bagi jamaah masjid. Banyak orang (mungkin sebagian besar anak muda) yang telah sangat familier dengan TIK, memilih mendengarkan ceramah2 agama melalui youtube ketimbang duduk mendengarkan ustadz berceramah di masjid. Jika memerlukan tambahan pengetahuan agama mereka membuka youtube dengan mudah mencari topik apa yang ingin didengar. Melalui youtube ummat dapat mengulang materi kapan saja dan memperluas wawasan, diceramahkan oleh ustadz2 yang kenamaan berilmu tinggi. Plus - minus Youtube bagi ummat yang mengikuti ceramah melalui you tube *1. Sisi Positifnya* a) *Mengulang Materi*: Dapat memutar ulang ceramah jika ada penjelasan yang belum dipahami kalau mendengarnya hanya sekali. b) *Fleksibilitas Waktu*: Dapat didengar kapan saja, bila ada waktu luang, walau tidak harus hadir ke masjid tetap bisa mendapatkan ilmu. c) *Menjangkau Lebih Luas*: Ilmu yang disampaikan ustazd di masjid yang *live streaming* bisa ditonton oleh ummat dimana saja. Bahkan orang Indonesia dapat mendengarkan ceramah2 para ulama dari luar negeri. *2. Sisi Negatifnya* a) *Kehilangan Keutamaan Majelis*: Hadir secara fisik ke masjid bernilai ibadah besar. Duduk di masjid mendengarkan ceramah berbeda pahalanya dengan menonton lewat ponsel atau lap top di rumah. b) *Kemalasan mengikuti ceramah di masjid*: Kemudahan mengakses Youtube membuat jamaah merasa cukup di rumah saja. Hal ini bisa membuat masjid menjadi sepi. Inilah sekarang sudah sangat terasa di beberapa masjid. Kebanyakan jamaah; misalnya ada ceramah agama sesudah maghrib, usai shalat dan berdzikir sejenak, kadang shalat sunah, lalu pulang, atau tak jarang tak lagi shalat sunah, memilih shalat sunah dirumah. Selanjutnya mendekati waktu isya menjelang adzan datang lagi ke masjid, untuk berjamaah shalat isya. Fenomena tersebut butir “2.b)” banyak pihak pengurus masjid melakukan evaluasi; • Apakah pelayanan di masjid kurang baik. • Apakah kondisi di masjid kurang nyaman. • Apakah ustadz2 atau ustadzah2 yang ditampilkan, kurang berbobot – sudah terlalu tua. Teknik penyampaiannya tidak mengena dengan masa kekinian. • Apakah topik yang disajikan penceramah mengulang-ulang, sehingga membosankan. • dan banyak lagi pertanyaan2 yang mengusik perhatian Takmir/pengurus beberapa masjid. Mungkin factor dominannya adalah TIK khususnya Youtube yang kini sudah memasyarakat. Sebagai bahan masukan bahwa menurut Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penggunaan TIK di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2019, sekitar 63,53% penduduk telah memiliki telepon seluler, dan angka ini terus bertambah hingga mencapai 67,88% pada tahun 2022. Begitu pula dengan penggunaan internet yang meningkat dari 47,69% pada tahun 2019 menjadi 66,48% pada tahun 2022. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin terhubung dengan dunia digital, termasuk dalam mendengarkan ceramah keagamaan. *Dalam kesempatan di artikel singkat ini izinkan menyarankan kepada para pembaca*: *Pertama*; Gunakan youtube sebagai pelengkap, sebagai tambahan ilmu, akan tetapi perlu juga di saring. Apa yang didengar hendaklah dicarikan dalil2 berkenaan dengan referensi yang akurat, selaras dengan Al-Qur’an dan hadist shahih yang dikemukkan ulama terkemuka. *Kedua*; Terutama bagi yang tak ada udzur, masih bugar, utamakan hadir fisik di masjid agar mendapatkan *pahala langkah kaki, pahala silaturahim, pahala duduk di majelis ilmu*. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ “_Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu)menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, *banyaknya langkah menuju masjid*, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah ar-ribath (kebaikan yang banyak)._” (HR. Muslim no. 251) “……… وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ …………..” “…………._Bertaqwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahim)_. …………..” Rasulullah SAW bersabda: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ Artinya: _"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka *hendaklah ia menyambung tali silaturahmi*."_ (HR. Bukhari dan Muslim) Orang yang mempelajari Al Qur’an di masjid disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat ketenangan, rahmat dan pemuliaan dari Malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه “_Tidaklah suatu kaum *berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya*, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya_.” (HR. Muslim no. 2699) Yaa Allah jadikan lah para pembaca senantiasa dapat menambah ilmu sesuai perintah Allah dan petunjuk Rasulullah. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 28 Muharram 1448 H./13 Juli 2026.

Tuesday, 7 July 2026

TAMU-MENAMU

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.427.02.07-2026 Soal tamu-menamu adalah sudah melembaga di negeri ini, juga merupakan media silaturahim yang demikian sangat dianjurkan dalam Islam. Soal silaturahim, saking pentingnya Allah sebutkan dibeberapa ayat dalam Al-Qur’an, diantaranya: وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّا Artinya: _"Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan *memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk dihubungkan*, serta berbuat kerusakan di bumi, mereka itu mendapat kutukan dan tempat kediaman yang buruk (Jahannam)_." (Surat Ar-Ra'ad ayat 25) Sejak dahoeloe, jaman kita masih kanak2, kalau seseorang akan bertamu ke rumah seseorang apalagi hubungan kekerabatannya tidak begitu dekat, sebelum bertamu memberitahukan sebelumnya bahwa akan bertamu. Buya Hamka dalam menafsirkan surat An-Nur 27,28 dan 29 di tafsir Al-Azhar Juzu 18 panjang lebar mengupas seputar soal *tamu-menamu*, sebanyak 6 halaman, dari halaman 171 s/d 176. Di zaman now lebih mudah untuk memberitahukan akan bertamu, cukup dengan “jari-jari”. Si tuan rumahpun menjawab kesediannya didatangi tamu cukup dengan “jari-jari” pula (melalui HP) langsung disepakati hari dan waktu menerima tamu. Dengan demikian, tentulah si tuan rumah sudah siap kedatangan tamu, mulai dari memberi tahu penjaga rumah (kalau rumah ber-Satpam), lalu sudah siap dengan *pakaian yang wajar dan sopan* untuk menerima tamu. Sementara si tamupun sudah merencanakan kapan bertolak dari rumah agar sampai tepat waktu. Si tamu juga sudah berpakaian se sopan mungkin, walaupun sederhana tetapi setidaknya rapi dan menutup aurat, baik lelaki apalagi perempuan. Adab si tamu, seperti diulas oleh Buya Hamka dalam tafsir surat An Nur 27 s/d 29 di tafsir Al-Azhar diantaranya; memberitahu sebelumnya, mengucapkan salam ketika sampai di pintu rumah tuan rumah, jangan masuk sebelum dijawab salam dan dipersilahkan masuk. Jangan duduk sebelum dipersilahkan duduk, jangan menduduki tempat duduk tuan rumah, duduklah ditempat yang dipersilahkan duduk oleh tuan rumah. Berpakaian yang rapi, menutup aurat dan sopan. Di artikel yang singkat ini dititik beratkan soal adab si tuan rumah menerima tamu. Setidaknya yang harus diperhatikan ketika menerima tamu: 1. Memakai pakaian yang bersih dan rapi. Berpakaian dengan baik saat menerima tamu merupakan bentuk penghormatan kepada tamu sekaligus mencerminkan sikap sopan santun dan akhlak yang baik. Apa lagi kalau tamu yang datang itu sudah melalui perjanjian lebih dahulu sehari sebelumnya atau lebih, *berarti bukan dadakan*, tentu seyogyanya sudah siap dengan pakaian rapi. 2. Berpakaian yang rapi dan baik menurut Islam adalah *menutup aurat*, sangat tak pantas menerima tamu dengan hanya bercelana pendek (jauh diatas lulut bagi laki-2), terkesan celana dalam pula. Orang2 tua di kampung kami dulu, jika ada tamu datang, setelah mempersilahkan tamu masuk dan duduk, si tuan rumah minta ijin sebentar ke tamunya untuk masuk ke ruang dalam rumah, kemudian mengganti pakaian, kadang pakai sarung atau celana panjang dengan baju rapi lalu memakai kopiah. Jikapun tidak sampai se komplit itu setidaknya berpakaianlah yang sopan tak usah berlebihan. 3. Tergantung, masalah apa yang di bahas dalam pertamuan tersebut, tidaklah menjadi hal yang tabu diperjanjikan ketika mengadakan kesepakatan ketika janji akan ketemuan, bahwa waktu yang tersedia hanya sampai pukul berapa. Dewasa ini orang sudah maklum, bahwa masing2 orang banyak kegiatan, mungkin juga sudah ada janji di tempat lain. Dalam hal ini si tamu harus mengingat betul kesepakatan waktu janjian bertamu, karena kadang si tuan rumah sungkan untuk mengingatkan. Menyoal menghormati tamu, dalam ajaran Islam dikaitkan dengan Iman. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ menuturkan: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ Artinya: _"Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mempererat hubungan kekeluargaannya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengucapkan yang baik ataupun berdiam diri saja."_ (Muttafaq 'Alaih, HR Bukhari [10/373, 442] & Muslim [47]) Yaa Allah jadikanlah kami sanggup menjalankan ajaran agama dalam beribadah, juga dalam bermasyarakat; antara lain ketika bertamu, maupun menerima tamu. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 24 Muharram 1448 H. 8 Juli 2026.

Monday, 6 July 2026

MENUNTUT ILMU

Dirangkai: M. Syarif Arbi No: 1.426.01.07-2026 Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap insan beriman, perintah ini tertulis jelas dalam Al-Qur'an dan hadist. Ilmu membantu manusia membedakan yang benar dan salah. Ilmu merupakan sarana membantu manusia mempermudah menjalani hidup, serta mengangkat derajat manusia. “………. يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ. ………………………” “………._niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat_…………..” (Surat Al-Mujadalah Ayat 11) Sementara itu petunjuk hadist: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْل Artinya: _"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim."_ (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani) Ilmu menurut ayat dan hadist di kutip diatas membawa manfaat dunia dan kahirat. Didunia mendapatkan *Peningkatan Derajat, memudahkan menjalani hidup, memudahkan beribadah*. Seorang berilmu dalam masyarakat mendapat kedudukan yang lebih tinggi, dalam bidang pekerjaan orang berilmu mendapatkan penghasilan lebih besar. Contoh seorang arsitek, tentu penghasilannya lebih banyak dari kepala tukang. Kepala tukang, penghasilannya lebih besar dari kernet. Demikian seterusnya di setiap sector pekerjaan orang berilmu mempunyai nilai lebih atau derajat yang lebih tinggi. Ilmu mempermudah manusia menjalani hidup ini, contoh era sekarang ini kita sudah dapat berkomunikasi dengan mudah, berdakwah, bersilatrurahim, melalui medsos, berkat ilmu pengetahuan. Perjalanan yang jauh sudah dapat ditempuh dalam waktu singkat, dahoeloe ke tanah suci berbulan-bulan, dewasa ini dapat ditempuh hitungan jam. Pertandingan piala dunia dilaksanakan di Amerika dapat ditonton di kamar kita. Selanjutnya ilmu memudahkan manusia beribadah, ditemukan sarana2 untuk memudahkan dakwak, memudahkan beribadah dengan ditemukan saound system, air condition ruangan2 masjid, dll. Sedangkan kebahagian di akhirat; ilmu *“memudahkan jalan menuju surga”*, dengan mudahnya kita beribadah dan mudahnya manusia sekarang untuk menuntut Ilmu, menambah ilmu, memperbaiki ilmu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ _“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”_ (HR. Muslim, no. 2699) Insan beragama menghendaki, kebahagiaan itu tidak hanya diperoleh di dunia tetapi yang paling utama adalah di akhirat. Sekurang-kurangnya 2 Syarat perlu dimiliki oleh seorang penuntut ilmu, di antaranya adalah: *PERTAMA: Ikhlas karena Allah* Niat menuntut ilmu harus untuk mencari ridha Allah, bukan untuk mencari pujian, kedudukan, atau keuntungan dunia semata. Sebagai Tanda-tanda Ikhlas dalam mencari Ilmu: • *Hilangnya Sombong*: Semakin berilmu, seseorang akan semakin tawadhu' (rendah hati) dan takut kepada Allah Ta'ala. • *Berorientasi pada Manfaat*: Belajar untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri dan orang lain, bukan untuk mencari pujian, gelar semata, atau popularitas. • *Diamalkan*: Ilmu yang didapat langsung diamalkan sebagai bekal ibadah. *KEDUA: Memilih ilmu yang bermanfaat* Antara lain ilmu yang bermanfaat adalah: • *Ilmu agama*; Mempelajari Al-Qur'an dan tafsirnya. Memahami hadist, fikih, akidah, dan akhlak. Ilmu yang membantu seseorang beribadah dengan benar dan berperilaku baik. • *Ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat*; Medicine untuk menyembuhkan orang sakit. Engineering untuk membangun sarana yang bermanfaat. Education untuk mendidik generasi berikutnya. Agriculture untuk memenuhi kebutuhan pangan. • *Ilmu tentang muamalah dan kehidupan*; Economics, bisnis, dan keuangan. Manajemen dan kepemimpinan yang adil. Keterampilan bekerja dan berwirausaha yang halal. • *Ilmu yang membentuk akhlak*; Cara mengendalikan emosi. Komunikasi yang baik. Menjaga amanah, kejujuran, dan tanggung jawab. Agar kita semua saban hari mendapatkan ilmu bermanfaat, rezeki yang baik dan amal diterima mari kita berdo’a: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلً "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima." آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 22 Muharram 1448 H. 6 Juli 2026

Saturday, 27 June 2026

Agar TIDAK Merasa PALING

Dirangkai: M. Syarif Arbi No: 1.425.05.06-2026 Usai shalat Zuhur sembari melangkah keluar gerbang masjid, seorang jamaah berucap kepada sesama jamaah: *“Menyusut berapa waktu belakangan ini,…….. hanya orang terpilih saja masih tetap datang berjamaah”*. Ucapan seperti ini, jikalah di dalam hati terlintas pikiran bahwa “awak” termasuk orang yang rajin berjamaah, apalagi kalau di dalam hati lalu merasa “paling” taat ibadah, “paling” rajin berjamaah, hal seperti ini sudah bukan adab seorang muslim. Seorang muslim tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain, tidak boleh merasa paling, pokoknya segala merasa macam paling dilarang buat orang beriman. Seorang muslim tidak boleh merasa paling taat, tidak boleh merasa paling berilmu, tidak boleh merasa paling menguasai segala persoalan. Nabi Musa karena merasa paling berilmu diberitau Allah ada lagi yang paling berilmu. Lihat surat Al-Kahfi; Kisah Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir diabadikan dalam Al-Qur'an Surat *Al-Kahfi ayat 60-82*. Perjalanan ini adalah ujian kerendahan hati dan kesabaran bagi Nabi Musa, yang mengajarkan bahwa ilmu Allah sangatlah luas dan tidak terbatas oleh akal manusia. Adab seorang muslim harus rendah hati dan tidak merasa *“Paling”*, Allah Ta’ala berfirman tentang larangan merasa paling itu: “………. فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ ………………..” _“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”_ (QS. An Najm : 32) Kebiasaan merasa diri suci merupakan perbuatan yahudi dan nasrani yang jelas- jelas dicela oleh Allah Ta’ala “………….. وَقَالُوا۟ لَن تَمَسَّنَا ٱلنَّارُ إِلَّآ أَيَّامًا مَّعْدُودَةً ۚ _“Dan mereka berkata, kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja.”_ (QS. Al Baqarah: 80) Bahkan, saking merasa sucinya, mereka merasa bahwa hanya merekalah yang paling layak masuk surga. “………………. وَقَالُوا۟ لَن يَدْخُلَ ٱلْجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوْ نَصَٰرَىٰ ۗ _“Dan mereka berkata, Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yahudi dan Nasrani.”_ (QS. Al Baqarah: 111) Sehingga Allah Ta’ala cela kebiasaan mereka ini: أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم ۚ بَلِ ٱللَّهُ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلً _“Apakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.”__ (QS. An-Nisa: 49) Nabi Muhammad ﷺ melarang setiap diri merasa suci, seperti termuat dalam hadits diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ _"Janganlah kalian merasa diri kalian suci (jangan memuji diri sendiri), Allah lebih mengetahui siapa yang berbuat baik di antara kalian”_ Sebagai contoh; Bila ketika anda melangkah menuju masjid untuk shalat berjamaah, lantas melihat tetangga yang anda liwati menuju masjid sedang duduk2 di beranda rumah, baik yang sudah berumur maupun masih remaja, mereka tidak menghiraukan panggilan adzan. Tak ada salahnya anda menyapa mereka, *“ayok ke masjid”*. Kalaulah ajakan anda belum direspon, tolong jangan terbersit di hati bahwa anda orang yang paling taat, lalu beranggapan mereka termasuk orang yang nanti dimurkai Allah. Persoalannya belum tentu akhir hidup mereka, sebagaimana belum tentunya akhir hidup kita. Dapat saja terjadi orang yang anda liwati ketika kemesjid itu sekarang tidak shalat, menjelang akhir hidupnya menjadi ahli ibadah dan taubatnya diterima Allah, justru merekalah menjadi ahli surga. Sebaliknya belum karuan nasib anda sendiri, apalagi jika di dalam hati sering terbesit merasa “paling”. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini kepada sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menangkal sifat ujub atau kagum pada amalan sendiri, atau merasa paling. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَف] _"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku sendiri”_ Adab seorang beriman *“agar tidak merasa paling”* rujukan antara lain seperti ayat2 dan hadist dipetik di atas. Adapun dalam pergaulan di masyarakat dimana masyarakat tidak menyenangi orang yang selalu merasa *paling*. Agar menghindari *rasa paling dari diri kita* yaitu: *Merasa paling benar, paling hebat, atau paling penting*, bersikaplah: 1. Anggap setiap orang tahu sesuatu yang belum awak tahu. Ini membuat diri ini lebih mudah mendengar daripada langsung menyimpulkan. 2. Biasakan bertanya sebelum berpendapat. Misalnya, "Apa yang membuatmu berpikir begitu?" Ini membantu memahami sudut pandang orang lain. 3. Sadari bahwa awak bisa saja salah. Mengubah pendapat ketika mendapat bukti baru adalah kekuatan, bukan kelemahan. 4. Pisahkan harga diri dari pendapat. Jika sebuah ide dikritik, itu tidak berarti dirimu ikut direndahkan. 5. Berlatih mengakui kesalahan. Kalimat sederhana seperti, "Ternyata aku keliru," dapat melatih kerendahan hati. 6. Hargai kontribusi orang lain. Saat berhasil dalam sesuatu, ingat siapa saja yang ikut membantu. 7. Lakukan refleksi secara rutin. Coba tanyakan pada diri sendiri: "Apakah aku ingin memahami, atau hanya ingin menang?" Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri atau menganggap diri tidak mampu. Justru, itu adalah kemampuan untuk melihat diri sendiri secara realistis—mengakui kelebihan tanpa merasa lebih tinggi dari orang lain, dan mengakui kekurangan tanpa merasa rendah. Yaa Allah jadikanlah kami semua menjadi hamba Allah yang taqwa, namun tidak merasa paling taqwa, menjadi hamba Allah yang taat ibadah, tetapi tak merasa paling taat beribadah. Ya Allah hindarkan kami dari merasa diri paling pandai, paling benar, paling suci dan segala macam paling. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 13 Muharram 1448 H. 28 Juni 2026

Saturday, 20 June 2026

Ucapkan Salam Masuk Rumah Sendiri

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.424.04.06-2026 Ucapan : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ (Assalamu'alaikum), versi pendek yang artinya _”Semoga keselamatan tercurah untukmu”_. Versi panjang Ucapan اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh), artinya –“ Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu_”. Beda jauh dengan ucapan “selamat siang”, “selamat pagi”, “selamat sore” dan “selamat malam”. Atau ucapan2 pembuka kata lainnya. Ucapan السَّلَامُ عَلَيْكُمْ atau lengkap dengan اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, diucapkan ketika masuk rumah (terutama bukan rumah sendiri), diperintahkan Allah langsung kepada semua orang beriman hal tersebut termuat dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 27: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ Artinya: _"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat._" *Mengenai pengucapan salam ketika bertemu sesama, ketika datang/pulang di suatu majelis, ketika membuka pembiacaraan; karena terbatas ruang tulis, tidak dibahas dalam artikel ini*. Masuk rumah mengucapkan salam bukan saja hanya untuk ketika bertamu kerumah orang, bahkan di anjurkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ ketika kita masuk kerumah kediaman kita sendiri. Baik dalam hal sedang ada anggota keluarga di dalam rumah, maupun rumah dalam keadaan kosong, ketika kita datang dari luar rumah. Suatu ketika seorang sahabat datang menghadap Rasulullah Muhammad ﷺ, mengeluhkan perihal kefakiran dan kesulitan hidup yang dihadapinya. Diberi amalan oleh Rasulullah *untuk mengucapkan salam* seperti yang dikisahkan dibawah ini, sehingga kehidupan sahabat tersebut akhirnya rezekinya berlimpah. Kisah tentang hal *mengucapkan salam ini* banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitabnya, diantaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marâh Labîd atau lebih dikenal dengan nama Tafsîr Al-Munîr. Dalam penafsiran surat Al-Ikhlas Syekh Nawawi menuturkan kisah tersebut sebagai berikut: عن سهل بن سعد جاء رجل إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وشكا إليه الفقر فقال: «إذا دخلت بيتك فسلم إن كان فيه أحد وإن لم يكن فيه أحد فسلم على نفسك واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة. ففعل الرجل فأدر الله عليه رزقا حتى أفاض على جيرانه Artinya: _Dari Sahl bin Sa’d, seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan mengadu kepadanya perihal kefakiran. Rasul bersabda: Bila engkau memasuki rumahmu, ucapkanlah salam bila di dalamnya ada seseorang. Bila tidak ada seorang di dalamnya, maka bersalamlah untuk dirimu dan bacalah qul huwallâhu ahad sekali.’ Lelaki itu mengamalkannya. Allah melimpahkan kepadanya rezeki hingga meluber kepada para tetangganya_. Dalam kitab tersebut ia menuturkan ajaran dari *Ibnu Abbas dan Qatadah* sebagai berikut: وقال ابن عباس: إن لم يكن في البيت أحد فليقل: السلام علينا من قبل ربنا Artinya: Ibnu Abbas berkata: Bila tak ada siapapun di dalam rumah, maka ucapkanlah ‘assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ’ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami). وقال قتادة: إذا دخلت بيتك فسلم على أهلك فهم أحق بالسلام ممن سلمت عليهم، وإذا دخلت بيتا لا أحد فيه فقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين Artinya: _Qatadah berkata: Bila engkau memasuki rumahmu, maka ucapkanlah salam kepada keluargamu. Mereka lebih berhak mendapatkan salam daripada orang lain yang engkau salami_. Bila tidak ada orang didalam rumah; kita dapat mengucapkan salam bagi diri sendiri salah satunya dengan kalimat: *Assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ* (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami) atau *Assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn* (keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba yang saleh). Anjuran mengucapkan السَّلَامُ عَلَيْكُمْ atau lengkap dengan اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, telah banyak diamalkan oleh banyak orang, akan tetapi mungkin, sekali lagi mungkin banyak yang belum terbiasa masuk ke rumah sendiri, dimana didalamnya tidak ada orang kita mengucapkan *salam* dimaksud. Ya Allah jadikanlah kami sanggup mengamalkan perintah Allah dan anjuran Rasulullah termasuk dalam mengamalkan *salam*. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 6 Muharram 1448 H. 20 Juni 2026

Saturday, 13 June 2026

PERBUATAN BAIK belum tentu BERHASIL BAIK

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.423.03.06-2026 Amal adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan seseorang, baik berupa ucapan, maupun perbuatan. Dalam bahasa Arab, “amal” (عَمَل) berarti pekerjaan atau tindakan. Dalam konteks umum: Amal terterjemahkan sebagai “perbuatan yang dilakukan manusia”, dapat berupa amal baik maupun amal buruk. Terminology agama amal cenderung diartikan amal saleh merujuk pada perbuatan baik yang dilakukan dengan niat karena Allah, seperti shalat, sedekah, zakat, ibadah sosial, membantu orang lain, dan berkata jujur. Amal salah adalah amalan yang dilakukan melanggar ketentuan-ketentuan agama dan ketentuan masyarakat serta negara. Amal, apapun bentuknya mesti didahului dengan *NIAT*, selanjutnya yang dibicarakan pada artikel ini dibatasi tentang *niat baik*. terkenal hadist dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ _“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”_ (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907] Niat baik diwujudkan dengan perbuatan baik, merupakan tujuan atau motivasi seseorang. Sedangkan hasil perbuatan baik itu, berhasil baik atau tidak, dipengaruhi banyak hal, antara lain: *pengetahuan, cara bertindak, situasi, kemampuan memperkirakan konsekuensi, cara mengatakannya, teknik menyampaikannya*, bahkan faktor yang di luar kendali seseorang yang berniat baik dan berbuat baik tersebut. Seseorang ingin membantu temannya dengan memberi nasihat, tetapi nasihat itu ternyata memperburuk keadaan. Teman yang diberi nasihat tidak terima dinasihati, mungkin lantaran timing – nya yang tidak tepat, atau boleh jadi cara mengatakannya yang salah. Seorang teman menasihati temannya yang terlihat tengah menjalin hubungan (PDKT) dengan seorang wanita, temannya di nasihatinya agar jangan melanjutkan hubungan, diikuti dengan menyampaikan data hal tidak baik dari wanita tsb yang diketahuinya. Diantaranya disebutkan *“kau kok mau2nya dengan janda, kamu masih perjaka, padahal bukan sedikit gadis perawan”*. Setelah selesai teman yang menasihati dengan niat baik tersebut menyampaikan segala hal2 negatif teman wanitanya, maka si teman yang dinasihati mengatakan *“ wis tak rabi ee mas (sudah saya nikahi kok mas)”*. Makanya walaupun berniat baik untuk suatu perbuatan baik, adalah harus dilakukan dengan terlebih dahalu mencari informasi yang lengkap. Orang tua berniat melindungi anaknya, tetapi perlindungan yang berlebihan justru menghambat kemandiriannya. Karena terlalu khawatir anak kecelakaan, berlebihan melarang jangan naik sepeda, jangan naik sepada motor, akhirnya si anak tidak berketrampilan mengendarai sepeda sampai dewasa. Seorang yang baru saja masuk dalam suatu organisasi, memberikan koreksi dengan pemilihan bahasa yang kurang tepat terkesan menggurui anggota organisasi yang sudah lama, seolah-olah anggota2 lama sangat kurang mengerti dari dirinya sebagai orang baru. Anggota organisasi yang lama karena merasa digurui, memilih tidak menanggapi, sambil dalam pikiran masing2 *“aaakh…. dia belum paham secara detail apa yang dia koreksi tersebut……. kanapa terjadi seperti itu”*. Disinilah pentingnya ketika menjadi orang baru dalam suatu organisasi, sebelum melaksanakan koreksi, sebaiknya teleti lebih dalam, teliti lebih rinci, permasalahannya sebelum mengajukan koreksi apalagi koreksi secara tertulis. Sudah jadi sifat umum manusia tak begitu suka mendapat kritik, apa lagi bila tak baik memilik kata, kurang tepat pula cara menyampaikannya. Sebagai perumpamaannya *“orang pincang”*, misalnya di ingatkan tentang jalan akan dilalui kurang mulus si pengingat mengatakan *“hati2 jalannya, jalannya licin kamu kan pincang”*. Tentu si pincang ndak enak atinya mendengar nasihat itu. Akan bijak bila teman yang mengingatkan *”ayo kita lalui jalan ini bersama-sama dengan hati2, karena licin”*. Kata2 terakhir mendarat di telinga si pincang, akan diterima dengan senang hati. Kebijakan dibuat dengan tujuan mulia, tetapi pelaksanaannya menimbulkan dampak yang tidak diinginkan, ujung2nya merugikan penerima kebijakan dan menuai banyak kritik. Lantaran sebelum dilaksanakan kurang dilakukan penelitian, uji coba, survey yang mendalam. Akhirnya Niat mulia tidak menghasilkan kebaikan. *Niat baik memang penting, direalisasikan dengan perbuatan baik, namun belum tentu berhasil baik, untuk itu perlu disertai:* *PERTAMA;* Pemahaman yang memadai tentang sesuatu aktifitas kebaikan yang akan dilakukan. Hendaknya memahami bahwa suatu tindakan membawa manfaat, membantu orang lain, atau sesuai dengan nilai moral dan etika. Menyadari alasan mengapa tindakan itu dilakukan, misalnya untuk menolong, menciptakan keadilan, atau meningkatkan kesejahteraan. *KEDUA;* Pertimbangan terhadap dampak yang akan muncul. Memikirkan konsekuensi bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sehingga kebaikan yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat. *KETIGA;* Kesediaan mengevaluasi dan memperbaiki, bilamana “perbuatan baik” itu terdapat kekeliruan, apabila hasilnya tidak sesuai harapan, termasuk bila dengan dilaksanakan niat baik itu, berdampak yang tidak baik atau kurang menyenangkan. *Niat baik layak dihargai, karena apapun perbuatan baik yang kita lalukan dengan tulus karena mengharapkan keradhaan Allah akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah sekalipun umpamanya manusia melinainya tidak baik*. seperti dinyatakan Allah (Surat Az-Zalzalah Ayat 7) فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ Artinya: _Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya._ *Namun yang perlu di camkan bahwa baik menurut diri kita, belum tentu baik menurut orang lain, juga belum tentu baik menurut Allah* “……… وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ. ……………..” _dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu._ (Al-Baqarah 216). Bagi orang beriman berpedoman; kebenaran mutlak (haq) hanya berasal dari Allah, sedangkan akal dan penilaian manusia bersifat relatif, terbatas, dan sering kali dipengaruhi oleh hawa nafsu atau kepentingan duniawi. kebenaran mutlak milik Allah: ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ Artinya: _Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu._ (Al-Baqarah-ayat-147). Yaa Allah berikan kesempatan kepada kami untuk dapat berniat baik dan berbuat baik dibawah petunjuk-MU sehingga menghasilkan kebaikan yang bermanfaat untuk sesama manusia dan kelak dapat menjadi catatan amal baik kami di kahirat nanti. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 27 DzulHijjah 1447 H. 13 Juni 2026

Monday, 8 June 2026

KE-SOMBONG-AN

Disuguhkan: M. Syarif Arbi No: 1.422.02.06-2026 Sombong merupakan perilaku seseorang dimana merasa diri lebih baik, lebih hebat, atau lebih tinggi daripada orang lain sehingga merendahkan atau memandang rendah orang lain. Perilaku sombong ini tidak disuka siapapun, termasuk orang yang sombong, dia tidak suka dengan orang lain yang sombong. Sering juga dalam tatanan kekeluargaan; sombong diterjemahkan sebagai sikap yang tidak mau mengenal sanak keluarga/kerabat atau yang pernah menjadi teman semasa kecil, tidak ramah tamah dengan keluarga, acuh tak acuh kepada sanak family dan karib kerabat. Bila dalam serumpun keluarga, anggota komunitas terdiri saudara kandung, saudara2 se nenek se datuk (saudara sepupu) termasuk se uyut. Jika salah satu atau beberapa orang bersikap sombong, maka betapapun kayanya si sombong itu, setinggi apapun jabatan dan pangkatnya, saudara2 serumpunnya akan tidak mau mendekati si sombong itu, tidak respek terhadap si sombong. Bak kata peribahasa: “Jauh akan ditunjuk dengan telunjuk, dekat akan dicibir dengan isyarat mulut”. Dalam kehidupan sehari-hari, sombong bisa terlihat dari: Suka membanggakan diri secara berlebihan, tidak mau menerima nasihat, meremehkan orang lain, merasa paling benar atau paling pintar, tidak mau mengenal sanak family dan kerabat, selalu dingin dalam pergaulan. Dalam ajaran agama dan etika, sifat sombong adalah buruk karena menciptakan hubungan tidak harmonis dengan orang lain. Lazimnya orang yang bersikap sombong ini karena yang bersangkutan dikaruniai Allah kelebihan harta benda ataupun ilmu. Tapi bukan mustahil ada orang yang tak punya kelebihan harta ataupun ilmu, namun berperilaku sombong (sudah miskin sombong pula). Sifat sombong tak disuka Allah: اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ _”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri_”. (An-Nisa 36) Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang sombong: “لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ" _“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji zarrah dari kesombongan._" Hadits dari Abdullah bin Mas’ud (HR. Muslim). Dosa karena sombong, dengan dosa melanggar larangan Allah, dapat di perhatikan kisah tentang *Nabi Adam* dan *Iblis* dalam alqur’an. Iblis berdosa kerena *tak patuh perintah Allah* dalam wujud berlaku *sombong*. Sedangkan *Nabi Adam* berbuat dosa berupa *melanggar larangan Allah*, mendekati pohon terlarang. Iblis ketika disuruh Allah sujud kepada Nabi Adam dia menolak kerena sombong. وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكَٰفِرِيْنَ _"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam!' Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong), dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir._" (Al-Baqarah ayat 34) Surat Shad Ayat 75 dan 76: قَالَ يَٰٓإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَىَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْعَالِينَ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ _Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?"_ _Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah"_. Sementara itu Nabi Adam *melanggar larangan* Allah dimana Allah melarang mendekati pohon terlarang. Surat Al-Baqarah Ayat 35: وَقُلْنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ ٱلْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ _”Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”_. Surat Al-Baqarah Ayat 36: فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيْطَٰنُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ _”Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan"_. Surat Al-Baqarah Ayat 37: فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ _”Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”_. Kalimat taubat Nabi Adam diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-A'raf ayat 23, رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ _"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi."_ Taubat Nabi Adam karena “*melanggar larangan Allah*” berdasarkan berbagai riwayat dan tafsir, Allah ﷻ menerima tobat Nabi Adam AS setelah *300 tahun beliau berdo’a*. Berarti hampir sepertiga (30%) dari hidup Nabi Adam dalam keadaan berdosa yang belum terampuni, karena menurut beberapa riwayat dan literatur Islam, total umur Nabi Adam AS adalah *1.000 tahun* dengan rincian usia beliau berdasarkan tafsir para ulama: • *Di Surga:* Diperkirakan sekitar 43 tahun sebelum diturunkan ke bumi. • *Di Bumi:* Sekitar 930 hingga 957 tahun. Sedangkan Iblis dengan dosa sombong tidak diberi Allah kalimat untuk bertaubat bahkan dikutuk Allah sampai hari kiamat. Surat Al-Hijr Ayat 35 وَإِنَّ عَلَيْكَ ٱللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ _” Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat"_. Dari kisah *Nabi Adam dan Iblis* ini, terlihat ada 2 (dua) kelompok dosa yaitu: 1. Dosa *tak patuh terhadap perintah Allah*, dilakukan Iblis berwujud “sombong”. 2. Dosa *melanggar larangan Allah*, dilakukan Nabi Adam dengan mendekati pohon terlarang. Begitu berat dosa *membantah perintah* ketimbang dosa *melanggar larangan* Allah. *Dosa membantah perintah tercermin berwujud ke-sombong-an* dilakukan Iblis tidak dapat diampuni Allah. Oleh karena itu semua perintah Allah laksanakanlah tak usah di tawar-tawar. Sedangkan dosa2 *melanggar larangan* Allah, masih ada harapan diampuni Allah, asal masih mau dan sempat bertaubat. Semua kita para pembaca, baik yang muda maupun lansia, *usia kita adalah usia sisa*, oleh karena itu mari kita berusaha untuk memanfaatkan *usia sisa* ini melaksanakan semua perintah Allah, dalam pada itu sekuat atau semampu diri menjauhi larangan2 Allah. Ya Allah jadikanlah kami semua mampu untuk menjauhi larangan2-MU dan melaksanakan seluruh perintah-MU. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 22 DzulHijjah 1447 H. 8 Juni 2026

Tuesday, 2 June 2026

*MENG “ESA” KAN*

Disuguhkan: M. Syarif Arbi No: 1.421.01.06-2026 Dalam perspektif agama Islam, kata "esa" dan "tunggal" tidak identik, walau sering sama2- diterjemahkan sebagai "satu". Perbedaan utamanya adalah: *Esa*: Menunjukkan keesaan yang absolut, digunakan untuk menyatakan; *Allah dalam konsep Tauhid*. Bermakna bahwa tidak ada yang setara dengan Allah, tidak ada yang sebanding dengan Allah, atau tidak ada satupun sesuatu merupakan bagian dari Allah. Dasar utamanya ketentuan tauhid ini terdapat dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Al-Ikhlas: قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ. _(Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa)_. ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ _(Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu)._ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ _(Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan)._ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ _(dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”).- Kata bahasa Arab yang digunakan adalah * ٱللَّهُ أَحَدٌ (Allahu aḥad)*, yang menunjukkan keesaan Allah yang unik dan absolut. *Tunggal* lebih menunjuk pada *jumlah satu atau tidak terdiri dari banyak bagian yang sejenis*. Dalam bahasa sehari-hari, sesuatu yang tunggal belum tentu unik atau belum tentu tidak ada bandingannya. Misalnya: • Seorang manusia dapat disebut individu tunggal. • Sebuah benda dapat berjumlah tunggal (satu buah). *Kata “Tunggal”*: Menunjukkan jumlah satu atau tidak jamak. Cocok dipergunakan untuk makhluk atau benda. Karena itu, kata *"tunggal"* tidak selalu mengandung makna ke-Tuhanan atau keunikan mutlak. “Dalam ajaran Islam meng-esa-kan Allah” disebut *tauhid*. *Tauhid* adalah keyakinan bahwa Allah itu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak memiliki sekutu, dan Tuhan memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak. Tauhid biasanya dibahas dalam *tiga* aspek: *Aspek Pertama; Tauhid Rububiyah*: Meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur alam semesta. Bahwa seluruh realitas bersumber dari Allah dan kembali kepada Allah. Pendekatan melalui *“Tauhid Rububiyah”* ini bukan sekedar mengucapkan, tetapi merasakan kehadiran Allah dalam setiap peristiwa kehidupan. Sampai2 dalam suatu keadaan yang sangat mencekam sekalipun, yakin se yakin2nya bahwa segala sesuatu terjadi hanya dengan idzin Allah. Yakin se yakin2nya bahwa Allah selalu mendampingi, seperti terukir dalam peristiwa katika Nabi Muhammad ﷺ bersama sahabat beliau Abu Bakar ketika memulai perjalanan hijrah (surat At-Taubah 40), اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ *لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ * فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ _”Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, *“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”* Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”._ *Kasus Nabi Ibrahim dalam konteks Tauhid Rububiyah* Dalam riwayat Ibn Jarir at-Thabari disebut bahwa saat Nabi Ibrahim hendak dibakar, Malaikat penjaga hujan (khazinul mathar) mengadu kepada Allah SWT untuk menurunkan hujan. Namun Allah telah terlebih dahulu mewahyukan kepada Nabi Ibrahim agar membaca do’a: قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ Kami berfirman: _“Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”_(terekam dalam Al-Quran surat al-Anbiya ayat 69). Saat do’a tersebut dibaca, Nabi Ibrahim serasa tidak masuk ke dalam api. Dalam hadis lain; riwayat Bukhari dari Abdullah bin Abbas dijelaskan bahwa ada do’a lain yang dibaca Nabi Ibrahim bahkan sebelum ia dimasukkan ke dalam api. Do’a tersebut adalah penggalan ayat dari surat Ali Imran ayat 173: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ _“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”_ *Kedua; Tauhid Uluhiyah (atau Ubudiyah)*: Meng-Esa-kan Allah dalam segala bentuk ibadah. Keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan diibadahi. Ini merupakan salah satu pembagian tauhid yang umum dijelaskan dalam kajian akidah Islam. Inti Tauhid Ubudiyah adalah mengarahkan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah. Penerapan Tauhid Ubudiyah seperti: Shalat, Do’a, Puasa, Zakat, Haji, Tawaqkal hanya kepada Allah dan segala bentuk ibadah tertuju kepada Allah. Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ubudiyah mengacu kepada penegasan Allah dalam surat Az-Zariyat Ayat 56, وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ _” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”_ *Ketiga; Tauhid Asma wa Sifat (توحيد الصفات)*. Perwujudan Tauhid Asma wa sifat, yakni menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah: • Tidak boleh menyerupakannya Allah dengan makhluk, benda apapun misalnya berbentuk patung, hewan, pohon, benda hidup atau benda mati, ditegaskan Allah dalam surat Asy-Syura ayat 11 لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ ( _“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”_). • Menyakini sepenuh hati dan jiwa akan ke *MAHA* an Allah, Allah maha kuasa, Allah maha mengetahui, Allah maha sempurna, Allah ……… (maha segalanya). • Dalam ber tauhid *asma wa sifat;* dipantangkan untuk; berpikir, membayangkan, menanyakan bagaimana wujudnya Allah. Adapun dasar larangan dimaksud termuat dalam surat Asy-Syura ayat 11 dikutip di atas dan juga larangan itu pernah diberitahukan Allah kepada Nabi Musa diabadikan dalam surat Al-A’raf 143: وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ Artinya: _”Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman"_ Rasulullah ﷺ bersabda terkait *Tauhid Asma wa Sifat (توحيد الصفات):* تَفَكَّرُوا فِي آلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوا فِي ذَاتِ اللهِ Artinya: _"Pikirkanlah tentang ciptaan-ciptaan Allah dan janganlah kalian memikirkan tentang Dzat Allah, karena sesungguhnya kalian tidak akan mampu mengukur-Nya (membayangkan-Nya)._". (HR. Abu Nu'aim dari Ibnu Abbas) Yaa Allah murnikanlah ke *TAUHID* an kami dalam meng *ESA* kan Allah, agar selamat kami di dunia ini terlebih di akhirat nanti. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 17 DzulHijjah 1447 H. 2 Juni 2026