Saturday, 20 June 2026
Ucapkan Salam Masuk Rumah Sendiri
Dirangkum: M. Syarif Arbi
No: 1.424.04.06-2026
Ucapan : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ (Assalamu'alaikum), versi pendek yang artinya _”Semoga keselamatan tercurah untukmu”_. Versi panjang Ucapan اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh), artinya –“ Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu_”. Beda jauh dengan ucapan “selamat siang”, “selamat pagi”, “selamat sore” dan “selamat malam”. Atau ucapan2 pembuka kata lainnya.
Ucapan السَّلَامُ عَلَيْكُمْ atau lengkap dengan اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, diucapkan ketika masuk rumah (terutama bukan rumah sendiri), diperintahkan Allah langsung kepada semua orang beriman hal tersebut termuat dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 27:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya: _"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat._"
*Mengenai pengucapan salam ketika bertemu sesama, ketika datang/pulang di suatu majelis, ketika membuka pembiacaraan; karena terbatas ruang tulis, tidak dibahas dalam artikel ini*.
Masuk rumah mengucapkan salam bukan saja hanya untuk ketika bertamu kerumah orang, bahkan di anjurkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ ketika kita masuk kerumah kediaman kita sendiri. Baik dalam hal sedang ada anggota keluarga di dalam rumah, maupun rumah dalam keadaan kosong, ketika kita datang dari luar rumah.
Suatu ketika seorang sahabat datang menghadap Rasulullah Muhammad ﷺ, mengeluhkan perihal kefakiran dan kesulitan hidup yang dihadapinya. Diberi amalan oleh Rasulullah *untuk mengucapkan salam* seperti yang dikisahkan dibawah ini, sehingga kehidupan sahabat tersebut akhirnya rezekinya berlimpah.
Kisah tentang hal *mengucapkan salam ini* banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitabnya, diantaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marâh Labîd atau lebih dikenal dengan nama Tafsîr Al-Munîr. Dalam penafsiran surat Al-Ikhlas Syekh Nawawi menuturkan kisah tersebut sebagai berikut:
عن سهل بن سعد جاء رجل إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وشكا إليه الفقر فقال: «إذا دخلت بيتك فسلم إن كان فيه أحد وإن لم يكن فيه أحد فسلم على نفسك واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة. ففعل الرجل فأدر الله عليه رزقا حتى أفاض على جيرانه
Artinya: _Dari Sahl bin Sa’d, seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan mengadu kepadanya perihal kefakiran. Rasul bersabda: Bila engkau memasuki rumahmu, ucapkanlah salam bila di dalamnya ada seseorang. Bila tidak ada seorang di dalamnya, maka bersalamlah untuk dirimu dan bacalah qul huwallâhu ahad sekali.’ Lelaki itu mengamalkannya. Allah melimpahkan kepadanya rezeki hingga meluber kepada para tetangganya_.
Dalam kitab tersebut ia menuturkan ajaran dari *Ibnu Abbas dan Qatadah* sebagai berikut:
وقال ابن عباس: إن لم يكن في البيت أحد فليقل: السلام علينا من قبل ربنا
Artinya: Ibnu Abbas berkata: Bila tak ada siapapun di dalam rumah, maka ucapkanlah ‘assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ’ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami).
وقال قتادة: إذا دخلت بيتك فسلم على أهلك فهم أحق بالسلام ممن سلمت عليهم، وإذا دخلت بيتا لا أحد فيه فقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين
Artinya: _Qatadah berkata: Bila engkau memasuki rumahmu, maka ucapkanlah salam kepada keluargamu. Mereka lebih berhak mendapatkan salam daripada orang lain yang engkau salami_.
Bila tidak ada orang didalam rumah; kita dapat mengucapkan salam bagi diri sendiri salah satunya dengan kalimat: *Assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ* (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami) atau *Assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn* (keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba yang saleh).
Anjuran mengucapkan السَّلَامُ عَلَيْكُمْ atau lengkap dengan اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, telah banyak diamalkan oleh banyak orang, akan tetapi mungkin, sekali lagi mungkin banyak yang belum terbiasa masuk ke rumah sendiri, dimana didalamnya tidak ada orang kita mengucapkan *salam* dimaksud.
Ya Allah jadikanlah kami sanggup mengamalkan perintah Allah dan anjuran Rasulullah termasuk dalam mengamalkan *salam*.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 6 Muharram 1448 H.
20 Juni 2026
Saturday, 13 June 2026
PERBUATAN BAIK belum tentu BERHASIL BAIK
Dirangkum: M. Syarif Arbi
No: 1.423.03.06-2026
Amal adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan seseorang, baik berupa ucapan, maupun perbuatan. Dalam bahasa Arab, “amal” (عَمَل) berarti pekerjaan atau tindakan. Dalam konteks umum: Amal terterjemahkan sebagai “perbuatan yang dilakukan manusia”, dapat berupa amal baik maupun amal buruk. Terminology agama amal cenderung diartikan amal saleh merujuk pada perbuatan baik yang dilakukan dengan niat karena Allah, seperti shalat, sedekah, zakat, ibadah sosial, membantu orang lain, dan berkata jujur. Amal salah adalah amalan yang dilakukan melanggar ketentuan-ketentuan agama dan ketentuan masyarakat serta negara.
Amal, apapun bentuknya mesti didahului dengan *NIAT*, selanjutnya yang dibicarakan pada artikel ini dibatasi tentang *niat baik*. terkenal hadist dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
_“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”_ (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]
Niat baik diwujudkan dengan perbuatan baik, merupakan tujuan atau motivasi seseorang. Sedangkan hasil perbuatan baik itu, berhasil baik atau tidak, dipengaruhi banyak hal, antara lain: *pengetahuan, cara bertindak, situasi, kemampuan memperkirakan konsekuensi, cara mengatakannya, teknik menyampaikannya*, bahkan faktor yang di luar kendali seseorang yang berniat baik dan berbuat baik tersebut.
Seseorang ingin membantu temannya dengan memberi nasihat, tetapi nasihat itu ternyata memperburuk keadaan. Teman yang diberi nasihat tidak terima dinasihati, mungkin lantaran timing – nya yang tidak tepat, atau boleh jadi cara mengatakannya yang salah.
Seorang teman menasihati temannya yang terlihat tengah menjalin hubungan (PDKT) dengan seorang wanita, temannya di nasihatinya agar jangan melanjutkan hubungan, diikuti dengan menyampaikan data hal tidak baik dari wanita tsb yang diketahuinya. Diantaranya disebutkan *“kau kok mau2nya dengan janda, kamu masih perjaka, padahal bukan sedikit gadis perawan”*. Setelah selesai teman yang menasihati dengan niat baik tersebut menyampaikan segala hal2 negatif teman wanitanya, maka si teman yang dinasihati mengatakan *“ wis tak rabi ee mas (sudah saya nikahi kok mas)”*. Makanya walaupun berniat baik untuk suatu perbuatan baik, adalah harus dilakukan dengan terlebih dahalu mencari informasi yang lengkap.
Orang tua berniat melindungi anaknya, tetapi perlindungan yang berlebihan justru menghambat kemandiriannya. Karena terlalu khawatir anak kecelakaan, berlebihan melarang jangan naik sepeda, jangan naik sepada motor, akhirnya si anak tidak berketrampilan mengendarai sepeda sampai dewasa.
Seorang yang baru saja masuk dalam suatu organisasi, memberikan koreksi dengan pemilihan bahasa yang kurang tepat terkesan menggurui anggota organisasi yang sudah lama, seolah-olah anggota2 lama sangat kurang mengerti dari dirinya sebagai orang baru. Anggota organisasi yang lama karena merasa digurui, memilih tidak menanggapi, sambil dalam pikiran masing2 *“aaakh…. dia belum paham secara detail apa yang dia koreksi tersebut……. kanapa terjadi seperti itu”*. Disinilah pentingnya ketika menjadi orang baru dalam suatu organisasi, sebelum melaksanakan koreksi, sebaiknya teleti lebih dalam, teliti lebih rinci, permasalahannya sebelum mengajukan koreksi apalagi koreksi secara tertulis. Sudah jadi sifat umum manusia tak begitu suka mendapat kritik, apa lagi bila tak baik memilik kata, kurang tepat pula cara menyampaikannya. Sebagai perumpamaannya *“orang pincang”*, misalnya di ingatkan tentang jalan akan dilalui kurang mulus si pengingat mengatakan *“hati2 jalannya, jalannya licin kamu kan pincang”*. Tentu si pincang ndak enak atinya mendengar nasihat itu. Akan bijak bila teman yang mengingatkan *”ayo kita lalui jalan ini bersama-sama dengan hati2, karena licin”*. Kata2 terakhir mendarat di telinga si pincang, akan diterima dengan senang hati.
Kebijakan dibuat dengan tujuan mulia, tetapi pelaksanaannya menimbulkan dampak yang tidak diinginkan, ujung2nya merugikan penerima kebijakan dan menuai banyak kritik. Lantaran sebelum dilaksanakan kurang dilakukan penelitian, uji coba, survey yang mendalam. Akhirnya Niat mulia tidak menghasilkan kebaikan.
*Niat baik memang penting, direalisasikan dengan perbuatan baik, namun belum tentu berhasil baik, untuk itu perlu disertai:*
*PERTAMA;* Pemahaman yang memadai tentang sesuatu aktifitas kebaikan yang akan dilakukan. Hendaknya memahami bahwa suatu tindakan membawa manfaat, membantu orang lain, atau sesuai dengan nilai moral dan etika. Menyadari alasan mengapa tindakan itu dilakukan, misalnya untuk menolong, menciptakan keadilan, atau meningkatkan kesejahteraan.
*KEDUA;* Pertimbangan terhadap dampak yang akan muncul.
Memikirkan konsekuensi bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sehingga kebaikan yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat.
*KETIGA;* Kesediaan mengevaluasi dan memperbaiki, bilamana “perbuatan baik” itu terdapat kekeliruan, apabila hasilnya tidak sesuai harapan, termasuk bila dengan dilaksanakan niat baik itu, berdampak yang tidak baik atau kurang menyenangkan.
*Niat baik layak dihargai, karena apapun perbuatan baik yang kita lalukan dengan tulus karena mengharapkan keradhaan Allah akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah sekalipun umpamanya manusia melinainya tidak baik*. seperti dinyatakan Allah (Surat Az-Zalzalah Ayat 7)
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ
Artinya: _Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya._
*Namun yang perlu di camkan bahwa baik menurut diri kita, belum tentu baik menurut orang lain, juga belum tentu baik menurut Allah*
“……… وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ. ……………..”
_dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu._ (Al-Baqarah 216).
Bagi orang beriman berpedoman; kebenaran mutlak (haq) hanya berasal dari Allah, sedangkan akal dan penilaian manusia bersifat relatif, terbatas, dan sering kali dipengaruhi oleh hawa nafsu atau kepentingan duniawi. kebenaran mutlak milik Allah:
ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ
Artinya: _Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu._ (Al-Baqarah-ayat-147).
Yaa Allah berikan kesempatan kepada kami untuk dapat berniat baik dan berbuat baik dibawah petunjuk-MU sehingga menghasilkan kebaikan yang bermanfaat untuk sesama manusia dan kelak dapat menjadi catatan amal baik kami di kahirat nanti.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 27 DzulHijjah 1447 H.
13 Juni 2026
Monday, 8 June 2026
KE-SOMBONG-AN
Disuguhkan: M. Syarif Arbi
No: 1.422.02.06-2026
Sombong merupakan perilaku seseorang dimana merasa diri lebih baik, lebih hebat, atau lebih tinggi daripada orang lain sehingga merendahkan atau memandang rendah orang lain. Perilaku sombong ini tidak disuka siapapun, termasuk orang yang sombong, dia tidak suka dengan orang lain yang sombong. Sering juga dalam tatanan kekeluargaan; sombong diterjemahkan sebagai sikap yang tidak mau mengenal sanak keluarga/kerabat atau yang pernah menjadi teman semasa kecil, tidak ramah tamah dengan keluarga, acuh tak acuh kepada sanak family dan karib kerabat.
Bila dalam serumpun keluarga, anggota komunitas terdiri saudara kandung, saudara2 se nenek se datuk (saudara sepupu) termasuk se uyut. Jika salah satu atau beberapa orang bersikap sombong, maka betapapun kayanya si sombong itu, setinggi apapun jabatan dan pangkatnya, saudara2 serumpunnya akan tidak mau mendekati si sombong itu, tidak respek terhadap si sombong. Bak kata peribahasa: “Jauh akan ditunjuk dengan telunjuk, dekat akan dicibir dengan isyarat mulut”.
Dalam kehidupan sehari-hari, sombong bisa terlihat dari: Suka membanggakan diri secara berlebihan, tidak mau menerima nasihat, meremehkan orang lain, merasa paling benar atau paling pintar, tidak mau mengenal sanak family dan kerabat, selalu dingin dalam pergaulan.
Dalam ajaran agama dan etika, sifat sombong adalah buruk karena menciptakan hubungan tidak harmonis dengan orang lain. Lazimnya orang yang bersikap sombong ini karena yang bersangkutan dikaruniai Allah kelebihan harta benda ataupun ilmu. Tapi bukan mustahil ada orang yang tak punya kelebihan harta ataupun ilmu, namun berperilaku sombong (sudah miskin sombong pula). Sifat sombong tak disuka Allah:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
_”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri_”. (An-Nisa 36)
Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang sombong:
“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ"
_“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji zarrah dari kesombongan._" Hadits dari Abdullah bin Mas’ud (HR. Muslim).
Dosa karena sombong, dengan dosa melanggar larangan Allah, dapat di perhatikan kisah tentang *Nabi Adam* dan *Iblis* dalam alqur’an. Iblis berdosa kerena *tak patuh perintah Allah* dalam wujud berlaku *sombong*. Sedangkan *Nabi Adam* berbuat dosa berupa *melanggar larangan Allah*, mendekati pohon terlarang.
Iblis ketika disuruh Allah sujud kepada Nabi Adam dia menolak kerena sombong.
وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكَٰفِرِيْنَ
_"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam!' Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong), dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir._" (Al-Baqarah ayat 34)
Surat Shad Ayat 75 dan 76:
قَالَ يَٰٓإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَىَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْعَالِينَ
قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ
_Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?"_
_Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah"_.
Sementara itu Nabi Adam *melanggar larangan* Allah dimana Allah melarang mendekati pohon terlarang.
Surat Al-Baqarah Ayat 35:
وَقُلْنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ ٱلْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
_”Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”_.
Surat Al-Baqarah Ayat 36:
فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيْطَٰنُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ
_”Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan"_.
Surat Al-Baqarah Ayat 37:
فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ
_”Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”_.
Kalimat taubat Nabi Adam diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-A'raf ayat 23,
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
_"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi."_
Taubat Nabi Adam karena “*melanggar larangan Allah*” berdasarkan berbagai riwayat dan tafsir, Allah ﷻ menerima tobat Nabi Adam AS setelah *300 tahun beliau berdo’a*. Berarti hampir sepertiga (30%) dari hidup Nabi Adam dalam keadaan berdosa yang belum terampuni, karena menurut beberapa riwayat dan literatur Islam, total umur Nabi Adam AS adalah *1.000 tahun* dengan rincian usia beliau berdasarkan tafsir para ulama:
• *Di Surga:* Diperkirakan sekitar 43 tahun sebelum diturunkan ke bumi.
• *Di Bumi:* Sekitar 930 hingga 957 tahun.
Sedangkan Iblis dengan dosa sombong tidak diberi Allah kalimat untuk bertaubat bahkan dikutuk Allah sampai hari kiamat.
Surat Al-Hijr Ayat 35
وَإِنَّ عَلَيْكَ ٱللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ
_” Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat"_.
Dari kisah *Nabi Adam dan Iblis* ini, terlihat ada 2 (dua) kelompok dosa yaitu:
1. Dosa *tak patuh terhadap perintah Allah*, dilakukan Iblis berwujud “sombong”.
2. Dosa *melanggar larangan Allah*, dilakukan Nabi Adam dengan mendekati pohon terlarang.
Begitu berat dosa *membantah perintah* ketimbang dosa *melanggar larangan* Allah.
*Dosa membantah perintah tercermin berwujud ke-sombong-an* dilakukan Iblis tidak dapat diampuni Allah. Oleh karena itu semua perintah Allah laksanakanlah tak usah di tawar-tawar.
Sedangkan dosa2 *melanggar larangan* Allah, masih ada harapan diampuni Allah, asal masih mau dan sempat bertaubat.
Semua kita para pembaca, baik yang muda maupun lansia, *usia kita adalah usia sisa*, oleh karena itu mari kita berusaha untuk memanfaatkan *usia sisa* ini melaksanakan semua perintah Allah, dalam pada itu sekuat atau semampu diri menjauhi larangan2 Allah.
Ya Allah jadikanlah kami semua mampu untuk menjauhi larangan2-MU dan melaksanakan seluruh perintah-MU.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 22 DzulHijjah 1447 H.
8 Juni 2026
Tuesday, 2 June 2026
*MENG “ESA” KAN*
Disuguhkan: M. Syarif Arbi
No: 1.421.01.06-2026
Dalam perspektif agama Islam, kata "esa" dan "tunggal" tidak identik, walau sering sama2- diterjemahkan sebagai "satu". Perbedaan utamanya adalah:
*Esa*: Menunjukkan keesaan yang absolut, digunakan untuk menyatakan; *Allah dalam konsep Tauhid*. Bermakna bahwa tidak ada yang setara dengan Allah, tidak ada yang sebanding dengan Allah, atau tidak ada satupun sesuatu merupakan bagian dari Allah. Dasar utamanya ketentuan tauhid ini terdapat dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Al-Ikhlas:
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ. _(Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa)_.
ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ _(Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu)._
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ _(Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan)._
وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ _(dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”).-
Kata bahasa Arab yang digunakan adalah * ٱللَّهُ أَحَدٌ (Allahu aḥad)*, yang menunjukkan keesaan Allah yang unik dan absolut.
*Tunggal* lebih menunjuk pada *jumlah satu atau tidak terdiri dari banyak bagian yang sejenis*. Dalam bahasa sehari-hari, sesuatu yang tunggal belum tentu unik atau belum tentu tidak ada bandingannya. Misalnya:
• Seorang manusia dapat disebut individu tunggal.
• Sebuah benda dapat berjumlah tunggal (satu buah).
*Kata “Tunggal”*: Menunjukkan jumlah satu atau tidak jamak. Cocok dipergunakan untuk makhluk atau benda. Karena itu, kata *"tunggal"* tidak selalu mengandung makna ke-Tuhanan atau keunikan mutlak.
“Dalam ajaran Islam meng-esa-kan Allah” disebut *tauhid*. *Tauhid* adalah keyakinan bahwa Allah itu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak memiliki sekutu, dan Tuhan memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak. Tauhid biasanya dibahas dalam *tiga* aspek:
*Aspek Pertama; Tauhid Rububiyah*: Meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur alam semesta. Bahwa seluruh realitas bersumber dari Allah dan kembali kepada Allah. Pendekatan melalui *“Tauhid Rububiyah”* ini bukan sekedar mengucapkan, tetapi merasakan kehadiran Allah dalam setiap peristiwa kehidupan. Sampai2 dalam suatu keadaan yang sangat mencekam sekalipun, yakin se yakin2nya bahwa segala sesuatu terjadi hanya dengan idzin Allah. Yakin se yakin2nya bahwa Allah selalu mendampingi, seperti terukir dalam peristiwa katika Nabi Muhammad ﷺ bersama sahabat beliau Abu Bakar ketika memulai perjalanan hijrah (surat At-Taubah 40),
اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ *لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ * فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
_”Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, *“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”* Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”._
*Kasus Nabi Ibrahim dalam konteks Tauhid Rububiyah*
Dalam riwayat Ibn Jarir at-Thabari disebut bahwa saat Nabi Ibrahim hendak dibakar, Malaikat penjaga hujan (khazinul mathar) mengadu kepada Allah SWT untuk menurunkan hujan. Namun Allah telah terlebih dahulu mewahyukan kepada Nabi Ibrahim agar membaca do’a:
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
Kami berfirman: _“Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”_(terekam dalam Al-Quran surat al-Anbiya ayat 69). Saat do’a tersebut dibaca, Nabi Ibrahim serasa tidak masuk ke dalam api.
Dalam hadis lain; riwayat Bukhari dari Abdullah bin Abbas dijelaskan bahwa ada do’a lain yang dibaca Nabi Ibrahim bahkan sebelum ia dimasukkan ke dalam api. Do’a tersebut adalah penggalan ayat dari surat Ali Imran ayat 173:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
_“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”_
*Kedua; Tauhid Uluhiyah (atau Ubudiyah)*: Meng-Esa-kan Allah dalam segala bentuk ibadah. Keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan diibadahi. Ini merupakan salah satu pembagian tauhid yang umum dijelaskan dalam kajian akidah Islam. Inti Tauhid Ubudiyah adalah mengarahkan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah. Penerapan Tauhid Ubudiyah seperti: Shalat, Do’a, Puasa, Zakat, Haji, Tawaqkal hanya kepada Allah dan segala bentuk ibadah tertuju kepada Allah. Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ubudiyah mengacu kepada penegasan Allah dalam surat Az-Zariyat Ayat 56,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
_” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”_
*Ketiga; Tauhid Asma wa Sifat (توحيد الصفات)*.
Perwujudan Tauhid Asma wa sifat, yakni menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah:
• Tidak boleh menyerupakannya Allah dengan makhluk, benda apapun misalnya berbentuk patung, hewan, pohon, benda hidup atau benda mati, ditegaskan Allah dalam surat Asy-Syura ayat 11 لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ ( _“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”_).
• Menyakini sepenuh hati dan jiwa akan ke *MAHA* an Allah, Allah maha kuasa, Allah maha mengetahui, Allah maha sempurna, Allah ……… (maha segalanya).
• Dalam ber tauhid *asma wa sifat;* dipantangkan untuk; berpikir, membayangkan, menanyakan bagaimana wujudnya Allah. Adapun dasar larangan dimaksud termuat dalam surat Asy-Syura ayat 11 dikutip di atas dan juga larangan itu pernah diberitahukan Allah kepada Nabi Musa diabadikan dalam surat Al-A’raf 143:
وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ
Artinya: _”Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman"_
Rasulullah ﷺ bersabda terkait *Tauhid Asma wa Sifat (توحيد الصفات):*
تَفَكَّرُوا فِي آلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوا فِي ذَاتِ اللهِ
Artinya: _"Pikirkanlah tentang ciptaan-ciptaan Allah dan janganlah kalian memikirkan tentang Dzat Allah, karena sesungguhnya kalian tidak akan mampu mengukur-Nya (membayangkan-Nya)._". (HR. Abu Nu'aim dari Ibnu Abbas)
Yaa Allah murnikanlah ke *TAUHID* an kami dalam meng *ESA* kan Allah, agar selamat kami di dunia ini terlebih di akhirat nanti.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 17 DzulHijjah 1447 H.
2 Juni 2026
Monday, 25 May 2026
MEMAKNAI SELAWAT
Disajikan: M. Syarif Arbi
No: 1.420.08.05-2026
Allah memerintahkan bagi orang beriman untuk berselawat untuk Nabi Muhammad ﷺ. Redaksi selawat itu adalah اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. , maknanya "Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad” atau ada yang memakai redaksi اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ tanpa kata سَيِّدِنَا. maknanya "Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad”. Tulisan ini tidak membahas perbedaan pendapat tersebut. Perintah berselawat untuk orang beriman itu termaktub dalam Al-Qur’an:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ٥٦
_“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”_ (Al Ahzab 56)
*Allah berselawat; bermakna Allah mencurahkan rahmat, menganugerahkan kemuliaan, serta memberikan pujian kepada Nabi Muhammad ﷺ.*
*Sedangkan para malaikat berselawat; berarti para malaikat berdo’a kepada Allah untuk memohonkan ampunan serta keberkahan buat Nabi Muhammad ﷺ. *
*Adapun menusia berselawat; berarti berdo’a kepada Allah ("Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad”) dan juga penghormatan kepada Nabi Muhammad ﷺ .*
Ada sebagian orang bertanya atau berkomenter *Nabi Muhammad itu kan sudah diberi rahmat oleh Allah, sudah dimuliakan oleh Allah, terpelihara dari segala dosa, kenapa Allah perintahkan lagi kepada orang beriman untuk berdo’a buat Nabi Muhammad ﷺ*.
Ketahuilah para pembaca yang arif; bahwa berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ akan terkondisi hal-hal sebagai berikut:
*Pertama; Menghadirkan cinta kepada Rasulullah Muhammad ﷺ*:
• Semakin banyak seseorang berselawat, semakin kuat hubungan hati orang itu terhadap Nabi Muhammad. Karena dengan berselawat kepada Rasulullah, mengingat beliau, menggerakkan hati, terekam dalam pikiran orang yang mengucapkannya. Semakin sering seseorang, mengingat sesuatu, semakin lekat hal tersebut di hati dan pikirannya, apalagi jika ucapan selawat itu diucapkan sampai terdengar telinga sendiri walaupun perlahan.
• Dengan berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ mewujudkan rasa Syukur dan penghargaan kepada Nabi Muhammad ﷺ atas perjuangannya menyampaikan risalah Islam. Menyadari besarnya pengorbanan ini otomatis memupuk rasa cinta.
• Berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ Menghubungkan jiwa secara spiritual sekaligus merupakan cara bertawasul dan membuka koneksi spiritual dengan Rasulullah. Doa dan pujian yang dilafazkan menjadi sarana untuk menghadirkan kehadiran spiritual beliau di dalam hati. Setiap do’a yang di tujukan kepada Allah, bahkan harus didahului berselawat atas Nabi Muhammad ﷺ, seperti terdapat dalam hadist diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari sahabat Umar bin Khattab r.a. berbunyi:
إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، لاَ يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم
Artinya: _"Sesungguhnya doa itu tertahan di antara langit dan bumi, tidak naik sedikit pun darinya hingga engkau berselawat atas Nabimu shallallahu 'alaihi wa sallam."_ (HR At-Tirmidzi
• Berselawat memuktikan ketaatan, kepatuhan, ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya, yang menjadi landasan utama tumbuhnya cinta yang tulus, menjalankan perintah Allah tersurat pada Al-Ahzab 56 dikutif di awal tulisan ini.
Keterbatasan ruang tulis, kondisi2 lainnya sebagai nilai tambah yang diperoleh dari berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ yang kedua dstnya, mohon idzin hanya dikemukakan secara singkat.
*Kedua; Menghidupkan sunnah dan akhlak Rasulullah Muhammad ﷺ.*
Selawat yang sejati tidak berhenti pada ucapan, tetapi mendorong meneladani sifat beliau: jujur, lembut, amanah, dan penuh kasih. Berusaha untuk meneladani cara hidup Rasulullah keseharian dari mulai bangun tidur sampai ke tidur lagi.
*Ketiga; Membersihkan hati*
Selawat sering juga merupakan sebagai dzikir, karena disebut diawalnya “Allah”. Sedangkan dzikir adalah sarana melembutkan hati, menentramkan jiwa, dan mengurangi kelalaian.
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
_”(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram”_. (Ar-Raad 28)
*Keempat; Mendapat balasan selawat dari Allah*
Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Artinya:* _"Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali."_* (HR. Muslim).
Yaa Allah jadikanlah kami semua orang istiqamah dalam beriman dan senantiasa dapat melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 9 DzulHijjah 1447 H.
26 Mei 2026
Thursday, 21 May 2026
QURBAN PERTAMA
Dirangkum: M. Syarif Arbi
No: 1.419.07.05-2026
Beberapa hari lagi, kita semua ber hari raya Idul Adha, di tandai dengan memotong hewan qurban setelah melaksanakan shalat sunah *Idul Adha*.
Ibadah qurban, salah satu ibadah tertua di dunia ini. Ritual Qurban yang pertama kali dilakukan oleh manusia dilaksanakan oleh dua orang anak Nabi Adam yaitu *Habil dan Qabil*. Dua bersaudara ini disuruh berqurban oleh bapak mereka, Nabi Adam, sebagai media untuk Nabi Adam memutuskan sengketa calon istri.
Siti Hawa, melahirkan selalu kembar *“fraternal”* atau *“dizigotik”* yaitu seorang bayi lelaki dan seorang bayi perempuan disatu kali kelahiran, kedua bayi itu disebut saudara sekandung, hanya sekali yang tunggal, yaitu saat melahirkan *Nabi Syits*, yang lahir menggantikan Habil karena dibunuh saudaranya sendiri, Qabil.
Ketentuan di zaman Nabi Adam, karena belum ada manusia lain, maka anak2 mereka dinikahkan silang sesaudara, dengan aturan anak2 kembar sekandung tidak boleh menikah.
*Qabil* lahir bersama dengan saudari satu kandung yang bernama *Iqlima*. Konon, *Iqlima* terlahir sebagai wanita berparas *cantik rupawan*. Sementara Habil lahir dengan saudari kandung bernama *Labuda*, tidak secantik *Iqlima*.
Sesuai aturan yang berlaku, maka *Qabil harus menikah dengan Labuda*. *Sementara Habil menikahi Iqlima*. Qabil tidak terima. Ia hanya mau menikahi saudari satu kandungnya, Iqlima, yang memiliki paras cantik rupawan.
Menyikapi sengketa itu, Nabi Adam as mengadakan semacam kompetisi kepada kedua putranya itu dengan memerintahkan untuk berqurban. Barang siapa yang qurbannya diterima oleh Allah swt, dia lah yang lebih berhak menikah dengan Iqlima. Ketika itu sebagai tanda qurban diterima, apabila material yang diqurbankan disambar oleh api yang turun dari langit.
Al-hasil ritual qurbanpun dilaksanakan; Qabil yang seorang petani berqurban dengan hasil kebun miliknya. Sementara *Habil yang hidup sebagai peternak berqurban dengan seekor kambing terbaik yang ia miliki*. Qurban Habil diterima Allah swt, sedangkan *qurban Qabil tertolak lantaran Qabil berqurban dengan hasil tanaman yang buruk*.
Di kisah ini diketahui bahwa material qurban ketika itu belum ditetapkan berupa hewan, agaknya sesuai dengan kepemilikan hasil usaha masing2.
Dari persembahan qurban yang dikeluarkan masing-masing Qabil dan Habil, dapat dinilai, mana yang benar-benar ikhlas, dan mana yang tidak ikhlas. Ditolaknya qurban Qabil mengindikasikan bahwa Qabil bukanlah seorang yang ikhlas dan bertaqwa serta taat kepada Allah swt.
Usai qurbannya tertolak sempat terjadi dialog Habil dan Qabil, diabadikan di surat Al Ma’idah ayat 27:
Qabil berkata: لَأَقۡتُلَنَّكَۖ إِ = sungguh aku akan membunuhmu.
Habil menjawab: إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ = sesungguhnya Allah hanya menerima qurban dari orang yang taqwa.
Peristiwa perebutan *Iqlima*, dilanjutkan dengan melaksanakan *qurban*, sesuai perintah Nabi Adam, untuk menguji siapakah yang paling ikhlas. Berkesudahan dengan Pembunuhan manusia pertama di muka bumi ini dilakukan oleh QABIL membunuh saudaranya sendiri, HABIL.
Dari peristiwa ini dapat kiranya dipetik penyebab terjadinya kemungkaran a.l.:
1. Kecenderungan memperturutkan hawa nafsu, kendatipun harus memaksakan kehendak, walaupun dengan tidak menta’ati ketentuan yang berlaku. Berlaku ketentuan di era nabi Adam, *Pernikahan Silang*, Qabil tidak setuju, karena Iqlima lebih cantik dari pada Labuda.
2. Faktor Iri hati, disebabkan Qurban Habil diterima oleh Allah, sedangkan Qabil, qurbannya tertolak. Qabil iri hati karena Habil bakal dapat istri lebih cantik.
3. Ternyata memang manusia sejak semula, terkelompok sekurangnya dua golongan; kelompok *fujuraha* dan kelompok *taqwaha* (lihat surat Asy-Syams ayat 8) perwujudan dalam kasus ini yaitu:
a. Orang yang sangat sayang kepada hartanya, kalaulah untuk keperluan ibadah dipilihnya yang paling tidak dapat dimanfaatkan lagi. Qabil memilih sesuatu buat qurban, dari hasil pertanian yang sudah tak layak dimakan, bahkan dirinya sendiripun tak akan mau memakan hasil peratanian yang dibuatnya material qurban itu.
b. Orang yang bila untuk kepentingan ibadah, rela menggunakan miliknya yang terbaik, contoh si Habil berqurban dengan hewan ternaknya yang terbaik.
4. Ikhlas adalah kunci dari diterimanya semua ibadah oleh Allah, termasuk ibadah qurban. Salah satu tanda ikhlas adalah mampu memberikan harta kita yang paling terbaik, bukan sebaliknya memilihkan yang tidak dapat dipakai lagi oleh kita barulah digunakan buat sedekah misalnya.
5. Guna memperturutkan hawa nafsu dibalut iri dan dengki, seseorang tega walau sampai harus, menjegal sahabat seiring, menggunting dalam lipatan, contoh si Qabil tega membunuh saudaranya sendiri Habil.
Ritual Qurban yang pertama kali di atas bumi ini dilaksanakan putra nabi Adam, Habil dan Qabil, dialanjutkan dengan ritual Qurban yang kedua; ialah qurban Nabi Ibrahim mengorbankan putranya Nabi Ismail, kemudian diganti Allah dengan seekor domba.
Kini kita semua akan melaksanakan ritual qurban (tak salah,…. mungkin jika disebut ritual qurban yang ke tiga), sebab nabi Ibrahim diperintah Allah menyembelih anaknya nabi Isma’il, yang kemudian diganti Allah dengan domba. Sedangkan kita sekarang meneruskan contoh nabi Ibrahim dengan menyembelih hewan ternak, dicontohkan pula oleh Rasulullah Muhammad ﷺ dilaksanakan sesudah Shalat Idul Adha.
Ritual qurban pertama di atas dunia ini, dilaksanakan oleh putra nabi Adam:
1. Atas perintah nabi Adam, untuk menentukan pilihan istri,
2. Sekaligus juga untuk membuktikan ketaqwaan kepada Allah.
3. Material yang diqurbankan sesuai apa hasil usaha yang dimiliki masing2.
Ritual qurban kedua di dunia ini oleh nabi Ibrahim:
1. Atas pertintah Allah kepada Nabi Ibrahim melalui mimpi.
2. Juga merupakan ujian Allah untuk membuktikan ketaqwaan nabi Ibrahim dan nabi Ismail menjalankan perintah Allah.
3. Material yang diqurbankan adalah anak semata wayang yang sudah ditunggu kelahirannya sampai nabi Ibrahim berusia 86 tahun.
Bagaimana perintah Allah dan keikhlasan kedua nabi Allah ini, Ibrahim dan Ismail terlukis indah dalam surat Ash-Shaffat 102 berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢
_”Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Isma’il) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”_
Sedangkan berqurban diperintahkan untuk kita sekarang ini:
*Pertama*: Atas perintah Allah dalam surat Al-Kautsar
إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ
_”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”._
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ
_”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”._
*Kedua:* Juga merupakan ujian Allah buat kita, akan ketaqwaan kita, sudah sanggupkah diri masing2 melaksanakan perintah Allah, walau hanya diujung baris sebuah ayat.
*Ketiga:* Wujud material yang diqurbankan adalah hewan ternak, tidak banyak diantara kita memiliki peternakan, namun syarat ber-qurban di Idul Adha adalah tetap berupa hewan ternak berupa Kambing, Sapi, Onta, bukan berupa ayam, bebek dan angsa. Untuk pengadaan hewan yang disyaratkan itu, di menjelang musim ber-qurban, harganya meningkat, sudah sanggupkan awak merogoh kocek lebih dalam, membuktikan ketaqwaan kepada Allah.
Yaa Allah jadikanlah kami hamba2-Mu yang mentaati apapun perintahMu termasuk ritual menyembelih hewan Qurban. Yaa Allah kuatkanlah kami dalam ber-qurban dalam segala bentuk dalam rangka pengabdian kepada Allah yang telah memberikan kepada kami karunia dan nikmat yang tiada terhingga.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 4 DzulHijjah 1447 H.
21 Mei 2026
Sunday, 17 May 2026
JABARAN ALHAMDULILLAH
Diolah: M. Syarif Arbi
No: 1.418.06.05-2026
Kata ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ - “Alhamdulillah” , adalah ucapan yang lazimnya digunakan orang beragama Islam, namun kini saudara2 kita sebangsa, walau tidak beragama Islampun sudah banyak menggunakan kata Alhamdulillah di berbagai kesempatan. Dengan demikian ungkapan Alhamdulillah sudah “menasional” untuk bangsa Indonesia.
Kata Alhamdulillah disebut “Tahmid” adalah salah satu dari 5 dzikir lisan yang lainnya yaitu: “Tasbih” = Subhanallah, “Takbir” = Allahu Akbar, “Tahlil” = La ilaha illallah dan “Istighfar” = Astaghfirullah.
Orang beragama Islam senantiasa berdzikir Alhamdulillah sebagai perwujudan berterimakasih kepada Allah karena menyadari bahwa seluruh kenikmatan datang dari Allah:
وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ
-“Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian, apabila kamu ditimpa kemudaratan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan”-. (An-Nahl 53)
Sebagai tanda seseorang bersyukur atas nikmat Allah, tidak merasa keberhasilan dicapai karena kemampuan diri sendiri. Menyadari bahwa rezeki, kesehatan, ilmu, keluarga, dan kesempatan adalah pemberian Allah. Selanjutnya selalu dalam hati diikuti lisannya mengucapkan Alhamdulillah. Akan tetapi wujud berterimakasih kepada Allah itu bukan hanya lewat ucapan “Alhamdulillah”, berdo’a dan berdzikir, tetapi juga terlihat dari sikap dan cara hidupnya yaitu:
*Pertama; Menggunakan nikmat untuk kebaikan.*
Ilmu dipakai membantu orang, harta dipakai bersedekah, tenaga dipakai untuk hal bermanfaat, bukan untuk maksiat. Tuntunan Allah dan Rasul-Nya dalam memanfaatkan kenikmatan:
*1. Perintah Bersyukur dengan Amal:* Allah SWT berfirman, dalam surat Saba’: 13. Syukur tidak cukup di lisan, melainkan dibuktikan dengan tindakan.
ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ. ……………………………”
-“……………Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.- (Surat-Saba’-ayat-13)
*2. Menjalankan Ketaatan:* Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kenikmatan (seperti kesehatan dan waktu luang) adalah amanah yang harus digunakan untuk amal shaleh. Semakin banyak nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk beribadah.
*3. Berbagi Manfaat kepada Sesama:* Sabda Rasulullah ﷺ,
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
-"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." -
(HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan ad-Daruqutni)
Kenikmatan seperti harta atau ilmu harus disalurkan untuk membantu yang membutuhkan.
*4. Larangan Bermaksiat:*
Allah SWT memperingatkan agar nikmat tidak disalahgunakan untuk hal yang merugikan,
وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
-“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”-. (Al-Baqarah-ayat-195)
*Kedua; Menjaga ibadah*
Sebagai bukti seseorang bersyukur akan menjadi lebih taat, senantiasa menjaga shalat, sangat berhati-hati ketika berucap dan berbuat karena takut menjadi dosa, terus menerus berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah.
*Ketiga; Tidak banyak mengeluh*
Bukan berarti hidupnya selalu mudah, tetapi ia berusaha melihat kebaikan yang masih dimiliki dan tetap sabar saat diuji.
*Keempat; Dermawan*.
Orang yang bersyukur biasanya tidak pelit. Ia sadar nikmat berupa harta yang dimiliki juga ada hak orang lain di dalamnya.
وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ ١٩
-“Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta”-. (Adz-Dzaariyat Ayat 19)
*Kelima* Hatinya merasa cukup (qana’ah)
Tetap punya usaha dan cita-cita, tetapi tidak terus-menerus iri pada milik orang lain. Nikmat membuatnya makin rendah hati, makin bersyukur. Semakin diberi kelebihan, semakin tidak sombong.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
-“ (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras
. ”- (surat Ibrahim ayat 7)
Yaa Allah jadikanlah kami termasuk orang yang pandai bersyukur, baik saat nikmat terasa besar maupun kecil.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 1 DzulHijjah 1447 H.
17 Mei 2026
Monday, 11 May 2026
MEMILIH JODOH
Disajikan: M. Syarif Arbi
No: 1.416.04.05-2026
Populer kata2 bijak tetua kami dulu: “Maut, tanah terbaris dan jodoh” adalah rahasia Allah, adalah taqdir dari Allah, dengan pengertian bahwa tak seorangpun dapat memperkirakannya. Maut, ialah manakala roh beripasah dengan jasad, tegasnya saat kematian. Hanya saja penyebab kematianlah yang berbeda. Umumnya orang mati dikarenakan sakit, walau tak jarang orang meninggal tanpa sakit, tidur tak bangun lagi. Ada pula yang orang mati kerena kecelakaan lalu lintas, transportasi baik darat maupun udara. Ada orang mati ketika sedang beramal baik, ada pula yang mati sedang bermaksiat. Ada pula yang mati karena bunuh diri, mati terbunuh, atau terpidana hukuman mati. Jika kematian-kematian itu sudah terjadi, tiada lain kata yang dapat diucapkan, bahwa itu semua terjadi adalah sudah taqdir Allah, insan beriman mengimani bahwa tidak suatupun yang terjadi tanpa idzin Allah.
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah;
(surat-at-taghabun-ayat-11).
Surat Al-Hadid Ayat 22
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Adapun “tanah terbaris” disebutkan pada ungkapan diatas, ialah tempat dimana diri di kuburkan, bisa jadi di tengah samudera, boleh jadi jauh dari tanah kelahiran, tidak sedikit pula orang yang tak tau dimana jasadnya, kerena kematian kecelakaan pesawat terbang yang tidak ditemukan.
Taqdir kematian, sepertinya setiap diri tidak dapat memilih, ingin mati secara apa, termasuk pilihan mati “bunuh diri”, banyak kasus rencana bunuh dirinya gagal, lantaran kepergok orang lain. Minum racun, sempat ditolong dilarikan kerumah sakit. Taqdir kematian, kelahiran, jenis kelamin ketika lahir merupakan Taqdir Mubram; yaitu takdir yang sudah pasti dan tidak dapat diubah oleh manusia.
Adapun taqdir perkara jodoh, bila sebelum terlaksana, masih ada kemungkinan untuk “memilih taqdir”, karena masalah jodoh terkelompok Taqdir Muallaq, yaitu taqdir yang masih bisa berubah dengan usaha, dapat berubah dengan doa, dan masih berpeluang berubah melalui ikhtiar manusia atas izin Allah. Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri... (Surat Ar-Ra’ad 11)
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (Surat An-Najm Ayat 39)
Sementara itu terdapat hadist:
لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ
"Tidak ada sesuatu yang dapat menolak Qadla (takdir) kecuali do’a." (HR. At-Tirmidzi).
Do’a adalah salah satu sebab yang memiliki pengaruh terhadap akibatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَرُدُّ القَضَاءَ إلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي العُمُرِ إلَّا البِرُّ
“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan.” ……. Hadist diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Qadar, bab “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa” (no. 2139), dari hadis Salman radhiyallahu ‘anhu. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Sahihah (no. 154) dan dalam Sahih Al-Jami’ (no. 7687).
Atas dasar referensi Al-Qur’an dan hadist diatas bahwa tentang jodoh, setiap orang dapat memilih. Idealnya pertimbangannya bukan hanya “cocok” atau “tidak cocok” akan tetapi mempertimbangkan dari berbagai aspek dari calon yang akan dijadikan pasangan hidup. Pertimbangan yang detail ini tentulah dimungkinkan kalau mereka sebelum memutuskan menjalin kehidupan berumah tangga, mereka sudah saling kenal yang relative lama. Dalam hal sepasang calon suami istri ini sebelumnya sudah saling menjajagi, maka pertimbangannya dapat dilakukan dari aspek: Agama dan ketaatan terhadap agama, Pendidikan, Silsilah keluarga orang baik2. Nilai hidup dan prinsip dasar, Karakter se-hari2, Cara berkomunikasi, kematangan emosional , Apakah berpotensi untuk KDRT, Kecocokan tujuan masa depan, Sikap terhadap uang/harta/materi, lingkungan dan relasi sosial, rasa aman dan nyaman, daya tahan terhadap masalah. Yang juga penting: jangan memilih hanya karena takut tak akan dapat pasangan hidup, miris karena usia makin banyak, kesal karena keluarga nanya terus, atau sudah terlalu lama jomblo/perawan.
Tidak mustahil di era sudah berabad menjauh dari dzaman “Siti Nurbaya” ini, ada saja terjadi orang yang ketemu jodoh dadakan (seperti dahu bulat), namun dapat saja rumah tangganya “SAMAWA”, sebaliknya pemilihan jodoh setelah dengan pertimbangan yang matang, melalui pendekatan pranikah yang panjang, namun ada juga kasus suatu rumah tangga yang keadaannya tetap kurang mengenakkan.
Kembali ku teringat beberapa istilah orang tua2 dikampungku dulu melukiskan model2 keluarga yang tidak bahagia, 3 diantaranya yaitu:
Satu; “Abu di atas tunggul”, melambangkan suatu keluarga yang kurang bahagia lantaran disebabkan tidak akurnya suami istri, sering berselisih paham hanya karena soal2 yang remeh temeh, soal kecil, sehingga rezeki mereka seret. Dapat rezeki banyak pun tidak berkah apa lagi sedikit. Perolehan rezeki langsung hilang, habis ndak tentu juntrungannya “laksana Abu di taroh di atas tunggul” langsung terbang ditiup angin atau hilang disapu hujan.
Dua; “Lalang Kebakaran”. Istilah ini melambangkan keluarga yang isinya; suami sering marahi istri, atau sebaliknya istri sering marahi suami. Isi rumah tangga mereka marah – marahan melulu. Keadaan ini kalau mereka dikerunia Allah keturunan, dalam banyak kasus (walau tidak semua), anak2 keturunannya jika membentuk rumah tangga nanti akan menurun, Sukanya ngomel, ngedumel, marah2 kepada pasangannya. Istilah “Lalang kebakaran” buat melambangkan keadaan ini, karena “Lalang” bahasa kampungku; “Ilalang” bahasa Indonesia, bila kebakaran selain apinya berkobar, juga terdengar letupan2 bunyi yang berenteng, begitu “Lalang” itu di lalap api.
Tiga; “Asuk di ketitian”. Pembaca, di hutan Kalimantan, sebelum jadi kebun Kelapa sawit seperti belakangan ini, dalam hutan2 kadang ditemukan kali kecil memisahkan dua tanah daratan. Untuk menghubungkan dua daratan itu penduduk yang sering melewati hutan itu, merebahkan pohon atau dahan pohon untuk dapat menyeberang, alat nyebrang ini disebut dengan “Ketitian”. Adapun “Asuk”, bahasa setempat untuk menyebut “Anjing”. Naaah jikalau ada dua ekor Anjing, yang ingin nyebrang berada di ujung ketitian yang berlawanan, mereka tidak mau saling mengalah, masing2 maju akhirnya ketemu di tengah2 ketitian. Yang terjadi masing2 sebesaran mengluarkan salakan/gonggongan. Rumah tangga yang dilambangkan bagaikan “Asuk di ketitian” ini si suami dan istri saling tak mau mengalah dalam segala hal, isinya rebut terus.
Pembaca, kalaulah tulisanku ini di baca sobat2 yang sudah sepuh yang kini melihat anak2 merajut keluarga mereka masing2, kita berdo’a semoga Allah menjadikan keluarga anak2 dan keluarga cucu2 kita bahagia; Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah. Jikalah yang membaca tulisanku ini keluarga pemula, baru menyusun hidup baru, hati2lah membina rumah tangga setidaknya jangan sampai tertular “Abu diatas tunggul”, “Lalang Kebakaran” maupun “Asuk di ketitian”.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 23 DzulKaidah 1447 H.
11 Mei 2026
Thursday, 7 May 2026
RAKET ATOK
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.415.03.05-2026
Setiap orang pasti pernah, bahkan sering mengalami berada di kumpulan orang2 yang tidak saling mengenal. Misalnya ketika bepergian; mulai di ruang tunggu Bandara, di dalam pesawat terbang, naik kereta api dalam kota atau jarak jauh, naik bis umum, perjalanan dengan kapal laut antar pulau, sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit. Ada saja suatu keadaan, seseorang yang sangat suka bercerita, suka ngomong, tak jauh dari tempat duduk kita. Kadang si pengomong tak pilih partner ngomong, dapat saja tetangganya duduk yang baru saja ketemuan di moment itu di ceritainya, diomonginya, tak jarang tanpa orang bertanya. Kebanyakan orang sangat bising bila di suasana seperti ini ada yang berbicara atau ngomong terlalu nyaring, karena pada umumnya orang duduk dalam perjalanan atau duduk di ruang tunggu, ingin suasana tenang, tidak berisik, bahkan ada sebagian orang di keadaan seperti ini memilih untuk tidur2an, sambil menyimak apa ada pengumuman penting, atau menyibukkan diri membaca (kini dapat dari HP).
Adab standar ketika berada di ruang public seperti diungkap diatas, adalah:
1. Duduk dengan sopan; tidak selonjoran berlebihan atau tidak mengambil lebih dari satu kursi, memberikan prioritas kursi kepada lansia, ibu hamil atau orang sakit.
2. Menjaga suara; Jangan menyetel bunyi2an dari HP sampai didengar orang lain. Belum tentu bunyi2an yang menurut kita enak didengar, enak juga buat orang lain. Jika bepergian dengan pendamping, atau rombongan, tolong jangan berbicara dengan pendamping atau teman serombongan anda dengan suara yang keras, hal itu mengganggu kenyamanan orang lain. Gunakan headset jika anda menonton video atau mendengarkan audio.
3. Memelihara kebersihan; Tidak membuang sampah sembarangan, merapikan kembali area tempat duduk, ketika anda meninggalkannya.
4. Hormati privasi orang lain; Tidak mengintip layar HP tetangga duduk atau nguping percakapan orang lain. Tidak memotret sembarangan.
5. Bijak menggunakan HP; Pilih mode senyap atau getar, sehingga jika ada panggilan masuk didengar orang lain, tidak sampai mengundang perhatian orang lain, beritahukan ke penelpon “saya sedang berada di…….., nanti kita bicarakan lagi”. Bila sangat perlu untuk melakukan panggilan, usahakan mencari lokasi yang agak jauh dari kumpulan orang, itupun tak usah bersuara keras dan persingkat pembicaraan.
6. Patuhi aturan tempat; Tidak menyerobot antrian atau barisan. Bagi yang masih merokok, cari tempat yang disediakan, kalau tidak ada jangan sampai merokok.
7. Sikap dan penampilan; Berpakaian yang sopan, rapi. Sabar dan ramah (tidak berlebihan), tidak emosian manakala terganggu orang lain, apalagi tak sengaja, pilih menghindar.
Adab di tempat umum; Menghormati sesama, tidak membuat orang lain merasa terganggu, sejalan dengan akhlak seorang yang diajarkan Al-Qur’an dan hadits.
Surat An-Nisa Ayat 86:
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا
Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”.
Hadits tidak mengganggu orang lain:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Seorang muslim adalah orang lain (muslim lainnya) selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41)
Dalam praktek, dapat saja saudara kita, atau dapat saja kita sendiri justru terlupa ketika berada di tempat umum seperti dicontohkan di atas, tak sadar ngobrol, bercerita dengan teman disamping tempat duduk kita, sehingga orang lain terganggu, sementara orang lain meskipun kebisingan, tapi tidak enak untuk mengingatkan. Di keluargaku di kampung halamanku ada resep ampuh untuk menghentikan kalau ada diantara rombongan keluarga kami seperjalanan, ada yang bercerita dengan orang lain panjang lebar tak putus2. Resepnya adalah tanyakan saja: “RAKET apakah tak lupa dibawa”. Langsung anggota kami yang sedang ngobrol terus menerus tersebut pelan2 menyudahi obrolannya, sambil senyum tipis.
Rahasia RESEP tersebut adalah: Seseorang tetangga rumah kami dikampung dulu, sangat sering membanggakan dirinya selalu paling hebat, pokoknya ketika masih mudanya dianya selalu menjuarai segala pertandingan. Sampai2 beliau berbicara soal RAKET, dia punya RAKET paling hebat, dia katakana: “Raket Atok dulu Cap Kepala, kalau dipukulkan senarnya berbunyi ding-ding-ding”. Disimpulkan bahwa itu Datuk adalah sangat “pembual”, jadi jika anggota keluarga kami dalam rombongan, bercerita berkepanjangan, untuk mengingatkannya tanyakanlah kepadanya tentang “RAKET”, langsung dia ingat cerita “Raket Atok”, cerita berbual-bual. Agar salah satu keluarga kami ini tidak hanyut dalam bualan yang dapat mengganggu orang lain.
Belum lama ini, kami duduk di ruang tunggu suatu RUMKIT seluas k/l : 6 x 8 mater. Seorang pasien bercerita dengan suara nyaring terdengar jelas dari sudut ke sudut ruangan. Topik ceritanya sih sesuai dengan keadaan, yaitu tentang penyakit dirinya, berobat dengan biaya yang aduhai mahalnya sampai ke mana2 disebutkan negeri luar sana. Tak henti2nya dia bercerita, teman duduk disampingnya yang agaknya baru saja kenal itu, hanya menyela pertanyaan sekedarnya, sekedar basa basi menghormatinya. Kami pasien lain banyak yang gelisah sambil sesekali menoleh ke arah sumber suara. Ku teringat, kalaulah dia keluarga ku akan kubisikkan pertanyaan “dimana RAKET ATOK di Simpan?”
Semoga kita semua dapat menerapkan adab2 ketika di ruang public, supaya tidak membuat orang lain berdosa, lantaran ulah diri kita, dalam hatinya merasa risau terganggu, lalu mencela kita.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 19 DzulKaidah 1447 H.
7 Mei 2026
Monday, 4 May 2026
KETIAK ULAR
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.414.02.05-2026
Begitu banyak jenis Ular yang diciptakan Allah, di Indonesia saja tidak kurang dari 350 jenis, diantaranya 77 jenis berbisa. Dikabarkan di dunia jenis ular lebih dari 3.900 spesies, sekitar 600 an spesies tergolong berbisa.
Bisa ular yang sangat mematikan itu justru menjadi sangat bernilai di dunia medis. Para ilmuwan sudah lama meneliti protein dan enzim dalam racun tersebut untuk diubah menjadi obat-obatan penyembuh beberapa jenis penyakit, tentu setelah melalui proses tertentu. Itulah mungkin sebabnya para medis di bidang pharmasi menjadi “Gelas dan Ular” sebagai pilihan lambang.
Akan kemanfaatan ciptaan Allah berupa ular, sekalipun beracun mematikan, justru dapat dijadikan obat, maka benarlah firman Allah bahwa apapun yng diciptakan Allah tidak ada yang tidak berguna, tidak ada yang sia-sia.
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka”. (Ali-Imran 191)
Diruang tulis terbatas ini, tidak melanjutkan tentang masalah “bisa” ular, tetapi sedikit menyinggung tentang anatomi ular dalam arti kiasan. Ada suatu kiasan untuk orang2 yang sangat menjelimet, sangat2 berlebihan teliti, condong rebet, cerewet. Orang itu diberi julukan “dapat melihat ketiak Ular”. Orang lain tidak ada satupun yang dapat melihat ketiak Ular, karena memang Ular tidak ada ketiak, lantaran tak punya lengan.
Penyandang julukan “dapat melihat ketiak Ular” ini, jika mempertimbangkan untuk memutuskan sesuatu demikian telitinya diatas rata-rata. Pengambilan keputusan cenderung lama, lantaran banyak kajian dan pertimbangan, ekstrimnya kajiannya seringkali melihat dari sudut negative, tidak berpikir positif. Di kampungku ada pepatah “Pilih2 Tebu terpilih ke Tebero”. “Tebero”; mirip tebu tumbuh di tepian sungai berawa, tetapi sama sekali tidak manis kerena memang bukan Tebu.
Terdapat 7 (tujuh langkah) dapat dilakukan ketika akan mengambil keputusan menurut ajaran Islam (berdasarkan Al-Qur’an dan hadits). Prinsip dasarnya pengambilan keputusan bukan sekedar memilih yang paling cepat atau paling menguntungkan, tapi yang paling benar menurut ketentuan Allah dan diyakini akan diridhai Allah.
PERTAMA: Luruskan niat dengan Ikhlas.
Segala keputusan dimulai dari niat. Pastikan tujuan diambilnya keputusan bukan sekedar untuk duniawi, tapi untuk kebaikan dan ridha Allah. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.
Berpegang ayat diatas maka sebelum memutuskan sesuatu, hendaklah tanya diri sendiri---- ini karena Allah atau karena ego?
KEDUA: Lengkapi data dan himpun informasi.
Jangan mengambil keputusan dalam keadaan tidak tahu, harus lengkapi data dan himpun informasi tentang masalah yang akan diputuskan. Allah memberikan petunjuk dalam Al-Qur’an (QS. Al-Isra’: 36):
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦
Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.
Oleh karena itu maka sebelum memutuskan sesuatu hendaklah: Cari fakta, Tanyakan pada yang ahli dan Hindari keputusan emosional.
KETIGA: Mintakan pertimbangan orang kepercayaan.
Diskusikan dengan orang yang dipercaya dan berilmu. Orang kepercayaan misalnya suami atau istri, atau orang yang dekat dengan diri tempat kepercayaan curhat atau meminta pertimbangan. Dalam hal ini Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 159)
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.
Dalam hal diskusi meminta pertimbangan, pilihlah orang yang: Bijak, Jujur dan paling penting dianya “tidak hanya membenarkan diri kita”, atau asal kita senang.
KEEMPAT: Shalat Istikharah
Meminta petunjuk langsung kepada Allah, diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits (HR. Imam Bukhari)
Caranya:
1. Shalat 2 rakaat
2. Membaca doa istikharah
3. Perhatikan kecenderungan hati & kemudahan setelahnya.
Petunjuk Allah tidak selamanya berupa mimpi tetapi lebih sering berupa kemantapan atau justru rasa berat.
KELIMA: Menimbang maslahat & mudarat.
Keputusan yang akan dimabil dinilai dari dampaknya, dengan prinsip:
• Pilih yang manfaatnya lebih besar
• Hindari yang mudaratnya dominan
Ini sejalan dengan kaidah fiqh:
“Menolak kerusakan didahulukan daripada mengambil manfaat”
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
Sehubungan dengan itu dapat saja dibuatkan matriks, dengan memberikan nilai dengan skor angka bagi alternatif2 yang akan dipilih buat keputusan. Misal dalam memilih pasangan hidup; dapat di buat diskripsi: 1. Kecantikan., 2. Asal keturunan., 3. Agama., 4. Pendidikan., 5. Usia., . dll.
Lalu pasangan hidup yang akan dipilih misalnya si A si B dan si C. Nilailah mereka masing2, berapa skor tiap diskripsi yang ditentukan dengan angka. Selanjutnya pilih kumulatif skor angka yang tertinggi.
KEENAM: Mengambil keputusan tidak tergesa-gesa, tapi tidak lamban.
Keputusan yang terburu-buru sering salah. Hadits: “Ketergesaan itu dari setan…” (HR. Abu Dawud)
التَّأَنِّي مِنَ اللهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
"Sikap tenang (teliti) itu dari Allah, sedangkan ketergesaan (terburu-buru) itu dari setan”
Kecuali dalam kebaikan—itu dianjurkan untuk disegerakan.
KETUJUH: Tawakal setelah keputusan diambil.
Setelah semua ikhtiar dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah. Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 159) seperti dikutif di langkah KETIGA: “…kemudian apabila kamu telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah…”
Dengan focus pehatian:
• Jangan overthinking setelah memilih
• Terima hasil dengan lapang dada.
Pengambilan keputusan selalu dihadapi setiap orang, antara memilih salah satu dari beberapa alternatif, misalnya antara lain dapat terjadi: memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal, memilih membeli sesuatu, memilih jodoh pasangan hidup, memutuskan bepergian, ORTU memilihkan Pendidikan anak2 mereka, Seorang remaja memilih sekolah untuk menundukung cita2nya., dll.
Semoga Allah memberikan petunjuk buat pembaca sekalian memutuskan sesuatu, dengan tidak terlalu menjelimet sampai dapat julukan “mengetahui ketiak Ular”, jika telah diputuskan semoga Allah memeliharakan keptusan itu untuk kebaikan dunia dan akhirat.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 17 DzulKaidah 1447 H.
5 Mei 2026
Saturday, 2 May 2026
PENENANG HATI
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.413.01.05-2026
Hati yang tenang bukan hanya sekedar meredam emosi sejenak, seharusnya menjadikan batin ini terhubung kuat dengan Allah, sehingga apapun yang dilakukan, diharapkan dalam kendali Allah tidak terdorong oleh hawa nafsu, atau kepuasan sesaat, yang berkesudahan dengan penyesalan.
Upaya untuk menjadikan “Hati Tenang”, dapat dilakukan dengan 3 (tiga) langkah yaitu:
PERTAMA: Dzikir (Mengingat Allah)
Dzikir bisa berupa tasbih, tahmid, takbir, atau menyebut nama Allah dengan penuh kesadaran. Termasuk membaca Al-Qur’an. Dengan ber dzikir “hati tertambat” kepada Allah sehingga tidak liar ke mana-mana.
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram" (QS. Ar-Ra’d: 28).
KEDUA: Sabar dan Shalat serta Curhat kepada Allah.
Shalat bukan hanya kewajiban, tapi juga ruang “bertemu” dengan Allah. Dalam shalat, seseorang mau tak mau, kendatipun umpamanya tidak khusyuk, akan berhenti dari hiruk pikuk lingkungan sekitarnya dan kembali fokus. Bukan mustahil ketika hati sedang kalut, waktu shalat, kekalutan tersebut masuk di sela2 pikiran dalam shalat, tidak masalah, paling tidak ada sebagian pikiran terhubung kepada Allah. Usai shalat dilanjutkan dengan curhat sepuasnya kepada Allah, dengan jujur dan terbuka, seraya minta pertolongan menyelesaikan masalah yang sedang dialami, atau akan dihadapi. Di kampungku ada seulas pantun:
Pisang Nipah condong ke barat.
Masak sebiji buahnya di ujung.
Hati gelisah bawalah Shalat.
Disitu tempat iman bergantung.
Al-Qur’an memberikan arahan bahwa dalam hal hati gelisah mempunyai problem dalam hidup mintalah bantuan pertolongan Allah untuk mengatasinya. Sebaik-baik cara untuk meminta pertolongan Allah adalah melalui shalat, dengan syarat sabar.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْ
Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al- Baqarah 153)
KETIGA: Tawakal (Berserah diri)
Dalam tawakal, seseorang tetap berusaha, tapi menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ini mengurangi kecemasan, karena tidak semua hal harus dikendalikan sendiri. Tanamkan keyakinan bahwa Allah memberikan terbaik buat hamba-Nya. Allah akan memberikan sesuai dengan apa yang kita perlukan, tidak selalu memberikan apa yang kita minta. Termasuklah diantaranya ketika memperoleh rezeki, mendapatkan jodoh pasangan hidup, menderita penyakit. Andaikanpun sesudah dilakukan upaya Pertama dan Kedua, masih saja apa yang menjadi pengalut hati pengganggu ketenangan jiwa, berupa sesuatu yang tidak diinginkan masih juga terjadi. Maka orang yang beriman akan tetap tegar mempertahankan imannya, tawakal berserah diri kepada Allah berpedoman kepada apa yang diingatkan Allah dalam surat Al-Baqarah 216.
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ ٢١٦ …”
“……… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.
Yaa Allah jadikanlah kami termasuk hamba2-Mu yang berhati tenang berpikiran jernih, berdada lapang, terhindar dari emosi yang merugikan diri kami sendiri.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 14 DzulKaidah 1447 H.
2 Mei 2026
Tuesday, 21 April 2026
JASPROD
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.412.05.04-2026
Semasa belum pensiun dulu, di tempat kerjaanku saban tahun ada tambahan penghasilan yang disebut JASPROD singkatan dari “Jasa Produksi”. Kadang dibayarkan tengah tahun, kebanyakan dimusim anak2 akan mulai masuk sekolah, management institusi tempat kami kerja rupanya maklum bahwa biasanya saat2 itu banyak pengeluaran, utamanya untuk uang pendaftaran anak sekolah, membeli pakaian seragam, buku2 dan lain2. Jadi JASPROD sangat menolong. Pelaksanaannya diputuskan oleh Direksi di Kantor Pusat di Jakarta, Cabang2 menerima kabarnya segera melalui TELEX (suatu mesin ketik di kantor penerima jalan sendiri. Sekarang sudah jadul tidak digunakan lagi). Atas dasar TELEX tersebut, apabila testnya Correct, selang sehari kerja berikutnya langsung pembayaran di cabang2pun dilaksanakan.
Terakhir ini ada pula istilah baru yang didahului dengan”Jas”, yaitu: “JASPUTI” dan “JASPROT”.
Menyoal “JASPUTI”. Alkisah sebuah rumah tangga yang harmonis, umum disebut dengan “SAMAWA” (Sakinah, Wamaddah dan Mawarrahmah). sudah masuk tahun emas pernikahan, sebab sudah lebih lima puluh tahun nikah, dilengkapi anak2 sudah berumah tangga semua dikelilingi dengan lusinan cucu.
Sekitar usia pernikahan 25 tahunan, sang suami yang memang bidang usahanya adalah pengusaha, sering sekali punya kegiatan bisnis di luar kota. Kadang,….. 25 tahun terakhir ini dalam sebulan hanya kurang dari seminggu berada di rumah, bahkan hari raya saja hanya bertahan sehari, habis shalat Ied langsung keluar kota lagi. Setiap akan berangkat bisnis ke luar kota sang suami sehari sebelumnya memberitahukan kepada istrinya. Istrinyapun sibuklah menyiapkan isi koper yang akan dibawa, seperangkat pakaian disetrikakan dengan baik, obat2 rutin dan vitamin2 untuk suami tercinta dipersiapkanlah, bahkan tak lupa dipersiapkan makanan camilan kesukaan bapak anak2 mereka itu disertakan.
Kegiatan rutin itu sampai 25 an tahun, terhentinya ketika si suami menderita sakit berat, sehingga bolak balik harus di opname atau rawat inap di rumah sakit. Keluar masuk rumah sakit untuk opname sudah semakin sering, tak jarang diantaranya berangkat ke rumah sakit segera, karena emergency gejala penyakit jantung kombinasi dengan penyakit2 lain kumat. Suatu saat karena tergesa-gesa ke rumah sakit, HP beliau (sang suami), tidak terbawa, tinggal di rumah. Disinilah awal terbongkarnya bahwa sang “Papah”, ternyata sudah lama “buka cabang baru”, diluar kota.
Anak perempuannya pada hari itu, nunggu rumah, karena si ibu nemani ke rumkit. Si anak memberanikan diri menerima telpon sang papah berdering di dalam kamar tidur ORTU mereka. Dari seberang dalam dialog percakapan telpon, karena tau yang menerima bukan suara lelaki, ada kalimat sampaikan pesan kepada ayah, “ayah kok sudah lama ndak pulang”.
Rupanya karena semuanya rahasia2an, kucing2an, selama tidak datang ke “cabang baru”, lantaran sakit, juga tidak diberitahukan. Informasi ini sebagai permulaan membuka selubung tabir 25 tahunan yang diusahakan ditutup rapat. Akhirnya setelah di cecar dengan pertanyaan2 yang memojokkan, nomor HP yang terpantau, oleh anak2, menantu2 dan istri yang setia merawat dan percaya selama ini, dikeroyok oleh saudara2 kandung istrinya, maka dalam keadaan sakit sudah tak berdaya, diujung hidupnya diapun mengakui bahwa dianya sudah kawin lagi di kota lain lebih 20 tahun yang lalu, bahkan sudah bermenantu.
Begitu sang suami meninggal dunia, istri kedua dan anak serta cucunya datang, juga bermaksud menuntut waris. Wallahu ‘alam berhasil atau tidak, tulisan ini tidak meng-“kepo-i-nya”, tak diungkap dalam kisah ini. Yang jelas bahwa si istri yang pertama yang demikian setia, walau uang belanja untuk JADUP tiap bulan tidak dipenuhi dengan baik, dia ikhlas, karena istrinyapun bukan hanya ibu rumah tangga, mempunyai mata pencaharian yang mencukupi. Namun demikian kekecewaan sang istri tertipu baru diketahui sampai si suami mendekati mati. Timbullah istilah “JASPUTI” singkatan dari “Janda Sedih Tertipu Sampai si Suami Mati”.
Bagi saudara2 lelaki si istri, mengatakan kepada yang bersangkutan ketika interogasi, sebetulnya kalau suami kakak mereka itu ingin kawin lagi, adalah halal-halal saja tak usah sembunyi sampai seperempat abad. Karena khususnya Agama Islam mendalilkan:
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا۟ فِى ٱلْيَتَٰمَىٰ فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثْنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ فَوَٰحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُوا۟
Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Boleh saja beristri lebih dari satu, tetapi harus sanggup berlaku adil. Dimana di negeri ini hal itu harus dengan izin dan persetujuan istri pertama. Ini sama sekali suami kakak mereka itu tidak dapat berlaku adil, bahkan sembunyi-sembunyi.
Memang orang menikah itu nasib-nasiban, kadang baik, kadang tidak beruntung, sebab tak jarang, ketemu pasangan hidup lain daerah, lain suku, bahkan kadang lain bangsa, sejatinya belum tau persis. Maka dalam istilah mandarin “Kàn yùnqi” (Tergantung keberuntungan/nasib). Oleh karena bagi kita orang beriman, selalu berdo’a menyerahkan diri kepada Allah, karena Allahlah yang membolak-balikkan hati (يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ_)
Lain JASPUTI lain pula JASPROT. Adapun JASPROT singkatan dari “Janda Sendirian kena Plorot”. Kisahnya, ketika sang suami meninggal mereka sudah berumah tangga juga cukup lama, si suami meninggal di usia lanjut 75 an tahun. Sedangkan si Istri yang ditinggalkan 70 han tahun, dengan anak2 setengah lusin lebih, apalagi cucu2 dan cicit2 sudah dapat dibuat dua kesebelasan sepak bola. Tak heran karena sudah lama merajut hidup, uang pensiun suami dan dirinya yang tadinya sebagai ASN juga adalah,… .. disamping sejumlah tabungan properti2. Sementara rumah yang dibangun bersama suami kini di huni sendiri, anak2 sudah berumah sendiri-sendiri.
Ketika suami berpulang, bukan main tampak sekali kesedihan yang mendalam sang istri, bukan saja kepada sanak saudara, tidak saja hanya kepada anak cucu diekspresikan duka mendalam itu, akan tetapi juga di publish pula di MEDSOS.
Belum cukup setahun sesudah wafat sang suami, teman MEDSOS ada yang respon ngajak kenalan, seorang masih muda, beliau tak urung juga mengaku senasib ditinggal istri pasangan hidup yang sangat dicinta.
Dialog ‘Chat” pun bersahut-sahutan, curhat-curhatan balas ber balasan. Lama kelamaan terjalin janjian ingin “bergabung”, dalam tanda petik, berlanjut si yang ngaku duda ngajak nikah.
Sepertinya nenek yang sudah 70 han tahun itu agaknya terpukau, dikabarkan sudah pernah diminta untuk mentransfer uang puluhan juta, sudahpun dituruti. Padahal belum pernah ketemuan. Mungkin termakan “rayuan pulau pandan” atau juga hipnotis lewat tulisan atau hipnotis melalui telepon yang kini sedang lagi marak. Hipnotis via alat komunikasi merupakan sebuah modus penipuan jarak jauh yang memanfaatkan manipulasi psikologis. Pelaku menargetkan pikiran bawah sadar korban dengan menciptakan situasi kepanikan, kesedihan, urgensi, dan fokus yang sangat tinggi. Tujuannya adalah membuat korban kehilangan kesadaran penuh sementara dan mengikuti instruksi pelaku.
Sebuah anjuran kepada anak2 dari bunda yang sedang dirundung JASPROT ini, usahakan mengamankan sertifikat tanah, surat2 berharga peninggalan almarhum Bapak mereka, agar tidak sampai terlanjur meluncur ke tangan penipu. Selain itu adalah baik jika gantian piket menemani bunda nginap di rumahnya.
Karena kalaulah berfikir yang jernih, apalah lagi yang diharapkan dari “uyut” yang sudah berumur 70 tahun lebih, mana mungkin orang yang masih muda mau memperistrinya. Kata pepatah di kampungku “Ndak isik beban batu diambin”, atau “Ngambin biawak idup”, pekerjaan tidak masuk akal.
Teringat aku akan tetanggaku, ibu2 sudah umur 75 an, sudah lama menjanda, belum lama ini ada tetanggaku juga yang istrinya meninggal, si “DUBAYA” (Duda Baru yang Kaya) usianya 80 an. Dalam suatu acara pengajian, Ibu janda digodain teman2nya, tuuu jadian saja dengan Pak …… biar ada yang ngurus. Si Ibu menjawab apa lagi yang diharapkan buat orang seusia kami ini, tinggal “Batuk” dan “Kentut”. Sudah tak mampu lagi saling “membahagiakan”, kecuali bagi mereka yang sejak awal dari muda dulu yang kini sudah menjadi tua renta, sama2 mengerti, sama2 merawat, dengan masing2 keudzurannya.
Dari tulisan ini; “JASPROD”, “JASPUTI” dan “JASPROT”, saya gandengkan karena ada nilai kesamaannya. Sama2 bernilai surprise.
JASPROD, pendapatan tak terduga, tiba2 diperoleh pas sedang diperlukan, bernilai positip. Adapun “JASPUTI” juga surprise sama sekali tak diduga 25 tahun ditipu baru ketahuan setelah hampir mati, membuat kecewa sang istri sulit terobati. Sedang “JASPROT”, juga surprise karena kok ada orang janda yang usia 70 han, sudah bergelar UYUT kok mau diplorot oleh orang yang hanya dikenal lewat Medsos, membuat seluruh anak cucu geleng-gelang kepala, mengelus dada.
Yaa Allah lindungi keluarga2 kami terkena tipu daya dalam berumah tangga, yaa Allah hindarkanlah kami dari tipu daya berupa sihir, teluh dan hipnotis atau semacamnya.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 3 DzulKaidah 1447 H.
21 April 2026
Sunday, 19 April 2026
PILIHAN KATA
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.411.04.04-2026
Memilih kata2 yang dipergunakan untuk berkomunikasi kadang dijumpai……, apa yang menurut kita sebagai penutur; “baik”, “benar”, “sopan”, “santun”, belum tentu buat orang yang diajak bicara sesuai anggapan kita sebagai penutur tadi. Belum lagi bila dikaitkan dengan budaya lokal, apa lagi nilai dalam keluarga yang tak sama, sudah semakin kompleks.
Di daerah tertentu, kata “kamu”, untuk kata ganti seseorang yang lebih tua, adalah tidak sopan. Seorang paman disebut “kamu” oleh kemenakannya dalam dialog, adalah “tidak sopan”, “tak tau adab”. Barulah dianggap sopan bila dalam dialog mengatakan: “seperti yang paman katakan”, atau “seperti yang Om katakan”. Atau menggunakan kata ganti untuk orang yang lebih tua misalnya “Abang”, “Pak Cik”, “Pak Ngah”, “Pak Usu”, dll.
Sementara di daerah lain penggunaan kata ganti “kamu” untuk orang yang lebih tua, biasa2 saja. Bahkan ada daerah; justru di anggap penghormatan jika kata “kamu” buat orang yang lebih tua dalam perbincangan di “kamu-kamu” kan. Justru diartikan bahwa si pemuda mensejajarkan sama mudanya, buat orang tua yang sedang sebagai partner-nya bicara.
Dari pemilihan “kata ganti” untuk orang atau untuk sesuatu, harus juga diusahakan sesuai dengan daerah. Tak jarang suatu kata yang di daerah tertentu berarti baik, di daerah tertentu lainnya malah berarti “tabu” untuk disebut. Seorang teman dari suatu daerah belum lama datang ke Surabaya, menemui teman yang sudah lama bekerja di Surabaya. Teman yang ditemui bertanya “Tinggal dimana kau di Surabaya nih”, sambil senyum2 dia menjawab “Tinggal di jalan yang di daerah kita ndak boleh disebut”. Teman yang sudah lama tinggal di Surabaya itu pun tau nama Jalan yang dia maksud, Yaitu “Kali Butuh”. “Kali” buat daerah mereka diterjemahkan sebagai “sungai”. Sedangkan kata “Butuh“, di daerah mereka tabu untuk disebut, karena artinya, “kemaluan lelaki”. Dalam bahasa Indonesia “Butuh” diartikan memerlukan. Makanya kalau mereka berbicara di daerahnya pantang menggunakan kata butuh, mesti diganti dengan “memerlukan”.
Seorang mahasiswa pasca sarjana, ketika menghadap salah satu promotor yang agak “rada-rada”, guna konsultasi disertasi. Mengetuk pintu ruang kerja sang promotor dengan lembut, setelah dipersilahkan masuk, di depan pintu si mahasiswa mengucapkan salam lalu berucap “maaf bolehkah? saya mengganggu... Prof”. Sang Profesor menjawab “saya tidak mau diganggu” lalu meneruskan kesibukannya melihat layar monitor Laptop di hadapannya dengan kacamata yang melorot agak ke ujung hidung. “Selanjutnya bagaimana Prof” ujar kandidat doctor ini. “Pokoknya saya tidak boleh diganggu”, kata sang Profesor. Si kandidat doctor jadi salah tingkah dan mengambil sikap “Kalau begitu saya mohon diri”. Sang Profesor hanya mengangguk.
Sang kandidat doctor yang sudah susah payah mengikuti kuliah, mengadakan penelitian dengan waktu hampir setahun dan biaya yang tidak sedikit, bercerita kepada teman2 yang juga sedang menyiapkan disertasi dengan masing2 promotor. Ada yang mengomentar, “anda sih pembukaan ngomong, “maaf bolehkah saya mengganggu Prof”. “Mana ada orang yang mau diganggu”. Apa lagi si Prof “rada-rada” itu kalau perasaannya lagi ndak baik, akan salah melulu. Sebetulnya secara umum, kata yang dipilih mahasiswa S3 tersebut, biasa diucapkan untuk pembuka kata, untuk pencair suasana, sudah cukup sopan, cukup santun, cukup beradab. Tapi kembali lagi kadang apa yang dianggap sopan, apa yang dianggap santun, apa yang dianggap beradab buat seseorang yang sedang dalam “posisi di bawah”, belum tentu dianggap sopan, santun, beradab bagi orang yang berada “di posisi diatas”. Disinilah seninya harus memperlajari teknik mencairkan komunikasi, ini juga menghendaki kesabaran, tak sedikit kandidat doctor yang gagal, karena kurang banyak berbekal kesabaran.
“Repot” , menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah kata sifat (adjektiva) yang berarti sibuk, banyak kerja, ribut, atau sukar/berabe. Kata ini menggambarkan kondisi yang kompleks, kalut, atau situasi yang menyebabkan kerumitan dalam melakukan sesuatu. Tetapi dalam keseharian sering kata “Repot” digunakan untuk “pemanis kata” atau “peng-indah-ucapan”.
Seorang sahabat bertamu kerumah sahabatnya, setelah dipersilahkan duduk kemudian berbincang agak sebentar, sahibul bait berujar “sebentar yaa saya sedukan kopi atau sukanya teh”. Sang tamu menjawab “ndak usah repot2, ini sudah cukup air putih di meja ini”. sambil menunjuk minuman air putih kemasan di atas meja. “Sungguhan……. baik kalau begitu”, lanjut kedua sahabat ini ngobrol. Kata “repot” pun tak jadi persoalan, hilang menguap bersama obrolan santai mereka.
Masih menyoal soal “Repot”. Seorang sahabat panen pisang dari pohon di halaman rumahnya. Begitu pisang matang, direbusnyalah pisang itu, teringat dianya dengan teman akrabnya yang bertetangga lumayan jauh, lain keluharahan namun masih dalam radius dianya “olah raga jalan” dipagi hari. Dikantongi beberapa buah pisang rebus ke dalam kantong plastik hitam. Ketika dia melewati rumah sahabatnya, waktu olahraga jalan disuatu pagi, disangkutkannyalah pisang rebus itu di pagar bagian dalam rumah sohibnya itu. Di dalam kantong kresek sudah diberi tulisan (“Panen halaman rumah…..”, lalu di beri namanya). Ndak berapa lama temannya menemukan pisang rebus itu di pagar, selanjutnya menelpon: “terimakasiiih……….. kok repot-repot”. Lalu dia menjawab “aaahhh tidak, masak gitu aja kok repot, biasa aja pisangnya mateng enaak bibit luar negeri”. Si pengurim pisang tak merasa gimana…. dikatakan repot-repot, biasa saja. Malah diwaktu yang lain, kalau ada camilan atau mengolah makanan tak lupa dikirimiya sahabatnya itu.
Penggunaan kata “repot” ini sebenarnya maksudnya bukan menuduh orang yang melakukan sesuatu kegiatan itu bermaksud negative, alias orang melakukan itu dituduh ada “maunya”, sama sekali tidak; hanya pemanis kata, sering alias umum atau jamak diucapkan dalam interaksi sesama rekan, kawan, sahabat handai taulan. Si tuan rumah mau nyedukan Kopi atau Teh, adalah suatu kelaziman tuan rumah yang kedatangan tamu, tidak ada maksud apa2, tidak pilih tamunya siapa, teman lama atau teman baru, teman akrab atau teman biasa2 saja. Begitu juga yang ngirim pisang rebus, tidak merasa dirinya repot. Teman penerima pisang rebus juga, ngucapkan kata2 “terimakasih …… kok repot-repot”, juga ucapan yang lazim, tidak berkonotasi, bahwa temannya yang ngirim pisang rebus itu ada maksud tertentu.
Begitulah dinamika “gaul” dalam masyarakat, apalagi antar daerah, antar negara, tak jarang salah “Pemilihan Kata” berdampak yang tak diinginkan oleh para pihak. Allah telah memberikan panduan buat kita semua dalam berkomunikasi. Bahwa manusia tidak dapat berelak harus berkomunikasi, sejak mulai lahir sampai akhir hayat. Al-Qur’an memberikan arah kepada manusia 6 (enam) teknik berkomunikasi yaitu: 1. Qaulan SADIDA (QS. Al- Ahzab ayat 70), 2. Qaulan BALIGHA (QS. An- Nisa ayat 63), 3. Qaulan MA’RUFA (QS. Al-Baqarah ayat 235), 4. Qaulan KARIMA (QS. Al-Isra’ ayat 23), 5. Qaulan MAY-SYURA. (QS. Al-Isra ayat 28).
Mempersingkat tulisan ini, maka hanya dipetik teknik komunikasi ke 6 (enam) yaitu: “Qaulan LAYYINA” (perkataan yang lemah lembut) yaitu perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun menghadap kepada Fir’aun. Kesuksesan melaksanakan teknik komunikasi yang disampaikan “komunikator”, sangat tergantung kepada suasana kebatinan “Komunikan”. Nabi Musa dan Nabi Harun, diperintahkan Allah berkomunikasi kepada Fir’aun dengan tehnik komunikasi “LAYYINA”.
فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى ٤٤
Artinya: Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS: Thaha 44)
Kenyataannya Fir’aun (Komunikan), tidak mau menerima yang disampaikan nabi Musa dan Nabi Harun (komunikator), bahkan Nabi Musa Nabi Harun serta pengikutnya di kejar dan diburu, sampai ketepian laut Merah…….
Demikian pula adanya dalam keseharian, kita berusaha untuk melaksanakan teknik komunikasi sedapat mungkin mengikuti petunjuk Allah, namun tak semuanya berhasil. Seperti halnya komunikasi dalam kehidupan se-hari2 yang dicontohkan di artikel ini, satu diantaranya kandidat doctor yang dicontohkan di atas.
Yaa Allah,…. permudahkanlah kami dalam berkomunikasi, terutama dalam hal berkomunikasi untuk meningkatkan silaturahim dan menghimpun kebaikan.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 1 DzulKaidah 1447 H.
19 April 2026.
Sunday, 12 April 2026
TUA SEHARI
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.410.03.04-2026
Teringat istilah di kampung kelahiranku, kadang dengan satu kata, dua kata atau tiga penggal kata, terbentuk satu kalimat ketika diucapkan dapat menyadarkan seseorang. Atau dengan kalimat tersebut mewakili untuk memberi tau orang lain akan sifat/perangai/pembawaan orang lain.
Di kampung kelahiranku, banyak sekali istilah2 berwujud “pengingat”, berwujud “mewakili stempel diri seseorang”. Istilah2 itu ada harapan pemuda2 penduduk kampungku kini sudah tidak memahaminya lagi, karena sudah membaurnya penduduk asli dengan pendatang. Salah satu diantara istilahnya “TUA SEHARI”.
“Tua sehari”, dipergunakan untuk julukan bagi orang yang dalam percakapan apa saja dia paling tau, setiap partner bicara kemukakan pendapat,……. kadang salah melulu, dialah yang paling benar. Ucapannya selalu “ndak begitu …………, mestinya begini………..”, “saya mengetahui persis aturannya, karena saya ……..”. Mending kalau argumentasinya menggunakan fakta, kadang hanya untuk mematahkan argumentasi partner bicara, didukung oleh kepiawaiannya menyusun kalimat. Termasuk ketika membicarakan soal2 agama walau partner bicaranya atau peserta dalam suatu pertemuan rapat misalnya telah kemukakan dalil2, si “Tua Sehari” tetap membantah, paling tidak bantahannya “kita tidak boleh kaku ………, ……… logikanya …………”. Padahal yang namanya ketentuan agama utamanya soal menyangkut ibadah harus diikuti apa adanya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya yang telah difatwakan ulama2.
Begitulah profil orang yang dijuluki “TUA SEHARI”, istilah di kampung kelahiranku Ketapang Kal-Bar. Rupanya ketika ku menetap sekitar 3 tahunan di Pontianak, dengan profesiku ketika itu sebagai Penyiar RRI dan Wartawan Antara, memungkinkan aku menyerap banyak istilah2 lokal, istilah inipun berlaku juga di Pontianak, dengan pengertian yang sama dengan kampungku.
Orang yang mendapat julukan “Tua Sehari”, bilamana ada suatu group yang akan ber audience dengan beliau, entah ber-bincang2 atau berdiskusi, atau apalah dalam pembicaraan, teman2nya sudah mengingatkan atau memberitahukan kepada teman2 lain selain si Tua Sehari “dengan memberi isyarat: “tangan kanan dengan jari rapat diangkat sedikit ke atas dahi, sesudah orang2 melihat lalu mengacungkan telunjuk”, untuk teman yang duduk berdekatan dibisiki: “Oohh nanti akan ketemu si Tua Sehari…….. dengar2 kan jak…….”. Maksudnya agar jangan sampai terjadi dialog yang berkepanjangan, percuma ndak akan menang. Orang yang berstempel “TUA SEHARI” ini dalam adu argumentasi, jangankan kalah, seri (draw atau remis) aja ndak mau, pokoknya dialah yang paling benar.
Istilah “Tua sehari” ini dipergunakan; asal muasalnya adalah bahwa; budaya melayu itu menghormati orang yang lebih tua. Orang lebih tua itu, dianya dianggap lebih banyak pengalaman ketimbang orang yang lebih muda. Jadi makanya orang yang memposisikan dirinya serba lebih tau, serba lebih berpengalaman, serba lebih benar dari orang lain atau lebih benar dari siapapun partner berbicaranya dijulukilah “Tua sehari”. Lawan2 bicara lebih muda dari dirinya minimal “Satu Hari”, sehingga pengalamannya setidaknya kurang sehari. Orang lain belum lahir dia sudah lahir duluan.
Dalam soal ilmu juga si “Tua sehari”, menganggap dirinya lebih dari orang lain. Memang ada nilai positifnya; si “Tua sehari”, biasanya rajin meng update diri di berbagai bidang, untuk meyakinkan disetiap kesempatan ber dialog dengan orang lain, pernyataan2 harus menunjukkan dia memang “lebih tau”, memang “lebih tinggi ilmunya”.
Nabi Musa AS pernah ditanya oleh ummatnya (Bani Israil) siapa manusia paling berilmu, lalu beliau menjawab "Saya", tanpa menyandarkan ilmu tersebut kepada Allah. Allah menegur Nabi Musa dan menyatakan ada hamba lain yang lebih berilmu di pertemuan dua samudra, yaitu Nabi Khidir AS. Nabi Musa pun mencari Nabi Khidir untuk berguru menambah ilmunya.
Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa di laut; tiba2 seekor burung pipit hinggap di perahu mereka, meloncat-loncat masuk ke lambung perahu, burung Pipit mencocorkan paruhnya untuk mereguk air tawar yang ada menggenang di cekungan lambung perahu dengan paruhnya. Nabi Khidir mengatakan; Ilmu dirinya ditambah ilmunya Nabi Musa serta semua makhluk, dibandingkan ilmu Allah bagaikan Air yang diambil burung Pipit pakai paruhnya, dengan seluruh air di lautan luas. Melambangkan ilmu Allah yang tak terbatas, menunjukkan betapa kecilnya pengetahuan manusia.
Tamsilan Nabi Khidir ini mengingatkan kita semua, utamanya orang yang memposisikan diri “TUA SEHARI”, hendaklah menyadari bahwa ilmu yang dimiliki awak ini sangat2 amat sedikit. Sehingga adalah sangat tidak wajarlah bila seseorang dalam setiap pertemuan ketika berbicara dengan seseorang atau sekelompok orang tidak menghargai orang lain, bahwa bukan hanya diri anda yang paling tau. Karena kita manusia ini diberi Allah ilmu sangat terbatas seperti disebutkan Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Isra' ayat 85:
وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
("...tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit").
Keterbatasan ini mencakup indra, logika, dan pengetahuan tentang hal gaib, sehingga manusia diwajibkan tetap rendah hati dan terus memohon tambahan ilmu. Sebaiknya saban waktu kita berdo’a minta tambahan ilmu yang bermanfaat kepada Allah;
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik (halal), dan amal yang diterima." [HR. Ahmad & Ibnu Majah)
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 24 Syawal 1447 H.
12 April 2026.
Thursday, 9 April 2026
Berternak BEBEK
Kenangan dari: M. Syarif Arbi
No: 1.409.02.04-2026
Di kota besar seperti Jakarta, sangat sulit untuk berternak di pekarangan rumah. Lain halnya ketika ku bertugas di Surabaya dulu, berumah di pinggiran kota (waktu itu = 53 tahun silam, sekarang sudah jadi tengah kota), sehingga memungkinkan aku berternak Bebek sampai ratusan ekor. Di belakang kediaman ku ada kali kecil mengalir deras, kubuat pagar menghubungkan dengan pekarangan rumah.
Bebek ternakku, hasil menetaskan sendiri dengan mesin tetas bertenaga lampu minyak-tanah, berkapasitas 100 butir telor. Bukan main takjubnya aku melihat ayat2 Allah ketika mengikuti dari hari ke hari proses penetasan telor, dari telor yang hanya berisi putih dan kuning telor, disusun dalam rak mesin tetas. Periode tertentu telor dibalik, setelah waktu tertentu diseleksi, telor yang berpotensi tak bakal menetas dikeluarkan dari mesin. Pada saat2 telor menetas menjadi anak Bebek keluar dari cangkangnya, dapat disaksikan melalui jendela kaca mesin tetas, begitu mengagumkan kekuasaan Allah memberikan Roh kepada anak Bebek. Ini sebagian ayat2 Allah dari sekian banyak ayat Allah berupa ayat2 kauniyah, seperti disebutkan dalam surat Al-Kahfi 109 (telah ku kutip di artikel yang lalu)
قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا ١٠٩
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis) meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”
Bebek salah satu dari hewan ternak dimana bila dikaji akan hal2 yang menakjubkan dari ayat kauniyah Allah dari Bebek saja, sudah luar biasa untuk memperkuat iman kepada Allah. Belum lagi jika disimak hewan ternak lainnya sehingga khusus tentang hewan ternak, Allah memberitahukan kepada manusia melalui surat An-Nahl ayat 5:
وَٱلْأَنْعَٰمَ خَلَقَهَا ۗ لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَٰفِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ
Artinya: “Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan”.
Ayat di atas menginformasikan bahwa hewan, khususnya hewan ternak sangat banyak manfaatnya bagi kehidupan manusia.
Saya sebagai salah seorang yang pernah memperhatikan sebagian kecil dari ayat2 Kauniyah yang diturunkan Allah melalui Bebek, mulai dari Bebek berupa telor sampai menetas, jadi anakan Bebek dan selanjutnya jadi Bebek yang bertelor.
Begitu terjalinnya hubungan emosional dengan Bebek peliharaanku, jika aku pulang kerja, kawanan Bebek peliharaanku akan menyambutku dihalaman depan rumah dalam pagar mereka, ketika mereka mendengar suara sepeda motorku puluhan meter sebelum sampai menuju rumah. Fenomena insting dari hewan ini bila direnungkan semakin takjublah kita dengan kekuasaan Allah.
Ku ajak pembaca untuk merenungkan ayat kauniyah Allah yang lainnya. Kita batasi ditulisan singkat ini melalui jenis unggas dan burung saja. Belum lagi dan tidak dibahas dalam artikel ini jenis hewan ternak yang berkaki empat. Bahwa Allah menciptakan tidak kurang dari 11.000 spesies unggas dan burung, dimana Indonesia tercatat keberadaannya sebanyak 1.835 jenis unggas dan burung yang beraneka ragam warna bulunya, bermacam corak suara yang mereka kicaukan.
Kalaulah kita perhatikan dengan seksama bagaimana masing2 burung berkembang biak, bagaimana burung membuat sarang. Ada burung yang membuat sarang disemak-semak di dalam hutan. Ada burung yang membuat sarang di dahan pohon, Ada burung yang membuat sarang di batang pohon besar dengan melobanginya. Teknik membuat sarang makhluk burung, dari zaman ke zaman tidak mengalami perubahan. Tidak sama dengan manusia rumahnya dari zaman ke zaman mengalami perubahan.
Ambil saja contoh beberapa jenis burung yang membuat sarang dari rumput, serat tanaman, dan ranting kering, seperti burung Manyar (tenun), Burung Pipit, Sriti, dan Burung Kuntul. Begitu menakjubkan sarang yang dibuat masing2 burung.
Lebih khusus tentang burung “Manyar”, merajut rumput menjadi sarang berbentuk kantong gantung yang rumit. Tak seorang arsitekpun yang sanggup menenun rumput menjadi bentuk sarang yang indah seperti kepiawaian burung Manyar. Bagi orang beriman memahami fenomena alam ini sebagai sesuatu yang terjadi tidak secara kebetulan. Teknik, dari bahan apa, bagaimana setiap jenis burung membuat sarangnya, hanya dapat terjadi atas petunjuk Allah yang diberikan-Nya kepada masing2 burung, untuk membuat sarang dengan model sendiri2.
Begitu pula anak2 Bebek yang kuternakkan, begitu dikeluarkan dari mesin tetas langsung menuju air kali di belakang rumahku, mereka mendapat petunjuk dari Allah, sebagaimana burung yang dapat terbang mengepakkan sayapnya. Kecerdikan, kemampuan setiap hewan berbeda-beda, hal2 tersebut benar2 hanya terjadi atas kehendak dan idzin Allah. Allah mengingatkan orang2 beriman di Al-Qur’an surat Al-Mulk ayat 19:
اَوَلَمْ يَرَوْا اِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صٰۤفّٰتٍ وَّيَقْبِضْنَۘ مَا يُمْسِكُهُنَّ اِلَّا الرَّحْمٰنُۗ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَيْءٍ ۢ بَصِيْرٌ ١٩
Artinya: “Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu”.
Juga perhatikanlah surat An-Nahl ayat 79:
أَلَمْ يَرَوْا۟ إِلَى ٱلطَّيْرِ مُسَخَّرَٰتٍ فِى جَوِّ ٱلسَّمَآءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا ٱللَّهُ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Artinya: “Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman”.
Benar sekali firman Allah bahwa tak terhingga banyaknya bukti2 kekuasaan Allah yang dapat dilihat melalui fenomena alam (ayat kauniyah). Laut tak cukup sebagai tinta batang pohon tak cukup jadi pena menulisnya. (Al-Kahfi 109 dikutip diatas).
Setiap orang yang beriman untuk memperkuat imannya hendaklah menggunakan “hatinya”, “matanya” dan “telinganya” untuk mencerna ayat2 Allah tersebut demi memperkuat iman dan menghindarkan diri dari adzab neraka seperti yang diancamkan Allah dalam surat Al-A’raf ayat 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Yaa Allah jadikan “hati kami”, “mata kami” dan “telinga kami” untuk sanggup kami pergunakan untuk memahami ayat2 Allah, baik yang Qauliyah maupun yang Kauniyah.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 21 Syawal 1447.H.
9 April 2026.
Subscribe to:
Posts (Atom)