Saturday, 13 June 2026

PERBUATAN BAIK belum tentu BERHASIL BAIK

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.423.03.06-2026 Amal adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan seseorang, baik berupa ucapan, maupun perbuatan. Dalam bahasa Arab, “amal” (عَمَل) berarti pekerjaan atau tindakan. Dalam konteks umum: Amal terterjemahkan sebagai “perbuatan yang dilakukan manusia”, dapat berupa amal baik maupun amal buruk. Terminology agama amal cenderung diartikan amal saleh merujuk pada perbuatan baik yang dilakukan dengan niat karena Allah, seperti shalat, sedekah, zakat, ibadah sosial, membantu orang lain, dan berkata jujur. Amal salah adalah amalan yang dilakukan melanggar ketentuan-ketentuan agama dan ketentuan masyarakat serta negara. Amal, apapun bentuknya mesti didahului dengan *NIAT*, selanjutnya yang dibicarakan pada artikel ini dibatasi tentang *niat baik*. terkenal hadist dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ _“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”_ (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907] Niat baik diwujudkan dengan perbuatan baik, merupakan tujuan atau motivasi seseorang. Sedangkan hasil perbuatan baik itu, berhasil baik atau tidak, dipengaruhi banyak hal, antara lain: *pengetahuan, cara bertindak, situasi, kemampuan memperkirakan konsekuensi, cara mengatakannya, teknik menyampaikannya*, bahkan faktor yang di luar kendali seseorang yang berniat baik dan berbuat baik tersebut. Seseorang ingin membantu temannya dengan memberi nasihat, tetapi nasihat itu ternyata memperburuk keadaan. Teman yang diberi nasihat tidak terima dinasihati, mungkin lantaran timing – nya yang tidak tepat, atau boleh jadi cara mengatakannya yang salah. Seorang teman menasihati temannya yang terlihat tengah menjalin hubungan (PDKT) dengan seorang wanita, temannya di nasihatinya agar jangan melanjutkan hubungan, diikuti dengan menyampaikan data hal tidak baik dari wanita tsb yang diketahuinya. Diantaranya disebutkan *“kau kok mau2nya dengan janda, kamu masih perjaka, padahal bukan sedikit gadis perawan”*. Setelah selesai teman yang menasihati dengan niat baik tersebut menyampaikan segala hal2 negatif teman wanitanya, maka si teman yang dinasihati mengatakan *“ wis tak rabi ee mas (sudah saya nikahi kok mas)”*. Makanya walaupun berniat baik untuk suatu perbuatan baik, adalah harus dilakukan dengan terlebih dahalu mencari informasi yang lengkap. Orang tua berniat melindungi anaknya, tetapi perlindungan yang berlebihan justru menghambat kemandiriannya. Karena terlalu khawatir anak kecelakaan, berlebihan melarang jangan naik sepeda, jangan naik sepada motor, akhirnya si anak tidak berketrampilan mengendarai sepeda sampai dewasa. Seorang yang baru saja masuk dalam suatu organisasi, memberikan koreksi dengan pemilihan bahasa yang kurang tepat terkesan menggurui anggota organisasi yang sudah lama, seolah-olah anggota2 lama sangat kurang mengerti dari dirinya sebagai orang baru. Anggota organisasi yang lama karena merasa digurui, memilih tidak menanggapi, sambil dalam pikiran masing2 *“aaakh…. dia belum paham secara detail apa yang dia koreksi tersebut……. kanapa terjadi seperti itu”*. Disinilah pentingnya ketika menjadi orang baru dalam suatu organisasi, sebelum melaksanakan koreksi, sebaiknya teleti lebih dalam, teliti lebih rinci, permasalahannya sebelum mengajukan koreksi apalagi koreksi secara tertulis. Sudah jadi sifat umum manusia tak begitu suka mendapat kritik, apa lagi bila tak baik memilik kata, kurang tepat pula cara menyampaikannya. Sebagai perumpamaannya *“orang pincang”*, misalnya di ingatkan tentang jalan akan dilalui kurang mulus si pengingat mengatakan *“hati2 jalannya, jalannya licin kamu kan pincang”*. Tentu si pincang ndak enak atinya mendengar nasihat itu. Akan bijak bila teman yang mengingatkan *”ayo kita lalui jalan ini bersama-sama dengan hati2, karena licin”*. Kata2 terakhir mendarat di telinga si pincang, akan diterima dengan senang hati. Kebijakan dibuat dengan tujuan mulia, tetapi pelaksanaannya menimbulkan dampak yang tidak diinginkan, ujung2nya merugikan penerima kebijakan dan menuai banyak kritik. Lantaran sebelum dilaksanakan kurang dilakukan penelitian, uji coba, survey yang mendalam. Akhirnya Niat mulia tidak menghasilkan kebaikan. *Niat baik memang penting, direalisasikan dengan perbuatan baik, namun belum tentu berhasil baik, untuk itu perlu disertai:* *PERTAMA;* Pemahaman yang memadai tentang sesuatu aktifitas kebaikan yang akan dilakukan. Hendaknya memahami bahwa suatu tindakan membawa manfaat, membantu orang lain, atau sesuai dengan nilai moral dan etika. Menyadari alasan mengapa tindakan itu dilakukan, misalnya untuk menolong, menciptakan keadilan, atau meningkatkan kesejahteraan. *KEDUA;* Pertimbangan terhadap dampak yang akan muncul. Memikirkan konsekuensi bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sehingga kebaikan yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat. *KETIGA;* Kesediaan mengevaluasi dan memperbaiki, bilamana “perbuatan baik” itu terdapat kekeliruan, apabila hasilnya tidak sesuai harapan, termasuk bila dengan dilaksanakan niat baik itu, berdampak yang tidak baik atau kurang menyenangkan. *Niat baik layak dihargai, karena apapun perbuatan baik yang kita lalukan dengan tulus karena mengharapkan keradhaan Allah akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah sekalipun umpamanya manusia melinainya tidak baik*. seperti dinyatakan Allah (Surat Az-Zalzalah Ayat 7) فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ Artinya: _Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya._ *Namun yang perlu di camkan bahwa baik menurut diri kita, belum tentu baik menurut orang lain, juga belum tentu baik menurut Allah* “……… وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ. ……………..” _dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu._ (Al-Baqarah 216). Bagi orang beriman berpedoman; kebenaran mutlak (haq) hanya berasal dari Allah, sedangkan akal dan penilaian manusia bersifat relatif, terbatas, dan sering kali dipengaruhi oleh hawa nafsu atau kepentingan duniawi. kebenaran mutlak milik Allah: ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ Artinya: _Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu._ (Al-Baqarah-ayat-147). Yaa Allah berikan kesempatan kepada kami untuk dapat berniat baik dan berbuat baik dibawah petunjuk-MU sehingga menghasilkan kebaikan yang bermanfaat untuk sesama manusia dan kelak dapat menjadi catatan amal baik kami di kahirat nanti. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 27 DzulHijjah 1447 H. 13 Juni 2026

No comments:

Post a Comment