Friday, 17 July 2026

PULANGLAH BILA DISURUH PULANG

Disajikan: M. Syarif Arbi No: 1.429.04.07-2026 Salah satu keistewaan / kecanggihan berkat kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah; artikel2 yang di publish di medsos, dibaca banyak orang tak terbatas wilayah dan negara. Salah seorang pembaca tulisanku di kota lain ketika membaca artikelku perihal *adab bertamu*, dianya menanyakan *“bolehkan menolak tamu”*. Untuk menjawab pembaca tersebut kukutipkan surat An-Nur ayat 28 وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرْجِعُوا۟ فَٱرْجِعُوا۟ ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ. …………………….” …………. _*“Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja) lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”*_ Masa kini, bila seseorang ingin berkunjung termasuk ke kediaman saudara kandungnya, tidaklah ujuk2 datang, biasa didahului dengan memberitahukan melalui WA atau telepon……. Tak selamanya saudara yang akan dikunjungi itu bersedia dikunjungi. Bagi muslim sejati tidak patut tersinggung, tidak pantas berkecil hati bilamana permintaannya berkunjung kekediaman seseorang ditolak. Jangankan penolakan itu melalui dialog WA atau telepon, dimana kita belum beranjak dari rumah. Kalaupun penolakan itu dilakukan pemilik rumah ketika sang tamu sudah memberi salam di depan pintu, menurut perintah Allah di surat An-Nur dikutip diatas, *wajib pulang*. Orang muslim tidak memandang penolakan tersebut sebagai tidak menghargai, atau tidak sopan, karena apa yang menurut kita manusia *baik*, belum tentu baik menurut Allah. Apa yang menurut kita *sopan*, belum tentu sopan dalam pandangan Allah. Apa yang menurut manusia *benar*, belum tentu benar dalam ilmu Allah. Orang muslim yang taat berpedoman bahwa kebenaran mutlak milik Allah. seperti tersurat di Al-Baqarah ayat 147: ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ Artinya: _*Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.*_ Jadi jangan ragu bila bertamu ditolak, tidak perlu kecewa, walaupun sudah sampai depan pintu rumah yang dikunjungi, bila disuruh pulang, maka pulanglah. Niscaya anda berpahala mengamalkan salah satu perintah Allah. Hikmah ketika seorang tamu memilih pulang karena ditolak oleh tuan rumah, dapat dipahami sekurangnya dari 5 (lima) sudut pandang positip, baik dari sudut pandang agama maupun kehidupan sehari-hari: *PERTAMA*: Menjaga kehormatan diri dan tuan rumah. Jika tuan rumah belum bisa menerima tamu, pulang dengan lapang dada menunjukkan sikap menghormati privasi dan kondisi mereka. Boleh jadi yang bersangkutan sedang mempunyai problem keluarga, yang tak baik diketahui pihak lain. *KEDUA*: Menghindari prasangka buruk. Penolakan belum tentu karena tidak suka. Bisa jadi tuan rumah sedang memiliki urusan, sakit, atau keadaan lain yang membuatnya tidak dapat menerima tamu. Atau akan pergi meninggalkan rumah untuk sesuatu urasan penting. *KETIGA*: Melatih kesabaran dan keikhlasan. Tidak semua harapan berjalan sesuai keinginan. Menerima keadaan dengan sabar merupakan latihan pengendalian diri. Jangan cepat2 berkesimpulan yang tidak baik, lalu dalam pikiran mereka-reka yang tak pantas, atau mungkin bergumam, mengerutu, ujung2nya menyesal setelah mengatahui masalah yang sebenarnya. *KEEMPAT*: Menghormati hak orang lain. Setiap orang berhak menentukan kapan mereka siap menerima tamu. Menghormati keputusan tersebut adalah bagian dari etika bermasyarakat. Demikian juga bila kita mengundang orang, bila yang diundang tidak hadir, jangan cepat2 berkesimpulan, orang tak hadir tersebut tidak menghargai. Perlu dicari sebabnya; apakah undangan tidak sampai, apakah si terundang memaknai dari redaksi undangan bahwa dirinya bukan termasuk yang diundang. *KELIMA*: Memelihara hubungan hubungan persahabatan/kekerabatan dalam jangka panjang. Tidak memaksa masuk atau merasa tersinggung dapat menjaga hubungan tetap baik sehingga kesempatan berkunjung di lain waktu tetap terbuka. Bilamana sampai tercetus kata2 yang tidak enak disampaikan kepada tuan rumah (misalnya melalui tulisan di WA) atas penolakan itu, hubungan persahabatan/kekerabatan jangka panjang akan terganggu. Ingat….! banyak ayat2 dalam Al-Qur’an yang memerintahkan memelihara hubungan silaturahim. Pembaca, mari kita amalkan petunjuk agama, kendati mungkin terasa tidak nyaman dihati. Ketahuilah kebenaran mutlak milik Allah. Yaa Allah….. jadikan kami semua, seluruh pembaca…. menjadi hamba2-Allah yang mentaati seluruh aturan2 dan ketentuan2-MU. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 4 Safar 1448 H./17 Juli 2026.

No comments:

Post a Comment