Monday, 11 May 2026

MEMILIH JODOH

Disajikan: M. Syarif Arbi No: 1.416.04.05-2026 Populer kata2 bijak tetua kami dulu: “Maut, tanah terbaris dan jodoh” adalah rahasia Allah, adalah taqdir dari Allah, dengan pengertian bahwa tak seorangpun dapat memperkirakannya. Maut, ialah manakala roh beripasah dengan jasad, tegasnya saat kematian. Hanya saja penyebab kematianlah yang berbeda. Umumnya orang mati dikarenakan sakit, walau tak jarang orang meninggal tanpa sakit, tidur tak bangun lagi. Ada pula yang orang mati kerena kecelakaan lalu lintas, transportasi baik darat maupun udara. Ada orang mati ketika sedang beramal baik, ada pula yang mati sedang bermaksiat. Ada pula yang mati karena bunuh diri, mati terbunuh, atau terpidana hukuman mati. Jika kematian-kematian itu sudah terjadi, tiada lain kata yang dapat diucapkan, bahwa itu semua terjadi adalah sudah taqdir Allah, insan beriman mengimani bahwa tidak suatupun yang terjadi tanpa idzin Allah. مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; (surat-at-taghabun-ayat-11). Surat Al-Hadid Ayat 22 مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Adapun “tanah terbaris” disebutkan pada ungkapan diatas, ialah tempat dimana diri di kuburkan, bisa jadi di tengah samudera, boleh jadi jauh dari tanah kelahiran, tidak sedikit pula orang yang tak tau dimana jasadnya, kerena kematian kecelakaan pesawat terbang yang tidak ditemukan. Taqdir kematian, sepertinya setiap diri tidak dapat memilih, ingin mati secara apa, termasuk pilihan mati “bunuh diri”, banyak kasus rencana bunuh dirinya gagal, lantaran kepergok orang lain. Minum racun, sempat ditolong dilarikan kerumah sakit. Taqdir kematian, kelahiran, jenis kelamin ketika lahir merupakan Taqdir Mubram; yaitu takdir yang sudah pasti dan tidak dapat diubah oleh manusia. Adapun taqdir perkara jodoh, bila sebelum terlaksana, masih ada kemungkinan untuk “memilih taqdir”, karena masalah jodoh terkelompok Taqdir Muallaq, yaitu taqdir yang masih bisa berubah dengan usaha, dapat berubah dengan doa, dan masih berpeluang berubah melalui ikhtiar manusia atas izin Allah. Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ "...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri... (Surat Ar-Ra’ad 11) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (Surat An-Najm Ayat 39) Sementara itu terdapat hadist: لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ "Tidak ada sesuatu yang dapat menolak Qadla (takdir) kecuali do’a." (HR. At-Tirmidzi). Do’a adalah salah satu sebab yang memiliki pengaruh terhadap akibatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: لَا يَرُدُّ القَضَاءَ إلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي العُمُرِ إلَّا البِرُّ “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan.” ……. Hadist diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Qadar, bab “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa” (no. 2139), dari hadis Salman radhiyallahu ‘anhu. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Sahihah (no. 154) dan dalam Sahih Al-Jami’ (no. 7687). Atas dasar referensi Al-Qur’an dan hadist diatas bahwa tentang jodoh, setiap orang dapat memilih. Idealnya pertimbangannya bukan hanya “cocok” atau “tidak cocok” akan tetapi mempertimbangkan dari berbagai aspek dari calon yang akan dijadikan pasangan hidup. Pertimbangan yang detail ini tentulah dimungkinkan kalau mereka sebelum memutuskan menjalin kehidupan berumah tangga, mereka sudah saling kenal yang relative lama. Dalam hal sepasang calon suami istri ini sebelumnya sudah saling menjajagi, maka pertimbangannya dapat dilakukan dari aspek: Agama dan ketaatan terhadap agama, Pendidikan, Silsilah keluarga orang baik2. Nilai hidup dan prinsip dasar, Karakter se-hari2, Cara berkomunikasi, kematangan emosional , Apakah berpotensi untuk KDRT, Kecocokan tujuan masa depan, Sikap terhadap uang/harta/materi, lingkungan dan relasi sosial, rasa aman dan nyaman, daya tahan terhadap masalah. Yang juga penting: jangan memilih hanya karena takut tak akan dapat pasangan hidup, miris karena usia makin banyak, kesal karena keluarga nanya terus, atau sudah terlalu lama jomblo/perawan. Tidak mustahil di era sudah berabad menjauh dari dzaman “Siti Nurbaya” ini, ada saja terjadi orang yang ketemu jodoh dadakan (seperti dahu bulat), namun dapat saja rumah tangganya “SAMAWA”, sebaliknya pemilihan jodoh setelah dengan pertimbangan yang matang, melalui pendekatan pranikah yang panjang, namun ada juga kasus suatu rumah tangga yang keadaannya tetap kurang mengenakkan. Kembali ku teringat beberapa istilah orang tua2 dikampungku dulu melukiskan model2 keluarga yang tidak bahagia, 3 diantaranya yaitu: Satu; “Abu di atas tunggul”, melambangkan suatu keluarga yang kurang bahagia lantaran disebabkan tidak akurnya suami istri, sering berselisih paham hanya karena soal2 yang remeh temeh, soal kecil, sehingga rezeki mereka seret. Dapat rezeki banyak pun tidak berkah apa lagi sedikit. Perolehan rezeki langsung hilang, habis ndak tentu juntrungannya “laksana Abu di taroh di atas tunggul” langsung terbang ditiup angin atau hilang disapu hujan. Dua; “Lalang Kebakaran”. Istilah ini melambangkan keluarga yang isinya; suami sering marahi istri, atau sebaliknya istri sering marahi suami. Isi rumah tangga mereka marah – marahan melulu. Keadaan ini kalau mereka dikerunia Allah keturunan, dalam banyak kasus (walau tidak semua), anak2 keturunannya jika membentuk rumah tangga nanti akan menurun, Sukanya ngomel, ngedumel, marah2 kepada pasangannya. Istilah “Lalang kebakaran” buat melambangkan keadaan ini, karena “Lalang” bahasa kampungku; “Ilalang” bahasa Indonesia, bila kebakaran selain apinya berkobar, juga terdengar letupan2 bunyi yang berenteng, begitu “Lalang” itu di lalap api. Tiga; “Asuk di ketitian”. Pembaca, di hutan Kalimantan, sebelum jadi kebun Kelapa sawit seperti belakangan ini, dalam hutan2 kadang ditemukan kali kecil memisahkan dua tanah daratan. Untuk menghubungkan dua daratan itu penduduk yang sering melewati hutan itu, merebahkan pohon atau dahan pohon untuk dapat menyeberang, alat nyebrang ini disebut dengan “Ketitian”. Adapun “Asuk”, bahasa setempat untuk menyebut “Anjing”. Naaah jikalau ada dua ekor Anjing, yang ingin nyebrang berada di ujung ketitian yang berlawanan, mereka tidak mau saling mengalah, masing2 maju akhirnya ketemu di tengah2 ketitian. Yang terjadi masing2 sebesaran mengluarkan salakan/gonggongan. Rumah tangga yang dilambangkan bagaikan “Asuk di ketitian” ini si suami dan istri saling tak mau mengalah dalam segala hal, isinya rebut terus. Pembaca, kalaulah tulisanku ini di baca sobat2 yang sudah sepuh yang kini melihat anak2 merajut keluarga mereka masing2, kita berdo’a semoga Allah menjadikan keluarga anak2 dan keluarga cucu2 kita bahagia; Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah. Jikalah yang membaca tulisanku ini keluarga pemula, baru menyusun hidup baru, hati2lah membina rumah tangga setidaknya jangan sampai tertular “Abu diatas tunggul”, “Lalang Kebakaran” maupun “Asuk di ketitian”. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 23 DzulKaidah 1447 H. 11 Mei 2026

No comments:

Post a Comment