Saturday, 27 June 2026
Agar TIDAK Merasa PALING
Dirangkai: M. Syarif Arbi
No: 1.425.05.06-2026
Usai shalat Zuhur sembari melangkah keluar gerbang masjid, seorang jamaah berucap kepada sesama jamaah: *“Menyusut berapa waktu belakangan ini,…….. hanya orang terpilih saja masih tetap datang berjamaah”*. Ucapan seperti ini, jikalah di dalam hati terlintas pikiran bahwa “awak” termasuk orang yang rajin berjamaah, apalagi kalau di dalam hati lalu merasa “paling” taat ibadah, “paling” rajin berjamaah, hal seperti ini sudah bukan adab seorang muslim.
Seorang muslim tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain, tidak boleh merasa paling, pokoknya segala merasa macam paling dilarang buat orang beriman. Seorang muslim tidak boleh merasa paling taat, tidak boleh merasa paling berilmu, tidak boleh merasa paling menguasai segala persoalan.
Nabi Musa karena merasa paling berilmu diberitau Allah ada lagi yang paling berilmu. Lihat surat Al-Kahfi; Kisah Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir diabadikan dalam Al-Qur'an Surat *Al-Kahfi ayat 60-82*. Perjalanan ini adalah ujian kerendahan hati dan kesabaran bagi Nabi Musa, yang mengajarkan bahwa ilmu Allah sangatlah luas dan tidak terbatas oleh akal manusia.
Adab seorang muslim harus rendah hati dan tidak merasa *“Paling”*, Allah Ta’ala berfirman tentang larangan merasa paling itu:
“………. فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ ………………..”
_“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”_ (QS. An Najm : 32)
Kebiasaan merasa diri suci merupakan perbuatan yahudi dan nasrani yang jelas- jelas dicela oleh Allah Ta’ala
“………….. وَقَالُوا۟ لَن تَمَسَّنَا ٱلنَّارُ إِلَّآ أَيَّامًا مَّعْدُودَةً ۚ
_“Dan mereka berkata, kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja.”_ (QS. Al Baqarah: 80)
Bahkan, saking merasa sucinya, mereka merasa bahwa hanya merekalah yang paling layak masuk surga.
“………………. وَقَالُوا۟ لَن يَدْخُلَ ٱلْجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوْ نَصَٰرَىٰ ۗ
_“Dan mereka berkata, Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yahudi dan Nasrani.”_ (QS. Al Baqarah: 111)
Sehingga Allah Ta’ala cela kebiasaan mereka ini:
أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم ۚ بَلِ ٱللَّهُ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلً
_“Apakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.”__ (QS. An-Nisa: 49)
Nabi Muhammad ﷺ melarang setiap diri merasa suci, seperti termuat dalam hadits diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ
_"Janganlah kalian merasa diri kalian suci (jangan memuji diri sendiri), Allah lebih mengetahui siapa yang berbuat baik di antara kalian”_
Sebagai contoh; Bila ketika anda melangkah menuju masjid untuk shalat berjamaah, lantas melihat tetangga yang anda liwati menuju masjid sedang duduk2 di beranda rumah, baik yang sudah berumur maupun masih remaja, mereka tidak menghiraukan panggilan adzan. Tak ada salahnya anda menyapa mereka, *“ayok ke masjid”*.
Kalaulah ajakan anda belum direspon, tolong jangan terbersit di hati bahwa anda orang yang paling taat, lalu beranggapan mereka termasuk orang yang nanti dimurkai Allah.
Persoalannya belum tentu akhir hidup mereka, sebagaimana belum tentunya akhir hidup kita. Dapat saja terjadi orang yang anda liwati ketika kemesjid itu sekarang tidak shalat, menjelang akhir hidupnya menjadi ahli ibadah dan taubatnya diterima Allah, justru merekalah menjadi ahli surga. Sebaliknya belum karuan nasib anda sendiri, apalagi jika di dalam hati sering terbesit merasa “paling”.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini kepada sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menangkal sifat ujub atau kagum pada amalan sendiri, atau merasa paling.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَف]
_"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku sendiri”_
Adab seorang beriman *“agar tidak merasa paling”* rujukan antara lain seperti ayat2 dan hadist dipetik di atas.
Adapun dalam pergaulan di masyarakat dimana masyarakat tidak menyenangi orang yang selalu merasa *paling*. Agar menghindari *rasa paling dari diri kita* yaitu: *Merasa paling benar, paling hebat, atau paling penting*, bersikaplah:
1. Anggap setiap orang tahu sesuatu yang belum awak tahu. Ini membuat diri ini lebih mudah mendengar daripada langsung menyimpulkan.
2. Biasakan bertanya sebelum berpendapat. Misalnya, "Apa yang membuatmu berpikir begitu?" Ini membantu memahami sudut pandang orang lain.
3. Sadari bahwa awak bisa saja salah. Mengubah pendapat ketika mendapat bukti baru adalah kekuatan, bukan kelemahan.
4. Pisahkan harga diri dari pendapat. Jika sebuah ide dikritik, itu tidak berarti dirimu ikut direndahkan.
5. Berlatih mengakui kesalahan. Kalimat sederhana seperti, "Ternyata aku keliru," dapat melatih kerendahan hati.
6. Hargai kontribusi orang lain. Saat berhasil dalam sesuatu, ingat siapa saja yang ikut membantu.
7. Lakukan refleksi secara rutin. Coba tanyakan pada diri sendiri: "Apakah aku ingin memahami, atau hanya ingin menang?"
Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri atau menganggap diri tidak mampu. Justru, itu adalah kemampuan untuk melihat diri sendiri secara realistis—mengakui kelebihan tanpa merasa lebih tinggi dari orang lain, dan mengakui kekurangan tanpa merasa rendah.
Yaa Allah jadikanlah kami semua menjadi hamba Allah yang taqwa, namun tidak merasa paling taqwa, menjadi hamba Allah yang taat ibadah, tetapi tak merasa paling taat beribadah. Ya Allah hindarkan kami dari merasa diri paling pandai, paling benar, paling suci dan segala macam paling.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 13 Muharram 1448 H.
28 Juni 2026
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment