Syarif Arbi Membagi Warta
Thursday, 19 February 2026
Dipintu IKHLAS – Iblis MENUNGGU
EDISI: RAMADHAN
Renungan: M. Syarif Arbi
No: 1.397.07.02-2026
Umpama kata, nilai ibadah itu tersimpan aman di dalam lemari besi, untuk membuka nilai ibadah itu perlu kunci dan juga nomor kombinasi. Maka kuncinya adalah IKHLAS, sedangkan nomor kombinasinya adalah di laksanakan ibadah itu sesuai Contoh Rasulullah Muhammad ﷺ.
Ikhlas suatu istilah mudah diucapkan, tapi sangat2 sulit untuk di realisasikan. Ikhlas dalam pengertian ibadah kepada Allah secara sederhananya adalah beribadah tanpa mengharapkan apapun dari selain Allah. Beramal hanya se mata mata karena Allah, mengharapkan balasannya hanya dari Allah.
Kesulitan manusia dalam strata iman yang tinggi sekalipun untuk berlaku ikhlas, karena hidup kita di bumi ini didampingi Iblis yang sudah mendapat izin Allah melencengkan manusia dari ikhlas. Allah dalam dialog dengan Iblis antara lain terdapat dalam ayat 78 sampai 81 surat Shad. Diantara dialog itu Iblis menjawab:
قَا لَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُ غْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ ۙ
Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. (Shad ayat 82).
Iblis bertekad menyesatkan manusia dengan cara datang dari berbagai arah:
ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَا نِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ
"kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (Al-A'raf ayat 17)
Contoh godaan Iblis ke Ahli Ibadah:
Tiap hari tak pernah lupa bersedekah. Lidah selalu bergoyang berzikir dan bibirnya selalu basah dalam kalimat thayyibah . Tentu tak usah diragukan lagi ibadah wajib olehnya dilaksanakan dengan baik dan khusyuk karena Allah, sedangkan ibadah yang sunah saja hampir tak pernah luput, Iblispun dari PINTU IKHLAS ini bukan tidak berpeluang masuk, mendatangi dari kanan, yaitu melalui karib kerabat dan sobat; di informasikan apresiasi orang dan masyarakat yang mengenalnya bahwasanya dianya diketahui ahli ibadah.
Pertanda Iblis berhasil masuk dari “Pintu Ikhlas”, maka tatkala si ahli ibadah mulai merasa ketaatan dan keikhlasannya beramal/beribadah itu diketahui orang, menjadi perbincangan masyarakat, diapun menjadi termotivasi meningkatkan frekuensi amal/ibadahnya. Sedekah yang biasanya 10rb setiap hari, ditingkatkan jadi 20rb sampai 30rb. Zikir yang biasa dilakukan diperbanyak dan pengucapannya diperjelas. Pokoknya semenjak diketahui orang akan amal/ibadahnya ybs meningkatkan amal/ibadahnya baik kualitas maupun kuantitas.
Jika sudah seperti ini, berarti Iblis telah berhasil menunggunya di pintu IKHLAS. Selanjutnya PERANGKAP IBLIS telah MENGANGA untuk diarahkannya kepada ahli ibadah yang ikhlas itu tadi. Iblis punya PERANGKAP DI PINTU IKHLAS yang siap untuk memerangkap orang-orang ikhlas dalam beribadah.
Karena kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada ummatnya, beliau ajarkan do'a untuk menghindari PERANGKAP IBLIS, kepada sahabat utamanya ABU BAKAR. Diketahui dalam sejarah Islam bahwa Abu Bakar sahabat nabi yang begitu kuat imannya. Akan tetapi masih perlu diajari nabi do'a ini, apalagi kita2 ini yang imannya mungkin tak seujung rambutpun bila dibanding dari Abu Bakar sahabat utama Nabi Muhammad ﷺ, itu. Tentu do'a itu dimaksudkan Nabi Muhammad ﷺ. bukan hanya untuk Abu Bakar namun untuk kita semua agar terhindar dari PERANGKAP IBLIS yang masuk dari pintu IKHLAS. Do'a tsb sbb:
اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Allahumma inni a'udzu bika an usyrika bika syaian waanaa a'lamu waastaghfiruka lima laa a'lamu.
Ya Allâh! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui. (Imam Bukhari dlm AL ADAB AL MUFRAT dan At Tirmidzi dlm NAWATIR AL USUL).
Contoh godaan Iblis di tulisan ini hanya buat ahli ibadah, hal yang sama dapat dilakukan Iblis buat Ahli Dakwah, Da'i idola ummat, para penghafal Al-Qur'an, para ustadz dan ustadzah, juga penulis artikel2 dakwah, para darmawan, tidak terkecuali diseluruh strata. Oleh karena itulah agaknya senantiasa kita berdo'a seperti yang diajarkan Rasululllah Muhammad ﷺ, kepada sabat beliau Abu Bakar dikutip di atas.
Semoga kita tidak masuk PERANGKAP IBLIS yang menunggu di PINTU IKHLAS. Sehingga seluruh rangkaian ibadah kita di terima Allah swt, untuk bekal ke akhirat nanti.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
3 Ramadhan 1447 H
20 February 2026
Wednesday, 18 February 2026
TUJUAN PENYAKIT
EDISI: RAMADHAN
Renungan: M. Syarif Arbi
No: 1.396.06.02-2026
Boleh dikatakan hampir semua orang pernah merasakan sakit. Kadar sakitnya saja yang tak sama. Rata2 manula kebagian penyakit kronis, inipun beda setiap individu. Ada sih manula yang jarang sakit serta tak punya penyakit kronis. Inipun membuktikan kekuasaan Allah bahwa tak mesti manula sakit2an. Tak juga sakit2an monopoli manula, sebab ada yang masih belia sakit2an.
Keadaan phisik, perasaan yang beda dari keadaan normal, itu katanya batasan "sakit". Keadaan bathin jadi resah, gelisah membuat makan tak enak tidur tak nyenyak; begitupun sakit juga. Lalu ada sakit jasmani dan sakit rohani. Ada sakit raga dan sakit jiwa.
Bila jasmani sakit harus selalu ikhtiar berobat, karena setiap penyakit disediakan obatnya oleh Allah. Bila rohani sakit, resah gelisah penyembuhnya mendekat kepada Allah.
Sadarlah kita bahwa menyoal soal sakit kita masing2, walau kelompok sakitnya sama, namun variasi SAKIT tiap individu beragam, sekalipun kembar identik. Semua telah ditentukan oleh YANG MAHA KUASA.
Seluruh TYPE SAKIT masing2 diri agaknya sudah ketentuan YANG MAHA KUASA, dalam terminology iman disebut TAQDIR. Kalaulah Sakit itu dilihat sebagai ujian, dipandang sebagai musibah atau bencana maka ketahuilah apapun nanti SAKIT masing2 diri, di usia berapa mulai diderita dstnya telah ditentukan dalam TAQDIR, seperti firman Allah SWT berikut ini:
مَاۤ اَصَا بَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَ رْضِ وَلَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْـرَاَ هَا ۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ ۖ
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah" (QS. Al-Hadid ayat 22)
Dalam menjalani hidup ini, ketika datang SAKIT silih berganti, sembuh dan kambuh dalam wujud apapun janganlah sampai kita termasuk kelompok manusia seperti disebutkan Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat 83:
وَاِذَاۤ اَنْعَمْنَا عَلَى الْاِنْسَانِ اَعْرَضَ وَنَاٰ بِجَانِبِهٖ ۚ وَاِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَـئُوْسًا
"Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa".
Ketahuilah bahwa SAKIT itu juga merupakan anugerah. Contoh kecil, seorang pegawai ditugaskan untuk bepergian dinas keluar kota. Tiket penerbangan sudah disiapkan kantor. Pas jadwal berangkat terserang sakit yang tak mungkin untuk pergi. Dengan berat hati batal berangkat. Ternyata sakit ybs sebagai sebab umurnya masih panjang, ajalnya belum tiba, pesawat calon tumpangannya hilang tak sampai tujuan.
Selain itu, Rasulullah memaklumkan bahwa sakit merupakan sarana Allah mengampuni dosa penderita.
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ
“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, maka Allah akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits yang lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ،حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ
“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.” (HR. Muslim)
Dari hadits2 diatas ternyata sakit pun memiliki faedah dan fadhilah bagi yang sakit. Tentu, jikalau ia bersabar dan menjadikan sakitnya sebagai pelajaran bagi dirinya.
Semoga pembaca yang sakit segera ditemukan obatnya. Allah angkat penyakit2nya sehingga usia yg tersisa dapat dimaksimalkan untuk beramal kebaikan dan beribadah kepada Allah. Utamanya di bulan Ramadhan ini, masih sanggup melaksanakan ibadah puasa.
مِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنi آمِيّنْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 2 Ramadhan 1447 H.
19 February 2026.
TIGA BENTUK pengabdian kepada ALLAH
EDISI Ramadhan 1447 H.
Diramu: M. Syarif Arbi
No: 1.395.05.02-2026
Tak sedikit orang yang tak tau persis sebetulnya untuk apa dirinya hidup di dunia ini. Bagi ummat Islam, Allah memberitahukan dalam Al-Qur'an surat 51 = Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku".
Tidak hanya sampai memberitahukan untuk apa kita hidup yaitu untuk mengabdi kepada Allah, tapi Allah juga sekaligus memberikan Tiga “Petunjuk Pelaksanaan bentuk pengabdian tsb” bagaimana cara manusia mengabdi kepada-Nya, yakni:
1. Utamakan kehidupan akhirat, tetapi tidak mengabaikan kehidupan dunia.
2. Senantiasa berbaut kebaikan.
3. Jangan membuat kerusakan dimuka bumi.
PERTAMA, "وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ......."
Mengutamakan kebahagiaan kehidupan akhirat. Langkah ini menghendaki agar dalam melaksanakan kehidupan di dunia, kita senantiasa mengutamakan pertimbangan nilai akhirat.
Tetapi "..... وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا...…" tidak mengabaikan kehidupan dunia.
Sebab amal akhirat tidak berdiri sendiri dan terlepas dari amal duniawi. Sungguh banyak amalan akhirat yang berhubungan erat dalam mewujudkan kebahagiaan duniawi.
Contoh shalat, seorang yang melaksanakan shalat dengan tekun dan disiplin, bukanlah semata-mata sebagai amal akhirat yang tidak berdampak duniawi, sebab bila shalat itu dilaksanakan menurut tuntutan Allah dan Rasul-Nya, secara berjamaah, niscaya ia akan banyak memberikan hikmah dalam kehidupan dunia. Dengan shalat yang benar akan dapat mencegah seseorang dari berbuat keji dan munkar. Al-Qur'an surat 29 = Al-Ankabut ayat 45:
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
".........dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar......."
Dengan demikian manusia akan terhindarnya dari perbuatan yang dapat merugikan orang lain, sehingga terciptalah ketenteraman hidup bersama di dunia ini.
Begitu juga dengan infak dan shadaqah, seorang yang beramal dengan niatan mulia untuk mendapatkan ganjaran berupa pahala dari Allah di akhirat, maka dengan hartanya tersebut dapat memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain yang membutuhkan.
KEDUA, "ahsin" yaitu senantiasa menghendaki kebaikan.
وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ
"......dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu,....."
Bila seseorang mengamalkan langkah ini dalam dirinya, niscaya ia akan selalu berbuat kebaikan. Berkata baik dalam pergaulan di kehidupan sehari-hari. Orang beriman yakin betul bahwa tak ada satu katapun yang terucap menguap hilang begitu saja.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. 50 = Qaf ayat 18).
Tak ada satu gerakpun yang luput dari catatan, rekaman video Allah melalui malaikat:
اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَا لِ قَعِيْدٌ
"(lngatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri." (QS. 50 = Qaf ayat 17).
Maka orang beriman akan selalu tampil dalam kebaikan demi kebaikan, mempersembahkan sebuah karya terbaiknya untuk kemanfaatan masyarakat disekitarnya, peduli akan kemaslahatan umum, dan meninggalkan sebuah kebaikan yang akan selalu berguna bagi orang banyak walaupun ia sudah pergi terlebih dahulu menuju kehidupan yang abadi.
KETIGA, adalah
"walaa tabghil fasada fil ardh "(....... وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ.......)" yaitu Langkah untuk tidak berbuat kerusakan. "...........dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi........."
Bila JUKLAK ketiga ini dijalankan dengan istiqamah/konsisten, seseorang akan lebih melengkapi JUKLAK yang kedua, yakni melengkapi upayanya berbuat baik dengan upaya menghindari perbuatan yang merusak. Perbuatan merusak termasuklah melanggar hukum yang ditentukan agama dan melanggar peraturan yang disepakati dalam masyarakat. Tidak malu melakukan sesuatu diluar kepatutan, menerabas norma2 yang berlaku, demi memenuhi nafsu kesuksesan pribadi, keluarga atau golongan.
Terjadinya kerusakan alam, kerusakan moral, kerusakan dalam tatanan kehidupan masyarakat sering kali terjadi karena sudah hilangnya kesadaran akan tujuan hidup yang sesungguhnya, sudah putusnya “urat malu” sehingga seorang lupa bahwa sesungguhnya ia tidak dibiarkan begitu saja, bahwa ia akan mempertanggung jawabkan segala perbuatannya ketika ia menghadap Allah di akhirat kelak. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
أَيَحْسَبُ الْإِنْسٰنُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
"Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?" (QS. Al-Qiyamah ayat 36)
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Ar-Rum ayat 41.
Tiga bentuk tentang bagaimana cara pengabdian kepada Allah dikutip di atas secara utuhnya tersusun jelas pada firman Allah di surat 28 = Al-Qasas ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖوَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."
Semoga kita semua senantiasa memahami untuk apa kita ini hidup, kemudian sanggup mencapai tujuan hidup yang hakiki serta dapat melaksanakan langkah2 pengabdian kepada Allah. Bagi yang hari ini sudah mulai shaum Ramadhan hari pertama, semoga Allah menerima ibadah shaum masing2 dan bertekad untuk lebih menyempurnakan shaum di hari2 berikutnya.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 1 Ramdhan 1447 H.
18 February 2026.
Sunday, 15 February 2026
BERDAKWAH sebelum ALIM
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.394.04.02-2026
Manusia yang beruntung di dunia ini terdapat 7 (tujuh) kelompok yaitu:
1. Orang yang istiqamah shalat, sebelum dianya dishalatkan.
2. Orang yang rajin saban hari menyempatkan diri membaca Al-Qur’an, sebelum ketika dia sakit parah didekatnya dibacakan orang Al-Qur’an.
3. Orang yang rajin bersedekah tak menunggu kaya, lalu menjadi kaya karena bersedekah.
4. Orang berdakwah sebelum alim, menjadi alim karena berdakwah.
5. Orang yang berani tinggalkan kemewahan dunia, sebelum dianya meninggalkan dunia.
6. Orang yang rajin ke masjid tak menunggu tua, bukan sesudah tua baru rajin ke masjid
7. Orang yang bertobat, selagi sehat, bukan baru bertobat setelah dekat sekarat.
Sepertinya 7 (tujuh) hal yang dikemukakan diatas cocok sekali untuk dibicarakan menjelang memasuki bulan Ramadhan seperti sekarang ini. Pada bulan Ramadhan Lahan untuk mencapai keberuntungan dimaksud diatas, dibentangkan Allah demikian luas dengan motivasi ganjaran pahala yang berlipat ganda.
Di artikel singkat ini izinkan saya memetik satu diatara 7 (tujuh) orang yang beruntung tersebut, karena kalau dipetik semuanya akan panjang, sehingga ada diantara pembaca yang lihat tulisan panjang, akan ogah sebelum mengunggah. Oleh karena itu yang dipetik di artikel ini hanya “Soal berdakwah”. Di bulan2 Ramadhan sebentar lagi kita masuki, hampir setiap masjid memprogramkan ceramah2 sebelum tarawih, sesudah subuh, sesudah dzuhur dan bahkan sebelum berbuka. Demikian pula di jaringan2 TV. Ustadz2 kondang kebanjiran undangan. Namun ada juga yang berpendapat bahwa untuk berdakwah harusnya terlebih dahulu berilmu tinggi, lulusan sekolah2 agama, sangat di suka bila lulusan dari luar negeri.
Di ungkapan di atas saya cantumkan di nomor 4. “Orang berdakwah sebelum alim, menjadi alim karena berdakwah”. Ungkapan ini sebagian orang, tak kurang dari sebagian ustadz yang kadang menyindir “percaya mana ustadz berdakwah mengandalkan lap top, dengan ustadz yang hafidz dan hafal ribuan hadits”. Tentulah kalau memungkinkan yang mendakwahi kita adalah ustadz/ustadzah yang hafidz/hafidzah dan hafal ribuah hadits. Akan tetapi di komunitas tertentu, di masjid2 tertentu belum punya kesanggupan mengudang ustadz/ustadzah kondang.
Dalam keadaan demikian harus ada orang yang berani berdakwah sebelum alim, selanjutnya lantaran dia berdakwah, lama kelamaan menjadi alim karena setiap kali akan berdakwah dianya harus belajar, mencari referensi guna mempersiapkan diri buat materi dakwah. Sesudah berdakwah mengevaluasi diri apakah masih terdapat kesalahan atau kekurangan referensi dalam dakwahnya. Bukankah cara yang demikian itu akan menjadikan ustadz tsb lama kelamaan menjadi alim?
Keberanian ustadz/ustadzah kecil2an ini jangan dikira tidak memiliki rujukan pesan dari Rasulullah Muhammad ﷺ dan panduan dari Allah melalui Al-Qur’an.
PERTAMA: Kewajiban masing2 kita untuk menyampaikan apa yang diketahui tentang ilmu agama, walau hanya sedikit. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang boleh menyampaikan ilmu meskipun sedikit, selama ia benar-benar mengetahui dan memahaminya.
KEDUA: Kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran: 104)
Ayat ini tidak mensyaratkan harus menjadi ulama besar terlebih dahulu, tetapi tentu harus memiliki ilmu tentang apa yang disampaikan.
Akan tetapi, harus lah dengan sangat berhati-hati untuk berdakwah jika belum betul2 menguasai “tentang satu ayat” yang akan disampaikan tersebut. Hendaklah dicari referensinya dari berbagai sumber, barulah berani mendakwahkannya karena Allah berfirman dalam surat Yusuf Ayat 108:
قُلْ هٰذِهٖ سَبِیْلِیْۤ اَدْعُوْۤا اِلَی اللّٰهِ ؔ۫ عَلٰی بَصِیْرَةٍ اَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِیْ ؕ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِیْنَ
"Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin (berlandaskan ilmu), Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”
Ini menunjukkan bahwa dakwah harus berdasarkan ilmu, bukan sekadar semangat. Dengan demikian jikalah punya keberanian untuk berdakwah karena mengetahui suatu perkara tentang agama, maka hendaklah menyampaikannya sesuai kadar ilmu yang diketahui. Artinya; tidak harus menjadi alim besar dulu baru berani berdakwah, tetapi: Tidak berbicara tanpa ilmu, Tidak mengarang fatwa, Tidak menyesatkan orang.
Kesimpulan: Boleh berdakwah sebelum menjadi alim, jika: Menyampaikan hal yang benar-benar diketahui. Jika apa yang disampaikan ada dalil yang jelas. Tidak berbicara tentang hal yang tidak dipahami. Bersedia menerima koreksi. Tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan dalil yang jelas, lebih terhormat mengatakan “saya belum tau”, ketimbang harus mengarang jawaban. Tegasnya Tidak boleh berdakwah tanpa ilmu, karena bisa menyesatkan diri sendiri dan orang lain.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 15 February 2026.
27 Sya’ban 1447H.
Monday, 9 February 2026
Dapatkah TAQDIR diubah AMAL & DO’A ???
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.392.02.02-2026
Taqdir adalah sesuatu yang harus diimani, sementara itu tidak seorangpun yang dapat memprediksi bagaimana taqdir dirinya. Nabi Yusuf ketika dibuang saudara-saudaranya ke dalam sumur, kuat dugaan kita orang awam, bahwa dianya belum tau bahwa kelak dirinya akan jadi pembesar negeri Mesir, namun itulah jalan yang harus dilalui Nabi Yusuf. Bila kita berandai-andai, jikalah tidak dibuang ke dalam sumur, tentu tidak akan ditemukan oleh musafir menimba air dari sumur, lalu mengeluarkannya dari dalam sumur, menjualnya di pasar budak di Mesir, dibeli pembesar kerajaan. Taqdir Nabi Yusuf itu barulah diketahui pada akhir kehidupannya setelah melalui jalan berliku, sampai lama masuk dalam penjara, menurut kabar dari Al-Qur’an “beberapa waktu”, pendapat ulama bervariasi antara 5 hingga 12 tahun di penjara,
Pertanyaannya apakah memungkinkan “mengubah taqdir dengan amal dan do’a”?
Terdapat beberapa riwayat bahwa amal dan doa berpengaruh pada taqdir, tapi dengan pemahaman yang tepat.
Suatu ketika seorang sahabat datang menghadap Rasulullah Muhammad ﷺ, mengeluhkan perihal kefakiran dan kesulitan hidup yang dihadapinya. Diberi amalan oleh Rasulullah seperti dikutip dibawah ini, sehingga kehidupan sahabat tersebut akhirnya rezekinya berlimpah.
Kisah di atas banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitabnya, diantaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marâh Labîd atau lebih dikenal dengan nama Tafsîr Al-Munîr. Dalam penafsiran surat Al-Ikhlas Syekh Nawawi menuturkan kisah tersebut sebagai berikut:
عن سهل بن سعد جاء رجل إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وشكا إليه الفقر فقال: «إذا دخلت بيتك فسلم إن كان فيه أحد وإن لم يكن فيه أحد فسلم على نفسك واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة. ففعل الرجل فأدر الله عليه رزقا حتى أفاض على جيرانه
Artinya: Dari Sahl bin Sa’d, seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan mengadu kepadanya perihal kefakiran. Rasul bersabda: Bila engkau memasuki rumahmu, ucapkanlah salam bila di dalamnya ada seseorang. Bila tidak ada seorang di dalamnya, maka bersalamlah untuk dirimu dan bacalah surat qul huwallâhu ahad sekali.’ Lelaki itu mengamalkannya. Allah melimpahkan kepadanya rezeki hingga meluber kepada para tetangganya.
Syekh Nawawi dalam penafsiran ayat ke-61 surat An-Nur menjadi jawabannya. Dalam kitab tersebut ia menuturkan ajaran dari Ibnu Abbas dan Qatadah sebagai berikut:
وقال ابن عباس: إن لم يكن في البيت أحد فليقل: السلام علينا من قبل ربنا
Artinya: Ibnu Abbas berkata: Bila tak ada siapapun di dalam rumah, maka ucapkanlah ‘assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ’ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami).
وقال قتادة: إذا دخلت بيتك فسلم على أهلك فهم أحق بالسلام ممن سلمت عليهم، وإذا دخلت بيتا لا أحد فيه فقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين
Artinya: Qatadah berkata: Bila engkau memasuki rumahmu, maka ucapkanlah salam kepada keluargamu. Mereka lebih berhak mendapatkan salam daripada orang lain yang engkau salami.
Bila engkau memasuki sebuah rumah yang tak ada seorang pun di dalamnya, ucapkanlah: assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn (keselamatan bagiku dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh).
Jadi; bila tidak ada orang didalam rumah kita dapat mengucapkan salam bagi diri sendiri salah satunya dengan kalimat: Assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami) atau Assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn (keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba yang saleh).
Lapisan taqdir itu terdiri atas dua lapis:
Pertama: Taqdir mubram ( مُبْرَم )→ ketentuan Allah yang pasti dan tidak berubah, (kejadian bukan sama sekali dapat diusahakan manusia), misalnya diri ini terlahir di negeri mana, siapakah orang tua yang menyebabkan kita lahir.
Kedua: Taqdir mu‘allaq (مُعَلَّق) → ketentuan yang bergantung pada usaha, doa, dan amal manusia. Amal, doa, sedekah, ikhtiar itu berperan pada taqdir yang kedua.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَا يَرُدُّ القَضَاءَ إلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي العُمُرِ إلَّا البِرُّ
“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Qadar, bab “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa” (no. 2139), dari hadis Salman radhiyallahu ‘anhu. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Sahihah (no. 154) dan dalam Sahih Al-Jami’ (no. 7687).
Kaum beriman menyakini bahwa Allah sudah mengetahui segalanya sejak awal, tapi Allah juga menjadikan doa dan amal sebagai sebab terjadinya sesuatu, tentu harus dibarengi dengan ikhtiar untuk mencapai maksud dan tujuan do’a itu sehingga Allah menolong pencapaian yang diinginkan.
“…………. إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ………………”
“………Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…………” (Ar-Ra’ad ayat 11)
Ayat ini memotivasi bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik kecuali dengan usaha dan jerih payahnya sendiri. Namun berapa banyak orang yang berusaha mengubah nasib mereka dengan berusaha tak kenal lelah dan waktu demi ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik, berapa persen dari mereka yang berhasil tapi sebagian juga begitu-begitu saja, dengan demikian maka dapat diungkapkan “Amal tidak mengubah kehendak Allah, tapi amal adalah bagian dari kehendak Allah itu sendiri”.
Mari kita serahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dengan terus berikhtiar “janganlah kamu berputus asa dengan Rahmat Allah” (“……..لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ……” = Az- Zumar 53).
Ya Allah yang menentukan taqdir dan berkuasa mengubah taqdir, berikanlah taqdir yang terbaik untuk kehidupan kami ini.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 9 February 2026.
21 Sya’ban 1447H.
Wednesday, 28 January 2026
MENGUBAH TAQDIR AJAL
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.390.07.01-2026
Sebelum ajal berpantang mati, begitu ungkapan populer sering kudengar sejak aku masih kecil, sampai kinipun masih sering diucapkan orang. Ajal termasuk taqdir “Umri” yang telah disinggung pada artikel sebelum ini. Taqdir Umri meliputi 4 (empat) hal yaitu tentang RIZKI, AJAL, AMAL, dan NASIB (celaka atau Bahagia). Ajal adalah batas waktu hidup seseorang yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Dalam pengertian umum (terutama dalam konteks agama), ajal merujuk pada saat kematian yang tidak bisa dimajukan maupun ditunda oleh manusia.
Atas dasar penyebab datangnya ajal kematian dibedakan menjadi dua yaitu: Pertama; Ajal “alami”, kematian karena usia atau penyakit. Kedua; Ajal “peristiwa”: kematian karena suatu peristiwa (kecelakaan, bunuh diri, dihukum mati dll.). Yang jelas bahwa kematian pasti akan dialami setiap makhluk hidup,
Walaupun semua orang sudah mengetahui semua makhluk hidup pasti mati, dari zaman ke zaman manusia; terutama para penguasa, para raja2, orang2 banyak harta akan senantiasa berupaya agar hidup ini lebih panjang. Guna memperpanjang hidup, terdapat 3 (tiga) sudut pandang. Pertama; secara biologis dan medis. Kedua; secara filosofis dan religious. Ketiga; secara eksistensial.
Secara biologis & medis:
Ada banyak upaya memperpanjang hidup atau menunda kematian secara biologis & medis:
• Pengobatan dan teknologi medis. Utamanya pemimpin negara, orang2 berkuasa, para raja, orang2 kaya. Bila menderita sakit, segera akan dicarikan cara pengobatan yang terbaik. Bilamana dirasa kurang sreg berobat di dalam negeri berangkat ke luar negeri kemanapun dilakukan dengan harapan mendapat kesembuhan, agar hidup dapat diperpanjang.
• Gaya hidup sehat (makan, olahraga, tidur, kelola stres). Sangat hati2 memilih makanan dan minuman, bahkan ada seorang teman yang tidak mau minum yang berwarna, sejak mulai umur 30 han hanya mau minum air putih. Jika membeli air putih dalam kemasan, saking hati2nya diterawang apakah ada sesuatu sekecil apapun dalam kemasan tersebut, selain dilihat kadaluarsanya.
• Pencegahan penyakit dan perawatan dini. Secara periodik melakukan general check up lengkap untuk memantau kesehatan, bila ada sedikit kelainan segera diatasi.
Upaya2 yang dilakukan di point diatas ini tidak membuat manusia “abadi”, tapi secara logika biologis dan medis bisa memperpanjang usia dan kualitas hidup.
Secara filosofis & religious.
Pertama; Bahwa ajal diyakini sudah ditetapkan oleh Tuhan dan tidak bisa dimajukan atau ditunda. Allah berfirman dibeberapa ayat dalam Al-Qur’an tentang kematian tak dapat ditunda diantaranya dipetik dari surat Al-Munafiqun Ayat 11:
وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan”.
Kedua; Ikhtiar (usaha) untuk menjaga kesehatan dan keselamatan justru diperintahkan dalam agama. Sakit harus berobat, perjalanan membaha yakan ditunda atau dihindari. Berobat merupakan suatu ikhtiar untuk segera sembuh dari penyakit. Baik dipetik hadits riwayat hakim dan Ibn Hibban. Nabi Muhammad ﷺ bersabda;
ما أنزل الله عز وجل داء إلا أنزل له دواء علمه من علمه وجهله من جهله
“Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya”
Juga hadits anjuran berobat dari baginda Nabi Muhammad ﷺ berbunyi;
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ
“Sejatinya semua penyakit ada obatnya. Maka apabila sesuai antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah” (H.R. Imam Muslim, Nomor Hadis 2204)
Lihat juga hadits riwayat Imam Bukhari berikut;
مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً
“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan ketika itu juga Allah menurunkan obatnya/penawarnya ( H.R. Imam Bukhari, Nomor 5354).
Dalam agama, setiap diri diperintahkan untuk menghindari bahaya, Al-Baqarah 195:
وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ
“janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan”
Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ
“Jika kalian mendengar wabah tersebut menjangkiti suatu negeri, maka janganlah kalian menuju ke sana, namun jika dia menjangkiti suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dan lari darinya.” (Shahih Bukhari 5289)
Manusia yang mampu, berusaha untuk hidup panjang, tapi sadarilah bahwa waktunya ajal tiba tetap di luar kendali manusia. Ajal tidak bisa ditunda, tapi jalan menuju ajal bisa diisi dengan usaha sehingga hidup lebih bermakna.
Secara eksistensial:
Sebagian orang melihat “menunda ajal” bukan soal waktu, tapi dengan makna bahwa orang tersebut seolah-olah berumur panjang, sebab walau jasadnya sudah lama menjadi tulang belulang di dalam kubur sana, namun dianya bagaikan masih hidup. Orang yang berumur panjang secara eksistensial ini adalah:
1. Apabila selama hidupnya meninggalkan sesuatu karya yang dipergunakan manusia untuk kemudahan hidup, berupa penemuan2, termasuk membangun sarana prasarana yang dipergunakan oleh masyarakat baik di bidang agama maupun di bidang memperlancar kehidupan umumnya.
2. Apabila selama hidupnya mengarang buku2 ilmu pengetahuan yang terus dipergunakan oleh orang banyak.
3. Para pahlawan pejuang untuk membebaskan manusia dari penindasan.
Orang2 seperti disebutkan diatas, mereka itulah yang umurnya panjang dalam arti mereka “terus hidup” lewat buah karyanya, hasil olah pikirannya atau perjuangannya, meski fisiknya telah tiada.
Demikianlah perihal “TAQDIR AJAL”, masih dapat diikhtiarkan untuk lebih berkualiatas dan lebih panjang. Ayolah kita berdo’a:
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي وَأَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي
“Ya Allah, perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah apa yang Engkau karuniakan. Panjangkanlah hidupku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosaku”
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 28 Januari 2026.
9 Sya’ban 1447H.
Sunday, 25 January 2026
Merubah TAQDIR Rezeki
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.389.06.01-2026
Di antara empat taqdir, taqdir utamanya adalah taqdir azali yang tertulis di lauhil mahfudz, sedangkan tiga taqdir yang lainnya (‘umri, sanawi, dan yaumi) adalah taqdir yang bisa berubah. Sekilas tentang taqdir AZALI telah ku tulis di artikel nomor yang lalu dalam judul “Bertanggung Jawab atas Pilihan”.
Taqdir “UMRI”; Yaitu taqdir yang ditulis malaikat ketika meniupkan roh ke dalam janin. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ فِيْ ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ، فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia(nya).” (HR. Bukhari Muslim).
Taqdir Umri meliputi 4 (empat) hal yaitu tentang RIZKI, AJAL, AMAL, dan NASIB (celaka atau Bahagia). Berkenaan terbatas ruang tulis, maka nomor ini hanya memuat tentang “Merubah Taqdir Rezeki”, taqdir “ajal”, Amal dan Nasib إِنْ شَاءَ اللَّه ditulis di nomor2 yang akan datang.
Taqdir rezeki itu sudah ditetapkan Allah, tapi cara tiap individu menjemputnya bervariasi karenanya bisa diubah, bisa berubah. Maksudnya bukan “mengubah taqdir” dalam arti menentang ketetapan Allah, tapi mengubah jalan hidup masing2 orang agar rezeki yang Allah siapkan bisa terbuka lebih luas.
Tak seorangpun mengetahui taqdir rezeki yang telah ditetapkan buat dirinya, oleh karena itu terus menerus berikhtiar untuk mencari rezeki. Beberapa cara yang sering disebut dalam Al-Qur’an dan hadits, sebagai ikhtiar merubah taqdir tentang rezeki, titik beratnya adalah “Perbaiki hubungan dengan Allah”. Hal yang harus dilakukan agar dapat memperbaiki hubungan dengan Allah adalah:
PERTAMA: Tingkatkan TAQWA → “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2–3) وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا (Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar). وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ (Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya).
KEDUA: Shalat tepat waktu, dalam surat Taha ayat 132 Allah berfirman:
وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَا ۖ لَا نَسۡـَٔلُكَ رِزۡقًا ۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَ ۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ
“dan perintahkanlah kepada keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rejeki kepadamu, Kamilah yang memberi rejeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang orang yang bertaqwa”
Ayat ini menjelaskan tentang perintah kepada kita semua, sebagai kepala keluarga, untuk mengajak anggota keluarga untuk melaksanakan shalat. Mengajak berarti menjadi contoh, sehingga sebelum mengajak shalat maka kita harus menjadi orang yang menegakkan shalat terlebih dahulu. Mengajak keluarga untuk melaksanakan shalat juga harus dilakukan dengan sabar, tidak boleh bosan apalagi putus asa.
KETIGA: Istighfar rutin memiliki hubungan langsung sebagai pembuka pintu rezeki, penurun hujan berkah, serta penambah harta dan keturunan, sebagaimana difirmankan dalam Surah Nuh ayat 10-12. Rutin beristighfar diyakini إِنْ شَاءَ اللَّه membentangkan jalan keluar dari kesempitan, menghilangkan duka, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
(10) فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
(11) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
(12) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“Maka aku berkata (kepada mereka), "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu."
KEEMPAT, IKHTIAR dan DO’A: Memperbaiki usaha (ikhtiar) wajib untuk dilakukan dalam meraih datangnya rezeki. Ikhtiar tersebut dalam wujud antara lain meningkatkan ilmu pengetahuan dalam mencari rezeki, berusaha dengan sungguh2 jujur dan diikuti dengan senantiasa berdo’a. Karena usaha tanpa berdo’a untuk menyerahkan semua hasilnya sesuai ketetapan taqdir Allah, sikap demikian adalah sombong. Dalam pada itu berdo’a saja tanpa usaha itu namanya ber-angan2 kosong. Sedangkan Ibunda Nabi Isa saja untuk mendapatkan buah kurma dalam keadaan lemah ketika akan melahirkan masih diperintahkan Allah untuk berikhtiar menggoyang pohon kurma, terabadikan dalam surat Maryam ayat 25:
وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا
"Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”.
Sarana meraih rezeki yang KELIMA: Sedekah, meski sedikit. Secara logika sedekah mengurangi harta, tapi secara taqdir bertambah, sesuai firman Allah di Surah Al-Baqarah Ayat 261:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٢٦١
"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui”.
Sarana KE ENAM mengubah taqdir Rezeki; Jaga silaturahmi.
Rasulullah ﷺ bersabda: HR Imam Bukhari dan Muslim.
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
("Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya/dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi").
Selanjutnya hendaklah masing2 diri kita mengubah mindset tentang rezeki. Jangan rezeki hanya dimaknai dengan “Uang”, “Harta” dan “Jabatan”. Tetapi juga adalah merupakan rezeki yang tak ternilai adalah: “Kesehatan”, “Ketenangan”, “Pasangan hidup yang setia”, “Ilmu yang bermanfaat”
Mari kita tutup artikel ini dengan do’a:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Allāhumma innī as-aluka ‘ilman nāfi‘an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.
"Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik)".
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 26 Januari 2026.
7 Sya’ban 1447H.
Subscribe to:
Comments (Atom)