Syarif Arbi Membagi Warta
Friday, 24 July 2026
MENYEBARKAN SALAM
Disuguhkan: M. Syarif Arbi
No: 1.431.06.07-2026
Sudah memasyarakat; mengucapkan salam ketika bertemu, ketika bertamu, ketika akan membuka suatu pembicaraan. Ucapan salam secara umum adalah “selamat pagi, selamat siang, selamat sore dan selamat malam”. Pengucapan salam dalam agama Islam dengan tiga model ucapan:
*Pertama*: *“ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ” (Assalamu'alaikum), sebagai ucapan singkat. Artinya “Semoga keselamatan menyertaimu”.
*Kedua*: *Ucapan sedangan “ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ”* (Assalamualaikum warahmatullah). Artinya: “Semoga keselamatan dan rahmat Allah menyertaimu”
*Ketiga*: Ucapan yang lengkap “ ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ” (Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh). Artinya: “Semoga keselamatan, dan rahmat Allah serta keberkahan Allah tercurah kepadamu”.
Begitu juga mereka yang menjawab salam juga ada tiga macam:
*Pertama*: Wa'alaikumsalam ( وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ ) artinya "Dan semoga keselamatan juga untukmu".
*Kedua*: Wa'alaikumsalam warahmatullah (وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ) “Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah juga untukmu”
*Ketiga*: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh ( وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه ) “Dan semoga keselamatan, rahmat Allah dan Keberkahan Allah tercurah untukmu”
Ganjaran kebaikan (pahala) menyebarkan salam bersumber dari riwayat Imam Bukhari (dalam Al-Adabul Mufrad) dan Imam At-Tirmidzi dari sahabat Imran bin Hushain. Setiap tingkat ganjaran diberikan berdasarkan kelengkapan lafaz salam yang diucapkan:
• 10 Kebaikan: Diperoleh saat mengucapkan "Assalamu'alaikum".
• 20 Kebaikan: Diperoleh saat mengucapkan "Assalamu'alaikum wa rahmatullah".
• 30 Kebaikan: Diperoleh saat mengucapkan "Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh"
Islam sangat memerintahkan untuk menyebarkan salam. Salam bukan sekadar sapaan biasa, tetapi juga doa keselamatan dan bentuk kasih sayang. Menyebarkan salam dapat mempererat persaudaraan dan menjadi kunci masuk surga. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail Bab Keutamaan Qiyamul Lail; mengutip hadis Hadits #1166:
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلاَمٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( أيُّهَا النَّاسُ : أَفْشُوا السَّلامَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلاَمٍ )) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) .
Dari ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _*“Wahai manusia, *tebarkanlah salam*, bagikanlah makanan, dan shalatlah pada waktu malam ketika orang-orang sedang tidur, niscaya kalian pasti masuk surga dengan selamat.”*_ (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Tirmidzi, no. 2485; Ibnu Majah, no. 1334, 3251; Ahmad, 5:451; Ad-Darimi, 1:340-341, 2:275; Al-Hakim, 3:13, dari jalur ‘Auf bin Abi Jamilah, dari Zararah bin Abi Awfa, dari ‘Abdullah bin Salam. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].
Menyebarkan salam jadi tanda bahwa kedamaian itu terwujud sehingga satu sama lain mudah menyebarkan salam keselamatan. Memberi makanan ditambah dengan menyebarkan salam menunjukkan hilangnya rasa takut dan kefakiran, akhirnya hati sesama muslim akan semakin dekat, hubungan silaturahim akan makin kuat terjalin. Kedamaian hidup yang lapang, dan rasa tenang itulah yang membuat seseorang mudah menjalankan perintah Allah. Buah dari amal saleh dan kalimat yang baik memudahkan seseorang masuk surga.
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
Artinya: _*“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”*_ (HR. Muslim).
Allah memerintahkan umat Islam untuk memberi salam dan menjawabnya dengan cara yang baik. Perintah ini tercantum dalam Surah An-Nisa ayat 86:
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا
Artinya: _*Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu*_.
Ini juga mengandung makna, kalau seseorang mengucapkan salam yang pendek kepada anda, jawablah dengan yang lebih panjang. Contoh salam pendek dan salam panjang tersaji di atas.
Namun ada salam yang tak perlu dijawab, yaitu salam orang usai shalat. Jama’ah dikiri kanan anda mengucapkan salam, anda tidak usah menjawabnya, karena anda juga kalau ikut berjamaah, juga mengucapkan salam.
Menyebarkan salam bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga cara sederhana untuk menunjukkan penghargaan, membangun hubungan yang baik, dan menciptakan suasana yang lebih positif.
Semoga keselamatan, kesejahteraan, keberkahan dan rahmat Allah senantiasa meliputi seluruh pembaca yang berbahagia.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 8 Safar 1448 H./21 Juli 2026.
NENEK PENGEMBARA
Dikarang: M. Syarif Arbi
No: 1.432.07.07-2026
Beruntung ibu beranak tujuh ini, ketika ditinggal suaminya semua anak2nya sudah beranjak dewasa, empat anak sudah berumah tangga dan menghadirkan pula cucu2 yang mulai sekolah. Dua anak lagi sudah selesai kuliah, namun sedang merintis cari kerja, atau usaha. Sedangkan seorang lagi sebentar lagi wisuda jenjang S1.
Almarhum ayahnya sebagai seorang pebisnis kecil2an pedagang sembako dan pernak-pernik kebutuhan sehari-hari, dimaklumi tidak meninggalkan harta yang banyak. Peninggalan almarhum berupa sebuah rumah munggil hunian mereka terdapat tiga kamar tidur, sebuah mobil pick up (untuk angkutan barang dari grosiran). Semasa semua anak masih ngumpul dirumah; empat anak perempuan kebagian 1 kamar tidur adapun 3 anak lelaki kebagian 1 kamar tidur, 1 kamar tidur lagi untuk kamar ibu bersama ayahnya semasa masih hidup.
Kehidupan si ibu ini sepeninggal sang suami, untuk berjuang menyelesaikan kuliah anaknya yang seorang lagi (si bontot), meneruskan usaha ayahnya anak2 berdagang sembako, di komples pasar tak jauh dari kediaman mereka.
Persoalan muncul, setelah semua anak selesai kuliah dan masing2 sudah dan akan berkeluarga, anak2 *berlepas dari kartu keluarga lama*, membuat KK sendiri2, berkenaan dengan merekapun pindah kediaman di kota2 sekitar kota asal.
Ada pula anak yang *memotori* agar harta warisan mendiang ayah, berupa sebuah rumah itu dibagi waris segera, dengan jalan dijual saja . Hasilnya akan dibagikan 1/8 untuk Ibunda, 7/8 nya akan dibagikan kepada 7 orang anak. Umpama katakanlah itu rumah terjual bersih 400 juta, si Ibu kebagian 50 Juta. Anak2 kebagian 350 juta. Setelah dibagi untuk 3 orang anak laki2 masing kebagian 70 juta total = 210 juta. Sedangan 4 anak perempuan masing 35 juta total = 140 juta. Berpindahlah hak rumah warisan mendiang ayah ke orang lain.
Warisan memang harus segera dibagi apabila ayah meninggal, walau ibu masih hidup, tetapi tidak ditemukan *dalil nash yang tegas* menetapkan batas waktu tertentu, misalnya; harus dibagikan dalam 3 hari, 7 hari, atau 40 hari setelah kematian sang ayah. Namun, para ulama umumnya menganjurkan agar pembagian *tidak ditunda tanpa alasan yang dibenarkan*, karena dengan menunda pembagian waris maka:
• Hak para ahli waris menjadi tertahan;
• Penundaan dapat memicu perselisihan;
• Setiap ahli waris berhak segera mengetahui dan menerima bagiannya setelah seluruh kewajiban almarhum diselesaikan.
Salah satu alasan mengapa begitu si ayah meninggal waris harus di bagi, terutama *jika* si ibu yang yang ditinggalkan masih muda, *cantik pula*, misalnya si ibu menikah lagi, si ibu akan ikutan dengan suami barunya membawa hasil warisan. Dalam kasus si ibu di kisah ini,… 50 juta yang merupakan bagiannya. Selanjutnya masing2 anak sudah mendapat bagian masing2.
Sering jadi pertanyaan; *”Bolehkah kalau semua anak secara bersama memberikan atau merelakan hak warisnya dikuasai ibu mereka sepanjang ibunya masih hidup”?*. *”Tentu saja boleh”*, selama para pewaris, dalam kasus diatas, seluruh ke 7 anak si ibu menyetujui atas dasar kerelaan murni tanpa paksaan.
Namun, pastikan keputusan ini didasarkan pada kesadaran penuh agar tidak memicu sengketa di kemudian hari. Sebaiknya, hak waris tetap dihitung dan dicatatkan secara resmi terlebih dahulu sebelum diserahkan, untuk menghindari kezaliman atau kesalahpahaman antar anggota keluarga.
Dalam kasus yang diangkat dalam kisah ini, si ibu tidak muda lagi dapat dibayangkan sudah beranak tujuh, si bontot saja sudah hampir wisuda S1, ketika suaminya meninggal. Kecil kemungkinan akan kawin lagi.
Karena sebagian besar anak2nya menghendaki rumah peninggalan almarhum dijual dan sebagian anak terutama yang sudah berumah tangga menuntut pembagian waris. Maka si Nenek tidak punya pilihan lain. sisa hidup dilanjutkan dengan mengontrak rumah, bermodalkan warisan 50 juta.
Makin bertambah usia, sudah tak mampu lagi menjaga toko, tambahan kondisi tubuh sudah banyak dihuni penyakit. Belakangan karena sering sakit, kios lebih banyak tutup dari pada bukanya, akibatnya tak mampu lagi bayar sewa kios, ujung2nya stoplah kegiatan berdagang. Uang warisan mulai habis dan sudah tak mampu lagi mengontrak rumah. Nasib si nenek akhirnya mengembara dari rumah anak yang satu ke rumah anak yang lain, kadang ikutan dirumah cucu. Ternyata dalam kehidupan didunia ini tak semua anak berbhati, sering terjadi kalaulah anak cukup baik, kadang mantu pula yang tak suka akan ke hadiran si nenek.
Sebagai ikhtiar bagi kita2 yang sudah masuk ke usia senja ini, adalah senantiasalah berdo’a untuk memohon perlindungan Allah dari *keburukan usia tua* sampai di kondisi sudah *tak berdaya*, tegasnya kalau boleh *mohon dipanggil Allah ndak usah tua2 amat*. Kalau boleh sudah berpulang kerahmatullah sebelum habis harta benda, lantaran tak jarang anak2 kurang memikirkan kita.
Guna menghindarkan diri dari *usia yang buruk* tadi, boleh jadi sebagai ikhtiar, mari diamalkan do’a agar terhindar dari keburukan usia tua (pikun atau renta) bersumber dari Shahih Al-Bukhari dan diriwayatkan dari sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash dari Nabi Muhammad ﷺ berikut adalah bacaan doanya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ
_*"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang paling buruk (pikun/lemah), dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia serta azab kubur."*_
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 10 Safar 1448 H./24 Juli 2026.
Friday, 17 July 2026
PULANGLAH BILA DISURUH PULANG
Disajikan: M. Syarif Arbi
No: 1.429.04.07-2026
Salah satu keistewaan / kecanggihan berkat kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah; artikel2 yang di publish di medsos, dibaca banyak orang tak terbatas wilayah dan negara. Salah seorang pembaca tulisanku di kota lain ketika membaca artikelku perihal *adab bertamu*, dianya menanyakan *“bolehkan menolak tamu”*.
Untuk menjawab pembaca tersebut kukutipkan surat An-Nur ayat 28
وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرْجِعُوا۟ فَٱرْجِعُوا۟ ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ. …………………….”
…………. _*“Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja) lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”*_
Masa kini, bila seseorang ingin berkunjung termasuk ke kediaman saudara kandungnya, tidaklah ujuk2 datang, biasa didahului dengan memberitahukan melalui WA atau telepon……. Tak selamanya saudara yang akan dikunjungi itu bersedia dikunjungi.
Bagi muslim sejati tidak patut tersinggung, tidak pantas berkecil hati bilamana permintaannya berkunjung kekediaman seseorang ditolak. Jangankan penolakan itu melalui dialog WA atau telepon, dimana kita belum beranjak dari rumah. Kalaupun penolakan itu dilakukan pemilik rumah ketika sang tamu sudah memberi salam di depan pintu, menurut perintah Allah di surat An-Nur dikutip diatas, *wajib pulang*. Orang muslim tidak memandang penolakan tersebut sebagai tidak menghargai, atau tidak sopan, karena apa yang menurut kita manusia *baik*, belum tentu baik menurut Allah. Apa yang menurut kita *sopan*, belum tentu sopan dalam pandangan Allah. Apa yang menurut manusia *benar*, belum tentu benar dalam ilmu Allah. Orang muslim yang taat berpedoman bahwa kebenaran mutlak milik Allah. seperti tersurat di Al-Baqarah ayat 147:
ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ
Artinya: _*Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.*_
Jadi jangan ragu bila bertamu ditolak, tidak perlu kecewa, walaupun sudah sampai depan pintu rumah yang dikunjungi, bila disuruh pulang, maka pulanglah. Niscaya anda berpahala mengamalkan salah satu perintah Allah.
Hikmah ketika seorang tamu memilih pulang karena ditolak oleh tuan rumah, dapat dipahami sekurangnya dari 5 (lima) sudut pandang positip, baik dari sudut pandang agama maupun kehidupan sehari-hari:
*PERTAMA*: Menjaga kehormatan diri dan tuan rumah. Jika tuan rumah belum bisa menerima tamu, pulang dengan lapang dada menunjukkan sikap menghormati privasi dan kondisi mereka. Boleh jadi yang bersangkutan sedang mempunyai problem keluarga, yang tak baik diketahui pihak lain.
*KEDUA*: Menghindari prasangka buruk. Penolakan belum tentu karena tidak suka. Bisa jadi tuan rumah sedang memiliki urusan, sakit, atau keadaan lain yang membuatnya tidak dapat menerima tamu. Atau akan pergi meninggalkan rumah untuk sesuatu urasan penting.
*KETIGA*: Melatih kesabaran dan keikhlasan. Tidak semua harapan berjalan sesuai keinginan. Menerima keadaan dengan sabar merupakan latihan pengendalian diri. Jangan cepat2 berkesimpulan yang tidak baik, lalu dalam pikiran mereka-reka yang tak pantas, atau mungkin bergumam, mengerutu, ujung2nya menyesal setelah mengatahui masalah yang sebenarnya.
*KEEMPAT*: Menghormati hak orang lain. Setiap orang berhak menentukan kapan mereka siap menerima tamu. Menghormati keputusan tersebut adalah bagian dari etika bermasyarakat. Demikian juga bila kita mengundang orang, bila yang diundang tidak hadir, jangan cepat2 berkesimpulan, orang tak hadir tersebut tidak menghargai. Perlu dicari sebabnya; apakah undangan tidak sampai, apakah si terundang memaknai dari redaksi undangan bahwa dirinya bukan termasuk yang diundang.
*KELIMA*: Memelihara hubungan hubungan persahabatan/kekerabatan dalam jangka panjang. Tidak memaksa masuk atau merasa tersinggung dapat menjaga hubungan tetap baik sehingga kesempatan berkunjung di lain waktu tetap terbuka. Bilamana sampai tercetus kata2 yang tidak enak disampaikan kepada tuan rumah (misalnya melalui tulisan di WA) atas penolakan itu, hubungan persahabatan/kekerabatan jangka panjang akan terganggu. Ingat….! banyak ayat2 dalam Al-Qur’an yang memerintahkan memelihara hubungan silaturahim.
Pembaca, mari kita amalkan petunjuk agama, kendati mungkin terasa tidak nyaman dihati. Ketahuilah kebenaran mutlak milik Allah. Yaa Allah….. jadikan kami semua, seluruh pembaca…. menjadi hamba2-Allah yang mentaati seluruh aturan2 dan ketentuan2-MU.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 4 Safar 1448 H./17 Juli 2026.
Sunday, 12 July 2026
DAMPAK YOUTUBE Buat CERAMAH DI MASJID
Dirangkum: M. Syarif Arbi
No: 1.428.03.07-2026
Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah membuat perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di bidang *dakwah*. TIK memungkinkan dakwah menjangkau lebih banyak orang, serta memudahkan interaksi sosial melalui berbagai platform digital. Kini, umat Islam dapat mengikuti kajian agama secara daring, berbagi ilmu – menulis artikel2 dakwah melalui media sosial, dan menjalin komunikasi lebih efektif dengan komunitas keagamaan.
Kehadiran. *Youtube* memberikan dampak ganda bagi jamaah masjid. Banyak orang (mungkin sebagian besar anak muda) yang telah sangat familier dengan TIK, memilih mendengarkan ceramah2 agama melalui youtube ketimbang duduk mendengarkan ustadz berceramah di masjid. Jika memerlukan tambahan pengetahuan agama mereka membuka youtube dengan mudah mencari topik apa yang ingin didengar. Melalui youtube ummat dapat mengulang materi kapan saja dan memperluas wawasan, diceramahkan oleh ustadz2 yang kenamaan berilmu tinggi.
Plus - minus Youtube bagi ummat yang mengikuti ceramah melalui you tube
*1. Sisi Positifnya*
a) *Mengulang Materi*: Dapat memutar ulang ceramah jika ada penjelasan yang belum dipahami kalau mendengarnya hanya sekali.
b) *Fleksibilitas Waktu*: Dapat didengar kapan saja, bila ada waktu luang, walau tidak harus hadir ke masjid tetap bisa mendapatkan ilmu.
c) *Menjangkau Lebih Luas*: Ilmu yang disampaikan ustazd di masjid yang *live streaming* bisa ditonton oleh ummat dimana saja. Bahkan orang Indonesia dapat mendengarkan ceramah2 para ulama dari luar negeri.
*2. Sisi Negatifnya*
a) *Kehilangan Keutamaan Majelis*: Hadir secara fisik ke masjid bernilai ibadah besar. Duduk di masjid mendengarkan ceramah berbeda pahalanya dengan menonton lewat ponsel atau lap top di rumah.
b) *Kemalasan mengikuti ceramah di masjid*: Kemudahan mengakses Youtube membuat jamaah merasa cukup di rumah saja. Hal ini bisa membuat masjid menjadi sepi. Inilah sekarang sudah sangat terasa di beberapa masjid. Kebanyakan jamaah; misalnya ada ceramah agama sesudah maghrib, usai shalat dan berdzikir sejenak, kadang shalat sunah, lalu pulang, atau tak jarang tak lagi shalat sunah, memilih shalat sunah dirumah. Selanjutnya mendekati waktu isya menjelang adzan datang lagi ke masjid, untuk berjamaah shalat isya.
Fenomena tersebut butir “2.b)” banyak pihak pengurus masjid melakukan evaluasi;
• Apakah pelayanan di masjid kurang baik.
• Apakah kondisi di masjid kurang nyaman.
• Apakah ustadz2 atau ustadzah2 yang ditampilkan, kurang berbobot – sudah terlalu tua. Teknik penyampaiannya tidak mengena dengan masa kekinian.
• Apakah topik yang disajikan penceramah mengulang-ulang, sehingga membosankan.
• dan banyak lagi pertanyaan2 yang mengusik perhatian Takmir/pengurus beberapa masjid.
Mungkin factor dominannya adalah TIK khususnya Youtube yang kini sudah memasyarakat. Sebagai bahan masukan bahwa menurut Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penggunaan TIK di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2019, sekitar 63,53% penduduk telah memiliki telepon seluler, dan angka ini terus bertambah hingga mencapai 67,88% pada tahun 2022. Begitu pula dengan penggunaan internet yang meningkat dari 47,69% pada tahun 2019 menjadi 66,48% pada tahun 2022. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin terhubung dengan dunia digital, termasuk dalam mendengarkan ceramah keagamaan.
*Dalam kesempatan di artikel singkat ini izinkan menyarankan kepada para pembaca*:
*Pertama*; Gunakan youtube sebagai pelengkap, sebagai tambahan ilmu, akan tetapi perlu juga di saring. Apa yang didengar hendaklah dicarikan dalil2 berkenaan dengan referensi yang akurat, selaras dengan Al-Qur’an dan hadist shahih yang dikemukkan ulama terkemuka.
*Kedua*; Terutama bagi yang tak ada udzur, masih bugar, utamakan hadir fisik di masjid agar mendapatkan *pahala langkah kaki, pahala silaturahim, pahala duduk di majelis ilmu*.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ
“_Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu)menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, *banyaknya langkah menuju masjid*, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah ar-ribath (kebaikan yang banyak)._” (HR. Muslim no. 251)
“……… وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ …………..”
“…………._Bertaqwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahim)_. …………..”
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: _"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka *hendaklah ia menyambung tali silaturahmi*."_ (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang mempelajari Al Qur’an di masjid disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat ketenangan, rahmat dan pemuliaan dari Malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه
“_Tidaklah suatu kaum *berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya*, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya_.” (HR. Muslim no. 2699)
Yaa Allah jadikan lah para pembaca senantiasa dapat menambah ilmu sesuai perintah Allah dan petunjuk Rasulullah.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 28 Muharram 1448 H./13 Juli 2026.
Tuesday, 7 July 2026
TAMU-MENAMU
Dirangkum: M. Syarif Arbi
No: 1.427.02.07-2026
Soal tamu-menamu adalah sudah melembaga di negeri ini, juga merupakan media silaturahim yang demikian sangat dianjurkan dalam Islam. Soal silaturahim, saking pentingnya Allah sebutkan dibeberapa ayat dalam Al-Qur’an, diantaranya:
وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّا
Artinya: _"Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan *memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk dihubungkan*, serta berbuat kerusakan di bumi, mereka itu mendapat kutukan dan tempat kediaman yang buruk (Jahannam)_." (Surat Ar-Ra'ad ayat 25)
Sejak dahoeloe, jaman kita masih kanak2, kalau seseorang akan bertamu ke rumah seseorang apalagi hubungan kekerabatannya tidak begitu dekat, sebelum bertamu memberitahukan sebelumnya bahwa akan bertamu. Buya Hamka dalam menafsirkan surat An-Nur 27,28 dan 29 di tafsir Al-Azhar Juzu 18 panjang lebar mengupas seputar soal *tamu-menamu*, sebanyak 6 halaman, dari halaman 171 s/d 176.
Di zaman now lebih mudah untuk memberitahukan akan bertamu, cukup dengan “jari-jari”. Si tuan rumahpun menjawab kesediannya didatangi tamu cukup dengan “jari-jari” pula (melalui HP) langsung disepakati hari dan waktu menerima tamu. Dengan demikian, tentulah si tuan rumah sudah siap kedatangan tamu, mulai dari memberi tahu penjaga rumah (kalau rumah ber-Satpam), lalu sudah siap dengan *pakaian yang wajar dan sopan* untuk menerima tamu. Sementara si tamupun sudah merencanakan kapan bertolak dari rumah agar sampai tepat waktu. Si tamu juga sudah berpakaian se sopan mungkin, walaupun sederhana tetapi setidaknya rapi dan menutup aurat, baik lelaki apalagi perempuan.
Adab si tamu, seperti diulas oleh Buya Hamka dalam tafsir surat An Nur 27 s/d 29 di tafsir Al-Azhar diantaranya; memberitahu sebelumnya, mengucapkan salam ketika sampai di pintu rumah tuan rumah, jangan masuk sebelum dijawab salam dan dipersilahkan masuk. Jangan duduk sebelum dipersilahkan duduk, jangan menduduki tempat duduk tuan rumah, duduklah ditempat yang dipersilahkan duduk oleh tuan rumah. Berpakaian yang rapi, menutup aurat dan sopan.
Di artikel yang singkat ini dititik beratkan soal adab si tuan rumah menerima tamu. Setidaknya yang harus diperhatikan ketika menerima tamu:
1. Memakai pakaian yang bersih dan rapi. Berpakaian dengan baik saat menerima tamu merupakan bentuk penghormatan kepada tamu sekaligus mencerminkan sikap sopan santun dan akhlak yang baik. Apa lagi kalau tamu yang datang itu sudah melalui perjanjian lebih dahulu sehari sebelumnya atau lebih, *berarti bukan dadakan*, tentu seyogyanya sudah siap dengan pakaian rapi.
2. Berpakaian yang rapi dan baik menurut Islam adalah *menutup aurat*, sangat tak pantas menerima tamu dengan hanya bercelana pendek (jauh diatas lulut bagi laki-2), terkesan celana dalam pula. Orang2 tua di kampung kami dulu, jika ada tamu datang, setelah mempersilahkan tamu masuk dan duduk, si tuan rumah minta ijin sebentar ke tamunya untuk masuk ke ruang dalam rumah, kemudian mengganti pakaian, kadang pakai sarung atau celana panjang dengan baju rapi lalu memakai kopiah. Jikapun tidak sampai se komplit itu setidaknya berpakaianlah yang sopan tak usah berlebihan.
3. Tergantung, masalah apa yang di bahas dalam pertamuan tersebut, tidaklah menjadi hal yang tabu diperjanjikan ketika mengadakan kesepakatan ketika janji akan ketemuan, bahwa waktu yang tersedia hanya sampai pukul berapa. Dewasa ini orang sudah maklum, bahwa masing2 orang banyak kegiatan, mungkin juga sudah ada janji di tempat lain. Dalam hal ini si tamu harus mengingat betul kesepakatan waktu janjian bertamu, karena kadang si tuan rumah sungkan untuk mengingatkan.
Menyoal menghormati tamu, dalam ajaran Islam dikaitkan dengan Iman. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ menuturkan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: _"Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mempererat hubungan kekeluargaannya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengucapkan yang baik ataupun berdiam diri saja."_ (Muttafaq 'Alaih, HR Bukhari [10/373, 442] & Muslim [47])
Yaa Allah jadikanlah kami sanggup menjalankan ajaran agama dalam beribadah, juga dalam bermasyarakat; antara lain ketika bertamu, maupun menerima tamu.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 24 Muharram 1448 H.
8 Juli 2026.
Monday, 6 July 2026
MENUNTUT ILMU
Dirangkai: M. Syarif Arbi
No: 1.426.01.07-2026
Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap insan beriman, perintah ini tertulis jelas dalam Al-Qur'an dan hadist. Ilmu membantu manusia membedakan yang benar dan salah. Ilmu merupakan sarana membantu manusia mempermudah menjalani hidup, serta mengangkat derajat manusia.
“………. يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ. ………………………”
“………._niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat_…………..” (Surat Al-Mujadalah Ayat 11)
Sementara itu petunjuk hadist:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْل
Artinya: _"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim."_
(HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)
Ilmu menurut ayat dan hadist di kutip diatas membawa manfaat dunia dan kahirat. Didunia mendapatkan *Peningkatan Derajat, memudahkan menjalani hidup, memudahkan beribadah*. Seorang berilmu dalam masyarakat mendapat kedudukan yang lebih tinggi, dalam bidang pekerjaan orang berilmu mendapatkan penghasilan lebih besar. Contoh seorang arsitek, tentu penghasilannya lebih banyak dari kepala tukang. Kepala tukang, penghasilannya lebih besar dari kernet. Demikian seterusnya di setiap sector pekerjaan orang berilmu mempunyai nilai lebih atau derajat yang lebih tinggi.
Ilmu mempermudah manusia menjalani hidup ini, contoh era sekarang ini kita sudah dapat berkomunikasi dengan mudah, berdakwah, bersilatrurahim, melalui medsos, berkat ilmu pengetahuan. Perjalanan yang jauh sudah dapat ditempuh dalam waktu singkat, dahoeloe ke tanah suci berbulan-bulan, dewasa ini dapat ditempuh hitungan jam. Pertandingan piala dunia dilaksanakan di Amerika dapat ditonton di kamar kita.
Selanjutnya ilmu memudahkan manusia beribadah, ditemukan sarana2 untuk memudahkan dakwak, memudahkan beribadah dengan ditemukan saound system, air condition ruangan2 masjid, dll.
Sedangkan kebahagian di akhirat; ilmu *“memudahkan jalan menuju surga”*, dengan mudahnya kita beribadah dan mudahnya manusia sekarang untuk menuntut Ilmu, menambah ilmu, memperbaiki ilmu.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
_“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”_ (HR. Muslim, no. 2699)
Insan beragama menghendaki, kebahagiaan itu tidak hanya diperoleh di dunia tetapi yang paling utama adalah di akhirat. Sekurang-kurangnya 2 Syarat perlu dimiliki oleh seorang penuntut ilmu, di antaranya adalah:
*PERTAMA: Ikhlas karena Allah*
Niat menuntut ilmu harus untuk mencari ridha Allah, bukan untuk mencari pujian, kedudukan, atau keuntungan dunia semata. Sebagai Tanda-tanda Ikhlas dalam mencari Ilmu:
• *Hilangnya Sombong*: Semakin berilmu, seseorang akan semakin tawadhu' (rendah hati) dan takut kepada Allah Ta'ala.
• *Berorientasi pada Manfaat*: Belajar untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri dan orang lain, bukan untuk mencari pujian, gelar semata, atau popularitas.
• *Diamalkan*: Ilmu yang didapat langsung diamalkan sebagai bekal ibadah.
*KEDUA: Memilih ilmu yang bermanfaat*
Antara lain ilmu yang bermanfaat adalah:
• *Ilmu agama*; Mempelajari Al-Qur'an dan tafsirnya. Memahami hadist, fikih, akidah, dan akhlak. Ilmu yang membantu seseorang beribadah dengan benar dan berperilaku baik.
• *Ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat*; Medicine untuk menyembuhkan orang sakit. Engineering untuk membangun sarana yang bermanfaat. Education untuk mendidik generasi berikutnya. Agriculture untuk memenuhi kebutuhan pangan.
• *Ilmu tentang muamalah dan kehidupan*; Economics, bisnis, dan keuangan. Manajemen dan kepemimpinan yang adil. Keterampilan bekerja dan berwirausaha yang halal.
• *Ilmu yang membentuk akhlak*; Cara mengendalikan emosi. Komunikasi yang baik. Menjaga amanah, kejujuran, dan tanggung jawab.
Agar kita semua saban hari mendapatkan ilmu bermanfaat, rezeki yang baik dan amal diterima mari kita berdo’a:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلً
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima."
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 22 Muharram 1448 H.
6 Juli 2026
Saturday, 27 June 2026
Agar TIDAK Merasa PALING
Dirangkai: M. Syarif Arbi
No: 1.425.05.06-2026
Usai shalat Zuhur sembari melangkah keluar gerbang masjid, seorang jamaah berucap kepada sesama jamaah: *“Menyusut berapa waktu belakangan ini,…….. hanya orang terpilih saja masih tetap datang berjamaah”*. Ucapan seperti ini, jikalah di dalam hati terlintas pikiran bahwa “awak” termasuk orang yang rajin berjamaah, apalagi kalau di dalam hati lalu merasa “paling” taat ibadah, “paling” rajin berjamaah, hal seperti ini sudah bukan adab seorang muslim.
Seorang muslim tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain, tidak boleh merasa paling, pokoknya segala merasa macam paling dilarang buat orang beriman. Seorang muslim tidak boleh merasa paling taat, tidak boleh merasa paling berilmu, tidak boleh merasa paling menguasai segala persoalan.
Nabi Musa karena merasa paling berilmu diberitau Allah ada lagi yang paling berilmu. Lihat surat Al-Kahfi; Kisah Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir diabadikan dalam Al-Qur'an Surat *Al-Kahfi ayat 60-82*. Perjalanan ini adalah ujian kerendahan hati dan kesabaran bagi Nabi Musa, yang mengajarkan bahwa ilmu Allah sangatlah luas dan tidak terbatas oleh akal manusia.
Adab seorang muslim harus rendah hati dan tidak merasa *“Paling”*, Allah Ta’ala berfirman tentang larangan merasa paling itu:
“………. فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ ………………..”
_“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”_ (QS. An Najm : 32)
Kebiasaan merasa diri suci merupakan perbuatan yahudi dan nasrani yang jelas- jelas dicela oleh Allah Ta’ala
“………….. وَقَالُوا۟ لَن تَمَسَّنَا ٱلنَّارُ إِلَّآ أَيَّامًا مَّعْدُودَةً ۚ
_“Dan mereka berkata, kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja.”_ (QS. Al Baqarah: 80)
Bahkan, saking merasa sucinya, mereka merasa bahwa hanya merekalah yang paling layak masuk surga.
“………………. وَقَالُوا۟ لَن يَدْخُلَ ٱلْجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوْ نَصَٰرَىٰ ۗ
_“Dan mereka berkata, Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yahudi dan Nasrani.”_ (QS. Al Baqarah: 111)
Sehingga Allah Ta’ala cela kebiasaan mereka ini:
أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم ۚ بَلِ ٱللَّهُ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلً
_“Apakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.”__ (QS. An-Nisa: 49)
Nabi Muhammad ﷺ melarang setiap diri merasa suci, seperti termuat dalam hadits diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ
_"Janganlah kalian merasa diri kalian suci (jangan memuji diri sendiri), Allah lebih mengetahui siapa yang berbuat baik di antara kalian”_
Sebagai contoh; Bila ketika anda melangkah menuju masjid untuk shalat berjamaah, lantas melihat tetangga yang anda liwati menuju masjid sedang duduk2 di beranda rumah, baik yang sudah berumur maupun masih remaja, mereka tidak menghiraukan panggilan adzan. Tak ada salahnya anda menyapa mereka, *“ayok ke masjid”*.
Kalaulah ajakan anda belum direspon, tolong jangan terbersit di hati bahwa anda orang yang paling taat, lalu beranggapan mereka termasuk orang yang nanti dimurkai Allah.
Persoalannya belum tentu akhir hidup mereka, sebagaimana belum tentunya akhir hidup kita. Dapat saja terjadi orang yang anda liwati ketika kemesjid itu sekarang tidak shalat, menjelang akhir hidupnya menjadi ahli ibadah dan taubatnya diterima Allah, justru merekalah menjadi ahli surga. Sebaliknya belum karuan nasib anda sendiri, apalagi jika di dalam hati sering terbesit merasa “paling”.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini kepada sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menangkal sifat ujub atau kagum pada amalan sendiri, atau merasa paling.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَف]
_"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku sendiri”_
Adab seorang beriman *“agar tidak merasa paling”* rujukan antara lain seperti ayat2 dan hadist dipetik di atas.
Adapun dalam pergaulan di masyarakat dimana masyarakat tidak menyenangi orang yang selalu merasa *paling*. Agar menghindari *rasa paling dari diri kita* yaitu: *Merasa paling benar, paling hebat, atau paling penting*, bersikaplah:
1. Anggap setiap orang tahu sesuatu yang belum awak tahu. Ini membuat diri ini lebih mudah mendengar daripada langsung menyimpulkan.
2. Biasakan bertanya sebelum berpendapat. Misalnya, "Apa yang membuatmu berpikir begitu?" Ini membantu memahami sudut pandang orang lain.
3. Sadari bahwa awak bisa saja salah. Mengubah pendapat ketika mendapat bukti baru adalah kekuatan, bukan kelemahan.
4. Pisahkan harga diri dari pendapat. Jika sebuah ide dikritik, itu tidak berarti dirimu ikut direndahkan.
5. Berlatih mengakui kesalahan. Kalimat sederhana seperti, "Ternyata aku keliru," dapat melatih kerendahan hati.
6. Hargai kontribusi orang lain. Saat berhasil dalam sesuatu, ingat siapa saja yang ikut membantu.
7. Lakukan refleksi secara rutin. Coba tanyakan pada diri sendiri: "Apakah aku ingin memahami, atau hanya ingin menang?"
Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri atau menganggap diri tidak mampu. Justru, itu adalah kemampuan untuk melihat diri sendiri secara realistis—mengakui kelebihan tanpa merasa lebih tinggi dari orang lain, dan mengakui kekurangan tanpa merasa rendah.
Yaa Allah jadikanlah kami semua menjadi hamba Allah yang taqwa, namun tidak merasa paling taqwa, menjadi hamba Allah yang taat ibadah, tetapi tak merasa paling taat beribadah. Ya Allah hindarkan kami dari merasa diri paling pandai, paling benar, paling suci dan segala macam paling.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 13 Muharram 1448 H.
28 Juni 2026
Subscribe to:
Posts (Atom)