Thursday, 21 May 2026

QURBAN PERTAMA

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.419.07.05-2026 Beberapa hari lagi, kita semua ber hari raya Idul Adha, di tandai dengan memotong hewan qurban setelah melaksanakan shalat sunah *Idul Adha*. Ibadah qurban, salah satu ibadah tertua di dunia ini. Ritual Qurban yang pertama kali dilakukan oleh manusia dilaksanakan oleh dua orang anak Nabi Adam yaitu *Habil dan Qabil*. Dua bersaudara ini disuruh berqurban oleh bapak mereka, Nabi Adam, sebagai media untuk Nabi Adam memutuskan sengketa calon istri. Siti Hawa, melahirkan selalu kembar *“fraternal”* atau *“dizigotik”* yaitu seorang bayi lelaki dan seorang bayi perempuan disatu kali kelahiran, kedua bayi itu disebut saudara sekandung, hanya sekali yang tunggal, yaitu saat melahirkan *Nabi Syits*, yang lahir menggantikan Habil karena dibunuh saudaranya sendiri, Qabil. Ketentuan di zaman Nabi Adam, karena belum ada manusia lain, maka anak2 mereka dinikahkan silang sesaudara, dengan aturan anak2 kembar sekandung tidak boleh menikah. *Qabil* lahir bersama dengan saudari satu kandung yang bernama *Iqlima*. Konon, *Iqlima* terlahir sebagai wanita berparas *cantik rupawan*. Sementara Habil lahir dengan saudari kandung bernama *Labuda*, tidak secantik *Iqlima*. Sesuai aturan yang berlaku, maka *Qabil harus menikah dengan Labuda*. *Sementara Habil menikahi Iqlima*. Qabil tidak terima. Ia hanya mau menikahi saudari satu kandungnya, Iqlima, yang memiliki paras cantik rupawan. Menyikapi sengketa itu, Nabi Adam as mengadakan semacam kompetisi kepada kedua putranya itu dengan memerintahkan untuk berqurban. Barang siapa yang qurbannya diterima oleh Allah swt, dia lah yang lebih berhak menikah dengan Iqlima. Ketika itu sebagai tanda qurban diterima, apabila material yang diqurbankan disambar oleh api yang turun dari langit. Al-hasil ritual qurbanpun dilaksanakan; Qabil yang seorang petani berqurban dengan hasil kebun miliknya. Sementara *Habil yang hidup sebagai peternak berqurban dengan seekor kambing terbaik yang ia miliki*. Qurban Habil diterima Allah swt, sedangkan *qurban Qabil tertolak lantaran Qabil berqurban dengan hasil tanaman yang buruk*. Di kisah ini diketahui bahwa material qurban ketika itu belum ditetapkan berupa hewan, agaknya sesuai dengan kepemilikan hasil usaha masing2. Dari persembahan qurban yang dikeluarkan masing-masing Qabil dan Habil, dapat dinilai, mana yang benar-benar ikhlas, dan mana yang tidak ikhlas. Ditolaknya qurban Qabil mengindikasikan bahwa Qabil bukanlah seorang yang ikhlas dan bertaqwa serta taat kepada Allah swt. Usai qurbannya tertolak sempat terjadi dialog Habil dan Qabil, diabadikan di surat Al Ma’idah ayat 27: Qabil berkata: لَأَقۡتُلَنَّكَۖ إِ = sungguh aku akan membunuhmu. Habil menjawab: إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ = sesungguhnya Allah hanya menerima qurban dari orang yang taqwa. Peristiwa perebutan *Iqlima*, dilanjutkan dengan melaksanakan *qurban*, sesuai perintah Nabi Adam, untuk menguji siapakah yang paling ikhlas. Berkesudahan dengan Pembunuhan manusia pertama di muka bumi ini dilakukan oleh QABIL membunuh saudaranya sendiri, HABIL. Dari peristiwa ini dapat kiranya dipetik penyebab terjadinya kemungkaran a.l.: 1. Kecenderungan memperturutkan hawa nafsu, kendatipun harus memaksakan kehendak, walaupun dengan tidak menta’ati ketentuan yang berlaku. Berlaku ketentuan di era nabi Adam, *Pernikahan Silang*, Qabil tidak setuju, karena Iqlima lebih cantik dari pada Labuda. 2. Faktor Iri hati, disebabkan Qurban Habil diterima oleh Allah, sedangkan Qabil, qurbannya tertolak. Qabil iri hati karena Habil bakal dapat istri lebih cantik. 3. Ternyata memang manusia sejak semula, terkelompok sekurangnya dua golongan; kelompok *fujuraha* dan kelompok *taqwaha* (lihat surat Asy-Syams ayat 8) perwujudan dalam kasus ini yaitu: a. Orang yang sangat sayang kepada hartanya, kalaulah untuk keperluan ibadah dipilihnya yang paling tidak dapat dimanfaatkan lagi. Qabil memilih sesuatu buat qurban, dari hasil pertanian yang sudah tak layak dimakan, bahkan dirinya sendiripun tak akan mau memakan hasil peratanian yang dibuatnya material qurban itu. b. Orang yang bila untuk kepentingan ibadah, rela menggunakan miliknya yang terbaik, contoh si Habil berqurban dengan hewan ternaknya yang terbaik. 4. Ikhlas adalah kunci dari diterimanya semua ibadah oleh Allah, termasuk ibadah qurban. Salah satu tanda ikhlas adalah mampu memberikan harta kita yang paling terbaik, bukan sebaliknya memilihkan yang tidak dapat dipakai lagi oleh kita barulah digunakan buat sedekah misalnya. 5. Guna memperturutkan hawa nafsu dibalut iri dan dengki, seseorang tega walau sampai harus, menjegal sahabat seiring, menggunting dalam lipatan, contoh si Qabil tega membunuh saudaranya sendiri Habil. Ritual Qurban yang pertama kali di atas bumi ini dilaksanakan putra nabi Adam, Habil dan Qabil, dialanjutkan dengan ritual Qurban yang kedua; ialah qurban Nabi Ibrahim mengorbankan putranya Nabi Ismail, kemudian diganti Allah dengan seekor domba. Kini kita semua akan melaksanakan ritual qurban (tak salah,…. mungkin jika disebut ritual qurban yang ke tiga), sebab nabi Ibrahim diperintah Allah menyembelih anaknya nabi Isma’il, yang kemudian diganti Allah dengan domba. Sedangkan kita sekarang meneruskan contoh nabi Ibrahim dengan menyembelih hewan ternak, dicontohkan pula oleh Rasulullah Muhammad ﷺ dilaksanakan sesudah Shalat Idul Adha. Ritual qurban pertama di atas dunia ini, dilaksanakan oleh putra nabi Adam: 1. Atas perintah nabi Adam, untuk menentukan pilihan istri, 2. Sekaligus juga untuk membuktikan ketaqwaan kepada Allah. 3. Material yang diqurbankan sesuai apa hasil usaha yang dimiliki masing2. Ritual qurban kedua di dunia ini oleh nabi Ibrahim: 1. Atas pertintah Allah kepada Nabi Ibrahim melalui mimpi. 2. Juga merupakan ujian Allah untuk membuktikan ketaqwaan nabi Ibrahim dan nabi Ismail menjalankan perintah Allah. 3. Material yang diqurbankan adalah anak semata wayang yang sudah ditunggu kelahirannya sampai nabi Ibrahim berusia 86 tahun. Bagaimana perintah Allah dan keikhlasan kedua nabi Allah ini, Ibrahim dan Ismail terlukis indah dalam surat Ash-Shaffat 102 berikut: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٠٢ _”Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Isma’il) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”_ Sedangkan berqurban diperintahkan untuk kita sekarang ini: *Pertama*: Atas perintah Allah dalam surat Al-Kautsar إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ _”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”._ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ _”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”._ *Kedua:* Juga merupakan ujian Allah buat kita, akan ketaqwaan kita, sudah sanggupkah diri masing2 melaksanakan perintah Allah, walau hanya diujung baris sebuah ayat. *Ketiga:* Wujud material yang diqurbankan adalah hewan ternak, tidak banyak diantara kita memiliki peternakan, namun syarat ber-qurban di Idul Adha adalah tetap berupa hewan ternak berupa Kambing, Sapi, Onta, bukan berupa ayam, bebek dan angsa. Untuk pengadaan hewan yang disyaratkan itu, di menjelang musim ber-qurban, harganya meningkat, sudah sanggupkan awak merogoh kocek lebih dalam, membuktikan ketaqwaan kepada Allah. Yaa Allah jadikanlah kami hamba2-Mu yang mentaati apapun perintahMu termasuk ritual menyembelih hewan Qurban. Yaa Allah kuatkanlah kami dalam ber-qurban dalam segala bentuk dalam rangka pengabdian kepada Allah yang telah memberikan kepada kami karunia dan nikmat yang tiada terhingga. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 4 DzulHijjah 1447 H. 21 Mei 2026

Sunday, 17 May 2026

JABARAN ALHAMDULILLAH

Diolah: M. Syarif Arbi No: 1.418.06.05-2026 Kata ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ - “Alhamdulillah” , adalah ucapan yang lazimnya digunakan orang beragama Islam, namun kini saudara2 kita sebangsa, walau tidak beragama Islampun sudah banyak menggunakan kata Alhamdulillah di berbagai kesempatan. Dengan demikian ungkapan Alhamdulillah sudah “menasional” untuk bangsa Indonesia. Kata Alhamdulillah disebut “Tahmid” adalah salah satu dari 5 dzikir lisan yang lainnya yaitu: “Tasbih” = Subhanallah, “Takbir” = Allahu Akbar, “Tahlil” = La ilaha illallah dan “Istighfar” = Astaghfirullah. Orang beragama Islam senantiasa berdzikir Alhamdulillah sebagai perwujudan berterimakasih kepada Allah karena menyadari bahwa seluruh kenikmatan datang dari Allah: وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ -“Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian, apabila kamu ditimpa kemudaratan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan”-. (An-Nahl 53) Sebagai tanda seseorang bersyukur atas nikmat Allah, tidak merasa keberhasilan dicapai karena kemampuan diri sendiri. Menyadari bahwa rezeki, kesehatan, ilmu, keluarga, dan kesempatan adalah pemberian Allah. Selanjutnya selalu dalam hati diikuti lisannya mengucapkan Alhamdulillah. Akan tetapi wujud berterimakasih kepada Allah itu bukan hanya lewat ucapan “Alhamdulillah”, berdo’a dan berdzikir, tetapi juga terlihat dari sikap dan cara hidupnya yaitu: *Pertama; Menggunakan nikmat untuk kebaikan.* Ilmu dipakai membantu orang, harta dipakai bersedekah, tenaga dipakai untuk hal bermanfaat, bukan untuk maksiat. Tuntunan Allah dan Rasul-Nya dalam memanfaatkan kenikmatan: *1. Perintah Bersyukur dengan Amal:* Allah SWT berfirman, dalam surat Saba’: 13. Syukur tidak cukup di lisan, melainkan dibuktikan dengan tindakan. ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ. ……………………………” -“……………Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.- (Surat-Saba’-ayat-13) *2. Menjalankan Ketaatan:* Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kenikmatan (seperti kesehatan dan waktu luang) adalah amanah yang harus digunakan untuk amal shaleh. Semakin banyak nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk beribadah. *3. Berbagi Manfaat kepada Sesama:* Sabda Rasulullah ﷺ, خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ -"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." - (HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan ad-Daruqutni) Kenikmatan seperti harta atau ilmu harus disalurkan untuk membantu yang membutuhkan. *4. Larangan Bermaksiat:* Allah SWT memperingatkan agar nikmat tidak disalahgunakan untuk hal yang merugikan, وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ -“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”-. (Al-Baqarah-ayat-195) *Kedua; Menjaga ibadah* Sebagai bukti seseorang bersyukur akan menjadi lebih taat, senantiasa menjaga shalat, sangat berhati-hati ketika berucap dan berbuat karena takut menjadi dosa, terus menerus berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah. *Ketiga; Tidak banyak mengeluh* Bukan berarti hidupnya selalu mudah, tetapi ia berusaha melihat kebaikan yang masih dimiliki dan tetap sabar saat diuji. *Keempat; Dermawan*. Orang yang bersyukur biasanya tidak pelit. Ia sadar nikmat berupa harta yang dimiliki juga ada hak orang lain di dalamnya. وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ ۝١٩ -“Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta”-. (Adz-Dzaariyat Ayat 19) *Kelima* Hatinya merasa cukup (qana’ah) Tetap punya usaha dan cita-cita, tetapi tidak terus-menerus iri pada milik orang lain. Nikmat membuatnya makin rendah hati, makin bersyukur. Semakin diberi kelebihan, semakin tidak sombong. وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ -“ (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras . ”- (surat Ibrahim ayat 7) Yaa Allah jadikanlah kami termasuk orang yang pandai bersyukur, baik saat nikmat terasa besar maupun kecil. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 1 DzulHijjah 1447 H. 17 Mei 2026

Monday, 11 May 2026

MEMILIH JODOH

Disajikan: M. Syarif Arbi No: 1.416.04.05-2026 Populer kata2 bijak tetua kami dulu: “Maut, tanah terbaris dan jodoh” adalah rahasia Allah, adalah taqdir dari Allah, dengan pengertian bahwa tak seorangpun dapat memperkirakannya. Maut, ialah manakala roh beripasah dengan jasad, tegasnya saat kematian. Hanya saja penyebab kematianlah yang berbeda. Umumnya orang mati dikarenakan sakit, walau tak jarang orang meninggal tanpa sakit, tidur tak bangun lagi. Ada pula yang orang mati kerena kecelakaan lalu lintas, transportasi baik darat maupun udara. Ada orang mati ketika sedang beramal baik, ada pula yang mati sedang bermaksiat. Ada pula yang mati karena bunuh diri, mati terbunuh, atau terpidana hukuman mati. Jika kematian-kematian itu sudah terjadi, tiada lain kata yang dapat diucapkan, bahwa itu semua terjadi adalah sudah taqdir Allah, insan beriman mengimani bahwa tidak suatupun yang terjadi tanpa idzin Allah. مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; (surat-at-taghabun-ayat-11). Surat Al-Hadid Ayat 22 مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Adapun “tanah terbaris” disebutkan pada ungkapan diatas, ialah tempat dimana diri di kuburkan, bisa jadi di tengah samudera, boleh jadi jauh dari tanah kelahiran, tidak sedikit pula orang yang tak tau dimana jasadnya, kerena kematian kecelakaan pesawat terbang yang tidak ditemukan. Taqdir kematian, sepertinya setiap diri tidak dapat memilih, ingin mati secara apa, termasuk pilihan mati “bunuh diri”, banyak kasus rencana bunuh dirinya gagal, lantaran kepergok orang lain. Minum racun, sempat ditolong dilarikan kerumah sakit. Taqdir kematian, kelahiran, jenis kelamin ketika lahir merupakan Taqdir Mubram; yaitu takdir yang sudah pasti dan tidak dapat diubah oleh manusia. Adapun taqdir perkara jodoh, bila sebelum terlaksana, masih ada kemungkinan untuk “memilih taqdir”, karena masalah jodoh terkelompok Taqdir Muallaq, yaitu taqdir yang masih bisa berubah dengan usaha, dapat berubah dengan doa, dan masih berpeluang berubah melalui ikhtiar manusia atas izin Allah. Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ "...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri... (Surat Ar-Ra’ad 11) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (Surat An-Najm Ayat 39) Sementara itu terdapat hadist: لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ "Tidak ada sesuatu yang dapat menolak Qadla (takdir) kecuali do’a." (HR. At-Tirmidzi). Do’a adalah salah satu sebab yang memiliki pengaruh terhadap akibatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: لَا يَرُدُّ القَضَاءَ إلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي العُمُرِ إلَّا البِرُّ “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan.” ……. Hadist diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Qadar, bab “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa” (no. 2139), dari hadis Salman radhiyallahu ‘anhu. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Sahihah (no. 154) dan dalam Sahih Al-Jami’ (no. 7687). Atas dasar referensi Al-Qur’an dan hadist diatas bahwa tentang jodoh, setiap orang dapat memilih. Idealnya pertimbangannya bukan hanya “cocok” atau “tidak cocok” akan tetapi mempertimbangkan dari berbagai aspek dari calon yang akan dijadikan pasangan hidup. Pertimbangan yang detail ini tentulah dimungkinkan kalau mereka sebelum memutuskan menjalin kehidupan berumah tangga, mereka sudah saling kenal yang relative lama. Dalam hal sepasang calon suami istri ini sebelumnya sudah saling menjajagi, maka pertimbangannya dapat dilakukan dari aspek: Agama dan ketaatan terhadap agama, Pendidikan, Silsilah keluarga orang baik2. Nilai hidup dan prinsip dasar, Karakter se-hari2, Cara berkomunikasi, kematangan emosional , Apakah berpotensi untuk KDRT, Kecocokan tujuan masa depan, Sikap terhadap uang/harta/materi, lingkungan dan relasi sosial, rasa aman dan nyaman, daya tahan terhadap masalah. Yang juga penting: jangan memilih hanya karena takut tak akan dapat pasangan hidup, miris karena usia makin banyak, kesal karena keluarga nanya terus, atau sudah terlalu lama jomblo/perawan. Tidak mustahil di era sudah berabad menjauh dari dzaman “Siti Nurbaya” ini, ada saja terjadi orang yang ketemu jodoh dadakan (seperti dahu bulat), namun dapat saja rumah tangganya “SAMAWA”, sebaliknya pemilihan jodoh setelah dengan pertimbangan yang matang, melalui pendekatan pranikah yang panjang, namun ada juga kasus suatu rumah tangga yang keadaannya tetap kurang mengenakkan. Kembali ku teringat beberapa istilah orang tua2 dikampungku dulu melukiskan model2 keluarga yang tidak bahagia, 3 diantaranya yaitu: Satu; “Abu di atas tunggul”, melambangkan suatu keluarga yang kurang bahagia lantaran disebabkan tidak akurnya suami istri, sering berselisih paham hanya karena soal2 yang remeh temeh, soal kecil, sehingga rezeki mereka seret. Dapat rezeki banyak pun tidak berkah apa lagi sedikit. Perolehan rezeki langsung hilang, habis ndak tentu juntrungannya “laksana Abu di taroh di atas tunggul” langsung terbang ditiup angin atau hilang disapu hujan. Dua; “Lalang Kebakaran”. Istilah ini melambangkan keluarga yang isinya; suami sering marahi istri, atau sebaliknya istri sering marahi suami. Isi rumah tangga mereka marah – marahan melulu. Keadaan ini kalau mereka dikerunia Allah keturunan, dalam banyak kasus (walau tidak semua), anak2 keturunannya jika membentuk rumah tangga nanti akan menurun, Sukanya ngomel, ngedumel, marah2 kepada pasangannya. Istilah “Lalang kebakaran” buat melambangkan keadaan ini, karena “Lalang” bahasa kampungku; “Ilalang” bahasa Indonesia, bila kebakaran selain apinya berkobar, juga terdengar letupan2 bunyi yang berenteng, begitu “Lalang” itu di lalap api. Tiga; “Asuk di ketitian”. Pembaca, di hutan Kalimantan, sebelum jadi kebun Kelapa sawit seperti belakangan ini, dalam hutan2 kadang ditemukan kali kecil memisahkan dua tanah daratan. Untuk menghubungkan dua daratan itu penduduk yang sering melewati hutan itu, merebahkan pohon atau dahan pohon untuk dapat menyeberang, alat nyebrang ini disebut dengan “Ketitian”. Adapun “Asuk”, bahasa setempat untuk menyebut “Anjing”. Naaah jikalau ada dua ekor Anjing, yang ingin nyebrang berada di ujung ketitian yang berlawanan, mereka tidak mau saling mengalah, masing2 maju akhirnya ketemu di tengah2 ketitian. Yang terjadi masing2 sebesaran mengluarkan salakan/gonggongan. Rumah tangga yang dilambangkan bagaikan “Asuk di ketitian” ini si suami dan istri saling tak mau mengalah dalam segala hal, isinya rebut terus. Pembaca, kalaulah tulisanku ini di baca sobat2 yang sudah sepuh yang kini melihat anak2 merajut keluarga mereka masing2, kita berdo’a semoga Allah menjadikan keluarga anak2 dan keluarga cucu2 kita bahagia; Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah. Jikalah yang membaca tulisanku ini keluarga pemula, baru menyusun hidup baru, hati2lah membina rumah tangga setidaknya jangan sampai tertular “Abu diatas tunggul”, “Lalang Kebakaran” maupun “Asuk di ketitian”. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 23 DzulKaidah 1447 H. 11 Mei 2026

Thursday, 7 May 2026

RAKET ATOK

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.415.03.05-2026 Setiap orang pasti pernah, bahkan sering mengalami berada di kumpulan orang2 yang tidak saling mengenal. Misalnya ketika bepergian; mulai di ruang tunggu Bandara, di dalam pesawat terbang, naik kereta api dalam kota atau jarak jauh, naik bis umum, perjalanan dengan kapal laut antar pulau, sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit. Ada saja suatu keadaan, seseorang yang sangat suka bercerita, suka ngomong, tak jauh dari tempat duduk kita. Kadang si pengomong tak pilih partner ngomong, dapat saja tetangganya duduk yang baru saja ketemuan di moment itu di ceritainya, diomonginya, tak jarang tanpa orang bertanya. Kebanyakan orang sangat bising bila di suasana seperti ini ada yang berbicara atau ngomong terlalu nyaring, karena pada umumnya orang duduk dalam perjalanan atau duduk di ruang tunggu, ingin suasana tenang, tidak berisik, bahkan ada sebagian orang di keadaan seperti ini memilih untuk tidur2an, sambil menyimak apa ada pengumuman penting, atau menyibukkan diri membaca (kini dapat dari HP). Adab standar ketika berada di ruang public seperti diungkap diatas, adalah: 1. Duduk dengan sopan; tidak selonjoran berlebihan atau tidak mengambil lebih dari satu kursi, memberikan prioritas kursi kepada lansia, ibu hamil atau orang sakit. 2. Menjaga suara; Jangan menyetel bunyi2an dari HP sampai didengar orang lain. Belum tentu bunyi2an yang menurut kita enak didengar, enak juga buat orang lain. Jika bepergian dengan pendamping, atau rombongan, tolong jangan berbicara dengan pendamping atau teman serombongan anda dengan suara yang keras, hal itu mengganggu kenyamanan orang lain. Gunakan headset jika anda menonton video atau mendengarkan audio. 3. Memelihara kebersihan; Tidak membuang sampah sembarangan, merapikan kembali area tempat duduk, ketika anda meninggalkannya. 4. Hormati privasi orang lain; Tidak mengintip layar HP tetangga duduk atau nguping percakapan orang lain. Tidak memotret sembarangan. 5. Bijak menggunakan HP; Pilih mode senyap atau getar, sehingga jika ada panggilan masuk didengar orang lain, tidak sampai mengundang perhatian orang lain, beritahukan ke penelpon “saya sedang berada di…….., nanti kita bicarakan lagi”. Bila sangat perlu untuk melakukan panggilan, usahakan mencari lokasi yang agak jauh dari kumpulan orang, itupun tak usah bersuara keras dan persingkat pembicaraan. 6. Patuhi aturan tempat; Tidak menyerobot antrian atau barisan. Bagi yang masih merokok, cari tempat yang disediakan, kalau tidak ada jangan sampai merokok. 7. Sikap dan penampilan; Berpakaian yang sopan, rapi. Sabar dan ramah (tidak berlebihan), tidak emosian manakala terganggu orang lain, apalagi tak sengaja, pilih menghindar. Adab di tempat umum; Menghormati sesama, tidak membuat orang lain merasa terganggu, sejalan dengan akhlak seorang yang diajarkan Al-Qur’an dan hadits. Surat An-Nisa Ayat 86: وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”. Hadits tidak mengganggu orang lain: عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Seorang muslim adalah orang lain (muslim lainnya) selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41) Dalam praktek, dapat saja saudara kita, atau dapat saja kita sendiri justru terlupa ketika berada di tempat umum seperti dicontohkan di atas, tak sadar ngobrol, bercerita dengan teman disamping tempat duduk kita, sehingga orang lain terganggu, sementara orang lain meskipun kebisingan, tapi tidak enak untuk mengingatkan. Di keluargaku di kampung halamanku ada resep ampuh untuk menghentikan kalau ada diantara rombongan keluarga kami seperjalanan, ada yang bercerita dengan orang lain panjang lebar tak putus2. Resepnya adalah tanyakan saja: “RAKET apakah tak lupa dibawa”. Langsung anggota kami yang sedang ngobrol terus menerus tersebut pelan2 menyudahi obrolannya, sambil senyum tipis. Rahasia RESEP tersebut adalah: Seseorang tetangga rumah kami dikampung dulu, sangat sering membanggakan dirinya selalu paling hebat, pokoknya ketika masih mudanya dianya selalu menjuarai segala pertandingan. Sampai2 beliau berbicara soal RAKET, dia punya RAKET paling hebat, dia katakana: “Raket Atok dulu Cap Kepala, kalau dipukulkan senarnya berbunyi ding-ding-ding”. Disimpulkan bahwa itu Datuk adalah sangat “pembual”, jadi jika anggota keluarga kami dalam rombongan, bercerita berkepanjangan, untuk mengingatkannya tanyakanlah kepadanya tentang “RAKET”, langsung dia ingat cerita “Raket Atok”, cerita berbual-bual. Agar salah satu keluarga kami ini tidak hanyut dalam bualan yang dapat mengganggu orang lain. Belum lama ini, kami duduk di ruang tunggu suatu RUMKIT seluas k/l : 6 x 8 mater. Seorang pasien bercerita dengan suara nyaring terdengar jelas dari sudut ke sudut ruangan. Topik ceritanya sih sesuai dengan keadaan, yaitu tentang penyakit dirinya, berobat dengan biaya yang aduhai mahalnya sampai ke mana2 disebutkan negeri luar sana. Tak henti2nya dia bercerita, teman duduk disampingnya yang agaknya baru saja kenal itu, hanya menyela pertanyaan sekedarnya, sekedar basa basi menghormatinya. Kami pasien lain banyak yang gelisah sambil sesekali menoleh ke arah sumber suara. Ku teringat, kalaulah dia keluarga ku akan kubisikkan pertanyaan “dimana RAKET ATOK di Simpan?” Semoga kita semua dapat menerapkan adab2 ketika di ruang public, supaya tidak membuat orang lain berdosa, lantaran ulah diri kita, dalam hatinya merasa risau terganggu, lalu mencela kita. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 19 DzulKaidah 1447 H. 7 Mei 2026

Monday, 4 May 2026

KETIAK ULAR

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.414.02.05-2026 Begitu banyak jenis Ular yang diciptakan Allah, di Indonesia saja tidak kurang dari 350 jenis, diantaranya 77 jenis berbisa. Dikabarkan di dunia jenis ular lebih dari 3.900 spesies, sekitar 600 an spesies tergolong berbisa. Bisa ular yang sangat mematikan itu justru menjadi sangat bernilai di dunia medis. Para ilmuwan sudah lama meneliti protein dan enzim dalam racun tersebut untuk diubah menjadi obat-obatan penyembuh beberapa jenis penyakit, tentu setelah melalui proses tertentu. Itulah mungkin sebabnya para medis di bidang pharmasi menjadi “Gelas dan Ular” sebagai pilihan lambang. Akan kemanfaatan ciptaan Allah berupa ular, sekalipun beracun mematikan, justru dapat dijadikan obat, maka benarlah firman Allah bahwa apapun yng diciptakan Allah tidak ada yang tidak berguna, tidak ada yang sia-sia. الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka”. (Ali-Imran 191) Diruang tulis terbatas ini, tidak melanjutkan tentang masalah “bisa” ular, tetapi sedikit menyinggung tentang anatomi ular dalam arti kiasan. Ada suatu kiasan untuk orang2 yang sangat menjelimet, sangat2 berlebihan teliti, condong rebet, cerewet. Orang itu diberi julukan “dapat melihat ketiak Ular”. Orang lain tidak ada satupun yang dapat melihat ketiak Ular, karena memang Ular tidak ada ketiak, lantaran tak punya lengan. Penyandang julukan “dapat melihat ketiak Ular” ini, jika mempertimbangkan untuk memutuskan sesuatu demikian telitinya diatas rata-rata. Pengambilan keputusan cenderung lama, lantaran banyak kajian dan pertimbangan, ekstrimnya kajiannya seringkali melihat dari sudut negative, tidak berpikir positif. Di kampungku ada pepatah “Pilih2 Tebu terpilih ke Tebero”. “Tebero”; mirip tebu tumbuh di tepian sungai berawa, tetapi sama sekali tidak manis kerena memang bukan Tebu. Terdapat 7 (tujuh langkah) dapat dilakukan ketika akan mengambil keputusan menurut ajaran Islam (berdasarkan Al-Qur’an dan hadits). Prinsip dasarnya pengambilan keputusan bukan sekedar memilih yang paling cepat atau paling menguntungkan, tapi yang paling benar menurut ketentuan Allah dan diyakini akan diridhai Allah. PERTAMA: Luruskan niat dengan Ikhlas. Segala keputusan dimulai dari niat. Pastikan tujuan diambilnya keputusan bukan sekedar untuk duniawi, tapi untuk kebaikan dan ridha Allah. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an Al-Bayyinah ayat 5: وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. Berpegang ayat diatas maka sebelum memutuskan sesuatu, hendaklah tanya diri sendiri---- ini karena Allah atau karena ego? KEDUA: Lengkapi data dan himpun informasi. Jangan mengambil keputusan dalam keadaan tidak tahu, harus lengkapi data dan himpun informasi tentang masalah yang akan diputuskan. Allah memberikan petunjuk dalam Al-Qur’an (QS. Al-Isra’: 36): وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ۝٣٦ Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. Oleh karena itu maka sebelum memutuskan sesuatu hendaklah: Cari fakta, Tanyakan pada yang ahli dan Hindari keputusan emosional. KETIGA: Mintakan pertimbangan orang kepercayaan. Diskusikan dengan orang yang dipercaya dan berilmu. Orang kepercayaan misalnya suami atau istri, atau orang yang dekat dengan diri tempat kepercayaan curhat atau meminta pertimbangan. Dalam hal ini Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 159) فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. Dalam hal diskusi meminta pertimbangan, pilihlah orang yang: Bijak, Jujur dan paling penting dianya “tidak hanya membenarkan diri kita”, atau asal kita senang. KEEMPAT: Shalat Istikharah Meminta petunjuk langsung kepada Allah, diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits (HR. Imam Bukhari) Caranya: 1. Shalat 2 rakaat 2. Membaca doa istikharah 3. Perhatikan kecenderungan hati & kemudahan setelahnya. Petunjuk Allah tidak selamanya berupa mimpi tetapi lebih sering berupa kemantapan atau justru rasa berat. KELIMA: Menimbang maslahat & mudarat. Keputusan yang akan dimabil dinilai dari dampaknya, dengan prinsip: • Pilih yang manfaatnya lebih besar • Hindari yang mudaratnya dominan Ini sejalan dengan kaidah fiqh: “Menolak kerusakan didahulukan daripada mengambil manfaat” دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ Sehubungan dengan itu dapat saja dibuatkan matriks, dengan memberikan nilai dengan skor angka bagi alternatif2 yang akan dipilih buat keputusan. Misal dalam memilih pasangan hidup; dapat di buat diskripsi: 1. Kecantikan., 2. Asal keturunan., 3. Agama., 4. Pendidikan., 5. Usia., . dll. Lalu pasangan hidup yang akan dipilih misalnya si A si B dan si C. Nilailah mereka masing2, berapa skor tiap diskripsi yang ditentukan dengan angka. Selanjutnya pilih kumulatif skor angka yang tertinggi. KEENAM: Mengambil keputusan tidak tergesa-gesa, tapi tidak lamban. Keputusan yang terburu-buru sering salah. Hadits: “Ketergesaan itu dari setan…” (HR. Abu Dawud) التَّأَنِّي مِنَ اللهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ "Sikap tenang (teliti) itu dari Allah, sedangkan ketergesaan (terburu-buru) itu dari setan” Kecuali dalam kebaikan—itu dianjurkan untuk disegerakan. KETUJUH: Tawakal setelah keputusan diambil. Setelah semua ikhtiar dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah. Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 159) seperti dikutif di langkah KETIGA: “…kemudian apabila kamu telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah…” Dengan focus pehatian: • Jangan overthinking setelah memilih • Terima hasil dengan lapang dada. Pengambilan keputusan selalu dihadapi setiap orang, antara memilih salah satu dari beberapa alternatif, misalnya antara lain dapat terjadi: memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal, memilih membeli sesuatu, memilih jodoh pasangan hidup, memutuskan bepergian, ORTU memilihkan Pendidikan anak2 mereka, Seorang remaja memilih sekolah untuk menundukung cita2nya., dll. Semoga Allah memberikan petunjuk buat pembaca sekalian memutuskan sesuatu, dengan tidak terlalu menjelimet sampai dapat julukan “mengetahui ketiak Ular”, jika telah diputuskan semoga Allah memeliharakan keptusan itu untuk kebaikan dunia dan akhirat. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 17 DzulKaidah 1447 H. 5 Mei 2026

Saturday, 2 May 2026

PENENANG HATI

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.413.01.05-2026 Hati yang tenang bukan hanya sekedar meredam emosi sejenak, seharusnya menjadikan batin ini terhubung kuat dengan Allah, sehingga apapun yang dilakukan, diharapkan dalam kendali Allah tidak terdorong oleh hawa nafsu, atau kepuasan sesaat, yang berkesudahan dengan penyesalan. Upaya untuk menjadikan “Hati Tenang”, dapat dilakukan dengan 3 (tiga) langkah yaitu: PERTAMA: Dzikir (Mengingat Allah) Dzikir bisa berupa tasbih, tahmid, takbir, atau menyebut nama Allah dengan penuh kesadaran. Termasuk membaca Al-Qur’an. Dengan ber dzikir “hati tertambat” kepada Allah sehingga tidak liar ke mana-mana. الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram" (QS. Ar-Ra’d: 28). KEDUA: Sabar dan Shalat serta Curhat kepada Allah. Shalat bukan hanya kewajiban, tapi juga ruang “bertemu” dengan Allah. Dalam shalat, seseorang mau tak mau, kendatipun umpamanya tidak khusyuk, akan berhenti dari hiruk pikuk lingkungan sekitarnya dan kembali fokus. Bukan mustahil ketika hati sedang kalut, waktu shalat, kekalutan tersebut masuk di sela2 pikiran dalam shalat, tidak masalah, paling tidak ada sebagian pikiran terhubung kepada Allah. Usai shalat dilanjutkan dengan curhat sepuasnya kepada Allah, dengan jujur dan terbuka, seraya minta pertolongan menyelesaikan masalah yang sedang dialami, atau akan dihadapi. Di kampungku ada seulas pantun: Pisang Nipah condong ke barat. Masak sebiji buahnya di ujung. Hati gelisah bawalah Shalat. Disitu tempat iman bergantung. Al-Qur’an memberikan arahan bahwa dalam hal hati gelisah mempunyai problem dalam hidup mintalah bantuan pertolongan Allah untuk mengatasinya. Sebaik-baik cara untuk meminta pertolongan Allah adalah melalui shalat, dengan syarat sabar. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْ Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al- Baqarah 153) KETIGA: Tawakal (Berserah diri) Dalam tawakal, seseorang tetap berusaha, tapi menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ini mengurangi kecemasan, karena tidak semua hal harus dikendalikan sendiri. Tanamkan keyakinan bahwa Allah memberikan terbaik buat hamba-Nya. Allah akan memberikan sesuai dengan apa yang kita perlukan, tidak selalu memberikan apa yang kita minta. Termasuklah diantaranya ketika memperoleh rezeki, mendapatkan jodoh pasangan hidup, menderita penyakit. Andaikanpun sesudah dilakukan upaya Pertama dan Kedua, masih saja apa yang menjadi pengalut hati pengganggu ketenangan jiwa, berupa sesuatu yang tidak diinginkan masih juga terjadi. Maka orang yang beriman akan tetap tegar mempertahankan imannya, tawakal berserah diri kepada Allah berpedoman kepada apa yang diingatkan Allah dalam surat Al-Baqarah 216. وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ ۝٢١٦ …” “……… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. Yaa Allah jadikanlah kami termasuk hamba2-Mu yang berhati tenang berpikiran jernih, berdada lapang, terhindar dari emosi yang merugikan diri kami sendiri. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 14 DzulKaidah 1447 H. 2 Mei 2026

Tuesday, 21 April 2026

JASPROD

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.412.05.04-2026 Semasa belum pensiun dulu, di tempat kerjaanku saban tahun ada tambahan penghasilan yang disebut JASPROD singkatan dari “Jasa Produksi”. Kadang dibayarkan tengah tahun, kebanyakan dimusim anak2 akan mulai masuk sekolah, management institusi tempat kami kerja rupanya maklum bahwa biasanya saat2 itu banyak pengeluaran, utamanya untuk uang pendaftaran anak sekolah, membeli pakaian seragam, buku2 dan lain2. Jadi JASPROD sangat menolong. Pelaksanaannya diputuskan oleh Direksi di Kantor Pusat di Jakarta, Cabang2 menerima kabarnya segera melalui TELEX (suatu mesin ketik di kantor penerima jalan sendiri. Sekarang sudah jadul tidak digunakan lagi). Atas dasar TELEX tersebut, apabila testnya Correct, selang sehari kerja berikutnya langsung pembayaran di cabang2pun dilaksanakan. Terakhir ini ada pula istilah baru yang didahului dengan”Jas”, yaitu: “JASPUTI” dan “JASPROT”. Menyoal “JASPUTI”. Alkisah sebuah rumah tangga yang harmonis, umum disebut dengan “SAMAWA” (Sakinah, Wamaddah dan Mawarrahmah). sudah masuk tahun emas pernikahan, sebab sudah lebih lima puluh tahun nikah, dilengkapi anak2 sudah berumah tangga semua dikelilingi dengan lusinan cucu. Sekitar usia pernikahan 25 tahunan, sang suami yang memang bidang usahanya adalah pengusaha, sering sekali punya kegiatan bisnis di luar kota. Kadang,….. 25 tahun terakhir ini dalam sebulan hanya kurang dari seminggu berada di rumah, bahkan hari raya saja hanya bertahan sehari, habis shalat Ied langsung keluar kota lagi. Setiap akan berangkat bisnis ke luar kota sang suami sehari sebelumnya memberitahukan kepada istrinya. Istrinyapun sibuklah menyiapkan isi koper yang akan dibawa, seperangkat pakaian disetrikakan dengan baik, obat2 rutin dan vitamin2 untuk suami tercinta dipersiapkanlah, bahkan tak lupa dipersiapkan makanan camilan kesukaan bapak anak2 mereka itu disertakan. Kegiatan rutin itu sampai 25 an tahun, terhentinya ketika si suami menderita sakit berat, sehingga bolak balik harus di opname atau rawat inap di rumah sakit. Keluar masuk rumah sakit untuk opname sudah semakin sering, tak jarang diantaranya berangkat ke rumah sakit segera, karena emergency gejala penyakit jantung kombinasi dengan penyakit2 lain kumat. Suatu saat karena tergesa-gesa ke rumah sakit, HP beliau (sang suami), tidak terbawa, tinggal di rumah. Disinilah awal terbongkarnya bahwa sang “Papah”, ternyata sudah lama “buka cabang baru”, diluar kota. Anak perempuannya pada hari itu, nunggu rumah, karena si ibu nemani ke rumkit. Si anak memberanikan diri menerima telpon sang papah berdering di dalam kamar tidur ORTU mereka. Dari seberang dalam dialog percakapan telpon, karena tau yang menerima bukan suara lelaki, ada kalimat sampaikan pesan kepada ayah, “ayah kok sudah lama ndak pulang”. Rupanya karena semuanya rahasia2an, kucing2an, selama tidak datang ke “cabang baru”, lantaran sakit, juga tidak diberitahukan. Informasi ini sebagai permulaan membuka selubung tabir 25 tahunan yang diusahakan ditutup rapat. Akhirnya setelah di cecar dengan pertanyaan2 yang memojokkan, nomor HP yang terpantau, oleh anak2, menantu2 dan istri yang setia merawat dan percaya selama ini, dikeroyok oleh saudara2 kandung istrinya, maka dalam keadaan sakit sudah tak berdaya, diujung hidupnya diapun mengakui bahwa dianya sudah kawin lagi di kota lain lebih 20 tahun yang lalu, bahkan sudah bermenantu. Begitu sang suami meninggal dunia, istri kedua dan anak serta cucunya datang, juga bermaksud menuntut waris. Wallahu ‘alam berhasil atau tidak, tulisan ini tidak meng-“kepo-i-nya”, tak diungkap dalam kisah ini. Yang jelas bahwa si istri yang pertama yang demikian setia, walau uang belanja untuk JADUP tiap bulan tidak dipenuhi dengan baik, dia ikhlas, karena istrinyapun bukan hanya ibu rumah tangga, mempunyai mata pencaharian yang mencukupi. Namun demikian kekecewaan sang istri tertipu baru diketahui sampai si suami mendekati mati. Timbullah istilah “JASPUTI” singkatan dari “Janda Sedih Tertipu Sampai si Suami Mati”. Bagi saudara2 lelaki si istri, mengatakan kepada yang bersangkutan ketika interogasi, sebetulnya kalau suami kakak mereka itu ingin kawin lagi, adalah halal-halal saja tak usah sembunyi sampai seperempat abad. Karena khususnya Agama Islam mendalilkan: وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا۟ فِى ٱلْيَتَٰمَىٰ فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثْنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ فَوَٰحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُوا۟ Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Boleh saja beristri lebih dari satu, tetapi harus sanggup berlaku adil. Dimana di negeri ini hal itu harus dengan izin dan persetujuan istri pertama. Ini sama sekali suami kakak mereka itu tidak dapat berlaku adil, bahkan sembunyi-sembunyi. Memang orang menikah itu nasib-nasiban, kadang baik, kadang tidak beruntung, sebab tak jarang, ketemu pasangan hidup lain daerah, lain suku, bahkan kadang lain bangsa, sejatinya belum tau persis. Maka dalam istilah mandarin “Kàn yùnqi” (Tergantung keberuntungan/nasib). Oleh karena bagi kita orang beriman, selalu berdo’a menyerahkan diri kepada Allah, karena Allahlah yang membolak-balikkan hati (يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ_) Lain JASPUTI lain pula JASPROT. Adapun JASPROT singkatan dari “Janda Sendirian kena Plorot”. Kisahnya, ketika sang suami meninggal mereka sudah berumah tangga juga cukup lama, si suami meninggal di usia lanjut 75 an tahun. Sedangkan si Istri yang ditinggalkan 70 han tahun, dengan anak2 setengah lusin lebih, apalagi cucu2 dan cicit2 sudah dapat dibuat dua kesebelasan sepak bola. Tak heran karena sudah lama merajut hidup, uang pensiun suami dan dirinya yang tadinya sebagai ASN juga adalah,… .. disamping sejumlah tabungan properti2. Sementara rumah yang dibangun bersama suami kini di huni sendiri, anak2 sudah berumah sendiri-sendiri. Ketika suami berpulang, bukan main tampak sekali kesedihan yang mendalam sang istri, bukan saja kepada sanak saudara, tidak saja hanya kepada anak cucu diekspresikan duka mendalam itu, akan tetapi juga di publish pula di MEDSOS. Belum cukup setahun sesudah wafat sang suami, teman MEDSOS ada yang respon ngajak kenalan, seorang masih muda, beliau tak urung juga mengaku senasib ditinggal istri pasangan hidup yang sangat dicinta. Dialog ‘Chat” pun bersahut-sahutan, curhat-curhatan balas ber balasan. Lama kelamaan terjalin janjian ingin “bergabung”, dalam tanda petik, berlanjut si yang ngaku duda ngajak nikah. Sepertinya nenek yang sudah 70 han tahun itu agaknya terpukau, dikabarkan sudah pernah diminta untuk mentransfer uang puluhan juta, sudahpun dituruti. Padahal belum pernah ketemuan. Mungkin termakan “rayuan pulau pandan” atau juga hipnotis lewat tulisan atau hipnotis melalui telepon yang kini sedang lagi marak. Hipnotis via alat komunikasi merupakan sebuah modus penipuan jarak jauh yang memanfaatkan manipulasi psikologis. Pelaku menargetkan pikiran bawah sadar korban dengan menciptakan situasi kepanikan, kesedihan, urgensi, dan fokus yang sangat tinggi. Tujuannya adalah membuat korban kehilangan kesadaran penuh sementara dan mengikuti instruksi pelaku. Sebuah anjuran kepada anak2 dari bunda yang sedang dirundung JASPROT ini, usahakan mengamankan sertifikat tanah, surat2 berharga peninggalan almarhum Bapak mereka, agar tidak sampai terlanjur meluncur ke tangan penipu. Selain itu adalah baik jika gantian piket menemani bunda nginap di rumahnya. Karena kalaulah berfikir yang jernih, apalah lagi yang diharapkan dari “uyut” yang sudah berumur 70 tahun lebih, mana mungkin orang yang masih muda mau memperistrinya. Kata pepatah di kampungku “Ndak isik beban batu diambin”, atau “Ngambin biawak idup”, pekerjaan tidak masuk akal. Teringat aku akan tetanggaku, ibu2 sudah umur 75 an, sudah lama menjanda, belum lama ini ada tetanggaku juga yang istrinya meninggal, si “DUBAYA” (Duda Baru yang Kaya) usianya 80 an. Dalam suatu acara pengajian, Ibu janda digodain teman2nya, tuuu jadian saja dengan Pak …… biar ada yang ngurus. Si Ibu menjawab apa lagi yang diharapkan buat orang seusia kami ini, tinggal “Batuk” dan “Kentut”. Sudah tak mampu lagi saling “membahagiakan”, kecuali bagi mereka yang sejak awal dari muda dulu yang kini sudah menjadi tua renta, sama2 mengerti, sama2 merawat, dengan masing2 keudzurannya. Dari tulisan ini; “JASPROD”, “JASPUTI” dan “JASPROT”, saya gandengkan karena ada nilai kesamaannya. Sama2 bernilai surprise. JASPROD, pendapatan tak terduga, tiba2 diperoleh pas sedang diperlukan, bernilai positip. Adapun “JASPUTI” juga surprise sama sekali tak diduga 25 tahun ditipu baru ketahuan setelah hampir mati, membuat kecewa sang istri sulit terobati. Sedang “JASPROT”, juga surprise karena kok ada orang janda yang usia 70 han, sudah bergelar UYUT kok mau diplorot oleh orang yang hanya dikenal lewat Medsos, membuat seluruh anak cucu geleng-gelang kepala, mengelus dada. Yaa Allah lindungi keluarga2 kami terkena tipu daya dalam berumah tangga, yaa Allah hindarkanlah kami dari tipu daya berupa sihir, teluh dan hipnotis atau semacamnya. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 3 DzulKaidah 1447 H. 21 April 2026