Syarif Arbi Membagi Warta
Saturday, 20 June 2026
Ucapkan Salam Masuk Rumah Sendiri
Dirangkum: M. Syarif Arbi
No: 1.424.04.06-2026
Ucapan : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ (Assalamu'alaikum), versi pendek yang artinya _”Semoga keselamatan tercurah untukmu”_. Versi panjang Ucapan اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh), artinya –“ Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu_”. Beda jauh dengan ucapan “selamat siang”, “selamat pagi”, “selamat sore” dan “selamat malam”. Atau ucapan2 pembuka kata lainnya.
Ucapan السَّلَامُ عَلَيْكُمْ atau lengkap dengan اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, diucapkan ketika masuk rumah (terutama bukan rumah sendiri), diperintahkan Allah langsung kepada semua orang beriman hal tersebut termuat dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 27:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya: _"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat._"
*Mengenai pengucapan salam ketika bertemu sesama, ketika datang/pulang di suatu majelis, ketika membuka pembiacaraan; karena terbatas ruang tulis, tidak dibahas dalam artikel ini*.
Masuk rumah mengucapkan salam bukan saja hanya untuk ketika bertamu kerumah orang, bahkan di anjurkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ ketika kita masuk kerumah kediaman kita sendiri. Baik dalam hal sedang ada anggota keluarga di dalam rumah, maupun rumah dalam keadaan kosong, ketika kita datang dari luar rumah.
Suatu ketika seorang sahabat datang menghadap Rasulullah Muhammad ﷺ, mengeluhkan perihal kefakiran dan kesulitan hidup yang dihadapinya. Diberi amalan oleh Rasulullah *untuk mengucapkan salam* seperti yang dikisahkan dibawah ini, sehingga kehidupan sahabat tersebut akhirnya rezekinya berlimpah.
Kisah tentang hal *mengucapkan salam ini* banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitabnya, diantaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marâh Labîd atau lebih dikenal dengan nama Tafsîr Al-Munîr. Dalam penafsiran surat Al-Ikhlas Syekh Nawawi menuturkan kisah tersebut sebagai berikut:
عن سهل بن سعد جاء رجل إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وشكا إليه الفقر فقال: «إذا دخلت بيتك فسلم إن كان فيه أحد وإن لم يكن فيه أحد فسلم على نفسك واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة. ففعل الرجل فأدر الله عليه رزقا حتى أفاض على جيرانه
Artinya: _Dari Sahl bin Sa’d, seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan mengadu kepadanya perihal kefakiran. Rasul bersabda: Bila engkau memasuki rumahmu, ucapkanlah salam bila di dalamnya ada seseorang. Bila tidak ada seorang di dalamnya, maka bersalamlah untuk dirimu dan bacalah qul huwallâhu ahad sekali.’ Lelaki itu mengamalkannya. Allah melimpahkan kepadanya rezeki hingga meluber kepada para tetangganya_.
Dalam kitab tersebut ia menuturkan ajaran dari *Ibnu Abbas dan Qatadah* sebagai berikut:
وقال ابن عباس: إن لم يكن في البيت أحد فليقل: السلام علينا من قبل ربنا
Artinya: Ibnu Abbas berkata: Bila tak ada siapapun di dalam rumah, maka ucapkanlah ‘assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ’ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami).
وقال قتادة: إذا دخلت بيتك فسلم على أهلك فهم أحق بالسلام ممن سلمت عليهم، وإذا دخلت بيتا لا أحد فيه فقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين
Artinya: _Qatadah berkata: Bila engkau memasuki rumahmu, maka ucapkanlah salam kepada keluargamu. Mereka lebih berhak mendapatkan salam daripada orang lain yang engkau salami_.
Bila tidak ada orang didalam rumah; kita dapat mengucapkan salam bagi diri sendiri salah satunya dengan kalimat: *Assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ* (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami) atau *Assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn* (keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba yang saleh).
Anjuran mengucapkan السَّلَامُ عَلَيْكُمْ atau lengkap dengan اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, telah banyak diamalkan oleh banyak orang, akan tetapi mungkin, sekali lagi mungkin banyak yang belum terbiasa masuk ke rumah sendiri, dimana didalamnya tidak ada orang kita mengucapkan *salam* dimaksud.
Ya Allah jadikanlah kami sanggup mengamalkan perintah Allah dan anjuran Rasulullah termasuk dalam mengamalkan *salam*.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 6 Muharram 1448 H.
20 Juni 2026
Saturday, 13 June 2026
PERBUATAN BAIK belum tentu BERHASIL BAIK
Dirangkum: M. Syarif Arbi
No: 1.423.03.06-2026
Amal adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan seseorang, baik berupa ucapan, maupun perbuatan. Dalam bahasa Arab, “amal” (عَمَل) berarti pekerjaan atau tindakan. Dalam konteks umum: Amal terterjemahkan sebagai “perbuatan yang dilakukan manusia”, dapat berupa amal baik maupun amal buruk. Terminology agama amal cenderung diartikan amal saleh merujuk pada perbuatan baik yang dilakukan dengan niat karena Allah, seperti shalat, sedekah, zakat, ibadah sosial, membantu orang lain, dan berkata jujur. Amal salah adalah amalan yang dilakukan melanggar ketentuan-ketentuan agama dan ketentuan masyarakat serta negara.
Amal, apapun bentuknya mesti didahului dengan *NIAT*, selanjutnya yang dibicarakan pada artikel ini dibatasi tentang *niat baik*. terkenal hadist dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
_“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”_ (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]
Niat baik diwujudkan dengan perbuatan baik, merupakan tujuan atau motivasi seseorang. Sedangkan hasil perbuatan baik itu, berhasil baik atau tidak, dipengaruhi banyak hal, antara lain: *pengetahuan, cara bertindak, situasi, kemampuan memperkirakan konsekuensi, cara mengatakannya, teknik menyampaikannya*, bahkan faktor yang di luar kendali seseorang yang berniat baik dan berbuat baik tersebut.
Seseorang ingin membantu temannya dengan memberi nasihat, tetapi nasihat itu ternyata memperburuk keadaan. Teman yang diberi nasihat tidak terima dinasihati, mungkin lantaran timing – nya yang tidak tepat, atau boleh jadi cara mengatakannya yang salah.
Seorang teman menasihati temannya yang terlihat tengah menjalin hubungan (PDKT) dengan seorang wanita, temannya di nasihatinya agar jangan melanjutkan hubungan, diikuti dengan menyampaikan data hal tidak baik dari wanita tsb yang diketahuinya. Diantaranya disebutkan *“kau kok mau2nya dengan janda, kamu masih perjaka, padahal bukan sedikit gadis perawan”*. Setelah selesai teman yang menasihati dengan niat baik tersebut menyampaikan segala hal2 negatif teman wanitanya, maka si teman yang dinasihati mengatakan *“ wis tak rabi ee mas (sudah saya nikahi kok mas)”*. Makanya walaupun berniat baik untuk suatu perbuatan baik, adalah harus dilakukan dengan terlebih dahalu mencari informasi yang lengkap.
Orang tua berniat melindungi anaknya, tetapi perlindungan yang berlebihan justru menghambat kemandiriannya. Karena terlalu khawatir anak kecelakaan, berlebihan melarang jangan naik sepeda, jangan naik sepada motor, akhirnya si anak tidak berketrampilan mengendarai sepeda sampai dewasa.
Seorang yang baru saja masuk dalam suatu organisasi, memberikan koreksi dengan pemilihan bahasa yang kurang tepat terkesan menggurui anggota organisasi yang sudah lama, seolah-olah anggota2 lama sangat kurang mengerti dari dirinya sebagai orang baru. Anggota organisasi yang lama karena merasa digurui, memilih tidak menanggapi, sambil dalam pikiran masing2 *“aaakh…. dia belum paham secara detail apa yang dia koreksi tersebut……. kanapa terjadi seperti itu”*. Disinilah pentingnya ketika menjadi orang baru dalam suatu organisasi, sebelum melaksanakan koreksi, sebaiknya teleti lebih dalam, teliti lebih rinci, permasalahannya sebelum mengajukan koreksi apalagi koreksi secara tertulis. Sudah jadi sifat umum manusia tak begitu suka mendapat kritik, apa lagi bila tak baik memilik kata, kurang tepat pula cara menyampaikannya. Sebagai perumpamaannya *“orang pincang”*, misalnya di ingatkan tentang jalan akan dilalui kurang mulus si pengingat mengatakan *“hati2 jalannya, jalannya licin kamu kan pincang”*. Tentu si pincang ndak enak atinya mendengar nasihat itu. Akan bijak bila teman yang mengingatkan *”ayo kita lalui jalan ini bersama-sama dengan hati2, karena licin”*. Kata2 terakhir mendarat di telinga si pincang, akan diterima dengan senang hati.
Kebijakan dibuat dengan tujuan mulia, tetapi pelaksanaannya menimbulkan dampak yang tidak diinginkan, ujung2nya merugikan penerima kebijakan dan menuai banyak kritik. Lantaran sebelum dilaksanakan kurang dilakukan penelitian, uji coba, survey yang mendalam. Akhirnya Niat mulia tidak menghasilkan kebaikan.
*Niat baik memang penting, direalisasikan dengan perbuatan baik, namun belum tentu berhasil baik, untuk itu perlu disertai:*
*PERTAMA;* Pemahaman yang memadai tentang sesuatu aktifitas kebaikan yang akan dilakukan. Hendaknya memahami bahwa suatu tindakan membawa manfaat, membantu orang lain, atau sesuai dengan nilai moral dan etika. Menyadari alasan mengapa tindakan itu dilakukan, misalnya untuk menolong, menciptakan keadilan, atau meningkatkan kesejahteraan.
*KEDUA;* Pertimbangan terhadap dampak yang akan muncul.
Memikirkan konsekuensi bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sehingga kebaikan yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat.
*KETIGA;* Kesediaan mengevaluasi dan memperbaiki, bilamana “perbuatan baik” itu terdapat kekeliruan, apabila hasilnya tidak sesuai harapan, termasuk bila dengan dilaksanakan niat baik itu, berdampak yang tidak baik atau kurang menyenangkan.
*Niat baik layak dihargai, karena apapun perbuatan baik yang kita lalukan dengan tulus karena mengharapkan keradhaan Allah akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah sekalipun umpamanya manusia melinainya tidak baik*. seperti dinyatakan Allah (Surat Az-Zalzalah Ayat 7)
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ
Artinya: _Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya._
*Namun yang perlu di camkan bahwa baik menurut diri kita, belum tentu baik menurut orang lain, juga belum tentu baik menurut Allah*
“……… وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ. ……………..”
_dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu._ (Al-Baqarah 216).
Bagi orang beriman berpedoman; kebenaran mutlak (haq) hanya berasal dari Allah, sedangkan akal dan penilaian manusia bersifat relatif, terbatas, dan sering kali dipengaruhi oleh hawa nafsu atau kepentingan duniawi. kebenaran mutlak milik Allah:
ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ
Artinya: _Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu._ (Al-Baqarah-ayat-147).
Yaa Allah berikan kesempatan kepada kami untuk dapat berniat baik dan berbuat baik dibawah petunjuk-MU sehingga menghasilkan kebaikan yang bermanfaat untuk sesama manusia dan kelak dapat menjadi catatan amal baik kami di kahirat nanti.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 27 DzulHijjah 1447 H.
13 Juni 2026
Monday, 8 June 2026
KE-SOMBONG-AN
Disuguhkan: M. Syarif Arbi
No: 1.422.02.06-2026
Sombong merupakan perilaku seseorang dimana merasa diri lebih baik, lebih hebat, atau lebih tinggi daripada orang lain sehingga merendahkan atau memandang rendah orang lain. Perilaku sombong ini tidak disuka siapapun, termasuk orang yang sombong, dia tidak suka dengan orang lain yang sombong. Sering juga dalam tatanan kekeluargaan; sombong diterjemahkan sebagai sikap yang tidak mau mengenal sanak keluarga/kerabat atau yang pernah menjadi teman semasa kecil, tidak ramah tamah dengan keluarga, acuh tak acuh kepada sanak family dan karib kerabat.
Bila dalam serumpun keluarga, anggota komunitas terdiri saudara kandung, saudara2 se nenek se datuk (saudara sepupu) termasuk se uyut. Jika salah satu atau beberapa orang bersikap sombong, maka betapapun kayanya si sombong itu, setinggi apapun jabatan dan pangkatnya, saudara2 serumpunnya akan tidak mau mendekati si sombong itu, tidak respek terhadap si sombong. Bak kata peribahasa: “Jauh akan ditunjuk dengan telunjuk, dekat akan dicibir dengan isyarat mulut”.
Dalam kehidupan sehari-hari, sombong bisa terlihat dari: Suka membanggakan diri secara berlebihan, tidak mau menerima nasihat, meremehkan orang lain, merasa paling benar atau paling pintar, tidak mau mengenal sanak family dan kerabat, selalu dingin dalam pergaulan.
Dalam ajaran agama dan etika, sifat sombong adalah buruk karena menciptakan hubungan tidak harmonis dengan orang lain. Lazimnya orang yang bersikap sombong ini karena yang bersangkutan dikaruniai Allah kelebihan harta benda ataupun ilmu. Tapi bukan mustahil ada orang yang tak punya kelebihan harta ataupun ilmu, namun berperilaku sombong (sudah miskin sombong pula). Sifat sombong tak disuka Allah:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
_”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri_”. (An-Nisa 36)
Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang sombong:
“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ"
_“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji zarrah dari kesombongan._" Hadits dari Abdullah bin Mas’ud (HR. Muslim).
Dosa karena sombong, dengan dosa melanggar larangan Allah, dapat di perhatikan kisah tentang *Nabi Adam* dan *Iblis* dalam alqur’an. Iblis berdosa kerena *tak patuh perintah Allah* dalam wujud berlaku *sombong*. Sedangkan *Nabi Adam* berbuat dosa berupa *melanggar larangan Allah*, mendekati pohon terlarang.
Iblis ketika disuruh Allah sujud kepada Nabi Adam dia menolak kerena sombong.
وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكَٰفِرِيْنَ
_"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam!' Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong), dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir._" (Al-Baqarah ayat 34)
Surat Shad Ayat 75 dan 76:
قَالَ يَٰٓإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَىَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْعَالِينَ
قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ
_Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?"_
_Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah"_.
Sementara itu Nabi Adam *melanggar larangan* Allah dimana Allah melarang mendekati pohon terlarang.
Surat Al-Baqarah Ayat 35:
وَقُلْنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ ٱلْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
_”Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”_.
Surat Al-Baqarah Ayat 36:
فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيْطَٰنُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ
_”Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan"_.
Surat Al-Baqarah Ayat 37:
فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ
_”Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”_.
Kalimat taubat Nabi Adam diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-A'raf ayat 23,
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
_"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi."_
Taubat Nabi Adam karena “*melanggar larangan Allah*” berdasarkan berbagai riwayat dan tafsir, Allah ﷻ menerima tobat Nabi Adam AS setelah *300 tahun beliau berdo’a*. Berarti hampir sepertiga (30%) dari hidup Nabi Adam dalam keadaan berdosa yang belum terampuni, karena menurut beberapa riwayat dan literatur Islam, total umur Nabi Adam AS adalah *1.000 tahun* dengan rincian usia beliau berdasarkan tafsir para ulama:
• *Di Surga:* Diperkirakan sekitar 43 tahun sebelum diturunkan ke bumi.
• *Di Bumi:* Sekitar 930 hingga 957 tahun.
Sedangkan Iblis dengan dosa sombong tidak diberi Allah kalimat untuk bertaubat bahkan dikutuk Allah sampai hari kiamat.
Surat Al-Hijr Ayat 35
وَإِنَّ عَلَيْكَ ٱللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ
_” Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat"_.
Dari kisah *Nabi Adam dan Iblis* ini, terlihat ada 2 (dua) kelompok dosa yaitu:
1. Dosa *tak patuh terhadap perintah Allah*, dilakukan Iblis berwujud “sombong”.
2. Dosa *melanggar larangan Allah*, dilakukan Nabi Adam dengan mendekati pohon terlarang.
Begitu berat dosa *membantah perintah* ketimbang dosa *melanggar larangan* Allah.
*Dosa membantah perintah tercermin berwujud ke-sombong-an* dilakukan Iblis tidak dapat diampuni Allah. Oleh karena itu semua perintah Allah laksanakanlah tak usah di tawar-tawar.
Sedangkan dosa2 *melanggar larangan* Allah, masih ada harapan diampuni Allah, asal masih mau dan sempat bertaubat.
Semua kita para pembaca, baik yang muda maupun lansia, *usia kita adalah usia sisa*, oleh karena itu mari kita berusaha untuk memanfaatkan *usia sisa* ini melaksanakan semua perintah Allah, dalam pada itu sekuat atau semampu diri menjauhi larangan2 Allah.
Ya Allah jadikanlah kami semua mampu untuk menjauhi larangan2-MU dan melaksanakan seluruh perintah-MU.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 22 DzulHijjah 1447 H.
8 Juni 2026
Tuesday, 2 June 2026
*MENG “ESA” KAN*
Disuguhkan: M. Syarif Arbi
No: 1.421.01.06-2026
Dalam perspektif agama Islam, kata "esa" dan "tunggal" tidak identik, walau sering sama2- diterjemahkan sebagai "satu". Perbedaan utamanya adalah:
*Esa*: Menunjukkan keesaan yang absolut, digunakan untuk menyatakan; *Allah dalam konsep Tauhid*. Bermakna bahwa tidak ada yang setara dengan Allah, tidak ada yang sebanding dengan Allah, atau tidak ada satupun sesuatu merupakan bagian dari Allah. Dasar utamanya ketentuan tauhid ini terdapat dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Al-Ikhlas:
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ. _(Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa)_.
ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ _(Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu)._
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ _(Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan)._
وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ _(dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”).-
Kata bahasa Arab yang digunakan adalah * ٱللَّهُ أَحَدٌ (Allahu aḥad)*, yang menunjukkan keesaan Allah yang unik dan absolut.
*Tunggal* lebih menunjuk pada *jumlah satu atau tidak terdiri dari banyak bagian yang sejenis*. Dalam bahasa sehari-hari, sesuatu yang tunggal belum tentu unik atau belum tentu tidak ada bandingannya. Misalnya:
• Seorang manusia dapat disebut individu tunggal.
• Sebuah benda dapat berjumlah tunggal (satu buah).
*Kata “Tunggal”*: Menunjukkan jumlah satu atau tidak jamak. Cocok dipergunakan untuk makhluk atau benda. Karena itu, kata *"tunggal"* tidak selalu mengandung makna ke-Tuhanan atau keunikan mutlak.
“Dalam ajaran Islam meng-esa-kan Allah” disebut *tauhid*. *Tauhid* adalah keyakinan bahwa Allah itu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak memiliki sekutu, dan Tuhan memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak. Tauhid biasanya dibahas dalam *tiga* aspek:
*Aspek Pertama; Tauhid Rububiyah*: Meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur alam semesta. Bahwa seluruh realitas bersumber dari Allah dan kembali kepada Allah. Pendekatan melalui *“Tauhid Rububiyah”* ini bukan sekedar mengucapkan, tetapi merasakan kehadiran Allah dalam setiap peristiwa kehidupan. Sampai2 dalam suatu keadaan yang sangat mencekam sekalipun, yakin se yakin2nya bahwa segala sesuatu terjadi hanya dengan idzin Allah. Yakin se yakin2nya bahwa Allah selalu mendampingi, seperti terukir dalam peristiwa katika Nabi Muhammad ﷺ bersama sahabat beliau Abu Bakar ketika memulai perjalanan hijrah (surat At-Taubah 40),
اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ *لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ * فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
_”Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, *“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”* Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”._
*Kasus Nabi Ibrahim dalam konteks Tauhid Rububiyah*
Dalam riwayat Ibn Jarir at-Thabari disebut bahwa saat Nabi Ibrahim hendak dibakar, Malaikat penjaga hujan (khazinul mathar) mengadu kepada Allah SWT untuk menurunkan hujan. Namun Allah telah terlebih dahulu mewahyukan kepada Nabi Ibrahim agar membaca do’a:
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
Kami berfirman: _“Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”_(terekam dalam Al-Quran surat al-Anbiya ayat 69). Saat do’a tersebut dibaca, Nabi Ibrahim serasa tidak masuk ke dalam api.
Dalam hadis lain; riwayat Bukhari dari Abdullah bin Abbas dijelaskan bahwa ada do’a lain yang dibaca Nabi Ibrahim bahkan sebelum ia dimasukkan ke dalam api. Do’a tersebut adalah penggalan ayat dari surat Ali Imran ayat 173:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
_“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”_
*Kedua; Tauhid Uluhiyah (atau Ubudiyah)*: Meng-Esa-kan Allah dalam segala bentuk ibadah. Keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan diibadahi. Ini merupakan salah satu pembagian tauhid yang umum dijelaskan dalam kajian akidah Islam. Inti Tauhid Ubudiyah adalah mengarahkan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah. Penerapan Tauhid Ubudiyah seperti: Shalat, Do’a, Puasa, Zakat, Haji, Tawaqkal hanya kepada Allah dan segala bentuk ibadah tertuju kepada Allah. Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ubudiyah mengacu kepada penegasan Allah dalam surat Az-Zariyat Ayat 56,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
_” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”_
*Ketiga; Tauhid Asma wa Sifat (توحيد الصفات)*.
Perwujudan Tauhid Asma wa sifat, yakni menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah:
• Tidak boleh menyerupakannya Allah dengan makhluk, benda apapun misalnya berbentuk patung, hewan, pohon, benda hidup atau benda mati, ditegaskan Allah dalam surat Asy-Syura ayat 11 لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ ( _“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”_).
• Menyakini sepenuh hati dan jiwa akan ke *MAHA* an Allah, Allah maha kuasa, Allah maha mengetahui, Allah maha sempurna, Allah ……… (maha segalanya).
• Dalam ber tauhid *asma wa sifat;* dipantangkan untuk; berpikir, membayangkan, menanyakan bagaimana wujudnya Allah. Adapun dasar larangan dimaksud termuat dalam surat Asy-Syura ayat 11 dikutip di atas dan juga larangan itu pernah diberitahukan Allah kepada Nabi Musa diabadikan dalam surat Al-A’raf 143:
وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ
Artinya: _”Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman"_
Rasulullah ﷺ bersabda terkait *Tauhid Asma wa Sifat (توحيد الصفات):*
تَفَكَّرُوا فِي آلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوا فِي ذَاتِ اللهِ
Artinya: _"Pikirkanlah tentang ciptaan-ciptaan Allah dan janganlah kalian memikirkan tentang Dzat Allah, karena sesungguhnya kalian tidak akan mampu mengukur-Nya (membayangkan-Nya)._". (HR. Abu Nu'aim dari Ibnu Abbas)
Yaa Allah murnikanlah ke *TAUHID* an kami dalam meng *ESA* kan Allah, agar selamat kami di dunia ini terlebih di akhirat nanti.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 17 DzulHijjah 1447 H.
2 Juni 2026
Monday, 25 May 2026
MEMAKNAI SELAWAT
Disajikan: M. Syarif Arbi
No: 1.420.08.05-2026
Allah memerintahkan bagi orang beriman untuk berselawat untuk Nabi Muhammad ﷺ. Redaksi selawat itu adalah اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. , maknanya "Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad” atau ada yang memakai redaksi اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ tanpa kata سَيِّدِنَا. maknanya "Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad”. Tulisan ini tidak membahas perbedaan pendapat tersebut. Perintah berselawat untuk orang beriman itu termaktub dalam Al-Qur’an:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ٥٦
_“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”_ (Al Ahzab 56)
*Allah berselawat; bermakna Allah mencurahkan rahmat, menganugerahkan kemuliaan, serta memberikan pujian kepada Nabi Muhammad ﷺ.*
*Sedangkan para malaikat berselawat; berarti para malaikat berdo’a kepada Allah untuk memohonkan ampunan serta keberkahan buat Nabi Muhammad ﷺ. *
*Adapun menusia berselawat; berarti berdo’a kepada Allah ("Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad”) dan juga penghormatan kepada Nabi Muhammad ﷺ .*
Ada sebagian orang bertanya atau berkomenter *Nabi Muhammad itu kan sudah diberi rahmat oleh Allah, sudah dimuliakan oleh Allah, terpelihara dari segala dosa, kenapa Allah perintahkan lagi kepada orang beriman untuk berdo’a buat Nabi Muhammad ﷺ*.
Ketahuilah para pembaca yang arif; bahwa berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ akan terkondisi hal-hal sebagai berikut:
*Pertama; Menghadirkan cinta kepada Rasulullah Muhammad ﷺ*:
• Semakin banyak seseorang berselawat, semakin kuat hubungan hati orang itu terhadap Nabi Muhammad. Karena dengan berselawat kepada Rasulullah, mengingat beliau, menggerakkan hati, terekam dalam pikiran orang yang mengucapkannya. Semakin sering seseorang, mengingat sesuatu, semakin lekat hal tersebut di hati dan pikirannya, apalagi jika ucapan selawat itu diucapkan sampai terdengar telinga sendiri walaupun perlahan.
• Dengan berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ mewujudkan rasa Syukur dan penghargaan kepada Nabi Muhammad ﷺ atas perjuangannya menyampaikan risalah Islam. Menyadari besarnya pengorbanan ini otomatis memupuk rasa cinta.
• Berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ Menghubungkan jiwa secara spiritual sekaligus merupakan cara bertawasul dan membuka koneksi spiritual dengan Rasulullah. Doa dan pujian yang dilafazkan menjadi sarana untuk menghadirkan kehadiran spiritual beliau di dalam hati. Setiap do’a yang di tujukan kepada Allah, bahkan harus didahului berselawat atas Nabi Muhammad ﷺ, seperti terdapat dalam hadist diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari sahabat Umar bin Khattab r.a. berbunyi:
إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، لاَ يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم
Artinya: _"Sesungguhnya doa itu tertahan di antara langit dan bumi, tidak naik sedikit pun darinya hingga engkau berselawat atas Nabimu shallallahu 'alaihi wa sallam."_ (HR At-Tirmidzi
• Berselawat memuktikan ketaatan, kepatuhan, ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya, yang menjadi landasan utama tumbuhnya cinta yang tulus, menjalankan perintah Allah tersurat pada Al-Ahzab 56 dikutif di awal tulisan ini.
Keterbatasan ruang tulis, kondisi2 lainnya sebagai nilai tambah yang diperoleh dari berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ yang kedua dstnya, mohon idzin hanya dikemukakan secara singkat.
*Kedua; Menghidupkan sunnah dan akhlak Rasulullah Muhammad ﷺ.*
Selawat yang sejati tidak berhenti pada ucapan, tetapi mendorong meneladani sifat beliau: jujur, lembut, amanah, dan penuh kasih. Berusaha untuk meneladani cara hidup Rasulullah keseharian dari mulai bangun tidur sampai ke tidur lagi.
*Ketiga; Membersihkan hati*
Selawat sering juga merupakan sebagai dzikir, karena disebut diawalnya “Allah”. Sedangkan dzikir adalah sarana melembutkan hati, menentramkan jiwa, dan mengurangi kelalaian.
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
_”(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram”_. (Ar-Raad 28)
*Keempat; Mendapat balasan selawat dari Allah*
Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Artinya:* _"Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali."_* (HR. Muslim).
Yaa Allah jadikanlah kami semua orang istiqamah dalam beriman dan senantiasa dapat melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 9 DzulHijjah 1447 H.
26 Mei 2026
Thursday, 21 May 2026
QURBAN PERTAMA
Dirangkum: M. Syarif Arbi
No: 1.419.07.05-2026
Beberapa hari lagi, kita semua ber hari raya Idul Adha, di tandai dengan memotong hewan qurban setelah melaksanakan shalat sunah *Idul Adha*.
Ibadah qurban, salah satu ibadah tertua di dunia ini. Ritual Qurban yang pertama kali dilakukan oleh manusia dilaksanakan oleh dua orang anak Nabi Adam yaitu *Habil dan Qabil*. Dua bersaudara ini disuruh berqurban oleh bapak mereka, Nabi Adam, sebagai media untuk Nabi Adam memutuskan sengketa calon istri.
Siti Hawa, melahirkan selalu kembar *“fraternal”* atau *“dizigotik”* yaitu seorang bayi lelaki dan seorang bayi perempuan disatu kali kelahiran, kedua bayi itu disebut saudara sekandung, hanya sekali yang tunggal, yaitu saat melahirkan *Nabi Syits*, yang lahir menggantikan Habil karena dibunuh saudaranya sendiri, Qabil.
Ketentuan di zaman Nabi Adam, karena belum ada manusia lain, maka anak2 mereka dinikahkan silang sesaudara, dengan aturan anak2 kembar sekandung tidak boleh menikah.
*Qabil* lahir bersama dengan saudari satu kandung yang bernama *Iqlima*. Konon, *Iqlima* terlahir sebagai wanita berparas *cantik rupawan*. Sementara Habil lahir dengan saudari kandung bernama *Labuda*, tidak secantik *Iqlima*.
Sesuai aturan yang berlaku, maka *Qabil harus menikah dengan Labuda*. *Sementara Habil menikahi Iqlima*. Qabil tidak terima. Ia hanya mau menikahi saudari satu kandungnya, Iqlima, yang memiliki paras cantik rupawan.
Menyikapi sengketa itu, Nabi Adam as mengadakan semacam kompetisi kepada kedua putranya itu dengan memerintahkan untuk berqurban. Barang siapa yang qurbannya diterima oleh Allah swt, dia lah yang lebih berhak menikah dengan Iqlima. Ketika itu sebagai tanda qurban diterima, apabila material yang diqurbankan disambar oleh api yang turun dari langit.
Al-hasil ritual qurbanpun dilaksanakan; Qabil yang seorang petani berqurban dengan hasil kebun miliknya. Sementara *Habil yang hidup sebagai peternak berqurban dengan seekor kambing terbaik yang ia miliki*. Qurban Habil diterima Allah swt, sedangkan *qurban Qabil tertolak lantaran Qabil berqurban dengan hasil tanaman yang buruk*.
Di kisah ini diketahui bahwa material qurban ketika itu belum ditetapkan berupa hewan, agaknya sesuai dengan kepemilikan hasil usaha masing2.
Dari persembahan qurban yang dikeluarkan masing-masing Qabil dan Habil, dapat dinilai, mana yang benar-benar ikhlas, dan mana yang tidak ikhlas. Ditolaknya qurban Qabil mengindikasikan bahwa Qabil bukanlah seorang yang ikhlas dan bertaqwa serta taat kepada Allah swt.
Usai qurbannya tertolak sempat terjadi dialog Habil dan Qabil, diabadikan di surat Al Ma’idah ayat 27:
Qabil berkata: لَأَقۡتُلَنَّكَۖ إِ = sungguh aku akan membunuhmu.
Habil menjawab: إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ = sesungguhnya Allah hanya menerima qurban dari orang yang taqwa.
Peristiwa perebutan *Iqlima*, dilanjutkan dengan melaksanakan *qurban*, sesuai perintah Nabi Adam, untuk menguji siapakah yang paling ikhlas. Berkesudahan dengan Pembunuhan manusia pertama di muka bumi ini dilakukan oleh QABIL membunuh saudaranya sendiri, HABIL.
Dari peristiwa ini dapat kiranya dipetik penyebab terjadinya kemungkaran a.l.:
1. Kecenderungan memperturutkan hawa nafsu, kendatipun harus memaksakan kehendak, walaupun dengan tidak menta’ati ketentuan yang berlaku. Berlaku ketentuan di era nabi Adam, *Pernikahan Silang*, Qabil tidak setuju, karena Iqlima lebih cantik dari pada Labuda.
2. Faktor Iri hati, disebabkan Qurban Habil diterima oleh Allah, sedangkan Qabil, qurbannya tertolak. Qabil iri hati karena Habil bakal dapat istri lebih cantik.
3. Ternyata memang manusia sejak semula, terkelompok sekurangnya dua golongan; kelompok *fujuraha* dan kelompok *taqwaha* (lihat surat Asy-Syams ayat 8) perwujudan dalam kasus ini yaitu:
a. Orang yang sangat sayang kepada hartanya, kalaulah untuk keperluan ibadah dipilihnya yang paling tidak dapat dimanfaatkan lagi. Qabil memilih sesuatu buat qurban, dari hasil pertanian yang sudah tak layak dimakan, bahkan dirinya sendiripun tak akan mau memakan hasil peratanian yang dibuatnya material qurban itu.
b. Orang yang bila untuk kepentingan ibadah, rela menggunakan miliknya yang terbaik, contoh si Habil berqurban dengan hewan ternaknya yang terbaik.
4. Ikhlas adalah kunci dari diterimanya semua ibadah oleh Allah, termasuk ibadah qurban. Salah satu tanda ikhlas adalah mampu memberikan harta kita yang paling terbaik, bukan sebaliknya memilihkan yang tidak dapat dipakai lagi oleh kita barulah digunakan buat sedekah misalnya.
5. Guna memperturutkan hawa nafsu dibalut iri dan dengki, seseorang tega walau sampai harus, menjegal sahabat seiring, menggunting dalam lipatan, contoh si Qabil tega membunuh saudaranya sendiri Habil.
Ritual Qurban yang pertama kali di atas bumi ini dilaksanakan putra nabi Adam, Habil dan Qabil, dialanjutkan dengan ritual Qurban yang kedua; ialah qurban Nabi Ibrahim mengorbankan putranya Nabi Ismail, kemudian diganti Allah dengan seekor domba.
Kini kita semua akan melaksanakan ritual qurban (tak salah,…. mungkin jika disebut ritual qurban yang ke tiga), sebab nabi Ibrahim diperintah Allah menyembelih anaknya nabi Isma’il, yang kemudian diganti Allah dengan domba. Sedangkan kita sekarang meneruskan contoh nabi Ibrahim dengan menyembelih hewan ternak, dicontohkan pula oleh Rasulullah Muhammad ﷺ dilaksanakan sesudah Shalat Idul Adha.
Ritual qurban pertama di atas dunia ini, dilaksanakan oleh putra nabi Adam:
1. Atas perintah nabi Adam, untuk menentukan pilihan istri,
2. Sekaligus juga untuk membuktikan ketaqwaan kepada Allah.
3. Material yang diqurbankan sesuai apa hasil usaha yang dimiliki masing2.
Ritual qurban kedua di dunia ini oleh nabi Ibrahim:
1. Atas pertintah Allah kepada Nabi Ibrahim melalui mimpi.
2. Juga merupakan ujian Allah untuk membuktikan ketaqwaan nabi Ibrahim dan nabi Ismail menjalankan perintah Allah.
3. Material yang diqurbankan adalah anak semata wayang yang sudah ditunggu kelahirannya sampai nabi Ibrahim berusia 86 tahun.
Bagaimana perintah Allah dan keikhlasan kedua nabi Allah ini, Ibrahim dan Ismail terlukis indah dalam surat Ash-Shaffat 102 berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢
_”Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Isma’il) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”_
Sedangkan berqurban diperintahkan untuk kita sekarang ini:
*Pertama*: Atas perintah Allah dalam surat Al-Kautsar
إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ
_”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”._
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ
_”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”._
*Kedua:* Juga merupakan ujian Allah buat kita, akan ketaqwaan kita, sudah sanggupkah diri masing2 melaksanakan perintah Allah, walau hanya diujung baris sebuah ayat.
*Ketiga:* Wujud material yang diqurbankan adalah hewan ternak, tidak banyak diantara kita memiliki peternakan, namun syarat ber-qurban di Idul Adha adalah tetap berupa hewan ternak berupa Kambing, Sapi, Onta, bukan berupa ayam, bebek dan angsa. Untuk pengadaan hewan yang disyaratkan itu, di menjelang musim ber-qurban, harganya meningkat, sudah sanggupkan awak merogoh kocek lebih dalam, membuktikan ketaqwaan kepada Allah.
Yaa Allah jadikanlah kami hamba2-Mu yang mentaati apapun perintahMu termasuk ritual menyembelih hewan Qurban. Yaa Allah kuatkanlah kami dalam ber-qurban dalam segala bentuk dalam rangka pengabdian kepada Allah yang telah memberikan kepada kami karunia dan nikmat yang tiada terhingga.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 4 DzulHijjah 1447 H.
21 Mei 2026
Sunday, 17 May 2026
JABARAN ALHAMDULILLAH
Diolah: M. Syarif Arbi
No: 1.418.06.05-2026
Kata ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ - “Alhamdulillah” , adalah ucapan yang lazimnya digunakan orang beragama Islam, namun kini saudara2 kita sebangsa, walau tidak beragama Islampun sudah banyak menggunakan kata Alhamdulillah di berbagai kesempatan. Dengan demikian ungkapan Alhamdulillah sudah “menasional” untuk bangsa Indonesia.
Kata Alhamdulillah disebut “Tahmid” adalah salah satu dari 5 dzikir lisan yang lainnya yaitu: “Tasbih” = Subhanallah, “Takbir” = Allahu Akbar, “Tahlil” = La ilaha illallah dan “Istighfar” = Astaghfirullah.
Orang beragama Islam senantiasa berdzikir Alhamdulillah sebagai perwujudan berterimakasih kepada Allah karena menyadari bahwa seluruh kenikmatan datang dari Allah:
وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ
-“Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian, apabila kamu ditimpa kemudaratan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan”-. (An-Nahl 53)
Sebagai tanda seseorang bersyukur atas nikmat Allah, tidak merasa keberhasilan dicapai karena kemampuan diri sendiri. Menyadari bahwa rezeki, kesehatan, ilmu, keluarga, dan kesempatan adalah pemberian Allah. Selanjutnya selalu dalam hati diikuti lisannya mengucapkan Alhamdulillah. Akan tetapi wujud berterimakasih kepada Allah itu bukan hanya lewat ucapan “Alhamdulillah”, berdo’a dan berdzikir, tetapi juga terlihat dari sikap dan cara hidupnya yaitu:
*Pertama; Menggunakan nikmat untuk kebaikan.*
Ilmu dipakai membantu orang, harta dipakai bersedekah, tenaga dipakai untuk hal bermanfaat, bukan untuk maksiat. Tuntunan Allah dan Rasul-Nya dalam memanfaatkan kenikmatan:
*1. Perintah Bersyukur dengan Amal:* Allah SWT berfirman, dalam surat Saba’: 13. Syukur tidak cukup di lisan, melainkan dibuktikan dengan tindakan.
ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ. ……………………………”
-“……………Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.- (Surat-Saba’-ayat-13)
*2. Menjalankan Ketaatan:* Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kenikmatan (seperti kesehatan dan waktu luang) adalah amanah yang harus digunakan untuk amal shaleh. Semakin banyak nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk beribadah.
*3. Berbagi Manfaat kepada Sesama:* Sabda Rasulullah ﷺ,
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
-"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." -
(HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan ad-Daruqutni)
Kenikmatan seperti harta atau ilmu harus disalurkan untuk membantu yang membutuhkan.
*4. Larangan Bermaksiat:*
Allah SWT memperingatkan agar nikmat tidak disalahgunakan untuk hal yang merugikan,
وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
-“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”-. (Al-Baqarah-ayat-195)
*Kedua; Menjaga ibadah*
Sebagai bukti seseorang bersyukur akan menjadi lebih taat, senantiasa menjaga shalat, sangat berhati-hati ketika berucap dan berbuat karena takut menjadi dosa, terus menerus berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah.
*Ketiga; Tidak banyak mengeluh*
Bukan berarti hidupnya selalu mudah, tetapi ia berusaha melihat kebaikan yang masih dimiliki dan tetap sabar saat diuji.
*Keempat; Dermawan*.
Orang yang bersyukur biasanya tidak pelit. Ia sadar nikmat berupa harta yang dimiliki juga ada hak orang lain di dalamnya.
وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ ١٩
-“Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta”-. (Adz-Dzaariyat Ayat 19)
*Kelima* Hatinya merasa cukup (qana’ah)
Tetap punya usaha dan cita-cita, tetapi tidak terus-menerus iri pada milik orang lain. Nikmat membuatnya makin rendah hati, makin bersyukur. Semakin diberi kelebihan, semakin tidak sombong.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
-“ (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras
. ”- (surat Ibrahim ayat 7)
Yaa Allah jadikanlah kami termasuk orang yang pandai bersyukur, baik saat nikmat terasa besar maupun kecil.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 1 DzulHijjah 1447 H.
17 Mei 2026
Subscribe to:
Posts (Atom)