Wednesday, 25 March 2026

KEJUJURAN – “Buang Angin”.

Diinformasikan : M. Syarif Arbi No: 1.406.05.03-2026 Cucu perempuan kami, sejak ketika dianya masih di TK, jika kunjung ke rumah kami bila tiba waktu shalat, dianya mesti ingin shalat bersama neneknya. Termasuk bila bulan Rhamadan, tarawih nempel pada satu sajadah dengan neneknya. Kini dianya sudah hampir naik kelas 2 SD, juga bawaannya sama. Ketika masih di TK pernah terjadi, waktu ikutan tarawih sama nenek, usai salam, sebelum melanjutkan rakaat berikutnya, dia berbisik sama neneknya; “adek sudah kentut, tapi ndak2 apa2 yaa Nenek,…… dedek terus saja ikut shalatnya, ndak usah wudhu lagi yaaa”. Pada hakekatnya si cucu tau bahwa kentut membatalkan wudhu, jujur dia,…. bahwa dia kentut, semestinya dia harus wudhu kembali, tapi dia ogah karena harus pergi ke tempat wudhu, harus buka mukenah,….. harus ke kran air, lalu dia minta dispensasi kepada neneknya agar ndak apa2 terus ikut shalat dengan wudhu yang sudah batal. Berarti cucu kami ini sudah mendapat pelajaran dari guru TK mereka bahwa kentut (buang angin) membatalkan wudhu secara mutlak, baik kentut berbunyi maupun kentut yang tidak berbunyi, seperti HR. Bukhari no. 135. حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ، قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ ‏"‏‏.‏ قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ‏.‏ Dari Abu Huraira (RA) berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda, 'Shalat seseorang yang berhadath (buang air kecil, besar, atau angin) tidak diterima hingga ia berwudhu.' Seorang dari Hadaramaut bertanya kepada Abu Huraira, 'Apa itu hadath?' Abu Huraira menjawab, 'Hadath berarti buang angin.' Di skala yang lebih besar, perilaku jujur orang Islam dari sudut kentut ini, dapat kita lihat dalam ke seharian jika berjamaah di masjid. Seseorang yang tiba2 melepaskan peci, meletakkan di atas sajadah, kemudian berdiri menyingsingkan lengan baju menuju ke tempat wudhu untuk berwudhu kembali, sebelum shalat berjamaah di mulai. Pada hal tak seorangpun, termasuk tetangga duduknya, yang tau kalau wudhunya batal karena kentut. Seorang imam, ketika sedang memimpin shalat berjamaah dimana saja, jika tiba2 dia kentut, si imam tidak akan mempertahankan jabatannya sebagai imam. Dia langsung menyingkir memberi isyarat atau boleh saja si “imam batal” menarik makmum dibelakangnya melangkah maju menggantikannya menjadi imam meneruskan shalat. Perilaku kejujuran dalam beribadah ini juga di-implementasi-kan ketika berpuasa. Saudara2 ku kaum muslimin yang beriman, baru saja menyelesaikan puasa Ramadhan 1447 H selama sebulan penuh. Di dalam melaksanakan shaum Ramadhan demikian banyak perilaku mulia dan terpuji diukur menurut standar etika dan budaya bangsa apapun di dunia ini. Salah satu diantaranya adalah perilaku kejujuran orang berpuasa. Seorang yang sedang shaum tak akan menelan air ketika ber-kumur2 ber wudhu walaupun andai diteguknya saja air itu, dahaga puasapun akan berkurang, tetangga yang bersenggolan bahu sesama whudu di kran disampingnyapun tak akan tahu. Ibu2 yang sedang mengolah makanan, jikalah disendoknya makanan yang sudah diolahnya diam2, tak ada orang yang mengetahuinya. Tidak saja ketika berpuasa, semua rangkaianya ibadah yang dilaksanakan dalam Islam diletakkan diatas landasan kejujuran. Ketika menghitung zakal maal (atau zakat harta) dilaksanakan sendiri tidak mendatangkan auditor dari akuntan, lalu zakat maal pun dikeluarkan. Kejujuran itu karena keyakinan bahwa Allah maha mengetahui baik yang nyata maupun yang tersembunyi bahkan yang hanya terbersit di dalam hati. Surat At-Taghabun Ayat 4: يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ Artinya: Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Sekedar berandai-andai……. Seandainya seluruh pimpinan dalam strata apapun jika mengamalkan “kejujuran kentut” ini, maka akan aman makmurlah negeri ini. Tidak akan ada yang mencuri uang negeri atau korupsi, menyalah gunakan jabatan. Sebab perilaku2 ketidak jujuran itu setara dengan batal wudhu pemimpin itu. Termasuk pemimpin tak dapat lagi melaksanakan amanah, maka segera berwudhu ulang dengan mengkaji apa sebetulnya amanah yang seharusnya dilaksanakan. Atau jika tak sanggup berwudhu ulang karena kesulitan memenuhi amanah yang harus diembannya, maka segeralah nyingkir dari sajadah pengimaman, supaya fungsi imam diganti orang lain. Imam yang kentut, tetapi tidak jujur, si imam tidak menyingkir, meneruskan memimpin shalat, bagi makmum tidak masalah, shalatnya tetap sah, karena sudah niat berjamaah mengikuti iman, Para Jamaah tidak tau si imam sudah kentut. Begitu juga kasus di penghujung bulan Ramadhan, jamaah sekitar masjid mempercayakan pembayaran Zakat Fitrah kepada panitia masjid. Di beberapa masjid disamping menerima beras juga menerima uang setara beras. Jika panitia amil masjid itu tidak jujur, misalnya uang zakat itu di tilap sebagian tidak dierahkan kepada mustahiq. Maka muzakki yang telah mempercayakan Zakat Fitrahnya kepada Masjid tsb, Zakat Fitrahnya tetap sah, penitia masjid yang menanggung dosa atas ke tidak jujurannya itu. Ya Allah jadikan pemimpin2 di negeri ini dalam strata apapun apalagi sebagai pengurus masjid dapat mengimplementasi “kejujuran kentut” atau “Kejujuran Buang Angin”, dalam memimpin, dalam mengurus organisasi apapun termasuk/apalagi pengurus masjid. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 7 Syawal 1447.H. 26 Maret 2026.

Tuesday, 3 March 2026

PUASA - PERUT

EDISI: RAMADHAN Renungan: M. Syarif Arbi No: 1.403.02.03-2026 Puasa dikenal dalam bahasa agama Islam “shaum”, kegiatan pertamanya adalah “PERUT”. Salah satu dari enam yang semestinya diupayakan agar dipuasakan lima lainnya yaitu: Mata, Telinga, Lidah (mulut), Anggota tubuh, dan Hati. Perut berposisi di tengah, kepala di atas, kaki di bawah. Di Kepala termuat Otak, sebagai sentral pengatur seluruh aktifitas manusia. Otak tidak akan dapat berfungsi dengan baik jika perut yang terletak dibawah leher itu tidak terisi dengan makanan yang cukup dan bergizi. Itu sebabnya barangkali maka diluncurkan “Makan Bergizi Gratis” (MBG), agar anak2 calon penerus bangsa bernas otaknya, cemerlang ide dan kreasinya guna memajukan bangsa kelak setelah mereka dewasa. Hasilnya, kesudahannya, وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ, waktu jualah yang akan membuktikan. Kaki akan gontai melangkah bila perut dalam keadaan lapar. Mata akan mudah menjadi “gelap mata” (melakukan apapun), bila perut lapar. Banyak pelaku kriminal dengan alasan utama demi pemenuhan kebutuhan “perut”. Dalam hal ini kalau di runut2, berat dugaan karena terpaksa lantaran sulit cari kerjaan, sulit cari duit pembeli pengisi perut, orang nekat jadi maling, dengan resiko bila ketangkap masa akan babak belur. Sekali lagi bila di runut2 juga salahnya yang ngatur masyarakat juga, kenapa lapangan kerja tidak tersedia, kenapa kekayaan alam di anugerahkan Allah buat negeri ini, tidak dimanfaatkan dikelola untuk kesejahtaraan seluruh anak bangsa (hanya memakmurkan segelintir orang). Lain lagi dengan koruptor mereka menggumpulkan harta haram bukan lagi untuk ngisi perut lantaran lapar, tapi untuk memenuhi kesarakahan. Soal keserakahan inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Manusia sanggup makan segala macam makanan. Sedangkan hewan hanya dapat makan makanan tertentu. Misalnya hewan pemakan “rumput” tak akan dapat makan “daging”. Hewan pemakan “daging” tidak bersedia makan “rumput”. Manusia kadang bukan saja daging, sayur (rumput2an), dalam kata kiasan manusia sanggup makan “aspal”, makan “besi beton”, makan “proyek” dll. Dalam pada itu minumnya manusia juga beraneka, termasuk dalam tanda petik “meminum BBM”. Ketika berpuasa, makanan yang halal saja harus sanggup dipertahankan untuk tidak dimakan di siang hari, apalagi yang haram. Mem-PUASA-kan perut artinya melatih diri agar nanti di saat tidak berpuasa; hanya memakan makanan yang “halalan, thayyiban”. Makanan halal dalam koridor agama adalah: halal zatnya, halal cara memprosesnya, halal cara memperolehnya. Halal dari arti Zat nya, serta cara memperosesnya jelas diberitahuan Al-Qur’an: tertera dalam surat Al-Maidah ayat 3: حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِۦ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلٰمِ ۚ ذٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." Sedangkan bagaimana memperoleh sesuatu yang diisikan ke perut, agama Islam memberi panduan: يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَا لَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً عَنْ تَرَا ضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَنْـفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ بِكُمْ رَحِيْمًا "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." (An-Nisa' ayat 29) Begitu lengkap dan jelas panduan Al-Qur’an mengenai pengisi perut; dari jenis apa saja yang boleh dimakan, harus dengan jalan yang halal memperolehnya dan dengan cara yang benar pula dalam memprosesnya. Belum cukup itu saja juga diingatkan oleh Al-Qur’an, bahwa meskipun makanan itu halal, diperoleh dengan cara yang baik, diproses dengan benar, namun harus dikonsumsi tidak boleh ber-lebih2 an: يٰبَنِيْۤ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَا شْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ "Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (Al-A'raf ayat 31) Dengan mempuasakan perut agar manusia terhindar dari makanan yang haram, tidak dibenarkan agama seperti melalui korupsi, penggelapan, pencurian, penipuan dsbnya. Selama puasa telah dilatih makanan yang halal saja di siang hari sanggup untuk TIDAK memasukkannya kedalam perut, apalagi makanan yang haram. Sebab perut manusia “yang serakah” tidak pernah merasa kenyang, kalau hanya diisi; aspal, semen, besi beton, BBM, proyek dll, masih tetap belum kenyang. Perut manusia “yamg serakah” baru kenyang setelah terisi dengan “tanah” (alias masuk liang lahad). Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048). Naaah, saudaraku dengan berpuasa ini, dimana kita semua telah dapat melatih diri mem-puasa-kan PERUT, mudah2an setelah puasa berlalu sanggup memilih makanan halal saja, terjauh dari makan haram dan tercegah memperoleh makanan dengan jalan bathil. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ .سُبْحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِين اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن Jakarta, 14 Ramadhan 1447 3 Maret 2026.

Sunday, 1 March 2026

PENDORONG SHAUM

EDISI: RAMADHAN Renungan: M. Syarif Arbi No: 1.402.01.03-2026 Pendorong shaum Ramadhan setiap individu berbeda. Faktor yang membedakannya sekurangnya ada lima y.i. faktor: usia, kesehatan, kegiatan, kebiasaan dan iman. FAKTOR Pertama USIA. Anak orang keluarga muslim yang mukmin, sudah mulai ingin ikut sahur, sejak balita. Bahkan kecewa berat kalau ketika sahur dia tidak dibangunkan. Namun puasa mereka tidak bertahan sampai maghrib. Kadang hanya setengah atau seperempat hari. Setelah meningkat usia 5 tahun ke atas banyak anak yang sudah berpuasa bagaikan orang dewasa. Kenikmatan puasa kelompok balita, mereka merasa puas telah menunjukkan dianya sudah besar, bukan anak-anak lagi. Namun kemampuan phisik belum mendukung. Keluarga yang beriman dalam keseharian kegiatan beribadah telah terlaksana mengakar di rumah tangga keluarga tsb. Anak-anak yang lahir di keluarga ini إِنْ شَاءَ اللَّه, sejak dini, sejak dia mulai ngerti, langsung sudah melihat kegiatan ibadah. Maka si anak/balita akan jadi ahli ibadah. Orang usia lanjut kadang ada yang sudah tak mampu lagi berpuasa, model ini kemampuan phisik sudah tidak mendukung. Untuk kelompok LANSIA yang sudah udzur dan menderita beberapa penyakit yang menurut pertimbangan medis tak layak lagi berpuasa, maka ada dispensasi dari Allah untuk tidak berpuasa tanpa perlu mengqadha, melainkan menggantinya dengan membayar fidyah (memberi makan fakir miskin). Rujukannya adalah Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 184 (dikutif dibawah ini) dan hadits riwayat Bukhari, berlaku bagi yang sudah renta atau sakit berat. Al-Bukhari rahimahullah menyatakan: وَأَمَّا الشَّيْخُ الْكَبِيرُ إِذَا لَمْ يُطِقْ الصِّيَامَ فَقَدْ أَطْعَمَ أَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوْ عَامَيْنِ كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا خُبْزًا وَلَحْمًا Adapun orang yang lanjut usia jika tidak mampu berpuasa, maka (sebagaimana yang dilakukan) Anas beliau memberi makan orang miskin setahun atau dua tahun setelah mencapai usia tua (sebagai ganti) setiap hari (yang tidak berpuasa) dengan roti dan daging. (Shahih al-Bukhari) Ketentuan Fidyah • Jumlah: Membayar fidyah sebanyak 1 mud (sekitar 675-700 gram atau 6,75-7 ons) makanan pokok (beras) untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan. • Penyaluran: Fidyah dapat diberikan dalam bentuk beras atau makanan siap santap kepada fakir miskin. • Alternatif: Jika lansia tersebut juga tidak mampu membayar fidyah (miskin), kewajibannya gugur, atau menurut sebagian pendapat diganti dengan istighfar. FAKTOR Kedua KESEHATAN. Seringkali kesehatan menghalangi berpuasa. Jika berpuasa malah sakitnya dikhawatirkan bertambah parah. O.k.i. dengan kasih sayang Allah diberikan keringanan melalui firman Allah: فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ ۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ"............ Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. ..... ...... . “ (QS. Surat Al-Baqarah: Ayat 184) FAKTOR Ketiga KEGIATAN. Pekerja keras menggunakan phisik kadang tak mampu berpuasa. Sebagai bahan informasi buat kelompok ini, bahwa perang Badr itu berlangsung ummat Islam sedang puasa Ramadhan hari ke 17. Manapula puasa pertama kali. Saya kutipkan ayat: .......... وَمَاۤ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ".......... “Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”, (QS. Al-Anfal 8: Ayat 41) Pertanyaan; seberat apakah pekerjaan itu, berat mana dengan pertempuran di terik matahari padang pasir, jarang ada pohon tempat berlindung. Mereka berpuasa. Menyoal kegiatan travelling atau safari. Ada kekhususan diberikan Allah keringanan tersurat di ayat 185 Al-Baqarah: "........وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah ayat 185). Dalam konteks travelling tsb pernah kami bersama istri thn 2012 di hari pertama di bulan Ramadhan, menuju Saudi, sahur di Jakarta. Kami beranggapan bahwa kegiatan di perjalanan toh tidak berat, maka lanjut berpuasa. Sesampainya di bandara King Abdul Azis, waktu Jakarta sudah pukul 6 petang keliwat, seharusnya sudah berbuka. Tapi kami harus menahan dahaga dan lapar 4 jam an lagi, disana matahari masih bersinar terang benderang. Dari keadaan itu barulah ku-sadar betapa hebatnya Allah mengatur kemudahan untuk melaksanakan ibadah puasa dengan memberikan fasilitas bagi yang sedang travelling diayat di atas. اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ............dst. Al-Qur'an turun sebelum ada perjalanan dengan pesawat terbang, tetapi sudah dipersiapkan oleh Allah aturan kemudahan pengguna pesawat terbang ketika berpergian. FAKTOR ke empat KEBIASAAN. Kembali kita umpamakan keluarga yang mukmin, terbiasa dalam keluarga tsb menjalankan shaum. Katakanlah salah satu anak kelak setelah besar misalnya karena pekerjaan atau sekolah, pindah ke suatu kota berjauhan dengan ortu, dimana di lingkungan baru terkondisi tidak ada orang yang berpuasa. Karena panggilan kebiasaan ybs tak nyaman kalau tidak puasa. Kebiasaan membuat orang bisa melaksanakan, ada pepatah “kalah bisa karena biasa”. FAKTOR ke lima IMAN Iman inilah justru pendorong paling kuat orang berpuasa. Justru memang puasa ini adalah ibadah ditujukan kepada orang yang beriman. Sebagaimana sering menjadi topik bahasan para ustadz2 dan ustadzah2 di bln Ramadhan: يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Al-Baqarah: Ayat 183) Saya masukkan faktor iman yang terakhir, justru faktor iman inilah yang paling penting. Sebab tanpa iman orang ndak tahan menahan lapar dan dahaga, juga tanpa landasan iman, puasa hanya dapat lapar dan dahaga saja. Demikian renungan shaum Ramadhan hari ini, semoga bermanfaat. Terimakasih telah sudi membaca, mohon maaf bila ada kekurangan. Yaa Allah jadikanlah puasa Ramadhan kami berikut amalan2 sunah pengiringnya diterima Allah. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 13 Ramadhan 1447.H. 2 Maret 2026.

Thursday, 26 February 2026

Lunasi HUTANG sebelum diri di KURUNG BATANG

EDISI: RAMADHAN Renungan: M. Syarif Arbi No: 1.400.10.02-2026 Utang adalah perkara yang wajib dilunasi bahkan saat orang itu telah meninggal dunia. Rasulullah ﷺ pernah menolak mensholatkan jenazah karena masih meninggalkan hutang. Kisah ini diceritakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Ahmad. Diceritakan, pada suatu ketika, Rasulullah ﷺ diminta mensholatkan jenazah seseorang. Sebelum mengiyakan, Nabi Muhammad ﷺ menanyakan perihal hutang: • "Apakah orang ini meninggalkan sesuatu?" tanya Rasulullah ﷺ. • Orang-orang yang membawa jenazah itu menjawab, "Tidak." • Rasulullah ﷺ bertanya lagi, "Apakah ia mempunyai hutang?" • Mereka menjawab, "Tiga dinar." (Penulis: setara 12,75 gram emas) • Nabi ﷺ kemudian bersabda, "Kalau begitu silakan kalian saja yang mensholatkannya." Seseorang dari kaum Anshar bernama Abu Qatadah berkata, "Ya Rasulullah sholatkanlah jenazah ini dan akulah yang akan memikul dan bertanggung jawab atas hutangnya." Setelah ada orang yang menanggung utang jenazah itu baru Rasulullah ﷺ mau mensholatkannya. Demikian penting pelunasan hutang karena ROH (JIWA) seorang anak manusia yang meninggal masih tergantung atau terkatung-katung sebelum hutangnya dilunasi. نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ “JIWA seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. At Tirmidzi 1078) Tidak sedikit juga orang yang berhutang, sejak semula sudah berniat tidak akan membayar hutangnya. Dalam hal ada seorang muslim berhutang dengan niat sengaja akan ngemplang alias tidak akan membayar, orang ini tergolong sebagai pencuri. Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah ﷺ bersabda: أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا “Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR Ibnu Majah: 2410) Ketika seseorang memiliki uang yang cukup untuk membayar tanggungan hutang yang ia miliki, maka ia harus segera membayar hutangnya kepada orang yang memberinya utang. Menunda bayar hutang merupakan bentuk tindakan menzalimi orang lain. Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam haditsnya: مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ Artinya: Menunda-nunda membayar hutang bagi orang yang mampu (membayar) adalah kezaliman (HR Bukhari). Menurut para ulama ahli hadits, makna riwayat di atas mengarah pada ketentuan haramnya menunda hutang tatkala seseorang sudah cukup secara finansial dan mampu untuk membayar. Berbeda ketika seseorang dalam keadaan tidak memiliki uang yang cukup, maka ia tidak tergolong dalam cakupan hadits di atas. Teringat ketika masih bertugas di perbankan, tentang orang minjam kredit di bank sebelum kredit dikucurkan kepada peminjam, dilakukan serangkaian analisa yang serius dari berbagai aspek (tidak diungkap detail di artikel ini) namun pada pokoknya kajian terfokus pada: • Apakah si peminjam akan sanggup membayar (pokok pinjaman + bunganya), dilihat dari sumber pendapatan ybs, dilihat dari produksi yang telah/akan dihasilkannya. • Apakah si peminjam berkarakter baik, akan membayar pinjamannya, atau sebaliknya diperoleh informasi sejak semula calon peminjam tukang ngemplang. Muamalah; pinjam – meminjam ini dibolehkan dalam syariat Islam buktinya antara lain dibakukan dalam Al-Qur’an, dipetik salah satu ayat tsb yaitu Al-Baqarah 282. Begitu rincinya Allah memberi petunjuk dalam hal hutang – piutang tersebut sehingga ayatnya demikian panjang, maka dipetik sebagiannya yaitu tentang wajib dilakukan pembuktian tertulis. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِالْعَدْلِۖ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ اَنْ يَّكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّٰهُ فَلْيَكْتُبْۚ وَلْيُمْلِلِ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَقُّ “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu mencatatnya. Hendaklah seorang pencatat di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah pencatat menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajar-kan kepadanya. Hendaklah dia mencatat(-nya) dan orang yang berutang itu mendiktekan(-nya)………….” Paling kurang jika pinjaman antara sesama pribadi dengan pribadi dalam jumlah pinjamannya tidak terlalu besar katakanlah sepuluh - duapuluh juta, mungkin dapat saja berupa “KAS BON” atau “Kwitansi”. Pinjaman antara teman kadang akan sulit untuk menagihnya. Tak jarang orang yang meminjamkan uang kepada teman, lantas berujung bersabatan menjadi retak, bila si peminjam punya kemampuan tetapi tidak punya kemauan untuk membayar. Banyak orang yang menyarankan jika teman akrab atau saudara yang meminjam uang, sepanjang kita mampu, lebih baik dibantu dengan “akad” bukan pinjam-meminjam tapi “membantu”. Di moment kita bershaum Ramadhan ini, kesempatan merenungkan apakah diri ini masih ada hutang kepada sesama kerabat atau saudara, hendaklah berusaha segera melunasinya. Kalaulah belum sanggup melunasi seluruh hutang, setidaknya dengan mencicil, dengan demikian membuktikan bahwa si peminjam punya itikad baik; tidak bermaksud untuk ngemplang. Sebab mau tidak mau, suka tidak suka, diri ini pasti akan terbujur di kurung batang. Makanya “Lunasilah hutang sebelum diri terbujur di Kurung Batang”. اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ "Ya Allah cukupkan lah aku dengan yang halal dan jauhkan lah aku dari yang haram, dan cukupkan lah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu." آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 10 Ramadhan 1447 H/27 February 2026

Thursday, 19 February 2026

Dipintu IKHLAS – Iblis MENUNGGU

EDISI: RAMADHAN Renungan: M. Syarif Arbi No: 1.397.07.02-2026 Umpama kata, nilai ibadah itu tersimpan aman di dalam lemari besi, untuk membuka nilai ibadah itu perlu kunci dan juga nomor kombinasi. Maka kuncinya adalah IKHLAS, sedangkan nomor kombinasinya adalah di laksanakan ibadah itu sesuai Contoh Rasulullah Muhammad ﷺ. Ikhlas suatu istilah mudah diucapkan, tapi sangat2 sulit untuk di realisasikan. Ikhlas dalam pengertian ibadah kepada Allah secara sederhananya adalah beribadah tanpa mengharapkan apapun dari selain Allah. Beramal hanya se mata mata karena Allah, mengharapkan balasannya hanya dari Allah. Kesulitan manusia dalam strata iman yang tinggi sekalipun untuk berlaku ikhlas, karena hidup kita di bumi ini didampingi Iblis yang sudah mendapat izin Allah melencengkan manusia dari ikhlas. Allah dalam dialog dengan Iblis antara lain terdapat dalam ayat 78 sampai 81 surat Shad. Diantara dialog itu Iblis menjawab: قَا لَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُ غْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ ۙ Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. (Shad ayat 82). Iblis bertekad menyesatkan manusia dengan cara datang dari berbagai arah: ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَا نِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ "kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (Al-A'raf ayat 17) Contoh godaan Iblis ke Ahli Ibadah: Tiap hari tak pernah lupa bersedekah. Lidah selalu bergoyang berzikir dan bibirnya selalu basah dalam kalimat thayyibah . Tentu tak usah diragukan lagi ibadah wajib olehnya dilaksanakan dengan baik dan khusyuk karena Allah, sedangkan ibadah yang sunah saja hampir tak pernah luput, Iblispun dari PINTU IKHLAS ini bukan tidak berpeluang masuk, mendatangi dari kanan, yaitu melalui karib kerabat dan sobat; di informasikan apresiasi orang dan masyarakat yang mengenalnya bahwasanya dianya diketahui ahli ibadah. Pertanda Iblis berhasil masuk dari “Pintu Ikhlas”, maka tatkala si ahli ibadah mulai merasa ketaatan dan keikhlasannya beramal/beribadah itu diketahui orang, menjadi perbincangan masyarakat, diapun menjadi termotivasi meningkatkan frekuensi amal/ibadahnya. Sedekah yang biasanya 10rb setiap hari, ditingkatkan jadi 20rb sampai 30rb. Zikir yang biasa dilakukan diperbanyak dan pengucapannya diperjelas. Pokoknya semenjak diketahui orang akan amal/ibadahnya ybs meningkatkan amal/ibadahnya baik kualitas maupun kuantitas. Jika sudah seperti ini, berarti Iblis telah berhasil menunggunya di pintu IKHLAS. Selanjutnya PERANGKAP IBLIS telah MENGANGA untuk diarahkannya kepada ahli ibadah yang ikhlas itu tadi. Iblis punya PERANGKAP DI PINTU IKHLAS yang siap untuk memerangkap orang-orang ikhlas dalam beribadah. Karena kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada ummatnya, beliau ajarkan do'a untuk menghindari PERANGKAP IBLIS, kepada sahabat utamanya ABU BAKAR. Diketahui dalam sejarah Islam bahwa Abu Bakar sahabat nabi yang begitu kuat imannya. Akan tetapi masih perlu diajari nabi do'a ini, apalagi kita2 ini yang imannya mungkin tak seujung rambutpun bila dibanding dari Abu Bakar sahabat utama Nabi Muhammad ﷺ, itu. Tentu do'a itu dimaksudkan Nabi Muhammad ﷺ. bukan hanya untuk Abu Bakar namun untuk kita semua agar terhindar dari PERANGKAP IBLIS yang masuk dari pintu IKHLAS. Do'a tsb sbb: اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ Allahumma inni a'udzu bika an usyrika bika syaian waanaa a'lamu waastaghfiruka lima laa a'lamu. Ya Allâh! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui. (Imam Bukhari dlm AL ADAB AL MUFRAT dan At Tirmidzi dlm NAWATIR AL USUL). Contoh godaan Iblis di tulisan ini hanya buat ahli ibadah, hal yang sama dapat dilakukan Iblis buat Ahli Dakwah, Da'i idola ummat, para penghafal Al-Qur'an, para ustadz dan ustadzah, juga penulis artikel2 dakwah, para darmawan, tidak terkecuali diseluruh strata. Oleh karena itulah agaknya senantiasa kita berdo'a seperti yang diajarkan Rasululllah Muhammad ﷺ, kepada sabat beliau Abu Bakar dikutip di atas. Semoga kita tidak masuk PERANGKAP IBLIS yang menunggu di PINTU IKHLAS. Sehingga seluruh rangkaian ibadah kita di terima Allah swt, untuk bekal ke akhirat nanti. آمِيّنْ... آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 3 Ramadhan 1447 H 20 February 2026

Wednesday, 18 February 2026

TUJUAN PENYAKIT

EDISI: RAMADHAN Renungan: M. Syarif Arbi No: 1.396.06.02-2026 Boleh dikatakan hampir semua orang pernah merasakan sakit. Kadar sakitnya saja yang tak sama. Rata2 manula kebagian penyakit kronis, inipun beda setiap individu. Ada sih manula yang jarang sakit serta tak punya penyakit kronis. Inipun membuktikan kekuasaan Allah bahwa tak mesti manula sakit2an. Tak juga sakit2an monopoli manula, sebab ada yang masih belia sakit2an. Keadaan phisik, perasaan yang beda dari keadaan normal, itu katanya batasan "sakit". Keadaan bathin jadi resah, gelisah membuat makan tak enak tidur tak nyenyak; begitupun sakit juga. Lalu ada sakit jasmani dan sakit rohani. Ada sakit raga dan sakit jiwa. Bila jasmani sakit harus selalu ikhtiar berobat, karena setiap penyakit disediakan obatnya oleh Allah. Bila rohani sakit, resah gelisah penyembuhnya mendekat kepada Allah. Sadarlah kita bahwa menyoal soal sakit kita masing2, walau kelompok sakitnya sama, namun variasi SAKIT tiap individu beragam, sekalipun kembar identik. Semua telah ditentukan oleh YANG MAHA KUASA. Seluruh TYPE SAKIT masing2 diri agaknya sudah ketentuan YANG MAHA KUASA, dalam terminology iman disebut TAQDIR. Kalaulah Sakit itu dilihat sebagai ujian, dipandang sebagai musibah atau bencana maka ketahuilah apapun nanti SAKIT masing2 diri, di usia berapa mulai diderita dstnya telah ditentukan dalam TAQDIR, seperti firman Allah SWT berikut ini: مَاۤ اَصَا بَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَ رْضِ وَلَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْـرَاَ هَا ۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ ۖ "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah" (QS. Al-Hadid ayat 22) Dalam menjalani hidup ini, ketika datang SAKIT silih berganti, sembuh dan kambuh dalam wujud apapun janganlah sampai kita termasuk kelompok manusia seperti disebutkan Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat 83: وَاِذَاۤ اَنْعَمْنَا عَلَى الْاِنْسَانِ اَعْرَضَ وَنَاٰ بِجَانِبِهٖ ۚ وَاِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَـئُوْسًا "Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa". Ketahuilah bahwa SAKIT itu juga merupakan anugerah. Contoh kecil, seorang pegawai ditugaskan untuk bepergian dinas keluar kota. Tiket penerbangan sudah disiapkan kantor. Pas jadwal berangkat terserang sakit yang tak mungkin untuk pergi. Dengan berat hati batal berangkat. Ternyata sakit ybs sebagai sebab umurnya masih panjang, ajalnya belum tiba, pesawat calon tumpangannya hilang tak sampai tujuan. Selain itu, Rasulullah memaklumkan bahwa sakit merupakan sarana Allah mengampuni dosa penderita. مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ “Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, maka Allah akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadits yang lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ،حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ “Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.” (HR. Muslim) Dari hadits2 diatas ternyata sakit pun memiliki faedah dan fadhilah bagi yang sakit. Tentu, jikalau ia bersabar dan menjadikan sakitnya sebagai pelajaran bagi dirinya. Semoga pembaca yang sakit segera ditemukan obatnya. Allah angkat penyakit2nya sehingga usia yg tersisa dapat dimaksimalkan untuk beramal kebaikan dan beribadah kepada Allah. Utamanya di bulan Ramadhan ini, masih sanggup melaksanakan ibadah puasa. مِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنi آمِيّنْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 2 Ramadhan 1447 H. 19 February 2026.

TIGA BENTUK pengabdian kepada ALLAH

EDISI Ramadhan 1447 H. Diramu: M. Syarif Arbi No: 1.395.05.02-2026 Tak sedikit orang yang tak tau persis sebetulnya untuk apa dirinya hidup di dunia ini. Bagi ummat Islam, Allah memberitahukan dalam Al-Qur'an surat 51 = Adz-Dzariyat ayat 56: وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku". Tidak hanya sampai memberitahukan untuk apa kita hidup yaitu untuk mengabdi kepada Allah, tapi Allah juga sekaligus memberikan Tiga “Petunjuk Pelaksanaan bentuk pengabdian tsb” bagaimana cara manusia mengabdi kepada-Nya, yakni: 1. Utamakan kehidupan akhirat, tetapi tidak mengabaikan kehidupan dunia. 2. Senantiasa berbaut kebaikan. 3. Jangan membuat kerusakan dimuka bumi. PERTAMA, "وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ......." Mengutamakan kebahagiaan kehidupan akhirat. Langkah ini menghendaki agar dalam melaksanakan kehidupan di dunia, kita senantiasa mengutamakan pertimbangan nilai akhirat. Tetapi "..... وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا...…" tidak mengabaikan kehidupan dunia. Sebab amal akhirat tidak berdiri sendiri dan terlepas dari amal duniawi. Sungguh banyak amalan akhirat yang berhubungan erat dalam mewujudkan kebahagiaan duniawi. Contoh shalat, seorang yang melaksanakan shalat dengan tekun dan disiplin, bukanlah semata-mata sebagai amal akhirat yang tidak berdampak duniawi, sebab bila shalat itu dilaksanakan menurut tuntutan Allah dan Rasul-Nya, secara berjamaah, niscaya ia akan banyak memberikan hikmah dalam kehidupan dunia. Dengan shalat yang benar akan dapat mencegah seseorang dari berbuat keji dan munkar. Al-Qur'an surat 29 = Al-Ankabut ayat 45: وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ".........dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar......." Dengan demikian manusia akan terhindarnya dari perbuatan yang dapat merugikan orang lain, sehingga terciptalah ketenteraman hidup bersama di dunia ini. Begitu juga dengan infak dan shadaqah, seorang yang beramal dengan niatan mulia untuk mendapatkan ganjaran berupa pahala dari Allah di akhirat, maka dengan hartanya tersebut dapat memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain yang membutuhkan. KEDUA, "ahsin" yaitu senantiasa menghendaki kebaikan. وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ "......dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu,....." Bila seseorang mengamalkan langkah ini dalam dirinya, niscaya ia akan selalu berbuat kebaikan. Berkata baik dalam pergaulan di kehidupan sehari-hari. Orang beriman yakin betul bahwa tak ada satu katapun yang terucap menguap hilang begitu saja. مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. 50 = Qaf ayat 18). Tak ada satu gerakpun yang luput dari catatan, rekaman video Allah melalui malaikat: اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَا لِ قَعِيْدٌ "(lngatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri." (QS. 50 = Qaf ayat 17). Maka orang beriman akan selalu tampil dalam kebaikan demi kebaikan, mempersembahkan sebuah karya terbaiknya untuk kemanfaatan masyarakat disekitarnya, peduli akan kemaslahatan umum, dan meninggalkan sebuah kebaikan yang akan selalu berguna bagi orang banyak walaupun ia sudah pergi terlebih dahulu menuju kehidupan yang abadi. KETIGA, adalah "walaa tabghil fasada fil ardh "(....... وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ.......)" yaitu Langkah untuk tidak berbuat kerusakan. "...........dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi........." Bila JUKLAK ketiga ini dijalankan dengan istiqamah/konsisten, seseorang akan lebih melengkapi JUKLAK yang kedua, yakni melengkapi upayanya berbuat baik dengan upaya menghindari perbuatan yang merusak. Perbuatan merusak termasuklah melanggar hukum yang ditentukan agama dan melanggar peraturan yang disepakati dalam masyarakat. Tidak malu melakukan sesuatu diluar kepatutan, menerabas norma2 yang berlaku, demi memenuhi nafsu kesuksesan pribadi, keluarga atau golongan. Terjadinya kerusakan alam, kerusakan moral, kerusakan dalam tatanan kehidupan masyarakat sering kali terjadi karena sudah hilangnya kesadaran akan tujuan hidup yang sesungguhnya, sudah putusnya “urat malu” sehingga seorang lupa bahwa sesungguhnya ia tidak dibiarkan begitu saja, bahwa ia akan mempertanggung jawabkan segala perbuatannya ketika ia menghadap Allah di akhirat kelak. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: أَيَحْسَبُ الْإِنْسٰنُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى "Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?" (QS. Al-Qiyamah ayat 36) ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Ar-Rum ayat 41. Tiga bentuk tentang bagaimana cara pengabdian kepada Allah dikutip di atas secara utuhnya tersusun jelas pada firman Allah di surat 28 = Al-Qasas ayat 77: وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖوَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ "Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." Semoga kita semua senantiasa memahami untuk apa kita ini hidup, kemudian sanggup mencapai tujuan hidup yang hakiki serta dapat melaksanakan langkah2 pengabdian kepada Allah. Bagi yang hari ini sudah mulai shaum Ramadhan hari pertama, semoga Allah menerima ibadah shaum masing2 dan bertekad untuk lebih menyempurnakan shaum di hari2 berikutnya. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 1 Ramdhan 1447 H. 18 February 2026.