Wednesday, 21 October 2026

NGOPI – TERAKHIR

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.446.02.10-2026 Seorang nenek delapan puluhan, suatu pagi sudah siap2 akan pergi ke rumah cucunya yang baru melahirkan 2 hari lalu. Rumah cucu bertambiran desa, naik andong kira2 sepuluh menit. Sebelum berangkat, nenek bilang ke cucunya yang sengaja diminta nginap di rumah si nenek, yang nanti akan menemani naik andong; *”Ani,… sedukan nenek kopi dulu sebelum berangkat !”*. Si Ani (bocah kelas 5 SD yang hari Ahad itu libur) ragu2 untuk menyedukan kopi karena tau bahwa neneknya sudah puluhan tahun tidak ngopi, lantaran pantangan berpenyakit tertentu, Ani ndak tau persis, tapi pantangannya antara lain *minum kopi*. Perlu diketahui peristiwa itu terjadi belum era HP, jadi si Ani yang dipesan untuk nemani nenek itu, tidak dapat konsultasi ke rumah ibunya. Lantas diapun menyedukan kopi *“tapi sedikit saja ya nek”* ujarnya. Benar juga sang nenek nyeruput kopi panas itu hanya mungkin empat seruputan. *”Panggil andong ya nek”* kata si Ani. Nenek menjawab *”jangan dulu……. nenek mau rebahan dulu”* Si Ani duduk di teras rumah di desa yang sejuk, teduh itu, sambil membaca komik kesukaannya. Namun cukup lama sampai puluhan halaman komik di baca, sang nenek belum juga memanggil. Ani coba melihat ke kamar, …………….. ternyata neneknya *sudah di panggil pulang Yang Maha Kuasa*. Pembaca; selama hidup, manusia perlu makan-minum dan ini lazim disebut dengan rezeki, walau sesungguhnya yang dimaksud dengan *rezeki bukan saja makan-minum, tetapi; kesehatan, kesempatan dan segala sesuatu kenikmatan.* Tulisan ini membatasi rezeki hanya pada apa yang dimakan dan apa yang diminum. Khusus tentang si nenek adalah tentang minum. Rezeki manusia yang dimakan-diminum, telah ditentukan sejak lahir sampai mati, ketahuilah bahwa sebelum jatah rezeki tersebut habis dimakan-diminum, manusia tidak akan mati. Dalam konteks ini Allah berfirman: وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا. ۗ _*“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. …………….”*__ (Ali Imran ayat 145). Jika “jatah” rezeki telah habis dikonsumsi seseorang akan mati. Seseorang tidak mungkin mati sampai sempurna rezekinya, dan berakhir pula amalannya. Dari Jabir bin ‘Abdillah ra, Nabi Muhammad ﷺ bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ _*“Wahai umat manusia, bertaqwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertaqwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.”*_ (HR Ibnu Majah). Dalam pada itu dari Ibnu Mas’ud ra, Nabi Muhammad ﷺ bersabda: إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ _*“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.”*_ (HR Musnad Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani) Maka dapat dimaklumi Nenek-Kakek, porsi makannya sangat sedikit. Rupanya jatah rezekinya sudah hampir habis. Semasa muda dulu jenis2 makanan jadi makanan favorit, minuman wajib tertentu mesti harus ada di meja kalau pulang kerja, sudah tidak dapat dimakan diminum lagi. Makanan favorit kalau dimakan juga jadi alergi, misalnya nenek yang dikisahkan ini, dulu minuman kopi menjadi minuman wajib, sekarang kalau diminum maag terganggu, jantung terganggu. Dari petunjuk ayat dan hadits diantaranya dikutip diatas, mengertilah agaknya kita, bahwa; bagi pribadi tertentu, rezeki berwujud makanan dan minuman, yang sekarang sudah membuat alergi, atau berdampak penyakit, itu artinya jatah buat rezeki jenis makanan dan minuman jenis itu sudah hampir habis atau mungkin sudah habis buat diri awak. Untuk jenis lain masih ada yang masih tersisa, jatah nasi sudah hampir habis lantaran masa muda makannya sekali makan rata2 dua piring. Jadi masa tua harus dimakan se-dikit2, jatah kentang masih tersisa. Jatah gula pasir sudah habis, karena masa muda dulu kalau menyedu kopi segelas, gulanya 2 sendok makan, sekarang tersisa rezeki pemanis “Tropicana”. Harap makluuum. Dengan demikian: Malaikat maut belumlah datang. Sebelum dinikmati rezeki yang dipantang. Si nenek dengan pantangan minum kopi, hayatnya pun berakhir setelah minum kopi yang masih merupakan rezeki beliau, dan itulah rupanya *Ngopi terakhir buat si nenek*. Yaa Allah tolong diberikan kepada kami rezeki yang halalan, tetap thayyiban serta barakatan sampai akhir hayat dikandung badan. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 17 Oktober 2026/6 Jumadil Awal 1448 H.

Bagaimana Yang Terakhir

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.447.03.10-2026 Tiga sahabat lama teman es em aa semasa di kampung, janjian bezook seorang teman sekelas yang kini sedang dirawat dirumah sakit. Pas tiba di area parkir berkumandang adzan di masjid komplek rumah sakit. *Kalau begitu kita shalat ashar dulu nanti baru menuju kamar*, ujar salah seorang. Dua orang rekan yang penumpang mobil, begitu keluar dari mobil menunggu tak jauh dari mobil, bermaksud bertiga bersama menuju masjid. Ternyata yang pegang kemudi setelah turun dari mobil katakan *kalian berdua duluan saja, saya kesana dulu…. sambil nunjuk suatu arah*. Usai shalat, kedua temannya (sebut saja si A dan si B) sambil mengenakan sepatu, toleh kiri – toleh kanan – toleh sekitar, teman yang satunya tidak tampak, mereka berduapun langsung melangkah menuju gedung rumah sakit, rupanya dianya (sebut saja si C) sudah duduk santai di lobby. Kesimpulan bahwa satu teman mereka ini si “C” tidak ikutan shalat ashar. Padahal shalat ashar demikian pentingnya sehingga di Al-Qur’an tertulis surat Al-Baqarah ayat 238: حَٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ وَقُومُوا۟ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ _*” Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.”*_ Dua temannya yang baru saja shalat ashar, masing2 membhatin, dengan isi bathin yang berbeda. Si “A” mbhathin *kesihan kawanku satu ini, sudah usia diatas 40an masih belum shalat*. Sedang si “B” mbathin *semoga di akhir hidup sobatku ini jadi orang yang taat*. Puluhan tahun kemudian, setelah mereka usia diatas kepala tujuh, masing2 sudah punya cucu, diperoleh kabar kenyataan si “C” sangat taat beribadah, hidupnya tidak jauh dari masjid. Bahkan ikut jadi panitya membangun masjid, rupanya bathinan si “B” di ijabah Allah. Dalam agama Islam, yang *terpenting bukan hanya bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi juga bagaimana ia mengakhiri hidupnya*. Boleh jadi seseorang terlahir belum beragama Islam, tetapi setelah dewasa, setelah akhir hayatnya menjadi penganut agama yang taat bahkan menjadi da’ie. Kita berharap dapat menutup usia dalam keadaan beriman, bertobat, memperbanyak amal shaleh, dan mendapatkan ridha Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ _*“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada penutupnya.”*_ (HR. Bukhari) Akhir kehidupan memiliki arti yang sangat penting. Namun, kita tidak boleh menunggu tua atau mendekati kematian barulah taubat, barulah menjadi shaleh. Sebaiknya kita mulai memperbaiki diri sejak sekarang, karena tidak seorang pun mengetahui kapan ajalnya tiba. وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَآءَ اَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَةً وَّلَا يَسۡتَقۡدِمُوۡنَ‏ ٣٤ _*”Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”*_ (Al-A’raf 34) وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَا ۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَࣖ ۝١١ _*"Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."*_ (Al-Munafiqun 11) Kondisi akhir hayat seseorang merupakan penentu utama keselamatan di akhirat, meninggal dunia dalam keadaan beramal shaleh ini disebut sebagai *Husnul Khatimah* (akhir yang baik). Sangat terkenal satu ayat sering dibaca khatib Jum’at: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ _*”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”*_ (Ali-imran 102) *Ayat diatas; Allah secara tegas melarang hamba-Nya wafat kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri dan beramal shaleh)* Populer hadits Imam Bukhari menjadi landasan utama mengenai amal terakhir menentukan nasib di akhirat, وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ _*“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.”*_ (HR. Bukhari, no. 6607) Di artikel singkat ini, hendaklah bilamana melihat: teman kita, tetangga kita, saudara kita belum tergerak untuk taat beribadah, hendaklah ikuti cara mbatin salah seorang sahabat es em aa yaitu si “B” dengan mbathin merupakan do’a ; *“semoga di akhir hidup sobatku ini jadi orang yang taat beribadah”*, tak usah mbathin seperti teman es em aa si “A”: *kesihan kawanku satu ini, sudah usia diatas 40an masih belum shalat*, karena yang menentukan adalah amalan di akhir hayat. Seindah-indah perjalanan hidup adalah ketika kita menua dalam kebaikan, semakin dekat kepada Allah, dan wafat dalam husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik). اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ عَوَاقِبَ أُمُورِنَا خَيْرًا اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ... تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ وَلَا تَخْتِمْ عَلَيْنَا بِسُوْءِ الْخَاتِمَةِ اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 21 Oktober 2026 11 Jumadil Awal 1448 H.

Wednesday, 7 October 2026

BBM tercampur AIR

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.445.01.10-2026 Melanjutkan artikel *7 (tujuh) lobang kebocoran* pahala amal kebaikan setiap manusia, dimana 6 (enam) telah dikemukakan pada artikel2 sebelumnya. Di kesempatan ini membicarakan pembocor amal yang ke tujuh yaitu *“Mencampur amal baik dengan amal buruk”* Menyoal perihal bocornya amal karena *Mencampur amal baik dengan amal buruk*, dimungkinkan terjadi 2 (dua) keadaan: *Yang pertama;* amal baik akan bocor habis, hilang tak bersisa. *Yang kedua;* pahala amal baik, tetap tersimpan, tetap bertahan, tidak habis semua, walau disisi lain manusia melakukan perbuatan buruk. Bagaimana hal tsb dapat terjadi?, semoga tulisan singkat ini dapat serba sedikit menyingkapnya. Aamiin. *Kemungkinan pertama; amal baik bocor tercampur amal buruk*. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى melarang keras hamba-Nya mencampur-adukkan perkara yang benar (ketaatan/kebaikan) dengan yang salah (maksiat/keburukan): وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ Artinya: _*Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.*_(Al-Baqarah ayat 42). Kendaraan motor bila diisi dengan BBM bercampur air, sudah dapat dipastikan mesinnya akan mogok. Segelas air tercampur sesendok saja BBM, jelas tidak layak lagi untuk diminum. Perumpamaan ini menegaskan bahwa dua cairan *yang satu untuk diminum* dan yang satunya *bukan cairan untuk diminum*, jika dicampurkan tidak lagi bermanfaat untuk manusia maupun mesin. Diayat lain Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى peringatkan tentang Amalan yang Gugur (Habithat A'maluhum) adanya golongan orang yang merasa sudah berbuat baik, namun amalnya sia-sia di akhirat karena perbuatan kufur atau *maksiat besar* yang merusaknya: ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا Artinya: _*Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.*_(al-kahfi-ayat-104). Siapakah yang sia2 amalnya, sedangkan mereka menyangka telah berbuat baik, jawabannya tersurat di Al-Kahfi ayat 105. أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا Artinya: _*Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.*_ *Kemungkinan Kedua; amal baik tetap tersimpan walau tercampur amal buruk* Asalkan jangan *kufur*, masih berpeluang amal baik yang dilakukan seseorang tidak terkuras. *Ada amal buruk yang langsung membatalkan pahala, ada pula amal buruk yang tidak serta merta membatalkan pahala*. Amal buruk yang langsung membatalkan pahala, ialah amal buruk yang menyangkut dengan sesama manusia. inipun dapat dibagi dua, ada yang mutlak batal, ada yang dapat di cancel batalnya melalui permintaan maaf. *Yang mutlak batal*; Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَ menegaskan dalam surat Al-Baqarah 264: *Jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.* ayat tsb telah dikutip pada artikel sebelum ini berjudul *RIYA’*. *Yang dapat di cancel batalnya kebaikan oleh keburukan,terkenal hadits tentang “Muflis (bangkrut)”* Pahala kebaikan juga bisa habis karena dicampur dengan maksiat atau kezaliman kepada sesama manusia: Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang bangkrut di akhirat adalah orang yang datang membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga membawa dosa mencaci orang lain, menuduh tanpa bukti, memakan harta orang lain, dan menumpahkan darah. Di akhirat, pahala-pahala kebaikannya akan ditransfer untuk membayar korban kezalimannya sampai pahalanya habis, lalu dosa korbannya ditimpakan kepadanya hingga ia dilempar ke neraka (HR. Muslim). Jika berhasil meminta maaf kepada pihak dimana diri kita berbuat salah selama di dunia, bertaubat atas maksiat kepada Allah, kemudian Allah menerima taubatnya, maka pahala kebaikannya dapat di cancel batalnya, jadi masih dapat ditemuinya di akhirat nanti. Kembali ke perumpamaan bercampurnya BBM dengan air di awal tulisan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa: Air bila tercampur BBM dalam hal tertentu tidak layak lagi buat kendaraan atau buat diminum. Dalam pada itu dengan jalan memisahkan kandungan air di dalam BBM, maka BBM akan berguna lagi buat kendaraan, justru BBM yang dipakai buat kendaraan sekarang ini berasal dari campuran bermacam cairan sebelum diolah. Permisalannya jika telah menyadari berdosa kepada Allah lantaran maksiat, langsung bertaubat, jika bersalah sesama manusia langsung mohon maaf selama di dunia ini. إِنْ شَاءَ اللَّه pahala dari amal kebaikan tidak akan terkuras. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَ berfirman: وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ Artinya: _*Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.*_ (Hud ayat 114) Dalam hal diri kita sedang tergelincir bermaksiat, terlanjur mendzalimi sesama, tak usah berputus asa, jangan sampai terbuai syaitan membisikkan: *“Aku masih buat dosa, jadi tak guna aku shalat, bersedekah atau berbuat baik toh tidak akan diterima Allah”*. ini bisikan rayuan syaitan merupakan perangkap. Yang betul ialah *teruskan kebaikan dan pada saat yang sama bertaubat serta berusaha sungguh2 melawan maksiat*. Ya Allah,….. jadikanlah sisa2 hidup kami ini tidak mencampur-adukkan amal baik dan amal buruk, jikapun kami terlanjur berbuat dosa kepada-MU kami mohon ampun, jika terlanjur mendzalimi sesama, beri kesempatan kami dapat memohon maaf kepada mereka. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 7 Oktober 2026/25 Rabiul Akhir 1448 H.

Wednesday, 30 September 2026

GHIBAH Sumber MASALAH

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.444.04.09-2026 Diartikel sebelum ini disebutkan bahwa lobang tersedia buat bocornya simpanan kebaikan (pahala) bakal bekal di akhirat bagi setiap insan terdapat 7 saluran: (1). Riya' Langsung., (2). Riya' Digital (Pamer Kebaikan di Media Sosial)., (3). Sum’ah (ingin didengar) amal baik., (4), Menyebut-nyebut Kebaikan (Al-Mann) & Menyakiti Perasaan., (5). Dengki dan Hasad., (6), Ghibah, Membicarakan Aib Orang Lain & Mencemarkan Nama Baik orang lain., (7). Ibadah dicampur maksiat. Dikesempatan ini, mari kita bicarakan saluran ke (6) bocornya pahala lantaran *Ghibah*. Ghibah adalah *amalan mulut, amalan lidah* yaitu: (a). Membicarakan Aib Orang Lain., (b). Mencemarkan Nama Baik orang lain., (c). Bergunjing., (d), Memfitnah., (e). Mencela orang lain. Lebih rinci mestinya sub title *Gibah* dapat diurai lebih jauh. Ada beda tipis *membicarakan aib orang lain*, dengan *mencemarkan nama baik orang lain*, tidak sama persis pengertian *menggunjing, memfitnah, mencela orang lain*. Namun biarkanlah artikel nomor ini hanya menitik beratkan tentang *GIBAH* *Masalah Ghibah dalam Bermasyarakat* Ghibah adalah membicarakan keburukan atau kekurangan orang lain ketika orang tersebut tidak ada, meskipun apa yang dibicarakan itu sesungguhnya benar2 merupakan keburukan orang yang dibicarakan. Dalam kehidupan bermasyarakat, ghibah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain: *Pertama; Menimbulkan permusuhan*. Bilamana orang yang menjadi bahan pembicaraan mengetahui keburukan dirinya telah dibicarakan maka dianya akan sakit hati, berdampak hubungan antarwarga menjadi renggang, bukan mustahil jadi permusuhan. Apalagi bila pas membicarakan keburukan seseorang, orang yang di bicarakan tiba2 muncul, akan terjadilah pertengkaran. Dapat saja terjadi ketika membicarakan keburukan seseorang, diantara pendengarnya adalah sahabat atau kerabat orang yang di ghibah, maka akan terjadi, setidaknya adu argumentasi, boleh jadi terjadi pertengkaran. *Kedua; Merusak kepercayaan* Dalam hal seseorang; katakanlah teman kita, family kita, tetangga kita, kebiasaan menyebar *gossip*. Maka terhadap orang itu kepercayaan kita akan menurun, bahkan bisa hilang. Karena kalau dianya hobby *bergossip* tentang orang lain, dalam kesempatan lain dia akan *meng-gossip-kan* diri kita. *Ketiga; Memicu konflik*. Informasi yang disampaikan dari satu orang ke orang lain dapat berubah atau ditambah-tambahkan sehingga menimbulkan perselisihan. Menciptakan lingkungan sosial yang tidak sehat, terciptalah masyarakat yang terbiasa membahas kekurangan orang lain daripada menyelesaikan masalah sendiri. Sibuk ngurus kelemahan orang lain, kurang perhatian kepada kelemahan diri sendiri. *Keempat; Menghimpun dosa.* Di dalam perspektif agama *ghibah* sangat dilarang, terdapat sejumlah ayat dalam Al-Qur’an melarang. Manusia peng *ghibah*, diancam dengan dosa yang besar. Dipetik beberapa diantara ayat yang berkaitan dengan *ghibah*: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ۝١٢ _*Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.*_ (Al-Hujurat ayat 12). إِذْ تَلَقَّوْنَهُۥ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُۥ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ _*(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.*_ (An-Nur ayat 15) إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلْفَٰحِشَةُ فِى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ _*Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.*_ (An-Nur ayat 19) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ۝١٨ _*Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).*_ (Qaf ayat 18) ۞ لَّا يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلْجَهْرَ بِٱلسُّوٓءِ مِنَ ٱلْقَوْلِ إِلَّا مَن ظُلِمَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا _*Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.*_ (An-Nisa 148) وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ هَمَّازٍ مَّشَّآءٍۭ بِنَمِيمٍ مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ _*Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,Yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,*_(Al-Qalam 10-12). Dosa ghibah ini adalah produk mulut/lidah, maka hendaklah kita berhati-hati menggunakan lidah ini. Jangan sampai lidah banyak digunakan untuk ber ghibah, ber gossip. Diingatkan Allah perkara dosa lidah, disamping surat Qaf ayat 18 dikutip diatas, ketahuilah bahwa lidah akan menjadi saksi di hadapan mahkamah Allah nanti. يَّوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ اَلْسِنَتُهُمْ وَاَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ _*pada hari (ketika) LIDAH, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.*_ (An-Nur: 24) Yaa Allah jauhkanlah lidah kami dari kebiasaan berghibah, kerena akan membocorkan bekal amal kami untuk akhirat dan sumber masalah ketika di dunia. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 30 September 2026/18 Rabiul Akhir 1448 H.

Wednesday, 23 September 2026

DENGKI menyiksa DIRI

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.443.03.09-2026 Melanjutkan artikel tentang *”Bocornya Pundi-Pundi Pahala”*, salah satu diantaranya *Dengki atau Hasad*. Dengki adalah *perasaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan keberuntungan, kesuksesan, atau kebahagiaan, disertai keinginan agar orang tersebut kehilangan atau tidak menikmati hal itu.* Dampak buruk bila diri dihinggapi rasa iri/dengki atau hasad kepada orang lain, maka: *Pertama; Resah, Gelisah.* Hati menjadi tidak tenang, karena terus membandingkan diri dengan orang lain. Bagi sesorang pendengki, akan membandingkan misalnya; kanapa orang lain sukses, berhasil, dirinya tidak, padahal dirinya tak kalah ditinjau dari kecerdasan, pendidikan maupun kemampuan, dan usaha. Tiap hari pendengki akan resah, gelisah hanya untuk memikirkan kenapa dirinya tidak dapat melebihi orang lain, minimal sama dengan orang lain. *Kedua; Merusak Relationship* Pendengki, akan merasa tidak nyaman berhubungan dengan sesorang yang didengkinya. Menghindar untuk bertemu apalagi beramah tamah dengan orang yang di dengki. Yang ada biasanya menyindir mencari-cari kelemahan, kesalahan orang yang di dengki. Setiap orang ada yang menyukai atau pendukung, ada pula pihak yang sebaliknya, maka akan timbul pro dan konrtra, merusak relationship dalam masyarakat setidaknya dalam skala kecil, dilingkungan. *Ketiga; Berpotensi berbuat buruk* Berawal dari pengertian dengki telah disebutkan di awal artikel ini, tak jarang si pendengki melakukan upaya untuk menghilangkan keberuntungan, kesuksesan, kebahagiaan orang yang di dengkinya dengan berbagai jalan perbuatan buruk. Memfinahpun kadang dilakukan, menyebarkan isu2 negative untuk orang yang di dengkinya misalnya *“kekayaannya dari korupsi, kekayaannya karena pesugihan, memelihara tuyul, pencucian uang dll hal yang negative”* Keresahan, kegelisahan, rusaknya relationship dan berpotensi melakukan perbuatan buruk. Perbuatan buruk itu menyita pemikiran dan juga waktu mengatur siasat, sehingga menyiksa diri sendiri. *Gelisah, resah* selain menyiksa diri, membuat pikiran menjadi tidak focus. Rusaknya relationship mempendek langkah dalam berkegiatan. Melakukan perbuatan buruk akan diiringi risiko yang mungkin akan terjadi, baik didunia apalagi di akhirat. Bagi orang beriman ketika potensi dengki akan menghampiri diri hendaklah menyadari bahwa Allah sudah mengatur rezeki, keberuntungan, masing2 orang, bahkan jauh sebelum diri dilahirkan. Semboyannya *Rezeki tak akan tertukar*. إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا _*“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.”*_ (QS. Al Isra’: 30) وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِى ٱلرِّزْقِ ۚ _*”Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, ……“*_ (surat-an-nahl-ayat-71) Orang2 beriman memahami bahwa; *Rezeki Bukan hanya uang*; Rezeki mencakup kesehatan, ketenangan, keluarga saleh, dan ilmu (sesuatu yang mendatangkan manfaat). Kelapangan dan kesempitan adalah cara Allah menguji syukur atau kesabaran orang beriman. Sifat orang beriman tercermin dari sanggupkah diri bersabar ketika dalam kesempitan, kesulitan, mampukah dianya bersyukur ketika mendapatkan kebahagiaan. عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ _*“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, itu pun baik baginya.”*_ (HR. Muslim no. 2999) Tidak meratanya rezeki dibagikan Allah kepada setiap manusia justru itu merupakan wujud dari keadilan Allah, karena jika semua sama setara, maka fungsi sosial, kerja sama, dan dinamika hidup dunia tidak berjalan, masing2 manusia jadinya tidak saling membutuhkan. Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ _*"Jauhilah oleh kalian hasad (dengki), karena hasad memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."*_ (Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (Hadist No. 4903) Yaa Allah jauhkanlah kami dari sifat hasad dan dengki, kerena akan merusak diri kami sendiri. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 23 September 2026/11 Rabiul Akhir 1448 H.

Sunday, 20 September 2026

BOCORNYA PUNDI-PUNDI PAHALA

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.442.02.09-2026 Istilah *"bocornya pundi-pundi pahala"* menggambarkan perbuatan yang secara tidak sadar merusak, menghapus, atau mengurangi bobot pahala dari kebaikan yang telah dikerjakan. Seseorang mungkin tekun beribadah, namun pahalanya *"bocor"* atau terbuang sia-sia karena perilaku tertentu menyertainya. Berikut adalah *7 (tujuh) hal utama* yang sering menjadi penyebab *bocornya pundi pahala*: *PERTAMA; Riya' (Pamer) Langsung.* Melakukan amal kebaikan agar dipuji, dilihat, atau dibicarakan orang lain, bukan murni karena Allah, secara lansung. Surat Al Baqarah ayat 264: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ Artinya: _*Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.*_ - Surat An-Nisa ayat 142 اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًا Artinya: _*”Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk shalat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya’ di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali”.*_ *KEDUA: Riya' Digital (Pamer Kebaikan di Media Sosial)* Membagikan momen ibadah, sedekah, atau do’a di media sosial *dengan niat terselubung* untuk membangun citra diri (personal branding) atau mendapatkan sanjungan. Kata kuncinya adalah *niat*, tidaklah setiap orang baik sebagai ustadz/ustadzah maupun orang biasa; membuat konten atau men share artikel2 dakwah di medsos langsung terkelompok *Riya’ Digital*, jika *diniatkan* untuk menyebarkan ilmu. Secara agak luas soal Riya’ telah ditulis dalam artikelku sebelum artikel ini No: 1.441.01.09-2026 tanggal 4 September 2026/23 Rabiul Awal 1448 H. *KETIGA; Sum’ah (ingin didengar)* Sum’ah dalam Islam adalah melakukan amal kebaikan agar didengar atau diketahui orang lain sehingga mendapat pujian. Sebagai contoh: *Bersedekah* lalu menceritakan kepada orang agar dipuji sebagai orang dermawan. *Membaca Al-Qur’an* dengan suara yang sengaja dibuat bagus supaya orang lain memujinya. Awas tak jarang hal *sum’ah* ini terkena kepada imam2 di masjid ketika mengimami shalat berjamaah, lalu terlintas di pikiran: *“Begini lho membaca Al-Qur’an yang baik dan benar”* dengan tujuan didengar untuk mendapat apresiasi dari jamaah atau orang yang biasa jadi imam di masjid itu, ikut berjamaah. *Menceritakan* banyaknya amal yang telah dilakukan untuk mendapatkan penghargaan atau sanjungan. *Menceritakan bahwa ia sering shalat tahajud* agar dianggap sebagai orang yang rajin beribadah. Hati2 men share *ajakan* shalat tahajud pada waktu dinihari sepertiga malam di ponsel anda ke group, jangan sampai terbetik di hati memberi tahu orang se group bahwa diri anda sudah bangun dan melaksanakan shalat tahajud, ini juga dapat tergolong “sum’ah” lebih condong ke *Riya’*. *Perbedaan singkat antara Riya’ dan Sum’ah*: *Riya’ lebih berkaitan dengan ingin dilihat orang*, *sedangkan sum’ah berkaitan dengan ingin didengar/diceritakan kepada orang lain*. مَنْ يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَاءِ يُرَاءِ اللَّهُ بِهِ Artinya: "Siapa yang *ingin didengar (sum'ah)*, Allah akan menjadikannya didengar (dibongkar niat buruknya di akhirat), dan siapa yang *ingin dilihat (riya’)*, Allah akan menunjukkan (aibnya)." (HR. Ibnu Majah No. 4206) *KEEMPAT; Menyebut-nyebut Kebaikan (Al-Mann) & Menyakiti Perasaan.* Mengingat-ingat kembali atau menyebutkan bantuan yang pernah diberikan kepada orang lain hingga membuat penerimanya merasa terhina atau sakit hati. Model menyebut ini dapat dengan cara langsung; dikemukakan dihadapan orang dibantu misalnya dengan kata2: *“Sombong kamu sekarang ya, kalau bukan saya membiayai sekolahmu dulu kamu tidak sesukses sekarang”*. Dapat pula dengan secara tidak langsung misalnya menyebutnya kepada orang lain: *“Dia itu jika saya mintai tolong sesuatu pasti tidak akan menolak, karena dia tentu tak akan lupa sayalah yang merekomendasikan dia masuk kerja…., lalu sekarang berjabatan tinggi”*. Larangan Al-Mann itu tercantum di Al- Baqarah ayat 264 dikutip di atas (لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ) *KELIMA; Dengki dan Hasad.* Harapan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang. Dengki dapat menggerogoti dan menghabiskan kebaikan-kebaikan yang telah terkumpul. *KEENAM; Ghibah (Membicarakan Aib Orang Lain).* Menggunjing, memfitnah, atau mencela orang lain. Di akhirat, pahala orang yang berbuat ghibah akan ditransfer kepada orang yang dizaliminya. *KETUJUH; IBADAH DICAMPUR MAKSIAT.* Membatalkan Pahala dengan Keburukan Berulang, Mencampuradukkan ibadah dengan perbuatan maksiat secara sengaja tanpa rasa menyesal atau niat untuk bertobat. Artikel nomor ini dicukupkan sampai disini dulu, karena sudah lebih dari 750 words, supaya artikel ini tak terlalu panjang إِنْ شَاءَ اللَّه *hal ke lima, keenam dan ketujuh* akan diungkap di kesempatan lain. Yaa Allah jauhkanlah kami semua dari *bocornya pundi2 pahala* kami baik karena sengaja, maupun karena tidak sengaja lantaran kurangnya pengetahuan kami. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 20 September 2026/8 Rabiul Akhir 1448 H.

Friday, 4 September 2026

RIYA’ DIGITAL

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.441.01.09-2026 RIYA’; Melakukan amal kebaikan agar dipuji, dilihat, atau dibicarakan orang lain, bukan murni karena Allah. Terdapat dua model utama Riya’: (1). *Riya' Fulgar* yaitu beribadah semata-mata hanya untuk mencari pujian dan perhatian manusia, tanpa ada niat karena Allah. (2). *Riya' Campuran* ialah beramal karena Allah, pada saat yang bersamaan dicampuri dengan niat ingin dipuji oleh manusia. Bila mengacu pada Al-Baqarah 264; kedua-dua jenis Riya’ ini tidak akan mendapatkan pahala disisi Allah; يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِكُمۡ بِالۡمَنِّ وَالۡاَذٰىۙ كَالَّذِىۡ يُنۡفِقُ مَالَهٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلۡدًا ؕ لَا يَقۡدِرُوۡنَ عَلٰى شَىۡءٍ مِّمَّا كَسَبُوۡا ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡـكٰفِرِيۡنَ‏ ٢٦٤ _*Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’` (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir*_. Sejalan dengan berkembangannya teknologi komunikasi, apa yang dikenal dengan *MEDSOS* dengan berbagai turunannya, dari teknis penyampaiannya maka kini berkembang pula model RIYA’ yang dikenal dengan *Riya’ Digital*. *Riya’ digital* adalah sikap memamerkan atau menunjukkan amal, ibadah, kebaikan, atau kesalehan melalui media digital seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, atau media sosial lainnya dengan tujuan agar mendapat pujian, perhatian, atau pengakuan dari orang lain, bukan semata-mata karena Allah*. Misalnya; Seseorang mengunggah foto saat bersedekah dengan tujuan agar orang lain menganggap dirinya dermawan. Lalu menuliskan _*“Alhamdulillah hari ini bisa berbagi 150 paket makanan”*_ dengan tujuan agar orang melihat dirinya dermawan. Memposting ibadah; dimana didalam hati terselip niat agar orang lain mengetahui diri adalah ahli ibadah; seperti foto diri sedang shalat, foto diri tengah membaca Al-Qur’an, atau berada di tanah suci, ketika berhaji atau berumrah. Di dinihari memposting di WhatsApp pukul 02.30 dinihari (tampak di catatan waktu di WA) ajakan untuk shalat tahajud, terselip dalam hati memberi tahu orang lain bahwa awak di dini hari ini sudah bangun untuk shalat tahajud. Ajakan sekaligus terselip niat memberitahukan bahwa diri shalat tahajud. Banyak lagi contoh posting kegiatan lain tentang ibadah dan dakwah, bukan untuk berbagi manfaat, tetapi agar mendapat komentar seperti *_“MasyaAllah, alim sekali.”*_ Intinya mengejar likes dan komentar ketika mengunggah amal, mengunggah ceramah2, mengunggah artikel2, kemudian merasa kecewa atau berhenti melakukan amal tsb. ketika tidak mendapat respons. Namun, tidak setiap posting tentang kebaikan, dakwah, kegiatan ibadah dan kegiatan keagamaan, otomatis *riya digital*. Misalnya: Seseorang membagikan kegiatan donasi untuk mengajak orang lain ikut berdonasi, sementara niat utamanya tetap untuk Allah. Yang paling menentukan adalah *niat* di balik tindakan tersebut. Seorang ustdzd/ustadzah memposting ceramah2nya, memposting tulisan2 dakwahnya, dengan niat agar isi ceramahnya, dapat didengar orang banyak, isi tulisannya dapat di dibaca orang banyak, dengan niat berdakwah karena Allah. Harapannya adalah orang yang mendengarkan ceramahnya, orang yang membaca tulisannya mendapatkan ilmu untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Ini tidak tergolong *Riya Digital*. Sebagai dasar acuan pemikiran mempublish ceramah2 dan tulisan2 dakwah dari ustadz/ustadzah disebut diatas *tidak termasuk Riya Digital* adalah hadits dari Abu Mas'ud Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ Artinya: _*“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan (kepada orang lain), maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”*_ -- [Muslim]. Dalam pengalaman sebagian ustadz/ustadzah yang men share tulisan dakwah2 dan ceramah2 di group WA tertentu, ada sebagian anggota di group itu tidak senang, sehingga mengomentar yang kurang bersahabat. Dalam hal seperti ini wajar jika ustadz/ustadzah tersebut keluar saja dari group tersebut, sehingga terhindar terlanjur memposting lagi ke group itu, dengan maksud agar tidak berlarut terlibat dalam perdebatan yang tak bermanfaat yang ujung2nya membuat dosa. Allah melarang kita berdebat yang tidak perlu. Seperti dimuat dalam Al-Qur’an: هَٰٓأَنتُمْ هَٰٓؤُلَآءِ حَٰجَجْتُمْ فِيمَا لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ Artinya: _*Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.*_ (Surat Ali ‘Imran Ayat 66) ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ Artinya: _*Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.*_ (Surat An-Nahl Ayat 125) Agar tidak sia2 amal *“bagaikan debu diatas batu licin terkena hujan…….”* seperti disebutkan pada surat Al-Baqarah 264 dikutip diatas. Untuk memelihara amal melalui *Medsos* agar tidak terjebak kedalam *Riya digital* agaknya perlu diperhatikan: *Pertama; Luruskan niat* Hanya karena Allah semata, sebelum konten di publish. Perhatikan, apakah dalam redaksinya mengandung membanggakan diri. Saat akan memposting ceramah2 atau artikel dakwah2, hendaklah didengar ulang, dibaca berulang-ulang untuk dipertimbangkan dengan teliti apakah ada pihak yang akan tersinggung. *Kedua; bijak menerima komentar*, dalam hal dapat komentar positip, ucapkan *Alhamdullah* , jangan sampai terbetik dihati perasaan bangga, dalam hati bersyukur dan berdo’a semoga bermanfaat. Dalam hal mendapatkan koreksi atau ekstrimnya cercaan, juga sepanjang dapat diberikan penjelasan, berikanlah penjelasan diikuti dalil yang cukup. Jika komentar bukan seketar koreksi dan kritik tetapi sudah bersifat *tidak suka*, untuk group atau orang tsb. tak perlu dikirimi lagi, menghindari *perdebatan yang tidak perlu*, seperti ayat dikutip diatas. *Ketiga; hindari membicarakan keburukan pihak lain*, baik secera terselubung apalagi secara terang-terangan. *Keempat; segera bertaubat*, jika terlanjur, tidak sengaja melakukan kesalahan, atau terselip rasa sombong, rasa bangga diri, merendahkan pihak lain segera beristighfar dan memohon ampun. Ya Allah tolonglah kami semua dalam beramal memanfaatkan anugerah-Mu melalui tersedianya MEDSOS ini, agar tidak terjebak *Riya Digital* آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 4 September 2026/23 Rabiul Awal 1448 H.