Thursday, 7 May 2026
RAKET ATOK
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.415.03.05-2026
Setiap orang pasti pernah, bahkan sering mengalami berada di kumpulan orang2 yang tidak saling mengenal. Misalnya ketika bepergian; mulai di ruang tunggu Bandara, di dalam pesawat terbang, naik kereta api dalam kota atau jarak jauh, naik bis umum, perjalanan dengan kapal laut antar pulau, sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit. Ada saja suatu keadaan, seseorang yang sangat suka bercerita, suka ngomong, tak jauh dari tempat duduk kita. Kadang si pengomong tak pilih partner ngomong, dapat saja tetangganya duduk yang baru saja ketemuan di moment itu di ceritainya, diomonginya, tak jarang tanpa orang bertanya. Kebanyakan orang sangat bising bila di suasana seperti ini ada yang berbicara atau ngomong terlalu nyaring, karena pada umumnya orang duduk dalam perjalanan atau duduk di ruang tunggu, ingin suasana tenang, tidak berisik, bahkan ada sebagian orang di keadaan seperti ini memilih untuk tidur2an, sambil menyimak apa ada pengumuman penting, atau menyibukkan diri membaca (kini dapat dari HP).
Adab standar ketika berada di ruang public seperti diungkap diatas, adalah:
1. Duduk dengan sopan; tidak selonjoran berlebihan atau tidak mengambil lebih dari satu kursi, memberikan prioritas kursi kepada lansia, ibu hamil atau orang sakit.
2. Menjaga suara; Jangan menyetel bunyi2an dari HP sampai didengar orang lain. Belum tentu bunyi2an yang menurut kita enak didengar, enak juga buat orang lain. Jika bepergian dengan pendamping, atau rombongan, tolong jangan berbicara dengan pendamping atau teman serombongan anda dengan suara yang keras, hal itu mengganggu kenyamanan orang lain. Gunakan headset jika anda menonton video atau mendengarkan audio.
3. Memelihara kebersihan; Tidak membuang sampah sembarangan, merapikan kembali area tempat duduk, ketika anda meninggalkannya.
4. Hormati privasi orang lain; Tidak mengintip layar HP tetangga duduk atau nguping percakapan orang lain. Tidak memotret sembarangan.
5. Bijak menggunakan HP; Pilih mode senyap atau getar, sehingga jika ada panggilan masuk didengar orang lain, tidak sampai mengundang perhatian orang lain, beritahukan ke penelpon “saya sedang berada di…….., nanti kita bicarakan lagi”. Bila sangat perlu untuk melakukan panggilan, usahakan mencari lokasi yang agak jauh dari kumpulan orang, itupun tak usah bersuara keras dan persingkat pembicaraan.
6. Patuhi aturan tempat; Tidak menyerobot antrian atau barisan. Bagi yang masih merokok, cari tempat yang disediakan, kalau tidak ada jangan sampai merokok.
7. Sikap dan penampilan; Berpakaian yang sopan, rapi. Sabar dan ramah (tidak berlebihan), tidak emosian manakala terganggu orang lain, apalagi tak sengaja, pilih menghindar.
Adab di tempat umum; Menghormati sesama, tidak membuat orang lain merasa terganggu, sejalan dengan akhlak seorang yang diajarkan Al-Qur’an dan hadits.
Surat An-Nisa Ayat 86:
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا
Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”.
Hadits tidak mengganggu orang lain:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Seorang muslim adalah orang lain (muslim lainnya) selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41)
Dalam praktek, dapat saja saudara kita, atau dapat saja kita sendiri justru terlupa ketika berada di tempat umum seperti dicontohkan di atas, tak sadar ngobrol, bercerita dengan teman disamping tempat duduk kita, sehingga orang lain terganggu, sementara orang lain meskipun kebisingan, tapi tidak enak untuk mengingatkan. Di keluargaku di kampung halamanku ada resep ampuh untuk menghentikan kalau ada diantara rombongan keluarga kami seperjalanan, ada yang bercerita dengan orang lain panjang lebar tak putus2. Resepnya adalah tanyakan saja: “RAKET apakah tak lupa dibawa”. Langsung anggota kami yang sedang ngobrol terus menerus tersebut pelan2 menyudahi obrolannya, sambil senyum tipis.
Rahasia RESEP tersebut adalah: Seseorang tetangga rumah kami dikampung dulu, sangat sering membanggakan dirinya selalu paling hebat, pokoknya ketika masih mudanya dianya selalu menjuarai segala pertandingan. Sampai2 beliau berbicara soal RAKET, dia punya RAKET paling hebat, dia katakana: “Raket Atok dulu Cap Kepala, kalau dipukulkan senarnya berbunyi ding-ding-ding”. Disimpulkan bahwa itu Datuk adalah sangat “pembual”, jadi jika anggota keluarga kami dalam rombongan, bercerita berkepanjangan, untuk mengingatkannya tanyakanlah kepadanya tentang “RAKET”, langsung dia ingat cerita “Raket Atok”, cerita berbual-bual. Agar salah satu keluarga kami ini tidak hanyut dalam bualan yang dapat mengganggu orang lain.
Belum lama ini, kami duduk di ruang tunggu suatu RUMKIT seluas k/l : 6 x 8 mater. Seorang pasien bercerita dengan suara nyaring terdengar jelas dari sudut ke sudut ruangan. Topik ceritanya sih sesuai dengan keadaan, yaitu tentang penyakit dirinya, berobat dengan biaya yang aduhai mahalnya sampai ke mana2 disebutkan negeri luar sana. Tak henti2nya dia bercerita, teman duduk disampingnya yang agaknya baru saja kenal itu, hanya menyela pertanyaan sekedarnya, sekedar basa basi menghormatinya. Kami pasien lain banyak yang gelisah sambil sesekali menoleh ke arah sumber suara. Ku teringat, kalaulah dia keluarga ku akan kubisikkan pertanyaan “dimana RAKET ATOK di Simpan?”
Semoga kita semua dapat menerapkan adab2 ketika di ruang public, supaya tidak membuat orang lain berdosa, lantaran ulah diri kita, dalam hatinya merasa risau terganggu, lalu mencela kita.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 19 DzulKaidah 1447 H.
7 Mei 2026
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment