Monday, 4 May 2026
KETIAK ULAR
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.414.02.05-2026
Begitu banyak jenis Ular yang diciptakan Allah, di Indonesia saja tidak kurang dari 350 jenis, diantaranya 77 jenis berbisa. Dikabarkan di dunia jenis ular lebih dari 3.900 spesies, sekitar 600 an spesies tergolong berbisa.
Bisa ular yang sangat mematikan itu justru menjadi sangat bernilai di dunia medis. Para ilmuwan sudah lama meneliti protein dan enzim dalam racun tersebut untuk diubah menjadi obat-obatan penyembuh beberapa jenis penyakit, tentu setelah melalui proses tertentu. Itulah mungkin sebabnya para medis di bidang pharmasi menjadi “Gelas dan Ular” sebagai pilihan lambang.
Akan kemanfaatan ciptaan Allah berupa ular, sekalipun beracun mematikan, justru dapat dijadikan obat, maka benarlah firman Allah bahwa apapun yng diciptakan Allah tidak ada yang tidak berguna, tidak ada yang sia-sia.
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka”. (Ali-Imran 191)
Diruang tulis terbatas ini, tidak melanjutkan tentang masalah “bisa” ular, tetapi sedikit menyinggung tentang anatomi ular dalam arti kiasan. Ada suatu kiasan untuk orang2 yang sangat menjelimet, sangat2 berlebihan teliti, condong rebet, cerewet. Orang itu diberi julukan “dapat melihat ketiak Ular”. Orang lain tidak ada satupun yang dapat melihat ketiak Ular, karena memang Ular tidak ada ketiak, lantaran tak punya lengan.
Penyandang julukan “dapat melihat ketiak Ular” ini, jika mempertimbangkan untuk memutuskan sesuatu demikian telitinya diatas rata-rata. Pengambilan keputusan cenderung lama, lantaran banyak kajian dan pertimbangan, ekstrimnya kajiannya seringkali melihat dari sudut negative, tidak berpikir positif. Di kampungku ada pepatah “Pilih2 Tebu terpilih ke Tebero”. “Tebero”; mirip tebu tumbuh di tepian sungai berawa, tetapi sama sekali tidak manis kerena memang bukan Tebu.
Terdapat 7 (tujuh langkah) dapat dilakukan ketika akan mengambil keputusan menurut ajaran Islam (berdasarkan Al-Qur’an dan hadits). Prinsip dasarnya pengambilan keputusan bukan sekedar memilih yang paling cepat atau paling menguntungkan, tapi yang paling benar menurut ketentuan Allah dan diyakini akan diridhai Allah.
PERTAMA: Luruskan niat dengan Ikhlas.
Segala keputusan dimulai dari niat. Pastikan tujuan diambilnya keputusan bukan sekedar untuk duniawi, tapi untuk kebaikan dan ridha Allah. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.
Berpegang ayat diatas maka sebelum memutuskan sesuatu, hendaklah tanya diri sendiri---- ini karena Allah atau karena ego?
KEDUA: Lengkapi data dan himpun informasi.
Jangan mengambil keputusan dalam keadaan tidak tahu, harus lengkapi data dan himpun informasi tentang masalah yang akan diputuskan. Allah memberikan petunjuk dalam Al-Qur’an (QS. Al-Isra’: 36):
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦
Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.
Oleh karena itu maka sebelum memutuskan sesuatu hendaklah: Cari fakta, Tanyakan pada yang ahli dan Hindari keputusan emosional.
KETIGA: Mintakan pertimbangan orang kepercayaan.
Diskusikan dengan orang yang dipercaya dan berilmu. Orang kepercayaan misalnya suami atau istri, atau orang yang dekat dengan diri tempat kepercayaan curhat atau meminta pertimbangan. Dalam hal ini Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 159)
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.
Dalam hal diskusi meminta pertimbangan, pilihlah orang yang: Bijak, Jujur dan paling penting dianya “tidak hanya membenarkan diri kita”, atau asal kita senang.
KEEMPAT: Shalat Istikharah
Meminta petunjuk langsung kepada Allah, diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits (HR. Imam Bukhari)
Caranya:
1. Shalat 2 rakaat
2. Membaca doa istikharah
3. Perhatikan kecenderungan hati & kemudahan setelahnya.
Petunjuk Allah tidak selamanya berupa mimpi tetapi lebih sering berupa kemantapan atau justru rasa berat.
KELIMA: Menimbang maslahat & mudarat.
Keputusan yang akan dimabil dinilai dari dampaknya, dengan prinsip:
• Pilih yang manfaatnya lebih besar
• Hindari yang mudaratnya dominan
Ini sejalan dengan kaidah fiqh:
“Menolak kerusakan didahulukan daripada mengambil manfaat”
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
Sehubungan dengan itu dapat saja dibuatkan matriks, dengan memberikan nilai dengan skor angka bagi alternatif2 yang akan dipilih buat keputusan. Misal dalam memilih pasangan hidup; dapat di buat diskripsi: 1. Kecantikan., 2. Asal keturunan., 3. Agama., 4. Pendidikan., 5. Usia., . dll.
Lalu pasangan hidup yang akan dipilih misalnya si A si B dan si C. Nilailah mereka masing2, berapa skor tiap diskripsi yang ditentukan dengan angka. Selanjutnya pilih kumulatif skor angka yang tertinggi.
KEENAM: Mengambil keputusan tidak tergesa-gesa, tapi tidak lamban.
Keputusan yang terburu-buru sering salah. Hadits: “Ketergesaan itu dari setan…” (HR. Abu Dawud)
التَّأَنِّي مِنَ اللهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
"Sikap tenang (teliti) itu dari Allah, sedangkan ketergesaan (terburu-buru) itu dari setan”
Kecuali dalam kebaikan—itu dianjurkan untuk disegerakan.
KETUJUH: Tawakal setelah keputusan diambil.
Setelah semua ikhtiar dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah. Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 159) seperti dikutif di langkah KETIGA: “…kemudian apabila kamu telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah…”
Dengan focus pehatian:
• Jangan overthinking setelah memilih
• Terima hasil dengan lapang dada.
Pengambilan keputusan selalu dihadapi setiap orang, antara memilih salah satu dari beberapa alternatif, misalnya antara lain dapat terjadi: memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal, memilih membeli sesuatu, memilih jodoh pasangan hidup, memutuskan bepergian, ORTU memilihkan Pendidikan anak2 mereka, Seorang remaja memilih sekolah untuk menundukung cita2nya., dll.
Semoga Allah memberikan petunjuk buat pembaca sekalian memutuskan sesuatu, dengan tidak terlalu menjelimet sampai dapat julukan “mengetahui ketiak Ular”, jika telah diputuskan semoga Allah memeliharakan keptusan itu untuk kebaikan dunia dan akhirat.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 17 DzulKaidah 1447 H.
5 Mei 2026
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment