Tuesday, 7 July 2026

TAMU-MENAMU

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.427.02.07-2026 Soal tamu-menamu adalah sudah melembaga di negeri ini, juga merupakan media silaturahim yang demikian sangat dianjurkan dalam Islam. Soal silaturahim, saking pentingnya Allah sebutkan dibeberapa ayat dalam Al-Qur’an, diantaranya: وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّا Artinya: _"Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan *memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk dihubungkan*, serta berbuat kerusakan di bumi, mereka itu mendapat kutukan dan tempat kediaman yang buruk (Jahannam)_." (Surat Ar-Ra'ad ayat 25) Sejak dahoeloe, jaman kita masih kanak2, kalau seseorang akan bertamu ke rumah seseorang apalagi hubungan kekerabatannya tidak begitu dekat, sebelum bertamu memberitahukan sebelumnya bahwa akan bertamu. Buya Hamka dalam menafsirkan surat An-Nur 27,28 dan 29 di tafsir Al-Azhar Juzu 18 panjang lebar mengupas seputar soal *tamu-menamu*, sebanyak 6 halaman, dari halaman 171 s/d 176. Di zaman now lebih mudah untuk memberitahukan akan bertamu, cukup dengan “jari-jari”. Si tuan rumahpun menjawab kesediannya didatangi tamu cukup dengan “jari-jari” pula (melalui HP) langsung disepakati hari dan waktu menerima tamu. Dengan demikian, tentulah si tuan rumah sudah siap kedatangan tamu, mulai dari memberi tahu penjaga rumah (kalau rumah ber-Satpam), lalu sudah siap dengan *pakaian yang wajar dan sopan* untuk menerima tamu. Sementara si tamupun sudah merencanakan kapan bertolak dari rumah agar sampai tepat waktu. Si tamu juga sudah berpakaian se sopan mungkin, walaupun sederhana tetapi setidaknya rapi dan menutup aurat, baik lelaki apalagi perempuan. Adab si tamu, seperti diulas oleh Buya Hamka dalam tafsir surat An Nur 27 s/d 29 di tafsir Al-Azhar diantaranya; memberitahu sebelumnya, mengucapkan salam ketika sampai di pintu rumah tuan rumah, jangan masuk sebelum dijawab salam dan dipersilahkan masuk. Jangan duduk sebelum dipersilahkan duduk, jangan menduduki tempat duduk tuan rumah, duduklah ditempat yang dipersilahkan duduk oleh tuan rumah. Berpakaian yang rapi, menutup aurat dan sopan. Di artikel yang singkat ini dititik beratkan soal adab si tuan rumah menerima tamu. Setidaknya yang harus diperhatikan ketika menerima tamu: 1. Memakai pakaian yang bersih dan rapi. Berpakaian dengan baik saat menerima tamu merupakan bentuk penghormatan kepada tamu sekaligus mencerminkan sikap sopan santun dan akhlak yang baik. Apa lagi kalau tamu yang datang itu sudah melalui perjanjian lebih dahulu sehari sebelumnya atau lebih, *berarti bukan dadakan*, tentu seyogyanya sudah siap dengan pakaian rapi. 2. Berpakaian yang rapi dan baik menurut Islam adalah *menutup aurat*, sangat tak pantas menerima tamu dengan hanya bercelana pendek (jauh diatas lulut bagi laki-2), terkesan celana dalam pula. Orang2 tua di kampung kami dulu, jika ada tamu datang, setelah mempersilahkan tamu masuk dan duduk, si tuan rumah minta ijin sebentar ke tamunya untuk masuk ke ruang dalam rumah, kemudian mengganti pakaian, kadang pakai sarung atau celana panjang dengan baju rapi lalu memakai kopiah. Jikapun tidak sampai se komplit itu setidaknya berpakaianlah yang sopan tak usah berlebihan. 3. Tergantung, masalah apa yang di bahas dalam pertamuan tersebut, tidaklah menjadi hal yang tabu diperjanjikan ketika mengadakan kesepakatan ketika janji akan ketemuan, bahwa waktu yang tersedia hanya sampai pukul berapa. Dewasa ini orang sudah maklum, bahwa masing2 orang banyak kegiatan, mungkin juga sudah ada janji di tempat lain. Dalam hal ini si tamu harus mengingat betul kesepakatan waktu janjian bertamu, karena kadang si tuan rumah sungkan untuk mengingatkan. Menyoal menghormati tamu, dalam ajaran Islam dikaitkan dengan Iman. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ menuturkan: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ Artinya: _"Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mempererat hubungan kekeluargaannya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengucapkan yang baik ataupun berdiam diri saja."_ (Muttafaq 'Alaih, HR Bukhari [10/373, 442] & Muslim [47]) Yaa Allah jadikanlah kami sanggup menjalankan ajaran agama dalam beribadah, juga dalam bermasyarakat; antara lain ketika bertamu, maupun menerima tamu. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 24 Muharram 1448 H. 8 Juli 2026.

No comments:

Post a Comment