Tuesday, 2 June 2026

*MENG “ESA” KAN*

Disuguhkan: M. Syarif Arbi No: 1.421.01.06-2026 Dalam perspektif agama Islam, kata "esa" dan "tunggal" tidak identik, walau sering sama2- diterjemahkan sebagai "satu". Perbedaan utamanya adalah: *Esa*: Menunjukkan keesaan yang absolut, digunakan untuk menyatakan; *Allah dalam konsep Tauhid*. Bermakna bahwa tidak ada yang setara dengan Allah, tidak ada yang sebanding dengan Allah, atau tidak ada satupun sesuatu merupakan bagian dari Allah. Dasar utamanya ketentuan tauhid ini terdapat dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Al-Ikhlas: قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ. _(Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa)_. ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ _(Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu)._ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ _(Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan)._ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ _(dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”).- Kata bahasa Arab yang digunakan adalah * ٱللَّهُ أَحَدٌ (Allahu aḥad)*, yang menunjukkan keesaan Allah yang unik dan absolut. *Tunggal* lebih menunjuk pada *jumlah satu atau tidak terdiri dari banyak bagian yang sejenis*. Dalam bahasa sehari-hari, sesuatu yang tunggal belum tentu unik atau belum tentu tidak ada bandingannya. Misalnya: • Seorang manusia dapat disebut individu tunggal. • Sebuah benda dapat berjumlah tunggal (satu buah). *Kata “Tunggal”*: Menunjukkan jumlah satu atau tidak jamak. Cocok dipergunakan untuk makhluk atau benda. Karena itu, kata *"tunggal"* tidak selalu mengandung makna ke-Tuhanan atau keunikan mutlak. “Dalam ajaran Islam meng-esa-kan Allah” disebut *tauhid*. *Tauhid* adalah keyakinan bahwa Allah itu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak memiliki sekutu, dan Tuhan memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak. Tauhid biasanya dibahas dalam *tiga* aspek: *Aspek Pertama; Tauhid Rububiyah*: Meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur alam semesta. Bahwa seluruh realitas bersumber dari Allah dan kembali kepada Allah. Pendekatan melalui *“Tauhid Rububiyah”* ini bukan sekedar mengucapkan, tetapi merasakan kehadiran Allah dalam setiap peristiwa kehidupan. Sampai2 dalam suatu keadaan yang sangat mencekam sekalipun, yakin se yakin2nya bahwa segala sesuatu terjadi hanya dengan idzin Allah. Yakin se yakin2nya bahwa Allah selalu mendampingi, seperti terukir dalam peristiwa katika Nabi Muhammad ﷺ bersama sahabat beliau Abu Bakar ketika memulai perjalanan hijrah (surat At-Taubah 40), اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ *لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ * فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ _”Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, *“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”* Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”._ *Kasus Nabi Ibrahim dalam konteks Tauhid Rububiyah* Dalam riwayat Ibn Jarir at-Thabari disebut bahwa saat Nabi Ibrahim hendak dibakar, Malaikat penjaga hujan (khazinul mathar) mengadu kepada Allah SWT untuk menurunkan hujan. Namun Allah telah terlebih dahulu mewahyukan kepada Nabi Ibrahim agar membaca do’a: قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ Kami berfirman: _“Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”_(terekam dalam Al-Quran surat al-Anbiya ayat 69). Saat do’a tersebut dibaca, Nabi Ibrahim serasa tidak masuk ke dalam api. Dalam hadis lain; riwayat Bukhari dari Abdullah bin Abbas dijelaskan bahwa ada do’a lain yang dibaca Nabi Ibrahim bahkan sebelum ia dimasukkan ke dalam api. Do’a tersebut adalah penggalan ayat dari surat Ali Imran ayat 173: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ _“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”_ *Kedua; Tauhid Uluhiyah (atau Ubudiyah)*: Meng-Esa-kan Allah dalam segala bentuk ibadah. Keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan diibadahi. Ini merupakan salah satu pembagian tauhid yang umum dijelaskan dalam kajian akidah Islam. Inti Tauhid Ubudiyah adalah mengarahkan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah. Penerapan Tauhid Ubudiyah seperti: Shalat, Do’a, Puasa, Zakat, Haji, Tawaqkal hanya kepada Allah dan segala bentuk ibadah tertuju kepada Allah. Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ubudiyah mengacu kepada penegasan Allah dalam surat Az-Zariyat Ayat 56, وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ _” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”_ *Ketiga; Tauhid Asma wa Sifat (توحيد الصفات)*. Perwujudan Tauhid Asma wa sifat, yakni menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah: • Tidak boleh menyerupakannya Allah dengan makhluk, benda apapun misalnya berbentuk patung, hewan, pohon, benda hidup atau benda mati, ditegaskan Allah dalam surat Asy-Syura ayat 11 لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ ( _“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”_). • Menyakini sepenuh hati dan jiwa akan ke *MAHA* an Allah, Allah maha kuasa, Allah maha mengetahui, Allah maha sempurna, Allah ……… (maha segalanya). • Dalam ber tauhid *asma wa sifat;* dipantangkan untuk; berpikir, membayangkan, menanyakan bagaimana wujudnya Allah. Adapun dasar larangan dimaksud termuat dalam surat Asy-Syura ayat 11 dikutip di atas dan juga larangan itu pernah diberitahukan Allah kepada Nabi Musa diabadikan dalam surat Al-A’raf 143: وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ Artinya: _”Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman"_ Rasulullah ﷺ bersabda terkait *Tauhid Asma wa Sifat (توحيد الصفات):* تَفَكَّرُوا فِي آلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوا فِي ذَاتِ اللهِ Artinya: _"Pikirkanlah tentang ciptaan-ciptaan Allah dan janganlah kalian memikirkan tentang Dzat Allah, karena sesungguhnya kalian tidak akan mampu mengukur-Nya (membayangkan-Nya)._". (HR. Abu Nu'aim dari Ibnu Abbas) Yaa Allah murnikanlah ke *TAUHID* an kami dalam meng *ESA* kan Allah, agar selamat kami di dunia ini terlebih di akhirat nanti. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 17 DzulHijjah 1447 H. 2 Juni 2026

No comments:

Post a Comment