Sunday, 17 May 2026

JABARAN ALHAMDULILLAH

Diolah: M. Syarif Arbi No: 1.418.06.05-2026 Kata ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ - “Alhamdulillah” , adalah ucapan yang lazimnya digunakan orang beragama Islam, namun kini saudara2 kita sebangsa, walau tidak beragama Islampun sudah banyak menggunakan kata Alhamdulillah di berbagai kesempatan. Dengan demikian ungkapan Alhamdulillah sudah “menasional” untuk bangsa Indonesia. Kata Alhamdulillah disebut “Tahmid” adalah salah satu dari 5 dzikir lisan yang lainnya yaitu: “Tasbih” = Subhanallah, “Takbir” = Allahu Akbar, “Tahlil” = La ilaha illallah dan “Istighfar” = Astaghfirullah. Orang beragama Islam senantiasa berdzikir Alhamdulillah sebagai perwujudan berterimakasih kepada Allah karena menyadari bahwa seluruh kenikmatan datang dari Allah: وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ -“Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian, apabila kamu ditimpa kemudaratan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan”-. (An-Nahl 53) Sebagai tanda seseorang bersyukur atas nikmat Allah, tidak merasa keberhasilan dicapai karena kemampuan diri sendiri. Menyadari bahwa rezeki, kesehatan, ilmu, keluarga, dan kesempatan adalah pemberian Allah. Selanjutnya selalu dalam hati diikuti lisannya mengucapkan Alhamdulillah. Akan tetapi wujud berterimakasih kepada Allah itu bukan hanya lewat ucapan “Alhamdulillah”, berdo’a dan berdzikir, tetapi juga terlihat dari sikap dan cara hidupnya yaitu: *Pertama; Menggunakan nikmat untuk kebaikan.* Ilmu dipakai membantu orang, harta dipakai bersedekah, tenaga dipakai untuk hal bermanfaat, bukan untuk maksiat. Tuntunan Allah dan Rasul-Nya dalam memanfaatkan kenikmatan: *1. Perintah Bersyukur dengan Amal:* Allah SWT berfirman, dalam surat Saba’: 13. Syukur tidak cukup di lisan, melainkan dibuktikan dengan tindakan. ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ. ……………………………” -“……………Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.- (Surat-Saba’-ayat-13) *2. Menjalankan Ketaatan:* Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kenikmatan (seperti kesehatan dan waktu luang) adalah amanah yang harus digunakan untuk amal shaleh. Semakin banyak nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk beribadah. *3. Berbagi Manfaat kepada Sesama:* Sabda Rasulullah ﷺ, خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ -"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." - (HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan ad-Daruqutni) Kenikmatan seperti harta atau ilmu harus disalurkan untuk membantu yang membutuhkan. *4. Larangan Bermaksiat:* Allah SWT memperingatkan agar nikmat tidak disalahgunakan untuk hal yang merugikan, وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ -“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”-. (Al-Baqarah-ayat-195) *Kedua; Menjaga ibadah* Sebagai bukti seseorang bersyukur akan menjadi lebih taat, senantiasa menjaga shalat, sangat berhati-hati ketika berucap dan berbuat karena takut menjadi dosa, terus menerus berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah. *Ketiga; Tidak banyak mengeluh* Bukan berarti hidupnya selalu mudah, tetapi ia berusaha melihat kebaikan yang masih dimiliki dan tetap sabar saat diuji. *Keempat; Dermawan*. Orang yang bersyukur biasanya tidak pelit. Ia sadar nikmat berupa harta yang dimiliki juga ada hak orang lain di dalamnya. وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ ۝١٩ -“Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta”-. (Adz-Dzaariyat Ayat 19) *Kelima* Hatinya merasa cukup (qana’ah) Tetap punya usaha dan cita-cita, tetapi tidak terus-menerus iri pada milik orang lain. Nikmat membuatnya makin rendah hati, makin bersyukur. Semakin diberi kelebihan, semakin tidak sombong. وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ -“ (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras . ”- (surat Ibrahim ayat 7) Yaa Allah jadikanlah kami termasuk orang yang pandai bersyukur, baik saat nikmat terasa besar maupun kecil. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 1 DzulHijjah 1447 H. 17 Mei 2026

No comments:

Post a Comment