Saturday, 2 May 2026

PENENANG HATI

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.413.01.05-2026 Hati yang tenang bukan hanya sekedar meredam emosi sejenak, seharusnya menjadikan batin ini terhubung kuat dengan Allah, sehingga apapun yang dilakukan, diharapkan dalam kendali Allah tidak terdorong oleh hawa nafsu, atau kepuasan sesaat, yang berkesudahan dengan penyesalan. Upaya untuk menjadikan “Hati Tenang”, dapat dilakukan dengan 3 (tiga) langkah yaitu: PERTAMA: Dzikir (Mengingat Allah) Dzikir bisa berupa tasbih, tahmid, takbir, atau menyebut nama Allah dengan penuh kesadaran. Termasuk membaca Al-Qur’an. Dengan ber dzikir “hati tertambat” kepada Allah sehingga tidak liar ke mana-mana. الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram" (QS. Ar-Ra’d: 28). KEDUA: Sabar dan Shalat serta Curhat kepada Allah. Shalat bukan hanya kewajiban, tapi juga ruang “bertemu” dengan Allah. Dalam shalat, seseorang mau tak mau, kendatipun umpamanya tidak khusyuk, akan berhenti dari hiruk pikuk lingkungan sekitarnya dan kembali fokus. Bukan mustahil ketika hati sedang kalut, waktu shalat, kekalutan tersebut masuk di sela2 pikiran dalam shalat, tidak masalah, paling tidak ada sebagian pikiran terhubung kepada Allah. Usai shalat dilanjutkan dengan curhat sepuasnya kepada Allah, dengan jujur dan terbuka, seraya minta pertolongan menyelesaikan masalah yang sedang dialami, atau akan dihadapi. Di kampungku ada seulas pantun: Pisang Nipah condong ke barat. Masak sebiji buahnya di ujung. Hati gelisah bawalah Shalat. Disitu tempat iman bergantung. Al-Qur’an memberikan arahan bahwa dalam hal hati gelisah mempunyai problem dalam hidup mintalah bantuan pertolongan Allah untuk mengatasinya. Sebaik-baik cara untuk meminta pertolongan Allah adalah melalui shalat, dengan syarat sabar. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْ Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al- Baqarah 153) KETIGA: Tawakal (Berserah diri) Dalam tawakal, seseorang tetap berusaha, tapi menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ini mengurangi kecemasan, karena tidak semua hal harus dikendalikan sendiri. Tanamkan keyakinan bahwa Allah memberikan terbaik buat hamba-Nya. Allah akan memberikan sesuai dengan apa yang kita perlukan, tidak selalu memberikan apa yang kita minta. Termasuklah diantaranya ketika memperoleh rezeki, mendapatkan jodoh pasangan hidup, menderita penyakit. Andaikanpun sesudah dilakukan upaya Pertama dan Kedua, masih saja apa yang menjadi pengalut hati pengganggu ketenangan jiwa, berupa sesuatu yang tidak diinginkan masih juga terjadi. Maka orang yang beriman akan tetap tegar mempertahankan imannya, tawakal berserah diri kepada Allah berpedoman kepada apa yang diingatkan Allah dalam surat Al-Baqarah 216. وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ ۝٢١٦ …” “……… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. Yaa Allah jadikanlah kami termasuk hamba2-Mu yang berhati tenang berpikiran jernih, berdada lapang, terhindar dari emosi yang merugikan diri kami sendiri. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 14 DzulKaidah 1447 H. 2 Mei 2026