Wednesday, 4 November 2026
KEHIDUPAN sebelum LAHIR
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.449.01.11-2026
Start perjalanan hidup manusia sebetulnya bukan hanya dimulai dari sejak lahir dari rahim ibu, lalu dicatat dalam akte kelahiran. Finish perjalanan kehidupanan manusia bukan pula ketika kematian, lalu dikebumikan. Akan tetapi berupa 9 fase kehidupan dijalani manusia yaitu:
• *2 fase kehidupan sebelum lahir; Alam arwah dan alam Rahim.*
• *3 fase kehidupan di dunia; Bayi, Pemuda dan Tua.*
• *4 fase kehidupan sesudah kematian.; Alam Barzakh (Alam Kubur), Hari Kebangkitan dan Padang Mahsyar, Yaumul Hisab dan Mizan, Alam Akhirat (Surga atau Neraka)*.
Jadi *lebih panjang fase kehidupan sesudah mati dari kehidupan sebelum lahir dan susudah hidup didunia*. Hal ini mengisyaratkan, hendaklah menyadarkan manusia, persiapan menjalani fase kehidupan sesudah mati, seharusnya dipersiapkan dengan sirius, karena lebih panjang tak berujung.
Untuk singkatnya artikel ini, focus tentang kehidupan sebelum lahir, yaitu: *alam arwah dan alam Rahim.* Adapun fase kehidupan di dunia dan fase kehidupan sesudah mati, إِنْ شَاءَ اللَّهُ akan dijumpai di artikel2 yang akan datang.
*FASE KEHIDUPAN SEBELUM LAHIR KEDUNIA DI ALAM RUH:*
*Alam Ruh (Alamul Arwah)*, Fase awal sebelum fisik manusia diciptakan. Pada tahap ini, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. mengumpulkan seluruh ruh manusia dan mengambil kesaksian bahwa Allah adalah Tuhan mereka (Al-A'raf: 172).
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ
Artinya: _*Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".*_
Manusia tidak mengingat peristiwa pengambilan kesaksian atau perjanjian di alam ruh (seperti yang disebutkan dalam Surat Al-A'raf ayat 172) karena beberapa sebab utama:
*Pertama; Peralihan ke Alam Dunia (Keterbatasan Fisik):* Ketika ruh ditiupkan ke dalam jasad (fetus/janin), manusia berpindah dimensi dari alam metafisik (alam ruh) ke alam fisik (dunia) yang memiliki keterbatasan pancaindra dan memori otak. Ikrar tersebut terjadi pada dimensi pra-eksistensi (alam ruh) dan ditanamkan ke dalam manusia dalam bentuk fitrah (potensi dasar), bukan memori otak (kognitif). Hal itu bukan memori sejarah yang dicatat oleh sel-sel otak kita, melainkan "program bawaan" (built-in) pada sistem spiritual manusia. Manusia tidak mengingatnya sebagai kejadian masa lalu, tetapi merasakannya sebagai dorongan hati yang selalu mencari Tuhan (terutama saat sedang kesulitan atau ketakutan)
*Kedua; Ditutupnya Hijab Kesadaran:* Saat lahir ke dunia, memori langsung terhadap peristiwa tersebut tertutup oleh tirai (hijab) antara alam ghaib dan alam nyata. Perjanjian ini adalah perumpamaan dari kecenderungan alami (fitrah) jiwa manusia yang diciptakan dengan potensi bawaan untuk mengakui adanya Pencipta Yang Maha Esa.
*Ketiga; Fitrah yang Tetap Hidup:* Meskipun manusia tidak ingat secara sadar (secara detail kronologis), jejak dari perjanjian itu tetap ada di dalam hati manusia sebagai fitrah (naluri dasar untuk mengakui adanya Pencipta dan kebenaran). Hal inilah yang membuat manusia *secara nurani merasa bersalah saat berbuat buruk atau mencari Tuhan ketika dalam kesulitan.*
Oleh karena itulah maka diutus Allah Para Rasul dan diturunkan Kitab2 Suci, untuk mengingatkan manusia agar bertauhid kembali. Mengingatkan kembali perjanjian Ruh manusia dihadapan Allah.
*FASE KEHIDUPAN SEBELUM LAHIR KEDUNIA DI ALAM RAHIM*
Alam Rahim (Alam Janin), Fase kehidupan biologis manusia di dalam kandungan seorang ibu, durasinya tidak lama; umumnya 9 bulan 10 hari. Dimana RUH yang telah berjanji di fase pertama tadi, menyatu dengan jasad sejak sekitar 5 bulan 10 hari didalam kandungan ibu, sampai kematian. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَاً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الـْمَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرٌّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari berwujud nuthfah (mani), kemudian menjadi ‘alaqah (gumpalan darah) selama itu juga, kemudian menjadi mudghah (gumpalan daging) selama itu juga. Kemudian diutus seorang malaikat, *lalu dia meniupkan ruh* kepadanya, dan malaikat itu diperintah untuk menulis 4 kalimat (perkara): tentang rezekinya, amalannya, ajalnya dan (apakah) dia termasuk orang yang sengsara atau bahagia.
Bayi di dalam kandungan ibu sebenarnya sudah melakukan banyak kegiatan, bahkan sejak usia kehamilan masih sangat muda, sejak mulai menyatunya Ruh dengan Jasad: *Bayi Bergerak dan menendang;* menggerakkan tangan dan kaki, menendang, menggeliat, serta mengubah posisi tubuh. *Tidur*; Bayi memiliki waktu tidur dan bangun. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk tidur. *Mengisap jempol;* Bayi mulai belajar mengisap jempol sebagai latihan refleks mengisap setelah lahir. *Menguap dan membuka mulut*; Bayi bisa membuka mulut, menguap, dan melakukan gerakan seperti sedang menelan. *Mendengar suara*; Bayi mulai dapat mendengar suara, terutama suara ibu, detak jantung, dan suara dari lingkungan luar.
Oleh karena itu sangat dianjurkan bagi keluarga muslim untuk memperdengarkan bacaan Al-Qur’an didekat ibu hamil kerena: Lantunan ayat2 suci Al-Qur’an memberi efek positif bagi perkembangan janin. Stimulasi auditori yang didapatkan oleh janin melalui pembacaan Al-Qur’an, akan menstimulus pembentukan denrit (serabut syaraf yang berfungsi menagkap stimulus) yang jauh lebih baik.
Tidak hanya itu, penelitian menunjukkan bahwa bacaan ayat2 Al-Qur’an juga mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosional (EQ), intelektual (IQ) dan juga spiritual (SQ). Dimana hal ini akan mempengaruhi perkembangan janin paska dilahirkan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa ibu hamil yang mendengarkan/ membaca ayat-ayat Al-Qur’an mendapatkan ketenangan dan kenyamanan. Hal ini terjadi karena rangsangan hipotalamus untuk meningkatkan sekresi endorfin, kortison, dan katekolamin. Ketengan dn kenyamanan ibu hamil memberikan dampak positif buat bayi yang dalam kandungannya.
*Menggerakkan wajah*; Bayi bisa mengerutkan dahi, membuka mulut, dan membuat berbagai ekspresi wajah. *Menelan air ketuban*; Bayi berlatih menelan air ketuban untuk membantu perkembangan system pencernaannya.
*Cegukan*; Bayi terkadang mengalami cegukan yang dapat dirasakan ibu seperti Gerakan berdenyut secara berulang.
Demikian kehidupan anak manusia sebelum dilahirkan, semoga dapat menjadi tambahan bahan renungan buat pembaca, bahwa kehidupan ini sejatinya bermula dari ke-ajaib-an, selanjutnya akan berakhir dengan ke-ajaib-an lagi. Alangkah mustahilnya bila ada diantara manusia yang tidak percaya dengan alam ghaib, alam akhirat. Ya Allah kuatkan iman kami semua mempercayai kebesaran Allah dengan segala ciptaan-Nya.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 5 November 2026
25 Jumadil Awal 1448 H.
Saturday, 24 October 2026
BOOMERANG DO’A
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.448.04.10-2026
Men-do’a-kan *keburukan* kepada seseorang adalah perkara yang harus dihindari, kendatipun untuk seseorang yang dianggap menzalimi. Karena kalau ternyata orang yang dianggap menzalimi itu, dalam pandangan Allah tidak berbuat zalim, maka do’a keburukan itu akan jadi *boomerang* atau kembali ke-pihak yang mendo’akan.
Allah SWT adalah pemilik otoritas tertinggi yang mutlak berhak menentukan apakah seseorang telah berbuat zalim atau tidak. Manusia sering kali menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak di luar. Sebaliknya, Allah mengetahui motif, niat, dan seluruh konteks suatu kejadian tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
Manusia, tidak boleh mendahului ketetapan Allah dengan cara menghakimi status keselamatan atau dosa seseorang secara mutlak di akhirat. Manusia hanya dapat menilai hal-hal yang tampak secara objektif berdasarkan hukum syariat. Keputusan akhir dan pembalasan yang seadil-adilnya tetap menjadi hak prerogratif Allah SWT.
Kezaliman sesama manusia ialah perbuatan menindas, menganiaya, menafikan hak atau menyakiti orang lain, kiranya dapat dirinci menjadi 10 hal sbb:
1. *Kezaliman Physical* – Memukul, mencederakan, mendera atau melakukan kekerasan terhadap orang lain.
2. *Kezaliman lisan* – Menghina, mencaci, memfitnah, mengumpat atau mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Menyebutkan keburukan yang ia ketahui dari seseorang dan menyembunyikan kebaikan-kebaikannya.
3. *Kezaliman terhadap harta benda* – Mencuri, merampok, menipu dalam urusan jual beli atau mengambil hak milik orang lain tanpa izin.
4. *Kezaliman emosi dan perasaan* – Mengejek, membuli, mempermainkan perasaan atau sengaja menjatuhkan marwah atau harga diri seseorang.
5. *Kezaliman dalam pekerjaan* – Tidak membayar gaji pekerja, menindas pekerja atau memberikan layanan yang tidak adil.
6. *Kezaliman dalam keluarga* – Mengabaikan tanggungjawab terhadap pasangan hidup (suami – istri) dan anak-anak, melakukan penderaan atau menafikan hak ahli keluarga.
7. *Kezaliman dalam kepemimpinan* – Menyalahgunakan kekuasaan, melakukan rasuah (korupsi), pilih kasih atau menindas golongan yang lemah.
8. *Kezaliman dengan menafikan hak orang lain* – Tidak membayar hutang, tidak memulangkan barang yang dipinjam atau mengambil hak orang lain.
9. *Kezaliman melalui fitnah dan tuduhan palsu* – Menyebarkan berita bohong yang merusakkan reputasi dan kehidupan seseorang.
10. *Kezaliman melalui pengkhianatan* – Memungkiri amanah, membocorkan rahasia yang diamanahkan atau menyalahgunakan kepercayaan orang lain.
Rincian kezaliman sesama manusia dirinci diatas, kiranya dapat menjadi acuan; Bagi seseorang yang merasa terzalimi dapat mengukur apakah benar seseorang telah menzalimi dirinya. Sering terjadi seseorang; lantaran kecewa tidak terima dengan sesuatu keputusan dalam suatu komunitas terhadap dirinya, lantas menyebutkan dirinya dizalimi. Lantas mendo’akan yang tidak baik terhadap pihak yang menurutnya paling bertanggung jawab atas keputusan itu.
Kalau ternyata orang yang di-do’a-kan keburukan itu tidak terkategori menzalimi; maka do’a keburukan itu akan jadi *boomerang* buat yang mendo’akan. Seperti dapat di pahami dari potongan sabda Rasulullah Muhammad ﷺ merupakan bagian akhir dari Hadits Riwayat Abu Dawud No: 4908:
...لَا تَلْعَنْهَا فَإِنَّهَا مَأْمُورَةٌ وَإِنَّهُ مَنْ لَعَنَ شَيْئًا لَيْسَ لَهُ بِأَهْلٍ رَجَعَتِ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ
_*"...Janganlah kamu melaknatnya (angin), karena ia bergerak di bawah perintah. Dan sesungguhnya, barangsiapa yang melaknat sesuatu padahal sesuatu itu tidak layak menerima laknat, maka laknat (doa keburukan) itu akan kembali kepada orang yang melaknatnya."*_ (HR. Abu Dawud no. 4908, dinilai hasan oleh Al-Albani)
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْل
_*"Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya adalah mustajab (pasti dikabulkan). Di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan. Setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat yang ditugaskan itu berkata: 'Aamiin, dan bagimu kebaikan yang sama'."*_ (HR. Muslim No. 2733)
Dikaitkan dengan hadits bahwa; do’a sesama muslim tanpa sepengetahuannya adalah mustajab, maka kalau ternyata pihak yang dilaknatnya tidak zalim menurut kriteria diatas, maka do’a melaknat itupun mustajab pula buat diri pendo’a.
Atas dasar hadits ini, maka mendo’akan keburukan-keburukan buat orang yang dianggapnya menzalimi dirinya itu. Kalau ternyata yang bersangkutan tidak termasuk dizalimi. Dengan demikian do’a nya bukanlah do’a seorang yang ter-zalimi. Jika yang bersangkutan masih tetap mendo’akan yang buruk2 untuk orang yang menurut pendapatnya menzaliminya, padahal tidak menzaliminya, maka do’a itu tidak akan berdampak apa2 bagi orang yang dinilainya menzaliminya. Malah do’a tersebut akan menjadi *boomerang*, buat dirinya.
Sikap seorang yang sedang terbakar emosi, menilai seseorang hanya dari sudut pandang dirinya sendiri, segera men-stempel seseorang telah menzaliminya tanpa ilmu yang memadai, lalu tergesa-gesa berdo’a untuk kejahatan buat seseorang yang dianggapnya menzalimi dirinya. Dalam kenyataan hal seperti ini sering terjadi, sesuai benar seperti terungkap dalam Al-Qur’an berikut ini.
وَيَدْعُ ٱلْإِنسَٰنُ بِٱلشَّرِّ دُعَآءَهُۥ بِٱلْخَيْرِ ۖ وَكَانَ ٱلْإِنسَٰنُ عَجُولًا
_*”Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”*_ (Al- Isra 11)
۞ لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْۤءِ مِنَ الْقَوْلِ اِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا عَلِيْمًا ١٤٨
_*”Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”*_ (An-Nisa 148)
Dari uraian diatas dalam kehidupan berinteraksi dalam masyarakat, dalam organisasi kemasyarakatan, dalam organisasi paguyuban dalam kelompok keluarga besar, adalah wajar terjadi beda pendapat, adalah lumrah terjadi perbedaan pandangan yang kadang timbul sedikit selisih paham. Janganlah cepat2 memutuskan bahwa suatu pihak telah menzalimi, lantas tergesa-gesa berdo’a yang tidak baik bagi orang yang dianggap menzalimi. Bila ternyata menurut pandangan Allah orang yang dianggap menzalimi itu tidak menzalimi, maka do’a keburukan itu akan menjadi *boomerang buat yang berdo’a*.
Yaa Allah, jauhkan diri kami dari terzalimi, maupun dari menzalimi sesama kami.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 24 Oktober 2026
13 Jumadil Awal 1448 H.
Wednesday, 21 October 2026
NGOPI – TERAKHIR
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.446.02.10-2026
Seorang nenek delapan puluhan, suatu pagi sudah siap2 akan pergi ke rumah cucunya yang baru melahirkan 2 hari lalu. Rumah cucu bertambiran desa, naik andong kira2 sepuluh menit. Sebelum berangkat, nenek bilang ke cucunya yang sengaja diminta nginap di rumah si nenek, yang nanti akan menemani naik andong; *”Ani,… sedukan nenek kopi dulu sebelum berangkat !”*.
Si Ani (bocah kelas 5 SD yang hari Ahad itu libur) ragu2 untuk menyedukan kopi karena tau bahwa neneknya sudah puluhan tahun tidak ngopi, lantaran pantangan berpenyakit tertentu, Ani ndak tau persis, tapi pantangannya antara lain *minum kopi*.
Perlu diketahui peristiwa itu terjadi belum era HP, jadi si Ani yang dipesan untuk nemani nenek itu, tidak dapat konsultasi ke rumah ibunya. Lantas diapun menyedukan kopi *“tapi sedikit saja ya nek”* ujarnya. Benar juga sang nenek nyeruput kopi panas itu hanya mungkin empat seruputan. *”Panggil andong ya nek”* kata si Ani. Nenek menjawab *”jangan dulu……. nenek mau rebahan dulu”*
Si Ani duduk di teras rumah di desa yang sejuk, teduh itu, sambil membaca komik kesukaannya. Namun cukup lama sampai puluhan halaman komik di baca, sang nenek belum juga memanggil. Ani coba melihat ke kamar, …………….. ternyata neneknya *sudah di panggil pulang Yang Maha Kuasa*.
Pembaca; selama hidup, manusia perlu makan-minum dan ini lazim disebut dengan rezeki, walau sesungguhnya yang dimaksud dengan *rezeki bukan saja makan-minum, tetapi; kesehatan, kesempatan dan segala sesuatu kenikmatan.* Tulisan ini membatasi rezeki hanya pada apa yang dimakan dan apa yang diminum. Khusus tentang si nenek adalah tentang minum.
Rezeki manusia yang dimakan-diminum, telah ditentukan sejak lahir sampai mati, ketahuilah bahwa sebelum jatah rezeki tersebut habis dimakan-diminum, manusia tidak akan mati. Dalam konteks ini Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا. ۗ
_*“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. …………….”*__ (Ali Imran ayat 145).
Jika “jatah” rezeki telah habis dikonsumsi seseorang akan mati. Seseorang tidak mungkin mati sampai sempurna rezekinya, dan berakhir pula amalannya. Dari Jabir bin ‘Abdillah ra, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
_*“Wahai umat manusia, bertaqwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertaqwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.”*_ (HR Ibnu Majah).
Dalam pada itu dari Ibnu Mas’ud ra, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ
_*“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.”*_ (HR Musnad Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani)
Maka dapat dimaklumi Nenek-Kakek, porsi makannya sangat sedikit. Rupanya jatah rezekinya sudah hampir habis. Semasa muda dulu jenis2 makanan jadi makanan favorit, minuman wajib tertentu mesti harus ada di meja kalau pulang kerja, sudah tidak dapat dimakan diminum lagi. Makanan favorit kalau dimakan juga jadi alergi, misalnya nenek yang dikisahkan ini, dulu minuman kopi menjadi minuman wajib, sekarang kalau diminum maag terganggu, jantung terganggu.
Dari petunjuk ayat dan hadits diantaranya dikutip diatas, mengertilah agaknya kita, bahwa; bagi pribadi tertentu, rezeki berwujud makanan dan minuman, yang sekarang sudah membuat alergi, atau berdampak penyakit, itu artinya jatah buat rezeki jenis makanan dan minuman jenis itu sudah hampir habis atau mungkin sudah habis buat diri awak. Untuk jenis lain masih ada yang masih tersisa, jatah nasi sudah hampir habis lantaran masa muda makannya sekali makan rata2 dua piring. Jadi masa tua harus dimakan se-dikit2, jatah kentang masih tersisa. Jatah gula pasir sudah habis, karena masa muda dulu kalau menyedu kopi segelas, gulanya 2 sendok makan, sekarang tersisa rezeki pemanis “Tropicana”. Harap makluuum.
Dengan demikian:
Malaikat maut belumlah datang.
Sebelum dinikmati rezeki yang dipantang.
Si nenek dengan pantangan minum kopi, hayatnya pun berakhir setelah minum kopi yang masih merupakan rezeki beliau, dan itulah rupanya *Ngopi terakhir buat si nenek*.
Yaa Allah tolong diberikan kepada kami rezeki yang halalan, tetap thayyiban serta barakatan sampai akhir hayat dikandung badan.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 17 Oktober 2026/6 Jumadil Awal 1448 H.
Bagaimana Yang Terakhir
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.447.03.10-2026
Tiga sahabat lama teman es em aa semasa di kampung, janjian bezook seorang teman sekelas yang kini sedang dirawat dirumah sakit. Pas tiba di area parkir berkumandang adzan di masjid komplek rumah sakit. *Kalau begitu kita shalat ashar dulu nanti baru menuju kamar*, ujar salah seorang. Dua orang rekan yang penumpang mobil, begitu keluar dari mobil menunggu tak jauh dari mobil, bermaksud bertiga bersama menuju masjid. Ternyata yang pegang kemudi setelah turun dari mobil katakan *kalian berdua duluan saja, saya kesana dulu…. sambil nunjuk suatu arah*.
Usai shalat, kedua temannya (sebut saja si A dan si B) sambil mengenakan sepatu, toleh kiri – toleh kanan – toleh sekitar, teman yang satunya tidak tampak, mereka berduapun langsung melangkah menuju gedung rumah sakit, rupanya dianya (sebut saja si C) sudah duduk santai di lobby. Kesimpulan bahwa satu teman mereka ini si “C” tidak ikutan shalat ashar. Padahal shalat ashar demikian pentingnya sehingga di Al-Qur’an tertulis surat Al-Baqarah ayat 238:
حَٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ وَقُومُوا۟ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ
_*” Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.”*_
Dua temannya yang baru saja shalat ashar, masing2 membhatin, dengan isi bathin yang berbeda. Si “A” mbhathin *kesihan kawanku satu ini, sudah usia diatas 40an masih belum shalat*. Sedang si “B” mbathin *semoga di akhir hidup sobatku ini jadi orang yang taat*.
Puluhan tahun kemudian, setelah mereka usia diatas kepala tujuh, masing2 sudah punya cucu, diperoleh kabar kenyataan si “C” sangat taat beribadah, hidupnya tidak jauh dari masjid. Bahkan ikut jadi panitya membangun masjid, rupanya bathinan si “B” di ijabah Allah.
Dalam agama Islam, yang *terpenting bukan hanya bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi juga bagaimana ia mengakhiri hidupnya*. Boleh jadi seseorang terlahir belum beragama Islam, tetapi setelah dewasa, setelah akhir hayatnya menjadi penganut agama yang taat bahkan menjadi da’ie. Kita berharap dapat menutup usia dalam keadaan beriman, bertobat, memperbanyak amal shaleh, dan mendapatkan ridha Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.
Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
_*“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada penutupnya.”*_ (HR. Bukhari)
Akhir kehidupan memiliki arti yang sangat penting. Namun, kita tidak boleh menunggu tua atau mendekati kematian barulah taubat, barulah menjadi shaleh. Sebaiknya kita mulai memperbaiki diri sejak sekarang, karena tidak seorang pun mengetahui kapan ajalnya tiba.
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَآءَ اَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَةً وَّلَا يَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ٣٤
_*”Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”*_ (Al-A’raf 34)
وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَا ۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَࣖ ١١
_*"Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."*_ (Al-Munafiqun 11)
Kondisi akhir hayat seseorang merupakan penentu utama keselamatan di akhirat, meninggal dunia dalam keadaan beramal shaleh ini disebut sebagai *Husnul Khatimah* (akhir yang baik). Sangat terkenal satu ayat sering dibaca khatib Jum’at:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
_*”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”*_ (Ali-imran 102)
*Ayat diatas; Allah secara tegas melarang hamba-Nya wafat kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri dan beramal shaleh)*
Populer hadits Imam Bukhari menjadi landasan utama mengenai amal terakhir menentukan nasib di akhirat,
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
_*“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.”*_ (HR. Bukhari, no. 6607)
Di artikel singkat ini, hendaklah bilamana melihat: teman kita, tetangga kita, saudara kita belum tergerak untuk taat beribadah, hendaklah ikuti cara mbatin salah seorang sahabat es em aa yaitu si “B” dengan mbathin merupakan do’a
; *“semoga di akhir hidup sobatku ini jadi orang yang taat beribadah”*, tak usah mbathin seperti teman es em aa si “A”: *kesihan kawanku satu ini, sudah usia diatas 40an masih belum shalat*, karena yang menentukan adalah amalan di akhir hayat.
Seindah-indah perjalanan hidup adalah ketika kita menua dalam kebaikan, semakin dekat kepada Allah, dan wafat dalam husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik).
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ عَوَاقِبَ أُمُورِنَا خَيْرًا
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ
رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ... تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ وَلَا تَخْتِمْ عَلَيْنَا بِسُوْءِ الْخَاتِمَةِ
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 21 Oktober 2026
11 Jumadil Awal 1448 H.
Wednesday, 7 October 2026
BBM tercampur AIR
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.445.01.10-2026
Melanjutkan artikel *7 (tujuh) lobang kebocoran* pahala amal kebaikan setiap manusia, dimana 6 (enam) telah dikemukakan pada artikel2 sebelumnya. Di kesempatan ini membicarakan pembocor amal yang ke tujuh yaitu *“Mencampur amal baik dengan amal buruk”*
Menyoal perihal bocornya amal karena *Mencampur amal baik dengan amal buruk*, dimungkinkan terjadi 2 (dua) keadaan: *Yang pertama;* amal baik akan bocor habis, hilang tak bersisa. *Yang kedua;* pahala amal baik, tetap tersimpan, tetap bertahan, tidak habis semua, walau disisi lain manusia melakukan perbuatan buruk. Bagaimana hal tsb dapat terjadi?, semoga tulisan singkat ini dapat serba sedikit menyingkapnya. Aamiin.
*Kemungkinan pertama; amal baik bocor tercampur amal buruk*.
Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى melarang keras hamba-Nya mencampur-adukkan perkara yang benar (ketaatan/kebaikan) dengan yang salah (maksiat/keburukan):
وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: _*Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.*_(Al-Baqarah ayat 42).
Kendaraan motor bila diisi dengan BBM bercampur air, sudah dapat dipastikan mesinnya akan mogok. Segelas air tercampur sesendok saja BBM, jelas tidak layak lagi untuk diminum. Perumpamaan ini menegaskan bahwa dua cairan *yang satu untuk diminum* dan yang satunya *bukan cairan untuk diminum*, jika dicampurkan tidak lagi bermanfaat untuk manusia maupun mesin.
Diayat lain Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى peringatkan tentang Amalan yang Gugur (Habithat A'maluhum) adanya golongan orang yang merasa sudah berbuat baik, namun amalnya sia-sia di akhirat karena perbuatan kufur atau *maksiat besar* yang merusaknya:
ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Artinya: _*Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.*_(al-kahfi-ayat-104).
Siapakah yang sia2 amalnya, sedangkan mereka menyangka telah berbuat baik, jawabannya tersurat di Al-Kahfi ayat 105.
أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا
Artinya: _*Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.*_
*Kemungkinan Kedua; amal baik tetap tersimpan walau tercampur amal buruk*
Asalkan jangan *kufur*, masih berpeluang amal baik yang dilakukan seseorang tidak terkuras. *Ada amal buruk yang langsung membatalkan pahala, ada pula amal buruk yang tidak serta merta membatalkan pahala*.
Amal buruk yang langsung membatalkan pahala, ialah amal buruk yang menyangkut dengan sesama manusia. inipun dapat dibagi dua, ada yang mutlak batal, ada yang dapat di cancel batalnya melalui permintaan maaf.
*Yang mutlak batal*; Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَ menegaskan dalam surat Al-Baqarah 264: *Jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.* ayat tsb telah dikutip pada artikel sebelum ini berjudul *RIYA’*.
*Yang dapat di cancel batalnya kebaikan oleh keburukan,terkenal hadits tentang “Muflis (bangkrut)”*
Pahala kebaikan juga bisa habis karena dicampur dengan maksiat atau kezaliman kepada sesama manusia: Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang bangkrut di akhirat adalah orang yang datang membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga membawa dosa mencaci orang lain, menuduh tanpa bukti, memakan harta orang lain, dan menumpahkan darah. Di akhirat, pahala-pahala kebaikannya akan ditransfer untuk membayar korban kezalimannya sampai pahalanya habis, lalu dosa korbannya ditimpakan kepadanya hingga ia dilempar ke neraka (HR. Muslim).
Jika berhasil meminta maaf kepada pihak dimana diri kita berbuat salah selama di dunia, bertaubat atas maksiat kepada Allah, kemudian Allah menerima taubatnya, maka pahala kebaikannya dapat di cancel batalnya, jadi masih dapat ditemuinya di akhirat nanti.
Kembali ke perumpamaan bercampurnya BBM dengan air di awal tulisan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa: Air bila tercampur BBM dalam hal tertentu tidak layak lagi buat kendaraan atau buat diminum. Dalam pada itu dengan jalan memisahkan kandungan air di dalam BBM, maka BBM akan berguna lagi buat kendaraan, justru BBM yang dipakai buat kendaraan sekarang ini berasal dari campuran bermacam cairan sebelum diolah. Permisalannya jika telah menyadari berdosa kepada Allah lantaran maksiat, langsung bertaubat, jika bersalah sesama manusia langsung mohon maaf selama di dunia ini. إِنْ شَاءَ اللَّه pahala dari amal kebaikan tidak akan terkuras.
Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَ berfirman:
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ
Artinya: _*Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.*_ (Hud ayat 114)
Dalam hal diri kita sedang tergelincir bermaksiat, terlanjur mendzalimi sesama, tak usah berputus asa, jangan sampai terbuai syaitan membisikkan: *“Aku masih buat dosa, jadi tak guna aku shalat, bersedekah atau berbuat baik toh tidak akan diterima Allah”*. ini bisikan rayuan syaitan merupakan perangkap. Yang betul ialah *teruskan kebaikan dan pada saat yang sama bertaubat serta berusaha sungguh2 melawan maksiat*.
Ya Allah,….. jadikanlah sisa2 hidup kami ini tidak mencampur-adukkan amal baik dan amal buruk, jikapun kami terlanjur berbuat dosa kepada-MU kami mohon ampun, jika terlanjur mendzalimi sesama, beri kesempatan kami dapat memohon maaf kepada mereka.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 7 Oktober 2026/25 Rabiul Akhir 1448 H.
Wednesday, 30 September 2026
GHIBAH Sumber MASALAH
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.444.04.09-2026
Diartikel sebelum ini disebutkan bahwa lobang tersedia buat bocornya simpanan kebaikan (pahala) bakal bekal di akhirat bagi setiap insan terdapat 7 saluran: (1). Riya' Langsung., (2). Riya' Digital (Pamer Kebaikan di Media Sosial)., (3). Sum’ah (ingin didengar) amal baik., (4), Menyebut-nyebut Kebaikan (Al-Mann) & Menyakiti Perasaan., (5). Dengki dan Hasad., (6), Ghibah, Membicarakan Aib Orang Lain & Mencemarkan Nama Baik orang lain., (7). Ibadah dicampur maksiat.
Dikesempatan ini, mari kita bicarakan saluran ke (6) bocornya pahala lantaran *Ghibah*. Ghibah adalah *amalan mulut, amalan lidah* yaitu: (a). Membicarakan Aib Orang Lain., (b). Mencemarkan Nama Baik orang lain., (c). Bergunjing., (d), Memfitnah., (e). Mencela orang lain. Lebih rinci mestinya sub title *Gibah* dapat diurai lebih jauh. Ada beda tipis *membicarakan aib orang lain*, dengan *mencemarkan nama baik orang lain*, tidak sama persis pengertian *menggunjing, memfitnah, mencela orang lain*. Namun biarkanlah artikel nomor ini hanya menitik beratkan tentang *GIBAH*
*Masalah Ghibah dalam Bermasyarakat*
Ghibah adalah membicarakan keburukan atau kekurangan orang lain ketika orang tersebut tidak ada, meskipun apa yang dibicarakan itu sesungguhnya benar2 merupakan keburukan orang yang dibicarakan. Dalam kehidupan bermasyarakat, ghibah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain:
*Pertama; Menimbulkan permusuhan*.
Bilamana orang yang menjadi bahan pembicaraan mengetahui keburukan dirinya telah dibicarakan maka dianya akan sakit hati, berdampak hubungan antarwarga menjadi renggang, bukan mustahil jadi permusuhan. Apalagi bila pas membicarakan keburukan seseorang, orang yang di bicarakan tiba2 muncul, akan terjadilah pertengkaran. Dapat saja terjadi ketika membicarakan keburukan seseorang, diantara pendengarnya adalah sahabat atau kerabat orang yang di ghibah, maka akan terjadi, setidaknya adu argumentasi, boleh jadi terjadi pertengkaran.
*Kedua; Merusak kepercayaan*
Dalam hal seseorang; katakanlah teman kita, family kita, tetangga kita, kebiasaan menyebar *gossip*. Maka terhadap orang itu kepercayaan kita akan menurun, bahkan bisa hilang. Karena kalau dianya hobby *bergossip* tentang orang lain, dalam kesempatan lain dia akan *meng-gossip-kan* diri kita.
*Ketiga; Memicu konflik*.
Informasi yang disampaikan dari satu orang ke orang lain dapat berubah atau ditambah-tambahkan sehingga menimbulkan perselisihan. Menciptakan lingkungan sosial yang tidak sehat, terciptalah masyarakat yang terbiasa membahas kekurangan orang lain daripada menyelesaikan masalah sendiri. Sibuk ngurus kelemahan orang lain, kurang perhatian kepada kelemahan diri sendiri.
*Keempat; Menghimpun dosa.*
Di dalam perspektif agama *ghibah* sangat dilarang, terdapat sejumlah ayat dalam Al-Qur’an melarang. Manusia peng *ghibah*, diancam dengan dosa yang besar. Dipetik beberapa diantara ayat yang berkaitan dengan *ghibah*:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ١٢
_*Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.*_ (Al-Hujurat ayat 12).
إِذْ تَلَقَّوْنَهُۥ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُۥ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ
_*(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.*_ (An-Nur ayat 15)
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلْفَٰحِشَةُ فِى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
_*Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.*_ (An-Nur ayat 19)
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨
_*Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).*_ (Qaf ayat 18)
۞ لَّا يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلْجَهْرَ بِٱلسُّوٓءِ مِنَ ٱلْقَوْلِ إِلَّا مَن ظُلِمَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
_*Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.*_ (An-Nisa 148)
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ
هَمَّازٍ مَّشَّآءٍۭ بِنَمِيمٍ
مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ
_*Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,Yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,*_(Al-Qalam 10-12).
Dosa ghibah ini adalah produk mulut/lidah, maka hendaklah kita berhati-hati menggunakan lidah ini. Jangan sampai lidah banyak digunakan untuk ber ghibah, ber gossip. Diingatkan Allah perkara dosa lidah, disamping surat Qaf ayat 18 dikutip diatas, ketahuilah bahwa lidah akan menjadi saksi di hadapan mahkamah Allah nanti.
يَّوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ اَلْسِنَتُهُمْ وَاَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
_*pada hari (ketika) LIDAH, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.*_ (An-Nur: 24)
Yaa Allah jauhkanlah lidah kami dari kebiasaan berghibah, kerena akan membocorkan bekal amal kami untuk akhirat dan sumber masalah ketika di dunia.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 30 September 2026/18 Rabiul Akhir 1448 H.
Wednesday, 23 September 2026
DENGKI menyiksa DIRI
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.443.03.09-2026
Melanjutkan artikel tentang *”Bocornya Pundi-Pundi Pahala”*, salah satu diantaranya *Dengki atau Hasad*. Dengki adalah *perasaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan keberuntungan, kesuksesan, atau kebahagiaan, disertai keinginan agar orang tersebut kehilangan atau tidak menikmati hal itu.* Dampak buruk bila diri dihinggapi rasa iri/dengki atau hasad kepada orang lain, maka:
*Pertama; Resah, Gelisah.*
Hati menjadi tidak tenang, karena terus membandingkan diri dengan orang lain.
Bagi sesorang pendengki, akan membandingkan misalnya; kanapa orang lain sukses, berhasil, dirinya tidak, padahal dirinya tak kalah ditinjau dari kecerdasan, pendidikan maupun kemampuan, dan usaha. Tiap hari pendengki akan resah, gelisah hanya untuk memikirkan kenapa dirinya tidak dapat melebihi orang lain, minimal sama dengan orang lain.
*Kedua; Merusak Relationship*
Pendengki, akan merasa tidak nyaman berhubungan dengan sesorang yang didengkinya. Menghindar untuk bertemu apalagi beramah tamah dengan orang yang di dengki. Yang ada biasanya menyindir mencari-cari kelemahan, kesalahan orang yang di dengki. Setiap orang ada yang menyukai atau pendukung, ada pula pihak yang sebaliknya, maka akan timbul pro dan konrtra, merusak relationship dalam masyarakat setidaknya dalam skala kecil, dilingkungan.
*Ketiga; Berpotensi berbuat buruk*
Berawal dari pengertian dengki telah disebutkan di awal artikel ini, tak jarang si pendengki melakukan upaya untuk menghilangkan keberuntungan, kesuksesan, kebahagiaan orang yang di dengkinya dengan berbagai jalan perbuatan buruk. Memfinahpun kadang dilakukan, menyebarkan isu2 negative untuk orang yang di dengkinya misalnya *“kekayaannya dari korupsi, kekayaannya karena pesugihan, memelihara tuyul, pencucian uang dll hal yang negative”*
Keresahan, kegelisahan, rusaknya relationship dan berpotensi melakukan perbuatan buruk. Perbuatan buruk itu menyita pemikiran dan juga waktu mengatur siasat, sehingga menyiksa diri sendiri. *Gelisah, resah* selain menyiksa diri, membuat pikiran menjadi tidak focus. Rusaknya relationship mempendek langkah dalam berkegiatan. Melakukan perbuatan buruk akan diiringi risiko yang mungkin akan terjadi, baik didunia apalagi di akhirat.
Bagi orang beriman ketika potensi dengki akan menghampiri diri hendaklah menyadari bahwa Allah sudah mengatur rezeki, keberuntungan, masing2 orang, bahkan jauh sebelum diri dilahirkan. Semboyannya *Rezeki tak akan tertukar*.
إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
_*“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.”*_ (QS. Al Isra’: 30)
وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِى ٱلرِّزْقِ ۚ
_*”Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, ……“*_ (surat-an-nahl-ayat-71)
Orang2 beriman memahami bahwa; *Rezeki Bukan hanya uang*; Rezeki mencakup kesehatan, ketenangan, keluarga saleh, dan ilmu (sesuatu yang mendatangkan manfaat).
Kelapangan dan kesempitan adalah cara Allah menguji syukur atau kesabaran orang beriman. Sifat orang beriman tercermin dari sanggupkah diri bersabar ketika dalam kesempitan, kesulitan, mampukah dianya bersyukur ketika mendapatkan kebahagiaan.
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
_*“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, itu pun baik baginya.”*_ (HR. Muslim no. 2999)
Tidak meratanya rezeki dibagikan Allah kepada setiap manusia justru itu merupakan wujud dari keadilan Allah, karena jika semua sama setara, maka fungsi sosial, kerja sama, dan dinamika hidup dunia tidak berjalan, masing2 manusia jadinya tidak saling membutuhkan. Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
_*"Jauhilah oleh kalian hasad (dengki), karena hasad memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."*_ (Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (Hadist No. 4903)
Yaa Allah jauhkanlah kami dari sifat hasad dan dengki, kerena akan merusak diri kami sendiri.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 23 September 2026/11 Rabiul Akhir 1448 H.
Sunday, 20 September 2026
BOCORNYA PUNDI-PUNDI PAHALA
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.442.02.09-2026
Istilah *"bocornya pundi-pundi pahala"* menggambarkan perbuatan yang secara tidak sadar merusak, menghapus, atau mengurangi bobot pahala dari kebaikan yang telah dikerjakan. Seseorang mungkin tekun beribadah, namun pahalanya *"bocor"* atau terbuang sia-sia karena perilaku tertentu menyertainya.
Berikut adalah *7 (tujuh) hal utama* yang sering menjadi penyebab *bocornya pundi pahala*:
*PERTAMA; Riya' (Pamer) Langsung.*
Melakukan amal kebaikan agar dipuji, dilihat, atau dibicarakan orang lain, bukan murni karena Allah, secara lansung.
Surat Al Baqarah ayat 264:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ
Artinya: _*Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.*_
- Surat An-Nisa ayat 142
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًا
Artinya: _*”Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk shalat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya’ di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali”.*_
*KEDUA: Riya' Digital (Pamer Kebaikan di Media Sosial)*
Membagikan momen ibadah, sedekah, atau do’a di media sosial *dengan niat terselubung* untuk membangun citra diri (personal branding) atau mendapatkan sanjungan. Kata kuncinya adalah *niat*, tidaklah setiap orang baik sebagai ustadz/ustadzah maupun orang biasa; membuat konten atau men share artikel2 dakwah di medsos langsung terkelompok *Riya’ Digital*, jika *diniatkan* untuk menyebarkan ilmu.
Secara agak luas soal Riya’ telah ditulis dalam artikelku sebelum artikel ini No: 1.441.01.09-2026 tanggal 4 September 2026/23 Rabiul Awal 1448 H.
*KETIGA; Sum’ah (ingin didengar)*
Sum’ah dalam Islam adalah melakukan amal kebaikan agar didengar atau diketahui orang lain sehingga mendapat pujian. Sebagai contoh: *Bersedekah* lalu menceritakan kepada orang agar dipuji sebagai orang dermawan. *Membaca Al-Qur’an* dengan suara yang sengaja dibuat bagus supaya orang lain memujinya. Awas tak jarang hal *sum’ah* ini terkena kepada imam2 di masjid ketika mengimami shalat berjamaah, lalu terlintas di pikiran: *“Begini lho membaca Al-Qur’an yang baik dan benar”* dengan tujuan didengar untuk mendapat apresiasi dari jamaah atau orang yang biasa jadi imam di masjid itu, ikut berjamaah. *Menceritakan* banyaknya amal yang telah dilakukan untuk mendapatkan penghargaan atau sanjungan.
*Menceritakan bahwa ia sering shalat tahajud* agar dianggap sebagai orang yang rajin beribadah. Hati2 men share *ajakan* shalat tahajud pada waktu dinihari sepertiga malam di ponsel anda ke group, jangan sampai terbetik di hati memberi tahu orang se group bahwa diri anda sudah bangun dan melaksanakan shalat tahajud, ini juga dapat tergolong “sum’ah” lebih condong ke *Riya’*.
*Perbedaan singkat antara Riya’ dan Sum’ah*: *Riya’ lebih berkaitan dengan ingin dilihat orang*, *sedangkan sum’ah berkaitan dengan ingin didengar/diceritakan kepada orang lain*.
مَنْ يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَاءِ يُرَاءِ اللَّهُ بِهِ
Artinya: "Siapa yang *ingin didengar (sum'ah)*, Allah akan menjadikannya didengar (dibongkar niat buruknya di akhirat), dan siapa yang *ingin dilihat (riya’)*, Allah akan menunjukkan (aibnya)." (HR. Ibnu Majah No. 4206)
*KEEMPAT; Menyebut-nyebut Kebaikan (Al-Mann) & Menyakiti Perasaan.*
Mengingat-ingat kembali atau menyebutkan bantuan yang pernah diberikan kepada orang lain hingga membuat penerimanya merasa terhina atau sakit hati. Model menyebut ini dapat dengan cara langsung; dikemukakan dihadapan orang dibantu misalnya dengan kata2: *“Sombong kamu sekarang ya, kalau bukan saya membiayai sekolahmu dulu kamu tidak sesukses sekarang”*. Dapat pula dengan secara tidak langsung misalnya menyebutnya kepada orang lain: *“Dia itu jika saya mintai tolong sesuatu pasti tidak akan menolak, karena dia tentu tak akan lupa sayalah yang merekomendasikan dia masuk kerja…., lalu sekarang berjabatan tinggi”*. Larangan Al-Mann itu tercantum di Al- Baqarah ayat 264 dikutip di atas (لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ)
*KELIMA; Dengki dan Hasad.*
Harapan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang. Dengki dapat menggerogoti dan menghabiskan kebaikan-kebaikan yang telah terkumpul.
*KEENAM; Ghibah (Membicarakan Aib Orang Lain).*
Menggunjing, memfitnah, atau mencela orang lain. Di akhirat, pahala orang yang berbuat ghibah akan ditransfer kepada orang yang dizaliminya.
*KETUJUH; IBADAH DICAMPUR MAKSIAT.*
Membatalkan Pahala dengan Keburukan Berulang, Mencampuradukkan ibadah dengan perbuatan maksiat secara sengaja tanpa rasa menyesal atau niat untuk bertobat.
Artikel nomor ini dicukupkan sampai disini dulu, karena sudah lebih dari 750 words, supaya artikel ini tak terlalu panjang إِنْ شَاءَ اللَّه *hal ke lima, keenam dan ketujuh* akan diungkap di kesempatan lain.
Yaa Allah jauhkanlah kami semua dari *bocornya pundi2 pahala* kami baik karena sengaja, maupun karena tidak sengaja lantaran kurangnya pengetahuan kami.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 20 September 2026/8 Rabiul Akhir 1448 H.
Friday, 4 September 2026
RIYA’ DIGITAL
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.441.01.09-2026
RIYA’; Melakukan amal kebaikan agar dipuji, dilihat, atau dibicarakan orang lain, bukan murni karena Allah. Terdapat dua model utama Riya’: (1). *Riya' Fulgar* yaitu beribadah semata-mata hanya untuk mencari pujian dan perhatian manusia, tanpa ada niat karena Allah. (2). *Riya' Campuran* ialah beramal karena Allah, pada saat yang bersamaan dicampuri dengan niat ingin dipuji oleh manusia.
Bila mengacu pada Al-Baqarah 264; kedua-dua jenis Riya’ ini tidak akan mendapatkan pahala disisi Allah;
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِكُمۡ بِالۡمَنِّ وَالۡاَذٰىۙ كَالَّذِىۡ يُنۡفِقُ مَالَهٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلۡدًا ؕ لَا يَقۡدِرُوۡنَ عَلٰى شَىۡءٍ مِّمَّا كَسَبُوۡا ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡـكٰفِرِيۡنَ ٢٦٤
_*Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’` (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir*_.
Sejalan dengan berkembangannya teknologi komunikasi, apa yang dikenal dengan *MEDSOS* dengan berbagai turunannya, dari teknis penyampaiannya maka kini berkembang pula model RIYA’ yang dikenal dengan *Riya’ Digital*.
*Riya’ digital* adalah sikap memamerkan atau menunjukkan amal, ibadah, kebaikan, atau kesalehan melalui media digital seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, atau media sosial lainnya dengan tujuan agar mendapat pujian, perhatian, atau pengakuan dari orang lain, bukan semata-mata karena Allah*.
Misalnya;
Seseorang mengunggah foto saat bersedekah dengan tujuan agar orang lain menganggap dirinya dermawan. Lalu menuliskan _*“Alhamdulillah hari ini bisa berbagi 150 paket makanan”*_ dengan tujuan agar orang melihat dirinya dermawan.
Memposting ibadah; dimana didalam hati terselip niat agar orang lain mengetahui diri adalah ahli ibadah; seperti foto diri sedang shalat, foto diri tengah membaca Al-Qur’an, atau berada di tanah suci, ketika berhaji atau berumrah.
Di dinihari memposting di WhatsApp pukul 02.30 dinihari (tampak di catatan waktu di WA) ajakan untuk shalat tahajud, terselip dalam hati memberi tahu orang lain bahwa awak di dini hari ini sudah bangun untuk shalat tahajud. Ajakan sekaligus terselip niat memberitahukan bahwa diri shalat tahajud.
Banyak lagi contoh posting kegiatan lain tentang ibadah dan dakwah, bukan untuk berbagi manfaat, tetapi agar mendapat komentar seperti *_“MasyaAllah, alim sekali.”*_ Intinya mengejar likes dan komentar ketika mengunggah amal, mengunggah ceramah2, mengunggah artikel2, kemudian merasa kecewa atau berhenti melakukan amal tsb. ketika tidak mendapat respons.
Namun, tidak setiap posting tentang kebaikan, dakwah, kegiatan ibadah dan kegiatan keagamaan, otomatis *riya digital*. Misalnya:
Seseorang membagikan kegiatan donasi untuk mengajak orang lain ikut berdonasi, sementara niat utamanya tetap untuk Allah. Yang paling menentukan adalah *niat* di balik tindakan tersebut.
Seorang ustdzd/ustadzah memposting ceramah2nya, memposting tulisan2 dakwahnya, dengan niat agar isi ceramahnya, dapat didengar orang banyak, isi tulisannya dapat di dibaca orang banyak, dengan niat berdakwah karena Allah. Harapannya adalah orang yang mendengarkan ceramahnya, orang yang membaca tulisannya mendapatkan ilmu untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Ini tidak tergolong *Riya Digital*. Sebagai dasar acuan pemikiran mempublish ceramah2 dan tulisan2 dakwah dari ustadz/ustadzah disebut diatas *tidak termasuk Riya Digital* adalah hadits dari Abu Mas'ud Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Artinya: _*“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan (kepada orang lain), maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”*_ -- [Muslim].
Dalam pengalaman sebagian ustadz/ustadzah yang men share tulisan dakwah2 dan ceramah2 di group WA tertentu, ada sebagian anggota di group itu tidak senang, sehingga mengomentar yang kurang bersahabat. Dalam hal seperti ini wajar jika ustadz/ustadzah tersebut keluar saja dari group tersebut, sehingga terhindar terlanjur memposting lagi ke group itu, dengan maksud agar tidak berlarut terlibat dalam perdebatan yang tak bermanfaat yang ujung2nya membuat dosa. Allah melarang kita berdebat yang tidak perlu. Seperti dimuat dalam Al-Qur’an:
هَٰٓأَنتُمْ هَٰٓؤُلَآءِ حَٰجَجْتُمْ فِيمَا لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: _*Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.*_ (Surat Ali ‘Imran Ayat 66)
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Artinya: _*Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.*_ (Surat An-Nahl Ayat 125)
Agar tidak sia2 amal *“bagaikan debu diatas batu licin terkena hujan…….”* seperti disebutkan pada surat Al-Baqarah 264 dikutip diatas. Untuk memelihara amal melalui *Medsos* agar tidak terjebak kedalam *Riya digital* agaknya perlu diperhatikan:
*Pertama; Luruskan niat* Hanya karena Allah semata, sebelum konten di publish. Perhatikan, apakah dalam redaksinya mengandung membanggakan diri. Saat akan memposting ceramah2 atau artikel dakwah2, hendaklah didengar ulang, dibaca berulang-ulang untuk dipertimbangkan dengan teliti apakah ada pihak yang akan tersinggung.
*Kedua; bijak menerima komentar*, dalam hal dapat komentar positip, ucapkan *Alhamdullah* , jangan sampai terbetik dihati perasaan bangga, dalam hati bersyukur dan berdo’a semoga bermanfaat. Dalam hal mendapatkan koreksi atau ekstrimnya cercaan, juga sepanjang dapat diberikan penjelasan, berikanlah penjelasan diikuti dalil yang cukup. Jika komentar bukan seketar koreksi dan kritik tetapi sudah bersifat *tidak suka*, untuk group atau orang tsb. tak perlu dikirimi lagi, menghindari *perdebatan yang tidak perlu*, seperti ayat dikutip diatas.
*Ketiga; hindari membicarakan keburukan pihak lain*, baik secera terselubung apalagi secara terang-terangan.
*Keempat; segera bertaubat*, jika terlanjur, tidak sengaja melakukan kesalahan, atau terselip rasa sombong, rasa bangga diri, merendahkan pihak lain segera beristighfar dan memohon ampun.
Ya Allah tolonglah kami semua dalam beramal memanfaatkan anugerah-Mu melalui tersedianya MEDSOS ini, agar tidak terjebak *Riya Digital*
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 4 September 2026/23 Rabiul Awal 1448 H.
Friday, 28 August 2026
PENYELAMAT & PENCELAKA MANUSIA
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.439.07.08-2026
Rabiul Awal (sebagai bulan Kelahiran Rasulullah), ketika tulisan ini diturunkan, mari kita usahakan untuk selalu mengingat apa saja yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ, merupakan sesuatu yang diperintahkan beliau, demikian juga hal2 yang dihindari oleh beliau karena Allah telah berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Artinya: _*” Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah.”*_ (Al-Hasyr: 7).
Terdapat 3 hal merupakan perintah dari Allah dan Rasul-Nya yang dapat *menyelamatkan manusia*. Dan …. terdapat 3 larangan Allah dan Rasul-Nya yang dapat *mencelakakan manusia*.
*3 Hal yang Menyelamatkan Manusia*
*PERTAMA: Takut dan taqwa kepada Allah* dalam keadaan tersembunyi (sendirian) maupun terang-terangan di hadapan orang banyak. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
_*“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya dalam keadaan tidak terlihat oleh manusia, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”*_ (QS. Al-Mulk: 12)
Ayat ini sangat jelas bahwa salah satu ciri orang beriman adalah tetap takut kepada Allah ketika sendirian, saat tidak ada manusia yang melihat.
*KEDUA; Bersikap sederhana* atau moderat dalam keadaan bagaimanapun.
Dikesempatan artikel singkat ini dikutip satu ayat tentang bersikap sederhana, mestinya ada 3 ayat yaitu QS. Al-A’raf ayat 31, QS. Al-Isra ayat 26–27 dan yang kita kutip sekarang QS. Al-Furqan ayat 67:
وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا ٦٧
_*“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.”*_
Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dalam menggunakan harta, tidak kikir namun tidak boros.
*KETIGA; Berlaku adil* dan berkata benar dalam kondisi ridha (suka) maupun saat marah. Ada beberapa dalil Al-Qur’an yang berkaitan dengan berlaku adil sehingga menyelamatkan kehidupan manusia: Al-Qur’an mendalilkan berlaku adil menyelamatkan manusia dengan mengemukakan di surat Al-Ma’idah, dan di surat An-Nisa:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: _*”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”*_ (QS. Al-Ma’idah ayat 8)
۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَٱللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ ۚ وَإِن تَلْوُۥٓا۟ أَوْ تُعْرِضُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Artinya: _*”Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”*_ (Surat An-Nisa Ayat 135)
*3 Hal yang Mencelakakan (Membinasakan) Manusia.*
*PERTAMA; Kekikiran yang ditaati* atau sifat bakhil dan rakus yang berlebihan terhadap harta, dapat dicermati surat Al-Lail ayat 8 – 10:
وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ
وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ
_*"Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah),"*_
_*"Dan mendustakan (pahala) yang terbaik,"*_
_*"Maka kelak Kami akan memudahkan baginya jalan kesukaran (kesusahan)."*_
*KEDUA; Hawa nafsu yang diikuti* tanpa mengindahkan petunjuk agama.
فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ فَتَرْدٰى ١٦
_*”Janganlah engkau dipalingkan darinya (iman pada hari Kiamat) oleh orang yang tidak beriman padanya dan mengikuti hawa nafsunya sehingga engkau binasa”*_ (Surat Thaha 16)
*KETIGA; Ujub terhadap diri sendiri* atau merasa bangga diri yang berlebihan atas kemampuan dan prestasi diri. Menganggap diri paling pandai paling tau, segala macam paling. Ucapannya kadang *“kalau bukan karena saya ……..”*, *kalau saya tidak turun tangan mungkin sampai sekarang belum selesai*. Hati2 berucap seperti ini, kadang ringan mengucapkannya, sementara orang yang mendengarkan taulah awak sedang berbangga diri, sedang dalam pengaruh *Ujub*, apalagi Allah sangat lebih mengetahui tentang diri awak sudah masuk diperangkap *Ujub*. Sikap seperti ini tidak disukai Allah, termuat dalam Al-Qur’an:
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰىࣖ ٣٢
_*”Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.”*_ (An-Najm 32)
Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah agar selalu diberikan kekuatan untuk selalu konsisten dalam mengikuti jalan yang dapat *menyelamatkan kehidupan* dan menjauhi sikap dan sifat yang dapat *membawa kebinasaan* dunia dan akhirat.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 28 Agustus 2026/15 Rabiul Awal 1448 H.
Sunday, 23 August 2026
MENYIKAPI PIHAK TIDAK BERIMAN
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.438.06.08-2026
Di nomor yang lalu judul *Beriman Konsisten* dikemukakan bahwa: Jika di renungkan akan perilaku manusia di sekitar kita *perihal iman*, maka terdapat 5 (lima) kelompok manusia dalam menyikapi *iman* yaitu: 1. *Manusia Beriman, konsisten* atau istiqamah atas keimanannya., 2. *Manusia tidak Beriman*, menolak segala rukun iman, 3. *Manusia beriman sebagian*, dimana hanya mengimani sebagian rukun iman., 4. Manusia *beriman, tetapi tidak beramal* menurut keimanannya., 5. Manusia *berpura-pura beriman*.
Di kesempatan ini, sejenak ditinjau perilaku manusia *Tidak Beriman*. Beriman dan *Tidak Beriman* adalah dua kutub yang berlawanan, hal itu memang sudah umum adanya di dunia ini, sebagaimana adanya gelap dan terang, siang dan malam.
Orang tidak beriman konotasinya tidak percaya ada Tuhan sebagai pencipta alam semesta ini, sering diistilahkan *ateisme*. Seorang *ateis* berpendapat alam semesta terjelma dengan sendirinya sebagai hasil dari proses alami, fisika, dan evolusi sains—seperti *Teori Dentuman Besar (Big Bang)*—tanpa campur tangan Pencipta atau Tuhan. Bagi mereka, alam berjalan berdasarkan hukum alam yang objektif dan rasional, bukan karena rancangan ilahi.
وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ ٢٤
_*Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Padahal, mereka tidak mempunyai ilmu (sama sekali) tentang itu. Mereka hanyalah menduga-duga.*_ (Al-Jatsiyah ayat 24)
Berangkat dari pengertian surat Al-Jatsiyah 24 di atas, dapat dipahami bahwa keberadaan *ateisme* di dunia ini suatu keniscayaan, merupakan sunatullah, mesti akan adanya. Apalagi jika dikaitkan dengan Surat Yunus ayat 99:
وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
_*"Dan seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?"*_
Dalam konteks kedua ayat diatas menyikapi kelompok *ateisme* ini Agama Islam mengajarkan bahwa:
*Pertama: Tidak Memaksa*
Islam tidak pernah memaksakan keimanan kepada setiap individu yang menolak beriman, prinsip dasar ini termaktub dalam Al-Qur’an:
لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
_*”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”*_ (Al-Baqarah-ayat-256)
*Kedua: Pendekatan Logika*
Saat berhadapan dengan pandangan yang menolak beriman, bawalah logika bahwa adanya diri ini, adanya alam ini mestinya ada Pencipta, bagaimanapun tidak mungkin terjadi dengan sendirinya termasuk teori “*Teori Dentuman Besar (Big Bang)*. Tak Mungkin dentuman besar itu berdentum dengan sendirinya. Ketika berdebat dengan pihak orang tidak beriman, tak akan effective jika membawakan dalil ayat2 Al-qur’an. Pedoman dasar berdebat dengan orang tidak beriman:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
_*”Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”*_. (An-Nahl-ayat-125).
*KETIGA: Menjaga Akhlak*
Interaksi sehari-hari tetap berjalan dalam koridor kemanusiaan yang adil selama mereka tidak melakukan agresi fisik atau memerangi umat Islam:
• Kedepankan Kasih Sayang Kemanusian, menghargai manusia sebagai mahluk Allah, pulangkan bahwa siapapun diri kita sebagai orang beriman, hanya berkewajiban menyampaikan, adapun *hidayah* adalah kewenangan Allah.
• Tidak mengabaikan ketegasan dalam prinsip akidah, prisip tauhid, meskipun tetap menjaga kesantunan dalam berbicara, namun tetap tidak berkompromi tentang ke Esaan Allah.
Dengan menyimak apa yang dibacarakan ini, semoga semakin tenang kita semua dalam menghadapi kehidupan ini, sambil berdo’a semoga Allah memeliharakan iman kita semua serta semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada siapun yang masih menolak beriman.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 23 Agustus 2026/10 Rabiul Awal 1448 H.
Monday, 17 August 2026
IMAN KONSISTEN
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.437.05.08-2026
Jika di renungkan akan perilaku manusia di sekitar kita *perihal iman*, maka terdapat 5 (lima) kelompok manusia dalam menyikapi *iman* yaitu: 1. *Manusia Beriman, konsisten* atau istiqamah atas keimanannya., 2. *Manusia tidak Beriman*, menolak segala rukun imam., 3. *Manusia beriman sebagain*, dimana hanya mengimani sebagian rukun iman., 4. Manusia *beriman, tetapi tidak beramal* menurut keimanannya., 5. Manusia *berpura-pura beriman*.
Terbatasmya ruang tulis, dalam artikikel ini tidak dibicarakan semua dari 5 (lima) *sikap manusia terhadap “imam”* tersebut diatas, إِنْ شَاءَ اللَّهُ akan ditulis diartikel yang akan datang. Sedang diartikel ini hanya dibicarakan *Sikap manusia beriman konsisten*.
Tanda2 Utama seorang yang terkelompok Beriman dengan Konsisten adalah:
*PETAMA:* Konsisten melaksanakan shalat disertai memelihara shalat dengan khusuk dalam pengertian tidak meninggalkan shalat dalam keadaan apapun. Seperti jelas terdalilkan dari surat Al-Mu’minun ayat 2 dan ayat 9 serta surat Al-Anfal ayat 3:
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
_*(yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya,*- (Al-Mu’minun ayat 2),
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
_ *serta orang-orang yang memelihara salat mereka.*_ ((Al-Mu’minun ayat 9)
الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ ٣
_*(yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.*_ (surat Al-Anfal ayat 3)
*KEDUA:* Menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia, takut berbuat dosa sekalipun hanya dengan lisan,. Hal2 tersebut dapat disarikan antara lain dari surat Al-Mu’minum ayat 3 dan Surat At-Taubah ayat 119.
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
_*dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,*_ (Al-Mu’minun ayat 3)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
_*"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!"*_ (At-Taubah ayat 119)
*KETIGA*: Menunaikan zakat, selalu berinfak
وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ
_*”dan orang yang menunaikan zakat,”*_ (Al-Mu’minun ayat 4).
Juga surat Ali Imran 134,
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ
_*”(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, ……………….”*_
*KEEMPAT*: Sanggup kendalikan emosi dan pemaaf, lanjutan surat Ali-Imran 134,
“…………. وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ……………………….”
-*”dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. …………..”*_
*KELIMA*: Memenuhi janji,
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
_*”dan orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya,”*_ (Al-Mu’minun ayat 8)
*KEENAM: Menjauhi dosa Zina*
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ٣٢
_*”Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk”*_. (Al-Isra ayat 32)
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
_*”dan orang yang memelihara alat kelaminnya,*”- (Al-Mu’minun ayat 5)
*KETUJUH*: Selalu merasa diawasi Allah, tetap taat ketika sendirian, sehingga berhati-hati dalam bertindak/berbuat, bahkan berpikir sekalipun, karena keimanannya yakin bahwa, Allah mengetahui apa yang dilahirkan dan apa yang tersembunyi didalam hati sekalipun. Selalu terpatri pada diri akan surat Al-Mulk Ayat 13, surat At-Taghabun ayat 4 dan surat An-Nahl ayat 19.
وَأَسِرُّوا۟ قَوْلَكُمْ أَوِ ٱجْهَرُوا۟ بِهِۦٓ ۖ إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ
_*”Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”*_ (Surat Al-Mulk Ayat 13)
يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْر
_*"Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati”.*_ (At-Taghabun ayat 4)
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَ
_*”Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan.”*_ (An-Nahl ayat 19).
*KEDELAPAN*: Tidak berubah karena keadaan; ketika mendapat nikmat bersyukur, ketika mendapat ujian bersabar. Surat Al-Hadid ayat 32 dijadikan pedoman;
لِّـكَيۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰى مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ اٰتٰٮكُمۡؕ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرِۙ
_*”Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”*_
*KESEMBILAN*: Hati selalu dekat kepada Allah, salah satu wujudnya apabila mendengar dibacakan ayat2 Al-Qur’an bertambah imannya.
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
_*”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”*_ (Surat Al-Anfal Ayat 2)
*KESEPULUH*: Tidak merasa *“paling”*, terus menerus memperbaiki diri. Orang beriman selalu mengingat Surat An-Najm ayat 32 berisi tentang sifat orang bertaqwa yang menjauhi dosa besar, luasnya ampunan Allah SWT bagi dosa-dosa kecil (al-lamam), serta larangan agar manusia tidak menganggap diri *paling* suci atau membanggakan diri sendiri karena Allah-lah yang paling tahu siapa yang paling bertaqwa.
ٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ
_*” (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.”*_ (Surat-An-Najm ayat 32)
Semoga Allah membimbing kita semua sehingga menjadi hamba2 Allah yang konsisten dalam beriman.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 17 Agustus 2026/4 Rabiul Awal 1448 H.
Wednesday, 12 August 2026
PIKUN
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.436.04.08-2026
HP nenek memberi isyarat bunyi bahwa ada WA masuk, si nenekpun sibuk mencari kacamatanya, mulai dari ruang tengah, meja makan, ruang dapur, meja di kamar tidur, kacamata juga tidak ditemukan. Barulah ketika lewat sebuah lemari yang ada cerminnya, tak sengaja melirik, rupanya kacamata nempel diatas dahinya. Ini konon merupakan salah satu tanda pikun.
Pikun atau demensia sering terjadi (tidak selalu) kepada lansia. WHO mencatat saat ini ada lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia menderita demensia, dan di setiap tahunnya ada hampir 10 juta kasus baru. Demensia disebabkan oleh berbagai penyakit dan cedera yang mempengaruhi otak. Demensia biasa disebabkan oleh faktor umur meskipun tidak semua lansia mengalaminya.
Penyebab meningkatnya risiko perkembangan demensia di antaranya adalah usia mencapai 65tahun atau lebih, hipertensi, diabetes, obesitas, kaum perokok, peminum alkohol, fisik yang kurang aktif, isolasi sosial hingga depresi. Tanda2 Demensia sudah menghampiri diri antara lain:
*Penurunan kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari*. Misalnya: *Lupa cara mandi* atau perlu diingatkan dan dibantu. *Berpakaian*: salah memilih pakaian atau kesulitan memakai kancing/resleting. *Makan*: lupa sudah makan, kesulitan menggunakan alat makan, atau tidak mampu menyiapkan makanan. *Mengelola obat*: lupa waktu minum obat atau salah dosis. *Mengelola uang*: kesulitan menghitung uang, membayar tagihan, atau mudah tertipu. *Memasak*: lupa langkah-langkah memasak atau meninggalkan kompor menyala. *Berbelanja*: lupa barang yang perlu dibeli atau tidak mampu melakukan transaksi dengan benar. *Menggunakan alat sehari-hari*: kesulitan menggunakan HP, mesin cuci, atau peralatan rumah tangga yang sebelumnya sudah dikuasai. *Menjaga kebersihan diri*: lupa menyikat gigi, mengganti pakaian, atau merawat diri. Intinya, pada demensia terjadi penurunan kemampuan melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan secara mandiri, sehingga seseorang mulai membutuhkan pengingat, pengawasan, atau bantuan orang lain.
*Kesulitan dalam menyelesaikan masalah*, Contoh: *Kesulitan menghitung uang* atau menerima kembalian saat berbelanja. *Tidak tahu langkah-langkah yang harus dilakukan* ketika memasak makanan sederhana, memberikan garam lebih dari sekali, atau sama sekali tidak membubuhkan garam. *Bingung ketika harus menentukan solusi* untuk masalah sederhana, misalnya saat listrik mati, sulit mematikan kompor. *Tidak mampu mengambil keputusan sederhana,* seperti memilih pakaian yang sesuai untuk bepergian.
*Penurunan keterampilan komunikasi*: Sulit menemukan kata yang tepat saat berbicara. Sering mengulang pertanyaan atau cerita yang sama. Kesulitan memahami pembicaraan orang lain. Jawaban menjadi tidak sesuai dengan pertanyaan. Kosakata semakin sederhana atau terbatas. Sulit mengikuti percakapan yang panjang, (jadi teringat sebuah film serial ada dialog “*…..kepanjangan Kuum*”). Sering lupa nama orang, benda, atau tempat. Kesulitan menyampaikan kebutuhan, seperti mengatakan ingin makan atau minum.
*Penggunaan bahasa*: Sulit menemukan kata (word-finding difficulty): ingin mengatakan “sendok”, tetapi mengatakan “itu… benda untuk makan.”. Sering menggunakan kata yang umum: “barang itu”, “benda itu”, karena lupa nama benda. Salah menyebut nama benda: menyebut “televisi” sebagai “radio”. Kesulitan memahami percakapan: terutama kalimat yang panjang atau kompleks. Pembicaraan menjadi tidak terarah: sulit mengikuti topik dan sering berpindah-pindah pembicaraan. Kesulitan membaca atau menulis: misalnya sulit memahami tulisan sederhana atau menulis kalimat yang bermakna.
*Kesulitan dalam mengendalikan emosi*. Mudah marah atau tersinggung meskipun karena hal kecil. Seorang nenek nginap dirumah anaknya, dalam perbincangan si mantu melapor ke suaminya “sekarang beras naik lagi”, malam itu juga nenek ngemasi pakainya, besok pagi lantas minta antar pulang kerumahnya sendiri, padahal tadinya program tiga malam, dia merasa mantunya menyinggungnya, kerena keberadaannya banyak ngabiskan beras. Mudah cemas, takut, atau gelisah. Bereaksi berlebihan terhadap situasi sederhana. Sulit menenangkan diri setelah merasa marah atau kecewa. Perubahan suasana hati terjadi dengan cepat, misalnya dari tenang menjadi marah atau sedih.
*Gampang lupa*. Sering lupa kejadian yang baru saja terjadi. Lupa menaruh barang lalu tidak ingat sama sekali. Lupa nama orang yang sebenarnya sudah dikenal. Lupa janji atau kegiatan penting. Kesulitan mengingat cara melakukan kegiatan yang biasanya dikuasai. Lupa jalan pulang atau tersesat di tempat yang familiar.
Dalam pandangan Islam, demensia merupakan salah satu gejala lansia yang disebut dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 70:
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّىٰكُمْ ۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ ٱلْعُمُرِ لِكَىْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
Artinya: _*Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa*_.
Lantas, sebagai upaya untuk menghindari pikun bagi kaum muslimin; rutinkan membaca Al-Qur’an, karena kebiasaan membaca Al-Qur'an إِنْ شَاءَ اللَّه membantu menjaga ketajaman daya ingat dan menurunkan risiko pikun di usia tua. Pandangan ini didukung oleh pendapat para ulama salaf seperti Imam Al-Qurtubi dan Ibnu Abbas. Bahwa di surat At-Tin Ayat 5:
ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ
Artinya: _*Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya*_
Mungkin inilah salah satu keadaan *serendah-rendahnya*, yang dipersamakan dengan keadaan seorang yang menjadi pikun itu, lantas sebagai upayanya adalah pada surat At-Tin Ayat 6:
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
Artinya: _*Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.*_
Salah satu wujud beramal saleh itu adalah membaca Al-Qur’an, dengan selalu membaca Al-Qur’an, maka dapat dikecualikan apa yang disebutkan oleh ayat 5 surat At-Tin , والله أعلمُ بالـصـواب
Upaya lainnya untuk menghindari pikun senantiasalah berdo’a:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ
Artinya: _*“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang paling buruk (pikun).” (HR Ibnu Majah)
Atau dalam redaksi riwayat Al-Bukhari dalam bab “Berlindung dari Usia Tua yang Buruk” sebagai berikut:
أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَالْكَسَلِ وَأَرْذَلِ الْعُمُرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
Artinya: _*“Aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, kemalasan, usia yang paling buruk, siksa kubur, fitnah Dajjal, dan fitnah kehidupan serta kematian.”*_ (HR Al-Bukhari)
Doa ini dibaca oleh Nabi Muhammad ﷺ selepas shalat lima waktu sebagaimana keterangan yang terdapat dalam salah satu riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Menurut Ibnu Ruslan, doa ini dianjurkan dibaca supaya kita tidak ditakdirkan mengalami demensia di masa tua.
Semoga Allah menghindarkan kita semua dari usia yang paling buruk sampai pikun.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 12 Agustus 2026/29 Safar 1448 H.
Monday, 10 August 2026
FITNAH HARTA
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.435.03.08-2026
Tak sedikit, kakak adik saudara kandung yang jadinya berselisih hingga *“patah arang”* gara2 sengketa warisan. Dalam pada itu banyak juga kejadian nenek-nenek yang suaminya meninggal, harta almarhum dibagikan anak2 mereka, rumah yang dibangunnya dengan susah payah bersama suaminya harus dijual untuk dibagi. Akhirnya si nenek disisa hidupnya tidak punya lagi rumah tempat bernaung. Seperti pernah kutulis kisah dibawah judul *“NENEK PENGEMBARA”* artikel No: 1.432.07.07-2026.
Sejatinya demikianlah adanya sifat bawaan manusia, terhadap harta dunia tak jarang orang menjadi *”gelap mata”*, bukan saja soal warisan tetapi juga perihal berlomba-lomba mengumpulkan harta semisal dengan korupsi, penipuan, penggelapan. Karena manusia punya *naluri untuk mencari rasa aman, nyaman, dan pengakuan*. Harta sering dianggap sebagai jalan untuk mendapatkan semua itu.
Manusia juga *Berkeinginan untuk memiliki lebih* setelah kebutuhan terpenuhi, keinginan manusia sering berkembang. Yang tadinya “cukup” bisa berubah menjadi “ingin lebih”. *Kepuasan tak pernah puas*. Kata puas bisa terus bergeser, tadinya berjalan kaki, kepengen punya sepeda ontel, setelah memiliki sepeda ontel kepingin sepeda motor, lanjutnya mobil, lanjut ingin mobil yang mewah dan seterusnya.
Pemicu manusia maruk harta berikutnya:
*Perbandingan dengan orang lain* melihat orang lain memiliki rumah, kendaraan, atau gaya hidup lebih tinggi dapat membuat seseorang merasa harus mengejar hal yang sama.
*Kesenangan dan kebebasan*; harta memang bisa memberikan pengalaman menyenangkan dan pilihan hidup yang lebih luas, bisa rekreasi, travelling kemana saja bila harta banyak.
*Pengaruh lingkungan*; sejak kecil kita sering diajarkan bahwa keberhasilan identik dengan pekerjaan bagus, penghasilan tinggi, dan banyak aset.
Manusia sering mengejar harta bukan karena harta itu sendiri, tetapi karena perasaan yang dibayangkan akan diperoleh setelah memiliki harta yang berlimpah yaitu: *rasa aman, dihormati, bahagia, bebas, atau tidak diremehkan*.
Allah mengingatkan tentang soal harta, bagi orang yang beriman:
وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya: _*Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.*_ (Al-Anfal ayat 28)
وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا
Artinya: _*Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.*_ (Al-Fajr ayat 20)
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
_*"Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah (ujian) bagi umatku adalah harta."+_ (HR. Tirmidzi, no. 2336; dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)
Orang beriman menyikapi harta dengan *bersyukur, menggunakannya untuk kebaikan, tidak berlebihan*. Harta dipandang sebagai *amanah dari Allah, bukan tujuan hidup*. Mencari harta dengan cara yang halal. Bersyukur atas rezeki yang diperoleh. Tidak kikir dan tidak boros. Menunaikan zakat dan gemar bersedekah. Menggunakan harta untuk memenuhi kebutuhan dan membantu sesama. *Tidak menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan atau kebahagiaan*.
Bagi Orang beriman; *Perihal mencari harta dunia*, patut menjadi renungan ayat berikut ini:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
_*”Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”*_ (Al-Qashash 77)
Semoga Allah memurahkan rezeki kita, sehingga memiliki harta yang berkah dan bermanfaat untuk kepentingan akhirat dan dunia kita.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 10 Agustus 2026/27 Safar 1448 H.
Friday, 24 July 2026
MENYEBARKAN SALAM
Disuguhkan: M. Syarif Arbi
No: 1.431.06.07-2026
Sudah memasyarakat; mengucapkan salam ketika bertemu, ketika bertamu, ketika akan membuka suatu pembicaraan. Ucapan salam secara umum adalah “selamat pagi, selamat siang, selamat sore dan selamat malam”. Pengucapan salam dalam agama Islam dengan tiga model ucapan:
*Pertama*: *“ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ” (Assalamu'alaikum), sebagai ucapan singkat. Artinya “Semoga keselamatan menyertaimu”.
*Kedua*: *Ucapan sedangan “ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ”* (Assalamualaikum warahmatullah). Artinya: “Semoga keselamatan dan rahmat Allah menyertaimu”
*Ketiga*: Ucapan yang lengkap “ ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ” (Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh). Artinya: “Semoga keselamatan, dan rahmat Allah serta keberkahan Allah tercurah kepadamu”.
Begitu juga mereka yang menjawab salam juga ada tiga macam:
*Pertama*: Wa'alaikumsalam ( وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ ) artinya "Dan semoga keselamatan juga untukmu".
*Kedua*: Wa'alaikumsalam warahmatullah (وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ) “Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah juga untukmu”
*Ketiga*: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh ( وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه ) “Dan semoga keselamatan, rahmat Allah dan Keberkahan Allah tercurah untukmu”
Ganjaran kebaikan (pahala) menyebarkan salam bersumber dari riwayat Imam Bukhari (dalam Al-Adabul Mufrad) dan Imam At-Tirmidzi dari sahabat Imran bin Hushain. Setiap tingkat ganjaran diberikan berdasarkan kelengkapan lafaz salam yang diucapkan:
• 10 Kebaikan: Diperoleh saat mengucapkan "Assalamu'alaikum".
• 20 Kebaikan: Diperoleh saat mengucapkan "Assalamu'alaikum wa rahmatullah".
• 30 Kebaikan: Diperoleh saat mengucapkan "Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh"
Islam sangat memerintahkan untuk menyebarkan salam. Salam bukan sekadar sapaan biasa, tetapi juga doa keselamatan dan bentuk kasih sayang. Menyebarkan salam dapat mempererat persaudaraan dan menjadi kunci masuk surga. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail Bab Keutamaan Qiyamul Lail; mengutip hadis Hadits #1166:
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلاَمٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( أيُّهَا النَّاسُ : أَفْشُوا السَّلامَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلاَمٍ )) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) .
Dari ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _*“Wahai manusia, *tebarkanlah salam*, bagikanlah makanan, dan shalatlah pada waktu malam ketika orang-orang sedang tidur, niscaya kalian pasti masuk surga dengan selamat.”*_ (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Tirmidzi, no. 2485; Ibnu Majah, no. 1334, 3251; Ahmad, 5:451; Ad-Darimi, 1:340-341, 2:275; Al-Hakim, 3:13, dari jalur ‘Auf bin Abi Jamilah, dari Zararah bin Abi Awfa, dari ‘Abdullah bin Salam. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].
Menyebarkan salam jadi tanda bahwa kedamaian itu terwujud sehingga satu sama lain mudah menyebarkan salam keselamatan. Memberi makanan ditambah dengan menyebarkan salam menunjukkan hilangnya rasa takut dan kefakiran, akhirnya hati sesama muslim akan semakin dekat, hubungan silaturahim akan makin kuat terjalin. Kedamaian hidup yang lapang, dan rasa tenang itulah yang membuat seseorang mudah menjalankan perintah Allah. Buah dari amal saleh dan kalimat yang baik memudahkan seseorang masuk surga.
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
Artinya: _*“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”*_ (HR. Muslim).
Allah memerintahkan umat Islam untuk memberi salam dan menjawabnya dengan cara yang baik. Perintah ini tercantum dalam Surah An-Nisa ayat 86:
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا
Artinya: _*Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu*_.
Ini juga mengandung makna, kalau seseorang mengucapkan salam yang pendek kepada anda, jawablah dengan yang lebih panjang. Contoh salam pendek dan salam panjang tersaji di atas.
Namun ada salam yang tak perlu dijawab, yaitu salam orang usai shalat. Jama’ah dikiri kanan anda mengucapkan salam, anda tidak usah menjawabnya, karena anda juga kalau ikut berjamaah, juga mengucapkan salam.
Menyebarkan salam bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga cara sederhana untuk menunjukkan penghargaan, membangun hubungan yang baik, dan menciptakan suasana yang lebih positif.
Semoga keselamatan, kesejahteraan, keberkahan dan rahmat Allah senantiasa meliputi seluruh pembaca yang berbahagia.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 8 Safar 1448 H./21 Juli 2026.
NENEK PENGEMBARA
Dikarang: M. Syarif Arbi
No: 1.432.07.07-2026
Beruntung ibu beranak tujuh ini, ketika ditinggal suaminya semua anak2nya sudah beranjak dewasa, empat anak sudah berumah tangga dan menghadirkan pula cucu2 yang mulai sekolah. Dua anak lagi sudah selesai kuliah, namun sedang merintis cari kerja, atau usaha. Sedangkan seorang lagi sebentar lagi wisuda jenjang S1.
Almarhum ayahnya sebagai seorang pebisnis kecil2an pedagang sembako dan pernak-pernik kebutuhan sehari-hari, dimaklumi tidak meninggalkan harta yang banyak. Peninggalan almarhum berupa sebuah rumah munggil hunian mereka terdapat tiga kamar tidur, sebuah mobil pick up (untuk angkutan barang dari grosiran). Semasa semua anak masih ngumpul dirumah; empat anak perempuan kebagian 1 kamar tidur adapun 3 anak lelaki kebagian 1 kamar tidur, 1 kamar tidur lagi untuk kamar ibu bersama ayahnya semasa masih hidup.
Kehidupan si ibu ini sepeninggal sang suami, untuk berjuang menyelesaikan kuliah anaknya yang seorang lagi (si bontot), meneruskan usaha ayahnya anak2 berdagang sembako, di komples pasar tak jauh dari kediaman mereka.
Persoalan muncul, setelah semua anak selesai kuliah dan masing2 sudah dan akan berkeluarga, anak2 *berlepas dari kartu keluarga lama*, membuat KK sendiri2, berkenaan dengan merekapun pindah kediaman di kota2 sekitar kota asal.
Ada pula anak yang *memotori* agar harta warisan mendiang ayah, berupa sebuah rumah itu dibagi waris segera, dengan jalan dijual saja . Hasilnya akan dibagikan 1/8 untuk Ibunda, 7/8 nya akan dibagikan kepada 7 orang anak. Umpama katakanlah itu rumah terjual bersih 400 juta, si Ibu kebagian 50 Juta. Anak2 kebagian 350 juta. Setelah dibagi untuk 3 orang anak laki2 masing kebagian 70 juta total = 210 juta. Sedangan 4 anak perempuan masing 35 juta total = 140 juta. Berpindahlah hak rumah warisan mendiang ayah ke orang lain.
Warisan memang harus segera dibagi apabila ayah meninggal, walau ibu masih hidup, tetapi tidak ditemukan *dalil nash yang tegas* menetapkan batas waktu tertentu, misalnya; harus dibagikan dalam 3 hari, 7 hari, atau 40 hari setelah kematian sang ayah. Namun, para ulama umumnya menganjurkan agar pembagian *tidak ditunda tanpa alasan yang dibenarkan*, karena dengan menunda pembagian waris maka:
• Hak para ahli waris menjadi tertahan;
• Penundaan dapat memicu perselisihan;
• Setiap ahli waris berhak segera mengetahui dan menerima bagiannya setelah seluruh kewajiban almarhum diselesaikan.
Salah satu alasan mengapa begitu si ayah meninggal waris harus di bagi, terutama *jika* si ibu yang yang ditinggalkan masih muda, *cantik pula*, misalnya si ibu menikah lagi, si ibu akan ikutan dengan suami barunya membawa hasil warisan. Dalam kasus si ibu di kisah ini,… 50 juta yang merupakan bagiannya. Selanjutnya masing2 anak sudah mendapat bagian masing2.
Sering jadi pertanyaan; *”Bolehkah kalau semua anak secara bersama memberikan atau merelakan hak warisnya dikuasai ibu mereka sepanjang ibunya masih hidup”?*. *”Tentu saja boleh”*, selama para pewaris, dalam kasus diatas, seluruh ke 7 anak si ibu menyetujui atas dasar kerelaan murni tanpa paksaan.
Namun, pastikan keputusan ini didasarkan pada kesadaran penuh agar tidak memicu sengketa di kemudian hari. Sebaiknya, hak waris tetap dihitung dan dicatatkan secara resmi terlebih dahulu sebelum diserahkan, untuk menghindari kezaliman atau kesalahpahaman antar anggota keluarga.
Dalam kasus yang diangkat dalam kisah ini, si ibu tidak muda lagi dapat dibayangkan sudah beranak tujuh, si bontot saja sudah hampir wisuda S1, ketika suaminya meninggal. Kecil kemungkinan akan kawin lagi.
Karena sebagian besar anak2nya menghendaki rumah peninggalan almarhum dijual dan sebagian anak terutama yang sudah berumah tangga menuntut pembagian waris. Maka si Nenek tidak punya pilihan lain. sisa hidup dilanjutkan dengan mengontrak rumah, bermodalkan warisan 50 juta.
Makin bertambah usia, sudah tak mampu lagi menjaga toko, tambahan kondisi tubuh sudah banyak dihuni penyakit. Belakangan karena sering sakit, kios lebih banyak tutup dari pada bukanya, akibatnya tak mampu lagi bayar sewa kios, ujung2nya stoplah kegiatan berdagang. Uang warisan mulai habis dan sudah tak mampu lagi mengontrak rumah. Nasib si nenek akhirnya mengembara dari rumah anak yang satu ke rumah anak yang lain, kadang ikutan dirumah cucu. Ternyata dalam kehidupan didunia ini tak semua anak berbhati, sering terjadi kalaulah anak cukup baik, kadang mantu pula yang tak suka akan ke hadiran si nenek.
Sebagai ikhtiar bagi kita2 yang sudah masuk ke usia senja ini, adalah senantiasalah berdo’a untuk memohon perlindungan Allah dari *keburukan usia tua* sampai di kondisi sudah *tak berdaya*, tegasnya kalau boleh *mohon dipanggil Allah ndak usah tua2 amat*. Kalau boleh sudah berpulang kerahmatullah sebelum habis harta benda, lantaran tak jarang anak2 kurang memikirkan kita.
Guna menghindarkan diri dari *usia yang buruk* tadi, boleh jadi sebagai ikhtiar, mari diamalkan do’a agar terhindar dari keburukan usia tua (pikun atau renta) bersumber dari Shahih Al-Bukhari dan diriwayatkan dari sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash dari Nabi Muhammad ﷺ berikut adalah bacaan doanya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ
_*"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang paling buruk (pikun/lemah), dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia serta azab kubur."*_
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 10 Safar 1448 H./24 Juli 2026.
Friday, 17 July 2026
PULANGLAH BILA DISURUH PULANG
Disajikan: M. Syarif Arbi
No: 1.429.04.07-2026
Salah satu keistewaan / kecanggihan berkat kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah; artikel2 yang di publish di medsos, dibaca banyak orang tak terbatas wilayah dan negara. Salah seorang pembaca tulisanku di kota lain ketika membaca artikelku perihal *adab bertamu*, dianya menanyakan *“bolehkan menolak tamu”*.
Untuk menjawab pembaca tersebut kukutipkan surat An-Nur ayat 28
وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرْجِعُوا۟ فَٱرْجِعُوا۟ ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ. …………………….”
…………. _*“Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja) lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”*_
Masa kini, bila seseorang ingin berkunjung termasuk ke kediaman saudara kandungnya, tidaklah ujuk2 datang, biasa didahului dengan memberitahukan melalui WA atau telepon……. Tak selamanya saudara yang akan dikunjungi itu bersedia dikunjungi.
Bagi muslim sejati tidak patut tersinggung, tidak pantas berkecil hati bilamana permintaannya berkunjung kekediaman seseorang ditolak. Jangankan penolakan itu melalui dialog WA atau telepon, dimana kita belum beranjak dari rumah. Kalaupun penolakan itu dilakukan pemilik rumah ketika sang tamu sudah memberi salam di depan pintu, menurut perintah Allah di surat An-Nur dikutip diatas, *wajib pulang*. Orang muslim tidak memandang penolakan tersebut sebagai tidak menghargai, atau tidak sopan, karena apa yang menurut kita manusia *baik*, belum tentu baik menurut Allah. Apa yang menurut kita *sopan*, belum tentu sopan dalam pandangan Allah. Apa yang menurut manusia *benar*, belum tentu benar dalam ilmu Allah. Orang muslim yang taat berpedoman bahwa kebenaran mutlak milik Allah. seperti tersurat di Al-Baqarah ayat 147:
ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ
Artinya: _*Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.*_
Jadi jangan ragu bila bertamu ditolak, tidak perlu kecewa, walaupun sudah sampai depan pintu rumah yang dikunjungi, bila disuruh pulang, maka pulanglah. Niscaya anda berpahala mengamalkan salah satu perintah Allah.
Hikmah ketika seorang tamu memilih pulang karena ditolak oleh tuan rumah, dapat dipahami sekurangnya dari 5 (lima) sudut pandang positip, baik dari sudut pandang agama maupun kehidupan sehari-hari:
*PERTAMA*: Menjaga kehormatan diri dan tuan rumah. Jika tuan rumah belum bisa menerima tamu, pulang dengan lapang dada menunjukkan sikap menghormati privasi dan kondisi mereka. Boleh jadi yang bersangkutan sedang mempunyai problem keluarga, yang tak baik diketahui pihak lain.
*KEDUA*: Menghindari prasangka buruk. Penolakan belum tentu karena tidak suka. Bisa jadi tuan rumah sedang memiliki urusan, sakit, atau keadaan lain yang membuatnya tidak dapat menerima tamu. Atau akan pergi meninggalkan rumah untuk sesuatu urasan penting.
*KETIGA*: Melatih kesabaran dan keikhlasan. Tidak semua harapan berjalan sesuai keinginan. Menerima keadaan dengan sabar merupakan latihan pengendalian diri. Jangan cepat2 berkesimpulan yang tidak baik, lalu dalam pikiran mereka-reka yang tak pantas, atau mungkin bergumam, mengerutu, ujung2nya menyesal setelah mengatahui masalah yang sebenarnya.
*KEEMPAT*: Menghormati hak orang lain. Setiap orang berhak menentukan kapan mereka siap menerima tamu. Menghormati keputusan tersebut adalah bagian dari etika bermasyarakat. Demikian juga bila kita mengundang orang, bila yang diundang tidak hadir, jangan cepat2 berkesimpulan, orang tak hadir tersebut tidak menghargai. Perlu dicari sebabnya; apakah undangan tidak sampai, apakah si terundang memaknai dari redaksi undangan bahwa dirinya bukan termasuk yang diundang.
*KELIMA*: Memelihara hubungan hubungan persahabatan/kekerabatan dalam jangka panjang. Tidak memaksa masuk atau merasa tersinggung dapat menjaga hubungan tetap baik sehingga kesempatan berkunjung di lain waktu tetap terbuka. Bilamana sampai tercetus kata2 yang tidak enak disampaikan kepada tuan rumah (misalnya melalui tulisan di WA) atas penolakan itu, hubungan persahabatan/kekerabatan jangka panjang akan terganggu. Ingat….! banyak ayat2 dalam Al-Qur’an yang memerintahkan memelihara hubungan silaturahim.
Pembaca, mari kita amalkan petunjuk agama, kendati mungkin terasa tidak nyaman dihati. Ketahuilah kebenaran mutlak milik Allah. Yaa Allah….. jadikan kami semua, seluruh pembaca…. menjadi hamba2-Allah yang mentaati seluruh aturan2 dan ketentuan2-MU.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 4 Safar 1448 H./17 Juli 2026.
Subscribe to:
Posts (Atom)