Wednesday, 7 October 2026

BBM tercampur AIR

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.445.01.10-2026 Melanjutkan artikel *7 (tujuh) lobang kebocoran* pahala amal kebaikan setiap manusia, dimana 6 (enam) telah dikemukakan pada artikel2 sebelumnya. Di kesempatan ini membicarakan pembocor amal yang ke tujuh yaitu *“Mencampur amal baik dengan amal buruk”* Menyoal perihal bocornya amal karena *Mencampur amal baik dengan amal buruk*, dimungkinkan terjadi 2 (dua) keadaan: *Yang pertama;* amal baik akan bocor habis, hilang tak bersisa. *Yang kedua;* pahala amal baik, tetap tersimpan, tetap bertahan, tidak habis semua, walau disisi lain manusia melakukan perbuatan buruk. Bagaimana hal tsb dapat terjadi?, semoga tulisan singkat ini dapat serba sedikit menyingkapnya. Aamiin. *Kemungkinan pertama; amal baik bocor tercampur amal buruk*. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى melarang keras hamba-Nya mencampur-adukkan perkara yang benar (ketaatan/kebaikan) dengan yang salah (maksiat/keburukan): وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ Artinya: _*Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.*_(Al-Baqarah ayat 42). Kendaraan motor bila diisi dengan BBM bercampur air, sudah dapat dipastikan mesinnya akan mogok. Segelas air tercampur sesendok saja BBM, jelas tidak layak lagi untuk diminum. Perumpamaan ini menegaskan bahwa dua cairan *yang satu untuk diminum* dan yang satunya *bukan cairan untuk diminum*, jika dicampurkan tidak lagi bermanfaat untuk manusia maupun mesin. Diayat lain Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى peringatkan tentang Amalan yang Gugur (Habithat A'maluhum) adanya golongan orang yang merasa sudah berbuat baik, namun amalnya sia-sia di akhirat karena perbuatan kufur atau *maksiat besar* yang merusaknya: ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا Artinya: _*Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.*_(al-kahfi-ayat-104). Siapakah yang sia2 amalnya, sedangkan mereka menyangka telah berbuat baik, jawabannya tersurat di Al-Kahfi ayat 105. أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا Artinya: _*Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.*_ *Kemungkinan Kedua; amal baik tetap tersimpan walau tercampur amal buruk* Asalkan jangan *kufur*, masih berpeluang amal baik yang dilakukan seseorang tidak terkuras. *Ada amal buruk yang langsung membatalkan pahala, ada pula amal buruk yang tidak serta merta membatalkan pahala*. Amal buruk yang langsung membatalkan pahala, ialah amal buruk yang menyangkut dengan sesama manusia. inipun dapat dibagi dua, ada yang mutlak batal, ada yang dapat di cancel batalnya melalui permintaan maaf. *Yang mutlak batal*; Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَ menegaskan dalam surat Al-Baqarah 264: *Jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.* ayat tsb telah dikutip pada artikel sebelum ini berjudul *RIYA’*. *Yang dapat di cancel batalnya kebaikan oleh keburukan,terkenal hadits tentang “Muflis (bangkrut)”* Pahala kebaikan juga bisa habis karena dicampur dengan maksiat atau kezaliman kepada sesama manusia: Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang bangkrut di akhirat adalah orang yang datang membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga membawa dosa mencaci orang lain, menuduh tanpa bukti, memakan harta orang lain, dan menumpahkan darah. Di akhirat, pahala-pahala kebaikannya akan ditransfer untuk membayar korban kezalimannya sampai pahalanya habis, lalu dosa korbannya ditimpakan kepadanya hingga ia dilempar ke neraka (HR. Muslim). Jika berhasil meminta maaf kepada pihak dimana diri kita berbuat salah selama di dunia, bertaubat atas maksiat kepada Allah, kemudian Allah menerima taubatnya, maka pahala kebaikannya dapat di cancel batalnya, jadi masih dapat ditemuinya di akhirat nanti. Kembali ke perumpamaan bercampurnya BBM dengan air di awal tulisan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa: Air bila tercampur BBM dalam hal tertentu tidak layak lagi buat kendaraan atau buat diminum. Dalam pada itu dengan jalan memisahkan kandungan air di dalam BBM, maka BBM akan berguna lagi buat kendaraan, justru BBM yang dipakai buat kendaraan sekarang ini berasal dari campuran bermacam cairan sebelum diolah. Permisalannya jika telah menyadari berdosa kepada Allah lantaran maksiat, langsung bertaubat, jika bersalah sesama manusia langsung mohon maaf selama di dunia ini. إِنْ شَاءَ اللَّه pahala dari amal kebaikan tidak akan terkuras. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَ berfirman: وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ Artinya: _*Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.*_ (Hud ayat 114) Dalam hal diri kita sedang tergelincir bermaksiat, terlanjur mendzalimi sesama, tak usah berputus asa, jangan sampai terbuai syaitan membisikkan: *“Aku masih buat dosa, jadi tak guna aku shalat, bersedekah atau berbuat baik toh tidak akan diterima Allah”*. ini bisikan rayuan syaitan merupakan perangkap. Yang betul ialah *teruskan kebaikan dan pada saat yang sama bertaubat serta berusaha sungguh2 melawan maksiat*. Ya Allah,….. jadikanlah sisa2 hidup kami ini tidak mencampur-adukkan amal baik dan amal buruk, jikapun kami terlanjur berbuat dosa kepada-MU kami mohon ampun, jika terlanjur mendzalimi sesama, beri kesempatan kami dapat memohon maaf kepada mereka. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 7 Oktober 2026/25 Rabiul Akhir 1448 H.