Wednesday, 12 August 2026

PIKUN

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.436.04.08-2026 HP nenek memberi isyarat bunyi bahwa ada WA masuk, si nenekpun sibuk mencari kacamatanya, mulai dari ruang tengah, meja makan, ruang dapur, meja di kamar tidur, kacamata juga tidak ditemukan. Barulah ketika lewat sebuah lemari yang ada cerminnya, tak sengaja melirik, rupanya kacamata nempel diatas dahinya. Ini konon merupakan salah satu tanda pikun. Pikun atau demensia sering terjadi (tidak selalu) kepada lansia. WHO mencatat saat ini ada lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia menderita demensia, dan di setiap tahunnya ada hampir 10 juta kasus baru. Demensia disebabkan oleh berbagai penyakit dan cedera yang mempengaruhi otak. Demensia biasa disebabkan oleh faktor umur meskipun tidak semua lansia mengalaminya. Penyebab meningkatnya risiko perkembangan demensia di antaranya adalah usia mencapai 65tahun atau lebih, hipertensi, diabetes, obesitas, kaum perokok, peminum alkohol, fisik yang kurang aktif, isolasi sosial hingga depresi. Tanda2 Demensia sudah menghampiri diri antara lain: *Penurunan kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari*. Misalnya: *Lupa cara mandi* atau perlu diingatkan dan dibantu. *Berpakaian*: salah memilih pakaian atau kesulitan memakai kancing/resleting. *Makan*: lupa sudah makan, kesulitan menggunakan alat makan, atau tidak mampu menyiapkan makanan. *Mengelola obat*: lupa waktu minum obat atau salah dosis. *Mengelola uang*: kesulitan menghitung uang, membayar tagihan, atau mudah tertipu. *Memasak*: lupa langkah-langkah memasak atau meninggalkan kompor menyala. *Berbelanja*: lupa barang yang perlu dibeli atau tidak mampu melakukan transaksi dengan benar. *Menggunakan alat sehari-hari*: kesulitan menggunakan HP, mesin cuci, atau peralatan rumah tangga yang sebelumnya sudah dikuasai. *Menjaga kebersihan diri*: lupa menyikat gigi, mengganti pakaian, atau merawat diri. Intinya, pada demensia terjadi penurunan kemampuan melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan secara mandiri, sehingga seseorang mulai membutuhkan pengingat, pengawasan, atau bantuan orang lain. *Kesulitan dalam menyelesaikan masalah*, Contoh: *Kesulitan menghitung uang* atau menerima kembalian saat berbelanja. *Tidak tahu langkah-langkah yang harus dilakukan* ketika memasak makanan sederhana, memberikan garam lebih dari sekali, atau sama sekali tidak membubuhkan garam. *Bingung ketika harus menentukan solusi* untuk masalah sederhana, misalnya saat listrik mati, sulit mematikan kompor. *Tidak mampu mengambil keputusan sederhana,* seperti memilih pakaian yang sesuai untuk bepergian. *Penurunan keterampilan komunikasi*: Sulit menemukan kata yang tepat saat berbicara. Sering mengulang pertanyaan atau cerita yang sama. Kesulitan memahami pembicaraan orang lain. Jawaban menjadi tidak sesuai dengan pertanyaan. Kosakata semakin sederhana atau terbatas. Sulit mengikuti percakapan yang panjang, (jadi teringat sebuah film serial ada dialog “*…..kepanjangan Kuum*”). Sering lupa nama orang, benda, atau tempat. Kesulitan menyampaikan kebutuhan, seperti mengatakan ingin makan atau minum. *Penggunaan bahasa*: Sulit menemukan kata (word-finding difficulty): ingin mengatakan “sendok”, tetapi mengatakan “itu… benda untuk makan.”. Sering menggunakan kata yang umum: “barang itu”, “benda itu”, karena lupa nama benda. Salah menyebut nama benda: menyebut “televisi” sebagai “radio”. Kesulitan memahami percakapan: terutama kalimat yang panjang atau kompleks. Pembicaraan menjadi tidak terarah: sulit mengikuti topik dan sering berpindah-pindah pembicaraan. Kesulitan membaca atau menulis: misalnya sulit memahami tulisan sederhana atau menulis kalimat yang bermakna. *Kesulitan dalam mengendalikan emosi*. Mudah marah atau tersinggung meskipun karena hal kecil. Seorang nenek nginap dirumah anaknya, dalam perbincangan si mantu melapor ke suaminya “sekarang beras naik lagi”, malam itu juga nenek ngemasi pakainya, besok pagi lantas minta antar pulang kerumahnya sendiri, padahal tadinya program tiga malam, dia merasa mantunya menyinggungnya, kerena keberadaannya banyak ngabiskan beras. Mudah cemas, takut, atau gelisah. Bereaksi berlebihan terhadap situasi sederhana. Sulit menenangkan diri setelah merasa marah atau kecewa. Perubahan suasana hati terjadi dengan cepat, misalnya dari tenang menjadi marah atau sedih. *Gampang lupa*. Sering lupa kejadian yang baru saja terjadi. Lupa menaruh barang lalu tidak ingat sama sekali. Lupa nama orang yang sebenarnya sudah dikenal. Lupa janji atau kegiatan penting. Kesulitan mengingat cara melakukan kegiatan yang biasanya dikuasai. Lupa jalan pulang atau tersesat di tempat yang familiar. Dalam pandangan Islam, demensia merupakan salah satu gejala lansia yang disebut dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 70: وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّىٰكُمْ ۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ ٱلْعُمُرِ لِكَىْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ Artinya: _*Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa*_. Lantas, sebagai upaya untuk menghindari pikun bagi kaum muslimin; rutinkan membaca Al-Qur’an, karena kebiasaan membaca Al-Qur'an إِنْ شَاءَ اللَّه membantu menjaga ketajaman daya ingat dan menurunkan risiko pikun di usia tua. Pandangan ini didukung oleh pendapat para ulama salaf seperti Imam Al-Qurtubi dan Ibnu Abbas. Bahwa di surat At-Tin Ayat 5: ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ Artinya: _*Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya*_ Mungkin inilah salah satu keadaan *serendah-rendahnya*, yang dipersamakan dengan keadaan seorang yang menjadi pikun itu, lantas sebagai upayanya adalah pada surat At-Tin Ayat 6: إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ Artinya: _*Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.*_ Salah satu wujud beramal saleh itu adalah membaca Al-Qur’an, dengan selalu membaca Al-Qur’an, maka dapat dikecualikan apa yang disebutkan oleh ayat 5 surat At-Tin , والله أعلمُ بالـصـواب Upaya lainnya untuk menghindari pikun senantiasalah berdo’a: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ Artinya: _*“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang paling buruk (pikun).” (HR Ibnu Majah) Atau dalam redaksi riwayat Al-Bukhari dalam bab “Berlindung dari Usia Tua yang Buruk” sebagai berikut: أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَالْكَسَلِ وَأَرْذَلِ الْعُمُرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ Artinya: _*“Aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, kemalasan, usia yang paling buruk, siksa kubur, fitnah Dajjal, dan fitnah kehidupan serta kematian.”*_ (HR Al-Bukhari) Doa ini dibaca oleh Nabi Muhammad ﷺ selepas shalat lima waktu sebagaimana keterangan yang terdapat dalam salah satu riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Menurut Ibnu Ruslan, doa ini dianjurkan dibaca supaya kita tidak ditakdirkan mengalami demensia di masa tua. Semoga Allah menghindarkan kita semua dari usia yang paling buruk sampai pikun. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 12 Agustus 2026/29 Safar 1448 H.

No comments:

Post a Comment