Sunday, 23 August 2026
MENYIKAPI PIHAK TIDAK BERIMAN
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.438.06.08-2026
Di nomor yang lalu judul *Beriman Konsisten* dikemukakan bahwa: Jika di renungkan akan perilaku manusia di sekitar kita *perihal iman*, maka terdapat 5 (lima) kelompok manusia dalam menyikapi *iman* yaitu: 1. *Manusia Beriman, konsisten* atau istiqamah atas keimanannya., 2. *Manusia tidak Beriman*, menolak segala rukun iman, 3. *Manusia beriman sebagian*, dimana hanya mengimani sebagian rukun iman., 4. Manusia *beriman, tetapi tidak beramal* menurut keimanannya., 5. Manusia *berpura-pura beriman*.
Di kesempatan ini, sejenak ditinjau perilaku manusia *Tidak Beriman*. Beriman dan *Tidak Beriman* adalah dua kutub yang berlawanan, hal itu memang sudah umum adanya di dunia ini, sebagaimana adanya gelap dan terang, siang dan malam.
Orang tidak beriman konotasinya tidak percaya ada Tuhan sebagai pencipta alam semesta ini, sering diistilahkan *ateisme*. Seorang *ateis* berpendapat alam semesta terjelma dengan sendirinya sebagai hasil dari proses alami, fisika, dan evolusi sains—seperti *Teori Dentuman Besar (Big Bang)*—tanpa campur tangan Pencipta atau Tuhan. Bagi mereka, alam berjalan berdasarkan hukum alam yang objektif dan rasional, bukan karena rancangan ilahi.
وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ ٢٤
_*Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Padahal, mereka tidak mempunyai ilmu (sama sekali) tentang itu. Mereka hanyalah menduga-duga.*_ (Al-Jatsiyah ayat 24)
Berangkat dari pengertian surat Al-Jatsiyah 24 di atas, dapat dipahami bahwa keberadaan *ateisme* di dunia ini suatu keniscayaan, merupakan sunatullah, mesti akan adanya. Apalagi jika dikaitkan dengan Surat Yunus ayat 99:
وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
_*"Dan seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?"*_
Dalam konteks kedua ayat diatas menyikapi kelompok *ateisme* ini Agama Islam mengajarkan bahwa:
*Pertama: Tidak Memaksa*
Islam tidak pernah memaksakan keimanan kepada setiap individu yang menolak beriman, prinsip dasar ini termaktub dalam Al-Qur’an:
لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
_*”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”*_ (Al-Baqarah-ayat-256)
*Kedua: Pendekatan Logika*
Saat berhadapan dengan pandangan yang menolak beriman, bawalah logika bahwa adanya diri ini, adanya alam ini mestinya ada Pencipta, bagaimanapun tidak mungkin terjadi dengan sendirinya termasuk teori “*Teori Dentuman Besar (Big Bang)*. Tak Mungkin dentuman besar itu berdentum dengan sendirinya. Ketika berdebat dengan pihak orang tidak beriman, tak akan effective jika membawakan dalil ayat2 Al-qur’an. Pedoman dasar berdebat dengan orang tidak beriman:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
_*”Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”*_. (An-Nahl-ayat-125).
*KETIGA: Menjaga Akhlak*
Interaksi sehari-hari tetap berjalan dalam koridor kemanusiaan yang adil selama mereka tidak melakukan agresi fisik atau memerangi umat Islam:
• Kedepankan Kasih Sayang Kemanusian, menghargai manusia sebagai mahluk Allah, pulangkan bahwa siapapun diri kita sebagai orang beriman, hanya berkewajiban menyampaikan, adapun *hidayah* adalah kewenangan Allah.
• Tidak mengabaikan ketegasan dalam prinsip akidah, prisip tauhid, meskipun tetap menjaga kesantunan dalam berbicara, namun tetap tidak berkompromi tentang ke Esaan Allah.
Dengan menyimak apa yang dibacarakan ini, semoga semakin tenang kita semua dalam menghadapi kehidupan ini, sambil berdo’a semoga Allah memeliharakan iman kita semua serta semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada siapun yang masih menolak beriman.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 23 Agustus 2026/10 Rabiul Awal 1448 H.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment