Friday, 28 August 2026
PENYELAMAT & PENCELAKA MANUSIA
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.439.07.08-2026
Rabiul Awal (sebagai bulan Kelahiran Rasulullah), ketika tulisan ini diturunkan, mari kita usahakan untuk selalu mengingat apa saja yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ, merupakan sesuatu yang diperintahkan beliau, demikian juga hal2 yang dihindari oleh beliau karena Allah telah berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Artinya: _*” Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah.”*_ (Al-Hasyr: 7).
Terdapat 3 hal merupakan perintah dari Allah dan Rasul-Nya yang dapat *menyelamatkan manusia*. Dan …. terdapat 3 larangan Allah dan Rasul-Nya yang dapat *mencelakakan manusia*.
*3 Hal yang Menyelamatkan Manusia*
*PERTAMA: Takut dan taqwa kepada Allah* dalam keadaan tersembunyi (sendirian) maupun terang-terangan di hadapan orang banyak. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
_*“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya dalam keadaan tidak terlihat oleh manusia, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”*_ (QS. Al-Mulk: 12)
Ayat ini sangat jelas bahwa salah satu ciri orang beriman adalah tetap takut kepada Allah ketika sendirian, saat tidak ada manusia yang melihat.
*KEDUA; Bersikap sederhana* atau moderat dalam keadaan bagaimanapun.
Dikesempatan artikel singkat ini dikutip satu ayat tentang bersikap sederhana, mestinya ada 3 ayat yaitu QS. Al-A’raf ayat 31, QS. Al-Isra ayat 26–27 dan yang kita kutip sekarang QS. Al-Furqan ayat 67:
وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا ٦٧
_*“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.”*_
Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dalam menggunakan harta, tidak kikir namun tidak boros.
*KETIGA; Berlaku adil* dan berkata benar dalam kondisi ridha (suka) maupun saat marah. Ada beberapa dalil Al-Qur’an yang berkaitan dengan berlaku adil sehingga menyelamatkan kehidupan manusia: Al-Qur’an mendalilkan berlaku adil menyelamatkan manusia dengan mengemukakan di surat Al-Ma’idah, dan di surat An-Nisa:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: _*”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”*_ (QS. Al-Ma’idah ayat 8)
۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَٱللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ ۚ وَإِن تَلْوُۥٓا۟ أَوْ تُعْرِضُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Artinya: _*”Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”*_ (Surat An-Nisa Ayat 135)
*3 Hal yang Mencelakakan (Membinasakan) Manusia.*
*PERTAMA; Kekikiran yang ditaati* atau sifat bakhil dan rakus yang berlebihan terhadap harta, dapat dicermati surat Al-Lail ayat 8 – 10:
وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ
وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ
_*"Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah),"*_
_*"Dan mendustakan (pahala) yang terbaik,"*_
_*"Maka kelak Kami akan memudahkan baginya jalan kesukaran (kesusahan)."*_
*KEDUA; Hawa nafsu yang diikuti* tanpa mengindahkan petunjuk agama.
فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ فَتَرْدٰى ١٦
_*”Janganlah engkau dipalingkan darinya (iman pada hari Kiamat) oleh orang yang tidak beriman padanya dan mengikuti hawa nafsunya sehingga engkau binasa”*_ (Surat Thaha 16)
*KETIGA; Ujub terhadap diri sendiri* atau merasa bangga diri yang berlebihan atas kemampuan dan prestasi diri. Menganggap diri paling pandai paling tau, segala macam paling. Ucapannya kadang *“kalau bukan karena saya ……..”*, *kalau saya tidak turun tangan mungkin sampai sekarang belum selesai*. Hati2 berucap seperti ini, kadang ringan mengucapkannya, sementara orang yang mendengarkan taulah awak sedang berbangga diri, sedang dalam pengaruh *Ujub*, apalagi Allah sangat lebih mengetahui tentang diri awak sudah masuk diperangkap *Ujub*. Sikap seperti ini tidak disukai Allah, termuat dalam Al-Qur’an:
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰىࣖ ٣٢
_*”Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.”*_ (An-Najm 32)
Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah agar selalu diberikan kekuatan untuk selalu konsisten dalam mengikuti jalan yang dapat *menyelamatkan kehidupan* dan menjauhi sikap dan sifat yang dapat *membawa kebinasaan* dunia dan akhirat.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 28 Agustus 2026/15 Rabiul Awal 1448 H.
Sunday, 23 August 2026
MENYIKAPI PIHAK TIDAK BERIMAN
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.438.06.08-2026
Di nomor yang lalu judul *Beriman Konsisten* dikemukakan bahwa: Jika di renungkan akan perilaku manusia di sekitar kita *perihal iman*, maka terdapat 5 (lima) kelompok manusia dalam menyikapi *iman* yaitu: 1. *Manusia Beriman, konsisten* atau istiqamah atas keimanannya., 2. *Manusia tidak Beriman*, menolak segala rukun iman, 3. *Manusia beriman sebagian*, dimana hanya mengimani sebagian rukun iman., 4. Manusia *beriman, tetapi tidak beramal* menurut keimanannya., 5. Manusia *berpura-pura beriman*.
Di kesempatan ini, sejenak ditinjau perilaku manusia *Tidak Beriman*. Beriman dan *Tidak Beriman* adalah dua kutub yang berlawanan, hal itu memang sudah umum adanya di dunia ini, sebagaimana adanya gelap dan terang, siang dan malam.
Orang tidak beriman konotasinya tidak percaya ada Tuhan sebagai pencipta alam semesta ini, sering diistilahkan *ateisme*. Seorang *ateis* berpendapat alam semesta terjelma dengan sendirinya sebagai hasil dari proses alami, fisika, dan evolusi sains—seperti *Teori Dentuman Besar (Big Bang)*—tanpa campur tangan Pencipta atau Tuhan. Bagi mereka, alam berjalan berdasarkan hukum alam yang objektif dan rasional, bukan karena rancangan ilahi.
وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ ٢٤
_*Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Padahal, mereka tidak mempunyai ilmu (sama sekali) tentang itu. Mereka hanyalah menduga-duga.*_ (Al-Jatsiyah ayat 24)
Berangkat dari pengertian surat Al-Jatsiyah 24 di atas, dapat dipahami bahwa keberadaan *ateisme* di dunia ini suatu keniscayaan, merupakan sunatullah, mesti akan adanya. Apalagi jika dikaitkan dengan Surat Yunus ayat 99:
وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
_*"Dan seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?"*_
Dalam konteks kedua ayat diatas menyikapi kelompok *ateisme* ini Agama Islam mengajarkan bahwa:
*Pertama: Tidak Memaksa*
Islam tidak pernah memaksakan keimanan kepada setiap individu yang menolak beriman, prinsip dasar ini termaktub dalam Al-Qur’an:
لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
_*”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”*_ (Al-Baqarah-ayat-256)
*Kedua: Pendekatan Logika*
Saat berhadapan dengan pandangan yang menolak beriman, bawalah logika bahwa adanya diri ini, adanya alam ini mestinya ada Pencipta, bagaimanapun tidak mungkin terjadi dengan sendirinya termasuk teori “*Teori Dentuman Besar (Big Bang)*. Tak Mungkin dentuman besar itu berdentum dengan sendirinya. Ketika berdebat dengan pihak orang tidak beriman, tak akan effective jika membawakan dalil ayat2 Al-qur’an. Pedoman dasar berdebat dengan orang tidak beriman:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
_*”Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”*_. (An-Nahl-ayat-125).
*KETIGA: Menjaga Akhlak*
Interaksi sehari-hari tetap berjalan dalam koridor kemanusiaan yang adil selama mereka tidak melakukan agresi fisik atau memerangi umat Islam:
• Kedepankan Kasih Sayang Kemanusian, menghargai manusia sebagai mahluk Allah, pulangkan bahwa siapapun diri kita sebagai orang beriman, hanya berkewajiban menyampaikan, adapun *hidayah* adalah kewenangan Allah.
• Tidak mengabaikan ketegasan dalam prinsip akidah, prisip tauhid, meskipun tetap menjaga kesantunan dalam berbicara, namun tetap tidak berkompromi tentang ke Esaan Allah.
Dengan menyimak apa yang dibacarakan ini, semoga semakin tenang kita semua dalam menghadapi kehidupan ini, sambil berdo’a semoga Allah memeliharakan iman kita semua serta semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada siapun yang masih menolak beriman.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 23 Agustus 2026/10 Rabiul Awal 1448 H.
Monday, 17 August 2026
IMAN KONSISTEN
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.437.05.08-2026
Jika di renungkan akan perilaku manusia di sekitar kita *perihal iman*, maka terdapat 5 (lima) kelompok manusia dalam menyikapi *iman* yaitu: 1. *Manusia Beriman, konsisten* atau istiqamah atas keimanannya., 2. *Manusia tidak Beriman*, menolak segala rukun imam., 3. *Manusia beriman sebagain*, dimana hanya mengimani sebagian rukun iman., 4. Manusia *beriman, tetapi tidak beramal* menurut keimanannya., 5. Manusia *berpura-pura beriman*.
Terbatasmya ruang tulis, dalam artikikel ini tidak dibicarakan semua dari 5 (lima) *sikap manusia terhadap “imam”* tersebut diatas, إِنْ شَاءَ اللَّهُ akan ditulis diartikel yang akan datang. Sedang diartikel ini hanya dibicarakan *Sikap manusia beriman konsisten*.
Tanda2 Utama seorang yang terkelompok Beriman dengan Konsisten adalah:
*PETAMA:* Konsisten melaksanakan shalat disertai memelihara shalat dengan khusuk dalam pengertian tidak meninggalkan shalat dalam keadaan apapun. Seperti jelas terdalilkan dari surat Al-Mu’minun ayat 2 dan ayat 9 serta surat Al-Anfal ayat 3:
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
_*(yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya,*- (Al-Mu’minun ayat 2),
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
_ *serta orang-orang yang memelihara salat mereka.*_ ((Al-Mu’minun ayat 9)
الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ ٣
_*(yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.*_ (surat Al-Anfal ayat 3)
*KEDUA:* Menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia, takut berbuat dosa sekalipun hanya dengan lisan,. Hal2 tersebut dapat disarikan antara lain dari surat Al-Mu’minum ayat 3 dan Surat At-Taubah ayat 119.
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
_*dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,*_ (Al-Mu’minun ayat 3)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
_*"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!"*_ (At-Taubah ayat 119)
*KETIGA*: Menunaikan zakat, selalu berinfak
وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ
_*”dan orang yang menunaikan zakat,”*_ (Al-Mu’minun ayat 4).
Juga surat Ali Imran 134,
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ
_*”(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, ……………….”*_
*KEEMPAT*: Sanggup kendalikan emosi dan pemaaf, lanjutan surat Ali-Imran 134,
“…………. وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ……………………….”
-*”dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. …………..”*_
*KELIMA*: Memenuhi janji,
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
_*”dan orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya,”*_ (Al-Mu’minun ayat 8)
*KEENAM: Menjauhi dosa Zina*
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ٣٢
_*”Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk”*_. (Al-Isra ayat 32)
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
_*”dan orang yang memelihara alat kelaminnya,*”- (Al-Mu’minun ayat 5)
*KETUJUH*: Selalu merasa diawasi Allah, tetap taat ketika sendirian, sehingga berhati-hati dalam bertindak/berbuat, bahkan berpikir sekalipun, karena keimanannya yakin bahwa, Allah mengetahui apa yang dilahirkan dan apa yang tersembunyi didalam hati sekalipun. Selalu terpatri pada diri akan surat Al-Mulk Ayat 13, surat At-Taghabun ayat 4 dan surat An-Nahl ayat 19.
وَأَسِرُّوا۟ قَوْلَكُمْ أَوِ ٱجْهَرُوا۟ بِهِۦٓ ۖ إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ
_*”Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”*_ (Surat Al-Mulk Ayat 13)
يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْر
_*"Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati”.*_ (At-Taghabun ayat 4)
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَ
_*”Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan.”*_ (An-Nahl ayat 19).
*KEDELAPAN*: Tidak berubah karena keadaan; ketika mendapat nikmat bersyukur, ketika mendapat ujian bersabar. Surat Al-Hadid ayat 32 dijadikan pedoman;
لِّـكَيۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰى مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ اٰتٰٮكُمۡؕ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرِۙ
_*”Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”*_
*KESEMBILAN*: Hati selalu dekat kepada Allah, salah satu wujudnya apabila mendengar dibacakan ayat2 Al-Qur’an bertambah imannya.
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
_*”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”*_ (Surat Al-Anfal Ayat 2)
*KESEPULUH*: Tidak merasa *“paling”*, terus menerus memperbaiki diri. Orang beriman selalu mengingat Surat An-Najm ayat 32 berisi tentang sifat orang bertaqwa yang menjauhi dosa besar, luasnya ampunan Allah SWT bagi dosa-dosa kecil (al-lamam), serta larangan agar manusia tidak menganggap diri *paling* suci atau membanggakan diri sendiri karena Allah-lah yang paling tahu siapa yang paling bertaqwa.
ٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ
_*” (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.”*_ (Surat-An-Najm ayat 32)
Semoga Allah membimbing kita semua sehingga menjadi hamba2 Allah yang konsisten dalam beriman.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 17 Agustus 2026/4 Rabiul Awal 1448 H.
Wednesday, 12 August 2026
PIKUN
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.436.04.08-2026
HP nenek memberi isyarat bunyi bahwa ada WA masuk, si nenekpun sibuk mencari kacamatanya, mulai dari ruang tengah, meja makan, ruang dapur, meja di kamar tidur, kacamata juga tidak ditemukan. Barulah ketika lewat sebuah lemari yang ada cerminnya, tak sengaja melirik, rupanya kacamata nempel diatas dahinya. Ini konon merupakan salah satu tanda pikun.
Pikun atau demensia sering terjadi (tidak selalu) kepada lansia. WHO mencatat saat ini ada lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia menderita demensia, dan di setiap tahunnya ada hampir 10 juta kasus baru. Demensia disebabkan oleh berbagai penyakit dan cedera yang mempengaruhi otak. Demensia biasa disebabkan oleh faktor umur meskipun tidak semua lansia mengalaminya.
Penyebab meningkatnya risiko perkembangan demensia di antaranya adalah usia mencapai 65tahun atau lebih, hipertensi, diabetes, obesitas, kaum perokok, peminum alkohol, fisik yang kurang aktif, isolasi sosial hingga depresi. Tanda2 Demensia sudah menghampiri diri antara lain:
*Penurunan kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari*. Misalnya: *Lupa cara mandi* atau perlu diingatkan dan dibantu. *Berpakaian*: salah memilih pakaian atau kesulitan memakai kancing/resleting. *Makan*: lupa sudah makan, kesulitan menggunakan alat makan, atau tidak mampu menyiapkan makanan. *Mengelola obat*: lupa waktu minum obat atau salah dosis. *Mengelola uang*: kesulitan menghitung uang, membayar tagihan, atau mudah tertipu. *Memasak*: lupa langkah-langkah memasak atau meninggalkan kompor menyala. *Berbelanja*: lupa barang yang perlu dibeli atau tidak mampu melakukan transaksi dengan benar. *Menggunakan alat sehari-hari*: kesulitan menggunakan HP, mesin cuci, atau peralatan rumah tangga yang sebelumnya sudah dikuasai. *Menjaga kebersihan diri*: lupa menyikat gigi, mengganti pakaian, atau merawat diri. Intinya, pada demensia terjadi penurunan kemampuan melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan secara mandiri, sehingga seseorang mulai membutuhkan pengingat, pengawasan, atau bantuan orang lain.
*Kesulitan dalam menyelesaikan masalah*, Contoh: *Kesulitan menghitung uang* atau menerima kembalian saat berbelanja. *Tidak tahu langkah-langkah yang harus dilakukan* ketika memasak makanan sederhana, memberikan garam lebih dari sekali, atau sama sekali tidak membubuhkan garam. *Bingung ketika harus menentukan solusi* untuk masalah sederhana, misalnya saat listrik mati, sulit mematikan kompor. *Tidak mampu mengambil keputusan sederhana,* seperti memilih pakaian yang sesuai untuk bepergian.
*Penurunan keterampilan komunikasi*: Sulit menemukan kata yang tepat saat berbicara. Sering mengulang pertanyaan atau cerita yang sama. Kesulitan memahami pembicaraan orang lain. Jawaban menjadi tidak sesuai dengan pertanyaan. Kosakata semakin sederhana atau terbatas. Sulit mengikuti percakapan yang panjang, (jadi teringat sebuah film serial ada dialog “*…..kepanjangan Kuum*”). Sering lupa nama orang, benda, atau tempat. Kesulitan menyampaikan kebutuhan, seperti mengatakan ingin makan atau minum.
*Penggunaan bahasa*: Sulit menemukan kata (word-finding difficulty): ingin mengatakan “sendok”, tetapi mengatakan “itu… benda untuk makan.”. Sering menggunakan kata yang umum: “barang itu”, “benda itu”, karena lupa nama benda. Salah menyebut nama benda: menyebut “televisi” sebagai “radio”. Kesulitan memahami percakapan: terutama kalimat yang panjang atau kompleks. Pembicaraan menjadi tidak terarah: sulit mengikuti topik dan sering berpindah-pindah pembicaraan. Kesulitan membaca atau menulis: misalnya sulit memahami tulisan sederhana atau menulis kalimat yang bermakna.
*Kesulitan dalam mengendalikan emosi*. Mudah marah atau tersinggung meskipun karena hal kecil. Seorang nenek nginap dirumah anaknya, dalam perbincangan si mantu melapor ke suaminya “sekarang beras naik lagi”, malam itu juga nenek ngemasi pakainya, besok pagi lantas minta antar pulang kerumahnya sendiri, padahal tadinya program tiga malam, dia merasa mantunya menyinggungnya, kerena keberadaannya banyak ngabiskan beras. Mudah cemas, takut, atau gelisah. Bereaksi berlebihan terhadap situasi sederhana. Sulit menenangkan diri setelah merasa marah atau kecewa. Perubahan suasana hati terjadi dengan cepat, misalnya dari tenang menjadi marah atau sedih.
*Gampang lupa*. Sering lupa kejadian yang baru saja terjadi. Lupa menaruh barang lalu tidak ingat sama sekali. Lupa nama orang yang sebenarnya sudah dikenal. Lupa janji atau kegiatan penting. Kesulitan mengingat cara melakukan kegiatan yang biasanya dikuasai. Lupa jalan pulang atau tersesat di tempat yang familiar.
Dalam pandangan Islam, demensia merupakan salah satu gejala lansia yang disebut dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 70:
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّىٰكُمْ ۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ ٱلْعُمُرِ لِكَىْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
Artinya: _*Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa*_.
Lantas, sebagai upaya untuk menghindari pikun bagi kaum muslimin; rutinkan membaca Al-Qur’an, karena kebiasaan membaca Al-Qur'an إِنْ شَاءَ اللَّه membantu menjaga ketajaman daya ingat dan menurunkan risiko pikun di usia tua. Pandangan ini didukung oleh pendapat para ulama salaf seperti Imam Al-Qurtubi dan Ibnu Abbas. Bahwa di surat At-Tin Ayat 5:
ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ
Artinya: _*Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya*_
Mungkin inilah salah satu keadaan *serendah-rendahnya*, yang dipersamakan dengan keadaan seorang yang menjadi pikun itu, lantas sebagai upayanya adalah pada surat At-Tin Ayat 6:
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
Artinya: _*Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.*_
Salah satu wujud beramal saleh itu adalah membaca Al-Qur’an, dengan selalu membaca Al-Qur’an, maka dapat dikecualikan apa yang disebutkan oleh ayat 5 surat At-Tin , والله أعلمُ بالـصـواب
Upaya lainnya untuk menghindari pikun senantiasalah berdo’a:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ
Artinya: _*“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang paling buruk (pikun).” (HR Ibnu Majah)
Atau dalam redaksi riwayat Al-Bukhari dalam bab “Berlindung dari Usia Tua yang Buruk” sebagai berikut:
أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَالْكَسَلِ وَأَرْذَلِ الْعُمُرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
Artinya: _*“Aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, kemalasan, usia yang paling buruk, siksa kubur, fitnah Dajjal, dan fitnah kehidupan serta kematian.”*_ (HR Al-Bukhari)
Doa ini dibaca oleh Nabi Muhammad ﷺ selepas shalat lima waktu sebagaimana keterangan yang terdapat dalam salah satu riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Menurut Ibnu Ruslan, doa ini dianjurkan dibaca supaya kita tidak ditakdirkan mengalami demensia di masa tua.
Semoga Allah menghindarkan kita semua dari usia yang paling buruk sampai pikun.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 12 Agustus 2026/29 Safar 1448 H.
Monday, 10 August 2026
FITNAH HARTA
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.435.03.08-2026
Tak sedikit, kakak adik saudara kandung yang jadinya berselisih hingga *“patah arang”* gara2 sengketa warisan. Dalam pada itu banyak juga kejadian nenek-nenek yang suaminya meninggal, harta almarhum dibagikan anak2 mereka, rumah yang dibangunnya dengan susah payah bersama suaminya harus dijual untuk dibagi. Akhirnya si nenek disisa hidupnya tidak punya lagi rumah tempat bernaung. Seperti pernah kutulis kisah dibawah judul *“NENEK PENGEMBARA”* artikel No: 1.432.07.07-2026.
Sejatinya demikianlah adanya sifat bawaan manusia, terhadap harta dunia tak jarang orang menjadi *”gelap mata”*, bukan saja soal warisan tetapi juga perihal berlomba-lomba mengumpulkan harta semisal dengan korupsi, penipuan, penggelapan. Karena manusia punya *naluri untuk mencari rasa aman, nyaman, dan pengakuan*. Harta sering dianggap sebagai jalan untuk mendapatkan semua itu.
Manusia juga *Berkeinginan untuk memiliki lebih* setelah kebutuhan terpenuhi, keinginan manusia sering berkembang. Yang tadinya “cukup” bisa berubah menjadi “ingin lebih”. *Kepuasan tak pernah puas*. Kata puas bisa terus bergeser, tadinya berjalan kaki, kepengen punya sepeda ontel, setelah memiliki sepeda ontel kepingin sepeda motor, lanjutnya mobil, lanjut ingin mobil yang mewah dan seterusnya.
Pemicu manusia maruk harta berikutnya:
*Perbandingan dengan orang lain* melihat orang lain memiliki rumah, kendaraan, atau gaya hidup lebih tinggi dapat membuat seseorang merasa harus mengejar hal yang sama.
*Kesenangan dan kebebasan*; harta memang bisa memberikan pengalaman menyenangkan dan pilihan hidup yang lebih luas, bisa rekreasi, travelling kemana saja bila harta banyak.
*Pengaruh lingkungan*; sejak kecil kita sering diajarkan bahwa keberhasilan identik dengan pekerjaan bagus, penghasilan tinggi, dan banyak aset.
Manusia sering mengejar harta bukan karena harta itu sendiri, tetapi karena perasaan yang dibayangkan akan diperoleh setelah memiliki harta yang berlimpah yaitu: *rasa aman, dihormati, bahagia, bebas, atau tidak diremehkan*.
Allah mengingatkan tentang soal harta, bagi orang yang beriman:
وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya: _*Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.*_ (Al-Anfal ayat 28)
وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا
Artinya: _*Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.*_ (Al-Fajr ayat 20)
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
_*"Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah (ujian) bagi umatku adalah harta."+_ (HR. Tirmidzi, no. 2336; dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)
Orang beriman menyikapi harta dengan *bersyukur, menggunakannya untuk kebaikan, tidak berlebihan*. Harta dipandang sebagai *amanah dari Allah, bukan tujuan hidup*. Mencari harta dengan cara yang halal. Bersyukur atas rezeki yang diperoleh. Tidak kikir dan tidak boros. Menunaikan zakat dan gemar bersedekah. Menggunakan harta untuk memenuhi kebutuhan dan membantu sesama. *Tidak menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan atau kebahagiaan*.
Bagi Orang beriman; *Perihal mencari harta dunia*, patut menjadi renungan ayat berikut ini:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
_*”Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”*_ (Al-Qashash 77)
Semoga Allah memurahkan rezeki kita, sehingga memiliki harta yang berkah dan bermanfaat untuk kepentingan akhirat dan dunia kita.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 10 Agustus 2026/27 Safar 1448 H.
Subscribe to:
Posts (Atom)