Monday, 10 August 2026
FITNAH HARTA
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.435.03.08-2026
Tak sedikit, kakak adik saudara kandung yang jadinya berselisih hingga *“patah arang”* gara2 sengketa warisan. Dalam pada itu banyak juga kejadian nenek-nenek yang suaminya meninggal, harta almarhum dibagikan anak2 mereka, rumah yang dibangunnya dengan susah payah bersama suaminya harus dijual untuk dibagi. Akhirnya si nenek disisa hidupnya tidak punya lagi rumah tempat bernaung. Seperti pernah kutulis kisah dibawah judul *“NENEK PENGEMBARA”* artikel No: 1.432.07.07-2026.
Sejatinya demikianlah adanya sifat bawaan manusia, terhadap harta dunia tak jarang orang menjadi *”gelap mata”*, bukan saja soal warisan tetapi juga perihal berlomba-lomba mengumpulkan harta semisal dengan korupsi, penipuan, penggelapan. Karena manusia punya *naluri untuk mencari rasa aman, nyaman, dan pengakuan*. Harta sering dianggap sebagai jalan untuk mendapatkan semua itu.
Manusia juga *Berkeinginan untuk memiliki lebih* setelah kebutuhan terpenuhi, keinginan manusia sering berkembang. Yang tadinya “cukup” bisa berubah menjadi “ingin lebih”. *Kepuasan tak pernah puas*. Kata puas bisa terus bergeser, tadinya berjalan kaki, kepengen punya sepeda ontel, setelah memiliki sepeda ontel kepingin sepeda motor, lanjutnya mobil, lanjut ingin mobil yang mewah dan seterusnya.
Pemicu manusia maruk harta berikutnya:
*Perbandingan dengan orang lain* melihat orang lain memiliki rumah, kendaraan, atau gaya hidup lebih tinggi dapat membuat seseorang merasa harus mengejar hal yang sama.
*Kesenangan dan kebebasan*; harta memang bisa memberikan pengalaman menyenangkan dan pilihan hidup yang lebih luas, bisa rekreasi, travelling kemana saja bila harta banyak.
*Pengaruh lingkungan*; sejak kecil kita sering diajarkan bahwa keberhasilan identik dengan pekerjaan bagus, penghasilan tinggi, dan banyak aset.
Manusia sering mengejar harta bukan karena harta itu sendiri, tetapi karena perasaan yang dibayangkan akan diperoleh setelah memiliki harta yang berlimpah yaitu: *rasa aman, dihormati, bahagia, bebas, atau tidak diremehkan*.
Allah mengingatkan tentang soal harta, bagi orang yang beriman:
وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya: _*Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.*_ (Al-Anfal ayat 28)
وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا
Artinya: _*Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.*_ (Al-Fajr ayat 20)
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
_*"Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah (ujian) bagi umatku adalah harta."+_ (HR. Tirmidzi, no. 2336; dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)
Orang beriman menyikapi harta dengan *bersyukur, menggunakannya untuk kebaikan, tidak berlebihan*. Harta dipandang sebagai *amanah dari Allah, bukan tujuan hidup*. Mencari harta dengan cara yang halal. Bersyukur atas rezeki yang diperoleh. Tidak kikir dan tidak boros. Menunaikan zakat dan gemar bersedekah. Menggunakan harta untuk memenuhi kebutuhan dan membantu sesama. *Tidak menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan atau kebahagiaan*.
Bagi Orang beriman; *Perihal mencari harta dunia*, patut menjadi renungan ayat berikut ini:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
_*”Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”*_ (Al-Qashash 77)
Semoga Allah memurahkan rezeki kita, sehingga memiliki harta yang berkah dan bermanfaat untuk kepentingan akhirat dan dunia kita.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 10 Agustus 2026/27 Safar 1448 H.
Subscribe to:
Posts (Atom)