Sunday, 20 September 2026

BOCORNYA PUNDI-PUNDI PAHALA

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.442.02.09-2026 Istilah *"bocornya pundi-pundi pahala"* menggambarkan perbuatan yang secara tidak sadar merusak, menghapus, atau mengurangi bobot pahala dari kebaikan yang telah dikerjakan. Seseorang mungkin tekun beribadah, namun pahalanya *"bocor"* atau terbuang sia-sia karena perilaku tertentu menyertainya. Berikut adalah *7 (tujuh) hal utama* yang sering menjadi penyebab *bocornya pundi pahala*: *PERTAMA; Riya' (Pamer) Langsung.* Melakukan amal kebaikan agar dipuji, dilihat, atau dibicarakan orang lain, bukan murni karena Allah, secara lansung. Surat Al Baqarah ayat 264: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ Artinya: _*Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.*_ - Surat An-Nisa ayat 142 اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًا Artinya: _*”Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk shalat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya’ di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali”.*_ *KEDUA: Riya' Digital (Pamer Kebaikan di Media Sosial)* Membagikan momen ibadah, sedekah, atau do’a di media sosial *dengan niat terselubung* untuk membangun citra diri (personal branding) atau mendapatkan sanjungan. Kata kuncinya adalah *niat*, tidaklah setiap orang baik sebagai ustadz/ustadzah maupun orang biasa; membuat konten atau men share artikel2 dakwah di medsos langsung terkelompok *Riya’ Digital*, jika *diniatkan* untuk menyebarkan ilmu. Secara agak luas soal Riya’ telah ditulis dalam artikelku sebelum artikel ini No: 1.441.01.09-2026 tanggal 4 September 2026/23 Rabiul Awal 1448 H. *KETIGA; Sum’ah (ingin didengar)* Sum’ah dalam Islam adalah melakukan amal kebaikan agar didengar atau diketahui orang lain sehingga mendapat pujian. Sebagai contoh: *Bersedekah* lalu menceritakan kepada orang agar dipuji sebagai orang dermawan. *Membaca Al-Qur’an* dengan suara yang sengaja dibuat bagus supaya orang lain memujinya. Awas tak jarang hal *sum’ah* ini terkena kepada imam2 di masjid ketika mengimami shalat berjamaah, lalu terlintas di pikiran: *“Begini lho membaca Al-Qur’an yang baik dan benar”* dengan tujuan didengar untuk mendapat apresiasi dari jamaah atau orang yang biasa jadi imam di masjid itu, ikut berjamaah. *Menceritakan* banyaknya amal yang telah dilakukan untuk mendapatkan penghargaan atau sanjungan. *Menceritakan bahwa ia sering shalat tahajud* agar dianggap sebagai orang yang rajin beribadah. Hati2 men share *ajakan* shalat tahajud pada waktu dinihari sepertiga malam di ponsel anda ke group, jangan sampai terbetik di hati memberi tahu orang se group bahwa diri anda sudah bangun dan melaksanakan shalat tahajud, ini juga dapat tergolong “sum’ah” lebih condong ke *Riya’*. *Perbedaan singkat antara Riya’ dan Sum’ah*: *Riya’ lebih berkaitan dengan ingin dilihat orang*, *sedangkan sum’ah berkaitan dengan ingin didengar/diceritakan kepada orang lain*. مَنْ يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَاءِ يُرَاءِ اللَّهُ بِهِ Artinya: "Siapa yang *ingin didengar (sum'ah)*, Allah akan menjadikannya didengar (dibongkar niat buruknya di akhirat), dan siapa yang *ingin dilihat (riya’)*, Allah akan menunjukkan (aibnya)." (HR. Ibnu Majah No. 4206) *KEEMPAT; Menyebut-nyebut Kebaikan (Al-Mann) & Menyakiti Perasaan.* Mengingat-ingat kembali atau menyebutkan bantuan yang pernah diberikan kepada orang lain hingga membuat penerimanya merasa terhina atau sakit hati. Model menyebut ini dapat dengan cara langsung; dikemukakan dihadapan orang dibantu misalnya dengan kata2: *“Sombong kamu sekarang ya, kalau bukan saya membiayai sekolahmu dulu kamu tidak sesukses sekarang”*. Dapat pula dengan secara tidak langsung misalnya menyebutnya kepada orang lain: *“Dia itu jika saya mintai tolong sesuatu pasti tidak akan menolak, karena dia tentu tak akan lupa sayalah yang merekomendasikan dia masuk kerja…., lalu sekarang berjabatan tinggi”*. Larangan Al-Mann itu tercantum di Al- Baqarah ayat 264 dikutip di atas (لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ) *KELIMA; Dengki dan Hasad.* Harapan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang. Dengki dapat menggerogoti dan menghabiskan kebaikan-kebaikan yang telah terkumpul. *KEENAM; Ghibah (Membicarakan Aib Orang Lain).* Menggunjing, memfitnah, atau mencela orang lain. Di akhirat, pahala orang yang berbuat ghibah akan ditransfer kepada orang yang dizaliminya. *KETUJUH; IBADAH DICAMPUR MAKSIAT.* Membatalkan Pahala dengan Keburukan Berulang, Mencampuradukkan ibadah dengan perbuatan maksiat secara sengaja tanpa rasa menyesal atau niat untuk bertobat. Artikel nomor ini dicukupkan sampai disini dulu, karena sudah lebih dari 750 words, supaya artikel ini tak terlalu panjang إِنْ شَاءَ اللَّه *hal ke lima, keenam dan ketujuh* akan diungkap di kesempatan lain. Yaa Allah jauhkanlah kami semua dari *bocornya pundi2 pahala* kami baik karena sengaja, maupun karena tidak sengaja lantaran kurangnya pengetahuan kami. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 20 September 2026/8 Rabiul Akhir 1448 H.

No comments:

Post a Comment