Friday, 4 September 2026
RIYA’ DIGITAL
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.441.01.09-2026
RIYA’; Melakukan amal kebaikan agar dipuji, dilihat, atau dibicarakan orang lain, bukan murni karena Allah. Terdapat dua model utama Riya’: (1). *Riya' Fulgar* yaitu beribadah semata-mata hanya untuk mencari pujian dan perhatian manusia, tanpa ada niat karena Allah. (2). *Riya' Campuran* ialah beramal karena Allah, pada saat yang bersamaan dicampuri dengan niat ingin dipuji oleh manusia.
Bila mengacu pada Al-Baqarah 264; kedua-dua jenis Riya’ ini tidak akan mendapatkan pahala disisi Allah;
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِكُمۡ بِالۡمَنِّ وَالۡاَذٰىۙ كَالَّذِىۡ يُنۡفِقُ مَالَهٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلۡدًا ؕ لَا يَقۡدِرُوۡنَ عَلٰى شَىۡءٍ مِّمَّا كَسَبُوۡا ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡـكٰفِرِيۡنَ ٢٦٤
_*Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’` (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir*_.
Sejalan dengan berkembangannya teknologi komunikasi, apa yang dikenal dengan *MEDSOS* dengan berbagai turunannya, dari teknis penyampaiannya maka kini berkembang pula model RIYA’ yang dikenal dengan *Riya’ Digital*.
*Riya’ digital* adalah sikap memamerkan atau menunjukkan amal, ibadah, kebaikan, atau kesalehan melalui media digital seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, atau media sosial lainnya dengan tujuan agar mendapat pujian, perhatian, atau pengakuan dari orang lain, bukan semata-mata karena Allah*.
Misalnya;
Seseorang mengunggah foto saat bersedekah dengan tujuan agar orang lain menganggap dirinya dermawan. Lalu menuliskan _*“Alhamdulillah hari ini bisa berbagi 150 paket makanan”*_ dengan tujuan agar orang melihat dirinya dermawan.
Memposting ibadah; dimana didalam hati terselip niat agar orang lain mengetahui diri adalah ahli ibadah; seperti foto diri sedang shalat, foto diri tengah membaca Al-Qur’an, atau berada di tanah suci, ketika berhaji atau berumrah.
Di dinihari memposting di WhatsApp pukul 02.30 dinihari (tampak di catatan waktu di WA) ajakan untuk shalat tahajud, terselip dalam hati memberi tahu orang lain bahwa awak di dini hari ini sudah bangun untuk shalat tahajud. Ajakan sekaligus terselip niat memberitahukan bahwa diri shalat tahajud.
Banyak lagi contoh posting kegiatan lain tentang ibadah dan dakwah, bukan untuk berbagi manfaat, tetapi agar mendapat komentar seperti *_“MasyaAllah, alim sekali.”*_ Intinya mengejar likes dan komentar ketika mengunggah amal, mengunggah ceramah2, mengunggah artikel2, kemudian merasa kecewa atau berhenti melakukan amal tsb. ketika tidak mendapat respons.
Namun, tidak setiap posting tentang kebaikan, dakwah, kegiatan ibadah dan kegiatan keagamaan, otomatis *riya digital*. Misalnya:
Seseorang membagikan kegiatan donasi untuk mengajak orang lain ikut berdonasi, sementara niat utamanya tetap untuk Allah. Yang paling menentukan adalah *niat* di balik tindakan tersebut.
Seorang ustdzd/ustadzah memposting ceramah2nya, memposting tulisan2 dakwahnya, dengan niat agar isi ceramahnya, dapat didengar orang banyak, isi tulisannya dapat di dibaca orang banyak, dengan niat berdakwah karena Allah. Harapannya adalah orang yang mendengarkan ceramahnya, orang yang membaca tulisannya mendapatkan ilmu untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Ini tidak tergolong *Riya Digital*. Sebagai dasar acuan pemikiran mempublish ceramah2 dan tulisan2 dakwah dari ustadz/ustadzah disebut diatas *tidak termasuk Riya Digital* adalah hadits dari Abu Mas'ud Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Artinya: _*“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan (kepada orang lain), maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”*_ -- [Muslim].
Dalam pengalaman sebagian ustadz/ustadzah yang men share tulisan dakwah2 dan ceramah2 di group WA tertentu, ada sebagian anggota di group itu tidak senang, sehingga mengomentar yang kurang bersahabat. Dalam hal seperti ini wajar jika ustadz/ustadzah tersebut keluar saja dari group tersebut, sehingga terhindar terlanjur memposting lagi ke group itu, dengan maksud agar tidak berlarut terlibat dalam perdebatan yang tak bermanfaat yang ujung2nya membuat dosa. Allah melarang kita berdebat yang tidak perlu. Seperti dimuat dalam Al-Qur’an:
هَٰٓأَنتُمْ هَٰٓؤُلَآءِ حَٰجَجْتُمْ فِيمَا لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: _*Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.*_ (Surat Ali ‘Imran Ayat 66)
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Artinya: _*Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.*_ (Surat An-Nahl Ayat 125)
Agar tidak sia2 amal *“bagaikan debu diatas batu licin terkena hujan…….”* seperti disebutkan pada surat Al-Baqarah 264 dikutip diatas. Untuk memelihara amal melalui *Medsos* agar tidak terjebak kedalam *Riya digital* agaknya perlu diperhatikan:
*Pertama; Luruskan niat* Hanya karena Allah semata, sebelum konten di publish. Perhatikan, apakah dalam redaksinya mengandung membanggakan diri. Saat akan memposting ceramah2 atau artikel dakwah2, hendaklah didengar ulang, dibaca berulang-ulang untuk dipertimbangkan dengan teliti apakah ada pihak yang akan tersinggung.
*Kedua; bijak menerima komentar*, dalam hal dapat komentar positip, ucapkan *Alhamdullah* , jangan sampai terbetik dihati perasaan bangga, dalam hati bersyukur dan berdo’a semoga bermanfaat. Dalam hal mendapatkan koreksi atau ekstrimnya cercaan, juga sepanjang dapat diberikan penjelasan, berikanlah penjelasan diikuti dalil yang cukup. Jika komentar bukan seketar koreksi dan kritik tetapi sudah bersifat *tidak suka*, untuk group atau orang tsb. tak perlu dikirimi lagi, menghindari *perdebatan yang tidak perlu*, seperti ayat dikutip diatas.
*Ketiga; hindari membicarakan keburukan pihak lain*, baik secera terselubung apalagi secara terang-terangan.
*Keempat; segera bertaubat*, jika terlanjur, tidak sengaja melakukan kesalahan, atau terselip rasa sombong, rasa bangga diri, merendahkan pihak lain segera beristighfar dan memohon ampun.
Ya Allah tolonglah kami semua dalam beramal memanfaatkan anugerah-Mu melalui tersedianya MEDSOS ini, agar tidak terjebak *Riya Digital*
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 4 September 2026/23 Rabiul Awal 1448 H.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment