Wednesday, 21 October 2026
Bagaimana Yang Terakhir
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.447.03.10-2026
Tiga sahabat lama teman es em aa semasa di kampung, janjian bezook seorang teman sekelas yang kini sedang dirawat dirumah sakit. Pas tiba di area parkir berkumandang adzan di masjid komplek rumah sakit. *Kalau begitu kita shalat ashar dulu nanti baru menuju kamar*, ujar salah seorang. Dua orang rekan yang penumpang mobil, begitu keluar dari mobil menunggu tak jauh dari mobil, bermaksud bertiga bersama menuju masjid. Ternyata yang pegang kemudi setelah turun dari mobil katakan *kalian berdua duluan saja, saya kesana dulu…. sambil nunjuk suatu arah*.
Usai shalat, kedua temannya (sebut saja si A dan si B) sambil mengenakan sepatu, toleh kiri – toleh kanan – toleh sekitar, teman yang satunya tidak tampak, mereka berduapun langsung melangkah menuju gedung rumah sakit, rupanya dianya (sebut saja si C) sudah duduk santai di lobby. Kesimpulan bahwa satu teman mereka ini si “C” tidak ikutan shalat ashar. Padahal shalat ashar demikian pentingnya sehingga di Al-Qur’an tertulis surat Al-Baqarah ayat 238:
حَٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ وَقُومُوا۟ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ
_*” Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.”*_
Dua temannya yang baru saja shalat ashar, masing2 membhatin, dengan isi bathin yang berbeda. Si “A” mbhathin *kesihan kawanku satu ini, sudah usia diatas 40an masih belum shalat*. Sedang si “B” mbathin *semoga di akhir hidup sobatku ini jadi orang yang taat*.
Puluhan tahun kemudian, setelah mereka usia diatas kepala tujuh, masing2 sudah punya cucu, diperoleh kabar kenyataan si “C” sangat taat beribadah, hidupnya tidak jauh dari masjid. Bahkan ikut jadi panitya membangun masjid, rupanya bathinan si “B” di ijabah Allah.
Dalam agama Islam, yang *terpenting bukan hanya bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi juga bagaimana ia mengakhiri hidupnya*. Boleh jadi seseorang terlahir belum beragama Islam, tetapi setelah dewasa, setelah akhir hayatnya menjadi penganut agama yang taat bahkan menjadi da’ie. Kita berharap dapat menutup usia dalam keadaan beriman, bertobat, memperbanyak amal shaleh, dan mendapatkan ridha Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.
Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
_*“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada penutupnya.”*_ (HR. Bukhari)
Akhir kehidupan memiliki arti yang sangat penting. Namun, kita tidak boleh menunggu tua atau mendekati kematian barulah taubat, barulah menjadi shaleh. Sebaiknya kita mulai memperbaiki diri sejak sekarang, karena tidak seorang pun mengetahui kapan ajalnya tiba.
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَآءَ اَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَةً وَّلَا يَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ٣٤
_*”Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”*_ (Al-A’raf 34)
وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَا ۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَࣖ ١١
_*"Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."*_ (Al-Munafiqun 11)
Kondisi akhir hayat seseorang merupakan penentu utama keselamatan di akhirat, meninggal dunia dalam keadaan beramal shaleh ini disebut sebagai *Husnul Khatimah* (akhir yang baik). Sangat terkenal satu ayat sering dibaca khatib Jum’at:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
_*”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”*_ (Ali-imran 102)
*Ayat diatas; Allah secara tegas melarang hamba-Nya wafat kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri dan beramal shaleh)*
Populer hadits Imam Bukhari menjadi landasan utama mengenai amal terakhir menentukan nasib di akhirat,
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
_*“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.”*_ (HR. Bukhari, no. 6607)
Di artikel singkat ini, hendaklah bilamana melihat: teman kita, tetangga kita, saudara kita belum tergerak untuk taat beribadah, hendaklah ikuti cara mbatin salah seorang sahabat es em aa yaitu si “B” dengan mbathin merupakan do’a
; *“semoga di akhir hidup sobatku ini jadi orang yang taat beribadah”*, tak usah mbathin seperti teman es em aa si “A”: *kesihan kawanku satu ini, sudah usia diatas 40an masih belum shalat*, karena yang menentukan adalah amalan di akhir hayat.
Seindah-indah perjalanan hidup adalah ketika kita menua dalam kebaikan, semakin dekat kepada Allah, dan wafat dalam husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik).
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ عَوَاقِبَ أُمُورِنَا خَيْرًا
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ
رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ... تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ وَلَا تَخْتِمْ عَلَيْنَا بِسُوْءِ الْخَاتِمَةِ
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 21 Oktober 2026
11 Jumadil Awal 1448 H.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment