Thursday, 15 December 2011

ANDA GENERASI TERJEPIT???

Setiap generasi ada identitas sendiri yang lain dengan generasi sebelum dan juga berbeda dengan sesudahnya, hanya saja jarang orang yang memperhatikan sekat pembatas pertanda antargenerasi tersebut. Kadang orang tua mengarahkan anak mereka kurang memahami berbeda zaman tersebut, masih saja menerapkan teknik mengarahkan anak dengan pola yang diterima ketika ia masih kanak-kanak dulu, warisan orang tuanya. Itu sebabnya tidak jarang antara orang tua dan anaknya jadi “berseteru”.

Salah satu beda zaman generasi kita dengan generasi sekarang, mulai dari pola makan, pola berpakaian, pola tidur dan belajar, pola berkendaraan, nilai menempatkan orang tua menempatkan anak dan anak menempatkan orang tua.

Pola Makan

Sebagaian besar suatu keluarga generasi dahulu, tahun enampuluhan, ayah adalah sebagai pencari nafkah utama, sehingga oleh isterinya (ibunya anak-anak) segala sesuatu yang enak-enak dari makanan dan minuman diutamakan untuk sang ayah. Kemudian barulah didistribusikan untuk anak-anak mereka yang pada umumnya jumlahnya banyak rata-rata di atas lima orang. Sedangkan sekarang pencari nafkah tidak lagi dimonopoli oleh sang ayah, ibu juga ikut berpartisipasi mencari nafkah, tidak jarang justru ibunya anak-anak penghasilannya lebih besar dari si ayahnya anak-anak. Pola makan dan minum, orang tua sekarang mengutamakan anak-anak mereka, termotivasi agar anak-anak tumbuh dengan baik, dengan gizi tinggi agar mereka berprestasi di sekolah dan kelak menjadi anak yang unggul. Anehnya kadang anaknya pula yang enggan makan yang enak-enak, serba ndak suka, tak jarang orang tua mereka harus memperhatikan/mengawasi makanan anaknya. Zaman dulu yang dimakan susah diperoleh, zaman sekarang malah makanan tersedia anaknya pula yang tak berselera, kalau agak dipaksa anak jadi merasa terlalu diatur, merasa tidak membiarkan anak jadi mandiri.

Pola berpakaian

Generasi rumah tangga tahun enam puluhan, seorang anak rata-rata hanya punya pakaian dua jenis pakaian, yaitu satu stel pakaian sekolah dan satu stel lagi pakaian untuk di rumah. Pakaian sekolah begitu pulang sekolah langsung di tukar dengan pakaian rumah untuk dipakai kembali esok, tak jarang sampai lusa atau seminggu. Sekarang pakaian anak-anak sudah selemari, sampai susah untuk menyimpannya. Pakaian layu sedikit sudah ganti, jangankan lagi memakai pakaian yang sedikit agak tambalan atau tisikan seperti zaman anak-anak tahun enam puluhan, sedangkan pakaian terkena noda tinta yang sulit dihapus saja anak sekarang sudah tidak mau memakainya.

Pola tidur dan Belajar

Listrik di era tahun enam puluhan, masih terbatas, keluarga kebanyakan menggunakan penerangan pelita di waktu malam, sehingga rata-rata tidur di bawah pukul sembilan malam, sedangkan anak sekarang, di samping memang banyak tugas dari sekolah, juga adanya TV dan penerangan yang rata-rata sudah pakai listrik, maka tidur di atas pukul sepuluh malam, kadang ada juga yang pergi belajar berkelompok dan pulang sudah jauh malam. Disini orang tua harus ekstra hati-hati memantau anaknya yang belajar di luar rumah, harus ada koordinasi sesama orang tua group anak kita belajar, agar dapat saling mengawasi. Di zaman kini setiap orang tua ingin agar anaknya dapat meneruskan sekolah setinggi-tingginya, anak harus pintar dari ortunya. Dulu sebaliknya ada diantara ortu yang tidak mau anaknya disekolahkan, walau sekolah waktu itu gratis. Guru waktu itu sangat berdedikasi untuk mencerdaskan anak bangsa. Ingat saya waktu masih di kelas empat SR, kawan saya sekelas umurnya sudah enambelas tahun. Pintar anaknya. Suatu hari kelas kami kedatangan tamu, langsung mengajak Jayadi kawan sekelas saya itu pulang. “Kau enak-enak di sini main petelot, ayah setengah mati main cangkul” itu antara lain redaksi si ayah teman saya itu mengajak anaknya pulang. Pak guru kami sungguh arif, langsung si anak dipersilakan pulang. Belakangan setelah selesai musim tanam padi, si Jayadi datang lagi ke sekolah, memang dia anak pintar, akhirnya atas kebijakan sekolah sampai dia di kelas enam SR dan ketika ujian akhir SR (waktu itu sudah nasional juga seperti sekarang), teman saya itu lulus. Selanjutnya entah kemana dia yang jelas kami tidak ketemu lagi di esempe yang hanya satu-satunya di kabupaten kami. Bukan hanya Jayadi yang punya nasib seperti itu, ada lagi teman sekelas agak dua minggu tak muncul. Salut saya guru waktu itu, disuatu hari Minggu ia mendayung sampan menuju ke kediaman si Rozi teman saya itu, dengan ditemani dua orang teman sekelas. Rupanya negosisasi dengan orang tua Rozi agar anaknya tetap disekolahkan. Entah apa isi pembicaraan beliau, beberapa hari kemudian teman saya itu juga bersekolah kembali sampai tamat sekolah SR. Itu sekilas perjuangan pak guru di zaman itu, masih adakah di zaman sekarang?.

Pola berkendaraan

Jauh sekali mobil, sepeda motor saja tahun enampuluhan barang kelewat mewah untuk ukuran kabupaten di kelahiran saya. Punya sepeda kumbang sudah termasuk orang yang berpunya. Sepeda hanya kendaraan ayah, si anak paling disuruh untuk mengelap/membersihkan jika sepeda kena lumpur di jalan becek, waktu itu belum beraspal. Ke sekolah jalan kaki sebagian besar belum beralas kaki. Sepatu mahal benar ukuran daya beli waktu itu, sebab itu tidak terlalu dipentingkan dan sekolah juga tidak mempermasalahkan anak didik mereka ngaki ayam (istilah setempat) nyeker istilah umumnya. Sekarang itu alhamdulillah anak-anak kita punya sepatu lebih dari sepasang. Lain sepatu sekolah, lain sepatu olah raga, lain pula sepatu kalau kondangan, lain sepatu sepak bola. Anak-anak sekarang sepatunya lusuh sedikit saja sudah minta ganti. Sungguh terjadi, apa karena teman saya itu terbiasa hidup hemat semasa kecil, ketika ujian pejabat di institusi saya bekerja dulu, sol sepatu bagian bawahnya sudah lobang aus dimakan jalan. Lulus pula ujian wawancara jadi pejabat dengan pakai sepatu lobang tersebut bahkan ybs sampai jadi pemimpin cabang.

Posisi orang tua dan anak

Anak dulu, orang tua adalah idola mereka, patuh tunduk kepada apa saja yang diarahkan orang tua. Orang tua sekarang memposisikan anak mereka sebagai mitra. Tidak jarang anak diajak tukar pendapat. Konsekwensinya sering juga anak membantah terang-terangan terhadap orang tua mereka. Bila dulu, kalaupun membantah tak berani terang-terangan,

Posisi banyak orang tua kini yang sekitar enampuluhan jadi anak.

Dari kenyataan di atas jelaslah sebagian besar orang tua kini yang pada tahun enampuluhan masih sebagai anak, merupakan generasi terjepit sebab:

1. Ketika masih anak-anak, dari sudut makanan keadaan mengharuskan mengutamakan orang tua, sedang sekarang setelah menjadi orang tua tuntutan zaman mengharuskan mengutamakan anak.

2. Masa kanak-kanak, banyak diantara orang tua sekarang ini, karena perekonomian masa itu pakaian hanya sepersalinan. Kalau punya sepatu sudah hebat punya sepasang. Setelah menjadi oang tua, kalau perlu tidak beli baju asal anak dapat berpakaian baik, dapat setara dengan anak orang lain.

3. Kadang orang tua, ikut masih harus terjaga, kalau anak-anak mereka harus belajar dalam menempuh ujian atau test yang sering di sekolah. Ibu atau ayah ikut membantu menyelesaikan PR anak-anak mereka. Sementara di zaman diri masih anak-anak, malam langsung tertidur karena gelap dan orang tua kebanyakan tak ikut campur urusan belajar anaknya. Bahkan ada diantara orang tua mencegah anaknya sekolah seperti ceritanya dipetik di atas.

4. Bila kebetulan tidak begitu berada, hanya punya sebuah mobil. Kadang si bapak mengalah bila anaknya karena sesuatu ke tempat kuliah harus memakai mobil. Biarlah Bapak naik bis umum. Dulu ketika masih kecil yang boleh makai sepeda hanya ayah, diri ke sekolah jalan kaki.

Posisi terjepit ini ialah ketika masih kecil di posisi yang harus mengalah, sementara ketika sudah jadi orang tua juga kembali dalam posisi yang harus mengalah lagi. Kapan menangnya. Begitulah generasi anak-anak di era enampuluhan yang kini sempat jadi orang tua adalah generasi terjepit.

Sunday, 4 December 2011

TUTUP BOTOL

Nilai indah itu ternyata tidak sama antargenerasi. Bila anda masih punya photo angkatan orang tua kita dulu, mereka berpose disamping sepeda ontel dengan topi lebar baju lengan panjang yang digulung di atas siku sementara celananya bagian atas kelihatan besar kerena banyak lisu (wiru/ploi). Ada lagi photo dengan pose tangan kiri atau tangan kanan telapak tangan menempel di bahu, rupanya yang bersangkutan ingin memperlihatkan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Itulah nilai keindahan di era mereka.

Sejurus ada rasa keindahan itu dilambangkan dengan gigi emas, kadang penuh gigi berselaput emas. Pemilik gigi jadi murah senyum, berbicara senang berdesis, seperti mengucapkan kada “Pedas”, “Panas” tuntas dan lain-lain, agar gigi emas dapat terlihat jelas.

Patut diduga bahwa nilai keindahan kita sekarang ini yang terekam photo, nun duapuluh, tigapuluh tahun yang akan datang mungkin memancing senyum generasi yang akan datang.

Sekitar tahun tujuh puluhan, seorang anak teman saya baru pulang dari kota, ketika libur sekolahan, terlihat orang tuanya ada keneahan asesoris dandanan anak lelakinya itu. Di lehernya menggelantung kalung rantai kecil dengan buah kalung semacam lingkaran dari logam. Sebagai orang tua, teman saya tadi menanyanakan kepada anaknya: “Kenapa kau pakai kalung model perempuan”. Dengan cepat si anak menjawab “Di kota oarng semua pakei gini pah”.

Dua hari lagi liburan sekolah selesai, tugas rutin ayah mengantar anaknya ke sekolah berjarak kurang lebih 4 km dari kediaman mereka dengan sepeda ontel.

Kamarin ayah si anak, diam-diam membuat bandulan kalung dengan memanfaatkan bekas totop botol kecap yang ada di dapur. Tutup botol kecap dipukuli hati-hati dengan martil dilandasi belakang kampak. Berhasil juga, tutup botol kecap jadi bulat dan lumayan lebar dan indah. Pekerjaan selanjutnya di pinggir lingkaran tutup botol dilobangi untuk memasukkan tali buat dikalungkan ke leher. Tali sepatu bekas, rupanya cocok juga buat pelengkap liontin tutup botol kecap tersebut.

Ketika akan mengantar anak keesokan harinya tak lupa si ayah mengenakan kalung tersebut, dengan setelan kancing baju dibuka satu, agar jelas kalung terlihat. Betapa kagetnya si anak ketika akan betangkat ke sekolah, melihat ayahnya memakai kalung. “Ayah, kenapa pakei kalung seperti itu”. Pekik si anak. Ayah menjawab: “ayah juga pengen ikut mode sekarang, katamu semua orang di kota pakei kalung”. “Jangan begitulah yah, malulah saya dilihat teman-teman”. Akh, Ayah ndak malu dengan teman-teman ayah, anaknya pakai kalung, kenapa pula kau malu. Ayah menimpali. Udah kalau begitu saya buka kalung saya, biar ayah yakin saya ndak memakainya ini saya serahkan Mamah. tegas si anak. Ayahnyapun tanpa diminta si anak langsung mencopot kalungnya dan memasukkan kalung ke dalam saku. Berangkatlah mereka kesekolah sebagaimana biasanya.

Si ayah diilhami suatu peristiwa, ketika Rasulullah Muhammad s.a.w. urung melaksanakan umrah, setelah selesai menanda tangani perjanjian Hudaibiyah. Nabi memerintahkan kepada seluruh sahabat untuk tahallul, yaitu mencukur rambut dan memotong hewan qurban. Karena perintah belum digubris sahabat, dengan ekspresi wajah kesal beliau masuk ke kemah. Isteri beliau memahami kekesalan Nabi dan mengetahui duduk perkaranya, memberikan saran, agar Nabi melaksanakan lebih dahulu tahallul dan memotong hewan qurban. Kontan seluruh sahabat yang serta di perjalanan umrah yang tak jadi itu, mengikuti jejak belau bertahallul dan memotong hewan qurban. Walaupun masalahnya tidak sama persis dengan itu, si ayah menerapkan tehnik perintah kepada anaknya dengan peragaan phisik, dengan perbuatan langsung dan ternyata effektif.

Begitu pulalah hendaknya, seorang juru da’wah adalah akan diikuti banyak orang yang di da’wahinya bila dalam keseharian yang bersangkutan memberikan contoh dengan sikap dan perbuatan yang nyata, sesuai pesan da’wahnya. Hal yang sama berlaku juga buat pemimpin dalam skala apapun. Bila pemimpin mencanangkan hidup sederhana, maka harus dicontohkan bagaimana model hidup sederhana itu. Jadi se pemimpin harus memulai dari dirinya, jangan bermewah-mewah. Konon katanya presiden Iran yang sekarang Ahmadimezat, beri contoh hidup sederhana mulai dari mobil, tempat tinggal sampai walimatunnikah anaknya.

Saya pernah alami di suatu cabang instutusi saya berdinas dulu, ada pemimpin yang hanya pakai mobil dinas untuk keperluan dinas. Selesai jam kantor kalau mobil-mobil milik kantor tidak dipakai urusan dinas di parkir di kantor. Bila ada arisan pejabat institusi saya itu, yang bersangkutan membawa mobil pribadi, kadang nyetir sendiri, kalau bawa sopir kantor di beri honor dari saku pribadi. Yang terjadi adalah semua pejabat bawahannya tidak ada yang menggunakan mobil dinas untuk urusan kantor. Penghematan BBM dan perawatan mobil banyak sekali. Jangan dikira semua orang suka dengan pemimpin ini. Ada yang komentar sok suci dan pokoknya banyak juga yang benci, terutama bagi pejabat yang sebelumnya sering menggunakan mobil dinas untuk keperluan pribadi.

Monday, 28 November 2011

UKURAN KEREN DARI ZAMAN KE ZAMAN

Tempo doeloe waktu diri ini masih kecil, sering ikut ayah ke pedalaman ketika beliau turney menjalankan tugas sebagai “juru penerangan”. Di laman Dayak (laman =kampung = Desa), masih banyak nenek-nenek yang telinganya panjang sampai se siku. Rupanya untuk mendesain telinga seperti itu, ujung bawah telinga dilobangi diberi bandul, dengan beban berat secara berangsur-angsur. Perlakuan tersebut dimulai sejak dini, masih anak-anak, agar kelak si anak tumbuh menjadi gadis yang bertelinga panjang. Motif nenek-nenek itu membuat telinganya jadi panjang, karena ketika masih remaja, pada zamannya seorang wanita dinilai cantik, bilamana telinganya panjang.

Waktu kecilku ibuku sering berdongeng mengantar tidur buat anak-anaknya, maklum waktu itu belum ada TV. Tokoh dongeng cantik; apabila si gadis tinggi semampai mempunyai kulit mulus warna kuning langsat, pipi pauh dilayang, bibir bak delima merkah, rambut panjang terurai sehingga betis, leher jenjang (maksudnya panjang) bagaikan angsa. Kayak-kayaknya gadis seperti dongeng itu sekarang bukan mode lagi. Tapi itulah ukuran keren pada zamannya. Kulit si masih OK, tapi kalau pipi pauh dilayang (tepung dijemur di atas nyiru) sekarang sudah tidak cantik lagi. Bila si gadis punya bibir seperti delima merkah, kita jadi ngeri, delima merkah bergerigi, Rambut yang panjang sampai betis juga dipandang sudah tidak indah lagi, bahkan akan merepotkan. Apalagi leher kalau panjang, di zaman sekarang mungkin menakutkan.

Di bawah tahun enampuluh limaan, ukuran keren buat siswa esempe bila kerah baju diberdirikan, kancing baju dibuka dua atau tiga dari atas, ujung baju di ikat. Bukan main gayanya kalau sudah begitu jalannyapun digagah-gagahkan. Itu ukuran keren zaman itu. Sementara pemudanya sebaya SMA kala itu, pakai celana panjang ujung kakinya lebar sekali bisa dimasuki sekitar empat ekor anak kucing. Sekali lagi itulah ukuran keren di zaman itu.

Sejurus belakangan ini ada ukuran keren pemuda, kalau pakai anting dua buah di salah satu telinga. Itu anak laki-laki lho, lubang telinganya ada di satu daun telinga. Pernah kutanyakan motif yang bersangkutan memakai anting-anting berbentuk melingkar seperti cincin itu. Mereka tidak dapat menjelaskan dengan tepat dan konkrit, “pokoknya lagi mode aja om” kata mereka.

Berbeda dengan Kaie saya di pedalaman, ketika saya tanyakan: “Kenapa kaie selalu memakai cincin emas” beliau dapat memberikan alasan yang sungguh masuk di akal saya. “Kaie” adalah panggilan untuk orang tua lelaki dari ayah termasuk yang setara dengan orang tua ayah semisal saudara dan saudara sepupu ortu ayah. Kalau orang tua perempuan atau setara dengan orang tua perempuan ayah seperti saudara-saudara, saudara sepupu ortu ayah yang perempuan dipanggil “Nyaie”. Panggilan begini digunakan oleh kalangan masyarakat “dulunya merasa berdarah biru”.

Si Kaie tinggal di pedalaman, dulu sebelum lancar transportasi untuk mencapai kota kabupaten dari kampung Kaie waktu tempuh sekurangnya dua malam dengan perahu. Sekarang dengan telah dibuka jalan darat dapat ditempuh sehari perjalanan. Sudah terbiasa kalau bepergian ke kota kabupaten menginap dirumah famili. Itulah alasan si Kaie kenapa terpasang cincin emas di jarinya. “Jika Kaie abis umur tiba-tiba, maklum ayah mpu (kamu) tempat ku menginap belum tentu selalu ada sedia duit. Cincin Kaie kan dapat dijual sekurangnya buat beli kafan”. Itu alasan si Kaie. Alasan itu kucoba hubungkan dengan pemuda yang kutanya memakai anting di telinganya, apakah ada kaitan, apakah jika kebetulan kehabisan bensin motor dalam perjalanan dan kebetulan di dompet ndak ada duit dapat dijadikan tanggungan ke penjual bensin. Ternyata pemuda yang kutanya menjawab: “nggak bisa om, karena ini kalau dijual nggak ada harganya bukan dari emas”. Pikirku kalau begitu lebih realistis dan logis Kaie yang sudah “ashar” itu dari pada si pemuda yang masih “fajar”.

Tuesday, 15 November 2011

NGEMAS DAN OJEK MAYAT

Ngemas, kedengaran suatu tautan kata yang agak janggal dan dapat diplesetkan menjadi berkemas kausa kata merapikan. Rupanya di daerah tertentu di suatu pulau di Republik ini “ngemas” adalah istilah untuk sekelompok orang yang aktivitasnya mendulang emas. Mencari emas secara tradisional dengan peralatan sederhana, alat canggih paling banter mesin penyedot lumpur.

Pantun lama yang belum terlalu usang:

Sudah banyak kutanam padi

Nenas juga tanam di pematang

Sudah banyak kutanam budi

Emas juga dipandang orang

Pantun ini dapat juga dipandang sebagai nasehat, dapat juga dipandang sebagai motivasi dan bahkan dapat juga sebagai wujud frustasi dan ketidakikhlasan.

Sebagai nasehat:

Memandang seseorang jangan hanya kepada harta dan kedudukan saja, tetapi disindir oleh pantun itu bahwa yang berkelakuan memandang hanya pada harta adalah kebanyakan orang tetapi orang-orang yang baik (berbudi pekerti luhur) adalah orang yang sebaliknya dari pantun itu, yaitu orang yang pandai menghargai budi baik orang.

Petuah singkat orang tua rumpun melayu:

Yang merah itu saga

Yang burik itu gundi

Yang indah itu bahasa

Yang baik itu budi

Orang akan digolongkan supan santun apabila yang meluncur dari lidahnya berupa bahasa, adalah kata-kata yang indah, menyenangkan untuk disimak dan tidak pernah menyakitkan hati pendengarnya. Adapun yang baik itu adalah budi. Budi pekerti yang luhur akan menjadi kenangan sepanjang masa bahkan mengenai budi baik ini terkenal pantun orang melayu:

Pulau pandan jauh ketengah

Gunung Daik bersesun tiga

Hancur badan dikandung tanah

Budi baik dikenang juga

Sebagai motivasi:

Bahwa manusia itu harus secara gigih berusaha agar mempunyai harta dan kedudukan yang baik di dalam masyarakat, karena masyarakat kebanyakan pandangannya materialistis, tidak menghargai orang hanya dengan budi termasuk budi pekerti baik. Kadang budi baik itu dengan mudah dikalahkan dengan tukaran harta (dilambangkan dengan emas).

Banyak kasus, ada dua pemuda yang ingin mempersunting seorang gadis. Pemuda yang satu berbudi pekerti baik tetapi tidak berharta, sementara pemuda satunya budi pekertinya biasa saja dan mungkin kurang baik tetapi hartanya banyak. Biasanya yang berhasil mempersunting si gadis adalah yang berharta banyak.

Sebagai wujud frustasi dan ketidakihlasan.

Bilamana budi baik telah dilakukan,

Tidak seorangpun menghargakan,

Kebaikan itu selalu masuk dipikiran

Disitulah keikhlasan dipertanyakan.

Jadi bila seseorang melakukan kebaikan, seyogyanya ia tidak perlu memikirkannya lagi untuk mendapatkan penghargaan, jika pikirannya tertuju untuk mendapat penghargaan maka jelas kadar keikhlasan kebaikan itu patut dipertanyakan. Keikhlasan dalam berbuat kebaikan, membuat orang tidak kecewa. Bila kebaikan itu dilakukan untuk mendapat penghargaan, banyak berujung kepada kekecewaan.

Kembali ke soal emas, adalah logam mulia yang diburu orang sudah cukup lama semenjak bumi ini tercipta di mana ada manusia mulai berperadaban. Jujur saja, saya jika ditanya mengapa emas diburu orang, saya juga belum dapat menjawab yang memuaskan diri saya, apalagi untuk menjawab yang memuaskan orang lain. Emas tidak dapat dimakan, emas tidak juga dapat dibuat pakaian untuk fungsi melindungi tubuh. Malah ibu-ibu yang gemar memakai emas sebagai perhiasan, dikota-kota besar justru membahayakan dirinya. Sementara dapat saya jawab saja bahwa ada kesepakatan manusia bahwa emas itu logam yang dimuliakan, karena itu harganya mahal, mendapatkannya pun tidak gampang. Tak jarang manusia bertaruh nyawa untuk mendapatkan emas. Sering kita mendengar para penambang emas terperangkap di dalam lubang penggalian batuan mengandung emas, tertimbun longsor.

Walau sering kali terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa, jika ada lahan pertambangan emas, akan berdatangan orang mengadu untung untuk ikut bergelimang tanah, batu dan lumpur mencari logam mulia tersebut. Jika ada rombongan yang mendapatkan emas, kejadian itu memotivasi penambang lainnya untuk bekerja lebih keras, kadang melupakan keselamatan kerja. Pengadu untung kadang bukan saja dari daerah setempat, tetapi berdatangan jauh ratusan kilometer dari lahan pertambangan. Jika lokasi pertambangan dikelola rakyat bukan oleh perusahaan secara besar-besaran, kelaziman yang terjadi bahwa penduduk daerah pertambangan menjadi pemilik lahan pertambangan dan tenaga kerja mengundang dari daerah lain ratusan kilometer jaraknya itu.

Ada semacam kesepakatan, sejauh ini mungkin tidak tertulis, bahwa apabila terjadi kecelakaan kerja misalnya salah seorang penambang meninggal dunia, jenazah yang bersangkutan harus dipulangkan ke kampung asalnya, risiko dan biaya tanggungan pimpinan kelompok atau pemberi kerja. Di pertambangan rakyat di suatu desa terpencil di suatu daerah di salah satu pulau negeri ini, dimana belum tersedia jalan yang memadai sehingga layak dilalui roda empat. Kendaraan roda dua menjadi andalah angkutan. Bila terjadi kematian dipertambangan, maka pengantaran jenazah ke tempat asalnya menggunakan ojek sepeda motor. Ratusan kilomoter jenazah digonceng pengojek, dengan tarif jutaan rupiah. Tarif yang lumayan itu, dinilai wajar, karena membonceng mayat tidak dapat diperlakukan sama dengan manusia masih hidup. Kekhususannya meliputi teknik dan waktu pelaksanaannya, serta kendala dalam perjalanan.

Teknik menggonceng jenazah

Jenazah di dudukkan di sadel belakang layaknya manusia masih hidup. Si mayat dipakaikan jaket, kacamata hitam. Hal ini dilakukan dengan maksud, agar tidak mencurigakan siapapun yang kebetulan terlihat ke sepeda motor yang lewat, termasuk jika ada melintasi polisi. Pokoknya diusahakan sedemikian rupa agar pihak lain tidak mengetahui bahwa yang digonceng adalah mayat. Agar si mayat stabil duduknya di bagian belakang sepeda motor, tangannya diikatkan merangkul pembonceng. Maklum perjalanan ratusan kiliometer dengan waktu tempuh kadang 6 sampai 8 jam dengan kondisi jalan sepi dan jauh dari mulus. Jika dalam perjalanan pengojek perlu istirahat, misalnya kencing atau ada keperluan sesuatu, secara perlahan ikatan tangan si mayat dilepas, sepeda motor diistirahatkan agak ke pinggir jalan dengan standar tegak. Sementara agar tidak jatuh tangan si mayat yang tadinya merangkul pinggang pembonceng, dialihkan ke stang. Bukan tidak pernah terjadi konon, sesosok mayat ketika ditinggal pengojek yang kebetulan punya keperluan buang air besar ke pinggir kali, ketika akan meneruskan perjalanan penumpangnya sudah hilang entah kemana. Dapat dibayangkan, harus mencari ke mana di belantara yang begitu senyap. Yang dilakukan pengojek segera stater sepeda motor tancap gas mencari kampung terdekat, tentu tidak lapor ke kampung yang didatangi menjelang siang. Sebab pengojekan mayat begini, suatu pekerjaan yang sejatinya sembunyi-sembunyi. Laporan baru disampaikan ke pengorder,setelah kembali ke lokasi pertambangan. Bagi pemula kegiatan ojek jenazah ini ditangani tiga orang. Seorang pengojek yang langsung ketumpangan mayat, sementara dua orang lagi ikut dalam perjalanan dengan sebuah sepeda motor lain. Ketiga kru ini bergantian memegang kemudi motor yang ada mayatnya itu. Honor tentu harus dibagi sesuai peran masing-masing, itu sebabnya bagi yang sudah berpengalaman lebih senang beroperasi sendiri.

Waktu perjalanan ojek jenazah

Waktu pemberangkatan jenazah biasanya dilakukan dipokok malam, dari lokasi pertambangan, dengan maksud agar dalam perjalanan tidak berpapasan dengan banyak orang, terutama menghindari diketahui pihak keamanan, sebab nanti jika diketahui akan banyak persoalan, temasuk penelitian sebab kematian dan lain sebagainya. Kebanyakan pengusaha pertambangan tradisional tidak mau ribet soal prosedur ini. Yang penting seluruh rombongan mengetahui bahwa si mayit meninggal karena kecelakaan. Pengawasan aparat belum dapat merambah sampai ke lokasi pertambangan di sudut terpencil di belantara itu. Dijadualkan keesokan harinya, kalau dapat dini hari, jenazah sudah sampai kekeluarga di kampung halaman asal si mayit. Beruntung sekarang sekurangnya di beberapa lokasi di belantara, ada tempat dapat sinyal untuk menyampaikan berita duka tersebut kepada keluarga. Ketika si mayat datang sudah dipersiapkan segala peralatan oleh sanak keluarga dan kerabat mereka di kampung., guna prosesi pemakaman. Pihak keluarga sudah maklum, sebagaimana maklumnya pimpinan rombongan memberikan semacam uang duka.

Kendala dalam perjalanan

Jarak tempuh yang jauh dengan kondisi jalan yang belum beraspal kadang becek dan tidak rata. Tambahan lagi melalui hutan belantara, belum banyak perkampungan yang dilalui, jika terjadi hal-hal dalam perjalanan, sulit sekali untuk meminta bantuan. Sementara itu perjalanan ini sedikit agak sembunyi, karena kalau dalam perjalanan menemukan aparat keamanan, akan sulit menjelaskan tentang penumpang yang dibonceng, tidak berbekal secarik kertaspun tentang riwayat kematiannya.

Begitulah potret sebagian kehidupan penduduk negeri kita ini, untuk bertahan hidup di negeri yang terkenal kaya-raya aneka sumber daya alam ini, kadang harus menjadi manusia pemberani, harus jadi manusia nekad. Tidak kurang yang memilih mengadu nasib di negeri orang, banyak kita dengar mengalami nasib kurang baik, disiksa, tidak dibayar upah, mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Apa hendak dikata di kampung sendiri susah mencari hidup. Sementara sebagian kecil bangsa ini hidup dengan kemewahan dan kesenangan, dengan kemudahan pelbagai fasilitas, diantaranya didapat dengan jalan yang tidak benar, melalui korupsi, melalui suap melalui penyalahgunaan jabatan. Jikalah semua terkelola dengan baik, semua kekayaan alam dikelola oleh negara untuk kemakmuran rakyat, antara lain tidak akan ada bangsa ini yang menjadi kuli kebun sawit di negeri orang. Mengapa anak bangsa ini justru memilih jadi kuli kebun sawit di negeri orang, padahal kebun sawit di negeri ini tidak kurang-kurang. Harga sawit dunia kan sama dari manapun diproduksi, kenapa di negeri orang sanggup menjanjikan upah yang lebih pantas, dibanding upah di negeri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat sulit untuk menjawabnya. Silahkan para pembaca mungkin tau jawabannya.