Sunday, 25 December 2011

NASIB RAKYAT SEJAK DAHULU

Belum lama ini di tahun 2011, tergulinglah presiden Mesir Husni Mubarrak setelah puluhan tahun menjadi penguasa mesir. Untuk menggulingkan presiden Mesir itu bukan sedikit pengorbanan rakyat, banyak yang mati dan luka berat, tidak mustahil mati menjadi korban ketika berdemonstrasi. Setelah Husni Mubarrak jatuh, kembali rakyat menjadi korban lagi oleh penguasa yang menggantikannya. Berbagai media mewartakan sampai tulisan ini diturunkan sudah belasan orang yang kehilangan nyawa. Begitulah nasib rakyat tetap saja tidak enak.

Di zaman silam, rakyat Mesir juga bukannya hidup enak, karena merekalah yang menjadi pekerja, diperas keringatnya untuk kesejahteraan para penguasa mereka yaitu para raja. Bahkan sampai rajanya mati juga rakyat mesir harus banyak yang ikut mati dengan menderita, membuatkan pemakaman raja yang mati itu berupa piramida. Membangun sebuah piramida bukan hal yang ringan, tenaga rakyatlah yang dikerahkan untuk mengangkut bebatuan, tidak sedikit harus menemui ajalnya, dana rakyatlah yang dihimpun untuk biaya pembangunan.

Di negeri ini, rakyat di zaman penjajahan ditindas habis-habisan oleh penjajah. Sebelumnyapun bukan sepenuhnya enak, harus hidup miskin dan membayar upeti kepada raja-raja. Sementara di zaman penjajahan sebagian besar raja-raja bahkan hidup enak menjadi perpanjangan tangan penjajah, atau sengaja dikondisikan oleh penjajah hidup mewah supaya tidak menentang penjajah.

Sebagai puncak penderitaan, rakyat rebut kemerdekaan dengan mengorbankan jiwa dan seluruh kemampuan yang ada, banyak rakyat menderita dan menjadi korban untuk memerdekakan bangsa ini. Setelah merdeka yang namanya rakyat tetap saja kembali menderita. Cotoh terlihat jelas dengan mata dan terdengar keras di telinga misalkan saja kasus perkebunan dan pertambangan. Pemerintah lebih berpihak kepada perusahaan, ketimbang kepada rakyat jelata.

Lahan yang didiami di kelola rakyat sejak turun temurun, kalah oleh izin yang datangnya dari Pusat. Dari Provinsi dan Kabupaten. Apakah benar atau tidak, katanya konon tanah/hutan negeri ini dibagi dari “ATAS”. Pada hal, sudah berabad lamanya tanah di hutan Kalimantan, Sumatera dan Papua dan pulau seluruh nusantara itu dikuasai bersama oleh nenek moyang, untuk memberi hidup turun temurun. Memang sebagian besar mereka tidak punya secarik kertas tanda kepemilikan sesuai aturan administrasi pemerintahan, tapi mereka punya bukti telah pernah menjamah tanah tersebut, telah pernah berladang huma di tanah itu, bahkan ada tumbuhan yang ditanam oleh mereka, pohon nangka, durian cempedak dan aneka tanaman keras lainnya. Bahkan ada pula yang bertanam karet telah disadap untuk mengasapi dapur selama ini. Ada memang hutan yang tidak ditanami dan dihuni, dihutan ini tempat mereka mencari rezeki untuk memenuhi gizi hewani, banyak dapat diburu kijang dan rusa. Kini kawasan itu telah tiada, tak lagi kita mendengar kicauwan burung sedang bercanda, orang hutan bergelantungan melompat dari pohon ke pohon, habitat mereka sudah porak poranda.

Rakyat di desa pada dasarnya patuh, sayangnya mereka kurang punya akses administrasi. Seharusnya sebelum izin diberikan harusnya proses dari bawah, didata dari dusun dan kampung, terus ke kelurahan dan kecamatan baru ke kabupaten dan ke provinsi selanjutnya ke pusat, agar izin untuk perusahaan tidak menyentuh milik warga. Pendataan hendaklah secara jujur jangan berbumbu rekayasa, misalnya secara formal telah didapat persetujuan penduduk desa, tak kurang tanda tangan dan cap jempol, tertera di atas kertas. Mungkin sudah waktunya pendataan dari bawah tersebut (jika hendak dilakukan) melibatkan pihak yang netral tak punya interest, semisalnya pihak mahasiswa melalui kerja sama dengan perguruan tinggi.

Jika pendataan “kepemilikan fakta” tanah dan hutan dilakukan dari bawah dan dilakukan dengan jujur tanpa rekayasa disaksikan pihak yang netral, tentu tidak akan terjadi lagi tempat jemuran di pekarangan rumah warga yang sudah turun temurun berdiam di tanah leluhurnya itu, jadi masuk lahannya perusahaan. Bila sudah sampai begitu, yang dibawa adalah surat izin, rakyat yang nota bene tidak punya surat bukti kepemilikan itu harus dikalahkan. Pihak penguasa membela kepentingan pengusaha dengan alasan investasi. Dengan alasan sesuai ketentuan yang berlaku. Kembali rakyat menderita termiskinkan atau dimiskinkan dengan sebab perusahaan. Sejak sekolah dasar oleh guru kita diingatkan V.O.C. yang akhirnya menjajah, bermula berusaha di Nusantara ini. Kenapa negeri ini kita jual pada perusahaan. Kenapa negeri yang sudah merdeka ini dibiarkan dijajah lagi oleh perusahaan. Kalau perusahaan adalah perusahaan negara, masih mending rakyat yang masih punya nasionalisme tinggi tidaklah terlalu mengurut dada. Yang terjadi perusahaan asing pula yang mengusainya, atau perusahaan yang dikelola bukan penduduk asli bernenek moyang di negeri ini. Sementara negara hanya dapat remah-remahnya saja. Penduduk setempat hanya menjadi penonton menyaksikan tanah leluhur mereka dibangun kebun, hutan mereka dimusnahkan “raksasa besi”.

Terpulang kita menyerah, memang beginilah nasib rakyat dari zaman ke zaman tetap harus susah, harus miskin. Rakyat tidak dapat mencari nafkah di tanah nenek moyangnya sendiri. Untuk mengobat hati yang lara, kita hanya menghibur diri bahwa kita sebagai rakyat tidak sendiri. Rakyat di belahan dunia lainpun, juga selama menjadi rakyat tetap menderita, salah satu contoh rakyat Mesir, seperti terungkap di awal tulisan ini.

Pinjam istilah orang yang asal ngomongKalau ndak mau susah jangan jadi rakyat”. “Kalau takut ombak jangan berumah di tepi pantai”. Si pengomong lupa bahwa jadi rakyat bukan pilihan, sejak lahir langsung jadi rakyat. Kalau jadi pejabat, adalah pilihan. Satu untungnya jadi rakyat ndak pernah dipecat, bila karena sesuatu pejabat dipecat dari jabatannya bisa kembali lagi menjadi rakyat, sedangkan rakyat kalau dipecat dari rakyat lalu jadi apa. Juga pepatah “Kalau takut ombak jangan berumah ditepi pantai”, benar ada pepatah itu, orang tua dulu mem publish itu pepatah sebagai peringatan tentang risiko. Pepatah tak sesuai buat orang pantai yang sedang dilanda musibah. Berumah ditepi pantai juga bukan pilihan utama mereka, sejak lahir nenek moyang sudah di tepi pantai. Begitu juga sudah dari nenek moyang tinggal di pedalaman di dekat hutan, kenapa hutan yang tempat nenek moyang menyimpan sumber penghidupan itu harus dirampas oleh perusahaan.

Monday, 19 December 2011

BERBUAT BAIK BELUM TENTU DINILAI BAIK

Yakin saya, bahwa bagaimanapun jelek seseorang pasti di dalam hidup ini pernah berbuat baik. Perbuatan baik itu diantaranya termotivasi oleh keinginan dinilai baik, ada juga ingin mendapatkan pembalasan lebih baik, atau setidaknya setara dengan kebaikan itu. Dari bahasa agama, sering ustadz berpesan “Berbuat baik dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan”. Inipun sesungguhnya tidak sepenuhnya benar, sebab juga mengharapkan balasan yaitu keridhaan Allah atas amal kebaikan itu, dengan demikian mengharapkan juga ganjaran dari Allah. Justru disitu letaknya penting niat, yaitu beramal kebaikan karena Allah semata dan mengharapkan pembalasan dari Allah.

Perbuatan baik yang diiringi ingin balasan sesama, atau orang lain di atas kita maupun di bawah kita sering berujung pada kekecewaan. Sebab pembalasan itu kadang tidak sepadan dengan kebaikan, bahkan mungkin tidak mendapatkan pembalasan kebaikan, tak jarang dapat pembalasan yang tidak menyenangkan. Kenyataan ini membuktikan benar tuntunan agama yang disampaikan ustadz bahwa beramal kebaikan dengan ikhlas hanya mengharapkan balasan dari Allah, mesti tidak akan kecewa, setidaknya tidak kecewa selama masih hidup. Di akhirat kita ndak tau apakah amal baik itu dicatat dan diberi pahala, tergantung kadar keikhlasnnya, tetapi paling tidak jika landasan perbuatan baik itu dengan niat mengharapkan balasan Allah semata, didunia ini tidak akan kecewa, misalnya tidak berbalas atau lebih ekstrim lagi bagaikan memberikan air susu tidak akan kecewa kendati dibalas dengan air tuba.

Contoh-contoh perbuatan baik yang mendapat pembalasan ekstrim seperti misalnya:

Seorang pemuda sedang berjalan kaki, lewat dipinggir jalan dilihatnya sebuah sepeda motor tumbang. Tergerak hatinya ingin berbuat kebaikan. Dihampiri motor tumbang tersebut kemudian diberdirikannya. Yang terjadi adalah, justru dia dituduh pemilik yang kebetulan keluar dari gedung atau bangunan, menunju motornya, bahwa si pemuda tadilah yang menumbangkan motornya. Lebih ekstrim lagi bisa saja malah dituduh sipemuda tadi justru akan mencuri motor. Makanya kalau di kota besar orang sering cuek; itu sebabnya. Misalnya melihat seseorang kena copet, kemudian memberitahukan kepada pihak kecopetan bahwa tadi ada copet, ada dua kemungkinan: Pertama; sipemberi tahu disesali kenapa ketika tadi sedang copet beraksi tidak memberitahukan. Padahal risikonya ia akan ditandai oleh group copet, karena belum ada lembaga perlindungan saksi untuk kasus seperti ini, keamanan diri akan terancam. Kedua; bisa-bisa ia malah dituduh kawanan pencopet. Akhirnya, orang melihat kejahatan memilih diam, dari pada timbul risiko. Di suatu sudut kampung di dalam kota Jakarta, masjid di sekitar lokasi bersabung azan setiap waktu, saking banyaknya masjid di sekeliling. Tak jauh dari sudut kampung tersebut ada pula pemakaman umum, luas sekali, hampir setiap hari ada saja jenazah lewat untuk dimakamkan, kadang lebih dari satu. Sementara itu setiap selepas magrib ada saja masjid di sekitar lingkungan memberikan petuah agama, dengan pengeras suara yang lantang terdengar penduduk setempat. Kontras dengan keadaan itu, walau masjid dekat, sering petunjuk agama didengar, peringatan akan kematian setiap hari dilihat yaitu jenazah lewat, tetapi banyak tempat judi yang terang dapat dilihat oleh orang yang lalu lalang. Ingin berbuat baik, mencegah mereka sedang bermain judi, tentu tidak berani kecuali ada kesaktian seperti kisah para wali. Lapor ke yang berwajib, kadang membahayakan diri bila nanti ketahuan pelapor, oleh group yang suka judi. Sekali lagi perlindungan saksi dan pelapor belum mengcover sampai ke masalah sekecil ini. Sedang masalah besar-besar saja belum terjamah. Akhirnya juga memilih diam, hanya mengutuk di dalam hati, walau itulah wujud selemah-lemah iman. Karena tidak sanggup mengubah dengan tangan dan menegor dengan lisan.

Alenia di atas sekelumit perihal orang kota, takut berbuat baik, karena sering berujung yang tidak baik. Di kota kecil juga demikian, teman saya pernah mengalami, berbuat baik justru dapat pembalasan jelek. Dianya teman saya ini menjadi salah seorang pejabat di suatu institusi di satu daerah. Kebetulan ketika ia mulai pindah ke daerah tersebut, institusinya kurang mobil dinas. Kadang dalam keadaan terpaksa mobil pribadinya dipakaikan ke sopir kantor untuk urusan dinas katakanlah menemui mitra bisnis ke alamatnya. Benar juga suatu ketika mobil pribadi teman saya itu dipakai untuk keperluan dinas, diparkir dipinggir jalan masuk menuju alamat mitra bisnis institusi mereka tersebut. Bos institusi tersebut kebetulan hari itu baru dijemput sopir kantor dari bandara. Kota kecil gampang terlihat dan dihapal mobil-mobil teman sejawat. Kontan saja bos kantor memendam dalam hatinya bahwa, begini rupanya pejabat saya kalau saya tidak di tempat keluyuran begini, sempat terlontar dimulut si bos kepada sopir, “liat tu, ngapain “pak Anu” jam begini ada disini”. Biasa si Bos dari bandara tidak langsung mampir kantor, singgah dulu di rumah makan, kadang hampir tutup kantor baru ke kantor karena ada saja janji bertemu dengan mitra bisnis, mungkin juga di restoran atau kadang di lapangan golf.

Kasihan teman saya itu dinilai jelek oleh atasannya padahal dianya sedang berbuat kebaikan. Sopir serba salah untuk melaporkan hal ini. Bagi si sopir kalau melapor ke si pejabat teman saya itu, bisa saja terjadi hal yang tidak baik, bahkan mendapat penilaian jelek dari bos, misalnya “tukang adu-adu”. Kalau tidak disampaikan, kasihan si pejabat tersebut. Sementara dalam perjalanan ketika bos menggerutu, jika menjelaskan bahwa mobil tersebut dipakai orang lain, untuk keperluan dinas, ya kalau benar, kalau tidak malah celakalah si sopir. Kalau nekad menjelaskan sering mobil pribadi bapak “Anu” dipakai untuk dinas malah nanti si sopir dibentak lagi sama si bos “sok tau kamu”. Susah deh jadi sopir. Akhirnya si sopir memilih diam sampai si bos dan “pak Anu” pindah ke kota lain. Kasihannya “Pak Anu”dapat kondite jelek dari si bos walau sesungguhnya telah berbuat baik.

Begitulah adanya keadilan di dunia ini, tidak ada yang benar-benar adil, orang baik belum tentu mendapat kebaikan, belum tentu berbuat baik dinilai baik.

Petuah orang tua dulu:

Di depan bilik ada beranda

Buat duduk di petang hari

Berbuat baik ber pada-pada

Berbuat jelek jangan sekali

Maksudnya dalam berbuat baik hendaklah diolah pikir (ber pada-pada) jangan sampai, perbuatan baik itu berakibat menjadi tidak baik. Dalam pada itu berbuat kejahatan jangan dilakukan walau hanya sekali.

Thursday, 15 December 2011

ANDA GENERASI TERJEPIT???

Setiap generasi ada identitas sendiri yang lain dengan generasi sebelum dan juga berbeda dengan sesudahnya, hanya saja jarang orang yang memperhatikan sekat pembatas pertanda antargenerasi tersebut. Kadang orang tua mengarahkan anak mereka kurang memahami berbeda zaman tersebut, masih saja menerapkan teknik mengarahkan anak dengan pola yang diterima ketika ia masih kanak-kanak dulu, warisan orang tuanya. Itu sebabnya tidak jarang antara orang tua dan anaknya jadi “berseteru”.

Salah satu beda zaman generasi kita dengan generasi sekarang, mulai dari pola makan, pola berpakaian, pola tidur dan belajar, pola berkendaraan, nilai menempatkan orang tua menempatkan anak dan anak menempatkan orang tua.

Pola Makan

Sebagaian besar suatu keluarga generasi dahulu, tahun enampuluhan, ayah adalah sebagai pencari nafkah utama, sehingga oleh isterinya (ibunya anak-anak) segala sesuatu yang enak-enak dari makanan dan minuman diutamakan untuk sang ayah. Kemudian barulah didistribusikan untuk anak-anak mereka yang pada umumnya jumlahnya banyak rata-rata di atas lima orang. Sedangkan sekarang pencari nafkah tidak lagi dimonopoli oleh sang ayah, ibu juga ikut berpartisipasi mencari nafkah, tidak jarang justru ibunya anak-anak penghasilannya lebih besar dari si ayahnya anak-anak. Pola makan dan minum, orang tua sekarang mengutamakan anak-anak mereka, termotivasi agar anak-anak tumbuh dengan baik, dengan gizi tinggi agar mereka berprestasi di sekolah dan kelak menjadi anak yang unggul. Anehnya kadang anaknya pula yang enggan makan yang enak-enak, serba ndak suka, tak jarang orang tua mereka harus memperhatikan/mengawasi makanan anaknya. Zaman dulu yang dimakan susah diperoleh, zaman sekarang malah makanan tersedia anaknya pula yang tak berselera, kalau agak dipaksa anak jadi merasa terlalu diatur, merasa tidak membiarkan anak jadi mandiri.

Pola berpakaian

Generasi rumah tangga tahun enam puluhan, seorang anak rata-rata hanya punya pakaian dua jenis pakaian, yaitu satu stel pakaian sekolah dan satu stel lagi pakaian untuk di rumah. Pakaian sekolah begitu pulang sekolah langsung di tukar dengan pakaian rumah untuk dipakai kembali esok, tak jarang sampai lusa atau seminggu. Sekarang pakaian anak-anak sudah selemari, sampai susah untuk menyimpannya. Pakaian layu sedikit sudah ganti, jangankan lagi memakai pakaian yang sedikit agak tambalan atau tisikan seperti zaman anak-anak tahun enam puluhan, sedangkan pakaian terkena noda tinta yang sulit dihapus saja anak sekarang sudah tidak mau memakainya.

Pola tidur dan Belajar

Listrik di era tahun enam puluhan, masih terbatas, keluarga kebanyakan menggunakan penerangan pelita di waktu malam, sehingga rata-rata tidur di bawah pukul sembilan malam, sedangkan anak sekarang, di samping memang banyak tugas dari sekolah, juga adanya TV dan penerangan yang rata-rata sudah pakai listrik, maka tidur di atas pukul sepuluh malam, kadang ada juga yang pergi belajar berkelompok dan pulang sudah jauh malam. Disini orang tua harus ekstra hati-hati memantau anaknya yang belajar di luar rumah, harus ada koordinasi sesama orang tua group anak kita belajar, agar dapat saling mengawasi. Di zaman kini setiap orang tua ingin agar anaknya dapat meneruskan sekolah setinggi-tingginya, anak harus pintar dari ortunya. Dulu sebaliknya ada diantara ortu yang tidak mau anaknya disekolahkan, walau sekolah waktu itu gratis. Guru waktu itu sangat berdedikasi untuk mencerdaskan anak bangsa. Ingat saya waktu masih di kelas empat SR, kawan saya sekelas umurnya sudah enambelas tahun. Pintar anaknya. Suatu hari kelas kami kedatangan tamu, langsung mengajak Jayadi kawan sekelas saya itu pulang. “Kau enak-enak di sini main petelot, ayah setengah mati main cangkul” itu antara lain redaksi si ayah teman saya itu mengajak anaknya pulang. Pak guru kami sungguh arif, langsung si anak dipersilakan pulang. Belakangan setelah selesai musim tanam padi, si Jayadi datang lagi ke sekolah, memang dia anak pintar, akhirnya atas kebijakan sekolah sampai dia di kelas enam SR dan ketika ujian akhir SR (waktu itu sudah nasional juga seperti sekarang), teman saya itu lulus. Selanjutnya entah kemana dia yang jelas kami tidak ketemu lagi di esempe yang hanya satu-satunya di kabupaten kami. Bukan hanya Jayadi yang punya nasib seperti itu, ada lagi teman sekelas agak dua minggu tak muncul. Salut saya guru waktu itu, disuatu hari Minggu ia mendayung sampan menuju ke kediaman si Rozi teman saya itu, dengan ditemani dua orang teman sekelas. Rupanya negosisasi dengan orang tua Rozi agar anaknya tetap disekolahkan. Entah apa isi pembicaraan beliau, beberapa hari kemudian teman saya itu juga bersekolah kembali sampai tamat sekolah SR. Itu sekilas perjuangan pak guru di zaman itu, masih adakah di zaman sekarang?.

Pola berkendaraan

Jauh sekali mobil, sepeda motor saja tahun enampuluhan barang kelewat mewah untuk ukuran kabupaten di kelahiran saya. Punya sepeda kumbang sudah termasuk orang yang berpunya. Sepeda hanya kendaraan ayah, si anak paling disuruh untuk mengelap/membersihkan jika sepeda kena lumpur di jalan becek, waktu itu belum beraspal. Ke sekolah jalan kaki sebagian besar belum beralas kaki. Sepatu mahal benar ukuran daya beli waktu itu, sebab itu tidak terlalu dipentingkan dan sekolah juga tidak mempermasalahkan anak didik mereka ngaki ayam (istilah setempat) nyeker istilah umumnya. Sekarang itu alhamdulillah anak-anak kita punya sepatu lebih dari sepasang. Lain sepatu sekolah, lain sepatu olah raga, lain pula sepatu kalau kondangan, lain sepatu sepak bola. Anak-anak sekarang sepatunya lusuh sedikit saja sudah minta ganti. Sungguh terjadi, apa karena teman saya itu terbiasa hidup hemat semasa kecil, ketika ujian pejabat di institusi saya bekerja dulu, sol sepatu bagian bawahnya sudah lobang aus dimakan jalan. Lulus pula ujian wawancara jadi pejabat dengan pakai sepatu lobang tersebut bahkan ybs sampai jadi pemimpin cabang.

Posisi orang tua dan anak

Anak dulu, orang tua adalah idola mereka, patuh tunduk kepada apa saja yang diarahkan orang tua. Orang tua sekarang memposisikan anak mereka sebagai mitra. Tidak jarang anak diajak tukar pendapat. Konsekwensinya sering juga anak membantah terang-terangan terhadap orang tua mereka. Bila dulu, kalaupun membantah tak berani terang-terangan,

Posisi banyak orang tua kini yang sekitar enampuluhan jadi anak.

Dari kenyataan di atas jelaslah sebagian besar orang tua kini yang pada tahun enampuluhan masih sebagai anak, merupakan generasi terjepit sebab:

1. Ketika masih anak-anak, dari sudut makanan keadaan mengharuskan mengutamakan orang tua, sedang sekarang setelah menjadi orang tua tuntutan zaman mengharuskan mengutamakan anak.

2. Masa kanak-kanak, banyak diantara orang tua sekarang ini, karena perekonomian masa itu pakaian hanya sepersalinan. Kalau punya sepatu sudah hebat punya sepasang. Setelah menjadi oang tua, kalau perlu tidak beli baju asal anak dapat berpakaian baik, dapat setara dengan anak orang lain.

3. Kadang orang tua, ikut masih harus terjaga, kalau anak-anak mereka harus belajar dalam menempuh ujian atau test yang sering di sekolah. Ibu atau ayah ikut membantu menyelesaikan PR anak-anak mereka. Sementara di zaman diri masih anak-anak, malam langsung tertidur karena gelap dan orang tua kebanyakan tak ikut campur urusan belajar anaknya. Bahkan ada diantara orang tua mencegah anaknya sekolah seperti ceritanya dipetik di atas.

4. Bila kebetulan tidak begitu berada, hanya punya sebuah mobil. Kadang si bapak mengalah bila anaknya karena sesuatu ke tempat kuliah harus memakai mobil. Biarlah Bapak naik bis umum. Dulu ketika masih kecil yang boleh makai sepeda hanya ayah, diri ke sekolah jalan kaki.

Posisi terjepit ini ialah ketika masih kecil di posisi yang harus mengalah, sementara ketika sudah jadi orang tua juga kembali dalam posisi yang harus mengalah lagi. Kapan menangnya. Begitulah generasi anak-anak di era enampuluhan yang kini sempat jadi orang tua adalah generasi terjepit.

Sunday, 4 December 2011

TUTUP BOTOL

Nilai indah itu ternyata tidak sama antargenerasi. Bila anda masih punya photo angkatan orang tua kita dulu, mereka berpose disamping sepeda ontel dengan topi lebar baju lengan panjang yang digulung di atas siku sementara celananya bagian atas kelihatan besar kerena banyak lisu (wiru/ploi). Ada lagi photo dengan pose tangan kiri atau tangan kanan telapak tangan menempel di bahu, rupanya yang bersangkutan ingin memperlihatkan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Itulah nilai keindahan di era mereka.

Sejurus ada rasa keindahan itu dilambangkan dengan gigi emas, kadang penuh gigi berselaput emas. Pemilik gigi jadi murah senyum, berbicara senang berdesis, seperti mengucapkan kada “Pedas”, “Panas” tuntas dan lain-lain, agar gigi emas dapat terlihat jelas.

Patut diduga bahwa nilai keindahan kita sekarang ini yang terekam photo, nun duapuluh, tigapuluh tahun yang akan datang mungkin memancing senyum generasi yang akan datang.

Sekitar tahun tujuh puluhan, seorang anak teman saya baru pulang dari kota, ketika libur sekolahan, terlihat orang tuanya ada keneahan asesoris dandanan anak lelakinya itu. Di lehernya menggelantung kalung rantai kecil dengan buah kalung semacam lingkaran dari logam. Sebagai orang tua, teman saya tadi menanyanakan kepada anaknya: “Kenapa kau pakai kalung model perempuan”. Dengan cepat si anak menjawab “Di kota oarng semua pakei gini pah”.

Dua hari lagi liburan sekolah selesai, tugas rutin ayah mengantar anaknya ke sekolah berjarak kurang lebih 4 km dari kediaman mereka dengan sepeda ontel.

Kamarin ayah si anak, diam-diam membuat bandulan kalung dengan memanfaatkan bekas totop botol kecap yang ada di dapur. Tutup botol kecap dipukuli hati-hati dengan martil dilandasi belakang kampak. Berhasil juga, tutup botol kecap jadi bulat dan lumayan lebar dan indah. Pekerjaan selanjutnya di pinggir lingkaran tutup botol dilobangi untuk memasukkan tali buat dikalungkan ke leher. Tali sepatu bekas, rupanya cocok juga buat pelengkap liontin tutup botol kecap tersebut.

Ketika akan mengantar anak keesokan harinya tak lupa si ayah mengenakan kalung tersebut, dengan setelan kancing baju dibuka satu, agar jelas kalung terlihat. Betapa kagetnya si anak ketika akan betangkat ke sekolah, melihat ayahnya memakai kalung. “Ayah, kenapa pakei kalung seperti itu”. Pekik si anak. Ayah menjawab: “ayah juga pengen ikut mode sekarang, katamu semua orang di kota pakei kalung”. “Jangan begitulah yah, malulah saya dilihat teman-teman”. Akh, Ayah ndak malu dengan teman-teman ayah, anaknya pakai kalung, kenapa pula kau malu. Ayah menimpali. Udah kalau begitu saya buka kalung saya, biar ayah yakin saya ndak memakainya ini saya serahkan Mamah. tegas si anak. Ayahnyapun tanpa diminta si anak langsung mencopot kalungnya dan memasukkan kalung ke dalam saku. Berangkatlah mereka kesekolah sebagaimana biasanya.

Si ayah diilhami suatu peristiwa, ketika Rasulullah Muhammad s.a.w. urung melaksanakan umrah, setelah selesai menanda tangani perjanjian Hudaibiyah. Nabi memerintahkan kepada seluruh sahabat untuk tahallul, yaitu mencukur rambut dan memotong hewan qurban. Karena perintah belum digubris sahabat, dengan ekspresi wajah kesal beliau masuk ke kemah. Isteri beliau memahami kekesalan Nabi dan mengetahui duduk perkaranya, memberikan saran, agar Nabi melaksanakan lebih dahulu tahallul dan memotong hewan qurban. Kontan seluruh sahabat yang serta di perjalanan umrah yang tak jadi itu, mengikuti jejak belau bertahallul dan memotong hewan qurban. Walaupun masalahnya tidak sama persis dengan itu, si ayah menerapkan tehnik perintah kepada anaknya dengan peragaan phisik, dengan perbuatan langsung dan ternyata effektif.

Begitu pulalah hendaknya, seorang juru da’wah adalah akan diikuti banyak orang yang di da’wahinya bila dalam keseharian yang bersangkutan memberikan contoh dengan sikap dan perbuatan yang nyata, sesuai pesan da’wahnya. Hal yang sama berlaku juga buat pemimpin dalam skala apapun. Bila pemimpin mencanangkan hidup sederhana, maka harus dicontohkan bagaimana model hidup sederhana itu. Jadi se pemimpin harus memulai dari dirinya, jangan bermewah-mewah. Konon katanya presiden Iran yang sekarang Ahmadimezat, beri contoh hidup sederhana mulai dari mobil, tempat tinggal sampai walimatunnikah anaknya.

Saya pernah alami di suatu cabang instutusi saya berdinas dulu, ada pemimpin yang hanya pakai mobil dinas untuk keperluan dinas. Selesai jam kantor kalau mobil-mobil milik kantor tidak dipakai urusan dinas di parkir di kantor. Bila ada arisan pejabat institusi saya itu, yang bersangkutan membawa mobil pribadi, kadang nyetir sendiri, kalau bawa sopir kantor di beri honor dari saku pribadi. Yang terjadi adalah semua pejabat bawahannya tidak ada yang menggunakan mobil dinas untuk urusan kantor. Penghematan BBM dan perawatan mobil banyak sekali. Jangan dikira semua orang suka dengan pemimpin ini. Ada yang komentar sok suci dan pokoknya banyak juga yang benci, terutama bagi pejabat yang sebelumnya sering menggunakan mobil dinas untuk keperluan pribadi.