Monday, 22 July 2024

Ranjau Kehidupan

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.260.07-4.2024 Ukuran kesenangan, tiap orang tidak sama. Ada seseorang menyenangi sesuatu sementara orang lain tidak menyenanginya. Contoh konkrit ambil saja salah satu kesenangan; misal seseorang menyenangi memelihara burung, untuk dikagumi kicauannya, sementara itu sesama penyenang burung ada yang berbeda hal yg dikaguminya dari burung; yaitu keindahan bulunya. Banyak lagi keberagaman kesenangan manusia yang ber-beda2 itu. Begitu banyak contoh dapat diambil dari kesenangan yang beragam setiap individu, akan cukup panjang untuk diinventarisir. Namun ada 7 kesenangan boleh dikata seragam dari manusia yang normal: 1. Senang kepada pasangan lawan jenis hidup (Istri – Suami). 2. Mempunyai anak-anak penyambung keturunan. 3. Mempunyai banyak harta kekayaan. 4. Mempunyai saving, deposito, tabungan, saham, emas dan perak. 5. Memiliki kendaraan2 mewah. 6. Memiliki banyak hewan2 ternak. 7. Memiliki sawah ladang dan perkebunan. Kesenangan manusia secara umum ini, dapat disetarakan dengan makna ayat 14 dari surat Ali Imran: زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. Kesenangan hidup di dunia disebutkan di ayat 14 Ali Imran diatas berpotensi menjauhkan manusia dari taqwa kepada Allah dan bahkan tidak sedikit manusia yang terjerembab ke lembah nista di dunia ini. Dengan demikian kesenangan hidup di dunia ini seringkali menjadi “Ranjau” buat kehidupan manusia. KESENANGAN AKAN LAWAN JENIS PASANGAN HIDUP. Tidak sedikit kejadian, seorang yang mempunyai kedudukan tinggi terpelanting dari jabatannya disebabkan mengumbar nafsu dengan lawan jenis yang tidak sah. Bukan kaum pria saja yang sering terlibat masalah hubungan laki2 dan perempuan tidak sah ini, kaum wanita juga sering terdengar terpeleset berselingkuh ketangkap basah oleh suaminya. Kejadian ekstrim apabila si istri berselingkuh ketangkap tangan, suami nekat membunuh istri dan pasangan selingkuh istrinya. Hancur berantakan rumah tangga dan trauma buat juriat keturunan. ANAK PENYAMBUNG KETURUNAN. Anak diharapkan oleh setiap pasangan suami-istri, tak jarang bagi suami-istri sudah menikah berbilang tahun belum memperoleh anak harus berobat kemana-mana demi mendapatkan anak keturunan. Namun anak2 bukan sedikit menjadi “Ranjau” juga bagi ayah bunda, bila salah mendidiknya. Hal ini diperingatkan Allah: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ …………………”….۝” “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. ………………..” (At-Taghabun ayat 14). Ranjau2 kehidupan yang sanggup menggelincirkan manusia ke lembah nista, menjauhkan manusia dari taqwa kepada Allah berikutnya, seperti termuat di urutan 3 sampai 7 di atas (terbatas ruang tidak dibahas rinci). Tak jarang manusia menghalalkan segala cara untuk memperolehnya, berusaha sekuat tenaga kadang tak kenal waktu, menomor duakan ibadah kepada Allah, demi mendapatkannya. Oleh karena itulah Allah mengingatkan bahwa kesemuanya itu hanyalah permainan dunia; اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ۝٢٠ “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya”. (Al-Hadid ayat 20) Semoga Allah mengkondisikan kita semua sanggup mencapai kesenangan di dunia karena hidup kita di dunia, namun tidak melupakan kehidupan akhirat karena ke sanalah kita akan kembali. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 23 Juli 2024 M, 17 Muharram 1446 H

Thursday, 11 July 2024

TAKUT malah MENDEKAT

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.259.07-3.2024. Berdeda wujud takut kepada makhluk dengan takut kepada Allah. Manusia bila takut kepada makhluk, segera menghindari, menjauh dari sesuatu yang menakutkan tersebut. Sedangkan takut kepada Allah malah berusaha sedapat mungkin mendekat kepada Allah, melalui sarana ibadah dan muamalah yang diperintahkan Allah, menjauhi segala larangan2 Allah. Mendekat kepada Allah dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan Allah adalah merupakan perwujudan Taqwa. Perwujudan mendekat kepada Allah berupa taqwa terakumulasi dalam dua besaran perilaku manusia yaitu secara KONKRIT dan secara ABSTRAK. Terbatas ruang, di artikel nomor ini hanya dimuat “Takut dengan mendekat secara konkrit”. Adapun “Takut … mendekat … abstrak” berupa 3 hal juga, insya Allah di artikel tersendiri. Mendekat Secara KONKRIT kepada Allah berupa 3 hal yaitu: PERTAMA; Mendirikan shalat. Aktivitas mendirikan shalat nampak terlihat nyata/konkrit, selanjutnya menjadi pembeda orang yang sekedar mengaku beragama dengan orang yang beragama sungguhan. Allah Ta’ala berfirman, ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ “(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat” (QS. Al-Anfal: 3). Rasul pun pernah menjelaskan tentang bukti keimanan seseorang dapat dilihat dari shalat dan sedekahnya. وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ Shalat adalah cahaya dan sedekah adalah bukti (HR. Muslim no. 223) KEDUA; Berperilaku Qur’ani. Perilaku Qur’ani. Yaitu sanggup untuk memberi contoh sekaligus menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar. كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ………………." (Ali 'Imran ayat 110) Mendekat kepada Allah secara Konkrit yang ke TIGA adalah DERMAWAN. Yaitu membelanjakan harta di jalan Allah: يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَـٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ يَوْمٌۭ لَّا بَيْعٌۭ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌۭ وَلَا شَفَـٰعَةٌۭ ۗ “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. ………..” (Surat Al-Baqarah ayat 254) Ketika menjadi dermawan ingat pesan Al-Qur’an surat Al Furqan 67: وَالَّذِينَ إِذَآ أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا "Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar," Waspada juga, kalau harta sudah didermakan jangan sampai dirusak seperti di-wanti2 Allah di surat Al Baqarah 264: يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذٰى كَالَّذِى يُنْفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْأَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلٰى شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِينَ "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.". Semoga Allah menjadikan kita takut kepada Allah dengan justru semakin mendekat kepada Allah menerapkan wujud takut tersebut dengan tindakan tidak meninggalkan shalat, berperilaku Qur’ani dan dermawan. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 11 Juli 2024 M, 5 Muharram 1446 H

Saturday, 6 July 2024

BERSYUKUR dengan PERBUATAN

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.258.07-2.2024. Bersyukur dengan perbuatan adalah perwujudan syukur sesudah bersyukur dengan hati. Kadang sampailah lisan terucap perlahan memuji kebesaran Allah. Dalam kenyataan ada juga lisan "bersyukur", ketika mendapatkan kebahagiaan, namun tak nyambung ke hati. Perwujudan bersyukur dengan perbuatan adalah: 1. Meningkatkan taqwa 2. Peduli kepada sesama 3. Tau diri & Ikhlas 4. Senantiasa ramah 5. Suka berbagi ilmu 6. Merawat nikmat Allah MENINGKATKAN TAQWA Bersyukur diwujudkan dengan perbuatan salah satunya menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan mentaati semua perintah Allah dan menjauhi hal-hal yang dilarang Allah. Berusaha untuk bertaqwa selama hayat masih dikandung badan. Kata kuncinya: يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Surat Ali-Imran ayat 102). PEDULI KEPADA SESAMA Mengekspresikan rasa syukur dengan perbuatan berikut yakni dengan berbagi kepada sesama manusia. Jangan bersikap kikir. Ingatlah bahwa di sebagian harta kita ada hak orang lain. Di saat kita diberikan nikmat berlebih, maka jangan ragu membagi-bagi nikmat itu kepada orang lain. Perintah ini dapat disimak pada surat Ad-Dhuha ayat 11: وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)." TAU DIRI & IKHLAS MENERIMA Cara bersyukur selanjutnya yakni “tau diri”, bersikap “ikhlas menerima” keadaan yang dianugerahkan Allah untuk diri. Tidak iri dengan nikmat orang lain. Rasulullah SAW pernah bersabda. اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ. Artinya, “Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu,” (HR Bukhari dan Muslim). SENANTIASA RAMAH Wujud syukur dengan perbuatan berikutnya yakni senantiasa ramah. Disaat hati sedang sedihpun tetap stabil, sanggup meredaksikan kata2 yang sopan dan ramah selalu menunjukkan raut wajah ceria. Jangan bersikap acuh tak acuh. Sanggup menyembunyikan kesedihan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ "Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal." (Ali 'Imran ayat 159) SUKA BERBAGI ILMU Bersyukur dalam bentuk perbuatan berikutnya, apabila anda termasuk orang yang memiliki ilmu tinggi dan berwawasan luas, baik itu ilmu agama ataupun pendidikan umum, hendaknya suka membagi ilmu kepada orang lain. Baik secara formal berhadapan dengan audience atau dengan cara lain misalnya bisa men-share tulisan-tulisan yang bermanfaat di sosial media. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289) MERAWAT NIKMAT Cara bersyukur dengan perbuatan yang tidak kalah penting yaitu dengan merawat nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Misalnya menjaga kelestarian alam, merawat lingkungan. وَمَآ أَرْسَلْنٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِينَ "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107) Semoga pembaca semua berhasil menjadi hamba Allah yang bersyukur. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 6 Juli 2024 M, 30 DzulHijjah 1445 H

Monday, 1 July 2024

Bersyukur HATI dan LIDAH

Rangkuman: M. Syarif Arbi No: 1.257.07-1.2024. Secara sederhana “Syukur”; diartikan sebagai ungkapan terimakasih atas anugerah yang diterima, atas pemberian yang diterima, dari mana saja datangnya pemberian/anugerah tersebut. Jika pemberian itu datang dari seseorang, begitu kita terima, kita tidak menunjukkan ungkapan terimakasih baik lisan maupun sikap, tentu orang yang memberi akan merasa kecewa. Bersyukur; kepada Allah berbeda dengan sesama manusia, bila kita tak bersyukurpun tidak masalah bagi Allah karena Allah tidak berharap kebersyukuran makhluk ciptaan-Nya. Sejumlah ayat mengungkap hal tsb diantaranya surat Fatir 15. يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَآءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِىُّ الْحَمِيدُ "Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji." Bagi manusia yang bersyukur, Allah menjanjikan akan menambah kenikmatan yang diberikan-Nya (Surat Ibrahim Ayat 7) وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Untuk bersyukur, dapat dilakukan melalui 4 (empat) cara yaitu: 1. Bersyukur dengan hati 2. Bersyukur dengan lidah 3. Bersyukur dengan perbuatan dan 4. Bersyukur dengan menjaga nikmat. BERSYUKUR DENGAN HATI. Setiap menerima anugerah Allah, di dalam hati menyadari bahwa apapun nikmat semua datangnya dari Allah. Besar atau kecil suatu nikmat disyukuri sekurangnya di dalam hati. Tidak merasa kecewa betapapun kecilnya suatu nikmat, tetap disyukuri tanpa menganggap tak ada gunanya. Betapapun besar kerugian/bencana, selalu diiringi sabar dan syukur, yakin tersembunyi maksud baik Allah di setiap peristiwa. BERSYUKUR DENGAN LIDAH. Dengan penuh kesadaran mengucapkan "Alhamdulillah" ini sudah termasuk bersyukur dengan lisan. Dalam kenyataan ada juga lisan "bersyukur", lisan berucap tapi tak sampai ke hati. Bila seseorang mendapat kerugian, kesusahan, kekecewaan, penderitaan; tetap bersabar dan dihatinya tetap terselip rasa syukur, inilah model pribadi muslim sejati. Pribadi model ini yakin ketidak beruntungan apapun yang terjadi atas dirinya setelah menjalani ikhtiar sebagai manusia, adalah kehendak Allah. Segala sesuatu yang terjadi atas kehendak Allah, tak ada yang sia2. رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. (QS: Ali 'Imran ayat 191) Orang yang tetap besabar dan hatinya selalu bersyukur ini, dia berprasangka baik kepada Allah. Pernah seorang pemuda gagal test masuk di suatu instansi, setelah tua dia baru paham ternyata Allah punya rencana lebih baik buat dirinya menjadikan ybs. pengusaha besar menghidupi ribuan karyawan. Kalaulah Nabi Yusuf ketika masih bocah tidak dimasukkan saudara2nya ke dalam sumur mungkin tak ditemukan musafir pengambil air. Kalaulah Nabi Yusuf tak dijual di pasar budak oleh musafir di Mesir, tak ada jalannya dia dibeli oleh pejabat kerajaan. Kalaulah Nabi Yusuf tak masuk penjara, keahliannya mentakwil mimpi ndak kan mungkin diketahui Raja. Akhirnya Nabi Yusuf setelah melalui rangkaian ketidak nyamanan, ketidak beruntungan ternyata ada rencana Allah untuk menjadikan makna mimpinya bahwa seluruh saudaranya menghormatinya. Lantaran akhirnya Nabi Yusuf menjadi penguasa/pejabat penting di Mesir seperti dikisahkan Allah; اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰۤاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ  عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ "(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, Wahai Ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." (QS. Yusuf ayat 4) Syukur dan sabar menghiasi kehidupan Nabi Yusuf dan ayahnya Nabi Yacob. Ternyata rentetan peristiwa yang tidak begitu menyenangkan itu adalah suatu proses untuk rencana Allah yang lebih baik, begitu juga contoh pemuda yang tak lulus test di atas.’ Dari kejadian2 ini, mestinya sadarlah kita bahwa hidup ini harus dijalani dengan syukur dan sabar. Allah senantiasa memberikan peran yang terbaik untuk setiap orang. Yang penting ikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Maaf; ulasan bersyukur dengan PERBUATAN dan bersyukur dengan MENJAGA nikmat, karena terbatasnya ruang tulis, tidak ditulis di artikel ini. Semoga bilalah dalam hidup ini mengalami kegagalan di awal, merupakan awal dari proses kesuksesan di akhir. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 2 Juli 2024 M, 25 DzulHijjah 1445 H

Tuesday, 25 June 2024

Harta si KAYA si MISKIN simpankan

Dirangkum: M. Syarif Arbi No: 1.256.06-7.2024. Di dalam masyarakat dimanapun di belahan dunia ini, terdapat tingkatan kelompok manusia dalam perekonomian. Boleh saja dikelompokkan menjadi orang-orang: 1. Kaya raya lagi terhormat, berkedudukan tinggi di masyarakat. 2. Kaya raya, tetapi oleh masyarakat tak begitu dikenal. 3. Tidak kaya, namun tidak miskin. 4. Miskin sekedar mampu bertahan hidup, pas-pasan. 5. Sangat miskin, untuk makan saja dalam kesulitan. Orang miskin, di negara manapun sepertinya tetap ada, tak terkecuali di negara maju atau di negara adi daya. Sudah merupakan sunnatullah, bahwa di dunia ini adanya sifat berlawanan dan berpasangan, ada kaya - ada miskin. Sebagaimana adanya siang - adanya malam. Seperti halnya adanya orang baik - adanya orang jahat. Ada juga yang tidak terlalu ekstrim berlawanan. Tak kaya2 amat - tak miskin2 amat ............ dstnya, tapi tetap saja berpasangan/ berlawanan. Justru adanya sifat berlawanan ini pula merupakan media ujian bagi manusia, untuk melihat siapakah yang paling baik amalnya. لَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا............. ....." "yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya........." (Al- Mulk 2). ......................................................" ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً ۗ اَتَصْبِرُوْنَ......." ".............Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? ............." (QS. Al-Furqan ayat 20). Di ruang baca terbatas ini disederhanakan kelompok2 tersebut menjadi dua; yaitu si “kaya” dan si “miskin”. Kalaulah anda di posisi sebagai orang kaya setidaknya berkecukupan, mungkin hartanya masih cukup bernisab untuk zakat tahunan. Atau meskipun harta tak banyak, masih adalah rezeki yang dapat dialokasikan buat infak dan sedekah. Di kondisi ini, saatnya anda berpeluang menyantuni kerabat dan atau sahabat yang miskin.. Seberapa banyakpun harta orang kaya dan terpandang, ketahuilah orang kaya tak akan mampu membawa harta itu ke alam kubur, apalagi ke alam akhirat. Oleh karena itu jangan sepelekan sahabat dan kerabat anda yang hidup serba kekurangan (miskin), karena mereka memiliki kekuatan yang dahsyat, mampu membawakan harta anda ke alam kubur ke alam akhirat. Si miskin mampu menyimpankan harta si kaya, buat digunakan di akhirat nanti. Apabila harta si kaya disedekahkan, si kaya menunaikan zakat, si kaya berinfak, si kaya mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Harta yang kita makan dan minum paling lambat besok atau lusa sudah jadi “ampas”. Harta kita sandang paling beberapa saat enak dipandang kemudian usang. Adapun harta yang disedekahkan kepada orang yang tepat diikuti ikhlas karena Allah, itulah yang dibawa ke alam barzah dan hari akhir. Sebagaimana hadits Rasulullah Muhammad SAW: أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَا مِنَّا أَحَدٌ إِلاَّ مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ قَالَ فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ “Adakah di antara kalian yang lebih mencintai harta untuk ahli warisnya daripada hartanya sendiri? Mereka (para sahabat menjawab), ‘Wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun di antara kami kecuali lebih mencintai hartanya sendiri.’ Rasulullah bersabda, sesungguhnya harta yang sebenarnya adalah yang ia infakkan, sedangkan harta untuk ahli warisnya adalah yang ia tinggalkan (belum ia infakkan)”. (HR Bukhori) Mudah2an para pembaca dan kita semua masih ada kesempatan, berkemampuan, membelanjakan harta di jalan Allah, untuk berinfaq, bersedekah, berzakat menyantuni kerabat dan sahabat yang miskin serta orang2 miskin, selagi masih hidup. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 25 Juni 2024 M, 18 DzulHijjah 1445 H

Saturday, 22 June 2024

Maut belum MENATAP sebelum REZEKI habis TERSANTAP.

Oleh: M. Syarif Arbi No: 1.255-06-6.2024 Kini menjelang lahiran, bukan saja jenis kelamin calon bayi, bahkan hari kelahirannya sudah dapat diprediksi. Sedangkan hari kematian sampai saat ini belum ada seorang ahlipun dapat memastikannya. Selama hidup, manusia perlu makan-minum dan ini lazim disebut dengan rezeki, walau sesungguhnya yang dimaksud dengan rezeki bukan saja makan-minum, tetapi; kesehatan, kesempatan dan segala sesuatu kenikmatan. Tulisan ini membatasi rezeki hanya pada apa yang dimakan dan apa yang diminum. Rezeki manusia yang dimakan-diminum, telah ditentukan sejak lahir sampai mati, karena sebelum rezeki tersebut habis dinikmati, manusia tidak akan mati. Dalam konteks ini Allah berfirman: وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا. ۗ “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. …………….” (QS Ali Imran ayat 145). Jika “jatah” rezeki telah habis dikonsumsi seseorang akan mati. Seseorang tidak mungkin mati sampai sempurna rezekinya, dan berakhir pula amalannya. Dari Jabir bin ‘Abdillah ra, Nabi Saw bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR Ibnu Majah). Dalam pada itu dari Ibnu Mas’ud ra, Nabi Saw bersabda: إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR Musnad Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani) Di ayat lain, Al-Qurán menyebutkan: وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34) Ketika diriku masih remaja dulu sering kulihat Nenek-Kakek, porsi makannya sangat sedikit. Kini setelah diri sendiri berusia tujuhpuluhan merasakan sendiri, bahwa tidak sanggup lagi makan seperti muda dulu. Bahkan banyak makanan yang dulu jadi makanan favorit, minuman wajib mesti harus ada di meja kalau pulang kerja, sudah tidak dapat diminum lagi. Makanan favorit kalau dimakan juga jadi alergi, minuman kopi misalnya yang dulunya menjadi minuman wajib, sekarang kalau diminum jadi penyakit. Dari petunjuk ayat dan hadits diantaranya dikutip diatas, mengertilah agaknya kita, bahwa; bagi pribadi tertentu, rezeki berwujud makanan dan minuman, yang sekarang sudah membuat alergi, atau berdampak penyakit, itu artinya jatah buat rezeki jenis makanan dan minuman jenis itu sudah hampir habis atau mungkin sudah habis buat diri awak. Untuk jenis lain masih ada yang masih tersisa, jatah nasi sudah hampir habis lantaran masa muda makannya sekali makan rata2 dua piring. Jadi masa tua harus dimakan se-dikit2, jatah kentang masih tersisa. Jatah gula pasir sudah habis, karena masa muda dulu kalau menyedu kopi segelas, gulanya 2 sendok makan, sekarang tersisa rezeki pemanis “Tropicana”. Harap makluuum. Kalau sudah jatah rezeki itu sama sekali habis, kadang ada manusia yang sudah tidak dapat lagi dimasukkan makanan/minuman secara normal dari mulut. Teknologi ikhtiar dibidang kesehatan sekarang jika rezeki orang tersebut belum benar2 habis-bis, lalu disalurkan melalui selang. Jika rezeki memang masih ada si pasien tak akan mati, setelah itu malah sembuh dari penyakit dan dapat makan minum normal kembali, untuk menghabiskan jatah rezekinya. Dengan demikian: Malaikat maut belum sudi MENATAP. Bila REZEKI belum habis TERSANTAP. Semoga kita selalu diberikan Allah rezeki yang halalan, tetap thayyiban serta barakatan sampai akhir hayat dikandung badan. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 16 Dzulhijjah 1445 H. 23 Juni 2024

Monday, 17 June 2024

KEKASIH ALLAH

Oleh: M. Syarif Arbi No: 1.254-06-5.2024 Hampir setiap tempat ketika shalat Idul Adha, khatib menyampaikan khutbah mengenang pengorbanan nabi Ibrahim, telah melaksanakan perintah Allah untuk berkurban yang luar biasa yaitu diperintah Allah menyembelih anaknya; nabi Ismail. Kepatuhan Nabi Ibrahim inilah merupakan salah satu dari beberapa sebab Nabi Ibrahim A.S. mendapat gelar “Khalilullah” وَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا “……Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya)." (QS. An-Nisa': 125)” Gelar ini diberikan sebagai pengakuan dan penghargaan Allah atas kesetiaan dan kepatuhan nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT. boleh dirinci sbb: PERTAMA: Tak goyah imannya ketika akan dibakar oleh raja Namrudz. Dua malaikat mendatangi Nabi Ibrahim AS sebelum dianya dipelantingkan ke kobaran api. Atas izin Allah malaikat Mikail AS datang dan berkata, “Hai Ibrahim, apabila engkau menginginkan agar aku menurunkan hujan memadamkan api ini tentu pada saat ini juga aku melakukannya.” Ibrahim AS menjawab, “Aku tidak membutuhkanmu.” Selanjutnya malaikat Jibril AS datang dan berkata, “Wahai Ibrahim, apakah engkau perlu bantuan?” Ibrahim menjawab, “Adapun kepadamu, maka aku tidak membutuhkannya. Cukuplah bagiku Allah mengetahui keadaanku.” Nabi Ibrahim AS hanya berdo’a termuat di Ali-Imran ayat 173, حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ. (cukuplah Allah, se-baik2 penolong) Pertolongan Allah datang dengan berfirman kepada api قُلْنَا يٰنَارُ كُونِى بَرْدًا وَسَلٰمًا عَلٰىٓ إِبْرٰهِيمَ "Kami (Allah) berfirman, "Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim,"" (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 69) Dari sisi Nabi Ibrahim AS, Allah mengalirkan air yang dingin, dari sisi api ada pohon delima, dan Nabi Ibrahim diberi ranjang (tempat tidur) dari surga yang di atasnya ada hamparan dari sutra, mahkota dan perhiasan, yang keduanya dipakai oleh nabi Ibrahim AS. Dia duduk di atas ranjang dalam keadaan yang paling nyaman semenjak dia dilemparkan ke dalam api. Pada saat itu, Namrudz pergi ke suatu tempat yang tinggi. Dia ingin melihat bagaimana jadinya Ibrahim. Tiba-tiba ada percikan api mengenai baju Namrudz dan membakar ke semua bajunya kecuali badannya. Dia tidak terbakar oleh api agar tahu bahwa api tidak akan membahayakan siapapun kecuali dengan seizin Allah, tetapi semua itu tidak dijadikan bahan pelajaran oleh Namrudz. Ketika Namrudz melihat itu, dia berkata kepada Ibrahim AS, “Pergilah engkau dari tanah kami agar engkau tidak merusak agama kami.” KEDUA: Baru saja mendapat anak di usia 86 tahun setelah berdo’a sekian lama, nabi Ibrahim AS melaksanakan perintah Allah untuk berdakwah ketempat lain. Demi melaksanakan perintah Allah anak dan istri ditinggalkan, disuatu tempat yang gersang dan sunyi. Tercatat peristiwa itu didalam Al Qur’an dimana sebelum meninggalkan anak dan istrinya nabi Ibrahim AS berdo’a: رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ "Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim 14: Ayat 37) KETIGA: Tawakal yang tak ada bandingnya terhadap Allah SWT sehingga mampu meninggalkan anak dan istri di lembah sunyi dan gersang, yakin akan keselamatan mereka, karena dia meninggalkan mereka atas perintah Allah SWT. وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا ۗ “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. ……………….” (QS Ali Imran ayat 145). Adapun perkara rezeki bagi istri dan anaknya yang ditinggalkannya lantaran menjalankan perintah Allah SWT itu, nabi Ibrahim AS dengan penuh keyakinan Allah akan menjaminnya. KEEMPAT: Kemudian ketika nabi Ibrahim AS pulang dari berdakwah dia melihat putranya Ismail sudah menjadi anak yang belia. Namun Allah SWT lagi-lagi menguji keimanan nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya tersebut melalui mimpi. Hal itu sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah surat Ash-Shoffat [37] ayat 99-111 : Keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, itulah yang kemudian diabadikan dalam bentuk perintah berkurban (dalam bentuk hewan) pada Idul Adha. وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. As-Saffat 37: Ayat 107) Untuk nabi Muhammad SAW dan ummatnya disyariatkan berkurban dengan hewan ternak dilaksanakan terkait dengan hari raya Idul Adha atas perintah Allah SWT dalam surat 108 (Al-Kautsar) ayat 2: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ "Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)." Renungan kepatuhan, ketawakalan dan kerelaan berkurban nabi Ibrahim AS ini, hendaknya sanggup menggugah hati bagi kita yang mampu untuk berkurban yang hanya berwujud mengeluarkan harta untuk menyembelih hewan kurban. Bagi yang telah melaksanakannya sesudah shalat Idul Adha, semoga kurbannya diterima oleh Allah SWT. Sedangkan bagi yang belum sempat menyembelih sesudah shalat Idul Adha, masih punya kesempatan melaksanakannya di hari2 tasyrik. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 11 Dzulhijjah 1445 H. 18 Juni 2024