Sunday, 29 May 2022

JALAN YANG LURUS

Lurus, adalah jarak yang terpendek dari satu titik ke titik lain. Jadi kalau kita mohon dalam berdo’a minta jalan yang lurus, tentu maksudnya agar diperoleh jalan yang paling dekat kepada tujuan. Dibandingkan dengan jalan yang berliku, akan lambat sampai ke tujuan karena jauh, bahkan mungkin saking berlikunya ndak kunjung sampai ke tujuan alias “gagal sampai”. Jalan “yang lurus” yaitu jalan yang terdekat dari tempat berangkat ke tempat tujuan. Ummat Islam sehari semalam, sekurang-kurangnya 17 kali memohon “jalan yang lurus”, (QS. Al-Fatihah ayat 6) اهْدِنَا الصِّرٰطَ الْمُسْتَقِيمَ "Tunjukilah kami jalan yang lurus," Setiap perbuatan, termasuk beribadah harus di dahului dengan niat. Hendaknya diluruskan niat, agar sampai apa yang dimaksud dengan waktu yang singkat karena dengan jarak paling dekat. Giliran Ibadah kepada Allah, tujuannya jelas mengharapkan balasan dari Allah, mengharapkan keridhaan Allah. Jadi garis lurus yang harus di tempuh adalah niatnya hanya mengharapkan keredhaan Allah, mengharapkan apresiasi hanya dari Allah, tidak dari yang lain selain Allah. Jika sedikit saja ada maksud lain di dalam niat selain mengharapkan redha Allah, dari suatu perbuatan ibadah, maka nilai ibadahnya terkikislah sudah. Hanya didapat seperti yang diharapkan itu. Ngeri juga yaa, udah capek-capek, kadang bukan tenaga saja tetapi juga dana dikeluarkan tidak sedikit, untuk suatu ibadah. Namun dari sisi Allah ndak dapat apa-apa, kecuali yang didapat hanya maksud/niat tersisip selain “karena Allah” itu. Tulisan ini dimaksudkan/diniatkan, agar menjadikan pembaca memperbaiki niat dalam ibadah, sehingga Allah menghargai usaha penulis ini, diharapkan mungkin dengan sebab tulisan ini Allah menganugrahkan kepada pembaca dari diri yang semula kurang focus niatnya menjadi meluruskan niat dalam ibadah. Bila terkandung niat dari penulis ini, untuk mendapatkan apresiasi dari pembaca, bahwa “tulisan ini baik”, misalnya. Mengharapkan banyak pembaca yang memberikan “jempol” umpamanya. Maka yang didapat hanyalah “jempol” itu saja, yang didapat hanya “apresiasi” dari pembaca saja. Jadi harus diluruskan niat, hanya mengharapkan Allah saja yang mengapresiasi. Biar pembaca tidak mengapresiasi, biar pembaca tidak memberikan “jempol”, tetap saja menulis untuk hal-hal yang mengajak untuk lebih baik, untuk kebaikan. Harapan, semoga banyak pembaca yang dapat diingatkan baik yang menandai dengan “jempol” atau tidak memberikan “jempol” walau ikut membaca. Bahkan tak jarang dari sekian banyak tulisanku yang sudah ter-publish; diantaranya mendapat komentar yang “tidak menyukai”. Tidak masalah…., karena mengingatkan sesama dalam hal kebaikan dan takwa adalah perintah Allah. وَمَا عَلَى الَّذِينَ يَتَّقُونَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِّنْ شَىْءٍ وَلٰكِنْ ذِكْرٰى لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ "Orang-orang yang bertakwa tidak ada tanggung jawab sedikit pun atas (dosa-dosa) mereka; tetapi (berkewajiban) mengingatkan agar mereka (juga) bertakwa." (QS. Al-An'am 6: Ayat 69) Menyoal kerugian ibadah karena “bengkoknya niat” ini, bukan pula hanya tersandung kepada para orang awam saja, tetapi tak jarang juga terkena kepada para ustadz yang memberikan ceramah, ustadz yang menjadi khatib, ustadz yang menjadi imam. Perangkap membuat niat menjadi kurang lurus bagi Ustazd: 1. Memberi ceramah dan menjadi khatib; bila terbetik niat untuk mengharapkan besaran honor dari panitia atau pengurus masjid. Maka besar kemungkinan yang didapatnya dari ceramahnya hanyalah besaran honor tersebut. Indikator buat ustadz kelompok ini agaknya, tak terlalu sulit. Di mana2 kota negeri kita terdapat banyak masjid. Honor khatib tiap-tiap masjid itu tidak sama, tergantung pemasukan masjid yang terkait erat dengan lokasi dan luas masjid berhubungan dengan Jumlah banyaknya jamaah. Ada masjid yang memberikan honor khatib; 1 juta, 400 ribu dan 300 ribu. Khatib dapat mengukur dirinya, ketika berangkat menuju masjid-masjid tersebut apa yang terasa dalam hati. Bukan mustahil terjadi ketika satu hari Jum’at, terjadwal menjadi khatib di masjid 300 ribu, sementara itu hari kamis siang dapat telepon, khatib seharusnya terjadwal Jum’at besok di masjid 1 juta, akan berhalangan hadir. Pengurus masjid 1 juta minta menggantikan. Disini ujian bagi sang khatib. Masjid 300 ribu dianya adalah khatib utama yang sudah terjadwal, disusun jadwal sejak awal tahun lalu. Sedangkan di masjid 1 juta, betul nama si ustadz juga terdaftar sebagai khatib, tapi untuk Jum’at itu bukan gilirannya. Kini si khatib apa akan mengirimkan pengganti di masjid 300 ribu dan mengisi di 1 juta, atau dengan bijak menolak masjid 1 juta, misalnya menyarankan pengurus masjid mencari pengganti ustadz yang berhalangan, karena dirinya sudah terjadwal sebagai khatib utama di masjid 300 ribu. 2. Ketika menjadi imam, bila terbetik di dalam hati, merasa bahwa dianya imam yang paling baik dari imam-imam yang biasa menjadi imam di masjid itu, ini si ustadz sudah masuk dalam perangkap salah niat. Ada yang juga menilai dirinya yang paling benar, paling bagus bacaannya, dengan terbesit di dalam hati agar imam lain mencontoh cara dirinya membaca, ketika memimpin menjadi imam. Niat ini bukan lagi Lillahi ta’ala, melainkan seperti yang terbetik di hati, terbersit di hati. Yang namanya syaitan mengganggu manusia sesuai stratanya, makin tinggi kedudukan orang, makin tinggi pula kedudukan syaitan penggodanya, begitupun makin tinggi ilmu sesorang, makin tinggi pula ilmu syaitan yang menggodanya. Itulah sebabnya berhati-hatilah kita menjaga ke lurusan niat, agar ibadah/amal kita mendapat apresiasi, keredhaan Allah. Sedangkan makmum juga, luruskan niat ikut berjamaah, bukan lantaran imam yang memimpin shalatnya merdu suaranya, bagus bacaannya tapi niatkanlah hanya karena Allah. 3. Menjadi pengajar tetap di masjid; Juga bila si ustadz pengajar tetap itu selalu mengungkapkan bahwa, si ustadz lain kurang benar memberikan pelajaran, dengan konotasi merendahkan, bukan memberi informasi bagaimana sebenarnya. Disini nampak bahwa ingin mengkondisikan kepada jamaah bahwa dirinya paling benar. Ini juga membuat terkembarnya niat ketika berangkat menuju majelis jamaah, niat sudah tidak semata-mata karena Allah lagi, sudah masuk niat lain. Sudah masuk ingin dihargakan “sebagai ustadz top”, sudah terkontaminiasi keinginan untuk merendahkan ustadz lain. Sudah ada niatan agar jamaah lebih banyak menyukainya. Bagi para jamaah juga, bila datang ke masjid lantaran ingin jumpa, ingin mendengar ustadz paporit, bukan karena Allah, maka niat inipun sudah tidak lurus lagi. Berat memang, meluruskan niat untuk beribadah ini, kadang bila seseorang mengucapkan “saya lakukan ini ikhlas karena Allah”, justru inipun salah-salah dapat merupakan pertanda ada kerusakan pada niatnya. Ucapan ini juga justru boleh jadi dapat menjadikan tanda tidak ikhlas. Paling tidak dengan ucapan itu, se-olah2 sipenutur ingin diketahui pendengarnya bahwa dirinya melakukan ibadah tersebut karena Allah. wallahu a’lam bishawab. Semoga; umpanyapun kita dalam berbuat terkait ibadah, terlanjur “terbengkok niat”, Allah “luruskan”, sehingga amal kebaikan kita, ibadah kita, diberikan ganjaran pahala di sisi Allah, bermanfaat untuk kehidupan akhirat nanti…. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 24 Syawal 1443 H. 25 Mei 2022. (965.05.22)

TOLONG me-NOLONG

Tolong menolong dalam penerapannya di tengah masyarakat dapat dilakukan dalam beberapa perwujudan antara lain; saya coba mengangkatnya dalam tulisan ini dalam 4 wujud tolong menolong yaitu: 1. Tolong menolong dalam wujud berbagi rezeki kepada yang lebih membutuhkan. 2. Tolong menolong dalam wujud membantu sesama dalam kesulitan. 3. Tolong menolong dalam wujud mengentaskan kemiskinan. 4. Tolong menolong dalam wujud kemaslahatan umum. Sebetulnya ada lagi wujud tolong menolong dalam berbuat kejahatan. Saya tidak masukkan di dalam tulisan ini, kendatipun di dunia sekarang ini sudah semakin marak, bahkan dilakukan oleh “kerah putih” ; dikenal dengan istilah “Korupsi berjamaah”. Tolong menolang dalam berbuat dosa ini secara tegas dilarang oleh Allah. Perhatikan (QS. 5 = Al-Ma'idah ayat 2) Tolong menolong. وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى  ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوٰنِ Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Tolong menolong dalam wujud berbagi rezeki kepada yang lebih membutuhkan. Bahkan Allah menegaskan setiap diri belum memperoleh kebajikan kalau belum mampu berinfak atas sebagian harta yang dicintai seperti termuat dalam (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 92) لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ  ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَىْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ "Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui." Rezeki, umumnya diperoleh dengan susah payah, wajar dan manusiawi sebetulnya, bila jadinya rezeki yang sudah ada di tangan itu di-sayang2, di-hemat2 atau di cintai. Makanya Allah menyebut di ayat di atas dengan istilah “harta yang kamu cintai”. Untuk memotivasi orang2 yang berinfak, membagi rezeki kepada pihak lain yang lebih membutuhkan; Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:   وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ …………………….” "…………...Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. 59 = Al-Hasyr ayat 9) Tolong menolong dalam wujud membantu sesama dalam kesulitan Di dalam kehidupan ini, bukan hanya kekurangan harta saja membuat orang dalam kesulitan. Tidak sedikit orang yang hidupnya makmur, tetapi terhimpit masalah yang sulit mencari jalan keluar. Dalam hal ini, tolong menolong dalam hal memberikan jalan keluar adalah merupakan suatu kebajikan. وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَ اللَّهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَاكَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meringankan kesusahan seorang mukmin di antara kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan meringankan kesusahannya di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Allah akan selalu menolong seorang hamba selama ia mau menolong saudaranya.” (HR. Muslim). Tolong menolong dalam wujud mengentaskan kemiskinan Rasulullah s.a.w mengajarkan kepada kita untuk mengentaskan kemiskinan bukan dengan jalan sekedar memberikan sedekah kepada peminta-minta. Bahkan tidak dianjurkan untuk memberikan uang kepada peminta-minta, karena justru berpotensi untuk mengembang biakkan kaum peminta-minta. Pembaca sudah sering mendengar ustadz di majelis2 taklim mengenai kisah seorang miskin meminta pekerjaan kepada Rasulullah yang dikisahkan oleh Anas bin Malik ra. Singkat kisah, seorang miskin masih punya harta berupa pakaian tebal dan bejana tempat air minum. Dua item barang itu dilelang Rasulullah, sabahat yang menawar tertinggi dua dirham. Dari dua dirham itu, satu dirham disuruh Rasulullah untuk diserahkan ke keluarga si miskin buat biaya hidup. Satu dirham disuruh Rasululullah membeli Kapak. Dengan Kapak itu si miskin mencari kayu bakar untuk dijual. Alkisah setelah 15 hari kemudian si miskin melapor kepada Rasulullah telah dapat mengembangkan modal satu dirham itu menjadi 10 dirham. Rasulullah mengatakan kepada sahabatnya yang miskin itu: “Ini lebih baik bagimu daripada meminta-minta, itu akan mencoreng wajahmu kelak pada hari kiamat. Dan meminta-minta dibenarkan kecuali pada tiga golongan: Pertama, orang yang benar-benar miskin. Kedua, orang yang terlilit utang. Ketiga, orang yang dibebani tebusan besar.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah). Begini tolong-menolong dalam wujud mengentaskan kemiskinan model Rasulullah saw. Bukan sekedar disediakan raskin, bantuan uang sekedarnya yang hanya sementara. Tetapi yang lebih penting adalah memberikan peluang untuk orang menjadi produktif. Tolong menolong dalam wujud kemaslahatan umum Agama memberikan ruang untuk kita bertolong-tolongan dalam membangun sarana kemaslahatan umum, yang berguna untuk memudahkan kehidupan orang banyak termasuk diantaranya membangun sarana ibadah, membangun tempat-tempat pendidikan, tidak terkecuali membangun jalan dan jembatan serta sanitasi. Walau membangun sarana jalan dan jembatan serta sanitasi, dalam tatanan bernegara telah diambil alih oleh pemerintah, namun untuk memeliharanya adalah tanggung jawab dalam scope tolong-menolong tersebut. Dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyabdakan: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ “Saat seorang pria sedang berjalan, tiba-tiba ia mendapati sebuah dahan berduri yang menghalangi jalan. Kemudian ia menyingkirkannya. Maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya” (HR al-Bukhari). Apalagi dalam hal-hal kemaslahatan ummat manusia yang lebih besar. Banyak lagi dimensi tolong menolong yang dapat dilakukan dalam kebaikan seperti memberikan solusi, memberikan saran dalam mencari nafkah/kehidupan dan lain-lain. Semoga lahan yang terbuka luas untuk kita beramal ini dapat kita manfaatkan sebaik- baiknya sebelum buku amal kita ditutup oleh Allah, dengan berakhirnya hidup ini Semoga Allah memberikan kesempatan untuk kita selalu menabur kebaikan, selama hayat dikandung badan antara lain dengan saling Tolong Menolong dalam Kebaikan. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 28 Syawal 1443 H. 29 Mei 2022. (966.05.22)

Monday, 23 May 2022

MASA HIDUP MANUSIA

Manusia hidup di dunia ini, tunduk pada ruang dan waktu atau tempat dan masa. Masa hidup manusia terdiri atas TIGA MASA yaitu: masa kemarin, masa kini, dan masa yang akan datang. Masa pertama; ialah masa yang lalu, termasuk kemarin. Termasuk masa muda kita, termasuk masa kita masih berjaya dulu-dulu. Masa itu tak kan dapat diulangi lagi berapapun biaya yang kita sanggupi, apapun redaksi do'a kita, tak kan dapat masa itu terulang kembali. Bila pas terisi dengan banyak kebaikan; alhamdulillah. Bila banyak terlanjur terisi yang tidak baik dan dosa, apa boleh buat; segera bertobat. Masa kedua; adalah masa sekarang, tegasnya masa hari ini, jam saat ini, detik-detik anda membaca tulisan ini, sebelum hari berganti. Sangat rugilah bila masa sekarang tidak terpergunakan dengan baik, sebab dia "si masa" segera akan jadi masa lalu, setelah hari berganti, setelah jarum jam bergeser. Masa ketiga; adalah masa yang akan datang. Dimulai jam berikut, dimulai hari sesudah hari ini dan seterusnya. Itu masa yang akan datang di dunia. Masa yang akan datang yang lebih panjang berikutnya ialah masa akhirat. Masa yang sangat berharga bagi kita adalah masa sekarang, jangan sampai terlewatkan begitu saja tanpa makna, mari diisi dengan hal-hal yang benilai guna untuk hari esok dunia dan akhirat. Sungguh manusia akan merugi bila tidak dapat memanfaatkan masa hari ini dengan baik. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran). (QS. 103 =Al-'Asr, ayat 1 - 3) Manusia membagi hari esok dalam dua besaran, yaitu: hari esok di dunia dan hari esok di akhirat. Hari esok di dunia, terkait untuk membuat perencanaan ada pula orang membagi jadi: jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Berkenaan dengan pertumbuhan phisik dan dan mental hari esok di dunia dapat di bagi: masa bayi, masa balita, masa anak2, masa remaja, masa dewasa dan masa tua. Hari esok di dunia sejak bayi sampai -----→ masa tua, berbatas bilangan tahun yang jarang manusia berusia sampai hitungan 3 digit. Walaupun hidup ini tidak kekal, ORTU2 di strata sosial ekonomi yang bagaimanapun, tetap mempersiapkan masa depan (hari esok) anak2 mereka di dunia, dengan membekali anak2 mereka dengan pendidikan, modal hidup, iman dan ahlak. Karena Allah mengarahkan setiap ORTU, agar jangan meninggalkan anak2 keturunan dalam keadaan lemah, dalam artian dalam segala faktor menghadapi hidup. وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا "Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." (QS. 4 = An-Nisa': ayat 9) Sedangkan hari esok untuk akhirat, tidak berbatas waktu, kekal selamanya, dalam hal ini Allah mengingatkan: يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. 59 = Al-Hasyr: ayat 18). Sehubungan dengan persiapan hari esok di dunia dan hari esok di akhirat itu. Sejalan dengan petunjuk Allah di tiga ayat yang di petik di atas. Hendaklah setiap diri mempersiapkan masa yang akan datang untuk selama hidup di dunia ini dan lebih utama lagi masa depan di akhirat nanti. Persiapan tsb bukan saja bagi diri masing2 tetapi juga buat anak2 keturunan yang akan melanjutkan kehidupan ini. Semoga kita semua tetap ingat bahwa hidup sekarang ini terbatas, makanya harus dijalani dengan memperbanyak amal kebaikan, menghindari amal yang tidak baik, karena akan menentukan kehidupan masa depan; baik di dunia ini terlebih di akhirat nanti. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالۤاخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 22 Syawal 1443 H. 23 Mei 2022. (964.05.22)

Sunday, 22 May 2022

OTOMATIS dan DIRINTIS

Kelas dua ES EM AA, tahun 1968, kami tempo doeloe mulai dijuruskan. Diriku bersama 7 orang seangkatan masuk kelas "PASPAL". Guru pengajar "Kimia", sebelum mulai ngajar di hari permulaan bertanya kepada kami: "Kalian harus belajar kimia ini sebetulnya untuk apa???". Teman2ku termasuk diriku menjawab, sesuai apa pendapat kami ketika itu, spontan tanpa persiapan, tak menduga ada pertanyaan seperti itu. Masing2 kami semua dapat giliran menjawab, maklum sekelas kami hanya delapan. Rupanya jawaban kami menurut “Guru Kimia” itu tak ada yang benar. Selanjutnya beliau menyebutkan jawaban singkat: “Belajar kimia UNTUK MENCARI REZEKI”. Dijelaskan bahwa: “Apapun ilmu pengetahuan yang diperoleh dimasa muda, melalui belajar apa saja selanjutnya dengan ilmu itu kalian menjadi berprofesi apapun, akhirnya untuk mencari rezeki. Makin tinggi ilmu kalian, secara logika semakin mudah dalam mencai rezeki”. Demikian guru kimia kami menuturkan. Berbicara soal rezeki; almarhummah nenekku pernah mengatakan: “Ulat di dalam batu saja pasti akan mendapat rizki”. Bagaimana ceritanya seekor ulat kok berada dalam batu. Tentu dia belum menjadi ulat, tadinya mahluk ini begitu halusnya, sehingga dapat masuk ke pori-pri kecil dari sebuah batu besar. Kebetulan di dalam batu besar itu ada rongga yang kemudian mahluk cikal bakal ulat itu dapat mukim. Ulat tadi tumbuh berkembang di dalam batu tersebut, sudah pasti si ulat mendapat rizki, kalau tidak mana mungkin dia dapat membesar. Kukaitkan dengan statement guruku kimia kami itu, kan si ulat tidak punya ilmu apa2, dianya tak pernah sekolah. Kata bijak nenekku ini, sungguh dalam…….. pengertiannya, untuk memberikan semangat dan motivasi buat kehidupan, bahwa jangankan lagi kita sebagai manusia yang lengkap panca indra, dilengkapi pula dengan ilmu pengetahuan, hidup bebas tidak terkungkung di dalam batu, jelas bahwa kita pasti mendapatkan rezki, sebab ikhtiar kita kan lebih luas dapat dilakukan. Bila direnung lebih dalam, memang rezeki untuk seluruh mahluk ini ada dua jenisnya, kalau boleh saya diberi nama; REZEKI YANG OTOMATIS dan REZIK YANG DIPEROLEH HARUS DIRINTIS. PENERIMA rezeki OTOMATIS. Tidak kecuali, semua mahluk yang bergerak dan yang tidak bergerak menerima rizki otomatis ini. Contohnya setiap makluk hidup didarat menerima oksigen sebagai rezeki yang diterimanya untuk bernafas. Semua mahluk di daratan dan dipermukaan lautan menikmati sinar Matahari. Baik juga bila diambil tamsil, bagaimana seekor kupu-kupu. Asal hidupnya dalam kepompong. Calon kupu-kupu ini ketika dalam kepompong dapat dipastikan dianya mendapat rezeki otomatis, hingga dapat tumbuh berkembang sehingga perlahan-lahan tapi pasti setelah masa yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, diapun keluar dari kepompong menjelma menjadi mahluk baru yang dapat terbang berupa Kupu-Kupu. Nah ketika sudah mulai dapat terbang maka sebagian rezeki otomatis untuknya sudah tidak diterimanya lagi, walau masih ada berupa terangnya sinar Matahari, oksigen untuk bernafas. Untuk hidup selanjutnya sang Kupu-Kupu harus berikhtiar dengan merintis cara mendapatkan rezeki, mengepak-ngepakkan sayapnya untuk menghampiri aneka bunga guna mengisap sari madunya untuk mempertahankan hidupnya sampai waktu yang di tentukan. Begitu pula tamsil ini bagi manusia, bila sudah dapat berdiri sendiri, rezeki sudah harus mulai dikais, tidak lagi hanya mengandalkan rizki otomatis selama kurang lebih sembilan bulan di kandungan ibu. Setelah lahir kedunia, rezeki si bayipun harus dengan ikhtiar (dirintis=diupayakan) dengan menangis. Mendengar tangis sang bayi, bundapun memberikan ASI, dimana ASI juga masih terkelompok rezeki yang otomatis, sebab otomatis begitu bayi lahir air susu ibu pun tersedia. Sebelum melahirkan, susu ibu tidak berisi susu. Selama masih belum dapat berkegiatan sendiri, kupu-kupu masih dalam kepompong, manusia masih dikandungan ibu, setelah lahir kedunia masih lemah, rizki yang diterima adalah rizki otomatis. Semua kita kala bayi butuh susu ibu. Makan disuapi, begitu besar sedikit, setelah mampu, nyuap sendiri dstnya. Maha benar Allah dengan segala firmannya di dalam Al-Qur’an diantaranya seperti tertuang dalam surat HUD ayat 6 Allah SWT berfirman: وَمَا مِنْ دَاۤ بَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ "Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)." PENERIMA rezeki DIRINTIS Kita manusia juga salah satu mahluk penerima rezeki otomatis dan dirintis itu. Persoalannya rezeki dirintis untuk dapat menerimanya harus dengan usaha yang sungguh-sungguh. Usaha ini dapat dilakukan dengan berbagai bidang kegiatan. Manusia diberikan kebebasan pula untuk meraih rezeki yang diterima secara dirintis ini dengan upaya apa saja. Boleh berlomba-lomba dan juga boleh dengan cara apa saja. Disinilah peran agama dan anturan undang-undang untuk memberikan batasan pencari rizki dirintis ini, guna menentukan bagaimana memilih cara yang diperkenankan dan bagaimana yang tidak dibolehkan. Manusia diciptakan Allah berpotensi “FUJUR dan TAQWA” (QS: 91 = Asy-Syams ayat 8): فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوٰىهَا "maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, Dapat saja merintis mencari rezeki dengan cara yang tidak halal, tetapi tak kurang juga banyaknya orang yang memilih merintis mencari rezeki dengan jalan yang halal. Perlu dipahami bahwa bagi orang yang beragama, ikhtiar merintis mencari rezeki, dilakukan disamping harus dengan cara halal, juga ada kadar yang telah ditetapkan oleh Allah s.w.t. Buktinya orang dengan rintisan lapangan usaha yang sama, ada yang sukses, sementara ada yang kurang sukses. Semua itu telah ditentukan kadarnya oleh Yang Maha Kuasa. Rezeki yang harus dicari dengan secara dirintis melalui ikhtiar dan ilmu, telah diisyaratkan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat 45 Al Jatsiah ayat 22. وَ خَلَقَ اللّٰهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ "Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan." Kembali ke statement “Guru kimia kami” dan Almarhumah Nenek-ku, keduanya benar bahwa manusia diberi Allah rezeki secara OTOMATIS, selain itu juga Allah menyiapkan rezeki yang harus dicari dengan jalan DIRINTIS, mulai dengan mempersiapkan diri dengan menuntut berbagai ilmu yang nantinya dengan ilmu itu dapat dipergunakan mencari rezeki. Selanjutnya tentang banyak sedikitnya rezeki yang kita peroleh: اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيَقْدِرُ ۗ وَفَرِحُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا مَتَاعٌ "Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat." (QS. 13 = Ar-Ra'd, ayat 26). Semoga Allah masukkan apapun ikhtiar kita dalam mencari ilmu dimana dengannya merupakan sarana dalam merintis mencari rezeki dicatatan Allah sebagai amal baik kita. اَللَّهُمَّ طَوِّ لْ عُمُ و رَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَوَسِّعْ أَرْزَقَنَا آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 21 Syawal 1443 H. 22 Mei 2022. (963.05.22)

Friday, 20 May 2022

PEDOMAN KeHIDUPan

Usia manusia berbeda satu sama lainnya, begitu juga amalnya. Setiap orang amat menyadari bahwa diri ini tidak mungkin selamanya tinggal di dunia ini. Semua kita memahami bahwa kita entah sebentar lagi, entah besok, entah lusa, entah kapan tetapi pasti akan melanjutkan perjalanan menuju kepada kehidupan yang kekal abadi ke negeri akhirat. Bahwa hidup di dunia ini, berbatas waktu tertentu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, seperti tercantum dalam surat Al- An’am ayat 2 …. هُوَ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِّنْ طِينٍ ثُمَّ قَضٰىٓ أَجَلًا  ۖ وَأَجَلٌ مُّسَمًّى عِنْدَهُۥ  ۖ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ "Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu), dan batas waktu tertentu yang hanya diketahui oleh-Nya. Namun demikian kamu masih meragukannya." Sayang, kesadaran ini kadang terlupakan. Padahal, datangnya panggilan Allah itu sangat tiba-tiba tak dapat digeser dan ditunda. Manusia selalu digoda oleh setan, diuji dengan: hawa nafsu, kemalasan bahkan lupa, kemudian menjadi lemah semangat dalam mengumpulkan bekal ke akhirat dalam wujud ibadah kepada Allah. Menyiasati godaan syaitan ini kita selalu membutuhkan pencerahan iman secara terus menerus, dengan mendalami Al-Quran, menyimak mutiara-mutiara sabda Rasulullah, merenungkan ucapan hikmah para ulama. Bagaimana seharusnya kita menjalani hidup, agar di dunia selamat insya Allah di akhirat pun nanti selamat, marilah kita perhatikan firman Allah dari surat Al-Qashash ayat 77: وَابْتَغِ فِيمَآ ءَاتٰىكَ اللَّهُ الدَّارَ الْأَاخِرَةَ  ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا  ۖ وَأَحْسِنْ كَمَآ أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ  ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْأَرْضِ  ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ "Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." Dari ayat ini kita dapat mengambil 3 petunjuk penting dari Allah, sebagai PEDOMAN HIDUP yang perlu kita pergunakan bersama selama keberadaan kita di dunia ini yaitu: 1. Utamakan kehidupan akhirat, dengan sarana kehidupan di dunia 2. Senantiasa harus menabur kebaikan, selama hidup di dunia 3. Jangan berbuat kerusakan di muka bumi. Pedoman Pertama, mengutamakan kebahagiaan kehidupan akhirat. Di pedoman ini diarahkan kepada kita semua agar dalam melaksanakan kehidupan di dunia, kita senantiasa mengutamakan pertimbangan nilai akhirat. Perlu dipahami, mengutamakan kebahagiaan akhirat bukan berarti dalam mewujudkannya kebahagiaan duniawi diabaikan begitu saja, sebab amal akhirat tidak berdiri sendiri dan terlepas dari amal duniawi. Sungguh amat banyak amalan akhirat yang berhubungan erat dalam mewujudkan kebahagian duniawi. Umpamanya shalat, seorang yang melaksanakan shalat dengan tekun dan disiplin bukanlah semata-mata sebagai amal akhirat yang tidak berdampak duniawi, sebab bila shalat itu dilaksanakan menurut tuntunan Allah dan Rasul-Nya, yaitu secara berjamaah, niscaya ia akan banyak memberikan hikmah dalam kehidupan dunia. Dengan shalat yang benar akan dapat mencegah seseorang dari berbuat keji dan mungkar. Dengan demikian manusia akan terhindarnya dari perbuatan yang dapat merugikan orang lain, sehingga terciptalah ketenteraman hidup bersama bermasyarakat di dunia ini. إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ “………..Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar...” (Al-Ankabut 45) Begitu juga dengan infak dan sedekah, seorang yang beramal dengan niatan mulia untuk mendapatkan ganjaran berupa pahala dari Allah di akhirat, maka dengan hartanya tersebut dapat memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain yang membutuhkan. Nampaknya amal yang satu ini (infak dan sedekah), misalnyapun “tidak ikhlas” dapat saja tetap bermanfaat. Misal seseorang yang; lantaran menerima infak sedekah itu dianya menjadi bugar, disebabkan kebugarannya dianya kuat beribadah, dalam pada itu ketika beribadah dianya mendo’akan orang yang pemberi infak dan sedekah itu dengan do’a “ya Allah lantaran sedekah orang itu aku dapat beribadah kepadamu, berikanlah limpahan karunia dan ampuni dosa orang yang bersedekah kepadaku,…….. aamiin”. Penerima sedekah itu tak mengetahui kalau pemberi sedekah tidak ikhlas, tapi…… dianya berdo’a dengan ikhlas dan insya Allah diijabah Allah. Naaah begitulah hebatnya sedekah. Demikian hebatnya amalan sedekah ini, seorang yang menghadapi maut, mereka meminta tangguhkan kematian, bukannya minta waktu untuk melaksanakan ibadah2 lainnya, tetapi justru yang diminta oleh mereka agar dapat bersedekah. ………. Ayo kita tengok surat Al-Munafiqun ayat 10: وَأَنْفِقُوا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلٰىٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِينَ "Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh."" Pedoman Kedua; ‘ahsin’ yaitu senantiasa berbuat kebaikan. Bila seseorang memegang pedoman ini dalam dirinya, niscaya ia akan selalu berbuat kebaikan. Ia akan senantiasa berprasangka baik kepada orang lain, selalu berusaha berbuat baik dan berkata baik dalam pergaulan di kehidupan sehari-hari. Maka akan selalu tampillah kebaikan demi kebaikan, mempersembahkan sebuah karya terbaiknya untuk kemanfaatan masyarakat disekitarnya. Peduli akan kemaslahatan umum, dan meninggalkan sebuah kebaikan yang akan selalu berguna bagi orang banyak walaupun ia sudah pergi terlebih dahulu menuju kehidupan yang abadi. Banyak ayat2 dalam Al-Qur’an memberikan informasi tentang Allah mencintai orang2 yang berbuat kebaikan. Salah satunya kita petik: فَئَاتٰىهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْأَاخِرَةِ  ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ "Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. 3 = Ali 'Imran ayat 148) Pedoman Ketiga, adalah “walaa tabghil fasada fil ardh” yaitu untuk tidak berbuat kerusakan. Bila pedoman ini dipegang teguh, seseorang akan lebih melengkapi pedoman yang kedua, yakni melengkapi upayanya berbuat baik dengan upaya menghindari perbuatan yang merusak. Terjadinya kerusakan alam, kerusakan moral, kerusakan dalam tatanan kehidupan masyarakat sering kali karena ulah “tangan manusia”, terjadi karena sudah hilangnya kesadaran akan tujuan hidup yang sesungguhnya. Surat Ar-Rum (30) Ayat 41 ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap perbutan dikarenakan dan/atau termasuk pendengaran, penglihatan dan hati nuranipun akan mempertanggung jawabkan ketika ia menghadap Allah di akhirat kelak. وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ  ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. 17 =Al-Isra': ayat 36) Semoga kita semua dapat menjalankan pedoman kehidupan ini, sehingga selamatlah diri, baik di dunia maupun di akhirat kelak. رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 20 Syawal 1443 H. 21 Mei 2022. (962.05.22)

Thursday, 19 May 2022

TANGKAL HINA dan SENGSARA

Dalam status sosial dan strata apa saja manusia tak ingin kehinaan dan kesengsaraan. Sebaliknya ingin dihargai dan bahagia, kalaulah tidak dihargai setidaknya janganlah sampai dihina. Kalaulah tidak bahagia-bahagia amat sekurangnya tidaklah sengsara. Konsep menangkal kehinaan dan kesengsaraan, yang mungkin patut kiranya dipertimbangkan oleh para pembaca, ada 2 (dua) besaran seperti berikut: PERTAMA; Berpegang kepada agama Allah, dalam pengertian bukan sekedar beragama, tetapi menta'ati aturan agama tersebut dengan maksimal. Adapun aturan agama itu ada panduannya. Sebagai contoh bagi pemeluk agama Islam, sumber “utama” aturan itu adalah “Al-Qur'an dan Hadits”. Untuk melaksanakan ibadah kepada Allah kata KUNCINYA apabila jelas ada perintah Al-Qur'an dan suruhan Rasul-Nya atau dicontohkan Rasulullah. Diluar itu dapat saja terjerumus ke-sia-sian, ditolak ibadah tsb. Ibadah kepada Allah inilah yang disebut hablum minallah. Ibadah yang dibuat-buat berpotensi dihinakan atau saling menghina, bermuara kepada kesengsaraan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867) Melalui you tube akhir2 ini sering dijumpai ada tontonan. tentang bagaimana ada beberapa ustadz yang kadang membicarakan hal-hal tertentu menyangkut; kata sebagian ustadz tak ada tuntunan dari Rasulullah, sementara disanggah ustadz yang lainnya, juga dengan mengetengahkan dalil2. Keadaan demikian ini nampaknya kurang bagus di publish. Sebaiknya para ustadz2 yang berbeda pendapat tersebut mendiskusikannya sesama mereka, misalnya bertemu silaturahim, diskusi mereka tersebut sekali lagi bukan untuk konsumsi publik, agar orang2 awam tidak bingung. Kalau terus2an berpolemik di you tube, bukan mustahil keceplosan saling merendahkan, ujung2nya akan saling hina dan yang demikian itu pangkal kesengsaraan. KEDUA; Agar diri tidak terhina dan sengsara adalah memelihara hubungan sesama manusia, dalam artian bukan hanya kepada seiman saja tetapi kepada semua manusia. Sebab memang Allah ciptakan manusia ini tidak satu dalam keimanan. Untuk referensi ditemukan banyak ayat Al-Qur'an yang menyatakan bahwa dunia ini dihiasi banyak keyakinan a.l. ........... ۗ اَفَلَمْ يَايْـئَسِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْ لَّوْ يَشَآءُ اللّٰهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيْعًا ۗ ................." " .........Maka tidakkah orang-orang yang beriman mengetahui bahwa sekiranya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya...................." (QS.13 Ar-Ra'd ayat 31). Kata kunci untuk melaksanakan kegiatan perilaku aktivitas hidup termasuk berhubungan sosial kemasyarakatan. Kata kuncinya: SEPANJANG TAK ADA LARANGAN dari Al-Qur'an dan Rasul-Nya dapat dilakukan untuk berbuat kebaikan. Justru perwujudan iman itu adalah perbuatan kebajikan, kemaslahatan manusia. Bukan sebaliknya menebar kebencian, perpecahan dan teror. Iman adalah abstrak, sebagai bukti iman, terkonkritkan dalam perbuatan kebaikan dimaksud. Bila banyak orang sudah tidak lagi berbuat baik kepada sesama, bahkan sebaliknya seperti dikemukakan di atas, maka yang terjadi kehinaan dan kesengsaraan. Contoh kejadian perbuatan terorisme, menimbulkan kesengsaraan banyak orang yang tidak berdosa dan dampaknya banyak pihak yang mendapat hinaan setidaknya persepsi kurang baik. Sehingga stempel teroris kadang dicapkan kepada kelompok tertentu. Kembali ke pokok tulisan konsep Islam agar terhindar dari kehinaan dan kesengsaraan, mari kita simak: ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْۤا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْۢبِيَآءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ "Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas." (QS Ali Imran 112). Semoga kita semua sanggup menghindari kehinaan dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat dengan berhasil taat menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 18 Syawal 1443 H. 19 Mei 2022. (961.05.22)

Tuesday, 17 May 2022

BAWALAH bekas SHALAT dikehidupan

Almarhumah Ibuku adalah orang angkatan dulu, banyak kata-kata hikmah nan bijak dan singkat beliau tuturkan. Tapi penuh makna yang masih tersimpan apik di perbendaharaan qalbuku dan terpatri kuat di dalam bathinku. Selalu terngiang ditelangaku dan terhunjam kuat di ingatanku. Semoga Allah menaungi beliau di alam kubur dengan Rahmad-Nya dan mengampuni semua dosa serta menerima amal ibadah beliau. Salah satu kalimat bijak almarhumah ibuku tentang dampak shalat, ijinkan ku publish kehadapan para pembaca. “MESKIPUN SAMPAI CEKUNG TUJUH BATU KARENA SUJUD” tapi sesudah shalat “MEMBELAKANGI LANGIT” tak nemukan bahagia dunia akhirat walau kerja sampai “PATAH TULANG EMPAT KERAT”. Kalimat almarhumah ibu ku itu yang kunilai bijak ini, merupakan kalimat kiasan yang dapat diterjemahkan sebagai berikut: Begitu taatnya seorang ber ibadah (shalat) sampai bila sajadah tempat berdiri dan sujud untuk shalat tersebut dibuat dari batu, lantaran banyak di sujud-ti, lantaran rajinnya shalat wajib dan shalat sunnah, sehingga itu batu tempat sujud sampai cekung, hampir bolong karena terkena jidad lantaran terus menerus disebabkan sujud. Setelah hampir bolong satu “sajadah batu” diganti dan diganti lagi membuat sajadah baru dari batu lagi, akhirnya tujuh batu dibuat sajadah itu cekung semua terkena dahi lantaran sujud. Ini merupakan gambaran begitu rajinnya orang tersebut shalat menyembah kepada Allah. Namun hidup orang ini, sesudah menunaikan shalat membelakangi langit dalam berhubungan dengan sasama manusia, ibadah taat tetapi dalam hal aturan agama yang lainnya selain shalat tidak dipatuhi itu yang bundaku maksudkan dengan membelakangi langit yaitu menafikan aturan yang diturunkan dari langit (maksudnya aturan yang digariskan oleh Allah). Hubungan dengan orang tua kurang baik, suka membantah, tidak menurut dan cenderung durhaka. Dalam mencari nafkah tidak mengindahkan koridor yang ditetapkan Allah. Rezeki yang halal, dan haram semuanya di hantam. Prinsip cari rezeki dengan 3H (Haram, Halal, Hantam). Tercampur semua rezeki yang diperolehnya yang halal, yang haram, yang mubah dan yang makruh secara sengaja. Pergaulan sesama manusia tidak baik, hubungan dengan keluarga, suami isteri jauh dari tuntunan agama. Dari mulutnya sering meluncur kata-kata yang menyakitkan perasaan orang, lidahnya tak kering dari bergunjing, matanya tak terkendali menampak hal yang maksiat, langkah kakinya selalu menuju ke tempat tak senonoh. Kalau dia diberi amanah untuk mengurus keperluan orang banyak menggunakan kesempatan menguntungkan diri sendiri atau keluarga dan kelompok. Dianya selalu berfikir, urasan shalat, urusan agama kan terpisah dari urusan dunia. Urusan agama, urusan shalat kan urusan akhirat, urusan memegang amanah, mengurus orang banyak kan urusan dunia, dia selalu berfikir urusan dunia dan akhirat tak bercampur. Semboyan orang ini bahwa “Minyak dengan Air tak kan bercampur” Dianya lupa bahwa minyak kalau tercampur dengan air, bila dimasukkan ke tangki kendaraan, tunggu saatnya kendaraan akan mogok dan bahkan mesinnya akan rusak. Dalam pada itu air kalau sudah tercampur minyak, kalau juga terlanjur terminum karena demikian haus, maka akan berbahaya buat tubuh si yang meminum campuran cairan tersebut. Al hasil minyak bila bercampur air maka manfaatnya kurang bahkan mungkin menimbulkan mudharat. Demikian inilah profil seorang manusia yang MENINGGALKAN SHALAT DI SAJADAH, Kelompok ummat yang MENINGGALKAN AGAMA DI MASJID. Shalat semata-mata hanya di sajadah, boleh jadi dianya khusuk- se khusuk khusuknya. Tetapi selesai shalat diapun merajut urusan dunia seperti secara singkat sekedarnya terpapar di atas. Padahal ketika kita berdiri shalat, yang pertama diucapkan adalah kebesaran Allah, dengan demikian kitapun menafikan segala kepentingan dunia dan segala kekuasaan yang ada selain Allah, hanyalah kecil belaka. Berjanjilah kita kepada Allah bahwa hidup dan mati ini, artinya dunia dan akhirat digabung menjadi satu, dirajut untuk semua sebagai perwujudan pengabdian kepada Allah. Tidak memisahkan dunia dan akhirat, tidak memisahkan agama dengan urusan dunia dan kemasyarakatan. Tujuh ayatpun dibaca wajib setiap rakaat shalat dengan komitment hanya kepada Allah yang maha pemurah, maha pengasih penyayang dan nanti di hari kemudian tiada kekuasaan lain selain Dari DIRI NYA, kita meminta petunjuk jalan yang lurus, tentu yang dimaksud jalan lurus itu menata hidup di dunia. Kalau di akhirat nanti kita tak dapat berkehendak lagi minta jalan lurus, hanya menerima apa yang ditentukan Allah, namun di dunia kita minta petunjuk jalan yang lurus untuk dilalui dalam menata hidup. Bagi masyarakat awam, untuk mencari rezeki, untuk berhubungan dengan masyarakat, pokoknya mengatur kehidupan. Bagi pejabat atau orang yang mendapat amanah untuk mengatur pemerintahan dan masyarakat, bagaimana membuat kebijakan mengatur rakyat yang dipimpinnya. Akhir shalat kita sebarkan salam ke penduduk dunia ini dilambangkan dengan ucapan salam ke kanan dan ke kiri. Tentu maknanya, shalat telah kita tunaikan, selanjutnya kita akan hidup di luar shalat, bermasyarakat. Dalam bermasyarakat haruslah terkondisi keselamatan. Tidak luka hati orang karena lisan kita. Tidak rugi orang lain karena ulah kita. Orang lain tidak terdzalimi, lantaran perbuatan kita. Jika jadi pedagang menjadi pedagang yang jujur, jika jadi pegawai, pegawai yang disiplin memenuhi kewajiban dan tidak melanggar janji/sumpah ketika menerima pekerjaaan ataupun jabatan. Manakala menjadi guru, jadi guru yang patut ditiru. Ketika jadi pemimpin menjadi pemimpin yang adil, ketika bepolitik-berpolitik dengan tetap bermoral sebagai seorang yang setiap hari shalat, tidak menghalalkan segala cara. Jadi, orang politik harus tetap membawa agamanya dalam politik, agama apapun yang dianutnya, sebab kita yakin bahwa setiap agama musti mengajarkan ummatnya untuk taat kepada pencipta Alam semesta dan berbuat baik sesama ummat manusia. Jadi kalau kelak orang-orang politik tersebut diberi amanah mengatur negara, maka dianya menjadi pengatur negara yang tidak memisahkan agama dalam membuat kebijakan mengatur negara. Sebab jelas bahwa agama adalah aturan hidup yang ditentukan oleh yang menciptakan Alam ini. Sedangkan ketatanegaraan, pengaturan masyarakat adalah aturan yang ditetapkan bersama oleh kelompok masyarakat dengan anutan bermacam agama itu, untuk mengatur kehidupan bersama. Apa boleh buat karena kita ini hidup dengan berbagai agama menjadi satu bangsa, maka tak akan dapat dipergunakan satu aturan agama tertentu untuk mengatur kelompok yang terdiri dari berbagai agama itu, maka diaturlah dengan aturan yang di sepakati bersama, namun semua kelompok agama yang bergabung menjadi satu bangsa ini, akan merangkum hal-hal persamaan dalam agama mereka yaitu pada prinsipnya adalah KETAATAN KEPADA SANG PENCIPTA dan BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA dalam terminology Islam dikenal HABLUM MINALLAH dan HAMBLUM MINANNAS. Demi kesejahteraan bersama. Dengan demikian bekas shalatnya membekas pada diri setiap insan, shalat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu JANGAN tinggalkan shalat di SAJADAH”, bawa bekas shalat itu dalam posisi apapun anda berada. Jangan tinggalkan agama di Masjid. Benarlah apa yang dinukilkan Allah dalam ayat Al-Qur’an. Dalam surat Al-Fath (surat ke 48) ayat 29. سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ... ………………….” “………….Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud…………………...” Maksudnya bukan bekas sujud yang menghitam pada jidad, tetapi bekas shalat itu terbawa, dalam gerak-gerik, dalam tingkah laku, dalam tutur kata. Pokoknya dalam perilaku dan perbuatan. Semuanya masih nampak bekas-bekas sujud yang bersangkutan yaitu dengan menepati janji kepada Allah bahwa hidup dan mati hanya untuk mengabdi kepada Allah dan menepati janji kepada Allah akan menebarkan keselamatan dan rahmad, kebaikan bagi ummat manusia dan seluruh alam. Kalau dampak bekas sujud itu tidak diwujudkan dalam perilaku; lanjut ibuku maka “PATAH TULANG EMPAT KERAT” tak kan menemukan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini juga kalimat kiasan maksudnya bahwa tulang yang utama manusia adalah empat potong yaitu di tangan kiri dua potong dari ujung jari sampai siku, dari siku sampai bahu dan juga di tangan kanan, total empat potong, bahasa ibuku potong=kerat. Jadi biar bekerja rajin berusaha giat, sampai copot tu tulang empat kerat, kalau tidak shalat, DIIKUTI DENGAN membawa “bekas shalat” itu di kehidupan di masyarakat maka tak akan menemukan kebahagiaan, baik di dunia apalagi di akhirat. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 16 Syawal 1443 H. 17 Mei 2022. (959.05.22)