Friday, 23 February 2018

Membentengi Genarasi Penerus dari dampak negatif kemajuan teknelogi informasi.

Enam solusi yg kupapar tawarkan untuk membentengi sbgmn judul di atas.
Sempitnya ruang FB dan W.A. enam solusi tsb. ku publish bertahap.
Bahwa dmkn pesatnya teknologi informasi, bila dahulu penggemar tontonan dewasa seronok harus cari medianya ngumpet-ngumpet, bisik-bisik dg pedagang CD; sekarang dpt dilihat ditelapak tangan. Fenomena ini buat anak-anak sangat berbahaya bagi remajapun masih berbahaya. Persoalannya bgmn ORTU harus menyikapinya. Barangkali solusi untuk MEMBENTENGI generasi penerus dari dampak negatif kemajuan teknologi informasi tersebut adalah:
1. Perencanaan
2. Penyeleksian informasi
3. Pengarahan
4. Pendampingan
5. Pembagian waktu
6. Pemberian alternatif
PERENCANAAN
Kehidupan ini tak dpt melepaskan diri dari perencanaan. Akan pergi ke pasar, akan berangkat ke kantor, ke masjid, harus pergi kemana saja harus beraktivitas apa saja, harus disusun rencana. Setidaknya untuk mendukung rencana itu ditetapkan a.l. kendaraannya apa, perlengkapannya apa yg deperlukan dan menentukan pilihan jalan yg akan dilalui.
Orang akan menikah juga berencana, jarang yg ujuk-ujuk lalu nikah. Bgt juga setelah menikah akan punya generasi penerus itupun direncanakan, walau kadang yg terjadi diluar rencana karena kita berencana Allah jua yg menentukan.
Anak sbg generasi peneruspun lahir, kembali si Ortu sedini mungkin menyusun rencana diproyeksikan jadi apa tu anak nantinya kelak.
Jangan salahkan Allah, jika anak stlh tumbuh dewasa tdk menyenangkan, karena tlh diingatkan Allah bahwa anak memang berpotensi menjadi musuh,
, ْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ ۚ
dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; ..........
(QS. At-Taghabun 64: Ayat 14)
Anak berpotensi melalaikan Ortu dari mengingat Allah
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَاۤ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."
(QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 9)
Anak juga berpotensi sbg COBAAN
وَاعْلَمُوْۤا اَنَّمَاۤ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ
"Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan......"
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 28)
Untuk kehidupan di dunia ini agar generasi penerus tidak hidup dlm kesulitan, direncakan pendidikan yg baik, kondisi phisik dan mental yg prima, kerena mereka akan hidup di era yg lbh kompetitif dari pada kita. Oleh karena itu Allah mengingatkan:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا
"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 9)
Itu perencanaan untuk hari esok di dunia. Tapi yg namanya hari esok bukan hanya hari esok dlm arti hari sesudah hari ini saja. Tetapi hari ssdh hidup didunia ini yaitu di hari akhirat. Sehingga perencanaan yg diajarkan Allah untuk kita dunia dan akhirat tsb
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18)
Bgtlah salah satu solusi membentengi generasi penerus dari dampak negatif dari kemajuan teknologi informasi y.i. PERENCANAAN, dg menyiapkan mereka dengan ilmu, iman dan taqwa agar dengan sendirinya mereka dpt menyaring informasi
Yg tepat untuk keperluan mereka sesuai pertumbuhan kejiwaan sejak usia dini, anak-anak, remaja dan dewasa. Pada jenjang pertumbuhan kejiwaan itu Ortu membentengi generasi penerusnya dg melakukan pemantauan, pengawasan dan pengarahan informasi apa yg boleh dilihat dan yg tdk boleh dilihat mereka, agar tercapainya Perencanaan mau diproyeksikan jadi apa putra-putri mereka kelak.
Hal tersebut akan dirinci disolusi berikut "PENYELEKSIAN INFORMASI". insya Allah dilanjutkan yang akan datang.
Smg kita dpt menjelmakan rencana kita buat generasi penerus kita, terbenteng dari pengaruh negatif kemajuan teknologi informasi. Amin. Barakallahu fikum, waslm M. Syarif Arbi.

DENGKI (5/5) sambungan dari tulisan Dengki 1/5 sampai Dengki 4/5)

Dengki Hubungan kekeluargaan.
Masyarakat kita di Indonesia, adalah model masyarakat yang masih kental hubungan kekeluargaan. Keluarga dekat adalah anak-anak paman dan tante bahkan sampai garis keturunan keempat kelima, masih dianggap keluarga. Banyak segi positipnya memang, tetapi tak kurang pula sisi negatifnya. Misalkan salah seorang atau sekelompok dari yang masih dianggap keluarga itu kebetulan berada di posisi atas dalam strata sosial, katakanlah jadi pejabat terpandang dan banyak harta. Sanak famili kadang diantaranya ada yang malah menjauh karena menganggap si sukses tadi sombong, tidak perdulian dengan sanak famili. Si sukses disebabkan banyak teman dan handai serta relasi sudah tidak sempat memberi perhatian untuk sanak famili sendiri.
Kalau bukan ada hubungan kekeluargaan dengan mereka, orang lain sukses malah mereka tidak ambil perduli, kalau keluarga sendiri yang sukses justru hasad/irinya setengah mati. Penyakit dengki/hasad yang melekat di hati keluarga yang kurang sukses, kadang sampai mendo’akan “yang kurang baik” kepada si sukses.
Bila kebetulan suatu saat si sukses benar-benar jatuh, maka sanak famili yang merasa dianggap sepi sewaktu si sukses berjaya, sangat bersyukur. Ini bentuk penyakit hasad/dengki yg seyogyanya dijauhi.
Penyakit sombong ini bab lain lagi dilingkaran penyakit hati. Yg menarik orang yg sombong juga ndak suka dg orang yg sombong, terbukti ndak ada persatuan sesama orang sombong.
Ketahuilah sifat ini tdk disukai Allah;
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرَا
Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,"
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 36)
Di usia ku yg sdh cukup lama ini, banyak menyaksikan kenyataan orang diawal sampai pertengahan hidup melejit sukses karier dan ekonomi. Ada diantara orang sukses tsb. sblm sukses begitu ramah dan kekeluargaan, bgt sukses berubah jadi sombong. Bgt jatuh, orang dmkn akan lebih merana ketimbang orang yg hidupnya datar-datar saja, sebab banyak diantara keluarga tdk respek thdp mantan orang sukses itu karena selalu teringat akan kesombongannya dikala berjaya.
Yg menyedihkan, ada juga diantara orang sukses sebetulnya tdk sombong, tapi dinilai sombong oleh sbgn keluarga, inipun wujud dari dengki/hasad itu. Mereka yg menstempel "sombong" hanya lantaran iri/dengki/hasad thdp kesuksesan itu.
Dlm kasus ada kluarga kaya, sukses lantas sombong, kemudian "jatuh", sikap yg bijak adalah menerima dg baik kembali dia di keluarga. Hendaklah bersemboyan begini:
Kalau orang tengah sukses banyak relasi dan kawan. Bila sdh tdk berjaya lagi, dikala relasi dan kawannya telah menjauh, bgmnpun sanak kerabat yg bertalian darah tak akan dpt diputuskan. Kata pepatah Melayu "Tetak air tak kan putus". (Maksud pepatah= air tdk dpt dipotong, sama dg pertautan hubungan keluarga)Demikian akhir tulisan mengenai Dengki/hasad yg tersusun enam kali tayang. Smg kita dpt menekan penyakit hati yg satu ini (Dengki/hasad/iri). Agar dpt tenang menjalani hidup di dunia dan di akhirat nanti duterima Allah ditempatkan di tempat se baik-baiknya di sisi-Nya.Amien.
Wain yakun shawaban faminallah. Wa in yakun khathaan faminni waminanassyaitan,. Wallahu warasuluhu bari ani minhu. (Dan sekiranya benar, maka itu datang dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti datangnha dariku sendiri dan dari syaitan. Allah serta RasulNya berlepas diri daripadanya). Waslm M.Syarif Arbi.

DENGKI (4/5), sambungan dari (DENGKI 1/5, 2/5, 3/5, dan 3/5a.).

DENGKI Orang yang masih sekeluarga
Tetua kami di tanah melayu Kalimantan Barat punya pepatah:
“Kelapa setandan tak sama jatuhnya”.
“Ada yang hanya sampai beluluk”
“Ada yang jadi santan di belanga”
“Ada yang cengkir airnya diteguk”
Kelapa menjadi buah, melalui proses mayang terbungkus mancung kelapa (bungkus bunga kelapa), kemudian mayang terurai terjadi penyerbukan oleh serangga dan angin, jadilah beluluk (pentil calon buah kelapa). Tidak semua mayang menjadi beluluk, tidak semua beluluk menjadi buah kelapa, lebih dulu dimakan tupai. Setelah jadi buah kelapa, tak jarang baru saja ada air di dalamnya belum ada daging kelapa, masih cengkir, sudah dilobangi tupai, atau ada pula orang ngidam ingin minum air kelapa cengkir, diambilkan beberapa buah kelapa cengkir dari tandannya. Setelah buah agak berdaging, ada pula orang yang suka kelapa muda yang baru berdaging sedikit, ada juga yang ingin kalau dagingnya sudah agak tebal (dogan kelewat) tapi belum keras. Ada pula kelapa sudah tua baru dipetik untuk diambil santannya dimasak dalam belanga atau dijadikan kelapa kopra. Ada juga yang sampai tua jatuh sendiri, kemudian menjadi bibit. Begitu falsafah setandan buah kelapa.
Tapi tak banyak orang yang menyadari bertamsil kepada alam ciptaan Allah. Kakak adik sekeluarga saling hasad dan iri hati, tidak senang kalau saudaranya sukses, malah berupaya untuk menjatuhkannya dengan tingkatan-tingkatan stadium saya kemukakan di atas (Dengki 1/5). Belum lagi berhasad dengki mengenai pembagian waris. Satunya menganggap pihak
dia yang lebih berhak atas warisan yang itu, sedang dia (saudaranya) dulu masih orang tua hidup sudah dapat lebih banyak, disekolahkan sampai keluar negeri, “tidak seharusnya ia dapat juga, karena sudah banyak menghabiskan uang almarhum Papah”. Kata saudara yang ingin pembagian lebih banyak. Banyaklah problem yang membuat kadang adik beradik menjadi tidak akur. Pangkalnya adalah penyakit hasad.
Dengkipun dpt disulut oleh merasa beda kasing sayang Ortu. Dikisahkan Al-Qur'an ttg Nabi Yusuf. Dizalimi saudara-saudaranya lantaran iri/dengki.
اِذْ قَالُوْا لَيُوْسُفُ وَاَخُوْهُ اَحَبُّ اِلٰٓى اَبِيْنَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ ۗ اِنَّ اَبَانَا لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنِ
"Ketika mereka berkata, Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata,"
(QS. Yusuf 12: Ayat 8)
Tapi kalaulah tdk karena hasad/dengki saudara-saudaranya itu, Yusuf blm tentu dia dibuang kesumur. Kalau tdk dibuang kesumur tak mungkin diambil kafilah yg ambil air kmdn dijual sbg budak ke Mesir. Kalau tdk jadi budak di Mesir mana mungkin dibeli pembesar Mesir. Seterus ktm Zulaihah, dpt ujian selingkuh, masuk penjara. Di penjara diketahui ilmu yg dilebihkan Allah kpd Yusuf, selanjutnya jadi pembesar negeri Mesir.
Kedengkian kakak beradik dpt juga terjadi lantaran peran pihak ketiga. bila sdh menikah umpamanya; ada campur tangan suami atau isteri dari mereka yang bersaudara yang menghimbau/ngompori dari belakang, per-hasad-an semakin seru. Banyak kita dengar kakak adik sampai kemeja hijau lantaran soal warisan, itu masih jauh lebih baik, ada yang saling bermusuhan sampai tua. Naudzubillahi min dzalik.
Dmkn sekedar contoh perumpamaan, smg pembaca dan kita semua tdk termasuk kedalam contoh. Selalu ingat bahwa dunia hanyalah:
ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu." (Akhir ayat 20 surat Al-Hadid)
Wain yakun shawaban faminallah. Wa in yakun khathaan faminni waminanassyaitan,. Wallahu warasuluhu bari ani minhu. (Dan sekiranya benar, maka itu datang dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti datangnya dariku sendiri dan dari syaitan. Allah serta RasulNya berlepas diri daripadanya). Untuk itu mhn dimaklumi

DENGKI 3/5a. Sambungan DENGKI (1/5, 2/5 dan 3/5)

Dengki sesama Peniaga.
Pedagang sesama pedagang, biasanya pedagang barang sejenis. Misalnya tukang cendol dg tukang cendol, sesama tukang Ba'so, tukang gorengan, ketoprak.
Persaingan antar sesama pedagang dpt saja terjadi dimana saja.
Tahun 2000 saya pernah berkunjung ke Saudi melaksanakan umrah bersama dua anak saya, isteri serta Ibunda dan Adik. Rombongan kami termasuk keluarga saya hanya 17 orang. Program ziarah rombongan kami sangat efektif dan santai karena bis besar disediakan untuk kami sungguh leluasa. Di Madinah program tour umrah kami adalah mampir di pasar korma tak jauh dari masjid nabawi (ketika itu). Singkat cerita bis besar yang kami tumpangi itu parkir dilahan parkir diarahkan oleh Mutawwif (pemandu wisata) di depan sebuah toko. Katakanlah misalnya persis di depan toko Blok A4.
Namanya rombongan, mereka berkeliaran melihat-lihat korma di beberapa toko dan akhirnya banyak diantaranya yang belanja korma di toko blok A6, A5 dan bahkan ada di A3. Rupanya pemilik toko A4 tidak terima, parkir di depan tokonya belanja di toko lain. Si pemilik dan kerani toko A4 tak segan-segan menyamperi pemilik toko A5, A6 dan A3 marah-marah. Saya baru menyaksikan mereka ribut bertengkar masing-masing seperti kontes urat leher, dada dengan dada sampai bertemu, anehnya kedua tangan mereka di taruh di belakang pinggang. Jadi tidak terjadi saling pukul. Kami tidak paham apa yang mereka pertengkarkan itu, apalagi bertengkar dalam bahasa arab, ngomong perlahan saja sedikit sekali perbendaharaan bahasa arab kami. Yang terpikir buat kami cepat-cepat kembali ke bis dan cabut dari daerah itu, takut juga kalau terjadi apa-apa di negeri orang. Tahulah kami pokok soal mereka beradu dada dan urat leher itu stlh di jelaskan mutawif. Toko yg keparkiran bis kami tak terima toko-toko lain melayani pembeli, mnrtnya calon pembelinya direbut. Mestinya para calon pembeli belanja di toko miliknya, buktinya parkir di lahan depan tokonya.
Bgt suatu potret persaingan pe bisnis terjepret ndak sengaja oleh rombongan kami di negeri "korma". Seharusnya mrk memahami, bahwa takaran rizki dari sononya oleh sang pemberi rezeki sudah di atur ndak kan ketukar. Dpt kita simak banyak sekali peringatan Allah bahwa hak Allah lah menaburkan rezeki kpd seluruh mahluknya baik kita lihat satu diantaranya:
اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيَقْدِرُ ۗ وَفَرِحُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا مَتَاعٌ
"Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat."
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 26)
Kisah di atas memberi kesan:
1. Hasad/dengki juga ada di hati pddk di suatu negeri yg nota bine relatif bnyk yg faham Alqur'an karena bhs mrk.
2. Hukum dmkn ditaati setidaknya takuti (kalau mukul orang penjara kabarnya kan di dpt). Beda dg negeri kita gampang sekali adu jotos, kadang jiwa melayang hanya karena sedikit salah faham. Pedagang korma tadi milih naroh tangannya masing-masing ke blkng pinggang drpd terlanjur mukul. Semboyan mrk mungkin "biar pecah dimulut drpd lengan bicara, msk penjara".
Smg kita semakin yakin bahwa rezeki dari Allah dan tlh terjatah. Ikhtiar wajib ttp jangan menganbil hak orang lain.
Dmkn, smg ada faedahnya. Barakallahu fikum. Wslm. M. Syarif Arbi.

DENGKI (3/5), sambungan DENGKI (1/5 dan 2/5).

DENGKI Orang satu profesi.
Hasad/dengki sangat mudah hinggap pada kelompok orang seprofesi, sebab dengan profesi yang sama sering terjadi ada yang populer ada yang biasa-biasa saja dan bahkan hampir tidak dikenal. Ambil contoh profesi sebagai seorang ustad. Ada ustad yang bila berceramah, para pendengarnya terkagum kagum, berjam lamanya dia berceramah orang tak ada yang bosan. Kemana mana sering diundang ceramah sampai mendapat julukan penceramah kondang. Sementara itu ada ustad juga yang seilmu dan mungkin lebih tinggi ilmunya, tapi memang bakat masing-masing, rupanya cara penyajian beda dan tidak sepopuler si ustad kondang. Tak jarang si ustad ini pun dihinggapi penyakit hasad, tandanya lantas misalnya menyindir “ceramah bukan untuk mendapatkan tepuk tangan seperti sebagian ustad yang memasukkan humor dalam ceramahnya” ujar si ustad dalam suatu ceramahnya. Lanjutnya lagi “Kalau saya tidak, saya sampaikan sesuai apa adanya”. Demikian contoh gaya ustad yang juga terkena penyakit dengki/hasad. Jangan dikira penyakit ini hanya diderita oleh orang awam, tak jarang hinggap kepada ustad dan juga imam shalat. Bukan tidak mungkin seorang imam shalat ketika mengimami waktu membaca bacaan shalat dalam hati terbetik perasaan halus “begini membaca yang benar ndak seperti si anu yang sekarang jadi ma’mum kalau dia jadi imam” ini juga karena dengki/hasad, sebab si anu rival sesama imam tadi sering ditunjuk jadi imam. “Biar dia mendengar contoh bacaan yang pas”, sambung bathin si imam yg terhinggap penyakit hasad/dengki.
Eee,,........menyangkut soal penyakit bathin ini dihawatirkan bukan hanya kena ke orang awam. Bahkan dpt, mungkin di idap oleh orang yg strata imannya super top sekalipun. Sekaliber Abu Bakar saja masih diajarkan Nabi Muhammad s.a.w. do'a "Allahumma inni a 'uzubika an usyrika syain wa ana 'alamu wa astaghfiruka lima la ya'lamu (maaf jika melatinkannya tak pas benar) artinya "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari menyekutukanMu sedang aku mengetahui dan aku mohon ampun terhadap apa yg tdk aku ketahui" (Dr. Salman bin Fath, 20 Pintu Riya, hal 49 penerbit CV Arafah Group Solo, refer: Imam Bukhari "Al Adab Al-Mufrad" (716) dan At-Tarmidzi dlm "Nawadir Al-Usul" (IV/224 ........ ).
Jadi kalau bgt konon lagi kita zaman kini. Sahabat Nabi paling utama, halifah ssdh Nabi yg pertama itu saja, diajari do'a dmkn oleh nabi. Agar terhindar dari penyakit mensekutukan Allah. Mensekutukan Allah dlm arti luas termasuk tdk mengindahkan larangan-Nya agar jangan dengki/hasad atas anugerah Allah kpd orang lain.
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 32)
Maka potensi untuk mempunyai perangai dengki/hasad pun ada harapan hinggap ke pada siapa saja.
Sebagai ikhtiar barang kali bagus juga kita amalkan do'a yg diajarkan nabi kpd sahabat beliau Abu Bakar tsb di atas dan juga do'a yg diajarkan Nabi Hadist Riawat Muslim dari Ibnu Arqam r.a. (Mukhtaarul Ahadist hal 1070-1071) antara lain redaksinya "Allahumma 'Ilmin yan fa', waqalbin la yahsy'a, wamin nafsin la tas ba'u, wamin do'au layastazabulaha" (ya Allah lindungi aku: dari ilmu yg tak manfaat, dari hati yg tdk khusu' dan dari nafsu yg tak kunjung puas dan dari do'a yg tdk di ijabah).
Smglah dg kita mengetahui penyakit jiwa berupa dengki/hasad ini jadi berihtiar mengendalikan diri dg berdo'a dan bertekad sungguh-sungguh, sebab syaithan mengincar kita dari berbagai sudut. Namun yakinlah Allah memberikan perlindungan-Nya.
Perhatikan tekad Syaithan surat Sad 82-83 berikut ini:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ
"(Iblis) menjawab, Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,"
اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ
"kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.
Dmkn. insya Allah kan disambung Dengki (3/5a). Barakallahu fikum. Wsslm M. Syarif Arbi

Tuesday, 13 February 2018

Alah BISE kerne BIASE

Anakku ktka sdg mkn bersama di mj mkn, sambil cerita. Seniornya dokter, kini kerja di suatu rumkit besar. Dianya diam-diam mlkkan survey kecil-kecilan ttg org sdg sakratal maut. "Oh seru itu sela ku". 1000 org sdh disurveynya dlm kurun waktu 7 tahun. Org yg sakratal maut itu ditalkinkan dg kalimat tauhid kl dianya muslim. Sbb ada hadist "man kana akhirul qalam Lailahailallah dhaharul zannah" (brg siapa akhir kalimat yg diucapkannya Laillahailallah berhak akan surga). Ternyata mnrt teman sejawatnya tadi, hanya 70 org dr 1000 0rg yg lidahnya sanggup bergoyang menirukan kluarga atau pendampingnya membisikkan di telinganya kalimat tauhid tsb.
Dokter tsb tertarik untuk mencari tau bgm pola hdp yg 70 org itu dn juga mencari pembanding pola hdp 70org yg lidahnya tak snggup bergoyang, bibirnya mampu bergerak menyebut kalimat tauhid. Rupanya org yg sanngup menyebut kalimat tauhid ktk maut dtg menjemput, smsa hdp ahli ibadah. Sdgkan yg tak bisa lidahnya maupun bibirnya berkumit mnyebut Lailahailallah, slm hdpnya bukan akhli ibadah.
Langsung kutimpali informasi anakku itu. "Manusia dlm keaadaan kritis, kaget, dianya scara reflek mengucapkkan apa yg biasa dia ucapkan". Contohnya mamahmu kl sdg ngupas bawang tiba-tiba ndak sngaja pisau kena jari. Jika dia se hari hari biasa ngucapkan astaghfirullah, masya Allah atau Lailahailallah, maka itulah yg akn terucap. Tpi kl org biasa nyebut jangkrik, ya ampiuun atau sumpah serapah mk ucapan-ucapan itulah yg kluar dari mulutnya. Makanya biasakan berzikir, agar ktk sakratul maut ucapan zikir itu yg kluar dari mulut. Sebab tak seorangpun yg hidup tak didatangi maut. Ada pepetah Nenekmu "ALAH BISE KERNE BIASE" di bhs Indonesia kan "KALAH BISA OLEH BIASA". Artinya kebiasaan mengalahkan kemampuan. Orang mampu mengucapkan sesuau, orang mampu berbuat sesuatu tapi bila tidak terbiasa, dlm keadaan mendadak, dibawah tekanan, maka ketrampilan itu tak kan muncul lantaran kurang latihan.
Bgtu kira-kira, JANGAN HARAP kalau qt jarang shalat, jarang zikir, sehari hari berglimang maksiat, menghembuskan nafas terahir dng kalimat tauhid. Jadi ujung dari hadist tadi juga mengandung pengertian bahwa orang ahli ibadah, orang yg ahli zikir dan orang yg di dlm kehidupannya beramal shaleh jualah yg berhak akan surga.
Ku ber ujar ke anakku: "Namun anakku kutitip pesan ke seniormu yg survey tersebut, bahwa blm tentu orang yg sakratalmaut selain yg 70 respondennya itu tak sanggup lidahnya mengucapkan kalimat tsuhid. Mungkin saja bibirnya tak berkumit atau bergerak mengucap La Ilaha Ilallah, bibirnya terkatup namun lidahnya bergoyang (tak tampak dari luar) lidahnya turun naik melafadzkan "La ila ha ilallah".
Sebab tanpa membuka bibirpun, (boleh dicoba), kalimat tauhid itu dpt di laksanakan oleh gerakan lidah. Namun kembali lagi bahwa orang yg mungkin sanggup lidahnya bergoyang menyebut kalimat tauhid itu, hanyalah apabila pemilik lidah sering latihan melalui shalat dan zikir spt diungkapkan di atas. "ALAH BISE KERNE BIASE"
Smglah qt nanti ktk sakratulmaut kalau tak danggup lagi bibir, lidah qt masih sanggup bergetar, bergerak diikuti irama hati yg ihlas, tulus La ila ha ilallah. Sehingga berhaklah kita mendapat sambutan Allah:
يٰۤاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِى
وَادْخُلِيْ جَنَّتِى
"Wahai jiwa yang tenang!
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,
dan masuklah ke dalam surga-Ku"
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 27, 28, 29 dan 30)
Billahi taufiq wall hidayah. Wadsslamualaikum wr.wb. M. Syarif Arbi.

BAROMETER KESABARAN

Suatu hr di suatu tikungan jln kampung sempit di jkt, mobil anda tiba tiba disrempet bajay. Menyadari bajaynya nyerempet mobil anda si supir berhenti di pinggir jalan tak jauh dr dpn mobil anda. Ybs membungkuk dg sopan menghampiri anda seraya mohon maaf, dia katakan tadi ndak punya NIAT untuk nyerempet, "tidak sengaja pak, sy tadi buru buru, agak ngelamun. sedari tadi blm dpt sewa pak, sumpah sy ndak ada NIAT nyrempet".
Bbrp hr kmdian anda naik spd motor, tiba tiba ddhului mobil, stlh mendhului anda, terlihat kaca mobil diturunkan, penumpang mobil kmdian meludah, kbwa angin ludahnya mengenai muka anda. Anda tancap gas ngejar mobil, krn jln di jkt macet mobil terkejar. Anda totok totok kaca mobil sumber ludah. Pemilik ludah ngaku dia meludah. Dia juga mengatakan Tidak ada NIAT meludahi anda seraya minta maaf.
Kalau anda jadi yg punya mobil yg dsrempet bajay, apakah anda maafkan pngmudi bajay? Kalau anda jadi pngmudi spd motor, apakah anda dpt memaklumi pnmpang mobil yg tdk ada niat meludahi anda?
Jk diukur dg BAROMETER KESABARAN angka brp skor kemarahan anda ke pngmudi bajay dn brp skor kmarahan anda pnmpang mobil. Sebab pengemudi Bajay dan driver/penumpang mobil beda strata/beda status sosial.
Seseorang pernah minta nasehat kpd Rasulullah Muhammad s.a.w. Bbrp kali ybs minta nasehat, dinasehati bbrp kali pula dg kata yg sama "LA TAGHDHAB" (jangan marah). H.R. Buhari & Muslim dari Abu Hurairah r.a. (Balaghul Maram hal.760).
Bbrp th lalu. Sblm program BPJS, kuberobat ke dokter spesialis penyakit dlm. Mendaftar ssdh ashar, dg mksd agar tak terlalu malam pulang, sebab pasien tu dokter bgt ramai maklum si dokter adlh profesor, walau tarifnya tinggi pssien mludak.
Sampai pkl 22 lewat aku blm juga di panggil. Istriku sdh 4 x ngulang tanya ke suster ngatur pasien masuk ke dokter, mendpt jawaban sama y.i. blm .... tunggu dipanggil.
Setelah yg ke 5, diusut persoalannya, rupanya map status saya blm dinaikan dari ruang arsip ke meja suster pengatur panggilan pasien. Bukan lantaran tak ketemu itu status, tapi tdk dicari. Kejadian itu membuat ku marah besar di hadapan sang Prof. Si prof panggil semua suster terlibat dan memarahinya. Sblm masuk ke dokter stlh marah besar tensi darahku naik tajam atasnya sampai 170. Aku bukan pengidap darah tinggi, khusus hari itu dlm keadaan marah ternyata tekanan darah naik. Disinilah rupanya makna "Jangan marah", dimaksud Rasulullah s.a.w. Karena jika kita terbiasa marah, makapun darah terus-terusan tinggi. Kalau sering tinggi, posisi ketinggian itu dihawatirkan tak mau turun lagi. Si pemarah berpotensi kena hypertensi.
Dlm menghadapi situasi yg memicu kemarahan karena ulah orang lain (contoh pengemudi Bajay, penumpang mobil, dan paramedis salah atur di atas). Sepertinya kita harus mengingat Allah SWT berfirman:
قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَاۤ اَذًى ۗ وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ
"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 263)
Namun kita ini nanusia yg kadang tak dpt menahan amarah. Smg kita dpt membawa terus ke mana-mana BAROMETER KESABARAN.
Barakallahu fikum. Wallahu 'alam bishaeab. Wassalamualaikum wr.wb. M. Syarif Arbi.