Friday, 18 January 2013

BANJIR JAKARTA DAN DJOKO DIMILIKI NUSANTARA

Kamis 17 Januari 2013, Jakarta kebanjiran lagi. Kabarnya 65% wilayah Jakarta digenangi air bervariasi mulai sebetis sampai sedada orang dewasa, bahkan di daerah tertentu seatap rumah. DKI  Jakarta semester III tahun  2012 tampuk kepemimpinan dipegang seorang “JOKO” yang konon sukses membenahi kota Solo Jawa tengah. Harapan warga Jakarta tertumpah kepada “Joko Wi”, untuk membenahi Jakarta, mungkin warga terinspirasi dengan beberapa “Djoko” yang pernah dimiliki Nusantara di masa lampau.
Djoko Tingkir
Negeri ini pernah punya “DJOKO TINGKIR”, nama aslinya “Mas Karebet” putra “Ki Ageng Pengging” atau “Ki Kebo Kenanga”. Konon menurut sahibul hikayat “DJOKO TINGKIR”, murid utama Sunan Kalijaga itu  punya kesaktian luar biasa. Djoko yang satu ini familier sekali dengan sungai, dengan air, karena dia pernah naik rakit melalui sungai “Dengkeng”, pernah menaklukkan Kerbau liar yang mencemaskan masyakat di kota Demak.
Djoko Tarub
Djoko Tarub adalah sosok  “DJOKO”  sakti milik Nusantara ini penduduk  Magelang Jawa Tengah. “DJOKO TARUB” mempunyai kesaktian disebabkan berhasil mempersunting bidadari bernama “Nawang Wulan”.  Pengalamannya tentang air tak perlu diragukan, justru pertemuannya dengan  isterinya di air terjun “Sekar Langit”  bersumber dari Gunung Telomoyo,  wilayah Tegalrejo, Magelang Jawa Tengah.
Djoko Dolog
Djoko yang satu itu, adalah profil  Djoko yang tidak usah ditiru, karena lantaran setiap hari tidak beraktifitas hanya melamun saja. Sehingga suatu hari ibunya menegur perilaku anaknya satu-satunya itu: "Koen kaet maeng isuk sampek awan kok mek lungguh gak gelem ngrewangi wong Tuwo kerjo, lungguh deleg-deleg gak obah blas koyok Patung" .  disebabkan sabda ibunya itu ia menjadi patung. Patung ini berada di Kota Surabaya di jalan Taman Apsari. Karena setiap hari hanya “deleg-deleg” (duduk-duduk) maka patung disebut “Djoko Dolog”. Ini yang sakti bukan Djoko Dolog tapi ibundanya.
Djokotole
Menyeberang dari Surabaya, kini sudah dapat pakai jembatan, kita temukan orang sakti yang pernah hidup di  Sumenep Madura yaitu “DJOKOTOLE”, mendiang adalah  raja  Sumenep ke 13 selama 45 tahun (1415-1460). Kesaktian Djokotole mulai terlihat pada usia 6 tahun lebih, seperti membuat alat-alat perkakas dengan tanpa bantuan dari alat apapun hanya dari badannya sendiri, yang hasilnya lebih bagus ketimbang ayah angkatnya sendiri.
Dengan kesaktiannya itulah maka ia membantu para pekerja pandai besi yang kelelahan dan sakit akibat kepanasan termasuk ayah angkatnya dalam pengelasan membuat pintu gerbang raksasa atas kehendak Brawijaya VII.
Dengan cara membakar dirinya dan kemudian menjadi arang itulah kemudian lewat pusarnya keluar cairan putih. Cairan putih tersebut untuk keperluan pengelasan pintu raksasa. Dan, akhirnya ia diberi hadiah emas dan uang logam seberat badannya. Akhirnya ia mengabdi di kerajaan Majapahit untuk beberapa lama.
Banyak kesuksesan yang ia raih selama mengabdi di kerajaan Majapahit tersebut yang sekaligus menjadi mantu dari Patih Muda Majapahit. Djokotole pulang ke  Sumenep bersama isterinya bernama Dewi Ratnadi bersua ke Keraton yang akhirnya bertemu dengan ibunya RA. Potre Koneng dan kemudian dilantik menjadi Raja Sumenep dengan Gelar Pangeran Secodiningrat III.
Ketika menjadi raja  ia terlibat pertempuran besar melawan panglima perang dari negeri  China, Laksamana Zheng He, yang akhirnya dimenangkan oleh Raja Djokotole dengan kesaktiannya menghancurkan kesaktian Zheng He.
Tiga orang DJOKO di atas punya kesaktian masing-masing, kecuali si Djoko Dolog yang sakti ibunya. Untuk mengatasi banjir Jakarta jika orang sakti  milik Nusantara itu masih hidup  sepertinya perlu mengundang mereka: “Djoko Tingkir”, “Djoko Tarub” dan “Djokotole” biar bersinergi dengan “Joko Wi”.
Sanggupkah Joko Wi mengatasi banjir, merupakan ujian kesaktian zaman kini. Ada yang bilang, siapapun gubernurnya tidak akan dapat mengatasi banjir dan macet di Jakarta. Selamat bekerja pak Joko Wi semoga tantangan ini memicu anda lebih berprestasi.

Monday, 14 January 2013

TELA NYA TAK DAPAT DIREBUS


Ibu Padmo bersama suaminya baru saja menempati rumah dinas di dalam komplek perumahan suatu instansi.  Pejabat setingkat suami ibu Padmo sering benar pindah-pindah kota tempat bertugas; “mutasi” dalam istilah di instansi tempat pak Padmo berdinas.
Lumrah, setiap menempati rumah  pindahan, walau rumahnya terpelihara baik oleh penghuni lama, terasa  ada saja lay out yang kurang pas, bangunan rasanya masih perlu direnovasi, letak perabot sepertinya  harus dirapikan. Begitulah ibu Padmo setelah agak seminggu menempati rumah dinas itu, memanggil tukang untuk merubah sedikit  ruang dapur, agar lebih nyaman  berkreasi masak-memasak.
Walau anak-anak tidak ikut pada mutasi kali ini, karena mereka sudah jadi mahasiswa di Jawa, namun karena tidak puas kalau setiap hari nantinya makan “beli jadi”  buat mereka suami- isteri. Lagi pula masalah selera sering tidak cocok dengan racikan bumbu masakan setempat.
Pukul sembilan pagi si tukang mulai renovasi dibantu seorang kernet. Bilangan pukul setengah dua, si ibu sedang liyer-liyer agak ngantuk sambil berbenah perabot di ruang tengah rumah. Si tukang pamit untuk pulang dulu hari ini, belum dapat menyelesaikan pekerjaan. Ibu Padmo tidak punya keberanian menegor kepulangan tukang tersebut, pikirnya mungkin di daerah ini “jam kerja tukang memang sampai setengah dua”. Ketika pamit si tukang sambil beranjak pulang berbicara kepada Ibu Padmo  “hari ini saya pulang dulu nanti besok saya bawakan TELA”. Spontan si ibu terpikir kepada perabot masaknya yang masih ala kadarnya, kemudian ibu menyahut “Terimaksih sebelumnya, tapi jangan banyak-banyak saya hanya ada panci kecil”. Tukangpun berlalu dan hari itu suami pulang pukul empat petang dan mereka berdua sempat makan malam bersama di rumah yang baru mereka huni itu. Laporan singkat ibu Padmo  kepada Pak Padmo mengenai penukangan ruang dapur.  Tak lupa menyampaikan: “Tukang disini baik-baik ya MAS, besok kita akan dibawakan TELA”. Suami berkomentar ringan. “Begituah orang di daerah, apa yang dia punya ingin diberikan orang lain, mungkin mereka punya kebun”.
Keesokan harinya pak tukang dan kernetnya datang, memikul dengan gandar  dua keranjang  didepan dibelakang,  berisi sejumlah “BATU BATA”. Si ibu tidak melihat sama sekali di dalam keranjang itu diselipkan “KETELA”  atau bahasa Jawanya “TELO”.  Menggelitik dihati si ibu, untuk menanyakan kepada pak tukang. “TELA-nya  terlupa ya pak”. Pak tukang terdiam sejenak dan selanjutnya menunjuk ke tumpukkan Batu Bata, “ini ibu,  saya bawa  TELA-nya mudah-mudahan cukup untuk  dapur ini.”
Ibu Padmo  baru sadar bahwa yang dimaksud dengan TELA di  Kawasan Sulawesi Utara itu adalah “Batu Bata”.  Tentunya tidak kena’ kalau direbus. Kesimpulan itu, hari itu juga dikonfirmasi Ibu Padmo ke tetangga  sebelah yang sudah lebih lama tinggal di Manado, tak ayal mengundang tawa para ibu-ibu tetangga, selama beberapa hari,  bahwa “TELA NYA TAK DAPAT DIREBUS”.

Wednesday, 9 January 2013

BENARKAH UNTUK ANAK YATIM???

Adalah wajar jika kita mempertanyakan apakah benar dana yang dikumpulkan dengan sarana  amplop itu, nantinya untuk menyantuni anak yatim. Soalnya anak yatimnya jauh dimana-mana. Rumah penampungan anak-anak yatim itupun kita tidak menyaksikan. Taunya kita sumbangan untuk anak yatim, hanya pada cetakan di luar amplop dengan alamat/nomor telepon di lain provinsi. Seorang remaja putri berdandan muslimah (memakai jilbab), hari itu berdiri di pintu masuk sebuah kantor pos. Dipilihnya kantor pos mungkin karena itu tanggal muda para pensiunan mengambil uang pensiun. Setiap pengunjung yang masuk ke kantor pos diberikan oleh remaja putri itu sebuah amplop yang bertuliskan alamat tempat penampungan anak yatim di suatu kota yang  jauh, berlainan provinsi dengan DKI Jakarta.
Keadaan itu mengusik saya berwawancara kepada si remaja putri, dianya  mengaku sebagai petugas pencari dana santunan untuk anak-anak yatim tersebut. Dia datang dari jauh, ditempuh dengan kereta semalaman perjalanan, seperti alamat tertera di kulit amplop.  Saya katakan padanya apakah nanti uang sumbangan yang terkumpul cukup menutup ongkos-ongkos tiket kereta pulang pergi, makan minum anda disini dan penginapan. Jawabnya: “kalau Bapak tidak ingin nyumbang sudah ndak apa-apa”. Mendengar jawaban ini, saya semakin ingin menyampaikan sesuatu yang menurut ajaran agama saya. Bahwa bila melihat hal yang menurut pemahaman kita kurang baik; sedapat mungkin dirubah dengan tangan, bila tidak sekurangnya dengan lisan, dan selemah-lemah iman dengan hati tidak setuju dengan perbuatan tersebut. Kukatakan: “saharusnya kita  malu sebagai orang Islam minta-minta seperti ini, sebab orang Islam itu banyak yang kaya-kaya”.  Si remaja putri berbalut jilbab itu menjawab; “orang Islam nyatanya  banyak yang melarat”. Melihat gelagatnya, itu gadis mulai tidak senang dengan percakapan tersebut. “Begini saja mbak”, kataku selanjutnya “silahkan ke rumah saya kita diskusikan” undang saya. Sebab kalau diteruskan pembicaraan jadinya tidak baik di tempat umum tersebut. Percakapannya sudah mulai diluar konteks. Menanggapi undangan saya si gadis menjawab sadis: “kalau saya lihat profil bapak, tak ada gunanya diskusi dengan bapak, membuang waktu saja”. Mendengar jawaban itu saya berlalu sementara sambil saya lihat orang-orang keluar dari kantor pos mengembalikan amplop kosong.
Adaikan yang bersangkutan mau saya ajak diskusi akan saya berikan beberapa contoh yayasan-yayasan yang sukses mengelola panti asuhan anak yatim. Kami punya pengalaman di daerah di luar jawa.  Sebuah panti asuhan mengasuh anak yatim, diantaranya ada yang disekolahkan oleh bapak angkatnya sampai selesai. Saya akan ceritakan kalau perlu saya bawa ke panti asuhan yang tak jauh dari kediaman keluarga kami di Jakarta. Begitu suksesnya mereka mengelola anak yatim tanpa harus meminta–minta, pakai amplop kirim orang-orang ke luar daerah. Para donatur tetap datang menyisihkan hartanya untuk panti-panti asuhan yang sungguhan dikelola dengan jujur itu. Keluarga kami pernah membuktikan, suatu hari ingin menyampaikan sumbangan seekor kambing nazar, mereka menerima sumbangan kami, tetapi memberi waktu beberapa hari kemudian baru menerima, karena masih banyak sumbangan dari orang lain.
Sementara itu ada tetangga kami yang tadinya guru ngaji, mendapat hibah sebuah rumah besar dan tanah luas di bilangan Jakarta luar sedikit, dari orang kaya. Selanjutnya rumah itu dijadikan tempat penampungan sekitar 60 orang anak-anak yatim.  Demikian makmurnya panti asuhan itu, tidak pernah kekurangan makanan dan pakaian, dari sumbangan masyarakat. Bahkan sering punya kelebihan makanan yang tak tahan disimpan seperti  telor asin, sehingga sedekah orang tersebut disedekahkan lagi ke pihak lain oleh pengurus panti asuhan.
Masih banyak orang beragama di negeri ini yang peduli, dengan urusan keagamaan urusan religi, agama apapun sama,  bila diajak urusan kebaikan menolong sesama, kebaikan membangun rumah ibadah, pokoknya untuk tujuan akhirat sangat mudah mencari derma. Sejalan dengan itu kadang kondisi masyarakat seperti tersebut dimanfaatkan oleh orang tertentu melakukan penipuan dengan kedok agama. Di satu daerah seorang yang memulai debut penipuannya dengan berceramah dari desa ke desa sebagai seorang “Da’i”.  Setelah mendapat kepercayaan masyarakat yang bersangkutan menghimpun dana dari masyarakat dengan proposal melakukan kegiatan pembangunan sarana keagamaan. Setelah uang terkumpul konon menurut yang menceritakan sampai milyaran, yang bersangkutan menghilang entah kemana.
Bila si remaja putri pengedar amplop yatim piatu dari suatu daerah di tengah Pulau Jawa itu mau saya undang, akan saya ceritakan beberapa panti asuhan yang dikelola dengan baik tersebut di atas. Kebetulan keluarga kami juga mengelola pesantren di pedalaman Kalimantan sana, Alhamdulillah dapat dibiayai oleh warga setempat dan tidak perlu mengedar amplop kemana-mana.
Jadi penugasan remaja putri yang konon katanya dari tempat yang jauh bepergian berhari bermalam, kalau benar pengakuan mereka dari jauh tersebut, dari sudut syar’ie sepertinya sudah tidak pas. Karena perjalanan sejauh itu seorang gadis harus dengan muhrim. Belum lagi bila dikaji secara logika tidak masuk, biaya dipergunakan untuk keberadaannya di Jakarta dari transportasinya, konsumsinya, akomodasinya. Dengan kemungkinan uang terkumpul dari amplop yang diisi orang  banter sepuluh ribuan. Itupun sejak buka kantor sampai tutup kantor amplop berisi paling beberapa buah amplop, karena orang sudah banyak yang tidak percaya. Orang tidak percaya adalah wajar, sebab amplop yang diserahkan ke gadis itu, bagaimana dapat jaminan akan sampai ke panti asuhan yang namanya “dipakai” untuk menarik simpati itu. Bisa saja jika ada uang di dalam amplop dikeluarkan lebih dahulu isinya kemudian amplop diedarkan lagi.
Bahwa masyarakat religi di negeri ini, sangat condong untuk beramal, sepanjang diyakininya bahwa uang yang disumbangkannya benar-benar diperuntukkan untuk tujuan amal kebaikan seperti yang dimaksudkan oleh panitia penghimpun dana. Sebagai cantoh tidak satupun pembangunan rumah ibadah dibangun di negeri ini yang terbengkalai, dalam pembangunannya, biar lambat tetapi pasti bangunan tersebut selesai walau tanpa modal sepeserpun. Saya sendiri membuktikan di beberapa daerah. Ada suatu daerah masyarakat ingin membangun masjid, suatu Jum’at diadakan sholat di di lapangan yang telah diwakafkan seseorang untuk membangun masjid. Lapangan yang hanya ditutupi tenda untuk Jum’atan itu, dalam  waktu kurang dari setahun sudah berdiri sebuah masjid yang megah.
Di Jakarta tahun 2007 tetangga beberapa buah  rumah dari kediaman kami, sebuah masjid kecil oleh masyarakat ingin direnovasi lantaran sudah tidak sanggup lagi menampung jamaah Jum’at. Kami undang camat dan Gubernur untuk sholat Jum’at di masjid tersebut. Selesai sholat Jum’at pak Camat kami serahi  sebuah palu besar untuk membongkar dinding masjid lama (beberapa pukulan sampai terbuat lobang) dihadapan sang Gubernur. Alhamdulillah masjid tersebut tahun 2010 sudah selesai bertingkat dua menghabiskan biaya hampir dua milyar rupiah, terhimpun dari seluruh warga yang kaya dengan kekayaannya yang tidak kaya sesuai kemampuannya. Tanpa harus meminta sumbangan dengan mengedarkan amplop atau mencegat pelalalulitas di jalan raya dengan  jaring atau kotak amal.
Tulisan ini saya kemukakan semoga kita  dalam memberikan derma lebih selektif, agar tidak menumbuh suburkan orang yang merendahkan kemuliaan agama, dengan mengatasnamakan agama, meangatasnamakan anak-yatim, mengatasnamakan pembangunan masjid, mengatasnamakan pembangunan pesanten , menyebar orang untuk meminta-minta.
Kasus seperti si remaja putri berjilbab itu bukan hanya banyak ditemukan di Jakarta tetapi juga di daerah-daerah. Betul-betul kurang masuk diakal, ada diantaranya mengaku dari luar pulau, jauh-jauh datang ke Jakarta minta sumbangan dari rumah ke rumah dari kantor ke kantor. Pernah ketika saya masih berkantor, ibu-ibu berkerudung membawa surat-surat untuk mengedarkan permintaan sumbangan dari pulau bagian timur Indonesia. Setelah saya ajak berhitung yang bersangkutan tak pernah datang lagi.
Itulah sebabnya Allah memberikan petunjuk kepada kita dalam hal berderma seperti tertuang di dalam surat Al-Furqan ayat  67:
 
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Untuk berada dalam posisi pertengahan, sebaiknya kita pertimbangkan sasaran derma kita sekurang kurangnya benarkah mengenai sasaran atau tidak.  Sebab kalau kita memberikan derma kepada pihak yang sengaja memanfaatkan kedermawan kita untuk tujuan tidak benar, samahalnya kita ikut menumbuh suburkan kegiatan yang menjual  agama  dengan harga yang murah. Wallahu alam bisshawab.

Wednesday, 2 January 2013

GEWANG

Bahasa, wajar berbeda setiap daerah. Terminologi ucapan yang sama seringkali berbeda pengertiannya di setiap daerah.  Tidak jarang ungkapan yang sama dan arti berbeda itu, membuat persoalan yang cukup berkepanjangan apalagi bila hal  itu menyangkut tentang pengungkapan seorang pasien kepada dokter.    
Suatu hari dokter di PUSKESMAS di suatu daerah sangat terpencil datang kunjungan pasien sekitar pukul 11 malam.  Si pasien tidak dapat berbicara, hanya dapat berbunyi “aah, uung, uuh” dan sejenisnya termasuk merintih. Menurut pengantarnya sekitar pukul empat petang temannya yang diantarnya pakai sepeda motor itu, tertelan “Gewang”. Secara phisik  pasien sekitar 30 tahun  itu normal, masih bisa bernapas dengan baik, hanya tak bisa ngomong saja, tapi masih bisa bersuara.
Dokter kebetulan berasal dari Jakarta, sekolah dokter di Yogyakarta setelah mendengar laporan pengantar dan melihat keadaan pasien, membaringkan di tempat periksa dan memeriksa seperlunya. Dokter mengatakan: “Insya Allah nanti Giwang yang ditelan itu akan keluar bersama buang air besar”.
Mendengar jawaban itu si pasien menggeleng-gelengkan kepala sambil  “uuh, uuh” berguman bersuara walau tanpa kalimat biasa. Sementara itu si pengantar menjelaskan “tak mungkin dok, yang tertelan GEWANG”. “Ya Giwang kan hanya segini” jawab dokter sambil si dokter menunjukkan ujung kelingkingnya dibatasi dengan ibu jari. “Tidaaak” jawab si pengantar sambil memegang kedua pipi bagian rahang atas “semuanya ketelan”.  Dalam suasana itu Satpam yang mendampingi dokter  (yang tadinya hanya bertujuan menjaga keamanan dokter maklum pasien datang sudah pukul 11 malam), Satpam ikut bicara “maksudnya GIGI GEWANG dok”. Dokter sempat terkesima beberapa detik “GIWANG kok gigi” pikir si dokter. Untunglah lantas dia langsung mempertegas apa yang terlintas dipikirannya “jadi maksudnya tertelan GIGI PALSU?”.  Dengan spontan si pasien menganggukkan kepalanya dan pengantar langsung dengan mantap “yaaa dokter”, sekitar jam empat tadi petang.
Dokter langsung minta Satpam menghubungi supir ambulance kemudian membuat surat rujukan ke rumah sakit besar di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat yang jaraknya  seratus kilomoter lebih dari desa sangat terpencil tersebut. Dokter Puskesmas di  Kecamatan Telok Melano itu menyadari, tidak mungkin dapat menolong si pasien dengan peralatan yang ada di Puskesmas. Tak lama kemudian si pasien dan pengantarnya meluncur ke Rumah Sakit “Agus Djam” di Ibu kota Kabupaten Ketapang. Selanjutnya diperoleh kabar si pasien dikirim ke ibu kota Provinsi di Pontianak, keesokan harinya dengan penerbangan pertama untuk tindakan lebih lanjut.
Sebenarnya ada perbedaan ucapan untuk “GEWANG” dan “GIWANG” yaitu ada huruf “E” dan “I”. Tetapi bagaimanapun anak saya yang dapat tugas PTT selama setahun (2008)  itu, sedari kecil sudah terpola dalam memori di benaknya bahwa “Giwang” adalah perhiasan wanita yang di pasang di telinga, ukurannya begitu kecil.  Sedangkan bahasa setempat perhiasan kecil pakai mur atau dilengketkan di kuping itu disebut “KERABU”, bukan “GIWANG”. Kalau yang ada bandulannya dalam bahasa Indonesia disebut “Anting-Anting” bahasa setempat disebut “BONEL”. Adapun gigi palsu disebut “Gigi GEWANG” atau praktis disebut “GEWANG” saja. Gigi palsu seringnya buatan ahli gigi yang ditancapkan pada gusi palsu. Rupanya gigi palsu lengkap dengan gusi palsunyanya tertelan. Anak saya tidak sempat menanyakan bagaimana proses sampai tertelan, saking sejak awal sudah salah pengertian dan selanjutnya ingin cepat-cepat memberikan pengantar agar pasien segera dapat pertolongan. Maklum sejak kejadian sampai ketemu dokter sudah tujuh jam. Pasien menempuh perjalanan cukup jauh dari desa di pedalaman melalui jalan yang sulit bukannya mulus seperti kebanyakan jalan di Jawa. Sebenarnya jarak tempuh lokasi kejadian dengan Puskesmas di ibu kota Kecamatan tidak teramat jauh, tetapi waktu tempuhnya sampai 7 jam.
Anjuran buat dokter yang bertugas di daerah bukan daerah asal semasih kecil, setiap melayani pasien dengan keluhan khusus hendaklah didampingi penterjemah. Sebetulnya hal yang sama pernah dialami oleh anak saya ketika KOAS di Wonosobo. Pernah dia belajar beberapa dialog bahasa daerah setempat, dengan menghafalkan beberapa dialog. Tanya kepada pasien dengan kata tertentu, akan mendapatkan jawaban dengan kata tertentu. Ketika dipraktikkan ternyata pertanyaan kepada pasien tidak mendapatkan jawaban seperti yang diajarkan temannya. Jawabannya sama sekali tidak/belum pernah didengar. Pasien bingung dokterpun bingung.   Untunglah segera minta bantuan suster menterjemahkan.
Satu keistemewaan bahasa Jawa, terminologinya hampir dapat dimengerti seluruh penutur asli bahasa Jawa hanya saja ada tingkatan-tingkatan. Kalau bahasa suku dan puak yang ada di Kalimantan demikian kompleksnya sehingga dalam sekota saja ada istilah yang oleh kampung tertentu tidak diketahui oleh kampung yang lain. Untunglah ada bahasa Indonesia.



Sunday, 30 December 2012

RENUNGAN PERGANTIAN TAHUN

Pergantian tahun tetap saja berlangsung, setiap tahun yang sedang berjalan pada tanggal terakhir. Tidak ada suatu kekuatan atau kekuasaan yang dapat mencegah pergantian tahun sepanjang dunia belum kiamat. Tahun tetap berganti dalam kondisi apapun, baik dalam suasana damai atau perang, dalam perekonomian krisis atau normal. Di penghujung tahun, lumrah di seluruh dunia menandainya dengan berbagai acara, sederhana tetapi khidmat dan tak kurang juga yang meriah dan berpoya-poya menghabiskan biaya.
Para ustazd tidak kecuali para rohaniawan pemuka agama apapun, selalu menghimbau, agar umatnya menandai pergantian tahun dengan introspeksi diri dan bertekad mengubah menjadi lebih baik langkah ke depan. Setiap rohaniawan agama apapun mengingatkan umatnya bahwa pergantian tahun membuat umur bertambah, tetapi pada hakikatnya kesempatan/masa hidup semakin berkurang.
Khusus dalam agama Islam paling kurang setiap pergantian tahun setiap diri merenungkan tiga hal penting  yaitu:
1.    Amal perbuatan yang telah dilakukan ditahun-tahun yang lalu untuk selanjutnya bila banyak amal yang tidak baik/yang dilarang Allah, segera meminta ampun dan bertaubat , dengan tekad tidak akan mengulangi perbuatan tersebut ditahun-tahun mendatang. Bila dirasa ada perbuatan kebaikan, ditingkatkan dan diteruskan di tahun-tahun mendatang. Jika terdapat kesalahan dalam hubungan dengan sesama, minta maaf kepada siapa-siapa yang pernah dizalimi, selanjutnya berupaya untuk menjaga diri di masa tahun-tahun mendatang tidak mengulangi kesalahan kepada sesama.
2.    Amal perbuatan apa yang harus/akan dilakukan ditahun depan menggunakan umur masih tersisa. Usaha apa yang harus dijalankan untuk dapat mempertahankan kehidupan, jika sisa usia itu masih lama, sebab, tidak seorangpun yang mengetahui berapa lama sisa kesempatan hidup yang diberikan Allah untuk kita masing-masing. Selama masih hidup perlu mempertahankan kehidupan itu agar layak, agar dapat melaksanakan ibadah meningkatkan amal baik. Untuk ibadah perlu badan yang sehat dan perekonomian yang kuat, keluarga yang harmonis, tatanan masyarakat yang aman/damai.
3.    Membuat persiapan untuk jangka panjang, yaitu kehidupan sesudah hidup ini di tempat dan alam yang lebih abadi. Persiapan tersebut harus dimulai tidak boleh ditunda, karena menyadari bahwa usia  tersisa jangan-jangan tidak berapa lama lagi. Pesiapan kehidupan sesudah hidup itu akan dilalui di pintu gerbang yang namanya MATI.

Setiap diri tidak ada kecuali, kita pasti akan mati, Allah berfirman di dalam surat Al-Mulk ayat 2

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
Di dalam ayat tadi Allah menegaskan beberapa hal:
1.    Mati dan hidup adalah kekuasaan Allah
2.    Tujuan Allah menjadikan kematian dan kehidupan adalah untuk menguji siapakah diantara kita yang lebih baik amalnya
3.    Dalam susunan ayat, Allah maha perkasa, digandengkan dengan sifat Allah maha pengampun.
Mati dikedepankan dalam ayat tersebut dari pada hidup, padahal kita alami bahwa kita  hidup dulu, terlahir dari perut ibu kita lebih dahulu baru mengalami kematian, kecuali bayi yang mati dalam kandungan ibu. Ayat ini tentunya ditujukan untuk manusia hidup agar direnungkan bahwa manusia sesungguhnya tidak selamanya hidup, tetapi suatu hal yang pasti  dalam saat yang belum pasti, pasti akan menemui mati. Sedangkan mati itu sepenuhnya kuasa Allah. Mati bukan lantaran sakit, mati bukan lantaran berada ditengah berkecamuknya perang, mati benar-benar ketentuan Allah. Sering kita dengar ungkapan “sebelum ajal berpantang mati”.  Di dalam Alquran ada dikisahkan tentang seorang nabi, yaitu nabi Yunus, ditelan oleh ikan dengan kuasa Allah tidak mati, oleh ikan kemudian didamparkan ditepi pantai. Di dalam  sejarah Islam, seorang sahabat nabi, Khalid bin Walid, berulang kali berada dalam kancah peperangan, tetapi beliau wafat ketika sedang tidur. Dalam kenyataan yang kita alami, banyak kasus seorang sudah sakit berat dirawat berbilang bulan di rumah sakit, kemudian sembuh sehat afiat dan dapat melanjutkan hidup puluhan tahun lagi. Sementara banyak kasus, seorang segar bugar baru saja bersenda gurau beberapa jam yang lalu bersama kita, tanpa sebab yang berarti meninggal dunia. Hal inilah yang selalu harus jadi perhatian dan kewaspadaan kita untuk senantiasa mengingat mati, sebab dia pasti akan tiba dan datangnya tidak dapat diprediksi.
Tujuan Allah menciptakan hidup dan memberikan kesudahan hidup dengan mati, menurut tersurat dalam ayat tadi adalah bahwa “Allah ingin menguji kita masing-masing, siapa diantara kita yang paling baik amalnya” Allah dalam ayat tadi tidak menyatakan bahwa akan menguji “siapa yang paling buruk amalnya”. Selanjutnya Allah di dalam Al Qur’an surat Al Ahzab ayat 70 dan 71 memberi petunjuk bagaimana caranya agar Allah mengkondisikan kita baik amalnya, bukan itu saja  selain amal kita diperbaiki Allah, juga dosa kita diampuni-Nya.  Adapun resep agar amal kita diperbaiki oleh Allah itu adalah:
1.    Beriman.
2.    Bertaqwa
3.    Berkata benar
4.    Taat kepada Allah
5.    Taat kepada Rasul Allah.
Lengkapnya bunyi ayat tersebut sebagai berikut:
70. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,




71. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
Beriman.
Setiap orang yang sudah mengaku percaya bahwa bumi dan langit ini diciptakan oleh Allah, itu sudah termasuk orang yang beriman. Di dalam masyarakat jahiliahpun di Makkah ketika nabi memulai da’wah Islam, sebenarnya penduduk Makkah sudah beriman kepada ALLAH, sebab bila mereka ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, dengan mantap mereka menjawab ALLAH. Dengan da’wah dan perjuangan puluhan tahun masyarakat yang sudah beriman itu barulah menjadi manusia-manusia yang taqwa. Secara singkat taqwa diartikan adalah  sebagai taat kepala Allah dan taat kepada Rasulullah. Jadi beriman belum tentu bertaqwa.
Berkata benar.
Berkata, sepertinya hanya diberikan Allah kepada manusia. Ada juga mahluk lain agaknya diberikan Allah kemampuan untuk berkata-kata, tetapi kata-kata mereka tidak dapat secara jelas dimaknai seperti hal manusia. Hebatnya kata-kata manusia dapat mengubah dunia. Kata-kata yang diucapkan seorang yang berkuasa misalnya; dapat membuat sebuah negeri aman sentausa, sebalik dapat juga dengan kata-kata seorang manusia yang berkuasa dapat mengubah sebuah negeri bahkan dunia menjadi porak poranda. Sejarah mencatat bahwa Fir’aun, dengan kata-katanya dapat  membuat bani Israil sengsara, setiap anak yang terlahir lelaki dibunuh. Diabad terakhir ini, dengan kata-kata seorang penguasa negara adidaya, sampai saat ini dampaknya, negara Irak masih porak poranda, dengan tuduhan memiliki senjata pemusnah masal yang kemudian tidak terbukti.
Untuk setiap individu agar mendapat jaminan Allah akan memperbaiki amal perbuatannya dalam sisa hidupnya kemudian mengampuni dosanya adalah dimulai dengan “BERKATA BENAR”, diikuti dengan beriman dan bertaqwa serta taat kepada Allah dan Rasulnya. Di ujung ayat surat Al-Mulk yang kita kutip dinaskah singkat ini, Allah menggandengkankan sifat-Nya yang “Maha perkasa” dengan sifat-Nya “Maha pengampun”. Jadi berarti jangan main-main dengan Allah,  DIA Maha Perkasa, dapat berbuat sekehendak-NYA, jangan kerjakan larangan-Nya dan jangan tinggalkan Perintah-Nya. Sungguhpun demikian bagi yang sudah terlanjur berbuat dosa jangan putus asa atas rahmad Allah,  bahwa Allah “Maha pengampun”. Segala dosa bagaimanapun banyaknya, bila bertaubat sungguh-sungguh dijamin Allah akan diampuni-Nya.
Demikian renungan pergantian tahun 2012 ke 2013 miladiah ini, semoga di tahun yang akan datang dan seterusnya jika usia masih ada, jika ijin Allah untuk kita masih menghuni punggung bumi ini, kita dapat mengamalkan “BERKATA BENAR”, beriman dan bertaqwa serta mentaati Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian Allah memperbaiki amal kita mengampuni dosa kita sehingga memperoleh kemenangan yang besar. Aamien...

Saturday, 22 December 2012

GURATAN TANGAN DAN KORUPTOR



Ada-ada saja temanku di komunitas FB “Kotak Humor”, katanya “Guratan Tangan” atau ada yang menyebut “Retak Tangan”, semula setiap orang adalah polos, lantaran demikian hebatnya perjuangan  ketika proses kelahiran hingga terbentuklah garis-garis di tangan dan kaki seorang bayi.
Kuingat orang-orang tua dulu sering mengungkapkan bila seseorang suskes dalam hidup atau sebaliknya kurang beruntung dalam hidup, sering keluar kata-kata pasrah “mau dikata apa sudah suratan tangan”. Maksudnya bahwa nasib seseorang sudah ditentukan sejak semula yang tergambar di “Retak Tangan” bahkan puisi yang masih kuingat tentang pasrah sesorang yang kurang beruntung:
Bukan salah bunda mengandung
Buruk suratan tangan sendiri
Sudah nasib sudah untung
Hidup malang hari kehari

Rekanku komunitas FB “Kotak Humor” menceritakan bahwa ketika proses kelahiran seorang bayi mengalami shok berat. Selama kurang lebih lima bulan setelah janin menerima roh (roh mulai ada pada bayi usia kandungan 4 bulan), kehidupan calon bayi aman tenteram. Ia makan bersama ibunya, terlindung dari sengatan panas dan serangan dingin, pokoknya semuanya sudah terjamin. Tiba tiba proses kelahiran tiba, dia mengalami shok berat, berusaha meronta sebisanya, berusaha untuk memegang apa saja di sekitarnya, berusaha menendang apa saja yang mungkin ditendang. Menjelang keluar ia memegang kiri kanan atau atas bawah “jendela” keluarnya, disaat itulah tangan yang masih lunak itu tergurat membekas sampai tua, sesaat kemudian diapun menangis sekuat kuatnya dan juga kaki menendang “jendela” yang baru saja dilaluinya, mungkin maksudnya agar cepat berlalu, daan ……. tergores pula telapak kaki yang masih lembut itu. Bekas goresan itulah abadi di telapak tangan dan telapak kaki sampai akhir hayat, disebut orang dengan “Guratan Tangan” atau “Retak Tangan” atau “Suratan Tangan”.
Oleh “orang pintar” dikaitkanlah nasib keberuntungan orang dengan “Retak Tangan” itu, bahkan ada profesi yang berkembang yang mampu menafsirkan “Retak Tangan”. Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui nasib keberuntungan seseorang dimasa mendatang, sedang apa yang terjadi esok hari saja tidak seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti. Rifer kepada berita agama, bahwa memang anak manusia sudah ditentukan nasibnya oleh sang pencipta sejak kedalam raganya dimasukkan roh dalam kandungan ibunya. Sebagai salah satu kebesaran Allah s.w.t. sebagai pencipta bahwa setiap orang diciptakan berbeda “sidik jarinya”, padahal manusia kunjung kedunia ini yang hidup saja belakangan ini sudah tujuh milyar lebih.
Sejak terlahir kedunia ini rupanya manusia sudah secara insting; jika dalam keadaan terdesak, jika dalam kondisi tertekan, jika disituasi kejiwaan yang shok. manusia akan memegang apa saja didekatnya. Contoh lain apabila seorang mengalami musibah pelayaran, misalnya kapal ditumpanginya tenggelam, sepanjang masih ada tenaga akan segera mencari apa saja disekitarnya yang dapat dipegang, walau mungkin hanya dapat memegang kaleng biscuit, atau sepotong kayu, seutas tali pokoknya apapun,  untuk upaya mengatasi kemelut tersebut.
Terkait dengan para koruptor kita, para pembaca jangan khawatir si koruptor yang tadinya sebelum jadi tersangka; kemana-kemini, kesana-kesini dalam setiap wawancara di surat kabar maupun di TV menegaskan tidak ada sangkut pautnya dengan itu proyek. Pokoknya dianya tidak terlibat korupsi, bersih. Percayalah giliran jadi tersangka dalam keadaan shok dalam keadaan lain dari keadaan semula, ia akan memegang apa saja yang ada didekatnya. Ketika masih menikmati hasil korupsi, masing-masing dengan tenang saling melindungi. Tetapi setelah keluar dari keadaan yang menyenangkan itu, keluar dari kemewahan itu, maka ia akan memegang apa saja, menendang apa saja, yang ada disekitar “jendela” keluar dari kenyamanan menikmati hasil korupsi itu. Kalau bayi setelah melewati dengan selamat “jendela” keluarnya ia akan menangis sekencang-kencangnya, memegang apa saja dan menendang apa saja disekitarnya sehingga konon membuat tergores telapak tangan dan kakinya hingga tercipta “Retak Tangan”. Maka koruptor bila dia dipaksa keluar dari “jendela” ruangan kenikmatan, kemegahan, timbunan kekayaannya itu, dia akan “menyanyi semerdu-merdunya”, sehingga akibat pegangan dan tendangannya itu maka akan terciptalah alur aliran dana korupsi itu. Akan tergambar nanti dari mana sumber aliran dana korupsi,  kemana muaranya, dari sumber ke muara,  kemana saja aliran itu sempat singgah. Selanjutnya akan diketahui siapa yang menciptakan aliran itu serta sudah ditampung dimana saja hasil aliran itu. Namun itu semua memerlukan kegigihan pihak pemeriksa aliran itu. Segalanya akan menjadi gelap gulita bila pemeriksa aliran ikut minta dialiri, atau takut melihat kalau dihulu sana ada “gendruwo” yang bisa mencelakakannya. sebaliknya akan terang benderang bila para pihak yang memeriksa tidak sama sekali ingin kecipratan dan tak takut dengan “gendruwo” jenis apapun.

Monday, 17 December 2012

OMZET

Omzet Surat kabar
Oplag (oplah), yaitu berapa jumlah exemplar yang harus diterbitkan setiap kali terbit. Untuk menentukan jumlah oplah perdana, bagi surat kabar yang baru terbit  dengan perkiraan jumlah pembaca sesuai dengan isi sasaran koran, akan memenuhi minat pembaca strata/kelompok tertentu. Selanjutnya setelah surat kabar tersebut berjalan mapan, perkiraan jumlah terbit sudah lebih mudah ditetapkan, berdasarkan daya serap pasar. Oplah sangat penting untuk kelangsungan hidup surat kabar yang bersangkutan guna penyusunan segala macam anggaran termasuk jumlah karyawan untuk mendukung  terselenggaranya penerbitan.
Era tujuhpuluhan diri ini pernah gabung di persuratkabaran. Alamat redaksi kami di bilangan K.H. Hasyim Asyari menuju Grogol. Di dalam suatu rapat para redaktur, membicarakan oplah, salah seorang kemukakan bahwa “surat kabar kita berharga mahal”, sehingga sulit untuk menaikkan oplah. Pernyataan berkonotasi keluhan teman saya itu dijawab Pemimpin Redaksi dengan menunjukkan sebuah lukisan air terjun yang di pajang di ruang rapat. Ditanyakan kepada beberapa orang diantara kami, berani membeli berapa andaikan lukisan itu dijual. Berbagai harga yang muncul dari redaktur yang ditanya seperti lelang saja suasananya. Pemimpin redaksi kemudian mengatakan bahwa harga yang disebutkan beberapa kolega saya itu merupakan wujud dari kurang memahami nilai lukisan tersebut. Seseorang yang mengerti nilai lukisan itu tinggi, akan bersedia membayar berapapun lukisan itu asal dapat mengoleksinya. Begitu selanjutnya ujar pemred kami, penilaian orang terhadap bobot surat kabar kami itu, mereka akan berani membayar tinggi walau halamannya tidak sebanyak surat kabar lain, sebab mereka perlu membaca isinya yang berbobot. Hebat juga pikir saya dalam hati, percaya diri Bos redaksi kami yang rambutnya sudah putih hampir 100% itu. Koran  tempat saya pernah bekerja antara lain bersama Bpk Abdurachman Saleh (mantan JAGUNG) itu kemudian dibredel pemerintah kala itu, tahun 1974. Syukur saya sudah alih profesi semester dua tahun tujuhtiga. Di profesi yang baru beda lagi standar menilai suatu benda harus dinilai atas dasar: “Marketability”, “Ascertainability of value”, “Stability of value” dan “Transferability “. Jelas bahwa lukisan tersebut tidak memenuhi syarat mudah dijual, harganya tidak pasti terbukti dalam satu ruangan saja berbeda ekstrim memberi harga, kestabilan harga tidak ada, tergantung selera peminat, mungkin satu satunya memenuhi syarat perihal lukisan gampang memindah tangankannya.
Kembali menyoal omzet atau oplah, jadi tidak cukup menyandarkan pada atas “PD” bahwa produk awak paling unggul, tetapi harus realistis dan berorentasi pada konsumen. Analog dengan itu berbagai produk barang, jasa dan ide yang dipasarkan ke tengah konsumen, besarnya omzet dapat diprediksi. Perlu diketahui ada produk tertentu besaran omzet demikian cepat sampai ke titik jenuh seperti antara lain sebagai berikut ini.

Omzet Tukang bubur
Seorang tukang bubur dengan posisioning menyiapkan sarapan pagi bagi sejumlah orang di lingkungan tertentu, juga punya omzet yang terencana dengan baik. Dari omzet itu dapat dipersiapkan berapa kilogram beras bahan bubur setiap hari harus dimasak berikut lauk pauk dan asesorisnya. Bila kelebihan memasak bubur di suatu hari tertentu, akan  merugi sebab bubur bersisa. Sebaliknya kalau memasak bubur kurang dari omzet pada hari tertentu juga akan membuat pelanggan kecewa, secara jangka panjang akan mengurangi pelanggan setia. Tukang bubur di suatu universitas, sekitar pukul sepuluhan persediaan buburnya sudah habis. Pernah saya tanyakan kenapa tidak menyediakan lebih,  agar pelanggan setelah pukul sepuluh masih dapat dilayani. Rupanya telah dicoba, bila disediakan lebih akan merugi, karena di atas pukul sepuluh memang ada satu dua orang yang ingin makan bubur, tapi frekwensinya jarang dan tidak banyak. Menjelang siang orang cenderung menuju makan siang, bukan lagi dengan menu bubur. Ada juga mahasiswa yang mengatur strategi makan pagi pukul sebelasan, tapi biasanya bukan bubur langsung nasi biasa. Mahasiswa begini biasanya malas buka dompet tiga kali buat makan. Jadi sarapan pagi dijamak ta’hir, kemudian tinggal disambung makan malam, maklum kiriman ortu terbatas. Jika ingin meningkatkan omzet harus membuka out let baru, buka lokasi baru untuk berjualan bubur. Sayangnya di sebagian tempat sudah ada tukang bubur, bahkan ada pula tukang bubur keliling.  Dalam persaingan ini, untuk menjadi pemenang harus memiliki cita rasa khusus yang enak, tidak sama dengan bubur-bubur lain. Harus memberikan pelayanan yang baik diikuti dijamin kebersihan dan kenyamanan suasana menyantapnya. Saya punya tetangga di Jakarta pusat, buka kios bubur di Jakarta selatan jauhnya berpuluh kilometer dari rumahnya. Untuk pergi  dan pulang dari/ke  lokasi yang bersangkutan harus mengangkut bubur dan perabotnya dengan mobil. Jualan bubur di lokasi itupun tidak  pula dapat setiap hari, karena kavling tempat menggelar bubur itu dipergilirkan oleh beberapa tukang  bubur, jadual diatur oleh pihak penguasa halaman gedung. Begitulah susah-susah gampang kehidupan di ibukota. Kata orang; sekejam-kejam ibu tiri masih kejam ibu kota. Ada rekan saya yang nimpali setega-teganya ibu tiri masih tegaan ibu kanduang, sebab makan diresteron “ibu kanduang” mesti bayar juga.

Omzet tukang sayur dorong.
Adalah dia “Maulana” seorang pemuda duapuluhan tahun, mengadu nasib di Jakarta dari tanah asal bilangan kota Pekalongan Jawa Tengah. Dianya walau sudah bertahun tahun mendorong gerobak sayur dan berbagai pernak pernik ibu rumah tangga di dapur, belum punya KTP DKI Jakarta. Ketika ditanya jawabnya enteng, “Jakarta mah terbuka pak, Jokowi aja belum punya KTP DKI Jakarta dapat jadi Gubernur”. Wilayah kerjanya Johar Baru sampai Cempaka Putih. Omzet jualan sayurnya sampai 600ribu. Dengan modal belanjaan, berbagai jenis ikan, buah-buahan dan sayur-sayuran sekitar 400ribu. Jadi bila laku semua cukup hebat, dengan masa operasi 5 kali seminggu, empat juta sebulan masuk kantong, mungkin tak didapat kalau usaha di kampung halaman. Penghasilan empat juta itu sanggup mengalahkan pendapatan PNS panggat 3B, yang duduk ditempat kering.
Pernah Maulana terpikir untuk meningkatkan omzet. Dia belanja enam ratus ribu, terbayang dihitungan matematika jebolan sekolah menengah dikampungnya itu, tentu untungnya lebih 250ribu. Kenyataannya sebagian barang dagangannya tidak ada yang beli. Jumlah dagangan yang terjual tidak lebih dari omzet 600ribu. Karena sebagian ada dagangan tidak laku dan sebagian tak mungkin dijual lagi besok, terpaksa ikut masuk “kotak jali-jali” yang nantinya akan diangkut ke Bantar Gebang (tempat pembuangan sampah akhir). Akibatnya hari itu dia harus kehilangan keuntungan yang biasa diterima. Oleh karena itu dia kapok untuk meningkatkan omzet, rupanya omzet tukang sayur keliling demikian patokannya. Ketika dia cerita pada saya, saya berkelakar padanya “abis kamu kurang jujur”. Sambil menyeringai dia tanya “tak jujurnya dimana pak”. Kataku: “Kamu jual buah, jual daging, jual juga ikan asin dan ikan basah, termasuk tahu dan tempe serta bumbu dapur, tapi berteriaknya hanya sayuur-sayuur kadang yuur-yuur”, termasuk membohongi konsumen. Sambil tersenyum setelah menyelesaikan transaksi dengan isteri saya dan tetangga yang ikutan, iapun meneruskan mendorong gerobaknya tak lupa berteriak “sayuur-sayuuur.............. yuuur- yuuur”.

Omzet Tukang jahit
Kemampuan manual seorang tukang jahit dalam menyelesaikan jahitan, bagaimanapun dipacu jumlah yang sanggup dia kerjakan ada batasnya. Lebih dari batas itu si tukang jahit sudah tidak akan optimal lagi dalam menyelesaikan tugasnya. Katakan seorang penjahit sanggup menjahit selama delapan jam kerja, 6 potong celana panjang, itulah omzet yang dapat dilakukan si tukang jahit. Berapapun banyaknya order, tidak akan dapat dia melakukan melebihi kemampuan kerja itu, itulah sebabnya banyak penjahit terpaksa menunda  janji. Penjahit tertentu, jika kebanyakan order,  jalan keluar disubkan ke penjahit  lain. Jangan heran suatu ketika anda menjahitkan dengan langganan yang sama, setelah pakaian diterima, ternyata kenyamanan memakainya ada perubahan dari biasanya. Itu mungkin lantaran pengrajinnya disubkan, namanya hand made, lain tangan lain hasilnya. Guruku menjahit dulu, ketika kuberusaha untuk jadi muridnya, beberapa kali menolak. Setelah berulang kali aku magang di bengkel menjahit almarhum beliau, untuk memohon jadi murid, dia menjelaskan bahwa ia kasihan kepada ku kalau menjadi penjahit akan sering bohong. Sebab janji selesainya pakaian orang jarang dapat ditepati. Dianya tidak ingin saya jadi pembohong. Namun akhirnya, mungkin sebab upayaku tak bosan-bosan meminta belajar menjahit dengannya akupun diterima juga jadi murid beliau, sehingga profesi inipun sempat pula kulakoni sampai dapat membuat kios bersinergi dengan beberapa teman dari lain guru dan keahlian menjahit (seperti jas, kopiah dan topi serta pakaian wanita). Kami membuka kios semasa aku sambil menamatkan sekolah es em a di kampungku. Rupanya pengetahuan tersebut  sangat membantu untukku ketika pertama kali kumerantau di kampung orang. Sementara belum mendapat kegiatan yang berskala tetap dan lebih prosfektif, sekedar untuk dapat tumpangan makan dan nginap aku ikut di sebuah kios menjahit di tempat perantauanku yang pertama. Alhamdulillah makan dan tidur terjamin, lantaran ada ketrampilan menjahit tersebut. Kupahami bahwa ada omzet tertentu yang tidak dapat dilampaui pada profesi ini.
Dari berbagai profesi di atas dapat diketahui bahwa semuanya ada takaran tertentu yang sulit untuk dilewati, namun tetap saja ada jalan keluar untuk meningkatkan pendapatan dangan upaya menambah out let atau menganekakan kegiatan dengan kegiatan lain. Cerita sinetron “Tukang Bubur Naik Haji”, bukan mustahil, karena dia punya out let banyak berupa armada “bubur dorong” dan bahkan diwartakan si Sulam tengah berangkat ke Mekkah untuk buka out let disana. Begitu juga penjahit yang keren disebut taylor, bukan mustahil dapat mengembangkan usahanya, jika dapat meraup order yang banyak dari instansi dan komunitas tertentu dan menyelesaikan order dengan tenaga orang lain dengan pengawasan mutu dipegang sendiri. Bagaimana dengan tukang sayur keliling, mungkin  untuk mas Maulana disarankan untuk meningkatkan armada gerobak sayur dengan tenaga orang lain, modal dari mas Maulana dengan daerah wilayah operasi berbeda-beda. Harga gerobak sayur lengkap on the road di  Jakarta 800ribu sebagai investasi, modal kerjanya per gerobak 400ribu.
Semoga warta ini ada gunanya buat inspirasi anak muda dan mukin juga cucu muda kita yang kini sedang merajut masa depan ditengah suasana negeri kita,  dimana pemerintahnya belum sanggup secara optimal menyiapkan lapangan kerja.