Sunday, 6 November 2011

FITNAH ITU TERKUAK DI LEBARAN HAJI

Sejurus di kampung “Lembu Bebas” dihebohkan banyak anak gadis yang kehilangan Celana Dalam (CD) di penjemuran atau sesatang {(sesatang= jemuran di belakang atau samping rumah dari rentangan tali) adalah bahasa daerah di kampungku}. Anehnya jemuran lain seperti celana panjang, rok, kain pelekat dan kain panjang, baju termasuk BH, tidak ikut hilang, padahal di jemur di tempat yang sama.

Ada semacam sas-sus bahwa kejadian itu dikaitkan dengan ilmu perdukunan. Konon seorang pemuda, bila ia ingin memikat seorang gadis, tidak dapat dilangsungkan dengan cara yang lazim, maka si gadis dapat di pelet dengan sarana CD gadis yang bersangkutan. Kata yang empunya kisah bahwa CD yang manjur untuk dijadikan ramuan pelet sekurangnya sudah dipakai si gadis selama 40 hari.

Gadis yang kehilangan CD masih baru, tidak begitu khawatir karena tidak mungkin dapat diramu jadi sarana pelet. Lebih jauh diwartakan teknik pemeletan, CD yang memenuhi syarat itu dikuburkan di depan kaki tangga rumah lelaki yang memelet. Bila syarat terpenuhi, si gadis yang CD nya terkubur di kaki tangga lelaki tersebut, akan datang ke rumah lelaki tersebut untuk minta dilamar, pokoknya si gadis bakal tergila-gila pada si lelaki. Pemeletan akan lebih manjur kalau pihak yang dipelet pernah menghina lelaki yang memelet.

Beberapa gadis desa itu cuek saja dengan kejadian tersebut, sebab merasa tidak pernah menampik pemuda yang “Pendekatan” (PDKT). Tetapi ada juga yang rada-rada was-was, sebab mending kalau yang melet perjaka ting-ting, malah kebeneran. Tapi jika yang melet tua bangka banyak bini pula, wah.... mudah-mudahan dijauhkan.

Kabar itu makin meluas dan frekwensi kehilangan CD semakin kerap beberapa bulan menjelang lebaran haji. Walau tak seorangpun melapor ke RT atau RW apalagi ke kelurahan dan ke kepolisian, sebab sedikit banyak soal CD apalagi yang punya gadis, jikapun dibicarakan tidak pantas dengan suara nyaring, paling dengan cara berdesis. Di kampung “Lembu Bebas”, masyarakat sudah trauma, pengalaman seorang warga kecurian ayam, lapor ke perangkat desa dan opas, hitung-hitung ongkosnya lebih mahal ketimbang harga seekor kambing. Timbul ungkapan, jika lapor kehilangan ayam, akan kehilangan kambing. Kalau lapor kehilangan kambing akan kehilangan sapi. Kalau lapor kehilangan CD malah hilang pakaian selemari, syukur kalau tidak hilang berikut pemilik CD.

Kekhawatiran dan fitnah tersebut terkuak persis setelah orang-orang selesai melaksanakan shalat Idul Adha. Beberapa masjid disekitar kampung tersebut menyembelih hewan qurban berupa sapi. Sapi kebanyakan didatangkan dari desa “Lembu Bebas”. Populasi sapi di desa ini sangat banyak, sebab sapi berkembang biak dengan baik sekali, lantaran lingkungan kampung dikelilingi oleh pematang yang banyak ditumbuhi rumput. Pemilik ternak sapi di desa tersebut istimewanya, memelihara sapi dengan tidak mengikat leher sapi dengan tali, hidung sapi tidak ditusuk, jadi sapi-sapi dapat berjalan secara bebas, makan di padang rumput disekeliling kampung. Di desa ini tidak berlaku pepatah “bagaikan sapi ditusuk hidung”. Yang menarik masing-masing peternak dapat mengenali sapi mereka masing-masing, sebaliknya si sapi bila sore hari langsung masuk ke kandang di rumah tuannya.

Singkat cerita, ketika panitia qurban mengoperasi perut sapi qurban, pada lambung beberapa ekor sapi qurban asal desa “Lembu Bebas”, tersimpan CD-CD gadis yang diwartakan hilang, sebagian sudah mulai hampir tercerna, sebagian masih utuh. Rupanya si sapi yang bersangkutan menjadikan CD sebagai santapan pelengkap. Mungkin sebagian mereka menyempatkan diri untuk ke “Sesatang”, di mana dijemur CD, kebetulan si pemilik sedang lengah.

Kisah ini kuturunkan di blogspot, di hari Raya Qurban tahun 1432 Hijriah bertepatan dengan tahun 2011 Miladiyah. Mengenang Almarhum adikku Zulkarnain Arbi, SE., meninggal pada tanggal 8 Juni 2011, karena dialah inspirator kisah ini. Semoga Allah menempatkan Almarhum di tempat sebaik-baiknya di sisi Allah, diampuni segala dosanya dan diterima semua amalnya, kedua anak yang ditinggalkannya menjadi anak yang saleh dan seluruh keluarga diberi ketabahan. Amien

Friday, 4 November 2011

GARA-GARA SEEKOR TIKUS

Setiap anak manusia normal, tentu mempunyai cita-cita untuk suskes dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Indikator sukses, berbeda-beda di setiap komunitas masyarakat. Salah satu komunitas masyarakat ukuran sukses itu apabila berhasil menduduki jabatan tinggi, seperti pemimpin. Untuk meraih cita-cita menjadi pemimpin belakangan ini kadang orang menghalalkan segala cara. Konon dihebohkan setiap PILKADA ada saja soal yang tidak jujur dilakukan orang.

Alkisah tersebutlah seorang pemimpin dalam sebuah kapal yang lazim disebut “Kapten”, di terima di maskapai pelayaran. Sebagai orang nomor satu di dalam kapal, tentu ketika pertama kali masuk kapal, disambut dengan upacara yang khidmad, dikenalkan kepada seluruh kru kapal yang akan dipimpinnya.

Sebagai kapten kapal, tentu selama dalam pelayaran tidak langsung memegang kemudi kapal. Pekerjaan mengemudi akan dilakukan oleh para pembantunya yaitu para mualim dan juru mudi. Cuma dalam manajemen maskapai pelayaran, seorang kapten tidaklah punya hak prerogatif untuk memilih para pembantunya. Pembantu ditentukan oleh maskapai pelayaran.

Pelayaran perdana kapten yang baru masuk ini, adalah rute antar pulau dengan jarak tempuh selama kurang lebih 40 jam. Prosedur di dalam perjalanan laut, setiap beberapa jam sekali pemegang kemudi dalam keadaan cuaca yang normal sekalipun, melaporkan kecepatan kapal, arah angin dan arah haluan kapal kepada kapten. Laporan pertama Mualim “kita sudah berlayar sekian jam Kep dengan kecepatan sekian knot. Kecepatan angin sekian knot, arah haluan sekian derajat ke (menyebutkan mata angin). Mohon arahan selanjutnya”. Menanggapi laporan pertama ini sang Kapten malah balik bertanya kepada pelapor: “Biasanya kau lakukan bagaimana”. Dengan penuh hormat Mualim melaporkan secara rinci. “Udah kalau begitu, biasa saja saya tidak ingin mengubah yang sudah-sudah”, demikian jawab Kapten sambil menutup kembali pintu kamarnya yang letaknya disamping ruang kemudi.

Beruntung pelayaran itu diliputi oleh cuaca baik, ombak sedang tidak ada pengaruhnya buat kapal yang dinahkodai Kapten baru tersebut. Sekali lagi demi prosedur, Mualim selang beberapa jam kemudian mengetuk pintu kamar sang Kapten melaporkan: arah haluan kapal, kecepatan kapal, kecepatan angin dan arah arus laut, dan waktu tempuh sudah dijalani. Kembali pertanyaan yang sama oleh Kapten sambil sedikit mengeluarkan kepala dari pintu kamar. Dengan cekatan si Mualim menjawab: biasanya begini dan begitu yaitu: kecepatan kapal sekian knot, arah kapal ke (menyebutkan mata angin) selama sekian jam. Ya baik, laksanakan seperti itu, jangan diubah-ubah dulu cara yang biasa. Singkatnya setelah kali yang ketiga setiap laporan mendapat jawaban yang sama, timbul kecurigaan para Mualim. “Jangan-jangan Kapten kita ini nggak ngerti apa-apa, jawabnya setiap dilapori itu-itu saja (laksanakan seperti biasa saja). Bagaimana kalau kita kerjain ni Kapten, ide salah seorang Mualim”.

Setelah saling pandang beberapa saat, Mualim dan juru mudi yang sedang piket, mereka agaknya setuju ngerjain Kapten. Scenorionya arah kapal dilencengkan beberapa derajat dari arah yang semestinya. Dengan demikian kapal nantinya tidak akan sampai di kota tujuan. “Nanti setelah terjadi masalah, mendekati kota tujuan kita laporkan kembali kepada Kapten, bagaimana tindakan yang akan dilakukannya mengoreksi kesalahan tersebut”. Begitu agaknya kesepakatan untuk menguji kemampuan sang Kapten.

Perlengkapan standar orang nomor satu di atas kapal, tersedia tempat tidur di kamar ber AC dilengkapi dengan meja kerja. Seperti disinggung di atas bahwa kamar beliau persis dekat ruangan kemudi. Di kamar tersedia lemari pendingin dilengkapi dengan minuman kaleng dan makanan ringan antara lain roti. Si Kapten beberapa saat yang lalu menyantap roti di meja kerjanya, masih tersisa sebagian roti di dalam piring.

Tiba-tiba.......... seekor tikus menghampiri piring roti, beberapa centi meter lagi nyampai ke piring, sementara si Kapten sedang tiduran di atas tempat tidurnya miring kearah meja kerjanya. Kontan saja ia melompat dan berteriak: “Jangan main-main dengan saya, kamu kira saya tidur ya”, hardik si Kapten kepada tikus. Kontan tikus langsung lari terbirit-birit dan terdengar suara si Kapten memukul-mukul meja, sambil menguntit kemana arah larinya si tikus.

Saking kerasnya gebrakan dan suara jeritan si Kapten, terdengar sampai keluar kamar, tiada lain ruangan kemudi di mana para Mualim dan juru mudi piket sedang bertugas. Mendengar jeritan suara Kapten, secara reflek juru mudi mengarahkan arah kapal kembali ke posisi semula, karena yakinlah mereka bahwa Kapten mengetahui bahwa mereka akan mempermainkannya, apalagi jelas benar suara Kapten “kamu kira saya tidur ya’. Mulai detik itu anak buahnya yang berkenaan dengan arah pelayaran tidak lagi memikirkan ingin mencoba kemampuan sang Kapten. Walau laporan berikutnya juga diiringi jawaban Kapten atas setiap laporan “Laksanakan sebagaimana biasanya saja”. Kapal akhirnya sampai dengan selamat ke pelabuhan tujuan. Walaupun sebenarnya dipimpin seorang Kapten kapal yang berijazah tanpa mengikuti pendidikan profesi sebagai nahkoda atau dikenal sekarang “ijazah aspal”. Secara formal yang bersangkutan punya legalitas, tetapi legalitas saja untuk profesi pemimpin kapal tidak cukup, harus benar-benar punya kemampuan praktis.

Dari cerita yang belum tentu benar terjadi tersebut, dapat dipetik pelajaran antara lain bahwa:

1. Menjadi pemimpin itu ternyata tidak juga terlalu sulit, yang penting punya anak buah/ pembantu/petugas pelaksana yang piawai yang dapat bekerja sesuai tugasnya.

2. Kadang nasib juga menentukan sukses tidaknya seorang pemimpin, kebetulan pelayaran itu di cuaca yang baik, laut bersahabat, tidak ada masalah dalam perjalanan, sehingga Nahkoda bermodal “laksanakan sebagaimana biasa saja” juga sampai di pelabuhan tujuan. Selain itu coba kalau tidak kebetulan ada penumpang yang namanya “Tikus” yang mencoba mendekati roti. Tak tau kemana sampainya kapal. Padahal kegagalan kapal sampai ke tujuan yang bertanggung jawab penuh adalah Kapten.

3. Jadi anak buah harus paham bahwa pemimpin itu belum tentu pintar, tetapi bagaimana jua ia adalah pemimpin, harus tetap dianggap lebih mengetahui, makanya tetap dilapori.

Monday, 31 October 2011

M.O.U. DAUN SIMPOR VS DAUN JATI

Sebelum dikenal kantong kresek, di Jawa pembungkus belanjaan ibu rumah tangga dari pasar adalah “daun jati”, sementara itu di kampung saya pembungkusnya “daun simpor”. Kedua daun ini memang layak sekali buat pembungkus, karena lebarnya yang cukup dan tidak gampang sobek. Kini banyak dipersoalkan bahasa pembungkus dari kantong kresek terbuat dari bahan plastik tidak laik lingkungan, karena limbahnya tak gampang musnah dimakan tanah, begitu enak bahasa sederhananya. Si kantong kresek bekas pakai, kalau dibuang ke tanah dia tidak segera hancur, lama kelamaan membuat lingkungan menjadi rusak. Beda dengan daun jati atau daun simpor, begitu ke tanah sebentar hancur dan bahkan menjadi pupuk.

Kenapa di kampungku tidak membungkus dengan daun jati, dan kenapa di Jawa tidak membungkus dengan daun simpor. Jawabnya adalah karena di kampungku semula tidak ada tumbuh pohon jati, sedangkan di Jawa telah lama kucari tak pernah kutemukan pohon simpor. Kini dengan pertukaran budaya yang semakin gampang, sudah juga ada pohon jati di beberapa sudut kampung, ditanam asal bibit dari pulau Jawa. Tapi juga orang tidak memakainya buat pembungkus. Alasannya: selain daun simpor begitu banyak tanpa ditanam, pohonnya rendah mengambilnya mudah, juga daun jati yang tumbuh di kampungku tak selebar di negeri leluluhurnya. Dalam pada itu sudah beberapa kali kucoba membawa bibit tanamam “Simpor” dari negeriku ke pulau Jawa, ditanam tak mau tumbuh.

Seolah-olah kedua daun ini terikat M.O.U. bahwa “sesama daun pembungkus tak boleh rebutan wilayah”. Sesungguhnya fenomena alam ini, jika kita kaji mendalam, bahwa ia terjadi bukan secara kebetulan, Allah lah yang mengatur semua ini {“Maa khalaqta hadza bathila (sesungguhnya semua ciptaan (Allah) tidak ada yang sia-sia”}, tentu semuanya dimaksudkan untuk kebutuhan manusia. Tanaman jati pohonnya setelah usia tertentu hampir semua batangnya bagus dibuat bahan bangunan sampai ke akar-akarnya sangat indah dibuat peralatan rumah tangga, disamping mudah mengerjakannya, kayu jati sangat awet, sebab tidak gampang lapuk biar didera cuaca hujan maupun panas. Sedangkan pohon “Simpor” kayunya sama sekali tidak dapat dibuat bangunan, kayunya dikeringkan hanya cocok buat kayu bakar. Tapi salah satu keadilan Allah, di tanah yang tumbuh pohon “Simpor”, banyak tumbuh segala jenis kayu yang cocok buat bangunan termasuklah kayu Besi yang terkenal tak akan lapuk ratusan tahun itu.

Inilah salah satu contoh Allah ciptakan segala neka untuk kebutuhan manusia umum, di daerah yang tak hidup subur “Kayu Jati” tumbuh “Pohon Simpor” yang daunnya sama dapat dibuat pembungkus. Kini kita masuk ke diri sendiri, bila kita renungkan agak mendalam tentang kita dilahirkan ibunda kita, begitu kita lahir Allah telah siapkan makanan kita. Tadinya ketika kita masih dalam kandungan, ibunda kita susunya tidak berair, beberapa saat bayinya lahir air susunyapun disedot si bayi mulai mengalir. Lebih jauh lagi di dalam susu ibu yang pertama kali diminumkan kepada bayi yang baru lahir terdapat zat-zat yang memberi kekebalan tubuh bagi si bayi dari kemungkinan serangan penyakit. Sebab, Air susu ibu atau ASI adalah susu yang diproduksi oleh manusia untuk konsumsi bayi dan merupakan sumber gizi utama bayi yang belum dapat mencerna makanan padat.

ASI diproduksi karena pengaruh hormon prolactin dan oxytocin setelah kelahiran bayi. ASI pertama yang keluar disebut kolostrum atau jolong dan mengandung banyak immunoglobulin IgA yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit. Maha besar Allah atas segala ciptaan-Nya.

Mengaca kepada tamsil kedua daun tadi dan kepada ketersediaan kebutuhan hidup kita, telah dipersiapkan Allah sejak sebelum kita lahir. Maka sesungguhnyalah bahwa hidup ini sebenarnya tidak perlu saling mendengki satu sama lain sesama manusia, sudah disediakan bagian masing-masing. Giliran kita menjadi orang berjabatan, giliran kita menjadi orang berpunya, atau sebaliknya, walau telah membanting tulang dan usaha, keadaan masih juga pas-pasan, itulah rupanya bagian kita yang harus disyukuri. Rupanya kaya dan miskin adalah pilihan Allah, keduanya dalam ujian. Banyak orang lulus dengan ujian kemiskinan tetapi tidak sedikit orang yang terjeblos diuji dengan kekayaan. Tidak kurang orang yang menjadi kufur karena kemiskinan dan menjadi takabur karena ujian kekayaan dan kejayaan. Hal tersebut terjadi disebabkan kurang bersyukur atas apa yang diterima dari Allah.

Seorang pegawai kantor, merasa ia telah dan bahkan lebih berprestasi dari rekan selevelnya, ternyata nasib berkata lain, rekan selevelnya bahkan mendapat promosi dan diiringi kehidupannya menjadi lebih baik. Karena rasa dengki yang tak terpadamkan iapun memutuskan untuk mengundurkan diri. Setelah mengundurkan diri, maklum menata kehidupan baru tidaklah begitu gampang seperti yang dibayangkan. Ibarat tanaman “Pohon Simpor” tadi bibit dibawa dari Kalimantan hendak dicoba di tanam di tanah Jawa, ternyata tanahnya tidak cocok dan akhirnya tidak tumbuh. Kalaulah tanaman lain yang cocok dipindah, walaupun tumbuh mesti melalui proses layu lebih dulu. Jika kebetulan seperti bibit “Simpor”, justru mati, maka penyesalanlah yang akan timbul bagi yang memperturutkan iri dan dengki tadi. Ketahuilah bahwa dunia ini tidak dapat kita kuasai, jangankan dunia, satu lingkungan rukun tetangga saja kita tak sanggup kuasai, jangankan lingkungan RT,, kadang lingkungan keluarga saja tak dapat kita kuasai, jangankan lingkungan keluarga, dalam rumah tangga sendiri saja ada sebagian orang yang tak sanggup memegang kendalinya. Oleh karena itu kunci ketenangan adalah hindari hasyad, iri dan dengki, bersyukurlah atas apa yang kita miliki. Lainsyakartum laajidan nakum walainkafartum inna adzabi lasadid {(apabila engkau bersyukur maka akan ditambah nikmat (oleh Allah) dan bila engkau ingkari, ingat azab Allah amatlah pedih)}. Sadaqallhul Adzim.

Tulisan ini, sebagai hadiah ulang tahun ke 27 anakku dr. Akhmad Noviandi Syarif, 1 November 2011. Semoga Allah melapangkan jalanmu tengah menempuh pendidikan PPDS Bedah Plastik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Thursday, 20 October 2011

KONSISTEN

Tiap tahun, beberapa tahun terakhir ini bangsa Indonesia mengirimkan jamaah haji tidak kurang dari 200 ribu orang per musim haji. Belakangan ini untuk menunaikan ibadah haji harus antri berbilang tahun, tidak seperti belasan tahun yang lalu siapa punya uang cukup dan sehat dapat langsung mendaftar dan berangkat.

Andaikanlah semua orang yang sudah pergi haji, menjiwai apa artinya haji, konsisten menjalankan perilaku seharusnya bagaimana seorang yang sudah menjalankan haji, tentu bangsa ini sudah lama makmurnya. Sudah lama korupsi dipandang sebagai perbuatan tabu yang menggugurkan makna haji.

Kalau begitu gerangan apa yang menyebabkan bangsa ini masih saja terpuruk, walau jumlah orang-orang yang melaksanakan ibadah haji sudah demikian banyaknya, dan kebetulan kebanyakan pula yang menyandang predikat koruptor adalah pak Haji atau Bu Haji.

Rupanya persoalannya adalah para haji kita banyak yang tidak konsisten dengan kehajiannya. Konsisten saya terjemahkan bebas dari bahasa agama “Istiqamah” Bukankah haji adalah rukun Islam yang kelima, sekedar mengingatkan kita semua:

Rukun Islam yang pertama adalah “Dua kalimah syahadat mengucapkan dengan lisan mengikutinya dengan hati yang tulus dan ikhlas bahwa hanya bertuhan kepada Allah dan mengakui Muhammad adalah Rasul utusan Allah. Konsekwensinya adalah; di dalam hidup seorang Islam tidak lagi mempertuhankan selain Allah seperti antara lain: benda/materi, duit, atasan, jabatan dan segala macam, hanya tunduk dan patuh dengan apa yang digariskan oleh Allah. Garis aturan Allah itu diketahui melalui Rasul utusan Allah yaitu Muhammad s.a.w. Konsekwensinya segala yang diajarkan oleh Rasulullah secara keseluruhan diikuti. Dari sini saja sudah aman bangsa ini jika semua orang Islam konsisten dengan syahadatnya.

Rukun Islam yang kedua Shalat, sekurangnya 5 waktu dalam sehari semalam, jika setiap orang Islam konsisten melaksanakan ibadah shalat ini, sekurangnya setiap waktu yang ditentukan, tidak terjadi kemungkaran. Ketika akan melakukan korupsi misalnya; dipagi hari ingat bahwa tadi sewaktu subuh sudah bermunajad kepada Allah minta rezeki yang halal, insya Allah Pejabat negara terjauh dari korupsi, pedagang tidak akan berbohong, tidak akan mengurangi sukatan atau timbangan, pemuda pemudi yang masih bergelora dapat mengendalikan diri dari godaan nafsu. Karyawan akan bekerja penuh disiplin dan sungguh-sungguh karena bekerja adalah ibadah untuk mendapatlkan rezeki yang halal. Begitu selanjutnya ketika zuhur tiba diperbaharui lagi komitmen kepada Allah dan seterusnya sampai subuh kembali. Tentu orang Islam terhindar dari perbuatan tercela sekecil apapun.

Rukun Islam ketiga, berpuasa dibulan Ramadhan, mendidik jiwa orang Islam menjadi memahami penderitaan orang lain, sehingga tidak akan menyusahkan orang dalam hidup ini, karena betul-betul bagaimanapun kayanya seseorang, ia mempraktekkan diri bagaimana jadi orang tidak makan. Melatih diri memahami orang lain, tidak gampang tepancing emosi. sehingga tercipta manusia-manusia yang berbudi luhur dan berpenampilan tenang tidak gampang tersulut perselisihan paham/ribut yang hanya melahirkan kerusakan. Orang yang sukses puasanya tidak akan serakah, dapat menahan diri, karena sudah terlatih menahan diri dari rezeki yang halal saja tidak dimakan, apalagi rezeki yang tidak halal. Lagi menjadikan bangsa ini bila puasanya sukses akan aman dari orang yang memakan harta orang lain.

Rukun Islam keempat, menunaikan zakat, bilamana konsisten semua orang Islam melaksanakan Zakat, tentu semua harkat masyarakat akan terangkat. Lembah yang dalam antara sikaya dan simiskin dapat terurug. Setiap orang Islam menyadari bahwa dalam kekayaannya terdapat milik orang lain. Akan timbul kebersamaan antara orang berpunya dan orang papa.

Barulah rukun kelima yaitu menunaikan ibadah haji bagi orang Islam yang sudah mampu untuk menyiapkan diri dari segi biaya dan kesehatan. Haji diletakkan sebagai rukun kelima ini juga mengandung makna bahwa orang berangkat menunaikan ibadah haji sudah melaksanakan dan konsisten rukun-rukun Islam yang mendahuluinya. dengan demikian apabila orang sudah haji sepulangnya ke tanah air kembali lagi tidak melaksanakan rukum-rukun Islam empat lainnya, itu pertanda haji yang tidak konsisten.

Paling kurang ada tiga pertanyaan penting seharusnya direnungkan oleh seorang yang selesai menunaikan ibadah haji:

Pertama: Apakah haji yang dilaksanakan itu diterima oleh Allah. Dirunut antara lain dari mana diperoleh pembiayaan perjalanan haji.

Kedua : Apakah semua ibadah telah dilaksanakan dengan hanya mengharap redha Allah atau ada motifasi lainnya.

Ketiga: sepulang haji apakah sanggup mengemban/memelihara predikat haji, yaitu secara konsekwen dan konsisten menjalani semua perintah Allah dan Rasul Allah secara keseluruhan.
Pertanyaan pertama, agaknya dengan mudah ditelusuri oleh diri sendiri, bahkan orang lain yang kadang sok usil dapat membaca dari mana diperoleh harta untuk biaya berangkat haji. Kalau harta berangkat haji dari hasil korupsi, banyak ustadz yang mengi’tibarkannya seperti mandi dengan air kotor, berwudhu dengan najis. Soal diterima atau tidak ibadah haji ybs. wallahu alam bissawab. Tak berani pula awak memfonishnya itu urusan Allah.
Walau sumber rezeki dijamin halal, untuk modal pergi haji, tetapi dipertanyaan kedua harus dapat dijawab bahwa betulkah hajinya lillahi ta’ala (semata karena Allah). Jika ada motif lain, umpamanya sering kita dengar orang berkata “ndak enak saya udah begini tua belum berangkat haji, orang sering manggil pak haji, pada hal saya belum haji udah sekalian sekarang berangkat”. Ada lagi ungkapan “di kampung saya orang sebaya saya udah haji semua, masak saya belum juga haji udah apa yang ada dijual, yang penting berangkat haji”. Atau ada lagi yang berpikir “Pak anu bisnisnya sekarang maju semenjak pulang dari haji, rupanya patner bisnisnya dan orang-orang lebih percaya padanya karena beliau sudah haji, saya ikut berangkat haji juga, semoga title haji menambah kepercayaan orang”. Kadang haji yang begini ini sepulangnya masih tetap seperti yang dulu.

Bila jawaban kedua pertanyaan tersebut di atas hasilnya negatif, diiringi pula tidak konsisten menjalankan rukun Islam lainnya, maka terjawablah pertanyaan ketiga negatif pula yaitu tidak sanggup mengemban/memelihara predikat haji. Bila ia seorang pejabat yang punya Peluang korupsi, maka korupsinya makin menjadi-jadi. Bila ia seorang pedagang yang selama ini ia selalu berbohong untuk memperoleh untung, iapun dengan bernaung pada predikat hajinya lebih leluasa berbohong. Bila sebelum haji punya kegemaran judi maka sepulangnya masih tergoda untuk bejudi dan seterusnya, justru makin hebat karena terlindungi oleh haji. Bahwasanya syaitan menggoda tergantung strata orang yang digoda. Orang berilmu setan penggoda juga berilmu lebih tinggi, orang yang sudah berpredikat haji setan penggota juga bukan lagi setan sembarangan, iapun mungkin berpredikat haji pula.

Ada anekdot, seorang yang tadinya penyabung ayam, ketika pulang haji diberi kehormatan menjadi imam di Langgar (Surau) di kampungnya. Surau di kampung itu bangunan panggung, lantainya dari papan. Kebetulan papan Surau dari bahan kayu yang kalau musim panas agak renggang. Sedang terik matahari di waktu Zuhur pak “haji baru” jadi iman bersajadah tipis, kampung ini agaknya penduduknya pas-pasan. Pada sujud di rakaat terakhir, di bawah Surau (kolong Surau) dua ekor ayam tiba-tiba tarung persis di bawah kesujudan sang imam. Ayam berwarna hitam dan ayam berwarna putih jelas terlihat dari sela lantai. Rupanya pertarungan agaknya akan dimenangkan si putih. Si imam berhenti lama sekali dalam sujudnya menikmati sabung ayam kebiasaan lamanya, sambil dalam hatinya berguman “pukul putih, pukul putih, pukul putih” baru ia bangkit dari sujud setelah si hitam keok. Kontan jamaah lainnya merasa lama menunggu, apa boleh buat, bahwa tidak boleh gerakan mendahului imam. Setelah selesai shalat, ayam dikolong Surau terdengar selesai berantem dan si hitam lari terbitit-birit, seluruh jamaah mengetahui keributan sabung ayam di bawah bangunan Surau itu sejak mulai sampai akhir. Terlepas dari benar atau tidak anekdot ini, begitulah tamsil seorang yang sudah melaksanakan ibadah haji, kalau kurang-kurang bertekad bertaubat, maka tergoda kembali untuk menekuni perilaku kurang baik yang pernah dikerjakan. Untuk memelihara ke hajian itu maka haruslah konsisten dalam melaksanakan rukun Islam yang lain agar tertutup kesempatan syaitan untuk masuk melancarkan godaannya.

Allah telah memberikan petunjuk di dalam Alqur’an surat Hud 112

Fastaqim kamaa umirta waman taaba ma-‘aka wala tathghaw innahu bimaa ta’maluu na bashiir. (Maka tetaplah ( istiqamahlah) kamu, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan). Bentuk sikap istiqamah ini dalam amal adalah dengan mengerjakannya secara terus-menerus, ….bukan kadang-kadang.


Ø¥ِÙ†َّ Ø£َØ­َبَّ الأَعْÙ…َالِ Ø¥ِÙ„َÙ‰ اللَّÙ‡ِ Ù…َا دَامَ ÙˆَØ¥ِÙ†ْ Ù‚َÙ„َّ

Inna ahabbal a’mala illahi maa daama waa in qalla
Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka amal-amal dibiasakan ketika ditanah suci, hendaklah secara konsisten dipertahankan setelah di tanah air, contoh shalat berjamaah tepat pada waktunya. Betapa di Mekah dan di Madinah, jamaah haji dengan rajin mengikuti shalat berjamaah di masjid, tiada waktu tanpa shalat berjamaah. Setelah sampai di Indonesia hendaknya kebiasaan itu dengan konsisten tetap dilaksanakan. Di Mekah dan di Madinah jamaah haji, gampang tergugah untuk membantu sesama, dibuktikan dalam berbagai akitifitas semua berusaha membantu orang lain, termasuk bersadakah, kenapa setelah sampai di tanah air kebiasaan baik itu justru tidak konsisten di teruskan. Adalah merupakan larangan haji berbuat fasik, berbantah-bantah, membicarakan hal-hal yang tidak pada tempatnya, bila secara konsisten setiap haji dan hajah melakukan ini, maka betapa aman dan damainya pergaulan hidup.

Konsisten melaksanakan semua rukun Islam, terutama bagi haji dan hajah yang seharusnya Islamnya sudah lebih lengkap ketimbang orang yang belum melaksanakan haji. Maka seharusnyalah bangsa yang banyak penduduknya sudah haji ini lebih aman dan makmur.

Para Haji dan Bu Hajah jangan sampai terjadi pada diri kita seperti apa yang diisyaratkan Allah dalam Alqur’an surat An Nahl 92 :

walaa takuunuu kallatii naqadhat ghazlahaa min ba’di quwwatin ankaatsan.(Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali).

Diibaratkan bahwa orang yang sudah melaksanakan ibadah termasuk haji, seperti sudah memintal hubungan yang kuat dengan Allah, terjalin terkelindan, bagaikan benang yang dipintal. Masing-masing orang yang sudah pergi haji merasakan pengalaman rohani betapa kedekatan diri kepada Allah ketika ritual haji dilaksanakan. Jangan sampai hubungan erat dengan Allah itu justru setelah kembali ke tanah air diurai kembali, menjadi tercerai berai bagaikan benang sudah dipintal terurai. Perbuatan ini adalah sia-sia, bagi bangsa kita yang lumayan jauh dari Makkah kota tempat dilaksanakan haji dan menghabiskan biaya yang lumayan banyak, apalagi beberapa tahun belakangan ini, meskipun punya uang harus menunggu beberapa tahun baru dapat melaksanakan ibadah haji.

Semoga Allah menjadikan para Haji dan Hajah semua menyadari akan hal pentingnya peningkatan ibadah sesudah menjalankan haji dan menjadikan mereka Istiqamah dalam ibadah.

Ketahuilah bahwa jika Istiqamah menjalankan perintah Allah, maka Allah menjanjikan di dalam surat Fusilat ayat 30:

Innalladziina qaluu rabbunallahu tsummastaqaamuu tatanazzalu ‘alaihimulmalaaikatu alla takhafu wala tahzanuu wa absyiruu biljannatillatii kuntum tuu ‘aduuna. (Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (konsisten), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.")

Dilanjutkan Allah dengan firman-Nya Jika kita istiqamah, maka Allah SWT menjanjikan di dalam kelanjutan surat Fusilat yaitu di ayat ke 31:

Nahnu auliyaa ukum filhayaatiddunyaa wafil akhirati walakum fiihaa ma tasytahii anfusukum walakum fiihaa maa tadda’uuna.(Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta).

Tulisan ini kuturunkan ketika hadir pada kesempatan syukuran di Pontianak untuk mengantarkan adikku Rosnani Arbi, Spd., Mpd., berangkat menunaikan ibadah haji jamaah Pontinak Kalimantan Barat dari embarkasi Batam 20 Oktober 2011. Jadilah hajah yang mabrur adikku.