Thursday, 16 March 2023

JALA Iblis dirajut dengan benang IKHLAS

Ketika tulisan ini diturunkan, Ramadhan 1444 H, tinggal hitungan “satu digit hari”. Ramdahan disebut juga sebagai bulan ibadah (syahrul Ibadah) sebab pahala beribadah di bulan Ramadhan ini berbeda dengan pahala di bulan lain. Oleh karena itu, hendaknya kita kaum muslimin-muslimat selalu memperbanyak ibadah-ibadah sunnah di samping ibadah wajib. Misalnya menunaikan sholat sunnah dhuha, rawatib, dan tarawih (qiyamullail), serta membaca Alquran, karena segala pahala yang dilakukannya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah SAW: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151). Hadist diatas menjelaskan bahwa Allah akan melipatgandakan satu amalan kebajikan menjadi sepuluh kebaikkan bahkan hingga tujuh ratus kebaikkan yang semisal. Peluang keutamaan beribadah di bulan Ramadhan itu oleh para ahli ibadah akan di pergunakan se-baik2nya. Saban hari tak pernah lupa bersedekah. Lidah dan bibirnya selalu basah berzikir. Tentu tak usah diragukan lagi ibadah wajib dilaksanakan dengan baik dan khusyuk karena Allah, sedangkan yang sunah saja hampir tak pernah luput. Namun yang perlu diwaspadai adalah “JALA IBLAS” yang senantiasa tidak rela bila ibadah kita di terima Allah. Iblis akan berusaha “menjala”, “mengambil” ibadah kita itu sehingga tak masuk ke pundi2 amal ibadah kita yang tersetor, tercatat sempurna di sisi Allah. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Iblis: ثُمَّ لَءَاتِيَنَّهُمْ مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمٰنِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ  ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شٰكِرِينَ "kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (Al-A'raf ayat 17). Amalan2 kita di bulan Ramadhan, tatkala dirinya mulai merasa ketaatan dan keikhlasannya beramal/beribadah itu diketahui orang, menjadi perbincangan masyarakat, lantas hal tersebut menjadi termotivasi meningkatkan frekuensi amal/ibadahnya. Umpamanya sedekah yang biasanya untuk orang berbuka ikut pertasipasi 100rb setiap hari karena diketahui orang lalu ditingkat jadi 200rb sampai 300rb. Zikir yg biasa dilakukan, karena jadi perhatian orang diperbanyak dan pengucapannya diperjelas. Pokoknya semenjak diketahui orang akan amal/ibadahnya yang bersangkutan meningkatkan amal/ibadahnya baik kualitas maupun kuantitas. Jika sudah seperti ini “JALA IBLIS” telah dikibarkan untuk diarahkannya kepada ahli ibadah yang ikhlas itu tadi. Iblis punya JALA BERAJUT BENANG-BENANG IKHLAS yang siap untuk menjala orang-orang ikhlas dalam beribadah. Karena kasih sayang Rasulullah kepada ummatnya, beliau ajarkan do'a untuk menghindari “JALA IBLIS”, kepada sahabat utamanya ABU BAKAR. Abu Bakar adalah orang beriman pertama, demikian kuat imannya tak disangsikan lagi. Tetapi Nabi mengajarinya do'a, tentu do'a itu bukan hanya untuk Abu Bakar namun untuk kita semua agar terhindar dari terjaring JALA-NYA IBLIS. Abu Bakar yang begitu kuat imannya saja perlu do'a ini apalagi kita yang imannya mungkin tak seujung kukupun dari Abu Bakar. Do'a tsb sbb: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَم Allahumma inni a'udzu bika an usyrika bika syaian waana a'lamu waastaghfiruka lima laa a'lamu. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan, aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tadak kuketahui). (Iman Bukhari dalam AL ADAB AL MUFRAT dan At Tirmidzi dalam NAWATIR AL USUL. Mari kita persiapkan diri menyongsong Ramadhan dengan waspada terhadap kemungkinan terkena “Jala Iblis yang dirajut dengan benang-benang ikhlas” Semoga keikhlasan kita beramal tidak terpengaruh, walau dipuji atau di caci, biar dipuja atau dicela. آمِيّ.... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 23 Sya’ban 1444 H. 16 Maret 2023. (1.114.23).

Monday, 13 March 2023

SEMBILAN apakah KEBETULAN

“Kebetulan” ketika aku sedang olah raga ringan jalan pagi, tiba2 sebuah mobil berhenti mendadak tak terhindarkan seekor kucing terlindas dan mati di tempat. Apa yang kulihat ini kuceritakan kepada sohib2ku pada kesempatan sama2 menghitung kotak amal Jum’atan di masjid. Salah seorang dari sohibku itu memperotes istilahku “Kebetulan”. “di dunia ini apa yang terjadi ndak ada yang “kebetulan” katanya. Benar juga ujar sohibku itu, pada hakikatnya apapun yang terjadi “sudah tersurat”: مَآ أَصَابَ مِنْ مُّصِيبَةٍ فِى الْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ أَنْ نَّبْرَأَهَآ  ۚ إِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah" (Al-Hadid ayat 22). Jadi kucing ketabrak mobil tersebut, oleh sohibku itu dikelompokkan “bukan kebetulan” sudah ……..tertulis di “ Lauh Mahfuz” Sebentar lagi Ramadhan 1444 H tiba, ternyata bulan Ramadhan itu dalam kalender Hijriah, bulan2 Qamariyah adalah bulan ke SEMBILAN. Inipun agaknya bukan “kebetulan”. Coba kita kaitkan dengan hadist: كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ “Setiap anak yang lahir, dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”. (HR. Muslim). Ini sekedar kutak katik, diriku bukan sebagai ahli agama, kucoba menghubungkannya dengan manusia yang normal, berada dalam kandungan ibu adalah selama sembilan bulan-plus. Lantas mari kita hubungkan dengan sebuah hadits lemah, yang banyak tersebar di ceramah/kultum ataupun di dunia maya: “Barangsiapa berpuasa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka dia keluar dari dosanya SEPERTI BAYI YANG BARU DILAHIRKAN OLEH IBUNYA .” [HR. AHmad] إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ، وَسَنَنْتُ قِيَامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا واحْتِسَابًا، خَرَجَ مِنَ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Allah ‘Azza wajalla mewajibkan puasa Ramadhan dan aku menyunahkan shalat malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.” Mengacu kepada hadits tersebut, bahwa sepanjang tahun dengan parameter tahun Hijriyah; kita menapaki hidup sejak bulan: 1. Muharram, 2. Shafar, 3. Robi'ul Awal, 4. Robi'ul Akhir, 5. Jumadil Awal, 6. Jumadil Akhir, 7. Rajab, 8. Sya'ban, 9. Ramadhan…….. Pada bulan Ramadhan, diri kita masing2 sedang siap2 dilahirkan kembali setelah sembilan bulan mengarungi kehidupan dalam setahun, ketika di bulan Syawal (bulan ke sepuluh), setiap orang beriman yang menjalankan kewajiban berpuasa Ramadhan “BAGAIKAN LAHIR KEMBALI”. Manusia yang “baru dilahirkan ibu” seperti hadist dikutip di awal: “semua anak dilahirkan atas fitrah”. ( كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ) Penentuan berpuasa wajib di bulan ke sembilan (Ramadhan) inipun bukanlah merupakan suatu “kebetulan”, tetapi bila di kait2kan; mungkin; sekali lagi mungkin, ada kandungan maksud dengan persamaan bahwa manusia normal dikandung ibu selama SEMBILAN BULAN plus. والله عالم بشواب (wallahu ‘alam bishawab) Bulan2 Hijriyah yang dulu ketika kami masih kecil di Madrasah dihafalkan melalui nyanyian, sehingga anak2 setara SR ketika itu hafal nama2 bulan kalender Islam tersebut. Sekarang mungkin sudah banyak diantara kita pemeluk agama Islam yang tak hafal dengan urutan bulan2 Hijriyah tersebut yaitu: 1. Muharram; Adalah bulan pertama dalam tahun Hijrah (Hijriyah). Muharram berarti “diharamkan” atau “dipantangkan”, yaitu bulan dimana Allah SWT melarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah. Begitulah kebiasaan orang Arab jaman dulu meyakini bahwa bulan Muharram adalah bulan suci sehingga tidak layak menodai bulan tersebut dengan peperangan. 2. Shafar; Dinamakan bulan Shafar karena rumah-rumah mereka sepi, sedangkan para penghuninya keluar untuk berperang dan bepergian Shafar (صفر) dalam bahasa Indonesia diartikan kekosongan. Dinamakan demikian karena rumah-rumah bangsa Arab menjadi kosong atau sepi dari penduduk karena mereka pada keluar untuk berperang ataupun untuk mencari makanan. 3. Rabi'ul Awal; Kata ar-Rabi’ sebenarnya memiliki arti yang bermacam-macam. Namun keseluruhannya menunjukkan makna musim dimana tumbuhan mulai menghijau atau memunculkan kembangnya. Ia kemudian diterjemahkan sebagai musim semi. 4. Rabi'ul Akhir; Konon, yang pertama kali mengistilahkan Rabiul Akhir ialah Kilab bin Murrah. Ia merupakan kakek buyut Nabi Muhammad SAW. Penamaan itu merujuk pada peristiwa alam, yakni datangnya musim semi (rabi') di Jazirah Arab. 5. Jumadil Awal; Kata Jumadil berasal dari kata Jamada, maknanya adalah beku karena di masa itu musim dingin mulai tiba. Nama Jumadil Awal diambil dari kata jamada yang artinya beku dan dingin, sedangkan awal berarti pertama. 6. Jumadil Akhir; JUMADIL Awal dan Akhir diambil dari kata Jamada yang artinya "beku" karena penamaan bulan tersebut bertepatan dengan saat musim dingin di mana air membeku. 7. Rajab; Makna awalnya segan untuk melepaskan anak panah dari busurnya. Ini dikarenakan di bulan tersebut, peperangan dilarang dilakukan. “Rajab” diambil dari kata at-tarjîb yang berarti mengagungkan atau memuliakan, karena masyarakat Arab dulu lebih memuliakannya dibanding bulan lainnya. 8. Sya'ban; Nama Sya'ban diambil dari kata Sya'bun (شعب) yang artinya 'kelompok / golongan', atau “jalan di atas gunung”, maka Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya'ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan demi mencapai kebaikan. 9. Ramadhan; Ramadhan berasal dari kata Ramadh (رمض ) yang artinya ialah panas menyengat atau membakar. Dinamakan seperti itu karena memang matahari pada bulan ini jauh lebih menyengat dibanding bulan-bulan lain. Di bulan Ramadhan ummat Islam diwajibkan berpuasa, mengacu kepada hadits dikutip diatas usai melaksanakan puasa Ramadhan, di 1 Syawal “Suci bagaikan bayi yang baru lahir”. 10. Syawal; Syawal berkaitan dengan susu yang dihasilkan oleh hewan yang khas di wilayah Arab, yakni unta. Penamaan Syawal merujuk pada unta betina yang melilitkan dan menaikkan ekornya. Ini menjadi tanda bahwa unta betina tersebut minta dibuahi dengan si jantan. 11. Dzulqa'dah; Bulan Dzulqa'dah juga diagungkan karena dalam bulan tersebut Allah melarang manusia untuk berperang. Hal ini senada dengan makna secara harfiyah dari “Dzulqa'dah” yaitu penguasa genjatan senjata. 12. Dzulhijjah, Bulan Dzulhijjah secara bahasa, Dzulhijjah terdiri dari dua kata: Dzul yang artinya pemilik dan Al Hijjah yang artinya haji. Dinamakan bulan Dzulhijjah, karena orang Arab, sejak zaman jahiliyah, melakukan ibadah haji di bulan ini. Semoga dengan mencoba menghubungkan Ramadhan sebagai bulan ke SEMBILAN, dengan masa manusia dalam kandungan selama SEMBILAN bulan, selesai berpuasa Ramadhan benar2 seperti dilahirkan kembali, suci dari segala dosa. Ya Allah; Selamatkanlah diri kami dari bahaya kejahatan yang sudah Engkau tentukan. آمِيّ.... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 20 Sya’ban 1444 H. 13 Maret 2023. (1.113.23).

Sunday, 12 March 2023

TAK Khusyuk, jangka panjang Hati Mengeras

Khusyuk dalam terminology Islam dapat diartikan konsentrasi/fokus ibadah kepada Allah semata, bukan karena sesuatu yang lain selain Allah. Perintah khusyuk ini, tidak serta merta bersamaan begitu Islam datang. Sebelum keharusan khusyuk dalam shalat, makmum shalat permulaan Islam kadang masih berbincang dengan tetangga berdiri shalat, misalnya nyusun rencana bisnis sesudah shalat. Menurut khabar dari Abdullah bin Mas'ud perintah khusyuk baru ditegaskan Allah setelah 4 tahun mereka memeluk Islam, ternukil dalam surat Al-Hadid ayat 16: اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَـقِّ ۙ “Belumkah datang masanya bagi orang-orang yang beriman, bahwa akan khusyuk hati mengingat Allah dan apa yang DIA turunkan dng kebenaran.” Jeda 4 tahun dari lahirnya Islam ke perintah khusyuk, mohon maaf bila saya jadikan tamsil, pengurus masjid hendaklah maklum terhadap anak2 bawah/sampai 10 tahun tidak/belum khusyuk ketika shalat berjamaah di masjid. Mereka baru lebih kurang 3 tahunan didik shalat, makanya mereka masih saling goda satu sama lain, toleh kiri toleh kanan, tak jarang membuat berisik. Dalam hal ini pengurus masjid handaklah memperlakukan mereka secara bijak. Tidak pantas mereka dibentak, apalagi diusir dari masjid. Karena hal ini akan menjadi trauma yang akan terbawa sampai mereka dewasa. Mereka adalah generasi penerus kita yang kelak akan memakmurkan masjid, setelah kita yang tua2 ini satu persatu dipanggil Allah. Pendidikan shalat buat anak2 mulai usia 7 th, wajarlah kalau mereka kadang masih suka bercanda. Tapi harapan kita, terutama imam dan pengurus masjid, hendaklah terus menerus mengingatkan kepada anak2 kita agar jangan bercanda ketika shalat. Nah kalau sudah masuk umur 10 tahun hendaklah mulai tegakkan ketentuan khusyuk itu lebih tegas. Jujur kita akui, jamaah dewasa saja masih harus terus-menerus diingatkan. Buktinya imam shalat, tak bosan2nya berseru "Rapat kan dan luruskan shaf. Tolong yang didepan penuhkan dulu, baru shaf berikutnya. Isi shaf yang masih kosong". Tidak otomatis....., shaf masih aja mengular, masih aja yang lowong, belum lagi yang berperilaku membuka kaki lebar2. Mestinya shaf muat untuk 3 orang, cuma dapat 2 orang. Kembali ke masalah khusyuk. Dalam hal ini Syaddad bin Aus mengatakan dia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: أول شيء يرفع من هذه الأمة الخشوع حتى لا ترى فيها خاشعا قال الألباني: ‌‏حسن صحيح “Perkara pertama diangkat dari umat ini ialah khusyu’ sehingga kamu tidak melihat padanya orang yang khusyu’”. Berkata Al-Albani: hadits ini hasan sahih. Suatu yang lekas hilang dari sebagian orang, ialah khusyuk mereka kepada Allah. Apalagi di era persaingan kehidupan dunia dewasa ini menjadikan manusia harus serba sibuk. Tak jarang orang mampir ke masjid, berharap agar acara ibadah yang diikuti cepat selesai, sebab sudah ditunggu oleh suatu aktivitas yang harus dilaksanakan. Khutbah Jum’at kalau kelamaan ada makmum yang gelisah, lalu meluncur dari mulutnya “aamiin, aamiin, aamiin”, pada hal khatib belum sedang membaca do’a. Adalah bijak setiap pengurus masjid mengarahkan setiap khatib agar berkhutbah dengan durasi tertentu misalkan maksimal 20 menit. Bekenaan dengan kemajuan digital sekarang banyak masjid yang sudah tersedia alarm yang lembut, terdengar khatib dari mimbar, bahwa waktu khutbah sudah harus diakhiri. Kadang seorang khatib walau sudah diingatkan pengurus tentang durasi khutbah, dengan teknik penyampaian kadang pengulangan2 kalimat tertentu, sehingga materi belum sampai tuntas seperti direncanakan, waktu digunakan sudah lebih, tak terasa kebablasan. Akibat tdk khusyuk dalam shalat termasuk mendengarkan khatib berkhutbah, diberitahukan sekalian buat kita dilanjutan ayat 16 al-Hadid tadi: وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ  وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ "dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik." Salah satu acuan untuk khusyuk dalam shalat/beribadah dapat dipedomani hadits berikut: ،اعبُدِاللهَ كأنَّكَ تراه فإن لم تكُن تر ا ه فإنَّه يراك، واعدُد نفسكَ في الموتي وإيَّاكَ ودعو ةَ المظلو م فإنَّما تُستجا ب، ومن استطا ع منكم أ ن يشهد الصلا تينْ العشا ء والصبْح ولو حَبْوًافلْيَفْعَل “Beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu melihat Allah, jika kamu tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia yang melihatmu dan anggaplah bahwa seakan-akan kamu hendak mati, jauhi dan hati-hati dari do’a orang-orang yang didzalimi, dan siapa diantara kalian yang mampu untuk shalat subuh dan ‘isya berjamaah walaupun dia merangkak untuk mendatanginya, hendaknya dia lakukan” Semoga kita masa kini dengan banyak mendengar dakwah dan pengajian, berkenaan pula dengan Ramadhan 1444 H tinggal hitungan hari, semakin mantab kekhusyukan kita dalam shalat dan seluruh ibadah2. آمِيّ.... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 19 Sya’ban 1444 H. 12 Maret 2023. (1.112.23).

Thursday, 9 March 2023

BERSIH Rohani untuk RAMADHAN

Ketika artikel ini sampai ke ruang baca anda, Ramadhan 1444 H sudah hampir tiba, kurang dari dua pekan. Setiap menjelang Ramadhan, ummat Islam melakukan beberapa persiapan agar manakala sampai di bulan Ramadhan tersebut dapat melaksanakan ibadah dengan maksimal. Sehingga insya Allah setiap diri berhasil menjadi hamba Allah yang taqwa sebagai tujuan akhir melaksanakan puasa Ramadhan, (seperti yang di informasikan Allah melalui Al-Baqarah 183 = “la’allakum tattaqun”). Sejumlah persiapan perlu dilakukan oleh setiap diri dimaksud, salah satu diantaranya adalah “membersihkan rohani”, meliputi dua hal yaitu: a. membersihkan dosa kepada Allah b. membersihkan dosa sesama manusia. MEMBERSIHKAN dosa kepada Allah. Allah akan mengampuni dosa-dosa kita seberapapun banyaknya, asalkan kita mau bertaubat dengan sungguh2 taubat dikenal dengan “Taubatan Nashuhaa”. “………...يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةًۭ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُم “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan kesalahanmu………………..” (At-Thahrim 8). Sebagai acuan boleh kiranya kita simak Kisah Wahsyi “Dari Abbas ra. Berikut ini: “ Wahsyi, pembunuh Hamzah ra. paman Rasulullah SAW. Menulis surat kepada Rasulullah SAW dari Mekkah, yang menyebutkan bahwa sesungguhnya aku ingin masuk Islam, namun yang menjadi penghalangku untuk masuk Islam adalah ayat Al-Qur’an yang turun kepada Anda, yaitu: وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ  ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا "dan orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat,"(Al-Furqan ayat 68). Aku telah melakukan tiga perkara itu. Sekarang apakah aku berpeluang untuk bertaubat ?. …...kemudian turun firman Allah SWT. إِلَّا مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صٰلِحًا فَأُولٰٓئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنٰتٍ  ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا "kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Al-Furqan ayat 70) Rasulullah SAW pun membalas surat Wahsyi dengan ayat itu. Wahsyi menulis surat lagi yang isinya menyebutkan tentang syarat taubat, yaitu beramal saleh, dan aku tidak tahu apakah aku dapat melakukan amal saleh atau tidak ?. kemudian turun firman Allah SWT. إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَآءُ  ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًۢا بَعِيدًا "Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu) dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali." (An-Nisa' ayat 116). Rasulullah SAW pun membalas surat Wahsyi dengan ayat itu. Wahsyi menulis surat lagi yang isinya menyebutkan tentang syarat taubat yang juga terdapat dalam ayat tersebut, dan aku tidak tahu apakah aku mendapatkan ampunan atau tidak ?.Kemudian turun firman Allah SWT,. قُلْ يٰعِبَادِىَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلٰىٓ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَّحْمَةِ اللَّهِ  ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا  ۚ إِنَّهُۥ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ "Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Az-Zumar yat 53). Rasulullah SAW pun membalas surat Wahsyi dengan ayat itu. Wahsyi tidak lagi melihat ada syarat taubat yang berat baginya dalam ayat tersebut, maka dia pun bertolak menuju Madinah dan masuk Islam. Naah pembaca, kisah di atas baik kiranya untuk bahan banding buat diri masing2, kuat dugaan, dosa kita semua, belum seberat dosanya Wahsyi. Sedangkan Wahsyi saja diampuni Allah, dengan demikian, insya Allah bila kita bertaubat dengan sungguh2 Allah akan bersihkan diri kita dari dosa kepada Allah. Bahwa setiap bani Adam berdosa, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW, كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ. “Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik pembuat dosa adalah mereka yang bertaubat”. (HR.Tirmidzi). BERSIH DIRI dari dosa SESAMA MANUSIA. Dosa kepada sesama makhluk Allah SWT terbagi dua yaitu “dosa ke sesama manusia” dan “dosa kepada mahluk Allah lainnya”. Dosa kepada makhluk Allah lainnya penyesaiannya dengan berbuat baik dan bertobat kepada Allah. Sedangkan “dosa kepada sesama manusia” lebih kompleks penyelesaiannya, harus digenahkan di dunia ini adalah dengan meminta maaf dan ridha dari orang dimana kita berbuat dosa. Kalau manusia yang didosai masih hidup dan jelas alamatnya, maka masalahnya adalah lebih mudah yaitu dengan mendatanginya dan meminta maaf dan ridhanya! Tapi, kalau yang bersangkutan sudah meninggal dunia, atau tidak ketahuan dimana tinggalnya, sehingga tidak bisa diketemukan orangnya, maka persoalannya menjadi musykil. Padahal bila dosa sesama manusia belum terselesaikan maka di akhirat nanti akan terjadi seperti dikisahkan didalam satu hadits Rasulullah SAW Dari Abu Hurairah ra.: "Siapa saja yang pernah melakukan suatu kezaliman terhadap saudaranya, baik itu harga diri ataupun ‎perkara lain, maka hendaklah ia meminta untuk dihalalkan pada saat ini sebelum datang hari dimana dinar dan ‎dirham sudah tidak berlaku. Jika dia ‎memiliki amal saleh maka akan diambil dari pahala amalan salehnya sebanyak kezalimannya, dan ‎jika ia tidak memiliki kebaikan, maka akan diambil dosa orang yang dizaliminya kemudian dibebankan kepadanya." Hadits sahih - Diriwayatkan oleh Bukhari. Memohon maaf sesama, juga memberikan maaf. Sungguh memberi maaf kadang lebih sulit ketimbang meminta maaf. Allah memberikan informasi di Al Bakarah 263 yang lebih utama adalah memberikan maaf. قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَآ أَذًى  ۗ وَاللَّهُ غَنِىٌّ حَلِيمٌ "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun." Andaikan setiap diri, setiap hari menjelang tidur mengingat perjalanan harian, selanjutnya dengan ikhlas memaafkan siapun yang bersalah kepadanya, siapapun yang telah menzaliminya (sebagaimana dimaksud ayat di atas), maka dunia ini bersih dari dosa sesama. Berdasarkan riwayat Abdullah bin Amr, ada seorang di masa Rasulullah masih hidup, diberitahukan Rasulullah akan masuk surga tanpa dihisab, salah satu amalannya, setiap malam sebelum tidur dia ingat-ingat siapa yang melakukan kesalahan kepada dirinya dan langsung dimaafkannya tanpa dendam didalam hatinya. Dosa terhadap sesama manusia itu terdapat dua jenis: PERTAMA; terhadap hartanya. Dosa mengenai harta, disepakati hendaklah dikembalikan atau diserahkan dalam keadaan sebaik-baiknya kepada pemiliknya. Atau diganti dengan barang yang lebih baik. Atau kalau tidak mampu mengembalikan dan mengganti hendaklah meminta maafnya dan ridhanya. Kalau orangnya sudah meninggal dunia, hendaklah diserahkan kepada ahli warisnya. Kalau tidak ketahuan dimana ahli warisnya hendaklah diwakafkan atas namanya untuk kemaslahatan agama dan masyarakat, dengan niat menitipkannya kepada Allah SWT sebagai pembayar dosa tersebut, demikian fatwa dan pendapat lmam Ghazali. KEDUA; dosa atas sesama manusia yang bukan mengenai hartanya, misalnya mengenai kehormatannya, apakah pernah memfitnahnya, atau memakinya, atau menghinanya, kalau mungkin hendaklah dengan meminta maaf dan ridhanya. Itulah cara yang utama dan terbaik. Kalau tidak mungkin, karena orangnya sudah meninggal dunia atau tidak diketahui tempatnya, atau akan mengakibatkan huru hara, hendaklah dengan berendah diri dihadapan Allah SWT, seraya menyesali dosa yang diperbuat dan bertaubat, serta bersedekah atas nama yang bersangkutan dengan niat memohon kepada Allah SWT supaya pahala dari amal kebaikan itu cukup kiranya untuk membayar dosa yang diperbuat. Dalam kesempatan ini berkenaan Ramadhan tinggal hitungan hari, saya pun mohon dimaafkan kepada para pembaca, apabila muatan tulisan2 saya terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Begitupun saya dengan tulus memaafkan buat pembaca yang pernah berkomentar “kurang tegak”, menanggapi “tidak manis” atau menilai “negatif” terhadap tulisan2 saya, itu akan saya jadikan bahan evaluasi/masukan, agar niat saya menulis untuk menebar kebaikan berlanjut terus selagi mampu, serta mendapat pertolongan dan ridha Allah, karena sejak semula niat mempublish tulisan2 bukan mengharapkan penilaian, hanya sekedar sharing. Semoga ROHANI kita semua telah bersih sebelum memulai shaum Ramadhan. مِيّ.... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 16 Sya’ban 1444 H. 9 Maret 2023. (1.111.23).

Tuesday, 7 March 2023

PEMILIK hati NURANI

Mungkin,….., sekali lagi mungkin (wallahu 'alam bishawab), bukan hanya manusia yg memiliki hati NURANI. Sepertinya hewanpun punya perangkat itu. Buktinya hewan yang dipelihara dari kecil setia terhadap pemeliharanya. Jangankan kucing dan anjing, binatang buas seperti Beruang, Harimau, setia kepada perawatnya sejak kecil. Di era digital ini banyak video yang menayangkan bagaimana bersahabatan binatang2 buas dengan bekas pengasuhnya. Kendati sudah terpisah cukup lama, seekor Harimau ketika dipertemukan kembali dengan tuannya mereka berangkulan dengan mesra. Inilah yang kuduga bahwa hewanpun punya “hati nurani”. Dibilangan tahun 1979, setelah 6 tahun diriku bertugas di Surabaya sempat mengembangkan ternak Bebek, berkenaan di belakang kediamanku sejak 1979-1981 itu tersedia kali kecil yang mengalir deras. Kali dibelakang kediamanku dipinggiran kota Surabaya itu tidak digunakan untuk lalu lintas sampan seperti di kampung halamanku Kalimantan Barat. Area kali yang persis dibelakang rumahku itu kupagari kiri - kanan dihubungkan dengan halaman belakang dan keliling rumah, disitulah kuternakkan ratusan ekor Bebek jenis Alabio. Akhir 1981 ketika aku pindah ke rumah yang dibeli melalui KPR BTN dilokasi lain, dengan berat hati Bebek Alabio peliharaanku harus dipindah tangankan. Tahun 1985 tugasku dimutasi ke daerah lain diluar jawa, seminggu sebelum berangkat ke kota tempat dinasku yang baru, kusempatkan menjenguk sabahatku “Bebek Alabio” yang kini sudah pindah pengasuh. Yang terjadi,…. begitu aku datang seratusan Bebek itu, dengan kepala di angkat menyerbu tempat ku berdiri, bersuara tak henti2nya menyambut kedatanganku. Begitu pula ketika ku pulang; bebek2 yang kupelihara dari kecil, dari telor, kutetaskan dengan mesin tetas lampu minyak itu, mengantarku sampai disisi pagar terakhir yang mereka dapat lakukan. Mengharukan ,,,,,,, ternyata merekapun punya “hati nurani”. Kalau begitu "Hati Nurani" boleh juga kita katakan; merupakan soft ware anugerah Allah kepada manusia dan hewan, selain hard ware berupa pendengaran dan penglihatan. Berdasarkan referensi dari Al-Qur’an paling kurang ditemukan empat ayat yang secara tegas menegaskan tentang “Hati Nurani”. Tujuan Allah menganugerahkan “hati nurani” tersimpul dalam dua tujuan: 1. Agar bersyukur. Tiga dari empat ayat itu menegaskan bahwa Allah menganugerahkan “hati nurani” ialah agar “bersyukur”. (An-Nahl 78, Al-Mu’minun 78, dan Al-Mulk 23). وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصٰرَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ………. "Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur." (An-Nahl 78). Allah mengetahui bahwa sedikit sekali manusia yang bersyukur atas 3 anugerah tsb. (Al Mu'minun 78) وَهُوَ الَّذِىٓ أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصٰرَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ "Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur." dan Al-Mulk 23 قُلْ هُوَ الَّذِىٓ أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصٰرَ وَالْأَفْئِدَةَ ۖ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ "Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur." 2. Untuk dimintai pertanggungan jawab. (ayat 36 Al-Isyra'), Allah ingatkan bahwa Pendengaran, Penglihatan dan hati nurani itu nanti di akhirat akan diminta ipertanggungan jawab. وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." Satu ayat yaitu di surat Al-Isyra’ 36 , bahwa pemberian hati nurani itu nanti akan dimintai pertanggungan jawab. BERSYUKUR. Butir “1” berlaku bagi manusia dan juga hewan. Bersyukur bagi manusia meliputi 4 cara: 1. Bersyukur dengan hati, 2. Bersyukur dengan lidah, 3. Bersyukur dengan perbuatan dan 4. Bersyukur dengan menjaga nikmat. Mengingat sempitnya ruang untuk satu artikel ini, rincian teknik 4 cara bersyukur insya Allah diulas mendatang pada artikel tersendiri. Sedangkan bersyukur untuk hewan, ialah dengan perilaku mereka senantiasa bertasbih kepada Allah dengan cara mereka sendiri, contoh bebek yang kupelihara, salah satu wujud rasa syukurnya kepada Allah dengan mengeluarkan hasil berupa telur untuk dikonsumsi manusia. Rukun sesama kaumnya, berbunyi dikala tertentu. Akan hal informasi bahwa seluruh hewan dan alam semesta ini bertasbih kepada Allah baik kita simak ayat2 berikut ini: تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ  ۚ وَإِنْ مِّنْ شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ  ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا "Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 44) أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صٰٓفّٰتٍ  ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسْبِيحَهُۥ  ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ ۢبِمَا يَفْعَلُونَ "Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." (QS. An-Nur 24: Ayat 41) Contoh lain; Nurani BURUNG. Pohon Mangga di halaman depan kediaman kami, suatu hari sejak sekitar dhuha diramaikan suara burung kecil2, mereka berbunyi bersahut-sahutan terus menerus. Cicitan burung kecil2 itu malamnya menghilang. Kejadian sama terulang esok hari, mengusik pikiranku mencari tau fenomena apa kejadian yang tak pernah2nya ini. Rupanya ada seekor burung kecil tergeletak mati di bawah pohon mangga telah dirubung semut. Sepulang putraku dari kantor, kusampaikan informasi itu sambil kusuruh anakku mengambil cangkul. Bangkai burung kami kuburkan. Begitu bangkai terkubur rombongan burung kecil2 itu langsung terbang menghilang. Rupanya dua hari kawanan burung ini terus mencicit didorong HATI NURANI mereka ingin anggota mereka yang sudah jadi bangkai itu diperlakukan dengan baik. PERTANGGUNGAN JAWAB. Untuk jenis hewan, Hati Nurani, pendengaran, penglihatan dan hati hanya berkewajiban bersyukur, namun untuk manusia, ditambah lagi dengan “harus dipertanggung jawabkan” di hadapan Allah di akhirat nanti: 1. Penglihatan digunakan untuk apa saja selama didunia. Apakah digunakan untuk kebaikan atau kejahatan. Seperti membaca artikel2 yang berfaedah, menyimak vedio2 ceramah agama dan ilmu pengetahuan, atau malah menonton film2 yang tidak senonoh. 2. Pendengaran dipergunakan untuk apa saja. Apakah digunakan untuk mendengar hal2 yang tidak berguna, pembicaraan gosip dan gunjing. Atau untuk hal yang bermanfaat, seperti menambah ilmu, mengikuti pengajian dan majelis2 taklim. 3. Hati Nurani, apakah dengannya menjadikan diri menjadi bertambah iman dan taqwa. Terheyuh hati nurani melihat sesama manusia yang termarginalkan, miskin papa, dirundung musibah dan bencana, menderita. Selanjutnya melakukan tindakan nyata dengan membantu semampunya selagi bisa. Dari penggalan kisah serba singkat di atas, mudah2an menjadikan ‘itibar bagi kita para pembaca yang berhati nurani, apakah kini hati nurani kita masih hidup ataukan sudah mati, melihat situasi dan kondisi sekitar kita. Yang kadang terjadi terbolak balik, tidak sesuai dengan Hati Nurani. Yang salah terangkat malah. Yang benar kadang dicap berbuat onar. Semoga kita masih terkelompok sebagai manusia yang ber HATI NURANI yang hidup, peka terhadap lingkungan, ber-empati terhadap pihak lain tertimpa musibah atau ketidak beruntungan, Sebagai wujud dari Syukur kepada Allah telah menganugerahkan HATI NURANI. Ketahuilah bahwa HATI NURANI itu kelak akan dimintai pertanggungan jawab di yaumil mahsyar. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب آمِيّ.... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 15 Sya’ban 1444 H. 8 Maret 2023. (1.110.23).

Monday, 6 March 2023

Kehidupan PERTAMA sampai TERAKHIR

Bayi bernapas diluar perut ibu untuk pertama kalinya dalam 10 detik pertama sejak dilahirkan, demikian informasi dari pemerhati proses kelahiran. Tangisan bayi saat lahir membantu mengeringkan paru-paru dari cairan ketuban dan memancing untuk bernapas. Fungsi oksigen dalam tubuh bayi di dalam kandungan sama pentingnya dengan setelah ia dilahirkan. Bernapas adalah proses pertukaran antara karbon dioksida dengan oksigen. Saat menarik napas, Anda menghirup oksigen dari udara, kemudian mengeluarkan karbondioksida saat menghembuskannya. Timbul pertanyaan, ketika kita sudah menjadi janin dalam kandungan, apakah kita sudah bernapas?. Maha hebat Allah menciptakan manusia, ternyata di dalam kandungan, sebenarnya bayi pun bernapas. Bedanya, pertukaran antara karbondioksida dan oksigen terjadi pada tali pusar yang terhubung dengan tubuh ibu. Ini karena paru-paru bayi masih belum berfungsi secara sempurna. Ibulah yang membantu janin untuk bernapas dalam kandungan. Saat ibu bernapas, darah yang telah mengikat oksigen akan dialirkan melalui tali pusar hingga mencapai jantung janin. Kemudian jantung bayi memompa darah tersebut untuk dialirkan ke seluruh tubuh. Kapankah janin mulai bernapas. Tentu saja janin mulai bernapas apabila di dalam janin itu sudah terdapat “energi kehidupan” atau “Ruh”. Allah mulai meniupkan ruh kedalam jasad janin, atas dasar hadist berikut ini; adalah 120 hari di kandung ibu, yaitu setelah janin menjadi segumpal daging (prosesnya 3 x 40 hari). إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ، Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Boleh dikata bahwa sejak 120 hari kita dalam kandungan Ibu itulah manusia menjalani KEHIDUPAN nya yang PERTAMA. Di dalam kehidupan yang pertama itu, kepada setiap manusia sudah ditetapkan 4 hal, nanti akan ditemuinya dalam kehidupan KEDUA (di dunia): 1. Seberapa banyak rizki masing2 sejak hidup sampai mati. 2. Berapa lama setiap diri akan menjalani kehidupan ke dua (di dunia). 3. Sebagai apakah diri ini berperan dalam kehidupan di dunia ini (perbuatannya). 4. Apakah awak nanti akan hidup sengsara atau hidup bergelimang kebahagian. (nasib suratan tangan). Agar manusia dapat dengan baik menjalani kehidupan KEDUA yaitu kehidupan di dunia ini, begitu lahir kedunia kepada setiap diri (yang normal) Allah anugerahi 3 (tiga) hal yaitu: Pendengaran, Penglihatan dan Hati Nurani. Seperti tersurat dalam Al-Qur’an surat 16 (An-Nahl) ayat 78: وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًۭٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَـٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. Dengan menggunakan 3 (tiga) sarana yang dianungrahkan Allah ini, setiap diri dalam menyikapi apapun yang telah ditetapkan Allah dengan 4 (empat) ketetapan di atas, muaranya untuk bersyukur kepada Allah. Melalui pendengaran dan penglihatan dan hati nurani, diharapkan manusia dapat mengikuti petunjuk2 Allah dan Rasul-Nya menghimpun ilmu pengetahuan dunia dan ilmu pengetahuan akhirat……. Ilmu pengetahuan di dunia dalam kaitan untuk menjalani kehidupan di dunia ini, hubungannya dalam mewujudkan ketetapan Allah di butir 1,3 dan 4 di atas. Apapun ketetapan yang ditetapkan Allah bagi orang yang beriman dan bertaqwa harus disikapi dengan syukur, setelah berusaha maksimal. Dalam pada itu manusia haruslah setiap saat waspada bahwa ajal telah ditetapkan Allah, namun tidak diketahui kapan persis datangnya (ketetapan pada butir 2 di atas), oleh karena itu Pendengaran haruslah juga dipergunakan untuk mengikuti seruan agama Allah. Pendengaran harus dipergunakan untuk mendengarkan hal2 yang baik2 dan bermanfaat untuk kehidupan di dunia dan akhirat, diantaranya mendengarkan “Pengajian”, duduk di majelis2 ilmu. Makanya yang namanya pengajian itu sangat amat penting, bagi orang yang beriman akan menjadi HERAN, kalau ada orang yang HERAN dengan orang2 yang suka mengikuti pengajian. Penglihatan harus dipergunakan untuk mencermati, mentadaburi kemudian mengamalkan ayat2 kauliyah melalui kitab2 suci. Penglihatan juga harus dipergunakan melihat tanda2 kebesaran Allah melalui ayat2 kauniyahnya di alam semesta ini, dicerna dengan hati nurani dalam rangka meningkatkan iman dan taqwa, sebagai bekal ke KEHIDUPAN YANG TERAKHIR di akhirat kelak. Selanjutnya membuat diri menjadi bersyukur atas seluruh nikmat Allah. Dari tinjauan serba singkat di atas diperoleh bahan bagi kita, bahwa hidup kita ini terbentang dalam 3 (tiga) masa: Kehidupan PERTAMA; dalam kandungan ibu sejak 120 hari kita sudah mulai hidup, sudah mulai bernapas, dan begitu ajaibnya kehidupan yang pertama itu. Diri ini dalam ruangan yang sempit dan gelap, tidak punya daya sama sekali, namun bisa bernapas, bisa makan. Semua itu bilalah kita renungkan, diri kita ini adalah termasuk makhluk ajaib. Dengan segala keajaiban kita tercipta, dengan segala keajaiban kita pernah hidup dalam kandungan ibu, dengan penuh kejaiban pula kita dilahirkan ibu kita. Kehidupan KEDUA; Di alam dunia ini, kita telah ditetapkan oleh Allah seperti tersebut di butir 1 sampai 4 di atas, tinggallah kita menjalaninya, dengan dibekali 3 (sarana) oleh Allah yaitu Pendengaran, Penglihatan dan Hati Nurani. Dengan sarana ini kita berikhtiar untuk kehidupan kedua (di dunia), selanjutnya mempersiapkan menuju kehidupan KETIGA. Kehidupan KETIGA; adalah kehidupan yang pasti kita datangi yaitu kehidupan akhirat, dimana persiapan untuk hidup di akhirat ini, diberikan oleh Allah kepada masing2 diri untuk memilih kemana yang akan dituju apakah kebahagian atau kesengsaraan. Bagi yang menginginkan kebahagian ditunjuki jalan oleh Allah dengan menggunakan dengan se-baik2 semua petunjuk Allah dan Rasul-Nya selama masih di dunia ini (di kehidupan ke dua) sarana yang diberikan Allah kepada manusia yaitu Pendengaran, Penglihatan dan Hati Nurani. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua untuk mempergunakan sebaik-baiknya sarana yang Allah berikan kepada kita semua, dalam rangka meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً آمِيّ.... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 14 Sya’ban 1444 H. 7 Maret 2023. (1.109.23).

Wednesday, 1 March 2023

KAPAN-KAPAN

Kapan-kapan kita berjumpa lagi Kapan-kapan kita bersama lagi Mungkin lusa atau di lain hari Kapan-kapan kita pergi bersama… lirik lagu "kapan-kapan", pernah pupuler dibilangan tahun 1973 oleh Koes Plus. Maksud lirik; adalah ucapan berpisah untuk sementara, di waktu yang akan datang, tidak terlalu lama diharapkan jumpa lagi. Bebicara soal "Kapan-kapan", nyangkut soal waktu. Dalam kaidah agama Islam masalah "waktu", begitu penting sampai2 Allah bersumpah "demi waktu", antara lain: Surat Ad-Dhuha ayat 1; وَٱلضُّحَىٰ Demi waktu matahari sepenggalahan naik, وَالْعَصْرِ "Demi masa." (Al-'Asr ayat 1). Allah juga tetapkan waktu kapan-kapan beribadah, dengan model: 1. Ditentukan waktu namun harus terus menerus, selama masih hidup. 2. Ditetapkan waktu, namun tidak sepanjang tahun. 3. Tidak mutlak ditetapkan waktu, namun dilaksanakan sepanjang hidup. ad. 1. Ditentukan waktu namun harus terus menerus, selama masih hidup. Contohnya, ibadah shalat. Dalam keadaan normal, tidak ada udzur atau dalam perjalanan. Shalat wajib barulah sah bila dilakukan tepat waktu, sebanyak lima kali sehari semalam. Oleh karena itu kemanapun anda pergi di masjid2 seluruh dunia, sekarang era digital ini dipajang jadual shalat, disamping ada juga dengan “running text”. Di Jakarta Pusat saat kuturunkan tulisan ini: Subuh pkl 04.43., Dzuhur 12.08., Ashar 15.11., Maghrib 18.15., Isya 19.24. Tidak sah bila shalat2 tersebut dilakukan sebelum waktunya, kecuali dalam hal disebut diawal kalimat. Shalat harus dilaksakan sepanjang masih hidup, selama masih bernafas, sekalipun dalam keadaan sakit yang begitu parah, selama masih mempunyai kesadaran. Jangan sampai ada pertanyaan misalnya; “saya mikiiir…..sampai kapan tho shalat iniii???”. Kalau ada pertanyaan seperti itu….., jawabnya yaaah: “shalat selama masih hidup”. ad. 2. Ditetapkan waktu, namun tidak sepanjang tahun. Sebentar lagi (21 hari lagi) ummat Islam akan melaksanakan ibadah tahunan berupa puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Khusus untuk ibadah puasa Ramadhan selain setahun sekali, juga bila dalam perjalan, bila sakit, bila udzur karena tua ada kemudahan2: أَيَّامًا مَّعْدُودٰتٍ  ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيضًا أَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ  ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ  ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ  ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ  ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ "(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah ayat 184). Puasa2 sunah juga ada ketentuan2 waktu, malah tidak diperkenankan puasa sepanjang masa, bahkan dihari-hari tertentu berpuasa dilarang. Dalam lingkup ad. 2. ini, juga menunaikan ibadah haji. Diwajibkan hanya sekali seumur hidup dan ditetapkan waktunya, tidak boleh sepanjang bulan. Kalau mau juga ke Baitullah diluar musim haji jadinya ibadah sunah yang disebut “Umrah” tapi tanpa wukuf di Arafah. ad. 3. Tidak mutlak ditetapkan waktu, namun dilaksanakan sepanjang hidup. Contohnya adalah menambah ilmu pengetahuan, dibidang apapun diwajibkan kepada setiap orang Islam, baik ilmu dunia maupun ilmu agama. Penambahan ilmu dibidang agama, secara formal dilakukan di sekolah2 agama. Namun secara informal dilakukan didalam masjid2, majelis2 Taklim. Penambahan ilmu secara informal, waktunya tidak ditentukan secara mutlak. Ada majelis Taklim sepekan sekali, sepekan dua kali, sepekan tiga kali, setiap kali pengajian tidak pula sehari penuh. Misalnya ada yg menentukan sesudah shalat dzuhur sampai waktu shalat ashar. Ada pula yang menentukan sesudah shalat maghrib sampai tiba waktu isya, sesudah shalat subuh sampai waktu syuruq. Kini sudah banyak masjid2 terutama di kota2 besar, tiada hari tanpa pengajian mulai dari hari Ahad sampai ketemu hari Sabtu, sekalian ditentukan materi pengajian yang akan dikaji di hari2 tersebut. Dalam konteks penambahan, pengembangan ilmu pengetahuan, yang sarananya antara lain “pengajian”, baik disimak ayat2 dan hadits berikut ini: وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَآفَّةً  ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِى الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ "Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah 9: Ayat 122) يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ  ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ  ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11) طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ "Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim, dan siapa yang menanamkan ilmu kepada yang tidak layak seperti yang meletakkan kalung permata, mutiara, dan emas di sekitar leher hewan." (HR Ibnu Majah). Bahwa sampai perang saja, tidak semua orang harus pergi perang, hendaklah ada orang yang memperdalam ilmu (agama), agar setelah perang usai, ada orang2 yang dapat mengajarkan ilmu agama diantaranya melalui majelis2 pengajian. Apalagi dalam keadaan aman damai, normal tentulah memperdalam ilmu agama itu adalah merupakan kewajiban sepanjang masa. Jadi jangan sampai ada pemikiran lalu bertanya “sampai kapan thoo pengajian itu”. Yaaah pengajian itu seumur hidup, yang namanya ilmu itu tidak akan habis-habisnya, makin dikaji makin dalam. Tidak ada seorang ustadzpun dapat meng klaim dirinya “Paling berilmu”. Nabi Musa pernah bertanya kepada Allah; di dunia ini “siapakah yang paling berilmu”. Allah menjawab yaitu “orang yang sanggup mensinergikan ilmu yang dimilikinya dengan ilmu orang lain”. Jawaban Allah ini dapat diartikan berarti ilmuwan yang satu memerlukan ilmuwan yang lain. Begitupun ilmu dibidang agama, seorang ustadz yang banyak menguasai bidang tertentu, lantas mengikuti pengajian kepada ustadz lain boleh jadi disiplin ilmu yang sama atau ilmu bidang lainnya. Bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan orang2 yang diberi ilmu beberapa derajat. Semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan kepada bangsa kita ini, untuk terus menerus memperoleh kemudahan dalam menambah pengetahuan, antara lain melalui pengajian. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً آمِيّ.... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 9 Sya’ban 1444 H. 2 Maret 2023. (1.108.23).