Tuesday, 15 March 2022
Di pintu IKHLAS Iblis Menunggu
Adalah seorang ahli ibadah.
Tiada hari tanpa bersedekah.
Zikir tiap detik lidahnya basah.
Beramal hanya karena Allah.
Tentu tak usah diragukan lagi ibadah wajib olehnya dilaksanakan dng baik dan khusyuk, sedangkan ibadah yg sunnah saja hampir tak pernah luput.
Tapi tatkala dirinya mulai merasa ketaatan dan keikhlasannya beramal/beribadah itu diketahui orang, menjadi perbincangan masyarakat, ybs menjadi termotivasi meningkatkan frekuensi amal/ibadahnya.
Sedekah yg biasanya 20rb setiap hari, ditingkatkan jadi 50rb sampai 100rb. Dzikir yg biasa dilakukan diperbanyak dan pengucapannya diperjelas. Pokoknya semenjak diketahui orang akan amal/ibadahnya ybs meningkatkan amal/ibadahnya baik kualitas maupun kuantitas. Jika sdh spt ini IBLIS sdh siap menunggu di pintu Ikhlas, untuk meraih tangan ahli ibadah yg ikhlas itu tadi. Iblis siapkan PERANGKAP di PINTU IKHLAS yg siap untuk memerangkap orang-orang ikhlas dlm beribadah.
Rasulullah pernah ajarkan do'a untuk menghindari PERANGKAP IBLIS di pintu Ikhlas, kpd sahabat utamanya ABU BAKAR.
Abu Bakar yg begitu kuat imannya saja, perlu do'a ini, apalagi kita2 ini yg imannya mungkin tak seujung rambutpun bila dibanding dari Abu Bakar sahabat utama Nabi Muhammad s.a.w, itu.
Abu Bakar adalah orang beriman pertama, demikian kuat imannya tak disangsikan lagi. Tetapi Nabi mengajarinya do'a ini. Tentu do'a itu dimaksudkan Nabi Muhammad s.a.w. bukan hanya untuk Abu Bakar namun untuk kita semua agar terhindar dari PERANGKAP IBLIS yg MENUNGGU di pintu IKHLAS.
Do'a tsb sbb:
اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Allahumma inni a'udzu bika an usyrika bika syaian waana a'lamu waastaghfiruka lima laa a'lamu.
Ya Allâh! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.
(Imam Bukhari dlm AL ADAB AL MUFRAT dan At Tirmidzi dlm NAWATIR AL USUL).
Dari do'a tsb., dpt dipahami bahwa agaknya beribadah, bersedekah, berdzikir dan segala perbuatan baik, bila terselip mengharapkan apresiasi selain Allah dpt tergolong "syirik". Dari contoh di atas Ibadah ikhlas stlh viral maka ditingkatkan. Berarti lantaran harapan meningkatkan penghargaan manusia setidaknya mempertahankannya, maka ibadah ditingkatkan.
Iblispun menunggu di pintu Ihklas itu karena tujuan utama iblis adalah menjerumuskan manusia ke "syirik".
Smg kita terlindung dari PERANGKAP IBLIS dari PINTU IKHLAS.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 12 Sya’ban 1443 H.
16 Maret 2022.
(911.03.22).
Ditulis mengikhlaskan waktu menunggu antrian kontrol kesehatan rutin di RSGS Jkt.
Monday, 14 March 2022
Indentitas TAQWA yang kasat mata
Terdapat 6 (enam) indentitas seseorang terkelompok sebagai orang yang taqwa. Dari 6 (enam) indentitas itu, 3 (tiga) tampak lahir dan 3 (tiga) tak kasat mata. Yang kasat mata dapat dilihat, diketahui orang lain. Sedangkan yang tak kasat mata, hanya Allah saja yang mengetahui dan mungkin juga individu yang bersangkutan merasakannya. Adapun identias yang sekaligus sebagai ciri orang taqwa yang 6 (enam) tersebut adalah:
1. Tidak meragukan Al-Qur’an, karenanya menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam melaksanakan hidup dan kehidupan.
2. Beriman kepada yang ghaib.
3. Mendirikan shalat,
4. Menafkahkan sebagian rezki yang didapatnya untuk pihak yang berhak.
5. Percaya akan nabi-nabi serta kitab yang dibawa nabi yang diberi Al-Kitab oleh Allah.
6. Yakin bahwa ada kehidupan akhirat.
Ciri-ciri atau identitas orang Taqwa tersebut diungkapkan Al-Qur’an surat Al-Baqarah 2, 3 dan 4.
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,"
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُونَ
"(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,"
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْأَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
"dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat."
Dari enam ciri tersebut, 3 secara lahir, dapat dilihat perbuatannya dengan kasat mata yaitu:
1. Perilaku Qur’ani.
2. Shalat.
3. Dermawan
Dan 3 secara bathin yang hanya dirasakan oleh invidu masing-masing, meskipun tak tampak, tapi merupakan faktor penggerak untuk 3 perbuatan lahir tersebut. Yaitu:
1. Beriman kepada yang ghaib.
2. Percaya akan nabi rasul dan kitab-kitab.
3. Yakin hari akhirat
Di ruang terbatas ini ditelusuri hanya indentitas taqwa yang “Kasat Mata” saja.
PERILAKU QUR’ANI
Untuk menjadi manusia berperilaku Qur’ani, harus mendalami isi Al-Qur’an, untuk mendalaminya tentu harus bisa membacanya, bukan sekedar itu harus mengerti maknanya.
Karena setelah mendalami isinya dapat diketahui, perintah dan larangan, aturan-aturan yang berlaku untuk hidup dan apa yang harus dilakukan untuk persiapan mati.
SHALAT:
1. Shalat dengan ikhlas dan khusu’. Karena memahami aturan shalat dan bacaan shalat.
2. Keutamaan untuk shalat wajib adalah berjamaah di masjid.
3. Diantara shalat wajib tersebut yang sangat diutamakan untuk berjamaah di masjid adalah shalat subuh dan isya’: ditulisan singkat ini dikutipkan 2 (dua) diantara sekian banyak hadist :
a. Dari Utsman bin Affan ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda: "Barangsiapa yg salat Isya’ dengan berjamaah, seolah-olah ia mengerjakan salat setengah malam, Dan barangsiapa yg salat Subuh dg berjamaah seolah-olah ia mengerjakan salat semalam suntuk." (HR.Muslim).
b. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata " Rasulullah saw. Bersabda: "Tidak ada shalat yg lebih berat bagi orang-orang munafik melebihi dari shalat Subuh dan Isya. Seandainya mereka mengetahui keutamaan kedua shalat itu, niscaya mereka mendatangi keduanya (berjamaah), walaupun dengan merangkak" (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari dua hadist di aatas, shalat subuh dan isya’ kita sadari bahwa kita sekarang masih banyak tergolong yang memenuhi syarat munafiq (hadist “b”)….. Jika zaman rasulullah orang munafiq itu masih shalat isya dan subuh berjamaah tetapi dengan “berat hati”. Sementara sebagian kita bukan “hanya berat hati”, tapi kebanyakan tidak sama sekali mendatangi jamaah masjid terutama shalat subuh. Kebiasaan di masjid2 (dibeberapa tempat) ketika maghrib lumayan banyak jemaahnya, tetapi ketika isya, kadang kurang dari separo dibanding maghrib. Bagaimana dilingkungan anda?
Harapan kita setelah memperoleh gelar Taqwa nanti melalui gemblengan Ramadhan yang tinggal kurang dari sebulan dari sekarang, jemaah shalat isya dan subuh kita akan mulai banyak. Bapak2 yang sudah sepuhpun biar dengan harus duduk di kursi, lantaran tak mampu lagi berdiri, semoga teteap bersemengat ikutan berjamaah ke masjid, minta antar anak atau cucu.
DERMAWAN.
Rifer kepada surat Al Furqan 67:
وَالَّذِينَ إِذَآ أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا
"Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar,"
Juga di surat Al Baqarah 264 Allah memaklumkan bahwa:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذٰى كَالَّذِى يُنْفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْأَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلٰى شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.".
Syarat berderma:
1) Tidak berlebihan.
2) Ikhlas, jangan dikenang atau diungkit-ungkit.
Seperti diungkap di atas bahwa 3 (tiga) identias taqwa yang kasat mata ini akan menjelma apabila individu yang bersangkutan mempunyai 3 (tiga) identitas taqwa secara bathin (yang tidak kasat mata).
Semoga Allah memeliharakan indentitas taqwa kita secara lahir dan bathin.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 8 Sya’ban 1443 H.
12 Maret 2022.
(909.03.22)
IMAN kepada yang GHAIB
6 (enam) identitas taqwa, 3 (tiga) tampak lahir dan 3 (tiga) tak kasat mata. Yang kasat mata dapat dilihat, diketahui orang lain. 3 Identitas tampak lahir, telah dimuat ditulisan sebelum ini.
Identitas yang sekaligus sebagai ciri orang taqwa yang 6 (enam) tersebut yaitu:
1. Tidak meragukan Al-Qur’an., 2. Beriman kepada yang ghaib., 3. Mendirikan shalat., 4. Zakat, infak, sedekah., 5. Mengimani nabi2 dan kitab2., 6. Yakin akan akhirat.
Ciri-ciri atau identitas orang Taqwa tersebut diungkapkan Al-Qur’an surat Al-Baqarah 2, 3 dan 4.
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُونَ
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْأَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,"
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,
dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat."
Dari enam ciri tersebut, 3 secara bathin (tak kasat mata), hanya Allah yg sungguh2 mengetahui, dan mungkin individu ysb dapat merasakan. Ciri taqwa tak kasat mata atau "taqwa bathin" itu adalah:
1. Beriman kepada yang ghaib.
2. Beriman kepada nabi2, rasul2 dan kitab-kitab.
3. Yakin hari akhirat
Di ruang terbatas pada kesempatan ini ditelusuri identitas “taqwa bathin", tentang “beriman kepada yang ghaib” saja.
BERIMAN KEPADA YG GHAIB.
Bahwa diri kita, sekeliling kita penuh dengan contoh2 hal yang ghaib. Sangat tidak masuk akal jika orang tak percaya akan adanya yang ghaib.
Diri ini sebelumnya tiada. Dengan demikian sesungguhnya diri ini “makhluk ghaib yang diberi bungkus” berupa jasad. Setelah unsur ghaib diri ini meninggalkan jasad, maka kembalilah diri ini ke makhluk ghaib lagi. Bungkus jasad tanpa Roh, tidak lagi berdaya, segera akan luluh lapuk tinggal rangka, bila lama tak di kubur akan membusuk. Roh adalah sesuatu yang ghaib, Allah berfirman:
وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit”.
(QS. 17 = Al-Isra', ayat 85)
Di sekeliling kita, juga dipenuhi hal2 yang ghaib, betapa gelap gulitanya malam bila tidak diterangi listrik. Bukankah listrik adalah sesuatu yang ghaib?. Arus listrik yang ghaib itu masuk ke bola lampu sanggup menerangi sebuah lapangan sepak bola, sehingga dua kesebelasan enak berlaga di malam hari. Sedang menulis di Lap Top seperti sekarang, alangkah kecewa bila tiba2 arus listrik terhenti padahal belum sempat di “save”. Arus listrik itu tak tampak oleh mata, tapi dirasakan begitu banyak manfaatnya buat ummat manusia.
Salah satu peneliti listrik yang terkenal adalah Benjamin Franklin. Dia adalah ilmuwan dari Amerika. Pada tahun 1752, Franklin melakukan percobaan menerbangkan layang-layang dengan kunci besi ke langit yang sedang banyak petir. Petir menyambar kunci besi tersebut dan memercikkan api kecil. Percikan tersebut mengenai punggung tangannya. Oleh karena itulah ia yakin bahwa itu adalah listrik. “Kilat”, mengiringi “Petir” salah satu tanda2 kekuasaan Allah yang bermuatan listrik, merupakan sesuatu yang ghaib, memberi inspirasi manusia memanfaatkannya untuk kemudahan kehidupan yang kita nikmati sampai kini,
هُوَ الَّذِى يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ
"Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu, yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menjadikan mendung."
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 12)
Belum lagi kita saksikan angin puyuh yang sanggup memporak porandakan sebuah kampung. Siapakah yang dapat melihat angin?, tapi dapat menyaksikan bagaimana kerjanya angin kalau dianya mengganas.
وَأَرْسَلْنَا الرِّيٰحَ لَوٰقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَسْقَيْنٰكُمُوهُ وَمَآ أَنْتُمْ لَهُۥ بِخٰزِنِينَ
"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan (air) itu, dan bukanlah kamu yang menyimpannya."
(QS. 15 = Al-Hijr ayat 22).
Semoga Allah memeliharakan “iman kita kepada yang ghaib” serta identitas taqwa kita secara lahir dan bathin.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 10 Sya’ban 1443 H.
14 Maret 2022.
(910.03.22)
Mengukur AKAL Sehat
Akal mrpk perangkat abstrak, out put nya saja yg nampak, wujud akal itu sendiri tak keliatan. Jadi akal juga sesuatu yg ghaib tertanam di tubuh manusia.
Out put atau produk akal dpt di dengar, dpt dilihat, dpt dirasakan.
Hasil produk akal inilah agaknya mrpkn indikator menentukan sehat/tdk sehatnya akal.
Akal ada yg sehat dan ada pula yg tak sehat. Nah, ...... bgmn ngukurnya sehat ndak sehatnya akal kita.
Boleh jadi orang yg berakal "ndak sehat" menilai orang yg berakal "sehat" lah yg akalnya ndak sehat. Hal yg sama dpt terjadi sebaliknya.
Seorang remaja putri berwajah bening, berjalan santai di trotoar menyepak-nyepak botol minuman plastik kosong, berbicara sendiri, lengkap dengan gerak-gerik tangan, sesekali senyum dan tertawa renyah. Gadis ini patut diduga akalnya tak sehat. Saya katakan patut diduga, karena sekarang ini orang yg ngomong sendiri, ketawa sendiri blm tentu tak sehat akal, mungkin sdg bicara pakai HP.
Akal TIDAK SEHAT mungkin saja dimiliki oleh individu yg sehat rohani dan sehat jasmani. Dpt dipantau dari out put peri laku, tutur kata, sikap perbuatan ybs.
Melalui pendekatan kebenaran religi, mungkin dpt dijadikan referensi penggalan2 ayat2 dlm Al-Qur'an;
أُولُوا الْأَلْبٰبِ
Terjemahan bebasnya "akal sehat". Bila di kutip diantaranya dari sekian banyak penggalan2 ayat2 tersebut dlm Al-Qur'an dpt di pahami bahwa orang yg berakal sehat adlh:
1. Orang yg TAQWA, sebab orang taqwa akan tercermin semua out put akalnya berwujud kebaikan.
2. Orang berakal sehat, dpt mengambil pelajaran dari ayat2 Allah baik yg tersurat di kitab suci, maupun yg tersirat di alam semesta ini.
Sebagian dari ayat2 al-Qur'an sbg rujukan sbb:
Al-Baqarah 197.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى ۚ وَاتَّقُونِ يٰٓأُولِى الْأَلْبٰبِ
"Dan bertaqwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!"
Al-Baqarah 269
وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُولُوا الْأَلْبٰبِ
"Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat."
Az-Zumar 9
إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبٰبِ
"Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran."
Tanda2 akal sehat:
1. Mampu memilih keputusan yg terbaik, dari alternatif yg tersedia atas dasar ilmu dan pengalaman. Untuk kebaikan dunia dan akhirat.
2. Sanggup memilih skala prioritas setiap tindakan yg akan di ambil.
3. Menyadari diri tdk serba bisa, tidak serba baik. tdk serba benar.
4. Menghargai orang lain.
5. Selalu mengoreksi kesalahan diri.
6. Tidak berlarut dalam kesedihan bila di timpa musibah.
7. Peduli keadaan sekitar.
8. Bersegera nyelesaikan masalah, bila bersalah sesama manusia.
9. Bersegera bertobat bila berbuat dosa kpd Allah.
10. Introspeksi diri setiap ngalami kegagalan.
Dmkn, semogs makin banyak kita yg berakal sehat.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 11 Sya’ban 1443 H.
15 Maret 2022.
(911.03.22).
Menggunakan akal sehat sambil antri kontrol kesehatan THT rutin di RS.
Thursday, 10 March 2022
MENGHINDARI KERUGIAN.
Tak seorangpun menginginkan kerugian. Umumnya kalaulah terjadi juga kerugian, ybs sudah berupaya sedemikian rupa mencegah kerugian tersebut. Dengan mengkaji segala faktor; misalnya ketika akan bekerja sama bisnis, partner bisnis dipelajari keperibadiannya, pengalamannya dalam bidang bisnis yang dikerjasamakan, kemungkinan situasi berkembang yang akan datang terhadap bisnis yang akan dilaksanakan dll. Dalam bisnis2 tertentu kerugian yang mungkin timbul dialihkan kepada perusahaan penanggung kerugian, yaitu pihak perusahaan Asuransi. Demikian konsep menghindari kerugian versi duniawi.
Adapun konsep menghindari kerugian versi agama yang insya Allah berdampak juga untuk menghindari kerugian di dunia, terutama untuk menghindari kerugian di akhirat kelak. Konsep tersebut diletakkan atas 4 (empat) landasan yaitu:
1. BERIMAN, 2. Beramal KEBAIKAN, 3. Saling mengingatkan akan KEBENARAN dan 4. Saling mengingatkan mengenai KESABARAN.
Dari empat point untuk menghindari kerugian tersebut adalah: “saling mengingatkan, nasihat menasihati akan KEBENARAN dan KESABARAN”. Wujud saling mengingatkan tersebut, kini terbentang luas dengan adanya media sosial, di dunia maya. Kita dapat melaksanakan saling nasihat menasihati dalam KEBENARAN dan KESABARAN yang sekaligus merupakan AMAL KEBAIKAN dalam rangka IMAN kepada Allah itu. Artikel tentang apa saja dalam rangka itu, baik dalam rangka MUAMALAH juga termasuk diantaranya nasihat KEBENARAN dan KESABARAN dalam IBADAH keagamaan masing-masing ummat, tergantung di komunitas apa anda berada. Asalkan tulisan tidak menyinggung seseorang, tidak menyinggung kelompok atau golongan, insya Allah akan diapresiasi, oleh pihak manapun juga, yang penting niatkan merupakan ibadah.
Akan tetapi namanya manusia, bak kata pepatah “rambut dikepala sama hitam, isi kepala lain-lain”, maka kadang artikel yang anda tulis masih saja ada kemungkinan pembaca yang menyindir tulisan anda. Ada juga yang ikut membaca, tidak kemonter, tapi dihati mungkin memberikan penilaian kepada anda menganggap anda tak sepantasnya/belum pantas menulis artikel itu karena tau “kartu anda”. Beberapa diantara yang dikirimi tulisan, menyatakan tidak berkenan dikirimi artikel anda. Selain itu, mungkin saja di group tertentu menyatakan tulisan anda tidak cocok di muat di group tsb. Semua itu adalah tantangan untuk melaksanakan butir butir yang diingatkan Allah dalam surat Al-Ashr surat 103 dalam Al-Qur’an seperti disitir di atas.
وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
Dalam hal diri ini beriman, dalam rangka niat beramal kebaikan, selanjutnya mampu melakukan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Lantaran faktor-faktor penghalang, seperti tidak mendapatkan apresiasi dari pembaca, malah ditolak atau di cela sehingga awakpun berhenti melaksanakannya, maka terkelompoklah di golongan orang2 yang menderita kerugian.
Selain itu akan terindikasi menjadi RIYA seperti diungkapkan oleh Doktor Salman Bin Fadh dalam bukunya berjudul “Isyruna Thariqatan Lir-Riya” yang diterjemahkan Mutsanna Abdul Qahhar, menyebutkan bahwa RIYA itu ada 20 pintu. Pada pintu ke empat, disebutkan bahwa TIDAK BERAMAL KARENA MANUSIA termasuk pintu Riya. Mengacu kapada pendapat ini maka bila lantaran takut menulis artikel lagi tentang nasihat menasihati untuk KEBENARAN dan KESABARAN kita hentikan karena khawatir tanggapan penilaian yang kurang positip dari pembaca, maka kitapun sudah masuk ke pintu ke empat dari RIYA. Dalam tulisan itu Doktor Salman mensitir pernyataan dari Al-Fudhail bin ‘Iyadh: “TIDAK BERAMAL KARENA MANUSIA ADALAH RIYA, BERAMAL KARENA MANUSIA ADALAH SYIRIK, SEDANGKAN IKHLAS ITU ADALAH ALLAH MEYELAMATKANMU DARI KEDUANYA”.
Lebih jauh dicontohkan, seorang berkemampuan memberikan tauziah, berkemampuan berkhutbah, berkemampuan untuk menulis artikel-artikel tentang saling mengingatkan akan KEBENARAN dan KESABARAN, tetapi timbul kekhawatiran kalau-kalau penulisan artikel tersebut menyebabkan jadi pembicaraan, menjadikan komentar dan sanjungan dari para pembaca. Lantaran ketakutan itu jalan keselamatan yang dipilih, berhentilah yang bersangkutan meneruskan penulisan artikel-artikel tentang KEBENARAN dan KESABARAN tersebut, disebabkan takut akan RIYA. Justru inilah salah satu perangkap Iblis untuk mendorong yang bersangkutan masuk ke pintu RIYA.
Solusi yang baik adalah dengan tetap membiasakan mengerjakan amalan tersebut, bertauziah atau berkhutbah, menulis artikel-artikel mengingatkan kebaikan kebenaran dan kesabaran disertai dengan niat yang tulus karena Allah semata, tidak mengharapkan komentar orang lain, baik berupa pujian/sanjungan begitu pula santai saja jika dicela. Nah kalau begitu, kita lanjutkan menulis artikel-artikel kebaikan ini, asalkan sekali lagi baik diulangi, artikel harus memenuhi syarat; tidak menyinggung diri seseorang, tidak menyinggung kelompok tertentu, pokoknya tidak mengundang masalah baik buat diri maupun orang lain. Tidak mengharapkan komentar berupa salutasi, pujian dan sanjungan.
Semoga usia ini bermanfaat, berapapun usia kita, waktu tidak pernah dapat ditarik mundur, umur tidak akan bertambah, setiap saat berkurang. Mari gunakan sisa usia untuk kebaikan setidaknya menyerukan kebaikan.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 7 Sya’ban 1443 H.
11 Maret 2022.
(908.03.22)
Tuesday, 8 March 2022
Tape Singkong
Singkong (Bahasa daerahku Ubi Kayu), di pasar tradisional di Jakarta dibandrol Rp 5ribu/kg.
Dari mulai ditancapkan potongan batang singkong ke bumi, baru dapat dipanen 6 sampai 8 bulan mendatang. Hasil sepohon singkong antara 7 sampai 8 kg. Ambil yang terendah sepohon singkong setelah 7 bulan menghasilkan 7 kg setara Rp 35ribu.
Banyak ragam hasil olahan singkong untuk dijadikan bahan makanan. Satu diantaranya diolah menjadi TAPE. Proses mengolah singkong menjadi Tape, memerlukan waktu sampai 2 hari. Setelah jadi Tape, singkong telah mempunyai nilai tambah. Di Jakarta Tape beredar dijajakan oleh tukang Tape keliling dibandrol antara Rp12rb sampai Rp 15rb per kg. Jika diambil eceran terendah sepohon singkong setelah jadi Tape setara Rp 84rb (7 x 12rb). Nilai tambah Rp 49rb atau 140%. Kenaikan sebesar 140% itu hanya dengan proses 2 hari, bandingkan dengan penantian 6 – 8 bulan sejak mulai singkong di tanam sampai panen.
Bahwa nilai bertambah jika telah melalui proses, begitu juga manusia akan bertambah nilai bila dilakukan peningkatan diri melalui proses. Proses boleh jadi melalui pendidikan, penambahan pengalaman. Seorang yang berpendidikan tinggi relatif bernilai lebih dari orang biasa-biasa saja. Sekedar contoh: Dokter spesialis punya nilai lebih dari dokter umum. Dokter umum punya nilai lebih dari perawat.
Kernet bangunan, atas dasar pengalaman, lama-lama menjadi kepala tukang. Penghasilan kernet lebih kecil dari kepala tukang. Apalagi seorang Arsitektur jauh lagi pertambahan nilainya dibanding kernet, kepala tukang dan mandor. Proses kernet jadi kepala tukang, jadi mandor umumnya diperoleh dalam proses pengalaman. Sedangkan Arsitektur diproses melalui pendidikan.
Kurun waktu proses itu berbeda-beda, tetapi pada dasarnya waktu proses, lebih singkat ketimbang waktu manusia itu siap untuk di proses. Minimal manusia baru melalui proses pendidikan umur empat-lima tahun disebut PAUD. Manusia baru mulai memproses diri mencari pengalaman, setidaknya sudah masuk usia angkatan kerja.
Kembali ke proses Tape dan Singkong. Proses panen singkong kurang lebih 7 – 8 bulan, sedang proses membuat Tape hanya perlu waktu 2 hari, namun nilai tambahnya sedemikian tinggi sekitar 140%.
Manusia, yang terus menerus memproses diri dengan menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan, akan mempunyai nilai tambah lebih dalam hidup ini, lebih hebat dari nilai tambah Tape dibanding singkong.
Sudah menjadi janji Allah bahwa orang yang berilmu pengetahuan, derajatnya akan ditinggikan:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَا فْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِ ذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَا نْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. 58 =Al-Mujadilah ayat 11)
Namun perlu diingatkan bahwa “Tape” ; tak akan ada Tape kalau tak ada Singkong.
Begitu juga manusia yang sudah sukses dalam berproses menjadi manusia “sukses” bagaimanapun tingginya nilai diri awak, tak mungkin terjadi tanpa asal usulnya dari ayah dan bundanya.
Tape, ada juga diantaranya gagal dalam proses (bantat) mengeras tidak jadi Tape. Begitu pula manusia, tidak semuanya sukses dalam proses meningkatkan diri, melalui pendidikan dan penambahan pengalaman. Gagal dan sukses terpulang kembali kepada kehendak Allah, namun usaha merupakan ikhtiar manusia yang harus dilakukan, kesuksesan dan kegagalan adalah ketentuan Allah. (QS. 28 = Al-Qasas ayat 70):
"...........وَلَـهُ الْحُكْمُ وَاِ لَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
"............dan bagi-Nya segala penentuan dan kepada-Nya kamu dikembalikan."
Semoga kita semua terus dapat berproses meningkatkan diri, dengan terus-menerus menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman untuk mencapai derajat yang lebih tinggi terutama disisi Allah.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 5 Sya’ban 1443 H.
9 Maret 2022.
(907.03.22)
Wednesday, 2 March 2022
Dikabulkankah Do'a?
Do'a, adlh permohonan kpd Yg Maha Kuasa, untuk meminta sesuatu......
Do'a dimintakan buat:
A. Diri sendiri.
B. Pihak lain, yaitu:
untuk orang tua, untuk anak2, untuk karib kerabat dan untuk sesama manusia.
Adapun hal yg dimintakan dlm do'a umumnya tentang tiga masa; yaitu:
1. Tentang masa KEDEPAN:
Terlaksananya, terwujudnya suatu
yg dicita-citakan atau direncanakan. Indikasi do'a terkabul, atau tertolak relatif mudah diketahui. Ujian sekolah misalnya. Tanda terkabul, bila lulus. Tanda do'a ditolak gagal. Tentu untuk mendukung do'a, hrs diikuti ikhtiar, belajar yg intensif, jaga kesehatan. Bgt pula semua bidang kegiatan, hrs dibarengi "usaha mengiringi do'a".
2. Tentang masa SEKARANG:
Memohon terpeliharanya sesuatu yg sdh dimiliki. Terhindar dari sgl bencana dan mara bahaya atau kerugian. Tidak terlepas juga dari ikhtiar, perlindungan maksimal dari sesuatu yg dimiliki itu dari bencana. Indikasi terkabul/tidak terkabul do'a juga jadi jelas, jika bahaya dan bencana tdk menimpa, berarti do'a terkabul.
3. Tentang masa YANG LALU:
Diampuni semua dosa dan kesalahan yg tlh terlanjur. Indikator do'a yang satu ini tidak ketahui. Apa kah dosa2 kita tlh diampuni atau belum. Sebab kita tdk mendpt jawaban dari Allah.
Ku teringat korespondensi Rasulullah dengan Wahsyi bin Harb dikenal juga dengan Abu Dasamah. Pembunuh Paman Nabi Muhammad, Hamzah di perang Uhud.
Surat-menyurat Wahsyi ke Rasulullah isinya mengenai kekhawatiran dirinya tidak diampuni dosanya, surat terakhir jawaban Rasulullah yg membuat Wahsyi masuk Islam disertai dg mengutip (QS. 39 = Az-Zumar, ayat 53)
قُلْ يٰعِبَا دِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
"Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Dengan demikian tanamkan keyakinan di diri kita yg minta ampun atas dosa masa lalu kita bahwa Allah maha pengampun, maha penyayang.
اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Semoga semua dosa2 kita diampuni Allah.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 29 Rajab 1443 H.
3 Maret 2022.
(905.03.22)
Subscribe to:
Posts (Atom)