Friday, 16 April 2021

Panggilan LIMA.

Dalam keseharian, ummat Islam dipanggil Allah untuk menghadap-Nya, selama lima waktu. Yaitu mulai subuh, ketika tidur sedang nyenyak-nyenyaknya. Selanjutnya dzuhur ketika kerja sedang asik-asiknya. Dilanjutkan ashar di saat badan sudah letih bekerja dan penat mengurus/memikirkan urusan dunia. Disambung maghrib ketika sedang remang2 pertukaran siang dengan malam. Jeda sejenak datang waktu isya’ dimana sedang asyik bercengkrama dengan keluarga.


Rujukan panggilan shalat tsb tersurat (QS. Al-Isra' ayat 78)

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰ نَ الْـفَجْرِ ۗ اِنَّ قُرْاٰ نَ الْـفَجْرِ كَا نَ مَشْهُوْدًا

"Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula sholat) subuh. Sungguh, sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)."

لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ

Sejak matahari tergelincir:

Shalat Dzuhur dan Ashar.

اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ

Gelap malam: 

Shalat Maghrib dan Isya.

 وَقُرْاٰ نَ الْـفَجْرِ

Ketika fajar:

Shalat Subuh.


Bagi orang yang  belum menikmati manisnya iman, memang terasa panggilan ini cukup merepotkan, sebab momen panggilan itu kebetulan diikuti keadaan yang cukup memberi alasan untuk sulit memenuhinya.

* Misalnya ketika subuh, 

dlm hati terbersit pikiran "sebentarlah tidur lagi enak, nanti kalau dipaksa bangun kepalanya akan pusing. Malam tadi kebetulan tidurnya terlambat”, kata orang yang berat melaksanakan shalat dan banyaklah lagi alasan untuk membenarkan diri untuk tidak shalat subuh utamanya bagi lelaki, seharusnya pergi ke masjid.

* Dzuhurpun tiba, begitu adzan berkumandang, pas lagi sibuk kerja, “tanggung tinggal sedikit lagi”, ntar waktu dzuhur kan masih panjang”. pikir kebanyakan orang yang punya kesibukan. Al hasil panggilan itu di-cuek-kan, tak sengaja memang, ....., tau-tau sudah masuk waktu ashar belum sempat shalat dzuhur.

* Ashar masuk, suara adzan berkumandang lagi memanggil untuk shalat dan untuk kemenangan. Bagi orang yang imannya tipis ada saja alasannya, misalnya: “sebentar lagi pulang, nanti shalat di rumah saja, ini pakaian kurang bersih ndak sreg. Apa gunanya shalat kalau tidak tenang, kalau ragu apakah bersih badan dan pakaian”. 


Taunya ketika pulang kerumah dari tempat pekerjaan, teryata jalanan macet, atau ada apa saja halangan yang sulit diprediksi. Akhirnya shalat asharpun lewat begitu saja.

* Maghrib baru saja sampai di rumah, lagi kecapean belum istirahat, belum mandi entah apa lagi, banyaklah alasan sehingga shalatpun tidak dikerjakan.

* Waktu isya’ sudah terlanjur tertidur, akhirnya panggilan Allah seharian itu satu kalipun tidak dapat dipenuhi dengan berbagai alasan.


Para pendahulu orang beriman orang-orang dekat Rasulullah Muhammad ﷺ , mana kala terdengar panggilan adzan, walau sedang apapun ditinggalkan. 


Ibarat kata sedang mencangkul tanah, begitu mendengar adzan cangkul yang hrsnya diayunkan ke depan dibatalkan yaitu langsung dilepas atau malah dilempar ke belakang atau ke samping. Sebab takut kalau sampai tercangkul, maka tanah hasil cangkulannya bila ditanami tanaman dan tumbuh menjadi tanaman yang dimakan, akan menghasilkan sesuatu yang haram. Makan sesuatu yang haram mengakibatkan sekurangnya tiga hal yaitu: Pertama ibadah tidak diterima, kedua do’a tidak terkabul/ditolak dan ketiga daging yang dihasilkan makanan yang haram dibakar dengan neraka.


Praktek langsung melepas segala kegiatan ketika adzan, masih berlangsung di Mekkah atau Madinah, disana dpt disaksikan disiplin shalat ini, terindikasi pada para pedagang. Begitu adzan berkumandang, andaikan kita sedang tawar menawar barang, sdh OK misalnya, ambil uang dari dompet, mau bayar, lantas terdengar adzan, mereka sdh tdk bersedia lagi terima duitnya. Dagangan langsung ditutup dg kain tebal atau terpal. Pedagang menuju masjid gabung shalat.


Dari panggilan yg lima ini;

ada memang orang yang masih lumayan baik, dapat mengerjakan shalat utamanya shalat maghrib, dengan berjamaah di masjid dekat rumahnya pula. Lumayanlah ada pengakuan, walau hanya sekedar shalat harian. Ada juga kelompok masyarakat ini yang shalat memang mengambil harian seperti shalat maghrib tadi, dan juga ada yang shalat pekanan, yaitu sepekan sekali yaitu hanya hari Jum’at, ikut shalat Jum’at. Bahkan ada yang tahunan, kelompok ini sibuk sekali ikut shalat Idul Fitri di hari lebaran.


Bagi yang shalat pekanan apa lagi harian, masih berpotensi untuk memenuhi panggilan utama Allah yg lima ini . Dari hasil penelitian atas pengalaman dari banyak teman yang sempat berusia senja, ketika masih mahasiswa mereka sering diajak untuk shalat Jum’at oleh teman satu kost. Alhamdulillah setelah selesai kuliah kebiasaan itu berlanjut. Mula-mula yaa hanya sekedar shalat Jum’at, lama kelamaan karena sering jum’atan dan mendengar khatib berkhutbah memberikan ajakan taqwa, akhirnya kelompok ini setidaknya dimasa tua jadi ahli shalat, jadi orang yang selalu memenuhi panggilan Allah yang lima tersebut, sebanyak 5 kali sehari semalam. Dalam pada itu yang mengambil tahunan, dari penelitian seadanya atas dasar berita yang dikumpulkan, bahwa kelompok ini kebanyakan akan sampai akhir hayat hanya sibuk ketika akan lebaran saja. Shalat yang lain mereka memilih absen. Ketika shalat ied mereka berpakaian terbagus dg wewangian yg enak aromanya.


Semoga kita semua termasuk orang yg sangat memperhatikan panggilan Allah  berupa "panggilan shalat" ini, sblm datang panggilan penutup yaitu "panggilan maut".


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 2 Ramadhan 1442 H.

14 April 2021.

(762.04.21).

Tuesday, 13 April 2021

Faktor penggerak Puasa.

 

Penggerak puasa setiap individu berbeda. Faktor yg membedakannya sekurangnya ada lima y.i. faktor: usia, kesehatan, kegiatan, kebiasaan dan iman.


FAKTOR Pertama USIA

Anak orang keluarga muslim yang mukmin, sudah mulai ingin ikut sahur. Bahkan kecewa berat kalau ketika sahur dia tdk dibangunkan. Namun puasa mereka tdk bertahan sampai maghrib. Kadang hanya setengah atau seperempat hari. Stlh meningkat usia 5 thn ke atas bnyk anak yg sdh berpuasa bagaikan orang dewasa. Kenikmatan puasa kelompok ini merasa puas tlh menunjukkan dianya sdh besar, bukan anak-anak lagi. Namun kemampuan phisik blm mendukung.

Orang yg usia lanjut kadang ada yg sdh tak mampu lagi berpuasa, model ini kemampuan phisik sdh tdk mendukung.

Di atas ditulis "muslim yg mukmin". Karena muslim blm tentu mukmin. Sdgkan mukmin berarti bukan sekedar tlh memeluk Islam tetapi telah meningkat menjadi beriman. Keluarga yg beriman dlm keseharian kegiatan beribadah tlh terlaksana mengakar di rumah tangga keluarga tsb. Anak-anak yg lahir di keluarga ini Insya Allah, sejak dini, sejak dia mulai ngerti, langsung sdh melihat kegiatan ibadah. Maka si anak/balita akan jadi ahli ibadah.


FAKTOR Kedua KESEHATAN.

Seringkali kesehatan menghalangi berpuasa. Jika berpuasa malah sakitnya dihawatirkan bertambah parah. O.k.i. dengan kasih sayang Allah diberikan keringanan melalui 

firman Allah:

ۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ ۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"............ Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. ..... ...... . "

(QS. Surat Al-Baqarah: Ayat 184)


FAKTOR Ketiga KEGIATAN

Pekerja keras menggunakan phisik kadang tak mampu berpuasa. Sbg bahan informasi buat kelompok ini, bahwa perang Badr itu berlangsung ummat Islam sdg puasa Ramadhan hari ke 17. Manapula puasa pertama kali.

Saya kutipkan ayat:

.......... وَمَاۤ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

"..........Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

(QS. Al-Anfal 8: Ayat 41).

Pertanyaan; seberat apakah pekerjaan itu, berat mana dg pertempuran di terik matahari padang pasir, jarang ada pohon tempat berlindung. Mereka berpuasa. 


Menyoal kegiatan travelling atau safari. Ada kekhususan diberikan Allah keringanan tersurat di ayat  185 Al-Baqarah;


"........وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ


Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."

(QS. Al-Baqarah ayat 185).


Dlm konteks travelling tsb pernah kami bersama istri thn 2012 di hari pertama di bulan Ramadhan, menuju Saudi sahur di Jakarta. Kami fikir kegiatan di perjalanan toh tdk berat, maka lanjut berpuasa. Sesampainya di bandara King Abdul Azis, waktu Jakarta sdh pukul 6 petang keliwat, seharusnya sdh berbuka. Tapi kami harus menahan  dahaga dan lapar 4 jam an lagi, disana matahari masih bersinar terang benderang. 


Dari keadaan itu barulah ku-sadar betapa hebatnya Allah mengatur kemudahan untuk melaksanakan ibadah puasa dg memberikan fasilitas bagi yg sdg travelling diayat di atas 

اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ............dst


Al-Qur'an turun sblm ada perjalanan dg pesawat terbang, tetapi sdh dipersiapkan aturan kemudahan pengguna pesawat terbang ketika berpergian.


FAKTOR ke empat KEBIASAAN

Kembali kita umpamakan keluarga yg mukmin, terbiasa dalam keluarga tsb menjalankan puasa. Katakanlah salah satu anak kelak stlh besar misalnya karena pekerjaan atau sekolah, pindah ke suatu kota berjauhan dg ortu, dimana di lingkungan baru terkondisi tdk ada orang yg berpuasa. Karena panggilan kebiasaan ybs tak nyaman kalau tdk puasa. Kebiasaan membuat orang bisa melaksanakan.


FAKTOR ke lima IMAN.

Iman inilah justru pendorong paling kuat orang berpuasa. Justru memang puasa ini adalah ibadah ditujukan kpd orang yg beriman. Sbgm sering menjadi topik bahasan para ustadz bln Ramadhan:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"

(QS. Surat Al-Baqarah: Ayat 183)


Saya masukkan faktor iman yg terakhir, justru faktor iman inilah yg paling penting. Sebab tanpa iman orang ndak tahan menahan lapar dan dahaga, juga tanpa landasan iman, puasa hanya dpt lapar dan dahaga saja.


Dmkn renungan  shaum Ramadhan hari ini, smg bermanfaat. Tksb tlh sudi membaca, mhn maaf bila ada kekurangan. 


Semoga puasa Ramadhan kita diterima Allah dan do'a kita terutama agar dunia ini segera terbebas dari bencana disebabkan makhluk Allah dinamai Corona.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 1 Ramadhan 1442 H.

13 April 2021.

(761.04.21).

Sunday, 11 April 2021

Sistem Tanam Shaum Ramadhan.


Shaum Ramadhan 1442 H., kurang tinggal berbilang jam. Terkait akan mulai ibadah shaum Ramadhan saya dan keluarga mohon  maaf lahir dan bathin.


Telah kuturunkan sejumlah judul tulisan menjelang Ramadhan mengambil permisalan "Taqwa" mrpkn buah shaum Ramadhan. Melalui permisalan buah, jadinya shaum ibarat  menaman. Dg tamsil tanaman, maka untuk menanam tanaman agar berbuah sebaik mungkin haruslah dilaksanakan prosedur penanaman. Prosedur  tsb tlh kutulis "Persiapan lahan", "Pemilihan bibit", "Perawatan", "Pemupukan". 

Izinkan di kesempatan ini kutulis "Sistem Tanam Shaum Ramadhan.


Melaksanakan shaum bila diibaratkan menanam, terdapat 2 (dua) sistem tanam y.i.: Konvensional dan Teknologi.


Konvensional, berpuasa sebagaimana ketika kita dilatih ortu semasa kecil. Yg penting makan sahur, tahan lapar sampai adzan maghrib. Semasa kecil belajar puasa dulu, blm banyak tantangan. Persoalannya hanya lapar dan dahaga. Malah kalau laparnya sdh bersangatan Ortu kasih toleransi boleh berbuka setengah hari.


Setelah akil baligh, tantangan meluas; mulai dari amarah, nafsu, pendengaran, penglihatan, lisan, pikiran, angan2,  persaingan, pergaulan dlsb. Shaum di akil baligh, jika terdampak pengaruh2 tantangan dimaksud, nilai shaum patut dipertanyakan.


Shaum berteknologi (dg ilmu), terus menerus dipelajari. Tak kurang ustadz dan ustadzah memberikan pencerahan tentang teknik2 shaum yg baik dan benar seperti diajarkan para ulama mengacu kpd hadits2 yg sahih. Begitu banyak leteratur referensi yg dpt disaring guna menjaring ilmu teknologi shaum yg tepat sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.


Dalam mempelajari teknik2 beribadah termasuk shaum kata kuncinya adalah: 

"Membiasakan yg benar". Bukan "Membenarkan yang biasa". Sebab boleh jadi kebiasaan2 kita selama ini tdk bersesuaian dg tuntunan Rasulullah ﷺ.


Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ


“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[HR. Bukhari - Muslim].


Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali haus dan lapar, sebagaimana sabda Nabi ﷺ :


رُبَّ صَاىِٔمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ


Hal tersebut terjadi karena ia tidak berpuasa dari apa yang Allah Ta’ala haramkan, ia seakan menganggap bahwa puasa itu hanya menahan diri dari pembatal-pembatal puasa saja. 


مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه


“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan selalu mengamalkannya, maka Allah Ta’ala tidak butuh kepada puasanya.” (HR. Al-Bukhari no.1804)


Selain itu, hakikat shaum adalah menahan diri dari segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita. 


لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالَّرَفَث


“Bukanlah berpuasa itu sebatas menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi berpuasa adalah menjauhi perkara yang sia-sia dan kata-kata kotor.” (HR. Ibnu Khuzaimah no.1996 dan tahqiq Syaikh Al-A’zami berkata, ”Shahih”)


Smg shaum  Ramadhan 1442 H, insya Allah  akan dimulai Selasa 13 April 2021 dapat dijalani terbebas dari hal2 yng mencederainya. Aamiin.


Sekiranya para pembaca sudi menyimak tulisan2 ku, yl. maupun yad, terasa ada faedahnya, saya berterima kasih jika berkenan meneruskannya kpd sanak keluarga teman handai taulan. 

Umpama kurang manfaat cukup sampai di anda saja.


Jika baik, mutlak milik Allah dan RasulNya. Umpama terdpt salah dan khilaf dari diriku karena dangkal ilmu dan cetek pengalaman. Mhn dimaklumi sekaligus dimaafkan.


Sekalian, sekali lagi dikesempatan ini kpd seluruh sahabat handai, karib kerabat, sanak family, para pembaca, saya dan seluruh keluarga mhn maaf lahir dan bathin.


Semoga Allah memberikan kekuatan untuk kita semua menjalankan shaum Ramadhan berserta ibadah2 ikutannya.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 30 Sya'ban 1442 H.

12 April 2021. 

Saturday, 10 April 2021

PUPUK Shaum RAMADHAN

 Kembali kuturunkan tulisan tentang persiapan menjelang Ramadhan, melanjutkan tulisanku mengenai:

"Lahan shaum Ramadhan"

"Bibit shaum Ramadhan" 

"Perawatan shaum Ramadhan".


Juga  dg tamsil tanaman,  shaum bagaikan tanaman yg berbuah taqwa. Karena sbg tanaman maka akan menghasilkan buah taqwa yg bernas kalau dipupuk. 


Pupuk shaum terdiri atas ibadah sunah mengiringinya. Dari mulai sahur sampai berbuka. Ibadah shaum penuh dg serangkaian paket sunah2 ikutannya.


Diantara sunah ikutannya adlh tadarus Al-Qur'an. Hal ini dpt dimanfaatkan oleh orang yg masih aktif maupun oleh Lansia purna bhakti.


Bagi yg masih aktif, berkegiatan baik di sektor formal maupun usaha mandiri, selalu tersedia waktu istirahat pada jam kerja setiap hari. Andaikanlah waktu istirahat ini digunakan untuk mengkaji Al-Qur'an, selain dari pahala yg akan diperoleh. Manfaat yg dpt dipetik, terhindarnya dari berbicara yg sia2, jauh dari berpikir yg mengandung dosa, tertutup kesempatan bermgunjing dll setidaknya disaat mengkaji Al-Qur'an. 


Bagi lansia purna bhakti kesempatan baca Al-Qur'an di bulan Ramadhan malah bgt luas.


Kegiatan tadarus mengkaji Al-Qur'an, jadinya mrpkn pupuk utama, selain serangkaian sunah2 yg lainnya. Sebab setidaknya di saat2 mengaji tsb terhindar dari hal2 yg mengurangi kualitas shaum, lantaran pikiran tengah focus kpd bacaan dan arti serta pengertian dari apa yg sedang dibaca.


Lagian, anjuran kuat dari Allah buat membaca kitab Allah, sebenarnya bukan saja di bulan Ramadhan tetapi sepanjang hayat masih terkandung badan tersurat pada (QS. Fatir ayat 29)


اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَا نِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَا رَةً لَّنْ تَبُوْرَ ۙ 

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi,"


Tiga amalan seiring sejalan ini dijanjikan Allah menghasilkan perdagangan yg tdk akan merugi:

1. Membaca Al-Qur'an.

2. Sholat.

3. Infak.

Apalagi dilaksanakan dalam keadaan shaum di bulan Ramadhan, jelas akan jadi pemupuk shaum hingga menghasilkan buah taqwa yg lebih bernas. Dengan pupuk utama Al-Qur'an, shalat dan infak.


Yg hrs diwaspadai sudah rajin memupuk shaum setiap hari tapi tak sengaja membiarkan hama datang menyerang. Niscaya layulah daun2 tumbuhan shaum  anda dan buah taqwanyapun tak kan bernas, ada kemungkinan hampa.


Bagaimana pula serangan hama itu?......... Serangan hama itu terkadang "berbungkus alhamdulillah".

Contohnya menceritakan kpd orang lain bermaksud mendapatkan apresiasi misalnya:


"Alhamdulillah saya Ramadhan ini ngaji sdh khatam 3 kali dan ini mulai lagi yg ke empat", 


"Alhamdulillah taun ini diberi Allah sehat, selain tak pernah absen ikutan tarawih berjemaah di masjid, sblm saur sempat nambah tahajud".


"Alhamdulillah Ramadhan ini kami tlh menyantuni anak2 yatim di 4 panti asuhan".


Kini kan "alhamdulillah"2 seperti di atas bisa via HP.

Kalau tujuan "Alhamdulillah" itu ingin apresiasi, alamat tumbuhan shaum yg tlh dipupuk itu akan terserang hama..............


Semoga kita semua di Ramadhan nanti sanggup memupuk shaum kita dan menghindari serangan hama, sehingga menghasilkan taqwa sbg tujuan akhir shaum Ramadhan.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 28 Sya'ban 1442 H.

10 April 2021.

(759.04.21).

Perawatan Shaum.

 

Melanjutkan tulisan ttg persiapan shaum Ramadhan, menjelang Ramadhan beberapa hari lagi, tlh kuturunkan tulisan:

1. Persiapan Lahan Ramadhan.

2. Bibit Ramadhan.

Berikut ini adlh ttg Perawatan Shaum.


Tamsil kita mengenai ibadah Ramadhan yang ditanam di "lahan siap tanam" tersebut dengan "bibit unggul" disediakan Allah.

"Tumbuhan shaum" akan merana dan tak akan dapat berbuah taqwa jika tidak diberikan perawatan dan pupuk.


Imam Ghazali membagi shaum dlm 3 kelas.


1. Shaum kelas awam, 

2. Shaum kelas istimewa.

3. Shaum khusus (kelas sangat istimewa).


Jika ingin di kelas awam, sejak fajar dirawatlah shaum kita dg

berhenti makan minum, serta ber-hati2 akan segala sesuatu yg membatalkan shaum seperti dlm hukum fiqih. Sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

".........وَكُلُوْا وَا شْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَ بْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَ سْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَا مَ اِلَى الَّيْلِ...................."


".........Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. ..............."

(QS. Al-Baqarah ayat 187).


Di awal penggalan Al-Baqarah 187 itu dijelaskan bahwa ketika berpuasa tdk diperkenankan bercampur suami-istri, dengan redaksi didahului kata ("dihalalkan" = dibolehkan) malam hari,................., jadi berarti bila berpuasa tdk boleh.


اُحِلَّ لَـکُمْ لَيْلَةَ الصِّيَا مِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَآئِكُمْ ۗ 

"Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu........".


Jika tlh berhasil syarat di atas, terawatlah Insya Allah shaum sbg orang awam.


Jika ingin naik ke kelas shaum khusus, maka perawatan shaum ditingkatkan bukan saja makan minum tapi juga harus dirawat dg menjaga  seluruh indera, yaitu disamping menahan hal2 seperti butir 1, menahan pendengaran yang tidak perlu didengar, penglihatan, lisan,  ini sumber hilangnya pahala shaum. Juga men shaum kan tangan, kaki dan segala anggota badan dari dosa dan maksiat.


Bagi yg sdh sepuh, purna bhakti relatif lbh berpeluang menduduki kelas shaum istimewa ini karena:

Umumnya berkurang kegiatan keluar rumah. Insya Allah anggota badan, mata dan telinga serta lisan dapat di shaum kan, agar mata tdk melihat yg tak senonoh, agar telinga tak mendengar perbincangan sia2, agar lisan tak berucap tak baik seperti bergunjing.


Namun dg terbukanya komunikasi melalui medsos, bagi si sepuh-pun jika tdk ber- hati2 juga berpeluang telinga dan lisan terperosok, shg urung meraih predikat "shaum istimewa".

Contoh kecil: 

Dari sahabat terima tlp, semula cerita biasa, ........lanjut membicarakan orang........ Serba salah jadinya, mau ndak tanggapi bgmn? ntar dinilai sombong. 

Dari ujung tlp "Si ...... teman kita, masak si cucunya katanya disekolahkan ke Amrik........... paling lebai yaa. kita kan tau kartunya .... .....ndak mungkinlah.... dari mana duitnya....... anaknyapun kita tau cuma..............."


Ditanggapi awak sedang merawat shaum. Walau pun diam saja minimal udah mendengar info sia2. Eee kalau tlpn di tutup, bisa jadi marah besar tu sohib lama, putus pula silaturahim. Serba salah.  

Padahal larangan berprasangka, cari kesalahan orang, bergunjing bgt jelas:


يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّا بٌ رَّحِيْمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."

(QS. Al-Hujurat ayat 12)

Contoh lain, bisa jadi mengomentari atau meneruskan berita hoaks dari group W.A. 


Puasa strata tiga,   Shaumul khushusil khusus   agaknya lbh sulit karena perawatannya selain menahan haus, lapar dan syahwat serta anggota tubuh, shaum ini menahan hati dari keraguan mengenai hal-hal keakhiratan. Juga menahan pikiran untuk tidak memikirkan masalah dunia, serta menjaga diri dari berpikir selain Allah SWT. Merupakan shaumnya para nabi, shiddiqin, dan muqarrabin. 


Naah merujuk  kelas2 shaum yg di kelompokkan Imam Ghazali dikutip di atas. Agaknya kita dpt merencanakan di posisi strata mana shaum yg di upayakan untuk di raih di Ramadhan y.a.d.


Semoga Allah berikan kekuatan agar kita dpt melaksanakan shaum Ramadhan 1442 H. y.a.d.  yg terbaik.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 26 Sya'ban 1442 H.

8 April 2021.

(758.04.21).

BIBIT Ramadhan.

Tulisan ku kemarin ttg shaum Ramadhan mengumpamakan  taqwa sbg hasil Shaum Ramadhan adlh laksana buah. Lantaran taqwa diibaratkan buah, harus diproses dg menanam. Untuk menanam perlu lahan (judul kemarin: "Persiapan Lahan Ramadhan"). Lahan sdh siap, sekarang perlu bibit yg akan disemai.


Di bulan Ramadhan Allah tlh memilihkan buat kita kaum muslimin bibit unggul. Sebab bibit yg ditanam di Ramadhan,   untuk ibadah sunah diberikan penilaian sama dengan yang wajib. Sementara ibadah yang wajib diberikan penilaian berlipat ganda. Bahkan di bulan Ramadhan, Allah menyediakan bibit yang sangat unggul yaitu dikenal dengan lailatul qadar yang hasilnya adalah lebih baik dari 1000 bulan atau 83 tahun lebih.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ ۗ 

"Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."

(QS. Al-Qadr ayat 3).


Kenapa Allah pilihkan Lailatul Qadar khusus untuk ummat Muhammad, sekurangnya 2 penyebab yaitu:


1. Usia ummat Muhammad umumnya sangat singkat, bila mengacu nabi Muhammad hanya 63 tahun.


2. Postur tubuhnya relative kecil, sehingga kekuatan untuk beribadah relative kurang, bila dibandingkan ummat terdahulu.


Ummat terdahulu hidupnya ribuan tahun misalnya nabi NUH diwartakan dlm Al-Qur'an tinggal bersama kaumnya 950 tahun.


وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَ لْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَا مًا ۗ فَاَ خَذَهُمُ الطُّوْفَا نُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ

"Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim."

(QS. Al-'Ankabut ayat 14).


Nah kalau kita hidup mencapai usia nabi Muhammad dan jika rata-rata kita mulai diperhitungkan puasa umur tiga belas tahun, jadi dapat berpuasa selama 50 tahun. Jika setiap tahun dari 50 tahun itu menemukan lailatul qadar, maka kita terhitung beribadah selama 50 x 83 tahun = 4.150 tahun , setara dengan 4  kali lbh dari usia nabi Nuh.


Persoalannya bibit unggul yg disemai itu apakah tumbuh subur. Selain disemai di lahan yg baik, juga hrs dirawat dan dipupuk......... Insya Allah akan disiapkan teknik perawatan dan pemupukannya, ditulisan mendatang.


Semoga bibit unggul beribadah yg tersedia di bulan Ramadhan dpt dimaksimalkan sehingga shaum tahun ini mengantar kita semua menjadi taqwa.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 25 Sya'ban 1442 H.

7 April 2021.

(757.04.21).

Tuesday, 6 April 2021

PERSIAPAN LAHAN RAMADHAN

Saudaraku kaum muslimin, bbrp hari lagi kita semua akan mulai melaksanakan ibdah "shaum wajib"  selama sebulan penuh. Sdh maklum bahwa buah shaum Ramadhan adlh "Taqwa". Dg tamsil "Taqwa adlh buah shaum Ramadhan", maka ibarat suatu tanaman untuk berbuah haruslah ditanam. Untuk penanaman perlu bibit, sblm bibit ditanam perlu tersedia lahan.


Menyiapkan media tanam (lahan) dalam kaitan shaumu Ramadhan, sekurangnya harus diperhatikan 3 hal pokok yaitu:


a. persiapan lahir


b. persiapan bathin


c. persiapan lingkungan


ad. a. Persiapan lahir.


Berusaha agar dapat memelihara kesehatan, agar dapat melaksanakan ibadah agar lebih meningkatkan kualitas dan kuantitasnya dari bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan. Bagi yang sepuh sebagai ikhtiar periksakan kesehatan, turuti nasehat ahli kesehatan dan bila diberikan obat diminum secara teratur.

Dalam rangka perawatan kesehatan bbrp pekan ini ku tlh periksakan penyakit rutin ke rumah sakit, mulai penyakit dalam, jantung dan hari ini urologi sambil nulis artikel ini.


ad. b. Persiapan bathin:


* Merenungkan kesalahan selama ini untuk bertobat kepada Allah, sehingga mulai bulan Ramadhan betul-betul siap menjalankan ibadah, sekaligus di dalam bulan Ramadhan sudah ter inventarisir apa yang hendak dimintakan ampun kepada Allah. Meskipun sebenarnya yang namanya minta ampun kepada Allah hendaklah setiap hari, setiap terjadi kesalahan karena kita tidak mengetahui usia kita masing-masing apakah masih sampai esok.


* Bulatkan tekad dengan niat yang sungguh-sungguh, ingin melaksanakan shaum lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya


ad. c. Persiapan lingkungan.


Media tanam tadi akan tidak kondusif bila masih terdapat gulma pengganggu lainnya, baik yang kasat mata maupun yang berpotensi akan tumbuh kemudian. Karena itu perlu di klirkan hubungan antar sesama manusia, itu mrpk gulma, penghambat kesuburan tanaman shaum. Meskipun hal ini seharusnya tiap hari harus klir dengan saling memaafkan:


· Antar diri dengan tetangga


· Antar diri dengan teman sekerja


· Antar diri dengan suami/isteri


· Antar diri dengan saudara


· Antar diri terlebih dengan orangtua bila masih ada


Pembaca yg arif!!


Bahwa taubat kepada Allah jauh lebih mudah dibanding memaafkan sesama.


Karena tobat kepada Allah kita sanggup untuk menyebutkan semua kesalahan kita satu persatu, tanpa malu dan ragu. Dosa sekecil-kecilnya apalagi yang besar, dosa yang tidak terlalu membawa aib jika orang lain tau, sampai dosa yang kalau orang tau kita sangat aib. Kitapun sanggup menuturkannya kepada Allah.


Bagaimana kalau minta maaf kepada manusia, sanggupkah kita menyebutkan semua kesalahan kita kepada sesama yang dimintai maaf.


Contoh suami istri saja, kalau minta maaf secara jujur, mungkin hasilnya membuat tidak mujur.


Misalkan kita pernah berbuat tidak jujur dengan isteri kita, jika kita terus terang mengatakannya akibatnya mungkin menjalani Ramadhan tidak mujur, bisa saja si isteri mogok menghidangkan sahur.


Oleh karena itulah dalam agama kita soal maaf memafkan itu, yang diperintahkan dalam Al Qur’an bukan meminta maaf tapi memberikan maaf.


Lihat surat Al-Baqarah 263


قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَاۤ اَذًى ۗ وَا للّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ

"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun."

(QS. Al-Baqarah ayat 263)


dan


Ali Imran 134 menegaskan:


الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ۚ 

"(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan."

(QS. Ali 'Imran ayat 134)


Dalam suatu hadits bahwa Nabi pernah mengatakan bahwa: Ummatnya ada sebanyak 70 ribu orang yang akan masuk surga tanpa proses perhitungan, langsung tanpa di HISAB, dari jumlah tersebut disebutkan Nabi bahwa sahabat Nabi bernama UKASAH salah satu diantara 70 ribu dimaksud. Apa sebenarnya amalan UKASAH yang paling menonjol sehingga mendapat keistimewaan ini. Rupanya adalah; Setiap akan tidur beliau mereview kembali perjalanan hidup sehari tadi, selain dia bertobat atas kesalahannya ia segera memaafkan bila ada orang lain membuat kesalahan kepadanya dan bahkan sekaligus memohonkan agar yang bersangkutan diampuni Allah. Selain amalan rutinnya adalah shalat tahajud.


Adalah suatu kelaziman yg baik di negeri kita ini, bahwa sblm masuk bulan Ramadhan saling mohon maaf, bukan saja ketika Idul Fitri. Apalagi dg terbentang luas kesempatan dpt komunikasi melaui W.A. sekarang ini. Ini pas benar untuk "mempersiapkan lahan Ramadhan".


Karenanya dari ruang ini saya juga mohon maaf kpd para pembaca sekalian atas kesalahan2 saya mengunjungi pembaca dlm tulisan saya.


Smg Allah menyehatkan dan memudahkan kita dlm melaksanakan shaumu Ramadhan.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 23 Sya'ban 1442 H.

5 April 2021.

(756.04.21).