Saturday, 22 June 2019

ADil

Al-'Adl artinya Maha Adil. Nama Allah ke 29 dari 99 asmaul husna. Al-‘Adl bearasal dari kata ‘adala yang berarti lurus dan sama.

Meskipun yg dimaksud adil bukan hanya ttg bgmn menetapkan keputusan suatu perkara. Tetapi bila berbicara adil, bagi kita ummat manusia bnyk dikaitkan dg masalah hukum.

Adil sepatah kata pendek, tetapi sejarah mencatat panjang perjuangan untuk menegakkan ke "adil" an itu. Bangsa ini beberapa generasi memperjuangkan kemerdekaan, salah satu tujuannya dlm rangka "Adil" itu, terbukti ada dua sila Pancasila mengandung kata "Adil"
*"Kemanusiaan yang adil dan beradab".
*"Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".

Zaman penjajah an doeloe, para pejoeang pergerakan kemerdekaan ditangkap penjajah, diadili malah mereka dinyatakan bersalah kmdn masoek boei. Padahal mereka menuntut keadilan. Diadili dg tdk adil. Banyak pejoeang kita yg diboeang, diasingkan. Itu model keadilan waktoe itoe.

Dg menengok keadilan zaman penjajah boleh kita simpulkan bahwa keadilan, bgmn menurut sudut pandang penjajah, karena mereka yg pegang kekuasaan. Kalau bgt keadilan ditangan yg berkuasa.
Para pejoeang menuntut keadilan itu justru salah menurut penjajah, mereka di golongkan kelompok membuat kekacauan, menciptakan keresahan masyarakat, di cap ekstrimis dll yg negatip.

Kisah penuntut keadilan, rupanya terus berlanjut sepanjang masa. Rasa keadilan itu tak kan didapat selama para pihak sebagai penegak keadilan justru tidak adil.

Bgmn wujud keadilan itu sepertinya pantas dikutip;
Allah menjawab ketika nabi Musa bertanya:
Ya Allah: “Manakah mahluk Engkau yang lebih adil”. Allah menjawab:”Orang yang sanggup menghukumkan atas dirinya sendiri apa yang dihukumkannya kepada orang lain”.

Jadi penerapan "adil" apabila  dapat menerapkan hukum sama untuk semua pihak sesuai hukum yang berlaku untuk siapa saja tak pandang bulu termasuk untuk dirinya, untuk kelompoknya  sendiri hukum harus diberlakukan sama. Meskipun kebetulan kelompok sendiri sdg memegang kendali keputusan dan hukum. Kita diperintahkan menegakkan keadilan (surat An-Nisa 135):
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰۤى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ  ۗ   ۚ 
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.
Tetap harus berlaku adil.

Selanjutnya di ayat lain Allah ingatkan: walaupun kpd kelompok/orang yg dibenci, tetap hrs adil. (Al-Maidah 8).
 ۖ  وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا  ۗ  ۗ ۖ 
"Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil".

Sebagaimana pernah dicontohkan penegakan hukum di zaman kejayaan Islam lebih dari ratusan tahun. Dikesempatan lalu dalam tulisanku  ttg bagaimana Ali sebagai khalifah berperkara dengan rakyat yang beda agama dengan obyek perkara sebuah baju besi. Ali kalah dimata hukum walau dia pemimpin tertinggi negara. Kekalahan Ali lantaran secara hukum tak cukup bukti dan saksi. Walau akhirnya lawan perkara mengakui bahwa baju besi itu milik Ali, sekaligus mengakui hukum Islam tegak dlm keadilan, sesuai prosedur berperkara. Slnjutnya ybs dg ikhlas terpanggil memeluk Islam sbg agamanya.

Bagaimana nabi Muhammad memutuskan perkara, beliau percaya dan berpegang teguh akan sumpah dan saksi. Dalam perkara keluarga Budial bin Abu Maryam dari bani Sahm, dengan dua orang beragama lain setelah disumpah dengan cara agamanya.
Dua orang beragama lain te
man seperjalanan niaga, dlm perjalanan itu Budial meninggal dunia, almarhum berwasiat minta serahkan harta dititipkannya ke keluarganya.
Sebagian harta digelapkan penerima amanah, sdgkan keluarga mengetahui dan mempertanyakan. Berujung digelar pengadilan dipimpin Rasulullah.
Dibawah sumpah menurut agamanya kedua pembawa amanah tdk mengakui, mereka menggelapkan sebuah peti kecil yg dituntut keluarga Budial.

Perkara ditutup, tidak dibuka kembali walau akhirnya stlh beberapa waktu berlalu diketahui bahwa keluarga Budial berhak atas Peti Perak bersalut emas yang dititipkan Almarhum Budial  yang meninggal dalam perjalanan niaga tsb. Terbongkarnya hal sebenarnya lantaran itu peti, atas pengakuan pemilik terakhir dibeli dari sang penerima amanah.
Atas keadilan penegakan system hukum Islam yg:
* menghormati pengakuan dibawah sumpah (walau sumpah menurut agama lain).
* tidak membuka kembali perkara yg sdh diputus.
Dikabarkan akhir hidup pemegang amanah masuk Islam, uang hsl penjualan peti perak bersalut emas itu secara sukarela diserahkan kpd ahli waris.

Dmkn indah bila tlh terkondisi keadilan. Setiap orang merasa puas dan dg sukarela menerima suatu keputusan yg adil.

Keadilan model penjual Salak. Tahun lalu kebetulan sipenjual, kulaan dapat jenis Salak yg manis, sementara partnernya sama2 penjual Salak kualaannya mendapat jenis Salak yg sepet (kelat).

Tahun lalu, habislah semua kelemahan salak sepat diumbarnya ke calon pembeli a.l.
*salak sepat mengganggu pencernaan, dpt membuat susah BAB, bukan mustahil pemicu anbeyen dll. Sambil memuji khasiat salak manis.

Eee tahun ini pas kulaannya dpt salak sepet sdg partner sebelahannya dagang, kulaannya dpt salak manis. Propagandanya ke calon pembeli bukan main betolak belakang a.l.
* jangan beli salak manis, akan meningkatkan gula darah. Kulitnya tajam dpt melukai tangan.
* dagingnya tipis, bijinya saja yang besar.
Sambil dia memuji dagangannya salak sepet. Lupa dia tahun lalu dg lantang mencela, mencacat, merendahkan salak sepet.
Sekarang dipuji di sanjungnya  salak sepet a.l.
* dpt mengendalikan pencernaan
* menambah nafsu makan
* mengandung vitamin C tinggi
* kulit tipis isi tebal biji kecil.
Pokoknya hebatlah salak dagangannya.
Ini model ke "adil" an tergantung "kulaan".

Mestinya apa adanya saja jujur saja manis katakan manis ndak usah mencela yg sepet. Ketika sepet katakan sepet tak perlu menjelekkan salak yg manis. Biar pembeli tentukan pilihan. Salak manis bermanfaat, juga salak sepet manfaat utama buat yg kadang diare.

Patut agaknya kita berdo'a semoga keadilan didunia ini membumi, setidaknya di negeri kita yg berdasarkan Pancasila di mana tersurat dua potong kata "adil" di dlmnya.

Ketika tulisan ini kuturunkan bangsa kita tengah menyaksikan ke ADILAN sedang diproses, dipertaruhkan, untuk tentukan pemimpin bangsa kedepan.

Penulis blm tentu saksikan hasil produk keadilan yg tengah disidangkan ini, tetapi anak cucu kitalah nanti menikmati buah keadilan ini. Smg Allah merahmati bangsa Indonesia. Smg Allah menanamkan sifat "ADIL" kepada para pihak penentu keadilan. Aamiin.

Mhn maaf bila tdpt kata yg salah.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.

Sunday, 16 June 2019

Memberi maaf lbh utama dari meminta maaf

Kalau sblm ada dunia maya menjelang Idul Fitri sdh sibuk ngirim kartu lebaran, kini  memanfaatkan dunia maya sahabat handai, saudara dekat family jauh, kolega, atasan dan bawahan, rekan sejawat saling minta maaf cukup melalui medsos, kadang dilengkapi gambar dsbnya.

Sudahkah soal maaf memaafkan ini sampai ke maksudnya? Sudah habiskah kesalahan diantara kita? Ini barang kali agaknya perlu kita telusuri.

Kenapa harus saling memaafkan.
Sbg manusia dlm berinteraksi sesama berpotensi melakukan kesalahan kepada orang lain. Kesalahan sesama manusia, dlm bahasa agama “dosa”. Dosa kepada manusia ada dalam dua jurus yaitu:
1. Dosa terhadap hartanya; penyelesaiannya dng mengembalikan harta itu kpd pemiliknya dng nilai yg sama bila perlu lebih baik lebih banyak. Jika tdk mampu, maka meminta keikhlasan dan keredhaan pemiliknya. Jika si empunya telah tiada maka penyelesaiannya hendaklah diserahkan ke ahli warisnya. Jika ahli warisnyapun tak ditemukan, hendaklah diwakafkan a.n. pemilik harta untuk kemaslahatan agama dan masyarakat. Dng niat menitipkan kpd Allah sbg pembayar dosa tsb.  Itu pendpt Imam Ghazali.
2. Dosa sesama manusia mengenai kehormatannya. Misalnya pernah memfitnahnya, menghinanya, mencaci makinya. Mintalah maaf dan redhanya. Jadi mumpung masih hidup maka hubungilah orang yg kita pernah dosa kpdnya. Mungkin kalau hanya secara umum, dng tdk menyebutkan secara spesifik, seperti  melalui dunia maya, barangkali  belum  memenuhi syarat minta keredhaan atas dosa tersebut.

Bila dosa sesama blm sempat terselesaikan didunia ini dua hal diatas,  seperti HR IMAM BUKHARI bahwa Rasulullah SAW mengatakan “Barangsiapa yg mempunyai kezaliman kpd saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkan kepadanya dari dosanya itu sblm datang hari dimana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), dimana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sdh tdk ada lagi amal kebaikannya maka akan diambil dari dosa orang teraniaya itu lalu dipikulkan kpd orang yg menganiayanya itu.

Ternyata mhn maaf kpd orang perorang secara spesifik, bagi kita yg bersalah kpd seseorang apalagi ke banyak orang. Sulit untuk dilakukan.

Bagus kita renungkan anjuran Al Qur’an bahwa yg paling utama itu adalah memaafkan, dari pada minta maaf. Sebab dng kita memaafkan kesalahan orang kpd kita walau dia tidak minta maaf. Jelas pihak dizalimi tau persis secara spesifik kezaliman dari seseorang yg menzaliminya tersebut. Dng demikian membantu pihak yg menzalimi terbebas dari dosa. Al-Qur’an surat Al- Baqarah ayat 263
قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ  يَّتْبَعُهَاۤ اَذًى  ؕ  وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ
"(Perkataan yang baik) atau ucapan yang manis (serta pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan menyakiti perasaan) dengan mencerca atau mengomelinya (Dan Allah Maha Kaya) hingga tidak memerlukan sedekah hamba-hambanya (lagi Maha Penyantun)
Menurut ayat di atas sikap memaafkan kesalahan orang kepada kita adalah sifat yg di apresiasi Allah bahkan lebih baik dari sedekah yg berbuntut disebut-sebut.

Orang yg beramalan  setiap hari sblm tidur malam memaafkan orang yg bersalah kpdnya, orang inilah yg diriwayatkan Abdullah bin Amr akan masuk surga tanpa dihisab.

Mari kita maafkan kesalahan orang, rekan kita kolega, sahabat dan saudara kita,  kendati mereka tdk minta maaf. Apalagi ktk tulisan ini kupublish sdh 10 hari bulan Syawal.  Mungkin banyak yg sdh akhiri "puasa Nam". Sayang puasa kita, jangan sampai saudara kita yg menzalimi kita terkena seperti ucapan Rasulullah:
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ
 (Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya)) (HR. Tirmidzi)

O.k.i. selain mhn kpd Allah diampuni sgl dosa, juga kpd sanak saudara, sidang pembaca, dlm tulisan ini saya ulangi lagi hal yg pernah saya tulis di akhir Ramadhan dan 1 Syawal 1440 "mhn maaf lahir dan bathin".
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ وَجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِين وَالْفَائِزِين

Mudah2an shaum kita selama Ramadhan dan Syawal, misalnya ada kekurangannya Allah cukupkan shg menjadi shaum yg diterima.
Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.

Amal dari peninggalan tidak lestari

Sangat popular hadist yang menjelaskan bahwa pabila kita sudah mati nanti maka terputuslah amal kita kecuali ada tiga hal yaitu:
AMAL ZARIAH,  ANAK YANG SHALEH SELALU MENDO’AKAN DAN  ILMU YANG DIAMALKAN.

Al-Qur’an pun dalam surat Yasin ayat 12 ada menyebutkan:
اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْ  ۗ  وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْۤ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ
"Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuz).

Yang bakal menjadi kumpulan cacatan amal kita setelah kita mati, bukan saja amal yang kita kerjakan selagi kita masih hidup, tetapi juga bekas-bekas yang kita tinggalkan.

Anda mempunyai harta ditinggalkan, kemudian dipergukan untuk kemasalahan ummat, itu juga akan menjadi ladang amal anda sesudah anda meninggal dunia nanti. Baik itu berbentuk produk digunakan untuk Ibadah misalnya membangun masjid, sekolah atau tempat kemasalahatan masyarakat, maupun produk yang diambil hasilnya untuk kepentingan ummat. Atau produk gagasan/ide anda yg digunakan untuk memudahkan kehidupan.
Anda mempunyai Anak yang shaleh yang anda tinggalkan di dunia, mereka mendo’akan ampunan buat anda, itu jelas karena do’anya itu jika di ijabah Allah akan meringankan anda di alam kubur.
Ilmu yang anda bagikan kepada orang lain, kemudian orang-orang memanfaatkan ilmu itu untuk kesejahteraan hidupnya, menjadi tambahan kebaikan bagi anda walau anda telah di alam barzah.

Kembali ke judul renungan kita ini, apakah semua itu lestari dan terus menerus akan memberikan amal buat kita di alam kubur, kemudian berkontribusi meringankan kita di alam sana nanti.

LESTARIKAH peninggalan amal kita SESUDAH kita MATI???

AMAL ZARIAH
Amal zariah difamahi banyak orang adalah peninggalan berupa property yang dimanfaatkan oleh orang sepeninggal kita, dapat berwujud property yang menghasilkan, kemudian hasilnya untuk kepentingan ummat. Atau property berupa tempat ibadah atau tempat pendidikan.

Ketahuilah bahwa property tersebut tidak selamanya bertahan. Katakanlah Masjid, kalau masjid tersebut digusur, di relokasi atau direnovasi maka SECARA LOGIKA, sekali lagi SECARA LOGIKA, maka partisipasi kita di masjid tersebut, misalnya kramik, semen dan alat bangunan lainnya sudah tidak dipakai lagi.

Katakanlah property kita berupa kebun yang diambil manfaatnya untuk kemaslahatan ummat/masyarakat, apakah dapat dijamin kebun tersebut akan tetap ada sampai ratusan tahun.

Lain halnya dengan kebun Kurma peninggalan Ustman bin Affan di madinah, bermula dari Sumur yang dibelinya dari pemilik aslinya RAUMAH. Kita tetap yakin tentunya akan bertahan lama, tidak akan terkena longsor ataupun kegusur bagaikan di negeri kita. Selain itu pembelian lokasi tanah yang ada sumur sumber air itupun informasi dari Nabi Muhammad s.a.w. yang mengatakan bahwa “siapa yang dapat membeli sumur itu balasannya adalah surga”. Ustman pun membeli sumur itu, dalam suatu proses yang bijak semula hanya dpt separo tak berapa lama ahirnya seluruh sumur dan lokasi tanah menjadi milik Ustman bin Affan, kini jadi perkebunan Korma. Hasil kebunnya sampai saat ini sangat bermanfaat dan menghasilkan dana yang cukup besar untuk kesejahteraan ummat. Tentu Ustman bin Affan menerima terus amal zariahnya tersebut.

Tapi untuk di negeri kita kondisinya berbeda, kebun bisa saja tergusur, atau hak kepemilikannya ratusan tahun kedepan jadi beralih tangan karena sengketa, kemudian dialih fungsikan. Jadi perlu dipertanyakan kelestariannya.

ANAK YANG SHALEH SELALU MENDOA’AKAN
Anak kita, juga akan tumbuh sebagaimana kita, tadinya sebagai anak, kemudian jadi orang dewasa dan tua kemudian, sunatullah diapun akhirnya meninggalkan dunia ini. Nah bagaimana kalau dia sudah mati, mungkin cucu kita masih mendo’akan kita, itupun juga masih masuk dalam juriat kita. Insya Allah kalau cucu yang shaleh mendo’akan kita juga ada harapan di ijabbah Allah. Berikutnya cucupun akan mati juga, mungkin ia pesan kepada anaknya agar mendo’akan kita. jadi si cicit kita, mendo’akan kita.

Umumnya kita orang Indonesia harus diakui, kadang tidak tau lagi nama ayahnya dari uyut kita, apalagi kakeknya dari uyut kita. Jadi mana mungkin anaknya si cicit mendo’akan kita. Kalau begitu do’a anak shaleh inipun tidak akan lestari membantu amal kita, setelah kita meninggal dunia, karena diapun akan meninggal pula.

ILMU YANG DIAMALKAN.
Kebetulan saya bergerak dibidang menularkan ilmu, wujudnya bukan saja secara langsung menjadi pengajar di kampus atau di pelatihan-pelatihan, di hampir setiap Provinsi di Indonesia, tetapi juga Alhamdulillah telah sejumlah buku saya yang terpublikasi. Sepanjang buku itu digunakan orang untuk referensi, sepanjang ilmu yang serba sedikit saya sampaikan dimanfaatkan orang, maka Insya Allah saya tetap kebagian manfaat amal, walau jasad saya nanti sudah lapuk di dalam kubur. Tapi namanya ilmu  terus menerus bergerak secara dinamis  untuk berubah ke-arah yang lebih baru dan lebih baik. Ilmu yang ditransfer hari ini, belum tentu masih valid untuk 25 tahun yang akan datang. Begitu juga enam judul buku yang telah saya tulis dan terpublikasikan, mungkin sepuluh tahun yang akan datang jika tidak di revisi jangan-jangan sudah tidak valid lagi, teranulir oleh teori dan ilmu baru. Nah kalau saya sudah tiada tentu sudah tidak kuasa lagi untuk merevisi buku-buku itu dengan edisi terbaru,:menyesuaikan dg teori dan ilmu terakhir. Nah kalau begitu ilmu yang ditinggalkan pun juga tak lestari mengiringi kita ke-alam kubur.

Kalau begitu yang harus menjadi renungan kita  sekarang, adalah bagaimana selama hayat masih dikandung badan, selama sehat masih ada di diri, selama harta masih kita punya, selama kesempatan masih berpihak kepada kita. Selagi jabatan masih melekat. GUNAKAN SEBAIK-BAIKNYA untuk MENAMBAH DAN MENABUNG AMAL. itulah agaknya yang kekal menjadi pengiring dan sahabat kita dalam penantian panjang di alam barzah sampai hari dibangkitkan.
Wain yakun shawaban faminallah. wain yakun khatha an faminni wa minasyaithan. Wallahu warasuluhu barii ani minhu.  (Dan sekiranya benar, maka itu datangnya dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti itu datangnya dari diriku sendiri (yang lemah ini) dan dari syathan. Mohon maaf oleh karenanya.
Wallu ‘alam bhisawab.
Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.

Thursday, 13 June 2019

SEDUAN KOPI

SEDUAN Kopi ANAK kandung dan SEDUAN Kopi anak MANTU.

Menarik budaya bangsa kita. Ada suatu daerah, ketika di upacara menikahkan anak, ada prosesi "Neraca", menimbang bobot "anak sendiri" vs "calon menantu". Pengarah acara nanya', "siapa yg berat". Ortu menjawab, "sama beratnya". Ini mengandung makna filosofi, bahwa anak sendiri dan anak menantu (mantu) nanti akan dipandang sama, diperlakukan sama dlm segala hal.

Dari upacara itu, pihak Ortu juga menyampaikan pesan kpd si Mantu, perlakukanlah Ortu mertua sbgmn Ortu sendiri. Sebab ada Ortu yg semua anaknya laki2. Banyak juga Ortu yg semua anaknya perempuan.

Melalui pernikahanlah ybs terlengkapi, semula tdk punya anak lelaki jadi punya. Sebaliknya yg ndak punya anak perempuan dg pernikahan, juga dpt setara anak, yaitu mantu perempuan diharapkan dpt melindungi dikala tua nanti.

Terasa benar makna firman Allah di surat An-Nisa ayat 28 terdiri atas dua penggal kalimat.
Penggalan kalimat pertama:
يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ
"Allah hendak memberikan keringanan kepadamu".
Karena Allah hendak meringankan beban kehidupan kitalah maka adanya pertalian pernikahan. Urusan kehidupan di dunia ini tak mungkin hanya di urus kaum lelaki, harus ada campur tangan kaum perempuan. Sebaliknya persoalan kehidupan ini tak kan teratasi sempurna oleh perempuan tanpa peran serta kaum lelaki. Sinergi pria dan wanita menjadi hidup ini ringan dan lebih bermakna.

Penggalan kalimat kedua An-Nisa 28:
 وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا
"karena manusia diciptakan (bersifat) lemah."
Allah tegaskan bahwa manusia diciptakan tdk sanggup segalanya, banyak kekurangan, walau mungkin setiap diri ada kelebihan. Oleh sebab itu, dlm kaitan bersinergi tsb. hrslah saling memahami kekurangan masing2. Bukan saling cela, tetapi hendaknya saling isi, saling melengkapi.

Mertua yg selanjutnya dipanggil "bunda", karena suami menyapa ibunya dmkn, mantu juga ikutan.
Bunda merasa beruntung karena mantunya meracik masakan begitu pas dilidah. Lebih2 bila menyedu kopi sangat enak. Taunya sangat enak, karena membanding dg kopi bila disedu anak kandungnya yg perempuan. Seduan kopi anak sendiri terasa encer dan agak hambar. Seduan mantu uenak sekali, kopi dan manisnya pas.

Rupanya persoalannya adalah:
Anak kandung, tau betul bahwa ibunya sdh usia di atas 70 an, tak baik lagi banyak konsumsi gula, apalagi si anak tau betul bundanya berbakat terkena Diabet lantaran almarhum nenek penderita kencing manis. Kopi juga ndak boleh terlalu kental berpotensi maag dan jantung. Wujud sayang si anak terpapar dlm racikan kopi. Dia ingin agar bundanya dpt bertahan hidup selama mungkin dlm kondisi sehat.

Anak mantu, sbg orang yg katanya MANTU singkatan MAN = Pertemuan, TU = Ssdh TUa. Maka hrs berusaha menempatan diri, mengkondisikan semuanya serasi dan nyaman. Termasuk menyedu kopi. Tak masalah yg penting Bunda merasakan kenikmatan kopi. Soal sakit dan usia kan itu urusan lain. Yg utama bunda mertua menikmati seduan kopinya. Kasihan bunda kalau serba dibatasi. Kasih sayang mantu perempuan ini tertuang memberikan kepuasan dlm seduan kopi.

Bgtlah wujud kasih sayang dan bentuk kebaktian ANAK kandung dan MANTU dalam seduan KOPI.

Lumayan ngisi waktu nunggu antrian periksa USG dan LAB di RSGS Jakarta 9 Syawal 1440 H.

Yg jelas diri ini sering berobat bukan lantaran seduan kopi, karena sdh puluhan taun tak lagi ngopi dan merokok, bahkan teh-pun setahun terakhir ini tak minum lagi. Smg pembaca terpelihara kesehatannya.
Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.

Wednesday, 12 June 2019

Mengenali Nafsu Lawwamah

Nafsu Lawwamah ada yg mengartikan jiwa yang masih ber cacat ber cela. Prof Dr. Hamka di tafsir Al-Azhar Juzu' 29 hal 231 s/d 234 stlh mensitir tafsir bbrp ulama menyebutkan "nafsu lawwamah adlh nafsu yg sll menyesali diri", dikaitkan dg "hari kiamat". Suatu peringatan bagi manusia bahwa perihal "menyesal", bukan saja di dunia, terlebih di akhirat nanti.

Tentu lbh baik menyesal di dunia, kemudian bertaubat kalau berdosa serta memperbaikinya, ketimbang menyesal di akhirat dimana ketika itu taubat sdh tak berguna.
Di akhirat nanti jangankan orang yg berdosa, orang yg shaleh-pun menyesal, kenapa kurang banyak berbuat baik.

Berbicara Nafsu Lawwamah didunia ini ringkasnya barangkali dpt di artikan
1. Adlh nafsu walaupun  menerima hidayah (petunjuk dari Allah, patuh kepada-Nya, dan selalu ingin berbuat kebajikan, namun sang pemilik nafsu lawwamah terkadang melakukan perbuatan maksiat atau sewaktu-waktu tak dapat menguasai hawa nafsunya, yakni godaan setan. Setelah godaan setan diperturutkannya, maka akan timbul sebuah penyesalan, lalu bertaubat kepada Allah dan kembali patuh kepada-Nya.

2. Nafsu lawwamah, adlh nafsu jika tidak dapat dikendalikan dg sempurna, yang terjadi adalah terkadang muncul sifat-sifat seperti binatang, namun tempo2  pula muncul sifat kemanusiaannya. Jadi msh terobang ambing antara "taqwaha" dan "fujuraha".

3. Nafsu lawwamah, nafsu jika kita mampu mengendalikan atau mempergunakannya dengan baik, justru nafsu lawwamah akan sangat membantu dalam hal mengembangkan daya dorong agar selalu menyeleraskan kehendak kita dengan kehendak Allah.

Kalau bgt pemilik Nafsu Lawwamah:
a. Hati suka perbuatan baik, tapi dihati msh bersarang kecenderungan berbuat kesalahan melanggar norma agama dan masyarakat.
b. Gemar membatah nilai-nilai kebenaran dari Allah, berupa sering mengkritisi ketentuan Allah setidaknya dlm hati. Blm sami'na wa ata'na.
c. Beramal blm benar2 ihlas karena Allah, masih tercemar riya' suka menceritakan kebaikan diri agar dikagumi orang.

Pembahasan nafsu lawwamah ini, beberapa sumber termasuk Prof. Dr. Hamka, dg mengulas Surat Al-Qiyamah ayat satu sampai dua:
لَاۤ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ
"Aku bersumpah dengan hari Kiamat,"
وَلَاۤ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
"dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri)."

Melalui pengenalan type "Nafsu Lawwamah" ini, layak adanya kita mengaca diri, apakah dlm diri ini sampai pada tingkatan "Nafsu Lawwamah". Selanjutnya ambil sisi baiknya, guna meningkatkan diri ke nafsu yg diredhai Allah.

Dmkn, mudah2an penulisanku ini tak terlalu banyak  tdpt kesalahan. Ku yakin pembaca memaklumi sklgs memaafkan bila ditemukan kesalahan.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum. Billahi Taupiq wall hidayah.
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.4

MENGENDALIKAN Nafsu AMARAH

Nafsu Amarah, bila digunakan untuk berbuat jahat, jelas pemilik utamanya adalah penjahat. Nafsu Amarah, boleh juga mungkin diterjemahkan "tak mau kalah" atau "tak rela dikalahkan". Dg dmkn nafsu Amarah boleh jadi  dimiliki orang baik-baik termasuk ustadz/ustadzah.
Tanda2 nafsu amarah a.l.:
a. Iri hati, susah hati bila orang senang. Senang hati bila mendengar orang susah, biasa orang yg di iri adlh: selevel, tetangga, keluarga dekat, seprofesi.
b. Dengki; tak suka orang lain sukses, ingin kesuksesan orang itu pindah untuknya atau hilang dari orang itu. Bila perlu tak segan berbuat curang.
c. Loba; ingin memiliki lebih, tak rela kalau orang lain memiliki yg sama dg dirinya. Jangan diharap orang ini adil bila disuruh ngatur pembagian.
d. Takabur, bangga diri, anggap diri hebat ketimbang orang lain, orang lain ilmunya dibawah dirinya. Orang lain belum sampai kajiannya. Dll kehebatan dirinya ditonjolkan.
c. Mengumbar amarah, gampang marah, soal sedikit saja sdh cukup buat pemicu marahnya. Seharusnya hal sepele jadi besar.  Ybs tak dpt menahan amarah.
d. Bermewah mewah. Ini masuk dlm nafsu amarah, karena bermewah ini menjurus kpd berlebih lebihan, pemborosan, mubazir. Biasa si empunya nafsu ingin dinilai hebat oleh orang lain.

Nafsu amarah ini kadang ada yg hrs dipelihara, makanya istilah yg cocok "pengendalian amarah". Iri dan dengki serta loba (tamak) dlm berbuat kebaikan perlu dipertahankan. Jangan mau kalah dlm berbuat kebaikan.
Juga dlm hal tertentu marah perlu dilakukan, jika sdh menyangkut terhinanya bangsa, qt hrs mengingatkan bangsa yg menghina kl perlu dg marah kpd penghina, tapi akhlaknya tdk balas menghina. Terancamnya keamanan negara, sbg anak bangsa siap bela negara sesuai kemampuan yg dipunya. Terhinanya agama yg kita anut, wajar marah selanjutnya mengingatkan penghina, mendorong negara melaksanakan hukum yg berlaku. Akhlaknya jg tdk melakukan penghinaan balik.

Ttg nafsu Amarah Nabi yusuf berujar diabadikan dlm Al-Qur'an:
وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ  اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌۢ بِالسُّوْٓءِ اِلَّا  مَا رَحِمَ رَبِّيْ  ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Surat Yusuf,  ayat 53)

Baru saja dua hari Ramadhan beranjak dari bumi, dimana dibulan Ramadhan shaimin-shaimat tlh berlatih mengendalikan nafsu amarah. Hsl latihan itu seyogyakan di terapkan dlm 11 bulan mendatang. Kalau dpt tetap konsisten. Tapi yg namanya kita manusia dpt saja makin jauh dari Ramadhan makin tergerus kemampuan mengendalikan nafsu amarah yg melekat memang disetiap diri. Ikhtiarnya barangkali kebiasaan shaum hendaknya diteruskan setiap bulan walau bukan bulan Ramadhan dg puasa2 sunnah semisal Senin-Kamis, puasa tengah bulan dll. Bulan ini msh tersedia 6 hari puasa Syawal.

Mudah2an shaum kita di bulan Ramadhan yg baru berlalu  diterima Allah, selanjutnya kita diberi kekuatan untuk mengamalkan perolehan Ramadhan di bulan2 lainnya sampai ketemu lagi Ramadhan yad.
Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.

PERAN Harta

Hidup manusia, siapun dia,  termasuk uswatun hasanah qt, nabi Muhammad s.a.w. bila ku taksalah simpul, beliaupun sblm di angkat menjadi Rasul adlh seorang "niagawan" sukses. Niagawan tentulah memupuk keuntungan dari perniagaannya. Keuntungan itu hakikatnya menambah asset atau harta. Maha benar Allah dg firman Nya (QS.surat 3= Ali 'Imran ayat 14) , dimana dlm firman ini Allah tdk mengecualikan Nabi dan Rasul ttg cinta kpd HARTA:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَـنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَـيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَـرْثِ ۗ  ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا  ۚ  وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan MANUSIA cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, HARTA BENDA yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik."

Dari ayat di atas, manusia  tanpa terkecuali cinta HARTA. Jelas harta benda memang dibutuhkan sekaligus disenangi manusia. Dan memang untuk bertahan hidup yg layak perlu ada harta benda.

Harta diberikan Allah kpd siapa saja, tak peduli orang itu beramal SHALEH atau beramal SALAH. orang beragama atau atheis.

Tak sedikit ayat Al-Qur'an menyatakan ttg harta diberikan Allah kpd siapa yg dikehendaki Nya. a.l:
اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيَقْدِرُ ۗ  اِنَّهٗ كَانَ بِعِبَادِهٖ  خَبِيْرًۢا بَصِيْرًا
"Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki); sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya."
(QS. Al-Isra' ayat 30).

Masalahnya, khusus ttg harta pertanggungan jawabnya ada dua y.i.
1. Proses memperoleh.
2. Untuk apa dipergunakan.

Proses memperoleh dg cara ilegal mnrt agama mrpkn harta yg haram. Harta haram dimakan menjadi makanan haram, di sandang menjadi pakaian yg haram. Kalau sdh begini do'a-pun tertolak.
Hadits Arbain Imam Nawawi (Hadits Kesepuluh) menceritakan yg pada pokoknya; seseorang yg berdo'a tak mungkin terkabul bila: makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan (perutnya) dikenyangkan dengan makanan haram.  (Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a.).

Bagi orang beriman se-apes2 hidup bila do'a tidak diterima Allah. Karena pada hahekatnya kita shalat setiap waktu adlh berdo'a. Apa jadinya diri ini nanti di akhirat  bila shalatnya tdk sekalipun diterima Allah.

Penggunaan harta haram, sekalipun dipergunakan untuk kebajikan tak kan mrpkn deposit amal. Apalagi lantas dipergunakan untuk perbuatan maksiat tentu menjadi dosa diatas dosa.

Harta halal saja hrs dpt dipertanggung jawabkan untuk dipergunakan ke tujuan ibadah kpd Allah. Bila sebaliknya harta halal untuk berhura-hura, digunakan untuk yg tdk diredhai Allah, akan ada harapan mrpkn tambahan timbangan dosa.

Perumpamaan pemanfaatan harta misalkanpun halal, untuk semata kepentingan dunia bukan dlm rangka ibadah kpd Allah:
مَثَلُ مَا يُنْفِقُوْنَ فِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيْحٍ فِيْهَا صِرٌّ اَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ فَاَهْلَكَتْهُ  ۗ  وَمَا ظَلَمَهُمُ اللّٰهُ وَلٰـكِنْ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
"Perumpamaan harta yang mereka infakkan di dalam kehidupan dunia ini, ibarat angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman (milik) suatu kaum yang menzalimi diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi mereka yang menzalimi diri sendiri."
(QS. Ali 'Imran ayat 117)

Kelak diakhirat tdk dpt dipanen menjadi penambah timbangan kebaikan.

Harta penting untuk dicari asal dg jalan halal. Kedudukan harta dlm berjihad, didahulukan dari pada berjihad dg jiwa, sbgmn Allah tegaskan QS Al Hujurat ayat 15.
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ   ۗ  اُولٰٓئِكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar."

Selamat berjuang di jalan Allah bagi yg berharta. Smg Allah menyertai perjuangan tsb. Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.