Wednesday, 12 June 2019

PERAN Harta

Hidup manusia, siapun dia,  termasuk uswatun hasanah qt, nabi Muhammad s.a.w. bila ku taksalah simpul, beliaupun sblm di angkat menjadi Rasul adlh seorang "niagawan" sukses. Niagawan tentulah memupuk keuntungan dari perniagaannya. Keuntungan itu hakikatnya menambah asset atau harta. Maha benar Allah dg firman Nya (QS.surat 3= Ali 'Imran ayat 14) , dimana dlm firman ini Allah tdk mengecualikan Nabi dan Rasul ttg cinta kpd HARTA:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَـنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَـيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَـرْثِ ۗ  ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا  ۚ  وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan MANUSIA cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, HARTA BENDA yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik."

Dari ayat di atas, manusia  tanpa terkecuali cinta HARTA. Jelas harta benda memang dibutuhkan sekaligus disenangi manusia. Dan memang untuk bertahan hidup yg layak perlu ada harta benda.

Harta diberikan Allah kpd siapa saja, tak peduli orang itu beramal SHALEH atau beramal SALAH. orang beragama atau atheis.

Tak sedikit ayat Al-Qur'an menyatakan ttg harta diberikan Allah kpd siapa yg dikehendaki Nya. a.l:
اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيَقْدِرُ ۗ  اِنَّهٗ كَانَ بِعِبَادِهٖ  خَبِيْرًۢا بَصِيْرًا
"Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki); sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya."
(QS. Al-Isra' ayat 30).

Masalahnya, khusus ttg harta pertanggungan jawabnya ada dua y.i.
1. Proses memperoleh.
2. Untuk apa dipergunakan.

Proses memperoleh dg cara ilegal mnrt agama mrpkn harta yg haram. Harta haram dimakan menjadi makanan haram, di sandang menjadi pakaian yg haram. Kalau sdh begini do'a-pun tertolak.
Hadits Arbain Imam Nawawi (Hadits Kesepuluh) menceritakan yg pada pokoknya; seseorang yg berdo'a tak mungkin terkabul bila: makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan (perutnya) dikenyangkan dengan makanan haram.  (Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a.).

Bagi orang beriman se-apes2 hidup bila do'a tidak diterima Allah. Karena pada hahekatnya kita shalat setiap waktu adlh berdo'a. Apa jadinya diri ini nanti di akhirat  bila shalatnya tdk sekalipun diterima Allah.

Penggunaan harta haram, sekalipun dipergunakan untuk kebajikan tak kan mrpkn deposit amal. Apalagi lantas dipergunakan untuk perbuatan maksiat tentu menjadi dosa diatas dosa.

Harta halal saja hrs dpt dipertanggung jawabkan untuk dipergunakan ke tujuan ibadah kpd Allah. Bila sebaliknya harta halal untuk berhura-hura, digunakan untuk yg tdk diredhai Allah, akan ada harapan mrpkn tambahan timbangan dosa.

Perumpamaan pemanfaatan harta misalkanpun halal, untuk semata kepentingan dunia bukan dlm rangka ibadah kpd Allah:
مَثَلُ مَا يُنْفِقُوْنَ فِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيْحٍ فِيْهَا صِرٌّ اَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ فَاَهْلَكَتْهُ  ۗ  وَمَا ظَلَمَهُمُ اللّٰهُ وَلٰـكِنْ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
"Perumpamaan harta yang mereka infakkan di dalam kehidupan dunia ini, ibarat angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman (milik) suatu kaum yang menzalimi diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi mereka yang menzalimi diri sendiri."
(QS. Ali 'Imran ayat 117)

Kelak diakhirat tdk dpt dipanen menjadi penambah timbangan kebaikan.

Harta penting untuk dicari asal dg jalan halal. Kedudukan harta dlm berjihad, didahulukan dari pada berjihad dg jiwa, sbgmn Allah tegaskan QS Al Hujurat ayat 15.
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ   ۗ  اُولٰٓئِكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar."

Selamat berjuang di jalan Allah bagi yg berharta. Smg Allah menyertai perjuangan tsb. Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.

TAHTA

Tahta dpt diterjemahkan sbg kekuasaan dan jabatan. Seorang masuk di dunia kerja atau bisnis, tentu mengejar peningkatan. Kalau  masuk kerja mulai jadi klerk, bercita-cita jadi kepala kantor, tercapai atau tdk itu soal lain. Seorang pedagang asonganpun akan bercita-cita punya toko besar atau bahkan mungkin ingin punya pabrik dari barang yg diasongnya. Terwujud atau tdk itu soal lain. Bgtlah seterusnya naluri manusia mengejar TAHTA. Karena dg TAHTA,  katanya singkatan dari "apa saja yg DITITAH,  mudah menjadi NYATA". Di dlm masyarakat ada pimpinan masyarakat sejak dari rukun tetangga sampai ke kepala negara itupun namanya juga TAHTA. Wajar menjadi cita-cita banyak orang. Adapun mengenai TAHTA dlm pengertian kekuasaan Allah memberitahukan;
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ ۖ  وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ  ۗ  بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ  اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Katakanlah (Muhammad), Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QSura: Ali 'Imran: ayat 26)

TAHTA  dpt diberikan Allah kpd siapa saja, tak peduli orang itu beramal SHALEH atau beramal SALAH, orang beragama atau atheis. Untuk di negeri-negeri  yg pemimpinnya di pilih rakyat, jelas yg akan naik Tahta tergantung mayoritas rakyatnya. Kalau rakyat banyak yg beramal shaleh insya Allah yg naik Tahta orang yg shaleh pula. Sebaliknya jika penduduknya banyak yg beramal "salah" maka yg akan mendptkan tahta tentu pemimpin yg beramal "salah" pula. Suatu hal yg wajar, karena atas dasar suara terbanyak.  Pemilih banyak yg salah yaa....., akan ber pemimpin salah. Rakyat banyak yg shaleh, insya Allah yg akan naik tahta figur yg shaleh.

Soal "shaleh" dan "salah", jika diserahkan menentukan bgmn kriteria shaleh dan salah kpd manusia tak didptkan pengertian yg sama dan sempurna.

Baik kita pakai referensi Al-Qur'an.
Orang shaleh itu memenuhi 4 syarat:
1. Beriman kpd Allah dan hari akhir.
2. Menyuruh berbuat makruf
3. Mencegah yg mungkar
4. Bersegera mengerjakan berbagai kebaikan.
يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ  ۗ  وَاُولٰٓئِكَ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
"Mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang shaleh."
(QS. Ali 'Imran ayat 114)

Jika mempunyai sifat yg berlawanan dg itu, termasuk orang yg blm menenuhi syarat sbg orang shaleh. Mereka kelompok orang yg salah.

Agama, kepercayaan apapun percaya adanya pencipta seklgus penguasa alam ini dan kemudian adanya hari akhir. Buat Islam; ini yg dimaksud "beriman adanya Allah dan hari qiamat".
Agama, kepercayaan apapun kelompok orang shalehnya mesti melakukan butir 2, 3 dan 4 di atas.
Kalau dmkn; agama, kepercayaan apapun bila tdk memenuhi syarat di atas mereka terkelompok orang salah.

Siapapun yg naik Tahta, sbg rakyat kita sll harus berdo'a smg Allah memberikan taufik dan hidayahNya. Kita senantiasa yakin Allah lah yg berkuasa membolak balik kan hati manusia.
Dg dmkn, disamping kita berdo'a untuk diri seperti dicontohkan Rasulullah dg do'a di bawah ini, baik juga mungkin selipkan do'a agar pemimpin2 bangsa kita diteguhkan hati mereka di atas agama-Allah.”

Do’a di bawah ini adalah do’a sunnah rasulullah dan merupakan do’a yang paling sering dibaca Nabi Muhammad s.a.w. agar kita (qalbu) tetap tegar dan istiqamah diatas agama yang benar. Allah yang Membolak-balikkan Hati manusia.

Bukan mustahil, misalnya apaboleh buat kita terlanjur terpilih ke orang yg salah,  setelah naik tahta "berkat do'a kita" menjadi orang yg shaleh melebihi ke shalehan yg kita duga.

Bukan mustahil pula, yg kita pilih sudah kita teliti dia orang yg shaleh, setelah naik tahta "lantaran tdk kita iringi dg do'a",  berubah menjadi orang salah lebih zalim ketimbang orang salah biasanya.

يامقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

‘Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik’

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas
agama-Mu.” (HR. Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525,
Lihat Sholih Sunan Tirmidzi III No. 2792)

Dmkn, smg kiranya Allah senantiasa melindungi pemimpin2 kita dg taufiq dan hidayahNya. Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.

Iman bukan dari Tampilan

Iman adlh variabel yg abstrak, tak berwujud. Beda dg harta dpt diukur satuannya. Tahta juga dpt disebut jabatannya, misalnya kepala kantor, direktur perusahaan, Raja, Perdana Menteri, dll.

Sedangkan iman tak tampak, o.k.i. orang lain tak dpt menerka persis kadar iman seseorang. Iman kadang (tdk mutlak) diketahui dari indikator misalnya dari amal perbuatan lahir ybs. Tegasnya Penampilan,  CASING blm tentu cerminan iman.

Contoh menarik dipetik kisah dari catatan harian Sultan Murad IV. Bahwa ada seseorang didapati sang Sultan ktk melakukan penyamaran, melihat kondisi rakyatnya di malam buta dg pengawal setianya.

Didapatinya orang agaknya sudah lama menjadi mayat tergeletak di lorong pinggir jalan. Sang Sultan dlm penyamaran itu membangunkan warga sekitar, menanyakan kenapa tdk diurus mayat orang ini. Memperoleh jawaban "Orang ini Zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina”. Sultan ajak orang mengantarkan jenazah ke rumahnya. Istri ybs sambil menangis melihat jenazah suaminya, seraya berucap: "Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang sholeh”.   Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget.. Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya”. Sang istri menjawab: “Sudah kuduga pasti akan begini:

“Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu di bawa ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata: “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin”.
“Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: “Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi”.  “Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam”.  ” Orang-orangpun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir.”

Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: “Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, menshalatimu dan menguburkan jenazahmu”.
Ia hanya tertawa, dan berkata: “Jangan takut, bila aku mati, aku akan dishalati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya”.  Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, menshalatkannya dan menguburkannya”.

Banyak ayat2 dlm Al-Qur'an yg berbunyi:
 وَيَنْهَوْنَ  عَنِ الْمُنْكَرِ
(mencegah dari yang mungkar)
Agaknya si mayit dlm kisah ini, berupaya untuk mencegah kemungkaran dg semampunya. Dg tidak mem publish nya di masyarakat hanya Allah dan istrinya saja yg tau. Akhirnya justru penilaian masyarakat terbalik, namun "do'anya" di ijabah Allah jenazahnya di urus oleh Sultan.

Nah dari kisah ini, belum tentu apa yg tampak jelek dibuat orang, mrpk ketidak berimanannya. Sebaliknya, perbuatan baik seseorangpun bukan jaminan wujud dari kuatnya iman ybs. Penampilan dan Casing tdk selalu mrpkn refleksi iman.

Harta dan Tahta dpt diberikan Allah kpd siapa saja tergantung ikhtiar dan usahanya. Untuk memperoleh Harta dan Tahta ikhtiar dpt dilakukan dg 3 jalan y.i.:
1. Jalan halal.
2. Jalan haram.
3. Jalan subhat.

Tetapi iman hanya diberikan Allah kpd orang yg dicintaiNya. Untuk IMAN tdk mungkin dg jalan HARAM, melainkan hanya dg jalan mendekatkan diri kpdNya. Sarana mendekatkan diri kpd Allah di era kini terbentang luas melalui mempelajari agama dan menekuni ibadah. Selanjutnya serahkan diri kpd Allah, sebab iman adlh hidayah. Iman dpt dicari dan dimotivasi namun kekuasaan Allah jua yg memberi.

Dmkn renungan hari ini smglah Allah memeliharakan iman qt, tetap istiqamah sampai maut menjemput. Menjadikan berkah harta qt dpt berguna untuk memudahkan ibadah. Menjadikan manfaat tahta qt, juga tahta pemimpin-pemimpin qt agar dg nya dpt mengamankan pelaksanaan ibadah seluruh ummat. Agar ilmu, umur, harta dan tahta berguna untuk menyeru berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran.

Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.

Monday, 3 June 2019

Shaum mencegah Buruk Sangka

Manusia di dalam menempuh hidup ini tidak akan luput dari kecenderungan yang tiga yaitu: Prasangka, Takut Risiko dan Ingin Untung.

PRASANGKA

Sejak bayi manusia sudah mempunyai pembawaan berprasangka dengan konotasi pihak lain diluar dirinya harus disikapi dengan hati-hati, karena akan dapat mencelakakan dirinya. Begitu terlahir bayi akan menangis, karena merasakan sesuatu yang asing dari yang dirasakannya selama di dalam kandungan ibunya. Selanjutnya menangis dijadikan sarana baginya untuk menolong dirinya untuk beberapa keperluan, buat menyatakan lapar dan haus, menyatakan kondisi sekeliling tubuhnya kurang enak. Perkenalan pertama terhadap manusia adalah orang-orang yang ada disekelilingnya, semula orang tersebut diduga akan membahayakan ternyata tidak, karena dari orang yang dekat dengan dirinya diperoleh minuman dan makanan serta memberikan kesegaran tubuh seperti memandikan, mengganti pakaian dan lain-lain keperluan. Bila disuatu keadaan ada orang lain yang mencoba mendekatinya selain yang biasa ia kenal, maka prasangka buruk akan timbul bagi si bayi, ia tidak langsung bersedia digendong, ia akan menangis sebagai ungkapan keraguannya untuk memberitahukan kepada orang yang biasanya ia kenal. Bahwa ada yang tidak ia suka karena akan mengancamnya. Pembawaan manusia ini terbawa sepanjang hidupnya. Kadar prasangka tinggi rendahnya tergantung pengalaman yang alami individu yang bersangkutan. Orang yang hidupnya di kota besar, prasangka negatif lebih tinggi dibanding orang yang tinggal di pedesaan.

Rumah orang di kota besar, pintunya senantiasa tertutup dan bahkan berkunci siang malam, dilengkapi pula dengan pagar tinggi pintu pagar berkunci di atas pagar ada kawat berduri. Tidak ketinggalan ada system alarm. CCTV.  Sedang rumah orang di desa, kadang tidak ditutup di siang hari, tidak ada pagar tinggi dengan pengamanan kawat berduri dan alarm. Jikapun ada pagar kadang sekedar pembatas halaman dengan jalan dan tetangga kiri kanan dan belakang rumah.

Di kota bila ada tamu yang ingin berkunjung, sebelumnya konfirmasi dulu, sedang di desa tamu datang langsung dapat ke rumah. Di Kota jika ada seseorang diluar pagar menekan bel rumah, isi rumah tidak langsung membukakan pagar, karena penuh curiga. Bukan berarti orang di desa sama sekali meninggalkan kecenderungan manusia berprasangka, hanya kadarnya lebih kecil dari orang kota. Penyebabnya adalah di kota penduduk lebih banyak sehingga tidak mudah saling kenal mengenal. Lagian banyak terjadi kejahatan dg berpura sbg tamu.

Shaum mangendalikan diri untuk tdk berprasangka buruk, walau tetap waspada. يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ  اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ
(Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa). Al- Hujurat 12.
وَاِنَّا لَجَمِيْعٌ حٰذِرُوْنَ
"dan sesungguhnya kita semua tanpa kecuali harus selalu waspada."
(Asy-Syu'ara' ayat 56).

Shaum melatih diri, untuk hati tidak berprasangka negatif kpd siapapun. Sebaliknya selalu berfikir positif. Sebab nilai puasa berkurang bila dihati ada prasangka buruk atau men-cari2 kesalahan orang.

2. TAKUT RISIKO dan 3. INGIN UNTUNG.
Insya Allah di publish di renungan Ramadhan hari berikutnya.

Dmkn renungan shaum Ramadhan hari ini. Mari qt masing2 diri berdo'a:
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ فَضْلَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَ صَيِّرْ أُمُوْرِيْ فِيْهِ مِنَ الْعُسْرِ إِلَى الْيُسْرِ وَ اقْبَلْ مَعَاذِيْرِيْ وَ حُطَّ عَنِّيَ الذَّنْبَ وَ الْوِزْرَ يَا رَؤُوْفًا بِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ
(Ya Allah, berkahilah aku di bulan ini dengan mendapatkan lailatul qadr. Ubah arah hidupku dari hidup yang susah menjadi mudah. Terimalah segala permohonan maafku dan hapuskan dosa-dosa dan kesalahanku. Wahai Yang Maha Penyayang terhadap hamba-Nya yang saleh).

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.

SHAUM hindari RISIKO

Manusia normal pasti takut terhadap risiko. Naluri manusia sadar maupun tidak sadar tetap berupaya menghindari risiko. Kendati semua orang paham bahwa ada risiko yang tidak dapat dihindari (seperti mati) semua orang pasti akan mati. (QS. Al-Jumu'ah ayat 8)
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ
(Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu)

Risiko mati memang ditakutkan, tapi takut ndak takut sama saja pasti tiba.

Risiko yang ditakutkan oleh manusia selain mati, umumnya yaitu:

a. Murni/fundamental. Adalah risiko yang tidak disengaja, misalnya kebakaran, pencurian, penggelapan, bencana alam. Untuk menghindari risiko ini manusia secara naluri berusaha melakukan pengamanan sebelum risiko itu datang, dengan berhati-hati, waspada dan melakukan persiapan penanggulangan bila risiko itu datang juga.

b. Risiko statis. Risiko yang tidak ada hubungan dengan perkembangan ekonomi dan IPTEK misalnya: Risiko hari tua Risiko Kematian. Risiko hari tua membuat manusia menyiapkan diri dengan menghimpun harta, selagi muda atau bekerja disuatu institusi yang memberikan jaminan masa tua. Tidak sama keberuntungan setiap orang menerima risiko hari tua ini. Yang sama adalah masing-masing berupaya menyiapkan diri. Ada orang yang bernasib baik, harta dihimpunnya di masa muda dapat dinikmati di masa tua sampai akhirnya ia meninggal. Sementara anak keturunannya berbakti kepada orang tuanya. Dalam pada itu ada orang yang kurang beruntung, tak berhasil menghimpun harta di masa muda untuk masa tua dan jikapun punya anak keturunan kurang dapat pula berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Risiko mati, semua manusia sadar bahwa dirinya bagaimanapun akan tutup usia, orang yang beragama dan insyaf, akan mengumpulkan bekal untuk kehidupan sesudah mati.
Shaum mrpkn salah satu ikhtiar untuk bekal, bakal persiapan menghadapi kehidupan di alam barzah.
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ  ۚ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Hasyr ayat 18).

Shaum dijalankan dg ibadah lainnya sbg bentuk takut risiko setelah kematian. Shaum yg sukses.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, Muslim, dll)

Tentu ini memotivasi ahli shaum untuk tdk takut menghadapi risiko maut. Apa lagi yg diharapkan manusia, setinggi apapun pangkat dan kedudukannya, sekaya apapun dia, bila mati, keluarga mhn do'a untuk si mayit "agar ybs diampuni dosanya dan diterima amal ibadahnya". Insya Allah ini akan diperoleh ahlus shaum mengacu hadist di atas.

Sedang risiko fundamental dan risiko statis di atas bagi pengamal shaum tidaklah terlalu dikhawatirkan. Karena takut itu disebabkan keadaan yang belum pernah terjadi pada dirinya, tetapi boleh jadi akan terjadi dan bahkan ada yang pasti akan terjadi. Pada saat sesuatu yang ditakutkan itu terjadi, takut itu akan pergi, karena ditakutkan atau tidak ditakutkan sama saja sebab telah terjadi. Shaum mengontrol takut risiko karena ahli shaum selalu ingat bahwa semua terjadi atas izin Allah. Tak ada yg sanggup menghindar dari takdir Allah.
وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗۤ اِلَّا هُوَ  ۚ  وَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآ دَّ لِفَضْلِهٖ  ۗ  يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِهٖ  ۗ  وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
"Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Yunus ayat 107)

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.

Shaum vs nafsu UNTUNG

Manusia tak kan luput dari kecenderungan yang tiga yaitu: Prasangka, Takut Risiko dan Ingin Untung.

Kecenderungan manusia ingin untung, kadang karena ingin untung justru malah merugi. Manusia cenderung ingin untung, karena memang manusia terlahir dengan kekurangan. Berapa banyakpun harta kekayaan, manusia tak kunjung puas. Ini dorongan nafsu. Kecenderungan ingin untung ini, belakangan dimanfaatkan oleh para penipu dengan menjanjikan hadiah melalui telepon dan SMS. Investasi bodong. Iming2 penggandaan uang, ingin berduit dg cara instan.

Dalam kaitan ini agar kita sekalian dapat mengendalikan kecenderungan ingin untung yang memang sudah menjadi kodrat manusia, sepertinya shaum mampu mengontrolnya. Sebab menggebunya ingin untung mrpkn dorongan hawa nafsu. Ada petunjuk Allah untuk manusia meraih keuntungan bila berhasil mengkondisikan dari dalam 6 perkara:

a. Beriman.   قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْن
(Q.S. Al-Mu'minun ayat 1)

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman"

Orang yang beriman hidupnya akan senantiasa beruntung sebab seluruh apa saja yang dialaminya, ia akan berserah diri kepada Allah. Ketika ia mendapatkan  kebahagiaan, ia menerimanya dengan penuh rasa syukur. Anugerah Allah diterima dan digunakannya sesuai peruntukan yang diatur oleh Allah dan Rasul. Orang beriman TIDAK menggunakan nikmat Allah, berupa kekayaan, jabatan dan kebahagiaan untuk hal yang justru merusak dan merugikan orang lain. Ketika orang beriman mendapat musibah ia akan bersabar sambil berdoa. Ia berdo’a agar Allah menghindarkan dirinya dari segala macam kerugian, bencana dan bahaya serta memberikan kesabaran baginya menerima cobaan. Kesabaran dan do’a ini membuat orang beriman selalu beruntung karena Allah akan memberikan pahala atas kesabarannya dan akan mengabulkan do’anya walaupun mungkin lambat, misalnya diujung hayatnya atau akan ditemuinya terkabulnya do’a itu setelah di akhirat. Ketika ada berita hadiah misalnya, ia akan mengkaji terlebih dahulu, tidak asal terima, apakah hadiah/keberuntungan ini sesuai dengan kaidah keimanan yang dianutnya.

b. Shalat. (Q.S. Al-Mu'minun ayat 2 dan 9)
الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ 
(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya,
وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ
"serta orang yang memelihara shalatnya."

Keberuntungan orang shalat dengan syarat bahwa shalat tersebut dilaksanakan dengan khusyuk/baik dan selalu berusaha untuk melaksanakan shalat berjamaah maka akan menerima banyak sekali keuntungan langsung selama berada di dunia ini, apalagi di akhirat nanti dengan ampunan dan rahmat Allah. Shalat  bila terlaksanakan dengan benar, akan mencegah perbuatan yang keji dan mungkar sejalan dengan janji Allah
اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ
(QS Al-Ankabut 45) "Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar".

Keberuntungan di dunia ini benar-benar dinikmati oleh orang yang jauh dari perbuatan yang keji dan mungkar. Orang yang berbuat keji kalau diketahui masyarakat akan dikucilkan. Orang yang melakukan kemungkaran, misalnya ambil contoh yang gemar dilakukan orang-orang yang punya kesempatan korupsi. Umpamanyalah memungkinkan lari keluar negeri, tapi hidup tetap tidak tenang. Jangankan keluar negeri dengan predikat lari, sedangkan bepergian biasa saja, tidak mengenakkan alias tersiksa, bila dibandingkan dengan berada di rumah sendiri, segala serba terbatas. Itu sebabnya orang dalam perjalanan mendapatkan kemudahan dalam shalat seperti jama’ dan qasar. Bagi orang shalat, dari waktu ke waktu iman diperbaharui, sehingga bila kesempatan korupsi itu muncul menjelang shalat zhuhur, setibanya shalat zhuhur setelah shalat niat itu terurungkan dengan pembaharuan iman ketika shalat (keculai shalatnya tidak benar, tetap saja tidak berbekas), tetap saja perbuatan keji dan mungkar berjalan terus.

c. Memelihara lidah.
وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ
"dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,"
(QS. Al-Mu'minun ayat 3)

Adalah beberapa malapetaka disebabkan oleh perkataan, orang sulit melupakan kalau tersinggung perasaan karena menerima perkataan yang menusuk perasaan. Oleh karena itu maka Allah memperingatkan jauhilah ngomong yang tidak berguna, karena kalau banyak ngomong yang tidak berguna maka ada banyak kemungkinan salah. Kesalahan akan sangat fatal dan tidak menguntungkan bila menusuk perasaan orang lain, menimbulkan fitnah. Titik berat ngomong ini adalah terutama jangan ngomongi orang atau terkenal di dalam terminologi agama ghibah.

Hanya ada 5 ghibah yang dihalalkan yaitu: 1. Bila terzalimi, 2. Memberi kesaksian, 3. Kasus yang ditanyakan, 4. Contoh dalam dakwah dan 5. Gelar seseorang kalau tidak disebutkan orang tersebut tidak dikenal. Diluar 5 itu ghibah, dilarang dan diancam dengan dosa diantaranya memakan bangkai saudaranya. (QS Al-Hujurat ayat 12)
 وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا   ۗ  اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ
(Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati)?

d. Menunaikan zakat
وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فَاعِلُوْنَ
"dan orang yang menunaikan zakat,"
(QS. Al-Mu'minun ayat 4)

Salah satu dampak zakat bagi penerima dan pemberi zakat adalah terjalinnya keharmonisan hubungan antar manusia selanjutnya akan menciptakan tatanan masyarakat yang kondusif sehingga menguntungkan semua pihak.

e. Memelihara kehormatan diri dalam mengendalikan nafsu.
وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ
"dan orang yang memelihara kehormatannya,(kelamin)"
(QS. Al-Mu'minun ayat 5)

Banyak ketidak beruntungan yang terjadi sebagai akibat mengumbar nafsu sex, untuk diri pelakunya sendiri, terhadap masyarakat dan bangsa.

f. Memelihara amanat
وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ 
"Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya,"
(QS. Al-Mu'minun ayat 8)

Ketika amanat sudah tidak lagi dipegang, maka keberuntungan tidak lagi akan dapat diraih baik orang yang mencederai amanat dan pihak korban pengkhianatan amanat. Negara kita menjadi begini, besar kemungkinan lantaran banyaknya pemangku amanat yang tidak lagi memegang amanat. Oleh karena itulah keberkatan tidak turun di negeri ini. Walau kita dianugerahi bumi dan air yang kaya raya. Tetapi bangsa ini tetap terpuruk, justru menjadi hamba sahaya di negeri orang yang mestinya miskin akan sumber daya alam. Sementara kekayaan alam di dalam negeri jikapun anak bangsa dapat menikmatinya hanya sebatas sebagai kuli, sedang tuannya masih diserahkan kepada bangsa asing.

Allah menjanjikan:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ  مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا  كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."
(QS: Al-A’raf 96)

Salah satu bentuk pendustaan ayat-ayat Allah adalah mengkhianati amanah seperti korupsi dan tidak menjalankan tugas sesuai amanah. Karena itu perlu pasca Rhamadan kita menen gok sbg individu dan sbg bangsa apakah  .....

Sepertinya bangsa ini sudah mewakili seluruh ummat nabi-nabi terdahulu yang pernah mendapat hukuman langsung dari Allah.

Rasulullah Muhammad pernah berdo’a akan empat azab jangan diturunkan untuk ummatnya. Dua diantaranya
dikabulkan dua hal ditolak.

Dua yang dikabulkan ialah tidak turun azab Allah dari atas dan dari bawah seperti ummat nabi terdahulu, seperti ummat nabi Nuh, Ummat nabi Luth Ummat nabi Sua’ib. Walaupun kini tingkah polah sbgn kecil anak bangsa kita sudah berbuat seperti ummat nabi-nabi terdahulu.

Sedangkan dua yang tidak dikabulkan Allah ialah nabi Muhammad memohon agar ummatnya tidak berpecah belah dan ummatnya tidak benci membenci. Apa yang kita rasakan sekarang, kita terpecah belah dengan berbagai aliran golongan, kadang satu golongan membenci golongan lain.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.

Identitas Penunggu di Terminal Taqwa

Terdapat 11 identitas orang2 yg berhenti nunggu di terminal taqwa. Ini agaknya cocok buat santapan rohani akhir hari shaum Ramadhan 1140.

Saya istilahkan menunggu di "terminal taqwa". Lantaran anggaplah bahwa stlh menjalani shaum Ramadhan qt pun menjadi taqwa. Di terminal inilah agaknya kita menunggu "tumpangan kendaraan" menuju maut yg se waktu2 tak terduga datang menjemput.

Di terminal inilah berhimpun orang2 taqwa. Orang taqwa   berindentitas 11 seperti saya sebut di atas. Dari 11 identitas taqwa tsb dpt dikelompokkan jadi 2 bagian.
1. Identitas taqwa jiwa atau Rohani.
2. Identitas taqwa amal pribadi

Identitas tawqa jiwa atau Rohani.
1. Iman kepada Allah. مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ
Orang tawqa percaya sungguh2 tiada Tuhan selain Allah.
2. Iman kpd hari akhir. وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ
Yakin betul bahwa, dunia ini akan kiamat, ada hari akhir tempat nanti dipertanggung jawabkan sgl amal perbuatan. Amal baik dibalas dg kebahagiaan. Amal buruk akan mendpt siksa.
3. Iman kpd malaikat. وَالْمَلٰٓئِکَةِ
Percaya bahwa ada mahluk Allah bernama malaikat, dg berbagai fungsi dan tugasnya. Diantaranya mengawal setiap diri. Mencatat amal baik dan amal buruk. Pengawas melekat setiap insan, shg tak akan luput sekecil apapun amal, tercatat oleh dua malaikat.
اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ  الشِّمَالِ قَعِيْدٌ
"(lngatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri."
(QS. Qaf ayat 17)
Dan.....
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)."
(QS. Qaf ayat 18).

4. Iman kpd kitab2. وَالْكِتٰبِ
Allah turunkan kitab Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Tlh terkumpul di dlm Al-Qur'an, hrs diimani secara keseluruhan, tdk sebagian2.

5. Iman kpd Nabi2. وَالنَّبِيّٖنَ
Semua Nabi mengajak meng Esakan Allah. Dikirim Allah ke bumi ini.

Identitas taqwa amal pribadi.

1. Mengeluarkan sbgn harta yg disayangi (  وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ  ) untuk diinfakkan/membantu:
a. Kerabat.  ذَوِى الْقُرْبٰى
b. Anak yatim. وَالْيَتٰمٰى
c. Orang miskin. وَالْمَسٰكِيْنَ
d. Orang dlm perjalanan (karena Allah).  وَابْنَ السَّبِيْلِ
e. Peminta-minta. وَالسَّآئِلِيْنَ

2. Memerdakan budak. وَفِى الرِّقَابِ
Kini sdh tdk ada lagi, namun perbuatan baik ini dpt berwujud, untuk majikan tdk terlalu memperhamba orang yg membantunya, orang yg makan upahan darinya. Memperlakukan mrk secara manusiawi. Bgt juga bos menjalin hubungan baik dg anak buah, shg terjalin hubungan harmonis.
3. Mendirikan shalat. وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ
4. Menunaikan zakat.  وَاٰتَى الزَّکٰوةَ
5. Menepati janji. وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا
6. Sabar dlm menghadapi setiap kesulitan.  وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ

Mereka itulah orang yg sangat benar dan orang yg taqwa.
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا  ۗ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

Identitas ideal orang siddiqun dan muttaquun tsb dipetik dari QS. Al-Bakarah 177.
Identitas taqwa inilah yg diperoleh stlh shaum Ramadhan. Hendaklah qt pertahankan ktk kita menunggu "diterminal Taqwa". Sebab identitas ini sbgn maupun seluruhnya dpt luntur selama qt menunggu di "terminal taqwa". Alangkah indahnya bila seseorang masih dpt mempertahankan identitas itu disaat "bis maut" datang menjemput. Agar identitas ini tetap bertahan hendaklah butir 1 sampai butir 11 tadi secara istiqamah dijalankan dan dipertahankan. Sebab dlm penantian di "terminal taqwa", bgt banyak godaan dan cobaan berupa sutuasi dan kondisi yg dpt menanggalkan identitas dimaksud.

Mudah2an shaum kita yg tlh berlalu 29 hari dan ke 30 hari ini jikapun misalnya ada kekurangannya Allah cukupkan shg menjadi shaum yg diterima.
Aamiin.

Rasulullah Muhammad s.a.w. memberikan jawabannya, ttg  salah satunya yg diaminkannya    dari  atas mimbar.....:..

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

"Amat merugi/hina seseorang yang Ramadhan masuk padanya kemudian Ramadhan pergi sebelum diampuni dosanya." (HR. al-Tirmidzi, Ahmad, al-Baihaqi, al-Thabrani, dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jaami', no. 3510)

Smg usai Ramadhan Allah tlh mengampuni dosa kita semua kpd Allah. Menerima seluruh ibadah kita. Juga yg tak kalah penting dosa kita antar sesama terklierkan. Saya mhn maaf lahir dan bathin kpd sidang pembaca tulisan saya, baik sblm maupun dlm bulan Ramadhan 1440H. Bila tdpt salah dan khilaf. Selamat idul fitri 1 Syawal 1440H. Taqabbalallahu minna wa minkum.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.