Friday, 13 July 2018

VIRUS IBADAH

Mungkin hal ini pernah dialami sembarang orang, apalagi mahasiswa. Flash disk terkontaminasi virus, tak disadari FD tsb di masukkan Lap top atau PC dirumah. Virus menular habislah semua data yang ada di PC/Lap top termakan virus yang dibawa oleh flash disk tersebut.
Begitulah perumpamaan tentang catatan amal dan ibadah kita bila telah terkena visrus, ia akan hapus, padahal sudah ber panjang masa kita menampung amal ibadah kita tersebut, dengan pengorbanan waktu, tenaga dan harta.
Ibaratnya seorang melakukan ibadah telah melakukan posting/input data dalam komputernya. Tetapi alangkah kaget dan kecewanya, setelah dibuka kembali komputer, semua postingan dalam komputer tersebut sudah hapus tidak terbaca lagi. Kenapa rupanya. Persoalannya terkena virus.
Adapun virus perusak ibadah tersebut dapat dikelompokkan ke dalam 8 (delapan) macam yaitu:
1. Riya.
Adalah suatu sifat manusia yang didorong oleh perasaan bathinnya, ingin agar setiap perbuatan kebaikan yang dilakukannya mendapat perhatian dari orang, bukan mengharapkan ridha Allah. Ingin mendapatkan pujian, penghargaan, salutasi dan sekurang-kurangnya terimakasih dari manusia.
Didalam Alqur’an masalah ini beberapa kali disinggung diantaranya di dalam sebagian surat Al Baqarah 264:
ۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ
"............, seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. .............."
Virus ke 2 sampai ke 8, karena terbatas ruang disajikan singkat, insya Allah ditulis episode y.a.d. dg dalil2 yg menyertainya y.i.:
2. Summ’ah
Suatu perbuatan keji/tercela sekalipun, dilakukannya asal mendapat penilaian baik dari masyarakat.
3. Ujub
Kagum terhadap diri sendiri, bahkan kekaguman itu kadang diproklamirkan kepada orang lain. Virus ini biasa menyerang orang-orang yang sukses dalam masyarakat, orang yang sukses dalam hidup.
4. Takabur
Sering diterjemahkan “sombong”. Suatu sifat menganggap diri lebih tinggi lebih mampu dari orang lain.
5. Berbangga Diri
Sifat ini lahir bagi orang yang berpunya atau berkedudukan sosial tinggi, ia berjalan diatas muka bumi sambil membanggakan dirinya, bisa bangga dengan hartanya, bisa bangga akan keturunannya bisa bangga akan keadaan phisik dirinya.
6. Dengki
Senang bila orang susah, susah hatinya bila orang senang, harapannya bahwa orang lain tidak boleh menyamai dirinya. Kalau boleh kebahagian orang lain diperuntukkan kepadanya.
7. Dendam
Keinginan diri untuk membalas, perbuatan yang tidak baik yang pernah diterima dari orang lain, pembalasan ingin ditujukan kepada orangnya langsung, kalau tidak dapat kepada anak keturunan orang tersebut.
8. Pemarah
Orang kalau lagi marah, cara berbicaranya, cara berfikirnya sudah diluar kontrol. Dalam keadaan diluar kontrol ini, bisa saja keluar kata-kata yang menyakiti hati orang lain. Padahal bila hati orang disakiti, sulit bagi yang disakiti untuk melupakannya, walau sesudahnya meminta maaf. Bila belum meminta maaf, maka kelak di hari perhitungan pihak yang disakiti akan mengklaim dihadapan mahkamah Allah. Kemudian Allah akan mengurangi nilai kebajikan yang kita bawa untuk ditransfer ke pihak yang disakiti.
Demikian 1 diantara 8 virus ibadah qt kenali, harapan qt dg mengetahui virus tsb,qt dpt waspada agar tdk terkena.
Insya Allah virus berikutnya lbh detil kan qt kenali insya Allah dikesempatan mendatang. Barakallahu fikum. Wslm. M. Syarif Arbi.

Friday, 6 July 2018

Puasa Ramadhan lalu

Ramadhan baru saja kita lalui dua Jum'at, dengan aneka pengalaman spiritual masing-masing ketika Ramadhan. Tiap individu memiliki pengalaman berbeda, mungkin:
*. Ada yang tidak tuntas menjalankan puasa, karena sakit, atau halangan syar’ie lainnya.
*. Ada yang merasa hampir puas, karena seluruh rangkaian ibadah Ramadhan beserta ibadah ikutannya terselenggara dengan baik.
*. Ada juga yang pertengahan, ibadah puasa tak satupun jebol, tapi ibadah ikutannya tak dapat mengikutinya.
*. Mungkin macam-macam lagi pencapaian yang anda dapatkan, anda dan Allah saja yang mengetahuinya.
Mungkin timbul pertanyaan di dalam hati, apakah puasa yang kita laksanakan dengan ibadah-ibadah ikutannya di terima Allah atau tidak.
Ini mungkin rujukan hadist yang agaknya layak kita jadikan referensi. Hadist Riwayat Ahmad, At Tirmizy dan Ibnu Majah ketika Aisyah r.a. bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. perihal tafsir dari surat Al- Mukminun ayat 60. yang berbunyi:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”
Aisyah r.a. bertanya “Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud ayat ini ialah orang-orang yang biasa mabok-mabok minum khamar, dan mencuri?.
Menanggapi pertanyaan ini Rasulullah bersabda: “Bukan wahai Putri As-Shiddiq! Akan tetapi itu adalah orang-orang yang rajin berpuasa, mendirikan shalat dan bersedekah, walau demikian mereka senantiasa khawatir bila amalan mereka tidak diterima Allah, karenanya mereka bersegera dalam mengamalkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”.
Jadi soal ibadah kita diterima atau ditolak oleh Allah s.w.t. serahkan bulat-bulat kepada Allah urusannya asalkan dalam beribadah kita telah memenuhi kriteria “Wal amalu bit tanjil”, beramal sesuai dengan kafiat, atau taca cara yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, diikuti dengan ikhlas karena Allah semata.
Menilik ayat di atas dan hadist berkenaan dengan itu, maka wajar agaknya jika kita merasa khawatir kalau-kalau ibadah kita tertolak.
Tetapi rupanya orang-orang yang merasa khawatir ibadahnya tertolak itulah, justru merekalah yang diterima ibadahnya.
Dlm keseharian kadang qt miris mendengar ada yg berani menyatakan amal seseorang tak sah dan ditolak, karena begini, begitu. Satu dan lain tak sefaham dg faham si pembuat pernyataan.
Sebaliknya qt juga miris bila mendengar ada orang yg memastikan kalau melakukan tata cara beramal seperti yg diajarkan menurut fahamnya pasti diterima Allah.
Padahal jelas soal diterima atau ditolak amal baik seseorang hak mutlak Allah. Panduan yg diberikan kpd qt hanyalah:
1. Ikhlas hanya untuk Allah. Kadar keikhlasan itu sendiri sangat abstrak yg kita sendiripun ndak tau, terpulang kpd Allah lagi apakah qt sdh benar2 ikhlas.
2. Mengikuti petunjuk Rasulullah. Karena qt hidup sdh 14 abad lebih dari Rasulullah, maka acuan i'tibak petunjuk Rasulullah, tentu dg jalan merifer kpd para ulama terdahulu dan pada ustadz/ustadzah yg datang kemudian kpd qt.
Ustadz/ustadzah itu dg macam2 keahlian dan kekhususan ilmu mereka mentransfer ilmunya dari referensi yg digunakannya, kadang berbeda pendapat, beda sudut pandang dll.
Sehubungan dg itu tidak ada kata lain "hanya kpd Allah kembali qt serahkan, apakah amal baik dan ibadah qt diterima atau ditolak Allah"
Puasa Ramadhan lalu
Ramadhan baru saja kita lalui dua Jum'at, dengan aneka pengalaman spiritual masing-masing ketika Ramadhan. Tiap individu memiliki pengalaman berbeda, mungkin:
*. Ada yang tidak tuntas menjalankan puasa, karena sakit, atau halangan syar’ie lainnya.
*. Ada yang merasa hampir puas, karena seluruh rangkaian ibadah Ramadhan beserta ibadah ikutannya terselenggara dengan baik.
*. Ada juga yang pertengahan, ibadah puasa tak satupun jebol, tapi ibadah ikutannya tak dapat mengikutinya.
*. Mungkin macam-macam lagi pencapaian yang anda dapatkan, anda dan Allah saja yang mengetahuinya.
Mungkin timbul pertanyaan di dalam hati, apakah puasa yang kita laksanakan dengan ibadah-ibadah ikutannya di terima Allah atau tidak.
Ini mungkin rujukan hadist yang agaknya layak kita jadikan referensi. Hadist Riwayat Ahmad, At Tirmizy dan Ibnu Majah ketika Aisyah r.a. bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. perihal tafsir dari surat Al- Mukminun ayat 60. yang berbunyi:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”
Aisyah r.a. bertanya “Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud ayat ini ialah orang-orang yang biasa mabok-mabok minum khamar, dan mencuri?.
Menanggapi pertanyaan ini Rasulullah bersabda: “Bukan wahai Putri As-Shiddiq! Akan tetapi itu adalah orang-orang yang rajin berpuasa, mendirikan shalat dan bersedekah, walau demikian mereka senantiasa khawatir bila amalan mereka tidak diterima Allah, karenanya mereka bersegera dalam mengamalkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”.
Jadi soal ibadah kita diterima atau ditolak oleh Allah s.w.t. serahkan bulat-bulat kepada Allah urusannya asalkan dalam beribadah kita telah memenuhi kriteria “Wal amalu bit tanjil”, beramal sesuai dengan kafiat, atau taca cara yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, diikuti dengan ikhlas karena Allah semata.
Menilik ayat di atas dan hadist berkenaan dengan itu, maka wajar agaknya jika kita merasa khawatir kalau-kalau ibadah kita tertolak.
Tetapi rupanya orang-orang yang merasa khawatir ibadahnya tertolak itulah, justru merekalah yang diterima ibadahnya.
Dlm keseharian kadang qt miris mendengar ada yg berani menyatakan amal seseorang tak sah dan ditolak, karena begini, begitu. Satu dan lain tak sefaham dg faham si pembuat pernyataan.
Sebaliknya qt juga miris bila mendengar ada orang yg memastikan kalau melakukan tata cara beramal seperti yg diajarkan menurut fahamnya pasti diterima Allah.
Padahal jelas soal diterima atau ditolak amal baik seseorang hak mutlak Allah. Panduan yg diberikan kpd qt hanyalah:
1. Ikhlas hanya untuk Allah. Kadar keikhlasan itu sendiri sangat abstrak yg kita sendiripun ndak tau, terpulang kpd Allah lagi apakah qt sdh benar2 ikhlas.
2. Mengikuti petunjuk Rasulullah. Karena qt hidup sdh 14 abad lebih dari Rasulullah, maka acuan i'tibak petunjuk Rasulullah, tentu dg jalan merifer kpd para ulama terdahulu dan pada ustadz/ustadzah yg datang kemudian kpd qt.
Ustadz/ustadzah itu dg macam2 keahlian dan kekhususan ilmu mereka mentransfer ilmunya dari referensi yg digunakannya, kadang berbeda pendapat, beda sudut pandang dll.
Sehubungan dg itu tidak ada kata lain "hanya kpd Allah kembali qt serahkan, apakah amal baik dan ibadah qt diterima atau ditolak Allah"
Guna penyerahan diri qt kpd Allah baik qt camkan surat Luqman 22:
وَمَنْ يُّسْلِمْ وَجْهَهٗۤ اِلَى اللّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى ۗ وَاِلَى اللّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ
"Dan barang siapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kukuh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan."
Smg ibadah puasa dan seluruh ibadah pengiringnya yg qt lakukan di bln Ramadhan lalu diterima Allah. Aamiin. Barakallahu fikum. Wslm. M. Syarif 

Menggapai Rahmat.

Alhamdulillah berkat DUMAY, dlm keadaan berbaring sakit selama 4 Sabtu belakangan ini baik di rumah maupun di RUMKIT, ku msh dpt mengunjungi para sahabat handai melalui tulisan.
Sabtu ini berkat dukungan do'a keluarga, sahabat handai, penyakitku sdh menuju penyembuhan. Kukunjungi lagi para pembaca smg berkenan kiranya membaca artikel2 ku. Seraya ku ucapkan terima kasih banyak atas do'anya.
Konsep hidup agar selamat dunia dan akhirat, dapat ditempuh dg 3 langlah:
1. menta’ati Allah dan rasul-Nya.
2. Memohon ampun atas segala dosa.
3. Beramal sosial dg tenaga, ilmu, jiwa dan harta.
ad. 1. Menta'ati Allah dan RasulNya.
Yakin bahwa Allah yg mengutus Muhammad sbg Rasul. Sehari-hari ucapan orang ini:
"Radhitu billahi Rabba, wabil islami diina, wabi Muhammad sallahu 'alaihi wassalami nabiya" (Aku rela Allah sbg Rabb ku, Islam sbg agamaku, dan Muhammad s.a.w. sbg Nabiku.) Selanjutnya yakin akan kebenaran ajaran agama yg dianutnya, maka sbg konsekwensinya menta'ati semua aturan, perintah dan larangan dari agama tsb. Berupaya mengikuti sunnah Rasul sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Sekuat tenaga menjalankan perintah Allah, semampunya meninggalkan larangan Allah.
Mereka memenuhi anjuran surat Ali Imran 132.
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
"Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat."
Mereka ini akan menerima janji Allah diberi rahmat. Sbgmn diketahui bahwa masuknya seseorang ke dlm surga bukanlah lantaran ibadahnya, bukan lantaran sadakahnya, bukan lantaran jihadnya, melainkan hanya karena "rahmat Allah". Tentu saja dmkn jg kehidupan dunia, bila disertai "rahmat Allah", akan aman sentausa sukses dan selamat.
ad. 2. Memohon ampun atas sgl dosa. Petunjuk ini dpt dicermati dari surat Ali Imran 133 dan 135.
وَسَارِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,"
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui"
*) Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.
Setiap berbuat dosa sgr minta ampun, baik atas kesalahan kpd Allah berdampak mencelakan diri sendiri maupun orang lain.
Kalau dosa mencelakan diri sendiri, berdampak menyusahkan hati/persaan sendiri. Hati/perasaan yg susah membuat tidak bahagia diri.
Apalagi dosa yg menyusahkan orang lain, malah dua pihak yg dibuat tdk bahagia.
Sekeras keras hati manusia, setelah berbuat dosa mesti membekas di lubuk kalbu yg paling dalam. Bekas2 kesusahan diri terakumulasi bakal menjadi biang tak bahagia, mrpk lantaran tdk selamat didunia dan juga diakhirat. Jauh dari "Rahmat Allah"
ad. 3. Beramal sosial dg tenaga, ilmu, jiwa dan harta.
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
"(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan."
Hati menjadi lapang, bila selalu dihiasi dg membahagiakan orang lain dg jalan infak, sadakah baik dg harta, tenaga maupun nasihat yg baik, membagi ilmu. Hati juga kan tak berbeban bila amarah dpt dicegah, manakala ada orang bersalah kpd dirinya, langsung dimaafkan.
Hati yg lapang, hati yg tak berbeban karena menyimpan amarah, mrpk pemicu kebagiaan dunia akhirat sbg kunci keselamatan dunia akhirat, mrpk rahmat Allah.
Bgt langkah ikhtiar, mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Insya Allah, menggapai rahmat Allah.
Smg Allah sll merahmati qt semua mencapai selamat didunia dan akhirat. Barakallahu fikum. Wslm. M. Syarif Arbi.

TOKO PEREDA KONFLIKS

Seorang kakek di atas 70an rutin membuka toko menyediakan alat pendukung sandang dari mulai jarum, benang, kancing, peniti dan retsleting. Toko dibuka 7 hari sepekan. Beliau buka toko mulai sekitar pk. 10 pagi, stlh sarapan pagi dan olah raga ringan. Berangkat dari rumah cukup berjalan kaki karena hanya berjarak dekat dengan kediaman kakek.
Kakek yg tlh menjalani masa pensiun 20 tahunan, 10 tahun terakhir ini, dipantau putra/putri mereka, sering cek-cok dg nenek. Putra/putri mereka sdh berumah sendiri, rata2 kehidupan mereka tlh mapan.
Entah kenapa belakangan ini, nenek jadi pengomel. Kakek serba salah, ada saja perkara yg diomelkan si nenek. Lama-lama kakek meladeni juga omelan si nenek. Anak-anak malu pada tetangga. Jalan keluarnya kakek dibelikan kios di kompleks pasar. Pilihan mata dagangan dipilih seperti di atas spy tdk repot mengukur, menimbang, memotong ketika melayani pembeli.
Berapa si omzet jual Jarum, Benang, Kancing, Retsleting, Peniti. Sebab orang membeli jenis pernak-pernik tsb tdk setiap hari, karena bukan kebutuhan utama. Apalagi bukan toko grosir, toko eceran, lokasi di kompleks pasar kecil. Dengan adanya toko ini setidaknya si kakek dpt berjauhan dg si nenek sekurangnya sejak pk 10 pagi sampai pk 5 sore. Jadi bukan tujuan mendapatkan penghasilan ini toko dibuka melainkan sebagai media PEREDAM KONFLIKS nenek dan kakek.
Ini salah satu potret nenek dan kakek yg lanjut usia. Bukan mustahil ketika masih sama2 muda kehidupan dmkn harmonis, stlh tua berubah tabiat. Jadi gampang tersinggung, mudah marah.
Ada case seorang kakek ngungsi ke rumah cucunya sejak hari raya idul adha baru mau pulang idul fitri hanya lantaran nenek tak mau ngasih cabe rawit untuk dirajang buat bumbu kecap makan sate. Si nenek sayang ama kakek takut mag nya kumat. Si kakek nganggap nenek sdh mulai tak sayang lagi.
Bgtlah usia tua, diwartakan di surat Yasin ayat 68
وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُـنَكِّسْهُ فِى الْخَـلْقِ ۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ
"Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti?"
Dpt saja kembali seperti anak2 lagi. Soal kecil di-besar2 kan.
Nenek kakek bertoko PEREDA KONFLIKS, beruntung memiliki anak2 yg bijak yg mengamalkan perintah agama berbuat baik kpd Ortu. Rasulullah berpesan:
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ
Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi).
Smg kalaulah kita sampai diusia lanjut, tetap dlm keadaan stabil mempertahan kebahagian, keharmonisan keluarga. Di anugrahi keturunan yg istiqamah, taat menjalankan perintah agama. Aamiin. Barakallahu fikum. Wslm. M. Syarif Arbi.

TerTAKAR tak TerTUKAR

Pernah kutulis penerima rezeki aktif dan penerima rezeki pasif. Kali ini kutulis ttg takaran rezeki kolompok pekerja informal. Bila perkerja formal takaran rezeki mereka sdh jelas, saban bulan terima gaji dg bilangan pasti. Lain halnya dg pekerja informal, tak ada angka pasti perolehan rezeki mereka. Banyak faktor mempengaruhi penghasilan pekerja informal, dpt berupa: trend pasar, cuaca, kalender, pesaing, dll.
Takaran rezeki setiap mahluk termasuk manusia tlh ditetapkan oleh Allah. Tiap orang beda. Saudara sekandung saja beda perolehan rezeki mereka.
Tukang bubur ayam jualan di kantin kampus, pukul 10 pagi dagangannya udh habis. Pertanyaan "kenapa volume bubur tdk ditambah, agar omzet naik". Jawab tukang bubur "sudah pernah dicoba bbrp kali ternyata bubur tambahan ndak ada yg beli, malah tekor". Jadi ternyata pelanggan pembeli bubur ayam (dilingkungan kampus) itu-itu saja sdh dlm jumlah tertentu. Lagian bubur ayam masa jualnya hanya sampai pk 10. Di atas pk 10 pelanggan datang sdh merancang makan siang dg menu andalan bukan bubur ayam lagi.
Dilain kasus, pedagang bubur kacang ijo, mangkal di area salah satu terminal di Jakarta. Biasanya sedari pk 9 pagi dagangan di gelar, bangsa pk 3 petang sdh mangkok terakhir. Eee suatu hari seblm zuhur dagangan habis, banyak pembeli hari itu. Bang "cangjo", tlpn ke rumah untuk buat lagi separo dosis, bakal nanti pembeli sampai pk 3 petang. Ternyata bubur baru ndak ada lagi yg mampir beli, hrs dibawa pulang. Untuk dijual besok cita rasa bubur ndak enak lagi walau dipanasi, menjaga nama dan kualitas, ujungnya tekor dibahan.
Kulanjutnya ke pedagang bubur ayam, bubur kacang ijo ketan itam, nasi kuning, nasi uduk dan rumah makan "siap bubar", dibilangan pinggir jalan di Jakarta.
Cukup menakjubkan; bahwa omzet mereka rata2 tiap hari sama, masing2 jenis penyedia makanan tersebut tak merasa bahwa pembelinya beralih kelain hati (jadi pelanggan tetangga) atas dasar volume dagangan mereka yg terjual. Kalaulah ada pelanggan yg tadinya duduk di lapaknya, tiba2 hari ini singgah di lapak sebelah, mesti ada saja pelanggan lapak lain yg menggantikannya.
Atas dasar kenyataan di atas dpt disimpulkan bahwa:
* REZEKI SUDAH ADA TAKARANNYA.
* REZEKI TIDAK TERTUKAR.
Dibanyak surat2 dlm Al-Qur'an Allah memberitahukan;
اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗ
"Allah melapangkan rezeki bagi orang yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang membatasi baginya".
Pekerja informal tingkat keberserahan dirinya kpd Allah lebih kuat dan mantab. Yakin benar bahwa rezeki Allah yg ngatur; sdh TERTAKAR ndak akan TERTUKAR.
Mungkin, blm banyak pedagang yg jadi bahan tulisanku ini ikut SOSMED, atau DUMAY (Dunia Maya) seperti para pembaca yg bahagia. Tapi setidaknya smg dpt menjadi acuan kita bersyukur akan rezeki yg selalu disiapkan Allah untuk kita. Barakallahu fikum. Wslm. M. Syarif Arbi.

Bubur Sumsum Sepeda.

Pagi itu mendung memang, tapi sdh terlanjur dimasak adonan tepung jadi bubur. Gula merah sdh terlanjur dicairkan. Pikir si tukang bubur; biasanya mendung begini justru dipagi hari sblm ngantor dan sekolah banyak yang doyan bubur sumsum.
Eee taunya baru saja melalui bbrp RT hujan lebat turun, terpaksa neduh di kanopi sebuah gedung. Bersama meneduh, seorang pemulung berikut karung plastik besar dipundak baru terisi sepojokan.
Pikiran tukang bubur sumsum melayang. Bersyukur dia, dagangan bubur sumsum kalau ndak laku dpt dimakan. Kalau lebih terlalu banyak, sedekahkan tetangga atau panti asuhan. Nah si pemulung gimana misalnya ujan trus, kan karungnya ndak ngisi. Siangan dikit sampah plastik udh diangkut truck sampah, alamat kosong, tu karung yg disangkutkan dipundak.
Tukang bubur nawarkan bubur sumsum ke pak pemulung, "udah kenyang" jawabnya sambil menyedot rokok dalam2.
Hujan reda tukang bubur lanjut ngayuh sepeda buburnya.
RT-RT yg dilalui sudah sepi, penghuninya sdh ngantor atau sekolah. Harapan terakhir, mangkal di sebuah sekolah SD, nunggu istirahat anak2 sekolah, siapa tau ada anak yg pengen jajan bubur sumsum. Walau kemungkinannya udh tipis timingnya dah lewat.
Betul juga, hari itu belanga bubur digoncengan sepedanya masih lebih separo.
Namun bang bubur, msh tetap bersyukur, karena hari itu msh ngantongi sedikit uang buat beli bahan bubur esok hari. Pekerjaan rutine puluhan tahun sdh ditekuni ini disyukurinya sebab tdk sepanjang taun hujan. Msh banyak hari2 panas yg bernas buat dagangan buburnya. Kembali dia membanding dirinya dg peruntungan pemulung yg sama2 neduh tadi. Dia merasa lebih beruntung dari pemulung setidaknya hari ini.
Pembaca yg budiman, tentu keberuntungan anda jauh lebih baik dari tukang bubur sumsum tadi.
Agaknya tukang bubur menghayati betul pesan bijak tetua kita dulu "jangan selalu liat keatas". Karena kalau ukuran kita hidup liat orang yg lebih sukses, kapan hati ini jadi adem. Apalagi tinggal di kota besar seperti Jakarta, bgt banyak orang ekstrim kaya. Namun bila kita liat ke bawah, di Jakarta bgt banyak orang yg ekstrim sengsara, lebih hebat dari di daerah.
Se-sengsara2nya orang di daerah tak sampai sesengsara orang yg ekstrim sengsara seperti di Jakarta. Dg meliat ke bawah membuat kita bersyukur.
Al-Qur'an memuat banyak kata "syukur", kalau 60 kali si lebih, satu diantara ayat mengingatkan:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
(Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 7).
Smg kita semua menjadi hamba Allah yg bersyukur. Aamiin. Barakallahu fikum. Wslm M. Syarif Arbi.

Air Susu Ibu.

Tkw yg baru saja sepekan menjadi PRT dirumah majikan di Saudi. Ngurusi suatu klg dimana salah seorang diantaranya anggota keluarga, ibu muda penderita kanker payudara stadium 4.
Tkw ini penampilan lumayan, selama bekerja tlh sepekan ini tdk ada yg mengecewakan, shalat tak tinggal waktu. Hanya saja dlm sehari beberapa kali ke kamar mandi, mengundang tanya ibu muda penderita kanker payudara.
Ibu muda memanggil si TKW, terjadilah dialog:
Ibu muda: kenapa kamu sering ke km mandi.
Semula dg gugup dan condong untuk tdk berterus terang, namum akhirnya TKW tsb menjawab apa adanya.
Tkw: saya harus rutin membuang air susu saya, kalau tidak payu dara saya akan mengeras.
Ibu muda: ada apa dg air susumu itu.
Tkw: saya berangkat kesini, pas baru sepekan melahirkan bayi saya di kampung saya.
Ibu muda: (sambil cek cek cek geleng kepala) kalau begitu kenapa brangkaaaat, ninggalkan si bayiiii.
Tkw: habis nunggu waiting listnya cukup lama, dari perut saya kosong sampai isi; dan brojol baru dpt giliran brangkat.
Ibu muda: air susumu jauh lbh berharga dari segalanya bagi si bayi. Kamu saya pulangkan segera, urus bayi mu.
Singkat kisah, Tkw sambil nangis2 dan memelas minta agar tdk dipulangkan karena keluarga di kampung sangat butuh uang. Uang hanya akan cepat didapat dg jadi TKW di luar negeri. Jadi TKW lokal pas-pas an hasilnya.
Ibu muda menjelaskan; jangan khawatir untuk kepulanganmu, tiket saya suruh belikan. Gaji mu salama 2 tahun dibayar penuh anggap saja kamu tlh menyelesaikan kontrak.
Bagi TKW punya bayi k/l dua pekan ini, tak punya pilihan lain, selain harus nurut karena sdh di TUNDUNG. Walau hati bercampur antara malu, pilu dan terharu.
Alhasil kembalilah berkumpul si bayi dg ibunya. Si bayipun menyunyut puting susu ibu nya. Air susu yg memang rezeki disediakan Allah untuk dirinya bgt dia datang ke alam dunia. Sempat lebih sepekan rezeki si bayi dibuang di kamar mandi di Saudi.
Kita ke Saudi:
Cerita si ibu muda pengidap kanker payudara stadium 4, sepulangnya TKW, giliran kontrol ke dokter untuk tentukan tindakan selanjutnya. Kejadian sangat menakjubkan terjadi. Kanker payudara si ibu muda tadi, hilang tak berbekas.
Kebaikan si ibu muda Saudi di bayar kontan oleh Allah.
Kisah ini ku sarikan dari khutbah Jum'at seorang khatib di suatu masjid di Jakarta.
Allah menepati janjiNya bahwa orang yg berbuat baik akan dibalas berlipat ganda di dunia dan akan lebih lagi balasan yg didpt di akhirat nanti. Seperti dinyatakan Allah a.l. brkt:
مَنْ جَآءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَا ۚ وَمَنْ جَآءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰۤى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
"Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi)."
(Al-Qur'an surat Al-An'am ayat 160)
وَقِيْلَ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا مَاذَاۤ اَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۗ قَالُوْا خَيْرًا ۗ لِّـلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَلَدَارُ الْاٰخِرَةِ خَيْرٌ ۗ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِيْنَ
"Dan kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa, Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab, Kebaikan. Bagi orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (balasan) yang baik. Dan sesungguhnya negeri akhirat pasti lebih baik. Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,"
(Al-Qur'an surat An-Nahl ayat 30)
Pembalasan Allah atas kebaikan dpt terjadi:
* langsung di bls tanpa berjarak waktu didunia ini.
* di balas setelah beberapa lama kemudian dg kebaikan dari orang lain yg tak di sangka2.
* di balas bukan langsung kpd pembuat kebaikan, tetapi kpd anak cucu cicit juriat keturunannya. Jadi jika suatu saat kita menerima kebaikan dari orang lain yg tak di sangka2 disuatu keadaan sukar dikaitkan korelasinya, mungkin nenek/datuk/uyut kita pernah berbuat kebaikan, pembalasannya kpd kita.
* lebih dari itu kebaikan itu akan dibalaskan lebih baik lagi di akhirat (tentu saja kebaikan ikhlas karena Allah semata).
O.k.i. jangan ragu berbuat kebaikan, kadang dpt dibuktikan sendiri balasannya, kalau tdk dpt balasan untuk diri sendiri biarkan jadi investasi anak cucu juriat qt. Asalkan ikhlas karena Allah semata di akhirat kan diterima. Seperti dijanjikan Allah di surat Zalzalah ayat 7:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ
"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
Demikian kisah ini kupersembahkan, mudah2an memotivasi qt untuk berbuat, menebar kebaikan di sisa2 usia qt yg semakin hari berkurang ini. Aamin. Barakallahu fikum. Waslm, M. Syarif Arbi.