Saturday, 31 January 2015

KORUPSI dan KARUNIA



Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang memerintahkan kita untuk mencari karunia Allah. diantaranya ternukil dalam surat Al Jum’at (62) ayat ayat 10. 
 

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah
Perlu diingat bahwa karunia dapat berwujud menjadi dua;  yaitu:
1.      Karunia berupa nikmat, bermuara kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
2.      Berupa istidraj, berujung laknat yang membawa bencana di dunia dan malapetaka di akhirat nanti.
KARUNIA berupa NIKMAT
Adalah karunia yang dapat membahagiakan untuk kehidupan di dunia ini dan juga nanti akan membuat penerima karunia untuk kebahagiaannya setelah di akhirat nanti. Wujud dari karunia itu adalah berupa kenikmatan, kemudahan dalam hidup, mempunyai rezeki yang luas, serba berkecukupan, terpandang  dalam masyarakat, anak-anak keturunan tidak mengecewakan. Aman dan sejahtera lahir dan bathin.
Indikasi bahwa karunia itu adalah berupa nikmat dapat ketahui dari:
a)      Bagaimana proses Karunia didapatkan, yaitu dengan tata cara yang halal dan baik, tidak menzalimi orang lain, dengan cara yang syah menurut hukum yang berlaku dalam masyarakat dilingkungannya. Termasuk tentunya bukan dengan jalan korupsi, bukan dengan mengambil hak orang lain dengan illegal, tidak mengambil hak orang lain dengan kekerasan (merampok/mencuri/merampas), atau bukan mengambil hak orang lain dengan cara halus (menipu, mungkin juga cara halus ini termasuk korupsi).
b)      Bentuk Karunia yang diperoleh, haruslah berwujud yang tidak akan melarutkan diri si memperoleh karunia, sehingga menjauhkan dari hakikat kehidupan ini. Hakikat hidup ini adalah untuk mengabdi kepada Pencipta manusia dan kehidupan. Misalnya lantaran mendapatkan sesuatu benda hasil karunia, sehingga yang bersangkutan disibukkan merawat/mengagumi benda itu. Karunia yang menjadikan penerima karunia menjauh dari hakikat hidup itu, dapat berupa harta, berupa pangkat dan jabatan, kehormatan dan dapat pula berupa anak dan keturunan.
c)      Untuk maksud apa Karunia itu dicari, sidang pembaca sudah paham benar bahwa setiap amal itu dinilai dari niatnya. Begitu juga orang mencari karunia itu niatnya apa. Segala macam karunia itu baru merupakan kenikmatan bila diniatkan mencarinya bukan untuk jor-joran, bukan untuk megah-megahan, bukan untuk persaingan agar lebih dari orang lain. Banyak orang terjebak oleh kecendrungan hawa nafsu termotivasi persaingan kegidupan orang lain. Untuk memenangkan persaingan itu, kadang menempuh segala macam cara, tidak lagi memperdulikan sagala macam norma. Padahal yang namanya persaingan tak akan habis-habisnya. Boleh saja menang bersaing tingkat RT, tapi bila ditanding di tingkat RW mungkin sudah kalah, selanjutnya boleh saja terkaya di tingkat RW, belum tentu terkaya di tingkat Kelurahan dan seterusnya sampai se Kecamatan, se Kabupaten, Provensi dan se Indonesia.
KARUNIA berupa ISTIDRAJ
Adalah juga karunia yang dapat membahagiakan untuk kehidupan di dunia, tetapi belum tentu akan membuat penerima karunia berbahagia di akhirat nanti, menurut acuan/petunjuk agama. Wujud karunia berupa kenikmatan, kemudahan hidup, rezeki yang luas, serba berkecukupan, terpandang dalam masyarakat, mempunyai anak-anak keturunan sukses dan tidak mengecewakan, tetapi karunia itu belum tentu membuat ketenangan bathin walau mensejahterakan secara lahir.
Juga karunia  berupa istidraj  terindikasi sama dengan indikasi karunia berupa nikmat  yaitu:
a)      Bagaimana proses Karunia didapatkan. Karunia diperoleh dengan jalan tidak halal, dengan jalan merugikan dan menzalimi orang lain, karunia diperoleh dengan melanggar ketetuan hukum yang berlaku, termasuklah menipu, mencurri, merampok dan korupsi.
b)      Apa bentuk Karunia yang diperoleh. Karunia yang diperoleh kalaulah dia berupa benda, berupa harta atau anak-anak cucu keturunan, pangkat dan jabatan serta penghargaaan dan penghormatan masyarakat,  yang bersangkutan saking cintanya kepada karunia itu membuat ia melupakan Allah.
c)      Untuk maksud apa Karunia itu dicari. Sejak semula pencari karunia Allah yang demikian, telah berniat untuk mencari karunia demi bermegah-megah, demi kejayaan didunia. Allah memperturutkan niat yang bersangkutan, sehingga diapun akan sukses dan hartanya akan makin bertambah, kemulian dan penghargaan masyarakatpun semakin menyanjung.
Karunia berupa istidraj walau pada awalnya seolah-olah tak akan berakhir, tetapi kita banyak melihat contoh orang-orang yang mendapatkan kejayaan dengan istidraj itu, berujung laknat belum lagi di akhirat nanti,  di dunia ini saja sadah banyak ditampakkan Allah.
Contohnya orang yang memperoleh harta dengan jalan korupsi, diapun mendapatkan karunia berupa harta yang banyak, yang diperhitungkan secara logika tak akan terhabiskan sampai tujuh turunan. Akan tetapi kalau korupsi tersebut terbongkar, maka diri yang bersangkutan akan menghabiskan sisa hidup di dalam bui, sementara harta yang terkumpul tersebut tidak begitu banyak lagi gunanya untuk menyenangkan diri. Keluarga diluar bui akan dipandang rendah dalam masyarakat.
Adapun karunia yang berupa istidraj, dapat kitra jadikan rujukan hadist  dari Ubah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,
   
Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44).
Boleh dikata, Allah sengaja “merajuk”, agar semakin senang, sehingga mereka samakin “besar kepala”, merasa bahwa segala apa didunia ini dapat diperoleh dengan kemampuannya dan lupalah bahwa segala usaha tak akan berhasil tanpa bantuan Allah.
Juga pantas menjadi renungan kita tentang istidraj ini akan hadist  (HR. Ahmad, no.17349, Thabrani dalam Al-Kabir, no.913, dan disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 414).

Jika ada orang yang berbuat dosa tetapi mendapat kesenangan dan tidak mendapat adzab dari Allah maka bisa jadi itu adalah istidraj. Kesenangan tersebut hanyalah kesenangan sesaat di dunia yang akan dibalas / digantikan dengan adzab / siksaan oleh ALLAH baik segera di dunia atau di akhirat”.

Sementara istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai ‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung. Allah biarkan orang ini dan tidak disegerakan adzabnya. Allah berfirman di dalam surat Al-Qalam ayat 44,


44. Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,





Persoalannya kenapa Allah berbuat demikian? Kenapa Allah tidak memberi hidayah saja dan menyadarkan mereka ?

Itu karena hidayah tidak akan diberikan kepada mereka yang menutup hatinya dan tidak bersedia menerima petunjuk Allah, bahkan mereka menjadikan kebaikan yang diajarkan Allah sebagai bahan untuk mengolok-olok. Hidayah bisa saja datang kepada orang yang dzalim dan gemar berbuat dosa jika kemudian orang tersebut membuka hatinya untuk menerima petunjuk-petunjuk Allah yang terdapat dalam ajaran agama.


Dari secercah paparan di atas kiranya dapat menjadi renungan kita bahwa:
1.      Carilah karunia Allah itu, sekuat tenaga dan pikiran dengan ilmu dan perbuatan yang dimiliki tetapi harus dalam koridor pentunjuk Allah dan Rasul-Nya.
2.      Jangan terpesona apalagi lantas ikut-ikutan kepada orang yang mencari karunia Allah itu dengan jalan yang tidak sesuai koridor agama dan hukum yang berlaku. Karena kadang banyak semboyan yang muncul “Sekarang ini untuk mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal”.
3.      Kuatkan iman, bahwa Allah menciptakan kita tanpa kita mengisi formulir pendaftaran, jadi bukan atas permintaan kita, semata-mata hak dan kehendak Allah. Oleh karena itu tanamkan keyakinan bahwa Allah sudah pasti bertanggung jawab dengan ciptaan-Nya.


Wallaahu a'lam bish-shawab...

Friday, 23 January 2015

Objective dan Subjective



Dalam suatu kampanye, sang “jurkam”, dengan suara lantang penuh percaya diri berpidato diruang sebuah sekolah SD di suatu desa dengan penerangan lampu petromak. Antara lain pidato yang berapi-api itu: “Kita harus mampu memilih wakil-wakil kita yang representative, untuk duduk dilembaga legeslatif dan akhirnya wakil-wakil rakyat kita itu nanti akan menentukan kita punya nasib, sebab merekalah yang nantinya akan mengangkat siapakah yang akan menjadi pemimpin eksekutif di negeri kita ini, agar mereka memimpin kita dengan arif, memimpin negeri kita ini dengan kreatif penuh inisiatif dan inovatif tetapi tetap objektif”. Ini adalah kampanye pemilu sebelum jaman reformasi, sebab Pilkada dan Pilpres belum langsung dipilih oleh rakyat.
Walau kalimat pidato yang dikutip di atas, disampaikan dengan kalimat panjang tanpa jeda dan senapas, karena  diucapkan dengan lancar dengan intonasi yang baik, agaknya para hadirin yang sebagian tetua kampung itu, terpana diam dan penuh kemengertian.
Sebagian tetua kampung yang usianya yang sudah kepala enam, didudukkan dibarisan depan dengan kursi “sedan” (istilah di kampung = kursi yang empuk besar dan rendah, mungkin sebangsa kursi sofa). Si jurkam sempat melirik ketika ia sedang pidato, bahwa beberapa diantara tetua itu mengeluarkan sapu tangan dan menyeka matanya. Agaknya mereka terharu dan bahkan ada yang menangis sambil menahan cegugukannya.
Karena rencana pidato yang akan disampaikan belum selesai, si jurkam terus saja meneruskan pidatonya sampai seluruh materi tersampaikan sesuai scenario yang ditetapkan partai untuk merebut hati rakyat. Tetapi di akhir pidato, sebagai kesimpulan diucapkan kembali isi pidato seperti yang terkutip di atas. Langsung saja Bapak-Bapak tua di barisan depan mengambil lagi sapu tangan dan mengusap matanya dan diantaranya ada yang cegugukan.
Sudah menjadi tradisi, setiap ada acara begini ada jeda isterahat untuk beramah tamah, walau acara sudah ditutup, namun keramah tamahan bangsa kita tetap terjaga. Tamu dihormati sambil menikmati minum atau makan walau ala kadarnya kue penganan berbahan tepung singkong buatan kampung. Bapak dibarisan depan yang mengusik perhatian sang jurkam, sudah pulang duluan, karena mereka umumnya tidur tidak boleh terlalu malam. Kalau terlambat tidur dari pukul 10 han malam, nanti bakal “kancilan” (yaitu susah tidur sampai pagi). Ujungnya bukan mustahil bakal jatuh sakit.
Begitu para tetua itu pulang, tidak sabar si jurkam ingin mengetahui, apa gerangan yang membuat pak-pak tua itu pada terharu dengan pidatonya, betul-betul mengherankan, sebab pidato yang sama juga disampaikan dengan meteri yang sama dikota dan di desa lain. Sampai hapal si jurkam itu dengan kalimat-kalimat pidato yang harus disampaikan. Namun tidak menemukan reaksi seperti dikampung ini.
Iapun bertanya dengan seorang anak muda yang menjadi panitia penyambutan jurkam, merupakan kader partai di kampung itu. “Apa agaknya yang membuat pinisepuh-pinisepuh kita itu terharu dengan pidato saya itu” tanya si jurkam. Lama juga si ketua panitia tidak dapat memberikan jawaban, setelah terjadi berapa jurus dialog. Walau si ketua panitia juga melihat kejadian itu, karena ia duduk di kursi di belakang meja, berhadapan dengan hadirin. Akhirnya salah seorang dari hadirin yang masih ada dalam majelis, sudah agak berangkat tua usianya mungkin di bawah enampuluhan menjelaskan. “Begini pak, dahulu di kampung ini, pernah ada seorang guru ngaji yang sangat-sangat kami hormati dan disayangi oleh penduduk. “Seregi guru” (sebutan sangat hormat untuk mendiang), bernama “Abdul Latif”. Ketika Bapak menyebut-nyebut “reperesentatif”, “eksekutif”, “legeslatif”, “Inisiatif”, “inovatif”, “kreatif” dan “objektif”, para penisepuh itu tergugah kembali ingatannya kepada “tuan guru” yang teramat mereka hormati dan sayangi. Mereka mungkin menyangka bahwa Bapak kenal atau setidaknya pernah tau reputasi “tuan guru” mereka itu. Itulah sebabnya sebagian terharu dan mungkin ada yang menangis.”
Belakangan istilah-istilah penuh dengan “tif” di atas banyak lagi digunakan misalnya kata “Objective”. Yang diartikan menurut kamus bahasa adalah: “menurut kenyataan” jadi tak boleh ditambah-atau dikurangi, bolah juga di kata arti objective “apa adanya”. Sebagai lawan objective ialah subjective. Menurut kamus, subjective diartikan “menurut pandangan sendiri”. Persoalannya adalah, sepertinya kita dipertotonkan di madia bahwa agaknya “Objective” itu sendiri mengandung “Subjective”, sebab setiap pakar sepertinya menterjemahkan menurut kenyataan itu berbeda-beda. Kalau sudah berbeda-beda artinya tidak sesuai kenyataan, kalau sudah tidak sesuai kenyataan kan artinya “subjective”.
Pinisepuh di kampung diceritakan di atas mungkin sudah tiada, dan yakin kalau nanti pemilu mendatang jurkam datang lagi ke kampung itu dengan pidato yang sama, sudah dipahami hadirin. Tapi cerita ini memberikan pelajaran buat kita bahwa kalau memberikan penjelasan kepada suatu lingkungan, sebagai apapun kita, apakah sebagai jurkam, sebagai penceramah, sebagai pemberi materi disuatu kelompok sebaiknya dipelajari lebih dahulu, atau sekurangnya dicari informasi tentang audience anda. Selanjutnya ketika berbicara kitapun dapat menggunakan bahasa yang dapat dimaknai oleh para penanggap kita.

Friday, 16 January 2015

TRAUMA, KETUDUHAN



Biasa setiap pagi tiba, Bu Sudi (nama bukan sebenarnya) menyuruh mampir “tukang belanjaan dorong” yang tiap pagi lewat di depan rumahnya. Ibu-ibu tetangga kiri-kanan dan bahkan juga yang mukim dari dalam gang ikut meramaikan bursa belanja ke tukang sayur dorong.
Ditengah transaksi sayur dan ikan gerobag tukang sayur pagi itu seorang tetangga ibu rumah tangga melintas, membawa sesuatu di dalam kantong kresek hitam.  Dasar bu Sudi yang ramah, si ibu itu disapa: “dari mana, ikutan belanja yuk” tegur Bu Sudi ke bu Ifin (bukan nama sebenarnya). Bu Ifin langsung menjawab datar “ndak Ibu,  saya mau langsung pulang, mau segera minum ini”  sambil mengangkat kantong kreseknya yang berisi seperti kaleng persegi. Itulah sebabnya bu Sudi tertarik ingin tau apa isi kantong kresek tersebut. Ibu Sudi yang memang orangnya cukup perhatian dengan tetangga itu, langsung menghampiri bu Ifin, untuk ingin melihat apa yang ada dalam kantong kresek itu.
Betapa kagetnya bu Sudi ternyata barang yang dikatakan akan diminum oleh bu Ifin yang ada di kantong kresek tersebut adalah sekaleng Baygon. Kontan bu Sudi nyerocos memberikan komentar “Bu Ifiiiiiiiin, jangan main-main, ini racuuuuun langsung matiiiiii, jangan becanda ah”. “Saya memang pengen mati buuu, sudah capek menghadapi hidup ini, saya sudah tak sanggup dengan himpitan ekonomi rumah tangga”, demikian kira-kira jawaban meluncur deras dari mulut bu Ifin, selain banyak lagi keluhan yang dia sering sampaikan selama ini ke beberapa tetangga-tetangga.
Itulah sebabnya ketika arisan RT,  250 rupiahan, minggu lalu dimana yang narik sebetulnya Bu Sudi. Bu Ifin  minta agar kumpulan uang arisan berjumlah 5 ribu rupiah (dua puluh tahun lalu) itu untuknya, dengan ikhlas bu Sudi mengizinkan. Sebab bagi bu Sudi nilai 5 ribu tidak begitu materil, sebagai isteri seorang kepala bagian di instansi pemerintah, dibandingkan bu Ifin tetangga dalam gang persis di belakang rumahnya itu yang telah lama menjanda.
Baru saja bu Sudi sedang sibuk meramu masakan dari bahan yang dibeli dari tukang sayur pagi itu, terdengar jeritan dari seorang anak cewek limatahunan,  nyelonong masuk ke rumah bu Sudi langsung ke dapur lewat pintu dapur. “Ibu bu, ibu bu, ibu bu” teriak anak itu. Bu Sudi terkaget, “kenapa ibumu”, Tanya bu Sudi. “ndak tau bu, ibu kenapa”, jawab anak itu sambil menangis.
Tanpa pikir panjang bu Sudi reflek mematikan kompor dan langsung berlari menuju rumah bu Ifin. “Itu bu, ibu di lantai atas” kata si anak. Untuk diketahui rumah bu Ifin lantai duanya dengan lantai satu dihubungkan dengan tangga kayu cukup sempit dan hampir vertikal, karena rumah sangat kecil dan sederhana. Lantai atas terbuat dari papan.
Bu Sudi menapaki tangga kayu menuju lantai atas, betapa ngenesnya hati bu Sudi, ternyata Bu Ifin sudah tidak bernafas lagi. terlintas dipikirannya untuk menyuruh anak bu Ifin memberi tahukan tetangga lain. Setibanya beberapa tetangga, kebanyakan Ibu-ibu dan kalau adapun anak lelaki anak kecil yang belum sekolah. Para suami mereka sedang beraktivitas di tempat pekerjaan masing-masing, sedang suami bu Sudi sedang tugas ke luar kota.  Inisiatif bu Sudi untuk memanggil petugas di puskesmas yang tak jauh dari RT mereka. Sementara itu untuk memudahkan, bu Ifin yang sudah tidak bernafas lagi itu, diturunkan dari lantai dua dengan digotong bersama ibu-ibu yang ada atas komando bu Sudi.
Setibanya petugas puskesmas, mungkin paramedis, petugas dapat memastikan bahwa Bu Ifin telah meninggal dunia dan dari bukti yang ada bu Ifin mati karena keracunan Baygon. Langsung rukun tetangga mengambil inisiatif mengurus jenazah dan Bu Sudi memberi saran agar Jenazah segera dikebumikan, dengan pertimbangan almarhumah tak punya siapa-siapa lagi, kecuali anak perempuan yang belum sekolah.
Keesokan harinya bu Sudi didatangi petugas yang mencari tau lebih dalam, tentang kematian Bu Ifin. Petugas bukannya tidak beralasan, karena infromasi banyak mengarah bahwa bu Sudi banyak tersangkut atas kematian yang sementara diduga bunuh diri itu. Mulai dari sidik jari yang ada di kaleng Baygon. Bu Sudi adalah orang yang ditemui terakhir sebelum almarhumah bunuh diri dan sebagian saksi mendengar dialog antara bu Sudi dengan bu Ifin sebelum meninggal. Juga dihubungkan bahwa bu Sudi pernah memberikan uang arisan yang semestinya hak dirinya, tetapi diserahkan ke bu Ifin dan karena itu punya uang untuk membeli sekaleng Baygon.
Karena memang bu Sudi tidak bersalah, biar dituduh dengan alasan apapun tidak dapat membuktikan bahwa bu Sudi perekayasa kematian bu Ifin. Walau beberapa hari petugas datang semacam menginterogasi bu Sudi. Singkat cerita tidak terdapat bukti bahwa bu Sudi terlibat menghilangkan nyawa bu Ifin. Namun peristiwa ini membuat bu Sudi, benar-benar menyesal telah memegang kaleng Baygon sambil menasihati almarhumah, sehingga sidik jarinya berserakan di kaleng Baygon. Bu Sudi menyesal kenapa dia yang mengomando menurunkan jenazah dari lantai atas. Bu Sudi tidak menyangka bahwa niat baiknya untuk mengusulkan segera mengebumikan jenazah, dipersoalkan oleh petugas. Bu Sudi juga tidak mengira bahwa niat baiknya menyerahkan uang arisan haknya ke Bu Ifin dikaitkan bahwa lantaran itu, jadi modal bu Ifin membeli Baygon untuk diminum bunuh diri.
Cerita duapuluh tahun lalu itu benar-benar membuat bu Sudi kapok, trauma dan berusaha untuk menghindar dari kondisi-kondisi yang menjadikan dirinya ketuduhan seperti yang dialaminya itu. Tetapi entah sudah suratan tangan barangkali, kejadian itu beberapa bulan lalu di tahun 2014 hampir saja terulang kembali.
Usia juga mungkin menjadi penyebabnya, terakhir ini bu Sudi jadi langganan dokter jantung. Kejadiannya ketika bu Sudi berobat di suatu rumah sakit mendapat nomer 44. Karena nomornya diperkirakan baru dapat giliran sesudah zuhur, maka bu Sudi memilih pulang dulu kerumahnya yang terbilang tak jauh-jauh amat dengan rumah sakit.
Sesudah melaksanakan shalat zuhur dan makan siang, bu Sudi pun bergegas menuju rumah sakit. Sampai di rumah sakit ternyata nomor sudah sampai 31. Diperkirakan bakalan pukul 3 sore juga baru dapat giliran, bu Sudi memilih duduk di deretan antrian pasien, dianya duduk sederet dengan seorang kakek-kakek yang juga pasien spesialis jantung. Berdialoglah bu Sudi dengan kakek tetangga duduknya itu, ternyata itu kakek dapat nomor 37, jadi lebih duluan 7 nomer.
Entah apa yang telah terjadi, setelah beberapa kalimat berbicara, tiba-tiba si kakek terkulai lehernya ke pundah bu Sudi. Semula dikira bu Sudi ini kakek genit amat “sudah bau tanah” masih genit. Tapi setelah digesernya perlahan badannya, si kakek mengikuti rebah perlahan. Kontan dia ingat peristiwa 20 tahun silam, langsung dengan pelan dihindarinya tubuh renta itu rebah dan bu Sudi memilih segara menuju toilet rumah sakit dan dengan dada bergoncang kuat mengunci diri di kamar mandi.
Sementara tak lama kemudian, kematian si Kakek diketahui banyak orang dan diantaranya ada yang berucap, “tadi ada istrinya duduk disini pakai baju biru”. Bu Sudi makin diam di kamar toilet wanita, dengan gemetar dan tak berani keluar. Dia betul-betul trauma menjadi ketuduhan menyebabkan orang meninggal.
Tak lama kemudian jenazah dipindahkan dari tempat pasien antri entah kemana bu Sudi tak mau tahu dan cepat-cepat pulang, dengan berusaha tak banyak orang yang dapat melihatnya melalui lorong lain dari rumah sakit, diputuskan antrian nomor 44 itu tidak ditunggu.
Peristiwa ini dapat terjadi kesembarang orang, oleh karena itu maka berhati-hatilah dalam hidup ini termasuk rupanya kita harus berhati-hati dalam berbuat baik. Dalam menghadapi hal-hal seperti tersebut dapat disarankan misalnya:
·         Bila ada tetangga yang sakit, jangan sembarangan memberikan obat meskipun anda mempunyai obat yang biasanya dapat menyembuhkan sakit tersebut. Kalau lagi apes bisa saja tetangga tersebut meninggal, sebenarnya bukan lantaran obat yang anda berikan dia meninggal, mungkin sebab lain. Tetapi anda dapat saja ketuduhan seperti bu Sudi.
·         Bila ada tetangga anda seperti kasus di atas, lebih baik sebelum kunjungi rumah tetangga itu,  anda usahakan ajak tetangga-tetangga lain. Kalau memungkinkan usahakan beritahukan segera ke pengurus RT.
·         Jika ada tetangga anda seperti kasus bu Ifin, walau kedengarannya bercanda, segera ajak tetangga-tetangga lain untuk menasihatinya bersama-sama. Jika memungkinkan beritahukan ke RT, gunakan power RT untuk merampas Baygon itu guna diamankan.
Demikian, mungkin anda pembaca, punya gagasan lainnya yang lebih jitu untuk lebih berhati-hati dalam hubungan bermasyarakat, karena kadang kebaikan belum tentu berujung dengan kebaikan pula, itulah namanya dunia. Dalam pada itu sikap tak peduli kepada tetangga adalah suatu tabiat yang tidak terpuji.

Sunday, 11 January 2015

KEPUASAN PELANGGAN



Setiap menjemput  jamaah pulang dari pergi Haji, kuteringat kembali yang kami alami belasan tahun lalu.  Ketika itu seluruh jemaah yang baru pulang haji di tempatkan lebih dahulu di asrama haji.  Sanak keluarga, menjemput  jamaah haji yang baru pulang di asrama haji.  Lumrah memang, kalau disetiap lokasi banyak keramaian,  termasuk keramaian dadakan seperti di asrama haji yang ramai semusim itu, banyaklah pedagang  yang  juga dadakan.
Adalah disekitar lokasi banyak pedagang yang menyediakan pernak-pernik oleh-oleh yang biasa dicangking orang pulang haji untuk buah tangan ke sanak saudara dikampung nanti. Diantara nya terlihat oleh kami begitu melangkah keluar gerbang asrama, sederet pedagang menjual KORMA.  Berjajar kaleng  empat persegi seukuran kaleng minyak 20 literan dengan lebel Kurma di keempat sisi kaleng. Kelihatannya kaleng  terisi penuh kurma,  kontan dalam banyangan calon pembeli bahwa lumayan kalau membeli sekaleng kurma ini, setera 20 literan. Dapat memperbanyak jumlah kurma bakal oleh-oleh. Banyak pembeli yang mampir dan ketika ditanya harganya juga tak jauh beda dengan di negara belum lama ditinggalkan jamaah.
Kami juga termasuk yang tertarik untuk membeli.  Betapa tercengangnya kami ketika setelah sampai di rumah memeriksa isi kaleng tersebut, ternyata yang bersisi kurma hanya ditengah bundaran tutup mulut kaleng.  Teknik kemasannya  dengan menggunakan silinder  karton  mengelilingi mulut kaleng sampai kedasar kaleng, sedangkan bagian kedalam antara dinding kaleng dengan  silinder  karton itu diisi dengan serutan kertas. Dengan demikian isi kaleng itu tak lebih dari se silinder karton, untungnya masih terisi sampai ke bawah.
Lain lagi dengan penjaja Salak disepanjang jalan disuatu kota di tanah air ini. Target pasar mereka adalah pengendara mobil. Dari kejauhan pengemudi akan melihat salak  di sebuah keranjang disusun mumbul  dengan model gundukan keatas. Bayangan pembeli dari kejauhan demikian banyak salak dalam keranjang, karena keranjangnya juga cukup tinggi, sehingga terbayang dari dasar keranjang sampai kepermukaan keranjang ditambah lagi mumbul diatas keranjang tentu banyak sekali Salak tersebut.  Mereka menawarkan dagangan Salak itu bukan atas dasar kiloan atau jumlah butir tapi itulah satuannya adalah keranjang.
Pembeli yang belum pernah, karena sudah terlanjur mampir dan turun dari mobil,  melihat penampilan Salak sekeranjang yang mumbul itu, setelah tawar menawar ala kadarnya membayar kadang lebih dari sekeranjang. Hampir dapat dipastikan pembeli tersebut akan kecewa setelah sampai di rumah, karena isi keranjang dari permukaan sampai kebawah bukannya Salak, biasanya dari daun-daun kering.
Kedua kelompok penjual ini, tidak menerapkan acuan dasar pemasaran bahwa kepuasan pelanggan adalah paling utama, guna menumbuhkan loyalitas pelanggan.  Mereka tidak mengharapkan pelanggan loyal  yang akan membeli kembali dilain waktu. Pedagang ini tidak berkeinginan menciptakan pelanggan loyal yang memberikan informasi kepada orang lain bila suatu saat ke lokasi mereka berdagang untuk membeli dagangan mereka. Para penjual tradisional ini tidak menyadari bahwa pelanggan yang loyal akan membela bila ada orang yang pernah membeli dagangan mereka memberikan penilaian miring terhadap mata dagangan mereka.
Biginilah profil sebagain kecil pedagang kecil kita yang masih mengutamakan volume penjualan untuk keuntungan sesaat dan tidak memikirkan jangka panjang jauh kedepan. Mereka hanya memanfaatkan pesona pada tampilan dan tidak peduli dengan kekecewaan  sesudahnya. Aliran ini berpendapat bahwa biarkan pembeli yang sudah pernah membeli kapok,  toh akan muncul pembeli baru. Padahal berdasarkan banyak penelitian bahwa mempertahankan pelanggan lama jauh lebih menguntungkan ketimbang  menunggu  pelanggan baru,  sementara pelanggan lama hengkang.
Pertanyaan kita adalah: Apakah para pemimpin kita ketika memasarkan program mereka tempohari mengemasnya seperti pedagang Kurma dan pedagang Salak pinggir jalan yang hanya mengutamakan ketertarikan pembeli melalui penampilan di permukaan? Apakah mereka juga sama dengan pedagang Salak dan Kurma seperti dicontohkan, juga berpendapat, biarkan konstituen lama kapok, toh ketika memasarkan program yang akan datang pasti banyak lagi penggemar baru.  Andalah yang dapat menjawabnya. Mereka ketika ingin programnya dibeli oleh rakyat, mengemas diri dengan penuh kesederhanaan, pro rakyat.  Kini rakyat yang telah terlanjur membeli, seumpama anda termasuk pembeli; bukalah sendiri “kaleng janji” dan “keranjang harapan” yang terlanjur anda beli, apakah sama penampilan kemasan dengan isi, silahkan lihat sendiri.