Monday, 30 December 2013

TUAN RUMAH “WELCOME”



Sebagai orang Indonesia dari provinsi manapun asalnya pasti hubungan kekeluargaan dan famili  sangat memegang peran, begitu pula hubungan silaturahim antar sesama. Setiap kita punya teman akrab di setiap kelompok di mana kita berada. Ada teman akrab selama di kampung berupa jiran tetangga. Ada teman akrab selama masih sekolah di SR/SD, sekolah di SMP dan SMA sampai ke perguruan tinggi. Hubungan keakraban itu kadang dapat bersambung berkesinambungan sampai tua, tak jarang terikat lagi dalam hubungan pernikahan dan lain sebagainya.
Hal yang saya ungkap ditulisan ini, sering dialami banyak orang dalam kaitan hubungan kekeluargaan, hubungan persahabatan tersebut. Sahabat atau keluarga kadang kini terpisah oleh kota, bahkan oleh negara. Namanya sahabat namanya kerabat, ada beberapa kemungkinan terjadi:
1.       Kadang ada satu pihak katakanlah “si A” merasa persahabatan itu masih ada adanya, sehingga ingin ketemu kepada sahabatnya misalnya “si B” sementara pihak “B” juga merasakan hal yang sama. Dalam ini pertemuan sangat meriah. Apalagi sudah puluhan tahun tidak ketemu, sepertinya cerita lama terputar kembali dan tak habis-habisnya. Biasanya berlanjut dengan tukar menukar nomor HP dan terus sesekali  berkomunikasi.
2.     Dapat juga terjadi antara si “A” dan si “B”, hanya si “A” yang masih merasa berteman, masih merasa akrab. Pertemuan kalau juga berlangsung, keadaannya tidak meriah, hambar, tandanya percakapan/obrolan berat sebelah, stater bahan omongan hanya dari si “A”. Kalau pertemuan itu dirumah si “B”, tuan rumah sesekali melihat ke pintu, sekali-sekali melirik jam. Duduk si tuan rumah gelisah dan sebenarnya dapat dibaca dari bahasa tubuhnya, bahwa dianya tidak ikhlas menerima tamu, teman lama itu. Kalau anda kebetulan jadi si “A” sebaiknya cepat-cepat pamit, inilah disebut “tuan rumah yang tidak welcome” kata anak sekarang.
3.     Pertemuan ini kadang juga dapat berlangsung dibingkai dalam reuni di suatu tempat, sekelompok kawan lama misalnya pernah satu sekolah, pernah setempat pekerjaan. Dalam pertemuan sesekolahpun, kalau panitia tidak pandai-pandai meracik acara, peserta akan mengelompok dalam strata, mengelompok dalam status sosial, mengelompok dalam tingkat ekonomi mereka sekarang. Banyak kelompok yang saya ikuti reuninya, pada reuni teman pernah setempat pekerjaan, kadang nampak sekat antara yang dulu pernah jadi atasan dan jadi bawahan. Mereka akan mengelompok dalam selevel. Sulit sekali berbaur, sebab masing-masing masih merasa seperti di kantor dulu, mereka lupa bahwa sekarang status sudah sama-sama swasta. Tidak mustahil setelah sama-sama swasta justru yang tadinya bawahan punya kelebihan kesuksesan dari yang semula jadi atasan.
Persoalan tuan rumah yang tidak “welcome” tersebut bukan saja pada kasus contoh kedua di atas. Tapi giliran ini bukan teman lama, teman yang baru dikenal belakangan, katakanlah baru beberapa tahun terakhir ini. Bila dianya bertamu ke rumah kita, dianya sanggup ngobrol yang panjang. Ketika giliran kita berkunjung ke rumahnya dari bahasa tubuhnya dianya ingin segera kita pulang.
Faktor penyebabnya macam-macam, diantaranya tuan rumah tidak welcome ini, keadaan rumahnya kurang nyaman, misalnya ruang tamunya kecil dari rumah ukurannya kecil. Namun sebenarnya ini bukan alasan pokok, ada juga orang yang rumahnya kecil, ruang tamu sekaligus jadi tempat tidur kalau malam, tapi si tuan rumah walau menerima tamu dengan hanya menggelar tikar karena tidak punya kursi tamu, namun yang bersangkutan menerima dengan sangat ramah, tamu yang berkunjung ke rumahnya. Tuan rumah ini sangat welcome. Tidak ada yang disuguhkan si tuan rumah, hanya segelas air bening, tapi dengan penuh kebersahajaan dan ikhlas.
Bagi anda dengan keluarga besar, punya beberapa saudara ibu dan beberapa orang saudara bapak, sehingga banyak om dan banyak tante dan banyak sepupu. Akan dapat merasakan sendiri di rumah om yang mana nyaman kalau berkunjung, di rumah tante yang mana enak untuk bersilaturahim. Di rumah saudara sepupu yang mana kalau berkunjung dari lain kota enak rasanya buat menginap. Ukurannya bukan dari luasnya rumah, luxnya rumah dan kamar-kamar. Ukurannya bukan pada enak dan banyaknya makanan yang disuguhkan. Tapi ukurannya adalah dari perasaan, kadang kita justru lebih nyaman berkunjung ke rumah suadara yang tidak seberapa kaya, enak berkunjung dan nginap di rumah om dan tante tertentu walau tidak begitu besar rumahnya atau kaya orangnya. Itulah masalah perasaan yang susah untuk didefinisikan, tapi dapat dialami setiap orang.
Perilaku yang tidak welcome itu, sebenarnya dapat dikoreksi dengan introspeksi diri, mengubah perilaku. Walaupun kalau sudah terlanjur mendapat “cap” tidak welcome sudah sulit, namun bukannya sesuatu yang tidak dapat diusahakan. Bagi sahabat-sahabat, bagi om atau tante yang keluarganya tidak respek terhadap anda, masih ada waktu mengubah diri.
Agamaku mengajarkan kepada tuan rumah, banyak sekali panduan dan acuannya namun kupetikkan salah satu hadits berikut.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)
Adapun untuk pihak yang bertamu, juga agamaku memberikan panduan adab bertamu antara lain:
1.     Pilih waktu yang tepat, jangan sampai kehadiran anda merepotkan tuan rumah, mengganggu istirahat.
2.     Beritahukan rencana kedatangan anda ingin bertamu, jangan mendadak, kecuali sangat mendesak. Tetapi minimal ketika hendak masuk rumah harus mengucapkan salam. Kalau sudah tiga kali mengucapkan salam tidak ada jawaban urungkan pertamuan.
3.     Hendaklah si tamu menyebutkan keperluan bertamu.
4.     Bersegeralah pamit, jika urusan sudah selesai.
5.     Kalau nginap ditempat keluarga atau sahabat, usahakan tidak lebih dati tiga hari.

         

Saturday, 21 December 2013

SADAP



Bahasa demikian pesat berkembang, mengikuti perubahan zaman. Seorang mahasiswa mengeluh bahwa bahasa Inggris begitu merepotkan, ucapan dan tulisan hampir sama, pengertiannya jauh berbeda. Dia mengambil contoh “lending” dengan “landing: hanya beda di huruf “e” dan “a” artinya satunya “mendarat” dan satunya lagi “menyewakan/meminjamkan”. Mahasiswa lainnya menimpali bahwa bahasa Indonesia pun juga sama, begitulah bahasa,  beda sedikit  bunyi, maka beda jauh arti. Contoh bahasa Indonesia seperti kata “Kucing”, “Kancing” dan “kencing”, beda tipis tapi artinya: “hewan mengeong” , “buah baju untuk menghubungkan bagian kanan dan kiri baju” dan “buang air kecil”. Mahasiswa lain menambahkan seperti “kuping” dan “kuting”. Kuping dengannya manusia dan hewan mendengar, sedangkan “Kuting”, pisau atau parang terlepas dari gagangnya /tanpa tempat pegangannya.
Penghujung tahun 2013, bangsa kita dihebohkan oleh kata “sadap” akan beda jauh artinya bila “a” sesudah “s” diganti “e” artinya suatu cita rasa yang disenangi atau keadaan yang menyenangkan. “Sadap” sendiri punya arti lain. Bila itu digunakan untuk petani karet maka artinya adalah melukai pohon “para (karet)” untuk mengeluarkan getah/latek dari batang  pohon  karet. Contohnya seperti gambar di bawah ini, ketika aku pengin coba bagaimana si “penyadap” karet di kebunku di pedalaman Kalimantan-Barat memproduksi karet.



Di kampungku penuturan “Sadap” untuk pohon karet sebetulnya tak lazim digunakan sebelum tahun tujuhpuluhan, berkat sudah bertambah kentalnya perpaduan penduduk berbagai daerah di Indonesia, penduduk asli kampungkupun sudah mulai terbiasa menggunakan kata “Sadap” untuk mengalirkan “latek” dari pohon karet.  Semula di kampungku, terbiasa dengan istilah “Menoreh” untuk melukai batang pohon karet, guna mengeluarkan air getahnya, dengan pisau khusus.
Begitu tingginya nilai tenaga manusia di wilayah kampungku, “penyadap atau penoreh” mendapat bagian 2/3 (dua pertiga) dari hasil sadapan, sedangkan pemilik kebun hanya kebagian 1/3 (sepertiga). Itupun sulit mencari tenaga yang bersedia menyadap. Ada beberapa hal yang membuat tidak banyak orang yang bersedia menyadapkan kebun orang lain antara lain yaitu:
Pertama, rata-rata penduduk setempat punya kebun karet, walau tidak begitu luas, tapi cukup buat sambilan mereka sebelum menyelesaikan pekerjaan lain. Sebab jam kerja penyadap karet mulai dari subuh sampai sekitar dimulainya waktu dhuha. Selanjutnya penduduk yang rajin, seusai mengintas getah (mengumpulkan hasil sadapan dari tempurung-ke tempurung) dimasukkan ember untuk pengolahan lebih lanjut, mereka akan meneruskan dengan aktivitas produktif lainnya seperti bercocok tanam tanaman muda, membuat anyam-anyaman mengurus ternak dan lain-lain.  
Cerita ini, ketika belum maraknya kebun sawit. Sejah tahun 1990 an mulailah banyak kebun karet yang dikonversi  jadi kebun sawit, walau kebanyakan diantara penduduk tidak begitu rela, namun terpaksa, karena memang kebanyakan kebun mereka tidak punya surat-surat kepemilikan tanah yang resmi. Sementara perusahaan-perusahaan atas nama “PT”, mengantongi izin resmi dari pemerintah, yang mengklaim bahwa lahan yang semula kebun keret rakyat itu adalah merupakan/diperuntukkan sebagai areal perkebunan sawit mereka. Rakyat semakin takut ketika itu (sebelum reformasi), karena bagi yang tidak bersedia menyerahkan kebunnya didekati dengan menggunakan petugas; oleh orang kampung dilihat sebagai aparat, kemudian akan dianggap menentang kebijakan pemerintah.
Penyebab kedua,  sulitnya mencari orang yang bersedia menorehkan kebun milik orang lain adalah dikarenakan MUSIM. Di kampungku di lahan tempat banyak dan subur pohon karet itu, musim hujan menurut statistik 16 hari dalam sebulan.  Jadi peluang menoreh karet hanya 2 minggu dalam sebulan. Belum lagi pohon karet punya tabiat, ketika berganti daun, batangnya tak begitu banyak mengeluarkan air getah. Ketika pergantian daun ini, tidak effektif kalau ditoreh. Jadi hitung-hitung dalam setahun waktu produktif hanya empat bulan.
Penyebab ketiga, kurangnya minat orang menjadi buruh penoreh, adalah harga. Fluktuasi harga karet sangat tajam. Dapat saja terjadi di awal bulan harganya belasan ribu per kilogram, akhir bulan melorot menjadi tinggal dua sampai tigaribu perkilogram. Hal ini pernah kami alami sendiri, ketika mencoba mengerahkan tenaga diambil dari kabupaten diluar kampungku untuk menurunkan hasil kebunku. Disebabkan fluktuasi harga demikian pengelola yang kupercayai, akhirnya undur diri. Sebenarnya kalau agak tahan permodalan, tunggu saja sampai harga kembali naik, menurunkan hasil karet cukup menjanjikan. Apa boleh buat tak kuat bertahan membiayai tenaga penoreh, ketika harga merosot turun, sementara konsumsi jalan terus, belum lagi bila musim hujan. Walaupun pembayaran ke penoreh atas dasar bagi hasil, tapi sementara hasil belum dibagi  harus keluar biaya konsumsi mendahului pembagian hasil. Sementara itu harga-harga barang konsumsi di pedesaan bukan main tingginya dibanding harga-harga di kota.
Diakui juga bahwa dengan sudah berkembangnya perkebunan kelapa sawit, ekonomi sebagian besar keluarga pedesaan tempat lahan berada mulai berjenjang naik. Sempat terlihat beberapa buah mobil mahal parkir di halaman rumah beberapa keluarga, walau jalan yang tersedia kurang memadai untuk enak berkendara. Tidak pula mata dapat ditutup bahwa sebagian besar penduduk yang karetnya terkonversi menjadi lahan sawit hanya dapat sebagai buruh.
Dampak lainnya seperti telah banyak tersiar dimedia bahwa banjir mudah sekali terjadi, karena hutan karet yang bersahabat dengan lingkungan dan hutan alam mendekati punah, pohon durian dan pohon Kelemantan (sebangsa mangga) Pohon Lembacang (sebangsa mangga agak asam dan wangi besarnya nyaris sebesar buah kelapa), pohon Tengkawang, pohon Benuah (penghasil damar) dan berbagai jenis rambutan hutan dan  lainnya telah dibabat.
Pernah kucoba berburu Rusa, sudah tidak menemukan lagi, padahal masa kecilku ikut Ayahanda berburu, kadang dapat beberapa ekor sekali menghutan. Sekali waktu kucoba membawa senapan angin, ternyata hanya dapat dibuat adu ketangkasan dengan pemuda desa, menembak buah mangga di halaman rumah, karena seekor burungpun tak ada lagi yang lewat, apa lagi hinggap dan berkicau.
Kebunku itu menurut “Surat Keterangan Tanah” (SKT) dikeluarkan camat setempat ketika kumembangunnya tahun 1988 seluas 1-km persegi, ditambah lagi kebun karet tetangga tanah ku itu dijual kepadaku seluas 20ha. Awal tahun 2013 lahan tersebut dilirik lagi oleh “PT” pendatang baru bidang perkebunan sawit untuk daerahku. Aku tetap bersemangat mempertahankan kebun karet, walau ku tau hasilnya tak gampang mengeluarkannya. Motivasi kubertahan itu adalah agar anak cucu ku di kampung kelak masih dapat melihat langsung bagaimana modelnya/bentuknya pohon karet. Ku hawatir bila semua lahan dikonversi jadi pohon sawit maka tak sebatang karetpun masih berdiri di tanah leluhurku. Kini lahan perkebunan di tepi jalan provinsi itu, kabarnya sudah makin menciut juga, lantaran dari pinggir-pinggirnya digeser orang, pagar kebun terdiri dari kayu belian mengelilingi kebun rata-rata berjarak 4 meter per tiang, kini sudah banyak yang hilang, maklum lokasi tadinya hutan dan jauh dari keluarga yang diamanahi menjaganya. Lagian ketika membangun kebun penentuan lakosi belum dilakukan dengan teknologi modern sekarang (GPS) dan juga seperti hampir seluruh penduduk desa bukti kepemilikan hanya surat dari camat berupa “SKT” dan bukti pohon karet. Seluruh masyarakat desa setempat tau bahwa lahan itu sebelumnya adalah hutan alang-alang setinggi manusia, kini telah menjadi hutan hijau dan pohon-pohon karet. Legalitas kepemilikan lahan belum sampai kepada HGU seperti para pengusaha besar,

Wednesday, 18 December 2013

PETA



PETA Berisikan gambar memberi arah tentang lokasi, alat bantu bagi orang dalam perjalanan di darat, di laut bahkan di udara. Kini penggunaan kata  “Peta” semakin meluas, “Persoalan” juga dapat dipetakan, maksudnya dilakukan inventarisir apa saja masalah yang dihadapi untuk dicarikan solusi tahap demi tahap. Terakhir sedang sibuk disusun “PETA RAWAN KORUPSI”. Ini merupakan pertanda bahwa “korupsi” sudah berada di semakin banyak tempat, sehingga dapat disusun “Peta”. Juga dapat diartikan “korupsi” sudah semakin susah dilacak, sehingga untuk mencarinya di butuhkan “Peta”.
Sezaman kami  es em pe doeloe, ada namanya “Peta Buta” yaitu memuat gambar pulau-pulau dan kota-kota tapi tidak ditulis namanya, untuk menguji pengetahuan murid, sudah dapatkah menulis nama pulau dan kota di “Peta Buta” itu.
“Peta Rawan Korupsi” itu nanti apakah berupa “Peta Buta”?. Tapi yang jelas di Indonesia “orang buta” saja sanggup melihat korupsi dimana berada. Sebab melalui penciuman dan pendengaran korupsi dapat diketahui, tapi susah dibuktikan, itu barang kali mengapa “Peta Rawan Korupsi” sudah perlu disusun.
Kalau “Peta” untuk menunjukkan lokasi, pembuat pertama dari “peta” tersebut adalah orang atau team khusus yang menjalani/mengunjungi tempat-tempat yang kerenanya dibuat peta lokasi itu. Giliran “Peta Rawan Korupsi”, apakah harus dibuat oleh orang yang pernah menjalani korupsi atau orang yang pernah berhubungan dengan korupsi. Bila demikian, ada kemungkinan peta itu sangat akurat, atau sebaliknya peta itu paling ngacau. Kemungkinan pertama Peta akan jadi sangat akurat karena dibuat yang mengalami langsung. Kemungkinan kedua; peta akan jadi ngacau/merancukan/bias, sebab si pembuat akan melindungi diri, atau group mereka, sebagaimana dimaklumi bahwa korupsi tak mungkin dilakukan sendirian. Semoga dalam waktu tidak terlalu lama lagi telah dijual di toko-toko buku “Peta Rawan Korupsi” seperti peta-peta pulau-pulau, peta dunia, agar generasi berikut sudah tak susah lagi mencari koruptor. Wallahu alam bisshawab.

Friday, 6 December 2013

TIMBANGAN PERKALIAN



Dibeberapa kesempatan di dalam kelas, ketika menerangkan perhitungan yang menyangkut perkalian, terutama di kelas audience supervisor  pengusaha, umumnya mereka tidak membawa kalkulator. Ada juga kalkulator mereka gunakan telepon seluler. Dikesempatan demikian sering saya informasikan bahwa untuk meyakinkan bahwa perkalian pakai telepon genggam itu benar, ada caranya yaitu dengan “Timbangan Perkalian”.
Setelah saya praktikkan pengujian itu, banyak diantara mereka menanyakan dari mana asal muasal diperoleh teknik “timbangan perkalian” itu. Lantaran beberapa kali diuji coba selalu dan pasti tepat membuat mereka penasaran, sebab hasilnya tidak satupun yang meleset.
Secara berkelakar saya katakan, sudahlah terima saja, ini hasil utak atik, tapi kalau mau ajarkan buat anak cucu atau orang lain, agar tidak melanggar hak cipta, jangan lupa menyebut nama saya tiga kali; “dari M.Syarif Arbi” untuk melegalkan hak cipta formula tersebut.
Adapun “Timbangan Perkalian” tersebut formulanya sebagai berikut:
1.     Buat tanda timbangan dengan garis tegak lurus yang memotong garis horizontal sehingga membentuk symbol “plus”.
2.     Angka-angka bilangan pengali dijumlahkan sehingga menjadi satu digit kemudian letakkan disumbu atas symbol “plus”.
3.     Angka-angka bilangan yang dikali dijumlahkan sampai menjadi satu digit, letakkan disumbu bawah symbol “plus”
4.     Angka disumbu atas dan sumbu bawah dikalikan dan hasilnya dijumlahkan sehingga menghasilkan satu digit, tempatkan di kanan atau kiri sumbu horizontal.
5.     Angka-angka hasil perkalian dijumlahkan sehingga menghasilkan satu digit, hasil penjumlahan tersebut letakkan di sumbu horizontal berlawanan dengan angka hasil perkalian dan penjumlahan sumbu atas dan sumbu bawah (butir 4 di atas).
Hasil perkalian dijamin benar bilamana timbangan tidak jomplang alias berat sebelah. Sebagai contoh lihat ilustrasi diakhir tulisan saya ini:


Terus terang perolehan formula ini  mulanya, ketika dulu diri ini masih sekolah es em pe, mulai melakukan kegiatan usaha dagang kecil-kecilan memanfaatkan sisa waktu pulang sekolah dan hari libur. Kegiatan usaha itu memanfaatkan jarak karena ketika itu jarak sepuluh-limabelas kilometer sudah cukup jauh di kampungku, disebabkan belum banyak yang punya kendaraan bermotor, apa lagi angkutan umum. Tambahan pula beberapa kampung dengan kota dipisahkan oleh sungai yang hanya dapat diseberangi dengan sampan. Jarak tempuh itulah kumanfaatkan semasa anak-anakku untuk mendapat keuntungan dengan membawa komoditi dari kota ke pedesaan yang jaraknya berbilang sepuluh sampai limabelas kilometer itu. Sementara dari rumah-rumah penduduk diperoleh minyak goreng terbuat dari fermentasi santan kelapa dimasak (kebun sawit baru mulai ada 50 tahunan sesudah itu). Juga diperoleh telor ayam (waktu itu belum ada telor ayam petelor seperti sekarang ini), semua telor asalnya dari ternak biasa, ayam kampung. Harga minyak kelapa manual produk rumahan itu di pedesaan antara Rp 6,50  sampai Rp 7.00 per botol bekas botol bir. Sekitar (650 cc). Minyak kelapa yang dibeli dari rumah ke rumah itu ditampung dalam kaleng kapasitas 35 botol. Kendaraanku sanggup dimuati tiga kaleng. Satu di tengah, satu dikiri satu lagi dikanan tempat boncengan dimodivikasi. Sekali angkut pulang sekolah dapat sekitar 100an botol kalau semua kaleng penuh. Penjualan ke pengepul minyak kelapa di kota tidak pakai takaran botol, mereka pakai timbangan. Berat minyak ternyata bervariasi, tergantung proses pengolahan minyak. Minyak tua karena memasaknya sampai berwarna kekuningan dapat sampai 650 gr per botol. Sedangkan minyak muda karena memasaknya kurang lama sehingga warnanya masih agak jernih condong kehijauan, berat maksimalnya 600 gr per botol, kwalitas ini gampang tengik tak tahan disimpan lama. Kepiawaian menilai minyak inipun merupakan ilmu tersendiri, kemudian harus dipilah dimasukkan kaleng yang berbeda, agar pengepul tidak kecewa. Sebab harga di pengepulpun berbeda menurut kwalitas ini. Begitulah cerita minyak kelapa rantai distribusinya dari rumah penduduk ke perantara antara pengepul dan produsen, kemudian terus ke agen besar ada yang langsung di konsumsi orang sekota dan ada yang sampai ke ibukota provinsi untuk disistribusikan lagi ke kota lain yang bukan penghasil perkebunan kelapa. Diantaranya dijadikan bahan baku produk lain, seperti sabun. Belum lagi bila dikisahkan tentang telor ayam yang dibeli dari rumah-rumah penduduk dibawa bersama minyak yang penempatannya di sepeda lelaki di bagian tengah (silinder penghubung stang dangan tempat duduk) dan juga digantung pada kranjang dikiri kanan stang.
Dari jual beli inilah, karena zaman itu belum ada kalkulator, perkalian dengan manual, kalau toko pengepul biasanya pakai Sempoa. Untungnya kami dulu sejak SR sudah dilatih menghafalkan kali-kalian dari satu sampai sepuluh. Kalau tak hapal distrap disuruh berdiri di depan kelas. Rata-rata kami dulu SR kelas empat sudah hafal betul kali-kalian dari satu sampai sepuluh bahkan ada yang lebih dari itu. Itulah hal yang positip belum adanya kalkulator seperti sekarang ini.
Guna pengujian perkalian itulah diperlukan “Timbangan Perkalian” dimaksud, agar tidak menderita rugi untuk diri sebagai pedagang kecil, atau merugikan langganan dari rumah produksi.
Adapun formula tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Misalnya membeli 27 botol minyak yang dari sebuah rumah, dengan harga Rp 6,50 (enam rupiah limapuluh sen) per botol. Harus dibayar sejumlah Rp 175,50 (seratus tujuhpuluh lima rupiah lima puluh  sen). Untuk menguji sudah benarkah pembayaran itu, gunakan “Timbangan Perkalian”, cukup diguratkan di tanah. Buku barang mahal dan bolpen belum ada waktu itu. SR masih pakai “Batu Tulis” dan “Grip”
Timbangan perkalian dapat digambarkan sebagai berikut:
http://ts3.mm.bing.net/th?id=H.4915264842500646&pid=15.1                         9



9                                                   9

                         2





Keterangan gambar:
Angka yang dikali 27. Angka dua ditambah angka tujuh adalah “9” . letakkan angka “9” disumbu atas.
Angka pengali adalah 6,50. Enam ditambah lima ditambah nol adalah 11 dijadikan satu digit adalah 2. Letakkan angka “2” di sumbu bawah.
Angka disumbu atas “9” dikalikan angka sumbu bawah “2” adalah 18 dijadikan satu digit adalah “9” letakkan di kanan atau dikiri timbangan.
Hasil perkalian 175,50 . satu ditambah tujuh ditambah lima ditambah lima ditambah nol adalah 18 dijadikan satu digit adalah “9”.  Letakkan disisi yang berlawan dengan hasil perkalian sumbu atas  dan sumbu bawah. Ternyata perkalian ini benar, sebab seimbang antara kiri dan kanan sama sama menunjukkan angka “9”.
Untuk meyakinkan anda akan kebenaran formula ini silahkan mencobanya sendiri dengan sederet angka yang lebih panjang, ditulisan ini saya buatkan contoh lagi misalnya telor ayam dibeli dari penduduk sebanyak 13 butir @ Rp 1,75 = Rp 22,75 dengan cara sama diperoleh:
http://ts3.mm.bing.net/th?id=H.4915264842500646&pid=15.1                         4



7                                                   7

                         4




Minyak dibeli dari rumah penduduk total tiga kaleng setelah ditimbang; Kaleng pertama  17,95 Kg sedang kaleng kedua 17,80 Kg. kaleng ketiga beratnya  16,20 Kg. jumlah 51,95 kg.   diterima pengepul seharga Rp 13,-/kg.  Hasil penjualan ke pengepul Rp 675,35 dibulatkan Rp 675.- sisa Rp 0,35 jadi cacatan pengepul. Dengan pola yang sama formula diterapkan ternyata perkalian benar sisi kiri dan kanan sama angka “8”
http://ts3.mm.bing.net/th?id=H.4915264842500646&pid=15.1                         2



8                                                   8

                         4




Untuk sektor minyak hari itu adalah pembelian 90 botol kali Rp 6,50,- =  Rp 585,-
Hasil penjualan minyak 51,95 Kg = Rp 675,- laba Rp 90,- lumayan untuk anak seusia es em pe. Kegiatan usaha ini kutekuni sampai awal SMA, selanjutnya pindah usaha jadi penjahit. Tapi yang berkesan adalah perhitungan “Timbangan Perkalian” dari transaksi-transaksi tersebut semasa belum ada kalkulator teringat sampai sekarang dan kuturunkan kepada siapa saja kalau kebetulan membicarakan perkalian ketika saya mengajar di beberapa tempat seringkali untuk audience para pengusaha yang biasanya urusan teknis detil begini sudah tidak campur, kan ada pegawai. Tapi kalau mengerti teknik ini bagaikan pegang kunci.
Pembaca dapat menguji formula ini dengan sederetan angka yang dikali dan sederetan angka pengali. Pasti hasilnya imbang kalau perkaliannya benar.
Telah puluhan tahun saya sering diundang ngajar baik di Jakarta maupun diluar daerah, di hotel-hotel atau instansi terkait dengan bidang yang karenanya saya diundang, juga mahasiswa di kampus, formula ini dibanyak kesempatan sempat saya tampilkan, kelihatannya asing bagi audience. Oleh karena itu sekalian saya tulis di blog saya ini. Agar kiranya para pembaca yang belum mengetahui formula ini mengetahuinya dari saya. Kemudian bila meneruskan “Timbangan Perkalian” ini kepada orang lain, jelas mendapat sumber dari “M. Syarif Arbi”. Kecuali ada pembaca yang dapat menjelaskan, membuktikan bahwa “Timbangan kali” ini pernah lebih dahulu dipublikasikan orang lain. Ku yakin kalaupun ada orang mempublikasikan “Timbangan Perkalian” ini lebih dahulu, bukan dari beliau formula ini kudapat.

Maaf gambar dari naskah aslinya tidak muncul ketika dipindah ke blog. Maklum belum canggih