Friday, 6 December 2013

TIMBANGAN PERKALIAN



Dibeberapa kesempatan di dalam kelas, ketika menerangkan perhitungan yang menyangkut perkalian, terutama di kelas audience supervisor  pengusaha, umumnya mereka tidak membawa kalkulator. Ada juga kalkulator mereka gunakan telepon seluler. Dikesempatan demikian sering saya informasikan bahwa untuk meyakinkan bahwa perkalian pakai telepon genggam itu benar, ada caranya yaitu dengan “Timbangan Perkalian”.
Setelah saya praktikkan pengujian itu, banyak diantara mereka menanyakan dari mana asal muasal diperoleh teknik “timbangan perkalian” itu. Lantaran beberapa kali diuji coba selalu dan pasti tepat membuat mereka penasaran, sebab hasilnya tidak satupun yang meleset.
Secara berkelakar saya katakan, sudahlah terima saja, ini hasil utak atik, tapi kalau mau ajarkan buat anak cucu atau orang lain, agar tidak melanggar hak cipta, jangan lupa menyebut nama saya tiga kali; “dari M.Syarif Arbi” untuk melegalkan hak cipta formula tersebut.
Adapun “Timbangan Perkalian” tersebut formulanya sebagai berikut:
1.     Buat tanda timbangan dengan garis tegak lurus yang memotong garis horizontal sehingga membentuk symbol “plus”.
2.     Angka-angka bilangan pengali dijumlahkan sehingga menjadi satu digit kemudian letakkan disumbu atas symbol “plus”.
3.     Angka-angka bilangan yang dikali dijumlahkan sampai menjadi satu digit, letakkan disumbu bawah symbol “plus”
4.     Angka disumbu atas dan sumbu bawah dikalikan dan hasilnya dijumlahkan sehingga menghasilkan satu digit, tempatkan di kanan atau kiri sumbu horizontal.
5.     Angka-angka hasil perkalian dijumlahkan sehingga menghasilkan satu digit, hasil penjumlahan tersebut letakkan di sumbu horizontal berlawanan dengan angka hasil perkalian dan penjumlahan sumbu atas dan sumbu bawah (butir 4 di atas).
Hasil perkalian dijamin benar bilamana timbangan tidak jomplang alias berat sebelah. Sebagai contoh lihat ilustrasi diakhir tulisan saya ini:


Terus terang perolehan formula ini  mulanya, ketika dulu diri ini masih sekolah es em pe, mulai melakukan kegiatan usaha dagang kecil-kecilan memanfaatkan sisa waktu pulang sekolah dan hari libur. Kegiatan usaha itu memanfaatkan jarak karena ketika itu jarak sepuluh-limabelas kilometer sudah cukup jauh di kampungku, disebabkan belum banyak yang punya kendaraan bermotor, apa lagi angkutan umum. Tambahan pula beberapa kampung dengan kota dipisahkan oleh sungai yang hanya dapat diseberangi dengan sampan. Jarak tempuh itulah kumanfaatkan semasa anak-anakku untuk mendapat keuntungan dengan membawa komoditi dari kota ke pedesaan yang jaraknya berbilang sepuluh sampai limabelas kilometer itu. Sementara dari rumah-rumah penduduk diperoleh minyak goreng terbuat dari fermentasi santan kelapa dimasak (kebun sawit baru mulai ada 50 tahunan sesudah itu). Juga diperoleh telor ayam (waktu itu belum ada telor ayam petelor seperti sekarang ini), semua telor asalnya dari ternak biasa, ayam kampung. Harga minyak kelapa manual produk rumahan itu di pedesaan antara Rp 6,50  sampai Rp 7.00 per botol bekas botol bir. Sekitar (650 cc). Minyak kelapa yang dibeli dari rumah ke rumah itu ditampung dalam kaleng kapasitas 35 botol. Kendaraanku sanggup dimuati tiga kaleng. Satu di tengah, satu dikiri satu lagi dikanan tempat boncengan dimodivikasi. Sekali angkut pulang sekolah dapat sekitar 100an botol kalau semua kaleng penuh. Penjualan ke pengepul minyak kelapa di kota tidak pakai takaran botol, mereka pakai timbangan. Berat minyak ternyata bervariasi, tergantung proses pengolahan minyak. Minyak tua karena memasaknya sampai berwarna kekuningan dapat sampai 650 gr per botol. Sedangkan minyak muda karena memasaknya kurang lama sehingga warnanya masih agak jernih condong kehijauan, berat maksimalnya 600 gr per botol, kwalitas ini gampang tengik tak tahan disimpan lama. Kepiawaian menilai minyak inipun merupakan ilmu tersendiri, kemudian harus dipilah dimasukkan kaleng yang berbeda, agar pengepul tidak kecewa. Sebab harga di pengepulpun berbeda menurut kwalitas ini. Begitulah cerita minyak kelapa rantai distribusinya dari rumah penduduk ke perantara antara pengepul dan produsen, kemudian terus ke agen besar ada yang langsung di konsumsi orang sekota dan ada yang sampai ke ibukota provinsi untuk disistribusikan lagi ke kota lain yang bukan penghasil perkebunan kelapa. Diantaranya dijadikan bahan baku produk lain, seperti sabun. Belum lagi bila dikisahkan tentang telor ayam yang dibeli dari rumah-rumah penduduk dibawa bersama minyak yang penempatannya di sepeda lelaki di bagian tengah (silinder penghubung stang dangan tempat duduk) dan juga digantung pada kranjang dikiri kanan stang.
Dari jual beli inilah, karena zaman itu belum ada kalkulator, perkalian dengan manual, kalau toko pengepul biasanya pakai Sempoa. Untungnya kami dulu sejak SR sudah dilatih menghafalkan kali-kalian dari satu sampai sepuluh. Kalau tak hapal distrap disuruh berdiri di depan kelas. Rata-rata kami dulu SR kelas empat sudah hafal betul kali-kalian dari satu sampai sepuluh bahkan ada yang lebih dari itu. Itulah hal yang positip belum adanya kalkulator seperti sekarang ini.
Guna pengujian perkalian itulah diperlukan “Timbangan Perkalian” dimaksud, agar tidak menderita rugi untuk diri sebagai pedagang kecil, atau merugikan langganan dari rumah produksi.
Adapun formula tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Misalnya membeli 27 botol minyak yang dari sebuah rumah, dengan harga Rp 6,50 (enam rupiah limapuluh sen) per botol. Harus dibayar sejumlah Rp 175,50 (seratus tujuhpuluh lima rupiah lima puluh  sen). Untuk menguji sudah benarkah pembayaran itu, gunakan “Timbangan Perkalian”, cukup diguratkan di tanah. Buku barang mahal dan bolpen belum ada waktu itu. SR masih pakai “Batu Tulis” dan “Grip”
Timbangan perkalian dapat digambarkan sebagai berikut:
http://ts3.mm.bing.net/th?id=H.4915264842500646&pid=15.1                         9



9                                                   9

                         2





Keterangan gambar:
Angka yang dikali 27. Angka dua ditambah angka tujuh adalah “9” . letakkan angka “9” disumbu atas.
Angka pengali adalah 6,50. Enam ditambah lima ditambah nol adalah 11 dijadikan satu digit adalah 2. Letakkan angka “2” di sumbu bawah.
Angka disumbu atas “9” dikalikan angka sumbu bawah “2” adalah 18 dijadikan satu digit adalah “9” letakkan di kanan atau dikiri timbangan.
Hasil perkalian 175,50 . satu ditambah tujuh ditambah lima ditambah lima ditambah nol adalah 18 dijadikan satu digit adalah “9”.  Letakkan disisi yang berlawan dengan hasil perkalian sumbu atas  dan sumbu bawah. Ternyata perkalian ini benar, sebab seimbang antara kiri dan kanan sama sama menunjukkan angka “9”.
Untuk meyakinkan anda akan kebenaran formula ini silahkan mencobanya sendiri dengan sederet angka yang lebih panjang, ditulisan ini saya buatkan contoh lagi misalnya telor ayam dibeli dari penduduk sebanyak 13 butir @ Rp 1,75 = Rp 22,75 dengan cara sama diperoleh:
http://ts3.mm.bing.net/th?id=H.4915264842500646&pid=15.1                         4



7                                                   7

                         4




Minyak dibeli dari rumah penduduk total tiga kaleng setelah ditimbang; Kaleng pertama  17,95 Kg sedang kaleng kedua 17,80 Kg. kaleng ketiga beratnya  16,20 Kg. jumlah 51,95 kg.   diterima pengepul seharga Rp 13,-/kg.  Hasil penjualan ke pengepul Rp 675,35 dibulatkan Rp 675.- sisa Rp 0,35 jadi cacatan pengepul. Dengan pola yang sama formula diterapkan ternyata perkalian benar sisi kiri dan kanan sama angka “8”
http://ts3.mm.bing.net/th?id=H.4915264842500646&pid=15.1                         2



8                                                   8

                         4




Untuk sektor minyak hari itu adalah pembelian 90 botol kali Rp 6,50,- =  Rp 585,-
Hasil penjualan minyak 51,95 Kg = Rp 675,- laba Rp 90,- lumayan untuk anak seusia es em pe. Kegiatan usaha ini kutekuni sampai awal SMA, selanjutnya pindah usaha jadi penjahit. Tapi yang berkesan adalah perhitungan “Timbangan Perkalian” dari transaksi-transaksi tersebut semasa belum ada kalkulator teringat sampai sekarang dan kuturunkan kepada siapa saja kalau kebetulan membicarakan perkalian ketika saya mengajar di beberapa tempat seringkali untuk audience para pengusaha yang biasanya urusan teknis detil begini sudah tidak campur, kan ada pegawai. Tapi kalau mengerti teknik ini bagaikan pegang kunci.
Pembaca dapat menguji formula ini dengan sederetan angka yang dikali dan sederetan angka pengali. Pasti hasilnya imbang kalau perkaliannya benar.
Telah puluhan tahun saya sering diundang ngajar baik di Jakarta maupun diluar daerah, di hotel-hotel atau instansi terkait dengan bidang yang karenanya saya diundang, juga mahasiswa di kampus, formula ini dibanyak kesempatan sempat saya tampilkan, kelihatannya asing bagi audience. Oleh karena itu sekalian saya tulis di blog saya ini. Agar kiranya para pembaca yang belum mengetahui formula ini mengetahuinya dari saya. Kemudian bila meneruskan “Timbangan Perkalian” ini kepada orang lain, jelas mendapat sumber dari “M. Syarif Arbi”. Kecuali ada pembaca yang dapat menjelaskan, membuktikan bahwa “Timbangan kali” ini pernah lebih dahulu dipublikasikan orang lain. Ku yakin kalaupun ada orang mempublikasikan “Timbangan Perkalian” ini lebih dahulu, bukan dari beliau formula ini kudapat.

Maaf gambar dari naskah aslinya tidak muncul ketika dipindah ke blog. Maklum belum canggih

Wednesday, 27 November 2013

GURATAN TANGAN



Apakah anda nanti dapat mencapai karier seperti Adam Malik, atau B.M. Diah, atau Rosihan Anwar. Begitu pertanyaan yang diajukan Karni Ilyas yang ketika itu kami masih se profesi, di kwartal pertama tahun 1973 bertempat di suatu rumah makan di bilangan Jl. Ketapang, belok kiri dari Jl. Gajah Mada arah ke Kota, daerah Harmoni. Pertanyaan itu diajukan Karni sehubungan ada peluang untuk saya pindah profesi kerja di bank. Pertimbangan rekan-rekan seprofesi, saya butuhkan karena limit keputusan harus diambil hanya sehari itu. Kawan dekat saya dari wartawan Kompas, Sinar Harapan waktu itu juga hadir memberikan pertimbangan. Agaknya ketiga tokoh di atas jadi acuan, lantaran beliau-beliau itu adalah wartawan terkenal setidaknya di era tujuhpuluhan.
Kalau anda kira-kira tidak dapat berkarier seperti itu, tinggalkan saja profesi kita ini, sebab tidak bermasa depan, sedangkan di bank masa depan sudah teratur dan terukur, demikian paham yang disarankan kepada saya. Akhirnya keputusan saya ambil dan selamat tinggal profesi jurnalis yang sudah kugeluti sejak usia dini sebelum tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) itu.
Kini peristiwa itu telah jauh berlalu untuk ukuran tahun, tetapi rasanya singkat saja untuk ukuran pengalaman, seperti baru kemarin-kemarin dulu saja. Padahal sudah 40 tahun yang silam, semuanya sudah banyak berubah dan diri inipun sudah pensiun dari dinas di perbankan setelah menjalani tugas 27 tahun. Benar juga kata teman-teman yang kuajak runding itu, bahwa mereka yang masih menekuni profesi wartawan belum pensiun sampai sekarang, karena memang tidak ada istilah pensiun untuk wartawan.
Beberapa tahun silam setelah saya dimutasikan ke Jakarta, Karni Ilyas pernah kukunjungi, di kantornya ketika itu masih di Majalah. Secara berkelakar kukatakan padanya, bagaimana nanti kalau saya sudah pensiun dari bank, balik lagi gabung dengan anda. Jawabnya “habitat” kelihatannya sudah berbeda. Biasanya kalau hewan yang sudah terbiasa dipelihara manusia, bila dikembalikan ke habitatnya terkendala mencari makan.
Bersyukur saya tidak terhingga dengan keadaan seperti sekarang ini, telah selamat sampai pensiun dari bekerja di bank. Sebab menurut hemat saya bahwa salah satu wujud sukses seorang bekerja di instansi pemerintah terutama di bank adalah mencapai pensiun, sebab ada beberapa diatara rekan sekerja saya yang tak mencapai pensiun kandas ditengah dinas tak dapat menahan godaan.
Alhamdulillah sayapun saat ini belum juga pensiun, oleh Kopertis dipercaya sebagai guru, di tetapkan jadi pengajar tetap di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan juga masih sering diundang untuk pelatihan-pelatihan oleh institusi swasta dan instansi pemerintah sebagai narasumber  baik di Jakarta maupun luar Jawa. Buku tulisan sayapun cukup menambah hasanah pustaka dengan telah terpublikasi sampai saat ini 6 judul buku, diantaranya sudah cetak edisi kedua.
Jika saya terus di profesi yang dulu, apakah akan dapat mencapai karier seperti sebagian teman ada yang sampai pernah menjadi Jagsa Agung  contoh  Abdurahman Saleh, senior saya  yang sama sama pernah se kantor menjadi wartawan di Harian Nusantara Jakarta. Atau menjadi Duta Besar dan Menteri.  Dalam pada itu ada juga teman-teman yang ketika masih dinas di bank, saya sering dikunjungi, tetap saja seperti yang dulu alias tidak merambat maju. Diposisi manakah saya, bila terus berkarier di bidang jurnalistik wallahu alam bishawab. Yang jelas posisi sekaranglah yang terbaik buat saya serta menyenangkan.
Jadi semua itu adalah panggilan nasib, guratan tangan yang telah ditetapkan oleh pencipta ketika diri ini siap dijadikan manusia.
“…………….., kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya……………………”  Begitu bunyi hadits “Arbain An-Nawawi, memetik kabar hadits dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu.
Demikian tulisanku ini semoga ada manfaatnya utamanya untuk kawula muda, anak dan cucuku. “Ternyata hidup ini adalah pilihan, bagaikan membidik sasaran dengan anak panah. Walau busur dibentang anak panah dilesatkan dari tempat berdiri yang sama, mencapai sasaran yang berbeda tergantung arah bidikan, kondisi pembidik dan arah angin.”  Untaian kisah itu benar terjadi jika hendak dikonfirmasi diantara tokoh cerita orang cukup terkenal masih ada. Tapi nampaknya ia sangat sibuk terus menerus mempersiapkan tampilan ILC.


Saturday, 12 October 2013

KEPRIBADIAN INSANI



Manusia diciptakan memiliki 4 kepribadian yaitu: pertama; Kepribadian hewani, sehingga ada yang mengatakan “manusia adalah hewan yang berakal dan dapat ngomong”. Kedua; kepribadian syaitan, selalu mengajak dan cendrung berbuat kejahatan. Ketiga; kepribadian Malaikat, hanya berbuat baik dan mengabdi kepada Allah. Keempat; kepribadian Insani,  condong berbuat taqwa, disaat yang sama berpotensi berbuat fujuraha (nista).
Kepribadian Insani, tidak melulu seperti hewan yang hanya mempunyai nafsu makan, tidur dan reproduksi, walau nafsu itu dipunyai oleh Insani. Manusia yang potensi “taqwaha”nya menonjol akan makan yang halalan tayibah, tidur untuk memenuhi sunatullah bagi kesehatan dan hubungan reproduksi sesuai koridor yang dibenarkan oleh norma agama masing-masing.
Kepribadian Insani tidak hanya seperti syaitan yang inginnya hanya berbuat kejahatan saja, karena sejahat-jahatnya manusia tetap saja ada sisi baiknya, di lain pihak sebaik-baik manusia bila dicari pasti ada jeleknya. Oleh karena itu maka setiap rakaat kita sholat ada do’a duduk diantara dua sujud yang dapat dimaknai “Lindungi diriku (ya Allah) dari tersingkapnya aibku”. Sebab jika aib kita di dunia ini dibukakan Allah, maka tidak seorangpun diantara kita tidak punya aib. Makanya dalam agama Islam membuka aib seseorang digolongkan ghibah, sedang ghibah adalah sesuatu yang sangat dilarang dengan ancaman “memakan bangkai saudara kita yang sudah mati”, kecuali ghibah yang dihalalkan antara lian membuka aib seseorang demi kepentingan pengadilan. Kalaulah aib kita di dunia ini dibukakan Allah maka mungkin anda tidak sanggup keluar rumah lantaran teramat malu. Aib itu mungkin akan terbuka juga di akhirat kelak manakala kita belum memohon ampun dan bertobat. Contoh konkrit bahwa manusia tidak semata-mata bertabiat seperti syaitan,  tidak ada seorang penjahatpun yang ingin anak turunannya meneruskan tabiat penjahatnya itu.
Kepribadian Insani tidak pula bagaikan malaikat, yang tiap saat taat, sebab malaikat tidak diberikan nafsu seperti hewan dan manusia, sehingga tidak ada peluang untuk berbuat jahat.  Hewan tidak diberikan pula sifat syaitan, sehingga nafsunya hanya diumbar sebatas kewajaran dirinya sebagai hewan. Hewan hanya makan makanan tradisional mereka, hanya berhubungan untuk reproduksi sesuai dengan naluri sejak nenek moyang mereka. Misalnya pemakan rumput hanya rumput dan sejenis rumput yang ia makan, tidak akan doyan makan daging, sementara itu hewan pemakan daging tidak akan sudi diberi makan rumput. Memang ada sejenis hewan yang dapat makan sembarangan tapi tetap saja beda dengan manusia.  Manusia apa saja sanggup dia makan, karena punya kemampuan mengkonversi setiap benda. Dikenallah istilah bahwa besi beton dimakan manusia, aspal dimakan manusia, semen dimakan manusia. Lagian sebuas-buasnya Harimau, kalau memangsa Rusa di hutan belantara, hanya memangsa seekor rusa untuk keperluan makan sekeluarga mereka di hari itu, besok barulah mereka berburu lagi, jadi hanya secukupnya saja. Beda dengan manusia bila bertemu kawanan Rusa di dalam hutan, kalau memungkinkan ditembak semua, jika tidak habis dimakan sehari itu, diawetkan dibuat dendeng. Bicara soal hubungan reproduksi hewan dari zaman ke zaman begitu, begitu saja yaitu antara jantan dan betina mereka. Giliran hubungan reproduksinya, manusia lain lagi, ada perilaku sejenis, dan bahkan konon ada perilaku lintas mahluk.
Jadi ketika seseorang sedang khusuk melaksanakan ibadah, dengan ikhlas berbuat baik sesama (ibadah sosial), sifat “taqwaha” nya muncul. Ketika yang bersangkutan korupsi maka potensi “fujuraha” yang bersangkutan dominan. Siapapun dia berpotensi korupsi, jika ada peluang, kecuali orang-orang yang sifat “taqwaha” nya sangat dominan. Untuk mencegah peluang itu perlu system yang sanggup memprotek, sebab Rumus kejahatan adalah: “Kejahatan = Kesempatan + Kemauan”.
Membendung kemauan jahat adalah sifat manusia “taqwaha” dan mendorong kemauan jahat ialah sifat manusia “fujuraha”. Sedangkan untuk meminimalkan “Kesempatan” ialah system. Kalau koruptor kemudian dari hasil korupsinya itu untuk membiayai ibadahnya, maka dapat diumpamakan “berwudhu dengan najis”.
Persoalannya adalah:
Bagaimana membuat sifat “taqwaha” manusia menjadi lebih dominan daripada sifat “fujuraha”. Bagaimana memininalkan sifat “Khewaniah” yang terlekat di diri setiap individu. Bagaimana senantiasa memelihara sifat “malaikat”, agar tetap melekat di diri. Bagiamana menjauhkan sifat “syaitaniah” yang menggoda dari segala penjuru. Untuk itu 6 (enam) langkah di bawah ini agaknya patut para pembaca renungkan:
Pertama; Tepati janji. Allah telah mengambil janji kepada manusia sejak di alam ROH, tentang ke-Esaan Allah. Oke--lah bahwa tidak satupun kita masih ingat akan janji itu, sejak roh dimasukkan kedalam raga, ingatan itu menjadi sirna. Akan tetapi kita semua yang beragama Islam setiap hari di rakaat sholat berjanji setia kepada Allah, dengan mengucapkan kesaksian dalam “Sahadatain” bahwa hanya ber-Tuhan kepada Allah dan bersaksi pula bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Konsekwensinya adalah melaksanakan segala perintah Allah dan sekuat tenaga mencontoh perbuatan Rasulullah. Menjauhi semua larangan Allah dan Rasul-Nya. Untuk itu antara lain Allah mengingatkan bahwa (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi” (Qs 2:27). Jadi orang yang merugi itu ada tiga golongan. Pertama yang melanggar penjanjian dengan Allah. Kedua orang yang memutuskan silaturahim dan ketiga orang yang membuat kerusakan di muka bumi.
Kedua; senantiasa merasa diawasi oleh Allah setiap gerak gerik kita. Seperti antara lain terungkap pada surat Alhujurat 18 “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. Dengan begitu setiap insan merasa bahwa apapun yang dilakukannya baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi merasa diawasi Allah. Baik suap itu sudah dinikmati maupun baru dalam negosiasi melalui sms dan telekomunikasi, semua jelas akan terpantau dan tertangkap tangan oleh Allah. Kepada KPK dapat saja beralasan macam-macam tetapi CCTV Allah tak kan dapat dihindari. Selanjutnya kita lihat informasi dari Allah dalam Al-Qur’an bahwa kita akan dibagikan kitab yang dapat ngomong tentang apa yang pernah kita lakukan. Qs 45:29 (Allah berfirman: "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan."
Ketiga; evaluasi. Orang bijak setiap hari mengevaluasi diri, apa saja amal baik yang telah dilakukan apa saja amal buruk yang terlanjur dikerjakan untuk segera koreksi dan mohon ampun kepada Allah. Kalau keterlanjuran salah sesama manusia segera mohon maaf. Orang yang selalu mengevaluasi diri, hidupnya akan penuh kehati-hatian, tidak sembrono dalam berbuat, selalu berhitung keputusan yang diambil. Berpikir sebelum berucap, karena takut menyakiti orang lain. Senantiasa ingat janji kepada Allah dan juga kepada manusia (kalau jadi pejabat kan disumpah). Senantiasa merasa diawasi oleh Allah seperti langkah kedua di atas. Aktivitas evaluasi ini sendiri, juga yang bersangkutan merasa mendapat pengawasan dari Allah, karena itu dalam evaluasi dianya tidak membenar-benarkan diri, atau mencari alasan pembenaran atas apa yang sudah dia lakukan. Banyak orang yang tau bahwa dianya salah, tetapi berusaha mencari pembenaran atas kesalahan itu. Contoh kecil seseorang diposisi jabatan menengah misalnya; suatu hari tidak sengaja menerima sesuatu yang seharusnya tidak boleh diterima dengan jabatannya itu. Malamnya dalam evaluasi diri, dianya membenarkan dirinya, membujuk nuraninya “ah kamu dapat sogokan hanya sekian, bos kamu lebih parah lagi, lebih besar lagi, kamu tak seberapa”. Diapun tenang dan hari hari selanjutnya menjadi terbiasa menerima sogokan kecil-kecilan itu, keterusan dan kalau orang berurusan dengannya tak memberi sesuatu lantas dipersulit. Beginilah penyakit umum ditatanan birokrasi kita. Percuma spanduk yang dipasang lebar di kantor-kantor yang isinya antara lain “Jangan melalui Calo, berurusan dengan pejabat resmi untuk menghindari pungli”.
Keempat; penalty. Langkah keempat ini penting dilakukan untuk memacu diri agar tetap komit terhadap janji dilangkah pertama dan merasa diawasi langkah kedua dan evaluasi dilangkah ketiga. Output janji yang kurang tertepati, pengawasan terlalai dan hasil evaluasi diri bahwa ada ibadah yang kurang,  misalnya biasanya sholat tahajjud, karena tidurnya kemalaman lantaran nonton sepak bola sehingga terbangun hampir  adzan subuh, sehingga tidak sempat sholat tahajjud yang saban malam dilakukan, maka berikan penalty kepada diri misalnya pagi harinya  perbanyak rakaat sholat dhuha, perbanyak bersedekah, tingkatkan jumlah sedekah misalnya biasanya hanya Rp 2.000,- hukum diri dengan sedekah Rp 5.000,- Penalty ini menjadi pemacu agar ibadah rutine tetap terlaksana.
Kelima; serahkan diri. Sesudah keempat langkah di atas dilakukan, serahkan diri kepada kuasa Allah. Sebab apalah artinya ibadah yang kita lakukan, jika Allah tidak berkenan, apalah artinya seluruh ibadah kita jika dibandingkan dengan nikmat Allah yang sudah kita terima. Apalah artinya ibadah kita dari ukuran besarnya pahala dibandingkan dengan menggunungnya dosa kita. Tidak seorangpun masuk ke dalam surga kalau bukan karena RAHMAT ALLAH. Oleh karena itulah kuncinya setelah maksimal usaha serahkan diri sepenuhnya kepada Allah s.w.t. semoga Allah mengampuni dosa dan menerima ibadah kita dan lebih dari pada itu menaungi kita dengan RAHMAT-NYA.
Keenam; jauhi diri dari perangkap syaitan. Perangkap syaitan begitu menggurita dari atas, dari kiri kanan dari bawah dari semua penjuru. Yang paling menonjol diantara perangkap syaitan itu adalah “PALING”. Merasa paling kaya, merasa paling banyak berbuat kebaikan, merasa paling banyak ibadah, merasa paling pintar, merasa paling berkuasa, merasa paling benar. Adalah baik menjadi orang benar, tetapi menjadi paling buruk menjadi orang yang merasa paling benar.
System yang baik.
Kembali kerumusan “Kejahatan = Kemauan + Kesempatan”. Soal Kemauan jalan keluarnya adalah membenahi diri manusia agar sifat “Taqwaha” lebih dominan dari “Fujuraha”, dengan enam langkah yang ditawarkan di atas. Bicara soal kesempatan disini sangat berperanan adalah system yang harus dibuat oleh ikhtiar manusia agar bagimanapun orang “mau” berbuat kejahatan oleh system dapat dipagari sehingga orang tidak dapat melakukannya. Kuteringat system pengamanan berlapis yang diterapkan bank dalam mengamankan penyimpanan uang tunai. Dibanyak cabang bank, terutama cabang besar. Kunci pintu pertama masuk khasanah dipegang oleh si A, selanjutnya kunci masuk pintu kedua ruang khasanah dipegang oleh si B kunci kombinasi membuka ruang khasanah oleh si C dan kunci kombinasi lemari besi dimana didalamnya ada uang dipegang kepala kasir. Kunci penyimpanan formulir berharga baik bernilai nominal maupun tidak bernilai nominal dipegang pejabat yang berkenaan dengan formulir tersebut. Bila salah seeorang dimutasikan maka kunci kombinasi tersebut langsung diubah terutama bagian orang yang dimutasikan. Dengan system itu seorang saja tidak dapat langsung membuka lemari besi penyimpanan uang. Bagaimana membangun system yang lebih besar dalam skala mengurus birokrasi negara, tentu para ahli bernegaralah yang lebih mengerti.