Friday, 12 April 2013

NYESAL

Seorang tukang bangunan, mulai berkarier sejak umur 16 tahunan setamat dari SMP di kampungnya, merantau ke Jakarta mengadu nasib masuk sebagai pekerja kasar membangun rumah.  Tidak heran dari proffessi yang digelutinya sudah 48 tahun itu, kini ia telah tumbuh menjadi kepala tukang professional. Ilmu pertukangan yang digelutinya secara otodidak, boleh berlatih dan mencontoh itu, berkat ketekunnya ia menjadi seorang tukang yang sangat piawai. Ia bisa berperan sebagai tukang batu, menyusun dinding bangunan, iapun sanggup menjadi pengatur formula adukan semen/pasir/koral untuk buat cor-coran, pas sekali memplaster dinding,  tepat buat melepoh susunan bata, juga ahli pasang lantai dari mulai kramik sampai mar-mer. Dia juga sangat cekatan menjadi tukang kayu, membuat kusen segala model pintu dan jendela, aneka model rancangan  profil. Tidak itu saja, diapun mahir menjalankan  stang las menyambung besi, mendisain  model pagar dari model minimalis sampai berkelas. Itulah sebabnya pak Slamet ini disayang sangat oleh Bosnya pelaksanan  bangunan pemborong pekerjaan pembagunan di banyak gedung di kawasan Jakarta, baik bangunan swasta, maupun bangunan pemerintah, mulai dari gedung kantor sampai rumah tinggal para pembesar negeri ini.  30 tahun terakhir ini pak Slamet dipercaya oleh perusahaan tempat ia bekerja, sebagai mandor,  setelah tujuh tahun menjadi kepala tukang.
Diusianya yang ke  64 (enam puluh empat) tahun sekarang ini timbul pikiran baru dari pak Slamet, ingin menghabiskan masa tua pulang ke kampung halamannya, kumpul keluarga. Karena selama ini beberapa bulan sekali ia pulang kampung menjenguk istri dan anak, sambil mengasi nafkah isteri dan anak. Kini sudah punya belasan cucu, sukurang-kurangnya anak-anak pak Slamet lumanyan menamatkan pendidikan agak tinggi dari dirinya, satu dan lain hasil dia membanting tulang memeras keringat mulai dari jadi kuli bangunan, jadi kepala tukang dan kini jadi mandor. Walau sangat sederhana, siapa ndak kenal pak Slamet di kampungnya punya rumah lumayan besar berdiri di lahan yang cukup luas. Punya pula sumber pengasilan lain bertaman fanili dan beberapa bidang sawah.
Niat yang sudah bulat dan sudah dirembugkan dengan istri anak dan mantu itu, disampaikan kepada Bosnya. Berita ini mengagetkan si Bos, sebab Pak Slamet  orang andalannya, dia berperan dan pemberi  andil kemajuan usaha si Bos. Perusahaan bangunannya selalu unggul dalam berbagai tender, tidak kecil peranan pak Slamet dalam membuat perhitungan yang tepat. Setelah menjadi pemenang tender, melaksanakan pembangunan hampir tidak pernah mendapatkan klaim. Terjadi dialog yang cukup seru tetapi haru antara anak buah dan majikan, akhirnya apa boleh buat bagaimanapun akrabnya hubungan kerja mesti disudahi dengan berpisah, dalam dunia pekerjaan formal disebut pensiun.
Terdapat beberapa kesimpulan dari hasil dialog itu adalah:
  1. Bahwa pesrusahaan akan memberikan pesangon, sesuai hitungan yang berlaku dalam ketentuan perusahaan dan undang-undang perburuhan.
  2. Bos perusahaan mengajukan permintaan terakhir kepada pak Slamet, minta semacam kenang-kenangan. Si Bos minta dibangunkan sebuah rumah di atas tanah lebar 12 meter panjang  panjang 25 meter berlokasi di Jakarta pusat. Bos katakan, “karena ini bangunan kenang-kenangan, tolong pak Slamet disain sendiri modelnya, bahan bangunan tolong rencanakan dan belanja sendiri, tukang yang diperlukan berapa banyak dan biaya yang diperlukan seluruhnya atas tanggungan  pribadi saya”.
  3. Uang pesangon akan dibayarkan perusahaan setelah rumah selesai dibangun tersebut  point 2 selesai.
Empat bulan kemudian rumahpun selesai dibangun, al hasil ketika kunci diserahkan kepada si Bos, Bos menerima kunci itu, kemudian dikembalikan kepada pak Slamet dengan ucapan: “Ini rumah saya hadiahkan kepada engkau, atas jasa-jasamu selama ini membesarkan usaha saya. Rumah ini silahkan engkau tempati jika engkau ke Jakarta”. Selanjutnya Bos  sengaja mengundang beberapa staff perusahaan di ruang rapat, menyerahkan sejumlah uang sebagai pesangon seperti yang dijanjikan.
  1. Betapa bahagia dan haru pak Slamet menerima hadiah itu, tetapi timbul penyelesalan dalam dirinya yaitu: Bangunan itu dikerjakan asal-asalan, sebab mengejar target segera selesai karena agar lekas menerima pesangon.
  2. Bahan bangunan yang digunakan juga bukan kelas 1, sebab tidak ada pesanan utuk itu, walau semuanya diserahkan wewenang untuk menentukan bahan bangunan kepada dirinya. Jalan pikirannya adalah agar tidak terlalu banyak bos mengeluarkan dana, dipilihkan bahan-bahan kelas dua, disamping itu mudah mengerjakannya.
  3. Sedikit terselip kurang ihlas dalam melaksanakan pembangunan tersebut, sebab sudah merasa ingin resign tapi masih saja digandoli dengan syarat.
Begitulah agaknya kita hidup di dunia fana ini, kita diperintah Allah untuk membangun kediaman yang sebaik-baiknya di akhirat nanti. Walaupun sudah banyak mendengar dan mengetahui dari ajaran agama bahwa ibadah/amal kita di dunia ini akan kita dapatkan diakhirat kelak, kadang kita beramal asalan-asalan, beramal tidak ikhlas dan banyak beramal hanya mengejar taget untuk mengggugurkan kewajiban.

Friday, 29 March 2013

NGIDAM

Seluruh nusantara paham, ngidam adalah keinginan seorang wanita yang sedang hamil muda. Biasanya keinginan itu lazimnya berupa kepengin makan sesuatu yang biasanya dalam keadaan normal tidak merupakan kebiasaan. Tapi tidak jarang keinginan bukan saja makanan, tetapi ingin melakukan sesuatu, sebelum ngidam tidak pernah dilakukan.
Menurut kata orang tua-tua bahwa kalau keinginan ibu muda sedang ngidam tidak dipenuhi, anak yang dilahirkan nanti akan ngiler, atau akan berulah kurang menyenangkan. Konon keinginan calon ibu itu adalah keinginan si bayi yang sedang dikandungnya. Konon lagi “Wanita yang mengandung anak perempuan lebih sering ngidam makanan yang manis-manis termasuk  coklat, sementara jika mengandung anak laki-laki maka lebih sering ngidam makanan asin.
Berangkat dari anggapan inilah, maka di dalam keluarga yang normal si suami berupaya memenuhi kekepenginan si isteri, tidak pandang waktu dan kadang tidak milih cara. Tengah malam si isteri tiba-tiba pengin makan “cucur”, tidak boleh tidak harus ada. Suami sudah katakan bahwa kemana cari kue cucur tengah malam gini. Pusat jajan pasar Senen kan baru digelar secepatnya pukul tiga dinihari. Si isteri tetap mendesak, akhirnya sambil mengucek-ngucek mata si suami berangkat juga, walau akhirnya pukul empatan subuh baru pulang membawa kue cucur. Takut ntar anaknya ngileran, ngantuk-ngantuk berangkat juga yang penting jangan ribut ama bini. Adapun tidak memilih cara, misalnya suatu malam si isteri tiba-tiba kepengin pepaya muda milik tetangga. Tentu tidak etis membangunkan tetangga hanya ingin memetik sebuah pepaya muda tengah malam gitu, terpaksa si suami memanjat pepaya tetangga sekedar mengambil sebuah buat memenuhi keinginan sang isteri. Besok pagi baru datang ke rumah tetangga menceritakan bahwa tadi malam ambil pepaya  tetangga tersebut. Anehnya tetangga dengan senang hati memperkenankan hal itu, sebab tau si isteri tetangganya itu sedang hamil muda dan lagi ngidam. Itulah kearifan lokal kita.
Gejala apa ini sebenarnya, sepertinya belum ada pakar yang dapat memberikan jawaban secara tuntas dengan dalil yang meyakinkan. Masyarakat modern tentu saja berusaha menjawab ini dengan alasan logis, medis  dan mungkin juga dengan pendekatan kejiwaan. Kelompok religi tentu mencari tau fenomena ini dari dalil agama.
Bahasan dari sudut medis yang pernah kubaca mereferensikan bahwa proses ngidam diakui secara kedokteran sebagai reaksi dari awal kehamilan. Hanya saja, untuk sementara ini belum ada kesimpulan yang bisa dijadikan acuan untuk memahami hakekat ngidam.
Dalam pada itu untuk menyingkap tabir Ngidam dari sudut agama, kalaupun akan kucoba tentu atas acuan agamaku yaitu agama Islam. Untuk itu referensinya hanya ada dua yaitu Al-Qur’an dan hadits rasulllah Muhammad s.a.w.  Acuan al-Qur’an  dan hadits tentang ngidam harus kita cermati dari ayat-ayat dan hadits yang mengabarkan tentang terciptanya manusia dalam kandungan ibu. Cukup lengkap referensi, informasi dari Allah tentang penciptaan manusia, sejak manusia pertama, tidak kurang juga tentang manusia berikutnya seperti kita sekarang ini. Dari sekian banyak referensi tersebut diantaranya yang paling runtut adalah di dalam surat Al Hajj dan Al Mu’minun
Al Hajj 5










dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi,
Al Mu’minun 12-15


12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.


13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.


15. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.
Dari informasi ayat-ayat di atas secara garis besar dikabarkan asal kejadian manusia. Sejak kapan dalam proses itu mendapat tambahan roh sehingga menjadi mahluk hidup.
Rasulullah Muhammad S.A.W. berkata: Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya dalam waktu 40 (empat puluh) hari, kemudian menjadi segumpal darah selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga (40 hari), kemudian diutuslah Malaikat kepadanya dan ditiupkan ruhnya, kemudian diperintahkan untuk menuliskan 4 perkara; rejeki, ajal, amal perbuatan dan nasibnya celaka atau bahagia. (Perawi : Abdullah bin Mas’ud, kitab : Mu’jam Asy-Syuyukh, jilid 2, hal 764, derajat hadits : Shahih)
Tahap penciptaan manusia setelah terjadi pertemuan sperma dan ovum sampai ditiupkannya ruh adalah sebagai berikut :
1. Proses sperma menjadi segumpal darah, 40 hari.
2. Proses segumpal darah menjadi segumpal daging, 40 hari.
3. Proses segumpal daging menjadi tubuh yang lengkap, 40 hari.

Pada hari yang ke-120 ruh ditiupkan dan Allah S.W.T. mengutus Malaikat untuk mencatatkan rejeki, waktu kematian, amal perbuatan dan nasibnya celaka atau bahagia. Catatan 4 perkara ini sengaja dirahasiakan agar manusia tetap berusaha menjadi yang terbaik. Manusia tahu akan takdirnya setelah suatu peristiwa telah terjadi. Ketetapan ini bukan berarti Allah SWT menzhalimi hamba-Nya jika ia celaka. Manusia tidak berhak menyalahkan Allah SWT atas ketetapan-Nya, karena Allah S.W.T sangat sayang terhadap hamba-Nya (QS. 6 : 12) dengan memberikan Al-Qur’an sebagai buku panduan, hidayah, akal, hati, panca indera, dan sarana lainnya yang terbaik yang dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul-Nya, mengabulkan setiap permohonan (QS. 14 : 34) dan diberi hak untuk memilih perubahan dirinya (QS. 13 : 11).
Dari Hudzaifah bin Usaid r.a. berkata, aku mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda, Apabila nutfah telah berusia empat puluh dua malam, maka Allah mengutus malaikat, lalu dibuatkan bentuknya, diciptakan pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulangnya. Kemudian malaikat bertanya, Rabbi, laki-laki ataukah perempuan?` Lalu Rabb-mu menentukan sesuai dengan kehendak-Nya, dan malaikat menulisnya, kemudian dia bertanya, Ya Rabbi, bagaimana ajalnya?` Lalu Rabb-mu menetapkan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian ia bertanya, `Ya Rabbi, bagaimana rezekinya?` Lalu Rabb-mu menentukan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian malaikat itu keluar dengan membawa lembaran catatannya, maka ia tidak menambah dan tidak mengurangi apa yang diperintahkan itu.
Hadits ini menjelaskan diutusnya malaikat dan dibuatnya bentuk bagi nutfah setelah berusia enam minggu, bukan setelah berusia 120 hari sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa peniupan ruh itu dilakukan pada usia janin 42 hari berdasarkan hadits ini.
Namun sebagian ulama lainnya mengkompromikan kedua hadits tersebut dengan mengatakan bahwa malaikat itu diutus beberapa kali, pertama pada waktu nutfah berusia empat puluh hari, dan kali lain pada waktu berusia empat puluh kedua (80 hari)  kali ke tiga 40 hari ketiga (120 hari)  untuk meniupkan ruh. Secara nalar bila disebutkan bahwa ruh ditiupkan, maka wajar bila janin itu kemudian bisa merespon suara. Akan tetapi apakah respon itu hanya akan terjadi manakala ruh sudah ditiupkan, tentu perlu diselidiki lebih lanjut. Sebab respon itu ada yang berasal dari makhluk bernyawa, tetapi ada juga dari makhluk yang belum bernyawa.
Kembali ke soal “ngidam”, apakah terkait dengan pembawaan calon bayi mulai 42 hari, yaitu setelah diciptakan bentuk si calon bayi. Bayi lelaki lain permintaannya dengan bayi perempuan, seperti terungkap “konon” di awal tulisan saya, bayi lelaki ibu yang mengandung berselera makanan yang asin bayi perempuan ibunya berselera makan manis-manis.  Ataukah perasaan ibu ngidam terpengaruh oleh perubahan bentuk dalam proses semenjak datangnya Malaikat yang pertama kali, datang yang kedua dan datang yang ketiga. Wallahu a’lam bishshawab.
Kata ngidam ini, sering juga dipergunakan dalam pengertian keinginan kuat atau yang digandrungi. Misalnya pria idaman artinya pria yang sangat digandrungi oleh wanita, begitu juga wanita idaman artinya hampir semua pria suka terhadap wanita dengan kriteria tersebut. Lain lagi bila masuk dalam  arti cita-cita, sering disebutkan dalam kalimat yang “diidam-idamkan”. Bangsa ini sebelum kemerdekaan mengidam-idamkan masyarakat yang adil makmur aman sejahtera, sampai sekarang idaman tersebut belumlah tercapai seluruhnya.
Begitu juga mungkin lahirnya seorang pemimpin, apakah pemimpin partai atau bangsa, pembawaan si pemimpin mungkin banyak ditentukan ketika peroses ngidamnya, yaitu proses sebelum dianya terlahir jadi pemimpin, proses kampanye proses pemilu. Kalau ia  dalam proses sebelum lahir jadi pemimpin dia suka ngidam bermewah-mewah, suka bagi-bagi duit, alamat si pemimpin nanti kalau jadi, akan korupsi, sekurangnya untuk nutup ongkos.
wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh




Thursday, 21 March 2013

Renungan Jum’at: TIMBANGAN AKHIRAT


Kitab Suci, kadang sulit diterjemahkan pada zamannya, dia adalah informasi dari Allah pencipta jagad raya ini yang maha mengetahui sebelum sekarang dan nanti. Di zaman diturunkan Al-Qur’an mungkin banyak orang yang tidak percaya terutama orang yang lemah imannya bahwa ada sebuah catatan yang dapat ngomong, ada catatan yang bukan hanya dapat ngomong tapi dapat pula menghadirkan kembali suatu peristiwa yang lalu, seperti yang  Allah informasikan kepada kita di dalam surat Al-Jatsiah ayat 29 (45:29)



(Allah berfirman): "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." 
Bahwa jika ayat ini dibahas sekitar se abad yang lalu, belumlah tercapai akal manusia pada saat itu, karena di masa se abad silam, belum ditemukan perangkat arsip seperti sekarang ini, yang kini dikenal dengan flashdisk. Dengan benda lebih kecil dari ukuran dua jari itu dapat disimpan data demikian banyak. Dapat di rekam peristiwa pernikahan misalnya; yang berdurasi empat lima jam. Apalagi flashdisk milik Allah (kitab catatan Allah) tentu dapat merekam kejadian kita sejak dalam kandungan ibu, keluar  dari perut ibu, menjadi anak-anak, dewasa, berumah tangga, menjadi rakyat biasa, menjadi pejabat negara, pensiun, sampai diantar keliang kubur.
Itulah salah satu kebenaran al-Quran yang turun 14 abad lalu sudah mengisahkan bahwa:
Ada suatu kitab yang mencatat semua apa yang kita amalkan secara lengkap, bukan saja secara naratif (tulisan) tetapi juga secara visual, vidio dan bertutur.
Kitab itu bukan saja hanya mencatat, tetapi dapat bertutur tentang apa yang kita lakukan termasuk apa yang kita buat di Jum’at ini , baik selaku khatib sedang berkhutbah dan saudara sebagai jamaah yang secara tekun menyimak uraian khutbah atau ada  mendengarkan dengan terangguk-angguk lantaran ngantuk.
Selanjutnya di dalam renungan singkat ini saya ajak Bapak dan Saudara menghubungkan ayat 29 surat al Jatsiah itu dengan surat al-Qariah (surat berkisah tentang kiamat)  ayat 6 sampai dengan 9, untuk menyimak berita dari Allah tentang masa yang akan datang.

6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,

7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.

8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,

9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah

Di ayat di atas Allah memberikan informasi bahwa di pengadilan akhirat nanti,  catatan amal kita dibuka dan catatan itu dapat menceritakan; bertutur akan semua amal kita, amal baik dan amal buruk tidak satupun terlewatkan dan lengkap dapat divisualisasikan, sehingga tak mungkin untuk membantah dan tak mungkin untuk meminta bantuan pembela para pengacara, yang di Indonesia kini lagi banyak job lantaran banyak para koruptor memerlukan jasa mereka. Sebab sebagai saksi adalah seluruh anggota tubuh kita yang selama di dunia tidak diberi Allah kemampuan bicara di akhirat jadi dapat berkata-kata.
Di dalam surat “kiamat” ayat 6 sampai dengan 9 yang baru kita simak, Allah memberitahukan bahwa akan diadakan timbangan tentang kebaikan kita. Disini dititik beratkan hanya kebaikan dari amal kita. Ganjarannyapun dijelaskan bahwa siapa orangnya yang banyak amal kebaikannya maka dapat kehidupan yang memuaskan, menyenangkan atau surga. Sementara itu bagi yang kurang amal kebaikannya maka orang itu akan masuk kedalam neraka “Hawiyah”
Amal kebaikan ditimbang baik secara kualitas maupun secara kuantitas.
Boleh jadi amal kita banyak, tetapi tidak berkualitas sehingga timbangannya tetap saja ringan. Banyak penyebab menjadi amalan banyak itu setelah ditimbang ringan misalnya:  Terdapat kurang ikhlas,  tersisip riya, ingan mendapatan balasan sesama. Contoh kalau kita bayangkan menimbang hasil panen. Setelah dilakukan sortir ada yang kualitas A, kualitas B dan kualitas C dstnya. Kualitas A nilainya lebih tinggi dari kualitas B dan C. Bahkan mungkin ada kebaikan yang sama sekali tidak dimasukkan dalam timbangan, karena tidak termasuk dalam kriteria yang diterima Allah. Contoh hasil panen yang busuk.
Sebaliknya dapat juga terjadi kuantitas amalannya sedikit tetapi berkualitas tinggi, karena dilaksanakan dengan niat yang tulus, dengan sungguh-sungguh dan ikhlas serta dengan pengorbanan yang luar biasa.
Percayalah bahwa tidak seorangpun yang dianiaya ketika dilakukan penimbangan amal tersebut. Allah berulang tegaskan di dalam Al-Qur’an bahwa tidak seorangpun diantara kita dianiaya antara lain  dalam surat Yasin ayat 54:

54. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. 

Kebaikan yang akan ditimbang menurut Al-Qur’an sebagai referensi kita di renungan Jum’at ini mari kita lihat surat al-Baqarah ayat 177:
 
siapa yang beriman kepada Allah

  beriman pada hari kemudian, 
 
  beriman kepada adanya malaikat-malaikat Allah.

 beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah

 beriman kepada Nabi-nabi Allah

 memberikan harta yang dicintainya:

 Kepada karib kerabat

  anak yatim

 orang-orang miskin

 orang musafir yang memerlukan pertolongan

  orang yang meminta-minta

 membebaskan hamba sahaya

 mendirikan shalat

 menunaikan zakat

 menepati janji, bilamana ia bejanji
 

  orang-orang yang sabar dalam kesempitan penderitaan
dan perperangan
 
 
  Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa
Semogalah kita semua mempunyai kuantitas dan kualitas amal baik yang optimal ketika ditimbang dihadapan pengadilan Allah kelak.
Barakallahu liwalakum filqur’aniladzim wanafaanni waiyakum bima fihi minal ayati wadzikril hakim wataqaballahu minna waminkum tilawatahu innahu huwassamiul alim aquulu qaulihadza wa astaghfirullahaladzim lii walakum fastaghfiruhu innahu huwalghafururrahim.


Wednesday, 20 March 2013

RAHASIA PEMANGKAS RAMBUT KERAJAAN


Seorang pemangkas rambut Raja di suatu kerajaan semenjak menjadi pemangkas rambut Raja tidak diperkenankan lagi memanfaatkan keahliannya untuk memangkas rambut rakyat umum, kecuali anak-anak raja langsung. Sebagai imbalannya, ahli tata rambut itu dijamin semua keperluan hidupnya, mulai dari sandang papan dan pangan serta kebutuhan kesehatan dirinya dan keluarga, termasuk pendidikan anak-anaknya.
Larangan berhubungan dengan masyarakat umum, khususnya dalam berinteraksi ketika memangkas rambut itu, demikian kerasnya, dengan sanksi akan dihukum mati bila berani melanggar larangan tersebut. Rupanya larangan itu  bukan tidak beralasan, karena Raja khawatir andaikata aib dirinya diketahui rakyatnya.  Sedangkan aib itu hanya mungkin diketahui oleh orang dalam posisi sedekat pemangkas rambut.
Tidak banyak orang yang sanggup menahan rahasia sampai mati, termasuk si pemangkas rambut Raja tadi. Itu nampaknya sifat dasar manusia bahwa, menyimpan rahasia adalah suatu beban yang berat. Jikalau ada sesuatu rahasia akan merasa terkurangi beban, bila rahasia tersebut sudah disampaikan atau diinformasikan kepada orang lain. Walau ketika menyampaikan rahasia itu dengan pesan “ini rahasia lho!!!”.
Akan hal pemangkas rambut sang Raja tadi, lain halnya kalau dianya diculik musuh kerajaan, misalnya oleh musuh kerajaan dia diminta membocorkan rahasia, apalagi dengan ancaman siksaan dan intimidasi, tentu akan sedikit demi sedikit walau terpaksa atau sukarela dengan harapan dilindungi musuh, rahasia sang Raja akan dibongkar.
Di dalam kisah kita ini pemangkas rambut tidak diculik musuh kerajaan, namun tetap saja dia tidak sanggup memikul beban rahasia itu, dia akan katakan juga rahasia itu agar tidak menyiksa bathinnya. Diam-diam diwaktu senggang dia pergi ke hutan lebat, di mana di dalam hutan itu terdapat sebuah gua. Mulut gua begitu kecil hanya dapat dimasuki oleh seorang dengan merangkak, setelah masuk beberapa meter ruangan di dalam gua menjadi luas walau tentunya hanya kemasukkan sinar matahari ketika menjelang tengah hari, kemudian berangsur gelap lagi bila matahari sudah bergeser ke barat. Waktu senggang dipilih si pemangkas rambut Raja adalah ketika ruangan di dalam gua kemasukkan sinar matahari, untuk meyakini bahwa tidak ada sesosok manusiapun di dalam gua.
Kedatangan ke gua tidak pula setiap hari, kadang seminggu atau dua minggu sekali. Setelah diyakini tidak ada orang di dalam gua si pemangkas rambut itupun di depan mulut gua membuka rahasia sang Raja. Rahasia itu sebenarnya sepele saja bahwa diliang telinga kanan Raja terdapat bulu yang panjang. Anehnya bulu panjang itu melingkar-lingkar di liang telinga, tugas si pemangkas rambut mengaturnya supaya tidak menutupi lobang telinga, disamping itu tidak tampak keluar telinga. Raja tidak memperkenankan memotong bulu panjang tersebut, sebab disitulah letak kesaktian beliau. Bila bulu itu terpotong maka kedigdayaan/kesaktian si Raja hilang bersama bulu itu, selain itu kesaktian akan pudar bila diketahui oleh empat puluh orang lelaki rakyat biasa. Sebab itulah si Raja wanti-wanti jangan menceritakan perihal “bulu telinga” itu kepada siapapun, termasuk kepada anak dan isteri pemangkas rambut, dikhawatirkan diketahui orang yang tidak suka kepada Raja atau dapat saja rahasia itu diketahui musuh kerajaan dari negeri lain.
Cara yang ditempuh si pemangkas rambut Raja adalah dengan cara berbisik di mulut gua “Kuping Raja Berbulu Panjang, tidak boleh dipotong karena disitulah kesaktiannya”. Setelah mengemukakan beberapa kali kalimat tersebut secukupnya, rasanya beban bathin kepercayaan Raja ini menjadi hilang buat sementara. Begitulah terus berulang dilakukan bila tekanan bathin mulai terasa lagi.
Begitulah Raja-Raja dalam dongeng  sedang berkuasa mempertahankan kekuasaan mereka, dengan segala cara. Diusahakan sampai sekecil apapun rahasia yang memungkinkan untuk mendongkel kedudukannya diantisipasi walau dengan biaya yang tinggi.
Bagaimanapun sesuatu yang disembunyikan lama kelamaan ada saja jalannya akan terbuka. Entah bagaimana suatu hari dua orang pemburu lantaran hujan gerimis sebelum tengah hari, masuk ke dalam gua, untuk berteduh. Itu mulai petaka bagi kekuasaan sang Raja, tidak diketahui oleh pemangkas rambut ketika tengah hari, ia tidak menyangka ada orang yang sedang mendengar bisikan di mulut gua.  Bermula dari dua mulut pemburu berteduh dihujan gerimis itu berita itu dari mulut ke mulut diketahui oleh rakyat, dengan cepat mencapai jumlah empat puluh orang lelaki. Kesaktian Rajapun serta merta menurun, wibawanya jatuh, instruksi-instruksinya kepada para menteri mulai tidak dipatuhi. Banyak menteri mulai berlomba-lomba korupsi. Disana sini rakyat dan kelompok perguruan dan buruh demontrasi minta penggantian Raja baru.
Keadaan pertanian dan perekonomianpun menjadi serba salah, bawang merah dan bawang putih yang mestinya tumbuh subur di negeri kerajaan itu, menjadi langka. Daging sapi menjadi termahal dibanding dengan kerajaan-kerajaan  tetangga. Rakyat di kerajaan itu banyak yang harus cari nafkah ke kerajaan lain, walau sebetulnya lahan pertanian dan hutan di kerajaan itu demikian luasnya. Lautnya luas dan banyak ikan dan hasil laut ikutan, tetapi tidak dapat dijaga dari masuknya nelayan kerajaan lain mencuri hasil lautnya. Buminya penuh dengan aneka tambang, sayangnya tidak sepenuhnya dapat dipergunakan untuk kemakmuran kerajaan.
Begitulah sekedar dongeng ”rahasia kuping Raja berbulu”, di suatu kerajaan di zaman dahulu, kini kesaktian seorang raja bukan lagi karena bulu, tetapi banyak ditentukan doku.

Sunday, 24 February 2013

MERENUNGI BUNGA MANGGA


Ternyata bunga mangga muncul diujung ranting. Ternyata tidak setiap ranting pada musim mangga berkembang, ditumbuhi oleh bunga mangga. Proses selanjutnya dari bunga mangga itu tidak semuanya menjelma menjadi buah mangga, hanya sebagian menjadi buah, sisanya gugur. Ternyata dalam proses bunga menjadi pentil mangga (pencit) yang berperan adalah serangga lalat buah. Ternyata lalat buah itu hanya hadir melaksanakan tugasnya menyerbuk/mengawinkan bunga mangga, ketika mangga sedang berbunga.
Begitu yang kuamati pohon mangga di halaman rumahku. Ketika rumah ini kami tempati sekeluarga hampir duapuluh tahun lalu, pohon mangga itu baru ditanam. Itu pohon  tumbuh subur dengan cepat, begitu tinggi itu pohon sampai terlihat oleh tetangga kampung sebelah. Dimusim berbuah lebatnya luar biasa, sempat sampai hampir seribu butir. Seiring dengan itu, bilamana mangga di halaman depan rumah itu sedang berbuah, sejak mulai buah muda sudah mulai bermasalah. Banyak orang yang datang bukan lagi anak-anak yang datang menyatroni buah, tetapi orang dewasa. Dengan berani mereka membawa galah di siang bolong tanpa permisi menjuluk/menurunkan mangga. Pernah terjadi kami kebetulan tidak mengetahui, karena berada di dalam rumah, tetangga menegor mereka, malah tetangga kami itu yang diajak berantem. Terakhir sekitar 4 tahun lalu dengan terpaksa pohon mangga itu kami tebang, sebab dampaknya sudah semakin buruk, buah mangga dilempari pakai batu, lemparan tersebut mengenai genteng tetangga, mengenai mobil tetangga yang parkir di halaman.
Kini  tunggul pohon mangga itu sudah berbatang dan beranting lagi, sudah berbuah lagi. Begitu mulai berbunga, bagian yang terlihat di jalan terpaksa kami potong. Bunga-bunga yang rendah itulah yang mudah mengamatinya dari halaman rumah, seperti yang kukemukakan di atas.
Timbul pertanyaan:
1.    Kenapa tidak setiap ujung ranting muncul bunga
2.    Kenapa tidak semua bunga menjelma menjadi pentil mangga (pencit)
3.    Kenapa tidak semua pencit menjadi buah
4.    Dari mana lalat buah datang, padahal sebelum mangga berbunga tidak ada lalat buah, dimana si lalat buah tinggal selama ini.
5.    Dua pohon mangga berlainan jenis kendati ditanam berdampingan, kenapa rasanya tidak pernah tertukar atau bercampur, walau sama-sama berbunga dan berbuah dalam semusim.
Akhirnya semuanya hanya dapat terjawab bila dipulangkan kepada yang menciptakan alam semesta ini, Allah menyatakan di dalam  Al-Qur’an surat Al Fusilat  ayat 47
 



(Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya (melainkan dengan sepengetahuan-Nya.)
Menyimak ayat di atas renungan tadi langsung mendapat jawaban dan bahkan sadarlah kita bahwa diri inipun diciptakan Allah dengan sangat-sangat ajaib. Oleh karena itu sadarlah kita bahwa hidup inipun seperti buah mangga. Semula tumbuh setangkai kembang disela ranting, kemudian menjadi pentil mangga, buah mangga dan mateng, akhirnya dipetik. Diantara kembang mangga tadi, ada yang tidak sampai menjadi pentil manggga, sudah rontok duluan. Pentil mangga tidak semuanya menjadi mangga muda, kadang jatuh tak tau sebabnya. Mangga muda tidak semuanya menjadi mangga ranum, kadang sudah dipetik semasa sedangnya dibuat rujak. Bigitulah agaknya tamsil kehidupan ini, tidak semua kita sampai diusia lanjut, kadang  belum dewasa sudah berpulang, kadang sedang asik merajut karier sudah datang maut, kadang baru saja pensiun sudah almarhum, kadang sampai pula pikun belum juga meninggal.
Harapan kita semua, panjang usia yang optimal dalam:
Keadaan sehat sampai akhir hayat
Agar masih tetap dapat ibadat,
Tidak sampai membuat anak cucu matanya sepat,
Lantaran nenek/kakeknya sulit dirawat.


Tuesday, 19 February 2013

MINDER


Sepertinya kata “Minder” bukan asli bahasa Indonesia, wajar  di Kamus Umum Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka 1986 disusun W.J.S. Poerwadarminta tidak terdapat padanan kata dari  kata “Minder”  tersebut.  Masyarakat  awam dari strata apapun  di Indonesia agaknya paham akan arti kata “Minder” tersebut,  yaitu suatu perasaan dari dalam diri seseorang sehingga mendorong prilaku  kurang percaya diri, akibatnya antara lain salah tingkah, canggung, serba salah, malu-malu, tidak berani berbuat sesuatu, tidak berani tampil, tak berani mengemukakan pendapat.
Sebab minder dapat dikelompokkan menjadi 6 (enam):
1.    Phisik. Seorang yang terlahir dengan phisik yang tidak normal seperti kebanyakan orang, seringkali membuat pemilik phisik menjadi minder. Banyak kasus orang cacat phisik cenderung mengucilkan diri dari pergaulan. Walau ada juga yang tidak peduli dengan ke cacatannya itu, justru memotivasi dirinya untuk berbuat sebisanya, kadang malah dapat melakukan sesuatu yang melebihi orang normal. Tetapi ada orang yang cacat phisiknya tidak begitu tampak, maka ia akan berusaha untuk menyembunyikan kecacatannya itu agar tidak diketahui orang lain. Salah satu contoh ada teman saya yang cacat di jari tangannya, sedapat mungkin ia sembunyikan kecacatannya itu agar ia tidak menjadi minder. Contoh lain ada teman saya “cacat ucapan”, tidak bisa melafazkan huruf “R” seperti kebanyakan orang. Ini membuat ia minder untuk berbicara ditengah umum. Teman saya ini berusaha untuk mnyembunyikan ketidak mampuannya mengucapkan huruf “R” itu dengan cara; setiap kata yang ada huruf “R” nya dia usahakan mengucapkan padanan katanya yang tidak ada unsur “R” nya. Misalnya suatu ketika ia i ngin membakar rokok, kebetulan tidak punya korek api. Kepada kawannya ia bukan minjam korek api, tapi pinjam “macis”.
2.    Cara berpikir. Secara kodrati bahwa manusia berbeda, itu salah satu tanda kebesaran Allah menciptakan manusia diantaranya manusia berbeda cara berpikir. Perbedaan tersebut dalam hal tidak terlalu ekstrim antara para pihak yang berbeda akhirnya dapat disetarakan dengan musyawarah. Tetapi dalam kasus yang ekstrim ada diantara kita di komunitas tertentu cara berpikirnya demikian berbedanya dari masyarakat dikomunitasnya. Bila yang bersangkutan dalam posisi yang sangat kuat dalam arti orang terpandang atau yang dituakan, atau dianya berkuasa, perbedaan cara berpikirnya ini tidak membuat yang bersangkutan minder, bahkan berupaya mempengaruhi masyarakat di komunitasnya. Tidak jarang menjelma jadi diktator. Pribadi dikenal mau menang sendiri ini hanya mendapat sanksi masyarakat maksimum dicuekin. Masyarakat dilingkungannya tidak kuasa menanggapi cara berpikir orang ini, lebih memilih menghindar atau bila didepannya tidak membantah tapi dibelakangnya mengumpat. Berbeda kalau orang yang cara berpikirnya nyeleneh ini bukan orang terpandang di komunitasnya, maka yang bersangkutan nantinya memilih menghindari berargumentasi di komunitasnya, akhirnya yang bersangkutan menjadi mender.
3.    Ilmu. Wajar bila seorang yang merasa ilmunya masih kurang dibandingkan anggota komunitas yang sedang ia hadapi, atau berhubungan dengan orang yang lebih tinggi ilmunya, terjadi kurang PD pada diri orang yang kurang ilmunya itu. Walaupun ada kasus orang yang ilmunya cetek justru lebih percaya diri dari orang yang ilmunya tinggi. Malah si cetek ilmu ini sok tau, serba tau dan tidak mau kalah dalam berbicara apa saja. Sebaliknya ada kalanya orang yang berilmu tinggi membawa “ilmu padi”, makin berisi makin merunduk. Orang yang tersebut terakhir tidak minder hanya merendahkan diri.
4.    Harta. Soal harta,  banyak orang merasa minder dengan orang yang berharta banyak apalagi di era yang materialistis ini, orang memandang terhormat seseorang, diukur dari harta kekayaannya. Orang miskin dipandang rendah, orang kaya dipandang terhormat. Keadaan ini membuat orang yang tidak berharta banyak menjadi minder. Tidak jarang orang yang tak punya untuk datang bersilaturahmi ke keluarganya yang lebih kaya menjadi sungkan, berujung terkendala hubungan silaturahmi antara keluarga yang miskin dengan keluarga yang berada. Kesudahannya terbentuklah komunitas keluarga yang sesama berharta banyak dengan keluarga yang sesama miskin. Secara lebih luas dalam masyarakatpun akan terbentuk komunitas selevel tersebut, kaya sesama kaya dan miskin sesama miskin.
5.    Status sosial. Terbentuknya status sosial dapat dari tingkat pendidikan, jabatan dalam kemasyarakatan dan juga berhubungan dengan harta kekayaan. Orang yang berpendidikan tinggi secara umum mempunyai kedudukan status sosial yang tinggi di dalam masyarakat, terkait dengan itu mempunyai kemampuan berlebih dalam perekonomian dan harta kekayaan. Bagi orang yang status sosialnya rendah/pas-pasan minder terdadap orang yang berstatus sosial tinggi. Keminderan itu berlanjut tidak berani untuk berhubungan dengan yang bestatus sosial tinggi, walau pihak yang berstatus sosial tinggi itu adalah kawan lama semasa sekolah, teman sekampung bahkan masih ada hubungan keluarga.
6.    Asal usul/Keturunan. Walau kini sejak zaman sudah berubah tetap saja asal keturunan keluarga ini masih tetap melekat pada pola berpikir masyarakat kita. Keadaan itu membuat minder orang yang merasa berasal keturunan bukan bangsawan, sementara akan merasa tinggi bagi orang yang mengetahui dirinya adalah keturunan bangsawan. Bagi di banyak daerah di Indonesia identitas keturunan ini sering dikaitkan dengan gelar-gelar tertentu digandengkan dengan nama diri yang bersangkutan. Sementara di kalangan saudara kita dari daerah tertentu walau bukan tergandeng di tambahan nama, dari nama diri yang bersangkutan sendiri dapat diketahui bahwa dianya berasal dari keturunan bawah atau menengah atau orang bangsawan.  Suatu hari atasan saya di tempat tugas di suatu daerah minta kepada saya untuk mencari tau nama asal salah seorang pegawai, di administrasi kepegawaian bernama (tak baik bila disebut dalam tulisan ini). cukup lama saya menggali informasi dari teman ini, tentang apakah teman saya itu sejak lahir bernama seperti yang dipergunakannya dalam administrasi kepegawaian. Jawabannya cukup mencengangkan saya, bahwa nama diri yang bersangkutan ketika lahir adalah bukan itu. Ketika zaman mempertahankan kemerdekaan, teman saya yang sudah agak sepuh ini rupanya pejuang kemerdekaan. Kampung mereka suatu ketika di zaman mempertahankan kemerdekaan,  digeledah Belanda dari rumah-kerumah mencari sekelompok pemuda  yang dikenal dengan antara lain nama asal sejak lahir teman ini. Oleh pamong setempat untuk menyelamatkan beberapa pemuda di desa itu yang masuk dalam black list Belanda diubah namanya menjadi nama kelas menengah atas yang disandangnya sekarang. Barulah saya mengetahui bahwa di tatanan masyarakat bos saya tadi, nama diri seseorang dapat dikenali apakah yang bersangkutan dari kalangan bawah, dari kalangan menengah ke bawah, dari kalangan menengah ke atas atau kalangan bangsawan. Sepertinya dewasa ini sudah tidak dapat dikenali lagi nama seseorang untuk mengetahui dalam kelompok strata mana ia berasal, sebab para orang tua sudah semakin bebas memberikan nama anaknya begitu lahir, karena sudah ditunggu untuk membuat akte kelahiran. Dianjurkan kepada para calon orang tua sudah menyiapkan nama anaknya beberapa bulan sebelum dilahirkan. Berikanlah nama yang baik buat anak-anak agar sekaligus menjadi do’a selain identitas diri. Jangan sampai anak  menjadi minder dengan namanya.
Konsep agama Islam memotivasi pemeluknya agar tidak minder sesama manusia, sebab manusia mempunyai kedudukan yang sama disisi Allah s.w.t. yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya adalah kadar ketaqwa’an masing-masing kepada Allah s.w.t. seperti ternukil dalam surat Al Hujurat ayat 13.
 
(Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu)
Maha benar Allah dengan segala firmannya.

Thursday, 7 February 2013

KEKAYAAN BAHASA DAERAH

Bahasa Indonesia untuk mengungkapkan “Jatuh” kemana saja arahnya  tergantung ke mana arah jatuhnya. Kalau jatuh ke arah depan disebut “jatuh kemuka atau jatuh kedepan”. Kalau jatuhnya ke belakang disebut “jatuh ke belakang”. Jika jatuh ke samping dikatakan “jatuh ke samping kiri atau kanan”. Pokoknya kata “jatuh harus tetap ikut untuk mewakili pergerakan mendadak dari atas ke bawah itu. Beda dengan bahasa daerah, dengan sepenggal kata sudah terwakili situasi dan kondisi jatuh tersebut, walau kata “jatuh” tidak ikut dalam rangkaian kata dimaksud.
Contoh konkrit bahasa daerah demikian kayanya untuk mengungkap kata jatuh. Ambil saja bahasa Melayu kampung saya untuk mengungkapkan keadaan jatuh tersebut demikian kayanya istilah yang tidak perlu mengikutkan kata “jatuh”. Penutur dan pendengar langsung dapat memahami keadaan jatuh bagaimana yang dimaksud.
•    Jatuh ke belakang          = Tebelangka’
•    Jatuh ke depan              =  Tetingkap
•    Jatuh ke samping            = Tesirik
•    Jatuh kepala ke bawah    =    Nyunjam
•    Jatuh berdiri            =  Tecacak
•    Jatuh kesenggol sesuatu    =    Tekait
•    Jatuh terlempar jauh        =  Tepelesat
•    Jatuh meluncur dan banyak luka   =  Tekelaras
•    Jatuh disertai hilang kesadaran   =   Selap
•    Jatuh terbaring      =      Tegolek
Isteri saya penutur bahasa Jawa tidak kurang banyaknya padanan kata “Jatuh”
•    Jatuh ke belakang      =      Nggeblak
•    Jatuh dari atas        =    Ceblok
•    Jatuh ke depan      =      Nyungsep
•    Jatuh karena tersandung     =   Kejlungup
•    Jatuh meluncur      =      Ndlosor
•    Jatuh dari tempat tidur    =    Ngglundung
•    Jatuh disertai hilang kesadaran  =  Semaput
•    Jatuh cinta        =   Tresno
•    Jatuh ndak bangun lagi,   =     Mate’
•    Jatuh tak sengaja        =    Kepleset
•    Jatuh terguling-guling   =     Kringkelan
•    Jatuh karena tak ada penahannya =   Mberosot
•    Jatuh miskin       =     Mlarat
•    Jatuh lalu tak berkutik lagi     =   Modar
•    Jatuh sakit      =      Loro
•    Jatuh sengsara      =      Soro
•    Jatuh dari jabatan      =      Nlongso
•    Jatuh hati karena kesusahan orang  =  mesakno
•    Jatuh di tempat tidur sulit bangun  =  Kesirep
Untuk mengungkapkan keadaan seseorang tertimpa beberapa masalah musibah sekaligus diistilahkan “Sudah jatuh tertimpa tangga”.