Friday, 24 February 2012
PiLU MENDENGAR KAMPANYE PEMILU
Antara lain isi pidato tamu dari kota itu adalah: “Kita harus dapat memilih wakil-wakil kita yang duduk di lembaga legislatif yang representatif dan mampu membawakan aspirasi konstituennya. Bila wakil-wakil kita mayoritas di lembaga legislatif, akan mampu memberikan dukungan kepada pihak eksekutif sehingga dapat menjalankan roda pemerintahan dengan effektif”.
Tamu dari kota berkunjung di suatu desa sebagai tamu pak lurah itu, rupanya adalah JURKAM salah satu kontestan PEMILU,......yaa....... sudah era reformasi. Pak lurah mengerahkan penduduk kampung untuk mendengarkan kampanye. Dipilihlah waktu sesudah Isya dan dilaksanakan di ruang kelas bangunan SD setempat dengan penerangan lampu petromak. Agar lebih banyak dapat menampung pengunjung, tiga kelas dibuka sekatnya sehingga menjadi satu ruangan. Pengeras suara pakai inventaris kelurahan dengan tenaga Aki, lumayan lantang kedengaran bukan saja di ruangan, juga sampai ke telinga penduduk sekitar sekolahan dikeheningan malam di desa. Lazim sudah, janjipun diucapkan bahwa “kalau partainya menang desa akan terang benderang oleh listrik”.
Biasalah, istiadat penduduk desa kita di mana saja di tanah air Indonesia ini, sangat-sangat memuliakan tamu. Apalagi orang dari kota, ingin melihat dan ingin jabat tangan ingin mendengarkan apa yang akan diomongkannya. Ala kadarnya mesti disiapkan sekedar makanan, paling tidak makanan kecil. Tapi karena itu orang tamu pak lurah dan kebetulan desapun belum lama panen. Maka diacarakan sesudah mendengarkan ceramah akan makan bersama hadirin yang diundang. Pak lurah sungkan juga kalau tidak menyediakan makan malam sekalian, karena si tamu ada juga sedikit ngasih sumbangan buat kas desa (bukan money politik). Jadi itu duit sekalian digunakan untuk konsumsi.
Pak Jurkam diam-diam rupanya terselip juga dihatinya menyaksikan beberapa bapak tua terharu ketika ia bicara tadi. Dia rasa pembicaraannya tidak ada yang menyedihkan, penuh semangat, sesekali dengan mengacung-ngacungkan tangan ke atas dengan telunjuk dan kepalan. Tapi kenapa itu beberapa bapak tua menangis. Soal petromak hanya disinggung janji akan diganti listrik, bukan menyinggung/mencela mengapa kalau hanya mampu pakai petromak. Apakah mereka tau bahwa janji memasangkan listrik buat desa hanya “janji kampanye”, setelah itu tak ada ujungnya.
Selesai ceramah, dan mulai makan malam diatur “empat setalam” *), pak lurah dengan sang pembicara di talam yang sama dengan dua orang lainnya yaitu sekretaris desa dan satu lagi dari rombongan tamu. Talam lain wakil lurah dengan tamu rombongan dan seterusnya tetua masyarakat sesuai ketuaan dan herarkhi desa. Aturan ini sudah otomatis jalan dengan sendirinya ketika makanan dihidangkan.
Keterangan:
*)Talam adalah tempat menghidangkan makanan, di dalamnya sudah lengkap seperangkat nasi serta lauk pauknya. Menyantap makanan tanpa sendok garpu, tersedia “kobokan (tempat air cuci tangan). Dihidangkan di lantai di atas tikar, setiap talam dilingkari oleh empat orang, duduk bersila, makanya diistilahkan “empat setelam”. Talam dikeluarkan oleh tuan rumah ketika acara makan akan dimulai. Jadi ketika ceramah tidak terlihat makanan.
Sambil menyantap makanan pembicara pun berbisik ke pak lurah: “Maaf pak kalau pembicaraan saya tadi menyinggung perasaan sebagian bapak-bapak tadi yang saya lihat menangis”. Pak Lurah: “Memang pak, beberapa Bapak tadi terharu dan pilu mendengar pidato Bapak, mereka bukannya tersinggung”. Tambah penasaran si “agitator” dalam hatinya apa yang membuat terharu, sedang dia bicara berapi-api. Pembicara penasaran bertanya lagi: “Tentang apa pak lurah kalau boleh saya tau mereka terharu”. Pak lurah menjelaskan: Bahwa di desa ini pernah ada seorang “tuan guru” (seorang panutan yang disegani karena pengetahuan yang tinggi di bidang agama), telah lama meninggal kira-kira limabelas tahun yang silam. Si tamu dari kota itu makin penasaran mendesak pak lurah kepingin tau: “Apa pembicaraan saya tadi ada yang menyinggung “tuan guru” tersebut. Kejar si pembicara. Oh ....Tidak........... tidak, kata pak lurah meyakinkan. “Lalu apa pak lurah”, lanjut pembicara. Dengan sabar pak lurah menjelaskan: “Tuan guru yang sangat dihormati itu bernama ABDUL LATIF”, “Lantas apa hubungan dengan kampanye saya tadi pak lurah”. Tanya sang Jurkam. Pak lurah meneruskan ceritanya: “Dikira bapak tua-tua yang pada nangis itu Bapak kenal akrab dengan tuan guru mereka, sebab Bapak menyebut-nyebut =LEGISLATIF, EKSEKUTIF, RESPRESENTATIF dan EFFEKTIF= dalam pidato Bapak. Ingatan mereka tergugah kepada mendiang “tuan guru” mereka “Abdul Latif”. Apalagi ada tambahan Bapak menyebut-nyebut mayoritas, dikira mereka, bapak juga kenal anak “tuan guru”. dulu berpangkat sersan mayor putra daerah sini yang gugur dalam pertempuran zaman konfrontasi.
Oooh begitu,....... sambil mangguk-mangguk sang tamu sebagai Jurkam tadi merespon keterangan pak lurah. Ternyata para bapak tua tadi tidak paham arti legislatif, eksekutif, respresentatif dan effektif.
Malamnya Jurkam masih harus bermalam di rumah pak lurah, sebab besok siang baru ada tumpangan ke kota dengan perahu bermotor. Sebelum tidur si Jurkam mulai memikirkan nanti kalau kampanye lagi di pedesaan lain seperti ini, harus disesuaikan istilah-istilah yang diperkirakan kurang mengerti maksudnya. Misalnya legislatif diganti menjadi “anggota DPR”. Eksekutif mungkin cocok diterjemahkan menjadi pemegang kendali pemerintahan. Respresentatif agaknya mendekati arti dapat dipercaya dan effektif tak akan jauh kalau diterjemahkan menjadi: tepat, mengena, berhasil guna yang lebih tinggi. Mayoritas akan diterjemahkan dalam jumlah yang lebih banyak dari partai lain.
Cuma masalah janji, sulit juga nanti kalau benar benar menang, apa betul-betul listrik akan jadi terang benderang di desa yang penduduknya lugu itu. Oh itu perkara nanti pikirnya yang penting menang dulu, si Jurkam menentramkan dirinya sendiri.
Monday, 20 February 2012
SAKSI
Al-Jauzaqani menyebutkan dalam kitab Al-Abathil (2/197), beliau mengatakan, “Ini adalah riwayat yang bathil (tidak benar). Abu Sumair seorang yang haditsnya mungkar, meriwayatkannya seorang diri… dst”. Ibnu Jauzi menyebutkannya dalam Al-Ilalul Mutanahiah (2/388) di mana beliau menyatakan hal yang senada dengan yang ditulis Al-Jauzaqani. Imam Adz-Dzahabi menyebutkannya dalam Miizanul I’tidal ketika beliau mengemukakan biografi Abu Sumair Hakim bin Khidzam ini –yang dalam Al-Hilyah dan Al-Abathil disebutkan, Hizam (dan bukan Khidzam)- Beliau juga mengatakan bahwa Abu Hatim berkata, “Sesungguhnya Abu Sumair ditinggalkan haditsnya”. Dengan demikian diketahui bahwa kisah ini sangat dha’if (lemah, tidak kuat) ditinjau dari jalur Abu Sumair Hakim bin Khidzam.
Terlepas dari dha’if atau shahih riwayat tersebut, yang jelas ini bukan terjadi di zaman Rasulullah Muhammad s.a.w. masih hidup, sudah periode khalifah yang ke empat. Filosofi yang dapat diambil dari kisah ini adalah bahwa penerus-penerus risalah Islam sesudah para khalifah berupaya untuk memberikan motivasi kepada penegak hukum, bahwa hukum Islam harus ditegakkan dengan adil, tidak memihak kepada yang berkuasa sekalipun. Mungkin ini latar belakang riwayat ini dirilis, guna diteladani penegak hukum dan saksi. Di riwayat, contoh ekstrim seorang kepala pemerintahan kalah dalam berperkara hanya tidak punya saksi yang sesuai “aturan kesaksian memutuskan perkara dalam Islam”. Untuk perkara seperti di atas harus dua orang saksi laki-laki, saksi perempuan harus empat orang atau seorang lelaki dua orang perempuan, tidak diterima saksi dari anak sendiri. Untuk perkara perzinahan harus empat orang saksi.
Saksi haruslah adil dan berkata sebenarnya bahkan untuk perihal kesaksian Allah s.w.t. mengajarkan langsung dengan ayat Al-qur’an diantaranya di dalam surat Annisa ayat 135.
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”.
Pada pengadilan di negeri ini yang dipertontonkan belakangan, sering terlihat bahwa saksi memutar balikkan keadaan yang sebenarnya, tidak sejujurnya bersaksi. Beberapa hakim dan penegak hukum juga dikabarkan oleh media ada oknum yang menyalah gunakan wewenang mereka. Apakah bangsa ini harus impor penegak hukum dari luar negeri, seperti halnya kita impor garam, impor kedele dan bahkan terakhir impor ikan. Dulu pernah ada film seorang penegak hukum di China namanya Judge Bow, mungkin yang macam itu perlu di impor.
Kembali ke soal saksi. Nabi Muhammad s.a.w. pernah berkata: “Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya (yang dusta), maka sesungguhnya Allah mewajibkan baginya masuk neraka dan mengharamkan baginya syurga.” Seseorang bertanya: “Sekalipun terhadap sesuatu yang remeh ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “(Ya), sekalipun sebatang kayu arak (yang digunakan untuk bersiwak).” (HR. Muslim).
Dalam ayat lain Allah s.w.t. memberitahukan di dalam Alqur’an: “Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu diantaramu yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh tegaknya dan kamu rasakan kemelaratan (didunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan bagimu azab yang besar.” (QS. An-Nahl :94).
Himbauan buat para saksi, bersaksilah dengan benar, sadarilah bahwa hukum di dunia jauh lebih ringan dibanding hukum akhirat. Anda dapat berlindung di dunia ini dengan berbagai teknik termasuk kebohongan, tetapi di akhirat tidak ada yang dapat berbohong lagi sebab yang menjadi saksi adalah seluruh anggota badan sendiri, kita banyak dapatkan informasi tentang hal itu di dalam ayat-ayat kitab suci berbagai agama. Hukuman di dunia terukur relatif singkat, sesingkat hidup ini, sedangkan hukuman akhirat kekal tak berkesudahan. Coba contoh negara lain, seorang Presiden saja mengakui kesalahannya ketika tersiar tentang dirinya berselingkuh. Baru-baru ini Persiden Jerman undur diri karena ditenggarai melakukan sesuatu yang tidak patut menurut norma negara pemeran utama perang dunia kedua itu.
Cobalah renungkan yang agak mendalam, akan kehidupan ini benar-benar hanya sebentar, tidak ada orang yang akan hidup di dunia ini di atas seabad. Kalaulah hidup di atas seabad kondisi sudah tidak lagi menyenangkan baik bagi diri sendiri maupun bagi orang yang melihat. Diri sendiri sudah serba kepayahan sedang yang melihat (anak cucu kita) merasa iba dan kasihan. Sebab sudah serba salah, banyak makan sakit, sedikit makan sakit, tidak jalan repot kalau jalan-jalan takut tak dapat pulang (karena lupa alamat), ketawa, menangis dan meringis sudah hampir sama. Pokoknya serba sulitlah. Maka nabi Muhammad s.a.w. mengajarkan do’a, mengenai “usia” lafaznya begini: “Allahumma inni audzubika minal azzi, wal kasali wal buhli wal harami” maknanya kurang lebih “Ya Allah hindarkan aku dari malas, dan bahil (kikir) serta usia pikun (tidak berdaya)”. Beberapa waktu lalu (15-06-2011) pernah kutulis dalam blogspot ini dengan judul “Harta Kita Kumpulkan ternyata untuk orang lain”.
Semoga tulisan ini terbaca oleh orang yang sedang menjadi saksi, atau setidaknya orang yang dapat menasihati orang yang sedang jadi saksi perkara korupsi di negeri ini.
Thursday, 9 February 2012
Hasad
Manusia tercipta dari phisik dan jiwa, roh dan jasmani. Sebagaimana jasmani, jiwapun adakalanya sakit. Diantara penyakit jiwa yang jelas nampak adalah “hilang ingatan”. Sedangkan sakit jiwa selain “hilang ingatan” itu tadi tidak kalah banyaknya dibandingkan dengan penyakit phisik. Bahkan menurut penelitian di Jerman (Radio Jerman “deutsche welle” bahasa Indonesia pagi 08-02-12) bahwa lebih 50% penyakit phisik bersumber dari jiwa, perasaan dan pikiran.
Pengobatan sakit phisik kebanyakan ke dokter alamatnya, sedangkan penyakit jiwa sebagian terbesar tidak dapat dilimpahkan ke dokter, terutama penyakit jiwa dalam artian rohani penyembuhannya dimungkinkan dengan keyakinan agama.
Salah satu penyakit rohani dalam terminologi agama penyakit hasad, yaitu seseorang yang tidak senang mendengar atau melihat orang lain senang/mendapatkan kebahagiaan. Sangat bahagia/senang bila melihat, mendengar orang lain menderita kerugian, kesusahan.
Untuk menilai apakah diri anda sedang mengidap penyakit hasad silahkan introspeksi apakah diri anda termasuk berperangai dengan kecenderungan:
1. Senang melihat orang lain susah, susah melihat orang senang. Bersyukur kalau orang mendapatkan musibah/kerugian/bencana. Bersedih hati jika orang mendapatkan keberuntungan/kebahagian.
2. Berusaha agar orang lain menjadi susah, berusaha agar kesenangan orang lain menjadi hilang.
3. Berusaha agar orang lain menjadi susah bila perlu mencelakai orang lain itu, merampas kesenangan orang lain agar pindah kesenangan/kebahagiaan itu kepadanya.
4. Berusaha agar orang lain susah, walaupun karena itu ia juga ikut susah dalam bathinnya biar sama-sama susah. Berusaha menghilangkan kesenangan orang lain walaupun dengan hilangnya kesenangan orang lain itu dianya sendiri tidak menjadi senang.
Penyakit ini menghinggapi orang dalam suatu komunitas, orang yang ia hasad kepadanya adalah sesama sekelompok. Hampir tidak perduli dengan komunitas lain, walaupun di komunitas lain itu orang sesukses apapun. Orang sekampung, orang satu perusahaan, orang satu institusi, orang satu profesi, orang yang masih sekeluarga dan hubungan kekeluargaan.
Orang sekampung.
Ia tidak suka menyaksikan orang sekampung dengannya mencapai kesuksesan, dicari cacat celanya, karena dialah katanya yang paling tau mengenai orang yang sukses itu, bagaimana ia dulu. Dari riwayat dan asal usul si sukses itu, seharusnya sangat tidak wajar ia sukses, dulunya begini, dulunya begitu dan lain sebagainya. Pokoknya dia merasa tidak terima atas kesuksesan orang sekampung dengannya.
Orang satu perusahaan/orang satu institusi.
Penyakit hasad sangat mudah hinggap di kalangan orang-orang dalam satu perusahaan. Dalam organisasi perusahaan/insitusi. Promosi dalam karier tidaklah seperti halnya ketika masih sekolah. Siswa /mahasiswa yang satu angkatan naik kelas dan selesai pada umumnya bareng dalam jumlah yang sama, hanya satu dua dalam jumlah yang kecil tidak berhasil. Lain halnya dengan di lapangan pekerjaan. Ada kata-kata bijak diungkapkan untuk mahasiswa ketika selesai kuliah.
“Untuk sukses dan berprestasi ketika kuliah harus jadi mahasiswa yang pandai”
“Untuk sukses dan berprestasi di masyarakat harus jadi orang yang pandai-pandai”
Jadi di masyarakat, di tempat kerja seseorang tidak hanya dituntut “pandai” tetapi rupanya harus dituntut dengan “dua pandai” atau pandai-pandai.
Di masyarakat dan di dunia kerja, orang naik jabatan, meningkat karier tidak lagi sama satu angkatan. Sama-sama masuk dengan pendidikan yang sama, seseorang melejit kariernya, sedangkan yang lain biasa-biasa saja. Orang yang kebetulan bernasib tidak semujur temannya yang melonjak kariernya itu, jika mengidap penyakit hasad, sungguh sangat menderita. Tinggal tergantung tingkat hasad yang bersangkutan pada stadium mana dari 4 (empat) stadium yang tersusun di atas. Makin tinggi stadiumnya makin berat keadaan orang itu, tidak jarang harus mengorbankan apa saja. Di instansi/institusi perusahaan kadang tidak jarang yang bersangkutan, bila juga tidak berhasil mencapai tujuan pemenuhan hasad itu, ia berhenti keluar dari suatu pekerjaan dan pindah ke tempat lain.
Bukan tidak ada setelah yang bersangkutan pindah ke tempat bekerja lain, dapat menyaingi rivalnya di tempat bekerja lama, bahkan lebih berjaya. Tidak pula jarang terjadi, setelah pindah malah terpuruk. Tapi bagi si penyandang hasad walau terpuruk yang penting puas dihati.
Ini yang sering kunasihatkan buat anak-anakku dimeja makan, jangan turutkan perasaan hasad yang ada di hati. Manusia memang berpotensi punya sifat itu dan jika diturutkan akan merusak diri. Jika melihat teman sekerja sukses, syukuri dan ikut berbahagia. Yang penting bekerjalah yang terbaik yang kita bisa, kesuksesan itu, siapa yang bakal melejit kariernya itu adalah sudah dipilih oleh yang menciptakan kita. Kalau kita sudah bekerja yang terbaik yang kita dapat lakukan itu sudah cukup untuk menyelamatkan dunia dan akhirat.
Orang satu profesi.
Hasad sangat mudah hinggap pada kelompok orang seprofesi, sebab dengan profesi yang sama sering terjadi ada yang populer ada yang biasa-biasa saja dan bahkan hampir tidak dikenal. Ambil contoh profesi sebagai seorang ustad. Ada ustad yang bila berceramah, para pendengarnya terkagum kagum, berjam lamanya dia berceramah orang tak ada yang bosan. Kemana mana sering diundang ceramah sampai mendapat julukan penceramah kondang. Sementara itu ada ustad juga yang konon seilmu dan mungkin lebih tinggi ilmunya, tapi memang bakat masing-masing, rupanya cara penyajian beda dan tidak sepopuler si ustad kondang. Tak jarang si ustad ini pun dihinggapi penyakit hasad, tandanya lantas misalnya menyindir “ceramah bukan untuk mendapatkan tepuk tangan seperti sebagian ustad yang memasukkan humor dalam ceramahnya” ujar si ustad dalam suatu ceramahnya. Lanjutnya lagi “Kalau saya tidak, saya sampaikan sesuai apa adanya”. Demikian contoh gaya ustad yang juga terkena penyakit hasad. Jangan dikira penyakit ini hanya diderita oleh orang awam, tak jarang hinggap kepada ustad dan juga imam shalat. Bukan tidak mungkin seorang imam shalat ketika mengimami waktu membaca bacaan shalat dalam hati terbetik perasaan halus “begini membaca yang benar ndak seperti si anu yang sekarang jadi ma’mum kalau dia jadi imam” ini juga karena hasad, sebab si anu rival sesama imam tadi sering ditunjuk jadi imam. “Biar dia mendengar contoh bacaan yang pas”, sambung bathin si imam.
Pedagang sesama pedagang, biasanya pedagang barang sejenis. Tukang cendol biasanya tak akan iri dengan pedagang buah. Menyoal hasad bukan monopoli bangsa kita saja, bukan monopoli bangsa yang agama bukan menjadi dasar/falsafah negara. Tetapi di negara para nabi lebih hebat lagi hasad ini dimunculkan orang. Tahun 2000 saya pernah berkunjung ke Saudi melaksanakan umrah bersama dua anak saya, isteri serta Ibunda dan Adik. Rombongan kami termasuk keluarga saya hanya 17 orang, jadi program ziarah rombongan kami sangat efektif dan santai karena bis besar disediakan untuk kami sungguh leluasa. Di Madinah program tour umrah kami adalah mampir di pasar korma tak jauh dari masjid nabawi. Singkat cerita bis besar yang kami tumpangi itu parkir dilahan parkir diarahkan oleh Mutawwif (pemandu wisata) di depan sebuah toko. Katakanlah misalnya persis di depan toko Blok A4. Namanya rombongan, mereka berkeliaran melihat-lihat korma di beberapa toko dan akhirnya banyak diantaranya yang belanja korma di toko blok A6, A5 dan bahkan ada di A3. Rupanya pemilik toko A4 tidak terima, parkir di depan tokonya belanja di toko lain. Si pemilik dan kerani toko A4 tak segan-segan menyamperi pemilik toko A5, A6 dan A3 marah-marah. Saya baru menyaksikan mereka ribut bertengkar masing-masing seperti kontes urat leher, dada dengan dada sampai bertemu, anehnya kedua tangan mereka di taruh di belakang pinggang. Jadi tidak terjadi saling pukul. Kami tidak paham apa yang mereka pertengkarkan itu, apalagi bertengkar dalam bahasa arab, ngomong perlahan saja sedikit sekali perbendaharaan bahasa arab kami. Yang terpikir buat kami cepat-cepat kembali ke bis dan cabut dari daerah itu, takut juga kalau terjadi apa-apa di negeri orang. Dalam perjalanan Mutawwif kami menjelaskan bahwa yang dipertengkarkan oleh para pemilik toko kurma tadi adalah “parkir di depan tokonya, tapi belanja di toko lain yang jadi sasaran kemarahan pemilik toko tempat belanja, rombongan kami. Dianggap pemilik toko lain menggaet pembeli yang seharusnya belanja ditokonya” Ada satu budaya mereka bahwa berantem hanya pakai mulut dan beradu dada, tangan disimpan dibelakang, sebab kalau sampai memukul hukumannya berat dan yang dipersalahkan siapa yang lebih dulu memukul. Peristiwa ini terjadi karena hasad. Ia kurang yakin bahwa rezeki dari Allah. Hati pembeli tertarik belanja di toko mana yang mereka suka, walau dengan harga, kualitas dan pelayanan yang sama, semuanya hak Allah untuk menggerakkan langkah pembeli. Model hasad di negeri kita belum sampai seperti itu agaknya, kalaupun ada secara halus, lebih ekstrim mungkin tak bertegur sapa.
Orang yang masih sekeluarga
Tetua kami di tanah melayu Kalimantan Barat punya pepatah:
“Kelapa setandan tak sama jatuhnya”.
“Ada yang hanya sampai beluluk”
“Ada yang jadi santan di belanga”
“Ada yang cengkir airnya diteguk”
Kelapa menjadi buah, melalui proses mayang terbungkus mancung kelapa (bungkus bunga kelapa), kemudian mayang terurai terjadi penyerbukan oleh serangga dan angin, jadilah beluluk (pentil calon buah kelapa). Tidak semua mayang menjadi beluluk, tidak semua beluluk menjadi buah kelapa, lebih dulu dimakan tupai. Setelah jadi buah kelapa, tak jarang baru saja ada air di dalamnya belum ada daging kelapa, masih cengkir, sudah dilobangi tupai, atau ada pula orang ngidam ingin minum air kelapa cengkir, diambilkan beberapa buah kelapa cengkir dari tandannya. Setelah buah agak berdaging, ada pula orang yang suka kelapa muda yang baru berdaging sedikit, ada juga yang ingin kalau dagingnya sudah agak tebal (dogan kalai) tapi belum keras. Ada pula kelapa sudah tua baru dipetik untuk diambil santannya dimasak dalam belanga atau dijadikan kelapa kopra. Ada juga yang sampai tua jatuh sendiri, kemudian menjadi bibit. Begitu falsafah setandan buah kelapa.
Tapi tak banyak orang yang menyadari bertamsil kepada alam ciptaan Allah. Kakak adik sekeluarga saling hasad dan iri hati, tidak senang kalau saudaranya sukses, malah berupaya untuk menjatuhkannya dengan tingkatan-tingkatan stadium saya kemukakan di atas. Belum lagi berhasad dengki mengenai pembagian waris. Satunya menganggap pihak dia yang lebih berhak atas warisan yang itu, sedang dia (saudaranya) dulu masih orang tua hidup sudah dapat lebih banyak, disekolahkan sampai keluar negeri, “tidak seharusnya ia dapat juga, karena sudah banyak menghabiskan uang almarhum Papah”. Kata saudara yang ingin pembagian lebih banyak. Banyaklah problem yang membuat kadang adik beradik menjadi tidak akur. Pangkalnya adalah penyakit hasad. Belum lagi bila ada campur tangan suami atau isteri dari mereka yang bersaudara yang menghimbau/ngompori dari belakang, perhasadan semakin seru. Banyak kita dengar kakak adik sampai kemeja hijau lantaran soal warisan, itu masih jauh lebih baik, ada yang saling bermusuhan sampai tua. Naudzubillahi min dzalik.
Hubungan kekeluargaan.
Masyarakat kita di Indonesia, adalah model masyarakat yang masih kental hubungan kekeluargaan. Keluarga dekat adalah anak-anak paman dan tante bahkan sampai garis keturunan keempat kelima, masih dianggap keluarga. Banyak segi positipnya memang, tetapi tak kurang pula sisi negatipnya. Misalkan salah seorang atau sekelompok dari yang masih dianggap keluarga itu kebetulan berada di posisi atas dalam strata sosial, katakanlah jadi pejabat terpandang dan banyak harta. Sanak famili kadang diantaranya ada yang malah menjauh karena menganggap si sukses tadi sombong, tidak perdulian dengan sanak famili. Sebaliknya si sukses disebabkan banyak teman dan handai serta relasi sudah tidak sempat mengambil perhatian untuk sanak famili sendiri. Penyakit hasad yang melekat di hati keluarga yang kurang sukses, kadang sampai mendo’akan “yang kurang baik” kepada si sukses. Kalau kebetulan suatu saat si sukses benar-benar jatuh, maka sanak famili yang merasa dianggap sepi sewaktu si sukses berjaya, sangat bersyukur. Ini bentuk penyakit hasad yag seyogyanya dijauhi. Kalau bukan ada hubungan kekeluargaan dengan mereka, orang lain sukses malah mereka tidak ambil perduli, kalau keluarga sendiri yang sukses justru hasad/irinya setengah mati.
Adalah ikhtiar untuk mengobati penyakit hasad yang berpotensi di dalam diri kita mungkin ada baiknya kita renungkan sejenak peristiwa pada jaman Rasulullah Muhammad s.a.w. masih hidup tentang soal per hasad an ini yaitu:
Dalam suatu majelis Nabi bersama sejumlah sahabatnya, tiba-tiba beliau mengatakan: “Sebentar lagi akan datang ke majelis ini seorang ahli surga”. Tidak lama kemudian seorang lelaki datang masuk ke dalam majelis dan ikut berkumpul dalam majelis Nabi. Kejadian tersebut terulang sampai kali yang ketiga dilain kesempatan diucapkan Nabi, lelaki yang datang juga orang yang sama. Al hasil para sahabat lainnya yang semuanya tentu menginginkan menjadi ahli surga, ingin berguru atau memantau apa gerangan yang diamalkan oleh salah seorang sahabat yang diketahui bernama “Saat bin Abi Waqash” itu.
Disetujui oleh sekumpulan sahabat lainnya mengutus “Ibnu Ummar” menjadi “mata-mata”. Diaturlah situasi sedemikian rupa sehingga Ibnu Umar bermalam di kediaman “Saat bin Abi Waqash”.
Selama tiga malam sampai sengaja malam hari sang mata-mata tidak tidur, untuk mengamati amalan si empunya rumah, tatapi tidak didapatkannya perbuatan istimewa yang dilakukan sahibul bait. Pagi hari ke empat, tamu menyatakan pamit mohon diri. Di dalam pamit itu terus terang dikemukakan maksud dan tujuan sampai bermalam tiga malam, untuk memikul tugas dari sekelompok sahabat yang mendengar sabda Rasulullah dikemukakan di atas. Sahibul bait menyatakan bahwa ia tidak punya amalan istimewa, dan memang kenyataannya seperti yang disaksikan selama tiga malam oleh si tamu. Salah satu yang diamalkannya, adalah tidak pernah merasa hasad atas karunia Allah yang diperoleh orang lain. Itu hanya pelajaran diperoleh Ibnu Umar dari bermalam tiga malam di rumah orang yang dinyatakan Rasulullah sebagai ahli surga. Demikian khutbah Jum’at seorang khatib di salah satu Masjid di bilangan Jakarta Pusat.
Mengambil i’tibar dari peristiwa itu, Insya Allah bila kita jauhkan hasad, di dunia ini hidup akan tenang tentram dan bahagia, terbebas dari beban penyakit jiwa yang cukup mendera, sedangkan di akhirat dijanjikan surga.
Monday, 30 January 2012
TETANGGA
Hidup saya kebetulan punya dua anak lelaki memilih profesi jadi dokter, kebetulan pula anak menantu saya yang baru satu, juga seorang dokter. Jadi penduduk rumah ada tiga orang dokter. Suatu malam, sejak pukul tujuh malam, sudah mulai terasa kondisi kesehatan menurun. Memang sepuluh tahun terakhir ini, saya mulai menderita penyakit gula, kalau kondisi seperti malam itu, biasanya gula darah bermasalah. Betul juga sekitar pukul tujuh malam gula darah sewaktu ditest pakai “Gluco Dr” angka menunjukkan 70. Atas anjuran anak saya yang tengah di RSCM melalui hp, saya disuruh minum air gula. Berhasil juga sampai menjelang tidur naik gulanya hampir seratus. Tau tau ba’da subuh isteri saya dengan bantuan tetangga mengantarkan saya ke rumah sakit, sementara saya dalam keadaan tidak sadar. Keberadaan di rumah sakit saya ketahui setelah pagi hari dalam keadaan infus melekat di tangan.
Anak dan mantu saya kebetulan malam itu tidak ada di rumah, anak yang tua sedang berada di luar kota, sementara anak yang satu lagi sedang di rumah sakit (RSCM) berada di meja operasi dan tak dapat ditinggalkan, sedangkan anak mantu sedang dinas malam di rumah sakit di bilangan Bekasi yang cukup jauh dari posisi kami di Jakata Pusat. Alhasil kalaulah tidak ada tetangga yang mengurus saya, sulit dibayangkan bagaimana mengangkut saya kerumah sakit. Syukurnya walaupun kami berada di Jakarta Pusat, namun kebetulan kerukunan rukun tetangganya cukup baik. Itulah guna tetangga, dan membenarkan kalimat hikmah di awal tulisan ini. Kalimat hikmah itu terinspirasi dari hadits Rasulullah s.a.w. “Pilihlah tetangga (lihat calon tetangganya atau lingkungannya dulu) sebelum memilih rumah. Pilihlah kawan perjalanan sebelum memilih jalan dan siapkan bekal sebelum berangkat (bepergian). (HR. Al Khatib).
Persolannya adalah, di saat sekarang ini tidak lagi setiap orang dapat menentukan untuk berumah di mana, banyak faktor yang menentukan seseorang bertempat tinggal. Antara lain tempat mencari nafkah/tempat mendapat pekerjaan. Seseorang lahir di suatu kota, orang tua serta seluruh keluarganya dikota kelahirannya, belum tentu ia akan mendapat kerja, mendapat lahan mencari nafkah di kota kelahirannya. Ada lagi sebuah keluarga yang karena instansi tempat ini bekerja, pindah-pindah pekerjaan ke berbagai kota, di setiap kota telah ditetapkan oleh institusinya menempati rumah dinas. Dua contoh di atas bagi yang beruntung, sementara ada keluarga yang kurang beruntung, mencari tempat tinggal sesuai kemampuan, kebetulan masih jadi “kontraktor”, apa boleh buat sesuai ukuran kocek menentukan tempat tinggal.
Di kota seperti Jakarta, kini sudah sempit tanah untuk pemukiman, sekarang banyak dibangun “Apartemen” dan “Rusun”. Bagi yang berkantong tebal menghuni “Apartemen” bahkan ada yang memilki “Apartemen” hanya untuk investasi, tidak dihuni. Sementara bagi yang berkantong agak tipis menghuni “Rusun”. Di Jakarta di tengah kota metropolitan ini banyak sekali penghuni RSSS (Rumah Sangat Sederhana Sekali). Ukuran 2 x 3 meter dihuni puluhan orang. Rumah hanya digunakan untuk nyimpan pakaian, kalau tidur gantian, atau milih tidur di jalan. Yang tersebut terakhir tentu bukan pilihan mereka, pada dasarnya mereka juga tidak kehendaki keadaan itu, tapi apa mau dikata, mereka hidup ini tidak pernah ajukan aplikasi. Mereka telah dilahirkan di ruangan itu, dibesarkan di ruangan itu. Nasiblah yang kelak akan membawa mereka kemana. Sambil menunggu kebijakan pengatur negara ini, bagaimana mengatasi kehidupan sebagian masyarakat ibu kota republik ini. Bicara soal tetangga, mereka bertetangga dekat sesama kawasan yang punya tempat tinggal ukuran yang hampir sama. Kelompok ini mudah tersulut emosi, mungkin penyebabnya protes dengan keadaan sekeliling. Kemewahan terpamer di depan mata, mobil mewah lalu lalang di jalan tak jauh dari hunian mereka, gedung mewah dan kehidupan serba berkecukupan begitu melek mata terlihat jelas. Sementara mereka tak kuasa mengangkat diri keluar dari serba ketidak cukupan.
Soal bertetangga, saya pernah menempati komplek perumahan yang dibangun bank BTN waktu itu disebut PERUMNAS dari masih lajang sampai punya anak satu. Ada seorang teman akrab saya juga ikut sepaham dengan saya mencicil bangunan di perumahan itu. Posisi kami belakang-belakangan. Rumah saya menghadap ke barat sedang rumah rekan saya itu menghadap ke timur. Saya sudah menerapkan “pilih tetangga sebelum berumah”. Teman saya ini teramat baik, ibarat kata, kalau saya kenapa-kenapa dia akan tampil lebih dulu melindungi dan mengatasi masalah saya. Selama saya berteman dengan beliau (lebih tua hampir sepuluh tahunan dari saya), belum pernah mengecewakan. Beliau punya anak tunggal, dengan isterinyapun baik kepada saya dan keluarga sampai setelah saya menikah, sampai kami berpisah karena saya mutasi ke kota lain. Kebetulan kami sekantor, pulang dan pergi ke kantor berbarengan. Ada saatnya kami berdua mendapat kesempatan dari kantor pendidikan bersama-sama dan diinapkan di penginapan. Tidak pulang kerumah selama seminggu. Di kantor kami kalau pendidikan, dapat uang saku. Dasar saya masih saja ingin bercanda, besok paginya setelah pulang ke rumah, dengan suara agak keras saya berteriak dari lantai dua kepada isteri saya yang meringkes celana akan di cuci. “Dek-dek, tolong keluarkan uang dari celana uang saku kursus ada tujuh puluh lima ribu jangan sampai kecuci”. Rupanya isteri Pak Is, juga sedang berada di kamar mandi mereka yang dekat dengan kamar mandi kami hanya di pisahkan jalan cuma liwat sepeda motor. Agaknya teriakan saya dari lantai dua itu terdengar oleh Bu Is. Ketika itu juga sedang mengeluarkan isi kantong-kantong celana Pa Is dari pulang kursus. Beliau juga menemukan uang, tapi hanya Rp 7 ribu lima ratus. Tahun-tahun itu uang masih “gagah”, biaya hidup keluarga kami (belum punya anak) cukup dengan tujuh sampai sepuluh ribu seminggu.
Rupanya teriakan saya itu berpengaruh lumayan buat Pak Is dan Bu Is. Kasihan Pak Is, mendapat perubahan sikap dari Bu Is selama beberapa hari, mungkin lebih seminggu. Akhirnya pak Is tidak tahan melihat perubahan sikap isterinya sepulang kursus, kemudian bertanya. Kenapa kau jadi begini, kira-kira tanya pak Is pada isterinya. Isterinya sambil menangis dengan suara tersendat mengatakan “Papah punya simpanan cewek lain”. “Kau ini ngomong apa, ndak ada ujan dan ada angin, nuduh orang sembarangan, dari siapa kau dapat cerita ngawur ini”. Sela Pak Is dalam perdebatan itu. Kalaulah pak Is bukan lelaki yang bijak, akan bermasalah dengan saya, umpamanyalah pak Is lantas naik pitam setelah mendengar ucapan isterinya langsung ia melabrak saya sebab isterinya bilang dalam dialog: “Itu dari pak Syarif”. Kalau cuma berhenti di kalimat itu, langsung Pak Is tidak tanyakan lagi maka berantakanlah persahabatan kami yang sudah sekian lama. Untung Pak Is tanya lagi, kapan dan apa yang Pak Syarif omongkan. Isterinya menceritakan bahwa: pak Syarif di rumahnya pagi hari ketika isterinya meringkes celana bekas kursus, menyebutkan uang saku sebesar Rp 75 ribu. Sementara dalam saku papah hanya Rp 7.500,-- kemana yang lain, pasti untuk cewek lain. Berderailah tawa Pak Is ditengah isak isterinya, karena tau tabiat saya suka bercanda. Pak Is tau setelah mendengar cerita isterinya bahwa cerita itu di dapat isterinya tidak melalui tatap muka, melainkan hanya dengan “nguping omongan tetangga”. Pak Syarif sengaja ngledek kamu, nanti tanya ke bu Syarif orangnya nggak kan bohong atau nanti kufotokopikan list penerimaan uang saku dari kantor, siapa dapat berapa terlihat disitu....... Itulah bahayanya nguping omongan tetangga.
Dari kisah ini patut jadi pelajaran, di samping jangan begitu percaya saja dengan omongan tetangga, apa lagi dari hasil nguping. Jadi suami juga jangan mudah mengambil kesimpulan dan sikap, bila mendapat informasi dari isteri, harus disaring dulu. Apalagi kalau ada laporan dari isteri di saat capek-capek pulang kantor, jangan langsung di telan, tapi pikir yang baik, saring, kalau perlu endapkan sehari dua, agar terhindar mengambil langkah yang salah. Jadi isteri juga jangan gampang percaya dengan informasi, harus di kros cek. Intinya kalau ada sesuatu berita tentang suami jangan langsung ubah sikap, baiknya secara terbuka dikonfirmasi. Bila suami pulang, jangan langsung dibrondong dengan segala macam laporan terutama yang kurang enak. Barang kali itu pesan dari seorang yang sudah berumah tangga selama 30 tahun utamanya buat pasangan muda. Hidup ini memang tak berhenti belajar, termasuk ketika berumah tangga, semuanya dalam belajar. Benarlah pesan bijak Rasulullah Muhammad s.a.w. “Udlubul ilma mahdi ilal lahdi”. (Menuntut ilmu sejak buaian ibu sampai liang lahat). Bersuami atau beristeri juga harus saling mempelajari sifat masing-masing. Setelah punya anak belajar lagi bagaimana sebagai ortu. Setelah punya mantu belajar lagi bagaimana bermenantu dan berbesan. Giliran mendapat cucu belajar lagi bagaimana bercucu agar sayang ke cucu tak jadi berebut cucu dengan besan misalnya. Dstnya.
Kali lain tentang bertetangga, pernah diri ini hidup disuatu komplek rumah dinas bersama keluarga. Suasananya adalah pada pagi hari di hari kerja, para suami berangkat menuju pekerjaan masing-masing, kebetulan isteri saya juga berangkat kerja ke kantornya. Bagi ibu-ibu yang kebetulan tidak bekerja di kantor, manakala usai mengantar para suami ke depan pintu, sebagian ada yang memanfaatkan waktu senggang itu untuk ngrumpi. Di depan uadience saya di kelas sering saya berkelakar bahwa manusia normal punya kebutuhan ngomong: “Kebutuhan biologis manusia normal soal ngomong, adalah sebanyak 10 ribu kata per hari, kalau kebutuhan itu tidak terpenuhi maka yang bersangkutan kurang sehat”. Jadi bagi ibu-ibu yang kebetulan tidak beraktivitas, butuh ngomong, wajar kalau ngomong disalurkan melalui ngrumpi. Kalau media ngrumpi tidak ketemu, jangan heran kalau ada ibu-ibu yang suka ngomel dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan 10 ribu kata. Para suami harus maklum, jangan juga ikut balas ngomel, dengarkan saja omelannya, dia akan berhenti sendiri kalau sudah cukup 10 ribu kata. Bagi ibu-ibu yang beraktivitas misalnya juga masuk bekerja di kantor, kebutuhan ngomong itu didapat selama bekerja, dengan teman sekerja, dengan mitra usaha dan masyarakat umum yang berinteraksi.
Tetangga punya ajang ngrumpi seperti ini juga semestinya bukan pilihan, tapi apa boleh buat terpaksa dijalani kalau tersedianya kediaman seperti itu. Untung keadaan sedemikian hanya sementara, beberapa tahun. Namun tetap saja harus pandai-pandai mematut diri bertetangga di dalam komplek rumah dinas, arahkan isteri jika kebetulan tidak ikut bekerja di kantor, supaya batasi kumpul-kumpul ngrumpi, tetapi jangan pula dijauhi. Kalau dijauhi lantas jadi objek rumpian, sementara kalau terlalu dekat juga tidak baik, kalau ada masalah sedikit saja akan kentara. Kondisi seperti ini pandai-pandailah membawa diri sebab bila bergaul terlalu dekat bagaikan tali yang dipilin menjadi tambang, kalau terbuka maka tali tidak akan mulus kembali. Bagaimanapun tetangga sangat penting, karena bila terjadi masalah tetanggalah pihak yang pertama akan dapat dimintai tolong, sedangkan keluarga dan famili yang jauh rumahnya tidak dapat segera menolong, apalagi jika sakit mendadak, penyakit-penyakit tertentu menurut perhitungan manusia ada “golden time”, waktu-waktu yang bila terlewat maka kesempatan untuk sembuh akan hilang.
Allah memberikan petunjuk praktis tentang bertetangga di dalam Al-Qur’an surat An Nisa ayat 36
Wa’budullaha walaa tusrikuu bihi syaian wabilwaalidaini ikhsaanan wabidzil qurbaa walyataamaa walmasaakiini waljaaridzil qurbaa waljaaril junubi washaahibi biljanbi wabnissabiili wamaa malakat aimaanukum, innallaha laa yukhibbu man kaana mukhtaalan fakhuuran.
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
[294]. Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang muslim dan yang bukan muslim.
[295]. Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan ma'shiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.
Semoga kita, mempunyai tetangga yang baik, jadikan diri kita pelopor menjadi tetangga yang baik bagi tetangga lainnya. Dapat memahamkan ayat tersebut di atas yaitu diperoleh pesan langsung dari Allah pencipta diri kita ini, agar hidup ini selamat dan aman tentram dunia dan akhirat berbuat baiklah kepada:
• dua orang ibu-bapa,
• karib-kerabat,
• anak-anak yatim,
• orang-orang miskin,
• tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh
• teman sejawat,
• ibnu sabil dan
• hamba sahayamu.
Dengan tambahan syarat “tidak sombong dan suka membanggakan diri”, serta hidup sebagai penyembah Allah semata, tidak mensekutukan Allah.
Tuesday, 24 January 2012
PANGGILAN ALLAH
PERTAMA, PANGGILAN SHALAT
Dalam keseharian, ummat Islam dipanggil Allah untuk menghadap-Nya, selama lima waktu. Yaitu mulai subuh, ketika tidur sedang nyenyak-nyenyaknya, kemudian dzuhur ketika kerja sedang asik-asiknya, selanjutnya ashar di saat badan sudah letih bekerja dan penat mengurus/memikirkan urusan dunia, disambung maghrib ketika sedang remang pertukaran siang dengan malam dan waktu isya’ dimana sedang asyik bercengkrama dengan keluarga.
Bagi orang yang imannya belum bersemi, memang terasa panggilan ini cukup merepotkan, sebab momen panggilan itu kebetulan diikuti keadaan yang cukup memberi alasan untuk sulit memenuhinya.
• Misalnya ketika subuh, “sebentarlah tidur lagi enak, nanti kalau dipaksa bangun kepalanya akan pusing. Malam tadi kebetulan tidurnya terkambat”, kata orang yang berat melaksanakan shalat dan banyaklah lagi alasan untuk membenarkan diri untuk tidak shalat subuh utamanya bagi lelaki, seharusnya pergi ke masjid.
• Dzuhurpun tiba, begitu adzan berkumandang, pas lagi sibuk kerja, “tanggung tinggal sedikit lagi”, ntar waktu dzuhur kan masih panjang”. pikir kebanyakan orang yang punya kesibukan. Al hasil panggilan itu dicuekan, tak sengaja memang tau-tau sudah masuk waktu ashar belum sempat shalat dzuhur.
• Ashar masuk, suara adzan berkumandang lagi memanggil untuk shalat dan untuk kemenangan. Bagi orang yang imannya tipis ada saja alasannya, misalnya: “sebentar lagi pulang, nanti shalat di rumah saja, ini pakaian kurang bersih ndak sreg. Apa gunanya shalat kalau tidak tenang, kalau ragu apa bersih badan dan pakaian”. Taunya ketika pulang kerumah dari tempat pekerjaan, teryata jalanan macet, atau ada apa saja halangan yang sulit diprediksi. Akhirnya shalat asharpun lewat begitu saja.
• Magrib baru saja sampai di rumah, lagi kecapean belum istirahat, belum mandi entah apa lagi, banyaklah alasan sehingga shalatpun tidak dikerjakan.
• Waktu isya’ sudah terlanjur tidur, akhirnya panggilan Allah seharian itu satu kalipun tidak dapat dipenuhi dengan berbagai alasan.
Para pendahulu orang beriman orang-orang dekat Rasulullah Muhammad S.A.W mana kala terdengar panggilan adzan, walau sedang apapun ditinggalkan. Ibarat kata sedang mencangkul tanah, begitu mendengar adzan cangkul yang diayunkan ke depan dibatalkan yaitu langsung dilepas atau malah dilempar ke belakang atau ke samping. Sebab takut kalau sampai tercangkul, maka tanah hasil cangkulannya bila ditanami tanaman dan tumbuh menjadi tanaman yang dimakan, akan menghasilkan sesuatu yang haram. Makan sesuatu yang haram mengakibatkan sekurangnya tiga hal yaitu: Pertama ibadah tidak diterima, kedua do’a tidak terkabul/ditolak dan ketiga daging yang dihasilkan makanan yang haram dibakar dengan neraka.
Ada memang orang yang masih lumayan baik, dapat mengerjakan shalat utamanya shalat magrib, dengan berjamaah di masjid dekat rumahnya pula. Lumayanlah ada pengakuan, walau hanya sekedar shalat harian. Ada memang kelompok masyarakat ini yang shalat memang mengambil harian seperti shalat magrib tadi, dan juga ada yang shalat pekanan, yaitu sepekan sekali yaitu hanya hari jum’at, ikut shalat jum’at. Bahkan ada yang tahunan, kelompok ini sibuk sekali ikut shalat ied di hari lebaran.
Bagi yang shalat pekanan apa lagi harian, masih berpotensi untuk memenuhi panggilan utama Allah ini. Dari hasil penelitian atas pengalaman dari banyak teman yang sempat berusia senja, ketika masih mahasiswa mereka sering diajak untuk shalat jum’at oleh teman satu kost. Alhamdulillah setelah selesai kuliah kebiasaan itu berlanjut. Mula-mula yaa hanya sekedar shalat jum’at, lama kelamaan karena sering jum’atan dan mendengar khatib memberikan wejangan, akhirnya kelompok ini setidaknya dimasa tua jadi ahli shalat, jadi orang yang selalu memenuhi panggilan Allah yang pertama tersebut, sebanyak 5 kali sehari semalam. Dalam pada itu yang mengambil tahunan, dari penelitian seadanya atas dasar berita yang dikumpulkan, bahwa kelompok ini kebanyakan akan sampai akhir hayat hanya sibuk ketika akan lebaran saja. Shalat yang lain mereka memilih absen.
Rasulullah Muhammad s.a.w. pernah berpesan bahwa rupanya shalat yang paling diutamakan untuk berjemaaah di masjid adalah shalat “isya’ dan subuh” seperti sabda beliau:
“Barangsiapa sholat isya secara berjamaah, maka ia bagaikan shalat (malam) setengah malam, dan barangsiapa shalat Subuh secara berjamaah maka ia bagaikan shalat (malam) semalam penuh.” (HR.Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi).
Kenapa shalat isya’ berjemaah dinilai setara dengan setengah malam shalat, karena pada saat isya’ pada umumnya kebanyakan orang sudah selesai beraktivitas untuk mencari nafkah, hikmahnya barang kali begini:
Waktu isya’, pada umumnya orang kebanyakan sudah selesai melakukan kegiatan mencari nafkah, mereka sudah berada di rumah dan alangkah sempurnanya masyarakat Islam bila yang bersangkutan pergi ke masjid untuk shalat berjamaah, di masjid akan ketemu jiran tetangga yang seharian masing-masing menyebar dengan kesibukan masing-masing. Begitu pula waktu subuh, umumnya orang masih berada di lingkungan masing-masing belum menuju tempat kerja. Tapi shalat subuh bukan main sulitnya bagi kebanyakan orang apalagi turun dari rumah menuju masjid. Memerlukan iman yang tebal sebab itulah khusus shalat subuh Nabi Muhammad pernah katakan:
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik, adalah shalat isya’ dan subuh [berjamaah]” HR. Buhari dan Muslim dari Abu Hirairah r.a.
Sehubungan bila shalat isya’ dan subuh dilaksanakan dengan berjamaah di masjid maka setara dengan shalat satu setengah malam. Jadi kalau 40 tahun saja dalam hidup kita yang 60 tahun misalnya dapat shalat di masjid maka nilai sholat kita setara dengan shalat setiap malam semalaman selama 60 tahun. Andaikan dalam masa shalat 40 tahun itu ketemu setiap tahun dengan malam lailatul qadar maka (83 x 40) tahun ditambah 60 tahun = .....tahun melebihi 3 kali hidup nabi Nuh 950 tahun sebagaimana dikisahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 14.
KEDUA, PANGGILAN HAJI
Panggilan yang kedua, panggilan haji hanya sekali dalam seumur hidup. Semua orang sebenarnya dipanggil, sebagimana panggilan shalat tadi. Panggilan shalat walau sudah dipanggil, tetap saja banyak yang tidak mau memenuhi panggilan tu. Demikian juga panggilan haji, sudah dipanggil banyak orang tidak bersedia memenuhi panggilan itu. Orang tidak memenuhi panggilan haji dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok besar:
Pertama, punya kesanggupan tetapi tidak bersedia memenuhi panggilan itu. Kelompok ini punya kesanggupan financial yang cukup, kesehatanpun baik dan semua sarana mendukung. Diibaratkan panggilan shalat, kelompok ini walau tinggal berdampingan dengan masjid, ceramah agana sering masuk ke telinganya, tetapi tetap saja tidak bergeming. Kemampuan tinggi tetapi kemauan kurang, kesempatan ada. Dalam konteks ini mereka sudah terkena apa yang disampaikan Rasulullah Muhammad s.a.w.
Artinya : Dari Ali bin Abi Thalib r.a. Dia berkata : Rasulullah s.a.w. Bersabda : “ Barang siapa memiliki kelebihan (harta) serta kendaraan yang bisa membawanya ke-Baitullah tapi dia tidak melaksanakan Haji, maka dia matinya sebagai Yahudi atau Nasrani ”.
(HR. At Tirmidzi - Kitab Al Hajj - Bab Ma Ja’a Min At Taghlizh Fi Tarki Al Hajj (3) - Hadits No : 812)
Kedua, kelompok kedua sangat ingin memenuhi panggilan tersebut, kondisi kesehatan baik, sayang tidak punya kemampuan financial. Kelompok ini tak punya uang. Kelompok ini kemauan tinggi kemampuan kurang, kesempatan ada.
Ketiga, kelompok yang sangat ingin memenuhi panggilan haji, punya kemampuan financial yang cukup tetapi tidak punya kemampuan kesehatan. Kemauan tinggi, kemampuan ada kesempatan tiada. Apa boleh buat tenaga sudah tidak mampu lagi, bisa karena uzur lantaran lanjut usia, bisa diusia muda tapi ditawan sakit-sakitan, Agaknya kelompok ini ada ruhsah (keringan/pengecualian), walau tidak sanggup memenuhi panggilan itu.
KETIGA, PANGGILAN MAUT
Panggilan ini tidak seorangpun dapat menghindar, kalau panggilan shalat dan panggilan haji, masih dapat menghindar. Panggilan ketiga ini, suka atau tidak suka, mau tidak mau panggilan ini harus dipenuhi. Tidak perduli dalam kondisi apapun, apakah sedang sehat segar-bugar, atau sedang sakit. Apakah sedang bahagia bersuka cita, atau sedang susah merana. Orang beriman senantiasa berharap agar ujung hayatnya dalam keadaan baik, populer disebut “khusnul khatimah”. Seseorang dalam keadaan memenuhi panggilan maut berada dalam “khusnul khatimah”, dianya dijamin masuk ke dalam surga Allah. Salah satu tanda orang meninggal dunia “khusnul khatimah” adalah yang bersangkutan sanggup mengucapkan “La ilaha illallah”.
Menyoal kesanggupan mengucapkan “La ilaha illallah” itu ada orang berkomentar: “enak benar ia masuk surga, selama hidup selagi sehat tak banyak amal kebaikan, tetapi hanya lantaran sakaratul maut mampu mengucapkan “La ilaha illallah” dapat masuk surga” Untuk mengklirkan komentar ini saya punya cerita:
Dalam antrian wudhu di halaman kediaman orang tua pemimpin kantor kami, seorang senior saya berulang kali mempersilahkan saya untuk wudhu lebih dahulu. Saya sungkan, bukan saja seharusnya mendahulukan senior, tetapi beliau berada di depan saya, tentu saya harusnya mendahulukan Bapak tersebut. Karena sudah berulang-ulang saya disuruh duluan, saya laksanakan juga. “Nah begitu, kan saya dapat mencontoh”, demikian senior saya bergumam, setelah saya selesai saya berwudhu.
Belakangan saya baru mengetahui atas pengakuan resmi beliau ketika bersama di dalam mobil pulang ke Surabaya, bahwa beliau sudah lupa cara berwudhu karena sudah sekian lama kegiatan itu ditinggalkan. Masa kecil beliau adalah ahli shalat tinggal dekat masjid, walau tidak mahir, dapat pula baca Al-Qur’an, karena memang dari keluarga penganut agama Islam. Cerita ini semula saya kira di karang saja oleh senior saya tadi, untuk memecah keheningan perjalanan jauh dari ujung timur Jawa Timur ke Surabaya, dalam rangka melawat ke kampung pemimpin cabang kami, waktu itu ayahanda pempinpin kami meninggal dunia. Wudhu dalam rangka shalat jamaah Isya’, atasan saya ini dari nama dan statusnya memang Islam, jadi rupanya nggak enak kalau tidak ikutan shalat, seperti tamu lainnya yang memang bukan beragama Islam.
Saya menjadi percaya bahwa cerita senior saya itu mendekati kebenaran, ketika saya pulang kampung ke Kalimantan Barat ketika cuti tahunan. Kejadian itu saya buat oleh-oleh pengalaman kepada mendiang ayahanda saya. Saya bercerita, terlihat ayah saya menyimak dengan serius cerita saya itu dan seusai saya bercerita di bola mata beliau nampak berkaca-kaca, rupanya belaiu terharu. Kejadian itu menurut beliau pernah dialami langsung oleh diri ayah saya pribadi. Masa remaja beliau di rekrut “Dai Nipon” menjadi “Hai Ho” berperang melawan sekutu di kancah perang dunia II. Bertahun tahun selama ikut tentara “Matahari Terbit” itu, shalat terpaksa ditinggalkan. Akhirnya benar-benar lupa sampai cara berwudhu saja. Itulah yang disesali beliau sampai berlinang air mata. Ayahku selanjutnya meneruskan masa muda beliau ikut sebagai pejuang kemerdekaan dan menjadi “Veteran pejuang kemerdekaan”. Semoga Allah s.w.t. mengampuni dosa ayahku dan memasukkannya ke dalam rahmat-Nya, Semoga perjuangan beliau merebut kemerdekaan mendapat pahala di sisi Allah s.w.t.
Kesimpulan dari kejadian di atas adalah bahwa segala perilaku, termasuk ucapan dapat dengan mudah dilaksanakan bila melalui latihan. Tidak akan dapat dilakukan kalau lama tidak berlatih. Demikian juga halnya mengucapkan “La ilaha illallah” tidak akan serta merta dapat dilakuan orang ketika maut sudah datang, kalau tidak dengan kebiasaan setiap hari mengucapkan kalimat tersebut. Untuk membiasakannya maka sekurangnya seorang muslim yang melaksanakan shalat lima kali dalam sehari semalam akan latihan mengucapkan “La ilaha illallah” sebanyak 9 kali. yaitu shalat subuh sekali, shalat dzuhur, ashar, maghrib dan isya’ masing-masing dua kali. Bagimana kalau orang tidak shalat tentu lidahnya berat walau hanya sekedar mengucapkan “La ilaha illallah”, pada saat syakaratul maut, sebab jarang latihan. Jadi hanya orang yang setiap hari di dalam hidupnya lidahnya menyebut “La ilaha illallah”, pada saat kritis menghadapi maut sanggup mengucapkan “La ilaha illallah”, oleh karena itu benarlah apa yang di sabdakan Rasulullah Muhammad s.a.w. bahwa apabila akhir kalimat seseorang ketika meninggal dunia ucapannya “La ilaha illallah” masuk surga, lantaran si pengucap “La ilaha illallah” memang keseharian dalam hidupnya sudah secara rutine mengucapkan kalimat taukhid tersebut sekurang-kurangnya di dalam melaksanakan shalat.
KEEMPAT PANGGILAN KELUAR DARI KUBUR
Maut adalah gerbang masuk ke alam akhirat, dimulai dengan alam kubur. Alam ini dihuni oleh seluruh manusia tidak ada pengecualian sampai hari kiamat. Informasi ini tidak kita dapatkan dari artikel manapun diseluruh penjuru dunia ini, sebab tidak seorangpun kembali ke alam dunia ini dari alam kubur untuk menceritakan pengalaman di alam sana. Informasi satu-satunya adalah Informasi dari Allah melalui rasul-rasul utusan Allah. Bagi hamba Allah yang beriman dan beramal saleh yang ikhlas sehingga diterima Allah, maka kehidupan di alam barzah ini menyenangkan, tidak ada siksa di dalamnya. Walau demikian ancaman siksa kubur ini sungguh dahsyat karena itulah Rasululah Muhammad s.a.w. berpesan selalulah berdo’a dalam akhir shalat “Allahumma inni auzubika min adzabil qabri wamin fitnati mahya wal mamat wa fitnati dadzal”. (Ya Allah lindungilah aku dari siksa kubur, fitnah kehidupan dan fitnah kematian serta fitnah dadzal).
Bagi orang yang terhindar dari siksa kubur, masa penantian di alam barzah ini terasa sangat singkat sebaliknya bagi pendosa masa ini sangat panjang. Informasi Al-Qur’an panggilan dari alam kubur untuk bangkit berkumpul seperti tersurat di ayat 68 surat Az-Zumar
Tsumma nufikha fiihi ukhraya faidzaa hum qiyaamun yan dhuruuna (Kemudian ditiup Sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)).
Dan surat An-Naba ayat 18
Yauma yunfakhu fishshuri fataktuuna afwaajan (yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup Sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok)
Terdapat 12 kelompok manusia yang memenuhi panggilan bangkit dari kubur yaitu:
Seperti dalam riwayat: Sahabat Mu'adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah. "Ya Rasul..”Terangkanlah kepadaku tentang makna firman Allah: Yaitu hari ketika ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. "Maka menangislah Rasulullah, cucuran airmatanya membasahi bajunya. Lalu bersabda: Engkau telah bertanya sesuatu yang dahsyat. Umatku akan dibangkitkan pada hari kiamat.Dalam kelompok-kelompok dua belas tabiat.
Kelompok pertama: Dibangkitkan tanpa tangan dan kaki. "Mereka adalah orang-orang yang mengganggu tetangganya”,
Kelompok kedua: Dibangkitkan dalam bentuk babi. "Mereka adalah orang-orang yg bermalas-malas melakukan shalat”.
Kelompok ketiga: Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan perut besar menggunung, dipenuhi ular dan kalajengking. Mereka adalah orang-orang yg menahan-nahan zakat.
Kelompok keempat: Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan darah mengalir dari mulut. Mereka adalah orang-orang yg berdusta dalam jual beli.
Kelompok kelima: Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan berbau busuk,lebih busuk dari bau bangkai. Mereka adalah orang-orang yg melakukan maksiat tersembunyi karena merasa takut dilihat orang tetapi tidak takut dari pengawasan Allah.
Kelompok keenam: Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan terputus lehernya. Mereka adalah orang-orang yg memberi kesaksian palsu.
Kelompok ketujuh: Dibangkitkan dari kuburnya tanpa memiliki lidah. Dari mulutnya mengalir nanah dan darah. Mereka adalah orang-orang yg menolak memberi kesaksian.
Kelompok kedelapan: Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan tertunduk,kedua kaki diatas kepala. Mereka adalah orang-orang yg gemar melakukan zina dan keburu mati sebelum bertaubat.
Kelompok Kesembilan: Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan berwajah hitam, matanya biru, perutnya penuh api. Mereka adalah orang-orang yg memakan harta anak yatim dan merampas hak-hak anak yatim secara zalim.
Kelompok kesepuluh: Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan sakit kusta dan sopak. Mereka adalah orang-orang yg mendurhakai kedua orang tua.
Kelompok kesebelas: Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan buta hati, buta mata, giginya seperti tanduk kerbau, bibir dan lidahnya bergelantungan mencapai dada, perut,dan paha.Sedang dari perutnya keluar kotoran. Mereka adalah orang-orang yg gemar meminum khamr.
Kesebelas kelompok tersebut diganjar dengan siksa neraka.
Kelompok kedua belas: Dibangkitkan dari kuburnya dengan wajah bercahaya seperti sinar bulan purnama. Melewati sirath al-Mustaqim secepat kilat menyambar angin. Mereka adalah orang-orang yang melakukan amal kebajikan. Menjauhi segala kemaksiatan. Rajin memenuhi panggilan shalat. Dan mati sesudah taubat.Maka ganjaran mereka adalah pengampunan,rahmat,dan ridha serta Surga dari Allah Ta'ala.
Semogalah kita semua sidang pembaca, termasuk di dalam kelompok keduabelas. Untuk masuk kelompok tersebut harus dengan perjuangan selama masih hidup di dunia ini yaitu memenuhi panggilan Allah di dunia dengan tidak mencari alasan untuk tidak memenuhi panggilan itu. Jauhi seluruh larangan Allah, kerjakan sekuat tenaga perintah Allah.
Saturday, 21 January 2012
MENAKAR SOMBONG
Bagaimana mengukur apakah diri ini termasuk orang sombong atau tidak cobalah beberapa parameter yang tersaji berikut guna mengukur apakah di hati ini tersisip kesombongan:
Pertama: Dalam kita berdiskusi di dalam kelompok masyarakat, apakah kita selalu ingin memaksakan bahwa pendapat kita saja yang harus diterima oleh kelompok, sedangkan pendapat orang lain dianggap tidak benar. Kalau diri masih dalam posisi ini artinya kadar sombong masih ada dalam hati kita.
Kedua: Ketika bergaul di tengah masyarakat utamanya yang status sosialnya di bawah kita, apakah dalam sanubari masih tersisa perasaan bahwa diri ini lebih berada, diri ini lebih pintar, sementara menganggap orang lain kurang cerdas hingga wajarlah jika status sosialnya rendah. Hidup mereka serba kekurangan karena kurang cerdik seperti diri ini, kurang tekun seperti diri kita, kurang rajin seperti diri kita, pokoknya orang lain itu kurang karena kekurangan mereka sendiri. Kalau ini ada dalam perasaan, waspadalah sombong masih bersemayam bagi siempunya diri.
Ketiga: Memenuhi undangan, bila diri ini enggan menghadiri undangan orang miskin dan berada di bawah dan hanya suka menghadiri undangan orang terpandang dan orang kaya. Menganggap orang miskin di bawah ndak level, ini jelas sekali bahwa kuat sekali pengaruh kesombongan dalam diri yang bersangkutan.
Keempat: Dalam perjalanan keluar rumah termasuk ketika menuju ke tempat kerja, dalam perjalanan bila melihat kendaraan orang lain lebih baik, di dalam hati merasa tidak terima, tak mau mengalah dalam menggunakan jalur jalan, kendati mestinya harus mengalah mendahulukan orang lain. Sikap orang sombong kadang nampak dalam perilaku membawa kendaraan.
Kelima: Setelah sampai di tempat kerja bila kebetulan jadi atasan, pernah terjadi suatu contoh seperti cerita di bawah ini:
• Pegawai sok iseng, sengaja mencari formula tinta yang digunakan oleh seorang atasan warna menyolok, lain dari tinta-tinta lainnya yaitu warna agak hijau daun. Mungkin maksud si atasan agar bukan saja tanda tangannya yang sulit dipalsukan, juga warna tintanyapun unik tak mudah disamai orang lain. Akhirnya si bawahan berhasil juga meramu campuran tinta si bos. Suatu hari dicobanya membubuhkan paraf di atas surat yang harus ditanda tangani si bos. Serta merta si bos memanggil si pemaraf dan langsung berang dan memperingatkan jangan lagi memakai tinta berwarna yang sama. Entahlah ini apa masuk dalam parameter sombong.
• Lain lagi seorang bos tidak suka dengan bawahannya ikutan memelihara kumis, dianggapnya bawahan yang memelihara kumis ingin menyamai dirinya. Padan lagi ada juga bawahan yang ingin ikutan mode bos, tapi yang kasihan terhadap bawahan yang tadinya biasa berkumis dengan berat hati mengucapkan “selamat jalan” kepada kumis kebanggaannya. Ini barangkali termasuk bos yang terserang virus sombong di hatinya.
Keenam, Pakaian kadang ada orang yang membanding pakaiannya dengan pakaian yang dipakai orang lain. Sering terjadi di dalam kondangan, seorang ibu sengaja memegang pakaian yang dipakai ibu lainnya hanya sekedar untuk merasakan kain bahan gaun ibu yang dianggapnya kurang patut memakai pakaian bagus. Kalau masih ada perasaan bahwa orang lain tidak boleh menyamai dirinya, ini indikasi bahwa di hati masih bersarang perasaan sombong yang bergerombol.
Menurut kaidah agama Islam bahwa:
Udkhuluu abwaaba jahannama khaalidiina fiihaa fabi’sa matswalmutakabbiriina (Alqur’an surat Al-Mu’min 76)
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu bermaksud :
Allah menyediakan neraka jahannam bagi orang yang sombong:
“Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong .”
Ternukil di dalam Hadits Rasulullah s.a.w. Riwayat Muslim
Tidaklah masuk syurga barang siapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan yang sebesar biji zarah (atom) sekalipun.
Mari kita takar apakah masih ada di diri ini kesombongan itu, setidaknya dengan parameter tersaji di atas. Kalau masih juga ada, marilah kita upayakan menguranginya, selanjutnya mengusahakan akan menghilangkan sombong itu jauh-jauh, agar tidak tersisa sebesar zarahpun. Mudah-mudahan disisa usia kita ini, masih sempat mengikis habis “sombong” tersebut sehingga bila Izrail datang memanggil, kita berada diujung kehidupan membawa predikat “khusnul khatimah”. Amien
Friday, 6 January 2012
MENCURI SANDAL
Bicara mencuri, jujur mungkin hampir setiap orang pernah melakukannya, setidaknya ketika masih kecil. Sebab itu pengarang cerita Film boneka “Unyil” mengisahkan: Unyil dan teman-temanya suka mencuri jambu Pak Raden. Tapi dalam cerita itu pak Raden cukup arif mengingat Unyil masih di bawah umur tidak ada cerita di film itu beliau memperkarakannya ke depan hakim.
Mungkin pak Raden ter inspirasi hukum Islam menyoal soal orang yang mencuri. Di dalam hukum Islam orang mencuri hukumannya potong tangan. Pencuri yang mendapatkan hukuman potong tangan bila memenuhi 3 syarat yaitu:
- Pencuri tersebut sudah baligh, berakal dan melakukan pencurian itu dengan kehendaknya. Syarat ini ada dua unsur yang harus dipenuhi:
a) Baligh, sudah cukup umur
b) Atas kehendaknya, bukan karena dipaksa oleh orang lain atau segaja hendak dimiliki.
- Barang yang dicuri itu sedikitnya sampai 1/4 dinar. (1 dinar = 4,25 gram emas 22 karat). Syarat ini memberikan batasan nilai barang yang dicuri adalah kurang lebih 1,0625 gram dibulatkan 1,07 gram. Dengan harga emas sekarang sekitar Rp 500 ribu maka Rp 535.000,- (Limaratus tiga puluh lima ribu rupiah)
- Barang itu bukan kepunyaan si pencuri dan tidak ada jalan yang menyatakan bahwa ia berhak atas barang-barang itu. Syarat ini tentang status barang, kepemilikan barang, hak atas barang. Misalnya seseorang yang lapar ia mengambil harta simpanan di baitul maal untuk makannya maka tidak memenuhi syarat ini. Oleh karenanya, orang yang mencuri harta bapaknya, atau salah seorang suami istri saling mencuri, orang miskin mencuri dari baitul maal tidak dipotong tangannya.
Pada hari lahir saya tahun lalu anak saya menghadiahi sebuah sandal cukup bagus harganya setelah kulihat di toko kisaran Rp 80.000,- Mungkin kalau sandal terbagus saat ini nggak adalah yang harganya sampai Rp 535.000. Konon lagi sandal jepit, di Jakarta merek NIKE Rp 10 ribu.
Jadi kalau mencuri sandal jepit nampaknya ndak akan sampai dipotong tangan jika hukum Islam diterapkan, tentu si pencuri harus diberi peringatan, apalagi kalau masih di bawah umur.
Teringat saya ketika umrah tahun 2007. Seorang jamaah mau pulang seusai shalat Zuhur di masjid Nabi di Madinah. Ketika sampai ditempat penitipan sandal betapa kagetnya ia sandalnya hilang. Sementara itu di halaman masjid dekat penitipan sandal banyak sandal-sandal berserakan. Semula ada keinginan hati untuk memakai dulu sandal itu menuju ke toko jual sandal. Tapi niat itu diurungkannya karena teringat mencuri di negara menerapkan hukum Islam di potong tangan. Beliau rupanya terlalu khawatir, padahal untuk ukuran sebuah sandal jepit yang di sana dipasarkan seharga 6 Real ndak akan sampai dipotong tangan, apalagi tujuannya bukan untuk dimiliki hanya sekedar dipakai dalam perjalanan menuju toko sandal.
Lantaran takut ancaman mencuri sandal itu, maka rekan seperjalanan umrah saya itu, nekad tanpa sandal menuju kedai sandal yang jaraknya tidak kurang ratusan meter. Akibatnya selama hampir tiga hari selama berada di Madinah beliau tidk dapat menapakkan kakinya, karena terbakar oleh sengatan panasnya aspal jalan. Kakinya menggelembung berisi cairan, harus disedot cairannya itu oleh dokter yang mengikuti rombongan kami. Selama berada di Madinah dan beberapa hari di Mekkah beliau di atas kursi roda.
Himbauan buat yang kehilangan sandal ketika ke Mekkah atau Madinah, jika tidak ketemu penjaja sandal, pakai saja dulu sandal yang ada berserakan di halaman masjid untuk menuju kedai sandal. Kemudian kembali lagi di posisi semula sandal yang dipinjam itu. Insya Allah kalau soal sandal tidak akan dipotong tangan. Karena syarat penerapan hukum Islam potong tangan seperti disalinkan di atas.
Mungkin dengan menyimak kejadian belakangan ini, tentang memperkarakan orang mencuri yang hanya jumlah yang tidak materiil sampai diproses dengan mengabiskan biaya cukup tinggi tenaga dan energi dari para aparat yang bila digunakan ke hal lain mungkin lebih bermanfaat. Seorang nenek diadili hanya karena mencuri 3 buah kakau, Ada yang diadili mencuri beberapa kg kapok randu, ada yang diadili hanya karena mencuri beberapa cangkah buah sawit. Sebaiknya sudah saatnya kita mengacu kepada hukum Allah, dimana tadi ada unsur nilai yang dicuri baru menjadi perkara. Cuma baiknya nilainya di standarkan emas bukan mata uang. Karena mata uang nilainya begitu cepat berubah.
Contohnya di buku nikah saya, tertulis bila saya.
1. meninggalkan isteri saya dalam waktu dua tahun berturut turut
2. tidak memberikan nafkah wajib tiga bulan lamanya
3. menyakiti badan/jasmani isteri saya itu
4. membiarkan atau tidak memperdulikan isteri saya itu selama enam bulan
Isteri saya tidak redha, dia punya jalan keluar untuk memutuskan ikatan pernikahan dengan saya hanya dengan mengadukan hal itu ke pengadilan agama atau pihak yang diberi wewenang untuk urusan itu, cukup membayar uang Rp 50 (limapuluh rupiah) sebagai uang pengganti (Iwadl). Itu kejadian 30 tahun silam. Bagaimana nilai itu jika dbandingkan dengan Rp 50 sekarang yang pecahannyapun sudah sukar didapat apalagi nilainya. Padahal tujuan uang iwadl itu untuk ibadah sosial.
Kami yang beragama Islam berucap “Maha Benar Allah dengan segala hukumnya”. Ada teman saya yang nyeletuk bahwa di negara dengan hukum Islam juga banyak ketidak beresan. Ketahuilah bahwa di negera-negara yang mengaku menerapkan hukum Islam di dunia ini tidak menjalankan secara murni dan konsekwen. Hukum hanya tegak buat yang “lemah”. Hukum akan kompromis buat yang “Kuat”. Itu sebabnya banyak ketidak beresan. Ini keadaan sudah disinyalir Rasulullah Muhammad S.A.W. dengan ucapan beliau, seperti hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslm, saya kutip dari “Bulughul Maram” yaitu sabda Rasulullah S.W.A. kepada Usamah bin Zaid dalam konteks; Usamah bin Zaid membawa pesan “mohon keringanan hukuman” dari kelompok bangsawan yang ketika itu salah seeorang perempuan dari golongan mereka terbukti mencuri dan harus dilaksanakan hukuman, sesuai ketentuan Allah.
Kepada Usamah bin Zaid Nabi bertanya : “Apakah kamu berani membela untuk menggagalkan hukum Alla?/”, selanjutnya menerusakan sabda beliau: “Wahai semua manusia, sesungguhnya yang membinasakan ummat-ummat yang dahulu yaitu jika orang bangsawan yang mencuri dibiarkan tanpa hukum, dan jika orang rendahan yang mencuri mereka tegakkan hukum”.
Eksekusi hukuman tetap dilakukan terhadap seorang perempuan bangsawan tersebut, walau telah dicoba melakukan pembelaaan dengan mengutus seorang sahabat Rasulullah yang sangat dekat.
Mari kita bercermin dengan keadaan di dunia dewasa ini, tak usah jauh-jauh di negeri kita ini saja, benarkah sinyalemen Rasulullah tersebut. Kalau sudah menuju benar, maka tunggulah kita bersama akan menuju kebinasaan.