Saturday, 17 January 2026
Mengenal DIRI, 10% MEMATANGKAN Jiwa.
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.387.04.01-2026
Artikelku yang lalu nomor 1.286.03.01-2026 kutulis dibawah judul “REKAYASA-DIRI” dikaitkan dengan “KE-TUA-AN”, dimana disinggung bahwa di usia tua atau sering dikenal dengan “Manula” atau “Lansia”, fisik dan jiwa seseorang sangat terpengaruh. Perihal pengaruh fisik dikala tua menyangkut perubahan 9 hal, sudah kuketengahkan di artikel yang lalu itu. Dalam kesempatan ini mari kita tengok kondisi usia TUA mempengaruhi jiwa seseorang. Biasanya bertambah tua jiwa seseorang bertambah matang.
Sepuluh tanda utamanya sesorang telah mencapai “kematangan jiwa” yaitu:
1. Mengenal diri, 2. Bertanggung jawab atas pilihan, 3. Emosi lebih stabil, 4. Mampu menerima kenyataan, 5. Penuh empati dan pengertian, 6. Tak haus Validasi, 7. Bisa berkata “tidak” tanpa rasa bersalah berlebihan, 8. Fokus pada solusi, bukan drama, 9. Memaafkan, berusaha untuk tidak dizalimi kembali, 10. Hidup selaras dengan nilai.
Pada umumnya, atau semestinya, semakin tua seseorang maka semakin tumbuh kematangan jiwanya. Walaupun dalam banyak keadaan soal usia bukan faktor satu2 nya menjadikan jiwa manusia matang, melainkan juga dipengaruhi dari strata pendidikan, banyaknya pengalaman, dan pengelolaan diri. Jiwa yang matang adalah kondisi kedewasaan bathin seseorang meliputi cara berpikir, kepekaan merasakan yang dirasakan orang lain, bersikap stabil serta bijaksana dalam menghadapi hidup. Indikator “jiwa yang sudah matang” biasanya terlihat dari cara seseorang bersikap, berpikir, dan merespons kehidupan.
Terbatas ruang tulis, maka ijinkan di nomor ini hanya berbicara tentang “Kematangan Jiwa” dikaitkan “MENGENAL DIRI SENDIRI”. Karena ada 10 tanda kematangan jiwa seseorang, sedangkan yang dibicarakan hanya 1 diantaranya, berarti “Mengenal diri” barulah merupakan 10% dari kematangan jiwa. Mengenal diri sendiri dalam mencapai kematangan jiwa berarti yang bersangkutan:
• Mengetahui kelebihan dirinya,
• sekaligus menyadari kekurangan dirinya sendiri,
• mengerti betul nilai2 kehidupan, dan
• tau diri bahwa dirinya memiliki keterbatasan.
Individu yang “matang jiwanya”, karena sudah kenal akan dirinya maka orang tersebut:
• Tidak sibuk membuktikan kehebatan dirinya pada semua orang. Tanpa pembuktianpun orang sudah tau kelebihan dirinya. Justru dianya makin merasa kecil, karena orang belum tau banyak tentang kekurangan dirinya. Dianya merasakan apabila orang mengetahui kekurangan dirinya, maka tak seorangpun respek kepadanya.
• Tidak sibuk mempromosikan dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya sengaja pamer secara tidak langsung dengan berbicara pakai HP agar didengar orang lain sekitarnya bahwa dirinya diundang memberikan ceramah dimana-mana, supaya orang sekitarnya tau bahwa dia sebagai penceramah yang sudah banyak dikenal orang.
• Tidak sibuk meninggikan diri, bahwa dirinya berilmu. Misalnya dalam percakapan; “Apakah bapak mengenai si fulan”, orang yang belum matang jiwanya lalu menjawab “ooohhh dia adalah murid saya”, walaupun benar si fulan itu muridnya jika dia sudah matang jiwanya akan menjawab “si fulan itu kolega saya, dia pernah bersama saya di ………”.
Korelasi antara mengenal diri dan mengenal Allah berakar kuat dalam ajaran agama Islam, terdapat ungkapan sebagai renungan para pemuka agama "Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya" (Man 'arafa nafsahu arafa rabbahu). Dengan menyadari kelemahan dan keterbatasan diri, seseorang akan melihat keagungan dan kekuasaan Allah sebagai Sang Pencipta. Renungan spiritual dari ungkapan tersebut sangat kuat dalam membimbing seseorang untuk mendalami ke-Esa-an Allah melalui perenungan diri dan alam semesta. Pemahaman diri sendiri adalah jalan kunci menuju pengenalan terhadap Allah.
Surat Fussilat Ayat 53
سَنُرِيهِمْ ءَايَٰتِنَا فِى ٱلْءَافَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu”?
Seseorang yang telah berhasil merenungkan kebesaran Allah melalui mengenal dirinya sendiri dan alam semesta ini, merupakan jalan untuk “kematangan jiwa”.
Dapat dikemukakan contoh mengenal diri sendiri, antara lain dengan merenungkan keadaan diri mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kuku. Betapa rambut di kepala, kumis dan janggut (bagi lelaki) dapat lebat dan panjang bila tidak dipotong, sedangkan alis tak betambah panjang. Demikian pula kuku bagian yang memanjang, walau si kuku masih berhubungan dengan tubuh dipotong tidak sakit. Gigi sudah pada ukurannya tertentu tidak memanjang lagi, bayangkan kalau gigi terus menurus memanjang. Begitu banyak renungan akan diri yang lainnya, semuanya akan menjadikan diri mengenal Allah yang Maha Sempurna dalam menciptakan diri kita. Belum lagi jika merenungkan kejadian alam sekitar kita, makin sadarlah dirinya akan kebesaran Allah.
Setelah berhasil mengenal diri sendiri, untuk menuju kematangan jiwa masih diperlukan 9 syarat lagi, agar jiwa benar2 menjadi matang. Yaa Allah jadikanlah kami hamba2mu yang mempunyai “jiwa yang matang dan tenang” sehingga dapat mencapai seperti yang Engkau sebutkan dalam Al-Qur’an:
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ
”Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr ayat 27-30)
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 18 Januari 2026.
29 Rajab 1447H
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment