Wednesday, 28 January 2026
MENGUBAH TAQDIR AJAL
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.390.07.01-2026
Sebelum ajal berpantang mati, begitu ungkapan populer sering kudengar sejak aku masih kecil, sampai kinipun masih sering diucapkan orang. Ajal termasuk taqdir “Umri” yang telah disinggung pada artikel sebelum ini. Taqdir Umri meliputi 4 (empat) hal yaitu tentang RIZKI, AJAL, AMAL, dan NASIB (celaka atau Bahagia). Ajal adalah batas waktu hidup seseorang yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Dalam pengertian umum (terutama dalam konteks agama), ajal merujuk pada saat kematian yang tidak bisa dimajukan maupun ditunda oleh manusia.
Atas dasar penyebab datangnya ajal kematian dibedakan menjadi dua yaitu: Pertama; Ajal “alami”, kematian karena usia atau penyakit. Kedua; Ajal “peristiwa”: kematian karena suatu peristiwa (kecelakaan, bunuh diri, dihukum mati dll.). Yang jelas bahwa kematian pasti akan dialami setiap makhluk hidup,
Walaupun semua orang sudah mengetahui semua makhluk hidup pasti mati, dari zaman ke zaman manusia; terutama para penguasa, para raja2, orang2 banyak harta akan senantiasa berupaya agar hidup ini lebih panjang. Guna memperpanjang hidup, terdapat 3 (tiga) sudut pandang. Pertama; secara biologis dan medis. Kedua; secara filosofis dan religious. Ketiga; secara eksistensial.
Secara biologis & medis:
Ada banyak upaya memperpanjang hidup atau menunda kematian secara biologis & medis:
• Pengobatan dan teknologi medis. Utamanya pemimpin negara, orang2 berkuasa, para raja, orang2 kaya. Bila menderita sakit, segera akan dicarikan cara pengobatan yang terbaik. Bilamana dirasa kurang sreg berobat di dalam negeri berangkat ke luar negeri kemanapun dilakukan dengan harapan mendapat kesembuhan, agar hidup dapat diperpanjang.
• Gaya hidup sehat (makan, olahraga, tidur, kelola stres). Sangat hati2 memilih makanan dan minuman, bahkan ada seorang teman yang tidak mau minum yang berwarna, sejak mulai umur 30 han hanya mau minum air putih. Jika membeli air putih dalam kemasan, saking hati2nya diterawang apakah ada sesuatu sekecil apapun dalam kemasan tersebut, selain dilihat kadaluarsanya.
• Pencegahan penyakit dan perawatan dini. Secara periodik melakukan general check up lengkap untuk memantau kesehatan, bila ada sedikit kelainan segera diatasi.
Upaya2 yang dilakukan di point diatas ini tidak membuat manusia “abadi”, tapi secara logika biologis dan medis bisa memperpanjang usia dan kualitas hidup.
Secara filosofis & religious.
Pertama; Bahwa ajal diyakini sudah ditetapkan oleh Tuhan dan tidak bisa dimajukan atau ditunda. Allah berfirman dibeberapa ayat dalam Al-Qur’an tentang kematian tak dapat ditunda diantaranya dipetik dari surat Al-Munafiqun Ayat 11:
وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan”.
Kedua; Ikhtiar (usaha) untuk menjaga kesehatan dan keselamatan justru diperintahkan dalam agama. Sakit harus berobat, perjalanan membaha yakan ditunda atau dihindari. Berobat merupakan suatu ikhtiar untuk segera sembuh dari penyakit. Baik dipetik hadits riwayat hakim dan Ibn Hibban. Nabi Muhammad ﷺ bersabda;
ما أنزل الله عز وجل داء إلا أنزل له دواء علمه من علمه وجهله من جهله
“Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya”
Juga hadits anjuran berobat dari baginda Nabi Muhammad ﷺ berbunyi;
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ
“Sejatinya semua penyakit ada obatnya. Maka apabila sesuai antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah” (H.R. Imam Muslim, Nomor Hadis 2204)
Lihat juga hadits riwayat Imam Bukhari berikut;
مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً
“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan ketika itu juga Allah menurunkan obatnya/penawarnya ( H.R. Imam Bukhari, Nomor 5354).
Dalam agama, setiap diri diperintahkan untuk menghindari bahaya, Al-Baqarah 195:
وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ
“janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan”
Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ
“Jika kalian mendengar wabah tersebut menjangkiti suatu negeri, maka janganlah kalian menuju ke sana, namun jika dia menjangkiti suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dan lari darinya.” (Shahih Bukhari 5289)
Manusia yang mampu, berusaha untuk hidup panjang, tapi sadarilah bahwa waktunya ajal tiba tetap di luar kendali manusia. Ajal tidak bisa ditunda, tapi jalan menuju ajal bisa diisi dengan usaha sehingga hidup lebih bermakna.
Secara eksistensial:
Sebagian orang melihat “menunda ajal” bukan soal waktu, tapi dengan makna bahwa orang tersebut seolah-olah berumur panjang, sebab walau jasadnya sudah lama menjadi tulang belulang di dalam kubur sana, namun dianya bagaikan masih hidup. Orang yang berumur panjang secara eksistensial ini adalah:
1. Apabila selama hidupnya meninggalkan sesuatu karya yang dipergunakan manusia untuk kemudahan hidup, berupa penemuan2, termasuk membangun sarana prasarana yang dipergunakan oleh masyarakat baik di bidang agama maupun di bidang memperlancar kehidupan umumnya.
2. Apabila selama hidupnya mengarang buku2 ilmu pengetahuan yang terus dipergunakan oleh orang banyak.
3. Para pahlawan pejuang untuk membebaskan manusia dari penindasan.
Orang2 seperti disebutkan diatas, mereka itulah yang umurnya panjang dalam arti mereka “terus hidup” lewat buah karyanya, hasil olah pikirannya atau perjuangannya, meski fisiknya telah tiada.
Demikianlah perihal “TAQDIR AJAL”, masih dapat diikhtiarkan untuk lebih berkualiatas dan lebih panjang. Ayolah kita berdo’a:
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي وَأَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي
“Ya Allah, perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah apa yang Engkau karuniakan. Panjangkanlah hidupku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosaku”
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 28 Januari 2026.
9 Sya’ban 1447H.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment