Tuesday, 6 January 2026

Tak percaya IJAZAH Ayah

Disuguhkan: M. Syarif Arbi No: 1.385.02.01-2026 ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ Di era kami yang terlahir dibawah tahun limapuluhan, utamanya di tanah kelahiranku, kami belum dikenalkan dengan “Taman Kanak-Kanak”, apa lagi yang sekarang disebut dengan “PAUD”. Walaupun di Yogyakarta pada tahun 1919 telah berdiri semacam “Taman kanak-kanak”, dengan nama “Bustanul Athfal” oleh persatuan wanita Aisyiah, rintisan Nyai Ahmad Dahlan. Makanya diriku termasuk yang belum pernah duduk di kursi “Taman Kanak-Kanak”, apalagi yang disebut “PAUD”. Diriku langsung masuk “Sekolah Rakyat” disingkat “SR”, diusia 6 tahun. Di era kami kelahiran lebih tiga perempat abad yang lalu itu, jarang sekali orang tua mencatat hari dan tanggal kelahiran anaknya, sehingga susah menetapkan anak sudah layak atau belum masuk SR diumur 6 tahun. Penanda kelahiran seseorang umumnya dikaitkan dengan peristiwa tertentu, atau penanaman pohon. Jalan keluarnya waktu itu, entah formula itu didasarkan teori siapa, ku tak tau, ……. anak yang mendaftar sekolah “SR” disuruh memegang kupingnya dengan tangan melalui tengah kepala. Misalnya tangan kiri, harus memegang kuping kanannya dimana tangan kiri itu harus melalui tengah kepala, atau sebaliknya, tangan kanan memegang kuping kiri juga melalui tengah kepala. Bagi yang belum berhasil, ditolak tahun itu untuk masuk “SR”, dianggap belum cukup umur. Giliran anak-anak ku mereka mulai sekolah di “TK”, apapun peristiwa yang dialaminya di TK, mereka tidak pernah bercerita kepadaku, termasuk anak sulungku melapor hanya kepada ibunya. “Besok saya tak mau sekolah lagi”, katanya suatu hari sepulang sekolah. Usut punya usut rupanya dianya tak mau sekolah karena ibu gurunya dinilainya suka marah2. Ketika ditanya oleh bundanya, apa Udi dimarahi? jawabnya “tidak”. Apa ada teman2 lain yang dimarahi?, jawabnya juga “tidak”. Bundanya bertanya lanjut “Lalu siapa” yang dimarahinya, anak sulungku menjawab “tidak ada siapapun yang dimarahi, tapi ibu itu terlihat selalu marah”. Dari mana Udi tau kalau ibu guru itu marah? tanya bundanya. Jawabnya “Mata ibu itu selalu terbuka lebar”. Pahamlah ibundanya bahwa si sulung menjendralisir bahwa orang marah matanya lebar, maka setiap orang yang matanya terbuka lebar berarti marah. Setelah dijelaskan seperlunya, si sulung mau sekolah bersama adiknya diantarkan bundanya. Setiba di sekolah TK, ibu yang bermata lebar itu justru dengan ramah memapak kedatangan murid2nya, termasuk si sulung dengan si bungsu. Anak bungsu kami, setiap ada hal-hal yang perlu ditanyakannya tentang sekolah sejak mulai TK sampai ketika SD kelas 2, dianya berkonsultasi hanya dengan bundanya, tidak mau bertanya kepada ayahnya. Kalau si sulung berkesimpulan setiap orang yang matanya lebar, orang itu sedang marah. Lain lagi si bungsu; dia berkesimpulan ayahnya tidak pernah sekolah. Hal itu diketahui, ketika bundanya bertanya, “kenapa tidak bertanya tentang sekolah kepada ayah?”, dia menjawab “ayah- kan tak pernah sekolah”. Singkat kisah dia berkesimpulan ayahnya tak pernah sekolah lantaran ketika itu perawakanku besar, berat badan 84 kg. Sedang kursi tempat duduk di TK dirancang hanya muat untuk diduduki anak2 sebaya anak TK, si bungsu berkesimpulan mana mungkin ayah bisa muat duduk di kursi sekolahan yang rendah dan kecil itu, jadi ayah tak mungkin pernah sekolah. Si bunda berusaha menyakinkan si bungsu bahwa ayahnya pernah sekolah, membuka berkas arsip sang ayah. Menunjukkan ijazah SR si ayah, si bungsu tak yakin dokumen itu punya ayah, karena ijazah SR waktu itu belum pakai foto (maklum zaman ku tamat SR foto termasuk barang mewah). Bunda menunjukkan Ijazah SMP si ayah, itupun si bungsu tetap tidak yakin, karena fotonya rambutnya sebelah kiri jabrik seperti pakai antena, mukanya oval cenderung lancip jauh beda dengan ayah yang sekarang, (relative ganteng). Demikian pula ketika ditunjukkan ijazah SMA; sanggahannya “kenapa lain foto SMP dengan foto SMA dan foto ayah sekarang”. Bundanya menjelaskan perubahan wajah2 orang sejalan dengan usia. Lalu si bungsu bilang sama bundanya minta bukti lain. Kalau benar2 ayah pernah sekolah, coba panggilkan saksi2 teman-teman sekolah ayah. “Kami punya teman2 sekelas, teman2 sekelas ayah mana?”. Bundanya tidak dapat mengumpulkan teman sekolah ayahanda si bocah, misalnya ngajak reuni teman2 ayah (seperti akhir2 ini sering ada reuni, lalu bersaksi pernah sebangku, kalau ulangan medit ndak mau kasih contekan, dll sbgnya; waktu itu reuni belum musim). Anak2 kami masuk TK dan SD sampai kelas 3, kami sedang berdinas di kota yang jauh dengan kota kelahiran si ayah tempat si ayah bersekolah SR, SMP dan SMA. Oleh karena itu tentu saja belum dapat dibuktikan kepada si bungsu ketika itu. Misalnya menunjukkan dimana Gedung rumah sekolah ayah, bila perlu bertamu kerumah teman2 ayah se sekolahan. Iyaa sudah, …….. tak masalah,…….. yang TAK PERCAYA si ayah pernah sekolah, memiliki ijazah SR, SMP dan SMA, ASLI, hanya anak sendiri, tak apalah. YANG TAK PERCAYA bukan kantor tempat si ayah bekerja. Sebab kalau kantor si ayah yang tidak percaya, tentu berakibat akan terkena dugaan sebagai penyandang IJAZAH PALSU, dapat diperkarakan dan kalau kemudian ternyata terbukti ijazah palsu digunakan untuk masuk kerja, langsung akan diberhentikan tidak dengan hormat alias di pecat. Mungkin ……. mungkin walaupun sudah pensiun-pun kalau belakangan terbukti ijazah ketika masuk kerja adalah palsu, jangan…. jangan pensiunnya ditarik tak dibayar lagi. Kembali ke kisah anak bungsuku tak percaya aku pernah sekolah. Maklumlah bahwa anak seusia TK dan awal SD belum ada pemikiran logis yang matang, pada tahap ini pemahaman tentang dunia sangat dipengaruhi oleh kesan visual, emosi, dan teladan orang tua/guru. Anak2 belum bisa membedakan antara kenyataan dan fantasi secara utuh, sehingga sering mengimajinasikan dengan keadaan di sekelilingnya. Contoh si bungsu tadi membayangkan mana mungkin ayah bisa duduk di kursi yang biasa dia duduki di sekolahnya, jelas badan ayah tak akan cukup muat dikursi itu. Kursi akan jebol tangannya dan patah kakinya jika diduduki ayahnya. Anak2 ku ketika itu cara berpikirnya masih tahap Praoperasional ( usia 2–7 tahun) yaitu: Berpikir masih egosentris (melihat dari sudut pandang sendiri). Menggunakan simbol (kata, gambar) untuk mewakili benda. Belum mampu berpikir logis secara konsisten. Sebagai ORTU, tentu saja menyikapi anak2 cara berpikirnya masih dalam tahap Praoperasional tersebut harus dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang, sebagaimana yang diberikan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an surat Ali Imran 159: “……………………. فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ “ “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka………..” Anak dibawah 6 tahun belum bisa berpikir abstrak, sehingga membimbing mereka harus dengan suara lembut tanpa bantahan penuh perlakuan baik dan perhatian. Apa yang dilakukan ibundanya adalah tepat, tidak membantah si anak, hanya berusaha meyakinkan anak dengan bukti2 administratif dari berkas pendidikan ayahnya. Walau bukti2 itu tetap saja di tolak, sang anak tidak dimarahi, tidak dibantah, tidak pula mencari pembenaran. Si anak malah dipeluk dengan kasih sayang, sebagai bentuk penghargaan atas pendapat si anak, karena memahami apa yang dipahami anaknya baru sampai sesuai usianya. Demikian sebuah kisah singkat ini, mudah2an ada manfaatnya buat ORTU2 muda yang sedang mengasuh anak2 mereka dalam tahap pertumbuhan usia dibawah 6 tahun. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 6 Januari 2026. 17 Rajab 1447H

No comments:

Post a Comment