Wednesday, 21 January 2026
BERTANGGUNG JAWAB ATAS PILIHAN
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.388.05.01-2026
Kita hidup ke dunia ini sejatinya bukanlah pilihan kita, tak seorangpun merasa mendaftar untuk hidup ke dunia ini, tidak pula pernah memilih terlahir sebagai bangsa apa, tidak pula dapat memilih siapa ibu dan ayah kita orang tua yang menyebabkan kita datang ke dunia ini. Apakah terlahir dari ortu bangsawan, ortu pejabat, ortu yang kaya atau miskin. Semua itu ditentukan oleh Allah, dalam bahasa agama merupakan “taqdir azali”, yaitu takdir yang ditulis dalam lauhil mahfudz 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Takdir azali ini adalah takdir yang merupakan takdir utama yang pasti terjadi bagi semua mahkluk.
Allah berfirman:
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. (Al-Hajj ayat 70)
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ، قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ، بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
“Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. “Beliau bersabda, “Dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air.” (HR. Muslim)
Ada empat jenis taqdir, sedangkan yang tiga lainnya ialah: takdir “umri”, takdir “sanawi” dan takdir “yaumi”. tidak dibahas pada artikel nomor ini, إِنْ شَاءَ اللَّه dikesempatan yang akan datang.
Kendatipun semua yang akan dialami seorang anak manusia sudah ditentukan taqdirnya, namun manusia dalam hidup ini penuh di hadapkan dengan pilihan. Justru kerena taqdir yang akan terjadi tak seorangpun mengetahui, maka untuk menuju ke taqdir itu, ke hati masing2 diri digerakkan Allah untuk memilih. Mulai di usia tertentu dalam kehidupan ini, manusia harus melakukan pilihan. Tahapan setiap individu mulai bisa memilih dapat disusun sbb:
Pertama, Pilihan anak Usia 3–5 tahun:
Anak sudah bisa memilih hal sederhana, di usia 3 – 5 tahun misalnya:
Memilih warna baju, anak2 diusia 3-5 tahun, sudah dapat mementukan pilihannya mengenai warna baju yang dia suka. Ada seorang anak yang senang sekali dengan baju merah kotak2. Bila dibawa ke toko pakaian, disuruh memilih, maka dia langsung mencari baju bermotif kotak2 merah bergaris putih, misalnya.
Jenis kue kesenangan anak diusia 3 – 5 tahun, ada yang sangat doyan marie regal dan spekuk. Sedangkan makanan utama, menu makanan tidak mau mengulang. Bila makan pagi dengan menu sop daging sapi, siang hanya semangat makan kalau diubah dengan menu ikan laut, begitu juga sore nanti harus ganti menu lagi, bibirnya akan dikatupkannya ketika makan sore, kalau disuapi sop daging atau menu ikan laut lagi.
Adapun mainan, anak laki2 wajar kalau pilihannya main mobil-mobilan bukan boneka. Sementara itu anak2 perempuan biasanya suka boneka ketimbang mobil2an atau kereta2 apian.
Hendaklah sebagai ayah bundanya, juga punya pilihan untuk mengalah atas pilihan anak mereka tersebut, sepanjang pilihannya tidak ekstrim menyulitkan. Andaikan kesulitan untuk memenuhinya seharusnyalah Ortu memilih tetap mengarahkan.
Kedua, pilihan ketika anak Usia 6–9 tahun:
Mulai bisa memilih dengan alasan sederhana, seperti:
Pilihan teman bermain, anak usia 6 – 9 tahun sudah mulai masuk sekolah dasar, di sekolah dianya sudah mulai memilih teman yang menurutnya cocok dengan dirinya, mungkin bermula dari tempat tinggal yang searah perjalanan dari rumah ke sekolah. Berikutnya ybs mulai selektif memilih teman, yaitu teman akrab yang menurutnya se irama dengan dirinya dalam berbagai hal.
Pilihan hobi di usia 6 – 9 tahun ini si anak sudah mulai terlihat, misalnya olah raga yang disenanginya, tontonan acara TV yang disukainya, tempat rekreasi yang digemarinya, dlsb.
Pilihan menu favorit, mulai nampak pilihan menu yang di sukai tiap anak, tak jarang dua anak saudara kandung berbeda pilihan menu makanan favoritnya. Ada anak yang sangat gemar makan mei goreng, suatu hari yang tersedia hanya mie rebus, katanya “ndak apa2 mie rebus kan juga bisa digoreng”.
Ketiga, pilihan anak di Usia 10–12 tahun
Sudah bisa mempertimbangkan konsekuensi ringan, misalnya:
Pilihan ikut les atau tidak. Jenis les yang diikuti termasuk les bukan bidang pelajaran, misalnya Les Piano, les bela diri dlsbnya.
Pilihan mengatur waktu belajar dan bermain, disini juga harus dibantu ORTU untuk mengarahkan.
Keempat, pilihan anak remaja (13 tahun keatas)
Mampu membuat keputusan lebih mandiri:
Pilihan Gaya berpakaian, ORTU harus ikut mengarahkan, jika tidak bukan mustahil anak2 diusia 13 tahun keatas kemasukan pengaruh yang tak sejalan dengan prinsip2 yang dianut ORTU mereka.
Pilihan Pergaulan, ORTU harus memantau dengan siapa anak2 mereka bergaul, tidak salah ORTU secara diam2 “mengintelijeni” isi tas anak2nya agar anak2 tidak terjebak ke pergaulan obat2 terlarang dllnya.
Pilihan Tujuan belajar, kadang di usia ini anak2 sudah mulai hampir mantap cita2 nya angin berprofesi sebagai apa, walau masih bisa berubah. Sebagai ORTU sebaiknya dalam hal ini mengarahkan, tetapi tidak memaksakan.
Berangsur-angsur setiap individu semakin tambah usianya menjelang sebagai orang dewasa makin berkembang kemampuannya untuk memilih yang terbaik untuk dirinya, setelah diusia diatas 20 han termasuk menentukan pilihan siapa yang tepat untuk pasangan hidupnya. Berlanjut setelah berkeluarga, kemampuan memilih hal2 yang terbaik untuk keluarganya.
Terdapat sepuluh tanda utama sesorang telah mencapai “kematangan jiwa” yaitu: 1. Mengenal diri, telah ditulis pada artikel yang lalu No: 1.387.04.01-2026 dengan judul “Mengenal DIRI, 10% MEMATANGKAN Jiwa”. Terbatasnya ruang tulis di kesempatan ini kita tinjau tanda “Kematangan Jiwa” yang ke 2. “Bertanggung jawab atas Pilihan”.
Al-Qur'an menegaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab penuh atas pilihan dan perbuatannya sendiri, Surat Al-Muddatstsir Ayat 38:
كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”.
Selanjutnya dalam hidup ini, utamanya bagi orang yang sudah Mukallaf; yaitu
orang yang telah dibebani kewajiban syariat agama karena telah baligh (dewasa) dan berakal sehat, sehingga bertanggung jawab penuh atas apa yang telah dipilihnya . Lihat peringatan Allah dalam surat al-An’am ayat 164:
قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍۗ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ ١٦٤
“Katakanlah (Muhammad), “Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.”
Ya Allah berikan petunjuk kepada kami dalam menentukan pilihan apapun dalam menjalani hiudup ini agar tetap dalam keredhaan-Mu.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 21 Januari 2026.
3 Sya’ban 1447H.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment