Sunday, 25 January 2026

Merubah TAQDIR Rezeki

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.389.06.01-2026 Di antara empat taqdir, taqdir utamanya adalah taqdir azali yang tertulis di lauhil mahfudz, sedangkan tiga taqdir yang lainnya (‘umri, sanawi, dan yaumi) adalah taqdir yang bisa berubah. Sekilas tentang taqdir AZALI telah ku tulis di artikel nomor yang lalu dalam judul “Bertanggung Jawab atas Pilihan”. Taqdir “UMRI”; Yaitu taqdir yang ditulis malaikat ketika meniupkan roh ke dalam janin. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ فِيْ ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ، فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia(nya).” (HR. Bukhari Muslim). Taqdir Umri meliputi 4 (empat) hal yaitu tentang RIZKI, AJAL, AMAL, dan NASIB (celaka atau Bahagia). Berkenaan terbatas ruang tulis, maka nomor ini hanya memuat tentang “Merubah Taqdir Rezeki”, taqdir “ajal”, Amal dan Nasib إِنْ شَاءَ اللَّه ditulis di nomor2 yang akan datang. Taqdir rezeki itu sudah ditetapkan Allah, tapi cara tiap individu menjemputnya bervariasi karenanya bisa diubah, bisa berubah. Maksudnya bukan “mengubah taqdir” dalam arti menentang ketetapan Allah, tapi mengubah jalan hidup masing2 orang agar rezeki yang Allah siapkan bisa terbuka lebih luas. Tak seorangpun mengetahui taqdir rezeki yang telah ditetapkan buat dirinya, oleh karena itu terus menerus berikhtiar untuk mencari rezeki. Beberapa cara yang sering disebut dalam Al-Qur’an dan hadits, sebagai ikhtiar merubah taqdir tentang rezeki, titik beratnya adalah “Perbaiki hubungan dengan Allah”. Hal yang harus dilakukan agar dapat memperbaiki hubungan dengan Allah adalah: PERTAMA: Tingkatkan TAQWA → “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2–3) وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا (Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar). وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ (Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya). KEDUA: Shalat tepat waktu, dalam surat Taha ayat 132 Allah berfirman: وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَا ۖ لَا نَسۡـَٔلُكَ رِزۡقًا ۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَ ۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ “dan perintahkanlah kepada keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rejeki kepadamu, Kamilah yang memberi rejeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang orang yang bertaqwa” Ayat ini menjelaskan tentang perintah kepada kita semua, sebagai kepala keluarga, untuk mengajak anggota keluarga untuk melaksanakan shalat. Mengajak berarti menjadi contoh, sehingga sebelum mengajak shalat maka kita harus menjadi orang yang menegakkan shalat terlebih dahulu. Mengajak keluarga untuk melaksanakan shalat juga harus dilakukan dengan sabar, tidak boleh bosan apalagi putus asa. KETIGA: Istighfar rutin memiliki hubungan langsung sebagai pembuka pintu rezeki, penurun hujan berkah, serta penambah harta dan keturunan, sebagaimana difirmankan dalam Surah Nuh ayat 10-12. Rutin beristighfar diyakini إِنْ شَاءَ اللَّه membentangkan jalan keluar dari kesempitan, menghilangkan duka, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (10) فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (11) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (12) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Maka aku berkata (kepada mereka), "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu." KEEMPAT, IKHTIAR dan DO’A: Memperbaiki usaha (ikhtiar) wajib untuk dilakukan dalam meraih datangnya rezeki. Ikhtiar tersebut dalam wujud antara lain meningkatkan ilmu pengetahuan dalam mencari rezeki, berusaha dengan sungguh2 jujur dan diikuti dengan senantiasa berdo’a. Karena usaha tanpa berdo’a untuk menyerahkan semua hasilnya sesuai ketetapan taqdir Allah, sikap demikian adalah sombong. Dalam pada itu berdo’a saja tanpa usaha itu namanya ber-angan2 kosong. Sedangkan Ibunda Nabi Isa saja untuk mendapatkan buah kurma dalam keadaan lemah ketika akan melahirkan masih diperintahkan Allah untuk berikhtiar menggoyang pohon kurma, terabadikan dalam surat Maryam ayat 25: وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا "Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”. Sarana meraih rezeki yang KELIMA: Sedekah, meski sedikit. Secara logika sedekah mengurangi harta, tapi secara taqdir bertambah, sesuai firman Allah di Surah Al-Baqarah Ayat 261: مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٢٦١ "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui”. Sarana KE ENAM mengubah taqdir Rezeki; Jaga silaturahmi. Rasulullah ﷺ bersabda: HR Imam Bukhari dan Muslim. مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ("Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya/dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi"). Selanjutnya hendaklah masing2 diri kita mengubah mindset tentang rezeki. Jangan rezeki hanya dimaknai dengan “Uang”, “Harta” dan “Jabatan”. Tetapi juga adalah merupakan rezeki yang tak ternilai adalah: “Kesehatan”, “Ketenangan”, “Pasangan hidup yang setia”, “Ilmu yang bermanfaat” Mari kita tutup artikel ini dengan do’a: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً Allāhumma innī as-aluka ‘ilman nāfi‘an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan. "Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik)". آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 26 Januari 2026. 7 Sya’ban 1447H.

No comments:

Post a Comment