Sunday, 12 September 2021

TABUNGAN AKHIRAT.

Informasi di bawah ini khusus untuk orang2 yg percaya bahwa alam akhirat itu betul2 ada. Bukan buat orang2 yg beranggapan akhirat itu hanya ramalan oleh peramal masa depan yg belum pernah study banding ke sana. Di akhirat nanti dapat disiapkan tabungan layaknya tabungan di dunia. Tabungan adalah simpanan sekarang yang dimaksudkan untuk dipergunakan dimasa mendatang. Di dunia manusia mulai mengenal budaya menabung sudah sejak lama, berabad yang lalu berupa menyimpan kepingan uang di dalam keramik dibuat berupa ayam2an atau sejenisnya. Ketika di (ES ER doeloe. sekarang ES DE) ada slogan motivasi “Muda menabung tua beruntung”. Namun agaknya slogan itu kini sudah tidak valid lagi, bila menabung tersebut diterjemahkan menabung dengan menyimpan dalam bentuk uang. Uang yang ditabung di masa muda katakanlah 20 tahun yang lalu, hari ini nilai daya belinya sudah jauh merosot dibandingkan 20 tahun yang lalu karena tergerus inflasi. Untuk keperluan di akhirat juga diperlukan tabungan, malah sangat-sangat diperlukan tabungan akhirat itu, karena hidup di akhirat kekal dan tidak dapat lagi berikhtiar untuk mencari rejeki, tidak dapat lagi beramal. Justru di dunia inilah saatnya menabung untuk keperluan akhirat. Dari sekian amal kebaikan merupakan investasi akhirat, ada amalan menabung untuk di surga nanti seperti yang dianjurkan Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda kepada Abu Musa Al-Asy’ari: يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لاَحَوْلَوَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ “Wahai ‘Abdullah bin Qais, ucapkanlah ‘Laa hawla wa laa quwwata illa bil-laah’, karena ia adalah satu diantara simpanan-simpanan surga.” (HR. Bukhari). Investasi akhirat ini memang banyak tersedia sarananya, antara lain berupa sedekah. Akan tetapi sedekah lebih besar kemungkinan berpotensi “hilang” bila sedekah itu disengaja atau tidak disengaja di ungkit-ungkit, atau terungkit; merujuk kepada Al-Qur’an surat Al-Baqarah 264: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ ...........: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya........." Sedang tabungan surga berupa dzikir, kemungkinan kecil untuk terungkit atau tercerita kepada orang lain “bahwa awak sering berdzikir” dengan dzikir: لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ dengan demikian Insya Allah akan didapati kelak di akhirat merupakan “Tabungan Surga”. Insya Allah tabungan ini tak akan tergerus inflasi sepanjang ikhlas hanya karena Allah dan tak pula ditarik di dunia ini dg ingin apresiasi manusia bahwa diri awak "akhli dzikir". Semoga Allah selalu menyehatkan jasmani dan rohani kita sehingga tetap mampu berdzikir kepada Allah selama hayat masih dikandung badan. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ سُبْحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِين اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن M. Syarif Arbi. Jakarta, 4 Safar 1443 H. 12 September 2021. (841.09.21)

Thursday, 9 September 2021

SURGA ADN.

Terdapat sejumlah type surga tersedia, satu diantaranya adlh surga ADN. Identitas calon penghuni surga Adn adalah: 1. Orang yg mensucikan diri. 2. Sabar karena mengharap keridhaan Allah. 3. Ahli Shalat. 4. Berinfaq sembunyi, terang2an. 5. Tolak kejahatan dengan kebaikan. ad. 1. Mensucikan diri: جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ وَذٰلِكَ جَزَآءُ مَنْ تَزَكّٰى "(yaitu) Surga-Surga 'Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri." (QS. 20 = Ta-Ha ayat 76) Mensucikan diri meliputi jasmani dan rohani: a. Mensucikan diri secara phisik dengan selalu memelihara kebersihan jasmani, khusus ketika akan shalat berwudhu, dlm sikon tertentu bertayamum. b. Mensucikan diri secara bathin berupa bertobat dan menghilangkan segala penyakit2 hati. refer Al-Baqarah 222: "........... ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّا بِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ "............Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri." (QS. 2 = Al-Baqarah ayat 222). ad. 2. Sabar. Sabar dengan tujuan mengharapkan ridha Allah. وَا لَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ "Dan orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya...." (QS. 13=Ar-Ra'd ayat 22). Yaitu sabar dalam berusaha menghindari setiap hal yang dilarang oleh Allah. Sabar terhadap musibah, sabar dalam setiap menghadapi ujian hidup, terus semangat dan tidak mudah menyerah. "......... ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ "........ Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS.2= Al-Baqarah ayat 153). ad. 3. Ahli Shalat. Semua type surga, syarat memasuki surga2 tsb, shalat mrpkn syarat utama. Dmkn juga untuk dpt "kaveling di Surga Adn" وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ (melaksanakan shalat). .........    ۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ ۗ ............" "........ Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. .............." (QS. 29 = Al-'Ankabut ayat 45) Dengan tercegahnya perbuatan keji dan mungkar, maka insya Allah selamat kehidupan di dunia dan di akhirat diganjar pahala karena tlh sanggup bersabar menghindari larangan Allah. Bersabar melaksanakan perintah Allah sejalan dengan butir ad.2. ad. 4. Infaq sembunyi, terang2an. Infaq sembunyi2, ikhtiar menjaga keikhlasan agar tdk terkena peringatan Allah: ".......... ۙ كَا لَّذِيْ يُنْفِقُ مَا لَهٗ رِئَآءَ النَّا سِ وَلَا يُؤْمِنُ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَا نٍ عَلَيْهِ تُرَا بٌ فَاَ صَا بَهٗ وَا بِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ .........." "...., seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya' (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. " (QS. 2 = Al-Baqarah ayat 264). Adakalanya berinfaq dengan terang2an, pasang niat untuk memotivasi terutama anak2 sendiri, saudara2 sendiri dan handai taulan yg berkemampuan untuk tergugah ikut meramaikan bursa infaq. Kedua langkah berinfaq ini mengamalkan: وَاَ نْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَا نِيَةً (menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan) dalam ayat 22 surat Ar-Ra'd. ad. 5. Tolak kejahatan dg kebaikan. Tidak mudah memang bersikap وَّيَدْرَءُوْنَ بِا لْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ (menolak kejahatan dengan kebaikan). Namun itulah salah satu syarat yg masuk surga Adn tertuang di penggal akhir di QS. 13 = Ar-Ra'd ayat 22. Semoga Allah berkenan memasukkan kita di salah satu surga yg tersedia. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 1 Safar 1443 H. 9 September 2021. (840.09.21).

Sunday, 5 September 2021

KELUH KESAH.

Ada memang orang yg memandang sesuatu serba salah. Kadang lihat orang lewat aja jadi masalah buatnya, pakaian orang lewat itu menurutnya tak cocok warnanya. Suatu hari disuatu kota diluar Jawa, pas aku potong rambut di tukang pangkas. Baru saja bbrp jurus gunting merayap di rambutku, abang pemotong rambut menghentikan pekerjaannya, kuliat dari cermin ybs tetap memegang sisir dan gunting. Terdiam,....... di tangan kirinya sisir di tangan kanannya gunting, terpanaa....menghela nafas panjang........ matanya menatap ke seberang jalan ke kios minuman. Tak sabaran, kutanya "kenape bang cik???". 😅😅😅😅 Abang potong rambut setelah diam sebentar menyahut "Heran saye bang boleh ndak puas2 nye dari pagi nyetel lagu barat,........... mending lagu dang duut, kite ngerti". Kental dialeg daerah, saya yakin pembaca ngerti maksudnya, mirip persis bahasa kesatuan kita. Sikap 'bang cik pangkas rambut" ini salah satu wujud keresahan, cukup mengganggu dirinya. Apalagi keluh kesah masalah hidup, masalah pekerjaan, masalah pelajaran, masalah rumah tangga, bila diperturutkan akan menyusahkan diri sendiri. Umumnya sifat keluh kesah ini hinggap kpd orang2 tidak berpikir positif, selalu melihat dari sudut negatif, sudut kekurangan. Giliran membaca tulisan orang lain, orang berkepribadian "keluh-kesah" ini, akan ada saja cacatnya tulisan itu. Berangkat pikirannya menyalahkan, lalu di cerini-i nya ketemu aja salahnya, entah salah ketik, entah salah tanda baca bisa jadi salah arti. Walau artinya jika dicermati benar sdh sesuai kontek kalimat. Masih aktif kerja kantoran 1997an, pas diriku ketemu kepala kantor yg super perfect, keseharian memang persis seperti diawal tulisan melihat orang ada saja kurangnya. Ketika koreksi draft surat, ada saja salahnya kadang kata: "jika", "bila", "agar", "supaya", "tanda baca", "kata terpisah", "kata sambung". Jadi bahasan beliau. Pokoknya ribet lah........ Saking bolak-baliknya draft sebuah surat, sampai seketaris si bos komentar "Tahun 2000 jadi ndak surat ini". Ku ingat ketika masih usia 21-an dipercaya jadi redaktur 3 surat kabar mingguan di Jakarta. Sebelum pindah ke Jakarta, usia 19-an setamat =es em aa=, diriku penyelaras redaksi di beberapa koran daerah, dari berita2 yg disetorkan oleh para wartawan. Mungkin berkat ketika sambil sekolah di =es em aa= aku part time di mas media...... Waah kalau jadi redaktur penyelaras redaksi terlalu menjelimet hrs perfect kapan surat kabar terbit. Iyaa sih di koran kalau sekedar salah ketik ada caranya dg "ralat" di penerbitan berikutnya. Penyandang sikap serba tak cocok, keluh kesah ini, selain nyusahkan dirinya sendiri, dlm pergaulan kurang disuka banyak orang. Sebetulnya sifat keluh kesah, kurang puas, serba tidak cocok ini adalah sifat bawaan manusia. Sifat bawaan ini kadarnya saja berbeda setiap orang. Allah pencipta kita tlh menegaskan bahwa sejatinya manusia didesain keluh kesah, seperti dua ayat berikut: اِنَّ الْاِ نْسَا نَ خُلِقَ هَلُوْعًا  "Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh." (QS. 70 = Al-Ma'arij ayat 19) اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا  "Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah," (QS. 70 = Al-Ma'arij ayat 20). Kalau keluh kesah, karena kesusahan adalah wajar, terapinya terbentang jalan "berserah diri kpd Allah" untuk menguatkan iman terkenal pantun dari kota khatulistiwa: Pasang Nipah di Batu-layang*). Masak sebiji di ujung tanjung. Hati susah bawa sembahyang. Disitu tempat iman bergantung. *)nama kecamatan tempat berdirinya tugu Khatulistiwa. Yang sulit adalah resah gelisah bukan lantaran susah, tapi sibuk melihat, mengomentari, menilai orang lain. Termasuk mencari kesalahan orang lain. Semoga kita terhindar dari resah-gelisah karena usil dengan urusan orang. Kalaupun resah gelisah karena kesulitan, kesusahan, stlh menyerahkan diri kpd Allah semoga diberikan-Nya jalan keluar. (يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا). آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 27 Muharram 1443 H. 4 September 2021. (839.09.21)

Thursday, 2 September 2021

BERLEBIH-LEBIHAN.

"Sidikit bubur banyak sendoknya". Begitu pepatah tetuaku dulu untuk mengungkapkan ber-lebih2an dalam menyampaikan sesuatu. Mem-besar2 kan persoalan yg mestinya kecil. Misalnya menceritakan ttg kesuksesan , anaknya dirantau, mestinya tdk sehebat yg diceritakan. Menceritakan kesalahan orang lain, mestinya ndak segitunya......dll. Perilaku ber-lebih2 an dilakukan banyak orang, tak pandang gender, tak pandang profesi. Hanya model ber-lebih2nya yg berbeda. Ada yg berlebihan dalam berita, informasi. Ada berlebihan dalam perbuatan. Ada yg ber-lebih2an makan. Ada pula yg ber-lebih2an berpakaian. Dan........banyak lagi bentuk ber-lebih2an. Ternyata manusia itu suka berlebih-lebihan. Walau sebetulnya Allah tak suka kepada orang yg ber-lebih2an. Diatur jelas pada Al-An'am ayat 141 dan Al 'Araf ayat 31. اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.". Allah tak suka kepada orang ber-lebih2an karena cukup banyak dampaknya a.l.: 1. Menyusahkan diri sendiri. Misalnya a.l.: Berlebihan makan, perut ndak enak. Berlebihan berpakaian jadinya ribet, apalagi bila berlebihan itu perhiasan, resiko dikuntit penjahat. Berlebihan cerita sukses, sulit membuktikannya. dll. 2. Memicu kecemburuan sosial. Misalnya berlebihan menampakkan harta. 3. Membuat takabur. Menganggap diri lebih dari orang lain, biasanya diikuti berbangga diri. Padahal itu jelas dilarang agama, termaktub di An-Nisa ayat 36, Al-Qasas ayat 76, Luqman ayat 18 dan Al-Hadid ayat 23; ".....اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَا لٍ فَخُوْرٍ  "....... Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." Namun memang manusia sdh di desain sbg mahluk yg ber-lebih2 an. كَلَّاۤ اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَيَطْغٰۤى  "Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas," (QS. 96 Al-'Alaq ayat 6). Tidak seperti mahluk hidup lainnya. Ambil contoh hewan, Harimau bgt sdh kenyang ya sudah, walau Rusa liwat di depan hidungnya ndak di apa2 kan. Tidak ada niat makan berlebihan. Atau mumpung, banyak Rusa terkam dan bunuh dulu untuk simpan besok lusa. Lain manusia, mumpung betul2 di aji dg "aji mumpung". Mumpung lagi.........dstnya. Berbahagialah orang yg tau diri, menyadari akan kelemahan manusia yg memang di desain suka ber-lebih2an, dg begitu lalu berusaha untuk mengurangi perangai ber-lebih2an itu, karena tdk disukai Allah. Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yg tdk ber-lebih2an. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 24 Muharram 1443 H. 1 September 2021. (838.09.21)

Saturday, 28 August 2021

SERBA-SERBI LANSIA.

Salah satu tanda menua adalah "pelupa". Dari ruang tengah ke kamar, sesampainya di kamar lupa, ke kamar tadi mau ambil apa. Kadang menceritakan suatu topik ber-ulang2 kpd orang yg sama. Menua, usia lanjut, proses alami, tak dapat di cegah. Kadang kurang disadari merasa diri masih seperti dulu. Padahal daya ingat, phisik dan indera mulai menurun. Kalau ketika muda pernah mencapai kejayaan. Tak jarang ada lansia merasa bahwa dirinya masih jaya, masih harus dihormati seperti dulu. Padahal zaman sudah berubah, orang yang harus dihormati sudah berganti. Ada lagi figur yang masa mudanya pernah mencapai tingkat pendidikan tinggi. Ia selalu merasa ilmunya masih valid. Padahal ilmu berkembang berubah secara dinamis. Makanya terutama bagi siapa saja yg ber profesi transfer ilmu, harus terus menerus meng upgrade diri supaya ilmu yang disampaikannya masih up to date. Bagi sarjana2 masa lalu yang tidak ikuti dinamika ilmu pengetahuan dengan meng upgrade diri, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, tak sedikit ilmu lama sudah ketinggalan. Sehubungan dengan itu, dalam hal berhadapan dengan ilmuwan lansia yg tidak meng update diri, bila ada dilingkungan kita, sikap kita harus menggunakan kepintaran lebih, bukan hanya sekedar pintar biasa. Jadi harus PINTAR-PINTAR-PINTAR atau Pandai-pandai, pandai.(se-kurang2nya Pintar 3 x dan pandai 3 x). Jika tidak demikian akan selalu terjadi salah paham. Salah satu yang harus dijadikan pemahaman "Lansia tak selalu harus dituruti, tetapi tetap harus dihormati". Ingat!!!,.......jika anda dipanjangkan usia, anda juga akan sampai di Lansia seperti mereka. Hendaklah digunakan teknik berkomunikasi dengan Ilmuwan yang telah lanjut usia, dapat dipetik pedoman seperti terdapat pada QS: Al-Isra 23 yakni harus dengan: قَوْلًا كَرِيْمًا (perkataan yg mulia), tidak menyinggung perasaan. Misalpun sampai berbeda pendapat jangan sampai membantahnya. اُفٍّ gunakan kata2 yang mulia tadi, jangan sampai bersuara tinggi, jangan membentak وَّلَا تَنْهَرْهُمَا "........... فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ".....................maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. 17 Al-Isra' ayat 23). Dalam pada itu, apa yang dikemukakan lansia ilmuwan yang dulunya berilmu tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan ilmu pengetahuan kekinian, mungkin lantaran yang bersangkutan tidak meng update ilmunya "telah kadaluarsa" atau "sudah jadul". Dalam hal demikian ada pedoman Al- Qur'an yang dapat di rujuk sebagai acuan yg mirip*) yaitu di surat Al-Ankabut ayat 8 dan surat Luqman ayat 15. وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسَا نَ بِوَا لِدَيْهِ حُسْنًا ۗ وَاِ نْ جَاهَدٰكَ لِتُشْرِكَ بِيْ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۗ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُ نَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ "Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. 29 = Al-'Ankabut ayat 8) وَاِ نْ جَاهَدٰكَ عَلٰۤى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَا حِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖ وَّا تَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَا بَ اِلَيَّ ۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُ نَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ "Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. 31 = Luqman ayat 15) *) "Mirip", dalam ayat ditegaskan "bila dipaksa menyekutukan Allah dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, hal yang demikian jangan ditaati". Nah ...... dalam hal ini, dianalogkan, kita diperkenankan untuk tidak menggunakan apa yang diarahkan oleh mereka, apa bila sudah tidak bersesuaian dengan sikon dan ilmu terkini, namun tetap harus وَصَا حِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا berkomunikasi, berhubungan dalam pergaulan dunia dg baik. Semoga kita dapat menjadi manusia yang hormat dan berbuat baik kepada yang tua. Mengayomi yang muda, mendengarkan dan menerima masukan dari mereka. Menghargai rekan sebaya bersedia saling koreksi dalam bertolong-tolongan berbuat kebaikan. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنَنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 19 Muharram 1443 H. 28 Agustus 2021. (837.08.21).

Sunday, 22 August 2021

Dipersiapkan PAS atau SEBELUM diperlukan.

Banyak media untuk meningkatkan taqwa, salah satu diantaranya merenungkan anugerah Allah buat diri kita. Ambil saja sblm dan stlh kita lahir. Sblm kita lahir bagi manusia normal, sdh siap ayah dan ibu nanti setlh kita lahir merawat dg penuh kasih sayang. Bgt kita lahir air susu ibu langsung berisi siap diisap untuk rezeki si bayi. Ketika bayi masih dlm kandungan, air susu ibu blm berair. Ini semua skenario Allah. Kesimpulan renungan; bahwa Allah tlh siapkan rezeki kita justru bersamaan disaat diperlukan. Renungan kita tarik ke kebutuhan hidup manusia. Dulu masyarakat dunia kebutuhan blm seperti sekarang, serba sederhana. Area gerak perjalanan pun terbatas. Sekarang mengharuskan manusia bergerak cepat antar negara, antar benua. Dulu blm diilhamkan Allah buat manusia menemukan alat transportasi, seiring dg itu blm ditemukan minyak bumi. Kini dunia jadi singkat, kebutuhan makin beragam, Allah tlh siapkan dg mengilhamkan jadi pengetahuan manusia membuat pesawat terbang, mobil, kereta api. Untuk penggerak alat transportasi itu disediakan minyak bumi. Kabarnya cadangan minyak bumi mulai menipis. Allah ilhamkan lagi, berbagai energi terbarukan, dari tumbuhan, listrik bertenaga bukan minyak. Aneka keperluan makanan karena manusia bertambah banyak, manusia diberi Allah ilmu menemukan berbagai varietas unggul lekas panen. Sekelumit renungan tadi dpt meningkatkan ketaqwaan kita bahwa Allah menyiapkan keperluan kita sblm atau persis kita perlukan. Sblm Covid 19 diturunkan Allah ke bumi. Jauh sblm itu Allah sdh ilhamkan kpd manusia dpt berkomunikasi melalui Medsos. Dengan bgt bbrp hal kebutuhan hidup manusia dpt terpenuhi melalui kecanggihan teknologi ini: 1. Andaikan blm ada medsos bgmn kita dpt bersilaturahim dg sanak family dg adanya aturan PPKM. 2. Dg tlh ditemukan medsos kegiatan yg diperintahkan Allah agar kita saling ingatkan untuk betaqwa justru dpt lbh luas dilaksanakan, malah dpt mendunia. Walau tak dpt tatap muka. Malah tulisan dakwah bukan saja dpt disampaikan dalam masjid, tapi dibaca jutaan orang di dunia. Benarlah inti makna ayat yg tersirat di Surat Yunus ayat 31. Allah nyatakan: 1. Dialah yg menyiapkan rezeki. 2. Dialah yg pasang panca indra buat manusia. 3. Dialah yg menghidupkan dari mati. Juga mematikan dari yg hidup. 4. Dia pula yg atur segala urusan. Termasuklah mempersiapkan segala keperluan manusia jauh sblm diperlukan atau pas di perlukan. Kalau sdh merenungkan yg dmkn itu semua dipersiapkan Allah buat kita...... Ditutup ayat tadi dg pertanyaan فَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ "Mengapa kamu tdk bertaqwa" kpd Allah ?????? lengkap ayatnya sbb: قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصَا رَ وَ مَنْ يُّخْرِجُ الْحَـيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَـيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَ مْرَ ۗ فَسَيَـقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚ فَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ "Katakanlah (Muhammad), "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab, "Allah." Maka katakanlah, "Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"" (QS. 10 = Yunus ayat 31). Semoga Allah menjadikan kita hamba2-Nya yg Taqwa, agar bahagia dunia akhirat. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 13 Muharram 1443 H. 22 Agustus 2021. (835.08.21)

Friday, 20 August 2021

BIBIR di COVID 19

Hampir dua tahun sdh dunia dilanda pandemi covid 19. Perkembangan terakhir muncul pula beberapa varian baru. Para ahli kesehatan berpendapat penularan virus antar manusia melalui butir2 liur (droplet). Ikhtiar menanggulanginya, populer seantero dunia terapkan "normal baru" salah satunya mengenakan masker. Bertemu sesama, berbicara tak terliat lagi gerak bibir. Fungsi bibir dahulu..........: 1. Dulu, gerak bibir dpt diolah dlm berkomunikasi kemudian dipahami maksud terucap walau misalnya kata tak jelas kedengaran. 2. Dulu, bibir dpt mewakili kata walau tidak bersuara, antara lain mengekspresikan senang, setuju, tidak berkenan, menghina dan banyak lagi......... 3. Dulu, bibir dpt jadi media sedekah, berupa "senyum". Sekarang tak dpt lagi, bibir sdh tak tampak tengah dlm posisi apa, karena terbungkus masker. Tapi tak usah khawatir masih banyak media sedekah tersedia. Mengacu hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ “senyummu di hadapan saudaramu adalah (bernilai) sedekah bagimu“ (HR. Tirmidzi) Hikmahnya dg bibir tertutup masker; kita dpt menggantikan dg sedekah2 lainnya tersedia cukup banyak satu diantaranya ber-kata2 yang baik: قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَاۤ اَذًى ۗ وَا للّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun." (QS. 2 = Al-Baqarah ayat 263) 4. Dulu bibir, untuk wanita menjadi alat mematut rupa. Kini mungkin??? tak digunakan lagi, karena apalah gunanya bibir dihias, toh bibir tertutup masker. Satu sisi menghemat anggaran, disisi lain lipstick yg sdh terbeli ada harapan kadaluarsa. 5. Ada pepatah "bertanam tebu di bibir bertanam periak di hati". Menggambarkan seseorang yg berkata lembut, santun, manis, tetapi hatinya jahat........ Namanya pepatah biarpun bibir dimaskeri tetap aja berlaku. 6. Demikian juga lirik lagu "lain di bibir lain dihati" tentu ndak ada perubahan. Cuma patut juga diingatkan kpd pihak yg sering berjanji, agar ingat janji2nya. Apakah Allah mengkondisikan pemaskeran mulut ini juga disebabkan karena banyak pihak sering berjanji tdk ditepati. Apalagi kalau berjanji sdh dg persaksian Allah; karena Allah wanti2: وَ اَوْفُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ اِذَا عَاهَدْتُّمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْاَ يْمَا نَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّٰهَ عَلَيْكُمْ كَفِيْلًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ "Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya, Allah mengetahui apa yang kamu perbuat." (QS. 16 = An-Nahl ayat 91). Semoga virus corona yg sdh mewabah hampir 2 tahun ini, Allah tarik dari bumi ini. Atau Allah berikan ilham kpd manusia menemukan teknik menjinakkan virus ini, sampai tdk lagi berbahaya buat ummat manusia, agar kembali dpt difungsikan bibir diantaranya "tersenyum". آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 9 Muharram 1443 H. 18 Agustus 2021. (834.08.21).