Wednesday, 28 January 2026

MENGUBAH TAQDIR AJAL

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.390.07.01-2026 Sebelum ajal berpantang mati, begitu ungkapan populer sering kudengar sejak aku masih kecil, sampai kinipun masih sering diucapkan orang. Ajal termasuk taqdir “Umri” yang telah disinggung pada artikel sebelum ini. Taqdir Umri meliputi 4 (empat) hal yaitu tentang RIZKI, AJAL, AMAL, dan NASIB (celaka atau Bahagia). Ajal adalah batas waktu hidup seseorang yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Dalam pengertian umum (terutama dalam konteks agama), ajal merujuk pada saat kematian yang tidak bisa dimajukan maupun ditunda oleh manusia. Atas dasar penyebab datangnya ajal kematian dibedakan menjadi dua yaitu: Pertama; Ajal “alami”, kematian karena usia atau penyakit. Kedua; Ajal “peristiwa”: kematian karena suatu peristiwa (kecelakaan, bunuh diri, dihukum mati dll.). Yang jelas bahwa kematian pasti akan dialami setiap makhluk hidup, Walaupun semua orang sudah mengetahui semua makhluk hidup pasti mati, dari zaman ke zaman manusia; terutama para penguasa, para raja2, orang2 banyak harta akan senantiasa berupaya agar hidup ini lebih panjang. Guna memperpanjang hidup, terdapat 3 (tiga) sudut pandang. Pertama; secara biologis dan medis. Kedua; secara filosofis dan religious. Ketiga; secara eksistensial. Secara biologis & medis: Ada banyak upaya memperpanjang hidup atau menunda kematian secara biologis & medis: • Pengobatan dan teknologi medis. Utamanya pemimpin negara, orang2 berkuasa, para raja, orang2 kaya. Bila menderita sakit, segera akan dicarikan cara pengobatan yang terbaik. Bilamana dirasa kurang sreg berobat di dalam negeri berangkat ke luar negeri kemanapun dilakukan dengan harapan mendapat kesembuhan, agar hidup dapat diperpanjang. • Gaya hidup sehat (makan, olahraga, tidur, kelola stres). Sangat hati2 memilih makanan dan minuman, bahkan ada seorang teman yang tidak mau minum yang berwarna, sejak mulai umur 30 han hanya mau minum air putih. Jika membeli air putih dalam kemasan, saking hati2nya diterawang apakah ada sesuatu sekecil apapun dalam kemasan tersebut, selain dilihat kadaluarsanya. • Pencegahan penyakit dan perawatan dini. Secara periodik melakukan general check up lengkap untuk memantau kesehatan, bila ada sedikit kelainan segera diatasi. Upaya2 yang dilakukan di point diatas ini tidak membuat manusia “abadi”, tapi secara logika biologis dan medis bisa memperpanjang usia dan kualitas hidup. Secara filosofis & religious. Pertama; Bahwa ajal diyakini sudah ditetapkan oleh Tuhan dan tidak bisa dimajukan atau ditunda. Allah berfirman dibeberapa ayat dalam Al-Qur’an tentang kematian tak dapat ditunda diantaranya dipetik dari surat Al-Munafiqun Ayat 11: وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan”. Kedua; Ikhtiar (usaha) untuk menjaga kesehatan dan keselamatan justru diperintahkan dalam agama. Sakit harus berobat, perjalanan membaha yakan ditunda atau dihindari. Berobat merupakan suatu ikhtiar untuk segera sembuh dari penyakit. Baik dipetik hadits riwayat hakim dan Ibn Hibban. Nabi Muhammad ﷺ bersabda; ما أنزل الله عز وجل داء إلا أنزل له دواء علمه من علمه وجهله من جهله “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya” Juga hadits anjuran berobat dari baginda Nabi Muhammad ﷺ berbunyi; لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ “Sejatinya semua penyakit ada obatnya. Maka apabila sesuai antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah” (H.R. Imam Muslim, Nomor Hadis 2204) Lihat juga hadits riwayat Imam Bukhari berikut; مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan ketika itu juga Allah menurunkan obatnya/penawarnya ( H.R. Imam Bukhari, Nomor 5354). Dalam agama, setiap diri diperintahkan untuk menghindari bahaya, Al-Baqarah 195: وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ “janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan” Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ “Jika kalian mendengar wabah tersebut menjangkiti suatu negeri, maka janganlah kalian menuju ke sana, namun jika dia menjangkiti suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dan lari darinya.” (Shahih Bukhari 5289) Manusia yang mampu, berusaha untuk hidup panjang, tapi sadarilah bahwa waktunya ajal tiba tetap di luar kendali manusia. Ajal tidak bisa ditunda, tapi jalan menuju ajal bisa diisi dengan usaha sehingga hidup lebih bermakna. Secara eksistensial: Sebagian orang melihat “menunda ajal” bukan soal waktu, tapi dengan makna bahwa orang tersebut seolah-olah berumur panjang, sebab walau jasadnya sudah lama menjadi tulang belulang di dalam kubur sana, namun dianya bagaikan masih hidup. Orang yang berumur panjang secara eksistensial ini adalah: 1. Apabila selama hidupnya meninggalkan sesuatu karya yang dipergunakan manusia untuk kemudahan hidup, berupa penemuan2, termasuk membangun sarana prasarana yang dipergunakan oleh masyarakat baik di bidang agama maupun di bidang memperlancar kehidupan umumnya. 2. Apabila selama hidupnya mengarang buku2 ilmu pengetahuan yang terus dipergunakan oleh orang banyak. 3. Para pahlawan pejuang untuk membebaskan manusia dari penindasan. Orang2 seperti disebutkan diatas, mereka itulah yang umurnya panjang dalam arti mereka “terus hidup” lewat buah karyanya, hasil olah pikirannya atau perjuangannya, meski fisiknya telah tiada. Demikianlah perihal “TAQDIR AJAL”, masih dapat diikhtiarkan untuk lebih berkualiatas dan lebih panjang. Ayolah kita berdo’a: اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي وَأَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي “Ya Allah, perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah apa yang Engkau karuniakan. Panjangkanlah hidupku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosaku” آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 28 Januari 2026. 9 Sya’ban 1447H.

Sunday, 25 January 2026

Merubah TAQDIR Rezeki

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.389.06.01-2026 Di antara empat taqdir, taqdir utamanya adalah taqdir azali yang tertulis di lauhil mahfudz, sedangkan tiga taqdir yang lainnya (‘umri, sanawi, dan yaumi) adalah taqdir yang bisa berubah. Sekilas tentang taqdir AZALI telah ku tulis di artikel nomor yang lalu dalam judul “Bertanggung Jawab atas Pilihan”. Taqdir “UMRI”; Yaitu taqdir yang ditulis malaikat ketika meniupkan roh ke dalam janin. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ فِيْ ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ، فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia(nya).” (HR. Bukhari Muslim). Taqdir Umri meliputi 4 (empat) hal yaitu tentang RIZKI, AJAL, AMAL, dan NASIB (celaka atau Bahagia). Berkenaan terbatas ruang tulis, maka nomor ini hanya memuat tentang “Merubah Taqdir Rezeki”, taqdir “ajal”, Amal dan Nasib إِنْ شَاءَ اللَّه ditulis di nomor2 yang akan datang. Taqdir rezeki itu sudah ditetapkan Allah, tapi cara tiap individu menjemputnya bervariasi karenanya bisa diubah, bisa berubah. Maksudnya bukan “mengubah taqdir” dalam arti menentang ketetapan Allah, tapi mengubah jalan hidup masing2 orang agar rezeki yang Allah siapkan bisa terbuka lebih luas. Tak seorangpun mengetahui taqdir rezeki yang telah ditetapkan buat dirinya, oleh karena itu terus menerus berikhtiar untuk mencari rezeki. Beberapa cara yang sering disebut dalam Al-Qur’an dan hadits, sebagai ikhtiar merubah taqdir tentang rezeki, titik beratnya adalah “Perbaiki hubungan dengan Allah”. Hal yang harus dilakukan agar dapat memperbaiki hubungan dengan Allah adalah: PERTAMA: Tingkatkan TAQWA → “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2–3) وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا (Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar). وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ (Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya). KEDUA: Shalat tepat waktu, dalam surat Taha ayat 132 Allah berfirman: وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَا ۖ لَا نَسۡـَٔلُكَ رِزۡقًا ۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَ ۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ “dan perintahkanlah kepada keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rejeki kepadamu, Kamilah yang memberi rejeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang orang yang bertaqwa” Ayat ini menjelaskan tentang perintah kepada kita semua, sebagai kepala keluarga, untuk mengajak anggota keluarga untuk melaksanakan shalat. Mengajak berarti menjadi contoh, sehingga sebelum mengajak shalat maka kita harus menjadi orang yang menegakkan shalat terlebih dahulu. Mengajak keluarga untuk melaksanakan shalat juga harus dilakukan dengan sabar, tidak boleh bosan apalagi putus asa. KETIGA: Istighfar rutin memiliki hubungan langsung sebagai pembuka pintu rezeki, penurun hujan berkah, serta penambah harta dan keturunan, sebagaimana difirmankan dalam Surah Nuh ayat 10-12. Rutin beristighfar diyakini إِنْ شَاءَ اللَّه membentangkan jalan keluar dari kesempitan, menghilangkan duka, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (10) فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (11) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (12) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Maka aku berkata (kepada mereka), "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu." KEEMPAT, IKHTIAR dan DO’A: Memperbaiki usaha (ikhtiar) wajib untuk dilakukan dalam meraih datangnya rezeki. Ikhtiar tersebut dalam wujud antara lain meningkatkan ilmu pengetahuan dalam mencari rezeki, berusaha dengan sungguh2 jujur dan diikuti dengan senantiasa berdo’a. Karena usaha tanpa berdo’a untuk menyerahkan semua hasilnya sesuai ketetapan taqdir Allah, sikap demikian adalah sombong. Dalam pada itu berdo’a saja tanpa usaha itu namanya ber-angan2 kosong. Sedangkan Ibunda Nabi Isa saja untuk mendapatkan buah kurma dalam keadaan lemah ketika akan melahirkan masih diperintahkan Allah untuk berikhtiar menggoyang pohon kurma, terabadikan dalam surat Maryam ayat 25: وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا "Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”. Sarana meraih rezeki yang KELIMA: Sedekah, meski sedikit. Secara logika sedekah mengurangi harta, tapi secara taqdir bertambah, sesuai firman Allah di Surah Al-Baqarah Ayat 261: مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٢٦١ "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui”. Sarana KE ENAM mengubah taqdir Rezeki; Jaga silaturahmi. Rasulullah ﷺ bersabda: HR Imam Bukhari dan Muslim. مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ("Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya/dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi"). Selanjutnya hendaklah masing2 diri kita mengubah mindset tentang rezeki. Jangan rezeki hanya dimaknai dengan “Uang”, “Harta” dan “Jabatan”. Tetapi juga adalah merupakan rezeki yang tak ternilai adalah: “Kesehatan”, “Ketenangan”, “Pasangan hidup yang setia”, “Ilmu yang bermanfaat” Mari kita tutup artikel ini dengan do’a: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً Allāhumma innī as-aluka ‘ilman nāfi‘an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan. "Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik)". آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 26 Januari 2026. 7 Sya’ban 1447H.

Wednesday, 21 January 2026

BERTANGGUNG JAWAB ATAS PILIHAN

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.388.05.01-2026 Kita hidup ke dunia ini sejatinya bukanlah pilihan kita, tak seorangpun merasa mendaftar untuk hidup ke dunia ini, tidak pula pernah memilih terlahir sebagai bangsa apa, tidak pula dapat memilih siapa ibu dan ayah kita orang tua yang menyebabkan kita datang ke dunia ini. Apakah terlahir dari ortu bangsawan, ortu pejabat, ortu yang kaya atau miskin. Semua itu ditentukan oleh Allah, dalam bahasa agama merupakan “taqdir azali”, yaitu takdir yang ditulis dalam lauhil mahfudz 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Takdir azali ini adalah takdir yang merupakan takdir utama yang pasti terjadi bagi semua mahkluk. Allah berfirman: أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. (Al-Hajj ayat 70) Nabi Muhammad ﷺ bersabda: كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ، قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ، بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ “Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. “Beliau bersabda, “Dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air.” (HR. Muslim) Ada empat jenis taqdir, sedangkan yang tiga lainnya ialah: takdir “umri”, takdir “sanawi” dan takdir “yaumi”. tidak dibahas pada artikel nomor ini, إِنْ شَاءَ اللَّه dikesempatan yang akan datang. Kendatipun semua yang akan dialami seorang anak manusia sudah ditentukan taqdirnya, namun manusia dalam hidup ini penuh di hadapkan dengan pilihan. Justru kerena taqdir yang akan terjadi tak seorangpun mengetahui, maka untuk menuju ke taqdir itu, ke hati masing2 diri digerakkan Allah untuk memilih. Mulai di usia tertentu dalam kehidupan ini, manusia harus melakukan pilihan. Tahapan setiap individu mulai bisa memilih dapat disusun sbb: Pertama, Pilihan anak Usia 3–5 tahun: Anak sudah bisa memilih hal sederhana, di usia 3 – 5 tahun misalnya:  Memilih warna baju, anak2 diusia 3-5 tahun, sudah dapat mementukan pilihannya mengenai warna baju yang dia suka. Ada seorang anak yang senang sekali dengan baju merah kotak2. Bila dibawa ke toko pakaian, disuruh memilih, maka dia langsung mencari baju bermotif kotak2 merah bergaris putih, misalnya.  Jenis kue kesenangan anak diusia 3 – 5 tahun, ada yang sangat doyan marie regal dan spekuk. Sedangkan makanan utama, menu makanan tidak mau mengulang. Bila makan pagi dengan menu sop daging sapi, siang hanya semangat makan kalau diubah dengan menu ikan laut, begitu juga sore nanti harus ganti menu lagi, bibirnya akan dikatupkannya ketika makan sore, kalau disuapi sop daging atau menu ikan laut lagi.  Adapun mainan, anak laki2 wajar kalau pilihannya main mobil-mobilan bukan boneka. Sementara itu anak2 perempuan biasanya suka boneka ketimbang mobil2an atau kereta2 apian. Hendaklah sebagai ayah bundanya, juga punya pilihan untuk mengalah atas pilihan anak mereka tersebut, sepanjang pilihannya tidak ekstrim menyulitkan. Andaikan kesulitan untuk memenuhinya seharusnyalah Ortu memilih tetap mengarahkan. Kedua, pilihan ketika anak Usia 6–9 tahun: Mulai bisa memilih dengan alasan sederhana, seperti:  Pilihan teman bermain, anak usia 6 – 9 tahun sudah mulai masuk sekolah dasar, di sekolah dianya sudah mulai memilih teman yang menurutnya cocok dengan dirinya, mungkin bermula dari tempat tinggal yang searah perjalanan dari rumah ke sekolah. Berikutnya ybs mulai selektif memilih teman, yaitu teman akrab yang menurutnya se irama dengan dirinya dalam berbagai hal.  Pilihan hobi di usia 6 – 9 tahun ini si anak sudah mulai terlihat, misalnya olah raga yang disenanginya, tontonan acara TV yang disukainya, tempat rekreasi yang digemarinya, dlsb.  Pilihan menu favorit, mulai nampak pilihan menu yang di sukai tiap anak, tak jarang dua anak saudara kandung berbeda pilihan menu makanan favoritnya. Ada anak yang sangat gemar makan mei goreng, suatu hari yang tersedia hanya mie rebus, katanya “ndak apa2 mie rebus kan juga bisa digoreng”. Ketiga, pilihan anak di Usia 10–12 tahun Sudah bisa mempertimbangkan konsekuensi ringan, misalnya:  Pilihan ikut les atau tidak. Jenis les yang diikuti termasuk les bukan bidang pelajaran, misalnya Les Piano, les bela diri dlsbnya.  Pilihan mengatur waktu belajar dan bermain, disini juga harus dibantu ORTU untuk mengarahkan. Keempat, pilihan anak remaja (13 tahun keatas) Mampu membuat keputusan lebih mandiri:  Pilihan Gaya berpakaian, ORTU harus ikut mengarahkan, jika tidak bukan mustahil anak2 diusia 13 tahun keatas kemasukan pengaruh yang tak sejalan dengan prinsip2 yang dianut ORTU mereka.  Pilihan Pergaulan, ORTU harus memantau dengan siapa anak2 mereka bergaul, tidak salah ORTU secara diam2 “mengintelijeni” isi tas anak2nya agar anak2 tidak terjebak ke pergaulan obat2 terlarang dllnya.  Pilihan Tujuan belajar, kadang di usia ini anak2 sudah mulai hampir mantap cita2 nya angin berprofesi sebagai apa, walau masih bisa berubah. Sebagai ORTU sebaiknya dalam hal ini mengarahkan, tetapi tidak memaksakan. Berangsur-angsur setiap individu semakin tambah usianya menjelang sebagai orang dewasa makin berkembang kemampuannya untuk memilih yang terbaik untuk dirinya, setelah diusia diatas 20 han termasuk menentukan pilihan siapa yang tepat untuk pasangan hidupnya. Berlanjut setelah berkeluarga, kemampuan memilih hal2 yang terbaik untuk keluarganya. Terdapat sepuluh tanda utama sesorang telah mencapai “kematangan jiwa” yaitu: 1. Mengenal diri, telah ditulis pada artikel yang lalu No: 1.387.04.01-2026 dengan judul “Mengenal DIRI, 10% MEMATANGKAN Jiwa”. Terbatasnya ruang tulis di kesempatan ini kita tinjau tanda “Kematangan Jiwa” yang ke 2. “Bertanggung jawab atas Pilihan”. Al-Qur'an menegaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab penuh atas pilihan dan perbuatannya sendiri, Surat Al-Muddatstsir Ayat 38: كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”. Selanjutnya dalam hidup ini, utamanya bagi orang yang sudah Mukallaf; yaitu orang yang telah dibebani kewajiban syariat agama karena telah baligh (dewasa) dan berakal sehat, sehingga bertanggung jawab penuh atas apa yang telah dipilihnya . Lihat peringatan Allah dalam surat al-An’am ayat 164: قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍۗ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ ١٦٤ “Katakanlah (Muhammad), “Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.” Ya Allah berikan petunjuk kepada kami dalam menentukan pilihan apapun dalam menjalani hiudup ini agar tetap dalam keredhaan-Mu. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 21 Januari 2026. 3 Sya’ban 1447H.

Saturday, 17 January 2026

Mengenal DIRI, 10% MEMATANGKAN Jiwa.

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.387.04.01-2026 Artikelku yang lalu nomor 1.286.03.01-2026 kutulis dibawah judul “REKAYASA-DIRI” dikaitkan dengan “KE-TUA-AN”, dimana disinggung bahwa di usia tua atau sering dikenal dengan “Manula” atau “Lansia”, fisik dan jiwa seseorang sangat terpengaruh. Perihal pengaruh fisik dikala tua menyangkut perubahan 9 hal, sudah kuketengahkan di artikel yang lalu itu. Dalam kesempatan ini mari kita tengok kondisi usia TUA mempengaruhi jiwa seseorang. Biasanya bertambah tua jiwa seseorang bertambah matang. Sepuluh tanda utamanya sesorang telah mencapai “kematangan jiwa” yaitu: 1. Mengenal diri, 2. Bertanggung jawab atas pilihan, 3. Emosi lebih stabil, 4. Mampu menerima kenyataan, 5. Penuh empati dan pengertian, 6. Tak haus Validasi, 7. Bisa berkata “tidak” tanpa rasa bersalah berlebihan, 8. Fokus pada solusi, bukan drama, 9. Memaafkan, berusaha untuk tidak dizalimi kembali, 10. Hidup selaras dengan nilai. Pada umumnya, atau semestinya, semakin tua seseorang maka semakin tumbuh kematangan jiwanya. Walaupun dalam banyak keadaan soal usia bukan faktor satu2 nya menjadikan jiwa manusia matang, melainkan juga dipengaruhi dari strata pendidikan, banyaknya pengalaman, dan pengelolaan diri. Jiwa yang matang adalah kondisi kedewasaan bathin seseorang meliputi cara berpikir, kepekaan merasakan yang dirasakan orang lain, bersikap stabil serta bijaksana dalam menghadapi hidup. Indikator “jiwa yang sudah matang” biasanya terlihat dari cara seseorang bersikap, berpikir, dan merespons kehidupan. Terbatas ruang tulis, maka ijinkan di nomor ini hanya berbicara tentang “Kematangan Jiwa” dikaitkan “MENGENAL DIRI SENDIRI”. Karena ada 10 tanda kematangan jiwa seseorang, sedangkan yang dibicarakan hanya 1 diantaranya, berarti “Mengenal diri” barulah merupakan 10% dari kematangan jiwa. Mengenal diri sendiri dalam mencapai kematangan jiwa berarti yang bersangkutan: • Mengetahui kelebihan dirinya, • sekaligus menyadari kekurangan dirinya sendiri, • mengerti betul nilai2 kehidupan, dan • tau diri bahwa dirinya memiliki keterbatasan. Individu yang “matang jiwanya”, karena sudah kenal akan dirinya maka orang tersebut: • Tidak sibuk membuktikan kehebatan dirinya pada semua orang. Tanpa pembuktianpun orang sudah tau kelebihan dirinya. Justru dianya makin merasa kecil, karena orang belum tau banyak tentang kekurangan dirinya. Dianya merasakan apabila orang mengetahui kekurangan dirinya, maka tak seorangpun respek kepadanya. • Tidak sibuk mempromosikan dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya sengaja pamer secara tidak langsung dengan berbicara pakai HP agar didengar orang lain sekitarnya bahwa dirinya diundang memberikan ceramah dimana-mana, supaya orang sekitarnya tau bahwa dia sebagai penceramah yang sudah banyak dikenal orang. • Tidak sibuk meninggikan diri, bahwa dirinya berilmu. Misalnya dalam percakapan; “Apakah bapak mengenai si fulan”, orang yang belum matang jiwanya lalu menjawab “ooohhh dia adalah murid saya”, walaupun benar si fulan itu muridnya jika dia sudah matang jiwanya akan menjawab “si fulan itu kolega saya, dia pernah bersama saya di ………”. Korelasi antara mengenal diri dan mengenal Allah berakar kuat dalam ajaran agama Islam, terdapat ungkapan sebagai renungan para pemuka agama "Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya" (Man 'arafa nafsahu arafa rabbahu). Dengan menyadari kelemahan dan keterbatasan diri, seseorang akan melihat keagungan dan kekuasaan Allah sebagai Sang Pencipta. Renungan spiritual dari ungkapan tersebut sangat kuat dalam membimbing seseorang untuk mendalami ke-Esa-an Allah melalui perenungan diri dan alam semesta. Pemahaman diri sendiri adalah jalan kunci menuju pengenalan terhadap Allah. Surat Fussilat Ayat 53 سَنُرِيهِمْ ءَايَٰتِنَا فِى ٱلْءَافَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu”? Seseorang yang telah berhasil merenungkan kebesaran Allah melalui mengenal dirinya sendiri dan alam semesta ini, merupakan jalan untuk “kematangan jiwa”. Dapat dikemukakan contoh mengenal diri sendiri, antara lain dengan merenungkan keadaan diri mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kuku. Betapa rambut di kepala, kumis dan janggut (bagi lelaki) dapat lebat dan panjang bila tidak dipotong, sedangkan alis tak betambah panjang. Demikian pula kuku bagian yang memanjang, walau si kuku masih berhubungan dengan tubuh dipotong tidak sakit. Gigi sudah pada ukurannya tertentu tidak memanjang lagi, bayangkan kalau gigi terus menurus memanjang. Begitu banyak renungan akan diri yang lainnya, semuanya akan menjadikan diri mengenal Allah yang Maha Sempurna dalam menciptakan diri kita. Belum lagi jika merenungkan kejadian alam sekitar kita, makin sadarlah dirinya akan kebesaran Allah. Setelah berhasil mengenal diri sendiri, untuk menuju kematangan jiwa masih diperlukan 9 syarat lagi, agar jiwa benar2 menjadi matang. Yaa Allah jadikanlah kami hamba2mu yang mempunyai “jiwa yang matang dan tenang” sehingga dapat mencapai seperti yang Engkau sebutkan dalam Al-Qur’an: يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ”Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr ayat 27-30) آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 18 Januari 2026. 29 Rajab 1447H

Saturday, 10 January 2026

REKAYASA-DIRI

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.386.03.01-2026 Ada memang orang yang awet muda, penampakannya lebih muda dari usianya dikenal istilah “baby face”. Oleh karena itu maka ciri-ciri fisik orang yang sudah menua (lanjut usia) berbeda-beda pada tiap individu, secara umum “KETUAAN” nampak pengaruhnya pada keadaan lahir dan kejiwaaan. Di artikel yang singkat ini dibatasi tinjauan pada penuaan secara lahir di sekujur tubuh yaitu pada 9 hal : 1. KULIT, 2. RAMBUT, 3. GIGI, 4. WAJAH, 5. POSTUR TUBUH, 6. PENGLIHATAN, 7.PENDENGARAN, 8. GERAKAN, dan 9. KEKUATAN. 1. PENUAAN Kulit: Kulit mulai keriput dan garis halus semakin jelas. Secara umum di Usia 20–25 tahun - produksi kolagen mulai menurun pelan-pelan. Keriput belum terlihat, tapi proses penuaan sudah dimulai. Di Usia 30-an; garis halus mulai muncul, terutama di sekitar mata dan mulut. Pada Usia 40–50 tahun; keriput makin jelas karena elastisitas dan kelembapan kulit berkurang. Fase berikutnya masuk Usia 60 tahun ke atas; kulit tampak lebih tipis, kering, dan keriput lebih dalam. Kasus ini yang biasanya disebut “kulit orang tua”. Namun, waktu munculnya keriput bisa berbeda-beda, sangat ditentukan: Paparan sinar matahari, Kebiasaan merokok, Pola makan & hidrasi, Perawatan kulit, Faktor genetic, aktivitas atau bidang pekerjaan. 2. PENUAAN Rambut: Uban disebabkan sel melanosit di folikel rambut berhenti memproduksi melanin, pigmen pemberi warna rambut. Ras Asia dan Afrika umumnya mulai pada usia 30–40 tahun mulai tumbuh uban, tapi ini sangat bervariasi tergantung beberapa factor; Genetik, jika Ortu beruban diusia muda, ada harapan anak2 mereka akan cenderung ikutan. Stres berat berkepanjangan bisa mempercepat munculnya uban. Kurang nutrisi terutama vitamin B12, tembaga dan protein. Kondisi medis tertentu, misalnya gangguan tiroid, autoimun. Gaya hidup, perokok konon meningkatkan uban dini. Kenyataan seorang teman masuk usia 70 an belum beruban, yang bersangkutan mengamalkan setiap sesudah makan (makan tanpa sendok-garpu), sesudah cuci tangan dia mengeringkan tangannya tidak menggunakan tisu atau serbet, tapi tangannya langsung di usap2kannya ke rambut. Padahal ybs perokok, memang ybs agaknya tidak stresan sebab gemar bercanda, satu lagi temanku ini factor genetic yang mendukung, ayahnya juga sampai tua tidak beruban. Ayahnyapun mengamalkan usapkan tangan kerambut sesudah makan. والله أعلم بالصواب, Bagi MANULA yang masih ingin berpenampilan keren kadang merekayasa rambutnya supaya tetap hitam dengan menambahkan “Semir” 3. GANGGUAN Gigi: Generasi yg lahir belakangan sekitar tahun tujuhpuluhan ke atas, mungkin gangguan gigi mereka agak lama munculnya bisa jadi setelah umur 40 – 50 tahun, karena perawatan kesehatan gigi mulai era tujuhpuluhan ke atas sudah membaik. Kami2 yang teralahir tahun 40 – 50 an kadang masih SR saja sudah banyak yang giginya berlubang, lantas solusinya waktu itu bukan di tambal, langsung di cabut. Namun dalam keadaan normal, perawatan gigi sudah baik-pun, usia tua tak terbantahkan. Di usia 40 – 50 tahun mulai sering muncul: gigi sensitif, gusi turun, karang gigi menumpuk. Usia 60 tahun ke atas lebih berisiko mengalami: gigi tanggal, gigi rapuh, gusi menyusut (periodontitis), mulut kering (karena obat-obatan), infeksi gigi dan gusi. Bila gigi2 sudah banyak yang copot, Sebagian LANSIA merekayasa penampilan dengan memasang “GIGI PALSU”. Kisah seorang teman seperjalanan. Tadinya ceria, murah tawa,……. tiba2 dalam perjalanan kami suatu hari dari perjalanan sepuluh hari, di hari kedelapan dianya tak banyak cerita, sama sekali tak pernah ketawa. usut punya usut di perjalanan dalam bis hari itu, dianya lupa, gigi palsunya ketinggalan di kamar hotel. 4. PENUAAN Wajah: Sidang pembaca; bahwa saban hari kita bercermin, sesunguhnya wajah kita kemarin tak sama lagi dengan wajah kita hari ini, sudah berubah. Tapi karena perubahan itu sangat sedikit kita tidak merasakannya, tau2 setelah usia 30 an tahun garis halus mulai muncul (terutama di sekitar mata dan mulut), karena kulit mulai kehilangan kelembapan. Pori-pori bisa tampak lebih besar. Wajah mulai terlihat lebih “lelah” dibanding usia 20-an. Pada usia 40-an tahun; Kerutan lebih jelas. Kulit mulai mengendur. Perubahan bentuk wajah karena berkurangnya lemak dan elastisitas kulit. Flek hitam atau hiperpigmentasi lebih sering muncul. Nah di usia 50 tahun ke atas; Kulit makin tipis dan kendur, kerutan bertambah dalam. Pipi dan rahang lebih turun. Perubahan sangat terlihat dibanding usia muda. Pipi dan otot wajah mengendur. Diikuti kelopak mata turun. Kerutan di dahi, sekitar mata, dan mulut. Bukan karena menolak tua, ada juga lansia yang memilih operasi plastik agar penampilan tetap seperti muda, mundur sepuluh atau lima belas tahun lalu. Akan tetapi tetap tidak dapat seperti semula. Pernah kami alami di suatu rumah sakit, sambil duduk menunggu giliran dipanggil ke ruang dokter, seseorang lansia berbisik mengisahkan kesuksesan dirinya menjalani operasi plastik pada wajahnya, lalu menganjurkan juga melaksanakan seperti yang dia lakukan. Sejurus kemudian namanya dipanggil untuk masuk ke ruang dokter, ketika melangkah, nampaklah aslinya bahwa wajah dapat di rekayasa tetapi “Penuaan Postur tubuh” sudah agak membungkuk, “Gerak dan Kekuatan”, berjalan sudah melambat – terseok seok, keseimbangan sepertinya telah terganggu. 5. PENUAAN Postur dan tubuh: Tinggi badan bisa sedikit berkurang, kualami sendiri bahwa di usiaku ke tujuhpuluh lima tinggi badanku sudah berkurang 1,5 cm. Berjalan sudah diusahakan untuk tegak, namun harus agak membungkuk, penyebabnya massa otot menurun dan kondisi sudah melemah. Rata-rata, seseorang bisa kehilangan sekitar 1–2 cm per dekade setelah usia 40 tahun, dan bisa lebih banyak jika ada osteoporosis. Otot-otot penyangga tulang melemah dan tulang bisa mengalami perubahan bentuk, menyebabkan badan cenderung membungkuk (kifosis). 6. GANGUAN Penglihatan: Banyak dialami orang usia lanjut Penglihatan menurun (rabun dekat/jauh) Mata tampak lebih redup atau berair. Jadinya seperti agak sombong, orang berjarak 5 meter saja, ada lansia yang tak dapat menyapa dengan menyebut namanya. 7. GANGGUAN Pendengaran: Sering terjadi peristiwa lucu di rumah tangga nenek – kakek, tak jarang mereka berbicara “berpapasan”. Si kakek dan si nenek ngomongnya ndak nyambung. 8. GANGGUAN Gerak bagi MANULA: Tak jarang kita melihat orang2 lanjut usia sudah duduk di kursi roda, karena terbatas dapat menggerakkan anggota tubuh di bagian kaki. Antara lain disebabkan penurunan kekuatan otot (sarcopenia) Otot kaki jadi lemah → sulit berdiri, berjalan, atau mengangkat kaki. 9. BERKURANGNYA Kekuatan. Dengan berkurangnya kekuatan gerakan menjadi lebih lambat, mengangkat barang yang ringan semasa muda dulu, setelah tua menjadi tidak mampu, jika dipaksakan, nanti malamnya akan terasa nyeri dibagian otot yang dipergunakan. Keseimbangan menurun, oleh karena itu lansia berjalan sering dibantu tongkat. Allah sebagai pencipta manusia telah menginformasikan dalam Al-Qur’an bahwa tahap2 kehidupan manusia itu seperti ayat2 yang dikutip dibawah ini: “……………. وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔاۗ …….” “……Di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) yang dikembalikan ke umur yang sangat tua sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya (pikun)…..”. (Al-Hajj ayat 5) اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةًۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ ۝٥٤ “Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa”. (Ar-Rum 54) وَمَن نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى ٱلْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (Yasin ayat 68) Dari tiga ayat yang di kutip diatas, insyaflah kita bahwa hidup kita ini semula tidak berdaya (masa bayi – termasuk balita), tumbuh menjadi kuat (remaja dan dewasa) dan lemah kembali (setelah tua), ektrimnya sampai tak mengetahui apapun yang pernah diketahui. Yaa Allah berikan kepada kami usia yang tetap dapat mengabdi kepada-Mu dan bermanfaat untuk sesama manusia. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 11 Januari 2026. 22 Rajab 1447H

Tuesday, 6 January 2026

Tak percaya IJAZAH Ayah

Disuguhkan: M. Syarif Arbi No: 1.385.02.01-2026 ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ Di era kami yang terlahir dibawah tahun limapuluhan, utamanya di tanah kelahiranku, kami belum dikenalkan dengan “Taman Kanak-Kanak”, apa lagi yang sekarang disebut dengan “PAUD”. Walaupun di Yogyakarta pada tahun 1919 telah berdiri semacam “Taman kanak-kanak”, dengan nama “Bustanul Athfal” oleh persatuan wanita Aisyiah, rintisan Nyai Ahmad Dahlan. Makanya diriku termasuk yang belum pernah duduk di kursi “Taman Kanak-Kanak”, apalagi yang disebut “PAUD”. Diriku langsung masuk “Sekolah Rakyat” disingkat “SR”, diusia 6 tahun. Di era kami kelahiran lebih tiga perempat abad yang lalu itu, jarang sekali orang tua mencatat hari dan tanggal kelahiran anaknya, sehingga susah menetapkan anak sudah layak atau belum masuk SR diumur 6 tahun. Penanda kelahiran seseorang umumnya dikaitkan dengan peristiwa tertentu, atau penanaman pohon. Jalan keluarnya waktu itu, entah formula itu didasarkan teori siapa, ku tak tau, ……. anak yang mendaftar sekolah “SR” disuruh memegang kupingnya dengan tangan melalui tengah kepala. Misalnya tangan kiri, harus memegang kuping kanannya dimana tangan kiri itu harus melalui tengah kepala, atau sebaliknya, tangan kanan memegang kuping kiri juga melalui tengah kepala. Bagi yang belum berhasil, ditolak tahun itu untuk masuk “SR”, dianggap belum cukup umur. Giliran anak-anak ku mereka mulai sekolah di “TK”, apapun peristiwa yang dialaminya di TK, mereka tidak pernah bercerita kepadaku, termasuk anak sulungku melapor hanya kepada ibunya. “Besok saya tak mau sekolah lagi”, katanya suatu hari sepulang sekolah. Usut punya usut rupanya dianya tak mau sekolah karena ibu gurunya dinilainya suka marah2. Ketika ditanya oleh bundanya, apa Udi dimarahi? jawabnya “tidak”. Apa ada teman2 lain yang dimarahi?, jawabnya juga “tidak”. Bundanya bertanya lanjut “Lalu siapa” yang dimarahinya, anak sulungku menjawab “tidak ada siapapun yang dimarahi, tapi ibu itu terlihat selalu marah”. Dari mana Udi tau kalau ibu guru itu marah? tanya bundanya. Jawabnya “Mata ibu itu selalu terbuka lebar”. Pahamlah ibundanya bahwa si sulung menjendralisir bahwa orang marah matanya lebar, maka setiap orang yang matanya terbuka lebar berarti marah. Setelah dijelaskan seperlunya, si sulung mau sekolah bersama adiknya diantarkan bundanya. Setiba di sekolah TK, ibu yang bermata lebar itu justru dengan ramah memapak kedatangan murid2nya, termasuk si sulung dengan si bungsu. Anak bungsu kami, setiap ada hal-hal yang perlu ditanyakannya tentang sekolah sejak mulai TK sampai ketika SD kelas 2, dianya berkonsultasi hanya dengan bundanya, tidak mau bertanya kepada ayahnya. Kalau si sulung berkesimpulan setiap orang yang matanya lebar, orang itu sedang marah. Lain lagi si bungsu; dia berkesimpulan ayahnya tidak pernah sekolah. Hal itu diketahui, ketika bundanya bertanya, “kenapa tidak bertanya tentang sekolah kepada ayah?”, dia menjawab “ayah- kan tak pernah sekolah”. Singkat kisah dia berkesimpulan ayahnya tak pernah sekolah lantaran ketika itu perawakanku besar, berat badan 84 kg. Sedang kursi tempat duduk di TK dirancang hanya muat untuk diduduki anak2 sebaya anak TK, si bungsu berkesimpulan mana mungkin ayah bisa muat duduk di kursi sekolahan yang rendah dan kecil itu, jadi ayah tak mungkin pernah sekolah. Si bunda berusaha menyakinkan si bungsu bahwa ayahnya pernah sekolah, membuka berkas arsip sang ayah. Menunjukkan ijazah SR si ayah, si bungsu tak yakin dokumen itu punya ayah, karena ijazah SR waktu itu belum pakai foto (maklum zaman ku tamat SR foto termasuk barang mewah). Bunda menunjukkan Ijazah SMP si ayah, itupun si bungsu tetap tidak yakin, karena fotonya rambutnya sebelah kiri jabrik seperti pakai antena, mukanya oval cenderung lancip jauh beda dengan ayah yang sekarang, (relative ganteng). Demikian pula ketika ditunjukkan ijazah SMA; sanggahannya “kenapa lain foto SMP dengan foto SMA dan foto ayah sekarang”. Bundanya menjelaskan perubahan wajah2 orang sejalan dengan usia. Lalu si bungsu bilang sama bundanya minta bukti lain. Kalau benar2 ayah pernah sekolah, coba panggilkan saksi2 teman-teman sekolah ayah. “Kami punya teman2 sekelas, teman2 sekelas ayah mana?”. Bundanya tidak dapat mengumpulkan teman sekolah ayahanda si bocah, misalnya ngajak reuni teman2 ayah (seperti akhir2 ini sering ada reuni, lalu bersaksi pernah sebangku, kalau ulangan medit ndak mau kasih contekan, dll sbgnya; waktu itu reuni belum musim). Anak2 kami masuk TK dan SD sampai kelas 3, kami sedang berdinas di kota yang jauh dengan kota kelahiran si ayah tempat si ayah bersekolah SR, SMP dan SMA. Oleh karena itu tentu saja belum dapat dibuktikan kepada si bungsu ketika itu. Misalnya menunjukkan dimana Gedung rumah sekolah ayah, bila perlu bertamu kerumah teman2 ayah se sekolahan. Iyaa sudah, …….. tak masalah,…….. yang TAK PERCAYA si ayah pernah sekolah, memiliki ijazah SR, SMP dan SMA, ASLI, hanya anak sendiri, tak apalah. YANG TAK PERCAYA bukan kantor tempat si ayah bekerja. Sebab kalau kantor si ayah yang tidak percaya, tentu berakibat akan terkena dugaan sebagai penyandang IJAZAH PALSU, dapat diperkarakan dan kalau kemudian ternyata terbukti ijazah palsu digunakan untuk masuk kerja, langsung akan diberhentikan tidak dengan hormat alias di pecat. Mungkin ……. mungkin walaupun sudah pensiun-pun kalau belakangan terbukti ijazah ketika masuk kerja adalah palsu, jangan…. jangan pensiunnya ditarik tak dibayar lagi. Kembali ke kisah anak bungsuku tak percaya aku pernah sekolah. Maklumlah bahwa anak seusia TK dan awal SD belum ada pemikiran logis yang matang, pada tahap ini pemahaman tentang dunia sangat dipengaruhi oleh kesan visual, emosi, dan teladan orang tua/guru. Anak2 belum bisa membedakan antara kenyataan dan fantasi secara utuh, sehingga sering mengimajinasikan dengan keadaan di sekelilingnya. Contoh si bungsu tadi membayangkan mana mungkin ayah bisa duduk di kursi yang biasa dia duduki di sekolahnya, jelas badan ayah tak akan cukup muat dikursi itu. Kursi akan jebol tangannya dan patah kakinya jika diduduki ayahnya. Anak2 ku ketika itu cara berpikirnya masih tahap Praoperasional ( usia 2–7 tahun) yaitu: Berpikir masih egosentris (melihat dari sudut pandang sendiri). Menggunakan simbol (kata, gambar) untuk mewakili benda. Belum mampu berpikir logis secara konsisten. Sebagai ORTU, tentu saja menyikapi anak2 cara berpikirnya masih dalam tahap Praoperasional tersebut harus dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang, sebagaimana yang diberikan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an surat Ali Imran 159: “……………………. فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ “ “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka………..” Anak dibawah 6 tahun belum bisa berpikir abstrak, sehingga membimbing mereka harus dengan suara lembut tanpa bantahan penuh perlakuan baik dan perhatian. Apa yang dilakukan ibundanya adalah tepat, tidak membantah si anak, hanya berusaha meyakinkan anak dengan bukti2 administratif dari berkas pendidikan ayahnya. Walau bukti2 itu tetap saja di tolak, sang anak tidak dimarahi, tidak dibantah, tidak pula mencari pembenaran. Si anak malah dipeluk dengan kasih sayang, sebagai bentuk penghargaan atas pendapat si anak, karena memahami apa yang dipahami anaknya baru sampai sesuai usianya. Demikian sebuah kisah singkat ini, mudah2an ada manfaatnya buat ORTU2 muda yang sedang mengasuh anak2 mereka dalam tahap pertumbuhan usia dibawah 6 tahun. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 6 Januari 2026. 17 Rajab 1447H