Tuesday, 3 March 2026

PUASA - PERUT

EDISI: RAMADHAN Renungan: M. Syarif Arbi No: 1.403.02.03-2026 Puasa dikenal dalam bahasa agama Islam “shaum”, kegiatan pertamanya adalah “PERUT”. Salah satu dari enam yang semestinya diupayakan agar dipuasakan lima lainnya yaitu: Mata, Telinga, Lidah (mulut), Anggota tubuh, dan Hati. Perut berposisi di tengah, kepala di atas, kaki di bawah. Di Kepala termuat Otak, sebagai sentral pengatur seluruh aktifitas manusia. Otak tidak akan dapat berfungsi dengan baik jika perut yang terletak dibawah leher itu tidak terisi dengan makanan yang cukup dan bergizi. Itu sebabnya barangkali maka diluncurkan “Makan Bergizi Gratis” (MBG), agar anak2 calon penerus bangsa bernas otaknya, cemerlang ide dan kreasinya guna memajukan bangsa kelak setelah mereka dewasa. Hasilnya, kesudahannya, وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ, waktu jualah yang akan membuktikan. Kaki akan gontai melangkah bila perut dalam keadaan lapar. Mata akan mudah menjadi “gelap mata” (melakukan apapun), bila perut lapar. Banyak pelaku kriminal dengan alasan utama demi pemenuhan kebutuhan “perut”. Dalam hal ini kalau di runut2, berat dugaan karena terpaksa lantaran sulit cari kerjaan, sulit cari duit pembeli pengisi perut, orang nekat jadi maling, dengan resiko bila ketangkap masa akan babak belur. Sekali lagi bila di runut2 juga salahnya yang ngatur masyarakat juga, kenapa lapangan kerja tidak tersedia, kenapa kekayaan alam di anugerahkan Allah buat negeri ini, tidak dimanfaatkan dikelola untuk kesejahtaraan seluruh anak bangsa (hanya memakmurkan segelintir orang). Lain lagi dengan koruptor mereka menggumpulkan harta haram bukan lagi untuk ngisi perut lantaran lapar, tapi untuk memenuhi kesarakahan. Soal keserakahan inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Manusia sanggup makan segala macam makanan. Sedangkan hewan hanya dapat makan makanan tertentu. Misalnya hewan pemakan “rumput” tak akan dapat makan “daging”. Hewan pemakan “daging” tidak bersedia makan “rumput”. Manusia kadang bukan saja daging, sayur (rumput2an), dalam kata kiasan manusia sanggup makan “aspal”, makan “besi beton”, makan “proyek” dll. Dalam pada itu minumnya manusia juga beraneka, termasuk dalam tanda petik “meminum BBM”. Ketika berpuasa, makanan yang halal saja harus sanggup dipertahankan untuk tidak dimakan di siang hari, apalagi yang haram. Mem-PUASA-kan perut artinya melatih diri agar nanti di saat tidak berpuasa; hanya memakan makanan yang “halalan, thayyiban”. Makanan halal dalam koridor agama adalah: halal zatnya, halal cara memprosesnya, halal cara memperolehnya. Halal dari arti Zat nya, serta cara memperosesnya jelas diberitahuan Al-Qur’an: tertera dalam surat Al-Maidah ayat 3: حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِۦ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلٰمِ ۚ ذٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." Sedangkan bagaimana memperoleh sesuatu yang diisikan ke perut, agama Islam memberi panduan: يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَا لَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً عَنْ تَرَا ضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَنْـفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ بِكُمْ رَحِيْمًا "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." (An-Nisa' ayat 29) Begitu lengkap dan jelas panduan Al-Qur’an mengenai pengisi perut; dari jenis apa saja yang boleh dimakan, harus dengan jalan yang halal memperolehnya dan dengan cara yang benar pula dalam memprosesnya. Belum cukup itu saja juga diingatkan oleh Al-Qur’an, bahwa meskipun makanan itu halal, diperoleh dengan cara yang baik, diproses dengan benar, namun harus dikonsumsi tidak boleh ber-lebih2 an: يٰبَنِيْۤ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَا شْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ "Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (Al-A'raf ayat 31) Dengan mempuasakan perut agar manusia terhindar dari makanan yang haram, tidak dibenarkan agama seperti melalui korupsi, penggelapan, pencurian, penipuan dsbnya. Selama puasa telah dilatih makanan yang halal saja di siang hari sanggup untuk TIDAK memasukkannya kedalam perut, apalagi makanan yang haram. Sebab perut manusia “yang serakah” tidak pernah merasa kenyang, kalau hanya diisi; aspal, semen, besi beton, BBM, proyek dll, masih tetap belum kenyang. Perut manusia “yamg serakah” baru kenyang setelah terisi dengan “tanah” (alias masuk liang lahad). Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048). Naaah, saudaraku dengan berpuasa ini, dimana kita semua telah dapat melatih diri mem-puasa-kan PERUT, mudah2an setelah puasa berlalu sanggup memilih makanan halal saja, terjauh dari makan haram dan tercegah memperoleh makanan dengan jalan bathil. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ .سُبْحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِين اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن Jakarta, 14 Ramadhan 1447 3 Maret 2026.

Sunday, 1 March 2026

PENDORONG SHAUM

EDISI: RAMADHAN Renungan: M. Syarif Arbi No: 1.402.01.03-2026 Pendorong shaum Ramadhan setiap individu berbeda. Faktor yang membedakannya sekurangnya ada lima y.i. faktor: usia, kesehatan, kegiatan, kebiasaan dan iman. FAKTOR Pertama USIA. Anak orang keluarga muslim yang mukmin, sudah mulai ingin ikut sahur, sejak balita. Bahkan kecewa berat kalau ketika sahur dia tidak dibangunkan. Namun puasa mereka tidak bertahan sampai maghrib. Kadang hanya setengah atau seperempat hari. Setelah meningkat usia 5 tahun ke atas banyak anak yang sudah berpuasa bagaikan orang dewasa. Kenikmatan puasa kelompok balita, mereka merasa puas telah menunjukkan dianya sudah besar, bukan anak-anak lagi. Namun kemampuan phisik belum mendukung. Keluarga yang beriman dalam keseharian kegiatan beribadah telah terlaksana mengakar di rumah tangga keluarga tsb. Anak-anak yang lahir di keluarga ini إِنْ شَاءَ اللَّه, sejak dini, sejak dia mulai ngerti, langsung sudah melihat kegiatan ibadah. Maka si anak/balita akan jadi ahli ibadah. Orang usia lanjut kadang ada yang sudah tak mampu lagi berpuasa, model ini kemampuan phisik sudah tidak mendukung. Untuk kelompok LANSIA yang sudah udzur dan menderita beberapa penyakit yang menurut pertimbangan medis tak layak lagi berpuasa, maka ada dispensasi dari Allah untuk tidak berpuasa tanpa perlu mengqadha, melainkan menggantinya dengan membayar fidyah (memberi makan fakir miskin). Rujukannya adalah Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 184 (dikutif dibawah ini) dan hadits riwayat Bukhari, berlaku bagi yang sudah renta atau sakit berat. Al-Bukhari rahimahullah menyatakan: وَأَمَّا الشَّيْخُ الْكَبِيرُ إِذَا لَمْ يُطِقْ الصِّيَامَ فَقَدْ أَطْعَمَ أَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوْ عَامَيْنِ كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا خُبْزًا وَلَحْمًا Adapun orang yang lanjut usia jika tidak mampu berpuasa, maka (sebagaimana yang dilakukan) Anas beliau memberi makan orang miskin setahun atau dua tahun setelah mencapai usia tua (sebagai ganti) setiap hari (yang tidak berpuasa) dengan roti dan daging. (Shahih al-Bukhari) Ketentuan Fidyah • Jumlah: Membayar fidyah sebanyak 1 mud (sekitar 675-700 gram atau 6,75-7 ons) makanan pokok (beras) untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan. • Penyaluran: Fidyah dapat diberikan dalam bentuk beras atau makanan siap santap kepada fakir miskin. • Alternatif: Jika lansia tersebut juga tidak mampu membayar fidyah (miskin), kewajibannya gugur, atau menurut sebagian pendapat diganti dengan istighfar. FAKTOR Kedua KESEHATAN. Seringkali kesehatan menghalangi berpuasa. Jika berpuasa malah sakitnya dikhawatirkan bertambah parah. O.k.i. dengan kasih sayang Allah diberikan keringanan melalui firman Allah: فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ ۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ"............ Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. ..... ...... . “ (QS. Surat Al-Baqarah: Ayat 184) FAKTOR Ketiga KEGIATAN. Pekerja keras menggunakan phisik kadang tak mampu berpuasa. Sebagai bahan informasi buat kelompok ini, bahwa perang Badr itu berlangsung ummat Islam sedang puasa Ramadhan hari ke 17. Manapula puasa pertama kali. Saya kutipkan ayat: .......... وَمَاۤ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ".......... “Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”, (QS. Al-Anfal 8: Ayat 41) Pertanyaan; seberat apakah pekerjaan itu, berat mana dengan pertempuran di terik matahari padang pasir, jarang ada pohon tempat berlindung. Mereka berpuasa. Menyoal kegiatan travelling atau safari. Ada kekhususan diberikan Allah keringanan tersurat di ayat 185 Al-Baqarah: "........وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah ayat 185). Dalam konteks travelling tsb pernah kami bersama istri thn 2012 di hari pertama di bulan Ramadhan, menuju Saudi, sahur di Jakarta. Kami beranggapan bahwa kegiatan di perjalanan toh tidak berat, maka lanjut berpuasa. Sesampainya di bandara King Abdul Azis, waktu Jakarta sudah pukul 6 petang keliwat, seharusnya sudah berbuka. Tapi kami harus menahan dahaga dan lapar 4 jam an lagi, disana matahari masih bersinar terang benderang. Dari keadaan itu barulah ku-sadar betapa hebatnya Allah mengatur kemudahan untuk melaksanakan ibadah puasa dengan memberikan fasilitas bagi yang sedang travelling diayat di atas. اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ............dst. Al-Qur'an turun sebelum ada perjalanan dengan pesawat terbang, tetapi sudah dipersiapkan oleh Allah aturan kemudahan pengguna pesawat terbang ketika berpergian. FAKTOR ke empat KEBIASAAN. Kembali kita umpamakan keluarga yang mukmin, terbiasa dalam keluarga tsb menjalankan shaum. Katakanlah salah satu anak kelak setelah besar misalnya karena pekerjaan atau sekolah, pindah ke suatu kota berjauhan dengan ortu, dimana di lingkungan baru terkondisi tidak ada orang yang berpuasa. Karena panggilan kebiasaan ybs tak nyaman kalau tidak puasa. Kebiasaan membuat orang bisa melaksanakan, ada pepatah “kalah bisa karena biasa”. FAKTOR ke lima IMAN Iman inilah justru pendorong paling kuat orang berpuasa. Justru memang puasa ini adalah ibadah ditujukan kepada orang yang beriman. Sebagaimana sering menjadi topik bahasan para ustadz2 dan ustadzah2 di bln Ramadhan: يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Al-Baqarah: Ayat 183) Saya masukkan faktor iman yang terakhir, justru faktor iman inilah yang paling penting. Sebab tanpa iman orang ndak tahan menahan lapar dan dahaga, juga tanpa landasan iman, puasa hanya dapat lapar dan dahaga saja. Demikian renungan shaum Ramadhan hari ini, semoga bermanfaat. Terimakasih telah sudi membaca, mohon maaf bila ada kekurangan. Yaa Allah jadikanlah puasa Ramadhan kami berikut amalan2 sunah pengiringnya diterima Allah. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 13 Ramadhan 1447.H. 2 Maret 2026.

Thursday, 26 February 2026

Lunasi HUTANG sebelum diri di KURUNG BATANG

EDISI: RAMADHAN Renungan: M. Syarif Arbi No: 1.400.10.02-2026 Utang adalah perkara yang wajib dilunasi bahkan saat orang itu telah meninggal dunia. Rasulullah ﷺ pernah menolak mensholatkan jenazah karena masih meninggalkan hutang. Kisah ini diceritakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Ahmad. Diceritakan, pada suatu ketika, Rasulullah ﷺ diminta mensholatkan jenazah seseorang. Sebelum mengiyakan, Nabi Muhammad ﷺ menanyakan perihal hutang: • "Apakah orang ini meninggalkan sesuatu?" tanya Rasulullah ﷺ. • Orang-orang yang membawa jenazah itu menjawab, "Tidak." • Rasulullah ﷺ bertanya lagi, "Apakah ia mempunyai hutang?" • Mereka menjawab, "Tiga dinar." (Penulis: setara 12,75 gram emas) • Nabi ﷺ kemudian bersabda, "Kalau begitu silakan kalian saja yang mensholatkannya." Seseorang dari kaum Anshar bernama Abu Qatadah berkata, "Ya Rasulullah sholatkanlah jenazah ini dan akulah yang akan memikul dan bertanggung jawab atas hutangnya." Setelah ada orang yang menanggung utang jenazah itu baru Rasulullah ﷺ mau mensholatkannya. Demikian penting pelunasan hutang karena ROH (JIWA) seorang anak manusia yang meninggal masih tergantung atau terkatung-katung sebelum hutangnya dilunasi. نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ “JIWA seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. At Tirmidzi 1078) Tidak sedikit juga orang yang berhutang, sejak semula sudah berniat tidak akan membayar hutangnya. Dalam hal ada seorang muslim berhutang dengan niat sengaja akan ngemplang alias tidak akan membayar, orang ini tergolong sebagai pencuri. Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah ﷺ bersabda: أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا “Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR Ibnu Majah: 2410) Ketika seseorang memiliki uang yang cukup untuk membayar tanggungan hutang yang ia miliki, maka ia harus segera membayar hutangnya kepada orang yang memberinya utang. Menunda bayar hutang merupakan bentuk tindakan menzalimi orang lain. Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam haditsnya: مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ Artinya: Menunda-nunda membayar hutang bagi orang yang mampu (membayar) adalah kezaliman (HR Bukhari). Menurut para ulama ahli hadits, makna riwayat di atas mengarah pada ketentuan haramnya menunda hutang tatkala seseorang sudah cukup secara finansial dan mampu untuk membayar. Berbeda ketika seseorang dalam keadaan tidak memiliki uang yang cukup, maka ia tidak tergolong dalam cakupan hadits di atas. Teringat ketika masih bertugas di perbankan, tentang orang minjam kredit di bank sebelum kredit dikucurkan kepada peminjam, dilakukan serangkaian analisa yang serius dari berbagai aspek (tidak diungkap detail di artikel ini) namun pada pokoknya kajian terfokus pada: • Apakah si peminjam akan sanggup membayar (pokok pinjaman + bunganya), dilihat dari sumber pendapatan ybs, dilihat dari produksi yang telah/akan dihasilkannya. • Apakah si peminjam berkarakter baik, akan membayar pinjamannya, atau sebaliknya diperoleh informasi sejak semula calon peminjam tukang ngemplang. Muamalah; pinjam – meminjam ini dibolehkan dalam syariat Islam buktinya antara lain dibakukan dalam Al-Qur’an, dipetik salah satu ayat tsb yaitu Al-Baqarah 282. Begitu rincinya Allah memberi petunjuk dalam hal hutang – piutang tersebut sehingga ayatnya demikian panjang, maka dipetik sebagiannya yaitu tentang wajib dilakukan pembuktian tertulis. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِالْعَدْلِۖ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ اَنْ يَّكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّٰهُ فَلْيَكْتُبْۚ وَلْيُمْلِلِ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَقُّ “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu mencatatnya. Hendaklah seorang pencatat di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah pencatat menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajar-kan kepadanya. Hendaklah dia mencatat(-nya) dan orang yang berutang itu mendiktekan(-nya)………….” Paling kurang jika pinjaman antara sesama pribadi dengan pribadi dalam jumlah pinjamannya tidak terlalu besar katakanlah sepuluh - duapuluh juta, mungkin dapat saja berupa “KAS BON” atau “Kwitansi”. Pinjaman antara teman kadang akan sulit untuk menagihnya. Tak jarang orang yang meminjamkan uang kepada teman, lantas berujung bersabatan menjadi retak, bila si peminjam punya kemampuan tetapi tidak punya kemauan untuk membayar. Banyak orang yang menyarankan jika teman akrab atau saudara yang meminjam uang, sepanjang kita mampu, lebih baik dibantu dengan “akad” bukan pinjam-meminjam tapi “membantu”. Di moment kita bershaum Ramadhan ini, kesempatan merenungkan apakah diri ini masih ada hutang kepada sesama kerabat atau saudara, hendaklah berusaha segera melunasinya. Kalaulah belum sanggup melunasi seluruh hutang, setidaknya dengan mencicil, dengan demikian membuktikan bahwa si peminjam punya itikad baik; tidak bermaksud untuk ngemplang. Sebab mau tidak mau, suka tidak suka, diri ini pasti akan terbujur di kurung batang. Makanya “Lunasilah hutang sebelum diri terbujur di Kurung Batang”. اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ "Ya Allah cukupkan lah aku dengan yang halal dan jauhkan lah aku dari yang haram, dan cukupkan lah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu." آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 10 Ramadhan 1447 H/27 February 2026

Thursday, 19 February 2026

Dipintu IKHLAS – Iblis MENUNGGU

EDISI: RAMADHAN Renungan: M. Syarif Arbi No: 1.397.07.02-2026 Umpama kata, nilai ibadah itu tersimpan aman di dalam lemari besi, untuk membuka nilai ibadah itu perlu kunci dan juga nomor kombinasi. Maka kuncinya adalah IKHLAS, sedangkan nomor kombinasinya adalah di laksanakan ibadah itu sesuai Contoh Rasulullah Muhammad ﷺ. Ikhlas suatu istilah mudah diucapkan, tapi sangat2 sulit untuk di realisasikan. Ikhlas dalam pengertian ibadah kepada Allah secara sederhananya adalah beribadah tanpa mengharapkan apapun dari selain Allah. Beramal hanya se mata mata karena Allah, mengharapkan balasannya hanya dari Allah. Kesulitan manusia dalam strata iman yang tinggi sekalipun untuk berlaku ikhlas, karena hidup kita di bumi ini didampingi Iblis yang sudah mendapat izin Allah melencengkan manusia dari ikhlas. Allah dalam dialog dengan Iblis antara lain terdapat dalam ayat 78 sampai 81 surat Shad. Diantara dialog itu Iblis menjawab: قَا لَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُ غْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ ۙ Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. (Shad ayat 82). Iblis bertekad menyesatkan manusia dengan cara datang dari berbagai arah: ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَا نِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ "kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (Al-A'raf ayat 17) Contoh godaan Iblis ke Ahli Ibadah: Tiap hari tak pernah lupa bersedekah. Lidah selalu bergoyang berzikir dan bibirnya selalu basah dalam kalimat thayyibah . Tentu tak usah diragukan lagi ibadah wajib olehnya dilaksanakan dengan baik dan khusyuk karena Allah, sedangkan ibadah yang sunah saja hampir tak pernah luput, Iblispun dari PINTU IKHLAS ini bukan tidak berpeluang masuk, mendatangi dari kanan, yaitu melalui karib kerabat dan sobat; di informasikan apresiasi orang dan masyarakat yang mengenalnya bahwasanya dianya diketahui ahli ibadah. Pertanda Iblis berhasil masuk dari “Pintu Ikhlas”, maka tatkala si ahli ibadah mulai merasa ketaatan dan keikhlasannya beramal/beribadah itu diketahui orang, menjadi perbincangan masyarakat, diapun menjadi termotivasi meningkatkan frekuensi amal/ibadahnya. Sedekah yang biasanya 10rb setiap hari, ditingkatkan jadi 20rb sampai 30rb. Zikir yang biasa dilakukan diperbanyak dan pengucapannya diperjelas. Pokoknya semenjak diketahui orang akan amal/ibadahnya ybs meningkatkan amal/ibadahnya baik kualitas maupun kuantitas. Jika sudah seperti ini, berarti Iblis telah berhasil menunggunya di pintu IKHLAS. Selanjutnya PERANGKAP IBLIS telah MENGANGA untuk diarahkannya kepada ahli ibadah yang ikhlas itu tadi. Iblis punya PERANGKAP DI PINTU IKHLAS yang siap untuk memerangkap orang-orang ikhlas dalam beribadah. Karena kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada ummatnya, beliau ajarkan do'a untuk menghindari PERANGKAP IBLIS, kepada sahabat utamanya ABU BAKAR. Diketahui dalam sejarah Islam bahwa Abu Bakar sahabat nabi yang begitu kuat imannya. Akan tetapi masih perlu diajari nabi do'a ini, apalagi kita2 ini yang imannya mungkin tak seujung rambutpun bila dibanding dari Abu Bakar sahabat utama Nabi Muhammad ﷺ, itu. Tentu do'a itu dimaksudkan Nabi Muhammad ﷺ. bukan hanya untuk Abu Bakar namun untuk kita semua agar terhindar dari PERANGKAP IBLIS yang masuk dari pintu IKHLAS. Do'a tsb sbb: اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ Allahumma inni a'udzu bika an usyrika bika syaian waanaa a'lamu waastaghfiruka lima laa a'lamu. Ya Allâh! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui. (Imam Bukhari dlm AL ADAB AL MUFRAT dan At Tirmidzi dlm NAWATIR AL USUL). Contoh godaan Iblis di tulisan ini hanya buat ahli ibadah, hal yang sama dapat dilakukan Iblis buat Ahli Dakwah, Da'i idola ummat, para penghafal Al-Qur'an, para ustadz dan ustadzah, juga penulis artikel2 dakwah, para darmawan, tidak terkecuali diseluruh strata. Oleh karena itulah agaknya senantiasa kita berdo'a seperti yang diajarkan Rasululllah Muhammad ﷺ, kepada sabat beliau Abu Bakar dikutip di atas. Semoga kita tidak masuk PERANGKAP IBLIS yang menunggu di PINTU IKHLAS. Sehingga seluruh rangkaian ibadah kita di terima Allah swt, untuk bekal ke akhirat nanti. آمِيّنْ... آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 3 Ramadhan 1447 H 20 February 2026

Wednesday, 18 February 2026

TUJUAN PENYAKIT

EDISI: RAMADHAN Renungan: M. Syarif Arbi No: 1.396.06.02-2026 Boleh dikatakan hampir semua orang pernah merasakan sakit. Kadar sakitnya saja yang tak sama. Rata2 manula kebagian penyakit kronis, inipun beda setiap individu. Ada sih manula yang jarang sakit serta tak punya penyakit kronis. Inipun membuktikan kekuasaan Allah bahwa tak mesti manula sakit2an. Tak juga sakit2an monopoli manula, sebab ada yang masih belia sakit2an. Keadaan phisik, perasaan yang beda dari keadaan normal, itu katanya batasan "sakit". Keadaan bathin jadi resah, gelisah membuat makan tak enak tidur tak nyenyak; begitupun sakit juga. Lalu ada sakit jasmani dan sakit rohani. Ada sakit raga dan sakit jiwa. Bila jasmani sakit harus selalu ikhtiar berobat, karena setiap penyakit disediakan obatnya oleh Allah. Bila rohani sakit, resah gelisah penyembuhnya mendekat kepada Allah. Sadarlah kita bahwa menyoal soal sakit kita masing2, walau kelompok sakitnya sama, namun variasi SAKIT tiap individu beragam, sekalipun kembar identik. Semua telah ditentukan oleh YANG MAHA KUASA. Seluruh TYPE SAKIT masing2 diri agaknya sudah ketentuan YANG MAHA KUASA, dalam terminology iman disebut TAQDIR. Kalaulah Sakit itu dilihat sebagai ujian, dipandang sebagai musibah atau bencana maka ketahuilah apapun nanti SAKIT masing2 diri, di usia berapa mulai diderita dstnya telah ditentukan dalam TAQDIR, seperti firman Allah SWT berikut ini: مَاۤ اَصَا بَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَ رْضِ وَلَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْـرَاَ هَا ۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ ۖ "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah" (QS. Al-Hadid ayat 22) Dalam menjalani hidup ini, ketika datang SAKIT silih berganti, sembuh dan kambuh dalam wujud apapun janganlah sampai kita termasuk kelompok manusia seperti disebutkan Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat 83: وَاِذَاۤ اَنْعَمْنَا عَلَى الْاِنْسَانِ اَعْرَضَ وَنَاٰ بِجَانِبِهٖ ۚ وَاِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَـئُوْسًا "Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa". Ketahuilah bahwa SAKIT itu juga merupakan anugerah. Contoh kecil, seorang pegawai ditugaskan untuk bepergian dinas keluar kota. Tiket penerbangan sudah disiapkan kantor. Pas jadwal berangkat terserang sakit yang tak mungkin untuk pergi. Dengan berat hati batal berangkat. Ternyata sakit ybs sebagai sebab umurnya masih panjang, ajalnya belum tiba, pesawat calon tumpangannya hilang tak sampai tujuan. Selain itu, Rasulullah memaklumkan bahwa sakit merupakan sarana Allah mengampuni dosa penderita. مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ “Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, maka Allah akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadits yang lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ،حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ “Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.” (HR. Muslim) Dari hadits2 diatas ternyata sakit pun memiliki faedah dan fadhilah bagi yang sakit. Tentu, jikalau ia bersabar dan menjadikan sakitnya sebagai pelajaran bagi dirinya. Semoga pembaca yang sakit segera ditemukan obatnya. Allah angkat penyakit2nya sehingga usia yg tersisa dapat dimaksimalkan untuk beramal kebaikan dan beribadah kepada Allah. Utamanya di bulan Ramadhan ini, masih sanggup melaksanakan ibadah puasa. مِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنi آمِيّنْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 2 Ramadhan 1447 H. 19 February 2026.

TIGA BENTUK pengabdian kepada ALLAH

EDISI Ramadhan 1447 H. Diramu: M. Syarif Arbi No: 1.395.05.02-2026 Tak sedikit orang yang tak tau persis sebetulnya untuk apa dirinya hidup di dunia ini. Bagi ummat Islam, Allah memberitahukan dalam Al-Qur'an surat 51 = Adz-Dzariyat ayat 56: وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku". Tidak hanya sampai memberitahukan untuk apa kita hidup yaitu untuk mengabdi kepada Allah, tapi Allah juga sekaligus memberikan Tiga “Petunjuk Pelaksanaan bentuk pengabdian tsb” bagaimana cara manusia mengabdi kepada-Nya, yakni: 1. Utamakan kehidupan akhirat, tetapi tidak mengabaikan kehidupan dunia. 2. Senantiasa berbaut kebaikan. 3. Jangan membuat kerusakan dimuka bumi. PERTAMA, "وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ......." Mengutamakan kebahagiaan kehidupan akhirat. Langkah ini menghendaki agar dalam melaksanakan kehidupan di dunia, kita senantiasa mengutamakan pertimbangan nilai akhirat. Tetapi "..... وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا...…" tidak mengabaikan kehidupan dunia. Sebab amal akhirat tidak berdiri sendiri dan terlepas dari amal duniawi. Sungguh banyak amalan akhirat yang berhubungan erat dalam mewujudkan kebahagiaan duniawi. Contoh shalat, seorang yang melaksanakan shalat dengan tekun dan disiplin, bukanlah semata-mata sebagai amal akhirat yang tidak berdampak duniawi, sebab bila shalat itu dilaksanakan menurut tuntutan Allah dan Rasul-Nya, secara berjamaah, niscaya ia akan banyak memberikan hikmah dalam kehidupan dunia. Dengan shalat yang benar akan dapat mencegah seseorang dari berbuat keji dan munkar. Al-Qur'an surat 29 = Al-Ankabut ayat 45: وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ".........dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar......." Dengan demikian manusia akan terhindarnya dari perbuatan yang dapat merugikan orang lain, sehingga terciptalah ketenteraman hidup bersama di dunia ini. Begitu juga dengan infak dan shadaqah, seorang yang beramal dengan niatan mulia untuk mendapatkan ganjaran berupa pahala dari Allah di akhirat, maka dengan hartanya tersebut dapat memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain yang membutuhkan. KEDUA, "ahsin" yaitu senantiasa menghendaki kebaikan. وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ "......dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu,....." Bila seseorang mengamalkan langkah ini dalam dirinya, niscaya ia akan selalu berbuat kebaikan. Berkata baik dalam pergaulan di kehidupan sehari-hari. Orang beriman yakin betul bahwa tak ada satu katapun yang terucap menguap hilang begitu saja. مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. 50 = Qaf ayat 18). Tak ada satu gerakpun yang luput dari catatan, rekaman video Allah melalui malaikat: اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَا لِ قَعِيْدٌ "(lngatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri." (QS. 50 = Qaf ayat 17). Maka orang beriman akan selalu tampil dalam kebaikan demi kebaikan, mempersembahkan sebuah karya terbaiknya untuk kemanfaatan masyarakat disekitarnya, peduli akan kemaslahatan umum, dan meninggalkan sebuah kebaikan yang akan selalu berguna bagi orang banyak walaupun ia sudah pergi terlebih dahulu menuju kehidupan yang abadi. KETIGA, adalah "walaa tabghil fasada fil ardh "(....... وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ.......)" yaitu Langkah untuk tidak berbuat kerusakan. "...........dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi........." Bila JUKLAK ketiga ini dijalankan dengan istiqamah/konsisten, seseorang akan lebih melengkapi JUKLAK yang kedua, yakni melengkapi upayanya berbuat baik dengan upaya menghindari perbuatan yang merusak. Perbuatan merusak termasuklah melanggar hukum yang ditentukan agama dan melanggar peraturan yang disepakati dalam masyarakat. Tidak malu melakukan sesuatu diluar kepatutan, menerabas norma2 yang berlaku, demi memenuhi nafsu kesuksesan pribadi, keluarga atau golongan. Terjadinya kerusakan alam, kerusakan moral, kerusakan dalam tatanan kehidupan masyarakat sering kali terjadi karena sudah hilangnya kesadaran akan tujuan hidup yang sesungguhnya, sudah putusnya “urat malu” sehingga seorang lupa bahwa sesungguhnya ia tidak dibiarkan begitu saja, bahwa ia akan mempertanggung jawabkan segala perbuatannya ketika ia menghadap Allah di akhirat kelak. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: أَيَحْسَبُ الْإِنْسٰنُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى "Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?" (QS. Al-Qiyamah ayat 36) ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Ar-Rum ayat 41. Tiga bentuk tentang bagaimana cara pengabdian kepada Allah dikutip di atas secara utuhnya tersusun jelas pada firman Allah di surat 28 = Al-Qasas ayat 77: وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖوَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ "Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." Semoga kita semua senantiasa memahami untuk apa kita ini hidup, kemudian sanggup mencapai tujuan hidup yang hakiki serta dapat melaksanakan langkah2 pengabdian kepada Allah. Bagi yang hari ini sudah mulai shaum Ramadhan hari pertama, semoga Allah menerima ibadah shaum masing2 dan bertekad untuk lebih menyempurnakan shaum di hari2 berikutnya. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 1 Ramdhan 1447 H. 18 February 2026.

Sunday, 15 February 2026

BERDAKWAH sebelum ALIM

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.394.04.02-2026 Manusia yang beruntung di dunia ini terdapat 7 (tujuh) kelompok yaitu: 1. Orang yang istiqamah shalat, sebelum dianya dishalatkan. 2. Orang yang rajin saban hari menyempatkan diri membaca Al-Qur’an, sebelum ketika dia sakit parah didekatnya dibacakan orang Al-Qur’an. 3. Orang yang rajin bersedekah tak menunggu kaya, lalu menjadi kaya karena bersedekah. 4. Orang berdakwah sebelum alim, menjadi alim karena berdakwah. 5. Orang yang berani tinggalkan kemewahan dunia, sebelum dianya meninggalkan dunia. 6. Orang yang rajin ke masjid tak menunggu tua, bukan sesudah tua baru rajin ke masjid 7. Orang yang bertobat, selagi sehat, bukan baru bertobat setelah dekat sekarat. Sepertinya 7 (tujuh) hal yang dikemukakan diatas cocok sekali untuk dibicarakan menjelang memasuki bulan Ramadhan seperti sekarang ini. Pada bulan Ramadhan Lahan untuk mencapai keberuntungan dimaksud diatas, dibentangkan Allah demikian luas dengan motivasi ganjaran pahala yang berlipat ganda. Di artikel singkat ini izinkan saya memetik satu diatara 7 (tujuh) orang yang beruntung tersebut, karena kalau dipetik semuanya akan panjang, sehingga ada diantara pembaca yang lihat tulisan panjang, akan ogah sebelum mengunggah. Oleh karena itu yang dipetik di artikel ini hanya “Soal berdakwah”. Di bulan2 Ramadhan sebentar lagi kita masuki, hampir setiap masjid memprogramkan ceramah2 sebelum tarawih, sesudah subuh, sesudah dzuhur dan bahkan sebelum berbuka. Demikian pula di jaringan2 TV. Ustadz2 kondang kebanjiran undangan. Namun ada juga yang berpendapat bahwa untuk berdakwah harusnya terlebih dahulu berilmu tinggi, lulusan sekolah2 agama, sangat di suka bila lulusan dari luar negeri. Di ungkapan di atas saya cantumkan di nomor 4. “Orang berdakwah sebelum alim, menjadi alim karena berdakwah”. Ungkapan ini sebagian orang, tak kurang dari sebagian ustadz yang kadang menyindir “percaya mana ustadz berdakwah mengandalkan lap top, dengan ustadz yang hafidz dan hafal ribuan hadits”. Tentulah kalau memungkinkan yang mendakwahi kita adalah ustadz/ustadzah yang hafidz/hafidzah dan hafal ribuah hadits. Akan tetapi di komunitas tertentu, di masjid2 tertentu belum punya kesanggupan mengudang ustadz/ustadzah kondang. Dalam keadaan demikian harus ada orang yang berani berdakwah sebelum alim, selanjutnya lantaran dia berdakwah, lama kelamaan menjadi alim karena setiap kali akan berdakwah dianya harus belajar, mencari referensi guna mempersiapkan diri buat materi dakwah. Sesudah berdakwah mengevaluasi diri apakah masih terdapat kesalahan atau kekurangan referensi dalam dakwahnya. Bukankah cara yang demikian itu akan menjadikan ustadz tsb lama kelamaan menjadi alim? Keberanian ustadz/ustadzah kecil2an ini jangan dikira tidak memiliki rujukan pesan dari Rasulullah Muhammad ﷺ dan panduan dari Allah melalui Al-Qur’an. PERTAMA: Kewajiban masing2 kita untuk menyampaikan apa yang diketahui tentang ilmu agama, walau hanya sedikit. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari) Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang boleh menyampaikan ilmu meskipun sedikit, selama ia benar-benar mengetahui dan memahaminya. KEDUA: Kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran: 104) Ayat ini tidak mensyaratkan harus menjadi ulama besar terlebih dahulu, tetapi tentu harus memiliki ilmu tentang apa yang disampaikan. Akan tetapi, harus lah dengan sangat berhati-hati untuk berdakwah jika belum betul2 menguasai “tentang satu ayat” yang akan disampaikan tersebut. Hendaklah dicari referensinya dari berbagai sumber, barulah berani mendakwahkannya karena Allah berfirman dalam surat Yusuf Ayat 108: قُلْ هٰذِهٖ سَبِیْلِیْۤ اَدْعُوْۤا اِلَی اللّٰهِ ؔ۫ عَلٰی بَصِیْرَةٍ اَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِیْ ؕ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِیْنَ "Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin (berlandaskan ilmu), Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” Ini menunjukkan bahwa dakwah harus berdasarkan ilmu, bukan sekadar semangat. Dengan demikian jikalah punya keberanian untuk berdakwah karena mengetahui suatu perkara tentang agama, maka hendaklah menyampaikannya sesuai kadar ilmu yang diketahui. Artinya; tidak harus menjadi alim besar dulu baru berani berdakwah, tetapi: Tidak berbicara tanpa ilmu, Tidak mengarang fatwa, Tidak menyesatkan orang. Kesimpulan: Boleh berdakwah sebelum menjadi alim, jika: Menyampaikan hal yang benar-benar diketahui. Jika apa yang disampaikan ada dalil yang jelas. Tidak berbicara tentang hal yang tidak dipahami. Bersedia menerima koreksi. Tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan dalil yang jelas, lebih terhormat mengatakan “saya belum tau”, ketimbang harus mengarang jawaban. Tegasnya Tidak boleh berdakwah tanpa ilmu, karena bisa menyesatkan diri sendiri dan orang lain. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 15 February 2026. 27 Sya’ban 1447H.

Monday, 9 February 2026

Dapatkah TAQDIR diubah AMAL & DO’A ???

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.392.02.02-2026 Taqdir adalah sesuatu yang harus diimani, sementara itu tidak seorangpun yang dapat memprediksi bagaimana taqdir dirinya. Nabi Yusuf ketika dibuang saudara-saudaranya ke dalam sumur, kuat dugaan kita orang awam, bahwa dianya belum tau bahwa kelak dirinya akan jadi pembesar negeri Mesir, namun itulah jalan yang harus dilalui Nabi Yusuf. Bila kita berandai-andai, jikalah tidak dibuang ke dalam sumur, tentu tidak akan ditemukan oleh musafir menimba air dari sumur, lalu mengeluarkannya dari dalam sumur, menjualnya di pasar budak di Mesir, dibeli pembesar kerajaan. Taqdir Nabi Yusuf itu barulah diketahui pada akhir kehidupannya setelah melalui jalan berliku, sampai lama masuk dalam penjara, menurut kabar dari Al-Qur’an “beberapa waktu”, pendapat ulama bervariasi antara 5 hingga 12 tahun di penjara, Pertanyaannya apakah memungkinkan “mengubah taqdir dengan amal dan do’a”? Terdapat beberapa riwayat bahwa amal dan doa berpengaruh pada taqdir, tapi dengan pemahaman yang tepat. Suatu ketika seorang sahabat datang menghadap Rasulullah Muhammad ﷺ, mengeluhkan perihal kefakiran dan kesulitan hidup yang dihadapinya. Diberi amalan oleh Rasulullah seperti dikutip dibawah ini, sehingga kehidupan sahabat tersebut akhirnya rezekinya berlimpah. Kisah di atas banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitabnya, diantaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marâh Labîd atau lebih dikenal dengan nama Tafsîr Al-Munîr. Dalam penafsiran surat Al-Ikhlas Syekh Nawawi menuturkan kisah tersebut sebagai berikut: عن سهل بن سعد جاء رجل إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وشكا إليه الفقر فقال: «إذا دخلت بيتك فسلم إن كان فيه أحد وإن لم يكن فيه أحد فسلم على نفسك واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة. ففعل الرجل فأدر الله عليه رزقا حتى أفاض على جيرانه Artinya: Dari Sahl bin Sa’d, seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan mengadu kepadanya perihal kefakiran. Rasul bersabda: Bila engkau memasuki rumahmu, ucapkanlah salam bila di dalamnya ada seseorang. Bila tidak ada seorang di dalamnya, maka bersalamlah untuk dirimu dan bacalah surat qul huwallâhu ahad sekali.’ Lelaki itu mengamalkannya. Allah melimpahkan kepadanya rezeki hingga meluber kepada para tetangganya. Syekh Nawawi dalam penafsiran ayat ke-61 surat An-Nur menjadi jawabannya. Dalam kitab tersebut ia menuturkan ajaran dari Ibnu Abbas dan Qatadah sebagai berikut: وقال ابن عباس: إن لم يكن في البيت أحد فليقل: السلام علينا من قبل ربنا Artinya: Ibnu Abbas berkata: Bila tak ada siapapun di dalam rumah, maka ucapkanlah ‘assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ’ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami). وقال قتادة: إذا دخلت بيتك فسلم على أهلك فهم أحق بالسلام ممن سلمت عليهم، وإذا دخلت بيتا لا أحد فيه فقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين Artinya: Qatadah berkata: Bila engkau memasuki rumahmu, maka ucapkanlah salam kepada keluargamu. Mereka lebih berhak mendapatkan salam daripada orang lain yang engkau salami. Bila engkau memasuki sebuah rumah yang tak ada seorang pun di dalamnya, ucapkanlah: assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn (keselamatan bagiku dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh). Jadi; bila tidak ada orang didalam rumah kita dapat mengucapkan salam bagi diri sendiri salah satunya dengan kalimat: Assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami) atau Assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn (keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba yang saleh). Lapisan taqdir itu terdiri atas dua lapis: Pertama: Taqdir mubram ( مُبْرَم )→ ketentuan Allah yang pasti dan tidak berubah, (kejadian bukan sama sekali dapat diusahakan manusia), misalnya diri ini terlahir di negeri mana, siapakah orang tua yang menyebabkan kita lahir. Kedua: Taqdir mu‘allaq (مُعَلَّق) → ketentuan yang bergantung pada usaha, doa, dan amal manusia. Amal, doa, sedekah, ikhtiar itu berperan pada taqdir yang kedua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا يَرُدُّ القَضَاءَ إلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي العُمُرِ إلَّا البِرُّ “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Qadar, bab “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa” (no. 2139), dari hadis Salman radhiyallahu ‘anhu. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Sahihah (no. 154) dan dalam Sahih Al-Jami’ (no. 7687). Kaum beriman menyakini bahwa Allah sudah mengetahui segalanya sejak awal, tapi Allah juga menjadikan doa dan amal sebagai sebab terjadinya sesuatu, tentu harus dibarengi dengan ikhtiar untuk mencapai maksud dan tujuan do’a itu sehingga Allah menolong pencapaian yang diinginkan. “…………. إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ………………” “………Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…………” (Ar-Ra’ad ayat 11) Ayat ini memotivasi bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik kecuali dengan usaha dan jerih payahnya sendiri. Namun berapa banyak orang yang berusaha mengubah nasib mereka dengan berusaha tak kenal lelah dan waktu demi ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik, berapa persen dari mereka yang berhasil tapi sebagian juga begitu-begitu saja, dengan demikian maka dapat diungkapkan “Amal tidak mengubah kehendak Allah, tapi amal adalah bagian dari kehendak Allah itu sendiri”. Mari kita serahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dengan terus berikhtiar “janganlah kamu berputus asa dengan Rahmat Allah” (“……..لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ……” = Az- Zumar 53). Ya Allah yang menentukan taqdir dan berkuasa mengubah taqdir, berikanlah taqdir yang terbaik untuk kehidupan kami ini. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 9 February 2026. 21 Sya’ban 1447H.

Wednesday, 28 January 2026

MENGUBAH TAQDIR AJAL

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.390.07.01-2026 Sebelum ajal berpantang mati, begitu ungkapan populer sering kudengar sejak aku masih kecil, sampai kinipun masih sering diucapkan orang. Ajal termasuk taqdir “Umri” yang telah disinggung pada artikel sebelum ini. Taqdir Umri meliputi 4 (empat) hal yaitu tentang RIZKI, AJAL, AMAL, dan NASIB (celaka atau Bahagia). Ajal adalah batas waktu hidup seseorang yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Dalam pengertian umum (terutama dalam konteks agama), ajal merujuk pada saat kematian yang tidak bisa dimajukan maupun ditunda oleh manusia. Atas dasar penyebab datangnya ajal kematian dibedakan menjadi dua yaitu: Pertama; Ajal “alami”, kematian karena usia atau penyakit. Kedua; Ajal “peristiwa”: kematian karena suatu peristiwa (kecelakaan, bunuh diri, dihukum mati dll.). Yang jelas bahwa kematian pasti akan dialami setiap makhluk hidup, Walaupun semua orang sudah mengetahui semua makhluk hidup pasti mati, dari zaman ke zaman manusia; terutama para penguasa, para raja2, orang2 banyak harta akan senantiasa berupaya agar hidup ini lebih panjang. Guna memperpanjang hidup, terdapat 3 (tiga) sudut pandang. Pertama; secara biologis dan medis. Kedua; secara filosofis dan religious. Ketiga; secara eksistensial. Secara biologis & medis: Ada banyak upaya memperpanjang hidup atau menunda kematian secara biologis & medis: • Pengobatan dan teknologi medis. Utamanya pemimpin negara, orang2 berkuasa, para raja, orang2 kaya. Bila menderita sakit, segera akan dicarikan cara pengobatan yang terbaik. Bilamana dirasa kurang sreg berobat di dalam negeri berangkat ke luar negeri kemanapun dilakukan dengan harapan mendapat kesembuhan, agar hidup dapat diperpanjang. • Gaya hidup sehat (makan, olahraga, tidur, kelola stres). Sangat hati2 memilih makanan dan minuman, bahkan ada seorang teman yang tidak mau minum yang berwarna, sejak mulai umur 30 han hanya mau minum air putih. Jika membeli air putih dalam kemasan, saking hati2nya diterawang apakah ada sesuatu sekecil apapun dalam kemasan tersebut, selain dilihat kadaluarsanya. • Pencegahan penyakit dan perawatan dini. Secara periodik melakukan general check up lengkap untuk memantau kesehatan, bila ada sedikit kelainan segera diatasi. Upaya2 yang dilakukan di point diatas ini tidak membuat manusia “abadi”, tapi secara logika biologis dan medis bisa memperpanjang usia dan kualitas hidup. Secara filosofis & religious. Pertama; Bahwa ajal diyakini sudah ditetapkan oleh Tuhan dan tidak bisa dimajukan atau ditunda. Allah berfirman dibeberapa ayat dalam Al-Qur’an tentang kematian tak dapat ditunda diantaranya dipetik dari surat Al-Munafiqun Ayat 11: وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan”. Kedua; Ikhtiar (usaha) untuk menjaga kesehatan dan keselamatan justru diperintahkan dalam agama. Sakit harus berobat, perjalanan membaha yakan ditunda atau dihindari. Berobat merupakan suatu ikhtiar untuk segera sembuh dari penyakit. Baik dipetik hadits riwayat hakim dan Ibn Hibban. Nabi Muhammad ﷺ bersabda; ما أنزل الله عز وجل داء إلا أنزل له دواء علمه من علمه وجهله من جهله “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya” Juga hadits anjuran berobat dari baginda Nabi Muhammad ﷺ berbunyi; لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ “Sejatinya semua penyakit ada obatnya. Maka apabila sesuai antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah” (H.R. Imam Muslim, Nomor Hadis 2204) Lihat juga hadits riwayat Imam Bukhari berikut; مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan ketika itu juga Allah menurunkan obatnya/penawarnya ( H.R. Imam Bukhari, Nomor 5354). Dalam agama, setiap diri diperintahkan untuk menghindari bahaya, Al-Baqarah 195: وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ “janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan” Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ “Jika kalian mendengar wabah tersebut menjangkiti suatu negeri, maka janganlah kalian menuju ke sana, namun jika dia menjangkiti suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dan lari darinya.” (Shahih Bukhari 5289) Manusia yang mampu, berusaha untuk hidup panjang, tapi sadarilah bahwa waktunya ajal tiba tetap di luar kendali manusia. Ajal tidak bisa ditunda, tapi jalan menuju ajal bisa diisi dengan usaha sehingga hidup lebih bermakna. Secara eksistensial: Sebagian orang melihat “menunda ajal” bukan soal waktu, tapi dengan makna bahwa orang tersebut seolah-olah berumur panjang, sebab walau jasadnya sudah lama menjadi tulang belulang di dalam kubur sana, namun dianya bagaikan masih hidup. Orang yang berumur panjang secara eksistensial ini adalah: 1. Apabila selama hidupnya meninggalkan sesuatu karya yang dipergunakan manusia untuk kemudahan hidup, berupa penemuan2, termasuk membangun sarana prasarana yang dipergunakan oleh masyarakat baik di bidang agama maupun di bidang memperlancar kehidupan umumnya. 2. Apabila selama hidupnya mengarang buku2 ilmu pengetahuan yang terus dipergunakan oleh orang banyak. 3. Para pahlawan pejuang untuk membebaskan manusia dari penindasan. Orang2 seperti disebutkan diatas, mereka itulah yang umurnya panjang dalam arti mereka “terus hidup” lewat buah karyanya, hasil olah pikirannya atau perjuangannya, meski fisiknya telah tiada. Demikianlah perihal “TAQDIR AJAL”, masih dapat diikhtiarkan untuk lebih berkualiatas dan lebih panjang. Ayolah kita berdo’a: اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي وَأَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي “Ya Allah, perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah apa yang Engkau karuniakan. Panjangkanlah hidupku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosaku” آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 28 Januari 2026. 9 Sya’ban 1447H.

Sunday, 25 January 2026

Merubah TAQDIR Rezeki

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.389.06.01-2026 Di antara empat taqdir, taqdir utamanya adalah taqdir azali yang tertulis di lauhil mahfudz, sedangkan tiga taqdir yang lainnya (‘umri, sanawi, dan yaumi) adalah taqdir yang bisa berubah. Sekilas tentang taqdir AZALI telah ku tulis di artikel nomor yang lalu dalam judul “Bertanggung Jawab atas Pilihan”. Taqdir “UMRI”; Yaitu taqdir yang ditulis malaikat ketika meniupkan roh ke dalam janin. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ فِيْ ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ، فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia(nya).” (HR. Bukhari Muslim). Taqdir Umri meliputi 4 (empat) hal yaitu tentang RIZKI, AJAL, AMAL, dan NASIB (celaka atau Bahagia). Berkenaan terbatas ruang tulis, maka nomor ini hanya memuat tentang “Merubah Taqdir Rezeki”, taqdir “ajal”, Amal dan Nasib إِنْ شَاءَ اللَّه ditulis di nomor2 yang akan datang. Taqdir rezeki itu sudah ditetapkan Allah, tapi cara tiap individu menjemputnya bervariasi karenanya bisa diubah, bisa berubah. Maksudnya bukan “mengubah taqdir” dalam arti menentang ketetapan Allah, tapi mengubah jalan hidup masing2 orang agar rezeki yang Allah siapkan bisa terbuka lebih luas. Tak seorangpun mengetahui taqdir rezeki yang telah ditetapkan buat dirinya, oleh karena itu terus menerus berikhtiar untuk mencari rezeki. Beberapa cara yang sering disebut dalam Al-Qur’an dan hadits, sebagai ikhtiar merubah taqdir tentang rezeki, titik beratnya adalah “Perbaiki hubungan dengan Allah”. Hal yang harus dilakukan agar dapat memperbaiki hubungan dengan Allah adalah: PERTAMA: Tingkatkan TAQWA → “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2–3) وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا (Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar). وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ (Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya). KEDUA: Shalat tepat waktu, dalam surat Taha ayat 132 Allah berfirman: وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَا ۖ لَا نَسۡـَٔلُكَ رِزۡقًا ۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَ ۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ “dan perintahkanlah kepada keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rejeki kepadamu, Kamilah yang memberi rejeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang orang yang bertaqwa” Ayat ini menjelaskan tentang perintah kepada kita semua, sebagai kepala keluarga, untuk mengajak anggota keluarga untuk melaksanakan shalat. Mengajak berarti menjadi contoh, sehingga sebelum mengajak shalat maka kita harus menjadi orang yang menegakkan shalat terlebih dahulu. Mengajak keluarga untuk melaksanakan shalat juga harus dilakukan dengan sabar, tidak boleh bosan apalagi putus asa. KETIGA: Istighfar rutin memiliki hubungan langsung sebagai pembuka pintu rezeki, penurun hujan berkah, serta penambah harta dan keturunan, sebagaimana difirmankan dalam Surah Nuh ayat 10-12. Rutin beristighfar diyakini إِنْ شَاءَ اللَّه membentangkan jalan keluar dari kesempitan, menghilangkan duka, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (10) فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (11) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (12) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Maka aku berkata (kepada mereka), "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu." KEEMPAT, IKHTIAR dan DO’A: Memperbaiki usaha (ikhtiar) wajib untuk dilakukan dalam meraih datangnya rezeki. Ikhtiar tersebut dalam wujud antara lain meningkatkan ilmu pengetahuan dalam mencari rezeki, berusaha dengan sungguh2 jujur dan diikuti dengan senantiasa berdo’a. Karena usaha tanpa berdo’a untuk menyerahkan semua hasilnya sesuai ketetapan taqdir Allah, sikap demikian adalah sombong. Dalam pada itu berdo’a saja tanpa usaha itu namanya ber-angan2 kosong. Sedangkan Ibunda Nabi Isa saja untuk mendapatkan buah kurma dalam keadaan lemah ketika akan melahirkan masih diperintahkan Allah untuk berikhtiar menggoyang pohon kurma, terabadikan dalam surat Maryam ayat 25: وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا "Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”. Sarana meraih rezeki yang KELIMA: Sedekah, meski sedikit. Secara logika sedekah mengurangi harta, tapi secara taqdir bertambah, sesuai firman Allah di Surah Al-Baqarah Ayat 261: مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٢٦١ "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui”. Sarana KE ENAM mengubah taqdir Rezeki; Jaga silaturahmi. Rasulullah ﷺ bersabda: HR Imam Bukhari dan Muslim. مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ("Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya/dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi"). Selanjutnya hendaklah masing2 diri kita mengubah mindset tentang rezeki. Jangan rezeki hanya dimaknai dengan “Uang”, “Harta” dan “Jabatan”. Tetapi juga adalah merupakan rezeki yang tak ternilai adalah: “Kesehatan”, “Ketenangan”, “Pasangan hidup yang setia”, “Ilmu yang bermanfaat” Mari kita tutup artikel ini dengan do’a: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً Allāhumma innī as-aluka ‘ilman nāfi‘an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan. "Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik)". آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 26 Januari 2026. 7 Sya’ban 1447H.

Wednesday, 21 January 2026

BERTANGGUNG JAWAB ATAS PILIHAN

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.388.05.01-2026 Kita hidup ke dunia ini sejatinya bukanlah pilihan kita, tak seorangpun merasa mendaftar untuk hidup ke dunia ini, tidak pula pernah memilih terlahir sebagai bangsa apa, tidak pula dapat memilih siapa ibu dan ayah kita orang tua yang menyebabkan kita datang ke dunia ini. Apakah terlahir dari ortu bangsawan, ortu pejabat, ortu yang kaya atau miskin. Semua itu ditentukan oleh Allah, dalam bahasa agama merupakan “taqdir azali”, yaitu takdir yang ditulis dalam lauhil mahfudz 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Takdir azali ini adalah takdir yang merupakan takdir utama yang pasti terjadi bagi semua mahkluk. Allah berfirman: أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. (Al-Hajj ayat 70) Nabi Muhammad ﷺ bersabda: كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ، قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ، بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ “Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. “Beliau bersabda, “Dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air.” (HR. Muslim) Ada empat jenis taqdir, sedangkan yang tiga lainnya ialah: takdir “umri”, takdir “sanawi” dan takdir “yaumi”. tidak dibahas pada artikel nomor ini, إِنْ شَاءَ اللَّه dikesempatan yang akan datang. Kendatipun semua yang akan dialami seorang anak manusia sudah ditentukan taqdirnya, namun manusia dalam hidup ini penuh di hadapkan dengan pilihan. Justru kerena taqdir yang akan terjadi tak seorangpun mengetahui, maka untuk menuju ke taqdir itu, ke hati masing2 diri digerakkan Allah untuk memilih. Mulai di usia tertentu dalam kehidupan ini, manusia harus melakukan pilihan. Tahapan setiap individu mulai bisa memilih dapat disusun sbb: Pertama, Pilihan anak Usia 3–5 tahun: Anak sudah bisa memilih hal sederhana, di usia 3 – 5 tahun misalnya:  Memilih warna baju, anak2 diusia 3-5 tahun, sudah dapat mementukan pilihannya mengenai warna baju yang dia suka. Ada seorang anak yang senang sekali dengan baju merah kotak2. Bila dibawa ke toko pakaian, disuruh memilih, maka dia langsung mencari baju bermotif kotak2 merah bergaris putih, misalnya.  Jenis kue kesenangan anak diusia 3 – 5 tahun, ada yang sangat doyan marie regal dan spekuk. Sedangkan makanan utama, menu makanan tidak mau mengulang. Bila makan pagi dengan menu sop daging sapi, siang hanya semangat makan kalau diubah dengan menu ikan laut, begitu juga sore nanti harus ganti menu lagi, bibirnya akan dikatupkannya ketika makan sore, kalau disuapi sop daging atau menu ikan laut lagi.  Adapun mainan, anak laki2 wajar kalau pilihannya main mobil-mobilan bukan boneka. Sementara itu anak2 perempuan biasanya suka boneka ketimbang mobil2an atau kereta2 apian. Hendaklah sebagai ayah bundanya, juga punya pilihan untuk mengalah atas pilihan anak mereka tersebut, sepanjang pilihannya tidak ekstrim menyulitkan. Andaikan kesulitan untuk memenuhinya seharusnyalah Ortu memilih tetap mengarahkan. Kedua, pilihan ketika anak Usia 6–9 tahun: Mulai bisa memilih dengan alasan sederhana, seperti:  Pilihan teman bermain, anak usia 6 – 9 tahun sudah mulai masuk sekolah dasar, di sekolah dianya sudah mulai memilih teman yang menurutnya cocok dengan dirinya, mungkin bermula dari tempat tinggal yang searah perjalanan dari rumah ke sekolah. Berikutnya ybs mulai selektif memilih teman, yaitu teman akrab yang menurutnya se irama dengan dirinya dalam berbagai hal.  Pilihan hobi di usia 6 – 9 tahun ini si anak sudah mulai terlihat, misalnya olah raga yang disenanginya, tontonan acara TV yang disukainya, tempat rekreasi yang digemarinya, dlsb.  Pilihan menu favorit, mulai nampak pilihan menu yang di sukai tiap anak, tak jarang dua anak saudara kandung berbeda pilihan menu makanan favoritnya. Ada anak yang sangat gemar makan mei goreng, suatu hari yang tersedia hanya mie rebus, katanya “ndak apa2 mie rebus kan juga bisa digoreng”. Ketiga, pilihan anak di Usia 10–12 tahun Sudah bisa mempertimbangkan konsekuensi ringan, misalnya:  Pilihan ikut les atau tidak. Jenis les yang diikuti termasuk les bukan bidang pelajaran, misalnya Les Piano, les bela diri dlsbnya.  Pilihan mengatur waktu belajar dan bermain, disini juga harus dibantu ORTU untuk mengarahkan. Keempat, pilihan anak remaja (13 tahun keatas) Mampu membuat keputusan lebih mandiri:  Pilihan Gaya berpakaian, ORTU harus ikut mengarahkan, jika tidak bukan mustahil anak2 diusia 13 tahun keatas kemasukan pengaruh yang tak sejalan dengan prinsip2 yang dianut ORTU mereka.  Pilihan Pergaulan, ORTU harus memantau dengan siapa anak2 mereka bergaul, tidak salah ORTU secara diam2 “mengintelijeni” isi tas anak2nya agar anak2 tidak terjebak ke pergaulan obat2 terlarang dllnya.  Pilihan Tujuan belajar, kadang di usia ini anak2 sudah mulai hampir mantap cita2 nya angin berprofesi sebagai apa, walau masih bisa berubah. Sebagai ORTU sebaiknya dalam hal ini mengarahkan, tetapi tidak memaksakan. Berangsur-angsur setiap individu semakin tambah usianya menjelang sebagai orang dewasa makin berkembang kemampuannya untuk memilih yang terbaik untuk dirinya, setelah diusia diatas 20 han termasuk menentukan pilihan siapa yang tepat untuk pasangan hidupnya. Berlanjut setelah berkeluarga, kemampuan memilih hal2 yang terbaik untuk keluarganya. Terdapat sepuluh tanda utama sesorang telah mencapai “kematangan jiwa” yaitu: 1. Mengenal diri, telah ditulis pada artikel yang lalu No: 1.387.04.01-2026 dengan judul “Mengenal DIRI, 10% MEMATANGKAN Jiwa”. Terbatasnya ruang tulis di kesempatan ini kita tinjau tanda “Kematangan Jiwa” yang ke 2. “Bertanggung jawab atas Pilihan”. Al-Qur'an menegaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab penuh atas pilihan dan perbuatannya sendiri, Surat Al-Muddatstsir Ayat 38: كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”. Selanjutnya dalam hidup ini, utamanya bagi orang yang sudah Mukallaf; yaitu orang yang telah dibebani kewajiban syariat agama karena telah baligh (dewasa) dan berakal sehat, sehingga bertanggung jawab penuh atas apa yang telah dipilihnya . Lihat peringatan Allah dalam surat al-An’am ayat 164: قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍۗ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ ١٦٤ “Katakanlah (Muhammad), “Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.” Ya Allah berikan petunjuk kepada kami dalam menentukan pilihan apapun dalam menjalani hiudup ini agar tetap dalam keredhaan-Mu. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 21 Januari 2026. 3 Sya’ban 1447H.

Saturday, 17 January 2026

Mengenal DIRI, 10% MEMATANGKAN Jiwa.

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.387.04.01-2026 Artikelku yang lalu nomor 1.286.03.01-2026 kutulis dibawah judul “REKAYASA-DIRI” dikaitkan dengan “KE-TUA-AN”, dimana disinggung bahwa di usia tua atau sering dikenal dengan “Manula” atau “Lansia”, fisik dan jiwa seseorang sangat terpengaruh. Perihal pengaruh fisik dikala tua menyangkut perubahan 9 hal, sudah kuketengahkan di artikel yang lalu itu. Dalam kesempatan ini mari kita tengok kondisi usia TUA mempengaruhi jiwa seseorang. Biasanya bertambah tua jiwa seseorang bertambah matang. Sepuluh tanda utamanya sesorang telah mencapai “kematangan jiwa” yaitu: 1. Mengenal diri, 2. Bertanggung jawab atas pilihan, 3. Emosi lebih stabil, 4. Mampu menerima kenyataan, 5. Penuh empati dan pengertian, 6. Tak haus Validasi, 7. Bisa berkata “tidak” tanpa rasa bersalah berlebihan, 8. Fokus pada solusi, bukan drama, 9. Memaafkan, berusaha untuk tidak dizalimi kembali, 10. Hidup selaras dengan nilai. Pada umumnya, atau semestinya, semakin tua seseorang maka semakin tumbuh kematangan jiwanya. Walaupun dalam banyak keadaan soal usia bukan faktor satu2 nya menjadikan jiwa manusia matang, melainkan juga dipengaruhi dari strata pendidikan, banyaknya pengalaman, dan pengelolaan diri. Jiwa yang matang adalah kondisi kedewasaan bathin seseorang meliputi cara berpikir, kepekaan merasakan yang dirasakan orang lain, bersikap stabil serta bijaksana dalam menghadapi hidup. Indikator “jiwa yang sudah matang” biasanya terlihat dari cara seseorang bersikap, berpikir, dan merespons kehidupan. Terbatas ruang tulis, maka ijinkan di nomor ini hanya berbicara tentang “Kematangan Jiwa” dikaitkan “MENGENAL DIRI SENDIRI”. Karena ada 10 tanda kematangan jiwa seseorang, sedangkan yang dibicarakan hanya 1 diantaranya, berarti “Mengenal diri” barulah merupakan 10% dari kematangan jiwa. Mengenal diri sendiri dalam mencapai kematangan jiwa berarti yang bersangkutan: • Mengetahui kelebihan dirinya, • sekaligus menyadari kekurangan dirinya sendiri, • mengerti betul nilai2 kehidupan, dan • tau diri bahwa dirinya memiliki keterbatasan. Individu yang “matang jiwanya”, karena sudah kenal akan dirinya maka orang tersebut: • Tidak sibuk membuktikan kehebatan dirinya pada semua orang. Tanpa pembuktianpun orang sudah tau kelebihan dirinya. Justru dianya makin merasa kecil, karena orang belum tau banyak tentang kekurangan dirinya. Dianya merasakan apabila orang mengetahui kekurangan dirinya, maka tak seorangpun respek kepadanya. • Tidak sibuk mempromosikan dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya sengaja pamer secara tidak langsung dengan berbicara pakai HP agar didengar orang lain sekitarnya bahwa dirinya diundang memberikan ceramah dimana-mana, supaya orang sekitarnya tau bahwa dia sebagai penceramah yang sudah banyak dikenal orang. • Tidak sibuk meninggikan diri, bahwa dirinya berilmu. Misalnya dalam percakapan; “Apakah bapak mengenai si fulan”, orang yang belum matang jiwanya lalu menjawab “ooohhh dia adalah murid saya”, walaupun benar si fulan itu muridnya jika dia sudah matang jiwanya akan menjawab “si fulan itu kolega saya, dia pernah bersama saya di ………”. Korelasi antara mengenal diri dan mengenal Allah berakar kuat dalam ajaran agama Islam, terdapat ungkapan sebagai renungan para pemuka agama "Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya" (Man 'arafa nafsahu arafa rabbahu). Dengan menyadari kelemahan dan keterbatasan diri, seseorang akan melihat keagungan dan kekuasaan Allah sebagai Sang Pencipta. Renungan spiritual dari ungkapan tersebut sangat kuat dalam membimbing seseorang untuk mendalami ke-Esa-an Allah melalui perenungan diri dan alam semesta. Pemahaman diri sendiri adalah jalan kunci menuju pengenalan terhadap Allah. Surat Fussilat Ayat 53 سَنُرِيهِمْ ءَايَٰتِنَا فِى ٱلْءَافَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu”? Seseorang yang telah berhasil merenungkan kebesaran Allah melalui mengenal dirinya sendiri dan alam semesta ini, merupakan jalan untuk “kematangan jiwa”. Dapat dikemukakan contoh mengenal diri sendiri, antara lain dengan merenungkan keadaan diri mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kuku. Betapa rambut di kepala, kumis dan janggut (bagi lelaki) dapat lebat dan panjang bila tidak dipotong, sedangkan alis tak betambah panjang. Demikian pula kuku bagian yang memanjang, walau si kuku masih berhubungan dengan tubuh dipotong tidak sakit. Gigi sudah pada ukurannya tertentu tidak memanjang lagi, bayangkan kalau gigi terus menurus memanjang. Begitu banyak renungan akan diri yang lainnya, semuanya akan menjadikan diri mengenal Allah yang Maha Sempurna dalam menciptakan diri kita. Belum lagi jika merenungkan kejadian alam sekitar kita, makin sadarlah dirinya akan kebesaran Allah. Setelah berhasil mengenal diri sendiri, untuk menuju kematangan jiwa masih diperlukan 9 syarat lagi, agar jiwa benar2 menjadi matang. Yaa Allah jadikanlah kami hamba2mu yang mempunyai “jiwa yang matang dan tenang” sehingga dapat mencapai seperti yang Engkau sebutkan dalam Al-Qur’an: يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ”Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr ayat 27-30) آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 18 Januari 2026. 29 Rajab 1447H

Saturday, 10 January 2026

REKAYASA-DIRI

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.386.03.01-2026 Ada memang orang yang awet muda, penampakannya lebih muda dari usianya dikenal istilah “baby face”. Oleh karena itu maka ciri-ciri fisik orang yang sudah menua (lanjut usia) berbeda-beda pada tiap individu, secara umum “KETUAAN” nampak pengaruhnya pada keadaan lahir dan kejiwaaan. Di artikel yang singkat ini dibatasi tinjauan pada penuaan secara lahir di sekujur tubuh yaitu pada 9 hal : 1. KULIT, 2. RAMBUT, 3. GIGI, 4. WAJAH, 5. POSTUR TUBUH, 6. PENGLIHATAN, 7.PENDENGARAN, 8. GERAKAN, dan 9. KEKUATAN. 1. PENUAAN Kulit: Kulit mulai keriput dan garis halus semakin jelas. Secara umum di Usia 20–25 tahun - produksi kolagen mulai menurun pelan-pelan. Keriput belum terlihat, tapi proses penuaan sudah dimulai. Di Usia 30-an; garis halus mulai muncul, terutama di sekitar mata dan mulut. Pada Usia 40–50 tahun; keriput makin jelas karena elastisitas dan kelembapan kulit berkurang. Fase berikutnya masuk Usia 60 tahun ke atas; kulit tampak lebih tipis, kering, dan keriput lebih dalam. Kasus ini yang biasanya disebut “kulit orang tua”. Namun, waktu munculnya keriput bisa berbeda-beda, sangat ditentukan: Paparan sinar matahari, Kebiasaan merokok, Pola makan & hidrasi, Perawatan kulit, Faktor genetic, aktivitas atau bidang pekerjaan. 2. PENUAAN Rambut: Uban disebabkan sel melanosit di folikel rambut berhenti memproduksi melanin, pigmen pemberi warna rambut. Ras Asia dan Afrika umumnya mulai pada usia 30–40 tahun mulai tumbuh uban, tapi ini sangat bervariasi tergantung beberapa factor; Genetik, jika Ortu beruban diusia muda, ada harapan anak2 mereka akan cenderung ikutan. Stres berat berkepanjangan bisa mempercepat munculnya uban. Kurang nutrisi terutama vitamin B12, tembaga dan protein. Kondisi medis tertentu, misalnya gangguan tiroid, autoimun. Gaya hidup, perokok konon meningkatkan uban dini. Kenyataan seorang teman masuk usia 70 an belum beruban, yang bersangkutan mengamalkan setiap sesudah makan (makan tanpa sendok-garpu), sesudah cuci tangan dia mengeringkan tangannya tidak menggunakan tisu atau serbet, tapi tangannya langsung di usap2kannya ke rambut. Padahal ybs perokok, memang ybs agaknya tidak stresan sebab gemar bercanda, satu lagi temanku ini factor genetic yang mendukung, ayahnya juga sampai tua tidak beruban. Ayahnyapun mengamalkan usapkan tangan kerambut sesudah makan. والله أعلم بالصواب, Bagi MANULA yang masih ingin berpenampilan keren kadang merekayasa rambutnya supaya tetap hitam dengan menambahkan “Semir” 3. GANGGUAN Gigi: Generasi yg lahir belakangan sekitar tahun tujuhpuluhan ke atas, mungkin gangguan gigi mereka agak lama munculnya bisa jadi setelah umur 40 – 50 tahun, karena perawatan kesehatan gigi mulai era tujuhpuluhan ke atas sudah membaik. Kami2 yang teralahir tahun 40 – 50 an kadang masih SR saja sudah banyak yang giginya berlubang, lantas solusinya waktu itu bukan di tambal, langsung di cabut. Namun dalam keadaan normal, perawatan gigi sudah baik-pun, usia tua tak terbantahkan. Di usia 40 – 50 tahun mulai sering muncul: gigi sensitif, gusi turun, karang gigi menumpuk. Usia 60 tahun ke atas lebih berisiko mengalami: gigi tanggal, gigi rapuh, gusi menyusut (periodontitis), mulut kering (karena obat-obatan), infeksi gigi dan gusi. Bila gigi2 sudah banyak yang copot, Sebagian LANSIA merekayasa penampilan dengan memasang “GIGI PALSU”. Kisah seorang teman seperjalanan. Tadinya ceria, murah tawa,……. tiba2 dalam perjalanan kami suatu hari dari perjalanan sepuluh hari, di hari kedelapan dianya tak banyak cerita, sama sekali tak pernah ketawa. usut punya usut di perjalanan dalam bis hari itu, dianya lupa, gigi palsunya ketinggalan di kamar hotel. 4. PENUAAN Wajah: Sidang pembaca; bahwa saban hari kita bercermin, sesunguhnya wajah kita kemarin tak sama lagi dengan wajah kita hari ini, sudah berubah. Tapi karena perubahan itu sangat sedikit kita tidak merasakannya, tau2 setelah usia 30 an tahun garis halus mulai muncul (terutama di sekitar mata dan mulut), karena kulit mulai kehilangan kelembapan. Pori-pori bisa tampak lebih besar. Wajah mulai terlihat lebih “lelah” dibanding usia 20-an. Pada usia 40-an tahun; Kerutan lebih jelas. Kulit mulai mengendur. Perubahan bentuk wajah karena berkurangnya lemak dan elastisitas kulit. Flek hitam atau hiperpigmentasi lebih sering muncul. Nah di usia 50 tahun ke atas; Kulit makin tipis dan kendur, kerutan bertambah dalam. Pipi dan rahang lebih turun. Perubahan sangat terlihat dibanding usia muda. Pipi dan otot wajah mengendur. Diikuti kelopak mata turun. Kerutan di dahi, sekitar mata, dan mulut. Bukan karena menolak tua, ada juga lansia yang memilih operasi plastik agar penampilan tetap seperti muda, mundur sepuluh atau lima belas tahun lalu. Akan tetapi tetap tidak dapat seperti semula. Pernah kami alami di suatu rumah sakit, sambil duduk menunggu giliran dipanggil ke ruang dokter, seseorang lansia berbisik mengisahkan kesuksesan dirinya menjalani operasi plastik pada wajahnya, lalu menganjurkan juga melaksanakan seperti yang dia lakukan. Sejurus kemudian namanya dipanggil untuk masuk ke ruang dokter, ketika melangkah, nampaklah aslinya bahwa wajah dapat di rekayasa tetapi “Penuaan Postur tubuh” sudah agak membungkuk, “Gerak dan Kekuatan”, berjalan sudah melambat – terseok seok, keseimbangan sepertinya telah terganggu. 5. PENUAAN Postur dan tubuh: Tinggi badan bisa sedikit berkurang, kualami sendiri bahwa di usiaku ke tujuhpuluh lima tinggi badanku sudah berkurang 1,5 cm. Berjalan sudah diusahakan untuk tegak, namun harus agak membungkuk, penyebabnya massa otot menurun dan kondisi sudah melemah. Rata-rata, seseorang bisa kehilangan sekitar 1–2 cm per dekade setelah usia 40 tahun, dan bisa lebih banyak jika ada osteoporosis. Otot-otot penyangga tulang melemah dan tulang bisa mengalami perubahan bentuk, menyebabkan badan cenderung membungkuk (kifosis). 6. GANGUAN Penglihatan: Banyak dialami orang usia lanjut Penglihatan menurun (rabun dekat/jauh) Mata tampak lebih redup atau berair. Jadinya seperti agak sombong, orang berjarak 5 meter saja, ada lansia yang tak dapat menyapa dengan menyebut namanya. 7. GANGGUAN Pendengaran: Sering terjadi peristiwa lucu di rumah tangga nenek – kakek, tak jarang mereka berbicara “berpapasan”. Si kakek dan si nenek ngomongnya ndak nyambung. 8. GANGGUAN Gerak bagi MANULA: Tak jarang kita melihat orang2 lanjut usia sudah duduk di kursi roda, karena terbatas dapat menggerakkan anggota tubuh di bagian kaki. Antara lain disebabkan penurunan kekuatan otot (sarcopenia) Otot kaki jadi lemah → sulit berdiri, berjalan, atau mengangkat kaki. 9. BERKURANGNYA Kekuatan. Dengan berkurangnya kekuatan gerakan menjadi lebih lambat, mengangkat barang yang ringan semasa muda dulu, setelah tua menjadi tidak mampu, jika dipaksakan, nanti malamnya akan terasa nyeri dibagian otot yang dipergunakan. Keseimbangan menurun, oleh karena itu lansia berjalan sering dibantu tongkat. Allah sebagai pencipta manusia telah menginformasikan dalam Al-Qur’an bahwa tahap2 kehidupan manusia itu seperti ayat2 yang dikutip dibawah ini: “……………. وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔاۗ …….” “……Di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) yang dikembalikan ke umur yang sangat tua sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya (pikun)…..”. (Al-Hajj ayat 5) اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةًۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ ۝٥٤ “Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa”. (Ar-Rum 54) وَمَن نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى ٱلْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (Yasin ayat 68) Dari tiga ayat yang di kutip diatas, insyaflah kita bahwa hidup kita ini semula tidak berdaya (masa bayi – termasuk balita), tumbuh menjadi kuat (remaja dan dewasa) dan lemah kembali (setelah tua), ektrimnya sampai tak mengetahui apapun yang pernah diketahui. Yaa Allah berikan kepada kami usia yang tetap dapat mengabdi kepada-Mu dan bermanfaat untuk sesama manusia. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 11 Januari 2026. 22 Rajab 1447H

Tuesday, 6 January 2026

Tak percaya IJAZAH Ayah

Disuguhkan: M. Syarif Arbi No: 1.385.02.01-2026 ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ Di era kami yang terlahir dibawah tahun limapuluhan, utamanya di tanah kelahiranku, kami belum dikenalkan dengan “Taman Kanak-Kanak”, apa lagi yang sekarang disebut dengan “PAUD”. Walaupun di Yogyakarta pada tahun 1919 telah berdiri semacam “Taman kanak-kanak”, dengan nama “Bustanul Athfal” oleh persatuan wanita Aisyiah, rintisan Nyai Ahmad Dahlan. Makanya diriku termasuk yang belum pernah duduk di kursi “Taman Kanak-Kanak”, apalagi yang disebut “PAUD”. Diriku langsung masuk “Sekolah Rakyat” disingkat “SR”, diusia 6 tahun. Di era kami kelahiran lebih tiga perempat abad yang lalu itu, jarang sekali orang tua mencatat hari dan tanggal kelahiran anaknya, sehingga susah menetapkan anak sudah layak atau belum masuk SR diumur 6 tahun. Penanda kelahiran seseorang umumnya dikaitkan dengan peristiwa tertentu, atau penanaman pohon. Jalan keluarnya waktu itu, entah formula itu didasarkan teori siapa, ku tak tau, ……. anak yang mendaftar sekolah “SR” disuruh memegang kupingnya dengan tangan melalui tengah kepala. Misalnya tangan kiri, harus memegang kuping kanannya dimana tangan kiri itu harus melalui tengah kepala, atau sebaliknya, tangan kanan memegang kuping kiri juga melalui tengah kepala. Bagi yang belum berhasil, ditolak tahun itu untuk masuk “SR”, dianggap belum cukup umur. Giliran anak-anak ku mereka mulai sekolah di “TK”, apapun peristiwa yang dialaminya di TK, mereka tidak pernah bercerita kepadaku, termasuk anak sulungku melapor hanya kepada ibunya. “Besok saya tak mau sekolah lagi”, katanya suatu hari sepulang sekolah. Usut punya usut rupanya dianya tak mau sekolah karena ibu gurunya dinilainya suka marah2. Ketika ditanya oleh bundanya, apa Udi dimarahi? jawabnya “tidak”. Apa ada teman2 lain yang dimarahi?, jawabnya juga “tidak”. Bundanya bertanya lanjut “Lalu siapa” yang dimarahinya, anak sulungku menjawab “tidak ada siapapun yang dimarahi, tapi ibu itu terlihat selalu marah”. Dari mana Udi tau kalau ibu guru itu marah? tanya bundanya. Jawabnya “Mata ibu itu selalu terbuka lebar”. Pahamlah ibundanya bahwa si sulung menjendralisir bahwa orang marah matanya lebar, maka setiap orang yang matanya terbuka lebar berarti marah. Setelah dijelaskan seperlunya, si sulung mau sekolah bersama adiknya diantarkan bundanya. Setiba di sekolah TK, ibu yang bermata lebar itu justru dengan ramah memapak kedatangan murid2nya, termasuk si sulung dengan si bungsu. Anak bungsu kami, setiap ada hal-hal yang perlu ditanyakannya tentang sekolah sejak mulai TK sampai ketika SD kelas 2, dianya berkonsultasi hanya dengan bundanya, tidak mau bertanya kepada ayahnya. Kalau si sulung berkesimpulan setiap orang yang matanya lebar, orang itu sedang marah. Lain lagi si bungsu; dia berkesimpulan ayahnya tidak pernah sekolah. Hal itu diketahui, ketika bundanya bertanya, “kenapa tidak bertanya tentang sekolah kepada ayah?”, dia menjawab “ayah- kan tak pernah sekolah”. Singkat kisah dia berkesimpulan ayahnya tak pernah sekolah lantaran ketika itu perawakanku besar, berat badan 84 kg. Sedang kursi tempat duduk di TK dirancang hanya muat untuk diduduki anak2 sebaya anak TK, si bungsu berkesimpulan mana mungkin ayah bisa muat duduk di kursi sekolahan yang rendah dan kecil itu, jadi ayah tak mungkin pernah sekolah. Si bunda berusaha menyakinkan si bungsu bahwa ayahnya pernah sekolah, membuka berkas arsip sang ayah. Menunjukkan ijazah SR si ayah, si bungsu tak yakin dokumen itu punya ayah, karena ijazah SR waktu itu belum pakai foto (maklum zaman ku tamat SR foto termasuk barang mewah). Bunda menunjukkan Ijazah SMP si ayah, itupun si bungsu tetap tidak yakin, karena fotonya rambutnya sebelah kiri jabrik seperti pakai antena, mukanya oval cenderung lancip jauh beda dengan ayah yang sekarang, (relative ganteng). Demikian pula ketika ditunjukkan ijazah SMA; sanggahannya “kenapa lain foto SMP dengan foto SMA dan foto ayah sekarang”. Bundanya menjelaskan perubahan wajah2 orang sejalan dengan usia. Lalu si bungsu bilang sama bundanya minta bukti lain. Kalau benar2 ayah pernah sekolah, coba panggilkan saksi2 teman-teman sekolah ayah. “Kami punya teman2 sekelas, teman2 sekelas ayah mana?”. Bundanya tidak dapat mengumpulkan teman sekolah ayahanda si bocah, misalnya ngajak reuni teman2 ayah (seperti akhir2 ini sering ada reuni, lalu bersaksi pernah sebangku, kalau ulangan medit ndak mau kasih contekan, dll sbgnya; waktu itu reuni belum musim). Anak2 kami masuk TK dan SD sampai kelas 3, kami sedang berdinas di kota yang jauh dengan kota kelahiran si ayah tempat si ayah bersekolah SR, SMP dan SMA. Oleh karena itu tentu saja belum dapat dibuktikan kepada si bungsu ketika itu. Misalnya menunjukkan dimana Gedung rumah sekolah ayah, bila perlu bertamu kerumah teman2 ayah se sekolahan. Iyaa sudah, …….. tak masalah,…….. yang TAK PERCAYA si ayah pernah sekolah, memiliki ijazah SR, SMP dan SMA, ASLI, hanya anak sendiri, tak apalah. YANG TAK PERCAYA bukan kantor tempat si ayah bekerja. Sebab kalau kantor si ayah yang tidak percaya, tentu berakibat akan terkena dugaan sebagai penyandang IJAZAH PALSU, dapat diperkarakan dan kalau kemudian ternyata terbukti ijazah palsu digunakan untuk masuk kerja, langsung akan diberhentikan tidak dengan hormat alias di pecat. Mungkin ……. mungkin walaupun sudah pensiun-pun kalau belakangan terbukti ijazah ketika masuk kerja adalah palsu, jangan…. jangan pensiunnya ditarik tak dibayar lagi. Kembali ke kisah anak bungsuku tak percaya aku pernah sekolah. Maklumlah bahwa anak seusia TK dan awal SD belum ada pemikiran logis yang matang, pada tahap ini pemahaman tentang dunia sangat dipengaruhi oleh kesan visual, emosi, dan teladan orang tua/guru. Anak2 belum bisa membedakan antara kenyataan dan fantasi secara utuh, sehingga sering mengimajinasikan dengan keadaan di sekelilingnya. Contoh si bungsu tadi membayangkan mana mungkin ayah bisa duduk di kursi yang biasa dia duduki di sekolahnya, jelas badan ayah tak akan cukup muat dikursi itu. Kursi akan jebol tangannya dan patah kakinya jika diduduki ayahnya. Anak2 ku ketika itu cara berpikirnya masih tahap Praoperasional ( usia 2–7 tahun) yaitu: Berpikir masih egosentris (melihat dari sudut pandang sendiri). Menggunakan simbol (kata, gambar) untuk mewakili benda. Belum mampu berpikir logis secara konsisten. Sebagai ORTU, tentu saja menyikapi anak2 cara berpikirnya masih dalam tahap Praoperasional tersebut harus dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang, sebagaimana yang diberikan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an surat Ali Imran 159: “……………………. فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ “ “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka………..” Anak dibawah 6 tahun belum bisa berpikir abstrak, sehingga membimbing mereka harus dengan suara lembut tanpa bantahan penuh perlakuan baik dan perhatian. Apa yang dilakukan ibundanya adalah tepat, tidak membantah si anak, hanya berusaha meyakinkan anak dengan bukti2 administratif dari berkas pendidikan ayahnya. Walau bukti2 itu tetap saja di tolak, sang anak tidak dimarahi, tidak dibantah, tidak pula mencari pembenaran. Si anak malah dipeluk dengan kasih sayang, sebagai bentuk penghargaan atas pendapat si anak, karena memahami apa yang dipahami anaknya baru sampai sesuai usianya. Demikian sebuah kisah singkat ini, mudah2an ada manfaatnya buat ORTU2 muda yang sedang mengasuh anak2 mereka dalam tahap pertumbuhan usia dibawah 6 tahun. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 6 Januari 2026. 17 Rajab 1447H