Friday, 15 September 2017

KETANAH SUCI ERA DIGITAL



Tahun 1991 pertama kali ku ketanah suci Makkah. ketika itu menjadi jamaah haji belum harus antri seperti sekarang, begitu siap dana dan sehat dapat berangkat.Teknologi komunikasi belum secanggih kini. Jika kangen ke keluarga di tanah air, pergi ke kantor telkomnya Saudi, beli koin. Masukkan koin ke telepon yang tersedia, begitu mengucapkan salam, koinpun masuk ke dalam peralatan telepon dengan cepat dan banyak. Beda dengan sekarang, setiap saat jamaah haji dapat kontak ke keluarga di tanah air.
Rupanya, perlakuan masjid di tanah suci belakangan ini nampaknya juga sudah berubah. Sebelum era digital seseorang tak diperkenankan masuk masjid membawa kamera, membawa HP. Soal kamera, ketika itu, kadang bukan hanya di masjid, malah mulai masuk melalui Imigrasi, ada petugas bandara Saudi yang begitu gemas terhadap kamera. Kamera diminta, selanjutnya dibukanya tempat filmnya kemudian rol film dikeluarkan dan dimasukkan ke tempat sampah, baru kamera dikembalikan ke pemilik. Sedangkan HP seingatku sepuluhan sampai lima tahunan lalu masih dilarang masuk masjid Nabawi dan Majidil Haram. Belakangan tahun 2012-2013 kulihat masalah jamaah membawa HP masuk masjid sudah tidak dipersoalkan lagi.  Kebetulan ketika Ramadhan, di masjidil haram kulihat begitu banyaknya jamaah pengguna kitab Al-Qur’an sehingga di tempat-tempat rak Al-Qur’an dibeberapa ruang di masjid habis dipinjam jamaah. Banyak juga kuliat jamaah yang membaca Al-Qur’an dari aplikasi pada alat elektronik yang ada di tangannya termasuk HP.
MENYOAL  ATM
Sekarang ini, ATM sudah dapat dipergunakan di Mekkah dan Madinah, banyak tersedia Anjungan Tunai Mandiri itu di berbagai tempat yang mudah di jangkau. Ada sedikit mungkin baik untuk diinformasikan kepada jamaah Perihal ATM ini. Waktu itu kami pulang dari Makkah tahun 2007  bersama anggota keluarga termasuk Ibunda Istri saya. Sementara menunggu saat yang tepat masuk bandara di Jeddah, kami mampir di pertokoaan besar di Jeddah “Al-Balad”. Ketika melihat di etalase sebuah toko HP, saya tertarik dengan model suatu HP. Sayapun menawar HP tersebut, setelah harga sepakat, maka saya keluarkan pecahan Real tersesisa dalam dompet dan juga pecahan USD agar si punya toko menggabung kedua mata uang itu untuk harga HP tersebut. Pemilik toko Tanya “Punya ATM”?, tanpa pikir spontan saya keluarkan ATM  suatu bank dari dompet saya. Dengan cekatan ATM tersebut disambar dari tangan saya, pemilik toko masuk keruangan di tokonya itu. Tentu saja kami berdua tertegun, kaget, dengan perlakuan yang tak biasa bila di negeri kita. Saking kagetnya juga berseru “eee tunggu duluuu”, tapi yang bersangkutan tanpa menghiraukan seruan kami langsung masuk ruangan di tokonya itu. Keluar dari ruangan pemilik toko sudah membawa kotak HP yang saya inginkan dan mengembalikan ATM saya berikut struk pembayaran. Sementara Ibundanya istri saya terpisah dari kami rupanya beliau tertarik melihat toko-toko lain dalam Mall tersebut. Lama kami baru ketemu lagi untuk konsolidasi rombongan guna naik bis menuju bandara untuk pulang ke tanah air. Yang mengherankan kami adalah bahwa untuk transaksi tersebut, kami tidak dimintai pemilik toko untuk menanda tangani sesuatu, tidak pula dimintanya untuk memasukkan PIN sebagaimana kalau kita bertransaksi di bank di tanah air. Setelah sampai di Jakarta, saya ke bank untuk mengecek saldo, ternyata rekening saya dikurangi benar, hanya sebesar transaksi HP tersebut dalam konversi Real. Saya lapor ke petugas bank, karena ada kehawatiran saya, kalau begitu bila ATM itu tercecer ditemukan orang lain, maka pemegang ATM dapat saja belanja dengan ATM itu, sebab tanpa harus menyertakan PIN, tanda tangan dan pengecekan identitas.
Demikian informasi yang kami alami, tapi mungkin yang kami alami ini tidak universal sebab orang lain punya pengaman sendiri. Semoga ada manfaatnya untuk berhati-hati  menyimpan kartu ATM anda.

Perlakuan pe-ROKOK terhadap ROKOK



Seseorang tidak begitu saja langsung menjadi perokok, lain dengan makan dan minnum, seorang anak manusia dengan sendirinya perlu akan makan, perlu akan minum, sehingga tanpa belajar langsung berhajad akan makan dan minum, dengan demikian tau dengan sendirinya bagaimana cara makan dan minum.
Merokok harus mulai dari belajar. Belajar berarti perlu media yang mengajari, yaitu lingkungan, pergaulan, termasuk orang tua sendiri. Calon perokok mula-mula belajar dengan mencoba-coba, sehisap dua hisap, dapat berupa numpang rokok teman. Ada juga si yang beruntung tidak lanjut menjadi perokok, karena begitu mencoba lantas batuk, atau pening kepala, atau mual. Dianya yang beruntung ini tidak mau melanjutkan belajar merokok, karena menganggap bahkan membuktikan dirinya tak sesuai dengan rokok itu. Lain lagi dengan yang berlanjut manjadi perokok, mulai merasakan kenikmatan merokok itu, walau semula sedikit akan ada perasaan ndak enak, tapi setelah dipelajari terus terasa ada kinikmatan didalamnya. Sumula merokok secara sembunyi-sembunyi karena untuk membeli rokok perlu anggaran tersendiri, padahal diri belum punya penghasilan, masih menggunakan uang saku dari ORTU. Setelah mampu beli sendiri dengan uang hasil kerja sendiri, kadang orang ini tumbuh jadi perokok berat, sampai suatu saat “harus berhenti” lantaran sesuatu sebab, antara lain kesehatan.
Sebagai seorang yang pernah mengalami, sungguh sulit untuk berhenti, pernah berhenti dalam kurun waktu lebih lima tahun, kemudian kambuh lagi ya lantaran pergaulan dengan para perokok, sering ditawari. Mula-mula menolak, lama-lama ambil untuk dicium, lama-lama mulai membakar hisap sedikit, lantas matikan, lama-lama kambuh lagi. dan kini diusia senja betul-betul telah berhenti, walau tidak berani sesumbar pasti tak kambuh lagi. Sambil berdo’a semoga Allah beri kemampuan untuk tidak kambuh lagi.
Faktor  lingkungan,  pengaruh ORTU perokok sangat dominan. Sebuah penelitian dalam Journal of Adolescent Health menemukan bahwa remaja yang orang tuanya perokok punya kemungkinan dua kali lebih besar untuk mulai merokok di usia 13 tahun. Dalam penelitian ini, tim ahli dari University of Washington di Amerika Serikat mencatat  perkembangan lebih dari 800 remaja sejak mereka berusia 13 tahun sampai mereka berusia 21 tahun.
Penelitian lain dalam American Journal of Public Health juga menggaungkan hasil serupa. Menurut penelitian ini, nyaris 40% remaja yang orang tuanya perokok juga sudah merokok atau paling tidak pernah mencoba rokok pada usia rata-rata 13 tahun.
Lebih lanjut, dalam penelitian oleh Columbia University Medical Center bekerja sama dengan New York State Psychiatric Institute ini disebutkan bahwa mereka yang orang tuanya merokok berpeluang tiga kali lebih besar untuk mencoba paling tidak sebatang rokok di usia remaja. Sedangkan kalau orang tuanya perokok berat, remaja punya peluang dua kali lebih besar untuk mulai merokok tiap hari.
Menurut salah satu peneliti dari tim ahli di University of Washington yaitu Karl Hill, Ph.D., anak akan meniru kebiasaan orang tua merokok, meskipun Anda mungkin sudah mengingatkan mereka berkali-kali untuk tidak merokok sampai usianya mencapai 18 tahun ke atas. Apalagi kalau selama ini Anda sering melibatkan anak dalam kebiasaan Anda, misalnya minta tolong anak ambilkan rokok di tas atau menyalakan api rokok Anda.
Barusan ketika ku jalan-jalan pagi, tiga orang anak kelihatannya setingkat es em pe, pakai seragam, sedang merokok di bawah pohon. Kuhampiri mereka sempat kutanya dimana sekolahnya, mereka tak ragu menjawab. Terlintas difikiran ingin ku photo dalam keadaan mereka merokok. Tapi niat ini kuurungkan, kalau nanti ku muat melengkapi tulisan ini, nanti sekolahnya ndak terima atau ybs. pun bisa saja tak setuju. lantas jadi masalah termasuk kejahatan electronic?
Kita tengok perilaku perokok terhadap rokok adalah:
PERTAMA DICIUM, boleh dikata ungkapan sayang terhadap rokok, karena itu dicium, walau sebenarnya mencium adalah refleksi untuk menikmati aroma yang dikandung rokok, utamanya kretek. Bagi perokok professional dengan mencium dia tau rokok baru atau rokok sudah lama.
KEDUA  DIBAKAR, ternyata setelah disayang rokok disiksa dengan dibakar. Walau sebenarnya maksud membakar ini agar dengan begitu si rokok dapat dinikmati.
KETIGA DIHISAP, ini wujud dari lambang sayang kepada rokok, sebab tak semua jenis barang dihisap seperti rokok, walau gunanya tentu untuk mengeluarkan asap dari hasil pembakaran bahan-bahan rokok. Pengisapan ini sekaligus lambang kekejaman, sudah dibakar dihisap pula sampai akhirnya si rokok menyusut sampai ke puntung.
KEEMPAT DIPENYET ATAU BAHKAN DIINJAK. Itu suatu bentuk habis manis sepah dibuang. Setelah isinya dinikamti, puntungnya di buang dan cara membuangnya begitu gemas, ada yang menekannya dia atas asbak sampai penyet shingga bentuknya jadi rusak/ hancur. Adalagi kita liat para perokok di jalan, setelah rukoknya jadi puntung,  puntungnya di jatuhkan ke tanah dan diinjak dengan kaki dan kakinya di geser-geser dengan gemasnya untuk ditumpas.
Jadi begitulah PERILAKU PEROKOK TERHADAP ROKOK, “disayang, disiksa, dihisap dan akhirnya ditumpas”

Saturday, 2 September 2017

PENYEMBELIH hewan kurban



Tahun 1437 H.  yang lalu pas acara pemotongan hewan kurban di halaman sekolah komplek masjid di dekat kediaman kami, setelah selesai menunaikan tugasnya menyembelih tiga ekor Sapi, langsung Penyembelih pamit pulang. Ketika selesai shalat zuhur diumumkan bahwa penyembelih Sapi korban tadi telah meninggal dunia.   Demikian yang namanya maut tak kenal waktu tak kenal sedang berkegiatan apa.
Tahun 1438 H tahun ini, salah seorang tim penyembelih, ketika mempersiapkan SOP penyembelihan Sapi yang kedua, terpeleset jatuh kebelakang, tertelentang. Pasalnya, setelah menyembelih sapi yang pertama, darahnya tidak seluruhnya masuk ke lobang tersedia yang disalurkan ke got. Simbahan darah yang masih berlepotan di lantai semen dekat lobang penyembelihan, disiram air dan dibersihkan dangan sapu dan keringkan dengan pendorong genangan air. Sebenarnya sudah diyakini semua darah dan air pengguyur darah sudah kering. Rupanya lantai betonan itu masih licin, begitu salah seorang anggota tim penyembelih itu menarik tali mengikat kaki sapi, sedikit saja sapi menggeliat, si anggota tim itupun jatuh terlentang. Untungnya tidak berakibat vatal.
Setiap melihat pemotongan Sapi dalam rangka korban, kusaksikan betapa repotnya menumbangkan Sapi, agar si Sapi terbaring dengan bagian tubuh sebelah kiri terletak di atas tanah. Untuk itu dipergunakan tali mengikat kaki depan dan kaki belakang Sapi, selanjutnya ditarik secara bersamaan beberapa orang tim penyembelih untuk merobohkan Sapi. Kadang ada Sapi yang meronta, mengindar kakinya diikat tali. Timbul pikiranku apa ndak punya teknik lain, mengangkat Sapi kemudian memutar badannya sesuai keperluan yaitu bagian tubuh kirinya menghadap tanah, selanjutnya secara perlahan sapi diturunkan.
Jadinya aku terlintas ingat akan perbandingan teknik penyembelihan sesuai syariat Islam dan penyembelihan Sapi dengan penyembelihan cara Barat. Kusimak penjelasan di suatu siaran TV pas hari raya Idul Adha tahun ini. Di informasikan bahwa telah dilakukan penelitian Universitas terkemuka di Jerman “Hannover University”, Prof.  Dr. Schultz dan koleganya Dr Hazim. ternyata dari hasil Penelitian itu bahwa teknik penyembelihan berdasarkan syariat Islam adalah lebih “tidak menyengsarakan hewan yang dipotong” juga “lebih menjamin kesehatan daging hewan tersebut untuk dikonsumsi manusia”. Untuk mendukung penelitian itu digunakan populasi sekelompok Sapi yang layak potong. Sapi-sapi tersebut dipasang semacam alat untuk memantau rasa sakit dan merekam aktivitas jantung saat darah keluar. Sapi objek penilitian dibiarkan melekat dua alat pantau tersebut ditubuhnya selama berminggu-minggu sebelum disembelih, guna memperkecil kesalahan penelitian.
Perbandingan antara penyembelihan syariat Islam dan Barat sebagai berikut:
Pertama. Penyembelihan secara Islam, pada 3 detik pertama setelah hewan disembelih, hewan tidak merasakan sakit, karena menggunakan pisau yang sangat tajam dan cepat. Penyembelihan cara Barat, Sapi terlebih dahulu dipingsankan (stunning), begitu disembelih darah hewan tidak keluar sebanyak kalau disembelih secara Islam.
Kedua. Penyembelihan secara Islam 3 detik berikutnya otak kecil hewan merekam sangat mirip dengan kejadian tidur nyenyak, sehingga hewan benar-benar sudah kehilangan kesadarannya. Pada saat itu jantung meningkat aktivitasnya. Pada teknik Barat dengan pemingsanan tekanan rasa sakit hewan begitu kuat karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsang.
Ketiga. Penyembelihan secara Islam, setelah enam detik pertama, jantung hewan beraktivitas luar biasa untuk menarik sebanyak mungkin darah dari anggota tubuh memompanya keluar. Sementara si hewan tersembelih tidak merasakan sama sekali kesakitan. Sedangkan dengan cara Barat yaitu dengan pemingsanan, alat yang dipasang pada jantung mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa, sehingga jantung berhenti mendadak lebih awal, akibatnya jantung kehilangan kemampuannya menarik darah dari seluruh organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompa keluar darah dari seluruh tubuh hewan.
Keempat. Penyembelihan secara Islam,  kerena darah terpompa oleh jantung secara maksimal dari tubuh hewan, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi manusia. Sedangkan penyembelihan cara Barat dengan teknik pemingsanan, seperti disebutkan di alasan ke tiga, bahwa jantung terhenti mendadak lebih awal dan darah tidak maksimal terkeluarkan dari tubuh hewan dengan demikian daging hewan menjadi unhealthy meat (daging yang tidak sehat).
Lebih jauh dijelaskan atas dasar Penelitian Prof. Schultz dan Dr Hazim ini, bahwa hewan yang meronta-ronta setelah disembelih bukan ekspresi rasa sakit tetapi merupakan “Keterkejutan otot saraf” ketika darah mengalir deras. Pembuktian ini dilakukan bukan atas dasar dugaan atau apa yang dilihat tetapi atas dasar rekaman dari alat yang dipasang pada otak dan jantung hewan tersebut.
Maha suci Allah, bahwa belum tentu apa yang kita lihat itu benar, tetapi Allah memberikan petunjuk kepada kita, DIA lebih mengetahui. Petunjuk penyembelihan oleh Rasulullah Muhammad s.a.w. yang notabine belum mengenai ilmu jantung dan ilmu otak yang merekam rasa sakit. Tentulah ini atas panduan dari Allah swt yang menciptakan alam ini.
Demikian, informasi Idul Adha tahun 1438 H. semoga semakin mantab iman kita kepada ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad. Karena semakin maju peradaban manusia semakin tinggi ilmu pengetahuan manusia maka manusia semakin dapat membuktikan keberanan syariat Islam.
Wain yakun shawaban faminallah. wain yakun khatha an faminni wa minasyaithan. Wallahu warasuluhu barii ani minhu.  (Dan sekiranya benar, maka itu datangnya dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti itu datangnya dari diriku sendiri (yang lemah ini) dan dari syathan. Mohon maaf oleh karenanya.
Wallahu ‘alam bishawab.



Saturday, 5 August 2017

Iman dari ZAMAN ke JAMAN



Sejak semula risalah iman dibawa para Nabi dan Rasul dari Zaman ke Jaman, beberapa sikap dari ummat manusia pada era zamannya masing-masing. Sikap tersebut barangkali sekurangnya dapat dibedakan menjadi 6 (enam) yaitu:
1.      Menerima risalah iman.
2.      Menolak/mendustakan risalah iman.
3.      Hati menerima risalah iman, mulut enggan menyatakan iman.
4.      Terombang-ambing menentukan pilihan.
5.      Berpura-pura menerima risalah iman, hati tetap menolak dan mendustakan,
6.      Iman berfluktuasi turun naik.
PERTAMA; Menerima serta membenarkan dengan sungguh-sungguh risalah iman yang dibawa Nabi dan Rasul. Kelompok ini langsung mengimani apa yang dibawa oleh Nabi dan Rasul tanpa ragu-ragu. Bukan saja hanya sekedar mengimani, selanjutnya merekapun memperjuangkan risalah keimanan yang diterimanya itu dengan jiwa dan raganya. Dalam agama Islam terukir sejarah kelompok ini di refleksikan oleh Abu Bakar. Oleh karena itulah beliau mendapat julukan Abu Bakar Siddiq, lantaran menerima dan membenarkan seluruh risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. Kelompok ini seperti dilukiskan akhir surat Al-Baqarah ayat 285 “wa qaluu sami’naa wa atha’naa” (dan kami dengar dan kami taat).
KEDUA; Menolak, mendustakan. Kelompok ini ditandai dengan sikap mereka menolak apa saja yang dibawa Nabi dan Rasul, mereka mendustakan. Tidak hanya menolak dan mendustakan bahkan merekapun menghalang-halangi dakwah Nabi/Rasul serta pengikutnya. Juga mereka mencegah siapa saja dibawah kekuasaannya untuk bergabung ke kelompok Pertama. Tidak sedikit orang-orang yang tergerak hatinya mengimani risalah Rasulullah Muhammad s.a.w. karena mereka dalam kekuasaan kelompok ke dua ini sebagai budak, disiksa diantaranya sampai ada yang menemui ajalnya. Untuk kelompok ini dalam sejarah Perkembangan agama Islam terwakili figur-figur diantaranya Abu Jahal, Abu Sofyan (sebelum masuk Islam). Allah mengisyaratkan dalam surat Al-Baqarah ayat 6. “Innallaziina kafaru sawaaaa ‘un ‘alaihim a anzarthahum am lam tunzir-hum laa yu’minuun” (Sesungguhnya orang-orang  kafir itu sama saja bagi engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman).
KETIGA; Hati menerima, Mulut belum berikrar. bersimpati tapi karena pertimbangan Lingkungan, pertimbangan keluarga besar, tak hendak nanti kalau mengimani seruan Rasul akan dikucilkan dari komonitas, akan terjungkal dari kedudukan. Diantara kelompok ini adalah paman nabi Muhammad sendiri yang sangat melindungi dan menyayangi Nabi,  Abu Thalib sampai menghembuskan nafas terakhir enggan berucap akan keimanan atas risalah yang dibawa kemenakannya. Memang kehadiran para Nabi dan Rasul hanya bertugas menyampaikan risalah iman kepada ummat, tidak bertanggung jawab sampai orang menerima iman itu.  Seperti yang dijelaskan Allah dalam surat Al-Baqarah 272. “Laisa ‘alaika hudaahum wa laakinnallaha yahdii may yasyaaa’ “ (Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan ditegaskan lagi di surat Ar Ra’d. ayat 40 “Innamaa ‘alaikum balaaghu, wa ‘alainal hisaab” (Sesungguhnya tugasmu (Muhammad) hanya menyampaikan saja dan Kami-lah yang memperhitungkan (amal mereka). Jadi informasi ini, dapat mengobati bagi pembaca yang mungkin mempunyai anak keturunan, saudara, sahabat dekat atau mungkin orang tua yang kebetulan belum dapat diajak seakidah dengan anda, belum dapat di bawa sama-sama beribadah bersama anda, tidaklah patut kecewa amat, sepanjang sudah berikhtiar. Sebab para Nabi dan Rasul saja ada anaknya, istrinya orang tuanya tak dapat dibawanya beriman.
KEEMPAT; Terombang ambing. Tersebut kisah seorang yang terbilang akrab dengan Rasulullah Muhammad s.a.w. UQBAH bin ABU MU’AITH. suatu hari mengundang Nabi Muhammad untuk makan dirumahnya. tentulah, pengundang dan yang diundang sudah demikian akrab, kalau tidak mana mungkin sampai mengundang makan. Suatu budaya turun temurun sejak sebelum Islam, orang Arab sangat menghormati tamu. Tuan rumah memposisikan diri sebagai khadam (pembantu) si tamu. Nabi Muhammad karena dalam bergaulan sehari hari tau bahwa Uqbah bersimpati dengan risalah Islam. maka beliau mengemukakan suatu syarat, baru mau menyantap makanan yang disediakan tuan rumah. Syarat itu ialah Uqbah lebih dahulu menyatakan diri masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimah syahadah. Memang dasarnya dia juga bersimpati dengan Islam dan juga dalam rangka menghormati tamu, makapun Uqbah bersyahadat dihadapan Rasulullah. Beberapa lama setelah masuk islam itu, Uqbah bertemu dengan teman akrabnya juga bernama UBAYYU bin KHALAF, Uqbah-pun menceritakan akan dirinya telah masuk Islam kepada Ubayyu. Reaksi Ubayyu sangat menyesali ke islaman Uqbah, entah apa yang diprovokasikan kepadanya, antara lain akan lepasnya ikatan dengan masyarakat Quraisy, nanti akan berakibat kesulitan dalam perekonomian karena dikucilkan, maka akhirnya Uqbah mulai bimbang, pada akhirnya kemudian, dia minta petunjuk bagaimana cara mencabut syahadat tersebut. Ubayyu memberi petunjuk kepada Uqbah, agar segera menemui Rasulullah untuk mencaci maki Rasulullah dan meludahi mukanya. Singkat kisah Uqbah mendapati Rasulullah sedang shalat, sujud disuatu tempat. Uqbah-pun melaksanakan saran Ubayyu yaitu mencaci maki dan meludahi muka Rasulullah Muhammad s.a.w. Ketika itu sudah dekat waktunya Nabi hijrah ke Madinah. Cacian dan makian Uqbah itu dijawab Rasulullah “Apabila suatu waktu kelak saya berjumpa dengan engkau diluar kota Mekah ini pedang saya akan memenggal kepalamu”.  Dalam perang Badar. Uqbah tertawan  dan   Ali diperintahkan mengeksekusinya. Ini salah satu contoh orang yang imannya terombang-ambing, lantaran pengaruh teman. Diabadikan dalam Al Qur’an surat Al Furqan 28 “Yaawailataa laitanii lam attakhizd fulanan khalila”  (Aduhai celakalah aku!  mengapa si anu kuambil sebagai teman).
KELIMA; Pura-pura menerima. Dalam hati mereka tidak menerima risalah yang dibawa Nabi dan Rasul, akan tetapi karena pengikut kelompok pertama sudah mulai kuat, untuk merapat kepada kelompok kedua dirasa kurang aman. Maka mereka bersikap berpura-pura beriman, tetapi dalam hatinya tetap menolak. Dalam sejarah Pertumbuhan agama Islam terkenal nama Abdullah bin Ubay. Kelompok kelima ini dalam Islam mula pertama adanya agaknya di Madinah, kala itu pengikut Nabi Muhammad s.a.w. sudah banyak ketimbang yang tidak menerima iman yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Sikap berpura-pura ini setidaknya dapat menyelamatkan diri yang bersangkutan.  Diabadikan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 8 “Waminan naasi may yaquulu amannaa billahi wa yaumil aakhiri wa maa hum bimu’minin”  (dan ada manusia yang mengatakan bahwa dianya beriman kepada Allah dan hari kemudian, tapi sesungguhnya mereka tiadalah beriman). Masa kinipun tak kurang Jumlah kelompok berpura-pura beriman ini, sesungguhnya mereka justru musuh orang beriman. Dalam terminology agama Islam mereka ini disebut kelompok al-munafiqun, sehingga sampai ada khusus satu surat dalam al-Qur’an, surat 63 sebanyak 11 ayat diturunkan di Madinah. Seperti dikemukakan di atas bahwa kelompok ini bermula di Madinah.  Kelompok ini bila ada ditengah-tengah kita, sangat berbahaya, lebih berbahaya dari kelompok yang memusuhi Islam. Dia bagaikan teman sesungguhnya musuh, sementara kita tanpa tuntunan wahyu sebagaimana Rasulullah tentu tidak mengetahui persis keberadaan mereka.
Kelompok KE ENAM; iman TURUN NAIK, berfluktuasi. Banyak di punyai orang di zaman kini. Disebabkan kebutuhan hidup di dunia, kadang untuk mempertahankan hidup, seseorang merelakan imannya menurun. Haram-haram sedikit, melanggar-langgar sedikit ketentuan Allah dan Rasul-Nya dilaksanakan. Disatu saat imannya naik, menyesali berbuat yang telah menggadaikan imannya. Dilain waktu terulang kembali dan begitulah berulang-ulang naik turunnya iman. Secara umum memang manusia tak luput dari naik turunnya iman. Contoh konkrit turun naik iman sebagian besar kita, nampak ketika awal-awal Ramadhan, masjid-masjid sepertinya kurang besar tak sanggup menampung jamaah. Setelah pertengahan Ramadhan sampai ke akhir masjid-masjid terasa terlalu besar. Tapi turun naik iman yang tidak terlalu ekstrim ini adalah turun naiknya intensitas ibadah.  Yang paling riskan di kelompok ini, kalau-kalau iman sedang menurun maut datang menjemput. Semoga kiranya kita termasuk orang yang dapat memelihara iman kita secara konsisten berkesinambung, kalau lah turun tidaklah terlalu anjlog-anjlog amat, agar gampang menaikkannya kembali.
Beberapa kali ku menyaksikan seseorang dijemput maut ketika sedang selesai shalat di Masjid. Belakang diberitakan di TV. seorang yang dijemput maut, sehabis shalat Ashar dimasjid, tragisnya diduga mencuri alat sound system masjid. Kalaulah itu hanya sangkaan belaka, tentulah yang bersangkutan menemui ajalnya dalam kebaikan, selesai menunaikan shalat. Walaupun proses maut dikabarkan sungguh tidak manusiawi konon dengan dibakar. Pagi ini kutonton di TV One, diwawancarai istri Almarhum, bahwa keseharaian yang bersangkutan memang tukang service dan pengrajin sound system. Dapat saja peralatan sound system yang ketangkap tangan di tangannya adalah bawaan ybs. dari tempat lain. Tapi semuanya itu penegak hukum sedang berkerja untuk membuktikan didunia ini. Apa keadaan/kejadian yang sebenarnya untuk diri pribadi almarhum menurut pengetahuan manusia di dunia. Tapi Allah maha mengetahui dan di pengadilan Akhirat nanti akan gamblang apakah orang ini mati dalam keadaaan sedang naik imannya, yaitu dalam perjalanan mencari nafkah antara lain membawa onderdil bekas sound system terkait dengan pekerjaannya, lalu dituduh mencuri, karena kebetulan masjid kehilangan sound system dan ybs kebetulan ditangannya terdapat benda tersebut. Ataukah yang bersangkutan saat itu imannya sedang turun, sehingga benar-benar mengambil peratalan sound system masjid karena sedang membutuhkan. Semua itu tak dapat berelak nanti di mahkamah Allah. seperti termuat dalam Al-Qur’an surat An-Nur 24 “YAUMA TASY-HADU ‘ALAIHIM ALSINATUHUM WA AIDIHIM WA ARJULUHUM BIMAA KAANUU YA’MALUUN” (pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan).  Dan surat Ya Sin ayat 65 “AL-YAUMA NAKHTIMU ‘ALAAA AFWAHIHIM WA TUKALLIMUNAAA AIDIHIM WA TASY-HADU ARJULUHUM BIMAA KAANU YAKSIBUN”. (Pada hari itu kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan).
Perlu di paahami oleh yang mengimani agama, bahwa dalam akhlaq Islami, membunuh tikus saja tidak boleh dengan membakarnya.  Apalagi manusia, apapun kesalahannya.
Demikian telah kucoba membedakan 6 kelompok manusia bersikap terhadap risalah Iman yang dibawa oleh Rasulullah,  semoga kira dapat kita jadikan untuk memeriksa diri  dikelompok manakah kita berada, yang paling tau adalah kita sendiri dan Allah.
Wain yakun shawaban faminallah. wain yakun khatha an faminni wa minasyaithan. Wallahu warasuluhu barii ani minhu.  (Dan sekiranya benar, maka itu datangnya dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti itu datangnya dari diriku sendiri (yang lemah ini dan dari syaithan). Mohon maaf oleh karenanya.
Barakallahu fikum. wallahu ‘alam bishawab.