Tuesday, 16 September 2014

DIWAKILKAN ATAU DILAKONI



Menyoal judul di atas,  kini agaknya jadi perdebatan ramai. Soal memilih apakah bagus diwakilkan atau dipilih sendiri-sendiri. Kalau diwakilkan persoalannya teknisnya jadi mudah memang, sebab sekian puluh orang, sekian ratus orang atau sekian ribu orang cukup diwakilkan ke satu orang. Peduli amat orang yang diwakili sependapat atau tidak, yang penting si wakil mengatas namakan yang diwakili sudah beres. Tempat pemilihan tak perlu ramai orang, cukup para wakil saja berkumpul. Ibarat kata, nyediain minuman cukup beberapa karton aqua cup saja. Beda kalau semua orang yang diwakili harus milih sendiri, tentu jadi ramai sekali. Kalaupun misalnya, umpamanya masih perlu, lagi musim, harus negosiasi atau harus mengatur dan diatur, tidak banyak mata yang harus ditatap.
Persoalan yang juga harus dipersoalkan yang harus dipilih untuk diwakilkan itu apa, sebab sepertinya tidak semua soal dapat diwakilkan ke orang lain. Tapi kitapun harus paham juga masalah-masalah apa menurut ketentuannya dapat diwakilkan kepada orang lain. Contoh ekstrim NIKAH, dapat diwakilkan ke orang lain, tapi KAWIN tak ada orang mau mewakilkannya ke orang lain.
Saya jadi teringat dengan kejadian di tahun 1991, ketika rombongan kami dari daerah, mendekati hari keberangkatan menunaikan ibadah haji. Ada seorang lelaki muda datang ke panitia keberangkatan, untuk menerima segala koper dan perlengkapan haji yang akan berangkat kloter 31 dari Halim PK. Kurang lebih seminggu lagi mendatang. Kami dari daerah, waktu itu kumpul di Pondok Gede Jakarta. Panitia daerah, sekalian melakukan penyuntikan MENINGITIS, mumpung semua calon jamaah kumpul. Satu persatu calon jemaah antri menyodorkan lengannya. Petugas kesehatan, menanyakan pertanyaan standar “apakah sudah pernah disuntik Meningitis, Siapa nama, umur berapa” sambil melihat kepada foto diri orang yang akan disuntik pada kartu.
Salah seorang yang sudah siap menggulung lengan bajunya, untuk disuntik, ketika ditanya oleh petugas;  namanya beda, dengan nama di kartu, begitu pula foto dan usianya. Petugas menanyakan lebih lanjut, “anda ini siapa” dijawab pemuda tadi “SAYA INI WAKILNYA”. Hampir saja jarum suntik menancap di lengan pemuda itu, bahkan sudah digosok dengan kapas beralkohol, untung dengan pertanyaan singkat tadi, segera penyuntik menghentikan kegiatannya. “Soal suntikan ini ndak dapat diwakilkan pak” kata petugas. Sementara yang bersangkutan masih tetap bersikeras, “koper dan kain ihram dapat diambil saya sebagai wakil, masakkan suntikan ndak dapat diwakilkan”.
Mari kita timbang bahwa soal yang lagi hangat sekarang apakah sesuatu yang memang dapat diwakilkan atau hak dasar setiap orang yang tak mungkin diwakilkan. Itu terpulang kepada kearifan berpikir kita sebagai individu, sebagai masyarakat dan sebagai bangsa. Argumentasi dapat dibangun sesuai dengan siapa yang membuat argumentasi itu, disini kebenaran sedang diuji apakah kebenaran memihak kepada KEMASLAHATAN, atau kebenaran memihak kepada KEMUSLIHATAN. “Maslahat” dan “muslihat” hanya dibedakan huruf kedua dari depan dan keempat  dari belakang, tapi bedanya sangat berseberangan dan takkan pernah berjumpa. Kemampuan kita untuk memandang kedua pengertian tersebut, selanjutnya kemana harus diarahkan. Kita tetap percaya bahwa semua pihak berniat baik, bertujuan baik, untuk kemaslahatan setelah menimbang manfaat dan mudharat.
Kepentingan orang banyak, hampir tidak mungkin memang, untuk diseragamkan, mesti terjadi kelompok-kelompok yang berbeda. Di dalam konsep demokrasi suara terbanyak adalah kebenaran, walaupun sebenarnya belum tentu benar. Dalam demokrasi bila berkumpul 100 orang, 50% lebih berpendapat sesuatu yang mestinya berwarna merah, dikatakan putih, walaupun sesungguhnya warna benda itu merah ya akan diputus putih, karena putih itu adalah pendapat suara terbanyak, suara terbanyak dianggap kebenaran.
Apakah keputusan terbanyak dari kita saat ini akan menuju kemaslahatan atau penuh dengan kemuslihatan. Waktu yang akan membuktikannya kelak dikemudian hari. Sebagai bangsa kita setiap warga negara berhak menentukan nasib bangsa ini kedepan, siapa yang akan memimpin kita, bagaimana cara kita menentukan untuk memilih pemimpin kita.
Masalahnya nampaknya bertumpu pada bagaimana cara memilih. Selanjutnya untuk menentukan bagaimana cara memilih tersebut kini tidak diserahkan kepada seluruh rakyat, tetapi kepada sekelompok wakil rakyat. Mungkin hasilnya akan menjadi lebih mantap kalau untuk menentukan “bagaimana cara memilih” ini diadakan “PEMILULIH” ini mungkin singkatan yang tepat untuk “Pemilihan Umum Cara Memilih”. Mungkin ada komentar; “nanti biayanya mahal lagi”. Kita usulkan ndak usah pakai biaya yang tinggi, buat pakai angket melalui Rukun Tetangga, kan blankonya  cuma dua pilihan yaitu “Langsung”, “Tidak langsung”.  Untuk lebih kontras beda pilihan pertama dan kedua, dapat juga dikreasikan pilihan angket  “Diwakilkan”,  “Dilakoni”, kalau perlu biar lebih yakin pakai nama jelas, tanda tangan dan nonor NIK. Waktunya diprogramkan serentak seluruh Nusantara.

Sunday, 14 September 2014

BUAH SEBUAH BHAKTI



                  
Kisah nyata seorang paramedis, setamat sekolah ditempatkan di Nusatenggara, sebagai PNS ditahun 1973an. Tak lama berdinas, orang tua yang tinggal di sebuah kota kabupaten di Jawa, menderita sakit yang berkepanjangan. Berkenaan dengan keinginan agar dekat dengan orang tua dan merawatnya, si pegawai baru berusia di bawah duapuluh tahunan ketika itu, mengajukan permohonan ke instansinya agar dapat dipindahkan ke pulau Jawa, di kota apa saja, syukur kalau di kabupaten dekat dengan kediaman orang tuanya. Pikirnya kalau dapatlah pindah ke Jawa, dimana saja jika orang tua memerlukan segera, dapat diusahakan datang, karena dapat ditempuh dengan kendaraan darat. Beda kalau berada di NTT, kalau ada apa-apa terhadap ortu, tak mudah untuk mencari alat transportasi.
Karena sudah berkali-kali mohon pindah ke Jawa tak dikabulkan, sementara ortu sakitnya semakin parah, sembuh tidak, meninggal dunia pun belum sampai saatnya, sementara tranportasi belum selancar sekarang. Maka teman saya sealumni dengan isteri saya ini mengambil keputusan, lebih baik mengajukan permohonan berhenti. Dia tidak kuasa berpikir lebih jauh, seperti generasi sekarang untuk masuk menjadi PNS demikian sulitnya, lowongan 100 peminat puluhan ribu memperebutkan. Pilihan antara bhakti kepada ayahnda atau tetap kerja menjadi PNS, teman ini memilih ayahnda harus dirawat, perkara kerja, selesai merawat ayah, bagaimana nanti.
Usia memang ada batasnya, walau sakit belum tentu berkesudahan dengan meninggal, tetapi meninggal dunia adalah milik setiap orang yang hidup, umumnya melalui sakit, walau banyak orang tanpa sakit juga meninggal. Ayahnda teman saya inipun setelah kurang lebih setengah tahun dalam perawatannya, ayahandanya pun meninggal dunia.
Bagaimana nanti yang menjadi pertanyaan ketika memutuskan berhenti dari PNS,  bagi teman sekelas istri saya ini harus segera dijawab dengan mencari dasar penghidupan setelah ortu tiada. Langkah yang diambil oleh teman ini adalah pindah dari Jawa Timur mengadu untung ke Jakarta. Dikisahkan oleh teman ini, usaha mandiri dicobanya dengan membuka lapak ayam bakar di malam hari di bilangan Pasar Genjing Pramuka. Suka duka mengiringi menjadi wiraswasta penjual ayam bakar, untung tidak seberapa, jikalah semalam ada dua orang saja preman tidak bayar pesan ayam bakar, maka malam itu Mas Mujur (bukan nama sebenarnya) sama sekali tidak punya keuntungan untuk dibawa pulang.
Untuk memenuhi tuntutan nafkah di Jakarta, pada siang hari teman ini menjadi kuli kasar bangunan,  kadang menjadi kuli dari juragan pembuat sumur bor. Keakhlian sumur bor ini rupanya merintis keberuntungan, karena dari kuli kasar akhirnya dia sanggup memborong pembuatan sumur bor beberapa komplek perumahan-perumahan besar yang ketika itu sedang banyak tumbuh di Jakarta dan sekitarnya.  
Kisah ini disarikan dari cerita nyata, yang bersangkutan mengijinkan untuk pengalaman ini ditulis, semoga ada manfaatnya untuk memotivasi generasi muda. Melanjutkan ceritanya dengan borongan-borongan sumur bor ini dianya dapat keuntungan lumayan sehingga punya modal, kemudian lapak ayam bakar Pasar Genjing, dikelola secara tidak langsung, dengan menempatkan orang kepercayaan. Walau kemudian lapak ayam bakar ini akhirnya harus benar-benar ditinggalkan untuk diteruskan orang lain.
Dengan berbekal kemampuan sebagai seorang paramedis, didukung oleh terhimpunnya modal dari berkembangnya usaha borongan proyek sumur bor dari beberapa perumahan besar, mas Mujur membangun semacam industri pembuatan alat-alat dan perlengkapan untuk laboratorium kesehatan. Rupanya disini pintu sukses usaha kenalan saya ini, sehingga membuatnya menjadi orang sukses dengan memperkerjakan pegawai hampir 200 orang.
Usianya tahun depan (2015) akan berkepala enam, tapi sudah punya asset yang cukup hebat dibandingkan beberapa teman sealumninya, yang patut dikagumi dianya sanggup mengidupi hampir 200 kepala keluarga melalui perusahaannya dan beberapa orang anaknyapun kini sudah menjadi orang sukses diantaranya ada yang meneruskan usaha ayahnya. Sementara teman saya ini menjalani masa tua dengan santai, bersenda gurau dengan cucu-cucu.
Ini barangkali ada kaitannya sebagai buah atas bhakti yang bersangkutan kepada orang tuanya. Dia tawakkal melepaskan pekerjaan, demi merawat orang tua, rupanya itu jalan baginya untuk mendapatkan sukses dikemudian hari dimasa usia senja.

Thursday, 11 September 2014

BATU CINCIN




Beberapa bulan terakhir ini, kulihat ketika jalan pagi, dilingkunganku di bilangan Jakarta Pusat, sedang ada kegiatan tak biasa, yaitu di banyak sudut gang ada pengrajin sedang mengasah batu menjadi perhiasan.
Kuteringat jadinya dengan seorang seniorku sangat senang dengan batu perhiasan, hampir tiap hari ganti batu cincin yang dipakainya ke kantor, nampaknya disesuaikan dengan warna pakaiannya, misalnya cincin dipakai mengacu pada warna baju atau celana atau dasi.
Kalau menghadap bapak yang satu ini, jika kita melirik kearah batu cincin di jarinya,  maka jarinya malah dimain-mainkan di atas meja. Kalau kita maulah sedikit nakal, tanyakan perihal batu tersebut, ceritanya bakal panjang dan kita bakal lama berada di ruangan beliau. Mulai dari riwayat si permata dan segala macam auranya itu batu, serta kadang sampai diceritakan bahwa batu itu sudah ada yang naksir dan menawar seharga begitu tinggi, namun belum dilepas sama beliau.
Kini aku punya permata, sesekali juga kucoba memasangnya di jari sebagai mata cincin. Itu batu permata selalu basah, mengembun. Kalau di lap dengan tisu, akan didapatkan bahwa tisu akan menjadi lembab. Sepertinya permata itu dingin sehingga menarik udara menjadi embun. Begitu barangkali penjelasan logikanya, karena kita semua yakin si batu itu bukan barang ajaib, bukan sesuatu yang mempunyai kekuatan magis.
Agama Tauhid melarang keras untuk percaya dengan sesuatu benda termasuk batu mempunyai khasiat tertentu, punya kekuatan tertentu, yang luar biasa sehingga menganggap batu itu sebagai “Jimat”. Sedangkan sesuatu disebut jimat apabila memenuhi kriteria:
1.     Audha, atau perlindungan. Apabila dipercaya bahwa batu itu dapat mendatangkan kekebalan, dapat menangkal ilmu hitam, atau sebagai pelindung dari segala macam mara bahaya.
2.     Hijab, atau pembatas/penyekat. Apabila diyakini bahwa batu itu mempunyai kesanggupan, jika dipakai sipemakai akan tidak dapat dilihat. Atau kalau disimpan si rumah, rumah kita tidak dapat dimasuki maling, jika ada serangan yang membahayakan, baik oleh mahluk kasar maupun mahluk halus, rumah akan tertangkal. 
3.     Hirz, atau penjaga dari Syaitan. Si pemakai dengan memakai benda tertentu, percaya akan terlindung dari gangguan roh jahat dan syaitan, ataupun serangan binatang buas atau binatang berbisa. Digunakan oleh para pemburu binatang di hutan atau sebagai Ajimat penjaga rumah.
4.     Nafra, dipercaya bahwa sesuatu benda dapat  mengusir mahluk halus, mahluk jahat. Biasa dipasang di kalung anak kecil,  agar mahluk halus/mahluk jahat tidak sering mengganggu anak-anak yang dipasangi kalung itu atau sebagai Jimat rumah.
5.     Wadh, dipercaya bahwa pemakai sesuatu benda akan dapat memenangkan suatu perkara, bila tengah berperkara di pengadilan, dengan kekuatan benda itu memperjelas sebuah perkara. Benda itu dipercaya sanggup membuka mata batin guna dipakai melacak suatu perkara yang cukup rumit.
6.     Tamima, berguna untuk melengkapi. Ajimat ini diyakini akan menambah wibawa, digunakan untuk melengkapi unsur bathin seseorang yang tidak lengkap misal seorang pimpinan daerah.
Kalau sudah suatu benda dianggap, dipercaya, diyakini jika dipakai menimbulkan pengaruh, khasiat, dengan kekuatan antara lain seperti tersebut di atas, maka orang yang percaya akan hal tersebut terkatagori mempunyai kepercayaan ganda yang sangat dilarang oleh “agama tauhid”.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat seseorang yang memakai gelang kuningan di tangannya, maka beliau bertanya, “Apa ini?” Orang itu menjawab, “Penangkal sakit.” Nabipun bersabda, “Lepaskanlah, karena dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu. Jika kamu mati sedang gelang itu masih ada pada tubuhmu maka kamu tak akan beruntung selama-lamanya.” (HR. Ahmad)
sebagai seorang “beragama tauhid” kita seharusnya meyakini sepenuh hati bahwa manfaat & mudharat itu ada di tangan Allah sehingga kita tak boleh menggantungkan hati kepada selain Allah, misalnya kepada batu cincin dan ajimat. Kita wajib bertawakkal hanya kepada Allah saja. Allah berfirman:
Wa’alallahi falyartawaqqalil mu’minin = Dan hanya kepada Allah saja hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal.” (Qs. Ibrahim: 11).

Bolehkan memakai Cincin dengan permata



Cincin, atau dalam bahasa Arabnya khatm, bukan hal yang baru. Memakai cincin merupakan tradisi berpenampilan yang juga dilakukan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.
Imam At-Tirmidzi menulis sebuah karya berjudul Asy-Syamail, yang menghimpun dan menulis berbagai riwayat tentang kepribadian Nabi SAW dalam berbagai hal. Disebutkan, sepeninggal Nabi, cincin beliau terus dirawat oleh Khalifah Abubakar dan Umar, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits-hadits tentang tabarruk, mengharap berkah.
Cincin merupakan asessori berpakaian. Selain menunjang estetika penampilan, bagi kalangan tertentu memakai cincin juga menjadi identitas tambahan yang mengandung makna tertentu. Bentuk cincin dari masa ke masa mengalami perubahan, sesuai kemajuan teknologi dan penemuan barang tambang jenis bebatuan.
Kebiasaan memakai cincin ini sudah ada bersama kehadiran manusia, yang menyukai pernak-pernik penunjang keindahan, terlebih kaum Hawa. Bahkan kebiasaan memberi dan menerima cincin dalam pernikahan ternyata sudah dimulai sejak lebih dari 4.800 tahun lalu.
Cincin pernikahan biasanya dipasang di jari manis. Kebiasaan posisi jari ini konon berakar dari kepercayaan bangsa Tudor abad ke-16 M bahwa jari manis tangan kiri berhubungan dengan pembuluh darah yang berhubungan langsung dengan jantung. Dari pemahaman ini, lalu muncul semacam pemaknaan, sang pemakai cincin sedang berada dalam sebuah hubungan yang menyangkut perasaan hati dan degupan jantung.
Bagi wanita, cincin bisa menunjukkan status sosial, kemapanan tingkat ekonomi, dan membuat ia terlihat semakin cantik dan glamor. Tetapi bagi pria, lebih pada rasa percaya diri, atau kegagahan.
Memakai cincin merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW. Bahkan diceritakan, Nabi Sulaiman AS dan Nabi Dawud AS juga memakai cincin. Sebagaimana diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya, Asy-Syamail, cincin Rasulullah SAW kemudian dipakai Abubakar Ash-Shiddiq RA, lalu dipakai Umar RA, kemudian Utsman bin Affan RA, sampai kemudian terjatuh di Sumur Aris.
Para sahabat Nabi SAW, seperti Abdullah bin Umar RA dan Abdullah bin Az-Zubair RA, meniru sunnah ini sebagai bentuk kecintaan kepada Baginda Rasulullah SAW. Dalam beberapa riwayat hadits disebutkan, Rasulullah SAW pada awalnya mengenakan cincin yang terbuat dari emas sebelum adanya syari’at pelarangan mengenakan emas bagi kaum laki-laki.
Di dalam hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik RA disebutkan, cincin Rasulullah SAW terbuat dari perak, dan batu cincinnya adalah batu Habasyi (HR Muslim). Adapun bentuk cincin Rasulullah SAW., sebagaimana disebutkan Ibnu Al-Qayyim dalam kitab tarikhnya yang berjudul Zad al-Ma’ad, sekembalinya dari Hudaibiyah beliau menulis surat kepada para penguasa di Timur dan Barat yang dibawa oleh para kurirnya. Tatkala beliau hendak menulis surat kepada raja Romawi, dikatakan kepada beliau, “Sesungguhnya mereka (orang-orang Romawi) tidak akan membaca suatu surat kecuali apabila dibubuhi tanda (stempel).” Maka atas usulan itu, Rasulullah SAW menjadikan cincinnya, yang terbuat dari perak yang di atasnya terdapat ukiran terdiri dari tiga baris, Muhammad pada satu baris, Rasul pada satu baris, dan Allah pada satu baris, sebagai stempelnya. Beliau pun menstempel surat-surat yang dikirimkan kepada para raja dengannya serta mengutus enam orang pada satu hari di bulan Ramadhan tahun 7 H.
Dimana Nabi Mengenakan Cincinnya?
Bagaimanakah Rasulullah SAW memakai cincin di jarinya? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muhammad bin Ishaq dikatakan, “Aku menyaksikan Ash-Shalt bin Abdullah bin Naufal bin Abdul Muththallib mengenakan cincin di jari kelingking kanan. Maka aku berkata, ‘Apa ini?’ la menjawab, ‘Aku pernah melihat Ibnu Abbas mengenakan cincinnya seperti ini dan menjadikan batu cincinnya di bagian luarnya. la kembali mengatakan, `Tidaklah Ibnu Abbas meyakini hal itu kecuali ia menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mengenakan cincinnya seperti itu’.” (HR Abu Dawud).
Selain riwayat tentang peletakan cincin di jari kanan di atas itu, juga ada riwayat lain yang menyatakan bahwa Nabi SAW juga mengenakan cincinnya di jari tangan kiri. Imam Muslim, di dalam Shahihnya Dari hadits Tsabit dari Anas bin Malik.RA, berkata, “Cincin Nabi SAW dikenakan di sini (la mengisyaratkan kepada jari kelingking kirinya).” Dan An-Nasa i juga mengeluarkan hadits seperti ini.
Adh-Dhaya’i juga mengeluarkan hadits Qatadah dari Anas, “Aku melihat putihnya cincin Nabi SAW di jari kirinya.” Dan orang-orang di dalam sanad hadits ini bisa dijadikan dasar argumentasi di dalam keshahihanya. At-Tirmidzi juga mengeluarkan hadits Abi Ja’far Muhammad dari bapaknya, “Hasan dan Husein mengenakan cincin di tangan kirinya.”
Dari beberapa riwayat hadits di atas tampaklah, ada riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW mengenakan cincin pada jari kelingking kanannya, namun ada juga riwayat yang menyebutkan pada jari kelingking kirinya.
Para ulama berbeda pendapat di dalam menggabungkan hadits-hadits yang berbeda tersebut. Ada di antara mereka yang menyamakan kedua hal tersebut, artinya cincin itu bisa dikenakan di jari kanan atau kiri. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa pada awalnya Rasulullah SAW mengenakan cincin pada tangan kanan, namun kemudian beliau memindahkannya ke tangan kiri.
Adapun pendapat Imam Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim karyanya menyebutkan, ijma’ para fuqaha membolehkan pengenaan cincin pada tangan kanan, dan membolehkannya pada tangan kiri, serta keduanya pun tidaklah dimakruhkan.
Imam Malik menganjurkan untuk dikenakan di tangan kiri dan memakruhkan pengenaannya di tangan kanan. Sedangkan dalam Madzhab Syafi’i bahwa tangan kanan lebih utama. Karena cincin merupakan hiasan, maka tangan kanan lebih mulia dan lebih berhak untuk perhiasan dan kemuliaan.
Yang jelas, Rasulullah SAW melarang menggunakan cincin di jari tengah dan telunjuk, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim, dalam hadits no. 2078.

Monday, 8 September 2014

DASUN TUNGGAL



Kembali, alam menyingkap tabirnya bahwa ada khasiat lain dari Dasun Tunggal atau bawang merah. Bawang merah, disebut “Dasun tunggal” adalah bawang merah yang satu siung bawang merah tersebut tidak kembar dengan bawang-bawang merah lainnya. Tapi tidak semua orang tau akan khasiat-khasiat tersebut. Mumpung kini kita telah terhubung dengan cepat dan mudah melalui dunia maya, menurut hemat saya bagus sekali kalau kita registerasi khasiat-khasiat Bawang Merah.
Setiap kampung, setiap daerah mungkin punya pengalaman nenek moyang masing-masing tentang rahasia dibalik kulit bawang merah yang teramat tipis sampai jadi pepatah ; “aku tak menduga sekulit bawangpun” artinya tidak menaruh curiga atau menyangka sekecil apapun.
Di daerahku khasiat Dasun Tunggal  seingatku adalah:
1.     Sebagai obat masuk angin, dengan cara dipecahkan di dalam lepek yang telah dituangi minyak kelapa sedikit. Hasil campuran diurutkan ke belakang orang yang masuk angin.
2.     Untuk membantu kembalinya urat-urat yang keseleo, juga sama dipecahkan di dalam lepek yang sudah dituangi minyak kelapa seperlunya kemudian campuran tersebut dibalutkan dengan perban di tempat yang keseleo.
3.     Campuran seperti point 1 dan 2 ini juga dapat melegakan kalau diserang batuk-batuk. Sebelum tidur campuran ini disapukan di dada sampai leher.
4.     Dapat juga buat pereda pusing kepala, dengan dikupas dan bagian tampuknya dipotong melintang hilangkan tampuknya, disilang empat dengan pisau, kemudian digosokkan ke pelipis kiri dan kanan serta dahi. Yaaa, zaman doeloe sih,  untuk sugesti dijompa jampi oleh orang pandai dengan komat-kamit kemudian ditiupkan ke silang empat tadi.
Disamping keempat point di atas sepengingatanku itu, dasun tunggal juga dapat membuat deman buatan.  Ini konon pernah digunakan oleh buruh survey pertambangan milik asing di hutan belantara salah satu kepulauan di Indonesia.
Perusahaan asing itu punya aturan yang ketat terhadap karyawannya untuk tidak masuk kerja. Tidak ada kamus ijin tidak masuk, selain cuti selama 12 hari kerja setahun. Selain cuti, ijin tidak masuk kerja hanya dapat diberikan kalau sakit berat.
Pekerjaan survey di hutan-hutan lebat, dilengkapi dengan team kesehatan untuk pertolongan pertama kalau sekedar sakit ringan. Oleh karena itu kalau hanya demam ringan, pusing, batuk, diare, pilek dan penyakit ringan lainnya, tak perlu meninggalkan hutan. Tapi kalau sudah sakitnya berat yang tak mampu diatasi oleh tenaga medis perusahaan ditengah belantara hutan lebat itu, maka perusahaan akan mengantar karyawannya ke kota untuk berobat diantar dengan pesawat helikopter perusahaan.
Bawang merah “dasun tunggal” punya keajaiban, dapat membantu karyawan di hutan lebat itu untuk pulang ke kota dengan menumpang helikopter. Caranya adalah sebagai berikut:
1.     Ambil bawang merah “dasun tunggal” sekali lagi  yaitu bawang merah; yang satu bijinya hanya satu-satunya tidak bergandeng dengan bawang merah lainnya.Ini mungkin hanya istilah kampungku disebut dengan “Dasun Tunggal”.
2.     Buang kulitnya yang sudah kering dan juga tampuknya.
3.     Ketika akan tidur malam masukkan perlahan-lahan ke anus, bagian ujung bawang yang sudah dikupas  (jangan bagian tampuknya)
4.     Selanjutnya andapun silahkan tidur seperti biasa.
Paling lambat besok pagi, suhu badan anda akan panas tinggi, mungkin sampai 40 derajat Celsius lebih dan ada harapan sampai ngigau. Karyawan itupun esoknya ketika diperiksakan ke team kesehatan proyek di dalam hutan, dinyatakan demam tinggi, selanjutnya diterbangkan dengan helikopter ke kota. Setelah sampai di kota, si karyawan mencabut bawang tersebut dan perlahan lahan suhu badanpun akan turun dan sehat kembali. Cukuplah sekedar untuk ketemu keluarga sebentar beberapa hari setelah jenuh di dalam hutan, dapat bertemu keluarga.
Kemudian setelah beberapa hari di kota mungkin juga dirawat di rumah sakit, si “deman dasun tunggal” melapor ke kantor perusahaan yang ada di kota bahwa telah sembuh dan dijemput kembali oleh helikopter untuk bertugas di tengah hutan belantara lagi.
Barang kali, rahasia “dasun tunggal” ini baik juga diketahui oleh bagian SDM suatu organisasi perusahaan, agar kalau tiba-tiba karyawan demam tinggi apakah karena “dasun tunggal”
Kegunaan lain dari bawang merah, rambutnya dapat dipergunakan setidaknya untuk dua kegunaan.
1.     Pengusir Hantu Pontinak, atau dikenal dengan “Kuntilanak”, dengan cara membakar rambut bawang merah. Begitu mendengar ada “Kuntilanak”, masukkan rambut bawang ke perapian, begitu mencium bau bakaran rambut bawang merah, langsung si “Kuntilanak” tertawa panjang dan lari menjauh.
2.     Obat untuk terkena gatal-gatal di kulit misalnya bentol-bentol. Rambut bawang merah dibakar dengan bara tempurung kelapa di dalam tempat semacam pedupaan. Bagian yang gatal-gatal, bentol-bentol di asapi dengan asap yang berasal dari bakaran rambut bawang merah dari tempat pembakarannya.
Perlu diterangkan tentang, “rambut bawang”. Bawang merah dipasarkan diikat dengan daunnya yang mengering. Daun yang mengering ini istilah dikampung kami di sebut “Rambu’ Bawang” maksudnya “Rambut bawang”.
Begitu rahasia bawang merah, silakan mencoba, dan baik juga jika para pembaca punya pengalaman dan pengetahuan lain tentang kegunaan bawang merah, kita share untuk memperkaya khasanah budaya bangsa kita. Entah benar atau tidak, entah manjur atau tidak lagi apa yang saya kemukakan di atas; dewasa ini, saya tidak dalam kompetensi untuk menjamin, karena semua serba canggih sekarang ini, banyak yang doeloe manjur sekarang sudah tidak lagi,  silahkan coba.