Tuesday, 13 February 2018

DENGKI (1/5)

Entah berapa banyak jumlah jenis penyakit manusia secara phisik, tentu itu ranah para dokter untuk berusaha mencarikan obat penyembuhnya. Walau makin tahun makin banyak saja penyakit baru yang muncul belum diketahui obatnya, sementara banyak jenis penyakit lama yang sampai hari ini belum juga diketahui obatnya.
Manusia tercipta dari phisik dan jiwa, roh dan jasmani. Sebagaimana jasmani, jiwapun adakalanya sakit. Diantara penyakit jiwa yang jelas nampak adalah “hilang ingatan”. Sedangkan sakit jiwa selain “hilang ingatan” itu tadi tidak kalah banyaknya dibandingkan dengan penyakit phisik. Bahkan menurut penelitian di Jerman (Radio Jerman “deutsche welle” bahasa Indonesia pagi 08-02-12) bahwa lebih 50% penyakit phisik bersumber dari jiwa, perasaan dan pikiran.
Pengobatan sakit phisik kebanyakan ke dokter alamatnya, sedangkan penyakit jiwa sebagian terbesar tidak dapat dilimpahkan ke dokter, terutama penyakit jiwa dalam artian rohani penyembuhannya dimungkinkan dengan keyakinan agama.
Salah satu penyakit rohani dalam terminologi agama penyakit DENGKI/hasad, yaitu seseorang yang tidak senang mendengar atau melihat orang lain senang/mendapatkan kebahagiaan. Sangat bahagia/senang bila melihat, mendengar orang lain menderita kerugian, kesusahan.
(Tulisanku mengenai HASAD ini bila sajikan sekaligus bgt panjang mencapai 5 hlm folio spasi rapat. Makanya dipublish 5 kali. Ini Hasad 1/5)
Untuk menilai apakah diri anda sedang mengidap penyakit hasad silahkan introspeksi apakah diri anda termasuk berperangai dengan kecenderungan:
1. Senang melihat orang lain susah, susah melihat orang senang. Bersyukur kalau orang mendapatkan musibah/kerugian/bencana. Bersedih hati jika orang mendapatkan keberuntungan/kebahagian.
2. Berusaha agar orang lain menjadi susah, berusaha agar kesenangan orang lain menjadi hilang.
3. Berusaha agar orang lain menjadi susah bila perlu mencelakai orang lain itu, merampas kesenangan orang lain agar pindah kesenangan/kebahagiaan itu kepadanya.
4. Berusaha agar orang lain susah, walaupun karena itu ia juga ikut susah dalam bathinnya biar sama-sama susah. Berusaha menghilangkan kesenangan orang lain walaupun dengan hilangnya kesenangan orang lain itu dianya sendiri tidak menjadi senang.
Smglah kita orang yg beriman terjauh dari hasad alias dengki itu. Orang beriman diajarkan Allah agar ber do'a terjauh dari dengki dg do'a sbb.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَـنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَاۤ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
"(Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang)."
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 10)
Bersambung ......Dengki (2/5).
Barakallahu fikum, wallahu'alam bishawab. Wassalamualaikum wr.wb. M. Syarif Arbi.

Saturday, 10 February 2018

TANGGA ke LANGIT (1)

Lama sudah konotasi orang beragama bahwa, alam akhirat itu adanya di LANGIT, biru di atas kepala kita, siang terdapat matahari, malam bergayut bulan dan bintang-bintang. Belakangan ini memang pengertian langit, sudah tidak lagi diartikan dengan akhirat, tapi sudah banyak di artikan sebagai cakrawala yang ada di atas penglihatan kita. Namun arti langit sebagai akhirat, sebagai alam ghaib tetap saja, masih sampai sekarang.
Fir’aun, dulu beranggapan bahwa Tuhan nabi Musa adanya di langit, sehinga tersurat dalam Al-Qur’an di surat Al-Qashash ayat 38. Fir’aun memerintahkan pejabat kepercayaannya; HAMAN untuk membangunkan “tangga ke langit” untuk melihat Tuhannya Musa.
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يٰۤـاَيُّهَا الْمَلَاُ مَا عَلِمْتُ لَـكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرِيْ ۚ فَاَوْقِدْ لِيْ يٰهَامٰنُ عَلَى الطِّيْنِ فَاجْعَلْ لِّيْ صَرْحًا لَّعَلِّيْۤ اَطَّلِعُ اِلٰٓى اِلٰهِ مُوْسٰى ۙ وَاِنِّيْ لَاَظُنُّهٗ مِنَ الْـكٰذِبِيْنَ
"Dan Fir'aun berkata, Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarkanlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta."
*)Maksudnya: membuat susunan bata menjadi bangunan yg tinggi.
Sebenarnya; jika mau naik ke langit secara hakikat melihat alam ghaib, atau berwisata ke akhirat, maka tangganya bukan dari batu Bata seperti logikanya Fir’aun tetapi tangganya adalah ROH DAN JASMANI kita sendiri.
Bila tangga kelangit terbuat dari bambu atau kayu, maka ada dua balok atau dua bambu sebagai tempat anak tangga disusun. Salah satunya adalah ROH dan yang lainnya adalah JASMANI.
Roh berfungsi Menghidupkan, Menumbuhkan dan Mengembang biakkan.
Sedangkan Jasmani berasal dari tanah berfungsi sebagai tempat bersarangnya ROH dan terpasangnya Panca indra.
Adapun anak tangganya ada 8, adalah: AKAL, KALBU, NAFSU, PENGLIHATAN, PENDENGARAN, PENCICIPAN, PENCIUMAN dan PERABAAN.
Akal berfungsi:
a. Mengingat. Kemampuan ini dipunyai semua mahluk yg berjiwa termasuk hewan. Dg mengingat; burung merpati, ayam, itik, sapi, kambing, kembali ke kandang. Manusia diberi daya ingat melebihi hewan. Dg daya ingat inilah seorang anak kecil berangsur memahami lingkungannya dan memiliki kecerdasan, merupakan cikal bakal mengenal Tuhan, memaklumi bahwa yg ghaib itu ada.
b. Berfikir; untuk memilih, memutuskan apa yg hrs dilakukan, hrs diambil dlm hidup ini. Anak-anak fikirannya blm jalan. Dikisahkan Nabi Musa lbh memilih "bara" ketimbang "emas" tatkala diuji Fir'aun, menguji keberakalan bocah Musa.
Dg berfikir manusia sadar dari mana dia datang dn kemana kesudahannya hidup ini, oleh karenanya menyiapkan diri akan kematian. Hidup ssdh mati adlh alam ghaib sama ghaibnya keberdaan kita sblm lahir. Hanya tercerna dg anak tangga berfikir, cabang dari akal.
c. Mencari sebab akibat; melalui cabang akal yg satu ini manusia dpt percaya akan adanya pencipta. Teknik yg paling dasar guru agama di SR kita dulu memasukkan ke akal kita bahwa "tak mungkin ada kotoran cecak di lantai dlm ruang kelas ini, kalau tak pernah ada cecak yg masuk kelas ini". Kata guru agama. Bumi ini tak mungkin ada bila tak ada yg menciptakan.
d. Menghayal. Imajinasi dimiliki oleh anak manusia sejak dini, perhatikan anak yg baru lancar ngomong, dia sdh dpt merajut cita-cita kalau dia besar nanti. Miskipun cita-citanya sangat sederhana sesuai perkembangan akalnya.
D.h.i. sang Pencipta tlh memberi informasi kpd manusia:
menginformasikan bahwa manusia diberikan akal berangsur-angsur melalui 3 tahap y.i. Pendengaran, Penglihatan barulah Hati Nurani, (kecerdasan akal untuk bergikir).
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصٰرَ وَالْاَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 78)
Akal saja tak mampu naik ke langit, bila tdk menggunakan anak tangga berikutnya y.i. iman, wilayah Kalbu, kita kan masukkan di tulisan berikut.
Anak tangga ke langit yg ke dua "KALBU".
Kalbu........... (bersambung). Anak tangga ke 3 ..........dst sampai 8, insya Allah diteruskan dikesempatan mendatang. Mengingat ada pembaca yg saran sebaiknya artikel yg panjang disusun bersambung.
Demikian smg bermanfaat. Barakallahu fikum

Wednesday, 7 February 2018

Kemuliaan di usia 80-90 th.

Seuntaian do'a di ajarkan Rasulullah Muhamnad s a.w. menurut hadist riwayat
Imam Muslim dari Zaid ibnu Arqam r.a.(Mukhtaarul Ahadst hal 1070-1071) di dlm do'a itu tersisip permintaan terhindar 7 perkara y.i.:
[ ]Kekikiran
[ ]Ketuaan
[ ]Siksa kubur
[ ]Ilmu yg tak bermanfaat
[ ]Hati yg tak khusuk
[ ]Hawa nafsu yg tak terkendalikan
[ ]Do'a yg tak terkabul
Mhn diberikan ketakwaan dan kesucian diri.
Hadist dg butir butirnya dikutip di atas dihubungkan dg hadist H.R. Imam Ahmad dari Anas bin Malik. " pengelompokan umur. Tlh kutulis sblm ini, mulai usia 40, 50, 60, dan 70. Kini giliran menyoal karunia Allah bagi orang yg konsisten dlm Islam memcapai usia 80 sampai 90 th.
Usia 80 th; diterima Allah segala kebaikannya dan dijauhkan dari kejelekan.
Usia 90 th; Allah ampuni dosanya yg lama dan yg baru, dinamai Asirullah di bumi Nya dan dia mendpt safaat bagi keluarganya.
Usia 80-90 tahun adalah usia TUA. Sdg kan orang sdh tua akan makin bnyk keterbatasan, ujur, lemah phisik dan kadang lemah pula mental. Memang ada lansia diusia ini masih sanggup nyetir mobil, msh sanggup beraktivitas, tapi ini tak banyak, katakanlah pengecualian. Oleh sebab itu; Allah kabarkan;
وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُـنَكِّسْهُ فِى الْخَـلْقِ ۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ
"Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti?"
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 68)
Kebanyakan lansia diusia 80-90 kembali lagi perangainya spt awal kehidupan alias anak-anak dg tambahan; pelupa, penglihatan pudar, pendengaran samar, kadang salah ngerti. Gampang pula tersinggung. Agaknya disinilah yg dimaksud hadist "menjadi safaat bagi keluarganya". Karena keluarga yg merawat pabila penuh kesabaran dan keihlasan, justru keberadaan ortu lansia menjadi safaat bagi keluarga yg merawat.
Hal tersebut dikuatkan ucapan Rasulullah "Waraghima anfu rajulin adraka abawaihi indahul qibaru au ahadahuma falan yudkhilahul jannah" (terjemahan bebas: sangat merugi seseorang lelaki apabila punya dua ortu atau seorang diantaranya lanjut usia, tetapi tidak menjadi jalan baginya mendapatkan surga). H.R. Abu Said Al Maqburi dari Abu Hurairah. r.a.
Do'a yg minta dhindarkan dari ketuaan diatas, tentunya dimaksud ndak usah tua tua amatlah karena bakal nyusahkan anak cucu. Juga dimaksud, kalaupun sampai tua ndak usah sampai pikunlah.
Seorang jamaah menghampiriku usai shalat jum'at. Rupanya meteri khutbahku ttg ortu lansia hari itu pas benar dg keadaan bundanya, usia di atas 85 th.
Manakala dikunjungi, bundanya mengadu bahwa dia tidak diberi makan oleh kemenakan yg merawatnya. Padahal ktk menyalaminya dan tentu mencium tangannya, bau bumbu gulai masih melekat ditangannya. Jamaah tadi ngambil sikap memanggil kemenakan yg ngerawat seraya menegurnya, mengomelinya. Si bunda terlihat lega. Teknik pura-pura ini sdh disepakati dg kemenakan. Karena semua sdh mengetahui si nenek semenjak mulai pikun, sdh makan, ngaku blm makan.
Banyak lagi perilaku lansia yg pikun, tak cukup ruang ini menulisnya. Yg jelas sikap jamaah tadi, rutin menjenguk bundanya dlm perawatan saudaranya dan kesabaran kemenakan ngerawatnya itu mrpk poros surga. Karena Allah mengingatkan kita semua agar memaklumi lansia:
وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفّٰٮكُمْ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْـئًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ
"Dan Allah telah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu, di antara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang tua renta (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Kuasa."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 70)
Smglah kalau kita panjang umur, jangan panjang panjang amat. Kalau pun panjang umur smg tak sampai pikun. Nyusahkan anak cucu. Amien.
Barakallahu fikum. Wallahu 'alam bishawab.

Keistimewaan mencapai Usia 70 th.

Sblm ini tlh kuturunkan tulisan ttg pengelompokan usia 40, 50, 60, dari sudut mendptkan anugrah karunia Allah. Kesempatan ini mengenai keistimewaan mencapai usia 70.
Acuan juga dari hadist riwayat imam Ahmad dari Anas bin Malik. Potongan hadist itu jika diambil khusus usia 70 th maka bunyinya
"Maa min 'abdin (mu'amarin) ya' muru fil Islam: faiza balagha sab'ina sanatan ghafarallahulahu maa taqaddama min zanbihi wamaa ta akhara wasummiya asirullahi wa ahabbahu ahlas sama'i. Terjemahan bebasnya "Bila seorang hamba konsisten dlm menjalankan Islam sampai mencapai usia 70 th Allah ampuni dosanya yg dahulu dan yg sekarang dan digelari dia ASURULLAH (orang dlm tawanan/pengawasan Allah) serta akan mencintainya penduduk langit (malaikat). ".
Jarang orang seusia 70 th masih sehat afiat seluruh perangkat phisiknya. Berkenaan dg itu maka segala aktivitas banyak terbatas, tepatlah kalau bagaikan "tawanan". Tapi tawanan dlm konotasi baik yg nawan Allah. Dlm tawanan dimaksud ybs leluasa untuk aktivitas Ibadah dlm krterbatasannya. Walau mungkin kesigapan dan kafiat teknik beribadah sdh banyak tak bgt sempurna lagi. Contoh orang muda shalat berdiri, si gaek sdh shalat duduk. Yg muda sanggup berpuasa jangan- jangan di usia itu ada yg sakit-sakitan, ndak dpt berpuasa, lalu bayar fidiah. Insya Allah ibadah pak/mak tua ini walau kwantitas mungkin turun tapi isnya Allah kwalitasnya tinggi, sebab upaya untuk pelaksanaan ibadah harus dilaksanakan lebih susah payah ketimbang masih muda. Tentunya sdh lbh ihlas, karena mau tak mau di kondisi yg sdh banyak ketidak berdayaan jelas lebih pasrah. Pasrah inilah agaknya memuluskan ihlas. Sedangkan ihlas inti ibadah. Hanya yg ihlas dlm ibadah terhindar dari campur tangan iblis, dpt kita liat pada dialog Allah vs iblis berikut:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ
"(Iblis) menjawab, Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,"
(QS. Sad 38: Ayat 82)
اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ
"kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka."
(QS. Sad 38: Ayat 83).
Yg terpilih diantara mereka adalah yg muhlasin yg ihlas melaksanakan ibadah karena Allah semata.
Tepatlah kiranya hadist di atas bahwa masuk umur 70 sdh sbg TAWANAN ALLAH DIBUMI, sdh pasrah hanya kpd Allah, maklum sdh dlm tawanan segala perbuatan dlm pengawasan yg menawan y.i. Allah dan Allah mesti mengarahkan yg terbaik buat TAWANAN NYA
Smg kita-kita yg kini menjelang usia 70 sampai ke usia itu, shg meraih Asirullah. Smg yg sdh 70 sampai ke usia 80 sebab di usia 80 ditambah Allah lagi keutamaan itu, insya Allah kan kita bahas dItulisan mendatang.
Wain yakun shawaban faminallah. Wa in yakun khathaan faminni waminanassyaitan,. Wallahu warasuluhu bari ani minhu. (Dan sekiranya benar, maka itu datang dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti datangnya dariku sendiri dan dari syaitan. Allah serta RasulNya berlepas diri daripadanya). Untuk itu mhn dimaklumi sekaligus dimaafkan, satu dan lain karena kekurangan pengalaman dan ilmu ku. Barakallhu fikum. Wallahu 'alam bishawab

DAUN dan MADU

Di era sosmed ini menyoal sarana penyembuhan banyak di publish testimoni tentang obat dari buah-buahan, dedaunan, cairan yg berhasiat menyembuhkan penyakit.
Menjadi obat penyakit tertentu melalui mencampur atau memproses buah atau daun untuk diminum atau untuk obat luar.
Dapat juga terjadi daun atau buah menjadi PLACEBO (sembuh sendiri atau tersugesti) oleh media yg dipakai.
Suatu model penyembuhan dg buah atau daun; apakah sembuh karena zat yg terdpt dlm buah/daun itu atau karena orang terkena sakit sdh merasa terobati.
Dikalangan pemancing di tepian sungai di kampungku. Sering terjadi kecelakaan mancing. Bgt kail diangkat dpt ikan yg PETI' nya (duri di punggung ikan) tak sengaja terkena tangan ketika melepas ikan dari mata kail. Ada ikan tertentu "PETI'nya sangat berbisa.
Biasanya mancing ditepian sungai jarang dilakukan sendiri, berdua, bertiga bersama teman sehoby. Tiba tiba salah seorang terkena PETI' ikan, spontan kaget berteriak: "oey aku kena peti' ambilkan daun CENGKODOK". Teman yg disebelahnya dg sigap mengambilkan daun (sembarang daun yg terdekat) dg mengucapkan "ni daun Cengkodoknye". Si terkena Peti" langsung menyambar daun dari tangan temannya segera daun digosokkan ke luka terkena peti'. Dg percaya penuh "daun Cengkodok" menyembuhkan sengatan Peti' ikan , beberapa saat kemudian rasa sakit, bisa peti' itupun hilang, mancingpun diteruskan sampai waktu yg disepakati.
Cengkodok (sejenis tumbuhan semak, daunnya kecil-kecil buahnya manis kelat, rendah pohonnya, anak 8-10 tahunanpun dpt memetik buahnya. Setelah makan buah Cengkodok lidah dan bibir seperti berusan terkena tinta).
Kata yg empunya cerita:
1. Daun Cengkodok adalah pengapesan bisa Peti' ikan.
2. Ketika terkena Peti' ikan minta tlg teman (kalau ada) mengambilkan daun, sembarangan daun juga boleh, asal mengucapkan "ini daun Cengkodok".
3. Si terkena Peti' hrs langsung mengambil dari temannya daun itu, tanpa protes/tanya, yakin itu daun Cengkodok dan digosokkan ke luka sengatan Peti' sampai daun lumat.
Bgt ihktiar yg dpt dilakukan dlm kondisi di tempat pemancingan tentu jauh dari mendptkan pertolongan medis modern. Namun bagi kita insan Qur'ani tentu yakin betul, yg menyembuhkan itu adalah Allah, sedangan daun Cengkodok mrpkn ihtiar:
Do'a nabi Ibrahim diabadikan:
وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ
"dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,"
(QS. Asy-Syu'ara' 26: Ayat 80)
Selanjutnya menyoal MADU.
Madu bgt berhasiat, banyak penyakit yg dpt diobati dg Madu. Tentu dimaksud disini adalah "Madu asli". Ada yg berkelakar untuk mengetes asli atau tidaknya Madu, bawa saja pulang ke rumah, bila ibunya anak-anak marah, dialah madu asli.
Akan kesahehan bahwa madu adalah obat tidak di sangsikan lagi sebab, Allah SWT berfirman:
ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۗ يَخْرُجُ مِنْۢ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ فِيْهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
"kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan, lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 69)
Tentu tdk semua penyakit obatnya Madu, sebab dlm ayatpun "Didalamnya terdpt obat yg menyembuhkan bagi manusia". Kini ditenggarai luka tertentu juga dpt dipercepat sembuhnya dg menggunakan madu.
Kembali kita ke (QS. Asy-Syu'ara' 26: Ayat 80), dua orang luka yg mirip sama, yg satu sembuh dg terapi madu yg satunya belum sembuh juga.
Demikian yg terpikir olehku, sekiranya benar, maka itu datang dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti datangnya dariku sendiri dan dari syaitan. Allah serta RasulNya berlepas diri daripadanya. Untuk itu mhn dimaklumi sekaligus dimaafkan, satu dan lain karena kurangnya ilmuku. Walahu 'alam bishawsb. Barakallahufikum.

GERHANA BULAN

Pas akhir bulan pertama th 2018 miladiyah, bertepatan bulan purnama Jumadil awwal 1439 H., terjadi gerhana bulan diistilahkan media "super blue blood moon". Andaikan bulan dpt ditanya mungkin dia ndak tau kenapa gerhananya kali ini diberi nama begitu.
Konon gerhana bulan sprt tadi malam, langka, terjadi 150 tahun sekali. Yg lalu konon th 1886. Kalau diukur dg usia kemungkinan hidup bangsa awak yg hanya 72.2 th., yaah 2 kali lenbih dikitlah. Artinya anak yg lahir digerhana malam tadi butuh 2 kali mati dan 2 lahir kembali baru liat lagi gerhana bulan macam malam tadi.
Alhamdulillah ummat Islam di Indonesia menyambut peristiwa itu dg takbir, dg shalat, dg berdo'a, dan bersedekah sesuai kadar kemampuan masing-masing.
Yang menarik, gerhana bulan kali ini jamaah shalat gerhana bulan tidak seperti di gerhana bulan sebelumnya. Jamaah bgt mbludak. Masjid (1km dari rmhku) atas dasar pengalaman yl disediakan snack sebnyk 150 kotak maksudnya sekedar untuk menetralkan lapar bagi jamaah yg biasanya ssdh shalat isya makan malam, karena shalat gerhana cukup lama diperkirakan dg khutbahnya krg lebih 60 menit. Padahal shalat gerhana ssdh isya. Ternyata jamaahnya lebih 1000, diantaranya wanita sktr 20%.
Rupanya jamaah yng membludak bukan saja di masjid di jl percetakan Neg. No. 1 Jkt pusat itu saja. Masjid di dekat rumahkupun jamaahnya sampai hrs masang karpet di jalan. Walau pengumuman bahwa akan ada shalat gerhana baru diumumkan waktu menjelang magrib. Kalau masjid yg 1 km dari rumahku itu (dimana ku dipercaya sbg ketua pembina) memang sdh lebih seminggu diumumkan dan dipublikasikan pakai pengumuman dinding sekalian pake gambar ustazd yg jadi khatib dan imamnya, ya wajar kalau rame jamaah yg tau.
Menurut kabar didaerah seluruh tanah airku ini khusus tahun ini dmk antusias ummat Islam berjamaah shalat gerhana di masjid.
Boleh donk aku melayangkan lamunanku ke gerhana bulan "super blue blood moon" yg akan datang, jadi 150 th lagi.
Lamunanku: 150 th yad, masih ada kah dinegeriku ini orang shalat gerhana, artinya masih adakah pemeluk Islam. aku jelas ketika itu sdh jadi almarhum dan mungkin namakupun org tak pernah tau lagi.
Islam dng al-Qur'annya memang di jamin Allah akan langgeng sampai hari kiamat. Seperti di tegaskan Allah
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوْنَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya."
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 9)
Tapi jaminan ini agaknya untuk didunia, tetapi bukan di jamin untuk negeri kita. Akankah msh ada anak cucu kita memeluk agama Islam terpulang kepada ikhtiar kita yg hidup sekarang. Mampukah kita menurunkan akidah agama Islam ini ke anak cuvu kita.
Fenomena dan aromanya terakhir ini kian mencemaskan. Ramenya jemaah di masjid agaknya tak sekaligus sbg indikator kualitas keberagamaan meningkat.
Sdh banyak orang yg menitipkan Allah di masjid. Mulai memisahkan agama dg aktivitas keseharian. Ktka berinteraksi dlm masyarakat kaidah agama tak diacu. Lantas kejahatan terjadi dlm berbagai sektor dan lapangan kegiatan. Tak jarang melibatkan orang berilmu tinggi terlibat korupsi.
Nah kalau begini apakah gerhana "super blue blood moon" yg akan datang msh adakah shalat gerhana bulan di masjid kita????
Smg lamunanku itu tak terjadi, yg terjadi malah kedepan bangsa ini makin menjadi bangsa yg relegi warganya menjadikan TUHAN sbg pendampingnya dimana saja dirinya berada bukan hanya di masjid, tetapi dlm bekerja di kantor atau dijalan di instansi dan institusi, berdagang dipasar dan sgl bursa. Dng demikian menjadi takwa dan Allah menurunkan keberkahanNya, keturunan yg shaleh dan shalihah. Amien.
Wain yakun shawaban faminallah. Wa in yakun khathaan faminni waminanassyaitan,. Wallahu warasuluhu bari ani minhu. (Dan sekiranya benar, maka itu datang dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti datangnya dariku sendiri dan dari syaitan. Allah serta RasulNya berlepas diri daripadanya). Untuk itu mhn dimaklumi sekaligus dimaafkan, satu dan lain karena kekurangan pengalaman dan ilmu ku. Barakallhu fikum. Wallahu 'alam bishawab.

MOU daun SIMPOR vs DAUN JATI.

Udh kucoba bawa tampang tanaman "Simpor" ke Jawa. Tanaman ini tumbuh sendiri banyak di kampungku. Kucoba tanam di Jatim juga di Jakarta di halaman rumah, tetap ndak mau tumbuh.
Banyak pedagang buah, kue basah, makanan segera dimakan, ikan dan udang, serta kalau blanja bumbu dibungkus pake daun Simpor ini. Begitu nyamannya pihak penjual dan pembeli menggunakan pembungkus daun Simpor ini, waktu itu blm dikenal plastik. Dipangkal daun bertulang agak keras. Jadi komoditi yang akan dibungkus dimasukkan di tengah daun yg cukup lebar itu, dilipat dari kiri dari kanan dan dari ujung daun terahir pangkal daun yng keras sekaligus buat pengunci dg ditusukkan. Beres sdh ndak usah pake diikat atau dicarikan biting untuk merapatkan bungkusan. Sesampai dirumah pembungkus dibuang, pasti larut dg tanah tdk seperti plastik yg ratusan taunpun tetap tak hancur, merusak lingkungan. Daun Simpor RAMAH LINGKUNGAN.
Di pedesaan di Jawa kumenyaksikan duluu pembungkus untuk hal yg kusebutkan di atas digunakan daun Jati. Lebar dan tebal daun kurang lebih sama dg daun Simpor.
Bila anda berkendara malam hari di pedesaan di Jawa (duluu), akan meliat pemandangan kompoi ibu-ibu setengah baya menggendong daun Jati. Saking banyaknya gendongan tu daun, bila tampak belakang tak nampak penggendongnya. Guna menghindari kecelakaan (barangkali). Dikiri kanan gendongan daun Jati di sisipkan obor. Pemandangan cukup indah pawai obor di hutan jalan pedesaan menjelang dini hari. Destinasi mereka tentu pasar tradisional sblm fajar pengguna pembungkus tersebut pedagang di pasar.
Pikiran ku melayang ke daun Simpor di kampungku. Andaikan SIMPOR bibitnya kutanam dn tumbuh di Jawa. Bgmn nasib daun Jati. Padahal itu Simpor tumbuhnya cepat sekali. Umpamanya Jawa hutannyapun dipenuhi Simpor maka pembungkus beralih ke Simpor.
Eee lamunanku itu diingatkan bahwa dikalangan tumbuhanpun agaknya ada semacam "Persaingan Usaha yang sehat" mungkin mereka dulu seblm diciptakan Allah sdh ada semcm MOU (perjanjian kesepahaman untuk memilih tempat tumbuh) agar tdk saling mengganggu.
Jadi tamsil pula kiranya, bahwa segala sesuatu dikehidupan ini ndak elok bila dimonopoli. Giliran kita sbg pejabat nampaknya ndak usah ikut jadi pengusaha. Giliran kita jadi tenaga pendidik kalaupun bisa nukang pas ada bucor yg akut di kediaman anda panggillah tukang. Kecuali kalau pas bocornya hanya genteng kegeser, masih bisa ditangani sendiri.
Misalnya anda ustadz walaupun ktk di psantren pernah blajar montir, serahkanlah ke bengkel, itung-itung bagi rezeki. Demikian seterusnya. Yg jelas diantara DAUN SIMPOR DAN JATI di dpt pelajaran bahwa Allah ciptakan semuanya tiada yg sia-sia, nyamuk, lalat, hujan dg banjirnya, kemarau dg mersiknya air laut menjadi garam dan tumbuh Simpor di kampungku dan Jati di Jawa. Semuanya ini membuat kita terpesona dan terpana atas kebesaran Allah sehingga teringatlah dg ayat 191 surat Ali Imran:
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
" Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini SIA-SIA; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."
DEMIKIAN renungan daun Simpor dan daun Jati. Smg ada faedahnya buat pembaca yg arif.
Barakallahu fikum.Wassakamualaikum wr.wb.