Friday, 15 May 2015

SEHARUSNYA DIJULUK



Mengambil sesuatu benda berada di tempat tinggi, dapat dilakukan dengan dipanjat, juga mungkin dilakukan dengan memakai tangga, tapi dapat juga dengan menggunakan galah. Mengambil suatu benda dengan menggunakan galah istilah popular menurut bahasa ibuku “di juluk”. Menjuluk juga berkonotasi, jika pihak yang seharusnya memberikan sesuatu, tetapi setelah ditunggu sekian waktu, tidak kunjung diberikan, maka pihak yang seharusnya menerima, memintanya.
Contoh lain, jika suatu keluarga akan mempestakan anaknya menikah, ada teman yang sampai hari “H” belum juga terima undangan, kemudian ia memberitahukan kepada keluarga yang akan menikahkan itu “undangan untukku mana?”, pertanyaan ini, juga disebut sebagai “menjuluk”. Contoh lain lagi. Ada kerabat yang maaf kebetulan kurang mampu, dianya suatu saat berkunjung dan menginap di rumah anda. Setelah beberapa malam nginap tiba gilirannya dianya akan pulang. Yang bersangkutan pamit, sudah kita setujui pamitnya tapi juga belum berangkat, kemudian pamit lagi, kitapun sudah menyetujui pamitnya dan tetap saja pamit lagi. Seharusnya anda mengerti bahwa yang bersangkutan sedang “menjuluk”,  agar anda memberinya sangu untuk pulang, mungkin dia tak punya ongkos.  
Bermacam jenis buah, tidak akan jatuh, walau sudah mateng kalau tidak dipanjat atau di juluk. Buah kelompok ini meskipun sudah mateng tak akan jatuh utuh kalau tidak dipetik dari tangkainya dengan dijuluk atau dipanjat. Buah jenis ini kalau sudah mateng jika tidak dipetik dengan cara apapun antara lain dengan dijuluk, dia akan jatuh juga ke tanah dalam keadaan tidak utuh atau tercerai berai.
Seorang supir taxi, baru kurang lebih tiga bulan menjalani profesi barunya itu, menceritakan: bahwa dirinya sebelumnya bekerja sebagai supir pribadi di suatu keluarga selama lebih dari 17 tahun. Kini majikan lamanya itu sudah menjadi orang kaya, diceritakan mobil saja punya 5, rumah luas di daerah elit. Lebih jauh bang supir mengenang masa lalunya bersama majikan yang kini sudah kaya itu, semula si majikan kediaman saja hanya mengontrak, “dia sukses sayalah menjadi supirnya dari kantor ke kantor merintis usaha ekspor-impor.
Menyoal, kenapa dianya tidak ikutan kerja sebagai asisten majikannya, misalnya di kantoran mengurus bisnis ekspor-impor, dianya mengemukakan bahwa pernah ikutan, tapi Ibu (maksudnya istri sang majikan) minta dia kembali jadi supir keluarga, karena sudah terbiasa melayani anggota keluarga, mengantarkan anak-anak sajak dari TK sampai mahasiswa.  Kini anak-anak majikannya semuanya sudah jadi sarjana dan bahkan ditambah lulusan sekolah dari luar negeri. Namun dirinya sampai kini hanya jadi supir belaka hanya alih suasana dari mengendarakan mobil majikan perorangan sekarang menjadi supir taxi, mengendarai mobil perusahaan taxi.
Kalau begitu majikan “abang” tidak ada pengertian dengan “abang” rupanya, tanyaku. Si Abang menjawab: “ada si, saya ngak menidakkan, keluarga saya dibelikan rumah sederhana, cukupanlah, tapi kan untuk ekonomi  hari-hari kan ndak cukup, maka saya milih berhenti dan jadi supir taxi”.
Kenapa abang tidak ngomong terus terang ke majikan, agar untuk ekonomi di tambah atau diberi pekerjaan di kantoran ngurus bisnis beliau. Sebab kalau ikutan ngurus bisnis, nanti kedepan kan akan punya pengalaman, siapa tau nanti bisa ikutan buka bisnis sendiri. Begitu ku coba menanyakan lebih jauh perihal si abang taxi yang membawaku menuju kerumah kerabatku di bilangan Pondok Kelapa.
Si Abang taxi menjawab, bahwa dia yakin bosnya itu orang pandai, tak mungkin tidak mengerti, masa’kan  perlu diberitahu, “harusnya dia memahami keadaan saya yang sudah mengabdi kepadanya selama 17 tahun”, tutur si Abang taxi.
Itulah yang ku dengar “dari telingaku sebelah” dalam arti dari pihak si Abang taxi, persoalan yang sebenarnya tentu kalaulah kita mau mengurusnya lebih lanjut harus di dengar dengan “telinga sebelah lagi”, yaitu dari pihak Bos si supir taxi. Mungkin ada persoalan lebih jauh, kenapa anak buah yang sudah 17 tahun bersama sejak mulai susah tidak dibawa ikutan terimbas sukses.
Oleh karena itu kusarankan ke si Abang taxi, “seharusnya abang mengemukakan kepada bos anda tentang keinganan anda ikut membantu lebih jauh di bisnis Bos, tidak sekedar menjadi supir”. Kadang sesuatu masalah itu perlu dikemukakan terus terang, tidak hanya menunggu orang mengerti. Ibarat buah, ada buah harus di Juluk lebih dahalu baru jatuh, tidak menunggu buah itu jatuh sendiri. Ada buah yang meteng di pohon dan ada buah untuk mateng harus dijuluk sebelum mateng dan untuk mematengkannya harus di peram.
Kesimpulan:
Dari yang kita dengar dari penuturan supir taxi tersebut ada beberapa kesimpulan yang dapat diperoleh:
Bahwa pada dasarnya manusia tak kunjung puas, dan hal ini wajar, apalagi dia mengalami sendiri bagaimana perjalanan hidup si Bos dari tak punya rumah, sampai sanggup membelikan supirnya rumah dan hidup lumayan sukses. Sementara si supir tetap saja jadi supir tak ada kemajuan status, walau mungkin sudah diperlukan bagaikan keluarga sendiri.
Bahwa kepuasan itu bukan hanya terletak pada dijaminnya kehidupan, seperti contoh tadi, setidaknya perhatian si Bos sudah lumayan dengan membelikan rumah, tetapi membiarkan abang supir tetap menjadi supir tidak ditingkatkan statusnya. Rupanya kebutuhan terangkatnya status belum terpenuhi membuat si supir lebih baik pindah, walau tetap jadi supir tapi supir taxi.
Bahwa kemunikasi yang tersumbat, dapat berakibat yang cukup jauh,  membuat si supir lebih memilih merenggangkan persahabatan yang sudah dibina 17 tahun. Mungkin jika dikumunikasikan dengan jelas dan tegas, keinginan si supir akan diperhatikan oleh si bos.

Wednesday, 6 May 2015

RENUNGAN ketika SEHAT



Ketika sakit, banyak orang sadar tentang ketidak berdayaannya terhadap kuasa Allah. Sebenarnya kesadaran tentang ketidak berdayaan itu, seyogyanya harus juga direnungkan ketika sehat. Salah satu contoh yang sangat sederhana dan kecil, ialah betapa kuasa Allah terhadap segelas air yang kita minum, tanpa perlindungan Allah dapat saja di dalam air itu mengandung sesuatu yang membuat peminumnya mendapat musibah. Sebab kita tidak dapat menjamin persis bahwa air yang diminum itu aman. Mungkin segelas air itu aman buat seseorang karena kekebalan tubuhnya di saat tinggi dan tidak aman buat orang lain yang kekebalan tubuhnya pas sedang turun. Begitu juga ketika menyantap makanan, apapun jenisnya, mungkin tidak masalah buat banyak orang tapi ternyata berakibat buruk buat orang tertentu yang metabolisme tubuhnya sedang eror.
Suatu ketika, diri ini bersama istri ke Pulau Penyengat Tanjungpinang, dalam kesempatan ketika diundang menjadi nara sumber suatu pelatihan di kota yang berslogan dalam lambang daerahnya “Jujur Bertutur Bijak Bertindak” itu. Panitia dari Dinas Perindustrian setempat yang mengundangku pada acara pelatihan UKM itu, membawa rekreasi ke Pulau Penyengat untuk melihat peninggalan “Masjid Sultan/ Mesjid Raya Sultan Riau Penyengat. Sudah jadi ungkapan umum yang disampaikan di setiap kota; misalnya “belum sampai ke Pontianak kalau belum sampai ke Masjid Sultan dan tugu Khatulistiwa”. Begitu juga di Tanjungpinang, katanya belum sampai ke Tanjungpinang kalau belum ke Pulau Penyengat.
Setelah berkeliling di pulau dengan panjang 2 KM dan lebar kurang dari 1 KM itu, untuk mengunjungi makam Engku Putri Raja Hamidah dan makam Penulis Gurindam Duabelas, Raja Ali Haji. Sebelum kembali ke hotel tempat kami menginap di kota Tanjungpinang, dipinggir dermaga penyeberangan P.Penyengat, kami menikmati ikan Menggali yang di masak “Asam Pedas” khas P. Penyengat dengan sayuran menu restoran setempat.
Esok hari dijadwalkan sekitar pukul sepuluhan akan bertolak ke Jakarta kembali. Sesudah shalat Subuh, saya terserang diare berat sampai terus menerus lebih delapan kali ke kamar mandi. Sudah jadi kebiasaanku bila tugas menjadi nara sumber ke luar kota, diusia yang sudah senja ini, istri selalu mendampingiku dan tak lupa membawa perlengkapan obat-obatan seperlunya termasuk obat diare. Pagi tiba, keadaan agak enakan, kamipun menuju restoran hotel untuk sarapan. Ketua panitia pelaksana pelatihan juga rupanya sudah siap menunggu di restoran hotel. Saya sudah merasa segar, langsung mengambil menu makanan yang sekira lembut untuk orang diare.
Baru saja masuk beberapa sendok bubur sumsum, rahasia diare terpaksa harus diketahui oleh panitia, lantaran saya langsung pingsan di kursi restoran. Kata istriku seisi restoran panik dan yang lebih panik tentunya panitia. Itu sebabnya sampai 2 orang dokter seorang perawat datang ke hotel mengurusku dan dua ambulance bersamaan datang. Dokter menyarankan agar saya bertahan di Tanjungpinang untuk perawatan 3 hari di rumah sakit. Tapi dengan berbagai pertimbangan, diantaranya, keluarga di Jakarta dan dikampungku akan betapa khawatirnya bila diriku dirawat di Tanjungpinang. Maka kuputuskan untuk tetap pulang ke Jakarta dan minta di bekali obat dari dokter yang merawatku, tak lupa pula berbekal Pampers.
Alhamdullillah kami tiba di Jakarta dengan keadaan masih diare. Anakku yang menjemput ke bandara, sesuai pengalamannya sudah menjadi dokter PTT dan menjadi dokter klinik beberapa tahun, yang tentunya sudah pernah menemui pasien diare, memberi batas untukku sampai pukul 10 malam, jika masih terus diare menurutnya harus dirawat di rumah sakit. Sekitar pukul 10 malam, diareku mulai reda.
Penyebabnyapun mulai dikaji. Kalaulah lantaran makan “Asam pedas ikan” di P. Penyengat, alasan itu tidak cukup kuat,  karena bukan hanya diriku yang memakannya, istriku dan beberapa panitia yang mengantar kami juga makan menu ikan. Bahkan Istriku makan dari mangkuk yang sama.
Sebagai renungan untuk orang yang sehat, bahwa kalaulah bukan karena pelindungan Tuhan, ternyata setiap makanan yang dimasukkan ke dalam mulut kita kemudian dicernakan, dapat saja mendatangkan musibah buat kita, kalau pas keadaan pertahanan tubuh kita sedang lemah. Siapakah yang dapat dan mampu mengatur lemah kuatnya pertahanan tubuh kita itu. Sungguh manusia tidak berdaya untuk mengatur pertahanan tubuhnya sendiri. Sungguh manusia pada dasarnya tidak akan sanggup mengetahui bahwa makanan yang disantapnya bebas dari unsur ikutan yang dapat mendatangkan penyakit baginya.
Sebagai suatu bentuk menyandarkan diri kepada yang Maha Kuasa, agamaku memberikan arahan bahwa setiap hari akan menyantap makanan berdo’a yang arti intinya memohon agar Allah memberikan keberkatan atas rezeki yang akan kita santap. Kalaulah makanan sudah diikhtiarkan makanan yang halalan tayiban dan telah pula berserah diri kepada-Nya dengan berdo’a, masih juga mendapat musibah. Hal itu sudah kita pulangkan kembali kepada Allah untuk kita yakini akan keberkatan dan hikmah yang tersembunyi dibalik peristiwa itu.

Monday, 30 March 2015

Kesaktian “Alu kiwir-kiwir”



Timbangan duduk yang sanggup menimbang ratusan kilo lebih,  belakangan baru dikenal, utamanya di pedalaman tempat perkebunan karet dan kelapa.  Juragan kebun karet suatu ketika menyaksikan pegawainya menimbang karet  yang akan diangkut ke truk untuk dibawa ke kota. Guna mengangkat barang yang akan ditimbang, dacing di hubungkan dengan “Alu”, selanjutnya setelah barang yang akan ditimbang dikaitkan ke dacing, dua orang meninggikan dacing yang dipikul dengan “Alu” di pundak, tadinya posisi agak duduk menjadi berdiri.
Model “Alu”, kedua ujungnya ditumpulkan untuk dapat dipergunakan untuk menumbuk padi. Agar si penumbuk padi mudah memegang “Alu”, di tengah balok kayu bulat yang dibuat “Alu” itu diberi pinggang, lebih kecil dari bagian lain, gunanya untuk memudahkan menggenggam “Alu” tersebut pas sekepalan.
Hari itu, ketika kedua pemikul berdiri meninggikan dacing, “Alu” pemikul tiba-tiba berbunyi kreek. Kontan kedua pemikul reflek menurunkan ketinggian, untuk memeriksa datangnya bunyi. Rupanya bunyi datang dari “Alu”, pas di tengah tempat pegangan, retak hampir patah. Heran juga para buruh yang sudah sekian lama menggunakan  “Alu” dalam kegiatan menimbang, tapi belum pernah sampai membuat patah “Alu”. Apalagi berat barang yang ditimbang, juga biasa sebatas kapasitas timbang dacing yaitu seratusan limapuluh kilogram. Selama inipun mengenakan lingkaran dacing ya di pinggang “Alu” menimbang sekitar seratus kilogram.
Pemilik usaha mendekati “Alu” itu, memang dilihatnya sudah hampir patah, kiwir-kiwir, belum patah benar. Jika dilengkungkan sedikit dengan tangan tanpa bantuan alat, pasti “Alu” itu akan terbagi dua. Kontan dia berpikir,…. sudah, “Alu” ini biar disimpan saja. Untuk menimbang pakai balok biasa saja yang persegi. Pikirannya memberi arah agar “Alu kiwir-kiwir” tadi  disimpan di balik pintu utama rumah.
Pemilik perusahaan kebetulan punya anak gadis ABG sekitar baru empat belas tahunan. Biasalah gadis baru tumbuh itu sering digoda oleh anak muda, katakanlah sebagai bunga kampung. Selain itu pengusaha seperti Pak Ngah Udin yang punya kebun kelapa dan kebun karet yang luas, sering pula di “kompas”, sama “Preman”. Lama kelamaan uang “Keamanan” untuk Preman juga cukup membebani kas usaha Pang Ngah Udin. Belum lagi pusing juga anak gadis masih ABG digoda oknum suatu kelompok kesatuan yang baru berdinas di kampung si pengusaha tersebut. Oknum ini sebetulnya mungkin berniat baik, Cuma Pak Ngah Udin dan istrinya belum hendak punya menantu, karena pengen-nya si anak gadis dapat sekolah lebih tinggi dulu, kalau dapat jadi guru atau bidan kalau mungkin jadi dokter, karena belum seorangpun penduduk kampungnya yang sempat mengenyam pendidikan tinggi.
Suatu hari oknum kesatuan itu datang kerumah Pak Ngah Udin untuk melamar si gadis ABG. Tentu saja Pak Ngah Udin dan keluarga menolak. Dengan bahasa yang halus juru bicara keluarga Pak Ngah Udin menolak, bahwa anak gadis mereka badannya saja yang subur, tapi umurnya masih sedikit, empat belas tahun saja belum nyampai kurang beberapa bulan lagi. Disamping itu dia punya cita-cita untuk melanjutkan sekolah ke kota, sekurangnya entah jadi guru, atau jadi bidan atau kalau mungkin jadi dokter.
Entah bagaimana, karena sudah kadung melamar dan mendapat penolakan, walau penolakan dengan alasan yang logis dan halus pula, bagi yang ditolak kadang tetap saja tidak logis. Jalan pintas sepertinya akan ditempuh. Kelompok kesatuan itu, dengan berombongan disuatu petang  mendekati Magrib datang menyerang ke kediaman Pak Ngah Udin, lengkap dengan senjata yang mereka punya.
Setelah mendengar dari anak buahnya bahwa serombongan kesatuan teman-teman oknum yang pernah lamarannya ditolak datang menyerang. Pak Ngah Udin apa boleh buat harus menghadapinya. Prinsip beliau “Tandang ke gelanggang walau seorang”, “musuh tidak dicari, kalau ketemu berpantang lari”. Rombongan penyerang sudah sampai di halaman rumah yang berpekarangan luas itu, maklum pengusaha kebun ternama di kampung itu. Pak Ngah Udin dengan tenang membuka pintu utama rumahnya, keluar dengan “Alu” yang tadinya tersimpan di balik pintu. Sambil melangkah beberapa tindak kedepan dan dengan suara yang lantang menuju sekelompok anak muda dari kesatuan yang cukup terlatih soal bela diri itu. Pak Ngah Udin katakan “Kalau berani maju biar sekaliguspun saya siap ladeni”. Sambil tangan beliau yang memang kekar itu mematahkan “Alu” ditanganya,….. “kreek”, menjadi dua bagian dan dipegangnya dengan gagah di tangah kiri dan tangan kanannya.
Menyaksikan keperkasaan Pak Ngah Udin yang lumayan sudah berumur itu, ternyata rombongan penyerang ngeper juga. Dalam pikiran mereka tentulah orang ini punya kesaktian yang tinggi, kalau tidak mana mungkin dapat mematahkan sebatang Alu terbuat dari balok kayu Belian (Kayu besi) yang kerasnya nggak tanggung-tanggung.  Kayu belian tak dapat ditembus paku, kecuali dibor dulu. Dengan serta merta mereka bertekuk lutut, mundur kembali ke barak mereka, dan satu diantara utusan mereka malam harinya datang untuk meminta maaf. Pak Ngah Udin nggak tau siapa perutusan itu, apakah komandan dari kesatuan anak-anak muda itu atau siapa,  yang penting jadinya amanlah keluarga mereka dari penggoda anak gadis ABG mereka. Rupanya kejadian itu  berimbas juga, kepada para Preman kampung, sebab ceritanya tersebar luas, tidak lagi mengganggu ketentraman usaha Pak Ngah Udin.
Pak Ngah Udin yang diselamatkan oleh “Alu kiwir-kiwir” itu pun mewanti-wanti kepada anak buahnya yang mengetahui “Alu Kiwir-Kiwir” ketika menimbang karet dan kopra hasil kebun, jangan sampai membuka rahasia “Alu” tersbut.
Ini Cerita Fiksi kalau ada kesamaan nama dan kejadian, hanya kebetulan saja dan tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun.

Sunday, 1 March 2015

BEGAL



Begal bermakna, merampas ditengah jalan. Kalau Rampok merampas harta orang di rumah atau di toko, di dalam bangunan. Nodong, meminta dengan paksa milik orang lain, juga korban dalam perjalanan atau diluar rumah. Ketiga kejahatan ini diikuti dengan ancaman senjata. Beda dengan maling,  melakukan aktivitas dengan sembunyi-sembunyi, kalau kepergok apa boleh buat si maling siap mencederai pemergok. Kalau kejahatan di laut disebut pembajak, perompak, nenek moyangku dulu ada istilah buat kejahatan di laut itu, pelakunya namanya “Lanun”.
Terakhir ini marak Begal Motor. Pada dasarnya tak adalah manusia yang secara sukarela ingin menjadi penjahat. Kata lain, tak adalah manusia yang terlahir jadi penjahat. Sehubungan dengan itu timbul pertanyaan, mengapa di masyarakat kita tumbuh dan bermunculan penjahat, sehingga meresahkan masyarakat.
Bila maulah mengkaji lebih dalam, masalahnya terpulang kepada kesulitan hidup  yang memaksa orang untuk melakukan perbuatan kejahatan “Krah hitam” di atas. Beda dengan kejahatan “Krah putih” penyebabnya lain lagi, bukan kerena terpaksa, akan tetapi antara lain kerena ingin lebih hebat dari orang lain.
Keterpaksaan yang bagaimana sehingga membuat orang menjadi penjahat “Krah hitam”, pada umumnya keterpaksaan didorong oleh kebutuhan perut, kebutuhan ekonomi. Kesusahan hidup akhir-akhir ini mendera seperti tak dapat diketahui lagi kapan akan berakhir. Harga-harga melonjak naik, dari mulai bahan yang akan dimasak untuk dimakan, sampai bahan untuk mamasak makanan itu sendiri tak henti-hentinya naik. Sementara mencari nafkah yang halal sudah semakin sulit. Lapangan kerja tidak tersedia dikampung sendiri, tidak juga tersedia dikota lain di negara sendiri. Kalau mau usaha, belum lagi mulai usaha, sudah dikenai aturan yang melip yang ujung-ujungnya keluar duit, bukan untuk modal membangun usaha, hanya untuk ngurus memenuhi syarat berusaha.
Keperluan akan makan, merupakan kebutuhan yang paling mendasar manusia semakin sulit dipenuhi, usaha non formal juga serba salah, tidak mudah, kadang berhadapan dengan penggusuran dan perampasan perabot usaha. Rakyat kecil semakin sulit semakin terhimpit. Kondisi ini agaknya merupakan salah satunya penyebab menjelmakan penjahat-penjahat, walau bukan satu-satunya.
Kalau tercipta kemakmuran di dalam kehidupan rakyat, maka hanya orang yang kurang normal saja yang sudi untuk berprofesi menjadi penjahat “Krah hitam” tersebut. Bila kita tanyakan kepada seorang penjahat yang kebetulan punya anak, biarpun dianya penjahat yang paling jahat, maka yakinlah bahwa si penjahat tidak ingin anaknya kelak mencari nafkah menjadi penjahat.
Dari uraian singkat di atas, kiranya dapat dipahamkan bahwa yang penting di negeri ini  adalah menciptakan kesejahtaraan  hidup seluruh rakyat. Kejeahteraan rakyat adalah kunci utama mengurangi kejahatan.  Persoalannya bagaimana upaya untuk mensejahterakan rakyat itu.
Negeri kita adalah negeri yang sangat kaya tak ada bandingnya seluruh  jagad ini. Tidak ada musim yang terlalu ekstrim seperti belahan bumi lain. Hampir semua jenis tanaman dapat tumbuh dan subur di bumi Indonesia. Lautnya menyediakan ikan dan hasil ikutan yang demikian banyak. Perut bumi mengandung banyak harta yang kalau dimanfaatkan untuk dan oleh bangsa sendiri, cukup buat memakmurkan hidup sampai ke anak cucu.   Mengapa masih banyak hasil pertanian yang masih harus membeli dari negara lain.  Mengapa hasil laut dan hasil ikutannya belum sepenuhnya dapat untuk memakmurkan rakyat. Mengapa isi perut bumi ini tidak dapat dinikmati  banyak; oleh pewaris bumi itu sendiri. Jawabannya dapat beragam, tergantung siapa yang menjawabnya.
Bila penjawab tersebut kita kelompokkan, ambil saja misal dari kelompok Politikus, Budayawan, dan Rohaniawan. Mungkin jawaban mereka adalah begini:
Politikus: Kalau kami menang, maka seluruh kekayaan alam yang dikandung bumi, dimiliki laut semua akan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Tidak ada lagi rakyat miskin yang susah mencari penghidupan, sebab negeri kita kaya raya kemelaratan rakyat hanya kerena salah kelola.
Budayawan: Kesengsaraan rakyat selama ini, disebabkan kita sudah meninggalkan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita semenjak dahulu, dimana kita adalah bangsa yang rajin, bangsa yang jujur. Kini kejujuran sudah jadi barang langka, korupsi sudah menjadi budaya, ……………Sebab korupsi inilah yang membuat rakyat sengsara.
Rohaniawan: Adalah tak masuk di akal, bangsa ini menjadi melarat, sebab alamnya begitu kaya, begitu subur. Ini mesti disebabkan rakyat bangsa ini, kurang bersyukur, kurang bertaqwa kepada Tuhan pencipta. Penduduk negeri ini banyak melakukan perbuatan tidak baik dan keadilan belum ditegakkan di segala persoalan.
Jawaban kelompok-kelompok tadi hanya kemungkinan, karena penulis bukanlah termasuk dalam kelompok-kelompok tersebut. Silahkan koreksi dengan sepatutnya sesuai dengan profesi pembaca. Tapi yang jelas kita sepaham bahwa negeri ini sepertinya tak pantas untuk tidak makmur dan sejahtera dengan kekayaan bumi dan air yang berlimpah, dengan tanah yang subur diikuti iklim yang tak ada bandingan baiknya di seluruh dunia.