Tuesday, 30 December 2025

Rezeki DATANG atau DICARI

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.383.08.12-2025 Imam Syafi’i suatu hari berdialog dengan gurunya Imam Malik perihal REZEKI. Antara murid dan guru dalam soal ini agaknya berbeda pendapat. Menurut pandangan Imam Malik: “rezeki bisa datang tanpa sebab, melalui tawakal”. Sedangkan Imam Syafi'i berpendapat bahwa: “datangnya rezeki, kalau adanya suatu sebab yaitu usaha mencari rezeki”. Tak lama setelah peristiwa dialog itu, Imam Syafi'i diajak oleh pemilik kebun anggur untuk membantu panen anggur. Imam Syafi’i mendapatkan sejumlah buah anggur dari si pemilik kebun anggur. Imam Syafi’i-pun membawa sejumlah buah anggur yang masih melekat dengan tangkainya baru dipetik, ke kediaman gurunya (imam Malik), sekaligus ingin meyakinkan ketepatan dari argumentasinya dengan pembuktian bahwa “Rezeki datang harus dengan usaha”. Si murid dan guru-pun sama2 menikmati anggur oleh2 imam Syafi’i. Sang guru ungkapkan terimakasih kepada muridnya bahwa pandangannya “rezeki dapat saja datang tanpa sebab, melalui tawakal”, terbukti. Karena imam Malik berdiam diri saja di rumah buah anggur datang ke hadapannya. Memang ada terbetik dalam hati si guru sebelum datang muridnya membawa buah anggur, bahwa di cuaca seperti saat itu, sangat nikmat jika makan buah anggur, tau2 tanpa usaha, muridnya datang membawakan anggur. Sementara itu si murid, dapat membuktikan kalaulah bukan lantaran membantu memetik buah anggur dari kebun pemilik anggur, mana mungkin memperoleh beberapa buah anggur segar masih melekat ditangkainya. Kedua ulama tersebut, akhirnya sambil menikmati buah anggur saling pandang dan saling mengerti bahwa pandangan sang guru benar, rezeki dapat saja datang dengan tak disangka-sangka bila Allah menghendaki. Pendapat si murid juga tidak salah bahwa rezeki didapat dengan usaha. Dalil Argument imam Malik, tidak dijelaskan dalam kisah singkat itu, mungkin didukung pemahaman ayat2 Al-Qur’an bahwa Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki, tanpa batas dan tanpa perhitungan, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 212, Ali Imran ayat 37, dan Ar-Ra'd ayat 26, yang intinya Allah Maha Pemberi Rezeki dan Maha Mengetahui atas hamba-hamba-Nya. وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ …………….” “………………….. Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan” (Al-Baqarah ayat 212) إِنَّ ٱللَّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ. ……………………” “……………..Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab” (Ali-Imran-ayat-37) “……………. ٱللَّهُ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki…………….” (Ar-Ra’d-ayat-26) Demikian juga Imam Syafi’i, di petikan kisah singkat itu tak diuraikan apa yang melandaskan pemahamannya tersebut namun ada kemungkinan atas dasar Al-Qur'an menegaskan bahwa rezeki diperoleh melalui ikhtiar (usaha) dan kerja keras, seperti firman Allah dalam surat An-Najm 39 ("Tidak ada yang diperoleh manusia kecuali apa yang telah diusahakannya"). Ini berarti manusia harus berusaha mencari rezeki dengan cara halal, dan usaha tersebut akan membuahkan hasil. وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ ۝٣٩ “Bahwasanya manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”, (surat An-Najm ayat 39). Imam Syafi’i, dalam dialog itu tak dikisahkan bahwa dianya “berdalil dihadapan gurunya”, namun besar kemungkinan juga mendasarkan pendapatnya seperti yang dijelaskan surat Al- Jumu’ah ayat 10 yang memerintahkan manusia untuk bertebaran mencari karunia Allah setelah shalat. Ikhtiar ini diiringi dengan doa, tawakal, takwa, syukur, istighfar, dan sedekah sebagai pintu-pintu rezeki lainnya. فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝١٠ “Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. Benar juga kata orang2 tua kita dulu bahwa: “rezeki, jodoh dan maut” rahasia Allah. Rezeki kalau dicari kadang dia berlari, tidak dicari kadang menghampiri. Kalau belum jodoh ada saja sebabnya tak jadi, kalau sudah jodoh belum lama ketemu tak lama langsung menikah. Maut demikian pula menjemput tak kenal usia dan sebab, kadang yang sakit begitu lama masih hidup, sedangkan yang segar bugar tau2 dikabarkan tutup usia. Salah satu contoh rezeki kami tanpa ikhtiar, kami terima pagi ini, tergantung di pintu pagar, sekotak kue asal Jogyakarta. Padahal kami sudah lama tidak kesana, rupanya ada seseorang yang baru datang dari kota gudeg itu memberi kami oleh2, seperti nampak dalam foto yaitu kue “Bakpia kukus”. Terindikasi sekotak kue itu adalah oleh2 tetangga yang baru saja pulang libur panjang. Alhamdulillah. Demikian para pembaca, sebuah contoh tentang kehadiran Rezeki, semoga Allah senantiasa memberi kita rezeki yang halalan-thayyiban dan berkah. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 10 Rajab 1447H. 30 Desember 2025.

No comments:

Post a Comment